Anda di halaman 1dari 17

PEMANFAATAN PASIR DAN DEBU MERAPI SEBAGAI BAHAN KONSTRUKSI DALAM MENDUKUNG PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DAN MENINGKATKAN NILAI

GUNA LAHAR VULKANIK
Oleh

Lasino, Bambang Sugiharto dan Dany Cahyadi1

Abstrak Material merapi (pasir dan debu), merupakan bahan mineral yang dikeluarkan dari dalam bumi melalui letusan Gunung Merapi di wilayah Yogyakarta yang terjadi pada tanggal 26 Oktober 2010 pukul 17.02 WIB. Bahan ini berbentuk butiran halus sampai dengan sedang (0,15 s/d 5 mm),memiliki ukuran butir yang beragam dan keras dengan berwarna abu-abu kehitaman. Secara umum unsur kimia yang terkandung didominasi oleh silika (> 60%), alumina (17%), dan unsur lain seperti besi, kalsium dan magnesium dengan jumlah yang relatif kecil. Dalam upaya pemanfaataannya, sebagai bahan bangunan bersemen (cement based materials) seperti mortar dan beton, dilakukan proses pencampuran dan pencetakan sehingga diperoleh produk yang keras, kuat dan stabil. Karena sifat teknis dan ukuran dari abu dan pasir yang berbeda, maka untuk mengetahui optimalisasi dari keduanya dibuat variasi campuran dengan perbandingan antara 0,0 sampai 100% terhadap berat pasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa abu merapi dapat digunakan untuk campuran mortar dengan jumlah maksimum sebesar 30% dari jumlah pasir dan bila digunakan untuk beton penggunaan abu dibatasi sesuai mutu beton yang ingin dicapai. Untuk beton mutu f”c 20 Mpa penggunaan abu dapat dilakukan sampai dengan 25% dari berat pasir tetapi untuk beton f”c 40 Mpa hanya dapat dilakukan sampai dengan 10% dari berat pasir. Hal ini disebabkan adanya pembatasan kandungan kadar mortar atau ultra finnes dalam campuran beton yang apabila berlebihan dapat mengakibatkan penyusutan yang besar sehingga kekuatannya turun. Dari hasil penelitian ini dapat diindikasikan bahwa bahan tersebut dapat dimanfaatkan untuk bahan konstruksi seperti mortar dan beton dengan proporsi yang tepat sehingga memenuhi persyaratan teknis (kuat, awet dan stabil) serta dapat memberikan nilai ekonomis sebagai upaya penyediaan bahan konstruksi untuk pembangunan infrastruktur sekaligus pengurangan dampak negatif terhadap lingkungan. Kata kunci: material merapi, bahan konstruksi, dampak negatif

1

Peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman – Kementerian Pekerjaan Umum

19

peningkatan ekonomi masyarakat serta penanganan masalah lingkungan. Kondisi ini diperparah dengan semakin terbatasnya daya tampung beberapa sungai sebagai daerah pengaliran karena mengalami pendangkalan akibat pengendapan/sedimentasi dari lahar tersebut. Berdasarkan sifat-sifat dasar yang dimiliki serta hasil penelitian pendahuluan yang telah dilakukan ternyata abu dan pasir tersebut dapat dikembangkan menjadi konstruksi dengan hasil yang cukup baik. ekonomis dan praktis sehingga mudah dikembangkan bagi masyarakat setempat. dalam upaya pemanfaatan mineral serta mendukung kegiatan pembangunan infrastruktur. Akibat kejadian ini telah menyebabkan berbagai dampak.1 Latar Belakang Peristiwa meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta yang terjadi pada 26 Oktober 2010 pukul 17. fisik dan mekanik). jenis produk yang bias dikembangkan.2 Permasalahan Terjadinya letusan Gunung Merapi yang sangat dahsyat dan telah menghasilkan limpahan material (abu dan pasir) yang menyebar dan menutupi hampir ke seluruh sungai di daerah aliran sekitar perlu dikelola atau dimanfatkan secara baik sebagai solusi penanggulangan untuk mengurangi dampak negatif yang lebih besar. perlu dikembangkan pemanfataan material tersebut sebagai bahan konstruksi. 20 . Permasalahannya adalah bagaimana karakteristik material dan proporsi yang tepat serta produk apa yang bisa dikembangkan untuk mendukung industri konstruksi di lokasi tersebut. serta pembuatan beton dengan beberapa mutu (f”c). teknologi dan produk yang sesuai dengan kebutuhan saai ini. Kegiatan ini dimaksudkan pertama untuk mengetahui sifat teknis dari material Merapi (abu dan pasir). psiologi masyarakat dan sebagainya.I PENDAHULUAN 1. 1. dan stabil. uji coba mortar di laboratorium dari berbagai proporsi/kadar abu. Dengan demikian dalam pengembangannya dapat diberikan suatu perlakuan yang tepat untuk menghasilkan produk yang baik. diharapkan akan diperoleh suatu proporsi yang tepat dan hasil yang baik serta ekonomis sehingga dapat membantu dalam kegiatan industri konstruksi. keras. maka perlu disusun suatu strategi yang tertuang dalam lingkup dan metoda penelitian yang meliputi analisis bahan baku (sifat kimia. perlu dikaji lebih jauh yang berorientasi pada optimalisasi pemanfaatan bahan. baik sosial.00 WIB dan sampai saat ini masih terus mengancam wilayah sekitarnya dengan adanya banjir lahar dingin serta telah menimbulkan kerugian materiil yang besar bagi masyarakat setempat perlu dilakukan upaya-upaya penanggulangannya. gangguan transportasi. Selanjutnya untuk jangka panjang. optimalisasi penggunaan abu serta kualitas yang dihasilkan khususnya untuk mortar dan beton. ekonomi (stagnasi usaha). Melalui serangkaian penelitian tersebut. Untuk mencapai sasaran penelitian.

