Anda di halaman 1dari 26

PENGARUH PENDIDIKAN TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA WANITA PENGUSAHA DI KOTA KENDARI

Oleh Wa Ode Nely Sulistiawaty 200221091 Pembimbing : DR Hj Syamsiar Bachtiar SE,MPd dan Nurwaty, SE.MS BAB I P E N D A H U L U A N 1.1. Latar Belakang Pembangunan Nasional yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia adalah bertujuan mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata materil dan spritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Untuk mencapai tujuan pembangunan, maka diperlukan tanggung jawab oleh semua pihak, golongan dan generasi muda secara terpadu dan berkesinambungan. Garis-Garis Besar Haluan Negara ( GBHN ) 2003 mengamanatkan bahwa wanita sebagai warga negara maupun sebagai sumber daya manusia bagi pembangunan, mempunyai hak, kewajiban dan kesempatan yang sama dengan pria dalam segala bidang kehidupan bangsa dan dalam segenap kegiatan pembangunan. Bertolak dari amanat GBHN ini, maka kedudukan wanita dalam masyarakat dan peranannya dalam pembangunan perlu terus ditingkatkan serta diarahkan, sehingga dapat memberikan sumbangan yang sebenar-benarnya bagi pembangunan bangsa. Krisis ekonomi yang dihadapi oleh bangsa Indonesia berdampak pada tingginya tingkat pengangguran, yang menimbulkan reaksi antara lain meminta anak-anak dan istri ikut berupaya, walaupun mungkin sumbangannya kecil. Masalah yang dihadapi untuk memaksimalkan wanita dan anak-anak adalah bahwa kemampuan kerja yang terbatas disebabkan oleh tingkat pendidikan yang rendah. Dengan demikian peningkatan produktivitas harus menjadi fokus pembangunan utama. Salah satu ciri negara berkembang adalah jumlah penduduk yang besar dan padat, serta tingginya angka kemiskinan. Penduduk yang jumlahnya besar merupakan modal yang besar dan kuat bagi pembangunan disatu sisi, namun disisi lain dapat juga merupakan beban apabila penduduk yang besar jumlahnya tidak memiliki kualitas. Penduduk yang memiliki kualitas akan mampu melakukan kegiatan yang mempunyai nilai ekonomis, yaitu kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan juga kebutuhan masyarakat. Pembangunan sumber daya manusia sangatlah beralasan meningkatkan bahwa bangsa yang mandiri adalah bangsa yang mampu melepaskan ketergantungan ekonomi maupun tehnologi dari bangsa lain. Oleh sebab itu untuk meningkatkan kualitas perusahaan dalam rangka kemandirian tersebut, maka kualitas mengingat bahwa bangsa yang mandiri adalah bangsa yang mampu melepaskan ketergantungan ekonomi maupun tehnologi dari bangsa lain. Oleh sebab itu untuk menetukan kualitas perusahaan dalam rangka kemandirian tersebut , maka kualitas sumber daya manusia mutlak sangat diperlukan. Dengan mantapnya kualitas sumber daya manusia yang semakin mantap, maka akan berimbas pada peningkatan produktivitas perusahaan karena faktor yang terpenting diperhatikan oleh perusahaan sehingga dapat meningkatkan kontinuitas usaha adalah seberapa besar jumlah keuntungan yang diperolehnya. Semakin besar keuntungan yang dihasilkan perusahaan maka semakin besar pula peluang perusahaan untuk mengembangkan perusahaanya. Kenyataan yang ada sekarang ini di Indonesia, profil angkatan kerja ditinjau dari pendidikan formal, sampai saat ini didominasi oleh mereka yang

2
berpendidikan rendah, hanya setingkat SD, tidak tamat SD atau tidak tamat sekolah. Jika ditelusuri lebih jauh, angkatan kerja yang berpendidikan rendah, masih banyak didominasi oleh golongan usia muda dan wanita, padahal seharusnya mereka dapat berperan sebagai subyek pembangunan bilamana memiliki kemampuan dan juga ditunjang oleh pendidikan. Berdasarkan pada kenyataan ini penulis tertarik untuk meneliti tentang: Pengaruh Pendidikan Terhadap Produktivitas Kerja Wanita Pengusaha di Kota Kendari . 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan pada Judul Penulisan ini dan uraian latar belakang yang telah dikemukakan, maka permasalahan yang akan di telaah dalam penelitian ini adalah: Apakah Pendidikan Berpengaruh Terhadap Produktivitas Wanita Pengusaha di Kota Kendari. 1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh pendidikan terhadap produktivitas kerja wanita pengusaha di Kota Kendari. 1.3.2. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi : 1. Para pengambil kebijakan. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi penting sehubungan dengan pengambilan kebijakan dalam rangka peningkatan produktivitas kerja wanita pengusaha di Kota Kendari. 2. Menjadi bahan informasi bagi peneliti orientasi penelitian yang sejenis. 1.4. Ruang Lingkup Penelitian Adapun ruang lingkup dalam penelitian ini hanya dibatasi pada pengaruh pendidikan terhadap produktivitas kerja wanita pengusaha di Kota Kendari. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulu Penelitian yang dilakukan pada tahun 1997 oleh Lustiawaty FH tentang Pengaruh Pendidikan dan Latihan (Diklat) Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan pada PT. Bank Tabungan Negara Cabang Kendari, dengan menggunakan alat analisis regresi linier, menyimpulkan bahwa PT. Bank Tabungan Negara Cabang Kendari dalam memperkerjakan sebanyak 22 orang karyawan dengan status karyawan tetap. Dari tahun 1991 sampai tahun 1996 total jumlah karyawan PT. Bank Tabungan Negara Cabang Kendari sebanyak 35 orang. Adapun tingkat pendidikan karyawan pada perusahaan PT. Bank Tabungan Negara Cabang Kendari paling rendah memperoleh ijazah SLTP dan paling tinggi berlatar belakang pendidikan S1 (Sarjana). Dalam usaha untuk meningkatkan pendidikan maupun pengembangan karyawan PT Bank Tabungan Negara Cabang Kendari, setiap tahun disusun dan dilaksanakan program pendidikan, dan memperluas pengetahuan dan adminstrasi yang secara langsung menyangkut usaha meningkatkan efesiensi dan produktivitas kerja. Adapun jenis pendidikan yang dilaksanakan pada PT. lebih lanjut yang memiliki

3
Bank Tabungan Negara Cabang Kendari adalah sebagai berikut Pendidikan jenjang karier, 2) Pendidikan peningkatan status pegawai. : 1)

Setiap tahunnya PT. Bank Tabungan Negara Cabang Kendari mengikut sertakan karyawannya untuk mengikuti pendidikan baik yang dilaksanakan oleh pusat pendidikan maupun yang dilaksanakan oleh lembaga pendidikan lainnya. Setelah mengetahui ukuran output dan input sebelum dan sesudah melakukan pendidikan dari masing-masing unit maka produktivitas kerja karyawan PT. Bank Tabungan Negara Cabang Kendari dapat diketahui Perbedaannya dengan penelitian penulis ialah objeknya. 2.2. Pengertian Wanita Pentingnya peranan wanita baik dalam pembangunan keluarga maupun bangsa dan banyaknya atau besarnya kendala yang dihadapi oleh wanita, maka sejak tahun 1993 telah dicanangkan suatu strategi pembangunan nasional yang mengharuskan adanya upaya peningkatan peranan wanita, didalam TAP MPR 1993 digariskan bahwa : 1. Wanita baik sebagai warga negara maupun sebagai sumber daya insani pembangunan mempunyai hak dan kewajiban serta kesempatan yang sama dengan pria dalam pembangunan disegala bidang. Pembinaan peranan wanita sebagai mitra sejajar pria ditujukan untuk meningkatkan peran aktif dalam kegiatan pembangunan. 2. Kemampuan wanita perlu lebih dikembangkan melalui peningkatan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan serta ketahanan mental spiritual agar dapat lebih memanfaatkan kesempatan berperan aktif disegala bidang kemampuan. 3. Untuk memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat akan tenaga terampil dalam pembangunan, tenaga kerja wanita sangat diperlukan diberbagai lapangan pekerjaan. Perhatian khusus perlu diberikan kepada peningkatan keterampilan, produktivitas, kesejahtraan dan perlindungan tenaga kerja. Dalam arti sempit wanita dan perempuan mempunyai arti yang sama tetapi dalam arti yang luas kedua istilah tersebut mempunyai makna yang berbeda, Oleh Muchtar (1980 ) menyatakan bahwa : Kalau Perempuan secara denotatif menunjukkan kepada pengertian kelompok sebagai lawan jenis dari kelompok laki-laki yang berfungsi sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang melahirkan anak atau menjadi Ibu dari anak yang dilahirkan ( mahluk biologis ). Istilah wanita menunjuk kepada kehalusan sifat, karakter tingkah laku, budi pekerti, keadaan fisik maupun spikologis yang dimiliki setiap individu perempuan yang berbeda oleh kaum laki-laki. Mengenai peran ganda yang dijalankan oleh kaum wanita, Munandar (1983) mengatakan bahwa sebagai seorang wanita mempunyai peran penting dalam keluarga sebagai tugas utama dari seorang wanita yang telah menikah. Namun demikian, dalam kehidupan modern dalam masa pembangunan saat ini, wanita dituntut dan sering bermotivasi untuk memberikan sumbangan lebih lanjut dari itu, tidak saja terbatas pada pelayanan suami, perawatan anak dan urusan rumah tangga. Sesungguhnya peran ganda wanita, terutama bagi yang telah menikah lebih ditentukan oleh faktor keinginan diri sendiri untuk bekerja luhur demi mengatasi keadaan ekonomi rumah tangga yang sering kurang menggembirakan sehingga mendorong mereka untuk mencari kegiatan yang dapat menambah penghasilan keluarga.

