Anda di halaman 1dari 24

TRAUMA / ROBEKAN JALAN LAHIR Trauma jalan lahir perlu mendapatkan perhatian khusus, karena dapat menyebabkan: a.

Disfungsional organ bagian luar sampai alat reproduksi vital b. Sebagai sumb er perdarahan yang berakibat fatal c. Sumber atau jalannya infeksi. ( Manuaba, 2 007 ) Klasifikasi robekan jalan lahir sebagaimana dijelaskan oleh Santoso (2009) dan F adil (2008) adalah sebagai berikut: a. Robekan perineum b. Robekan vulva c. Robe kan dinding vagina d. Robekan serviks e. Ruptur uteri A. ROBEKAN PERINEUM 1. DEFINISI a. Perineum adalah merupakan bagian permukaan pintu bawah panggul, y ang terletak antara vulva dan anus. Panjangnya rata-rata 4 cm (Wiknjosastro, 200 6) b. Luka perineum adalah perlukaan yang terjadi akibat persalinan pada bagian perinium dimana muka janin menghadap (Prawirohardjo,1999). c. Ruptur perineum ad alah robekan yang terjadi pada saat bayi lahir baik secara spontan maupun dengan alat atau tindakan. Robekan perineum umumnya

terjadi pada garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terla lu cepat. ( USU, 2006 ) Jadi dapat disimpulkan bahwa robekan atau ruptur perineum adalah robekan yang te rjadi pada garis tengah akibat persalinan baik secara spontan maupun dengan alat atau tindakan. 2. ETIOLOGI Menurut Fadil ( 2008 ), beberapa hal yang menajdi penyebab terjadiny a robekan perineum sebagai berikut : a. Umumnya terjadi pada persalinan b. Kepal a janin terlalu cepat lahir c. Persalinan tidak dipimpin sebagaimana mestinya d. Jaringan parut pada perineum e. Distosia bahu Sedangkan Enggar ( 2010 ) menambahkan beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab robekan peinrum adalah posisi persalinan, cara meneran dan berat bayi baru lahi r yang terlalu besar ( > 4000 gram ) 3. EPIDEMIOLOGI a. Penelitian yang dilakukan oleh Enggar ( 2010 ) di RB harapan Bunda Surakarta menunjukkan hasil sebagai berikut : Dari 67 sampel diperoleh kas us ruptur perineum sebanyak 52 (77,6%), yang terdiri dari 21 ibu yang melahirkan dengan BB lahir 2500-3000 gr (31,3%) dan 31 ibu yang melahirkan dengan BB lahir 3000-3500 gr (46,3%). b. Sedangkan survey awal yang dilakukan Herawati ( 2010 ) pada bulan Februari 2010 di BPS Ny. Sri Suhersi, Desa Mojokerto, Kedawung, Sragen terdapat dari 23 orang pasien postpartum yang mempunyai luka laserasi jalan lahir. Dari h asil pengkajian, didapatkan 8 pasien postpartum yang mengalami keterlambatan pen yembuhan luka, terdiri dari 5 pasien yang kurang kebersihan merawat diri; dan 3 pasien yang kurang memperhatikan nutrisi sehingga luka laserasi jalan lahir meng alami proses penyembuhan