berat jenis atau sumbernya [5]. agregat dibagi atas 2 jenis yaitu: • Agregat halus. oleh karena itu harus dilakukan pengendalian mutu (quality control) sebelum digunakan sebagai bagian dari jaminan mutu (quality assurance) terhadap mortar atau beton yang akan dihasilkan [12].075 s/d 4. keras dan stabil.4 Hipotesa Mineral yang dikeluarkan dari letusan Gunung Merapi tersebut memiliki sifat-sifat fisis berbentuk butiran yang beragam (halus sampai dengan kasar).3 Tujuan Salah satu tujuan dari kegiatan pemanfaatan material merapi ini adalah untuk meningkatkan nilai guna dari bahan tersebut yang sangat melimpah dan semakin mengganggu lingkungan serta tersedianya bahan konstruksi (mortar dan beton) dalam mendukung kegiatan pembangunan infrastruktur. dan memiliki unsur kimia yang didominasi oleh silika (> 60%). uji coba pembuatan mortar dan pembuatan beton dengan berbagai mutu (karakteristik). dengan ukuran butir antara 0. penentuan proporsi.7 21 .8 s/d 2. berwarna abu-abu kehitaman.7 dan • Agregat berat dengan berat jenis di atas 2.8 s/d 40 mm Berdasarkan sumbernya. Mutu agregat sangat menentukan kualitas mortar dan beton yang dihasilkan. Berdasarkan besar butir. adalah hasil desintegrasi batuan alam • Agregat pecah adalah hasil pemecahan batuan alam • Agregat buatan yaitu hasil suatu proses pembakaran. agregat dibagi atas 3 jenis yaitu: • Agregat ringan dengan berat jenis s/d 1. dapat diperkirakan bahwa bahan ini dapat dikembangkan sebagai agregat dalam pembuatan mortar dan beton. kalsium dan magnesium dengan jumlah yang relative kecil.1 Agregat Agregat sebagai bahan pengisi dalam pembuatan mortar dan beton mempunyai peranan penting karena beberapa fungsi yang dimiliki diantaranya adalah untuk menambah kekuatan.8 • Agregat normal dengan berat jenis 1. Untuk mencapai hasil yang optimal perlu dilakukan serangkaian penelitian dari pengujian bahan baku. dan beberapa unsur lain seperti besi. Klasifikasi agregat dapat dibedakan atas beberapa kriteria misalnya berdasarkan besar butirnya. agregat dibagi atas 3 jenis yaitu: • Agregat alam. Dengan data tersebut. 1. mengurangi penyusutan dan mengurangi penggunaan semen [16]. dll Sedangkan berdasarkan beratnya.8 mm • Agregat kasar dengan ukuran butir antara 4. alumina (17%).1. II DASAR TEORI 2.

1 Agregat Halus/Pasir Agregat halus dapat berupa pasir alami atau pasir buatan dari proses pemecahan batuan dengan kehalusan butir lolos saringan 4.4 1.95 75 -100 85 – 100 95 . Pasir untuk Mortar Sedangkan untuk agregat mortar diklasifikasi menjadi 2 (dua) jenis berdasarkan penggunaannya yaitu untuk pasangan bata dan untuk plesteran dengan kehalusan (gradasi) sebagaimana disajikan dalam Tabel 2 berikut.0 100.2 0.20 8 -30 12 .90 75 .40 15 – 50 0 -10 0 -10 0 .0 90 .0 100. 03-1750-1990 dengan bagian yang lolos saringan 0.8 2. mempunyai gradasi yang baik.100 60 . Pasir untuk Beton Untuk agregat beton diklasifikasi menjadi 4 (empat) batasan gradasi (grading zone) sebagaimana disajikan dalam Tabel 1 berikut.6 4.0) mm.6 0.59 60 .1.100 90 . Penggunaan agregat halus pada umumnya untuk pembuatan beton dan mortar.100 90 . kekal dan stabil.3 mm tidak kurang dari 15% agar dapat berfungsi dengan baik terhadap sifat workabilitas dan kepadatan adukan.79 80 – 100 5 .0 100. Tabel 1 Gradasi Pasir untuk Beton Ayakan BS.3 0. 22 . Pasir harus memenuhi syarat SNI No.100 30 -70 55 . keras. dimana masing-masing mempunyai batasan kehalusannya sehingga dapat dibedakan berdasarkan gradasi atau batasan besar butir sebagai berikut.15 Persentase berat yang lewat pada ayakan Grading Grading Grading Grading zone 1 zone 2 zone 3 zone 4 100. 882 (mm) 9.100 90 – 100 95 .100 15 .34 35 .8 (5. 1.2.10 0 – 15 2. Agregat halus harus bersih dari kotoran organic dengan kandungan lumpur maksimum 5.0%.

