Anda di halaman 1dari 23

ASPEK HUKUM DALAM KONTRAK BISNIS

Dr. Mahmul Siregar, SH.,M.Hum A. Pendahuluan Kuantitas dan kualitas interaksi antar manusia dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya tidak pernah berhenti. Sebaliknya terus tumbuh dan berkembang seiring dengan tantangan perubahan zaman. Pertumbuhan jumlah dan kebutuhan hidup manusia yang diiringi dengan perkembangan teknologi modern yang begitu cepat, membuat jumlah aktivitas dan cara manusia beraktivitas dalam memenuhi kebutuhan dan ambisi hidupnya juga berubah dan semakin kompleks.1 Transaksi-transaksi dalam lapangan bisnis (dunia usaha) semakin bervariasi dan telah menimbulkan hubungan hukum hubungan hukum yang semakin bervariasi pula. Kontrak sebagai pernyataan keinginan yang mengikat secara hokum semakin memegang peranan yang strategis dalam hubungan interaksi yang bervariasi dan kompleks tersebut. Kepastian mengenai hak dan kewajiban para pihak yang melakukan transaksi harus tercantum dalam dokumen kontrak, agar tidak terjadi persengketaan/perselisihan yang tentunya kontraproduktif dengan maksud awal para pihak yang menyelenggarakan transaksi. Sehubungan dengan perkembangan interaksi manusia dalam memenuhi kebutuhannya, Atiyah mengatakan bahwa peran hokum kontrak akan menjadi sentral, setidaknya karena dua alas an berikut : (1). Dengan semakin meningkatnya produk yang dihasilkan pekerja mengakibatkan semakin meningkatnya peralihan produk tersebut dari seseorang kepada orang lain. (2). Dengan meningkatnya peran lembaga pembiayaan yang semakin mendorong manusia untuk melakukan transaksi bisnis, maka peran kontrak akan semakin dirasakan.2 Memang diakui bahwa peran strategis kontrak sangat berhubungan dengan aspek kultural individu pelaku kontrak. Orang-orang dari negeri Barat (Amerika Serikat dan Eropa) yang kultur hukumnya sangat litigious memandang kontrak sebagai sesuatu yang sakral. Secara filosofis kontrak
1 2

Roy Goode, Vommercial Law, (London : Penguin Books, 1995), hal. 3 Atiyah, An Introduction to the Law of Contract, (Oxford : Clarendon Press, 1984), hal. 3

dipandang sakral karena merupakan pernyataan keinginan bebas manusia yang bermartabat. Oleh karena itu, kontrak harus dipatuhi oleh manusia yang bermartabat. Dalam konteks ini, kontrak selalu dipandang sebagai dokumen hukum yang harus selalu dipatuhi. Hal ini berbeda dengan kebanyak orangorang Timur yang lebih mengedepankan unsur trust (kepercayaan) sebagai fundamen transaksi. Kontrak secara umum dipandang sebagai bukti transaksi sedangkan kepercayaan adalah jiwa dari transaksi tersebut., atau yang selalu disebutkan dengan istilah trust rather than paper. Namun, dalam konteks masyarakat modern dewasa ini menyandarkan diri semata-mata pada unsur kepercayaan adalah sulit tanpa adanya dokumen yang secara jelas mengatur transaksi. Dalam teori hukum yang modern, peranan kontrak secara filosofis adalah untuk mengurangi resiko dalam hubungan transaksi bisnis. Resiko dapat dihindari jika kedudukan, hak, kewajiban dan tanggungjawab para pihak secara tegas tercantum dalam dokumen kontrak. Setidaknya resiko mudahnya terjadi sengketa kontrak dapat dihindari. Kontrak yang tidak tegas dan jelas akan senantiasa terbuka terhadap sengketa atau perselisihan. Namun meskipun demikian, harus pula dipahami bahwa secara prinsipil tidak ada kontrak yang benar-benar sempurna mengatur keinginan para pihak, karena bagaimana pun juga dokumen kontrak diaktualkan dengan menggunakan bahasa tulis yang dapat saja bersifat multi tafsir. Oleh karena itu, itikad baik para pihak dalam melaksanakan kontrak adalah sesuatu yang diperhatikan oleh hukum dalam menilai pelaksanaan kontrak. B. Apa yang dimaksud dengan Kontrak Buku Ketiga dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) di Indonesia yang mengatur tentang Perikatan tidak menggunakan kata kontrak, tetapi menggunakan kata Perjanjian (verbintenis). Perjanjian mengandung pengertian suatu hubungan hukum kekayaan/harta benda antara dua orang atau lebih, yang memberi kekuatan hak pada satu pihak untuk memperoleh prestasi dan sekaligus mewajibkan pada pihak lain untuk menunaikan prestasi.3 Hubungan hukum yang timbul dari suatu perjanjian
3

M. Yahya Harahap, Segi-Segi Hukum Perjanjian, (Bandung : Alumni, 1986), hal. 6

adalah karena adanya tindakan hukum (rechtshandeling) yang dilakukan oleh para pihak dalam perjanjian tersebut. Kesepakatan para pihak untuk memberikan hak kepada pihak lain dan menuntut prestasi dari pihak lain tersebut adalah sumber mengikatnya hubungan hukum dalam perjanjian tersebut. Pada dasarnya KUHPerdata tidak secara tegas memberikan defiisi perjanjian. Pasal 1313 memberikan definisi perjanjian adalah suatu perbuatan hukum dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Sementara itu menurut Prof. Subekti suatu perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.4 Ricardo Simanjuntak, membedakan pengertian perjanjian dengan kontrak. Menurutnya pengertian perjanjian lebih luas dari pengertian kontrak. Suatu perjanjian dapat saja tidak memiliki akibat hukum atau memiliki akibat hukum. Perjanjian yang tidak memiliki akibat hukum hanya mengandung paksaan secara moral untuk memenuhinya. Misalnya Perjanjian antar sahabat untuk bermain bola pada sore hari. Perjanjian ini tidak memiliki akibat hukum apabila tidak dipenuhi. Sebaliknya perjanjian yang memiliki akibat hukum, menimbulkan hak untuk menuntut kerugian apabila prestasi yang diperjanjikan tidak dipenuhi oleh salah satu pihak. Kontrak adalah perjanjian yang mengikat dan yang memiliki konsekwensi hukum bila tidak dipenuhi.5 Pengertian kontrak sebagaimana diungkapkan oleh Ricardo Simanjuntak tersebut sejalan dengan pengertian kontrak menurut sejumlah ahli hukum dan praktisi hukum. Anderson, Fox Twomey dalam bukunya Business Law memberikan pengertian kontrak secara singkat sebagai an agreement creating an obligation (perjanjian yang menimbulkan kewajiban). Demikian pula David Kelly, cs memberikan pengertian kontrak sebagai sebuah kesepakatan yang mengikat secara hukum (contract is a legally binding agreement).6 Sementara itu, Prof. Subekti menyatakan bahwa pengertian kontrak lebih sempit daripada