4
Adanya sikap masyarakat terhadap kaum wanita, antara lain makin disadari pentingnya pendidikan bagi kaum wanita dan perlunya kaum wanita ikut berpartisipasi dalam bekerja untuk mendapatkan penghasilan dan keuntungan, memberikan peluang yang cukup baik bagi kaum wanita untuk ikut aktif dalam berbagai bidang pekerjaan. Hal ini berarti bahwa peran wanita dalam pembangunan ekonomi akan semakin nampak dengan adanya kesempatan yang diperoleh untuk memiliki pekerjaan sesuai dengan kualitas dan keahliannya masing-masing. 2.3. Pengertian Kerja Bagi Wanita Keterlibatan wanita dalam kegiatan ekonomi merupakan suatu fenomena umum yang telah berlangsung dalam waktu yang cukup lama dan tidak dapat dipisahkan dari keadaan ekonomi rumah tangga. Menurut Ihromi (1990 ) mengemukakan bahwa bekerja adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang Ibu baik secara langsung maupun tidak langsung untuk mendapatkan penghasilan dalam bentuk uang atau barang, mengeluarkan energi dan mempunyai nilai waktu. Selanjutnya Sayogyo (1984) memberikan pandangan tentang konsep bekerja bagi kaum wanita dalam kaitannya dengan perkembangan ekonomi ini bahwa : Bekerja itu berati melakukan suatu perbuatan pekerjaan misalnya bertani, berdagang dan sebagainya. Kecendrungan wanita untuk bekerja pada dasarnya dipengaruhi faktor kemauan sendiri untuk melakukan sesuatu untuk memperoleh kepuasan lahir dan batin. Disamping itu karena adanya dorongan kebutuhan ekonomi rumah tangga yang semakin mendesak akibat kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ( IPTEK ) serta tingkat pendidikan masyarakat yang semakin meningkat. Lebih lanjut dikatakan bahwa : dapat dilihat dari hasil penelitian Sayogyo (1984)

Aktivitas kerja seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain : Faktor sosial seperti keanggotaan seseorang dalam lembaga sosial, faktor ekonomi seperti penghasilan keluarga, faktor lingkungan. Selain itu menurutnya faktor umur, tingkat pendidikan dan budaya serta pandangan suami terhadap wanita itu sendiri yang dapat mempengaruhi aktivitas kerja para wanita. Mendukung pandangan diatas, Ken Suratiyah dkk (1996) dikatakan bahwa ada beberapa alasan pokok yang melatar belakangi keterlibatan wanita dalam pasar kerja. Pertama yaitu keharusan sebagai refleksi dari kondisi ekonomi rumah tangga yang bersangkutan randah, sehingga bekerja untuk mendapatkan pendapatan rumah tangga adalah suatu hal penting. Kedua yaitu memilih untuk bekerja sebagai refleksi dari kondisi sosial ekonomi pada tingkat menengah atas. Ketiga yaitu adalah kondisi dimana wanita itu berada dalam suatu lingkungan tertentu karena faktor budaya masyarakat yang memiliki nilai terhadap pekerjaan tertentu. Pengertian kerja bagi wanita adalah segala sesuatu yang dikerjakan seseorang individu baik untuk sub sistem, untuk dipertukarkan atau diperdagangkan untuk menjaga kelangsungan keturunan dan kelangsungan hidup keluarga atau masyarakat ( Saptari & Holzher, 1997). Kerja tidak hanya mencakup kerja upahan diluar rumah ( Seperti : Segala kegiatan yang dilakukan di pabrik, dipasar atau dikantor ), tetapi juga pengasuhan anak, pelayanan sosial ataupun seksual dan pendidikan anak.

5
2.4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Wanita Untuk Bekerja Pada umunya parameter yang digunakan untuk melihat sumbangsih wanita dalam pembangunan biasanya bukanlah dilihat dari beberapa banyak penghasilan wanita setiap harinya atau bulannya disamping pendapatan suami, tetapi bagaimana peran wanita dalam mengurus rumah tangganya. Agaknya penilain ini telah mendorong keterlibatan wanita dalam proses produksi dan menjadi ukuran bahwa wanita telah banyak terlibat. Pudjiwati Sayogyo (1985) wanita berusaha memperoleh (bekerja) bisa disebabkan oleh berbagai hal, antara lain adanya kemauan wanita untuk bermandiri di bidang ekonomi yaitu berusaha membiayai kebutuhan hidupnya dan mungkin juga kebutuhan orang lain yang menjadi tanggung jawabnya dengan penghasilan sendiri. Adanya kebutuhan untuk menambah penghasilan keluarga disamping suami, istri juga bekerja untuk meningkatkan penghasilan keluarga, kemungkinan lain adalah makin luasnya kesempatan kerja wanita antara lain tumbuhnya industri kerajinan tangan dan industri lainnya yang dilakukan oleh kaum wanita. Berdasarkan pada uraian diatas, maka dapat dikatakan bahwa faktorfaktor yang mendorong wanita untuk melakukan pekerjaan produktif adalah keinginan untuk memperbesar penghasilan keluarga disamping penghasilan suami juga adanya kemauan untuk bermandiri dalam bidang ekonomi, yaitu berusaha membiayai kebutuhan hidup dan penghasilan sendiri. Oleh sebab itu saat ini peranan wanita dalam berbagai aspek kehidupan tidak dapat diabaikan. Selain itu faktor-faktor yang mendorong wanita dikemukakan oleh S.C. Utari Munandar (1985) adalah : 1. Untuk menambah penghasilan 2. Untuk ekonomi tidak tergantung pada suaminya 3. Untuk menghindari kebosanan dan untuk mengisi waktu kosong 4. Karena ketidak puasan dalam pernikahan 5. Karena mempunyai niat / keahlian tertentu yang ingin di manfaatkan 6. Untuk memperoleh status 7. Untuk pengembangan diri Dari beberapa alasan diatas yang menyebabkan wanita untuk bekerja, maka dengan sendirinya keputusan tersebut akan mempunyai dampak terhadap keluarganya, terhadap suaminya, anak-anaknya, maupun terhadap rumah tangganya. Dampak tersebut dapat bersifat menguntungkan ataupun merugikan. 2.5. Pengertian Produktivitas Secara etimologi pengertian produktivitas berasal dari kata produktif. Dalam kamus umum bahasa Indonesia menjelaskan pengertian produktivitas adalah banyak mendatangkan hasil.Dengan setiap upaya untuk memperbanyak hasil dalam suatu bidang kegiatan adalah masuk dalam kategori produktivitas. (W. J. S. Poerwadarminta, 1987) Walter Signer (Hidayat, 1986) di dalam makalahnya yang berjudul Motivation and Awareness, Filosofis dan spirit tentang produktivitas sudah ada sejak awal peradaban manusia karena makna produktivitas adalah keinginan (The Will) dan upaya (Effort) manusia untuk selalu meningkatkan kualitas kehidupan dan kemampuan tenaga kerja dipengaruhi oleh tingkat untuk bekerja

