Anda di halaman 1dari 123

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pencemaran lingkungan semakin hari semakin meningkat dan sulit untuk dikendalikan.

Pencemaran lingkungan berasal dari tiga sumber yaitu pencemaran air, pencemaran udara dan pencemaran udara yang masing-masing mempunyai komponen sumber pencemar yaitu kimia, fisis dan biologis. Pencemaran udara merupakan salah satu dari berbagai permasalahan yang dihadapi oleh kawasan perkotaan. Laju urbanisasi yang tinggi, motorisasi dan industrialisasi telah menyebabkan permaslahan pencemaran udara yang serius di kota-kota besar sehingga menyebabkan pencemaran udara menjadi salah satu ancaman yang serius terhadap kesehatan masyarakat dan produktivitas nasional. Masalah kesehatan lingkungan dari tahun ke tahun semakin meningkat, seiring dengan perkembangan kehidupan manusia khususnya di bidang teknologi dan industri. Dari semua aktifitas ini menimbulkan dampak pencemaran lingkungan berupa polutan tanah, air dan udara yang sangat berbahaya bagi lingkungan hidup. Berdasarkan Undang-Undang Lingkungan Hidup pencemaran merupakan masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energy dan atau komponen lain ke dalam lingkungan dan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi dengan peruntukannya. Penerbitan Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup serta Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, diharapkan semua masalah yang ada dapat diminimalisasikan sehingga kelestarian lingkungan tetap terjaga. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) jurusan Kimia dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia dalam kepedulian dalam lingkungan hidup mempunyai program mata kuliah wajib Kuliah Kerja Magang

1|Page

(KKM) untuk memberi bekal pengalaman dan ketrampilan kerja praktis, penyesuaiaan sikap dan rasa di dunia kerja sebelum mahasiswa dilepas untuk bekerja sendiri. Sehubungan dengan itu , mahasiswa FMIPA Universitas Jember diarahkan untuk melakukan Kuliah Kerja Magang (KKM) di instansi yang berhubungan dengan jurusan Kimia yaitu analisis laboratorium. Salah satu instansi tersebut adalah Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Pemyakit Menular (BBTKL & PPM) Surabaya. Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL & PPM) Surabaya bekerjasama dengan FMIPA Universitas Jember sebagai tempat Kuliah Kerja Magang (KKM). BBTKL dan PPM Surabaya ini mempunyai tugas dan fungsi anatara lain pelaksanaan Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL). Instansi ini mempunyai beberapa pelayanan instalansi laboratorium misalnya pengambilan contoh uji dan peemrikasaan contoh uji. Pemeriksaan contoh uji meliputi pemeriksaan contoh uji kimia fisik air, pemeriksaan contoh uji biologi lingkungan, pemeriksaan contoh uji padatan, pemeriksaan contoh uji udara, pemeriksaan contoh uji etimologi dan vector serta pemeriksaan uji kalibrasi alat. Dari uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengetahui bagaimana cara melakukan pemeriksaan contoh uji padatan, air dan udara di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Pemyakit Menular (BBTKL & PPM) Surabaya. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan suatu masalah sebagai berikut : 1.2.1 1.2.2 1.2.3 Parameter apa yang digunakan sebagai acuan pemantauan kualitas air, tanah dan udara? Bagaimana cara analisa sampel polutan air, tanah dan udara? Bagaimana hasil analisa polutan air, tanah dan udara bila dibandingkan dengan baku mutu kualitas air, tanah dan udara yang ditetap?

2|Page

1.3 Tujuan Tujuan dari Kuliah Kerja Magang (KKM) ini adalah : 1.3.1 Mengetahui parameter kualitas air, tanah dan udara; 1.3.2 Memahami dan mempelajari proses analisa sampel polutan air, tanah dan udara; 1.3.3 Mengetahui apakah hasil analisa polutan air, tanah dan udara sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan. 1.4 Manfaat Manfaat yang diperoleh dari Kuliah Kerja Magang (KKM) ini adalah : 1.4.1 1.4.2 Mengetahui berbagai permasalahan di dunia kerja dan bagaimana Menambah wawasan tentang berbagai analisa polutan air, tanah dan udara mengatasinya; di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantsan Penyakit Menular (BBTKL & PPM) Surabaya; 1.4.3 Melatih kedisiplinan dan bekerjasama dengan orang lain dalam dunia kerja terutama di bidang kimia.

3|Page

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Air Air dapat berwujud padatan (es), cairan (air) dan gas (uap air). Air merupakan satu satunya zat yang secara alami terdapat di permukaan bumi dalam ketiga wujudnya tersebut. Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O : satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar (Allafa, 2008). Zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik. Air sering disebut sebagai pelarut universal karena air melarutkan banyak zat kimia. Air berada dalam kesetimbangan dinamis antara fase cair dan padat di bawah tekanan dan temperatur standar. Dalam bentuk ion, air dapat dideskripsikan sebagai sebuah ion hidrogen (H+) yang berasosiasi (berikatan) dengan sebuah ion hidroksida (OH-) (Allafa, 2008). Selanjutnya yang dimaksud dengan air adalah air tawar yang tidak termasuk salju dan es. Di Indonesia jumlah dan pemakaian air bersumber pada air tanah, air permukaan, dan air atmosfer, yang ketersediaannya sangat ditentukan oleh air atmosfer atau sering dikenal dengan air hujan (Kusnoputranto, 2000). 2.2. Peranan Air Bagi Kehidupan Manusia Semua makhluk hidup memerlukan air, karena air merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan. Tidak satupun kehidupan yang ada di dunia ini dapat berlangsung terus tanpa tersedianya air yang cukup. Bagi manusia, kebutuhan akan air ini amat mutlak, karena sebenarnya zat pembentuk tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air, yang jumlahnya sekitar 73 % dari bagian tubuh tanpa jaringan lemak (Azwar, 1990).

4|Page

Tubuh manusia sebagian terdiri dari air, berkisar 50-70% dari seluruh berat badan. Jika tubuh tidak cukup mendapat air atau kehilangan air hanya sekitar 5% dari berat badan (pada anak besar dan dewasa) maka keadaan ini dapat menyebabkan dehidrasi berat. Sedangkan kehilangan air untuk 15 % dari berat badan dapat menyebabkan kematian. Karenanya orang dewasa perlu minum minuman 1,5-2 liter air sehari atau 2200 gram setiap harinya (Soemirat, 2000). Kegunaan air bagi tubuh manusia antara lain untuk proses pencernaan, metabolisme, mengangkat zat-zat makanan dalam tubuh, mengatur keseimbangan suhu tubuh dan menjaga tubuh jangan sampai kekeringan (Harini, 2007). Air yang dibutuhkan oleh manusia untuk hidup sehat harus memenuhi syarat kualitas. Disamping itu harus pula dapat memenuhi secara kuantitas (jumlahnya). Diperkirakan untuk kegiatan rumah tangga yang sederhana paling tidak membutuhkan air sebanyak 100 L/orang/hari. Jumlah air untuk keperluan rumah tangga perhari perkapita tidaklah sama untuk tiap negara. Pada umumnya, dapat dikatakan pada negara-negara yang sudah maju, jumlah pamakaian air per hari per kapita lebih besar dari dari pada negara berkembang. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan air sangatlah bervariasi sehingga rata-rata pemakaian air per orang per hari berbeda untuk satu negara dengan negara lainnya, satu kota dengan kota lainnya, satu desa dengan desa lainnya. 2.3. Peranan Air Dalam Penyebaran Penyakit 2.3.1. Penyakit Menular Disamping air merupakan suatu bahan yang sangat dibutuhkan oleh manusia juga dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan terhadap pemakainya karena mengandung mineral atau zat-zat yang tidak sesuai untuk dikonsumsi sehingga air dapat menjadi media penular penyakit. 2.3.2. Penyakit Tidak Menular Selain penyakit-penyakit yang disebabkan oleh kuman parasit akibat pencemaran biologis, air juga dapat menimbulkan kerugian dan gangguan yang disebabkan oleh bahan-bahan kimia atau zat radioaktif yang ada dalam air, terutama logam-logam berat dan berbahaya (logam B3). Penyakit tidak menular yang

5|Page

disebabkan oleh bahan-bahan kimia berbahaya tersebut sering menimbulkan gejala seperti seperti sakit pinggang dan tulang rapuh yang diakibatkan oleh logam Mn (mangan), tekanan darah tinggi oleh cadmium (Cd), kerusakan ginjal dan korosi pada besi. Logam-logam B3 hasil buangan limbah industri telah menimbulkan kasus pada beberapa daerah atau negara, misalnya keracunan air raksa (Hg) yang menyebabkan cacat bawaan pada bayi yang dikenal sebagai penyakit minamata di Jepang, logam cadmium (Cd) yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah diakibatkan oleh karena cadmium mempengaruhi kinerja otot polos pembuluh darah secara langsung maupun tidak langsung lewat ginjal, bahkan kerusakan dan penghambatan kinerja sistem fisiologis tubuh, kerja paru-paru, liver, kemandulan, serta imunitas juga syaraf dan kerapuhan pada tulang. Air yang tercemar logam ini biasanya terasa pahit dan suhu serta pH yang sangat tinggi (Effendi, 2007). Besi (Fe) dan mangan (Mn) merupakan logam yang sering bersamaan keberadaannya di alam maupun dalam air. Logam ini dibutuhkan dalam tubuh namun dalam jumlah kecil. Kelebihan logam ini dalam tubuh dapat menimbulkan efek-efek kesehatan seperti serangan jantung, gangguan pembuluh darah bahkan kanker hati. Logam ini bersifat akumulatif terutama di organ penyaringan sehingga dapat megganggu fungsi fisiologis tubuh. Nilai estetika juga dapat dirusak oleh keberadaan logam-logam ini karena dapat menimbulkan bercak-bercak hitam pada pakaian. Air yang tercemar oleh logam-logam ini biasanya nampak pada intensitas warna yang tinggi pada air, berwarna kuning bahkan berwarna merah kecoklatan, dan terasa pahit atau masam (Wardhana,2004). Di daerah-daerah pertanian atau perkebuanan, pencemaran Nitrit (NO2) sering terjadi pada air yang berasal dari sisa-sisa pupuk atau zat-zat organik yang digunakan. Zat kimia ini dapat meracuni tubuh, dalam jumlah dan konsentrasi yang tinggi dapat menimbulkan methaemoglobinamein yaitu perubahan Hb darah sehingga terjadi pengurangan oksigen dalam darah dan menimbulkan gangguan pernafasan bahkan gagal jantung. Selain itu, zat ini juga bersifat mutagen dan karsinogen dalam tubuh karena bersifat sebagai penghambat enzim. Air yang tercemar NO2 ini ditandai dengan adanya gumpalan-gumpalan zat-zat organik

6|Page

dalam air seperti butiran-butiran berwarna putih dan masih banyak lagi penyakitpenyakit tidak menular lain pada manusia yang diakibatkan oleh pencemaran bahan-bahan kimia berbahaya terutama logam B3 pada air yang dikonsumsi oleh manusia. Zat-zat kimia ini sangat membahayakan kesehatan mahkluk hidup yang mengkonsumsinya dan pada umumnya bersifat kronis. (Wardhana, 2004) 2. 4. Kualitas Air 2.4.1. Standard Kualitas Air Dengan adanya standard kualitas air, orang dapat mengukur kualitas dari berbagai macam air. Setiap jenis air dapat diukur konsentrasi kandungan unsur yang tercantum didalam standard kualitas, dengan demikian dapat diketahui syarat kualitasnya, dengan kata lain standard kualitas dapat digunakan sebagai tolak ukur. Standard kualitas air bersih dapat diartikan sebagai ketentuan-ketentuan berdasarkan Permenkes RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 yang biasanya dituangkan dalam bentuk pernyataan atau angka yang menunjukkan persyaratan persyaratan yang harus dipenuhi agar air tersebut tidak menimbulkan gangguan kesehatan, penyakit, gangguan teknis, serta gangguan dalam segi estetika. Peraturan ini dibuat dengan maksud bahwa air yang memenuhi syarat kesehatan mempunyai peranan penting dalam rangka pemeliharaan, perlindungan serta mempertinggi derajat kesehatan masyarakat. Dengan peraturan ini telah diperoleh landasan hukum dan landasan teknis dalam hal pengawasan kualitas air bersih. Demikian pula halnya dengan air yang digunakan sebagai kebutuhan air bersih sehari-hari, sebaiknya air tersebut tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, jernih, dan mempunyai suhu yang sesuai dengan standard yang ditetapkan sehingga menimbulkan rasa nyaman. Jika salah satu dari syarat tersebut tidak terpenuhi maka besar kemungkinan air itu tidak sehat karena mengandung beberapa zat kimia, mineral, ataupun zat organis/biologis yang dapat mengubah warna, rasa, bau, dan kejernihan air (Azwar,1990). Untuk standart kualitas air secara global dapat digunakan Standar Kualitas Air WHO. Sebagai organisasi kesehatan internasional, WHO juga mengeluarkan peraturan tentang syarat-syarat kulaitas air bersih yaitu meliputi kualitas fisik, kimia

7|Page

dan biologi. Peraturan yang ditetapkan oleh WHO tersebut digunakan sebagai pedoman bagi negara anggota. Namun demikian masing-masing negara anggota, dapat pula menetapkan syaratsyarat kualitas air sesuai dengan kondisi negara tersebut. 2.4.2. Syarat Kualitas Air a. Syarat Fisik Peraturan menteri kesehatan RI Nomor: 416/MENKES/PER/IX/1990, menyatakan bahwa air yang layak dikonsumsi dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah air yang mempunyai kualitas yang baik sebagai sumber air minum maupun air baku (air bersih), antara lain harus memenuhi persyaratan secara fisik, tidak berbau, tidak berasa, tidak keruh, serta tidak berwarna. Pada umunya syarat fisik ini diperhatikan untuk estetika air. Adapun sifat-sifat air secara fisik dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya sebagai berikut : 1) Suhu Temperatur air akan mempengaruhi penerimaan masyarakat akan air tersebut dan dapat pula mempengaruhi reaksi kimia dalam pengolahannya terutama apabila temperature sangat tinggi. Temperatur yang diinginkan adalah 30C suhu udara disekitarnya yang dapat memberikan rasa segar, tetapi iklim setempat atau jenis dari sumber-sumber air akan mempengaruhi temperatur air. Disamping itu, temperatur pada air mempengaruhi secara langsung toksisitas banyaknya bahan kimia pencemar, pertumbuhan mikroorganisme, dan virus. Temperature atau suhu air diukur dengan menggunakan termometer air. 2) Bau dan Rasa Bau dan rasa biasanya terjadi secara bersamaan dan biasanya disebabkan oleh adanya bahan-bahan organik yang membusuk, tipe-tipe tertentu organisme mikroskopik, serta persenyawaan-persenyawaan kimia seperti phenol. Bahanbahan yang menyebabkan bau dan rasa ini berasal dari berbagai sumber. Intensitas bau dan rasa dapat meningkat bila terdapat klorinasi. Karena pengukuran bau dan rasa ini tergantung pada reaksi individu maka hasil yang dilaporkan tidak mutlak. Untuk standard air bersih sesuai dengan Permenkes RI No.416/MENKES/PER/IX/1990 menyatakan bahwa air bersih tidak berbau dan tidak berasa .

8|Page

3) Kekeruhan Air dikatakan keruh apabila air tersebut mengandung begitu banyak partikel bahan yang tersuspensi sehingga memberikan warna/rupa yang berlumpur dan kotor. Bahan-bahan yang menyebabkan kekeruhan ini meliputi tanah liat, lumpur, bahan-bahan organik yang tersebar dari partikel-partikel kecil yang tersuspensi. Kekeruhan pada air merupakan satu hal yang harus dipertimbangkan dalam penyediaan air bagi umum, mengingat bahwa kekeruhan tersebut akan mengurangi segi estetika, menyulitkan dalam usaha penyaringan, dan akan mengurangi efektivitas usaha desinfeksi (Sutrisno, 1991). Tingkat kekeruhan air dapat diketahui melalui pemeriksaan laboratorium dengan metode Turbidimeter. Untuk standard air bersih ditetapkan oleh Permenkes RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990, yaitu kekeruhan yang dianjurkan maksimum 25 NTU (Depkes RI, 1995) 4. Solid (Zat padat) Kandungan zat padat menimbulkan bau busuk, juga dapat meyebabkan turunnya kadar oksigen terlarut. Zat padat dapat menghalangi penetrasi sinar matahari kedalam air. TSS (Total Suspended Solid) TSS (Total Suspended Solid) atau total padatan tersuspensi adalah padatan yang tersuspensi di dalam air berupa bahan-bahan organik dan inorganic yang dapat disaring dengan kertas millipore berporipori 0,45 m. Materi yang tersuspensi mempunyai dampak buruk terhadap kualitas air karena mengurangi penetrasi matahari ke dalam badan air, kekeruhan air meningkat yang menyebabkan gangguan pertumbuhan bagi organisme produser. Pengukuran TSS berdasarkan pada berat kering partikel yang terperangkap oleh filter, biasanya dengan ukuran pori tertentu. Umumnya, filter yang digunakan memiliki ukuran pori 0.45 m (Clescerl, 1905). Nilai TSS dari contoh air biasanya ditentukan dengan cara menuangkan air dengan volume tertentu, biasanya dalam ukurtan liter, melalui sebuah filter dengan ukuran pori-pori tertentu. Sebelumnya, filter ini ditimbang dan kemudian beratnya 9|Page

akan dibandingkan dengan berat filter setelah dialirkan air setelah mengalami pengeringan. Berat filter tersebut akan bertambah disebabkan oleh terdapatnya partikel-partikel tersuspensi yang terperangkap dalam filter tersebut. Padatan yang tersuspensi ini dapat berupa bahan-bahan organik dan inorganik. Satuan TSS adalah miligram per liter (mg/l). Kandungan TSS memiliki hubungan yang erat dengan kecerahan perairan. Keberadaan padatan tersuspensi tersebut akan menghalangi penetrasi cahaya yang masuk ke perairan sehingga hubungan antara TSS dan kecerahan akan menunjukkan hubungan yang berbanding terbalik (Blom, 1994). TDS ( Total Disolved Solid ) 5. Warna Warna air dapat ditimbulkan oleh kehadiran organisme, bahan-bahan tersuspensi yang berwarna dan oleh ekstrak senyawa-senyawa organik serta tumbuh-tumbuhan. a. Syarat Kimia Karakteristik Kimia Air A. pH Penggunaan air yang mengandung bahan kimia beracun dan zat-zat kimia yang melebihi kadar maksimum yang diperbolehkan berakibat tidak baik bagi kesehatan dan material yang digunakan manusia. Contohnya pH; pH Air sebaiknya netral yaitu tidak asam dan tidak basa untuk mencegah terjadinya pelarutan logam berat dan korosi jaringan. pH air yang dianjurkan untuk air minum adalah 6,59. Air merupakan pelarut yang baik sekali maka jika dibantu dengan pH yang tidak netral dapat melarutkan berbagai elemen kimia yang dilaluinya (Juli Soemirat, 2000). Pembatasan pH dilakukan karena akan mempengaruhi rasa, korosifitas air dan efisiensi klorinasi. Beberapa senyawa asam dan basa lebih toksid dalam bentuk molekuler, dimana disosiasi senyawa-senyawa tersebut dipengaruhi oleh pH. B. DO (dissolved oxygent)

10 | P a g e

DO adalah jumlah oksigen terlarut dalam air yang berasal dari fotosintesa dan absorbsi atmosfer/udara. Semakin banyak jumlah DO maka kualitas air semakin baik. Satuan DO biasanya dinyatakan dalam persentase saturasi. C. BOD (biological oxygent demand) BOD adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorgasnisme untuk menguraikan bahan-bahan organik (zat pencerna) yang terdapat di dalam air buangan secara biologi. BOD dan COD digunakan untuk memonitoring kapasitas self purification badan air penerima. Reaksi: Zat Organik + m.o + O2 CO2 + m.o + sisa material organik (CHONSP) D. COD (chemical oxygent demand) COD adalah banyaknya oksigen yang di butuhkan untuk mengoksidasi bahan-bahan organik secara kimia. Reaksi: + 95%terurai Zat Organik + O2 CO2 + H2O E. Kesadahan Kesadahan air yang tinggi akan mempengaruhi efektifitas pemakaian sabun, namun sebaliknya dapat memberikan rasa yang segar. Di dalam pemakaian untuk industri (air ketel, air pendingin, atau pemanas) adanya kesadahan dalam air tidaklah dikehendaki. Kesadahan yang tinggi bisa disebabkan oleh adanya kadar residu terlarut yang tinggi dalam air. F. Senyawa-senyawa kimia yang beracun Air bersih yang baik adalah air yang tidak tercemar secara berlebihan oleh zat-zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan antara lain Air raksa (Hg), Aluminium (Al), Arsen (As), Barium (Ba), Besi (Fe), Flourida (F), Calsium (Ca), Mangan ( Mn ), Derajat keasaman (pH), Cadmium (Cd), dan zat-zat kimia lainnya. Kandungan zat kimia dalam air bersih yang digunakan sehari-hari hendaknya tidak melebihi kadar maksimum yang diperbolehkan 416/MENKES/PER/IX/1990. Kehadiran unsur arsen (As) pada dosis yang rendah sudah merupakan racun terhadap manusia sehingga perlu pembatasan yang agak ketat ( 0,05 mg/l). seperti tercantum dalam Permenkes RI

11 | P a g e

Kehadiran besi (Fe) dalam air bersih akan menyebabkan timbulnya rasa dan bau ligam, menimbulkan warna koloid merah (karat) akibat oksidasi oleh oksigen terlarut yang dapat menjadi racun bagi manusia. Syarat Bakteriologis Sumber-sumber air di alam pada umumnya mengandung bakteri, baik air angkasa, air permukaan, maupun air tanah. Jumlah dan jenis bakteri berbeda sesuai dengan tempat dan kondisi yang mempengaruhinya. Penyakit yang ditransmisikan melalui faecal material dapat disebabkan oleh virus, bakteri, protozoa, dan metazoa. Oleh karena itu air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari harus bebas dari bakteri patogen. Bakteri golongan Coli (Coliform bakteri) tidak merupakan bakteri patogen, tetapi bakteri ini merupakan indikator dari pencemaran air oleh bakteri patogen (Soemirat, 2000). Menurut Permenkes RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990, bakteri coliform yang memenuhi syarat untuk air bersih bukan perpipaan adalah < 50 MPN. 2.5. Cara Pemeriksaan Kualitas Air Didalam pemeriksaan air dikenal dua cara yaitu (Depkes RI, 1991) : a. pemeriksaan air di lapangan b. pemeriksaan air di laboratorium Pemeriksaan air dilapangan dimaksudkan untuk mengadakan pemeriksaan air di lokasi dimana contoh air itu diambil. Biasanya pemeriksaan air dilapangan dilakukan untuk parameter suhu, bau, rasa, warna, sedangkan yang lainnya dilaksanakan di laboratorium.

12 | P a g e

2.6 Penetapan Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan K, Na Bertukar Kapasitas Tukar Kation (KTK) merupakan jumlah total kation yang dapat dipertukarkan (cation exchangable) pada permukaan koloid yang bermuatan negatif. KTK ini merupakan salah satu sifat kimia tanah yang terkait erat dengan ketersediaan hara bagi tanaman dan menjadi indikator kesuburan tanah. Tanahtanah dengan kandungan bahan organik atau kadar liat tinggi mempunyai KTK lebih tinggi daripada tanah-tanah dengan kandungan bahan organik rendah atau tanah-tanah berpasir. Nilai KTK tanah sangat beragam dan tergantung pada sifat dan ciri tanah itu sendiri (Madjid, 2007). Satuan hasil pengukuran KTK adalah milliequivalen kation dalam 100 gram tanah atau me kation per 100 g tanah. Nilai KTK tanah (me/100g) dikelompokkan dalam lima kategori berikut: (1) sangat rendah untuk nilai KTK (me/100 g) < 5 (2) rendah untuk nilai KTK (me/100 g) berkisar antara 5 s/d 16 (3) sedang untuk nilai KTK (me/100 g) berkisar antara 17 s/d 24 (4) tinggi untuk nilai KTK (me/100 g) berkisar antara 25 s/d 40 (5) sangat tinggi untuk nilai KTK (me/100g) > 40 (Madjid, 2007). Berdasarkan pada jenis permukaan koloid yang bermuatan negatif, KTK dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: 1. KTK koloid anorganik atau KTK liat KTK liat adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid anorganik (koloid liat) yang bermuatan negatif. Nilai KTK liat tergantung dari jenis liat, sebagai contoh: a. b. c. d. Liat Kaolinit memiliki nilai KTK = 3 s/d 5 me/100 g. Liat Illit dan Liat Klorit, memiliki nilai KTK = 10 s/d 40 me/100g. Liat Montmorillonit, memiliki nilai KTK = 80 s/d 150 me/100g. Liat Vermikullit, memiliki nilai KTK = 100 s/d 150 me/100 g.