Subekti, Hukum Perjanjian, (Jakarta : Intermasa, 1990), hal. 1 Lihat Ricardo Simanjuntak, Tehnik Perancangan Kontrak Bisnis, (Jakarta : Mingguan Ekonomi dan Bisnis KONTAN, 2006), hal. 25 27. 6 David Kelly, et.all., Business Law, (Cavendish Publishing Limited, 4th ed., 2002), hal. 104.
5

perjanjian karena ditujukan hanya kepada perjanjian ataupun persetujuan yang tertulis.7 Sementara itu, dalam praktek di Amerika Serikat, kata "kontrak" lazim digunakan untuk menandakan salah satu dari tiga konsep yang berbeda: (1) rangkaian tindakan-tindakan yang digunakan oleh pihak-pihak untuk menyatakan persetujuannya atas suatu perjanjian; (2) dokumen yang mereka tandatangani untuk membuktikan persetujuan mereka; atau (3) hubungan hukum yang ditimbulkan oleh perbuatan-perbuatan mereka yang menimbulkan hak terhadap suatu pihak dan kewajiban terhadap pihak lain.8 Dalam prakteknya, penggunaan definisi tertentu tentang kontrak secara relatif kurang penting. Yang penting adalah bagaimana dapat menentukan kapan suatu janji akan dilaksanakan berdasarkan undang-undang dan kapan pelaksanaannya dapat dikecualikan serta akibat hukum apa yang terjadi jika janji tersebut dilanggar.

C. Asas-asas Hukum yang Utama dan Hukum Kontrak Sebenarnya terdapat banyak asas hukum dalam hukum kontrak, tetapi pada kesempatan ini akan diuraikan beberapa asas hukum yang utama saja, yakni asas konsensualisme, asas kebebasan berkontrak dan asas itikad baik. 1. Asas Konsensualisme Suatu perjanjian sudah terjadi dan karenanya sudah mengikat para pihak yang membuatnya sejak ada kata sepakat tentang unsur pokok dari perjanjian yang dibuatnya. Dengan perkataan lain, perjanjian itu sudah saha apabila sudah tercapai kesepakatan mengenai unsur pokok dari perjanjian dan tidak diperlukan formalitas tertentu. Misalnya perjanjian jual beli sudah terhadi sejak adanya kata sepakat tentang barang dan harga sebagai unsur pokok dari perjanjian jual beli.
Subekti, loc.cit Ellips Project, Kontrak : Pendekatan-Pendekatan Civil Law dan Common Law, (Jakarta : Ellips, 2003), hal. 1
8 7

2. Asas kebebasan berkontrak Asas ini dapat disimpulkan dari ketentuan pasal 1338 KUH Perdata yang menyatakan, bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah mengikat sebagai undang-undang bagi para pembuatnya. Kata semua dalam pasal 1338 mengidentifikasikan bahwa orang dapat membuat perjanjian apa saja, tidak terbatas pada jenis perjanjian yang diatur KUH Perdata, dan perjanjian tersebut akan mengikat para pihak yang membuatnya. Namun meskipun demikian, asas kebebasan berkontrak yang diatur dalam pasal 1338 tersebut tidak dapat bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum. Asas kebebasan secara historis mengandung makna adanya lima kebebasan : (1). kebebasan bagi para pihak untuk menutup atau tidak menutup kontrak ; (2). kebebasan untuk menentukan dengan siapa para pihak akan menutup kontrak ; (3). kebebasan bagi para pihak untuk menentukan bentuk kontrak ; (4). kebebasan bagi para pihak untuk menentukan isi kontrak, dan (5). kebebasan bagi para pihak untuk menentukan cara pembuatan kontrak.9 3. Asas itikad baik Asas itikad baik terkandung dalam Pasal 1338 ayat (3) dari KUHPerdata yang menyatakan bahwa perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik. Itikad baik merupakan kewajiban tidak tertulis yang harus dipatuhi oleh para pihak yang mengikatkan diri dalam kontrak. P.L. Wry memberikan pengertian itikad baik dalam hukum perjanjian sebagai berikut : bahwa kedua belah pihak harus berlaku yang satu terhadap yang lain seperti patut saja antara orang-orang sopan, tanpa tipu daya, tanpa tipu muslihat, tanpa akal-akalan, tanpa mengganggu pihak lain, tidak dengan melihat kepentingan sendiri saja, tetapi juga melihat kepentingan pihak lain.10
Johannes Gunawan, Penggunaan Perjanjian Standar dan Implikasinya pada Asas Kebebasan Berkontrak, (Majalah Pajajaran : No. 3-4/1987). Hlm. 45 10 P.L. Wry, Perkembangan Hukum tentang Itikad Baik di Nederland, (Jakarta : Percetakan Negara, 1990), hlm. 9
9

