Anda di halaman 1dari 17

PROPOSAL KONTRAK BELAJAR ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN HYDROSEFALUS DENGAN VENTIRKELO PERITONEAL SHUNT

Disusun Oleh: Benny Arief Sulistyanto (09.0004. N)

PROGRAM PROFESI NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN PEKALONGAN 2010

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN HIDROSEFALUS DENGAN VENTIRKELO PERITONEAL SHUNT


I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Di antara 1.000 kelahiran, sedikitnya 15 bayi lahir dengan kelainan kongenital. Kejadiannya paling banyak terdapat di negara-negara miskin dan berkembang, termasuk Indonesia. Kelainan kongenital adalah kelainan struktur organ bayi yang timbul sejak terjadinya konsepsi (pembuahan) sel telur atau pada saat trimester pertama kehamilan. Prevalensi hidrosefalus di dunia cukup tinggi, di Belanda dilaporkan terjadi kasus sekitar 0,65 permil pertahun dan di Amerika sekitar 2 permil pertahun (Platenkamp, dkk.2007). Sedangkan di Indonesia mencapai 10 permil (Maliawan, dkk. 2006; 2007). Jumlah dari orangorang yang mengembangkan hydrocephalus atau yang sekarang ini hidup dengannya adalah sulit untuk diperkirakan karena tidak ada registrasi nasional atau database dari orang-orang dengan kondisi ini. Ahli-ahli memperkirakan bahwa hydrocephalus mempengaruhi kira-kira 1 dalam setiap 500 anak-anak. Hydrocephalus saat ini banyak terjadi pada balita di negara Indonesia, kita sering mendengar penyakit Hydrocephalus ini dari beritaberita di televisi dengan menampilkan balita yang memiliki kepala yang membesar. Secara normal di dalam otak ada beberapa ventrikel yang di dalamnya suatu cairan yang disebut Cerebrospinal Fluid (CSF). CSF ini berfungsi untuk melindungi otak bertindak sebagai suatu alat menahan goncangan. CSF beredar dari ventrikel ke arah suatu ruang yang ada antara otak dan selaput otak (meninges). Suatu kondisi dimana terdapat suatu ketiadaan penyerapan, kemacetan arus, atau produksi berlebih dari CSF yang ditemukan di dalam ventrikel (area fluid-filled) otak atau akumulasi kelebihan cerebrospinal cairan (CSF) di dalam sistem ventrikel dari otak. Kehadiran kronis dari suatu volume CSF yang berlebih di dalam otak

mengakibatkan dilatasi ventrikel dan pelebaran cerebral yang disebut sebagai Hydrocephalus. Hydrocephalus paling sering dirawat dengan menyisipkan secara operasi sistem shunt (langsiran). Sistem ini mengalihkan aliran CSF dari CNS ke area lain dari tubuh dimana ia dapat diserap sebagai bagian dari proses sirlukasi normal. Shunt adalah tabung plastik yang lentur namun kokoh. Sistem shunt terdiri dari shunt, kateter, dan klep. Satu ujung dari kateter ditempatkan dalam ventricle didalam otak atau dalam CSF diluar spinal cord. Ujung yang lain dari kateter umumnya ditempatkan didalam rongga perut, namun mungkin juga ditempatkan pada tempat-tempat lain dalam tubuh seperti kamar dari jantung atau area-area sekitar paru dimana CSF dapat mengalir dan diserap. Klep yang dilokasikan bersama dengan kateter mempertahankan aliran satu arah dan mengatur kecepatan dari aliran CSF. Meskipun shunt dipasang secara permanen, sistem-sistem shunt bukanlah alat-alat yang sempurna. Komplikasi-komplikasi mungkin termasuk kegagalan mekanik, infeksi-infeksi, rintangan-rintangan, dan keperluan untuk memperpanjang atau menggantikan kateter. Umumnya, sistem-sistem shunt memerlukan pengamatan dan followup medis secara teratur. Ketika komplikasi-komplikasi terjadi, sistem shunt biasanya memerlukan beberapa tipe-tipe dari revisi (perbaikan). Menurut

Shermann, dkk. (2007) komplikasi pada bulan pertama mencapai 25-50%, setelah itu, pertahun 4-5 % dan setiap komplikasi berarti harus dilakukan revisi. Setiap VP shunting memiliki kemungkinan risiko revisi sekitar 3 kali dalam 10 tahun pasca operasi.