13 | P a g e

2. KTK koloid organik KTK koloid organik sering disebut juga KTK bahan organik tanah adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid organik yang bermuatan negatif. Nilai KTK koloid organik lebih tinggi dibandingkan dengan nilai KTK koloid anorganik. Nilai KTK koloid organik berkisar antara 200 me/100 g sampai dengan 300 me/100 g. 3. KTK total atau KTK tanah. KTK total merupakan nilai KTK dari suatu tanah adalah jumlah total kation yang dapat dipertukarkan dari suatu tanah, baik kation-kation pada permukaan koloid organik (humus) maupun kation-kation pada permukaan koloid anorganik (Science Club MIPA UNJ, 2010). Berdasarkan sumber muatan negatif tanah, nilai KTK tanah dibedakan menjadi 2, yaitu: 1. KTK muatan permanen, KTK muatan permanen adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid liat dengan sumber muatan negatif berasal dari mekanisme substitusi isomorf. Substitusi isomorf adalah mekanisme pergantian posisi antar kation dengan ukuran atau diameter kation hampir sama tetapi muatan berbeda. Substitusi isomorf ini terjadi dari kation bervalensi tinggi terhadap kation bervalensi rendah. 2. KTK muatan tidak permanen. KTK muatan tidak permanen atau KTK tergantung pH tanah adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid liat dengan sumber muatan negatif liat bukan berasal dari mekanisme substitusi isomorf tetapi berasal dari mekanisme patahan atau sembulan di permukaan koloid liat, sehingga tergantung pada kadar H+ dan OH- dari larutan tanah (Madjid, 2007). Reagen-reagen yang digunakan dalam penentuan KTK dan K, Na bertukar adalah standard K, Na dan ammonium asetat. Kalium merupakan unsure logam alkali dengan nomor atom 19, nomor massa 39,102, bersifat larut dalam ammonia cair, merkuri dan aniline. Kalium merupakan unsure yang sangat reaktif. Jika

14 | P a g e

direaksikan dengan air maka akan membentuk kalium hidroksida dan hydrogen. Oleh sebab itu kalium harus disimpan dalam gas nitrogen atau gas argon atau dapat juga dalam senyawa yang bebas dari oksigen, misalnya toluene atau kerosin. Kalium digunakan untuk membuat kalium peroksida dan baja (Anonim, 2011). Sodium merupakan unsure logam alkali dengan nomor atom 11 dan nomor massa 22,9898, mempunyai titik lebur 97,6C dan titik didih 892C. Jika direksikan dengan air maka akan terurai membentuk natrium hidroksida dan melepaskan hydrogen. Natrium dihasilkan dengan mengelektrolisis campuran natrium klorida dan kalsium klorida. Natrium digunakan dalam pembuatan natrium hidrida, natrium peroksida dan digunakan sebagai katalis dan sebagai bahan pendingin dalam reactor nuklir (Anonim, 2011). Amonium asetat merupakan senyawa kimia dengan rumus CH3COONH4, berupa padatan yang berwarna putih yang dapat berasal dari reaksi ammonia dengan asam asetat, mudah menguap (volatile) dan banyak digunakan dalam sintesis organik (Wikipedia, 2011). 2.8. analisa klorida Klorida (Cl-) adalah salah satu senyawa umum yang terdapat pada perairan alam. Senyawa-senyawa klorida tersebut mengalami proses disosiasi dalam air membentuk ion. Ion klorida pada dasarnya mempunyai pengaruh kecil terhadap sifat-sifat kimia dan biologi perairan. Kation dari garam-garam klorida dalam air terdapat dalam keadaan mudah larut. Ion klorida secara umum tidak membentuk senyawa kompleks yang kuat dengan ion-ion logam. Ion ini juga tidak dapat dioksidasi dalam keadaan normal dan tidak bersifat toksik. Tetapi kelebihan garam klorida dapat menyebabkan penurunan kualitas air. Kelebihan klorida dalam air menyebabkan pembentukan noda berwarna putih di pinggiran badan air 2.7 analisa kesadahan Kesadahan air adalah kandungan beberapa jenis mineral di dalam air, umumnya ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. Air sadah atau air keras adalah air yang memiliki kadar mineral yang tinggi,

15 | P a g e

sedangkan air lunak adalah air dengan kadar mineral yang rendah. Selain ion kalsium dan magnesium, penyebab kesadahan juga bisa merupakan ion logam lain maupun garam-garam bikarbonat dan sulfat (Wiki, 2011). Metode paling sederhana untuk menentukan kesadahan air adalah dengan sabun. Dalam air lunak, sabun akan menghasilkan busa yang banyak. Pada air sadah, sabun tidak akan menghasilkan busa atau menghasilkan sedikit sekali busa. Cara yang lebih kompleks adalah melalui titrasi. Air sadah tidak begitu berbahaya untuk diminum, namun dapat menyebabkan beberapa masalah. Air sadah dapat menyebabkan pengendapan mineral, yang menyumbat saluran pipa dan keran. Air sadah juga menyebabkan pemborosan sabun di rumah tangga, dan air sadah yang bercampur sabun dapat membentuk gumpalan scum yang sukar dihilangkan. Dalam industri, kesadahan air yang digunakan diawasi dengan ketat untuk mencegah kerugian (Wiki, 2011). Air sadah digolongkan menjadi dua jenis, berdasarkan jenis anion yang diikat oleh kation (Ca2+ atau Mg2+), yaitu air sadah sementara dan air sadah tetap. 1. Air sadah sementara Air sadah sementara adalah air sadah yang mengandung ion bikarbonat (HCO3-), atau boleh jadi air tersebut mengandung senyawa kalsium bikarbonat (Ca(HCO3)2) dan atau magnesium bikarbonat (Mg(HCO3)2). Air yang mengandung ion atau senyawa-senyawa tersebut disebut air sadah sementara karena kesadahannya dapat dihilangkan dengan pemanasan air, sehingga air tersebut terbebas dari ion Ca2+ dan atau Mg2+. Dengan jalan pemanasan senyawa-senyawa tersebut akan mengendap pada dasar ketel. Reaksi yang terjadi adalah : Ca(HCO3)2 (aq) CaCO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g) 2. Air sadah tetap Air sadah tetap adalah air sadah yang mengadung anion selain ion bikarbonat, misalnya dapat berupa ion Cl-, NO3- dan SO42-. Berarti senyawa yang terlarut boleh jadi berupa kalsium klorida (CaCl2), kalsium nitrat (Ca(NO3)2), kalsium sulfat (CaSO4), magnesium klorida (MgCl2), magnesium nitrat (Mg(NO3)2), dan magnesium sulfat (MgSO4). Air yang mengandung senyawa-senyawa tersebut disebut air sadah tetap, karena kesadahannya tidak bisa dihilangkan hanya dengan 16 | P a g e

cara pemanasan. Untuk membebaskan air tersebut dari kesadahan, harus dilakukan dengan cara kimia, yaitu dengan mereaksikan air tersebut dengan zat-zat kimia tertentu. Pereaksi yang digunakan adalah larutan karbonat, yaitu Na2CO3 (aq) atau K2CO3
(aq)

. Penambahan larutan karbonat dimaksudkan untuk mengendapkan ion

Ca2+ dan atau Mg2+. CaCl2 (aq) + Na2CO3 (aq) CaCO3 (s) + 2NaCl (aq) Mg(NO3)2 (aq) + K2CO3 (aq) MgCO3 (s) + 2KNO3 (aq) Dengan terbentuknya endapan CaCO3 atau MgCO3 berarti air tersebut telah terbebas dari ion Ca2+ atau Mg2+ atau dengan kata lain air tersebut telah terbebas dari kesadahan (Shenee Hye, 2009). Reagen-reagen yang digunakan dalam analisa kesadahan, antara lain: larutan penyangga pH 10 0,1, NaOH, indicator eriochrome black T (EBT) dan pengkelat ethylene diamin tetra acetic (EDTA). Ethylene Diamin Tetra Acetic ( EDTA) merupakan senyawa yang mudah larut dalam air, serta dapat diperoleh dalam keadaan murni. EDTA merupakan senyawa kompleks khelat dengan rumus molekul (HO2CCH2)2NCH2CH2N(CH2CO2H)2 dan dipergunakan secara luas untuk mengikat ion logam bervalensi dua dan tiga. EDTA mengikat logam melalui empat karboksilat dan dua gugus amina. EDTA membentuk kompleks kuat terutama dengan Mn (II), Cu (II), Fe (III) dan Co (III).

Gambar 2.1

Struktur EDTA

Terlihat dari strukturnya bahwa molekul tersebut mengandung baik donor elektron dari atom oksigen maupun donor dari atom nitrogen sehingga dapat menghasilkan khelat bercincin sampai dengan enam secara serempak (Khopkar, 1990).

17 | P a g e

2.9 PENCEMARAAN UDARA Udara merupakan faktor yang penting dalam kehidupan, namun dengan meningkatnya pembangunan fisik kota dan pusat-pusat industri, kualitas udara telah mengalami perubahan. Udara yang dulunya segar kini kering dan kotor. Hal ini bila tidak segera ditanggulangi, perubahan tersebut dapat membahayakan kesehatan manusia, kehidupan hewan serta tumbuhan Pencemaran udara diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zat-zat asing di dalam udara yang menyebabkan perubahan susunan (komposisi) udara dari keadaan normalnya. Kehadiran bahan atau zat asing di dalam udara dalam jumlah tertentu serta berada di udara dalam waktu yang cukup lama, akan dapat mengganggu kehidupan manusia. Bila keadaan seperti itu terjadi maka udara dikatakan telah tercemar Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 41 tahun 1999 mengenai Pengendalian Pencemaran udara, yang dimaksud dengan pencemaran udara adalah masuknya atau dimaksuknya zat, energi dan/atau komponen lain ke dalam udara ambient oleh kegiatan manusia sehingga mutu udara ambient turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara ambient tidak memenuhi fungsinya. 2.10 Sumber Pencemar Udara Telah disadari bersama, kualitas udara saat ini telah menjadi persoalan global, karena udara telah tercemar akibat aktivitas manusia dan proses alam. Masuknya zat pencemar ke dalam udara dapat secara alamiah, misalnya asap kebakaran hutan, akibat gunung berapi, debu meteorit dan pancaran garam dari laut ; juga sebagian besar disebabkan oleh kegiatan manusia, misalnya akibat aktivitas transportasi, industri, pembuangan sampah, baik akibat proses dekomposisi ataupun pembakaran serta kegiatan rumah tangga, terdapat 2 jenis pencemar yaitu sebagai berikut : a. Zat pencemar primer, yaitu zat kimia yang langsung mengkontaminasi udara dalam konsentrasi yang membahayakan. Zat tersebut bersal dari komponen 18 | P a g e

udara alamiah seperti karbon dioksida, yang meningkat diatas konsentrasi normal, atau sesuatu yang tidak biasanya, ditemukan dalam udara, misalnya timbal. b. Zat pencemar sekunder, yaitu zat kimia berbahaya yang terbentuk di atmosfer melalui reaksi kimia antar komponen-komponen udara. Sumber bahan pencemar primer dapat dibagi lagi menjadi dua golongan besar : Sumber alamiah Beberapa kegiatan alam yang bisa menyebabkan pencemaran udara adalah kegiatan gunung berapi, kebakaran hutan, kegiatan mikroorganisme, dan lain-lain.Bahan pencemar yang dihasilkan umumnya adalah asap, gas-gas, dan debu. Sumber buatan manusia Kegiatan manusia yang menghasilkan bahan-bahan pencemar bermacammacam antara lain adalah kegiatan-kegiatan berikut : a. Pembakaran, seperti pembakaran sampah, pembakaran pada kegiatan rumah tangga, industri, kendaraan bermotor, dan lain-lain. Bahan-bahan pencemar yang dihasilkan antara lain asap, debu, grit (pasir halus), dan gas (CO dan NO). b. Proses peleburan, seperti proses peleburan baja, pembuatan soda,semen, keramik, aspal. Sedangkan bahan pencemar yang dihasilkannya antara lain adalah debu, uap dan gas-gas. c. Pertambangan dan penggalian, seperti tambang mineral and logam. Bahan pencemar yang dihasilkan terutama adalah debu. d. Proses pengolahan dan pemanasan seperti pada proses pengolahan makanan, daging, ikan, dan penyamakan. Bahan pencemar yang dihasilkan terutama asap, debu, dan bau. e. Pembuangan limbah, baik limbah industri maupun limbah rumah tangga. Pencemarannya terutama adalah dari instalasi pengolahan air buangannya. Sedangkan bahan pencemarnya yang teruatam adalah gas H2S yang menimbulkan bau busuk.

19 | P a g e

f. Proses kimia, seperti pada proses fertilisasi, proses pemurnian minyak bumi, proses pengolahan mineral. Pembuatan keris, dan lain-lain. Bahan-bahan pencemar yang dihasilkan antara lain adalah debu, uap dan gas-gas g. Proses pembangunan seperti pembangunan gedung-gedung, jalan dan kegiatan yang semacamnya. Bahan pencemarnya yang terutama adalah asap dan debu. h. Proses percobaan atom atau nuklir. Bahan pencemarnya yang terutama adalah gas-gas dan debu radioaktif.

2.11 Jenis Bahan Pencemar Udara Ada beberapa bahan pencemar udara yang sering ditemukan di kota-kota dapat dilihat dari ciri fisik, bahan pencemar dapat berupa : a. Partikel (debu, aerosol, timah hitam) b. Gas (karbon monoksida / CO sulfur oksida / SOx hidrokarbon, nitrogen oksida / NOx, H2S dan oksidant ozon dan PAN) c. Energi (suhu dan kebisingan) Bahan-bahan pencemar ini dikenakan peraturan khusus untuk pengawasannya karena bisa membahayakan kesehatan.

2.12 Gas Amoniak Amonia adalah senyawa kimia dengan rumus NH3. Biasanya senyawa ini didapati berupa gas dengan bau tajam yang khas (disebut bau amonia). Walaupun amonia memiliki sumbangan penting bagi keberadaan nutrisi di bumi, amonia sendiri adalah senyawa kaustik dan dapat merusak kesehatan. Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Pekerjaan Amerika Serikat memberikan batas 15 menit bagi kontak dengan amonia dalam gas berkonsentrasi 35 ppm volum, atau 8 jam untuk 25 ppm volum. Kontak dengan gas amonia berkonsentrasi tinggi dapat menyebabkan kerusakan paru-paru dan bahkan kematian. Sekalipun amonia di AS

20 | P a g e

diatur sebagai gas tak mudah terbakar, amonia masih digolongkan sebagai bahanberacun jika terhirup, dan pengangkutan amonia berjumlah lebih besar dari 3.500 galon (13,248 L) harus disertai surat izin. Amonia yang digunakan secara komersial dinamakan amonia anhidrat. Istilah ini menunjukkan tidak adanya air pada bahan tersebut. Karena amonia mendidih di suhu -33 C, cairan amonia harus disimpan dalam tekanan tinggi atau temperature sangat rendah. Walaupun begitu, kalor penguapannya sangat tinggi sehingga dapat ditangani dengan tabung reaksi biasa di dalam sungkup asap. "Amonia rumah" atau amonium hidroksida adalah larutan NH3 dalam air. Konsentrasi larutan tersebut diukur dalam satuan baum. Produk larutan komersial amonia berkonsentrasi tinggi biasanya memiliki konsentrasi 26 derajat baum (sekitar 30 persen berat amonia pada 15.5 C). Amonia yang berada di rumah biasanya memiliki konsentrasi 5 hingga 10 persen berat amonia. Amonia umumnya bersifat basa (pKb=4.75), namun dapat juga bertindak sebagai asam yang amat lemah (pKa=9.25). 2.13 Gas H2S 2.13.1 DEFINISI GAS H2S Gas H2S adalah rumus kimia dari gas Hidrogen Sulfida yang terbentuk dari 2 unsur Hidrogen dan 1 unsur Sulfur. Satuan ukur gas H2S adalah PPM ( part per milion ). Gas H2S disebut juga gas telur busuk, gas asam, asam belerang atau uap bau. 2.13.2. PROSES TERJADINYA GAS H2S Gas H2S terbentuk akibat adanya penguraian zat-zat organik oleh bakteri. Oleh karena itu gas ini dapat ditemukan di dalam operasi pengeboran minyak/ gas dan panas bumi, lokasi pembuangan limbah industri, peternakan atau pada lokasi pembuangan sampah.

21 | P a g e

2.13.3. SIFAT DAN KARAKTERISTIK GAS H2S Gas H2S mempunyai sifat dan karakteristik antara lain : Tidak berwarna tetapi mempunyai bau khas seperti telur busuk pada konsentrasi rendah sehingga disebut sebagai gas telur busuk. Merupakan jenis gas beracun. Dapat terbakar dan meledak pada konsentrasi LEL (Lower Explosive Limit ) 4.3% ( 43000 PPM ) sampai UEL ( Upper Explosive Limite ) 46% ( 460000 PPM) dengan nyala api berwarna biru pada temperature 500 0F( 260 0C ) Berat jenis gas H2S lebih berat dari udara sehingga gas H2S akan cenderung terkumpul di tempat / daerah yang rendah. Berat jenis gas H2S sekitar 20 % lebih berat dari udara dengan perbandingan berat jenis H2S : 1.2 atm dan berat jenis udara : 1 atm. H2S dapat larut (bercampur) dengan air ( daya larut dalam air 437 ml/100 ml air pada 0 0C; 186 ml/100 ml air pada 40 0C ). H2S bersifat korosif sehingga dapat mengakibatkan karat pada peralatan logam. 2.13.4. EFEK FISIK GAS H2S TERHADAP MANUSIA Efek fisik gas H2S terhadap manusia tergantung dari beberapa faktor, diantaranya adalah : a. Lamanya seseorang berada di lingkungan paparan H2S. b. Frekuensi seseorang terpapar. c. Besarnya konsentrasi H2S. d. Daya tahan seseorang terhadap paparan H2S. Tabel 1. Tingkat konsentrasi H2S dan efek fisik gas H2S] Tingkat konsentrasi H2S (PPM) 0.13 4.6 10 Efek fisik gas H2S Bau minimal yang masih terasa Mudah dideteksi, bau yang sedang Permulaan iritasi mata dan mulai berair

22 | P a g e

27

Bau yang tidak enak dan tidak dapat ditoleransi lagi.

100

Batuk-batuk,

iritasi

mata

dan

indera

penciuman sudah tidak berfungsi 200 300 Pembengkakan mata dan rasa kekeringan di tenggorokan 500 700 Kehilangan kesadaran dan bisa mematikan dalam waktu 30 - 1 jam Lebih dari 700 Kehilangan kesadaran dengan cepat dan berlanjut kematian

Menurut ACGIH (American Conference Of Govermental Industrial Hygienists) : - Nilai ambang batas (TLV-TWA / Threshold Limit Value-Time Weighted Average) H2S adalah 10 PPM, yang didefinisikan sebagai konsentrasi ratarata yang diperkenankan untuk pemaparan selama 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Pekerja dapat terpapar secara berulang tanpa menimbulkan gangguan kesehatan pada konsentrasi 10 PPM (Occupational Exposure Limit for Chemical Substances). - Sedangkan nilai ambang batas yang merekomendasikan bahwa pekerja tidak boleh terpapar H2S untuk jangka waktu maksimal 15 menit adalah bila paparan melebihi 20 PPM atau yang disebut dengan TLV STEL (Treshold Limit Value Short Term Exposure Limit ).

Efek fisik gas H2S pada tingkat rendah dapat menyebabkan terjadinya gejalagejala sebagai berikut : - Sakit kepala atau pusing

23 | P a g e

- Badan terasa lesu - Hilangnya nafsu makan - Rasa kering pada hidung, tenggorokan dan dada - Batuk batuk - Kulit terasa perih 2.13.5 PROSES DAN KRONOLOGIS TERJADINYA KASUS KERACUNAN GAS H2S PADA TUBUH MANUSIA. Pada kondisi normal, seseorang bernafas dengan menghirup udara yang terkandung oksigen sebagai salah satu bagian udara bebas, selain nitrogen dan unsur-unsur lainnya. Oksigen sangat dibutuhkan manusia untuk proses oksidasi di dalam tubuh. Oksigen yang masuk ke dalam paru-paru akan dibawa oleh darah ke seluruh tubuh termasuk ke otak. Jika seseorang menghirup udara yang telah tercampur dengan gas H2S maka komposisi oksigen yang masuk kedalam tubuh akan berkurang, sehingga kinerja otakpun akan terganggu. Tingkat konsentrasi gas H2S di otak yang semakin tinggi akan mengakibatkan lumpuhnya saraf pada indera penciuman dan hilangnya fungsi kontrol otak pada paru-paru. Akibat fatalnya adalah paru-paru akan melemah dan berhenti bekerja, sehingga seseorang dapat hilang kesadaran dan meninggal dalam ukuran waktu tertentu.

2.13.6 METODE MENGURANGI ATAU MENETRALISIR PAPARAN GAS H2S Metode mengurangi paparan gas H2S pada suatu area dapat dilakukan dengan meniupkan angin menggunakan kipas angin besar ( bug blower ) sehingga gas H2S akan terhambur. Kondisi ini mengakibatkan konsentrasi paparan gas H2S akan berkurang karena area paparan gas H2S akan melebar. Metode menetralisir gas H2S dapat dilakukan dengan Sulfur Recovery Unit, yaitu dengan suatu alat yang dapat menguraikan unsur Hidrogen dan Sulfur secara reaksi kimiawi. Penguraian ini akan menjadikan dua unsur netral atau tidak beracun. Hasil akhirnya Hidrogen akan dibuang dalam bentuk gas dan Sulfur ditampung dalam bentuk padat.

24 | P a g e

2.14 Gas NO2 Nitrogen oksida sering disebut dengan NOx, karena oksida nitrogen mempunyai 2 macam bentuk yang sifatnya berbeda, yaitu gas NO2 dan gas NO. Sifat gas NO2 adalah berwarna dan berbau, sedangkan gas NO tidak berwarna dan tidak berbau. Warna gas NO2 adalah merah kecoklatan dan berbau tajam menyengat hidung. Dari seluruh jumlah NOx yang dibebaskan ke atmosfer, jumlah yang terbanyak adalah dalam bentuk NO yang diproduksi oleh aktivitas bakteri. Akan tetapi poluasi NO dari sumber alami ini tidak merupakan masalah karena tersebar secara merata sehingga jumlahnya menjadi kecil. Yang menjadi masalah adalah polusi NO yang diproduksi oleh kegiatan manusia karena jumlahnya akan meningkat hanya pada tempat-tempat tertentu. Konsentrasi NOx di udara di daeraah perkotaan biasanya 10-100 kali lebih tinggi daripada di udara daerah pedesaan. Konsentrasi NOx di udara daerah perkotaan dapat mencapai 0,5 ppm (500 ppb). Seperti halnya CO, emisi nitrogen oksida dipengaruhi oleh kepadatan penduduk karena sumber utama NOx yang diproduksi manusia adalah dari pembakaran, dan kebanyakan pembakaran disebabkan oleh kendaraan, produksi energi dan pembuangan sampah. Sebagian besar emisi NOx yang dibuat manusia berasal dari pembakaran arang, minyak, gas alam dan bensin. Oksida yang lebih rendah yaitu NO terdapat di atmosfer dalam jumlah lebih besar daripada NO2 . Pembentukan NO dan NO2 mencakup reaksi antara nitrogen dan oksigen di udara sehingga membentuk NO, kemudian reaksi selanjutnya antara NO dengan lebih banyak oksigen membentuk NO2.

Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut : N2 + O2 2NO 2NO + O2 2NO2 25 | P a g e

Udara terdiri dari sekitar 80% volume nitrogen dan 20% volume oksigen. Pada suhu kamar kedua gas ini hanya sedikit mempunyai kecenderungan untuk bereaksi satu sama lain. Pada suhu yang lebih tinggi (di atas 1210oC) keduanya dapat bereaksi membentuk nitric oksida dalam jumlah tinggi sehingga mengakibatkan polusi udara. Dalam proses pembakaran, suhu yang digunakan biasanya mencapai 1210-1765oC dengan adanya udara, oleh karena itu reaksi ini merupakan sumber NO yang penting. Jadi reaksi pembentukan NO merupakan hasil samping dalam proses pembakaran. Pembentukan NO dirangsang hanya pada suhu tinggi, oleh karena itu NO di dalam campuran ekuilibrium pada suhu tinggi akan terdisosiasi kembali menjadi N2dan O2 jika suhu campuran tersebut diturunkan perlahan-lahan untuk memberikan waktu yang cukup bagi NO untuk terdisosiasi. Akan tetapi jika campuran ekuilibrium tersebut didinginkan secara mendadak, akan banyak NO yang masih terdapat pada campuran suhu rendah tersebut. Pendinginan cepat tersebut sering terjadi pada proses pembakaran. Reaksi pembentukan NO2 dari NO dan O2 terjadi dalam jumlah relatif kecil, meskipun dengan adanya udara berlebih. Hal ini berbeda dengan reaksi pembentukan CO2 dari CO dan O2, dimana kelebihan udara akan mengakibatkan pembentukan CO2 secara cepat. Pembentukan NO2 yang lambat ini disebabkan kecepatan reaksi sangat dipengaruhi oleh suhu dan konsentrasi NO. Reaksi pembentukan NO2 berlangsung lebih lambat pada suhu yang lebih tinggi. Pada suhu 1100oC jumlah NO2 yang terbentuk biasanya kurang dari 0,5% dari total NOx . kecepatan reaksi pembentukan NO2 dipengaruhi oleh konsentrasi oksigen dan kuadrat dari konsentrasi NO. Hal ini berarti jika konsentrasi NO bertambah menjadi dua kalinya maka kecepatan reaksi akan naik menjadi empat kalinya, dan jika konsentrasi NO berkurang menjadi setengahnya. NO yang dikeluarkan ke udara luar bersama-sama dengan gas buangan lainnya akan mengalami pendinginann secara cepat dan terencerkan sebanyak 100 kalinya. Gas nitrogen oksida (NOx) ada dua macam yaitu gas nitrogen monoksida dan gas nitrogen dioksida. Kedua macam gas tersebut mempunyai sifat yang sangat

26 | P a g e

berbeda dan keduanya sangat berbahaya bagi kesehatan. Udara yang mengandung gas NO dalam batas normal relatif aman dan tidak berbahaya, kecuali bila gas NO berada dalam konsentrasi tinggi. Sifat racun (toksisitas) gas NO2 empat kali lebih kuat daripada toksisitas gas NO. Organ tubuh yang paling peka terhadap pencemaran gas NO2 adalah paru-paru. Paru-paru yang terkontaminasi oleh gas NO2 akan membengkak sehingga penderita sulit bernafas yang dapat mengakibatkan kematian. Konsentrasi NO2 lebih tinggi dari 100 ppm bersifat letal pada hewan percobaan , dan 90% dari kematian tersebut disebabkan oleh gejala edema pulmonary. Pemberian sebanyak 5 ppm NO2 selama 10 menit terhadap manusia mengakibatkan sedikit kesukaran dalam bernafas. Pencemaran udara oleh gas NOx juga dapat menyebabkan timbulnya Peroxy Acetil Nitrates (PAN). PAN ini menyebabkan iritasi pada mata yang menyebabkan mata terasa pedih dan berair. Campuran PAN bersama senyawa kimia lainnya yang ada di udara dapat menyebabkan terjadinya kanut foto kimia atau Photo Chemistry Smog yang sangat mengganggu lingkungan.

2.15 Gas O3 Lapisan ozon adalah lapisan di atmosfer pada ketinggian 19 - 48 km (12 30 mil) di atas permukaan Bumi yang mengandung molekul-molekul ozon. Konsentrasi ozon di lapisan ini mencapai 10 ppm dan terbentuk akibat pengaruh sinar ultraviolet Matahari terhadap molekul-molekul oksigen. Peristiwa ini telah terjadi sejak berjuta-juta tahun yang lalu, tetapi campuran molekul-molekul nitrogen yang muncul di atmosfer menjaga konsentrasi ozon relatif stabil. Ozon adalah gas beracun sehingga bila berada dekat permukaan tanah akan berbahaya bila terhisap dan dapat merusak paru-paru. Sebaliknya, lapisan ozon di atmosfer melindungi kehidupan di Bumi karena ia melindunginya dari radiasi sinar ultraviolet yang dapat menyebabkan kanker. Oleh karena itu, para ilmuwan sangat

27 | P a g e

khawatir ketika mereka menemukan bahwa bahan kimia kloro fluoro karbon (CFC) yang biasa digunakan sebagai media pendingin dan gas pendorong spray aerosol, memberikan ancaman terhadap lapisan ini. Bila dilepas ke atmosfer, zat yang mengandung klorin ini akan dipecah oleh sinar Matahari yang menyebabkan klorin dapat bereaksi dan menghancurkan molekul-molekul ozon. Setiap satu molekul CFC mampu menghancurkan hingga 100.000 molekul ozon. Oleh karena itu, penggunaan CFC dalam aerosol dilarang di Amerika Serikat dan negara-negara lain di dunia. Bahan-bahan kimia lain seperti bromin halocarbon, dan juga nitrogen oksida dari pupuk, juga dapat menyerang lapisan ozon. Menipisnya lapisan ozon dalam atmosfer bagian atas diperkirakan menjadi penyebab meningkatnya penyakit kanker kulit dan katarak pada manusia, merusak tanaman pangan tertentu, memengaruhi plankton yang akan berakibat pada rantai makanan di laut, dan meningkatnya karbondioksida akibatnya berkurang tanaman dan plankton. Sebaliknya, terlalu banyak ozon di bagian bawah atmosfer membantu terjadinya kabut campur asap, yang berkaitan dengan iritasi saluran pernapasan dan penyakit pernapasan akut bagi mereka yang menderita masalah kardiopulmoner. 2.15.1 Dampak O3 Ozon telah menjadi suatu issu aktual karena kaitannya dengan satu efek global pencemaran udara yaitu penipisan lapisan Ozon di atmosfer atas bumi kita. Ozon merupakan salah atu pencemar udara yang terus meningkat konsentrasinya.

Dampak ozon terhadap kesehatan manusia yaitu : Dengan konsentrasi 0,3 ppm selama 8 jam akan menyebabkan iritasi pada mata. 0,3 1 ppm selama 3 menit sampai dengan 2 jam akan memberikan reaksi seperti tercekik, batuk, kelesuan.

28 | P a g e

1,5 2 ppm selama 2 jam akan mengakibatkan sakit dada batuk-batuk, sakit kepala, kehilangan koordinasi serta sulit ekspresi dan gerak.

Ozon pada konsentrasi 0,3 ppm dapat berakibat iritasi terhadap hidung dan tenggorokan. Kontak dengan ozon pada konsentrasi 1,0 3,0 ppm selama 2 jam mengakibatkan pusing berat dan kehilanan koordinasi pada beberapa orang yang snsitif. Sedangkan kontak dengan konsentrasi 9,0 ppm selama beberapa waktu dapat mengakibatkan endema pulmonari pada kebanyakan orang. Kombinasi ozon dengan SO2 sangat berbahaya karena akan menyebabkan menurunnya fungsi ventilasi apabila terpajan dalam jumlah yang besar. Kerusakan fungsi ventilasi dapat kembali baik mendekati fungsi paru-paru normal pada orang yang terpajan dalam tingkat rendah. 2.16 Gas SO2 Gas belerang oksida atau sering ditulis dengan SOx, terdiri dari gas SO2dan gas SO3 yang keduanya mempunyai sifat berbeda. Gas SO2 berbau sangat tajam dan tidak mudah terbakar, sedangkan gas SO3 bersifat sangat reaktif. Gas SO3mudah bereaksi dengan uap air yang ada di udara untuk membentuk asam sulfas atau H2SO4. Asam sulfat ini sangat reaktif, mudah bereaksi (memakan) benda-benda lain yang mengakibatkan kerusakan, seperti proses pengkaratan (korosi) dan proses kimiawi lainnya. Konsentrasi gas SO2 di udara akan mulai terdeteksi oleh indera manusia (tercium baunya) manakala konsentrasinya berkisar antara 0,3 1 ppm.

Hanya sepertiga dari jumlah sulfur yang terdapat di atmosfer merupakan hasil dari aktivitas manusia, dan kebanyakan dalam bentuk SO2 . Sebanyak dua pertiga dari jumlah sulfur di atmosfer berasal dari sumber-sumber alam seperti volcano, dan terdapat dalam bentuk H2S dan oksida. Masalah yang ditimbulkan oleh polutan yang dibuat manusia adalah dalam hal distribusinya yang tidak merata sehingga terkonsentrasi pada daerah tertentu, bukan dari jumlah keseluruhannya, sedangkan polusi dari sumber alam biasanya lebih tersebar merata. Transportasi

29 | P a g e

bukan merupakan sumber utama polutan SOx tetapi pembakaran bahan bakar pada sumbernya merupakan sumber utama polutan SOx, misalnya pembakaran batu arang, minyak bakar, gas, kayu dan sebagainya. Pembakaran bahan-bahan yang mengandung sulfur akan menghasilkan kedua bentuk sulfur oksida, tetapi jumlah relatif masing-masing tidak dipengaruhi oleh jumlah oksigen yang tersedia. Meskipun udara tersedia dalam jumlah cukup, SO2 selalu terbentuk dalam jumlah terbesar. Jumlah SO2 yang terbentuk dipengaruhi oleh kondisi reaksi, terutama suhu dan bervariasi dari 1 sampai 10% dari total SOx. Mekanisme pembentukan SOx dapat dituliskan dalam dua tahap reaksi sebagai berikut : S + O2 SO2 2SO2 + O2 2SO3 SO3 biasanya diproduksi dalam jumlah kecil selama pembakaran. Hal ini disebabkan oleh dua faktor yang menyangkut reaksi terakhir tersebut di atas. Faktor pertama adalah kecepatan reaksi yang terjadi, dan faktor kedua adalah konsentrasi SO3 dalam campuran ekuilibrium yang dihasilkan dari reaksi tersebut. Reaksi pembentukan SO3 berlangsung sangat lambat pada suhu relatif rendah (misalnya pada 200oC), tetapi kecepatan reaksi meningkat dengan kenaikan suhu. Oleh karena itu produksi SO3 dirangsang pada suhu tinggi karena faktor kecepatan. Tetapi campuran ekuilibrium yang dihasilkan pada suhu rendah mengandung persentase SO3 lebih tinggi daripada campuran yang dihasilkan pada suhu tinggi. Jadi faktor konsentrasi ekuilibrium merangsang produksi SO3 pada suhu lebih rendah. Jelas bahwa kedua faktor tersebut mempunyai kecenderungan untuk menghambat satu sama lain selama pembakaran. Pada suhu tinggi reaksi mengakibatkan ekuilibrium tercapai dengan cepat karena kecepatan reaksi tinggi, tetapi hanya sedikit SO3terdapat di dalam campuran. Pada suhu rendah, reaksi berlangsung sangat lambat sehingga kondisi ekuilibrium (sesuai dengan konsentrasi SO3 tinggi) tidak pernah tercapai. Jadi produksi SO3 terhambat pada zona pembakaran suhu tinggi karena kondisi ekuilibrium. Jika produk dijauhkan dari zona tersebut dan didinginkan, kondisi ekuilibrium dapat tercapai, tetapi kecepatan reaksi akan menghambat pembenutkan SO3 dalam jumlah tinggi.

30 | P a g e

Adanya SO3 di udara dalam bentuk gas hanya mungkin jika konsentrasi uap air sangat rendah. Jika usap air terdapat dalam jumlah cukup seperti biasanya, SO3dan air akan segera bergabung membentuk droplet asam sulfat (H2SO4). Setelah berada di atmosfer, sebagian SO2 akan diubah menjadi SO3 (kemudian menjadi H2SO4) oleh proses-proses fotolitik dan katalitik. Jumlah SO2 yang teroksidasi menjadi SO3dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk jumlah air yang tersedia, intensitas, waktu dan distribusi spektrum sinar matahari Sulfur yang ada di udara hanya sepertiga yang merupakan hasil aktivitas manusia, dan kebanyakan dalam bentuk SO2, sedangkan duapertiga dari jumlah sulfur di udara berasal dari sumber-sumber alam seperi volkano dan terdapat dalam bentuk H2S dan oksida. Udara yang tercemar Sulfur Oksida (SOx) menyebabkan manusia akan mengalami gangguan pada sistem pernafasannya. Hal ini karena gas SOx yang mudah menjadi asam tersebut menyerang selaput lendir pada hidung, tenggorokan, dan saluran nafas yang lain sampai ke paru-paru. Serangan gas SOx tersebut menyebabkan iritasi pada bagian tubuh yang terkena. Pengaruh utama polutan SOx terhadap manusia adalah iritasi sistem pernafasan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iritasi tenggorokan terjadi pada konsentrasi SO2 sebesar 5 ppm atau lebih, bahkan pada beberapa individu yang sensitive iritasi terjadai pada konsentrasi 1-2 ppm. SO2 dianggap polutan yang berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap orang tua dan penderita yang mengalami penyakit kronis pada sistem pernafasan dan kardiovaskular. Sulfur dioksida (SO2) bersifat iritan kuat pada kulit dan lendir, pada konsentrasi 6-12 ppm mudah diserap oleh selaput lendir saluran pernafasan bagian atas, dan pada kadar rendah dapat menimbulkan spesme tergores otototot polos pada bronchioli, speme ini dapat menjadi hebat pada keadaan dingin dan pada konsentrasi yang lebih besar terjadi produksi lendir di saluran pernafasan bagian atas, dan apabila kadarnya bertambah besar maka akan terjadi reaksi peradangan yang hebat pada selaput lendir disertai dengan paralycis cilia, dan apabila pemaparan ini terjadi berulang kali, maka iritasi

31 | P a g e

yang berulang-ulang dapat menyebabkan terjadi hyper plasia dan meta plasia sel-sel epitel dan dicurigai dapat menjadi kanker. 2.17 Spektrofotometer Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube. Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan pengukuran menggunakan spektrofotometer ini, metoda yang digunakan sering disebut dengan spektrofotometri. Spektrofotometri dapat dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan visual dengan studi yang lebih mendalam dari absorbsi energi. Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang gelombangdan dialirkan oleh suatu perkam untuk menghasilkan spektrum tertentu yang khas untuk komponen yang berbeda. Pada umumnya terdapat dua tipe instrumen spektrofotometer, yaitu singlebeam dan double-beam. Single-beam instrument Single-beam instrument dapat digunakan untuk kuantitatif dengan mengukur absorbansi pada panjang gelombang tunggal. Single-beam instrument mempunyai beberapa keuntungan yaitu sederhana, harganya murah, dan mengurangi biaya yang ada merupakan keuntungan yang nyata. Beberapa instrumen menghasilkan singlebeam instrument untuk pengukuran sinar ultra violet dan sinar tampak. Panjang gelombang paling rendah adalah 190 sampai 210 nm dan paling tinggi adalah 800 sampai 1000 nm (Skoog, DA, 1996).

Double-beam instrument Double-beam dibuat untuk digunakan pada panjang gelombang 190 sampai 750 nm. Double-beaminstrument dimana mempunyai dua sinar yang dibentuk oleh potongan cermin yang berbentuk V yang disebut pemecah sinar. Sinar pertama

32 | P a g e

melewati larutan blangko dan sinar kedua secara serentak melewati sampel, mencocokkan fotodetektor yang keluar menjelaskan perbandingan yang ditetapkan secara elektronik dan ditunjukkan oleh alat pembaca (Skoog, DA, 1996). Hal-hal yang harus diperhatikan dalam analisis spektrofotometri UV-Vis Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisis dengan spektrofotometri UV-Vis terutama untuk senyawa yang semula tidak berwarna yang akan dianalisis dengan spektrofotometri visibel karena senyawa tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi senyawa yang berwarna. Berikut adalah tahapan-tahapan yang harus diperhatikan : Pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV-Vis Hal ini perlu dilakukan jika senyawa yang dianalisis tidak menyerap pada daerah tersebut. Cara yang digunakan adalah dengan merubah menjadi senyawa lain atau direaksikan dengan pereaksi tertentu. Pereaksi yang digunakan harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu : Reaksinya selektif dan sensitif. Reaksinya cepat, kuantitatif, dan reprodusibel. Hasil reaksi stabil dalam jangka waktu yang lama. Waktu operasional Cara ini biasa digunakan untuk pengukuran hasil reaksi atau pembentukan warna. Tujuannya adalah untuk mengetahui waktu pengukuran yang stabil. Waktu operasional ditentukan dengan mengukur hubungan antara waktu pengukuran dengan absorbansi larutan.

Pemilihan panjang gelombang Panjang gelombang yang digunakan untuk analisis kuantitatif adalah panjang gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal. Ada beberapa alasan mengapa harus menggunakan panjang gelombang maksimal, yaitu : Pada panjang gelombang maksimal, kepekaannya juga maksimal karena pada panjang gelombang maksimal tersebut, perubahan absorbansi untuk setiap satuan 33 | P a g e

konsentrasi adalah yang paling besar. Disekitar panjang gelombang maksimal, bentuk kurva absorbansi datar dan pada kondisi tersebut hukum lambert-beer akan terpenuhi. Jika dilakukan pengukuran ulang maka kesalahan yang disebabkan oleh pemasangan ulang panjang gelombang akan kecil sekali, ketika digunakan panjang gelombang maksimal (Rohman, Abdul, 2007). Keuntungan Spektrofotometer Keuntungan dari spektrofotometer adalah : Penggunaannya luas, dapat digunakan untuk senyawa anorganik, organik dan biokimia yang diabsorpsi di daerah ultra lembayung atau daerah tampak. Sensitivitasnya tinggi, batas deteksi untuk mengabsorpsi pada jarak 10-4 sampai 105

M. Jarak ini dapat diperpanjang menjadi 10-6 sampai 10-7 M dengan prosedur

modifikasi yang pasti. Selektivitasnya sedang sampai tinggi, jika panjang gelombang dapat ditemukan dimana analit mengabsorpsi sendiri, persiapan pemisahan menjadi tidak perlu. Ketelitiannya baik, kesalahan relatif pada konsentrasi yang ditemui dengan tipe spektrofotometer UV-Vis ada pada jarak dari 1% sampai 5%. Kesalahan tersebut dapat diperkecil hingga beberapa puluh persen dengan perlakuan yang khusus. Mudah, spektrofotometer mengukur dengan mudah dan kinerjanya cepat dengan instrumen modern, daerah pembacaannya otomatis (Skoog, DA, 1996).

Absorbsi sinar oleh larutan mengikuti hukum Lambert-Beer, yaitu :

34 | P a g e

A=

log ( Io / It )

= abc

Keterangan : Io = Intensitas sinar datang It = Intensitas sinar yang diteruskan a = Absorptivitas b = Panjang sel/kuvet c = konsentrasi (g/l) A = Absorban Spektrofotometri merupakan bagian dari fotometri dan dapat dibedakan dari filter fotometri sebagai berikut : 1. Daerah jangkauan spektrum Filter fotometr hanya dapat digunakan untuk mengukur serapan sinar tampak (400750 nm). Sedangkan spektrofotometer dapat mengukur serapan di daerah tampak, UV (200-380 nm) maupun IR (> 750 nm). 2. Sumber sinar Sesuai dengan daerah jangkauan spektrumnya maka spektrofotometer menggunakan sumber sinar yang berbeda pada masing-masing daerah (sinar tampak, UV, IR). Sedangkan sumber sinar filter fotometer hanya untuk daerah tampak. 3. Monokromator Filter fotometere menggunakan filter sebagai monokrmator. Tetapi pada spektro digunakan kisi atau prisma yang daya resolusinya lebih baik.

35 | P a g e

4. Detektor - Filter fotometer menggunakan detektor fotosel - Spektrofotometer menggunakan tabung penggandaan foton atau fototube. Komponen utama dari spektrofotometer yaitu : 1. Sumber cahaya Untuk radisi kontinue : Untuk daerah UV dan daerah tampak : Lampu wolfram (lampu pijar) menghasilkan spektrum kontiniu pada Lampu hidrogen atau deutrium (160-375 nm) Lampu gas xenon (250-600 nm)

gelombang 320-2500 nm.

Untuk daerah IR Ada tiga macam sumber sinar yang dapat digunakan : 20 nm Spektrum radiasi garis UV atau tampak : Lampu uap (lampu Natrium, Lampu Raksa) Lampu katoda cekung/lampu katoda berongga Lampu pembawa muatan dan elektroda (elektrodeless dhischarge lamp) Laser Lampu Nerst,dibuat dari campuran zirkonium oxida (38%) Itrium oxida Lampu globar dibuat dari silisium Carbida (SiC). Lampu Nkrom terdiri dari pita nikel krom dengan panjang gelombang 0,4 (38%) dan erbiumoxida (3%)

2. Pengatur Intensitas Berfungsi untuk mengatur intensitas sinar yang dihasilkan oleh sumber cahaya agar sinar yang masuk tetap konstan. 3. Monokromator Berfungsi untuk merubah sinar polikromatis menjadi sinar monokromatis sesuai yang dibutuhkan oleh pengukuran Macam-macam monokromator : - Prisma

36 | P a g e

- kaca untuk daerah sinar tampak - kuarsa untuk daerah UV - Rock salt (kristal garam) untuk daerah IR - Kisi difraksi Keuntungan menggunakan kisi : - Dispersi sinar merata - Dispersi lebih baik dengan ukuran pendispersi yang sama - Dapat digunakan dalam seluruh jangkauan spektrum 4. Kuvet Pada pengukuran di daerah sinar tampak digunakan kuvet kaca dan daerah UV digunakan kuvet kuarsa serta kristal garam untuk daerah IR.

5. Detektor Fungsinya untuk merubah sinar menjadi energi listrik yang sebanding dengan besaran yang dapat diukur. Syarat-syarat ideal sebuah detektor : Kepekan yang tinggi Perbandingan isyarat atau signal dengan bising tinggi Respon konstan pada berbagai panjang gelombang. Waktu respon cepat dan signal minimum tanpa radiasi. Signal listrik yang dihasilkan harus sebanding dengan tenaga radiasi.

Macam-macam detektor : - Detektor foto (Photo detector) Photocell Phototube Hantaran foto Dioda foto Detektor panas

6. Penguat (amplifier)

37 | P a g e

Berfungsi untuk memperbesar arus yang dihasilkan oleh detektor agar dapat dibaca oleh indikator. 7. Indikator Dapat berupa : Recorder Komputer

8. Adapun hubungan warna dengan panjang gelombang sinar tampak: 400-435 nm ungu (lembayung) hijau kekuningan 450-480 nm biru kuning 480-490 nm biru kehijauan orange 490-500 nm hijau kebiruan merah 500-560 nm hijau merah anggur 560-580 nm hijau kekuningan ungu (lembayung) 580-595 nm kuning biru 595-610 nm orange biru kekuningan 610-750 nm merah hijau kebiruan

38 | P a g e

BAB 3. PELAKSANAAN KEGIATAN 3.1 Profil Lembaga 3.1.1 Sejarah Berdirinya BBTKL dan PPM Surabaya 1. Zaman Belanda Pada sekitar awal tahun1990, Dients Voor de Volks Gezondheid mempunyai bagian yang disebut Technische Gezondheid. Pada bagian ini mempunyai tugas antara lain: Melakukan pembangunan penyediaan air minum dari beraneka sumber air. Mengadakan pengawasan kualitas produksi minuman. Kemudian pada tahun 1920, Dients Voor de Volks Gezondheid mendirikan suatu lembaga baru yang mempunyai nama Proefstation Voor Rivier Water Zuivering Voor Drink Water di Manggarai, Jakarta di bawah pimpinan Prof. Dr. Ir. C. P. Mom. Proefstation Voor Rivier Water Zuivering Voor Drink Water ini mempunyai tugas melaksanakan penyelidikan di lapangan, pengolahan-pengolahan, pencarian sumber-sumber air dan rancangan konstruksi dalam menunjang Technische Gezondheid. Oleh karena itu Prof. Dr. Ir. C. P. Mom diangkat menjadi guru besar di Technische Hoogescool di Bandung, maka Proefstation Voor Rivier Water Zuivering Voor Drink Water dipindah dari Manggarai, Jakarta ke Bandung (di dalam kampus). Nama Proefstation Voor Rivier Water Zuivering Voor Drink Water kemudian diganti dan berkembang menjadi Laboratorium Voor Technische Hygene & Drinkwater Voorziening van de Dienzider Volksgezon-dheid. 2. Zaman Jepang Pada tahun 1942 1945, yaitu pada pendudukan Jepang, laboratorium ini dipimpin oleh Ir. Yuan dan bernaung di bawah kementerian pengajaran Jepang. Setelah Indonesia Merdeka Setelah Indonesia merdeka, laboratorium ini diberi nama Laboratorium Kesehatan Teknik yang bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Teknik (STT), Bandung (sekarang ITB). Kemudian pada saat ibu kota Republik Indonesia dipindah ke

39 | P a g e

Yogyakarta, Laboratorium Kesehatan Teknik juga dipindah ke Yogyakarta, yaitu pada bulan Mei 1946. Pada tahun 1949, Laboratorium Kesehatan teknik diubah menjadi Lembaga Ilmu Kesehatan Teknik dan ditempatkan di bawah naungan Departemen Kesehatan (Sekretaris Jenderal). Dengan keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 143 / MenKes / SK / IV / 78, tahun 1978, Lembaga Ilmu Kesehatan Teknik di Yogyakarta tersebut diubah menjadi Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL). BTKL adalah unit pelaksana teknis dibidang pelayanan kesehatan di lingkungan Departemen Kesehatan, di bawah Dirjen Pelayanan Kesehatan. Pada tahun 1981, dalam rangka memenuhi peningkatan kebutuhan akan pelayanan pemeriksaan specimen kesehatan lingkungan, telah dibentuk dua BTKL lagi, yaitu di Jakarta dan Surabaya, tetapi masih dalam bentuk BTKL POS. Pada tahun 1983, dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 475 / MenKes / XI / 1983 tanggal 22 November 1983, kedua BTKL tersebut diusulkan kepada Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara. Namun demikian, karena satu dan lain hal proses pelembagaan tersebut ditunda. Pada tahun 1984, sesuai SK MENKES No. 558 / 1984 dilakukan pengalihan dari Dirjen Pelayanan Kesehatan ke Dirjen PPM & PLP. Pada tahun 1990, dibentuk dua BTKL lagi, yaitu di Medan dan Ujung Pandang. Kedua BTKL ini belum sempat diusulkan pelembagaannya, bahkan diitegrasikan dengan Balai Laboratorium Kesehatan. Namun demikian, dengan meningkatnya kebutuhan kedua BTKL ini direncanakan untuk dihidupkan kembali. Pada tahun1993, sesuai dengan SK MENKES No. 1023 / 1993, BTKL POS Jakarta dan Surabaya resmi menjadi BTKL Jakarta dan Surabaya. BBTKL dan PPM Surabaya merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) bidang teknik kesehatan lingkungan dan pemberantasan penyakit menular di lingkungan Kementerian Kesehatan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP & PL) yang mempunyai tugas melaksanakan surveilans epidemiologi, kajian dan penapisan teknologi, laboratorium rujukan, kendali mutu, kalibrasi, pendidikan dan pelatihan, pengembangan model dan teknologi tepat guna, kewaspadaan dini dan

40 | P a g e

penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB), di bidang pemberantasan penyakit menular dan kesehatan lingkungan serta kesehatan matra. 3.1.2 Visi dan Misi Visi : Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan Misi : meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat,termasuk swasta dan masyarakat madani (pro rakyat). melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna,merata,bermutu dan berkeadilan. menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan (responsif). menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik (efisien). 3.1.3 Tugas Pokok, Fungsi dan Wilayah Pelayanan Pelaksanaan Surveilance Epidemiologi Pelaksanaan Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL) Pelaksanaan Laboratorium Rujukan Pelaksanaan pengembangan teknologi tepat guna Pelaksanaan uji kendali mutu dan kalibrasi Pelaksanaan penilaian dan respon cepat, kewaspadaan dini dan penanggulangan KLB / wabah dan bencana Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan Pelaksanaan kajian dan pengembangan teknologi pengendalian penyakit. Pelaksanaan ketatausahaan dan kerumahtanggaan BBTKL & PPM Meningkatkan kemampuan respon cepat dan penanggulangan pencemaran lingkungan / KLB / wabah / bencana, kesehatan matra Mencegah dan menangkal penyakit Meningkatkan kemampuan laboratorium rujukan, uji kendali mutu dan kalibrasi Meningkatkan kemampuan Sumber Daya Manusia di bidang Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit.

