Anda di halaman 1dari 6

TUGAS AKTIFITAS FUNGSIONAL REKREASI PADA KASUS STROKE HEMIPARESE DEXTRA KELOMPOK 4 :

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Annisa Amalia Dwi Wulandari Edin Zainudin Febrianto Hermawan Gardilla Eka Isa Cahya Permadi Istiazah (0806408550) Nadia Iffah(0806408651) Nanda Citra Anggraeni

(0806408286) (0806408380) (0806408393) (0806408456) (0806408506) (0806408544)

(0806408664) (0806408784) (0806408916)

10. Palupi Felicia 11. Siti Aminah Rihandayani

12. Wa Ode Zahra Zilullah T (0806408973)


13. Zazillah

(0806409010) (0806408023)

14. Zulia Ermila

PROGRAM VOKASI KEDOKTERAN BIDANG STUDI FISIOTERAPI UNIVERSITAS INDONESIA

JAKARTA, NOVEMBER 2010

AKTIFITAS FUNGSIONAL REKREASI PADA KASUS STROKE HEMIPARESE DEXTRA


Contoh Kasus Seorang Ibu, 63 tahun, hobi menari, mantan sekertaris, dengan diagnose post stroke hemipharese dextra dengan spastic dan dimensia ringan. Intervensi Fisioterapi Pada Kasus stroke hemipharese dextra
Peranan fisioterapi pada kasus stroke hemipharese dextra masuk dalam tahapan rehabilitasi. Sesuai dengan contoh kasus yang telah diuraikan di atas maka tindakan fisioterapi yang dapat diberikan antara lain adalah : 1. Inhibisi spastic 2. Exercise PNF untuk Reedukasi gerakan 3. Latihan Lingkup Gerak Sendi baik aktif maupun pasif untuk menjaga ROM

Gambaran Umum Konsidi Pasien


Pasien dengan post stroke hemipharase dextra sudah 1,5 tahun. Dengan spastic nilai 1 Wajah mencong ke kiri, alis kiri lebih tinggi dari kanan, pola sinergis cenderung ke endorotasi flexi elbow.dengan pola jalan hemiplegic gait.

Aktifitas Fungsional Dan Rekreasi Pada Pasien Stroke


Seorang fisioterapi dalam melakukan intervensi memandang individu sebagai manusia utuh dengan berbagai aspek dengan berbagai komponen komponen dan kebutuhan dalam melakukan aktifitas. Melalui terapi akan didapatkan berbagai kemajuan yang kemudian akan mendukung kapasitas fisik dan kemampuannya dalam hal untuk mempertahankan hidupnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam melakukan intervensi untuk memenuhi dua hal tersebut diatas dapat dilakukan dengan aktifitas fungsional rekreasi, yaitu bentuk aktifitas terapi yang dilakukan dengan membuat terapi sedemikian rupa hingga dapat memiliki efek gembira pada pasien tanpa meninggalkan makna terapi yang sesungguhnya. Pada kasus post stroke hemipharase dextra sudah 1 tahun, maka aktifitas fungsional rekreasi yang dapat dilakukan sebagai terapi antara lain :

1. Berdansa dengan irama music klasik sekaligus pasien dapat menyalurkan hobinya. Aspek yang dapat diperoleh dari latihan ini adalah : - Kapasitas fisik yang dapat diraih : Reedukasi gerakan yang spastic - Aspek Emosi yang dapat diraih : Ps dapat mengikuti pola ekstermitasnya dengan benar - Aspek Sosial yang dapat diraih : Ps dapat bersosialisasi dengan orang lain meskipun memiliki hambatan fungsi gerak. - Aspek Intelegensi yang dapat diraih - Konservasi energy : Ps dapat mengikuti instruksi dari terapis : Ps melakukan dansa dan istirahat setiap 5 menit sekali atau sesuai toleransi ps. Jika ps lelah maka istirahat (duduk di kursi dan minum teh manis) 2. Pasien diberikan kegiatan merajut sambil mendengarkan music nostalgia - Kapasitas fisik yang dapat diraih dan : Reedukasi pola gerakan yang spastic memberikan latihan yang kognitif. sangat latihan penting

