Anda di halaman 1dari 7

KAKAO (Theobroma cacao L.

)
A. Morfologi Tanaman Uraian morfologi akar, batang dan cabang, daun, bunga, serta buah dan biji kakao berikut ini disarikan dari Puslitkoka (2004). Akar. Sebagian besar akar lateral berada dekat permukaan tanah, 56% pada kedalaman 0-10 cm, 26% pada kedalaman 11-20 cm, 14% pada kedalaman 21-30 cm, dan hanya 4% pada kedalaman >30 cm, mempunyai percabangan yang rumit, dengan jangkauan jelajah melampaui batas proyeksi tajuk. Batang dan Cabang. Pertumbuhan batang bersifat dimorfisme, yaitu membentuk tunas ortotrop yang tumbuh ke atas (tunas air) dan tunas plagiotrop yang tumbuh ke samping (tunas kipas). Batang tanaman asal biji akan berhenti tumbuh setelah mencapai tinggi 0,9-1,5 m untuk berubah dari pola pertumbuhan ortotrop ke plagiotrop. Tempat percabangan plagiotrop tersebut disebut jorket (jorquette) yang diawali dengan penghentian pemanjangan ruas dan penghentian perkembangan stipula, kuncup ketiak daun, dan tunas daun. Dari ujung titik perhentian tersebut selanjutnya tumbuh 3-6 cabang yang arah pertumbuhannya membentuk sudut 0-60o ke arah horizontal. Cabang-cabang plagiotrop tersebut disebut cabang primer yang selanjutnya membentuk cabang-cabang lateral. Dari cabang-cabang plagiotrop biasanya akan tumbuh cabang plagiotrop, tetapi kadang-kadang juga dapat tumbuh cabang ortotrop. Pada kakao liar, cabang ortotrop tumbuh membentuk cabang plagiotrop baru sehingga membentuk tajuk yang bersusun. Pada kakao budidaya, cabang ortotrop biasanya dipangkas. Tanaman kakao budidaya tumbuh mencapai tinggi 1,8-3,0 m pada umur 3 tahun dan tinggi 4,5-7 m pada umur 12 tahun. Daun. Daun berbentuk bulat memanjang (oblong) dengan ujung meruncing (acuminate) dan pangkal runcing (acute). Tulang daun tersusun menyirip, menonjol ke permukaan bawah daun, permukaan licin dan mengkilap, tepi rata, daging tipis tetapi kuat, warna daun dewasa hijau tua (tergantung pada kultivar). Daun merupakan daun tunggal yang duduk berselang seling dengan tangkai yang mempunyai dua persendian. Sebagaimana dengan tunas, daun juga bersifat dimorfisme. Daun pada tunas ortotrop bertangkai panjang (7,5-10 cm), sedangkan daun pada tunas plagiotrop bertangkai pendek (sekitar 2,5 cm). Pertumbuhan daun pada tunas plagiotrop berlangsung serempak tetapi berkala, ditandai dengan pertunasan yang mempunyai 36 helai daun sekaligus pada waktu tertentu diikuti dengan periode dorman selama waktu tertentu. Bunga. Bunga tumbuh dari bekas ketiak daun pada cabang dan batang (kauliflori). Tempat tumbuhnya bunga semakin lama semakin membesar membentuk bantalan bunga (cushion). Bunga terdiri atas 5 daun kelopak yang bebas satu sama lain, 5 daun mahkota, 10 tangkai sari yang tersusun dalam 2 lingkaran (masing-masing 5 tangkai sari, tetapi hanya 1 lingkaran yang fertil), dan 5 daun buah yang bersatu. Warna bunga tergantung kultivar, bervariasi putih, ungu, atau kemerahan. Tangkai halus dengan panjang 1,0-1,5 cm. Daun mahkota mencapai panjang 6-8 mm, terdiri atas bagian pangkal yang berbentuk kuku binatang dengan 2 garis merah dan bagian ujung berupa lembaran tipis berwarna putih. Buah dan Biji. Bentuk dan warna buah bervariasi tergantung kultivar. Buah pada umumnya berbentuk bulat memanjang sampai bulat telur, sedangkan warna buah terdiri atas dua warna dasar, yaitu warna dasar buah muda hijau atau hijau agak yang berubah menjadi kuning setelah masak dan warna dasar buah muda merah yang berubah menjadi jingga setelah masak. Buah masak setelah berumur 6 bulan dan panjang 10-30 cm, teragntung pada kultivar dan faktor lingkungan. Biji tersusun dalam lima baris mengelilingi poros buah, dengan jumlah total 20-50 biji per buah. Kotiledon berwarna putih untuk tipe Criollo dan ungu untuk tipe Forastero. Biji dibungkus oleh