41 | P a g e

Wilayah pelayanan BBTKL & PPM meliputi propinsi Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT Fasilitas dan Instalasi Laboratorium BBTKL dan PPM Surabaya mempunyai sarana dan prasarana yang lengkap dalam kegiatannya, yaitu : Luas bangunan (tiga lantai) = 2.495,29 m2 Luas tanah = 1.500,00 m2 ditambah dengan tahun 2008 2011 akan ada rencana pembangunan gedung baru 5 lantai secara bertahap 4.000 m2 Perpustakaan yang lengkap Kendaraan operasional Roda 2 = 7 buah Roda 4 = 7 buah Roda 6 = 1 buah Kendaraan khusus PTM dan kesehatan matra, ransus yang dilengkapai alat pemeriksaan = 1 unit Kendaraan pejabat negara = 1 unit Listrik = 236 kVa Telpon = 3 line 031 3540189, 3540191 dan fax 031 3528847 Website = www.btklsby.go.id, email: info@btklsby.go.id Peralatan yang dimiliki antara lain : Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS), fungsi : untuk memeriksa fungsi logam berat. Jumlah : 3 unit Gas Chromatograph dan GCD ( Gas Chromatograph Detector), fungsi : untuk memriksa pestisida organoklorin / organophospat / karbamat (kualitatif) GC MS (Gas Chromatograph Mass Spectrophotometer), fungsi : untuk memriksa pestisida organoklorin / organophospat / karbamat (sampai ke berat molekul) TOC (Total Organik Carbon), fungsi : untuk mengukur total organic karbon dalam sampel

42 | P a g e

Spectrophotometer, fungsi : untuk pemeriksaan parameter anorganik. Jumlah : 12 unit Bio Oxidation, fungsi : untuk pengolahan limbah cair dengan lumpur aktif Prototipe, fungsi : pengelolaan limbah cair, baik secara kimia maupun biologi Indoor Air Pollution Control Equipment, fungsi : alat pengukur kualitas udara ruangan, baik biologi maupun kimia Ambient Air Pollution Equipment (Stationary & Mobile), fungsi : untuk mengukur kualitas udara ambient, baik sesaat maupun kontinyu, yang bekerja secara otomatis dan komputerize Alat pengukur gas emisi dan getaran. Jumlah : 1 unit Instalasi merupakan fasilitas penunjang penyelenggaraan pelayanan laboratorium kesehatan serta penunjang administrasi yang dipimpin oleh seorang kepala dalam jabatan non struktural dimana dalam melaksanakan tugas dibantu oleh kelompok jabatan fungsional dan beberapa penanggung jawab ruangan dalam jabatan non struktural yang ditunjuk oleh kepala instalasi terkait. Jenis layanan disesuaikan dengan kebutuhan dan pengembangan pelayanan. Perubahan jumlah dan instalasi ditetapkan oleh kepala BBTKL & PPM setelah mendapat persetujuan tertulis dari Direktur Jenderal pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan. Instalasi yang dimiliki oleh BBTKL & PPM Surabaya : Instalasi Laboratorium Biologi Lingkungan Instalasi Laboratorium Biomaker Instalasi Laboratorium Entomologi Instalasi Laboratorium Kimia Fisika Padat Cair Instalasi Laboratorium Kimia Fisika Instalasi Laboratorium Media dan Reagensia Instalasi Laboratorium paukmk Instalasi Laboratorium Serologi Virologi Instalasi Laboratorium Udara Instalasi Teknologi Tepat Guna Instalasi Diklat

43 | P a g e

Instalasi Kejadian Luar Biasa dan Kesehatan Matra Instalasi Sarana dan Prasarana Instalasi Teknologi Informasi dan Perpustakaan Instalasi Pelayanan Teknik Instalasi Jejaring Kemitraan 3.1.5 Dasar Hukum dan Sertifikasi Kep. MenKes No. 1023 / MENKES / SK / 1993 tanggal 22 Nopember 1993 tentang perubahan BTKL Surabaya dan Jakarta menjadi BTKL Surabaya dan Jakarta Kep. MenKes No. 1095 / MENKES / SK / IX / 1999 tanggal 14 september 1999 tentang Organisasi dan Tata Kerja BTKL Kep. MenKes No. 267 / MENKES / SK / III /2004 tanggal 8 Maret 2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Bidang Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular Keputusan Gubernur Jawa Timur No. 188 / 21 / KPTS / 013 / 2005 tanggal 28 Januari 205 tentang Penunjukan Laboratorium BBTKL PPM sebagai Laboratorium Lingkungan di Jawa Timur Sertifikat Akreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) No. Akreditasi LP241-IDN tanggal 28 Januari 2005 (38 parameter)

44 | P a g e

3.1.6 Struktur Organisasi KEPALA BAGIAN TATA USAHA SUB BAGIAN PROGRAM DAN LAPORAN

SUB BAGIAN UMUM

BIDANG SURVEILANS EPIDEMIOLOGI

BIDANG ANALISA DAMPAK KESEHATAN LINGKUNGAN SEKSI LINGKUNGAN FISIK DAN KIMIA

BIDANG PENGEMBANGAN TEKNOLOGI DAN LABORATORIUM SEKSI TEKNOLOGI PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR

SEKSI ADVOKASI KEJADIAN LUAR BIASA

SEKSI PENGKAJIAN DAN DISEMINASI

SEKSI LINGKUNGAN BIOLOGI

SEKSI TEKNOLOGI LABORATORIUM

INSTALASI

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

3.1.7 Pelayanan Instalansi Laboratorium a. Pengambilan Contoh Uji Pengambilan dan pemeriksaan contoh uji limgkungan (air, tanah, udara, sludge, sayur, buah, ikan, pestisida, limbah B3, makanan, minuman) dan specimen Biomaker (darah, urine, rambut, kuku) untuk dianalisa secara fisika, kimia dan biologi di fasilitas kesehatan, lingkungan industry dan masyarakat umum, untuk memenuhi standarisasi pengelolaan lingkungan hidup dan kesehatan.

45 | P a g e

b. Pemeriksaan Contoh Uji Pemeriksaan Contoh Uji Fisik Kimia Air Memeriksa segala jenis air, baik air limbah maupun air bersih atau air minum, yang mencakup : Parameter fisika Parameter kimia : rasa, bau, warna, daya hantar listrik, zat padat tersuspensi, : pH, Fe, Mn, Ba, Cu, Zn, Cr, Cd, Hg, Pb, Sn, As, Se, Ni, temperature dan jumlah padatan terlarut Co,CN, H2S, FeSO4, Cl2, NH3, N, NO3, NO2, BOD, COD, DO, detergen, fenol, minyak, lemak, CaCO3, zat organic dan pestisida serta perameter permintaan lainnya. Pemeriksaan Contoh Uji Biologi Lingkungan Memeriksa segala jenis air, makanan, minuman, swab alat, swab dubur, bakteri udara, plankton, benthos, parasit dalam tanah dan flora fauna. Parameter yang diperiksa meliputi : kuman aerob dan anaerob, kuman panthogen E. Coli, Salmonella, Cholerae, jamur, khamir, identifikasi flora fauna. Pemeriksaan Contoh Uji Udara Memeriksa udara ambient, udara emisi, udara ruangan, dan pemantauan lingkungan dengan parameter : suhu, kelembaban, SO2, CO, NOx, O3,Pb, H2S, NH3, HC, debu, kebisingan, getaran, kecepatan angin, arah angin, tekanan, debu jatuhan dan bekteri ruang. Pemeriksaan Contoh Uji Padatan Memeriksa semua jenis padatan, baik tanah, sludge, leachite, tanaman, buah dan sayuran dengan parameter pH, Hg, As, Cd, Pb, Cu, Ni, Fe, Zn, Co, Cr, Al, Mg, Mn, Na, KTK, K, SiO3, N, C-Organik, P, S, PO4, NH3, pestisida, tekstur tanah, uji TCLP dan perameter-parameter permintaan. Pemeriksaan Contoh Uji Etimologi & Vektor Memeriksa semua jenis vector : lalat, pinjal (tikus), nyamuk dan kecoa untuk diidentifikasi vector, kepadatan, uji penyakit pes serta pembuatan meida dengan darah binatang percobaaan kembing, kelinci dan tikus putih

46 | P a g e

Pemeriksaan Uji Kalibrasi Alat Mengkalibrasi semua peralatan, bahan-bahan dan metode yang digunakan di BBTKL & PPM Surabaya untuk menjamin kualitas dari pemeriksaan yang dilakukan, serta dapat melayani uji kalibrasi umum untuk alat spectrophotometer, volumetric, timbangan analitik, pH meter, soudlevelmeter, HVS, flowmeter, thermometer dan TDS-DHL (conductivity) Contoh Kegiatan Kajian hubungan penyakit ISPA denagn udara ambient dan udara ruang (Kab. / Kota sewilayah kerja) Kajian hubungan penyakit diare dengan kualitas air bersih (Kab. / Kota sewilayah kerja) Kajian dalam pengendalian penyakit dan pencemaran : Kajian efektifitas kemampuan incinerator pengolah B3 Kajian efektifitas kemampuan filter AMUI Kajian ADKL untuk mencegah wabah pes Kajian pengaruh pencemaran udara terhadapa anak sekolah Kajian pengaruh pencemaran merkuri terhadap pengrajin emas Kajian hygiene sanitasi RS dalam upaya pencegah infeksi nosokomial Kajian bionomic vector DBD dan malaria Survei microfilaria di Kabupaten Kediri dan Lamongan Kajian eksistensi lingkungan perumahan penderita TBC Kajian kandungan Pb dalam darah petugas tol Penanganan bencana dan kewaspadaan dini : Banjir dan longsor di Jember, Trenggalek, Kediri, Malang Selatan, Blitar Penelusuran kasus polio di Madura, Bondowoso, Jember, Situbondo Kewaspadaan dini di Kaltim, Kalteng dan Kalbar pada penambang emas rakyat Monitoring kualitas lingkungan di PT. Newmont NTB Kegiatan teknologi tepat guna

47 | P a g e

Pembuatan incinerator Pembuatan filter air bersih Pembuatan prototif pengolahan limbah tahu, restoran / hotel, electroplating, penurunan Fe-Mn Pembuatan mesin penghancur sampah Pembuatan alat sterilisator menggunakan ultraviolet pada air minum isi ulang Uji efektifitas malathion Pembuatan biogas dari tinja Pengembangan GIS untuk pemetaan penyakit Uji petik kualitas air PDAM (Kab. / Kota sewilayah kerja) Monitoring kualitas air-lumpur Bengawan Solo dan Kali Surabaya Jejaring kemitraan dengan DinKes Kab. / Kota sewilayah kerja Pengembangan kerjasama program BB / BTKL & PPM se-Indonesia Media Informasi Dalam mempresentasikan dan mempromosikan kegiatan yang akan dan telah dilakukan, BBTKL & PPM Surabaya memeliki media informasi, yaitu : METRO (Media Teropong) BBTKL & PPM Surabaya terbit setiap bulan dengan nomor ISSN : 1858 3784 (Vol. 02) BHM (Buletin Human Media) Media Informasi Kegiatan Penelitian, Kajian, Evaluasi BBTKL & PPM Surabaya dan Mitra Kerja terbit setiap tiga bulan sekali dengan nomor ISSN : 1907 6215 (Vol. 01) 3.2 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Kuliah Kerja/Magang bertempat di Laboratorium Kimia Fisika Padat Cair di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL & PPM) Surabaya pada tanggal 11 Juli sampai 4 Agustus 2011.

48 | P a g e

3.3 Bidang/Jenis Kegiatan Bidang kegiatan kuliah kerja magang yang dilakukan meliputi bidang kimia terapan, seperti kimia lingkungan dan analisis pencemaran lingkungan. Teknik Kegiatan Teknik kegiatan dari kuliah kerja magang di Laboratorium Kimia Fisika Padat dan Cair di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL & PPM) Surabaya, antara lain: Penetapan Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan K, Na Bertukar Tujuan : untuk mengetahui kadar K, Na dalam tanah Metode : Kapasitas Tukar Kation (KTK) Prinsip : pembebasan sejumlah ion amonium yang digunakan pada pengekstrakan basa tukar Alat dan Bahan Alat : beaker glass pipet volume labu ukur neraca analitik corong kertas saring stirrer flame fotometer Bahan : sampel padat larutan standard Na larutan standard K amonium asetat Aquades Prosedur pembuatan larutan standart K dan Na 10 ppm

49 | P a g e

pipet 0,5 mL larutan K dan Na dimasukkan dalam labu ukur 50 mL, ditambahkan aquades sampai tanda batas perlakuan sampel timbang 10 gram sampel kering, masukkan dalam beaker glass 100 mL tambahkan 20 mL larutan ammonium asetat 1M pH 7, stirrer selama 2 jam diambil fase atasnya, disaring dengan kertas saring wahtman dicuci residu dengan larutan ammonium asetat 1M pH 7 10 mL x 8 (volume filtrate 100 mL) filtrate digunakan untuk analisis K dan Na dengan menggunakan flame fotometer. Uji Komposisi ( Cl- dan Kesadahan) Analisis korida (Cl-) Tujuan : untuk mengetahui kadar klorida (Cl-) dalam sampel Metode : digunakan metode argentometri cara mohr pada kisaran kadar 1,5 mg/L100 mg/L. Prinsip: Senyawa klorida dalam sampel dapat dititrasi dengan larutan perak nitrat dalam suasana netral atau sedikit basa (pH 7 sampai dengan 10), menggunakan larutan indikator kalium kromat. Perak klorida diendapkan secara kuantitatif sebelum terjadinya titik akhir titrasi, yang ditandai dengan mulai terbentuknya endapan perak kromat yang berwarna merah kecoklatan. Alat dan Bahan : Alat : Buret 50 ml atau alat titrasi lain dengan skala yg jelas Labu Erlenmeyer Labu ukur Gelas ukur Pipet volume Pipet ukur Gelas piala Bahan :air suling bebas klorida Larutan NaCl 0,0141 N Kertas saring wahtman

50 | P a g e

Larutan indikator kalium kromat 5 % Larutan baku perak nitrat 0,0141 N Suspensi ammonium hidroksida Indikator PP Larutan NaOH 1 N Larutan asam sulfat 1 N Hidrogen peroksida 30%

Prosedur Ambil sampel 5 gr, tambahkan 96,5 mL air bebas CO2 dan stirrer selama 5 menit, saring sampel sebanyak 25 mL dalam labu Erlenmeyer 100 mL dengan kertas saring wahtman - tambahkan 1 mL larutan indikator K2CrO4 5% (larutan menjadi kuning) - titrasi dengan larutan baku AgNO3 sampai titik akhir titrasi yang ditandai dengan terbentuknya endapan berwarna merah kecoklatan dari Ag2CrO4. Catat volume AgNO3 yang digunakan. - lakukan titrasi blanko, seperti langkah diatas terhadap 25 mL air suling bebas klorida (titrasi larutan blanko biasanya memerlukan 0,2 ml-0,3 ml larutan baku AgNO3). - ulangi titrasi tersebut tiga kali (dengan titik akhir yang konsisten), rata-ratakan volume AgNO3 yang diperoleh. Analisis Kesadahan Tujuan limbah Metode Prinsip : digunakan metode titrimetri EDTA dengan batas terendah 5 mg/L. : garam dinatrium etilen diamin asetat (EDTA) akan bereaksi : untuk menentukan kesadahan total yang terdapat dalam air dan air berwarna

dengan kation logam tertentu membentuk senyawa kompleks kelat yang larut. Pada pH 10 + 0,1, ion-ion kalsium dan magnesium dalam sampel akan bereaksi dengan

51 | P a g e

indikator Eriochrome Black T (EBT), dan membentuk larutan berwarna merah keunguan. Jika Na2EDTA ditambahkan sebagai titran, maka ion-ion kalsium dan magnesium akan membentuk senyawa kompleks, molekul indikator terlepas kembali, dan pada titik akhir titrasi larutan akan berubah warna dari merah keunguan menjadi biru. Dari cara ini akan didapat kesadahan total (Ca+Mg). Kalsium dapat ditentukan secara langsung dengan EDTA bila pH sampel dibuat cukup tinggi (12-13), sehingga magnesium akan mengendap sebagai magnesium hidroksida dan pada titik akhir titrasi indikator mureksid hanya akan bereaksi dengan kalsium saja membentuk larutan berwarna ungu. Dari cara ini akan didapat kadar kalsium dalam air (Ca). Dari kedua cara tersebut dapat dihitung kadar magnesium dengan cara mengurangkan hasil kesadahan total dengan kadar kalsium yang diperoleh, yang dihitung sebagai CaCO3. Alat dan Bahan : Alat : Erlenmeyer 25 mL Pipet tetes Spatula Buret digital Gelas ukur 25 mL Pipet volume Pipet ukur Neraca analitik Stirrer Pemanas listrik Kertas saring wahtman Bahan : Contoh uji Larutan penyangga pH 10 0,1 Indikator EBT Larutan Na2EDTA 0,01 M Prosedur : Kesadahan Total

52 | P a g e

Ambil sampel 5 gr, tambahkan 96,5 mL air bebas CO2 dan stirrer selama 5 menit, saring dengan kertas saring wahtman dan ambil 25 ml sampel, masukkan ke dalam labu Erlenmeyer 250 ml - tambahkan 1 ml sampai dengan 2 ml larutan penyangga pH 10 + 0,1. - tambahkan seujung spatula 30 mg-50 mg indikator EBT. - kocoklah sampai berwarna merah - lakukan titrasi dengan larutan baku Na2EDTA 0,01 M secara perlahan sampai terjadi perubahan warna merah keunguan menjadi biru. - catat volume larutan baku Na2EDTA yang digunakan. - apabila larutan baku Na2EDTA yang dibutuhkan untuk titrasi lebih dari 15 ml, encerkan sampel dengan air suling dan ulangi langkah diatas. - ulangi titrasi tersebut 2 kali, kemudian rata-ratakan volume Na2EDTA yang digunakan. - blanko dilakukan sama dengan cara diatas. Kadar Kalsium Ambil sampel kering 5 gr, tambahkan 96,5 mL air bebas CO2 dan stirrer selama 5 menit. saring dengan kertas saring wahtman dan ambil 25 ml sampel, masukkan ke dalam labu Erlenmeyer 250 ml. - tambahkan 2 mL larutan NaOH 1N. - tambahkan 1 mL sampai dengan 2 mL larutan KCN 10% . - tambahkan seujung spatula atau setara dengan 30 mg-50 mg indikator mureksid. - kocok hingga warnanya menjadi merah muda. - lakukan titrasi dengan larutan baku Na2EDTA 0,01 M secara perlahan sampai terjadi perubahan warna merah muda menjadi ungu. - catat volume larutan baku Na2EDTA yang digunakan. - apabila larutan baku Na2EDTA yang dibutuhkan untuk titrasi lebih dari 15 ml, encerkan sampel dengan air suling dan ulangi langkah diatas. - ulangi titrasi tersebut 2 kali, kemudian rata-ratakan volume Na2EDTA yang digunakan.

53 | P a g e

- blanko dilakukan sama dengan cara diatas. Skema Kerja Penetapan Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan K, Na Bertukar Pembuatan larutan standart K dan Na 10 ppm Larutan K 1000 ppm diambil 0,5 mL dan dimasukkan dalam labu ukur 50 mL ditambahkan aquades sampai tanda batas Larutan K 10 Larutan Na 1000 diambil 0,5 mL dan dimasukkan dalam labu ukur 50 mL ditambahkan aquades sampai tanda batas Larutan Na 10 ppm Perlakuan sampel Sampel diambil 10 gr ditambahkan 20 mL NH4COO 1M pH 7 distirer selama 2 jam disaring dengan kertas saring wahtman dicuci residu dengan mL NH4COO 1M pH 7 10 mL x 8 (volume filtrate 100 mL) filtrat untuk dianalisa K dan Na dengan flame fotometer hasil

54 | P a g e

Uji KomposisiDitambahkan 96,5 mL air bebas CO2 ( Cl- dan Kesadahan) Analisis korida (Cl-) Distirrer selama 5 menit dan di saring dengan 5 gr sampel kertas wathman Diambil 25 mL dan dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 100 mL Ditambahkan 1 mL larutan indicator K2CrO4 5% Dititrasi dengan larutan baku AgNO3 sampai titik akhir titrasi yang ditandai dengan berwarna merah kecoklatan dari Ag2CrO4 (pH antara 7 sampai 10) Dicatat volum AgNO3 yang di gunakan Dilakukan titrasi blanko, seperti langkah di atas terhadap 25 mL air suling bebas klorida hasil Diulangi titrasi tersebut tiga kali (dengan titik akhir yang konsisten), rata-ratakan volume AgNO3 yang diperoleh

55 | P a g e

Analisis Kesadahan Kesadahan Total 5 gr sampel ditambahkan 96,5 ml air bebas co2 distirrer selama 5 menit dan di saring dengan kertas Wathman diambil 25 ml dan dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer 250 ml ditambahkan 1 ml - 2 ml larutan penyangga ph 10 + 0,1 ditambahkan seujung spatula 30 mg-50 mg indikator EBT dikocok sampai warna merah dilakukan titrasi dengan larutan baku Na2EDTA 0,01 m secara perlahan sampai terjadi perubahan warna merah keunguan menjadi biru dicatat volume larutan baku Na2EDTA yang digunakan. diencerkan sampel dengan air suling dan ulangi langkah diatas, apabila larutan baku Na2EDTA yang dibutuhkan untuk titrasi lebih dari 15 ml diulangi titrasi tersebut 2 kali, kemudian dirataratakan volume Na2EDTA yang digunakan hasil dilakukan blanko sama dengan cara di atas

56 | P a g e

ditambahkan 96,5 ml air bebas co2 5 gr sampel distirrer selama 5 menit dan di saring dengan kertas Wathman diambil 25 ml dan dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer 250 ml naoh 1 n ditambahkan seujung spatula atau sekitar 30 mg-50 mg indikator Mureksid dikocok sampai warna merah muda dilakukan titrasi dengan larutan baku ditambahkan 2 ml larutan

Na2EDTA 0,01 m secara perlahan sampai terjadi perubahan warna merah muda menjadi ungu. dicatat volume larutan baku Na2EDTA yang digunakan. diencerkan sampel dengan air suling dan ulangi langkah diatas, apabila larutan baku Na2EDTA yang dibutuhkan untuk titrasi lebih dari 15 ml diulangi titrasi tersebut 2 kali, kemudian dirata-ratakan volume Na2EDTA yang digunakan Hasil blanko dilakukan sama dengan cara di atas

57 | P a g e

a. Analisis pH Tujuan Prinsip : untuk mengetahui pH suatu sampel : Adanya perubahan warna pada kertas indikator yang telah Metode: Kolorimetri ( kertas indikator ) dicelupkan dalam sampel. Alat dan Bahan : Alat : Erlenmeyer Bahan : Kertas Indikator, sampel Prosedur : - sampel dalam jirigen dikocok supaya homogen dengan hati-hati - sampel dimasukkan dalam Erlenmeyer sampai bagian - kertas indikator dimasukkan kedalam masing-masing sampel, dibiarkan beberapa saat. - pH ditentukan dengan warna standar yang terdapat pada kotak kerats indikator b. Analisis TSS ( Total Solid Suspended) Tujuan Prinsip : untuk mengetahui total padatan terendapkan dalam sampel air : padatan tersuspensi yang ada dalam sampel akan menyerap sinar Metode: Spektrofotometri yang dipancarkan pada panjang gelombang 810 nm. Jumlah serapan yang dihasilkan berbanding lurus dengan konsentrasi TSS berdasarkan kurva kalibrasi dengan menggunakan blanko aquadest. Alat dan Bahan : Alat : Spektrofotometer DR 2010 Kuvet 25 ml Erlenmeyer 125 ml Bahan : sampel air Aquadest

58 | P a g e

Prosedur

- sampel yang ada dalam jirigen dikocok terlebih dahulu supaya homogen - sampel yang telah homogen dituang kedalam erlenmeyer sampai bagian - masukkan sampel dalam kuvet sampai tanda batas ( blanko dengan menggunakan aquadest lalu menekan auto zero ) - ukur besar TSS dengan spektrofotometer DR 2010, program 630 dan panjang gelombang 810 nm. c. Analisis TDS ( Total Dissolve Solid ) Tujuan Prinsip : untuk mengetahui jumlah padatan terlarut : Tanpa perlakuan atau penambahan reagen tertentu Metode: TDSmetri Alat dan Bahan : Alat : TDS meter Erlenmeyer Kuvet Bahan : sampel aquadest Prosedur : - sampel yang ada dalam jirigen dikocok terlebih dahulu supaya homogen - diambil 100 ml - dituangkan dalam Erlenmeyer - menyalakan TDS meter dan memasukkan elektroda kedalam Erlenmeyer yang berisi sampel sampai lubang kedua sisi elektroda tercelup - mengaduk sampel dengan elektroda sampai tidak ada gelembung lagi dan nilainya stabil. - mencatat angka yang muncul dan setiap pergantian sampel bilas elektroda dengan aquadest.