Pandangan mengandung Namun,

P.L.Wry

mengenai untuk

asas

itikad

baik

dalam

kontrak, dan

pentingnya

memperhatikan

keseimbangan

keharmonisan hak dan kewajiban para pihak yang melakukan perjanjian. J. Satrio memberikan pandangan yang lebih dapat diterima. Menurut ahli hukum ini, ketentuan pengaturan itikad baik tersebut merupakan ketentuan yang ditujukan kepada pengadilan.11 Dikatakan demikian karena sengketa para pihak mengenai itikad baik dalam pelaksanaan kontrak hampir selalu dimintakan penyelesaiannya kepada pengadilan. Bagaimana ukuran itikad baik dalam pelaksanaan kontrak sangat tergantung pada rasa keadilan yang dimiliki oleh sang hakim ketika memeriksa dan memutuskan sengketa itikad baik. Oleh karena itu, tidak ditemukan adanya batasan yang tegas tentang itikad baik dalam praktek pengadilan. Di negeri Belanda, penafsiran itikad baik dalam pelaksanaan kontrak lebih cenderung mengacu kepada doktrin kerasionalan dan kepatutan yang hidup dalam masyarakat. 12 D. Sahnya sebuah Kontrak Menurut Hukum Suatu perjanjian yang dibuat secara sah adalah mengikat bagi para pihak yang membuat perjanjian tersebut. Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata dengan tegas menyatakan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Hal ini berarti bahwa setiap perjanjian yang dibuat secara sah mengikat para pihak sebagaimana mengikatnya undang-undang hanya saja mengikatnya perjanjian terbatas pada para pihak yang membuat perjanjian saja (vide Pasal 1340 KUHPerdata). Dengan demikian agar perjanjian tersebut mengikat sesuai Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata, maka perjanjian tersebut haruslah dibuat secara sah. Untuk mengetahui apakah suatu perjanjian itu sah dan karenanya mengikat/ berkekuatan hukum bagi para pihak, maka haruslah diukur dengan Pasal 1320 KHUPerdata.
J. Satrio, Hukum Perikatan : Perikatan yang lahir dari Perjanjian, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 1995), hal. 166. 12 P.L. Wry, loc.cit.
11

Pasal 1320 KUH Perdata menyatakan untuk sahnya perjanjian-perjanjian diperlukan (4) empat syarat : 1) 2) 3) 4) Kesepakatan mereka yang mengikatkan diri Kecakapan para pihak Hal yang tertentu Causa yang halal. Keempat syarat tersebut merupakan syarat pokok bagi setiap perjanjian menurut hukum perjanjian di Indonesia. Artinya, setiap perjanjian harus memenuhi keempat syarat tersebut agar perjanjian tersebut sah dan mengikat mereka yang memperjanjikan. Ad.1. Kesepakatan mereka yang mengikatkan diri. Kesepakatan menurut hukum harus diberikan secara bebas. Oleh karena itu, apabila sepakat yang diberikan karena adanya salah pengertian (dwaling), paksaan (dwang) dan penipuan (bedrog), maka sepakat yang diberikan tersebut merupakan persetujuan kehendak yang cacat (wilsgebrek). Terhadap sepakat yang demikian dapat dilakukan pembatalan (vernietigbaar), tetapi bukan batal dengan sendirinya (batal demi hukum). Ad.2. Kecakapan para pihak Pihak (subjek) yang melakukan perjanjian harus memiliki kecakapan untuk memberikan persetujuan (kesepakatan). Artinya subjek tersebut adalah orang (termasuk badan hukum) yang mampu melakukan tindakan hukum. Pasal 1330 BW menentukan yang tidak cakap untuk membuat perikatan : a. Orang-orang yang belum dewasa b. Mereka yang ditaruh dibawah pengampuan c. Orang-orang perempuan, dalam hal-hal yang ditetapkan oleh undangundang, dan pada umumnya semua orang kepada siapa undang-undang telah melarang membuat perjanjian-perjanjian tertentu. Namun berdasarkan fatwa Mahkamah Agung, melalui Surat Edaran Mahkamah

Agung No.3/1963 tanggal 5 September 1963, orang-orang perempuan tidak lagi digolongkan sebagai yang tidak cakap. Mereka berwenang melakukan perbuatan hukum tanpa bantuan atau izin suaminya. Ad.3. Hal yang tertentu Objek suatu perjanjian harus mengenai sesuatu yang tertentu,

sekurang-kurangnya jenisnya dapat ditentukan baik hal itu mengenai benda yang berwujud maupun tidak berwujud. Objek dari suatu yang diperjanjian dapat pula terdiri dari barang yang diharapkan dimasa yang akan dating (Pasal 1334 KUH Perdata). Ad.4. Causa yang halal Yang dimaksud dengan causa (sebab) yang halal adalah isi dan tujuan dari perjanjian tersebut tidak boleh bertentangan dengan undangundang, kepentingan umum dan kesusilaan. Oleh karena itu isi dan tujuan suatu perjanjian tidak dibenarkan bertentangan dengan undang-undang, kepentingan umum (openbare orde) dan nilai-nilai kesusilaan (geode zeden). Syarat pertama dan syarat kedua dari Pasal 1320 KUH Perdata tersebut (kesepakatan para pihak dan kecakapan) merupakan syarat subjektif (menyangkut subjek yang melakukan perjanjian) sedangkan syarat ketiga dan syarat keempat (haltertentu dan causa yang halal) adalah syarat objektif (menyangkut objek perjanjian). Apabila syarat objektif tidak terpenuhi maka perjanjian tersebut batal demi hukum (void ab initio) sedangkan apabila syarat subjektif tidak terpenuhi maka perjanjian tersebut dapat dibatalkan (voidable). Perjanjian yang batal demi hukum (void ab initio) adalah perjanjian yang dari semula sudah batal, sehingga hal ini berarti dalam pandangan hokum tidak pernah ada perjanjian tersebut. Sedangkan perjanjian yang dapat dimintakan pembatalannya (voidable) adalah perjanjian yang dari semula tetap berlaku (mengikat para pihak) sampai adanya pembatalan putusan tersebut. Terhadap

perjanjian yang dapat dibatalkan, maka apabila tidak dimintakan pembatalan, maka perjanjian tersebut tetap berlaku dan mengikat para pihak. Apabila Pasal 1320 KUPerdata tersebut telah terpenuhi, maka perjanjian tersebut memiliki akibat hukum : a. Para pihak menjadi terikat pada isi perjanjian (vide Pasal 1338, 1339 dan Pasal 1340 KHUPerdata). b. Para pihak tidak saja terikat pada perjanjian, tetapi juga kepatutan, kebiasaan dan undang-undang (vide Pasal 1338, 1339 dan Pasal 1340 KHUPerdata) c. Perjanjian tersebut harus dilaksanakan dengan itikad baik oleh para pihak (vide Pasal 1338 ayat (3) KHUPerdata.

