Anda di halaman 1dari 16

Makalah Fikih

SYARIAH DAN FIKIH

OLEH: KLP I A. HERAWATI (20403110002) ISMAIL (20403110037) ISMAIL YUNUS (20403110038)

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR 2011

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga upaya penyusunan makalah yang berjudul Syariah dan Fikih akhirnya dapat diselesaikan tepat pada waktu yang telah ditentukan. Dalam penyusunan makalah ini penulis mengangkat empat materi pokok yang berhubungan dengan Syariah dan Fikih yakni Pengertian Syariah dan Fikih, Sumber, Perbedaan Syariah dan Fikih serta Objek Kajian Fikih. Penulis percaya bahwa pada penyusunan makalah ini tentunya masih ada kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu sesuai pepatah yang mengatakan tak ada gading yang tak retak maka dengan kerendahan hati, segala pandangan dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan penyusunan makalah ini dan terlebih lagi makalah berikutnya.

Penyusun

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL. i KATA PENGANTAR.. ii DAFTAR ISI. iii BAB I PENDAHULUAN. 1-2 A. Latar Belakang... 1-2 B. Rumusan Masalah.. 2 C. Tujuan 2 D. Manfaat. 2 BAB II PEMBAHASAN. 3-12 A. Pengertian Syariah dan Fikih............... 3 B. Sumber. 5 C. Perbedaan Syariah dan Fikih 6 D. Objek Kajian Fikih.. 8 BAB III PENUTUP.. 11-12 A. Kesimpulan.11 B. Saran...12 DAFTAR PUSTAKA... 13

iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Alquran adalah sumber hukum utama dalam panduan umat Islam. Perlakuan umat Islam terhadap kitab suci ini akan menentukan kejayaan atau kemunduran. Jika umat memahami dan mengamalkannya dengan benar, mereka pasti memperoleh kemenangan sebagaimana generasi pertama Islam. Jika tidak, maka umat akan terus seperti sekarang mundur dan lemah dalam berbagai bidang. Ada kecenderungan, umat Islam masa kini lebih mementingkan aspek bacaan semata, lebih mengutamakan khatam Alquran dan mendapatkan pahala, membacanya untuk menerima berkat lalu mengamalkannya. Fiqih menurut bahasa berarti faham. Sedang dalam terminologi Islam, Fiqih adalah hukum-hukum Islam tentang perilaku dan perbuatan manusia. Sedangkan Syariah adalah keseluruhan hukum yang diperuntukan oleh Allah SWT bagi manusia guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Jadi, cakupan kata syariah lebih luas daripada Fiqih. Fiqih hanya membahas tentang perilaku, sedangkan Syariah selain membahas perilaku dan perbuatan juga mengulas masalah-masalah aqidah, keimanan dan keyakinan. Setiap hukum harus mempunyai landasan dari sumber-sumber hukum tersebut. Jika tidak maka itu tidak boleh diamalkan. Contohnya adalah hukum yang memperbolehkan seorang wanita menjadi imam solat bagi makmum lakilaki. Alasannya adalah bahwa laki-laki itu setara dengan wanita. Kalau laki-laki boleh mengimami wanita maka wanitapun juga boleh menjadi imam bagi laki1

laki. Karena hukum ini tidak berdasar pada sumber-sumber hukum di atas dan hanya merupakan pertimbangan akal, maka tidak bisa dibenarkan dan karenanya tidak boleh diamalkan. B. Rumusan Masalah Rumusan masalah dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Apa defenisi dari Syariah dan Fikih? 2. Apa saja yang menjadi sumber hukum dari Syariah dan Fikih? 3. Apa perbedaan Syariah dan Fikih? 4. Apa saja yang menjadi objek kajian Fikih? C. Tujuan Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui defenisi Syariah dan Fikih, sumber hukum dari Syariah dan Fikih, perbedaan Syariah dan Fikih dan objek yang menjadi kajian Fikih. D. Manfaat Manfaat penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui defenisi dari Syariah dan Fikih serta perbedaan keduanya 2. Mengeahui sumber hokum dari Syariah maupun Fikih 3. Mengetahui objek yang menjadi kajian Fikih