B. Masalah Berdasarkan data dan uraian di atas maka permasalahan yang dapat penulis rumusan adalah Bagaimana cara merawat VP-Shunt untuk mencegah komplikasi-komplikasi yang mungkin terjadi.

C. Tujuan 1. Tujuan umum Mengetahui dan mampu melakukan asuhan keperawatan klien hidrosefalus dengan VP-shunt. 2. Tujuan khusus Mengetahui dan mampu melaksanakan: a. Konsep dasar hydrosefalus. b. Penatalaksanaan medik klien hydrosefalus. c. Konsep dan Mekanisme kerja VP-shunt. d. Cara perawatan VP-shunt.

II.

SUMBER PEMBELAJARAN Dalam rangka mencapai tujuan tersebut di atas, ada beberapa sumber yang dapat digunakan dalam rangka proses pembelajaran klinik ini. Antara lain: A. Expert Expert adalah para ahli, dalam hal ini bisa dokter spesialis bedah saraf, perawat senior, atau ahli-ahli lain yang berkompetensi. B. Klien dan keluarga Klien dan keluarga merupakan sumber data primer. C. Referensi Yaitu dengan melakukan studi pustaka, baik itu yang berupa buku sumber, jurnal, ataupun hasil penelitian.

III.

STRATEGI PEMBELAJARAN Dalam pembelajaran klinik ini strategi yang akan saya gunakan antara lain: A. Obeservasi Dengan cara melakukan observasi secara klien hydrosefalus yang terpasang VP-Shunt untuk mendapatkan data tentang masalah

keperawatan yang dialaminya.

B. Diskusi expert Diskusi dengan expert ini dilakukan dalam rangka membahas mengenai VP-shunt dan cara perawatannya. C. Studi pustaka Yaitu dengan cara kita belajar dari literatur-literatur yang berkaitan dengan hydrosefalus khususnya mengenai VP-shunt.

IV.

ANOTATED BIBLIOGRAPHY No. 1. Anonim. Referensi 2008. Isi

Hydrocephalus. Prevalensi hydrosefalus.

http://www.totalkesehatananda.com. Diperoleh pada tanggal 10 Juli 2010 2. Betz, C.L. 2002. Buku Saku Perawatan Jakarta: hydrosefalus anak dengan

Keperawatan EGC. 3.

Pediatrik.

Guyton, A.C & John E.H. 2008. Patofisiologi hidrosefalus Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi XI. Jakarta: EGC.

4.

Maliawan,

dkk.

2008.

Teknik Penelitian mengenai perbaikan

Endoscopic Third Ventriculostomy klinis antara VP-Shunt dengan Dibandingkan Dengan ETV.

Ventriculoperitoneal Shunting Pada Hidrosefalus Obstruktif: Perbaikan Klinis Dan Perubahan Interleukin1, Interleukin-6, Factor Dan Neural Cairan http://www.e-

Growth

Serebrospinalis.

journal.com. Diperoleh tanggal 10 Juli 2010.

5.

Suriadi & Rita Y. 2006. Asuhan Pengertian hydrosefalus serta Keperawatan pada Anak. Edisi II. asuhan keperawatan. Jakarta: Sagung Seto.

6.

Wong, D.L. 2003. Pedoman Klinis Konsep hydrosefalus pada bayi Keperawatan EGC. Pediatrik. Jakarta:

V.

PENCAPAIAN TUJUAN Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah saya rencanakan, maka ada beberapa kegiatan yang akan saya lakukan sesuai dengan strategi pembelajaran, antara lain: A. Klien dan keluarganya Melakukan pengkajian/observasi langsung pada klien dan keluarga untuk mendapatkan data dan masalah yang dihadapi klien hydrosefalus dengan VP-shunt. B. Rekam medik klien Melakukan studi dengan melihat rekam medik klien untuk melihat riwayat penyakit, status pengobatan klien, hingga hasil laboratorium klien. C. Clinical expert Melakukan diskusi dengan ahli/praktisi mengenai perawatan VPshunt. D. Studi pustaka Membuat konsep dasar mengenai Hydrosefalus dan penanganannya (VP-Shunt).

