Anda di halaman 1dari 3

RESTORASI POLA PIKIR, BUDAYA, DALAM UPAYA PEMBERANTASAN KORUPSI

Oleh : Rudy Cahyadi (Peminat Pengkajian Kemasyarakatan) Ada sebuah cerita yang menarik yang penulis baca di salah satu media cetak nasional. Diceritakan tentang perceraian salah seorang pegawai dinas perpajakan, tapi perlu penulis jelaskan kalau cerita ini tidak sama dengan berita infotaiment dan gosip-gosip selebritis. Yang menarik dari cerita pegawai pajak tersebut adalah sebab dari pengajuan gugatan cerai yang dimintakan istrinya. Sebabnya adalah hebohnya pemberitaan korupsi pajak yang dilakukan oleh Gayus Tambunan dan penerus jejaknya yang bisa kita katakan Gayus II. Dimana dalam pemberitaan selama ini disebutkan bahwa seorang Gayus yang hanya seorang pegawai biasa bisa memiliki uang milyaran bahkan sampai triliyunan rupiah di dalam rekeningnya. Informasi kasus tersebut menjadi awal prahara rumah tangga pegawai malang ini. Sejak saat itu sikap istrinya berubah, terlebih lagi bisikan-bisikan dari pihak keluarga istri yang mempertanyakan atau bisa kita katakan menyalahkan pegawai ini, kenapa dia hanya bisa membawa uang gaji saja, kenapa harus jadi pegawai lurus-lurus saja, apa tidak mau hidup mewah. Itulah sedikit bisikan yang menanmbah panas rumah tangga pegawai malang ini. Sampai akhirnya setelah beberapa bulan mencoba mempertahankan kehidupan rimah tangganya, ayah dari satu putri ini harus bercerai dengan istrinya, tetapi beruntung hak asus anak jatuh kepadanya. Hanya anak ini yang menjadi satu-satunya penyemangat pegawai pajak malang ini. Dari kisah tersebut sebenarnya ada sebuah pelajaran menarik yang dapat kita dalami dan pelajari untuk akhirnya kita tarik kesimpulan dan solusi untuk perubahan yang lebih baik. Pertama penulis melihat adanya perubahan kultur dan pola pikir masyarakat yang disertai dengan degradasi moral yang perlahan tapi pasti mulai menggerogoti bangsa Indonesia yang berbudaya ini. Disini kita dapat melihat dengan jelas betapa bobroknya mental manusia Indonesia saat ini dan betapa kotornya pemikiran kita saat ini dan ini harus kita insafi bersama bahwa benih-benih seperti ini memang mulai tumbuh di masing-masing kita. Benih-benih hedonisme yang berpikir bahwa kehidupan itu hanya di dunia ini saja, kita harus bersenang-senang selagi masih hidup, halalkan segala cara demi mendapatkan kesenangan, kemewahan, dan kekuasaan. Uang serta kekayaan telah kita jadikan sebagai tolak ukur untuk dihargai dan dihormati di dalam kehidupan sosial. Benih-benih ini yang saat ini tumbuh dengan subur di dalam masyarakat Indonesia yang agamis dan berbudaya. Manusia dan Budaya Sebelum memulai kajian ini ada baiknya dulu kita kaji apa itu budaya dan apa hubungannya dengan kita sebagai manusia. Salah satu buku antropologi karya Clyde Kluckhon yang berjudul “Mirror for Man” mendefinisikan kebudayaan sebagai cara hidup masyarakat yang menggambarkan cara berpikir, merasa dan percaya, orientasi masyarakat terhadap masalah yang sedang berlangsung yang bertujuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan sekita. Kesemua hal tersebut diperoleh oleh manusia dengan cara mempelajari jalan hidupnya yang lama-kelamaan mengendap