kognitif merupakan salah satu bentuk terapi nonfarmakologis dilakukan dalam rangka peningkatan daya ingat dan konsentrasi, mengurangi gangguan psikologis seperti depresi, ansietas, agitasi, halusinasi, insomnia. - Aspek Emosi yang dapat diraih : Ps bersabar untuk merajut tiap benang hingga selesai. - Aspek Intelegensi yang dapat diraih :latihan kognitif music yakni memberikan dengan dapat stimulasi kognitif,salah satunya nostalgia

mendengarkan

mempertahankan kemampuan kognitif yang masih ada.latihan tersebut dapat melatih daya ingat dan mencegah kerusakan lebih lanjut.selain itu pemberian latihan juga dapat membantu mempertahan kualitas dimensia

dengan

memanfaatkan

kemampuan

yang

masih ada seoptimal mungkin. 3. Pasien diberikan Senam Stroke Aspek yang dapat diperoleh dari latihan ini adalah : - Kapasitas fisik yang dapat diraih - Aspek Emosi yang dapat diraih : :Reedukasi gerakan yang spastic, meningkatkan endurance sabar dalam mengikuti senam sampai selesai - Aspek Sosial yang dapat diraih : dapat bersosialisasi dengan pasien lainnya, dapat termotivasi untuk latihan - Aspek Intelegensi yang dapat diraih 4. Edukasi Ps duduk sambil meminum teh beristirahat setelah latihan bersama Fts. Fts memberikan notes book untuk Ps. Ps di sarankan untuk menulis latihan yang tadi telah ia lakukan. Dan menulis setiap kegiatan yang dilakukannya setiap hari. Aspek yang dapat diperoleh dari latihan ini adalah : - Aspek Emosi yang dapat diraih : dapat menyalurkan kebiasaan Ps seperti waktu Ps masih menjadi sekertaris - Aspek Intelegensi yang dapat diraih: Ps dapat mengingat apa yang telah ia lakukan sehari hari dengan menulis di Notes book nya. KESIMPULAN Stroke adalah gangguan fungsi saraf akut yang disebabkan oleh karena gangguan peredaran darah otak, dimana secara mendadak (dalam beberapa detik) atau secara cepat (dalam beberapa jam) timbul gejala dan tanda yang sesuai dengan daerah fokal di otak yang terganggu. Timbulnya kelainan saraf yang ada sifatnya mendadak. Gejala dan tanda, harus sesuai daerah mana yang diotak terganggu. Otak mendapatkan darah dari sepasang arteri karotis interna kiri dan kanan di sebelah depan, dan sepasang arteri vertebralis yang akan menyatu menjadi arteri basilaris di bagian belakang. Pertemuan sepasang : dapat mengingat gerakan gerakan latihan stroke

arteri karotis interna dan arteri basilaris, akan membentuk bangunan yang disebut Circulus Willici. Peranan fisioterapi dalam kasus stroke masuk dalam tahap rehabilitasi. Seorang fisioterapis dalam melakukan intervensi memandang individu sebagai manusia utuh dengan berbagai aspek dengan berbagai komponen komponen dan kebutuhan dalam melakukan aktifitas. Cara yang dapat dilakukan dalam melakukan intervensi untuk memenuhi dua hal tersebut diatas dapat dilakukan dengan aktifitas fungsional rekreasi yang sangat cocok dilakukan pada kasus stroke dengan memperhatikan empat aspek penting yaitu meningkatkan kapasitas fisik, intelektualitas, emosi, dan kehidupan sosial pasien. Pada kasus ini peran fisioterapis terutama menjadi motivator untuk dapat kembali beraktifitas secara mandiri. Karena seringkali pasien dengan kasus stroke merasa depresi dan kehilangan motivasi untuk bertahan hidup. Latihan dengan aktifitas fungsional rekreasi dapat dimulai dengan memilih-milih latihan mana yang sesuai dengan hobi pasien agar pasien dapat lebih termotivasi untuk melakukan latihan yang diberikan dan agar hasil yang dicapai lebih maksimal.