VI.

PENILAIAN Pengukuran pencapaian tujuan pembelajaran dilakukan dengan mengukur: A. Batas waktu Kompetensi perawatan VP-Shunt dapat di selesaikan dalam waktu 3 minggu pada akhir stase pembelajaran klinik mata ajar keperawatan anak.

B. Afektif Menunjukkan kemampuan menjelaskan konsep Hydrosefalus dan perawatan VP-shunt. C. Kognitif Menunjukkan kemampuan untuk menjelaskan: pengertian, penyebab, patofisiologi hydrosefalus dan cara perawatan VP-Shunt. D. Psikomotor Mampu mendemonstrasikan cara perawatan VP-Shunt. E. Proses pembelajaran 1. Tersusunnya naskah kontrak belajar. 2. Membaca referensi terkait. 3. Membuat laporan kasus kelolaan. 4. Mengelola kasus. 5. Diskusi dengan clinical expert.

Pekalongan,

Juli 2010

Mengetahui, Pembimbing Mahasiswa

Benny Arief Sulistyanto NIP. NIM. 09.0004.N

TINJAUAN TEORI HYDROSEFALUS DENGAN VENTRIKULO PERITONEAL SHUNT


A. HYDROSEFALUS Istilah hydrocephalus diperoleh dari kata-kata Yunani "hydro" berarti air dan "cephalus" berarti kepala. Seperti namanya menyiratkan, ia adalah kondisi dimana karakteristik utama adalah akumulasi cairan yang berlebihan dalam otak. Meskipun hydrocephalus pernah sekali dikenal sebagai "air di otak," "air" sebenarnya adalah cairan cerebrospinal atau cerebrospinal fluid (CSF) cairan bening yang mengelilingi otak dan sumsum tulang (spinal cord). Akumulasi yang berlebihan dari CSF berakibat pada pelebaran yang abnormal dari ruang-ruang dalam otak yang disebut ventricles. Pelebaran ini menciptakan tekanan yang berpotensi membahyakan pada jaringan-jaringan otak. Hydrocephalus adalah akumulasi cairan serebro spinal dalam ventrikel serebral, ruang subarachnoid atau ruang subdural (Suriadi dan Yuliani, 2006). Hidrosefalus merupakan meningkatnya tekanan intrakranial akibat akumulasi cairan serebro spinalis (CSS) pada sistem ventrikel otak karena tidak seimbangnya produksi dan absorbsi CSS (Wong, 2003). Jadi, dapat disimpulkan bahwa hydrosefalus adalah peningkatan cairan serebrospinalis yang disebabkan oleh gangguan prosuksi, distribusi, dan atau absorbsi cairan serebrospinalis. Sistem ventricular terbentuk dari empat ventricles yang dihubungkan oleh jalan-jalan lintasan yang sempit. Normalnya, CSF mengalir melalui ventricles, keluar kedalam cistern-cistern (ruang-ruang tertutup yang melayani sebagai reservoir-reservoir) pada dasar dari otak, merendam permukaan-permukaan dari otak dan spinal cord (sumsum tulang), dan kemudian menyerap kembali kedalam aliran darah.

CSF mempunyai tiga fungsi-fungsi mempertahankan hehidupan yang penting: 1) untuk mempertahankan jaringan otak mengapung, bekerja sebagai bantalan atau "peredam goncangan"; 2) untuk bekerja sebagai kendaraan untuk pengantaran nutrisi-nutrisi pada otak dan mengeluarkan pembuangan; dan 3) untuk mengalir antara cranium dan spine (tulang belakang) dan mengkompensasi perubahan-perubahan pada volume darah intracranial (jumlah darah didalam otak).

