Anda di halaman 1dari 14

ANALISIS UNSUR SEMIOTIK DALAM KUMPULAN PUISI BANTALKU OMBAK SELIMUTKU ANGIN KARYA D.

ZAWAWI IMRON
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Keberadaan puisi erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari dan tidak bisa lepas pula dari masyarakat dan budaya tempat lahirnya puisi itu sendiri. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Subagio (1980:14) yang mengatakan bahwa sastra (puisi) tak bisa lepas dari produk zaman yang melahirkan sastra itu. Karya sastra khu-susnya puisi merupakan cerminan masyarakat dan budaya yang nampak di dalamnya, terutama sikap pengarang dan pengalamanpengalaman hidupnya dalam masyarakat dan budayanya. Dibandingkan dengan bentuk-bentuk cipta sastra yang lain, puisilah yang paling sulit untuk dipahami. Hal tersebut bukan karena para penyair itu mempunyai bahasa sendiri, melainkan terbawa oleh sifat atau watak yang dimiliki bentuk cipta sastra puisi itu sendiri. Karya sastra (puisi) merupakan benda yang tidak mudah dipahami tanpa diberi makna oleh pembacanya. Seorang penyair dalam mengekspresikan idenya menggunakan bahasa. Bahasa merupakan sistem semiotik atau sistem tanda. Maka pembaca dituntut harus mengerti benar apa semiotik dan jenisnya agar mempermudah dalam proses pemaknaan. Karya sastra itu merupakan struktur yang bermakna. Hal ini mengingat bahwa karya sastra itu merupakan sistem tanda yang mempunyai makna yang meng-gunakan medium bahasa. Bahasa sebagai medium karya sastra sudah merupakan sis-tem semiotik atau ketandaan (Pradopo, 1993:122).

Secara historis perkembangan puisi semakin lama semakin baik. Kumpul-an atau antologi puisi semakin banyak diterbitkan dan kreatifitas penyair pun menun-jukkan perkembangan yang positif. Perkembangan ini ditandai dengan ciri-ciri terten-tu. Ciri-ciri tersebut sangat bergantung pada situasi zamannya. Dengan situasi dan kondisi demikian sebagai pengaruh positif dunia pen-didikan kita dewasa ini, akan membawa pengaruh pula pada suatu kesadaran bagi masyarakat dalam berbangsa dan bernegara. Terciptanya kesadaran berbangsa dan bernegara ini akan membawa pula pada suatu kesadaran untuk menghargai hasil ke-budayaan itu sendiri, khususnya terhadap karya sastra (puisi). Menyadari pentingnya pemahaman terhadap karya puisi maka para penya-ir, penikmat, kritikus, masyarakat, dan para cendikiawan terus berusaha untuk lebih apresiatif terhadap karyakarya puisi. Terciptanya kesadaran ini jelas menimbulkan gejala yang positif, karena secara tidak langsung masyarakat sudah mempunyai usaha untuk menggali nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra puisi tersebut. Jika ma-syarakat luas sudah mempunyai kecenderungan demikian, maka diharapkan nilai-nilai agung yang terkandung dalam suatu karya sastra puisi dapat dimengerti dan selanjutnya bisa dimanifestasikan ke dalam bentuk pola pikir dan pola sikap dirinya dalam menyelami hidup ini. Subagio Sastrowardoyo menilai karya-karya D.Zawawi Imron telah mem-perlihatkan kedewasaan dalam sajak-sajaknya. Pengekakangan diri dalam pemilihan kata-kata dan ungkapan perbandingan yang pekat dengan kandungan pikiran yang matang dipertimbangkan. Kiasan-kiasan dan lambang-lambang yang meramu bahan-bahannya diambil dari daerah hidupnya yang keras di pulau Madura menjadi kerang-ka penglihatannya yang konkrit terhadap nasib yang tak menentu. 1.2 Permasalahan 1.2.1 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan ma-salah sebagai berikut. Bagaimanakah simbol-simbol dalam kumpulan puisi Bantalku Ombak Selimutku Angin Karya D. Zawawi Imron? 1.2.2 Penegasan Konsep Variabel Analisis unsur semiotik dalam kumpulan puisi Bantalku Ombak Selimutku Angin merupakan penelitian kualitatif dengan satu variabel. Untuk menghindari ke-salahan persepsi dan perbedaan konsep variabel yang terdapat pada judul, maka perlu adanya penegasan konsep variabel sebagai batasan operasional. Unsur semiotik disebut juga sistem tanda. Tanda mempunyai dua aspek yakni penanda dan petanda yang memiliki tiga jenis yang utama yaitu: (1) ikon, (2) indek, dan (3) simbol. Ikon, adalah tanda hubungan antara penanda dan petandanya bersifat persamaan bentuk alamiah. Indeks, adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat. Simbol, adalah tanda yang tidak menunjukkan hubungan alamiah antara pe-nanda dengan petandanya. 1.2.3 Deskripsi Masalah Lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan itu berupa satuan-satuan bu-nyi yang mempunyai arti oleh konvensi masyarakat. Bahasa itu merupakan sistem ketandaan yang berdasarkan atau ditentukan oleh konvensi (perjanjian) masyarakat. Sistem ketandaan itu disebut semiotik. Dalam pengertian tanda ada dua prinsip, yaitu penanda atau yang menandai yang merupakan bentuk tanda, dan petanda atau yang ditandai, yang merupakan arti tanda. Berdasarkan hubungan antara penanda dan petanda, ada tiga jenis tanda yang pokok, yaitu: (1) ikon, adalah tanda hubungan antara penanda dan petandanya bersifat persamaan bentuk alamiah, (2) indeks, adalah tanda yang menunjukkan adanya hu-bungan alamiah antara tanda

dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat, dan (3) simbol, adalah tanda yang tidak menunjukkan hubungan alamiah anta-ra pananda dengan petandanya (Pradopo, 1993:121). Kumpulan puisi Bantalku Ombak Selimutku Angin karya D. Zawawi Imron ini terdiri dari empat kumpulan sajak, yaitu: (1) Semerbak Mayang terdiri dari dua puluh empat puisi, (2) Madura, Akulah Lautmu terdiri dari sepuluh puisi, (3) Tembang Dusun Siwalan terdiri dari tujuh belas puisi, dan (4) Bantalku Ombak Selimutku Angin terdiri dari tujuh puisi. 1.2.4 Pembatasan Masalah Masalah yang telah disebutkan dalam deskripsi masalah di atas tidak akan di-uraikan secara keseluruhan, agar pembahasan ini lebih rinci dan detail sehingga dipe-roleh hasil analisis yang teliti dan seksama maka analisis ini akan dibatasi pada hal-hal sebagai berikut: a. Tentang unsur semiotik, penulis batasi pada simbol. b. Tentang kumpulan puisi, penulis batasi pada: Bantalku Ombak Selimutku Angin terdiri dari tujuh puisi meliputi: (1) Pahlawan dari Sampang, (2) Senja yang Merah, (3) Di bawah layar, (4) Di Tengah Hamparan Sawah, (5) Di Gumuk Candi, (6) Pertemuan dengan Pak Dirman, dan (7) Dialog Bukit Kamboja. Dipilihnya kumpulan puisi Bantalku Ombak Selimutku Angin sebab puisi tersebut lebih terkait dengan judul penelitian sekaligus mempertimbangkan waktu, tenaga, dan kemampuan peneliti. 1.3 Tujuan Peneltitian Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi yang obyektif tentang simbol atau lambang dalam kumpula puisi Bantalku Ombak Selimutku Angin karya D. Zawawi Imron. 1.4 Asumsi Penelitian ini didasarkan sejumlah asumsi berikut:

a. Kumpulan puisi Bantalku Ombak Selimutku Angin karya D.Zawawi Imron merupakan karya yang mengungkapkan berbagai dimensi kehidupan masyarakat Madura. b. Kumpulan puisi Bantalku Ombak Selimutku Angin karya D.Zawawi Imron tersebut kaya akan makna, sehingga perlu dianalisis dari sudut unsur semiotiknya. c. Kumpulan puisi Bantalku Ombak Selimutku Angin karya D.Zawawi Imron merupakan sastra yang menggunakan bahasa sebagai media ungkapannya dan bahasa tersebut pada hakikatnya adalah simbol. 1.5 Manfaat Penelitian Penelitian ini penting karena hasilnya berguna bagi : Penelitian ini penting karena hasilnya berguna bagi : a. Pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu sebagai bahasa tambahan bagi pembelajaran bahasa Indonesia khususnya masalah semiotik. b. Peneliti sendiri, yaitu sebagai bahan untuk pembangunan wawasan keilmuan yang diperoleh di bangku kuliah. c. Peneliti lain, yaitu sebagai bahasa acuan untuk mengadakan penelitian lebih lanjut yang berkenaan dengan bahan yang dikaji. 1.6 Alasan Pemilihan Judul 1.6.1 Alasan Objektif a. b. Menggunakan unsur semiotik merupakan salah satu dari sekian banyak untuk menunjang keberhasilan seseorang dalam mengungkapkan perasaannya. Kumpulan puisi Bantalku Ombak Selimutku Angin merupakan salah satu dari sekian banyak buku yang diciptakan oleh D.Zawawi Imron yang mempunyai daya tarik tersendiri ditinjau dari unsur semiotik dibandingkan dengan penga-rang lainnya, sehingga sangat menarik untuk diteliti.

1.6.2 Alasan Subjektif a. Karena judul di atas belum pernah diteliti oleh peneliti lain, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian unsur-unsur semiotik dalam kumpulan puisi Bantalku Ombak Selimutku Angin karya D.Zawawi Imron. b. Peneliti ingin mengembangkan pemikiran dan pengalaman mengenai unsur-unsur semiotik dalam kumpulan puisi Bantalku Ombak Selimutku Angin karya D.Zawawi Imron. 1.7 Pengertian Istilah dalam Judul Pengertian istilah dalam judul ini dimaksudkan agar tidak terjadi salah penaf-siran terhadap pokok-pokok masalah yang terdapat dalam penelitian ini. Beberapa istilah penting dalam penelitian ini antara lain : 1.7.1 Analisis Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan atau per-buatan) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya; penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya untuk memperoleh pengertian yang tepat (KBBI, 1997 : 22). 1.7.2 Unsur Adalah bagian terkecil dari suatu benda, atau kelompok kecil (dari kelom-pok yang besar) (KBBI, 1997:993). 1.7.3 Semiotik Semiotik adalah sistem ketandaan. Lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan itu berupa satuan-satuan bunyi yang mempunyai arti oleh konvensi ma-syarakat. Bahasa itu merupakan sistem ketandaan yang berdasarkan atau ditentukan oleh konvensi (perjanjian) masyarakat (Pradopo, 1993:121). 1.7.4 Kumpulan Puisi Bantalku Ombak Selimutku Angin. Adalah kumpulan puisi karya D. Zawawi Imron yang ditulis pada tahun 1996 dan diterbitkan oleh ITTAQA Press Yogyakarta.