kulit biji (testa) yang diselaputi oleh daging buah yang berwarna putih dan berasa asam manis. B. Taksonomi Menurut Puslitkoka (2004), kakao termasuk divisi Spermatophyta, sub-divisi Angiospermae, kelas Dicotyledoneae, sub-kelas Dialypetalae, ordo Malvales, famili Sterculiaceae, genus Theobroma, dan spesies T. cacao L. Nama ilmiah sinonim tanaman kakao adalah: Theobroma cacao ssp. cacao L., Theobroma cacao ssp. sphaerocarpum (A. Chev.) Cuatrec., Theobroma cocao L., Theobroma leiocarpum Bernoulli, Theobroma pentagonum Bernoulli, Theobroma sativa (Aubl.) Lign. & Le Bey, dan Theobroma sphaerocarpum A. Chev. Kakao terdiri atas dua sub-spesies, yaitu cacao dan sphaerocarpum. Subspesies kakao terdiri atas 4 forma, yaitu forma cacao, forma pentagonum, forma leicocarpum, dan forma lacandonense. Dalam budidaya kakao dikenal tiga tipe besar kakao, yaitu tipe Criollo (kulit buah tebal dan lunak dengan permukaan luar kasar beralur jelas, biji bulat besar, kotiledon putih), Forastero (kulit buah tipis tetapi kuat dengan permukaan luar halus beralur tidak jelas, biji lonjong berukuran lebih kecil, kotiledon ungu), dan Trinitario (tidak tersedia ciri). C. Bahan Tanam dan Penyiapan Bibit Bahan tanaman yang diperlukan untuk budidaya kakao adalah biji untuk perbanyakan generatif serta batang dan cabang untuk perbanyakan vegetatif. Pemilihan bahan tanam yang tepat perlu dilakukan untuk memperoleh tanaman kakao yang bukan saja berproduksi tinggi tetapi juga tahan terhadap hama dan penyakit. Tanaman kakao yang dianjurkan diperbanyak dengan biji adalah kakao hibrida dari tipe lindak yang telah terbukti berproduksi tinggi dan tahan hama dan penyakit. Biji dapat diperoleh melalui penyerbukan alami (open pollination) atau penyerbukan buatan (hand pollination). Penyerbukan buatan dilakukan terutama untuk menyilangkan tanaman guna memperoleh klon hibrida. Perbanyakan dengan menggunakan bahan tanam biji akan menghasilkan tanaman dengan batang utama ortotrop yang akan membentuk perempatan pada umur setelah tanaman mencapai umur tertentu. Perbanyakan dengan menggunakan bahan tanam berupa batang dan cabang dilakukan dengan cara okulasi dan kultur jaringan. Okulasi dilakukan dengan menempelkan mata kayu (entres) pada batang bawah yang telah disayat kulit kayunya dengan ukuran tertentu, diikat, dan dipelihara sampai entres menempel dengan sempurna tanpa harus diikat dengan tali. Tanaman hasil perbiakan secara vegetatif menghasilkan tanaman yang sesuai dengan entres yang digunakan. Jika entres berasal dari cabang plagiotrop maka akan dihasilkan tanaman berpola percabangan plagiotrop. Perbanyakan secara vegetatif dengan cara okulasi telah lama dilakukan untuk tanaman kakao mulia, sedangkan perbiakan vegetatif dengan kultur jaringan masih dalam penelitian. Untuk perbiakan secara generatif maupun vegetatif diperlukan pohon induk sebagai asal bahan tanam. Menurut Puslitkoka (2004), pohon induk yang akan digunakan harus memenuhi syrat-syarat: 1) Mempunyai daya hasil 200% dari daya hasil rata-rata populasi tanaman. 