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Syariah dan Fikih 1. Syariah Secara redaksional pengertian syariah adalah the path of the water place yang berarti tempat jalannya air, atau secara maknawi adalah sebuah jalan hidup yang telah ditentukan oleh Allah SWT sebagai panduan dalam menjalankan kehidupan di dunia untuk menuju kehidupan di akhirat. Panduan yang diberikan oleh Allah SWT dalam membimbing manusia harus berdasarkan sumber utama hukum islam yaitu Alquran dan Assunnah serta sumber kedua yaitu akal manusia dalam ijtihad para ulama atau sarjana islam. Agama islam sebagai whole way of life (keseluruhan jalan hidup) merupakan panduan bagi umat muslim untuk mengikutinya. Konsep inilah yang kemudian diaplikasikan dalam bentuk hokum, norma, sosial, politik, ekonomi dan konsep hidup lainnya. Kata Syariah menurut pengertian hukum islam berarti hukum-hukum dan tata aturan yang disampaikan Allah agar ditaati oleh hamba-hamba-Nya. Syariah juga diartikan sebagai satu sistem norma Ilahi yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama manusia, serta hubungan manusia dengan alam. Syariah dalam pengertian yang sangat luas dan menyeluruh itu meliputi seluruh ajaran agama, baik yang berkaitan dengan akidah, perbuatan lahir manusia dan sikap batin manusia. Atau dengan kata lain syariah meliputi iman, islam dan ihsan.

Menurut Mahmoud Syaltut syariah adalah pengaturan-pengaturan atau pokok-pokoknya digariskan oleh Allah agar manusia berpegang kepadananya, dalam mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan sesame manusia, dengan alam dan hubungan manusia dengan kehidupan. 2. Fikih secara harfiah Fikih berarti pemahaman yang mendalam terhadap suatu hal. Secara terminologi yaitu Fikih merupakan suatu ilmu yang mendalami hukum Islam yang diperoleh melalui dalil di Alquran dan Sunnah. Selain itu Fikih merupakan ilmu yang juga membahas hukum syar'iyyah dan hubungannya dengan kehidupan manusia sehari-hari, baik itu dalam ibadah maupun

dalam muamalah. Dalam ungkapan lain, sebagaimana dijelaskan dalam sekian banyak literatur, bahwa fiqh adalah "al-ilmu bil-ahkam asy-syar'iyyah alamaliyyah al-muktasab min adillatiha at-tafshiliyyah", ilmu tentang hukumhukum syari'ah praktis yang digali dari dalil-dalilnya secara terperinci". Terdapat sejumlah pengecualian terkait pendefinisian ini. Dari "asy-syar'iyyah" (bersifat syari'at), dikecualikan ilmu tentang hukum-hukum selain syariat, seperti ilmu tentang hukum alam, seperti gaya gravitasi bumi. Dari "al-amaliyyah" (bersifat praktis, diamalkan), ilmu tentang hukum-hukum syari'at yang bersifat keyakinan atau akidah, ilmu tentang ini dikenal dengan ilmu kalam atau ilmu tauhid. Dari "at-tafshiliyyah" (bersifat terperinci), ilmu tentang hukum-hukum syari'at yang didapat dari dalil-dalilnya yang "ijmali" (global), misalkan tentang bahwasanya kalimat perintah mengandung muatan kewajiban, ilmu tentang ini dikenal dengan ilmu ushul fiqh. Dapat dikatakan, Ilmu Fiqih mengkaji obyek amaliyah, yang