100 100 100 37 -70 95 .8 Persentase berat yang lewat pada ayakan Ukuran nom inal agregat/kerikil (m m ) 4.10 0 . tentang Specification for concrete aggregate • BS-882-92.9.38 4. keras. tentang Specification for concrete aggregate • Dan standar padanan lainnya Persyaratan gradasi kerikil dibagi atas 3 kelompok berdasarkan besar butir maksimum.19 4.8 . seperti dalam Tabel 3 berikut.10 2. terutama 23 . Agregat kasar harus mempunyai gradasi yang baik.19 0.0) mm.38 1.2 Mortar Mortar merupakan bahan yang banyak digunakan dalam industri konstruksi.Tabel 2 Gradasi Pasir untuk Mortar Lubang Ayakan (mm) 9.52 4. 2. Beberapa standar lainnya yang dapat digunakan sebagai acuan adalah. Tabel 3 Gradasi Kerikil untuk Beton Ayakan BS.30 0.8 .100 100 10 .0 9.90 35 .59 0.100 70 .8 .70 10 .6 95 . Kerikil harus memenuhi syarat SNI No. kekal dan stabil. dengan kadar Lumpur maksimum 1.40 30 .2 Agregat Kasar/Kerikil Agregat kasar dapat berupa kerikil alami atau pecah dari proses pemecahan batu gunung dengan kehalusan butir lolos saringan 38 (40. 882 (m m ) 38.6 4.100 40 .100 60 .60 50 .76 2.30 0-5 Dengan batasan kehalusan butir (gradasi) di atas maka dapat dipilih kesesuaian penggunaan pasir yang tersedia apakah dapat digunakan secara langsung atau perlu pengayakan terlebih dahulu sebelum digunakan.1.0 19.85 0-5 0 . • ASTM C-33-93.15 Untuk Plesteran 100 100 90 .0%.35 2 . 03-1750-1990 tentang spesifikasi agregat untuk beton.15 Untuk Pasangan Bata 100 100 95 .75 10 . tentang Specification for concrete aggregate • JIS A-1102.

retensi flow. Mortar tipe RO dengan kuat tekan 28 hari sebesar 2. kestabilan bentuk dan kekedapan air sangat memegang peranan penting. ada empat konsep dasar yang perlu diikuti dalam memproduksi mortar yaitu : Pertama. penyusutan. teknik pelaksanaan.4 Mpa (24 kg/cm2). bahan kimia serta pemilihan bentuk agregat yang sesuai. kekedapan dan ketahanan terhadap lingkungan agresif. kelecakan/flow. Ketiga. dengan mengurangi rasio air-semen dan atau dengan menggunakan plastiziser. selain kuat tekan. kuat tekan. dan kuat geser. proporsi campuran. Saat ini penggunaan mortar telah berkembang ke berbagai jenis pekerjaan sehingga menuntut beberapa persyaratan teknis yang harus dipenuhi. retensi air. peningkatan kekuatan pasta semen dengan cara : Mengurangi porositas pasta. Mortar tipe RS dengan kuat tekan 28 hari sebesar 12. Agregat yang digunakan dalam mortar harus dipilih dengan mutu yang baik. 2. Secara umum peningkatan mutu mortar sangat tergantung pada besarnya perbandingan air–semen dan perbandingan aditif-semen serta kwalitas agregat yang digunakan. kelecakan/workabilitas. peningkatan kuat lekatan dengan memberikan bahan tambahan seperti pozolan.4 Mpa (124 kg/cm2). Kedua. sifat-sifat penting lainnya seperti bobot isi/density. kebersihan. Mortar tipe RM dengan kuat tekan 28 hari sebesar 17. Untuk mortar mutu tinggi (high performance mortar) yang ditujukan untuk penggunaan tertentu. dengan atau bahan tambahan lainnya.2 Mpa (52 kg/cm2 ). yang kesemuannya harus dilaksanakan secara baik. 3. klinker. Berdasarkan kekuatannya mortar dibedakan atas 4 (empat) jenis yaitu : 1. gradasi dan sifat fisis lainnya sehingga dapat memberikan stabilitas volume dan keawetan yang lebih tinggi. 24 . Mortar merupakan produk dari campuran bahan baku seperti bahan pengikat (semen Portland atau bahan pengikat hidrolis lainnya). Performance dari mortar dapat dinaikkan secara signifikan dengan menambahkan bahan tambahan/additive jenis tertentu sesuai sifat khusus yang diinginkan. Mortar tipe RN dengan kuat tekan 28 hari sebesar 5. Keempat. Untuk mendapatkan mutu mortar yang baik.2 Mpa (172 kg/cm2). 4. agregat dan air. penyelesaian akhir dan cara perawatan/curing. pemilihan kualitas agregat yang baik dan keras atau bermutu tinggi.dalam pasangan bata dan plesteran. kekuatan. yaitu menyangkut kekerasan. peningkatan workabilitas. RCC atau abu terbang. Hal penting lainnya adalah dengan mengendalikan mutu bahan. kuat tarik. kestabilan bentuk. Banyaknya fungsi mortar dalam bangunan mengharuskan masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda pula mulai dari kehalusan. kekerasan dan ketahanan terhadap kimia dengan menggunakan additive tertentu. Pemakaian bahan tambahan mineral seperti mikrosilika. penggunaan bahan tambahan.