2) Menghasilkan biji dengan berat biji kering lebih dari 1 g, kandungan lemak lebih dari 55%, dan persentase kulit ari kurang dari 12%. 3) Tahan atau toleran terhadap hama dan penyakit utama tanaman kakao. Perbanyakan tanaman kakao pada tingkat petani lebih sering dilakukan dengan cara generatif karena dengan cara ini dapat dihasilkan bibit dalam waktu yang cepat dan jumlah yang banyak. Untuk menyiapkan benih, buah dipotong membujur, lalu diambil hanya benih yang berada di bagian tengah buah sebanyak 20-25 biji. Daging buah dibersihkan dengan meremas-remasnya dalam serbuk gergaji lalu dicuci dengan air dan kemudian biji dibilas dengan suspensi fungisida dan dikeringkan dengan sinar

matahari secukupnya. Bedeng persemaian disiapkan memanjang Utara-Selatan dengan ukuran panjang 10-15 m, lebar 1,2-1,5 m, dan tinggi 10 cm. Tanah bedeng dicangkul sedalam 30 cm, permukaannya dirapikan dan diberi lapisan pasir setebal 510 cm, dan tepinya diberi dinding penahan dari kayu atau batu bata. Bedengan diberi naungan dari anyaman daun kelapa atau bahan laindengan tinggi atap di sisi Timur 1,5 m dan di sisi Barat 1,2 m. Sebelum disemai, benih dicelup ke dalam larutan formalin 2,5% selama 10 menit. Benih dibenamkan dengan posisi mata benih ke arah bagian bawah pada lapisan pasir sedalam 1/3 bagian dengan jarak 2,5 cm x 5 cm. Penyiraman dilakukan setelah penyemaian selesai dilakukan dan selanjutnya dua kali sehari disertai dengan penyemprotan insektisida jika perlu. Setelah 4-5 hari di persemaian, benih sudah berkecambah dan siap dipindahtanam ke polybag. Sebelum pemindahan kecambah, polybag 20 cm x 30 cm diisi campuran tanah subur, pupuk kandang dan pasir dengan perbandingan 2:1:1 sampai 1-2 cm di bawah tepi polybag. Kecambah dimasukkan ke dalam lubang sedalam telunjuk, lalu lubang ditutup dengan media. Polybag berisi kecambah disimpan di lokasi pembibitan dengan jarak 60 cm dalam pola segitiga sama sisi. Pembibitan disiram dua kali sehari kecuali jika hujan. Air siraman tidak boleh menggenangi permukaan media. Bibit dipupuk setiap 14 hari sampai berumur 3 bulan dengan ZA (2 gram/bibit) atau urea (1 gram/bibit) atau NPK (2 gram/bibit). Pupuk diberikan pada jarak 5 cm melingkarai batang kecuali untuk urea yang diberikan dalam bentuk larutan. Pengendalian hama dilakukan dengan penyemprotan insektisida dan fungisida setiap 8 hari. Setelah berumur 3 bulan, naungan dikurangi secara bertahap. Bibit yang baik untuk ditanam di lapangan berumur 4-5 bulan, tinggi 50-60 cm, berdaun 20-45 helai dengan sedikitnya 4 helai daun tua, diameter batang 8 mm dan sehat. D. Fisiologi dan Syarat Tumbuh Kebutuhan Naungan. Mengingat di habitat aslinya kakao tmbuh di kawasan hutan tropika basah maka dalam membudidayakannya tanaman ini memerlukan naungan secukupnya, terutama ketika tanaman masih muda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kakao mulia dan kakao lindak memerlukan tingkat naungan yang berbeda. Laju asimilasi bersih bibit kakao mulia tertinggi dicapai pada tingkat naungan 20%, sedangkan kakao lindak justeru dalam keadaan tanpa naungan (Winarsih 1987). Namun demikian, Muary (1953) menunjukkan bahwa hasil buah dan biji tertinggi dicapai pada intensitas penyinaran 50%. Pengaruh naungan dan intensitas matahari tersebut dapat dimodifikasi dengan pemupukan secara berimbang. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembungaan. Menurut Alvim (1984) tanaman yang dipelihara dengan baik akan mulai berbubga pada umur 2 tahun. Setelah berumur 3-4 tahun tanaman akan berbunga dan bertunas secara berurutan, dengan permulaan masa bertunas setelah 1-2 bulan tidak bertunas. Pembungaan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, di antaranya situasi nutrisi, kompetisi internal, aktivitas kambium, naungan, suhu, serta distribusi hujan dan kelembaban (Puslitkoka 2004). Pemblokiran aliran nutrisi dari daun ke bagian-bagian tanaman dengan cara pengeratan kulit batang dapat meningkatkan pembungaan di atas keratan (Hutcheon 1973). Menurut Tjasadiharja (980), pada saat berbuah lebat pembungaan cenderung menjadi sangat berkurang sehingga pemetikan perlu dilakukan setiap 2 minggu untuk memacu pembungaan (Alvim 1984). Hambatan pembungaan ini terjadi karena biji kakao menghasilkan giberelin yang dapat menghambat pembungaan. Pembungaan berkurang pada saat aktivitas kambium menurun dan sebaliknya maksimal saat aktivitas kambium meningkat (Alvim 1984). Pada kondisi tanpa naungan, tanaman kakao berbunga lebih awal dan dengan jumlah bunga lebih banyak daripada pada kondisi dengan naungan (Asomaning & Kwaka 1968) karena naungan menyebabkan terjadinya perubahan iklim mikro yang berpengaruh langsung pada pembungaan, Menurut Avim (1984) kakao berbunga optimal pada kisaran suhu 26-30oC dengan suhu minimal 23oC. Pembungaan dapat dipacu dengan melakukan pengairan pada

saat tanaman mengalami stress karena kekeringan. Pembungaan juga diinduksi dengan kelembaban udara tinggi (90-95%). Kesesuaian Lahan. Kesesuaian lahan untuk budidaya kakao ditentukan oleh faktor iklim, elevasi, kemiringan lahan, sifat fisik tanah, dan ketersediaan hara tanah. Faktor iklim meliputi unsur curah hujan tahunan dan lama bulan kering, sifat fisik tanah meliputi unsur kedalam efektif, tekstur tanah, dan persentase batu di permukaan, serta ketersediaan unsur hara mencakup unsur pH serta kandungan C-organik, KPK, KB, N, P, dan K. Berdasarkan atas faktor dan unsur tersebut, kesesuaian lahan untuk budidaya kakao dibedakan menjadi sangat sesuai, cukup sesuai, kurang sesuai, dan tidak sesuai. Lahan yang sangat sesuai untuk budidaya kakao adalah yang mempunyai curah hujan tahunan 1.500-2.500 mm, jumlah bulan kering 0-1, elevasi 0-600 untuk kakao mulia atau 0-300 untuk kakao lindak, kemiringan lahan 0-8%, kedalaman efektif tanah >150 cm, tekstur sandy loam, clay loam, silt loam, silty clay, dan loam, tanpa batu di permukaan, pH 6-7, kandungan C-organik 2-5%, KPK >15 me/100 g, KB >35%, serta kandungan N, P, dan K sedang-sangat tinggi (Puslitkoka 2004). E. Penyiapan Tanah dan Jarak Tanam Lahan perkebunan kakao dapat berasal dari hutan asli, hutan sekunder, tegalan, bekas tanaman perkebunan atau pekarangan. Pada lahan yang miring perlu dibuat teras agar tidak terjadi erosi. Pada lahan dengan kemiringan 25-60% perlu dibuat teras individu. Cara penyiapan lahan dapat dengan cara pemberihan selektif dan pembersihan total. Alang-alang di tanah tegalan harus dibersihkan/dimusnahkan supaya tanaman kakao dan pohon naungan dapat tumbuh baik. Untuk memperlancar pembuangan air, saluran drainase yang secara alami telah ada harus dipertahankan dan berfungsi sebagai saluran