B. ETIOLOGI HYDROSEFALUS Hidrosephalus pada anak atau bayi pada dasarnya dapat di bagi dua: 1. Kongenital Merupakan Hidrosephalus yang sudah diderita sejak bayi dilahirkan, sehingga: a. Pada saat lahir keadaan otak bayi terbentuk kecil. b. Terdesak oleh banyaknya cairan didalam kepala dan tingginya tekanan intrakranial sehingga pertumbuhan sel otak terganggu. 2. Didapat Bayi atau anak mengalaminya pada saat sudah besar, dengan penyebabnya adalah penyakitpenyakit tertentu misalnya trauma, TBC yang menyerang otak dimana pengobatannya tidak tuntas. Pada hidrosefalus di dapat pertumbuhan otak sudah sempurna, tetapi kemudian terganggu oleh sebab adanya peninggian tekanan

intrakranial.Sehingga perbedaan hidrosefalus kongenital denga di dapat terletak pada pembentukan otak dan pembentukan otak dan kemungkinan prognosanya. Penyebab sumbatan aliran CSF yang sering terdapat pada bayi dan anak-anak: 1. Kelainan kongenital 2. Infeksi di sebabkan oleh perlengketan meningen akibat infeksi dapat terjadi pelebaran ventrikel pada masa akut ( misal: Meningitis) 3. Neoplasma 4. Perdarahan , misalnya perdarahan otak sebelum atau sesudah lahir.

Berdasarkan letak obstruksi CSF hidrosefalus pada bayi dan anak ini juga terbagi dalam dua bagian yaitu: 1. Hidrosefalus komunikan Apabila obstruksinya terdapat pada rongga subaracnoid, sehingga terdapat aliran bebas CSF dal;am sistem ventrikel sampai ke tempat sumbatan. 2. Hidrosefalus non komunikan Apabila obstruksinya terdapat terdapat didalam sistem ventrikel sehingga menghambat aliran bebas dari CSF. Biasanya gangguan yang terjadi pada hidrosefalus kongenital adalah pada sistem vertikal sehingga terjadi bentuk hidrosefalus non komunikan.

C. SISTEM PEREDARAN CSF (CEREBRO SPINAL FLUID) Cairan serebrospinalis dibentuk dengan kecepatan sekitar 500 mlililiter per hari, yaitu sebanyak tiga sampai empat kali volume total cairan di seluruh sistem cairan serebrospinal. Kira-kira dua pertiga atau lebih cairan ini berasal dari sekresi pleksus koroideus di keempat ventrikel, terutama di kedua ventrikel lateral. Sejumlah ventrikel cairan tambahan disekresikan oleh permukaan ependim ventrikel dan membran arakhnoid, dan sebagian kecil berasal dari otak itu sendiri melalui ruang perivaskular yang mengelilingi pembuluh darah yang masuk ke dalam otak. Saluran utama aliran cairan berjalan dari pleksus koroideus dan kemudian melewati sistem cairan serebrospinal. Cairan yang disekskresikan di ventrikel lateral, mula-mula mengalir kedalam ventrikel ketiga; kemudian setelah mendapat sejumlah kecil cairan dari ventrikel ketiga, cairan tersebut mengalir ke bawah di sepanjang aquaductus sylvii ke dalam ventrikel ke empat tempat sejumlah kecil cairan di tambahkan. Akhirnya, cairan ini keluar dari ventrikel ke empat melalui tiga pintu kecil, yaitu dua foramen luscha di lateral dan satu foramen magendi di tengah dan memasuki sisterna magna yaitu suatu rongga cairan yang terletak di belakang medulla dan dibawah serabellum.

GAMBAR 1. Produksi CSF dari Pleksus Khoroideus melalui Foramen Monroe Ventrikel II melalui Aquaductus Silvii Ventrikel IV melalui For. Magendi & For. Luscha Sisterna & Rongga subarachnoid di bagian kranial maupun spinal.