untuk itu perlu dilakukan inovasi produk guna menemukan bahan alternatif yang lebih murah dengan optimalisasi potensi local untuk mengurangi biaya konstruksi.3 Beton Beton merupakan bahan yang diperoleh dengan mencampurkan beberapa bahan baku seperti semen. Penggunaan bahan tambahan (admixtures) dalam campuran beton merupakan salah satu cara untuk mendapatkan sifat khusus dari beton. • keplastisan pasta. dituangkan. kekuatan. • gradasi agregat.2. Sifat kemudahan pengerjaan ini dalam praktek dapat diamati dengan menguji kekentalannya atau kelecakannya dengan melakukan tes slump. Sifat-Sifat Beton Beberapa sifat beton yang baik diantaranya harus memenuhi: 1. Selanjutnya akan diamati sifat beton yang dihasilkan baik beton segar maupun karakteristik dari beton setelah mengeras. seperti kemudahan pengerjaan. padat. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemudahan pengerjaan beton adalah: • jumlah relatif pasta dan agregat. Penelitian yang akan dilakukan dengan menggunakan pasir dan debu merapi sebagai agregat halus dalam campuran beton dari berbagai mutu/karakteristik. kuat dan stabil [5]. 25 . yaitu mengetahui karakteristik pasir dan abu merapi dan mendapatkan data pengguaan bahan ini dalam pembuatan mortar dan beton struktural. Secara rinci bahan pembentuk beton dapat diuraikan sebagai berikut: • Produk hidrasi • Semen yg tidak terhidrasi • Rongga gel • Rongga kapiler • Rongga udara • Agregat halus • Agregat kasar Pasta Semen Mortar Beton Saat ini beton masih merupakan bahan yang banyak digunakan dalam industri konstruksi dengan segala bentuk dan fungsinya. dimampatkan dan diselesaikan dengan tanpa timbul pemisahan berarti mempunyai tingkat kemudahan pengerjaan yang baik. agregat. keawetan dan sebagainya. merupakan bahan yang paling fleksibel untuk dilakukan perencanaan mutu dan sifatnya sesuai dengan peruntukkannya. Semakin tingginya harga bahan baku akan berdampak langsung pada harga produk beton. Kemudahan pengerjaan (workabilitas) Campuran beton yang mudah diaduk. waktu pengerasan. Dengan demikian ada dua hal yang ingin dicapai dalam penelitian ini. air dan atau tanpa bahan tambahan lainnya yang di bentuk sedemikian rupa sehingga didapatkan suatu masa yang kompak. disalurkan.