yang terlambat. c. Rupture perineum merupakan penyebab kedua yang hampir terjadi pada setiap persalinan pervaginam.(Wiknjosastro, 2006). 4. FAKTOR RESIKO USU (2006) menjelaskan beberapa hal yang menjadi faktor terjadi nya robekan perineum : a. Paritas Paritas adalah jumlah anak yang dilahirkan ole h seorang ibu baik hidup maupun mati. Paritas mempunyai pengaruh terhadap kejadi an ruptur perineum. Pada ibu dengan paritas satu atau ibu primipara memiliki res iko lebih besar untuk mengalami robekan perineum daripada ibu dengan paritas leb ih dari satu. Hal ini dikarenakan jalan lahir yang belum pernah dilalui oleh kep ala bayi sehingga otot-otot perineum belum meregang. (Wiknjosastro, 2002 dalam U SU, 2006). b. Jarak Kelahiran Jarak kelahiran adalah rentang waktu antara kelahi ran anak sekarang dengan kelahiran anak sebelumnya. Jarak kelahiran kurang dari dua tahun tergolong resiko tinggi karena dapat menimbulkan komplikasi pada persa linan. Jarak kelahiran 2-3 tahun merupakan jarak kelahiran yang lebih aman bagi ibu dan janin. Begitu juga dengan keadaan jalan lahir yang mungkin pada persalin an terdahulu mengalami robekan perineum derajat tiga atau empat, sehingga pemuli han belum sempurna dan robekan perineum dapat terjadi (Depkes, 2004 dalam USU, 2 006) c. Berat Bayi Lahir Berat badan janin dapat mengakibatkan terjadinya ruptur perineum yaitu berat badan janin lebih dari 3500 gram, karena resiko trauma par tus melalui vagina seperti distosia bahu dan kerusakan jaringan lunak pada ibu. Perkiraan berat janin bergantung pada pemeriksaan klinik atau ultrasonografi. Pa da masa kehamilan hendaknya terlebih dahulu mengukur tafsiran berat badan janin.

5. KLASIFIKASI Menurut Soepardiman ( 2006 ) jenis robekan perineum berdasarkan l uasnya adalah sebagai berikut: a. Derajat satu: robekan ini terjadi pada mukosa vagina, vulva bagian depan, kulit perineum b. Derajat dua: robekan ini terjadi p ada mukosa vagina, vulva bagian depan, kulit perineum dan otot-otot perineum c. Derajat tiga: robekan ini terjadi pada mukosa vagina, vulva bagian depan, kulit perineum, otot-otot perineum, dan sfingter ani eksterna d. Derajat empat: robeka n dapat terjadi pada seluruh perineum dan sfingter ani yang meluas sampai ke muk osa Sedangkan menurut Santoso ( 2008 ) dalam Sultan, dkk ( 2005 ), klasifikasi dari robekan perineum dijelaskan dalam tabel berikut :

6. MANIFESTASI KLINIS Tanda dan Gejala yang selalu ada : a. Pendarahan segera b. Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir c. Uterus kontraksi baik d. Plasenta baik Gejala dan tanda yang kadang-kadang ada : a. Pucat b. Lemah c. Me nggigil ( Fadil, 2008 ) 7. PATOFISIOLOGI Robekan perineum terjadi pada semua persalinan pertama dan tida k jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan ini dapat dihindarkan atau dik urangi dengan menjaga jangan sampai dasar panggul dilalui oleh kepala janin deng an cepat, sebaliknya kepala janin yang akan lahir jangan ditahan terlampau kuat dan lama, karena akan menyebabkan asfiksia dan pendarahan dalam tengkorok janin, dan melemahkan otototot dan fasia pada dasar panggul karena diregangkan terlalu

lama. Robekan perineum umumnya terjadi digaris tengah dan bias menjadi luas apab ila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil daripada bia sa sehingga kepala janin terpaksa lahir lebih ke belakang daripada biasa, kepala janin melewati pintu bawah panggul dengan ukuran yang lebih besar daripada sirk umferensia suboksipito-bregmatika, atau anak dilahirkan dengan pembedahan vagini al. ( Fadil, 2008 ) 8. PENATALAKSANAAN Persalinan dengan ruptur perineum apabila tidak ditangani sec ara efektif menyebabkan perdarahan dan infeksi menjadi lebih b erat, serta pada jangka waktu panjang dapat mengganggu ketidaknyamanan ibu dalam hal hubungan sek sual (Mochtar, 1998). Menurut Fitri ( 2010 ) penatalaksanaan untuk ruptur perineum adalah sebagai beri kut: a. Derajat I Robekan ini kalau tidak terlalu lebar tidak perlu dijahit. b. Derajat II Sebelum penjahitan bila dijumpai pinggir robekan yang tidak rata atau bergerigi, maka pinggir yang bergerigi tersebut harus diratakan terlebih dahulu , kemudian dilakukan penjahitan robekan perineum. Mula -mula otot dijahit dengan catgut. Kemudian mukosa vagina dijahit secara terputus-putus atau jelujur. Penj ahitan mukosa vagina dimulai dari puncak robekan. Terakhir kulit dijahit secara subkutikuler. c. Derajat III Mula-mula dinding depan rectum yang robek dijahit. Kemudian fascia pascia perirektal dan fascia septum rektovaginal dijahit, sehing ga bertemu kembali. Ujung-ujung otot-sfingter ani yang robek diklem, kemudian di jahit dengan 2-3 jahitan sehingga bertemu kembali. Selanjutnya robekan dijahit l apis demi lapis seperti menjahit robekan perineum derajat 2. d. Derajat IV