6
pendidikan dalam rangka meningkatkan kehidupan, juga harus ditunjang dengan latihan, motivasi kerja, sikap mental dan kemampuan fisik tenaga kerja. Paul Mali dikutip oleh Dewan Produktivitas (1981) produktivitas adalah pengukuran seberapa baik sumberdaya yang digunakan bersama- sama dalam organisasi untuk menyelesaikan suatu kumpulan hasil- hasil. Selanjutnya menurut formulasi dari National Productivity Singapore, produktivitas adalah sikap mental ( Attitude Of Mind ) mempunyai semangat untuk bekerja keras dan ingin memiliki kebiasaan melakukan peningkatan perbaikan, dan selalu mempunyai pandangan kehidupan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Board yang untuk mutu harus

Sebagaimana dikemukakan Muchdarsyah Sinungan (1987) dalam bukunya produktivitas, apa dan bagaimana mendevinisikan produktivitas adalah sebagai berikut Pada dasarnya produktivitas mencakup sikap mental patriotik yang memandang hari depan secara optimis dengan berakar pada keyakinan diri bahwa kehidupan hari ini adalah lebih baik dari kehidupan kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini . Sikap seperti ini bagi bangsa Indonesia yang sedang membangun mutlak diperlukan dalam menjawab berbagai tantangan yang bersifat ekonomis maupun non ekonomis. Winardi (1982) dalam kamus ekonomi definisi produktivitas adalah jumlah hasil oleh seorang atau unit faktor produksi lain dalam jangka waktu tertentu. Produktivitas tenaga kerja merupakan hal yang sangat menarik, sebab mengukur hasil-hasil tenaga kerja manusia dengan segala masalah yang bervariasi khususnya pada kasus-kasus di negara-negara berkembang atau pada semua organisasi selama periode antara perubahan besar pada formasi modal. Pengukuran produktivitas tenaga kerja menurut sistem pemasukan fisik per orang atau per jam kerja diterima secara luas, namun dari sudut pandangan/pengawasan harian, pengukuran-pengukuran tersebut pada umumnya tidak memuaskan, disebabkan oleh adanya variasi dalam jumlah yang diperlukan untuk memperoduksi satu unit produk yang berbeda. Pengeluaran dalam unitunit pekerja yang dibiasanya diartikan sebagai jumlah kerja yang dapat dilakukan dalam satu jam oleh pekerja yang terpecaya yang bekerja menurut pelaksanaan standar yang diukur dengan indeks sederhana sebagai berikut : (Muchdarsyah Sinungan, 2003). Hasil dalam jam-jam yang standar Masukan dalam jam-jama waktu Peningkatan produktivitas merupakan salah satu cara untuk meningkatkan taraf hidup manusia yang rendah menuju tingkat kemakmuran yang lebih tinggi hal ini erat kaitannya dengan tujuan organisasi atau perusahaan dalam memberikan balas jasa ataupun memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengembangkan dirinya dengan menambah pengetahuannya melalui pendidikan nonformal yang ada di wilayah kerjanya, ini dimaksudkan salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas bagi perusahaan itu sendiri. Winardi, dalam kamus ekonomi (1972), memberikan produktivitas sebagai berikut : produktivitas adalah jumlah dicapai oleh seorang pekerja dalam jangka waktu tertentu. pengertian yang ingin

Salah satu sumber yang dikemukakan oleh R. Zain Paul (Asian Productivity Congres). 1980 yang dikutip oleh Rusli syarif (1987) memberikan

7
pengertian produktivitas sebagai berikut : produktivitas adalah hubungan antara kualitas yang dihasilkan dengan jumlah kerja yang dilakukan untuk mencapai hasil tersebut. Dari pengertian diatas nampak bahwa produktivitas merupakan keinginan dan upaya manusia untuk selalu meningkatkan kehidupan di segala bidang. Oleh karena itu kualitas dan kemampuan karyawan sangat dipengaruhi oleh pendidikan, motivasi kerja mental dan kemampuan fisik karyawan yang bersangkutan. Sedangkan aktivitas perusahaan tidak termasuk pada lingkup yang terjadi di luar perusahaan seperti sumber sumber produksi yang digunakan, prospek pemasaran yang direncanakan dan lingkungan eksternal lainnya. Adapun konsep dari pengertian produktivitas di dalam pengertian fisiologi bahwa produktivitas adalah sikap mental manusia, untuk membuat hari esok lebih baik dari hari kemarin. Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa untuk mencapai apa yang kita inginkan terlebih dahulu harus ada upaya pengorbanan. Tanpa msukan (input) tidak dapat diperoleh keluaran (output). Hal ini dapat dikatakan bahwa pengertian input dan output secara teknis menunjukkan rasio antar keluaran dan masukan yang dicapai dan ditunjukan dengan : - Perkembangan produksi dari waktu ke waktu - Pertambahan pendapatan dari waktu ke waktu - Pertambahan kesempatan kerja dari waktu ke waktu Selanjutnya Bennet N.B. Silalahi dalam bukunya, pembinaan tenaga kerja perusahaan, menjelaskan bahwa pengorbanan tenaga kerja untuk pekerjaan secara produksi dapat dilihat dari perbandingan output persatuan waktu dengan jumlah tenaga kerja. Dari beberapa pengertian di atas, maka penulis mengutip pengertian produktivitas yang baru dikemukakan oleh Dewan Produktivitas Nasional RI sebagai berikut : 1. Produktivitas adalah merupakan sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa mutu kehidupan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. 2. Secara umum produktivitas mengandung pengertian perbandingan antara hasil yang dicapai dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan. 3. Produksi dan produktivitas merupakan dua pengertian yang berbeda yaitu peningkatan produksi menunjukkan pertambahan jumlah hasil yang dicapai. Sedangkan peningkatan produktivitas mengandung pengertian pertambahan hasil dan perbaikan cara pencapaian produksi tersebut. 4. Peningkatan tersebut (produksi) tidak selalu disebabkan oleh peningkatan produktivitas, karena produksi dapat meningkat walaupun produktivitas tetap atau menurun. 5. Sumber daya memegang peranan penting dalam proses peningkatan produktivitas, karena produksi dapat meningkat walaupun produktivitas tetap atau menurun. 6. Produktivitas tenaga kerja mengandung pengertian dan perbandingan hasil yang dicapai atas peran serta karyawan persatuan waktu.

8
7. Produktivitas tenaga kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik yang berhubungan dengan tenaga kerja itu sendiri maupun faktor faktor lainnya seperti pendidikan, keterampilan, disiplin, sikap dan etika kerja, motivasi, gizi dan kesehatan, tingkat penghasilan, jaminan sosial, lingkungan dan iklim kerja, hubungan industrial pancasila, teknologi produksi manajemen kesempatan kerja dan kesempatan berprestasi. 8. Peningkatan produktivitas tenaga kerja merupakan pembaharuan pandangan hidup dan kultur dengan sikap mental memuliakan kerja serta perluasan upaya untuk meningkatkan mutu kehidupan. Dari pengertian produktivitas yang telah dikemukakan oleh Dewan Produktivitas Nasional Indonesia, dapatlah dikatakan bahwa betapa pentingnya arti dan nilai produktivitas bagi perusahaan atau organisasi, sebab tanpa produktivitas yang tinggi tidak mungkin perusahaan dapat menghasilkan produksi yang kompetitif, dimana pada masa dunia usaha sedang dilanda kelesuan. Peningkatan produktivitas selalu dilakukan oleh setiap perusahaan menurut cara atau sistem yang sesuai dengan kondisi usahanya. Karena pentingnya peningkatan produktivitas ini pada suatu perusahaan atau organisasi maka berikut ini penulis akan mengutip beberapa pendapat pada ahli mengenai upaya peningkatan produktivitas antara lain yang dikemukakan oleh Bambang Kusriyanto dalam bukunya Meningkatkan Produktivitas Karyawan sebagai berikut : 1. Investasi mesin untuk menggantikan tenaga manusia. 2. Upaya untuk diarahkan pada penentuan dan penerapan metode kerja yang paling cocok. 3. Usaha untuk menghilangkan praktek praktek yang tidak produktif yang biasanya menghambat peningkatan produktivitas. 4. Metode metode prersonalia yang dapat digunakan oleh manajemen untuk memanfaatkan secara lebih efektif sumber daya manusia dari suatu perusahaan. Upaya upaya yang dikemukakan diatas menunjukkan bahwa dalam setiap bidang pekerjaan, tercakup keragaman teknik-teknik yang lebih spesifik atau dengan kata lain produktivitas perusahaan dapat ditentukan oleh keterampilan tenaga kerja serta teknologi yang dipakai, disamping faktor lain seperti modal. Jelas bahwa peningkatan produktivitas harus diartikan lebih jauh sebagai usaha menyampaikan pelayanan lebih dan lebih baik kepada para pemakai jasa perusahaan. Peningkatan produktivitas bukan saja peningkatan output secara kuantitatif melainkan mencakup juga peningkatan kualitatifdalam arti mutu yang memenuhi selera pemakai. Sejalan dengan itu Alex S. Nitisemito dalam bukunya Manajemen Personalia, mengemukakan beberapa cara yang dapat digunakan untuk meningkatan produktivitas sebagai berikut : 1. Upah/gaji yang cukup 2. Memperhatikan kebutuhan rohani 3. Sekali kali perlu menciptakan suasana santai 4. Harga diri perlu mendapat perhatian 5. Tempatkan karyawan pada posisi yan tepat 6. Berikan kesempatan pada mereka untuk maju