59 | P a g e

d. Analisis Oksigen Terlarut, Dissolve Oxygen ( DO) Tujuan limbah. Metode: meliputi cara uji kadar oksigen terlarut dari contoh air dan air limbah, terutama untuk contoh yang mengandung lebih besar dari 50 g NO2-N dan kadar besi(II) lebih kecil dari 1 mg/ml dengan menggunakan metode iodometri (modifikasi azida) untuk kadar oksigen terlarut sama atau dibawah kejenuhannya. Prinsip : Oksigen terlarut bereaksi dengan ion mangan (II) dalam suasana basa menjadi hidroksida mangan dengan valensi yang lebih tinggi yaitu mangan (IV). Dengan adanya ion iodide (I-) dalam suasana asam, ion mangan (IV) akan kembali menjadi ion mangan (II) dengan membebaskan iodin (I2) yang setara dengan kandungan oksigen terlarut. Iodin yang terbentuk kemudian dititrasi dengan sodium thiosulfat dengan indikator amilum. Alat dan Bahan : Alat : Botol winkler Pipet volume Pipet ukur Erlenmeyer Gelas piala Labu ukur : untuk mengetahui kadar oksigen terlarut dari contoh air dan air

Bahan : Mangan sulfat Air suling NaOH atau KOH NaI atau KI Amilum/kanji Natrium Azida, NaN3 Asam Salisilat Asam Sulfat pekat, H2SO4

60 | P a g e

Sodium thiosulfat, Na2S2O3.5H2O Kalium bi-iodat, KH(IO3)2 Kalium dikromat, K2Cr2O7 Prosedur : - ambil sampel yang telah disiapkan - masukkan dalam botol winkler - tambahkan 2 ml MnSO4 dan 2 ml alkali iodide azida dengan ujung pipet tepat diatas permukaan larutan - tutup segera dan homogenkan hingga terbentuk gumpalan sempurna - biarkan gumpalan mengendap 5 menit sampai dengan 10 menit - tambahkan 2 ml H2SO4 pekat, tutup dan homogenkan hingga endapan larut sempurna - pipet 200 ml, masukkan ke dalam Erlenmeyer 250 ml - titrasi dengan Na2S2O3 0,025 N sampai berwarna kuning muda dan catat hasilnya - tambahkan 2-3 tetes indikator amilum sampai warna biru tepat hilang e. Analisis Kebutuhan Oksigen Kimia, Chemical Oxygen Demand (COD) Tujuan air limbah. Metode: reduksi Cr2O72- secara spektrofotometri pada kisaran nilai KOK 100 mg/L900mg/L pada panjang gelombang 600 nm dan nilai KOK lebih kecil 100 mg/L pengukuran dilakukan pada panjang gelombang 420 nm. Prinsip : KOK (Chemical Oxygen Demand, COD) adalah jumlah oksidan Cr2O72 yang bereaksi dengan sampel dan dinyatakan sebagai mgO2 untuk tiap 1000 ml sampel. Senyawa organik dan anorganik, terutama organik dalam sampel dioksidasi oleh Cr2O72- dalam refluks tertutup mengahasilkan Cr3+. Jumlah oksidan yang dibutuhkan dinyatakan dalam ekuivalen oksigen (O2 mg/L) diukur secara spektrofotometer sinar tampak. Cr2O72- kuat mengabsorbsi pada panjang gelombang 400 nm dan Cr3+ kuat mengabsorbsi pada panjang gelombang 600 nm. Untuk nilai KOK 100 mg/L-900 mg/L ditentukan kenaikan Cr3+ pada panjang gelombang 600 nm. Pada sampel dengan nilai KOK yang lebih tinggi, dilakukan pengenceran : untuk pengujian kebutuhan oksigen kimiawi (KOK) dalam air dan

61 | P a g e

terlebih dahulu sebelum pengujian. Untuk nilai KOK lebih kecil atau sama dengan 90 mg/L ditentukan pengurangan konsentrasi Cr2O72- pada panjang gelombang 420 nm. Alat dan Bahan : Alat : Spektrofotometer UV-Vis Kuvet Tabung pencerna Pemanas dengan lubang-lubang penyangga tabung Mikroburet Labu ukur Gelas piala Timbangan analitik Bahan : Sampel Larutan pencerna pada kisaran konsentrasi tinggi Larutan pereaksi asam sulfat Prosedur : - tabung COD yang telah disiapkan, masukkan asam sulfat 3,5 ml - ditambahkan larutan pencerna COD 1,5 ml - dikocok kuat-kuat - ditambahkan sampel - lalu dilakukan pemanasan dengan COD reactor selama 2 jam - didingankan - ukur dengan spektrofotometer

f. Analisis Kebutuhan Oksigen Bioimia, Biochemical Oxygen Demand (BOD)

62 | P a g e

Tujuan

: untuk memperoleh kadar BOD dalam air atau jumlah oksigen

terlarut yang dibutuhkan oleh mikroba aerobik untuk mengoksidasi bahan organik karbon dalam air dan air limbah. Metode: Titrasi winkler Prinsip : Menetapkan BOD dalam air berdasarkan selisih oksigen terlarut sebelum dan sesudah inkubasi selama 5x24 jam pada suhu 200 C Alat dan Bahan : Alat : -lemari inkubasi, suhu 200 C 10 C - botol DO - botol dari gelas 5 l 10 l - pipet volumetrik 1,0 ml dan 10.0 ml - labu ukur 100,0 ml ; 200,0 ml ; 1000 ml -DOmeter - timbangan Bahan : Sampel atau contoh uji Larutan pengencer Larutan NaOH 0,1 N Larutan asam sulfat 0,1 N Larutan natrium sulfat 0,025 N Prosedur A2 Masukkan larutan contoh uji kedalam masing-masing botol DO A1 dan A2 sampai meluap, kemudian tutup masing-masing botol secara hati=hati untuk menghindari terbentuknya gelembung udara Lakukan pengocokan beberapa kali, kemudian tambahkan air bebas mineral pada sekitar mulut botol DO yang telah ditutup Simpan botol A2 dalam lemari inkubator 200 C 10 C selama 5 hari Lakukan pengukuran oksigen terlarut terhadap larutan dalam botol A1 dengan alat DOmeter yang terkalibrasi : siapkan 2 buah botol DO, tandai masing-masing botol dengan notasi A1 dan

63 | P a g e

Ulangi pengerjaan diatas untuk botol A2 yang telah diinkubasi 5 hari 6 jam. Hasil pengukuran merupakan nilai oksigen terlarut 5 hari A2 Lakukan pengerjaan diatas untuk penetapan blanko dan kontrol standart menggunakan larutan pengencer tanpa contoh uji untuk blanko dan larutan glukosa asam glutamat untuk standart Hasil pengukuran yang diperoleh merupakan nilai oksigen terlarut nol hari ( B1 ) dan nilai oksigen telarut 5 hari ( B2 ) untuk blanko serta C1 dan C2 untuk kontrol standart Lakukan kembali pengerjaan diatas untuk beberapa larutan contoh uji yang lain g. Analisis Klorida (Cl-) Tujuan 100 mg/L. Prinsip : Senyawa klorida dalam sampel dapat dititrasi dengan larutan perak nitrat dalam suasana netral atau sedikit basa (pH 7 sampai dengan 10), menggunakan larutan indikator kalium kromat. Perak klorida diendapkan secara kuantitatif sebelum terjadinya titik akhir titrasi, yang ditandai dengan mulai terbentuknya endapan perak kromat yang berwarna merah kecoklatan. Alat dan Bahan : Alat : Buret 50 ml atau alat titrasi lain dengan skala yg jelas Labu Erlenmeyer Labu ukur Gelas ukur Pipet volume Pipet ukur Gelas piala Bahan : air suling bebas klorida Larutan NaCl 0,0141 N Kertas saring bebas klorida berukuran pori 0,45 m Larutan indikator kalium kromat 5 % : untuk mengetahui kadar klorida (Cl-) dalam air dan air limbah. Metode: digunakan metode argentometri cara mohr pada kisaran kadar 1,5 mg/L-

64 | P a g e

Larutan baku perak nitrat 0,0141 N Suspensi ammonium hidroksida Indikator PP Larutan NaOH 1 N Larutan asam sulfat 1 N Hidrogen peroksida 30% Prosedur larutan blanko. - tambahkan 1ml larutan indikator K2CrO4 5% (larutan menjadi berwarna kuning) - titrasi dengan larutan baku AgNO3 sampai titik akhir titrasi yang ditandai dengan terbentuknya dengan berwarna merah kecoklatan dari Ag2CrO4. Catat volume AgNO3 yang digunakan. - lakukan titrasi blanko, seperti langkah diatas terhadap 25ml air suling bebas klorida (titrasi larutan blanko biasanya memerlukan 0,2 ml-0,3 ml larutan baku AgNO3). - ulangi titrasi tersebut tiga kali (dengan titik akhir yang konsisten), rata-ratakan volume AgNO3 yang diperoleh. h. Analisis Nitrit (NO2-N) Tujuan : untuk menentukan nitrit, NO2-N dalam air dan air limbah Metode: secara spektrofotometri pada kisaran kadar 0,01 mg/L 1,00 mg/L NO2-N. metode ini digunakan untuk sampel air yang tidak berwarna. Prinsip : Nitrit dalam suasana asam pada pH 2,0 2,5 akan bereaksi dengan sulfanilamide (SA) dan N-(1-naphtyl) ethylene diamine dihydrochloride (NED dihydrochloride) membentuk senyawa azo yang berwarna merah keunguan. Warna yang terbentuk absorbansinya secara spektrofotometri pada panjang gelombang maksimum 543 nm. Alat dan Bahan : Alat : Spektrofotometer UV-Vis : - gunakan 25 ml sampel air, masukkan ke dalam labu erlenmeyer 100 ml. buat

65 | P a g e

Labu ukur Pipet volum Pipet ukur Gelas piala Erlenmeyer Neraca analitik Bahan : Air suling bebas nitrit Kertas saring bebas nitrit berukuran pori 0,45m Larutan sulfanilamide, H2NC6H4S02NH4 Larutan NED dihidroksiklorida Larutan standar nitrit 0,2 ppm Sampel Aquabidest Prosedur : - pipet 25 ml sampel, masukkan ke dalam gelas piala 100 ml - tambahkan 0,5 ml larutan sulfanilamide, kocok dan biarkan selama 2 menit 8 menit. - tambahkan 0,5 ml larutan NED dihidroksiklorida, kocok dan biarkan selama 10 menit dan segera lakukan pengukuran (pengukuran tidak boleh dilakukan lebih dari 2 jam) - baca absorbansinya pada panjang gelombang 543 nm - blanko (aquabidest) dan larutan standart dilakukan sama dengan cara diatas.

i. Analisis Sulfat (SO42-) Tujuan : untuk menentukan sulfat, SO22- dalam air dan air limbah

66 | P a g e

Metode: digunakan metode spektrofotometri pada kisaran 1 mg/L 40 mg/L pada panjang gelombang 420 nm Prinsip : ion sulfat bereaksi dengan barium klorida dalam suasana asam akan membentuk suspensi barium sulfat dengan membentuk kristal barium sulfat yang sama besarnya diukur dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 420 nm. Reaksinya adalah SO42- + BaCl2 Alat dan Bahan : Alat : Spektrofotometer Labu ukur Pipet ukur Erlenmeyer Timbangan analitik Pengaduk magnet Bahan : Sampel Larutan buffer BaCl2 Air suling bebas sulfat Prosedur : - gunakan 100 ml sampel, masukkan ke dalam Erlenmeyer 250 ml - tambahkan 20 ml larutan buffer dan homogenkan dengan cara di aduk menggunakan pengaduk magnet pada kecepatan tetap selama (60 + 2) detik, sambil di aduk tambahkan 0,2 g-0,3 g BaCl2. - lakukan pengukuran dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 420 nm setelah (5 + 0,5) menit penambahan BaCl2. - blanko dan larutan standart dilakukan sama dengan cara diatas. BaSO4 + 2 Cl-

Analisis Zat Organik ( KMnO4 ) Tujuan : untuk menentukan nilai permanganat dalam air dan air limbah.

67 | P a g e

Metode: digunakan metode oksidasi suasana asam dalam contoh air dan air limbah yang mempunyai kadar (Cl-) kurang dari 300 mg/L. Prinsip : Zat organik di dalam air dioksidasi dengan KMnO4 direduksi oleh asam oksalat berlebih. Kelebihan asam oksalat dititrasi dengan KMnO4. a. Reaksi oksidasi KMnO4 dalam kondisi asam sebagai berikut : 2 KMnO4 + 3 H2SO4 2 KMnO4 + H2O C2H2O + On Alat dan Bahan : Alat : Erlenmeyer Labu ukur Stop watch Pemanas listrik Gelas ukur Pipet ukur Gelas piala Buret Termometer Bahan : Sampel Asam Sulfat 8 N yang bebas zat organik Kalium Permanganat, KMnO4 0,01 N Asam Oksalat, 0,01 N 2 MnSO4 + K2SO4 + 5 On 2 MnO2 + KOH + 3 On + 3 H2O 2 CO2 + H2O b. Oksidasi KMnO4 dalam kondisi basa sebagai berikut : c. Zat Organik dapat dioksidasi dengan reaksi sebagai berikut :

Prosedur

68 | P a g e

- pipet 25 ml sampel, masukkan ke dalam Erlenmeyer 300 ml dan tambahkan 3 butir batu didih. - tambahkan KMnO4 0,01 N beberapa tetes dalam sampel hingga terjadi warna merah muda. - tambahkan 1,25 ml Asam Sulfat 8 N yang bebas zat organik. - panaskan di atas pemanas listrik pada suhu 1050C, bila terdapat bau H2S, pendidihan diteruskan beberapa menit. - pipet 2,5 ml larutan baku KMnO4 0,01 N. - panaskan hingga mendidih selama 10 menit. - pipet 2,5 ml larutan baku asam oksalat 0,01 N. - titrasi dengan KMnO4 0,01 N hingga warna merah muda. - catat volume pemakaian KMnO4. - apabila pemakaian larutan baku KMnO4 0,01 N lebih dari 7 ml, ulangi pengujian dengan cara mengencerkan sampel. k. Analisis Kekeruhan Tujuan Prinsip : untuk menentukan tingkat kekeruhan sampel : Membandingkan intensitas kekeruhan standar formasin dengan Metode: Turbidimetri sampel yang dibaca pada turbidimetri. Alat dan Bahan : Alat : Turbidimeter Kuvet 25 ml tertutup Bahan : Sampel Prosedur : - mengambil sampel yang sudah dikocok sebanyak bagian erlenmeyer 250 ml. - memasukkan sampel dalam Erlenmeyer - siapkan alat turbidimetri - memasukkan kuvet yang berisi sampel ke dalam alat turbidimetri - membaca hasil pada alat turbidimetri

69 | P a g e

l. Analisis Kesadahan Tujuan limbah Metode:digunakan metode titrimetri EDTA dengan batas terendah 5 mg/L. Prinsip :garam dinatrium etilen diamin asetat (EDTA) akan bereaksi dengan kation logam tertentu membentuk senyawa kompleks kelat yang larut. Pada pH 10 + 0,1, ion-ion kalsium dan magnesium dalam sampel akan bereaksi dengan indikator Eriochrome Black T (EBT), dan membentuk larutan berwarna merah keunguan. Jika Na2EDTA ditambahkan sebagai titran, maka ion-ion kalsium dan magnesium akan membentuk senyawa kompleks, molekul indikator terlepas kembali, dan pada titik akhir titrasi larutan akan berubah warna dari merah keunguan menjadi biru. Dari cara ini akan didapat kesadahan total (Ca+Mg). Kalsium dapat ditentukan secara langsung dengan EDTA bila pH sampel dibuat cukup tinggi, sehingga magnesium akan mengendap sebagai magnesium hidroksida dan pada titik akhir titrasi indikator Eriochrome Black T (EBT) hanya akan bereaksi dengan kalsium saja membentuk larutan berwarna biru. Dari cara ini akan didapat kadar kalsium dalam air (Ca). Dari kedua cara tersebut dapat dihitung kadar magnesium dengan cara mengurangkan hasil kesadahan total dengan kadar kalsium yang diperoleh, yang dihitung sebagai CaCO3. Alat dan Bahan : Alat : Erlenmeyer 25ml Pipet tetes Spatula Buret digital Gelas ukur 25ml Pipet volume Pipet ukur Neraca analitik Gelas arloji Bahan : Sampel Larutan buffer ammonia :untuk menentukan kesadahan total yang terdapat dalam air dan air

70 | P a g e

Indikator EBT Larutan baku Na2EDTA Prosedur : - ambil 25 ml sampel, masukkan ke dalam labu Erlenmeyer 250 ml, encerkan dengan air suling sampai volume 50 ml. - tambahkan 1 ml sampai dengan 2 ml larutan penyangga pH 10 + 0,1. - tambahkan seujung spatula 30 mg-50 mg indikator EBT. - kocoklah sampai berwarna merah - lakukan titrasi dengan larutan baku Na2EDTA 0,01 M secara perlahan sampai terjadi perubahan warna merah keunguan sampai biru. - catat volume larutan baku Na2EDTA yang digunakan. - apabila larutan baku Na2EDTA yang dibutuhkan untuk titrasi lebih dari 15 ml, encerkan sampel dengan air suling dan ulangi langkah diatas. - ulangi titrasi tersebut 2 kali, kemudian rata-ratakan volume Na2EDTA yang digunakan. - blanko dilakukan sama dengan cara diatas.

3.5 Skema kerja

71 | P a g e

Analisis pH Skema Kerja : Sampel dalam jirigen dikocok dimasukkan dalam Erlenmeyer sampai bagian dimasukkan kertas indikator kedalam masingmasing sampel dibiarkan beberapa saat dibandingkan dengan warna standar yang terdapat pada kotak kertas indikator ditentukan pHnya hasil

Analisis TSS ( Total Solid Suspended) Skema Kerja :

72 | P a g e

Sampel dalam jirigen dikocok supaya homogen dituang kedalam erlenmeyer sampai bagian dimasukkan dalam kuvet sampai tanda batas ( blanko dengan menggunakan aquadest lalu menekan auto zero ) -diukur besar TSS dengan spektrofotometer DR 2010, program 630 dan panjang gelombang 810 nm. Hasil c. Analisis TDS ( Total Dissolve Solid ) Skema Kerja : Sampel dalam jirigen dikocok supaya homogen diambil 100 ml dituangkan dalam Erlenmeyer dinyalakan TDS meter dan dimasukkan elektroda kedalam Erlenmeyer yang berisi sampel sampai lubang kedua sisi elektroda tercelup diaduk sampel dengan elektroda sampai tidak ada gelembung lagi dan nilainya stabil. dicatat angka yang muncul dan setiap pergantian sampel bilas elektroda dengan aquadest hasil .

73 | P a g e

Analisis Oksigen Terlarut, Dissolve Oxygen ( DO) Skema Kerja : Sampel Hasil dimasukkan dalam botol winkler ditambahkan 2 ml MnSO4 dan 2 ml alkali iodide azida dengan ujung pipet tepat diatas permukaan larutan ditutup segera dan dihomogenkan hingga terbentuk gumpalan sempurna dibiarkan gumpalan mengendap 5 menit sampai dengan 10 menit ditambahkan 2 ml H2SO4 pekat, ditutup dan dihomogenkan hingga endapan larut sempurna dipipet 200 ml dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250 ml dititrasi dengan Na2S2O3 0,025 N sampai berwarna kuning muda dan dicatat hasilnya ditambahkan 2-3 tetes indikator amilum sampai warna biru tepat hilang

e. Analisis Kebutuhan Oksigen Kimia, Chemical Oxygen Demand (COD) Skema Kerja : Asam sulfat 3,5 ml dimasukkan ke dalam tabung COD ditambahkan larutan pencerna COD 1,5 ml dikocok kuat-kuat ditambahkan sampel dilakukan pemanasan dengan COD reactor selama 2 jam didinginkan diukur dengan spektrofotometer Hasil 74 | P a g e

f. Analisis Kebutuhan Oksigen Biokimia, Biochemical Oxygen Demand (BOD) Skema Kerja : 2 buah botol DO

ditandai dengan notasi A1 dan A2 dimasukkan contoh uji samapai meluap ditutup dan dikocok beberapa kali ditambahkan air bebas mineral pada sekitar mulut botol DO yang telah ditutup disimpan botol A2 dalam lemari inkubator 20 C 1 C selama 5 hari diukur botol A1 dengan DOmeter dan dicatat hasilnya sebagai nilai DO5 dilakukan perlakuan yang sama untuk blanko dan standart dengan menggunakan larutan pengencer tanpa contoh uji untuk blanko dan lart.glukosa asam glutamat untuk kontrol standart dicatat hasilnya sebagai B1 dan B2 untuk blanko serta C1 dan C2 untuk lart.standart - dilakukan kembali terhadap contoh uji yang lain

Hasil

75 | P a g e

g. Analisis Klorida (Cl-) Skema Kerja : 25 ml sampel - dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 100 ml - ditambahkan 1ml larutan indikator K2CrO4 5% - dititrasi dengan larutan baku AgNO3 sampai titik akhir titrasi yang ditandai dengan terbentuknya dengan berwarna merah kecoklatan dari Ag2CrO4 - dicatat volume AgNO3 yang digunakan -dilakukan titrasi blanko, seperti langkah diatas terhadap 25 ml air suling bebas klorida - ulangi titrasi tersebut tiga kali (dengan titik akhir yang konsisten), rata-ratakan volume AgNO3 yang diperoleh.

