Anda di halaman 1dari 2

Kasus El Tari, Sengketa Tanah Merebak Lagi

VIVAnews-- Setelah kasus Mesuji di Lampung dan Sumatera Selatan, dan Bima Nusa Tenggara Barat, konflik serupa terjadi di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ratusan warga dari enam suku itu berbondong menuju Bandara El Tari Kupang, Selasa 17 Januari 2011. Mereka mencoba menduduki bandara itu. Ratusan orang itu berusaha masuk ke areal bandara, namun dihadang aparat kepolisian, dan petugas keamanan PT Angkasa Pura. Warga tetap ngotot meminta tanah bandara itu karena menganggap telah diserobot sepihak oleh TNI AU. Warga menuding TNI AU mencaplok lahan seluas 540 hektare milik mereka untuk pembangunan Bandara El Tari Kupang. Lahan itu mereka klaim sebagai tanah ulayat. Akibat aksi pendudukan ini, puluhan penumpang di bandara sempat tertahan di depan pintu masuk pada pagi hari. Para penumpang baru diizinkan masuk ke bandara setelah petugas memastikan tak adanya gangguan keamanan terkait aksi itu. Salah satu kepala suku yang turut dalam aksi itu, Samuel Saba'at mengatakan lahan mereka dicaplok TNI AU dengan dasar sertifikat tanah dikeluarkan Badan Pertanahan Kota Kupang tahun 1992. Parahnya, Samuel mengklaim, surat itu dikeluarkan tanpa sepengetahuan enam kepala suku. "Tanah kami dicaplok oleh TNI sehingga kami berupaya merebut kembali," ujar dia. Menurut Samuel, warga dari keenam suku ini akan terus melakukan aksi unjuk rasa. Apabila tuntutan tidak dipenuhi, maka warga pemegang hak ulayat akan menerobos secara paksa ke bandara, dan melakukan penutupan paksa. "Kalau pemerintah tidak merespons tuntutan kami, maka kami akan melakukan aksi lebih besar," katanya. Aksi kali ini merupakan kedua kalinya dalam sebulan terakhir. Pekan lalu, ratusan warga melakukan aksi sama sambil melakukan ritual adat untuk menuntut TNI AU segera mengembalikan tanah mereka. Dalam aksi pekan lalu itu, warga menyembelih seekor anak babi, dan darahnya diteteskan di sekitar bandara. Upacara adat ini bertujuan mengundang leluhur dari enam suku membantu perjuangan mereka.
http://fokus.vivanews.com/news/read/280854-konflik-tanah-menjalar-ke-berbagai-daerah

ANALISIS

Tambahin lagi z

Banyaknya permasalahan pertanahan yang melibatkan masyarakat dengan masyarakat, masyarakat dengan perusahaan maupun masyarakat dengan pemerintah yang kerap berujung pada dirugikannya salah satu pihak. Selama 2011 saja pengaduan yang masuk sebanyak 6500 dan yang terolah baru 4000 kasus Komnas HAM. Dari pernyataan ini jelas masih banyak kasus yang masih terbengkalai, dan kasus yang terolah itu sebanyak 4000 kasus menurut saya sampai sekarang banyak yang belum diselesaikan. Ini pasti ada yang salah dengan pemerintahan kita mengingat kondisi politik yang rumit sehingga permasalahan ini menjadi tidak fokus. Faktor penyebab sering munculnya masalah sengketa tanah, diantaranya yaitu : a) Sistem administrasi pertanahan, terutama dalam hal sertifikasi tanah, yang tidak beres. Masalah ini muncul boleh jadi karena sistem administrasi yang lemah dan mungkin pula karena banyaknya oknum yang pandai memainkan celah-celah hukum yang lemah. b) Distribusi kepemilikan tanah yang tidak merata. Ketidakseimbangan dalam distribusi kepemilikan tanah ini baik untuk tanah pertanian maupun bukan pertanian telah menimbulkan ketimpangan baik secara ekonomi, politis maupun sosiologis. Dalam hal ini, masyarakat bawah, khususnya petani atau penggarap tanah memikul beban paling berat. Ketimpangan distribusi tanah ini tidak terlepas dari kebijakan ekonomi yang cenderung kapitalistik dan liberalistik. c) Legalitas kepemilikan tanah yang semata-mata didasarkan pada bukti formal (sertifikat), tanpa memperhatikan produktivitas tanah. Akibatnya, secara legal (de jure), boleh jadi banyak tanah bersertifikat dimiliki oleh perusahaan atau para pemodal besar, karena mereka telah membelinya dari para petani atau pemilik tanah, tetapi tanah tersebut lama ditelantarkan begitu saja.Ironisnya ketika masyarakt miskin mencoba memanfaatkan lahan terlantar tersebut dengan menggarapnya, bahkan ada yang sampai puluhan tahun, dengan gampanya mereka dikalahkan haknya di pengadilan tatkala muncul sengketa. Ketetapan MPR No. IX/2001 tentang Pembaharuan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam, Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok Agraria, Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, dan Keppres No.34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan, pada dasarnya memberi kewenangan yang besar kepada pemerintah daerah untuk menuntaskan masalah-masalah agraria. Adalah sudah selayaknya terlepas dari berbagai kekurangan yang tersimpan di dalam instrumen-instrumen hukum itu jika kewenangan tersebut dimplementasikan, dengan prinsip-prinsip yang tidak melawan hukum itu sendiri tentunya.
http://wonkdermayu.wordpress.com/artikel/analisis-hukum-terhadap-kasus-sengketa-tanahproyek-pemukiman-tni-al-di-pasuruan-dihubungkan-dengan-undang-undang-nomor-5-tahun-1960tentang-pokok-agraria/