9
7. Perasaan aman menghadapi masa depan perlu diperhatikan 8. Usahakan pada karyawan mempunyai loyalitas 9. Sekali kali karyawan mempunyai loyalitas 10. 11. Pemberian intensif yang terarah Fasilitas yang menyenangkan.

Setelah kita mngetahui pengertian produktivitas itu sendiri, maka selanjutnya dapat dilakukan produktivitas dalam berbagai skala dan berbagai macam jenis. Untuk tingkat skala ekonomi umumnya digunakan empat tingkatan sebagai berikut : a. Pengukuran produktivitas produktivitas makro. tingkat nasional disebut juga pengukuran

b. Pengukuran produktivitas makro tingkat industri, disebut juga pengukuran produktivitas sektor. Yang setingkat ini adalah pengukuran produktivitas regional umumnya tingkat produksi. c. Pengukuran produktivitas produktivitas mikro. tingkat perusahaan, produksi, disebut disebut juga juga pengukuran pengukuran

d. Pengukuran produktivitas tingkat produktivitas faktor persial.

Untuk pengukuran produktivitas perusahaan yang digunakan di Indonesia adalah modal akunting. Pengukuran produktivitas dengan modal ini menggunakan data akunting perusahaan. Bentuk perbandingan atau rasio adalah sebagai berikut : Keuntungan Kotor 1. Produktivitas tenaga kerja = Jumlah Upah / Gaji

Perputaran modal 2. Produktivitas modal = Jumlah modal yang digunakan

3. Produktivitas produksi

Tingkat Penggunaan Modal

Nilai tambah yang dihasilkan 4. Produktivitas Organisasi = Ongkos administrasi

Keuntungan operasional 5. Produktivitas penjualan = Ongkos langsung produksi

10
Nilai tambah yang dihasilkan 6. Produktivitas produk = Ongkos administrasi

Metode ini dapat faktor produksi.

juga

digunakan

untuk

pengukuran

produktivitas

tingkat

Dari pengertian tersebut, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa untuk mencapai apa yang dikehendaki terlebih dahulu perlu adanya upaya pengorbanan. Tanpa masukan tak akan diperoleh pengeluaran ( output ), yaitu secara tehnik pengertian produktivitas merupakan rasio antara pengeluaran dan pemasukan yang dicapai. Hal ini dimaksudkan adalah sebagai berikut : a. Adanya pertambahan produksi dari waktu ke waktu b. Adanya pertambahan kesempatan kerja dari waktu ke waktu c. Adanya pertambahan pendapatan dari waktu ke waktu Sedangakan Bambang Kusriyanto (1984), Produktivitas adalah pertama : biaya yang dikorbankan untuk tenaga kerja sebagai bagian dari biaya yang terbesar untuk pengadaan bahan produk jasa; Kedua : sumber daya manusia lebih mudah dihitung ketimbang masukan pada faktor lain seperti modal. Selanjutnya Bambang Kusriyanto (1984) menyatakan bahwa peningkatan Produktivitas pada dasarnya dapat dikelompokkan kedalam empat bagian sebagai berikut : a. Pengurangan sedikit sumber daya untuk memperoleh jumlah produksi yang sama. b. Pengurangan sumber daya sekedarnya untuk memperoleh jumlah produksi yang lebih besar c. Pengurangan sumber daya yang sama untuk memperoleh jumlah produksi yang lebih besar d. Pengurangan jumlah sumber produksi yang lebih besar daya lebih besar untuk memperoleh jumlah

Pengertian di atas mempunyai makna bahwa produktivitas bagi setiap tenaga kerja selalu menciptakan metode kerja yang lebih baik, adanya teknikteknik yang spesifik. Payman. J. Simanjuntak (1981) mengemukakan bahwa pada dasarnya orang yang berproduktivitas rendah karena empat kemungkinan, yaitu : a. Kemungkinan disebabkan karena kurangnya keterampilan, biasanya kurang tampil dalam pekerjaan karena pendidikan yang rendah b. Kemungkinan kerja kurangnya sarana penunjang, ini berbentuk kurangnya orang alat

c. Kemungkinan rendahnya tingkat kesehatan dan gizi d. Kemungkinan rendahnya tingkat upah 2.6. Pengertian Pendidikan Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional tentang pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki

11
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Jalur pendidikan terdiri atas : 1. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. 2. Pendidikan non formal adalah jalur pendidikan diluar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan non formal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. Satuan pendidikan non formal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat. 3. Pendidikan in formal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Menurut Edwin B. Flippo (Malayu S. P. Hasibuan 1990) pendidikan adalah berhubungan dengan peningkatan pengetahuan umum dan pemahaman atas lingkungan secara menyeluruh. Pendidikan pada hendaknya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah berlangsung seumur hidup ( GBHN, 1993 ). Suad Husnan (1994) mengemukakan bahwa pendidikan adalah suatu kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan umum seseorang termasuk di dalamnya peningkatan pengusahaan teori dan keterampilan memutuskan terhadap persoalan yang menyangkut kegiatan pencapaian tujuan. Pendidikan memegang peran penting bagi suatu bangsa / daerah dan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilan manusia, disisi lain pendidikan sampai taraf tertentu kini sudah disadari menjadi kebutuhan dasar penduduk dan tolak ukur kemapuan bangsa ( BPS 1996 ). Beberapa indikator yang saling diupayakan untuk mengukur tingkat pendidikan adalah : a. Partisipasi sekolah b. Tingkat pendidikan formal c. Kemampuan baca tulis penduduk d. Kemampuan berbangsa Faktor penyebab rendahnya pendidikan dapat dilihat dari dua sisi : 1. Sisi permintaan, beberapa penyebab tingkat pendidikan masyarakat ratarata masih rendah adalah : a. Masih kurangnya tingkat pendapatan atau faktor kemiskinan b. Kurangnya motivasi atau kemauan untuk mendapat pendidikan yang lebih baik ( tinggi) c. Kesehatah atau kondisi jasmani dan fisiknya yang tidak mengizinkan d. Kesempatan yang tidak ada disebabkan orang tua tidak mampu membiayai e. Faktor- faktor sosial, agama dan kultur ( tradisi ) 2. Sifat penawaran, faktor utama penyebab tingkat rata- rata masih rendah adalah : pendidikan masyarakat