E. Wanprestasi dalam kontrak dan akibatnya Wanprestasi terjadi apabila salah satu pihak dalam perjanjian tidak

melaksanakan atau lalai melaksanakan prestasi yang menjadi objek perikatan antara mereka dalam kontrak. Dalam pasal 1233 KUH Perdata, prestasi yang harus dipenuhi oleh para pihak dalam berkontak adalah kewajiban untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu, ataupun bahkan untuk tidak berbuat sesuatu. Artinya dalam hal kesepakatan-kesepakatan untuk melakukan prestasi tersebut tidak dijalankan atau dijalankan dengan tidak semestinya, maka orang yang tidak menjalankan kewajiban sesuai dengan yang telah disepakati tersebut akan dinyatakan wanprestasi (default). Wanprestasi seorang debitur dapat didasarkan empat alasan yakni : 1. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya ; 2. Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana yang dijanjikan 3. Melakukan apa yang dijanjikannya tetapi terlambat 4. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya

Terjadinya wanprestasi dari mitra berkontrak merupakan ukuran yang sangat penting bagi mitra berkontrak yang dirugikan untuk terlebih dahuu dibuktikan agar dapat menuntut ganti rugi terhadap kerugian yang dideritanya akibat dari wanprestasi. Hal ini secara tegas diatur dalam pasal 1243 KUH Perdata yang menyatakan sebagai berikut : Penggantian biaya, rugi dan bunga karena tidak dipenuhinya suatu perikatan, barulah mulai diwajibkan, apabila siberutang, setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya, tetap melalaikannya atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dibuatnya, hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tenggang waktu yang telah dilampaukannya. Dari ketentuan pasal 1243 ini terdapat pengertian bahwa kewajiban untuk membuktikan bahwa mitra berkontraknya telah melakukan wanprestasi ada pada dirinya selaku pihak yang menuntut ganti rugi. Muncul pertanyaan bagaimana cara menentukan terjadinya wanprestasi ? Berdasarkan pasal 1238 KUH Perdata ada dua cara untuk membuktikan telah terjadi wanprestasi, yaitu wanprestasi yang akan ditentukan seacara hukum dan prestasi yang ditentukan berdasarkan perjanjian, dan pasal ini memberikan keleluasaan bagi para pihak yang berkontrak untuk menyepakati apakah tata cara penentuan wanprestasi akan diukur berdasarkan ketentuan hukum atau berdasarkan ketentuan yang akan disepakati dalam kontrak. Artinya pada saat para pihak tidak dengan secara tegas mengatur tata cara terjadinya wanprestasi dalam kontrak, maka ketentuan ukuran wanprestasi dalam kontraklah yang menjadi dasar telah terjadinya atau tidaknya wanprestasi tersebut. Dengan kalimat lain, penentuan wanprestasi yang dilakukan secara hukum berlaku sebagai lex generalis terhadap penentuan wanprestasi yang telah dengan tegas disepakati dalam kontrak sebagai suatu hukum yang bersifat lex specialis. Penentuan telah terjadinya wanprestasi secara hukum umumnya dilakukan bila para pihak yang berkontrak tidak menyepakati tata cara terjadinya wanprestasi tersebut dalam kontrak yang telah mereka sepakati. Misalnya, dalam kontrak pinjam meminjam uang. Disini para pihak tidak mengatur dengan jelas kapan si peminjam uang harus mengembalikan uang yang dipinjamnya. Hal ini akan menimbulkan kekaburan tentang kapan

tindakan kelalaian atau wanprestasi terjadi. Sebab, pemberian pinjaman uang dengan tidak menetapkan waktu pengembalian secara jelas akan memberikan konsekuensi bagi pihak debitur untuk mengembalikan uang yang dipinjamnya kapan saja dia siap atau mampu mengembalikannya. Tentunya bila kreditur keberatan terhadap tindakan debitur yang berpegang pada cra pengertian bahwa dia hanya akan mengembalikan uang yang dipinjamnya kapan dia siap, si kreditur wajib membangun dasar telah terjadinya wanprestasi dengan terlebih dahulu memberikan peneguran kepada debitur. Surat peneguran tersebut akan menjadi cara baginya untuk membangun alasan bahwa debitur tersebut telah gagal mengembalikan uang yang dipinjamkan kepadanya. Alasan ini akan memberikan hak baginya untuk menuntut debitur tersebut di pengadilan untuk memaksanya mengembalikan uang yang dipinjamnya, termasuk kerugian-kerugia yang telah diderita kreditur akibat keterlambatan pengembalian pinjaman dan ditambah juga dengan bunga yang dilekatkan padanya. Apabila para pihak dalam kontrak telah secara tegas mengatur tata cara ataupun ukuran telah terjadinya wanprestasi bentuk-bentuk ketidakpastian dalam pembuktian telah terjadinya wanprestasi dari pihak debitur akan dapat dihindarkan ataupun diminimalkan dengan mengatur tata cara terjadinya wanprestasi dengan sejelas mungkin. F. Tuntutan ganti rugi terhadap debitur Maksud dasar dari masing-masing pihak untuk melakukan kesepakatan dalam suatu kontrak bisnis adalah untuk mencapai tujuan dalam bentuk keuntungan yang telah direncanakan. Ketika suatu kontrak yang telah ditandantangani tidak berjalan dengan semestinya, tentu akan memberikan kerugian pada pihak yang terkena wanprestasi tersebut, oleh karenanya pihak yang dirugikan dapat menuntut penggantian atas kerugian yang dialami akibat wanprestasi. Baik dalam bentuk pengembalian biaya yang telah dikeluarkan sehubungan dengan pelaksanaan tersebut maupun ganti kerugian yang telah dideritanya saat itu ataupun kerugian atas batalnya potensi keuntungan yang akan datang yang sudah pasti akan didapatkannya jika pihak tersebut tidak