• pengangkutan dan pengecoran yang kurang baik. • interaksi air-semen. timbulnya retak-retak karena pengaruh cuaca. Keawetan Keawetan beton merupakan fungsi dari kekedapannya. • tekanan dan gesekan oleh gelombang air laut. maka kekuatan lainnya dari beton senantiasa dapat dihitung berdasarkan rumus empiris. • penggetaran yang terlalu lama. • jenis semen dan agregat. Kekekalan bentuk Yang dimaksud dengan kekekalan bentuk disini adalah kestabilan bentuk dan ukuran selama masa perawatan dan pemakaian beton. karenanya dalam perencanaan proporsi campuran harus diperhatikan nilai faktor air semen maksimum dan jumlah semen minimum untuk kelas beton tertentu. 26 . • suhu dan kelembaban udara. • adanya besar butir maksimum yang terlalu banyak dari agregat. • campuran basah terlalu banyak air.2. • campuran kurang pasir atau filler. • agregat kasar banyak yang berbentuk panjang dan pipih. 3. 4. • dan faktor lingkungan lainnya. • bentuk dan sifat permukaan agregat. Faktor-faktor yang mempengaruhi keawetan beton adalah: • adanya garam sulfat dan khlorida • temperatur dan kelembaban. Homogenitas Keseragaman dan kekompakan adukan akan mempengaruhi masa pelaksanaan pekerjaan beton dan beton menjadi kuat. semakin kedap beton akan semakin awet karena ketahanannya terhadap serangan dari luar semakin besar berhubung sukar ditembus oleh zat-zat perusak yang dapat menimbulkan korosi pada tulangan. Dengan diketahui kekuatan tekan. zat kimia atau pengaruh mekanik. • kadar pori-pori dan derajat kekompakan. • kurang kompaknya agregat gabungan sehingga menimbulkan bleeding. Beton yang kurang awet dapat ditunjukkan dengan adanya nodanoda pada permukaan. Kekuatan Mutu dari beton dinilai dari keteguhannya yang dalam hal ini adalah kekuatan tekan pada umur 28 hari yang diperoleh dari pemeriksaan benda uji. kedap air serta stabil. Kekuatan tekan dari beton terutama dipengaruhi oleh faktor air semen dan derajat kekompakan adukan. 5. Bila hal tersebut tidak dapat dicapai maka adukan menjadi segregasi yang disebabkan oleh beberapa faktor: • campuran kurus kurang semen.

dimaksudkan untuk mengetahui sifat-sifat fisis dan kimia. kontraksi karena panas dan pengembangan. Dengan demikian dapat diketahui mutu bahan dasar dan dasar evaluasi dari sifat-sifat produk yang dihasilkan. 3. • Pengujian bahan baku : a. ialah karakteristik dari pasir dan abu merapi dan optimalisasi penggunaan abu sebagai bahan campuran untuk pembuatan mortar dan beton. 60. 40. sebelum digunakan untuk mortar dan beton.2 Rancangan Percobaan • Kadar abu untuk mortar : 6 variabel (0. III METODE PENELITIAN Metode penelitian yang dilakukan adalah eksperimental. 20. 80 dan 100%) • Kadar abu untuk beton : 2 variabel ( 0% dan 25%) • Mutu beton : 2 jenis (f”c 20 dan f’c 40) Rangkaian kegiatan Kegiatan ini dilaksanakan dengan rangkaian sbb: • Persiapan bahan baku ( pengambilan dan penyimpanan). selanjutnya akan menyebabkan defleksi dan retak pada bagian-bagian tertentu.Perubahan bentuk beton disebabkan oleh adanya perubahan volume pada keadaan tanpa beban akibat adanya penyusutan.1 Pemeriksaan Sifat-Sifat Dasar Agregat Pemeriksaan sifat-sifat dasar agregat. Sedangkan perubahan bentuk karena pembebanan akan menimbulkan regangan dan rangkak melalui proses yang cukup panjang. Tabel 4 Proporsi Campuran Mortar dan Beton (Kadar Abu) No 1 2 3 4 5 6 Mortar Kadar abu 0% 20% 40% 60% 80% 100% Pasir 100% 80% 60% 40% 20% 0% Beton Mutu Beton Kadar abu f’c 20 0% f’c 20 25% f’c 20 f’c 20 0% 25% 27 . dengan melakukan percobaan dari berbagai variasi kadar abu untuk pembuatan mortar dan beton untuk diketahui optimalisasinya. Analisa fisis b. 3. Analisis kimia • Pembuatan benda uji dengan berbagai proporsi campuran disajikan dalam Tabel 4 Tabel 5 dan Tabel 6 berikut. dengan demikian ada dua hal yang ingin dicapai dari penelitian ini.

Metode Pengujian Kuat Tekan Beton.000 1. suhu dan faktor pemadatan.087 965 965 Abu 196 175 Air 190 190 190 190 • • • Pembuatan benda uji dilakukan di laboratorium Pusat Penelitian Pengembangan Permukiman.087 1. syarat mutu dan metoda uji agregat.200 1.000 1. abu diambil dari di daerah Sleman – Yogyakarta. Sifat fisis Hasil pengujian sifat fisis pasir dan abu merapi disajikan dalam Tabel 7 berikut. : SNI 03-2834-2000. Kementerian Pekerjaan Umum Bandung.200 600 0 Abu 0 600 1. Metode Pengujian Slump Beton : SNI 03-1973-1990.Tabel 5 Proporsi Campuran Mortar (Berat) Kode I-A I-B I-C I-D I_E I_F Semen 1.000 1. Metode Pengujian Berat Isi Beton : SNI 03-1974-1990. dll).000 Bahan (gram) Pasir 3. kadar udara. alat uji mortar dan beton (mixer.000 2. dan 3. alat uji sifat kimia agregat.000 1.1 Sifat-Sifat Dasar Bahan Baku/Pasir dan Abu 1. 28 .400 3.800 2.000 Tabel 6 Proporsi Campuran Beton (Berat) Kode I-A I-B II-A II-B Semen 317 317 528 528 Pasir 787 590 698 523 Bahan (gram) Kerikil 1. Metode Pengambilan Contoh untuk Campuran Beton Segar : SNI 03-1972-1990.000 1. • Alat yang digunakan: alat uji sifat fisis agregat (saringan.3 Bahan. Alat dan Standar yang Digunakan • Bahan penelitian: pasir diambil dari bantaran sungai Code – Yogyakarta. Pengujian beton segar: slump. oven. IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.800 1. Pengujian beton keras: Kuat tekan pada umur 3 hari. timbangan. cetakan.400 1. 7 hari dan 28 hari. Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal : SNI 03-2458-1991. mesin tekan) • Satandar yang diacu : SNI 03-1750-1990.