Penjahitan derajat 4 hampir sama dengan derajat 3, hanya pada derajat 4 mukosa r ectum dijahit dengan benang kromik 3-0 atau 4-0 secara interrupted dengan 0,5 cm antara jahitan. Selanjutnya jahitan sama seperti derajat 3. Sedangkan menurut Fadil, 2008 penatalaksanaan untuk robekan perineum adalah seba gai berikut : a. Tatalaksana umum perdarahan postpartum b. Lakukan eksplorasi un tuk mengidentifikasikan laserasi dan sumber perdarahan c. Lakukan irigasi pada t empat luka dan bubuhi larutan antiseptic d. Jepit dengan ujung klem sumber perda rahan, kemudian ikat dengan benang yang dapat diserap e. Lakukan penyatuan luka mulai dari bagian yang paling distal terhadap operator Teknik penjahitan robekan perineum-vagina a. Penjahitan robekan derajat I dan II 1. Sebagian besar deraja t I menutup secara spontan tanpa dijahit. 2. Tinjau kembali prinsip perawatan se cara umum. 3. Berikan dukungan dan penguatan emosional. Gunakan anastesi lokal d engan lignokain. 4. Gunakan blok pedendal, jika perlu. 5. Minta asisten memeriks a uterus dan memastikan bahwa uterus berkontraksi. 6. Periksa vagina, perinium, dan serviks secara cermat. 7. Jika robekan perinium panjang dan dalam, inspeksi untuk memastikan bahwa tidak terdapat robekan derajat III dan IV.

a) Masukkan jari yang memakai sarung tangan kedalam anus b) Angkat jari dengan h ati-hati dan identifikasi sfingter. c) Periksa tonus otot atau kerapatan sfingte r 8. Ganti sarung tangan yang bersih, steril atau DTT 9. Jika spingter cedera, l ihat bagian penjahitan robekan derajat III dan IV. 10.Jika spingter tidak cedera , tindak lanjuti dengan penjahitan b. Penjahitan robekan III dan IV 1. Tinjau ke mbali prinsip perawatan umum 2. Berikan dukungan dan penguatan emosional. Gunaka n anastesi lokal dengan lignokain. 3. Gunakan blok pedendal, ketamin atau anaste spinal. Penjahitan dapat si dilakukan menggunakn anastesi lokal dengan lignokai n dan petidin serta diazepam melalui IV dengan perlahan ( jangan mencampur denga n spuit yang sama ) jika semua tepi robekan dapat dilihat, tetapi hal tersebut j arang terjadi. 4. Minta asisten memeriksa uterus dan memastikan bahwa uterus ber kontraksi. 5. Periksa vagina, perinium, dan serviks secara cermat. 6. Untuk meli hat apakah spingter ani robek. a) Masukkan jari yang memakai sarung tangan kedal am anus b) Angkat jari dengan hati-hati dan identifikasi sfingter. c) Periksa pe rmukaan rektum dan perhatikan robekan dengan cermat. 7. Ganti sarung tangan yang bersih, steril atau yang DTT 8. Oleskan larutan antiseptik kerobekan dan keluar kan materi fekal, jika ada. 9. Pastikan bahwa tidak alergi terhadap lignokain at au obat-obatan terkait. 10.Masukan sekitar 10 ml larutan lignokain 0,5 % kebawah mukosa vagina, kebah kulit perineum dan ke otot perinatal yang dalam. 11.Pada a khir penyuntikan, tunggu selama dua menit kemudian jepit are a robekan dengan fo rcep. Jika ibu dapat merasakan jepitan tsb, tunggu dua menit algi kemudian lakuk an tes ulang. 12.Jahit rektum dengan jahitan putus-putus mengguanakan benang 3-0 atau 40 dengan jarak 0,5 cm untuk menyatukan mukosa. 13.Jika spingter robek