12
a. Masalah kualitas yaitu jumlah fasilitas seperti gedung, perpustakaan beserta isinya dan alat- alat penunjang lainnya, distribusinya menurut wilayah belum merata

b. Masalah kualitas dari komponen- komponen termasuk kulitas dari majalah dan buku ilmiah yang ada di perpustakaan masih relatif rendah. 2.7. Hubungan Pendidikan Terhadap Produktivitas Kerja Peningkatan produktivitas efisiensinya dapat dicapai bila kulitas manusia meningkat, kemapuan manusia diletakkan sebagai posisi sentral dalam proses produksi. Oleh karena itu, pendidikan dipandang sebagai variabel penting dalam menetukan produktivitas. Saat ini wanita bekerja untuk dapat mendatangkan penghasilan yang digunakan untuk mengurangi beban ekonomi keluarga akibat meningkatnya kebutuhan sejalan dengan merasuknya ekonomi uang. Derasnya arus kaum perempuan memasuki dunia kerja juga ada kaitannya dengan meningkatnya pendidikan mereka. Tadjuddin Noer Effendi (1995) mengemukakan bahwa di Indonesia, salah satu strategi yang telah lama diterapkan dalam peningkatan pendidikan. Pendidikan dipandang tidak hanya dapat menambah pengetahuan tetapi juga meningkatkan keterampilan (keahlian) tenaga kerja pada gilirannya dapat meningkatkan produktivitas. Produktivitas disatu pihak dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dilain pihak dapat meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan penduduk. Dalam dua dasawarsa terakhir ini, pendidikan telah meningkat pesat seiring dengan tersedianya fasilitas pendidikan, baik perkotaan maupun pedesaan. Pada umumnya orang yang mempunyai pendidikan yang lebih tinggi akan mempunyai wawasan yang lebih luas terutama penghayatan akan arti pentingnya produktivitas, pengertian pendidikan di sini mencakup pendidikan formal maupun nonformal. Tingginya kesadaran akan pentingnya produktivitas dapat mendorong tenaga kerja yang bersangkutan melakukan tindakan yang produktif. Tingkat pendidikan merupakan komponen yang menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi seseorang dalam berfikir dan bertindak untuk ikut berpartisipasi dalam suatu kegiatan ekonomi guna peningkatan produktivitas dan kehidupan rumah tangganya atau dengan kata lain peningkatan pendapatan wanita dapat dipengaruhi dan diarahkan melalui pendidikan. Umumnya makin tinggi pendidikan seseorang semakin banyak pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki, sehingga secara teoritis semakin terbuka kesempatan kerja baginya untuk memperoleh pekerjaan dan pemanfaatan waktu luang karena dengan semakin tingginya itu akan semakin mudah menerima sesuatu yang bersifat baru atas setiap perubahan dan penerapan apa yang ia peroleh dari dua sumber yaitu pendidikan formal dan nonformal. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam pengembangan sumber daya manusia, pendidikan menambah pengetahuan, baik secara langsung maupun secara tidak langsung menyangkut pekerjaan mengenai tekhnik penyelesaian suatu tugas kerja secara tepat guna. Dengan demikian pendidikan pada dasarnya dapat dipandang sebagai investasi yang imbalannya baru dapat dinikmati beberapa waktu kemudian dalam bentuk pertambahan kemampuan dan keterampilan kerja. Peningkatan produktivitas akan tercermin di dalam imbalan yang diterima dan juga tercermin pada tingkat penghasilan. Adanya sikap dari masyarakat terhadap kaum wanita, antara lain makin disadari pentingnya pendidikan bagi kaum wanita dan perlunya kaum wanita ikut berpartisipasi dalam bekerja untuk mendapatkan penghasilan atau keuntungan, memberikan peluang yang cukup baik bagi kaum wanita untuk ikut aktif dalam berbagai bidang pekerjaan. Jadi peranan pendidikan terhadap produktivitas

13
kerja berhubungan erat dengan pendapatan dimana dengan pendidikan yang lebih tinggi dan oleh karenanya akan memungkinkan tingkat pendapatan atau penghasilan yang lebih tinggi pula. 2.8. Kerangka Pikir Wanita pengusaha merupakan sumber daya manusia yang menjadi salah satu komponen sumberdaya harus memiliki pendidikan. Dimana pengaruh pendidikan dalam meningkatkan produktivitas kerja, sangatlah penting, Pendidikan formal wanita pengusaha adalah SD, SLTP, SLTA dan Akademik/Perguruan Tinggi sebagai input, sehingga menghasilkan out put berupa produktivitas kerja. Untuk mengetahui sejauh mana peranan pendidikan dalam upaya peningkatan produktivitas kerja wanita pengusaha, maka penulis menggunakan alat analisis persentase untuk mengetahui pengaruh peningkatan produktivitas kerja wanita pengusaha, maka digunakan alat analisis regresi linier sederhana dimana, untuk mengkaji pengaruh yang signifikan antara pendidikan (X) terhadap produktivitas kerja (Y) Skema 1 Kerangka Pikir

Sumber Daya Manusia (Wanita Pengusaha)

Pendidikan

Produktivitas Kerja

Alat Analisis Regresi Linier Sederhana

Rekomendasi dan Kesimpulan

14
2.9. Hipotesis Penelitian Berdasarkan pada kajian teori dan empiris, maka penulis mengajukan hipotesis penelitian yaitu : pendidikan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas wanita pengusaha di Kota Kendari.

BAB III METODE PENELITIAN


3.1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dipusatkan di Kota Kendari wanita pengusaha di Kota Kendari. 3.2 Populasi dan Sampel 3.2.1 Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah berjumlah 200 orang di Kota kendari. 3.2.2 Sampel Sampel dalam penelitian ini sebesar 50 orang sesuai diambil dari keseluruhan populasi yang berjumlah 200 orang, Tehnik mengambil sampel adalah purposive sampling, atau penentuan sampel secara sengaja.. 3.3 Instrumen Penelitian Instrumen Penelitian yang digunakan untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah: 1. Instrumen berupa daftar produktivitas hasil kerja. isian untuk mengumpulkan data pendidikan, tentang seluruh wanita pengusaha yang dengan objek penelitian

2. Instrumen berupa angket terbuka karakteristik wanita pengusaha. 3.4 Teknik Pengumpulan Data

untuk

mengumpulkan

data

Teknik dalam penelitian ini yang akan digunakan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan adalah : 1. Observasi, yaitu penelitian yang dilakukan dengan pencarian data kongkrit melalui pengamatan secara langsung dilapangan. 2. Angket, yaitu pengumpulan data dengan cara mengedarkan daftar pertanyaan kepada wanita pengusaha yang telah dipilih sebagai responden. 3. Interview pengumpulan data dengan cara melakukan wawancara secara langsung kepada responden 3.5 Analisa Data Untuk menjawab permasalahan yang ada, maka analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Analisis Regresi Linier Sederhana : (Supranto J, 1984) Y = a + bx + e Disesuaikan dengan penelitian ini, menjadi : Y x : produktivitas kerja : pendidikan tanya jawab yaitu

15
a b e : bilangan konstan : koefisien regresi : simpangan baku

3.6 Definisi Operasional Guna mendapatkan kesatuan pandangan variabel- variabel penelitian, maka setiap berikut: dan persepsi dalam menelaah variabel didefinisikan sebagai

1. Pendidikan adalah jenjang pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh wanita pengusaha di daerah penelitian. Pendidikan formal diukur dari tamat SD, SLTP, SLTA, AKADEMI / Perguruan Tinggi. 2. Produktivitas wanita pengusaha adalah output yang dihasilkan oleh wanita pengusaha dalam kegiatan usahanya dengan menggunakan kemampuan kerja yang didasarkan pada jenjang pendidikan formalnya yang diukur dengan skala likert 1- 5. 3. Pengukuran produktivitas hasil kerja adalah pengukuran hasil kerja yang diperoleh dari output yang dihasilkan berdasarkan kemampuan kerja wanita pengusaha dan diukur dengan skala likert 1 -5.

BAB IV
4.1

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Lokasi Penelitian Letak Lokasi Penelitian

Gambaran Umum 4.1.1.

Secara administratif Kota Kendari dikelilingi dan berbatasan dengan Kecamatan-Kecamatan dari Kabupaten Konawe dan Kabupaten Konawe Selatan serta laut Banda, dengan batas sebagai berikut : a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Moramo dan Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe dan Konawe Selatan c. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Sampara, Kabupaten Konawe dan Konawe Selatan d. Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Ranomeeto dan Kecamatan

Kendari dan Laut

Banda.