Tabel 8 Hasil Analisis Kimia Abu Merapi No 1 2 3 Uraian Uji/Unsur SiO2.% 4.Gembur. 1 2 3 4 5 6 Jenis Pengujian Kadar air.060 1.67 1. ..% 0. 5. Analisis kimia Hasil analisis kimia dari abu Merapi disajikan dalam Tabel 8 berikut..00 100 95 ...71 Abu 16.00 100.0 Negatif (-) Maks. .00 Hasil pengujian di atas menunjukkan bahwa sifat fisis dari pasir cukup baik.62 1. . .15 4. bersih. padat dan gradasi memenuhi batas zona 2 sehingga cocok untuk agregat halus dalam pembuatan beton.15 0..95 99.% 0. .83 0..3 mm. . gr/ltr Kekerasan .. ....0 mm.81 99. gr/cc Kadar zat organik.75 Syarat 29 ..09 94.Padat.% 2.00 99. . . ..59 79... % Fe2O3. Hal penting lainnya adalah bagian hilang pijar sangat kecil.% 0.370 - Persyaratan Pasir SNI 03-1750-1990 untuk beton untuk mortar Maks.. . ini mengindikasikan bahwa bahan organic sangat rendah termasuk unsur sulfur yang dapat mengganggu pengikatan semen juga keawetan beton dan mortar.4 mm.indeks kekerasan.84 2..% Berat jenis.0 Maks.2 mm.. +/Bobot isi..46 46.90 35 .35 2 ....6 mm. . lewat komulatif 19.90 17. Sedangkan bahan abu memiliki butiran yang sangat halus sehingga hanya cocok untuk bahan substitusi/filler dalam pembuatan mortar ataupun beton. hal ini menunjukkan bahwa pasir cukup keras dan stabil sehingga sangat baik untuk agregat beton dan mortar.95 Negative 1..20 1..00 mm.. .00 - 7 8 98..99 1.Rudellof.100 70 .6 mm. % Penyerapan air... % Hasil Uji 63..% Gradasi. .15 mm. . .% 1. Unsur kimia yang terkandung dalam abu Merapi didominasi oleh silica dan alumina...2 Zone-2 100 90-100 75-95 55 . . .% 0. 2.. .8 mm. 5.23 79. .75 10 . . % Sumber: Hasil penelitian Hasil Pengujian Pasir 1.70 66. .30 0-10 0.100 40 .34 0. .02 91. .68 Negative 1. .. % Al2O3..47 1.. . . 2. gr/ltr .41 17..Tabel 7 Hasil Pengujian Sifat Fisis Pasir Merapi No..% 9.98 1.59 8 . % Kadar lumpur.

0 152.4 192. Tabel 9 Hasil Pengujian Kuat Tekan Mortar Kode (pasir:abu) 1 A (100 : 0) No 2 1 2 3 Kuat tekan 3 hari 2 Kg f/cm 3 127.. % MgO..0 148..2 138.2 92......8 94..5 215.0 122...62 Syarat Max...4 113. ....0 151..2 109...7 113.6 192.27 0.....0 256......... . pengujian mortar difokuskan pada kuat tekan pada umur 3 hari.4 111.No 4 5 6 7 8 9 Uraian Uji/Unsur CaO..0 214..5 143..0 126..07 0...0 127.8 146.0 198.0 124...0 113.0 % 4. % HP..2 284. .6 89..0 126.2 139..0 290.. .....0 151.10 2.0 Rata-rata B (80 : 20) 1 2 3 Rata-rata C (60 : 40) 1 2 3 Rata-rata C (40 : 60) 1 2 3 Rata-rata C (20 : 80) 1 2 3 Rata-rata C (0 : 100) 1 2 3 Rata-rata 30 .. .0 111........0 114.0 286...0 Kuat tekan 28 hari 2 Kg f/cm 5 262..4 112.2 126..9 144...0 205..3 98.6 289.0 115.7 144.96 2...6 212... % Na2O3.2 92....0 208... % SO3. ........8 128...0 152. 7 hari dan 28 hari.4 218..9 219.. . ....2 291....8 120.0 142...7 194..7 298...2 288.66 3............0 206.7 215.2 Pengujian Mortar Sesuai dengan sifat teknis yang ingin diketahui..0 200. Rangkuman hasil pengujian disajikan dalam Tabel 9 berikut..8 138.. . % K2O...0 189...... % Hasil Uji 7.7 108.0 146...8 147....2 115..0 259.0 Kuat tekan 7 hari 2 Kg f/cm 4 197.... ...... ..9 141. 10....0 127. ...0 151..0 247..1 292...5 125...