Hasil

76 | P a g e

h. Analisis Nitrit (NO2-N) Skema Kerja : Sampel

- dipipet 25 ml - dimasukkan dalam gelas piala 100 ml - ditambahkan 0,5 ml larutan sulfanilamide - dikocok dan dibiarkan selama 2 menit 8 menit - ditambahkan 0,5 ml larutan NED dihidroksiklorida - dikocok dan dibiarkan selama 10 menit dan segera lakukan pengukuran. - dibaca absorbansinya pada panjang gelombang 543 nm - blanko (aquabidest) dan larutan standart dilakukan sama dengan cara diatas. Hasil

i. Analisis Sulfat (SO42-) Skema Kerja : Sampel - digunakan 100 ml sampel - dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250 ml -ditambahkan 20 ml larutan buffer dan homogenkan dengan cara di aduk menggunakan pengaduk magnet pada kecepatan tetap selama (60 + 2) detik. - ditambahkan 0,2 g-0,3 g BaCl2 -dilakukan pengukuran dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 420 nm setelah (5 + 0,5) menit penambahan BaCl2

77 | P a g e

- blanko dan larutan standart dilakukan sama dengan cara diatas. Hasil Analisis Zat Organik ( KMnO4 ) Skema Kerja : Sampel 25 ml - dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 300 ml - ditambahkan 3 butir batu didih. - ditambahkan KMnO4 0,01 N beberapa tetes dalam sampel hingga terjadi warna merah muda. - ditambahkan 1,25 ml Asam Sulfat 8 N yang bebas zat organik. - dipanaskan di atas pemanas listrik pada suhu 1050C, bila terdapat bau H2S, pendidihan diteruskan beberapa menit. - dipipet 2,5 ml larutan baku KMnO4 0,01 N. - dipanaskan hingga mendidih selama 10 menit. - dipipet 2,5 ml larutan baku asam oksalat 0,01 N. - dititrasi dengan KMnO4 0,01 N hingga warna merah muda. KMnO4. - apabila pemakaian larutan baku KMnO4 0,01 N lebih dari 7 ml, ulangi pengujian dengan cara mengencerkan sampel. Hasil k. Analisis Kekeruhan Skema Kerja : Sampel - dikocok dengan kuat - diambil dan dimasukkan dalam Erlenmeyer 250 ml sebanyak bagian dicatat volume pemakaian

78 | P a g e

- diambil dan dimasukkan kuvet tertutup - dibaca pada turbidimeter 2100 AN Hasil

l. Analisis Kesadahan Skema Kerja : Sampel - diambil 25 ml sampel - dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer 250 ml - diencerkan dengan air suling sampai volume 50 ml - ditambahkan 1 ml - 2 ml larutan penyangga pH 10 + 0,1 -ditambahkan seujung spatula 30 mg-50 mg indikator EBT - dikocok sampai warna merah - dilakukan titrasi dengan larutan baku Na2EDTA 0,01 M secara perlahan sampai terjadi perubahan warna merah keunguan sampai biru - dicatat volume larutan baku Na2EDTA yang digunakan. -diencerkan sampel dengan air suling dan ulangi langkah diatas, apabila larutan baku Na2EDTA yang dibutuhkan untuk titrasi lebih dari 15 ml -diulangi titrasi tersebut 2 kali, kemudian dirata-ratakan volume Na2EDTA yang digunakan - blanko dilakukan sama dengan cara diatas. Hasil

79 | P a g e

Sampel di udara ambien SO2


Pararosanili n

NO2
Griess Saltzman

O3
NBKI

H2S
W. Leithe 1971

NH3
Indofenol

80 | P a g e

BAB 4.Hasil dan Kesimpulan 4.1 Hasil Analisa Penetapan Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan K, Na Bertukar No. Sampel 11.5197 11.5199 Na K Absorbansi Konsentrasi Absorbansi Konsentrasi 1,83 4,62 0,42 0,81 4,37 11,25 2,15 4,72

Uji Komposisi ( Cl- dan Kesadahan) Analisis Korida (Cl-) No. Sampel 11.5197 11.5199 Analisis Kesadahan Uji Kesadahan Total No. Sampel 11.5197 11.5197 11.5199 11.5199 Uji Calcium No. Sampel 11.5197 11.5197 11.5199 11.5199 Uji magnesium No. sampel 11.5197 11.5199 Kadar Magnesium 129,6108 128,9376 Volum Titrasi 2,82 2,64 2,63 2,39 Rata-Rata Volume Titrasi 2,73 2,51 Kadar Kalsium 43,2432 39,7584 Volum Titrasi 4,28 4,45 4,5 4,02 Rata-Rata Volume Titrasi 4,365 4,26 Kesadahan Total 172,854 168,696 Volum Titrasi (mL) Konsentrasi 1,75 30,7706 1,13 18,46236

81 | P a g e

4.2 Pembahasan Penetapan Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan K, Na Bertukar Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan K, Na bertukar ini bertujuan untuk mengetahui kadar K, Na dalam tanah. KTK ini merupakan salah satu sifat kimia tanah yang terkait erat dengan ketersediaan hara bagi tanaman dan menjadi indikator kesuburan tanah. Prinsip dari KTK adalah pembebasan sejumlah ion ammonium yang digunakan pada pegekstrak basa tukar. Perlakuan pertama, yaitu pembuatan larutan standart 10 ppm K dan Na dari 1000 ppm larutan induk dengan cara pengenceran. Kemudian dilanjutkan dengan perlakuan sampel. Sampel kering ditambahkan dengan ammonium asetat ph 7 yang berfungsi sebagai basa tukar. Kemudian distirrer selama 2 jam dan diendapkan. Pada proses ini diharapkan K dan Na dapat bertukar dengan ammonium asetat sehingga terbentuk kalium asetat dan natrium asetat. Selanjutnya disaring dan residu yang ada dicuci dengan ammonium asetat pH 7. Filtrat yang diperoleh selanjutnya dianalisa dengan flame fotometer untuk menentukan kadar logam. Dari hasil analisa yang dilakukan, diperoleh hasil untuk kadar Na sebesar 4,62 ppm dan 11,25 ppm untuk sampel 11.5197 dan 11.5199. Sedangkan untuk kadar K sebesar 0,81 ppm dan 4,72 ppm untuk sampel 11.5197 dan 11.5199. Uji komposisi Analisa ClAnalisa klorida dilakukan terhadap limbah padat karena dapat mempengaruhi komposisi tanah, dimana tanah ini akan dilewati oleh air tanah dan apabila tercemar, maka secara tidak langsung akan mencemari kualitas air. Analisa klorida dilakukan dengan metode argentometri mohr yang berdasarkan pada reaksi pengendapan, dimana zat yang hendak ditentukan kadarnya, seperti garam-garam halogenida (Cl, Br, I), sianida (CN), tiosianida (SCN), dan fosfat diendapkan oleh larutan baku AgNO3. Analisa klorida yang dilakukan terhadap sampel padat tidak jauh berbeda dengan analisa klorida yang dilakukan pada sampel air. Perbedaannya hanya terletak pada perlakuan awal sampel. Pada sampel padat, sampel dilarutkan

82 | P a g e

terlebih dahulu dan dihomogenkan dengan stirrer, kemudian disaring dan diambil filtratnya. Perlakuan selanjutnya sama dengan perlakuan analisis klorida terhadap sampel air. Filtrat yang diperoleh dari penyaringan ditambahkan dengan indikator K2CrO4 dan segera dititrasi dengan larutan baku AgNO3. Pada saat titrasi diusahakan larutan dalam kondisi pH 7-10. Hal ini dikarenakan ion kromat merupakan basa konjugasi dari asam kromat. Jika pH di bawah 7, maka ion kromat akan terprotonasi sehingga akan cendenrung membentuk asam kromat di dalam larutan, akibatnya konsentrasi ion kromat akan kecil dan menyebabkan endapan Ag2CrO4 sulit terbentuk sehingga titik akhir titrasi sulit tercapai. Salama proses titrasi berlangsung, garam Cl akan berekasi dengan larutan baku AgNO3 dan membentuk endapan AgCl yang berwarna putih. Reaksinya sebagai berikut: Ag+(aq) + Cl-(aq) AgCl(s) (endapan putih) Kemudian setelah semua ion klorida mengendap menjadi AgCl, maka kelebihan ion Ag+ akan bereaksi dengan indikator K2CrO4 membentuk endapan Ag2CrO4 yang brwarna merah kecoklatan. Pada saat inilah titik akhir titrasi tercapai. Reaksi yang terjadi Ag+(aq) + CrO42-(aq) Ag2CrO4(s) (merah kecoklatan) Dari hasil analisa diperoleh kadar klorida sebesar 30,7706 mg/L dan 18,4623 mg/L untuk sampel 11.5197 dan 11.5199. Berdasarkan KEP.MEN.KES RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum bahwa kadar maksimum yang diperbolehkan adalah 250 mg/L. Dari hasil analisa klorida di atas, untuk sampel 11.5197 dan 11.5199 telah memenuhi standart yang telah ditetapkan. Analisa kesadahan

Seperti analisa klorida, analisa kesadahan juga dilakukan terhadap limbah padat karena dapat mempengaruhi komposisi tanah. Tanah ini akan dilewati oleh air tanah dan apabila tercemar, maka secara tidak langsung akan mencemari kualitas air. Analisa kesadahan yang dilakukan terhadap sampel padat tidak jauh berbeda dengan analisa kesadahan yang dilakukan pada sampel air. Perbedaannya hanya

83 | P a g e

terletak pada perlakuan awal sampel. Pada sampel padat, sampel dilarutkan terlebih dahulu dan dihomogenkan dengan stirrer, kemudian disaring dan diambil filtratnya. Perlakuan selanjutnya sama dengan perlakuan terhadap sampel air. Analisa kesadahan dilakukan untuk menguji adanya mineral-mineral tertentu, seperti ion calsium (Ca) dan Magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. Dalam analisa ini dilakukan dua uji, yaitu kesadahan total dan uji kadar kalsium. Dengan cara mengurangkan hasil kesadahan total dengan kadar kalsium, diperoleh kadar magnesium. Perlakuan pertama, yaitu analisa kesadahan total. Filtrat dari sampel yang sudah disaring, ditambahkan larutan penyangga pH 10+ 0,1 dan indicator Eriochrome Black T (EBT) dimana pada pH 10+ 0,1, ion- ion kalcium (Ca2+) dan magnesium (Mg2+) akan bereaksi dengan indikator EBT dan membentuk warna merah keunguan. Ca2+ + Hind2- CaInd2- + 2H+ Mg2+ + Hind2- MgInd2- + 2H+ Kemudian dititrasi dengan larutan baku Na2EDTA sehingga ion-ion kalsium dan magnesium akan membentuk senyawa kompleks, molekul indikator terlepas kembali dan titik akhir titrasi tercapai yang ditandai dengan terjadinya perubahan warna dari merah keunguan menjadi biru. Reaksi terbentuknya kompleks logamEDTA adalah CaInd2- + 2H+ + EDTA CaEDTA + Hind2MgInd2- + 2H+ + EDTA MgEDTA + Hind2Selanjutnya dicatat volume larutan baku Na2EDTA yang digunakan dan akan diperoleh kesadahan total (Ca + Mg). Dari hasil analisa diperoleh kesadahan total sebesar 172,854 mg/L dan 168,696 mg/L untuk sampel 11.5197 dan 11.5199. Perlakuan kedua, yaitu analisa kadar kalsium. Filtrat dari sampel yang sudah disaring, ditambahkan dengan larutan NaOH 1 N yang berfungsi sebagai larutan buffer. Kondisi pH yang digunakan sekitar 12 dengan tujuan magnesium bisa mengendap sebagai magnesium hidroksida pada pH yang tinggi. Selanjutnya ditambahkan indikator mureksid karena indikator mureksid hanya bereaksi dengan pH yang bersifat alkalinitas atau pH tinggi. Indikator mureksid akan bereaksi 84 | P a g e

dengan kalsium membentuk warna merah muda. Kemudian dititrasi dengan larutan baku Na2EDTA dan akan membentuk kompleks dengan kalsium membentuk warna ungu pada titik akhir titrasinya. Selanjutnya volum larutan baku Na2EDTA yang digunakan dalam titrasi dihitung dan akan diperoleh kadar kalsium. Dari hasil analisa diperoleh kadar kalsium sebesar 43,2432 mg/L dan 39,7584 mg/L untuk sampel 11.5197 dan 11.5199. Setelah diketahui kesadahan total dan kadar kalsium, maka kadar magnesium dapat dihitung dengan mengurangkan hasil kesadahan total dengan kadar kalsium yang diperoleh. Dari hasil analisa diperoleh kadar magnesium sebesar 129,6108 mg/L dan 128,9376 mg/L untuk sampel 11.5197 dan 11.5199. Berdasarkan KEP.MEN.KES RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum bahwa kadar maksimum yang diperbolehkan untuk analisis kesadahan adalah 500 mg/L. Dari hasil analisa kesadahan di atas, untuk sampel 11.5197 dan 11.5199 telah memenuhi standart yang telah ditetapkan.

85 | P a g e

PEMBAHASAN LABORATORIUM AIR

86 | P a g e

4.1. Hasil pengamatan 4.1.1 Analisis pH Tabel 1 Hasil Pengamatan : No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kode Lab 4872 4873 4874 4875 4884 4885 5017 5018 5019 5020 Hasil Pengamatan 7 7 7 7 8 8 7,5 7,5 7,5 7,5 Keterangan Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi

4.1.2 Analisis TSS ( Total Solid Suspended) Tabel 2 Hasil Pengamatan : No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Perusahaan PT. SALIM OUT PT.SALIM PT.ARUKI PT.JATUHAN KONDENSOR PT.ASTRA (IN) PT.ASTRA(OUT) PT. PETRO OXO ALI di TK 819-OUT Hasil (mg/L) 8 5 175 8 9 6 20 Pengamatan Keterangan Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi

(OUT) IPAL 26 ALI Stasiun URF Porong 1 ALI Effluent cogen PT. TJIWI KIMIA Bak air bersih 1 6

4.1.3 Analisis TDS ( Total Dissolve Solid )

87 | P a g e

Tabel 3 Hasil Pengamatan : No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Hasil (mg/L) 1860 1870 1080 435 8350 5450 2340 Pengamatan

Kode Lab PT. SALIM OUT PT.SALIM PT.ARUKI PT.JATUHAN KONDENSOR PT.ASTRA (IN) PT.ASTRA(OUT) PT. PETRO OXO ALI di TK 819-OUT

Keterangan Tidak memenuhi Tidak memenuhi Tidak memenuhi Memenuhi Tidak memenuhi Tidak memenuhi Tidak memenuhi Tidak memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi

(OUT) IPAL 4560 ALI Stasiun URF Porong 915 ALI Effluent cogen PT. TJIWI KIMIA Bak air bersih 633 348

4.1.4 Analisis Oksigen Terlarut, Dissolve Oxygen ( DO) Tabel 4 Hasil Pengamatan :

88 | P a g e

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Kode Lab 10.3168 10.3169 10.3170 10.3204 10.3206 5659 10.3281 10.3284 10.3286 10.3363

V.

Titrasi Hasil (mg/L) 7,43 3,98 3,16 6,75 7,58 8,10 2,63 2,90 6,86 2,59

Perhitungan Keterangan -

Na2S2O3 (ml) 7,39 3,96 3,14 6,71 7,53 8,05 2,62 2,89 6,82 2,58

4.1.5 Analisis Kebutuhan Oksigen Kimia, Chemical Oxygen Demand (COD) Tabel 5 Hasil Pengamatan : No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Perusahaan PT. SALIM OUT PT.SALIM PT.ARUKI PT.JATUHAN KONDENSOR PT.ASTRA (IN) PT.ASTRA(OUT) PT. PETRO OXO ALI di TK 819-OUT (OUT) IPAL ALI Stasiun URF Hasil Pengamatan 12,5 1206 1206 10,2 10,9 833 13,4 22,4 Keterangan

Porong 11,8 ALI Effluent cogen PT. TJIWI KIMIA Bak air bersih 9,2 10,2

4.1.6 Analisis Kebutuhan Oksigen Kimia, Biochemical Oxygen Demand (BOD) Tabel 6 Hasil Pengamatan :

89 | P a g e

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Perusahaan PT. SALIM OUT PT.SALIM PT.ARUKI PT.JATUHAN KONDENSOR PT.ASTRA (IN) PT.ASTRA(OUT) PT. PETRO OXO ALI di TK 819-OUT

Hasil Pengamatan 26,377 25,925 2935.2 (3X978.4) 22,374 22,821 3159,5 29,655

Keterangan

(OUT) IPAL 57,269 ALI Stasiun URF Porong 24,078 ALI Effluent cogen PT. TJIWI KIMIA Bak air bersih 20,528 23,652

4.1.7 Analisis Klorida (Cl-) Tabel 7 Hasil Pengamatan : No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kode Lab 11,4105 11,4109 11,4113 11,4139 11,413 11,428 11,4146 11,4147 11,4148 V. Titrasi Hasil (mg/L) 119.112\ 123,08 51,62 230,28 150,88 81.39\ 35,73 31,763 35,73 Perhitungan Keterangan Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Na2S2O3 (ml) 6 6,2 2,6 5.8 (x2) 7,6 4,1 1,8 1,6 1,8

90 | P a g e

4.1.8 Analisis Nitrit (NO2-N) Tabel 8 Hasil Pengamatan : No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kode Lab 11,4105 11,4109 11,4113 11,4139 11,413 11,428 11,4146 11,4147 11,4148 Hasil Pengamatan (mg/L) 0,7905 0,5923 0,0097 0,3446 0,0108 0,6981 0,0154 0,0292 0,032 Keterangan Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi

4.1.9 Analisis Sulfat (SO42-) Tabel 9 Hasil Pengamatan : No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kode Lab 11,4105 11,4109 11,4113 11,4139 11,413 11,428 11,4146 11,4147 11,4148 Hasil Pengamatan (mg/L) 8,8472 27,029 44,456 21,827 54,985 37,353 35,766 35,907 40,339 Keterangan Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi

4.1.10 Analisis Zat Organik ( KMnO4 ) Tabel 10 Hasil Pengamatan :

91 | P a g e

No

Kode Lab

V.

Titrasi Hasil Perhitungan (mg/L) 14,27 2,2 0,99 3,41 2,2 4,61 0,99 0,39 0,39

Keterangan

KMnO4 (ml) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 11,4105 11,4109 11,4113 11,4139 11,413 11,428 11,4146 11,4147 11,4148 5,2 1,2 0,8 1,6 1,2 2 0,8 0,6 0,6

Tidak Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi

4.1.11 Analisis Kekeruhan Tabel 11 Hasil Pengamatan : No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kode Lab 10.3661 10.3759 10.3760 10.3761 10.3762 10.3763 10.3764 10.3834 10.3835 10.3846 Hasil Pengamatan (NTU) 0,369 0,433 0,530 0,348 0,209 0,365 0,195 115 46,7 1,25 Keterangan Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Tidak Memenuhi Tidak Memenuhi Memenuhi

NTU : Nephelo Turbidity Unit 4.1.12 Analisis Kesadahan Tabel 12 Hasil Pengamatan : No Kode Lab V. Titrasi Hasil Perhitungan Keterangan (mg/L) 237,6 245,52 102,96 459,36 300,96 201,96 182,16 178,2 182,16 Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi

1 11,4105 2 11,4109 3 11,4113 4 11,4139 5 11,413 6 11,428 7 11,4146 8 11,4147 92 | P a g e 9 11,4148

KMnO4 (ml) 8,4 4,2 4,7 1,3 2,8 5,1 4,6 4,5 4,6

4.2. Pembahasan Pada instalasi laboratorium kimia fisik air, sampel diklasifikasikan menjadi 2 bagian, yakni ALI dan ABA. ALI adalah air limbah industri atau disebut juga sebagai air limbah domestik, yang termasuk dalam sampel ini diantaranya limbah cair dari lingkungan perumahan, RS, hotel, terminal dan berbagai jenis industri. ABA atau air badan air meliputi air sungai, air sumur, rawa, danau, waduk, dan saluran air, termasuk didalamnya pengambilan contoh air laut. Dalam melakukan analisa, metode yang dipakai mengacu pada standar nasional indonesia ( SNI ) untuk parameter-parameter pengujian kualitas air dan air limbah sebagaimana telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air, Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 02 Tahun 1988 tentang Baku Mutu Air dan Nomor 37 Tahun 2003 tentang Metode Analisis Pengujian Kualitas air Permukaan dan Pengambilan Contoh Air Permukaan. Beberapa parameter pengujian air, baik sampel air limbah, air badan air, air bersih dan air minum beserta batas syarat yang meliputi parameter fisik dan kimia diantaranya adalah : Derajat keasaman ( pH ) pH merupakan istilah yang menyatakan kekuatan asam atau basa dari suatu larutan atau lebih tepatnya sebagai aktifitas ion hidrogen. Metode yang digunakan dalam analisa adalah metode Kolorimetri ( kertas indikator ). Prinsip dari metode ini adalah adanya perubahan warna pada kertas indikator yang telah dicelupkan dalam sampel. Penentuan pH sangat penting terutama dalam hal persyaratan kualitas air minum, dimana kadar maksimum yang diperbolehkan adalah antara 6,5 - 8,5, standarisasi ini mengacu pada KEP.MEN.KES RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002. Dalam kasus pencemaran lingkungan, air limbah dan bahan buangan industri akan mengubah pH air yang nantinya akan mengganggu kehidupan biota akuatik. Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai pH

93 | P a g e

antara 7 8,5. Selain itu, nilai pH juga sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misal pada proses nitrifikasi. Dari hasil pengamatan dapat dilihat apakah semua sampel sudah memenuhi standar atau tidak. Air yang mempunyai pH kurang dari normal bersifat asam, sedangkan air yang mempunyai pH lebih besar dari normal akan bersifat basa. Limbah yang mempunyai pH rendah (asam) bersifat korosif terhadap logam. TSS ( Total Solid Suspended ) TSS merupakan salah satu jenis dari analisa zat padat dan termasuk sifat fisik yang utama dari air limbah. Zat padat sendiri didefinisikan sebagai residu akibat penguapan dan pengeringan pada temperature 103 - 1050 C, sedangkan TSS (Total Solid Suspended atau total padatan tersuspensi ) adalah padatan yang tersuspensi di dalam air berupa bahan-bahan organik dan anorganik yang dapat disaring dengan kertas millipore berpori 0,45 m. Padatan tersuspensi bisa merupakan bahan organik maupun anorganik. Padatan tersuspensi digunakan untuk mengukur kualitas air buangan. Zat tersuspensi yang ada dalam air terdiri dari berbagai macam zat, misalnya pasir halus, liat dan lumpur alami yang merupakan bahan-bahan anorganik atau dapat pula berupa bahan-bahan organik yang melayang-layang dalam air. Bahan-bahan organik yang merupakan zat tersuspensi terdiri dari berbagai jenis senyawa seperti selulosa, lemak, protein yang melayang-layang dalam air atau dapat juga berupa mikroorganisme seperti bakteri, algae, dan sebagainya. Bahanbahan organik ini selain berasal dari sumber-sumber alamiah juga berasal dari buangan kegiatan manusia seperti kegiatan industri, pertanian, pertambangan atau kegiatan rumah tangga. Bahan tersebut yang menjadi penyebab terjadinya polusi tertinggi di dalam air. Untuk mengetahui total padatan tersuspensi atau terendapkan dalam sampel digunakan metode spektrofotometri, dimana prinsip dari metode ini adalah padatan tersuspensi yang ada dalam sampel akan menyerap sinar yang dipancarkan pada panjang gelombang 810 nm. Jumlah serapan yang dihasilkan berbanding lurus dengan konsentrasi TSS berdasarkan kurva kalibrasi dengan menggunakan blanko aquadest.

94 | P a g e

Materi yang tersuspensi mempunyai dampak buruk terhadap kualitas air, ditinjau berdasarkan SK. GUBERNUR.JATIM No.45 Tahun 2002 Lampiran II Golongan IV tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi Industri atau Kegiatan Usaha Lainnya standart untuk glongan padatan tersuspensi adalah 500 ppm. Apabila melebihi standart yang telah ditetapkan maka dapat disimpulkan bahwa polusi dalam air tersebut tinggi dan perlu dilakukan pengolahan untuk mengurangi pencemaran. Analisis TDS ( Total Dissolve Solid ) Analisa zat padat selanjutnya adalah TDS ( Total Dissolve Solid ) atau total padatan terlarut. Bahan padat terlarut adalah bahan padat yang terdapat dalam filtrat yang diperoleh setelah penghilangan bahan padat tersuspensi. Golongan ini didefinisikan sebagai bahan yang tertinggal di dalam air setelah disaring dengan saringan yang mempunyai ukuran pori 0,45 mikron dan kemudian diendapkan kemudian menjadi sisa padat. Bahan ini mewakili garam-garam dalam larutan, termasuk garam-garam mineral dari penyediaan air. Bahan padat terlarut penting terutama apabila limbah cair akan digunakan kembali setelah pengolahan. Dampak yang ditimbulkan terhadap kesehatan adalah air akan memberikan rasa tidak enak pada lidah dan timbul rasa mual. Pengukuran zat padat terlarut ini merupakan salah satu parameter mutu air. Sampel air yang diperiksa dapat berupa air bersih ( air sumur gali, air sumur bor), air minum/PDAM, air badan air. Metode yang digunakan sangat sederhana karena tanpa perlakuan khusus dan tanpa penambahan pereaksi ataupun reagen-reagen tertentu. Untuk mengetahui jumlah padatan terlarut digunakan metode TDS metri dengan TDS meter. Pada standarisasinya, analisi TDS mengacu KEP.MEN.KES RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum dengan batasan maksimal adalah 1000 mg/L. Bila sampel yang diamati melebihi batas berarti di dalam sampel terdapat bahan yang tertinggal sebagai residu pada penguapan dan pengeringan yang dapat memberikan rasa tidak enak dan menyebabkan mual.