Batasan wilayah ini merupakan lingkungan pemerintahan Kota Kendari dalam meningkatkan sumber daya yang ada di dalamnya seperti sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya lainnya yang sinergi dalam menunjang perekonomian masyarakat di Kota Kendari. Dalam penelitian ini letak wilayah Kota Kendari akan memberikan dukungan kepada wanita pengusaha dalam melakukan aktivitasnya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dalam kegiatannya di Kota Kendari, sehingga akan mengarahkan penelitian ini mengemukakan pengaruh dari pendidikan terhadap produktivitas kerja wanita pengusaha. 4.1.2. Geografis dan Luas Wilayah

Kondisi luas wilayah Kota Kendari sampai pada tahun 2004, Administrasi Kota Kendari terbagi dalam 6 Kecamatan, dengan 51 Kelurahan. Wilayah Kota Kendari terletak di jasirah Tenggara Pulau Sulawesi dengan posisi geografis berada pada bagian selatan khatulistiwa pada posisi 300 - 425 Lintang Selatan dan 12173 - 12315 Bujur Timur. Luas daratan Kota Kendari 295,28 km atau 0,70 % dari luas keseluruhan daratan Provinsi Sulawesi

16
Tenggara Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa luas wilayah Kendari disajikan pada tabel 1. Tabel.. 1. Luas wilayah Kota Kendari menurut Kecamatan, Tahun 2005 No. Kecamatan km 1. 2. 3. 4. 5. 6. M a n d o n g a P o a s i a 119,68 64,51 16,75 8,95 67,25 18,75 295,89 L u a s % 40,45 21,80 5,66 3,02 22,73 6,34 100 Kota

K e n d a r i B a r u g a A b e l i Kendari Barat J u m l a h

Sumber Data : Kantor BPS Kota Kendari, (Data Diolah, 2005) Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat dijelaskan bahwa luas wilayah Kota Kendari 295,89 km2. Di Kota Kendari luas wilayah Kecamatan Mandonga 119,69 km2 sedangkan wilayah kecamatan Baruga hanya seluas 8,95 km2 atau 3,02 persen dari luas Kota Kendari. Selain itu luas wilayah Kecamatan Poasia 64,51 km2 atau 21,80 persen. Luas Kecamatan Kendari 16,75 km2 atau 5,66 persen, luas Kecamatan Abeli 67,25 km2 atau 22,73 persen sedangkan luas Kecamatan Kendari Barat 18,75 km2, atau 6,34 persen. 4.1.3. Topografi dan Iklim

Kota Kendari berada pada ketinggian 2 5 meter diatas permukaan laut, dengan kemiringan lahan sebagian besar 0 sampai 2 %. Sebagian besar wilayah Kota Kendari merupakan dataran rendah namun pada sisi Utara dan Barat terdapat perbukitan dengan kemiringan lebih dari 30 %. Kota Kendari mempunyai iklim, dengan curah hujan rata-rata sekitar 1.745,5 sampai 2.995,5 mm pertahun dengan rata-rata 123,4 hari hujan dalam setahun. Curah hujan terbanyak terjadi pada bulan Mei dan paling sedikit terjadi pada bulan Agustus. Suhu harian rata-rata berdasarkan laporan stasiun pangkalan Wolter Monginsidi, Kendari berkisar antara 23 C sampai 32 C, dengan suhu rata-rata 27,5 C. Tekanan udara rata-rata 1.009,8 milibar dan kecepatan angin mencapai 8 m/detik, dengan tingkat kelembapan udara rata-rata 84 %. 4.1.4. Demografi

Penduduk Kota Kendari sampai pada tahun 2004, penduduk Kota Kendari sebanyak 221.723 jiwa, dengan laju pertumbuhan penduduk antara tahun 2001 dan 2004 sebesar 5,98 % / tahun. Persebaran penduduk Kota Kendari saat ini terpusat di Kecamatan Mandonga dan Kecamatan Baruga, sehingga menimbulkan dampak perkembangan aktivitas ekonomi baru pada kedua kawasan tersebut. Kondisi demografi dapat disajikan pada tabel berikut :

17
Tabel 2 : Penduduk No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kecamatan 2001 Mandonga P o a s i a K e n d a r i B a r u g a A b e l i Kendari Barat Jumlah 97.813 43.944 58.717 200.474 2002 45.926 48.627 58.659 51.117 204.239 2003 48.613 49.631 58.941 52.032 209.217 2004 53.427 31.986 22.640 56.292 18.000 39.378 221.723 Kota Kendari berdasarkan Kecamatan Tahun 2005 Tahun

Sumber Data : Kantor BPS Kota Kendari, (Data Diolah Tahun 2005) Berdasarkan data pada tabel di atas, maka dapat dijelaskan bahwa penduduk Kota Kendari pada tahun 2001 berjumlah 200.474 jiwa yang berada pada Kecamatan Mandonga, Kecamatan Kendari dan Kecamatan Poasia. Pada tahun 2002 jumlah penduduk Kota Kendari sebanyak 204.239 jiwa yang berada pada Kecamatan Mandonga, Kecamatan Kendari dan Kecamatan Poasia serta Kecamatan Baruga, tahun 2003 jumlah penduduk sebanyak 209.217 jiwa yang berada pada Kecamatan Mandonga, Kecamatan Kendari dan Kecamatan Poasia serta Kecamatan Baruga, sedangkan pada tahun 2004 jumlah penduduk Kota Kendari sebanyak 221.723 jiwa yang tersebar di Kecamatan Mandonga, Kecamatan Kendari, Kecamatan Poasia, Kecamatan Baruga, Kecamatan Kendari Barat dan Kecamatan Abeli. Dalam penelitian ini kepadatan penduduk berkaitan dengan jumlah wanita pengusaha yang akan diteliti lebih lanjut untuk menjawab permasalahan yang dikemukakan dalam penelitian ini. Selain itu wanita pengusaha yang diteliti, tersebar di 6 Kecamatan yang ada di Kota Kendari. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa jumlah wanita pengusaha di Kota Kendari mencapai 200 jiwa dan menjalankan usaha dalam berbagai bidang. Adapun penyebaran wanita pengusaha di Kota Kendari menurut Kecamatan dapat disajikan pada tabel berikut : Tabel 3. Jumlah Wanita Pengusaha menurut Kecamatan, Tahun 2005 No. Kecamatan Wanita Pengusaha Jumlah 1. 2. 3. 4. 5. 6. M a n d o n g a P o a s i a K e n d a r i B a r u g a A b e l i Kendari Barat J u m l a h 52 18 43 24 26 37 200 % 26,00 9,00 21,50 12,00 13,00 18,50 100

Sumber Data : Kantor BPS Kota Kendari Berdasarkan data pada tabel di di atas, dapat dijelaskan bahwa wanita pengusaha yang berada di Kota Kendari sebagian besar berada di Kecamatan Mandonga sebanyak 52 jiwa atau 26,00 persen, di Kecamatan Poasia 9,00 persen, di Kecamatan Kendari 21,50 persen, di Kecamatan Baruga 12,00 persen, di Kecamatan Abeli 13,00 persen, dengan di Kecamatan Kendari banyak sebanyak 18,50 persen dari jumlah wanita pengusaha di Kota Kendari.

18
4.2. Karakteristik Responden Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh pendidikan terhadap produktivitas wanita pengusaha di Kota Kendari menggunakan responden sebanyak 50 orang dengan karakteristik yang dapat dijelaskan sebagai berikut : 4.2.1. Tingkat Usia

Tingkat usia responden yang dikaji dalam penelitian ini mempunyai kaitan terhadap produktivitas wanita pengusaha. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa wanita pengusaha di Kota Kendari mempunyai tingkat usia yang disajikan pada tabel berikut : Tabel 4. No. 1. 2. 3. 4. 5. Karakteristik Wanita Pengusaha menurut Tingkat Usia, Tahun 2005 Tingkat Usia 25 30 31 34 35 40 41 44 45 50 J u m l a h Wanita Pengusaha Jumlah % 6 12,00 9 18,00 18 36,00 13 26,00 4 8,00 50 100,00

Sumber: Data diolah, Tahun 2005 Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat dijelaskan bahwa tingkat usia wanita pengusaha di Kota Kendari berkisar antara 25 50 tahun, dari hasil penelitian diperoleh bahwa wanita pengusaha yang diteliti yang berusia antara 25 30 tahun, sebanyak 6 orang atau 12,00 persen, wanita pengusaha yang berusia antara 31 34 tahun sebanyak 9 orang atau 18,00 persen, wanita pengusaha yang berusia antara 35 40 tahun sebanyak18 orang atau 36,00 persen, wanita pengusaha yang berusia antara 41 44 tahun sebanyak 13 orang atau 26,00 persen, dan wanita pengusaha yang berusia antara 45 50 tahun sebanyak 4 orang atau 8,00 persen. 4.2.2. Tingkat Pendidikan Pendidikan yang dimiliki oleh setiap responden yang diteliti cukup bervariasi antara terutama pendidikan formal dari jenjang SMP hingga Sarjana. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa responden yang diteliti mempunyai jenjang pendidikan formal yang disajikan pada tabel berikut : Tabel 5 No. 1. 2. 3. 4. Karakteristik Wanita Pengusaha menurut Tingkat Pendidikan, tahun 2005 Tingkat Pendidikan SMP SMA Diploma Sarjana J u m l a h Wanita Pengusaha Jumlah % 8 12,00 14 28,00 7 14,00 23 46,00 50 100,00