Max Weber mengatakan bahwa manusia itu adalah “binatang” dan hanya dibedakan dari binatang lain dengan jaringan-jaringan makna yang ditenunnya sendiri yang bernama budaya. pasti ada dari kita yang mengatakan tidak. manusia adalah “Zoon Politicon”.dalam sejarah manusia sebagai menjadi sebuah pengalaman yang bersifat normatif dan akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Candi yang menjadi keajaiban dunia dan tempat suci umat Budha di dunia. Pudar bagaimana. kini semua semakin bergeser dari budaya kita. Manusia Indonesia dan Pergeseran Budaya Indonesia sebagai sebuah nama untuk menyebut kelompok manusia atau masyarakat yang mendiami gugusan kepulauan yang terbentang dari daerah Sabang di Aceh hingga Merauke di Papua telah dikenal oleh dunia sejak ribuan tahun yang lalu. tenggang rasa dan tolong menolong masyarakat nusantara ini dan hal ini menunjukkan betapa agungnya kebudayaan kita yang diwariskan dari leluhur secara turun-temurun. menjadikan kekuasaan. dimana nama tersebut melambangkan keagungan dan kemakmuran bangsa Indonesia. Tetapi ada hal yang menarik tentang budaya. Dari hal tersebut dapat kita lihat bahwa budaya hanya dimiliki oleh manusia. sepertinya ini sinkron dengan pernyataan “Homo homini lupus”. bukan makhluk yang lainnya. kesantunan. memperebutkan harta . Banyak catatan perjalanan dan sejarah dari bangsabangsa lain seperti Cina. Tapi apakah kita benar binatang. tapi jika melihat keadaan saat ini sepertinya penulis terpaksa sepakat bahwa saat ini kita seperti binatang dan lebih buas dari serigala sebab kita hidup tanpa nurani dan akal kita telah takluk pada nafsu dan kesenangan duniawi. Tanpa budaya manusia tidak lebih hanya binatang. Dulu kita masih dengar kisah rasa kebersamaan dan tolong menolong dalam kehidupan seperti digambarkan dengan simpel dalam kisah Mak Cik Maryamah di salah satu novel Tetralogi Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata. kekayaan sebagai tolak ukur kadar penghargaan dalam hidup bermasyarakat sudah menjadi lumrah bagi masyarakat kita saat ini. jika kita lihat keadaan saat ini memang masih tersisa warisan indah tersebut akan tetapi keadaannya sudah memprihatinkan dan semakin pudar dari sanubari masyarakat Indonesia. Ketidak pedulian dengan sesama. Selebes. tanpa nurani dan akal untuk saling peduli dengan sesama manusia tidak lebih hanya seekor binatang atau serigala yang tega memangsa sesamanya. apa benar kita lebih sadis dari serigala. Bahkan bangsa ini dengan arsiteknya yang bernama Guna Dharma telah mampu mensejajarkan posisinya dalam peradaban dunia dengan bangunan candi Borobudhurnya. mementingkan diri sendiri. kehidup kita terikat dengan orang lain dan masyarakat dan tanpa hal tersebut kita belum tentu mampu bertahan di dunia. selain itu bangsa di dunia juga kagum dengan keramahan. Tetapi masihkah hal tersebut melekat kuat pada diri masyarakat kita. makhluk yang tidak dapat hidup secara individu. India bahkan hingga Yunani dan negara kota lainnya di daerah Pelloponesos yang mencatat ketangguhan dan peradaban masyarakat kita dalam mengarungi lautan juga zaman. dan Papua merupakan nama yang terukir jelas dalam catatn para pelaut dari dunia. Hal ini juga menjadi gambaran kemajuan peradaban bangsa Indonesia. manusia adalah makhluk komunal. pudar dan semakin lutur budaya kita. Borneo. Tetapi saat ini kita banyak melihat sesama saudara dalam satu keluarga saling bermusuhan. Manusia dengan dibekali oleh hati dan akal dari Tuhan telah berhasil bertahan selama ribuan tahun di dunia bahkan berhasil melahirkan sebuah peradaban seperti yang kita nikmati saat ini. Selain itu kita dapat juga memahami bahwa manusia adalah makhluk bermasyarakat sebagaimana yang dikatakan oleh Aristoteles. Jawawut. Swarna Dwipa.