menjadikannya berbeda dengan ilmu Tauhid dan Tasawwuf. Ilmu Fiqih tak bersifat mistik (mystic/kebatinan), supra-natural, dan asketik (pertapa/tapabrata). Akan tetapi, ilmu Fikih menerima karakter empirik, rasional, fisik, etis, dan normatif. Ketika manusia menghadapi dan menyadari masalah, mereka berusaha menyelesaikannya. Dalam usaha memecahkan masalah tersebut, ilmu Fikih tak menoleh kepada perasaan, akan tetapi, ilmu Fikih menoleh ke pikiran berdasarkan penalaran dan bukti-bukti yang nyata. Karena itu, Ilmu Fikih berusaha mencari penjelasan secara rasional, logis dan empiris B. Sumber Fikih adalah produk ijtihad para ulama. Mereka menyarikan hukum-hukum Fikih tersebut dari sumber-sumbernya, yaitu: 1. Alquran , yaitu kitab suci agama Islam yang merupakan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, untuk dijadikan pedoman hidup, sumber hukum dan petunjuk bagi umatnya guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. 2. Hadits, yaitu ucapan, perilaku, ketetapan dan sifat-sifat yang dinisbatkan kepada nabi Muhamad SAW. Namun tidak semua hadits dapat dijadikan dalil atau sumber pengambilan hukum. Sebab hanya hadits-hadits yang diyakini berasal dari Rasulullah SAW atau mempunyai indikasi kuat berasal darinyalah yang dapat dijadikan pedoman. 3. Ijma, yaitu kesepakatan seluruh ulama-ulama mujtahid pada suatu masa tentang sebuah hukum.

4. Qiyas, yaitu menyamakan hukum sesuatu yang tidak ada di dalam Alquran dan hadits dengan hukum sesuatu yang di atur dalam Alquran dan hadits karena adanya persamaan kedua hal tersebut. Contoh Aquran menyebutkan bahwa minuman keras adalah haram. Ekstasi adalah barang baru yang tidak disebut dalam Alquran maupun hadits. Karena ekstasi bisa menimbulkan efek yang sama dengan minuman keras (memabukkan dan menghilangkan akal) maka hukumnya disamakan dengannya yaitu haram. Setiap hukum harus mempunyai landasan dari sumber-sumber hukum tersebut. Jika tidak maka itu tidak boleh diamalkan. Contohnya adalah hukum yang memperbolehkan seorang wanita menjadi imam solat bagi makmum laki-laki. Alasannya adalah bahwa laki-laki itu setara dengan wanita. Kalau laki-laki boleh mengimami wanita maka wanitapun juga boleh menjadi imam bagi laki-laki. Karena hukum ini tidak berdasar pada sumbersumber hukum di atas dan hanya merupakan pertimbangan akal, maka tidak bisa dibenarkan dan karenanya tidak boleh diamalkan. C. Perbedaan Syariah dan Fikih Fikih adalah pengetahuan tentang hukum syariat yang bersifat praktis (amaliah) yang digali dari dalil-dalil yang bersifat rinci (tafshl). Fikih adalah pengetahuan yang dihasilkan dari sejumlah hukum syariat yang bersifat cabang yang digunakan sebagai landasan untuk masalah amal perbuatan dan bukan digunakan landasan dalam masalah akidah. Fikih adalah ilmu tentang hukumhukum syariat yang digali dari dalil-dalil yang bersifat rinci. Sedangkan syariat/syariah (syarah) didefinisikan oleh para ulama sebagai perintah AsySyri (Pembuat hukum) yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan hamba

dan berkaitan dengan iqtidh (ketetapan), takhyr (pilihan), atau wadhi (kondisi) (khithb asy-Syri al-mutaallaq bi afl al-ibd bi al-iqtidh aw al-takhyr, aw al-wadli. Syariat adalah perintah Asy-Syri (Pembuat hukum) yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan mukallaf dan berkaitan dengan iqtidh (ketetapan), takhyr (pilihan), atau wadhi (kondisi) (khithb asy-Syri al-mutaallaq bi afl al-ibd bi al-iqtidh aw al-takhyr, aw al-wadli. Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan, bahwa Fikih dan Syariah adalah dua sisi yang tidak bisa dipisah-pisahkan meskipun keduanya bisa dibedakan. Keduanya saling berkaitan dan berbicara pada aspek yang sama, yakni hukum syariat. Fikih adalah pengetahuan terhadap sejumlah hukum syariat yang digali dari dalil-dalil yang bersifat rinci. Sedangkan Syariah adalah hukum Allah yang berlaku pada benda dan perbuatan manusia. Menurut Imam al-Ghazali, Fikih mencakup kajian terhadap dalil-dalil dan arah yang ditunjukkan oleh dalil (makna), dari tinjauan yang bersifat rinci. Contohnya, penunjukkan sebuah hadis pada makna tertentu, misalnya nikah tanpa wali secara khusus. Sedangkan hukum syariat adalah perintah Asy-Syri yang berhubungan dengan perbuatan hamba, baik dengan iqtidh, takhyr, maupun wadhi. Baik Fikih maupun Syariah harus digali dari dalil-dalil syariat: Alquran, Sunnah, Ijma Shahabat dan Qiyas. Keduanya tidak boleh digali dari fakta maupun kondisi yang ada. Keduanya juga tidak bisa diubah-ubah maupun disesuaikan dengan realitas yang berkembang di tengahtengah masyarakat. Sebaliknya, realitas masyarakat justru harus disesuaikan dengan keduanya. Fiqih adalah adalah syariah Islam yang berdasarkan dalil yang rinci yang tetap bersumber pada Alquran dan Assunnah. Fikih bukanlah semata-