wanprestasi serta termasuk bunga yang diperhitungkan dari jumlah kerugian yang dituntut tersebut. Hak kreditur utnuk menuntut ganti rugi pada debitur terhadap pembayaran ganti rugi yang telah dialaminya akibat dari wanprestasi adalah hak yang diakui dan dijamin pelaksanaannya oleh hukum melalui putusan pengadilan sebagaimana diatur dalam pasal 1266 dan 1267 KUH Perdata. Secara hukum ganti rugi yang dituntut kreditur terhadap dibitur harus diperhitungkan dalam jumlah uang yang akan dibayarakan ataupun dilunasi oleh dibitur. Akan sulit apabila tata cara penggantian tersebut diberikan dalam bentuk lain, karena hal tersebut akan menimbulkan permasalan tersendiri dalam penilaian yang sebenarnya. Dalam pasal 1239 KUH Perdata diatur bahwa apabila pihak yang wanprestasi tidak menenuhi kewajibannya, maka si berutang diwajibkan memberikan penggantian biaya rugi, dan bunga. Yang akan diganti rugi oleh si berutang menurut pasal 1243 KUH Perdata adalah kerugian yang telah diderita oleh pihak yang dirugikan atas kontra tersebut dan kerugian yang diderita atas batalnya kreditur tersebut untuk menikmati keuntungan yang sedianya pasti diperolehnya apabila kontra tersebut berjalan dengan semestinya. Maka sangat mungkin jumlah kerugian yang diajukan kreditur berada diluar perhitungan debitur. Dalam hal ini, perdebatan tentang jumlah kewajiban yang sebenarnya harus dibayarkan oleh debitur akan diputuskan oleh pengadilan. Hal ini berbeda bila dalam kontrak telah secara tegas memperjanjikan suatu jumlah uang tertentu sebagai jumlah ganti rugi yang harus dibayarkan oleh debitur kepada krediturnya dalam hal terjadinya wanprestasi. Pengenaan bunga yang diperhitungkan sebagai konsekwensi dari telah terjadinya wanprestasi merupakan bagian dari kewajiban. Ini dapat diperhitungkan berdasarkan perjanjian yang telah disepakati oleh para pihak ataupun bunga yang diperhitungkan secara huku. Bila besaran bunga telah disepakti para pihak, sepanjang masih memenuhi azas kepatutan yang diatur dalam pasal 1339 KUH Perdata, ketentuan tersebut menjadi ukuran besarnya bunga yang dilekatkan pada kewajiban pembayaran ganti rugi. Akan tetapi, bila tidak dengan tegas diperjanjikan, maka ketentuan bunga yang diberlakukan akan diperhitungkan berdasarkan ketentuan bunga undang-

undang yang diatur dalam Lembaran Negara tahun 1848 No. 22 yaitu 6 (enam) persen pertahun, seperti yang diatur dalam pasal 1767 dan 1578 KUH Perdata.

G. Pembatalan Kontrak Akibat Wanprestasi Selain hak untuk menuntut ganti rugi, wanprestasi juga memberikan hak kepada kreditur untuk membatalkan kontrak yang disepakati, sehingga masuk pada keadaan seakan kontrak tersebut tidak pernah disepakati. Hak tersebut juga hak untuk mengentikan kontrak lebih awal (early termination), yang memberikan konsekuensi dihentikannya seluruh kegiatan yang berhubungan dengan pelaksanaan kontrak, baik yang sedang berjalan maupun yang akan datang. Seluruh kerugian yang dialami debitur akan menjadi kewajiban debitur untuk melunasinya. Termasuk juga bagian-bagian dari kewajiban yang seharusnya belum jatuh tempo, secara hukum menjadi jatuh tempo sebagai akibat dari early termiation tersebut. Dari sisi perancangan kontrak, walaupun hak kreditur untuk mengehentikan kontrak akibat wanprestasi yang dilakukan debitur dapat ditegaskan melalui pengadilan berdasarkan pasal 1267 KUH Perdata, tetapi akan sangat baik kiranya bila hal-hal yang muncul sebagai konsekuensi dari dilakukannya penghentian kontrak lebih awal tersebut secara jelas dan tegas diatur dalam kontrak. Ini termasuk penegasan tentang jatuh temponya seluruh bentuk kewajiban debitur, baik yang sekarang maupun yang akan datang, dalam suatu ketentuan acceleration of due date and payable obligation. Pasal 1266 KUH Perdata, dapatkah dikesampingkan ?13 Kehadiran pasal 1266 KUH Perdata pada prinsipnya merupakan dasar pertimbangan dari pembuat undang-undang untuk tidak membiarka permasalahan suatu kontrak diletakkan pada putusan masing-masing pihak yang berkontrak. Sebab, hal tersebut berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum atau bahkan tindakan kesewenang-wenangan pihak yang lebih berkuasa atau yang lebih kuat terhadap mitra berkontraknya yang posisiya
13

Lebih lanjut, Ricardo Simanjuntak, op.cit., hlm 193 201.

lebih lemah. Dengan pengertian lain, pegakuan kekuatan para pihak berkontrak (party autonomi) untuk tidak melibatkan pengadilan dalam pembatalan suatu kontrak dapat berpotensi terhadap penyelesaian kontrak secara hukum rimba yaitu siapa yang kalah siapa yang menang. Pasal 1266 KUH Perdata menegaskan peran peradilan dalam pembatalan suatu kontrak beserta konsekuensi hukumnya, sebagai berikut : Syarat batal dianggap selalu dicantumkan dalam persetujuanpersetujuan yang timbalbailk, manakala salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya. Dalam hal demikian persetujuan tidak batal demi huku, akan tetapi pembatalan harus dimintakan hakim. Permintaan ini juga harus dilakukan, meskipun syarat batal mengenai tidak dipenuhinya kewajiban dinyatakan di dalam perjanjian. Jika syarat batal tidak dinyatakan dalam persetujuan, hakim adalah leluasa untuk, menurut keadaan, atas permintaan tergugat, memberikan suatu jangka waktu untuk masih juga memenuhi kewajibannya, jangka waktu mana tidak boleh lebih dari satu tahun. Secara hukum pembuat undang-undang menghadirkan pasal 1266 KUH Perdata yang demi hukum mengharuskan para pihak untuk, antara lain, meminta pembatalan suatu kontrak harus melalui pengadilan, termasuk dengan konsekuensi hukum dari pembatalan kontrak tersebut terhadap hakhak dari pihak yang dirugikan seperti yang diatur dalam pasal 1267 KUH Perdata, sebagai berikut : Pihak terhadap siapa perikatan tidak terpenuhi, dapat memilih apakah ia, jika hal itu masih dapat dilakukan, akan memaksa pihak yang lain untuk memenuhi perjanjian, ataukah ia menuntut pembatalan perjanjian, disertai penggantian biaya kerugian dan bunga. Dalam praktek kehadiran pasal 1266 dan 1267 KUH Perdata yang dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum dalam berkontrak tersebut ternyata mendapat tanggapan yang berbeda dengan maksud pembuat undang-undang. Kehadiran pasal 1266 dan pasal 1267 KUH Perdata pada satu sisi justru telah membangun kekhawatiran pada pelaku bisnis yang justru akan menimbulkan ketidakpastian hukum serta distorsi dalam aktifitas bisnis bila setiap pembatalan kontrak harus dilakukan melalui pengadilan, baik terhadap kontrak-kontrak rumit maupun kontrak sederhana. Ini mengingat pasal 1266 KUH Perdata tidak memberikan perbedaan terhadap itu. Pelaku usaha dan