Sumber: Data diolah, Tahun 2005 Berdasarkan data pada tabel di atas dapat dijelaskan bahwa tingkat pendidikan responden dalam melakukan kegiatan usaha di Kota Kendari

19
diperoleh responden yang berpendidikan SMP sebanyak 6 orang atau 12,00 persen, responden yang berpendidikan SMA sebanyak 14 orang atau 28,00 persen, responden yang berpendidikan Diploma sebanyak 7 orang atau 14,00 persen, sedangkan responden yang berpendidikan sarjana dalam melakukan kegiatan sebagai wanita pengusaha sebanyak 23 orang atau 46,00 persen. Responden dengan tingkat pendidikan SMP mempunyai kegiatan usaha yang bervariasi mulai dari usaha konveksi, salon, maupun jenis usaha perdagangan barang dan jasa untuk menghidupi keluarganya. Begitu pula responden dengan tingkat pendidikan formal SMA, Disploma dan Sarjana, mereka pada umumnya melakukan usaha sesuai dengan kemampuannya. 4.2.3. Jumlah Tanggungan

Kegiatan usaha yang dilakukan oleh setiap wanita pengusaha juga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Kebutuhan keluarga tersebut hanya dapat terpenuhi dengan baik, kegiatan usaha juga dapat berlangsung dengan baik. Hasil penelitian diperoleh bahwa jumlah tanggungan responden dapat disajikan pada tabel berikut : Tabel 5 No. 1. 2. 3. 4. Karakteristik Wanita Pengusaha menurut Jumlah Tanggungan, tahun 2005 Jumlah Tanggungan 2 3 - 4 5 - 6 7 J u m l a h Wanita Pengusaha Jumlah % 15 30,00 19 38,00 9 18,00 7 14,00 50 100,00

Sumber: Data diolah, Tahun 2005 Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat dijelaskan bahwa jumlah tanggungan keluarga dari setiap responden wanita pengusaha dalam penelitian ini antara 2 hingga 7 orang. Terdapat 15 responden 30,00 persen yang mempunyai tanggungan kurang dari 2 orang, 19 responden atau 38,00 persen mempunyai tanggungan antara 3 4 orang, 9 responden atau 18,00 persen mempunyai tanggungan antara 5 6 orang dan 7 responden atau 14, 00 persen mempunyai tanggungan lebih dari 7 orang. Jumlah tanggungan yang dikemukakan dalam penelitian ini berhubungan dengan kinerja usaha wanita pengusaha untuk membantu dan memenuhi kebutuhan rumah tanggganya melalui kegiatan usaha yang dilaksanakan. Jumlah tanggungan yang bervariasi bagi setiap keluarga responden merupakan tanggung jawab masing-masing responden dan mereka mereka terus berupaya untuk menjaga kelangsungan usahanya. Para tertanggung juga ada yang terlibat secara langsung dalam usahausaha yang dilakukan oleh wanita pengusaha. Banyaknya tertanggung yang digunakan sebagai tenaga kerja oleh wanita pengusaha tergantung pada kebijakan pengusaha tersebut. 4.2.4. Pengalaman Usaha

Kegiatan usaha yang dilakukan dalam kurun waktu tertentu, mengarah pada lamanya berusaha dan menimbulkan pengalaman usaha bagi setiap pelaku usaha. Para pelaku usaha seperti wanita pengusaha ini mempunyai pengalaman yang berbeda-beda dalam melaksanakan kegiatan usahanya.

20
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa pengalaman usaha yang dimiliki oleh wanita pengusaha dalam melakukan kegiatan usaha dapat disajikan pada tabel berikut : Tabel 6 No. 1. 2. 3. 4. Karakteristik Wanita Pengusaha menurut Pengalaman usaha, tahun 2005 Pengalaman Usaha 5 6 - 10 11 - 15 16 J u m l a h Wanita Pengusaha Jumlah % 5 10,00 11 22,00 20 40,00 14 28,00 50 100,00

Sumber: Data diolah, Tahun 2005 Berdasarkan data pada tabel yang disajikan di atas, dapat dijelaskan bahwa pengalaman responden bervariasi dalam melakukan kegiatan usaha, adanya yang kurang dari 5 tahun dan ada yang lebih dari 15 tahun. Pengalaman ini mendukung kelancaran usaha yang dilakukan oleh responden untuk memperoleh keuntungan. Hasil penelitian diperoleh bahwa 5 responden atau 10 persen mempunyai pengalaman hingga 5 tahun, 11 responden atau 22,00 persen mempunyai pengalaman antara 6 10 tahun, 20 responden atau 40,00 persen mempunyai pengalaman berusaha antara 11 15 tahun selain itu terdapat responden yang mempunyai pengalaman lebih dari 16 tahun sebanyak 14 responden atau 28,00 persen. Keterkaitan penelitian ini dengan karakteristik responden pada tingkat usia responden dalam melakukan kegiatan usaha, pendidikan responden, tanggungan keluarga dan pengalaman usaha yang mata rantai yang saling berhubungan untuk meningkatkan produktivitas kerja. 4.3. Pengaruh Pendidikan Terhadap Produktivitas Kerja Wanita Pengusaha Dalam penelitian ini akan diteliti lebih lanjut tentang pengaruh pendidikan terhadap produktivitas kerja wanita pengusaha yang ada di Kota Kendari. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linear sederhana. Namun sebelumnya perlu dijelaskan variabel pendidikan dan produktivitas. 4.3.1. Pendidikan (X) adalah kemampuan kerja pendidikan formal dari usaha Dalam penelitian likert yang hasilnya

Pendidikan yang dikajikan dalam penelitian ini atas dasar pengetahuan yang diperoleh dari jenjang seorang wanita pengusaha untuk melaksanakan kegiatan ini pendidikan diukur dengan menggunakan skala disajikan pada lampiran 1. 4.3.2. Produktivitas (Y)

Produktivitas kerja dari seorang wanita pengusaha merupakan output yang dihasilkan dari setiap kegiatan usaha yang dilakukannya. Di dalam penelitian ini produktivitas kerja wanita pengusaha dipengaruhi oleh pendidikan sebagai kemampuan dalam melaksanakan kegiatan usaha yang dihasilnya diukur dengan skala likert dan disajikan pada lampiran 1. 4.4. Analisis Regresi Linear Sederhana Dalam menganalisis penelitian ini perlu dijelaskan bahwa terdapat faktor pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi produktivitas wanita

21
pengusaha di Kota Kendari lingkungan masyarakat. yang meliputi keluarga, kebutuhan ekonomi dan

Variabel pendidikan dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui pengaruh pendidikan terhadap produktivitas kerja wanita pengusaha di Kota Kendari. Pendidikan yang diteliti tersebut mengarah pada pengetahuan dan kemampuan wanita pengusaha dalam menghadap berbagai kegiatan usaha untuk meningkatkan produktivitas kerja dan kelangsungan usahanya.. 4.4.1. Pengujian Hipotesis

Data yang diperoleh dari hasil penelitian seperti yang telah dijelaskan dalam deskritif variabel, maka untuk membuktikan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, dimana diduga bahwa pendidikan mempunyai pengaruh terhadap produktivitas wanita pengusaha di Kota Kendari, maka digunakan Analisis Regresi Sederhana. Dari hasil analisis tersebut dengan menggunakan program SPSS diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 8. Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana Koefisien Standar t hitung Signifikan Regresi Error t (Stat) (B) X (Pendidikan) 0,143 0,012 12,384 0,000 Konstanta = 8,486 FRatio/FHitung = 153,374 Adjusted R Square = 0,757 R Square = 0,762 Multiple R = 0,873 Sumber : Hasil Analisis dengan Program SPSS. Berdasarkan hasil analisis regresi linear sederhana, diperoleh persamaan regresi sebagai berikut : Y = 8,486 + 0,143X Berdasarkan persamaan di atas, dapat regresi variabel sebagai berikut : 4.4.2. Variabel Pendidikan dijelaskan pengaruh koefisien Variabel Bebas r Partial 0,873