mata hasil pikiran manusia yang tidak berpijak pada hukum syara yang bersumber dari alquran dan Assunnah. Jadi yang menolak Fikih adalah juga berarti menolak Syariah Islam. D. Objek Kajian Fikih Objek kajian Fikih adalah aspek hukum setiap perbuatan mukallaf serta dalildalil dari setiap perbuatan tersebut. Artinya membahas bagaimana seorang mukallaf mengerjakan shalat, puasa dan lain-lain yang berkaitan dengan fiqih ibadah, bagaimana melaksanakan kewajiban-kewajiban rumah tangganya, apa yang harus dilakukan terhadap harta anggota keluarga yang meninggal dunia dan sebagaianya. Di sini juga dibahas tentang bagaimana cara melakukan muamalah, seperti jual beli, sewa menyewa, patungan dan sebagainya. Sebagaimana diketahui, Fikih merupakan kumpuulan aturan-aturan yang meliputi berbagai hal perbuatan manusia. Tidak hanya berupa aturan mengenai semua hubungan manusia dalam urusan pribadinya sendiri, tetapi juga semua hubungan manusia dengan manusia lain. Secara garis besar objek kajian Fikih terbagi menjadi dua, yaitu bidang fiqih ibadah dan bidang Fikih muamalah (dalam arti yang luas). Bidang Fikih ibadah dalam Alquran surah Ad-dzariyat ayat 56. Allah SWT Menegaskan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali sematamata untuk beribadah kepadaku . berdasarkan dari ayat di atas jelas sekali bahwa manusia dalam hidupnya mengemban amanah untuk beribadah, baik dalam hubungannya dengan Allah SWT, sesama manusia, maupun alam, dan lingkungannya. Bidang Fikih ibadah ini meliputi ; Pembahasan tentang thaharah, baik thaharah dari najis atau dari hadas, seperti wudhu, mandi, tayammum.

Pembahasan sekitar zakat, baik itu tentang wajib zakat, harta-harta yang wajib dizakati, nisab, haul dan lain-lain, pembahasan sekitar puasa. Baik itu puasa wajib atau puasa sunnah, dengan segala macam ketentuannya. Pembahasan tentang haji, jihad, nazar, kurban, berburu, makanan dan minuman. Bidang Muammalah dalam Arti luas: Bidang Al-akhwal al-syakhsiyah yaitu hukum keluarga yang mengatur hubungan angtara suami istri, anak dan keluarganya. Pokok kajiannya meliputi : Pernikahan, yaitu akad yang menghalalkan pergaulan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menetapkan hak-hak kewajiban diantara keduanya. Mawaris, yaitu mengandung pengertian tentang hak dan kewajiban ahli waris terhadap harta warisan, dan menentukan segala sesuatunya, Wasiat, yaitu pesan seseorang terhadap sebagian hartanya yang diberikan kepada orang lain atau lembaga tertentu.) Bidang muammalah dalam arti sempit: Di antara yang dibahas dalam bidang ini antara lain tentang jual beli, gadai, titipan, pinjam-meninjam, merampas atau merusak barang orang lain, dan sebagainya. Bidang fiqih Jinayyah yaitu yang mengatur cara-cara menjaga dan melindungi hak-hak Akllah SWT, hak masyarakat, hak individu dari tindakan-tindakan yang tidak dibenarkan menurut islam. Adapun pembahasannya meliputi pembunuhan sengaja dan tersalah disertai dengan rukun dan syaratnya, saksi pembunuhan, penganiayaan sengaja dan tidak sengaja, pembuktiannya, perzinahan, sangsi dan pembuktiannya dan lain sebagainya. Bidang Qahda atau Al-ahkam al-murafat. Di sini membahas tentang proses penyelesaian perkara dipengadilan. Oleh karena itu unsur yang dibahas tentang hakim, putusan yang dijatuhkan, pembuktian, pengakuan, keterangan dan