beberapa ahli hukum memberikan argumentasi kekhawatirannya bagaimana rumitnya konsekuensi hukum dari suatu kontrak bila setiap pembatalan kontrak harus melalui pengadilan, khususnya kontra-kontrak sederhana ataupun kontra-kontrak yang bernilai kecil yang sangat banyak terjadi dalam kesehariannya. Bisa dibayankan penuhnya pengadilan setiap hari melayani keinginan dari pihak-pihak yang ingin membatalkan suatu kontrak. Selain pengadilan belum tentu mampu menangani seluruh potensi dispute dari aktivitas berkontrak yang begitu besar dalam masyarakat, para pelaku usahapun akan sangat enggan untuk selalu berhubungan dengan pengadilan. Di sana setiap pengajuan gugatan untuk nilai besar atau kecil akan melibatkan waktu yang tidak pendek, yang berdasarkan hukum acara perdata tidak menghalangi hak-hak dari pihak untuk mengajukan upaya-upaya hukum banding ke Pengadilan Tinggi, kasasi ke Mahkamah Agung, terasuk juga upaya hukum Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung. Dengan alasan bahwa melibatkan pengadilan dalam hal pembatalan kontrak akan menimbulkan kerumitan tersendiri, banyak pelaku bisnis yang lebih memilih tidak melibatkan pengadilan dalam penghentian ataupun pembatalan kontrak secara sepihak, sepanjang telah terbutkti terjadinya tindakan wanprestasi seperti yang telah disepakati dalam kontrak. Caranya dengan mengesampingkan keberlakuan pasal 1266 KUH Perdata, artinya para pihak yang berkontrak berharap bahwa dengan menggunakan prinsip party autonomi dalam kebebasan berkontraksepanjang ketentuan yang menjadi dasar telah terjadinya wanprestasi terpenuhi, maka masing-masing pihak berkontrak sepakat memberikan kepada pihak yang dirugikan untuk segera menghentikan kontrak tersebut dan menuntut pembayaran ganti rug tanpa harus melibatkan pengadilan, yaitu dengan cara mengesampingkan keberlakuan pasal 1266 KUH Perdata. Selain alasan kemudahan, dimata pelaku bisnis pengesampingan pasal 1266 KUH Perdata akan sangat berguna untuk menghindarkan ketidak konsistenan pihak-pihak yang telah melakukan wanprestasi yang bisa sajja dengan niat buruk menciptakan berbagai alasan untuk mendukung posisinya dipengadilan sehingga langkah pembatalan kontraK tersebut masuk pada suatu perkara yang berkepanjangan. Pertimbangan juga diberikan khususnya

pada kontrak-kontrak sederhana ataupun bernilai kecil yang para pelaku bisnis lebih menginginkan penyelesaian pada sikap ksatria dari masing-masing pihak untuk menghargai dan tunduk pada perdebatan baru tentang mana atau sampai nilai berapa ataupun sampai tingkat kerumitan berapa suatu kontrak dapat disebutkan sebagai kontrak sederhana. Sebagai suatu contractual commitment, tentunya para pihak commit untuk tunduk pada ketentuan pengesampingkan pasal 1266 KUH Perdata. Maka, seharusnya mereka sama sekali tidak keberatan terhadap tindakan penghentian taupun pembatalan sepihak suatu kontrak karena terjadinya wanprestasi yang dilakukan mitra kontraknya. Kemudian seraca ikhlas pihak yang wanprestasi mengakui dan memenuhi seluruh kewajiban yang timbul. Dengan demikian, tentunya tidak ada permasalahan akibat pengesampingan pasal 1266 KUH Perdata sebagai suatu kesepakatan kontrak karena para pihak tersebut telah memegang komitmen untuk sama-sama menghargai pengesampingan pasal 1266 dan tidak akan pergi ke pengadilan untuk memberikan keabsahan dari pembatalan kontrak yang telah disepakati. Yang menjadi persoalan adalah apabila pihak yang dinyatakan telah wanprestasi ternyata tidak dapat menerima tuduhan wanprestasi, juga langkah pembatalan kontrak sepihak tersebut, dan kemudian mengajukan gugatan ke pengadilan. Apakah atas dasar pasal 1338 KUH Perdata yang memberikan konsekuensi bahwa kontrak yang sah adalah hukum yang bersifat lex specialis, membuat pengadilan menjadi tidak dapat mengadili gugatan tersebut ? atau dengan pertanyaan lain, apakah pasal 1266 KUH Perdata yang memberikan pengaturan secara hukum bagi para pihak untuk harus meminta pembatalan suatu kontrak melalui pengadilan dapat dikesampingkan kekuatannya oleh suatu kontrak?. Dalam praktek ternyata pengadilan tidak merasa harus terikat pada kesepakatan para pihak berkontrak yang telah mengesampingkan pasal 1266 KUH Perdata. Nyatanya dalam banyak gugatan yang masuk ke pengadilan, walaupun dalam kontrak yang menjadi dasar gugatan tersebut ternyata telah disepakati dengan tegas pengesampingan pasal1266 KUH Perdata, pengadilan tetap saja memaksa dan memutuskan perkara. Artinya, hingga saat ini pengadilan cenderung pada sikap bahwa kewenangan untuk membatalkan suatu kontrak atas dasar wanprestasi masih merupakan kewenangan yang