primer. Saluran sekunder dan tersier dibangun sesuai dengan keadaan lapangan. Tanah-tanah dengan pH di bawah 5 perlu diberi kapur berupa batu kapur sebanyak 2 ton/ha atau kapur tembok sebanyak 1.500 kg/ha. Pemupukan sebelum bibit ditanam dapat dilakukan guna untuk merangsang pertumbuhan bibit cokelat. Lubang-lubang tersebut perlu diberi pupuk dengan pupuk Agrophos sebanyak 300 gram/lubang atau pupuk urea sebanyak 200 gram/lubang, pupuk TSP sebanyak 100 gram/lubang. Pupuk-pupuk tersebut diberikan 2 (dua) minggu sebelum penanaman bibit cokelat, kemudian lubang tersebut ditutup kembali dengan tanah atas yang dicampur dengan pupuk kandang/kompos. Jarak tanam yang diajurkan adalah 3 m X 3 m dengan kerapatan pohon 1.100 pohon/hektar. Kebutuhan bibit termasuk untuk penyulaman adalah 1250 batang. Lubang tanam dibuat 2-3 bulan sebelum tanam dengan ukuran: 1) 40 x 40 x 40 cm untuk tanah bertekstur sedang 2) 60 x 60 x 60 cm atau 80 x 80 x 80 cm untuk tanah bertekstur berat 3) 30 x 30 x 30 cm untuk tanah bertekstur ringan Lubang dipupuk dengan Agrophos 300 gram/lubang atau campuran urea 200 gram/lubang dan Sp-36 100 gram/lubang dan selanjutnya lubang tanam ditutup kembali. Penanaman bibit dilakukan dengan menyayat polybag pada bagian sisi dan bawah dan mengeluarkan bibit dan media dalam keadaan utuh. Lubang tanam yang telah ditutup kembali tersebut digali selebar diameter polybag. Bibit kemudian diletakkan sehingga permukaan media sejajar dengan tanah. Tanah galian dimasukkan kembali ke sekeliling bibit. Bibit dengan dua potong kayu/bambu dan diberi pagar pengaman dari bambu untuk mencegah gangguan hewan. F. Pola Pertanaman dan Tanaman Pelindung Budidaya kakao dapat dilakukan secara monokultur, tumpangsari, atau tanam campuran. Pada pertanaman monokultur, tanaman kakao dibudidayakan hanya

dengan tanaman pelindung yang tidak menghasilkan. Pada pertanaman tumpangsari dan tanam campuran, tanaman kakao dibudidayakan dengan tanaman lain sebagai pelindung maupun bukan pelindung. Pada pertanaman tumpangsari, tanaman kakao dan tanaman lain ditanam dalam larikan yang diatur, sedangkan pada tanaman campuran tanaman lain ditaman tidak dalam larikan yang jelas. Tanaman lain yang lazim ditumpangsasrikan maupun ditanam campur dengan kakao adalah kelapa (Cocos nucifera) dan tanaman penghasil kayu dalam pola agroforestry, tetapi selain itu juga sering ditanam pada lahan yang sama dengan kapuk randu (Ceiba pentandra), petai (Parkia speciosa), kelapa sawit (), karet (), dan pinang (Areca catechu) (Puslitkoka 2004). Tanaman lain yang ditanam secara tumpangsari maupun tanam campur dengan kakao tersebut sekaligus berfungsi sebagai tanaman pelindung. Penggunaan tanaman lain sebagai tanaman tumpangsari dan pelindung mempunyai kekurangan dibandingkan dengan penggunaan kelapa dan tanaman penghasil kayu. Pada tumpangsari dengan kelapa, kelapa sebaiknya ditanam 3-4 tahun lebih awal dengan jarak tanam 9 x 9 m (123 pohon/ha) atau 12 m x 12 m (69 pohon/ha) masing-masing dengan kakao dengan jarak tanam 3 m x 3 m (1.100 pohon/ha) atau 3 m x 2 m (1.667 pohon/ha) (Puslitkoka 2004). Pola agroforestry yang sebaiknya digunakan adalah dengan tanaman penghasil kayu, lamtoro, dan pisang dengan tanaman penghasil kayu yang ditanam dalam baris tunggal atau baris ganda. Tanaman penghasil kayu yang sebaiknya digunakan adalah sengon (Paraseriantes