a) Pegang setiap ujung sfingter dengan klem Allis ( sfingter akan beretraksi jik a robek ). Selubung fasia disekitar sfingter kuat dan tidak robek jika ditarik d engan klem. b) Jahit sfingter dengan dua atau tiga jahitan putus-putus menggunak an benang 14.Oleskan kembali larutan antiseptik kearea yang dijahit. 15.Periksa anus dengan jari yang memakai sarung tangan untuk memastikan penjahitan rektum d an sfingter dilakukan dengan benar. Selanjutnya, ganti sarung tangan yang bersih , steril atau yang DTT. 16.Jahit mukosa vagina, otot perineum dan kulit. 9. PERAWATAN LUKA PERINEUM a. Pengertian Perawatan perineum adalah pemenuhan keb utuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ib u yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genet ik seperti pada waktu sebelum hamil (Morison, 2003). b. Tujuan 1) Mencegah terja dinya infeksi sehubungan dengan penyembuhan jaringan. 2) Pencegahan terjadinya i nfeksi pada saluran reproduksi yang terjadi dalam 28 hari setelah kelahiran anak atau aborsi. c. Cara Pembersihan Luka Perineum Menurut Kartika ( 2008 ) cara pe mbersihan luka perineum adalah sebagai berikut : 1) Siapkan alat-alat cuci seper ti sabun yang lembut, air, baskom, waslap, kasa dan pembalut wanita yang bersih. 2) Cuci tangan di kran atau air yang mengalir dengan sabun. 3) Lepas pembalut y ang kotor dari depan ke belakang. 4) Semprotkan atau cuci dengan betadin bagian perineum dari arah depan ke belakang. 5) Keringkan dengan waslap atau handuk dar i depan ke belakang. 6) Setelah selesai, rapikan alat-alat yang digunakan pada t empatnya. 7) Cuci tangan sampai bersih.

8) Catat, jika ada prubahan-perubahan perineum, khususnya tanda infeksi. 9) Laku kan tidur dengan ketinggian sudut bantal tidak boleh lebih dari 30 derajat. Sedangkan perawatan luka perineum menurut APN adalah sebagaiberikut : 1) Menjaga agar perineum selalu bersih dan kering. 2) Menghindari pemberian obat trandisio nal. 3) Menghindari pemakaian air panas untuk berendam. 4) Mencuci luka dan peri neum dengan air dan sabun 3 4 x sehari 5) Kontrol ulang maksimal seminggu setela h persalinan untuk pemeriksaan penyembuhan luka. B. PERLUKAAN VULVA 1. JENIS Menurut Fadil ( 2008 ) ada 2 jenis dari robekan vagi na, yaitu : a. Robekan Vulva b. Hematoma Vulva ROBEKAN VULVA Sebagai akibat persalinan, terutama pada seorang primipara, bisa t imbul luka pada vulva di sekitar introitus vagina yang biasanya tidak dalam akan tetapi kadangkadang bisa timbul perdarahan banyak, khususnya pada luka dekat kl itoris. Jika diperiksa sering terlihat robekan robekan kecil pada labium mius, v estibulun atau belakang vulva. Jika robekan tidak menimbulkan perdarahan banyak, tidak perlu dilakukan tindakan apa apa tetapi jika luka robekan agak besar dan banyak berdarah, perlu dilakukan penghentian perdarahan dan penjahitan luka robe kan HEMATOMA VULVA a) Etiologi i. Robeknya pembuluhdarah, terutama vena yang terleta k di bawah kulit alat kelamin luar dan selaput vagina ii. Pecahnya varises yang terdapat dinding vagina dan vulva b) Tanda