1.8 Sistematika Penulisan Untuk memperoleh pembahasan yang sistematis, maka komposisi skripsi ini ditulis menjadi lima bagian, yaitu pendahuluan, kajian kepustakaan, metodologi pene-litian, analisis data dan penutup. Bab I pendahuluan, yang berfungsi sebagai pengantar. Karena sebagai pe-ngantar, maka pada bagian ini disajikan tentang latar belakang masalah, permasalah-an yang terdiri atas rumusan masalah, penegasan konsep variabel, deskripsi masalah, dan batasan masalah, tujuan pembahasan, asumsi, alasan pemilihan judul, pentingnya penelitian, penegasan istilah dalam judul, dan sistematika penulisan. Bab II kajian kepustakaan, yang berfungsi sebagai landasan teori dalam upa-ya mendeskripsikan secara objektif tentang semiotik. Bab III metodologi penelitian, yang berfungsi untuk menguraikan teknik analisis data dalam kumpulan puisi Bantalku Ombak Selimutku Angin karya D.Zawawi Imron. Bab IV hasil penelitian, yaitu menyajikan hasil penelitian yang menguraikan secara rinci analisa data secara deskriptif kualitatif. Bab V sebagai penutup dari keseluruhan skripsi ini yang berisi kesimpulan dan saran.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan tentang Kumpulan Puisi Bantalku Ombak Selimutku Angin Karya D. Zawawi Imron 2.1.1 Pengertian Puisi Karya sastra terdiri atas dua jenis sastra (genre), yaitu puisidan prosa. Bia-sanya, puisi disebut sebagai karangan terikat, sedangkan prosa disebut sebagai ka-rangan bebas. Dalam kesusastraan Indonesia ada dua istilah puisi dan sajak. Kedua istilah ini sering dicampuradukkan penggunaannya. Misalnya sajak Chairil Anwar disebut juga puisi Chairil Anwar; sajak Aku disebut juga puisi Aku. Hal ini disebabkan oleh masuknya istilah puisi dari bahasa asing ke dalam sastra Indonesia. Istilah ini berasal dari bahasa Belanda poezie. Dalam bahasa Belanda ada istilah lain gedicht yang ber-arti sajak, tetapi istilah gedicth tidak diambil ke dalam bahasa Indonesia (Pradopo, 1997:1.3). Pengertian sajak identik dengan pengertian puisi. Di SMA, puisi biasa dide-finisikan sebagai karangan yang terikat oleh: (1) banyak baris dalam tiap bait; (2) banyak kata dalam tiap baris; (3) banyak suku kata dalam tiap baris, (4) rima; dan (5) irama. Puisi itu karangan terikat berarti puisi itu terikat oleh aturan-aturan ketat. Akan tetapi, pada waktu sekarang, para penyair berusaha melepaskan diri dari aturan yang ketat itu. Dengan demikian, terjadilah kemudian apa yang disebut dengan sajak bebas. Puisi merupakan hasil karya sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat-syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak, dan kadang-kadang kata ki-asan. Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani Pueima yang ber-arti membuat, Poem atau Poetry diartikan membuat atau penciptaan (Tarigan, 1984:4). Pada dasarnya seseorang telah

menciptakan dunia tersendiri yang mungkin berisi besar atau gambaran suasana tertentu, baik fisik maupun batin. Menurut Herbert Spencer (dalam Waluyo, 1987:23) menyatakan bahwa puisi merupakan bentuk pengucapan gagasan yang bersifat emosional dengan pertim-bangan efek keindahan. Sedangkan Samuel Johnson (dalam Waluyo, 1987:23) me-ngatakan bahwa puisi adalah peluapan yang spontan dari perasaan yang penuh daya yang berpangkal pada emosi yang berpadu kembali dalam kedamaian. Dengan sing-kat pula Jassin (dalam Waluyo, 1987:23) mengatakan bahwa puisi adalah pengucapan dengan perasaan. Dalam puisi, pikiran dan perasaan seolah-olah bersayap, sehingga boleh dikatakan, puisi merupakan pelahiran manusia seutuhnya. Ditinjau dari struktur fisik puisi, Slamet Muljana (dalam Waluyo, 1987:23) menyatakan bahwa puisi merupakan bentuk kesusastraan yang menggunakan pengu-langan suara sebagai ciri khasnya. Pengulangan kata tersebut menghasilkan rima, ritma dan musikalitas. Berdasarkan beberapa uraian dan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa puisi adalah pernyataan yang imajinatif, emosional, dan pengetahuan penyair yang diperoleh dari kehidupan individu dan sosialnya, sehingga mampu membangkit-kan pengalaman tertentu dalam diri pembaca atau penikmatnya. 2.1.2 Kumpulan Puisi Bantalku Ombak Selimutku Angin karya D. Zawawi Imron Kumpulan puisi Bantalku Ombak Selimutku Angin merupakan kumpulan puisi karya D. Zawawi Imron yang ditulis pada tahun 1996 dan diterbitkan oleh ITTAQA Press Yogyakarta. Kumpulan puisi Bantalku Ombak Selimutku Angin karya D. Zawawi Imron ini terdiri dari empat kumpulan sajak, yaitu: (1) Semerbak Mayang terdiri dari dua puluh empat puisi, (2) Madura, Akulah Lautmu terdiri dari sepuluh puisi, (3) Tembang Dusun Siwalan terdiri dari tujuh belas puisi, dan (4) Bantalku Ombak Seli-mutku Angin terdiri dari tujuh puisi. Pada bagian kumpulan sajak Semerbak Mayang terdiri dari dua puluh em-pat puisi , yaitu: (1) Anak Malang, (2) Puisi Hitam, (3) Lukisan, (4) Pantai Dinari, (5) Sajak Ungu Lembah