Rangkuman hasil pengujian disajikan dalam Tabel 10 berikut.6 198.2 486. 7 hari dan 28 hari.0 183.6 196.8 281.2 31 .2 137.0 276.7 281.8 498.8 284.4 274.2 Kuat tekan 28 hari 2 Kg f/cm 5 268.8 192.7 363.0 278.4 156.5 151. Tabel 10 Hasil Pengujian Kuat Tekan Beton Mutu beton (kadar abu) 1 F’c : 20 Mpa (0 %) Rata-rata F’c : 20 Mpa (25 %) Rata-rata F’c : 40 Mpa (0 %) Rata-rata 1 2 3 1 2 3 No 2 1 2 3 Kuat tekan 3 hari 2 Kg f/cm 3 136.3 Pengujian Beton Pengujian dilakukan terhadap kuat tekan pada umur 3 hari.0 359.7 181.9 282.6 493.4 281.0 148.0 Kuat tekan 7 hari 2 Kg f/cm 4 182.2 135.Kode (pasir:abu) 1 No 2 Kuat tekan 3 hari 2 Kg f/cm 3 Kuat tekan 7 hari 2 Kg f/cm 4 Kuat tekan 28 hari 2 Kg f/cm 5 Gambar 1 Hubungan Kuat Tekan Mortar Rata-Rata dengan Umur Pengujian untuk Mortar Kode b (Kadar Abu 20%) 4.8 494.9 149.8 140.6 278.3 362.4 282.5 204.6 363.8 278.8 186.

8 504. ini berarti fungsi abu dalam beton memberikan dampak positif terhadap kekuatan.5 369. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengujian fisis dan kimia pasir dan abu memiliki mutu yang cukup baik sehingga secara teknis dapat digunakan sebagai agregat dan filler dalam pembuatan beton dan mortar dengan proporsi yang sesuai dengan fungsi komponen yang akan dikembangkan.4 369. 3. karena beton menjadi semakin padat dan kompak juga sehingga lebih kuat dan kedap.3 283.Mutu beton (kadar abu) F’c : 40 Mpa (25 %) Rata-rata No Kuat tekan 3 hari 2 Kg f/cm 272. 2.7 1 2 3 Gambar 2 Grafik Hubungan Kuat Tekan Beton Rata-Rata dengan Umur Pengujian untuk Beton F’c 40 Mpa (Kadar Abu 25 %) 4.3 279.4 364.4 281.4 1.2 495.0 Kuat tekan 7 hari 2 Kg f/cm 373.1 498.1 Kuat tekan 28 hari 2 Kg f/cm 496. 4. Sedangkan dalam pembuatan beton dengan menambahkan abu sebesar 25% dari pasir diperoleh kenaikan kekuatan sebesar 3%. Dari uji coba pembuatan mortar dengan berbagai kadar abu diperoleh nilai optimim sebesar 30% dari jumlah pasir hal ini menunjukkan bahwa pada jumlah tersebut fungsi abu dapat optimum baik dari aspek kekuatan maupun kepadatan karena memiliki jumlah bagian yang halus (ultra finnes) yang tepat dan luas permukaan agregat dalam dalam batas optimum sehingga masih dapat tertutupi oleh pasta semen. Dari analisis kimia diperoleh data bahwa unsur utama dari abu didominasi oleh silika (64%). alumina (18%) dan beberapa unsur lain seperti besi dan kalsium dengan jumlah relatif kecil hal ini menunjukkan bahwa pasir cukup 32 .