Daerah hematona akan terlihat bagian yang lembek, membengkak dan perubahan warna kulit di daerah hematona disertai nyeri tekan c) Penanganan i. Pada hematona yang kecil, cukup dilakukan pengompresan ii. Jika hematona maki n membesar dan disertai tanda tanda anemia, presyok, maka perlu segera dilakukan pengosongan dan hematona tersebut C. ROBEKAN DINDING VAGINA 1. JENIS Menurut Fadil ( 2008 ) ada 2 jenis dari robek an vagina, yaitu : a. Kolpaporeksis b. Fistula KOLPAPOREKSIS a) DEFINISI Robekan melintang atau miring pada bagian atas vagina b) ETIOLOGI Hal ini terjadi apabila pada persalinan yang disproporsi sefalopelvi k terdapat regangan segmen bawah uterus dengan serviks uteri tidak terjepit anta ra kepala janin dengan tulang panggul, sehingga tarikan ke atas langsung ditampu ng oleh vagina. Jika tarikan ini melampaui kekuatan jaringan, terjadi robekan va gina pada batas antara bagian teratas dengan bagian yang lebih bawah dan yang te rfiksasi pada jaringan sekitarnya. Kolpaporeksis juga bisa timbul apabila pada t indakanpervaginam dengan memasukkan tangan penolong ke dalam uterus terjadi kesa lahan, dimana fundus uteri tidak ditahan ol h tangan luar untuk e mencegah uteru s naik ke atas. FISTULA Fistula dapat terjadi mendadak karena perlukaan pada vagina yang menembu s kandung kemih atau rektum, misalnya oleh perforator atau alat untuk dekapitasi , atau karena robekan serviks menjalar ke tempat menjalar ke tempat-tempat

tersebut. Jika kandung kemih luka, urin segera keluar melalui vagina. Fistula da pat berupa fistula vesikovaginalis atau. 2. PATOFISIOLOGI DAN PENATALAKSANAAN Robekan terdapat pada dinding lateral dan b aru terlihat pada pemeriksaan spekulum. Robekan atas vagina terjadi sebagai akib at menjalarnya robekan serviks. Apabila ligamentum latum terbuka dan cabang-caba ng arteri uterina terputus, dapat timbul perdarahan yang banyak. Apabila perdara han tidak bisa diatasi, dilakukan laparotomi dan pembukaan ligamentum latum. Jik a tidak berhasil maka dilakukan pengikatan arteri hipogastika. ( Fadil, 2008 ) Sedangkan menurut Fitri ( 2010 ), penanganan robekan vagina p ada luka robek yan g kecil dan superfisil, tidak diperlukan penanganan khusus. Pada luka robek yang lebar dan dalam, perlu dilakukan penjahitan secara terputus-putus atau jelujur. Biasanya robekan pada dinding vagina sering diiringi dengan robekan pada vulva maupun perineum. 3. KOMPLIKASI Komplikasi robekan vagina menurut Fitri ( 2010 ) adalah sebagai be rikut : a. Perdarahan Pada umumnya pada luka robek yang kecil dan superficial ti dak terjadi perdarahan yang banyak, akan tetapi jika robekan lebar dan dalam men imbulkan perdarahan yang hebat b. Infeksi Jika robekan tidak ditangani dengan se mestinya dapat terjadi infeksi, bahkan dapat terjadi septikem. D. ROBEKAN SERVIKS 1. DEFINISI Persalinan selalu mengakibatkan robekan serviks, sehingga serviks seorang multipara berbeda dari yang belum pernah melahirkan per vaginam. Robekan serviks yang luas menimbulkan perdarahan dan dapat menjalar ke segmen bawah uterus. Apabila terjadi perdarahan yang tidak berhenti meskipun pla senta sudah