Tamidung, (6) Dari Kamal ke Kalianget, (7) Pelayaran, (8) Pesan, (9) Ibu Tinggal Bersama Rindu, (10) Pengembara, (11) Malam di Dusun, (12) Nyanyian Kampung Halaman, (13) Selamat Gagak Hitam, (14) Gadis Kampung Jambangan, (15) Musim Labuh, (16) Ibu, (17) Semerbak Mayang, (18) Madura, (19) Ayah, (20) Tembang Kasmaran, (21) Layang-layang, (22) Senja, (23) Kepada Pat-timura, dan (24) Di Kebun Siwalan. Pada bagian kumpulan sajak Madura Akulah Lautmu terdiri dari sepuluh puisi, yaitu: (1) Gadis Semekar, (2) Pelaut Muda, (3) Sampai ke Padang Impian, (4) Jumarit, (5) Mawar dan Nenek Tua, (6) Bulan dan Anak, (7) Selamat Datang, (8) Panggilan, (9) Padang-padang Kejantanan, dan (10) Pernyataan. Pada bagian kumpulan sajak Tembang Dusun Siwalan terdiri dari tujuh be-las puisi, yaitu: (1) Sepasang Mempelai, (2) Seekor Landak, (3) Romusha, (4) Darah Gerilya, (5) Pembunuh, (6) Di Bawah Matahari, (7) Mayat Ki Bental, (8) Kembang-kembang Tanah Sumekar, (9) Di Gubuk Daun Kelapa, (10) Lagu Petani, (11) Tamu, (12) Bermalam di Rumah Ibu, (13) Lambaian-lambaian Malam, (14) Percakapan De-kat Muara, (15) Sejenis Kabar, (16) Di Pantai Selopeng, dan (17) Madura, Akulah Darahmu. Sedangkan pada bagian kumpulan sajak Bantalku Ombak Selimutku Angin terdiri dari tujuh puisi, yaitu: (1) Pahlawan dari Sampang, (2) Senja yang Merah, (3) Di Bawah Layar, (4) Di Tengah Hamparan Sawah, (5) Di Gubuk Candi, (6) Pertemu-an dengan Pak Dirman, dan (7) Dialog Bukit Kamboja. 2.2 Unsur Semiotik 2.2.1 Pengertian Semiotik (semiotika) adalah ilmu tanda-tanda. Ilmu ini menganggap bah-wa fenomena sosial/masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda. Semiotik itu mempelajari sistemsistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memung-kinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti. Preminger dalam Pradopo (1995:119) menjelaskan bahwa penelitian semiotik meliputi analisis sastra sebagai sebuah peng-gunaan bahasa yang bergantung pada (ditentukan)