falcataria), jati (Tectona grandis), atau mahoni (Sweetenia mahagoni). Pada pertanaman pohon penghasil kayu baris tunggal digunakan jarak tanam pohon 3 m x 3 m (158 pohon/ha), kakao 3 m x 3 m (990 pohon/ha), lamtoro 3 m x 6 m (populasi 495 pohon/ha, dan pisang 3 m x 6 m (populasi 330 pohon/ha). Pada pertanaman pohon penghasil kayu baris ganda digunakan jarak tanam pohon 3 m x 3 m (264 pohon/ha), kakao 3 m x 3 m (792 pohon/ha), lamtoro atau gamal 3 m x 6 m (396 pohon/ha), dan pisang 3 m x 6 m (264 pohon/ha). Pada budidaya kakao dikenal tanaman pelindung sementara dan tanaman pelindung tetap. Tanaman pelindung sementara diperlukan pada saat tanaman kakao belum berproduksi, sedangkan tanaman pelindung tetap diperlukan setelah tanaman kakao berproduksi untuk melindungi tanaman dari sinar matahari dan angin. Selain untuk melindungi tanaman, tanaman pelindung juga memberikan hasil tambahan sehingga dapat meningkatkan produktivitas lahan, terutama ketika kakao belum berproduksi. Jenis tanaman pelindung sementara yang baik adalah pisang (Musa paradisiaca), turi (Sesbania sp.), garut (Maranta arundinacea), dan tanaman legum penambat nitrogen (Flemingia congesta atau Clotaralia sp.). G. Pemeliharaan Tanaman Pemeliharaan tanaman meliputi kegiatan penyulaman, pengendalian gulma, pemangkasan, pemupukan, penyiraman, pengendalian hama dan penyakit, penyerbukan buatan, dan rehabilitasi tanaman dewasa. Penyulaman perlu dilakukan sampai tanaman berumur 10 tahun. Pengendalian gulma dilakukan dengan membabat gulma yang tumbuh sekitar 50 cm dari pangkal batang minimal 1 bulan sekali atau dengan menyemprotkan herbisida sebagai alternatif terakhir yang dilakukan dengan dosis 1,5-2,0 liter/ha yang dicampur dengan 500-600 liter air. Pemangkasan yang perlu dilakukan terdiri atas pemangkasan bentuk, pemangkasan pemeliharaan, dan pemangkasan produksi. Pemangkasan bentuk untuk mengatur bentuk tajuk tanaman dilakukan ketika tanaman berumur 8-12 bulan dengan membuang cabang yang lemah dan mempertahankan 3-4 cabang yang letaknya merata ke segala arah untuk membentuk jorquette (percabangan) dan ketika tanaman berumur 18-24 bulan dengan membuang cabang primer sejauh 30-60 cm dari jorquette (percabangan). Pemangkasan pemeliharaan dilakukan untuk membuang tunas yang tidak diinginkan, cabang kering, cabang melintang dan ranting yang menyebabkan

tanaman terlalu rimbun, sedangkan pemangkasan produksi dilakukan untuk mendorong tanaman agar berproduksi secara maksimal dengan cara mengurangi kelebatan daun. Pemupukan untuk tanaman belum berproduksi dilakukan dengan menggunakan pupuk dan dengan dosis sebagai berikut: 1) Umur 2 bulan: ZA=50 gram/pohon. 2) Umur 6 bulan: ZA=75 gram/pohon; TSP=50 gram/pohon; KCl=30 gram/pohon; Kleserit=25 gram/pohon 3) Umur 12 bulan: ZA=100 gram/pohon 4) Umur 18 bulan: ZA=150 gram/pohon; TSP=100 gram/pohon; KCl=70 gram/pohon; Kleserit=50 gram/pohon 5) Umur 24 bulan: ZA=200 gram/pohon Pemupukan untuk tanaman belum berproduksi dilakukan dengan menggunakan pupuk dan dengan dosis sebagai berikut: 1) Umur 3 tahun: ZA = 2 x 100 gram/pohon, Urea = 2 x 50 gram/pohon, TSP = 2 x 50 gram/pohon, KCl = 2 x 50 gram/pohon. 2) Umur 4 tahun: ZA = 2 x 100 gram/pohon, Urea = 2 x 100 gram/pohon, TSP = 2 x 100 gram/pohon, KCl = 2 x 100 gram/pohon. 