Dalam penelitian ini variabel X (Pendidikan) mempunyai koefisien regresi sebesar 0,143 artinya, dalam setiap kegiatan wanita pengusaha membutuhkan kenaikkan pendidikan sebesar 14,3 % untuk dapat memahami dan melaksanakan kegiatan tersebut. Besarnya koefisien korelasi (r) pendidikan diperoleh sebesar 0,873, artinya tingkat keeratan hubungan antara pendidikan dan produktivitas kerja wanita pengusaha positif sangat kuat sebesat 87,3 % Hasil analisis tersebut dapat diinterpretasikan bahwa setiap pendidikan, akan mempengaruhi produktivitas (Y) sebesar 14,3 % dengan asumsi faktor lain Cateri paribus. Uji simultan pada level of confidence sebesar 95% ( = 0,05) Fratio diperoleh sebesar 153,374 sedangkan Ftabel = 4,22, berarti secara simultan

22
variabel pendidikan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas kerja wanita pengusaha. Selain itu diperoleh nilai thitung = 12,384 lebih besar dari ttabel = 1,706 yang menunjukkan bahwa pendidikan berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja wanita pengusaha. 4.5. Pembahasan Hasil analisis diperoleh bahwa pendidikan wanita pengusaha merupakan pendidikan formal yang diperoleh dari bangku sekolah hingga perguruan tinggi, namun terdapat juga wanita pengusaha yang berpendidikan SMP karena pengalamannya dalam dunia usaha dan ketekunannya melakukan kegiatan usaha. Hasil analisis regresi sederhana diperoleh bahwa tingkat pendidikan wanita pengusaha berpengaruhi secara signifikan terhadap produktivitas kerja. Hal ini menunjukkan bahwa wanita pengusaha yang ada di Kota Kendari mempunyai tingkat pendidikan yang mendukung aktivitas kegiatan usaha mereka sehingga pekerjaan mereka dapat dilaksanakan dengan baik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan mempunyai pengaruhi yang signifikan terhadap produktivitas wanita pekerja di Kota Kendari, sekaligus memberikan bukti bahwa hipotesis yang dikemukakan dalam penelitian ini dapat dibuktikan BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Hasil penelitian diperoleh bahwa tingkat pendidikan merupakan jenjang formal yang dibutuhkan untuk menambah pengetahuan wanita pengusaha dalam kegiatan usahanya dan menyebabkan tingkat pendidikan berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja wanita pengusaha. 2. Hasil analisis diperoleh bahwa tingkat pendidikan wanita pengusaha dalam melakukan kegiatan usaha di Kota Kendari mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas kerja, dengan demikian hipotesis penelitian terbuktikan. 3. Wanita pengusaha dapat melakukan kegiatan usaha dengan baik selain didukung oleh modal kerja, keterampilan dan kemampuan didukung juga oleh tingkat pendidikan. 5.2. Saran Berdasarkan kesimpulan yang dikemukakan sebelumnya, maka dapat disarankan sebagai berikut : 1. Untuk meningkatkan pendidikan wanita pengusaha, maka setiap wanita pengusaha dapat memenuhi kebutuhkan pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal yang berhubungan dengan pekerjaannya 2. Untuk meningkatkan produktivitas menyediakan fasilitas usaha dan kelancaran usaha. kerja, wanita sumberdaya yang pengusaha harus dapat mendukung

3. Untuk meningkatkan sumber daya wanita pengusaha, maka pemerintah diharapkan dapat memberikan peluang bagi berkembangnya kegiatan usaha yang dilakukan oleh kaum wanita di Kota Kendari.

23
DAFTAR PUSTAKA Effendi, Tadjuddin Noer . 1995. Dumber Daya Manusia, Peluang Kerja dan Kemiskinan Cet. II. Tiara Wacana, Yogya. Ihromi Tapi Omas, 1990. Para Ibu Yang Berperan Ganda dan Berperan Tunggal, FE- UI, Jakarta. Ken Suratiyah Dkk, 1996. Dilema Wanita Antara Industri Rumah Tangga dan Aktivitas Akademi, Aditya Media, Yogyakarta. Komaruddin, 1986. Ensiklopedi Manajemen. Peningkatan Alumni. Bandung. Karyawan. PT Binawan Terhadap Skripsi. Kusriyanto Bambang, 1984. Pressindo, Jakarta. Produktivitas

Lustiawaty, FH. 1997. Pengaruh Pendidikan dan Latihan (Diklat) Produktivitas Kerja Karyawan pada PT. Bank BTN Cabang Kendari. Tidak Diterbitkan Mali Paul, 1981. Mangement Hand Book, John Weley and Sons Poerwadarminta Jakarta. W. J. S, 1987. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Balai

Pustaka,

Sayogyo Pudjiwati. 1984. Peranan Wanita Dalam Pembanguan Ekonomi, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta. Sayogyo Pudjiwati. 1985. Pengaruh Teknologi pada Lembaga Penelitian Sosiologi Pedesaan IPB. Bogor Simanjuntak, J. P. 1996. Pembangunan Brawijaya Vol 8 ( 1 ) 1996. TAP MPR. 1993, Peranan Wanita. Perkembangan Masyarakat,

Sinungan Muchdarsyah, 1987. Produktivitas Apa dan Bagaimana. Bina Aksara, Jakarta. dan Ketenagakerjaan. Jurnal Univerisitas Jakarta

MPR RI,

--------------------, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2003 Utari Munandar, S.C, 1985. Marginalisasi Pekerja Wanita Di Pedesaan. Penelitian Kependudukan UGM. Yogyakarta. Winardi, 1982. Kamus Ekonomi. Cetakan IX. CV Mandar Maju, Jakarta Winardi, 1986. Kamus Ekonomi. 2.00 4.00 4.00 4.00 4.00 3.00 4.00 3.00 3.00 BPFE-UI. Jakarta DATA STATISTIK 77.00 90.00 88.00 85.00 89.00 76.00 84.00 82.00 78.00 Pusat

24
82.00 87.00 94.00 72.00 88.00 91.00 83.00 83.00 96.00 95.00 81.00 87.00 79.00 82.00 68.00 67.00 81.00 94.00 93.00 84.00 78.00 78.00 85.00 91.00 83.00 79.00 78.00 85.00 86.00 84.00 79.00 95.00 89.00 82.00 83.00 92.00 4.00 4.00 5.00 2.00 4.00 5.00 5.00 4.00 5.00 5.00 3.00 3.00 2.00 3.00 1.00 1.00 3.00 5.00 5.00 4.00 4.00 2.00 3.00 5.00 3.00 2.00 2.00 3.00 3.00 3.00 3.00 5.00 5.00 4.00 4.00 5.00

25
79.00 79.00 71.00 86.00 96.00 2.00 3.00 2.00 4.00 5.00

Regression
Variables Entered/Removed Model Variables Variables Entered Removed 1 X . a All requested variables entered. b Dependent Variable: Y Method Enter

Model Summary R R Adjusted Std. Error Change Square R Square of the Statistics Estimate Model 1 .873 .762 .757 a Predictors: (Constant), X b Dependent Variable: Y ANOVA
Model 1 Regression Sum of Squares 49.110 df 1 Mean Square 49.110 F 153.374 Sig. .000

DurbinWatson df1 1 df2 48 Sig. F Change .000 1.215

R Square F Change Change .5659 .762 153.374

Residual

15.370

48 49

.320

Total 64.480 a Predictors: (Constant), X b Dependent Variable: Y Coefficients Unstandar dized Coefficient s Model 1 (Constant) X B -8.486 .143

Standardiz ed Coefficient s Std. Error .973 .012 .873 Beta

Sig.

Correlation s

Zero-order -8.724 12.384 .000 .000 .873

Partial

Part

.873

.873

a Dependent Variable: Y

26
Residuals Statistics Minimum Maximum Mean Std. Deviation 1.0011 N

Predicted Value Residual Std. Predicted Value Std. Residual

1.1040

5.2547

3.5200

50

-.9666 -2.413

1.6060 1.733

-1.4699E-15 .000

.5601 1.000

50 50

-1.708

2.838

.000

.990

50

a Dependent Variable: Y