konvensi-konvensi tambahan dan meneliti ciri-ciri (sifat-sifat) yang menyebabkan bermacammacam cara (modus) wacana mempunyai arti. Semiotik adalah ilmu tanda-tanda. Tanda mempunyai dua aspek yaitu pe-tanda (signifer) dan petanda (signified). Penanda adalah bentuk formalnya yang me-nandai sesuatu yang disebut petanda, sedangkan petanda adalah sesuatu yang ditandai oleh penanda itu yaitu artinya. Contohnya kata ibu merupakan tanda berupa satuan bunyi yang menandai arti orang yang melahirkan kita. Berdasarkan hubungan antara penanda dan petanda, ada tiga jenis tanda yang pokok, yaitu: ikon, indeks, dan simbol (Pradopo, 1995:120). Ikon adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan yang bersifat ala-miah antara penanda dan petandanya. Hubungan itu adalah hubungan persamaan, misalnya gambar kuda sebagai penanda yang menandai kuda (pentanda) sebagai arti-nya. Potret menandai orang yang dipotret, gambar pohon menandai pohon. Indeks adalah tanda yang menunjukkan hubungan klausal (sebab-akibat) antara penanda dan petandanya, misalnya asap menandai api, alat penanda angin me-nunjukkan arah angin, dan sebagainya. Simbol adalah tanda yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan alami-ah antara penanda dengan petandanya, hubungannya bersifat arbitrer (semau-maunya) Arti tanda itu ditentukan oleh konvensi. Ibu adalah simbol, artinya ditentukan oleh konvensi masyarakat bahasa (Indonesia). Orang Inggris menyebutnya mother, Peran-cis menyebutnya la mere dan sebagainya. Adanya macam-macam tanda untuk satu arti itu menunjukkan kesemena-menaan tersebut. Dalam bahasa, tanda yang paling banyak digunakan adalah simbol (Pradopo, 1995:120). Preminger lebih lanjut menjelaskan (dalam Pradopo, 1993:123) bahwa ba-hasa sebagai sistem semiotik diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tam-bahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh peng-gunaan bahasa biasa. Yang dimaksudkan konvensi tambahan adalah konvensi sastra diluar kebahasaan; misalnya saja

tipografi, enjambement, persajakan, dan konvensi-konvensi yang lain yang ada dalam sastra. Oleh karena memberi makna sajak itu ada-lah mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sajak, maka menga-nalisis sastra (sajak) itu tidak lain adalah memburu tandatanda. Untuk memberikan/memperoleh kajian yang dapat dipertanggungjawab-kan secara ilmiah dalam penelitian ini, akan dibahas hal-hal yang berkenaan dengan masalah. Di dalam penelitian ini lebih lanjut akan dibahas masalah simbol. 2.2.2 Simbol Istilah Simbol atau lambang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari misalnya bulan sebagai simbol wanita, kecantikan, keindahan dan bunga sebagai sim-bol cinta, cantik dan seorang gadis. Simbol atau lambang adalah suatu obtek yang hi-dup atau tidak hidup (bernyawa atau tidak) yang mewakili sesuatu yang lain. Badrun menegaskan bahwa simbol adalah sesuatu yang mewakili yang lain (1989:37). Dengan demikian, simbol dengan yang disimbolkan tidak sama. Ia senantiasa mem-punyai arti atau makna yang lebih kecil, lebih miskin daripada sesuatu yang disimbol-kan (Suharianto, 1980:5). Makna sebuah simbol atau lambang ditentukan oleh konteksnya. Sastra-wan atau penyair hanya menyajikan konteksnya dan pembacalah yang menentukan maknanya. Artinya seorang pembaca harus memiliki berbagai informasi atau penge-tahuan untuk menentukan makna simbol itu. Dengan kata lain, berhadapan dengan simbol tidak sama dengan menghadapi benda-benda mati, karena pada saat itu kita dituntut bisa menafsirkan simbol apa yang dipergunakan. Dan berjumpalah kita se-bagai subjek dengan objek yang sesungguhnya yang semula ditampilkan dalam ben-tuk simbol tersebut. Macam-macam simbol ditentukan oleh keadaan atau peristiwa apa yang digunakan oleh penyair untuk mengganti keadaan atau peristiwa itu. Dalam hubung-an ini, maka simbol atau lambang dapat dibedakan menjadi: (1) Simbol atau lambang warna, (2) Simbol atau lambang benda, (3) Simbol atau lambang bunyi, dan (4) Sim-bol atau lambang suasana.