95 | P a g e

Analisis oksigen terlarut, dissolve oxygen ( DO ) Secara umum dapat dikatakan oksigen memegang peranan penting dalam proses kehidupan, demikian juga dengan kehidupan yang ada di air. Makhluk hidup yang ada di air sangat membutuhkan oksigen dalam menunjang kehidupannya. Kemampuan air untuk membersihkan pencemaran secara alamiah banyak bergantung kepada cukup tidaknya kadar oksigen yang terlarut. Oksigen terlarut adalah banyaknya oksigen yang terlarut didalam air dan dinyatakan sebagai mg/l. Pada dasarnya sumber oksigen di dalam air berasal dari udara yang melarut ke dalam air, namun dapat juga berasal dari reaksi kimia atau biologis yang membebaskan oksigen. Tanpa adanya oksigen terlarut, banyak mikroorganisme dalam air tidak dapat hidup karena oksigen terlarut digunakan untuk proses degradasi senyawa organik dalam air. Jika sungai tidak terpolusi atau polusinya sedikit maka kandungan oksigennya akan tinggi dan ikan atau organisme air lainnya dapat hidup baik.kadar oksigen dalam air merupakan petunjuk terhadap nilai DO dan menjadi salah satu dasar dalam menilai parameter kualitas air. Nilai DO akan mengalami penurunan apabila terjadi pencemaran yang disebabkan oleh bahan organik. Kadar DO semakin tinggi, mengindikasikan bahwa perairan tersebut baik. Keberadaan DO terhadap air dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain suhu air, tekanan parsial, aktifitas fotosintesis dalam air, gerakan air ( aerasi ) dan kadar mineral dalam air. Dalam air, tingkat konsentrasi maksimum DO dalam air atau disebut tingkat kejenuhan sangat bergantung pada suhu, misalnya pada suhu 200C tingkat kejenuhan akan mendekati 9,2 mg oksigen per liter, namun pada suhu 300C tingkat kejenuhan oksigen akan turun mencapai 7,6 mg oksigen per liter. Berdasarkan data-data temperatur dan tekanan, maka kelarutan oksigen jenuh dalam air pada 250C dan tekanan 1 atmosfir adalah 8,32 mg/L. Untuk menetapkan tingkat kejenuhan, maka suhu harus diketahui. Jika DO rendah dibanding tingkat kejenuhan maka oksigen tambahan akan diserap dari udara ke dalam air. Semakin besar kekurangannya maka semakin cepat penyerapan oksigen dari udara (re-oksigenasi). Perbedaan antara tingkat kejenuhan dan DO yang terukur adalah indikasi dari derajat polusi. Misalnya, diketahui tingkat kejenuhan pada suhu 200C adalah mendekati 9,2 mg oksigen per liter sedangkan tingkat DO = 6 mg/L

96 | P a g e

maka 9,2 6 mg/L = 3,2 mg/L. Hal ini mengindikasikan bahwa derajat polusi tergolong tinggi. Pada suhu 300C tingkat kejenuhan oksigen akan turun mencapai 7,6 mg oksigen per liter, maka kekurangannya menjadi 7,6 6 mg/L = 1,6 mg/L yang menunjukkan derajat polusi jauh lebih rendah. Semakin tinggi kadar oksigen dalam air maka ikan dan organisme dalam air dapat hidup baik, namun apabila tingkat polusi tinggi maka dapat menyebabkan DO menjadi nol sehingga dapat menimbulkan kematian bagi ikan dan organisme lain dalam air serta proses degradasi senyawa organik dalam air terhambat akibat mikroorganisme yang berperan dalam proses degradasi tersebut mati. Analisis Kebutuhan Oksigen Kimia, Chemical Oxygen Demand (COD) Salah satu parameter yang dijadikan salah satu acuan untuk menentukan layak dan tidaknya air dikonsumsi sebagai kebutuhan makhluk hidup terutama manusia adalah kadar COD. COD adalah jumlah oksigen ( mg O2 ) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organis yang ada dalam 1 liter sampel air dimana pengoksidasi yang digunakan sebagai sumber oksigen adalah K2Cr2O7. Analisa kebutuhan soksigen kimia ( KOK ) ini dapat dilakukan dengan metode reduksi Cr2O72- secara spektrofotometri pada kisaran nilai KOK 100 mg/L-900mg/L pada panjang gelombang 600 nm dan nilai KOK lebih kecil 100 mg/L pengukuran dilakukan pada panjang gelombang 420 nm. Senyawa organik dan anorganik, terutama organik dalam sampel dioksidasi oleh Cr2O72- dalam refluks tertutup mengahasilkan Cr3+. Jumlah oksidan yang dibutuhkan dinyatakan dalam ekuivalen oksigen (O2 mg/L) diukur secara spektrofotometer sinar tampak. Cr2O72- kuat mengabsorbsi pada panjang gelombang 400 nm dan Cr3+ kuat mengabsorbsi pada panjang gelombang 600 nm. Untuk nilai KOK 100 mg/L900 mg/L ditentukan kenaikan Cr3+ pada panjang gelombang 600 nm. Pada sampel dengan nilai KOK yang lebih tinggi, dilakukan pengenceran terlebih dahulu sebelum pengujian. Untuk nilai KOK lebih kecil atau sama dengan 90 mg/L ditentukan pengurangan konsentrasi Cr2O72- pada panjang gelombang 420 nm. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organik yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis dan

97 | P a g e

mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut dalam air. Di Perairan dengan nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan perairan. Nilai COD pada perairan yang tidak tercemar biasanya kurang dari 2,0 mg/L, sedangkan pada perairan tercemar dapat lebih dari 200 mg/L dan pada limbah industri dapat mencapai 60.000 mg/L Kalium dikromat yang digunakan sebagai bahan oksidasi merupakan suatu campuran yang relatif mudah, yang dapat diperoleh dalam keadaan yang sangat murni. Ion dikromat merupakan zat pengoksidasi yang sangat kuat namun untuk mengoksidasi zat organik secara lengkap haruslah berkadar asam yang sangat kuat dan dipertahankan dalam suhu tinggi. Dalam kondisi tersebut, kalium dikromat dapat mengoksidasi hampir secara lengkap seluruh bahan-bahan organik dalam sampel sehingga menjadi CO2 dan H2O. Reaksinya sebagai berikut : HaCbOc + Cr2O72- + H+ (warna kuning) CO2 + H2O + Cr3+ (warna hijau)

Warna larutan air lingkungan yang mengandung bahan buangan organik sebelum reaksi oksidasi adalah kuning, setelah reaksi oksidasi selesai maka akan berubah menjadi hijau. Jumlah oksigen yang diperlukan untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan organik sama dengan jumlah kalium dikromat yang dipakai pada reaksi oksidasi, berarti makin banyak oksigen yang diperlukan, maka air lingkungan makin banyak tercemar oleh bahan buangan organik. Manfaat dari analisis COD ini adalah waktu analisa yang singkat yaitu 3 jam, dibandingkan dengan analisis BOD yang dilakukan selama 5 hari, selain itu analisis ini berguna apabila BOD tidak dapat ditentukan karena terdapatnya bahan-bahan beracun, dapat dengan cepat memberikan perkiraan yang teliti tentang zat-zat yang dapat dioksidasi dengan sempurna secara kimiawi. Analisis Kebutuhan Oksigen Biokimia, Biochemical Oxygen Demand (BOD) Pemeriksaan ini merupakan suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara global proses-proses mikrobiologis yang benar-benar terjadi di dalam air. Angka BOD sendiri merupakan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan hampir semua zat organis yang terlarut dan sebagian sebagian zat 98 | P a g e

organis yang tersuspensi dalam air. BOD menunjukkan jumlah bahan organik yang ada dalam air yang dapat didegradasi secara bioogis. Air dengan nilai BOD tinggi menunjukkan jumlah pencemar yang tinggi terutama pencemar yang disebabkan oleh bahan organik. Cara uji kebutuhan oksigen biokimia dapat dilakukan dengan menambahkan contoh uji ke dalam larutan pengencer jenuh oksigen yang telah ditambah larutan nutrisi dan bibit mikroba, kemudian di inkubasi dalam ruang gelap pada suhu 200 C 10 C selama 5 hari. Nilai BOD dihitung berdasarkan selisih konsentrasi oksigen terlarut 0 ( nol ) hari dan 5 ( lima )hari. Pemeriksaan BOD ini biasanya digunakan untuk mengetahui beban pencemaran akibat air buangan penduduk atau industri, dan sebagai acuan untuk mendesain sistem pengolahan biologis bagi air yang tercemar tersebut. Pencemaran zat organik akan meningkatkan aktifitas mikrobiologis untuk mengurainya, reaksi yang terjadi merupakan reaksi oksidasi dan dapat dituliskan dengan CnHaObNc + ( n + a/4 b/2 3 c/4 ) O2 H2O + cNH3 Atas dasar reaksi tersebut, diperlukan kira-kira 2 hari untuk mencapai 50% reaksi, 5 hari untuk mencapai 70% reaksi dan 20 hari agar reaksi mencapai 100%,. Pemeriksaan BOD dapat dipergunakan untuk menaksir beban pencemaran zat organis dengan temperatur inkubasi untuk reaksi biologis 200 C 10 C selama 5 hari sehingga mempunyai nama lengkap BOD520. Ketelitian hasil BOD diperbolehkan menyimpang dari harga yang sebenarnya sebesar plus atau min 5% untuk seseorang yang telah berpengalaman. Analisa BOD selalu akan kurang tepat, namun demikian analisa sangat penting karena mencerminkan proses alam yang hampir sama dengan kenyataan. Uji BOD biasanya menghasilkan nilai kebutuhan oksigen yang lebih rendah dari pada uji COD karena bahan-bahan yang stabil terhadap reaksi biologi dan mikroorsssganisme dapat ikut teroksidasi dalam uji COD. Sebagai contoh, selulosa sering tidak terukur melalui uji BOD karena sukar dioksidasi melalui reaksi biokimia, tetapi dapat terukur melalui uji COD secara kimia. Selain selulosa, nCO2 + ( a/2 3 c/2 )

99 | P a g e

beberapa zat organik yang tidak terurai secara biologik antara lain asam asetat, asam sitrat, dan lignin (zat kayu). Analisis Klorida (Cl-) Klorida (Cl-) adalah salah satu senyawa umum yang terdapat pada perairan alam. Senyawa-senyawa klorida tersebut mengalami proses disosiasi dalam air membentuk ion. Ion klorida pada dasarnya mempunyai pengaruh kecil terhadap sifat-sifat kimia dan biologi perairan. Kation dari garam-garam klorida dalam air terdapat dalam keadaan mudah larut. Ion klorida secara umum tidak membentuk senyawa kompleks yang kuat dengan ion-ion logam. Ion ini juga tidak dapat dioksidasi dalam keadaan normal dan tidak bersifat toksik. Tetapi kelebihan garam klorida dapat menyebabkan penurunan kualitas air. Kelebihan klorida dalam air menyebabkan pembentukan noda berwarna putih di pinggiran badan air. Untuk mengetahui kadar klorida (Cl-) dalam air dan air limbah. Digunakan metode argentometri cara mohr pada kisaran kadar 1,5 mg/L-100 mg/L. Dasar titrasi argentometri adalah reaksi pengendapan (presipitasi), dimana zat yang hendak ditentukan kadarnya diendapkan oleh larutan baku AgNO3. Zat tersebut misalnya garam-garam halogenida (Cl, Br, I), sianida (CN), tiosianida (SCN), dan fosfat. Metode dengan cara klasik ini dipilih karena memiliki banyak kelebihan seperti pekerjaannya lebih cepat, peralatan yang digunakan lebih sederhana, memiliki nilai keakuratan yang tinggi sehingga kadar klorida dalam air sungai, air laut, air sumur, air hasil pengolahan industri sabun, dan sebagainya dapat diketahui konsentrasinya, dan hasil analisa kadar klorida dapat membaca dengan nilai empat angka di belakang koma. Endapan putih perak klorida akan terbentuk selama proses titrasi berlangsung dan digunakan indikator larutan kalium kromat encer. Setelah semua ion klorida mengendap maka kelebihan ion Ag+ pada saat titik akhir titrasi dicapai akan bereaksi dengan indikator membentuk endapan coklat kemerahan Ag2CrO4. Reaksi yang terjadi sebagai berikut : Ag+(aq) + Cl-(aq) Ag+(aq) + CrO42-(aq) AgCl(s) (endapan putih) Ag2CrO4(s)(coklat kemerahan)

100 | P a g e

yang perlu diperhatikan dalam melakukan titrasi dengan metode Mohr adalah titrasi dilakukan dengan kondisi larutan berada pada pH dengan kisaran 6,5-10 disebabkan ion kromat adalah basa konjugasi dari asam kromat. Oleh sebab itu jika pH dibawah 6,5 maka ion kromat akan terprotonasi sehingga asam kromat akan mendominasi di dalam larutan, akibatnya dalam larutan yang bersifat sangat asam konsentrasi ion kromat akan terlalu kecil untuk memungkinkan terjadinya endapan Ag2CrO4 sehingga hal ini akan berakibat pada sulitnya pendeteksian titik akhir titrasi. Pada pH diatas 10 maka endapan AgOH yang berwarna kecoklatan akan terbentuk sehingga hal ini akan menghalangi pengamatan titik akhir titrasi. Sampel yang bersifat asam dapat ditambahkan kalsium karbonat agar pH nya berada pada kisaran pH tersebut atau dapat juga dilakukan dengan menjenuhkan sampel dengan menggunakan padatan natrium hydrogen karbonat. Pengadukan atau pengocokan dilakukan agar mempermudah pengamatan pencapaian titik akhir titrasi dan perak kromat yang terbentuk sebelum titik akhir titrasi dicapai dapat dipecah sehingga terlarut kembali. Kelarutan AgCl dan Ag2CrO4 dipengaruhi oleh suhu maka semua titrasi dilakukan pada temperatur yang sama. Konsentrasi ion perak pada saat terjadi titik equivalent titrasi klorida ditentukan dari harga Ksp AgCl yaitu: [Ag+] = (Ksp AgCl)exp1/2 = 1.35 x 10-5 M

dan konsentrasi ion kromat yang diperlukan untuk inisiasi terbentuknya endapan perak kromat adalah sebagai berikut: [CrO42-] = Ksp / [Ag+]exp2 = 0,0066 M

Pada dasarnya untuk membentuk endapan perak kromat maka konsentrasi ion kromat tersebut ditambahkan akan tetapi konsentrasi tersebut menyebabkan terbentuknya warna kuning yang sangat intensif pada larutan analit sehingga warna perak kromat akan susah sekali diamati, maka digunakan konsentrasi dibawah 101 | P a g e

konsentrasi perak kromat tersebut. Konsekuensi dari penurunan nilai konsentrasi ion kromat ini akan menyebebabkan semakin banyaknya ion Ag+ yang dibutuhkan agar terbentuk endapan Ag2CrO4 pada saat terjadinya titik akhir titrasi, dan hal lain yaitu tidak mudahnya pengamatan warna Ag2CrO4 diantara warna putih AgCl yang begitu banyak akan mendorong semakin besarnya jumlah Ag2CrO4 yang terbentuk. Berdasarkan KEP.MEN.KES RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang SyaratSyarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum bahwa kadar maksimum yang diperbolehkan adalah 250 mg/L. Apabila suatu sampel berada dalam keadaan standart maka perlu dilakukan pengenceran untuk sampel tersebut. h.Analisis Nitrit (NO2-N) Nitrit (NO2) biasanya ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit lebih sedikit dari pada nitrat, karena tidak stabil dengan keberadaan oksigen. Nitrit merupakan bentuk peralihan (intermediate) antara ammonia dan nitrat (Nitrifikasi). Proses nitrifikasi ditunjukkan dalam persamaan reaksi berikut : Norganik + O2 NH3-N + O2 NO2-N + O2 NO3-N Reduksi nitrat (Denitrifikasi) oleh aktivitas mikroba pada kondisi anaerob, yang merupakan proses yang biasa terjadi pada pengolahan limbah, juga menghasilkan gas ammonia dan gas-gas lain, misalnya N2O, NO2, NO, dan N2. Keberadaan nitrit menggambarkan berlangsungnya proses biologis perombakan bahan organik yang memiliki kadar oksigen terlarut rendah. sumber nitrit dapat berupa limbah industri dan limbah domestik. Kadar nitrit pada perairan relatif kecil karena segera dioksidasi menjadi nitrat. Industri-industri yang menggunakan nitrit sebagai pencegah korosi dalam air ketel dan perumahan yang membuang limbah seperti sisa makanan dan kotoran yang menyebabkan pembusukan sisa tanaman dan hewan sehingga menyebabkan tingginya kadar ammonia yang akan dioksidasi oleh bakteri menjadi nitrit. Untuk menentukan nitrit, NO2-N dalam air dan air limbah dapat dilakukan secara spektrofotometri pada kisaran kadar 0,01 mg/L 1,00 mg/L NO2-N. metode ini

102 | P a g e

digunakan untuk sampel air yang tidak berwarna. Nitrit dalam suasana asam pada pH 2,0 2,5 akan bereaksi dengan sulfanilamide (SA) dan N-(1-naphtyl) ethylene diamine dihydrochloride (NED dihydrochloride) membentuk senyawa azo yang berwarna merah keunguan. Warna yang terbentuk absorbansinya secara spektrofotometri pada panjang gelombang maksimum 543 nm. Menurut KEP.MEN.KES RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum bahwa kadar maksimum nitrit yang diperbolehkan adalah 3 mg/L. Penilaian terhadap nitrit tersebut menunjukkan jumlah zat nitrogen yang hanya sebagian saja mengalami oksidasi. Nitrit tidak dapat ditemukan dalam air limbah yang baru kecuali dalam jumlah yang sangat sedikit sekali, akan tetapi di dalam air limbah yang sudah basi, kemungkinan adanya nitrit sangat besar. i. Analisis Sulfat (SO42-) Baik di alam atapun industri, Sulfat cukup penting dalam penyediaan air, hal ini karena air cenderung mengandung sulfat dalam jumlah cukup besar untuk membentuk kerak air yang keras pada ketel dan alat pengubah panas. Ion sulfat yang bersifat larut dan merupakan bentuk oksidasi utama sulfur adalah salah satu anion terutama di perairan, menempati urutan kedua setelah bikarbonat. Sulfat yang berikatan dengan hidrogen membentuk asam sulfat dan sulfat yang berikatan dengan logam alkali merupakan bentuk sulfur yang paling banyak ditemukan di danau dan sungai. Reduksi anion sulfat menjadi hidrogen sulfida pada kondisi anaerob dalam proses dekomposisi bahan organik menimbulkan bau yang kurang sedap dan meningkatkan korosivitas logam. Untuk menentukan sulfat, SO22- dalam air dan air limbah digunakan metode spektrofotometri pada kisaran 1 mg/L 40 mg/L pada panjang gelombang 420 nm ion sulfat bereaksi dengan barium klorida dalam suasana asam akan membentuk suspensi barium sulfat dengan membentuk kristal barium sulfat yang sama besarnya diukur dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 420 nm. Barium

103 | P a g e

klorida berfungsi untuk membentuk garam-garam sulfat dengan anion sulfat yang ada dalam sampel. Reaksinya adalah sebagai berikut : SO42- + BaCl2 BaSO4 + 2 Cl-

Barium sulfat yang terbentuk memperlihatkan kecenderungan untuk menyeret turun garam-garam lain. Garam-garam ini akan menambah bobot sebenarnya dari barium sulfat, maka hasil-hasil yang diperoleh akan tinggi. Penentuan sulfat ini jarang sekali diperlukan, kecuali apabila ditemui masalah-masalah yang menyangkut berkaratnya beton. Sulfat cukup penting dalam pembenahan air limbah dan sampah industri karena secara tidak langsung bertanggungjawab terhadap masalah baubauan yang gawat dan masalah kerapuhan selokan. Dari 10 sampel yang diamati, semuanya memenuhi kadar maksimum yang diperbolehkan oleh KEP.MEN.KES RI No. 907/ME NKES/SK/VII/2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum yaitu 250 mg/L. j. Analisis Zat Organik ( KMnO4 ) Adanya zat organik dalam air menunjukan bahwa air tersebut telah tercemar oleh kotoran manusia, hewan atau oleh sumber lain. zat organik merupakan bahan makanan bakteri atau mikroorganisme lainnya. Makin tinggi kandungan zat organik didalam air, maka semakin jelas bahwa air tersebut telah tercemar . Zat organik yang terdapat di dalam air bisa berasal dari : a. Alam : minyak tumbuh-tumbuhan, serat-serat minyak,alkohol, selulosa, gula, pati. b. Sintesa : berbagai persenyawaan dan buah-buahan yang dihasilkan dari prosesproses dalam pabrik. c. Fermentasi : alkohol, aseton, antibiotik, asam-asam dan sejenisnya yang berasal dari kegiatan mikroorganisme terhadap bahan organik. Zat organik dapat menimbulkan rasa dan bau yang tidak sedap dan dapat menimbulkan sakit perut, menyebabkan korosifitas pada pipa-pipa logam.

104 | P a g e

Salah satu parameter analisis zat organik adalah permanganat. Pengukuran angka permanganat adalah pengukuran zat organik dalam air, dimana zat organik di dalam air dioksidasi oleh oksidator kuat KMnO4 pada suhu mendidih (1000C) selama 10 menit. Semakin banyak zat organik di dalam air maka akan semakin banyak oksidator KMnO4 yang dibutuhkan untuk mengoksidasi senyawa organik. Pengukuran zat organik secara umum ditujukan untuk mengetahui konsentrasi zat organik di dalam air tanpa mengetahui jenis senyawanya. Dasar pengukurannya adalah berdasarkan sifat atau karakteristik senyawa organik. Prinsip pengukurannya adalah zat organik di dalam air dioksidasi oleh KMnO4 berlebih dalam suasana asam dan panas. Kelebihan KMnO4 direduksi oleh asam oksalat berlebihan. Kelebihan asam oksalat dititrasi kembali oleh larutan KMnO4. Reaksi yang terjadi adalah Zat organik + KMnO4
berlebih

CO2 + H2O 2MnSO4 + 10 CO2 + K2SO4

2 KMnO4 + 5H2C2O4 + 3H2SO4

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 416/MENKES/PER/IX/1990 Tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air bahwa kadar maksimum zat organik yang diperbolehkan sebesar 10 ppm. Kadar zat organik yang berlebihan dalam air minum tidak diperbolehkan karena selain menimbulkan warna, bau dan rasa yang tidak diinginkan, juga mungkin bersifat toksik baik secara langsung maupun bersenyawa dengan zat lain yang ada. Zat organik yang ada dalam air dapat berasal dari alam atau sebagai dampak dari kegiatan manusia.

k. Analisis Kekeruhan

105 | P a g e

Kekeruhan merupakan sifat optik dari suatu larutan yaitu ukuran intensitas cahaya yang dihamburkan dan diabsorpsi dari cahaya yang melaluinya. Absorpsi dan penghamburan cahaya dipengaruhi oleh ukuran partikel dan karakteristik permukaan bahan yang tersuspensi. Kekeruhan bukan ukuran kuantitatif dari padatan tersuspensi karena tergantung juga oleh ukuran dan bentuk butir, namun walau demikian kekeruhan erat sekali hubungannya dengan kadar zat tersuspensi karena kekeruhan pada air memang disebabkan adanya zat-zat tersuspensi yang ada dalam air tersebut, namun karena zat-zat tersuspensi yang ada dalam air terdiri dari berbagai macam zat yang bentuk dan berat jenisnya berbeda-beda maka kekeruhan tidak selalu sebanding dengan kadar zat tersuspensi. Kekeruhan didalam air disebabkan oleh adanya zat tersuspensi seperti lumpur, zat organik, plankton dan zat halus lainnya. Kekeruhan biasanya terdiri dari partikel organik maupun anorganik yang berasal dari DAS (Daerah Aliran Sungai) dan resuspensi sedimen di dasar danau. Turbiditas atau kekeruhan digunakan untuk menyatakan derajat kegelapan di dalam air yang disebabkan oleh bahan-bahan yang melayang. Pemeriksaan kekeruhan dapat dilakukan dengan tiga metode : Metode nephelometrik ( FTU/NTU ) Metode hellige ( unit kekeruhan silica ) Metode visual ( unit kekeruhan jackson ) Teknik analisa yang dilakukan disini adalah metode nephelometrik ( FTU/NTU ), prinsip dari metode ini adalah perbandingan intensitas kekeruhan suatu sampel air dengan intensitas cahaya yang dihamburkan dari suatu larutan keruh standart pada kondisi sama yang dibaca pada turbidimetri. Metode ini lebih sensitif dari metode yang lain dan dapat digunakan untuk segala tingkat kekeruhan.makin tinggi intensitas cahaya yang dihamburkan, makin tinggi pula kekeruhannya. Sebagai standart digunakan suspensi polimer formazin ( satuannya Formazin Turbidity Unit / FTU ). Berdasarkan KEP.MEN.KES RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum bahwa kadar maksimum yang diperbolehkan untuk tingkat kekeruhan adalah 5 NTU. Tingkat kekeruhan yang

106 | P a g e

tinggi mengindikasikan pencemaran yang tinggi pula. Dampak dari kekeruhan tersebut ialah sinar matahari akan terhambat masuknya ke dalam perairan sehingga menghambat proses fotosintesis tanaman (fitoplankton). Bila hal tersebut terjadi, maka bakteri aerobik akan cepat mati sedangkan bakteri anaerobik tumbuh. Hasilnya dapat membentuk hidrogen sulfida yang berbau busuk dan berbahaya. l. Analisis Kesadahan Kesadahan air adalah kandungan mineral-mineral tertentu dalam air, umumnya disebabkan oleh ion-ion Ca2+, Mg2+, Mn2+, Fe2+ dan semua kation yang bermuatan dua. Air sadah atau air keras adalah air yang memiliki kadar mineral yang tinggi, sedangkan air lunak adalah air dengan kadar mineral yang rendah. Ion-ion penyebab kesadahan terdapat dalam air dalam bentuk sulfat, klorida, dan hidrogen karbonat. Kesadahan air di alam disebabkan oleh garam karbonat atau garam asamnya. Kehadiran CaCl2 atau MgSO4 disebabkan oleh geologi tanah. Kesadahan air tidak menguntungkan karena Ca dan Mg dalam air sadah dapat bereaksi dengan sabun sehingga sabun menjadi tidak berbusa. Kelebihan ion Ca2+ dan CO32mengakibatkan terbentuknya kerak pada dinding pipa karena pembentukan endapan kalsium karbonat. Kerak tersebut dapat meredam panas pada pipa dan alat logam lainnya, seperti ketel air yang berkerak akan memperlambat proses pemanasan air. Kesadahan total adalah jumlah dari kesadahan sementara dan kesadahan tetap, dan dapat dinyatakan dalam ppm CaCO3. Menentukan kesadahan total yang terdapat dalam air dan air limbah dapat dilakukan dengan cara yang sederhana, yakni menggunakan sabun. Dalam air lunak, sabun akan menghasilkan busa yang banyak. Pada air sadah, sabun tidak akan menghasilkan busa atau menghasilkan sedikit sekali busa. Cara yang lebih kompleks adalah melalui titrasi. Kesadahan dapat dihilangkan dengan menggunakan metode resin penukar ion, misalnya zeolit yang memiliki kapasitas untuk menukar ion. Eriochrome Black T (EBT) berperan sebagai indikator yang menghasilkan larutan berwarna merah keunguan. Penambahan buffer dimaksudkan untuk menjaga pH

107 | P a g e

larutan dan titrasi dengan EDTA akan menghasilkan senyawa kompleks logamEDTA. Reaksinya sebagai berikut : Ca2+ + Mg2+ + EDTA (merah keunguan) Ca-EDTA + Mg-EDTA (biru)

Terbentuknya senyawa kompleks EDTA ditandai dengan perubahan warna yang semula berwarna merah keunguan menjadi biru. Volume titrasi EDTA yang digunakan dapat mengetahui konsentrasi kesadahan total yang dinyatakan dalam satuan ppm berat per volume (w/v) dari CaCO3. Perlu diperhatikan bahwa titrasi harus dilakukan kurang dari 5 menit untuk mengurangi kemungkinan terjadinya endapan CaCO3. Selain itu, suhu titrasi paling baik adalah suhu kamar, karena pada suhu rendah perubahan warna agak lambat dan pada suhu tinggi akan terjadi kerusakan indikator. Menurut KEP.MEN.KES RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum bahwa kadar maksimum yang diperbolehkan untuk analisis kesadahan adalah 500 mg/L. 4.3. Kendala dan pecahan 4.3.1 Kendala - Kurangnya persediaan aquades, aquabidest, dan tissue yang diperlukan saat analisa sehari-hari. - Data yang tidak masuk range. - Larutan standart yang digunakan tidak dalam suhu ruang (yaitu suhu dingin lemari es). - Kurangnya Erlenmeyer untuk analisa sehingga menunggu lama.