sebab dengan kebungkaman kita dalam menyuarakan kebenaran berarti sama saja kita turut andil dalam menyuburkan kejahatan terutama korupsi. Semua itu merupakan secuil gambaran tentang pergeseran budaya manusia Indonesia. saat ini orang tua tidak segan mengadukan anak ke Polisi dan sebaliknya juga si anak. kiranya kita dapat menjadikan budaya sebagai salah satu senjata pemberantasan korupsi di Indonesia. Kekayaan dan kesenangan dunia hanyalah sebagai reward dan warna bagi pelaksanaan pengabdian tersebut. Caranya dengan merubah pola pikir (mind set) masyarakat. Akhirnya dengan meminjam istilah dari Gilbert Ryle. Budaya Sebagai Alat Pemberantasan Korupsi Kembali kepada kisah pegawai pajak diatas. penindasan terhadap orang lain dihalalkan.dan warisan. jabatan dan kekuasaan bukan sebagai tujuan dan tolak ukur kehidupan tetapi tidak lebih hanya fasilitas kehidupan. Selain itu. mungkin tulisan ini merupakan the thick description dari pandangan dan penulis akan kondisi masyarakat Indonesia saat ini dan penulis berharap dari gambaran itu kita dapat bersama-sama merenungkan dan mencari solusi yang tepat untuk menghadapi permasalahan dan fenomena-fenomena tingkah laku masyarakat yang khususnya berkaitan dengan korupsi. Bukankah kita ini hidup bersama dengan orang lain. melalui uraian di atas penulis harapkan kita mampu meredam atau meminimalisir angka tindak pidana korupsi yang terjadi di Indonesia. Oleh karena itu. Seharusnya dengan panjang lebar penjabaran tentang budaya yang penulis uraikan di atas. Apakah banyaknya harta memang pantas menjadi tolak ukur kehormatan dan kemuliaan. baik itu kepada Tuhannya maupun kepada sesama manusia. Penulis rasa hal tersebut merupakan cara pandang yang salah dan jauh melenceng dari hakikat kehidupan manusia di dunia. bukannya orientasi hidup. Sehingga sanksi hukum normatif boleh lemah atau bisa disalah gunakan tetapi sanksi sosial dari masyarakat atau adat merupakan hukuman terberat bagi seorang penjahat khususnya koruptor. .. kisah tersebut sedikit menggambarkan tentang pergeseran pola pemikiran. Dengan menjadikan kesenangan dunia. Memang lumrah jika manusia tersebut cenderung mengejar kesenangan dan berusaha menjauh dari kesengsaraan. kita juga banyak menemui pemberitaan tentang perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan orang tua kepada anaknya. bukan seorang diri. bahkan yang lebih memilukan lagi saat ini kemiskinan dan orang-orang miskin menjadi musuh negara seperti beberapa contoh lahirnya Peraturan Daerah yang mengatur tentang pelarangan pengemis. jabatan dan kekuasaan tersebut berasal serta kita mulai kembali menanamkan budaya malu jika kita ataupun orang terdekat kita memperoleh hal tersebut dengan cara-cara yang tidak sepantasnya. Selain itu penulis juga berharap agar semua elemen masyarakat kembali berani mengatakan yang salah adalah salah tanpa harus takut kehilangan jabatan ataupun pendapatan. kekayaan. cara pandang dan budaya manusia Indonesia saat ini. Menurut penulis manusia hidup di dunia untuk mlaksanakan suatu pengabdian. Dengan merubah pola pikir tersebut penulis berharap kita lebih kritis dalam melihat kekayaan dengan mulai bertanya dari mana sumber kekayaan. pengamen dan anak jalanan di DKI Jakarta. tidak ada salahnya kita manusia Indonesia kembali untuk menghidupkan hukum-hukum yang hidup di masyarakat seperti hukum adat beserta sanksi adat ataupun sanksi sosial. tetapi apakah seperti itu caranya. Apakah demi mencapai sebuah kesenangan kita segala cara menjadi diperbolehkan.