2.2.2.1 Simbol Warna Warna mempunyai karakteristik watak tertentu. Banyak puisi yang menggu-nakan simbol warna untuk mengungkapka perasaan penyair. Misalnya judul-judul puisi yang menunjukkan simbol warna: Sajak Putih, Serenada Biru, Serenada Merah Padam, Ciliwung yang Coklat, dan Malam Kelabu. Untuk menyatakan bahwa kota Jakarta tidak memberikan harapan bahkan bersikap kejam terhadap pengemis kecil, Toto Sudarto Bachtiar melukiskan dengan lambang: Tengadah padaku / Pada bulan merah jambu. Langit yang digambarkan memberikan suasana penuh harapan, dilukiskan dengan Langit biru lazuardi, dan sebagainya (Waluyo, 1987:88). 2.2.2.2 Simbol Benda Simbol atau lambang juga dapat dilakukan dengan menggunakan makna benda untuk menggantikan sesuatu yang ingin diucapkan oleh penyair. Dalam kehi-dupan sehari-hari, kita dapati gambar burung yang digunakan sebagai lambang per-satuan Indonesia. Penguasa yang lalim dijaman penjajahan Belanda oleh Rustam Efendi di-lambangkan dengan Rahwana, untuk memperoleh gambaran tentang manusia yang tidak terikat oleh manusia lainnya, Chairil Anwar menggambarkan dirinya sebagai Binatang jalang dari kumpulannya terbuang. Sedangkan kesedihan dan penderitaan dilambangkan dengan Peluru menembus kulitku (Waluyo, 1987:88). 2.2.2.3 Simbol Bunyi Bunyi yang ciciptakan oleh penyair juga melambangkan perasaan tertentu. Perpaduan bunyi-bunyi akan menciptakan suasana yang khusus dalam sebuah puisi. Penggunaan bunyi sebagai simbol ini erat hubungannya dengan rima. Disamping itu, penggunaan lambang bunyi erat hubungannya dengan diksi. Waktu memilih kata-kata, salah satu faktor yang diperhatikan adalah faktor bunyi yang padu (Waluyo, 1987:89).

Untuk menciptakan suasana duka, Chairil Anwar dalam Senja di Pelabuhan Kecil menggunakan bunyi-bunyi /i/ yang dipadu dengan /a/ peranan /i/ kadang-kadang diganti oleh /u/. Bunyi desis seperti /s/, /f/, dan /u/ hampir tidak ada, karena bunyi-bunyi tersebut mengurangi kedukaan. Sebaliknya, konsonan /r/ dan /l/ dipandang dapat menambah suasana duka. 2.2.2.4 Simbol Suasana Suatu suasana dapat dilambangkan pula dengan suasana lain yang dipan-dang lebih konkrit. Simbol suasana ini biasanya dilukiskan dalam kalimat atau alenia. Dengan demikian yang diwakili adalah suatu suasana dan bukan hanya suatu peris-tiwa sepintas saja. Untuk menggambarkan suasana penuh kegelisahan, maka digunakan lam-bang Hatinya gemetar bagai permata gemerlapan. Untuk menggambarkan suasana kacau dan derita yang panjang digunakan lambang kiamat. Untuk menggambarkan suasana dunia yang penuh tanda tanya, Subagio Sastrowardojo menggunakan kata simphoni (Waluyo, 1987:89).