D. PATOFISIOLOGI Hydrosefalus tipe non-komunikans disebabkan oleh adanya sumbatan pada akuaduktus sylvii, akibat atresia (penutupan) sebelum lahir pada beberapa bayi atau akibat tumor otak pada semua umur. Ketika cairan dibentuk oleh pleksus koroedeus pada kedua ventrikel lateral dan ventrikel ketiga, volume ketiga ventrikel ini akan sangant meningkat. Hal ini akan menekan otak ke tengkorak sehingga menjadi suatu lapisan tipis. Pada neonatus, peningkatan tekanan juga akan menyebabkan seluruh kepala membengkak karena tulang tengkorak belum menyatu. Hidrosefalus tipe kominikans biasanya disebabkan oleh sumbatan aliran cairan dalam ruang subarakhnoid di sekitar daerah dasar otak atau sumbatan vili arakhnoidalis tempat berlangsungnya absorbsi cairan ke dalam sinus venosus pada keadaan normal. Karena itu cairan terkumpul di luar otak dan dalam jumlah yang lebih sedikit di dalam ventrikel. Hal ini juga akan menyebabkan pembengkakan kepala yang hebat bila terjadi pada bayi saat tengkoraknya masih lunak dan dapat teregang, dan keadaan ini dapat merusak otak pada segala umur.

E. MANIFESTASI KLINIS 1. Kepala menjadi makin besar dan akan terlihat pada umur 3 tahun. 2. Keterlambatan penutupan fontanela anterior, sehingga fontanela menjadi tegang, keras, sedikit tinggi dari permukaan tengkorak. 3. Tandatanda peningkatan tekanan intrakranial: a. Muntah b. Gelisah c. Menangis dengan suara ringgi d. Peningkatan sistole pada tekanan darah, penurunan nadi, peningkatan pernafasan dan tidak teratur, perubahan pupil, lethargi, stupor. 4. Peningkatan tonus otot ekstrimitas 5. Tanda tanda fisik lainnya: a. Dahi menonjol bersinar atau mengkilat dan pembuluhpembuluh darah terlihat jelas. b. Alis mata dan bulu mata ke atas, sehingga sclera telihat seolaholah di atas iris. c. Bayi tidak dapat melihat ke atas, sunset eyes. d. Strabismus, nystagmus, atropi optik. e. Bayi sulit mengangkat dan menahan kepalanya ke atas.

F. PENATALAKSANAAN MEDIK Prosedur pembedahan jalan pintas (ventrikulo-jugular, ventrikuloperitoneal) shunt. Kedua prosedur diatas membutuhkan katheter yang dimasukan kedalam ventrikel lateral : kemudian catheter tersebut dimasukan kedalasm ujung terminal tube pada vena jugular atau peritonium diaman akan terjadi absorbsi kelebihan CSF.

G. PERAWATAN KHUSUS Hal hal yang harus dilakukan dalam rangka penatalaksanaan post operatif dan penilaian neurologis adalah sebagai berikut : a. Post Operatif : Jangan menempatkan klien pada posisi operasi.

b. Pada beberapa pemintasan, harus diingat bahwa terdapat katup (biasanya terletak pada tulang mastoid) di mana dokter dapat memintanya di pompa. c. Jaga teknik aseptik yang ketat pada balutan. d. Amati adanya kebocoran disekeliling balutan. e. Jika status neurologi klien tidak memperlihatkan kemajuan, patut diduga adanya adanya kegagalan operasi (malfungsi karena kateter penuh);gejala dan tanda yang teramati dapat berupa peningkatan ICP.

H. MASALAH KEPERAWATAN Masalah keperawatan menurut Suradi dan Yuliani (2001), ada enam yaitu: 1) Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan meningkatnya volume cairanserebro spinal, meningkatnya tekanan intracranial. 2) Resiko injury berhubungan dengan pemasangan shunt. 3) Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan adanya tindakan untuk mengurangi tekanan intracranial, meningkatnya tekanan intracranial. 4) Resiko infeksi berhubungan dengan efek pemasangan shunt. 5) Perubahan peruses keluarga berhubungan dengan kondisi yang

mengancam kehidupan anak. 6) Antisipasi berduka berhubungan dengan kemungkinan kehilangan anak.