3) Umur > 5 tahun: ZA = 2 x 250 gram/pohon, Urea = 2 x 125 gram/pohon, TSP= 2 x 125 gram/pohon, KCl = 2 x 125 gram/pohon. Pemupukan dilakukan dengan membuat alur sedalam 10 cm di sekeliling batang kakao dengan diameter kira-kira tajuk. Waktu pemupukan di awal musim hujan dan akhir musim hujan. Penyiraman diperlukan hanya pada tanaman muda, terutama tanaman yang tidak diberi pohon pelindung. Pengendalian hama dan penyakit dengan menggunakan pestisida sedapat mungkin dilakukan sebagai alternatif terakhir. Jenis dan dosis aplikasi pestisida disesuaikan untuk jenis hama atau penyakit yang terdapat pada tanaman kakao. Pengendalian hama secara mekanik, fisik, hayati, genetik, dan budidaya perlu diprioritaskan penggunaannya. Peningkatan persentase pembuahan dapat dilakukan dengan penyerbukan buatan. Penyerbukan buatan dilakukan dengan menggosok bunga yang telah mekar dengan jari tangan yang telah digosokkan pada bunga lain yang dipetik sebagai sumber serbuk sari dan kemudian menyungkup bunga yang telah diserbuki. Tanaman dewasa yang produktivitasnya mulai menurun tidak diremajakan direhabilitasi dengan cara okulasi tanaman dewasa atau sambung samping tanaman dewasa. Cara yang kedua lebih unggul karena peremajaan dapat dilakukan dalam waktu yang lebih singkat, murah dan lebih cepat berproduksi. Entres diambil dari kebun entres atau kebun produksi yang telah diseleksi, berupa cabang berwarna hijau, diameter 0,751,50 cm dan panjang 40-50 cm. Sambungan dapat dibuka setelah 3-4 minggu. H. Musim Berbuah dan Panen Kakao berbuah sepanjang tahun dan panen dapat dilakukan setiap 7-14 hari sekali. Buah akan masak pada waktu 5,5 bulan (di dataran rendah) atau 6 bulan (di dataran tinggi) setelah penyerbukan. Kakao masak pohon dicirikan dengan perubahan warna buah: 1) Warna buah sebelum masak hijau, setelah masak alur buah menjadi kuning. 2) Warna buah sebelum masak merah tua, warna buah setelah masak merah muda, jingga, kuning. Untuk memanen kakao digunakan pisau tajam. Bila letak buah tinggi, pisau disambung dengan galah. Pemetikan cokelat hendaknya dilakukan hanya dengan memotong tangkai buah tepat dibatang/cabang yang ditumbuhi buah dan sedapat mungkin dihindarkan melukai batang yang ditumbuhi buah agar tidak menghalangi pembungaan pada periode berikutnya. Tanaman kakao mencapai produksi maksimal pada umur 5-

13 tahun. Produksi per hektar dalam satu tahun adalah sekitar 1.000 kg biji kering, tergantung pada pola pertanaman yang diterapkan. Daftar Pustaka Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat 1995. Vadecum Budidaya Kakao (Theobroma cacao L). Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Bandung. Direktorat Jenderal Perkebunan. 1976. Pedoman Bercocok Tanam Coklat. Direktorat Jenderal Perkebunan, Jakarta. 95 hlm. Puslitkoka (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia) 2004. Panduan Lengkap Budidaya Kakao. PT Agromedia Pustaka, Depok. Soenaryo dan Situmorang. 1978. Budi Daya Coklat dan Pengelolaannya. Balai Penelitian Perkebunan Bogor. 32 hlm. Sudarsono. 1980. Budi Daya Coklat. Lembaga Pendidikan Perkebunan, Yogyakarta. 49 hlm. Sunanto, H.1992. Cokelat: Budidaya, Pengolahan Hasil dan Aspek Ekonomisnya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Winarsih, S., & A. A. Prawoto. 1995. Pedoman Teknis Rehabilitasi Tanaman Kakao Dewasa dengan Metode Sambung-Samping (Side-Cleft Grafting). Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jember.