dimiliki pengadilan secara hukum, sehingga tidak dapat dikesampingkan begitu saja oleh kontrak. Berbeda dengan sikap pengadilan yang tidak tunduk terhadap klausul pengesampingan keberlakukan pasal 1266, penerimaan terhadap pengesampingan pasal 1266 tersebut dilakukan oleh para pihak berkontrak dengan memindahkan kewenangan memeriksa dan memutuskan perkara pada lembaga arbitrase. Sebab, walaupun tata cara penyelesaiannya berada diluar pengadilan, lembaga arbitrase merupakan lembaga independen yang telah memenuhi seluruh unsur dalam upaya penciptaan putusan yang setara dengan pengadilan. Artinya, walaupun tidak dipengadilan, dipute tersebut diadili pada lembaga alternatif penyelesaian perkara yang dianggap setara dengan pengadilan. Pengakuan pengadilan Indonesia terhadap hak para pihak menyelesaikan perkara mereka di luar pengadilan, dan memindahkannya pada lembaga arbitrase tidak terjadi secara seketika, tetapi melalui proses yang cukup panjang. Ini dimulai dari dukungan pengadilan melalui yurisprudensi tentang kewenangan lembaga arbitrase sebagai lembaga yang berhak menyelesaikan perkara di luar pengadilan. Dukungan ini berdasarkan pasal 377 HIR atau pasal 705 RBG yang menunjuk dasar aturan arbitrase pada ketentuan RV, khususnya dalam pasal 615-651 RV. Kemudian diperkenalkan dalam penjelasan pasal 2 ayat (1) UU No. 14 th. 1970 tentang Kekuasaan Kehakiman. Berikutnya, dalam pergaulan internasional ditegaskan dengan meratifikasi keberlakuan Konvensi New York 1958 melalui Kepres No. 34 th. 1981 tentang penyelesaian perkara melalui lembaga arbitrase antara pelaku bisnis swasta. Ratifikasi ini dilakukan setelah lebih dahulu meratifikasi Konvesnsi Washington tentang penyelesaian perkara melalui arbitrase antara negara warga negara lain (ICSID) melalui UU No 3 th. 1968. Kehadiran UU nomor 30 th 1999 seperti telah tegas diatur dalam pasal 3 dan pasal 11 telah memberikan dasar hukum yang tegas tentang kewenangan para pihak untuk memilih penyelesaian perkara mereka, dilakukan melalui pengadilan atau lembaga arbitrase. Bila pihak berkontrak memilih lembaga arbitrase, maka pengadilan tidak berhak lagi memeriksa dan memutuskan perkara tersebut.

Dari sisi perancangan kontrak, pemahaman tersebut sangat penting karena akan memampukan seorang contract drafter untuk mengukur sampai dimana keberlakuan klausul pengesampingan pasal 1266 KUH Perdata. Artinya, dari sisi manajemen resiko, paling tidak ketika perancangan kontrak dilakukan, perancang kontrak atau pengguna kontrak telah memahami bahwa pengesampingan pasal 1266 hanya mengikat para pihak sepanjang masingmasing pihak mematuhi konsekuensinya secara suka rela. Artinya, penyelesaian konflik dari kontrak yang sedang dirancang masih bisa di bawa ke pengadilan bila pembatalan oleh salah satu pihak berkontrak tidak dapat diterima oleh mitra berkontraknya, sehingga debitur tersebut mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri. H. Keadaan Memaksa (Force Majeure, Overmacht) Secara umum dalam hukum kontrak berlaku asas bahwa setiap kelalaian dan keingkaran mengakibatkan sipelaku wajib mengganti kerugian serta memikul segala risiko akibat kelalaian dan keingkaran tersebut. Akan tetapi jika pelaksanaan pemenuhan perjanjian yang menimbulkan kerugian terjadi karena overmacht atau force majeure, debitur dibebaskan untuk menanggung kerugian tersebut.
14

Dalam overmacht atau force majeure ini,

kerugian yang dialamai kreditur adalah akibat tidak dipenuhinya prestasi oleh debitur, akan tetapi tidak terpenuhinya prestasi tersebut bukan karena kesalahan debitur. Dalam KUHPerdata di Indonesia, overmacht atau force majeure terkait dengan Pasal 1244 dan 1245 KUHPerdata sebagai berikut : Jika ada alasan untuk itu, si berutang harus dihukum untuk mengganti biaya, rugi dan bunga apabila ia tidak dapat membuktikan, bahwa hal tidak atau tidak pada waktu yang tepat dilaksanakannya perikatan itu, disebabkan suatu hal yang tidak terduga, pun tidak dapat dipertanggungjawabkan padanya, kesemuanya itu pun jika itikad buruklah ada pada pihaknya (Pasal 1244 KUHPerdata). Pasal 1245 KUHPerdata : Tidaklah biaya rugi dan bunga harus digantinya, apabila lantaran keadaan memaksa atau lantaran suatu kejadian tak disengaja si berutang berhalangan memberikan atau berbuat sesuatu yang
14