I. PERENCANAAN Rencana tinmdakan sesuai teoti yang dirtetepkan olah Suriadi dan Yuliani tahun 2001, pada Hydrocephalus adalah : 1. Cegah komplikasi dengan : a. Ukur lingkar kepala setiap 8 jam. b. Monitor kondisi frontanel c. Atur posisi anak miring kearah yang tidak dilaksanakan tindakan operasi. d. Jaga posisi kepala tetap sejajar dengan tempat tidur untuk menghindari pengurangan tekanan intracranial yang tiba-tiba.

e. Observasi dan nilai fungsi neurologis tiap 15 menit hingga tanda-tanda vital stabil. f. Laporkan segera tiap perubahan tingkah laku atau perubahan tandatanda vital. g. Nilai kesadaran balutan terhadap adanya perdarahan dan daerah sekitar operasi terhadap tanda-tanda kemerahan dan pembengkakan setiap dua jam. h. Ganti posisi setiap dua jam dan jika perlu gunakan matras yang berisi udara untuk mencegah penekanan yang terlalu lama pada daerah tertentu 2. Cegah terjadinya infeksi dan injury : a. Laporkan segera jika terjadi perubahan tanda vital atau tingkah laku. b. Monitor daerah sekitar operasi terhadap adanya tanda-tanda kemerahan atau pembengkakan. c. Pertahankan kondisi terpasangnya shunt yang tidak baik maka segera untuk kolaborasi untuk pengangkatan atau penggantian shunt. d. Lakukan pemijatan pada selang shunt untuk menghindari sumbatan pada awalnya. 3. Bantu penerimaan orang tua tentang keadaan anak dan dapat berpartisipasi: a. Berikan kesempatan pada orang tua atau anggota keluarga untuk mengekspresikan perasaan. b. Hidari dalam pemberian pernyataan yang negatif. c. Tunjukkan tingkah laku yang menerima keadaan anak. d. Berikan dorongan pada orang tua untuk membantu perawatan anak, ijinkan orang tua melakukan perawatan pada anak dengan optimal. e. Jelaskan seluruh tindakan dan pengobatan yang dilakukan. f. Berikan dukungan pada tingkah laku orang tua yang positif. g. Diskusikan tingkah laku orang tuayang menunjukkan adanya frustasi.

J. EVALUASI Menurut Suradi dan Yuliani (2001), hasil yang akan dicapai : 1. Anak akan menunjukan tidak adanya tanda-tanda komplikasi perfusi jaringan serebral adekuat. 2. Anak akan menunjukan tanda-tanda terpasangnya shunt dengan tepat. 3. Anak tidak akan menunjukan tanda-tanda injury. 4. Anak tidak akan menunjukan tanda-tanda infeksi (tumor, rugor, dolor, kalor, fungsi laesa). 5. Orang tua akan menerima anak dan akan mencari bantuan untuk mengatasi rasa berduka.

K. VP-SHUNT Hydrocephalus paling sering dirawat dengan menyisipkan secara operasi sistem shunt (langsiran). Sistem ini mengalihkan aliran CSF dari CNS ke area lain dari tubuh dimana ia dapat diserap sebagai bagian dari proses sirlukasi normal. Shunt adalah tabung plastik yang lentur namun kokoh. Sistem shunt terdiri dari shunt, kateter, dan klep. Satu ujung dari kateter ditempatkan dalam ventricle didalam otak atau dalam CSF diluar spinal cord. Ujung yang lain dari kateter umumnya ditempatkan didalam rongga perut, namun mungkin juga ditempatkan pada tempat-tempat lain dalam tubuh seperti kamar dari jantung atau area-area sekitar paru dimana CSF dapat mengalir dan diserap. Klep yang dilokasikan bersama dengan kateter mempertahankan aliran satu arah dan mengatur kecepatan dari aliran CSF. Melangsir (Shunting) terdiri dari tiga komponen yaitu : 1. Pipa Ventricular ke dalam saluran tubuh adalah suatu tabung kecil yang fleksibel yang masuk di dalam salah satu rongga dimana CSF sedang ditahan. 2. Suatu klep dan reservoir adalah suatu pompa kecil yang mengatur jumlah cairan CSF.