10

saksi, sumpah, dan sebagainya. Secara garis besar pembahasan Fikih dapat dibagi menjadi beberapa kelompok yang meliputi: a. Thaharah, yaitu hal ihwal bersuci, baik dari najis maupun dari hadats.Ibadah, yang berisi tentang tata cara beribadah seperti sholat, puasa, zakat dan haji. b. Muamalat, yang membahas tentang bentuk-bentuk transaksi dan kegiatankegiatan ekonomi. c. Munakahat, yaitu tenatang pernikahan, perceraian dan soal-soal hidup berumah tangga. d. Jinayat, yang mengulas tentang perilaku-perilaku menyimpang (mencuri, merampok, zina dan lain-lain) dan sangsinya e. Faraidh, yang membahas tentang harta warisan dan tata cara pembagiannya kepada yang berhak. f. Siyasat, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan aktifitas politik, peradilan, kepemimpinan dan lain-lain.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Syariah menurut pengertian hukum islam berarti hukum-hukum dan tata aturan yang disampaikan Allah agar ditaati oleh hamba-hamba-Nya. Syariah juga diartikan sebagai satu sistem norma Ilahi yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama manusia, serta hubungan manusia dengan alam. Sedangkan Fikih membahas tentang cara bagaimana cara tentang beribadah, tentang prinsip Rukun Islam dan hubungan antar manusia sesuai dengan dalil-dalil yang terdapat dalam Alquran dan Sunnah. 2. Sumber hukum islam yang menjadi dasar hukum Fikih maupun Syariah adalah Alquran, hadits (sunnah), ijma dan qiyas. 3. Fikih dan syariah adalah dua sisi yang tidak bisa dipisah-pisahkan meskipun keduanya bisa dibedakan. Keduanya saling berkaitan dan berbicara pada aspek yang sama, yakni hukum syariat. Fikih adalah pengetahuan terhadap sejumlah hukum syariat yang digali dari dalil-dalil yang bersifat rinci. Sedangkan syariat adalah hukum Allah yang berlaku pada benda dan perbuatan manusia. 4. Objek kajian Fiqih adalah aspek hukum setiap perbuatan mukallaf serta dalil-dalil dari setiap perbuatan tersebut. Artinya membahas bagaimana seorang mukallaf mengerjakan shalat, puasa dan lain-lain yang berkaitan dengan fiqih

11

12

ibadah, bagaimana melaksanakan kewajiban-kewajiban rumah tangganya, apa yang harus dilakukan terhadap harta anggota keluarga yang meninggal dunia dan sebagaianya. Di sini juga dibahas tentang bagaimana cara melakukan muammalah, seperti jual beli, sewa menyewa, patungan dan sebagainya. B. Saran Saran penyusun dalam makalah ini adalah fikih dan syariah adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan sehingga menuntut manusia untuk mampu memahami syariat kemudian memahami pikih berdasarkan syariat islam. Selain itu, kami sebagai penyusun yakin bahwa masih terdapat kekurangan di dalam makalah ini. Olehnya itu kritikkan dari pembaca yang sifatnya membangun sangat kami harapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Alim, Muhammad. 2006. Pendidikan Agama Islam. Bandung: Rosda. Suparta dan Zainuddin. 2006. Fiqih. Semarang: Toha Putra. http://analisis-fiqih.blogspot.com/2008/05/fiqih-sebagai-ilmu-science.html diakses pada hari Jumat, 21 Oktober 2011 pkl. 13.00 WITA.

13