4.3.2 Pemecahan - Sebelum melakukan analisa sebaiknya dipersiapkan terlebih dahulu sehingga bila dibutuhkan pada saat proses analisa tidak terganggu. - Analisis diulang dengan mengencerkan sampel air.

108 | P a g e

- Sebelum melakukan analisa sebaiknya larutan standart yang dingin dibiarkan dalam suhu ruang beberapa jam sampai suhu stabil sesuai yang diinginkan. - Sebaiknya setelah melakukan analisa, Erlenmeyer langsung dicuci sehingga untuk analisa selanjutnya tidak menunggu lama dan siap digunakan.

109 | P a g e

PEMBAHASAN LABORATORIUM UDARA

110 | P a g e

4.1 Hasil Analisa konsentrasi H2S,NO2,O3,NH3 dan SO2 udara ambien H2S 0.005088 0.005088 0.007509 0.006729 0.006606 0.006196 0.006196 0.005827 0.00554 NO2 0.1557 0.1529 0.08566 0.8146 0.6253 2.0413 0.5658 0.9443 0.359 O3 0.94 0.5818 0.6697 0.3985 0.2503 0.2972 0.6872 0.6378 0.4863 NH3 2.871 3.4162 3.0774 1.7588 3.401 4.2113 4.2591 2.3475 1.37 SO2 1.22800 1.8446 0.656 0.5505 0.7452 12.483 0.6397 0.6073 0.6763

4.2 Pembahasan 4.2.1 Penentuan Kadar Dihidrogen Sulfida (H2S) Metode W.Leithe 1971 Penentuan kadar H2S didasarkan pada reaksi yang terjadi pada H2S dari udara bebas yang diserap dalam larutan penjerap kadmium dihidroksida Cd(OH)2 kemudian ditambahkan larutan amin dan FeCl3 ke dalam larutan tersebut maka terbentuk senyawa FeS beserta endapan putih. Konsentrasi larutan ditentukan secara spektrofotometri pada panjang gelombang 670 nm. Pada awalnya Cd(OH)2 bereaksi dengan amin menghasilkan 3[Cd(NH3)2]2+ dan 6OH-. Kemudian terbentuk komplek kadmium amin diklorida dan ion Fe3+ setelah penambahan FeCl3. Karena terdapat muatan yang berbeda dan dapat saling berinteraksi secara ionik, Fe3+ berikatan dengan OH- membentuk 2Fe(OH)3. Apabila senyawa besi hidroksida ini bereaksi dengan H2S di udara, akan terbentuk endapan FeS yang berwarna putih. Besarnya konsentrasi H2S pada contoh uji dapat ditentukan secara spektrofotometer. CdSO4.8H2O + NaOH Cd(OH)2 (penjerap) 3Cd(OH)2 + 6NH3 3[Cd(NH3)]2+ + 6 OH3[Cd(NH3)]2+ + 6 OH- + 2FeCl3 3[Cd(NH3)]Cl2 + 2Fe3+ 2Fe3+ + 6 OH- 2Fe(OH)3 2Fe(OH)3 + 3H2S Fe2S3 + 6H+ Data hasil pengukuran oleh spektrofotometer menunjukkan bahwa pada setiap sampel memiliki tingkat absorbansi tertentu. Absorbansi terendah terdapat

111 | P a g e

pada sampel 1 yaitu sebesar 0.005088 ppm dan absorbansi tertinggi terdapat pada sampel 3 yaitu sebesar 0.007509. Dari 9 sampel yang dianalisa tidak ada yang melebihi batasan baku mutu H2S udara ambien yang berpedoman pada SE. Men. Naker No. SE-01/MEN/1997 yaitu 10,0 ppm. 4.2.2 Penentuan Kadar Nitrogen Dioksida (NO2) Metode Griess Saltzman Penentuan kadar NO2 metode Griess Saltzman didasarkan pada interaksi larutan penjerap Griess Saltzman yang bereaksi secara langsung dengan contoh uji sehingga menghasilkan senyawa azo dye yang berwarna merah muda.Adapun cara membuat larutan penjerap Griess Saltzman dapat dibuat di laboratorium dengan cara melarutkan asam sulfanilat dengan pelarut asam asetat glasial yang dan ditambahkan air hingga volume mencapai 800 mL. Larutan yang terbentuk ditambahkan dengan larutan induk NEDA atau N-(1-naftil)-etilen diamin hidroklorida dan aseton. Larutan penjerap Griess Saltzman yang digunakan untuk menjerap NO2 di udara, langsung bereaksi dengan NO2 menghasilkan senyawa azo dye yang dapat langsung terukur intensitas warnanya oleh spektrofotometer sehingga tidak perlu dilakukan penambahan reagen tertentu. Intensitas warna merah muda yang dihasilkan inilah yang diukur secara spektrofotometer pada panjang gelombang 550 nm. Warna yang terbentuk dikarenakan terdapat adanya transisi elektromagnetik oleh senyawa NO2. Semakin pekat warna yang terbentuk maka semakin besar absorbansinya sehingga konsentrasi NO2 pada sampel semakin tinggi pula. Reaksi antara sampel NO2 dengan larutan penjerap dapat terjadi seperti berikut : NO2 + larutan Griess Saltzman senyawa azo dye (merah muda)
HO3S N N NH2

Gambar 1 . Struktur azo dye (merah) Adapun konsentrasi yang dihasilkan lebih besar yaitu pada sampel ke 6 yang memiliki harga sebesar 2.0413 ppm, namun ada hasil yang terendah yaitu sampel ke 1 dimana konsentrasi yang disapat sebesar 0.1557 ppm. Sampel yang 112 | P a g e

dianalisa tidak melampaui batasan baku mutu NO2 yang berpedoman pada SE. Men. Naker No. SE-01/MEN/1997 yaitu 3,0 ppm. 4.2.3 Penentuan Kadar Oksidan (O3) Metode Neutral Buffer Kalium Iodida Penentuan kadar O3 metode NBKI (Neutral Buffer Kalium Iodida) pada prinsipnya berdasarkan pada reaksi antara ion iodida dengan oksidan (O3) dari udara yang telah dijerap oleh larutan NBKI. Ion iodida membebaskan iod (I2) yang berwarna kuning muda. Larutan penjerap NBKI dibuat dengan cara melarutkan dinatrium hidrogen fosfat dodekahidrat (Na2HPO4.12H2O) dan kalium hidrogen fosfat (KH2PO4) dengan air suling. Pada larutan hasil pencampuran kedua senyawa tersebut ditambahkan larutan kalium iodida (KI) yang berfungsi sebagai buffer. Larutan penjerap ini diencerkan dan dikondisikan pH-nya pada 6,8 0,2 agar dihasilkan ion I- yang selanjutnya bereaksi dengan oksidan di udara membebaskan iod (I2) yang berwarna kuning muda. I2 + I- I3- + O3 (kuning muda) Intensitas warna sampel terukur oleh spektrofotometer UV-Vis dikarenakan terdapat adanya peristiwa transisi elektromagnetik pada saat pembebasan iod (I2) sebagai akibat bereaksinya O3 dengan larutan penjerap yang ditandai dengan terbentuknya warna kuning muda. Oleh karena larutan penjerap dapat langsung bereaksi dengan O3 di udara dan dihasilkan warna kuning muda, maka tidak perlu dilakukan penambahan reagen tertentu. Hasil yang didapat pada penentuan kadar O3 yang terbesar pada sampel 1 yaitu konsentrasi yang didapat sebesar 0.94 ppm sedangkan konsenttrasi yang terendah dari 9 sampel yaitu sampel ke 5 konsentrasi yang didapat yaitu sebesar 0.2503 ppm. Warna yang pekat dapat diartikan bahwa konsentrasi yang terkandung sangatlah pekat dan begitujuga sebaliknya. Warna yang terbentuk langsung dapat dianalisa kuantitatif secara spektrofotometri. Konsentrasi sampel ditentukan secara spektrofotometri pada panjang gelombang 352 nm. Dari hasil pembacaan spektrofotometri didapatkan konsentrasi yang dihasilkan oleh 9 sampel tersebut melebihi batasan baku mutu O3 udara ambien

113 | P a g e

yang berpedoman pada SE. Men. Naker No. SE-01/MEN/1997 yaitu 0,08 ppm. Hal ini dimungkinkan lokasi pengambilan sampel terlalu banyak mengandung polutan yang berasal dari kendaraan ataupun berasal dari kawasan industri. 4.2.4 Penentuan Kadar Ammonia (NH3) Metode Indofenol Analisa penentuan kadar ammonia metode indofenol didasarkan pada pembentukan senyawa komplek indofenol yang berwarna biru untuk selanjutnya ditentukan kadar ammonia secara spektrofotometri pada panjang gelombang 630 nm. Amonia yang terjerap dalam larutan penjerap asam sulfat (H2SO4) bereaksi membentuk amonium sulfat ((NH4)2SO4). 2NH3 + H2SO4 (NH4 )2SO4 Amonium sulfat yang terbentuk direaksikan dengan fenol dan natrium hipoklorit dalam suasana basa sehingga dapat terbentuk senyawa komplek indofenol berwarna biru seperti yang tergambar dalam reaksi berikut : (NH4 )2SO4 + 2NaOCl
OH
+O

basa

Na2SO4 + OCl- + 2NH4+


.. N OH

+ 2NH4+

basa

(biru)

Warna biru yang terbentuk dikarenakan terdapat adanya peristiwa transisi elektromagnetik oleh elektron terluar yang mengisi orbital-orbital kosong dari unsur lain dalam proses mencapai keadaan stabil. Intensitas warna biru yang dihasilkan pada masing-masing contoh uji sangat spesifik. Semakin pekat warna yang terbentuk, maka transisi elektromagnetik yang terjadi semakin tinggi sehingga tingkat absorbansinya semakin tinggi pula. Apabila absorbansi tinggi, maka konsentrasi ammonia di dalam sampel semakin tinggi pula. Hasil konsentrasi mksimum dan minimum ammonia setelah diukur oleh spektrofotometer yaitu sebesar 4.2591 ppm pada sampel ke 7 dan 1.37 ppm pada sampel ke 9. Dari sampel intensitas warna semakin pekat yang menandakan bahwa konsentrasinya semakin tinggi. Sampel yang dianalisa masih dalam batasan baku mutu NH3 udara ambien yang berpedoman pada SE. Men. Naker 114 | P a g e No. SE-

01/MEN/1997 yaitu 25,0 ppm. Hanya sampel kode 2 saja yang melebihi batasan baku mutu NH3 udara ambien. 4.2.5 Penentuan Kadar Sulfur Dioksida (SO2) Metode Pararosanilin Sampel SO2 di udara dijerap oleh larutan penjerap yang telah dibuat terlebih dahulu di laboratorium. Proses sampling menggunakan midget impinger sebagai wadah larutan penjerap. Midget ini dihubungkan dengan pompa penghisap dengan laju alir 2 L/menit. Sebanyak 10 mL larutan penjerap akan menjerap SO2 di udara ambien selama kurang lebih 30 menit. Selama pompa penghisap dihidupkan, dilakukan pengukuran temperatur dan tekanan udara ambien dilokasi pengambilan sampel SO2.

Gambar 5. Midget impinger Sampel yang telah terjerap dibawa ke laboratorium untuk dianalisa kadarnya. Contoh uji semula berada dalam midget, sesampai di laboratorium contoh uji dipindahkan ke labu ukur 50 mL untuk kemudian dibilas dan diaddkan dengan larutan penjerap sampai tanda batas. Selanjutnya diambil 5 mL larutan tersebut dimasukkan ke dalam tabung uji 25 mL dan ditambahkan 5 mL larutan penjerap. Larutan penjerap berfungsi sebagai agen penjerap agar sampel yang hendak di analisa yaitu SO2 bisa tertampung dalam suatu media sehingga memudahkan dalam proses analisa. Larutan penjerap yang digunakan bersifat selektif. Hanya akan menyerap senyawa SO2 dari udara ambien sesuai persamaan reaksi berikut : SO2 + tetrakloromerkurat (HgCl4) diklorosulfonatomerkurat (larutan penjerap)

115 | P a g e

diklorosulfonatomerkurat + formaldehid + pararosanilin pararosanilin metil sulfonat (ungu)

Gambar 6. Struktur pararosanilin Pada akhir reaksi di atas diperoleh larutan pararosanilin metil sulfonat yang berwarna ungu. Intensitas warna ungu inilah yang selanjutnya diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 550 nm. Warna ungu yang terbentuk dikarenakan terdapat adanya transisi elektromagnetik oleh senyawa SO2 akibat perlakuan tertentu. Transisi elektromagnetik yang terjadi memancarkan spektra pada panjang gelombang daerah warna ungu sehingga intensitas warna ungu dapat terukur oleh spektrofotometer. Data hasil pengukuran oleh spektrofotometer menunjukkan bahwa pada setiap sampel memiliki tingkat konsentrasi tertentu. Sampel yang memiliki intensitas warna ungu semakin pekat yang menandakan bahwa konsentrasinya semakin tinggi. Sampel ke 6 memiliki konsentrasi 12.483 ppm yang dianalisa melebihi baku mutu SO2 udara ambien yang berpedoman pada SE. Men. Naker No. SE-01/MEN/1997 yaitu 2,0 ppm. Hal ini dimungkinkan pada daerah pengambilan sampel SO2 merupakan daerah pada kawasan industri.

BAB 5. PENUTUP 5.1 Kesimpulan Dari kegiatan Kuliah Kerja Magang (KKM) yang telah dilakukan di Laboratorium Kimia Fisika Padat Cair di Balai Besar Teknik Kesehatn Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL & PPM) Surabaya dapat disimpulkan bahwa:

116 | P a g e

Parameter yang digunakan dalam menganalisa polutan tanah, antara lain: mercury (Hg), cadmium (Cd), chromium (Cr), lead (Pb), copper (Cu) dengan uji Toxicity Characteristic Leaching Procedur (TCLP), Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan K, Na bertukar, uji komposisi, meliputi uji klorida dan kesadahan.

Penentuan pH sampel harus dilakukan terlebih dahulu sebelum melakukan analisis menggunakan TCLP. Hasil analisa Toxicity Characteristic Leaching Procedur (TCLP) untuk keempat sampel berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor. 85 tahun 1999 tanggal 7 Oktober 1999 tentang Baku Mutu TCLP Zat Pencemar dalam Limbah untuk Penentuan Karakteristik Sifat Racun telah memenuhi standart.

Hasil

analisa

klorida

berdasarkan tentang

KEP.MEN.KES dan

RI

No.

907/MENKES/SK/VII/2002

Syarat-Syarat

Pengawasan

Kualitas Air Minum, untuk sampel 11.5197 dan 11.5199 telah memenuhi standart, yaitu 30,7706 mg/L dan 18,4623 mg/L. Hasil analisa kesadahan berdasarkan tentang KEP.MEN.KES dan RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002 Syarat-Syarat Pengawasan

Kualitas Air Minum, untuk sampel 11.5197 dan 11.5199 telah memenuhi standart, yaitu 172,854 mg CaCO3/L dan 168,696 mg CaCO3 /L. Kualitas udara memegang peranan penting dalam kehidupan baik manusia, hewan dan tumbuhan. Kualitas udara juga mempengaruhi kualitas air dan tanah disekitarnya. Kualitas udara sangat ditentukan oleh ada dan tidaknya kandungan polutan dalam udara sehingga diperlukan analisa pada parameter-parameter pencemar udara. Analisis yang perlu dilakukan adalah analisis parameter fisika dan analisis parameter kimia. Untuk itu diperlukan teknik analisis yang tepat guna mengetahui tingkat pencemaran dan kualitas udara. Teknik sampling, penyimpanan dan proses analisa contoh uji udara memegang peranan sangat penting karena perlakuan yang salah menyebabkan sampel kurang representatif.

117 | P a g e

5.2 Saran Beberapa saran yang dapat kami sampaikan, antara lain: Sikap sabar, ramah, kekeluargaan serta profesionalisme kerja dalam memberi bimbingan kepada mahasiswa yang melakukan kuliah kerja magang hendaknya tetap dipertahankan. Diperlukan pengetahuan yang mendasar sebelum melakukan analisa dari tiap parameter kimia dan fisika agar pelaksanaan analisa tersebut dapat berjalan dengan benar dan dapat memberikan nilai yang sebenarnya untuk sampel yang dianalisa. Mahasisawa/pelajar yang melakukan kuliah kerja magang agar lebih serius dalam kegiatannya, agar hasil yang diharapkan selama magang dapat lebih bermanfaat dan dapat diaplikasikan di dunia kerja. Diperlukan pengetahuan yang mendasar sebelum melakukan analisa dari tiap parameter kimia dan fisika agar pelaksanaan analisa tersebut dapat berjalan dengan benar dan dapat memberikan nilai yang sebenarnya untuk sampel yang dianalisa.

118 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA Achmad,Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan. Yogyakarta : Penerbit Andi. Anonim. 2009. Argentometri Metode Mohr. www.kimiaanalisa.web.id/argentometri-metode-mohr [10 Agustus 2010]. Anonim. 2008. Dekomposisi Zat Organik. 14 Agustus 2010. Anonim. 2009. Hubungan Antara Total Suspended Solid dengan Turbidity dan Dissolved Oxygen. http://thorik.staff.uii.ac.id/09/08/23hub-antara-totalsuspended-solid-dengan-turbidity-dan-dissolved-oxygen [10 Agustus 2010]. Anonim. 2009. Surfaktan Pengusir Kuman dan Racun.

www.klipingut.wordpress.com/09/11/24/surfaktan-pengusir-kuman-dan-racun/ [1 September 2010]. Agung, Titis Utami. 2009. Karya Ilmiah, Analisis Kadar Khlorida pada Air dan Air Limbah dengan Metode Argentometri. Medan : FMIPA Universitas Sumatra Utara. Ayers, R.S; D.W. Westcot. 1976. Water Quality for Agriculture. FAO. Irrigation and Drainage Paper No.29, Rome. Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Yogyakarta : Penerbit Kanisius. Fardiaz, S. 1992. Polusi Air dan Udara. Yogyakarta : Penerbit Kanisius. Utama, Harry Wahyudhy. 2006. Keracunan Sianida. http://klikharry.wordpress.com/2006/12/14/sianida [1 September 2010].

119 | P a g e

Ida, Yustina. 2009. Karya Ilmiah, Penentuan Kadar Nitrit pada Beberapa Air Sungai di Kota Medan dengan Metode Spektrofotometri (Visible). Medan : FMIPA Universitas Sumatra Utara. Juwita san, Evi. 2009. Karya Ilmiah, Penentuan Kadar Sulfat dalam Air Bersih secara Spektrofotometri UV-Visible di Perumahan PT. Malum Tanjung Gading. Medan : Universitas Sumatra Utara. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

907/MENKES/SK/VII/2002 Tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 45 Tahun 2002 Tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi Industri atau Kegiatan Usaha Lainnya di Jawa Timur. Mahida, U.N. 1981. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. Jakarta : CV. Rajawali. Musyaffalab, Ripani. 2010. Chemical Oxygen Demand (COD). Nurhasanah. 2009. Karya Ilmiah, Penentuan Kadar COD pada Limbah Cair Pabrik Kepala Sawit Pabrik Karet dan Dosmetik. Medan : Universitas Sumatra Utara. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur nomor 2 kelas III Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 416/MENKES/PER/IX/1990 Tentang : Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Sudarmadji. 2004. Pengantar Ilmu Lingkungan. Jember : Universitas Jember. Sunu, P. 2001. Melindungi Lingkungan dengan Menerapkan ISO 14001. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

120 | P a g e

Wardhana, W.A. 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta : Penerbit Andi. Warlina, Lina. 2004. Pencemaran Air : Sumber, Dampak, dan Penanggulangannya. Bogor : Institut Pertanian Bogor Wahyudi. 2010. Penetapan Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK). www.chem-istry.com [19 Agustus 2010]. Yurman. 2009. Pengaruh Kadar Khlorida pada Air Sumur Gali. Bengkulu : Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu. Andalucy. 2010. Pencemaran Udara Oleh Gas NO2 dan SO2. http://elandalucy.blogspot.com/2010/12/pencemaran-udara-oleh-gas-no2-so2-dan.html Fardiaz. 1992. Polusi Air dan Udara. Bandung Prabu. 2008. Dampak Sulfur Oksida terhadap Kesehatan.

http://putraprabu.wordpress.com/2008/12/30/dampak-sulfur-oksida-sox-terhadapkesehatan/ 5:27 Prabu. 2008. Sulfur Oksida. http://putraprabu.wordpress.com/2008/12/17/sulfuroksida-sox/ 5:22 Prabu. 2008 .Dampak Nitrogen Oksida Terhadap Kesehatan.

http://putraprabu.wordpress.com/2008/12/29/dampak-nitrogen-oksida-noxterhadap-kesehatan/5:28 Prabu. 2008. Nitrogen oksida.

http://putraprabu.wordpress.com/2008/12/20/nitrogen-oksida-nox/5:25

121 | P a g e

Prabu.

2008.

Dampak

Ozon

Terhadap

Kesehatan.

http://putraprabu.wordpress.com/2008/12/31/dampak-ozon-o3-terhadap-kesehatan/ Prabu. 2008.Pencemaran Udara.

http://putraprabu.wordpress.com/2008/12/12/pencemaran-udara/ SNI 19-7119.7-2005 SNI 19-7119.2-2005 SNI 19-7119.8-2005 SNI 19-7119.1-2005 Soedomo.2000. Pencemaran Udara Kumpulan Karya Ilmiah. Bandung : Institut Teknologi Bandung.

Wardhana, W.A. 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta : Penerbit Andi.

122 | P a g e

123 | P a g e