Yahya Harahap, Segi-Segi Hukum Perjanjian, (Bandung : Alumni, 1986), hal. 82

diwajibkan, atau lantaran hal-hal yang sama telah melakukan perbuatan terlarang Dari ketentuan tersebut diatas, setidaknya ada dua unsur penting yang harus dipahami : (1). Keadaan memaksa (overmacht atau force majeure) tersebut haruslah dibuktikan oleh debitur (pihak yang tidak melaksanakan prestasi), dan (2). Ukuran dari overmacht atau force majeure tersebut. Untuk permasalahan yang pertama, debitur tidak saja harus memberitahukan tentang terjadinya overmacht atau force majeure akan tetapi harus bisa membuktikan kebenaran peristiwa tersebut. Umumnya dalam kontrak-kontrak bisnis pembuktikan keadaan overmacht atau force majeure ditetapkan dengan adanya keterangan dari pejabat setempat dimana peristiwa overmacht atau force majeure tersebut terjadi, atau syarat-syarat lain yang disepakati bersama oleh para pihak. Permasalahan yang lebih kompleks adalah pada persoalan kedua, yakni untuk menentukan jenis dan ukuran overmacht atau force majeure tersebut. Adakalanya di dalam kontrak para pihak membuat jenis dan batasan yang jelas, tentunya hal ini akan meminimalisir resiko sengketa. Namun yang selalu menjadi sengketa dalam menafsir kontrak adalah apabila para pihak tidak mengatur atau tidak jelas mengatur tentang jenis dan ukuran-ukuran overmacht atau force majeure tersebut. Secara teoritis tidak ada ukuran overmacht atau force majeure yang dapat diterima oleh semua ahli hukum. Oleh karena itu, haruslah dilihat secara kasus per kasus dengan objektif dan pemikiran yang rasional dan itikad yang baik. Tentang hal ini, Prof. Subekti menjelaskan bahwa pada awalnya pengertian overmacht atau force majeure dipahami para ahli hukum sebagai halangan yang muncul dari kejadian hebat dan menimbulkan akibat besar dan luas dan permanen. Misalnya bencana alam, wabah penyakit, peperangan, atau kekacauan yang begitu hebat sehingga debitur tidak mungkin sama sekali untuk memenuhi prestasinya. Dalam perkembangannya ,ternyata pemahaman tersebut lebih pada pengertian secara umum, karena overmacht atau force majeure mencakup kejadian-kejadian penghalang yang tidak bersifat mutlak atau bersifat sementara. Menurut Prof. William F. Fox, cakupannya meliputi

halangan yang timbul dari bencana alam (natural dissasters), hingga kekacauan politik suatu negara.15 Sehubungan dengan hal tersebut diatas, sangatlah penting jika di di dalam kontrak, para pihak mendefinisikan secara tegas dan jelas jenis dan ukuran-ukuran dari keadaan overmacht atau force majeure tersebut dengan tetap berpedoman pada pemikiran yang rasional dan didorong oleh itikad yang baik.

I. Penyelesaian Sengketa Asas kebebasan berkontrak memberikan wewenang yang luas bagi para pihak untuk menyepakati dalam kontrak perihal bagaimana mereka akan menyelesaikan sengketa-sengketa atau perselisihan yang lahir dari kontrak yang sudah mereka sepakati. Secara umum selalu langkah pertama yang ditetapkan para pihak adalah musyawarah mufakat, sesuai dengan kultur secara masyarakat Indonesia. Proses musyawarah ini sebaiknya dalam kontrak diatur secara tegas, misalnya mengenai lamanya musyawarah, tempat bermusyawarah dan tata cara musyawarah, agar tidak terjadi perbedaan yang bisa menyita waktu penyelesaian perselisihan tersebut. Adakalanya musyawarah dapat menyelesaikan perselisihan atau sengketa para pihak, namun sering pula bahwa musyawarah tidak dapat menemukan penyelesaian yang mufakat. Oleh karena itu, perselisihan para pihak sangat berpotensi muncul sebagai sengketa yang harus diselesaikan oleh para pihak. Terkait sengketa ini, para pihak diberikan kebabasan untuk menyelesaikan sengketa kontrak tersebut melalui pengadilan atau melalui cara-cara nonlitigasi seperti mengangkat mediator atau melalui arbitrase. Apapun cara yang dipilih oleh para pihak, maka haruslah terlebih dahulu para pihak menyadari dengan sebanar-benarnya pilihan forum penyelesaian sengketa yang akan disepakati. Para pihak semestinya mencari tahu kelebihan dan kekurangan pengadilan sebagai forum penyelesaian sengketa atau kekuragan dan kelebihan arbitrase. Pengetahuan ini dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan yang lebih baik pada hubungan para pihak.
15

Ricardo Simanjuntak, op.cit., hal. 205.

J. Penutup Secara jujur dikatakan bahwa uraian-uraian dalam tulisan ini masih

sangat kurang untuk bisa menggambarkan secara menyeluruh dimensidimensi hukum dalam kontrak-kontrak bisnis. Hal ini mengingat sangat luasnya dimensi hukum kontrak dan sangat sulit disimpulkan hanya dalam belasan atau puluhan lembaran kertas kerja. Namun, sekedar memenuhi kaidah penulisan, maka beberapa hal perlu dikemukakan sebagai penutup. Bagaimana pun cermatnya suatu kontrak dirumuskan, namun tidak pernah ada kontrak yang sempurna. Tetap saja di dalam naskah kontrak terdapat celah-celah hukum yang berpotensi melahirkan resiko bagi para pihak dan akhirnya menimbulkan sengketa. Oleh karena itu, para pihak harus benar-benar memahami substansi kontrak sebelum memberikan persetujuan. Di samping itu, para pihak juga harus memberikan fleksibilitas atau ruang bagi mereka untuk menyelesaikan perselisihanperselisihan dalam pelaksanaan kontrak, agar hubungan para pihak yang berakhir di meja pengadilan adalah pilihan yang paling akhir. Sehubungan dengan hal tersebut itikad baik masing-masing pihak dalam melaksanakan kontrak adalah sesuatu yang harus ditonjolkan oleh para pihak. Kontrak yang baik, jika tidak dilandaskan pada itikad yang baik, maka potensi risiko persengketaannya juga akan sangat terbuka.

REFERENSI Atiyah, An Introduction to the Law of Contract, Oxford : Clarendon Press, 1984. Ellips Project, Kontrak : Pendekatan-Pendekatan Civil Law dan Common Law, Jakarta : Ellips, 2003. Gunawan, Johannes, Penggunaan Perjanjian Standar dan Implikasinya pada Asas Kebebasan Berkontrak, Majalah Pajajaran : No. 3-4/1987. Goode, Roy, Vommercial Law, London : Penguin Books, 1995. Harahap, Yahya M, Segi-Segi Hukum Perjanjian, Bandung : Alumni, 1986. Kelly, David, et.all., Business Law, Cavendish Publishing Limited, 4th ed., 2002. Satrio, J., Hukum Perikatan : Perikatan yang lahir dari Perjanjian, Bandung : Citra Aditya Bakti, 1995. Simanjuntak, Ricardo, Tehnik Perancangan Kontrak Bisnis, Jakarta : Mingguan Ekonomi dan Bisnis KONTAN, 2006. Subekti, Hukum Perjanjian, Jakarta : Intermasa, 1990. Wry, P.L., Perkembangan Hukum tentang Itikad Baik di Nederland, Jakarta : Percetakan Negara, 1990.

Beri Nilai