stabil dan sesuai untuk digunakan sebagai agregat dalam pembuatan mortar dan beton.2 1. sehingga nilai ini dapat digunakan sebagai acuan dalam pemanfaatan untuk berbagai pekerjaan konstruksi dilapangan. dengan unsur utama silika.keras. sehingga dapat digunakan sebagai bahan substitusi dalam pembuatan aduk dan beton dengan kadar antara 20 sampai 30% dari jumlah pasir. V 5. ini berarti fungsi abu dalam beton memberikan dampak positif terhadap kekuatan. Dengan hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan dalam pengembangan pemanfaatan abu dan pasir Merapi sekaligus penyelesaian masalah lingkungan. 3. Saran Dalam upaya menanggulangi banjir lahar dingin yang semakin mengancam daerah aliran sungai perlu dilakukan penanganan strategis dengan memanfaatkan sebagai bahan bangunan seperti agregat. 6. memiliki kandungan organik yang rendah. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Sifat fisis abu Merapi berbutir halus. 4. warna abu-abu kehitaman. alumina (18%) dan beberapa unsur lain seperti besi dan kalsium dengan jumlah relatif kecil. 5. 1 semen : 6 pasir dan seterusnya. 5. Sedangkan dalam pembuatan beton dengan dua jenis mutu (f’c) dan menggunakan abu sebesar 25% dari pasir diperoleh kenaikan kekuatan sebesar 3%. beton dan aproduk komponan bangunan lainnya. mortar. Sedangkan pasir memiliki sifat fisis yang sangat baik. alumina dan besi. Dari analisis kimia. untuk pembuatan mortar yang ditujukan untuk pasangan dinding non struktural dapat gunakan perbandingan yang lebih sesuai misalnya 1 semen : 5 pasir. karena bila berlebihan akan mengakibatkan kandungan ultra finnes yang berlebih sehingga dapat terjadi penyusutan selain memerlukan semen yang semakin tinggi pula. Dalam uji coba pembuatan mortar dengan berbagai variasi kadar abu diperoleh nilai optimal sebesar 30% dari jumlah pasir. keras dengan gradasi masuk dalam batas/zona 2 sehingga sangat baik sebagai agregat halus dalam pembuatan beton . 2. Namun demikian penggunaan abu ini tetap harus dibatasi. Kekuatan tekan dari seluruh campuran mortar dapat memenuhi mutu RM dan RS dan dapat digunakan untuk pasangan dinding struktural. diperoleh data bahwa unsur utama dari abu didominasi oleh silika (64%). bersih. 8. 33 . 7.1 1. karena beton menjadi semakin padat dan kompak.

Metode Pengujian Berat Isi Beton. SNI 03-2823-1992. 1988. Modul Pelatihan Bidang Permukiman: Pengujian Beton Segar di Laboratorium. Bandung Suhartopo. Beton Cilegon Agung. 4. Pusat Litbang Permukiman. Lanneke. 9. 1990. 2000. Yogyakarta Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman. 2008. Universitas Islam Indonesia. Bandung Lasino. Technical Report No. Bandung Aryenti. 2010. 11. Modul Pelatihan Bidang Permukiman: Pengujian Beton di Lapangan. 1999. Metode Pengujian Slump Beton. Publikasi Bank Dunia. 1984. 16. SNI 03-1972-1990. 6. ASTM C-231-97. 13. Pengaruh Mortar dan Ultra Fines dalam Beton. Pemeriksaan Mutu Beton dan Mutu Pelaksanaan selama Pekerjaan Beton. 34 . Metode Pengujian Kuat Tekan Beton. 7. 12. Pola Pengembangan Bahan Bangunan Lokal di Propinsi Sulawesi Tenggara.C. Modul Pelatihan Bidang Permukiman: Pengujian Beton Keras di Laboratorium. 2008. 1980. Hansen. Manual on Concrete Mix Design and Quality Controls. Jurnal Penelitian Pemukiman. 8. Bandung Lasino. 14. Bandung _______. 10. SNI 03-2491-1991. 21. Norman. Bandung Prihatmaji Yulianto P. Jakarta VI 1. SNI 03-2458-1991. Bandung _______. Cilegon T. 3. Bandung Uphoff. Bandung Badan Standardisasi Nasional. Quality Control of Concrete Works. PT.2. Metode Pengambilan Contoh untuk Campuran Beton Segar. 5. 2. Pengenalan Teknologi Beton dan Pengendalian Pekerjaan di Lapangan. Penggunaan Sumber Daya Lokal dan Fabrikasi sebagai alternatif Pembangunan Rumah Biaya Rendah. Jakarta _______. SNI 03-1974-1990. SNI 03-1973-1990. DAFTAR PUSTAKA Anonimous.1991. UI Press. Pemberdayaan Masyarakat dalam Pembangunan Kota Berwawasan Lingkungan. 1997. 15. Bandung Tristanto. SNI 03-2834-2000 tentang Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal.2000. 1990. Jakarta. 1996. Metode Pengujian Kuat Tarik Belah Beton. Menyesuaikan Proyek pada Manusia Mengutamakan manusia di dalam Pembangunan. Untuk merealisasikan rencana tersebut perlu dilakukan pengembangan usaha dilokasi bencana berupa pendirian unit produksi atau sentra pengembangan bahan bangunan dari lahar Merapi sebagai upaya menciptakan peluang kerja sekaligus memenuhi kebutuhan bahan bangunan untuk mendukung industri yang ramah lingkungan. Z. Metode Pengujian Kuat Lentur Beton. _______. 1978.. Buku Petunjuk Pelaksanaan Beton: Perencanaan dan Pengendalian Adukan Beton. 2008. Jakarta Kjaer. Ulla dan Aksa.

Prosiding PPI Standardisasi 2011 – Yogyakarta. 14 Juli 2011 35 .