3. Pipa Distal ke dalam saluran tubuh adalah tabung fleksibel lain yang akan mengambil cairan untuk di salurkan pada bagian tubuh yang akan menyerap cairan tersebut.

Gambar 2. Prosedur Pemasangan VP-Shunt pada hidrosefalus

Terapi definitif hidrosefalus gold standard adalah VP shunting menggunakan kateter silikon dipasang dari ventrikel otak ke peritonium. Kateter dilengkapi klep pengatur tekanan dan mengalirkan CSS satu arah yang kemudian diserap oleh peritonium dan masuk ke aliran darah. Bisa terjadi bermacam-macam komplikasi, seperti; diskoneksi komponen alat, alat yang putus, erosi alat ke kulit atau organ perut, over shunting, under shunting, buntu di proksimal atau distal, letak alat tidak pas, perdarahan subdural, dan infeksi. Menurut Shermann, dkk. (2007) komplikasi pada bulan pertama mencapai 25-50%, setelah itu, pertahun 4-5 % dan setiap komplikasi berarti harus dilakukan revisi. Setiap VP shunting memiliki kemungkinan risiko revisi sekitar 3 kali dalam 10 tahun pasca operasi.

L. ENDOSCOPIC THIRD VENTRICULOSTOMY Endoscopic Third Ventriculostomy (ETV) merupakan alternatif terapi hidrosefalus obstruktif (HO), tanpa pemasangan alat, lebih murah dan angka keberhasilan yang tinggi dibandingkan dengan VP Shunting.

Operasi dengan teknik ETV prinsipnya adalah pengaliran CSS dari dasar ventrikel III ke sisterna basalis yaitu ruang subarakhnoid di belakang sela tursika. Pada teknik ETV tidak ada alat yang dipasang, sehingga aliran CSS dibuat hampir mendekati aliran fisiologis menuju sistem penyerapan pada vili arakhnoid. Teknik ETV hanya dilakukan pada hidrosefalus obstruktif (HO). Para peneliti mendapatkan angka keberhasilan yang berbeda-beda dari 40 100 % (Van-Gelder, dkk. 2005; Bergsneider, dkk. 2006; OBrien, dkk. 2006). Pada penderita HO yang berumur di bawah 2 tahun dengan ETV didapatkan perbaikan klinis 70 % dan perbaikan radiologis 63 %, sedangkan yang berumur di atas 2 tahun didapatkan perbaikan klinis 100 % dan perbaikan radiologis 73 % (Singh, dkk. 2003; Gaab dan Schroeder, 1998; Decq, dkk. 2000; Van Aalst, dkk. 2002). Pada infantil hidrosefalus keberhasilan mencapai 46 %, sedangkan untuk penderita dengan usia di atas 2 tahun keberhasilannya mencapai 64-74 %. Di Indonesia umumnya dan di Bali khususnya masalah utama adalah harga alat yang relatif mahal apalagi kalau terjadi penggantian waktu revisi, akan sangat membebani keluarga penderita. Penelitian experimental dengan rancangan randomized pre test post test control group design yang dilakukan oleh Maliawan, dkk. Besar sampel dihitung dengan rumus Pocock. Dilakukan di SMF Bedah Saraf RSUP Sanglah Denpasar. Sebanyak 40 orang penderita hidrosefalus obstruktif umur antara 172 bulan memenuhi kriteria inklusi penelitian. Dari ke-40 orang penderita tersebut, sebanyak 20 orang (50%) dioperasi menggunakan teknik ETV, sedangkan sisanya 20 orang (50%) menggunakan teknik VP shunting. Menyimpulkan hasil penelitian 6 bulan pos-operasi, dimana terjadi perbaikan klinis yang lebih baik secara signifikan pada kelompok ETV dibandingkan dengan Kelompok VP shunting. Perbaikan luaran klinis yang dinilai adalah diplopia (strabismus convergen), sunset phenomena, spastisitas otot, respon motorik, dan respon verbal dimana p<0,05. Kecuali pada respon membuka mata dimana perbaikannya tidak berbeda signifikan (p>0,05).