lahir lengkap dan uterus sudah berkontraksi baik, perlu dipikirkan perlukaan jal an lahir, khususnya robekan serviks uteri. ( FK Unsri, 2005 ) 2. ETIOLOGI Menuru t Fadil ( 2008 ) dan Tobing ( ) beberapa hal yang menjadi penyebab robekan pada serviks sebagai berikut : a. Partus presipitatus b. Trauma karena pemakaian alat -alat operasi c. Melahirkan kepala pada letak sungsang secara paksa, pembukaan b elum lengkap d. Partus lama Sedangkan Tobing menambahkan bahwa pada persalinan buatan seperti ekstraksi deng an forceps, ekstraksi pada letak sungsang, versi dan ekstraksi, dekapitasi, dan kranioklasi bisa menjadi penyebab terjadinya robekan pada serviks 3. MANIFESTASI KLINIS Berdasarakan sumber Bascom ( 2010 ), pada robekan serviks biasanya ditandai dengan perdarahan. Jika robekan besar dan dalam biasanya keada an umum ini buruk dan apabila dengan rehidrasi intravena keadaan ibu tidak memba ik, segera pasang tampon kasa dan segera rujuk ibu. 4. PATOFISIOLOGI Menurut Fad il ( 2008 ), patofisologi terjadinya robekan serviks adalah : Persalinan selalu mengakibatkan robekan serviks, sehingga serviks seorang multipara berbeda daripa da yang belum pernah melahirkan per vaginam. Robekan serviks yang luas mengakiba tkan perdarahan dan dapat menjalar ke segmen bawah uterus. Apabila terjadi perda rahan yang tidak berhenti meskipun plasenta sudah lahir lengkap dan uterus berko ntraksi baik, perlu dipikirkan perlukaan jalan lahir, khususnya robekan serviks uteri. 5. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan spekulum 6. PENATAL AKSANAAN / TERAPI

Robekan serviks harus dijahit jika berdarah atau lebih besar dari 1 cm. Kadang k adang bibir depan serviks tertekan kepala anak dan simfisis, terjadi nekrosis da n lepas. Penanganan robekan serviks menurut Fadil ( 2008 ) : a. Jepit klein ovum ada ke-2 biji sisi partio yang robek, sehingga perdarahan dapat segera dihentikan b. Jik a setelah eksplorasi lanjutan tidak dijumpai robekan lain, lakukan penjahitan di mulai dari ujung atas robekan kearah luar sehingga semua robekan dapat dijahit c . Setelah tindakan, periksa TTV, CU, TFC dan perdarahan d. Beri antibiotik profilaksi, kecuali bila jelas ditemui tanda tanda infeksi Te knik penjahitan robekan serviks a. Tinjau kembali prinsip perawatan umum dan ole skan larutan anti septik ke vagina dan serviks b. Berikan dukungan dan penguatan emosional. Anastesi tidak dibutuhkan pada sebasian besar robekan serviks. c. Be rikan petidin dan diazepam melalui IV secara perlahan (jangan mencampur obat ter sebut dalam spuit yang sama) atau gunakan ketamin untuk robekan serviks yang tin ggi dan lebar d. Minta asisten memberikan tekanan pada fundus dengan lembut untu k membantu mendorong serviks jadi terlihat e. Gunakan retraktor vagina untuk mem buka serviks, jika perlu f. Pegang serviks dengan forcep cincin atau forcep spon s dengan hati hati. Letakkan forcep pada kedua sisi robekan dan tarik dalam berb agai arah secara perlahan untuk melihat seluruh serviks. Mungkin terdapat bebera pa robekan. g. Tutup robekan serviks dengan jahitan jelujur menggunakan benang c atgut kromik atau poliglokolik yang dimulai pada apeks (tepi atas robekan) yang seringkali menjadi sumber pendarahan. h. Jika bagian panjang bibir serviks robek , jahit dengan jahitan jelujur menggunakan benang catgut kromik atau poliglikoli k.

i. Jika apeks sulit diraih dan diikat, pegang pegang apeks dengan forcep arteri ata u forcep cincin. Pertahankan forcep tetap terpasang selama 4 jam. Jangan terus b erupaya mengikat tempat pendarahan karena upaya tersebut dapat mempererat pendar ahan. j. Selanjutnya : 1) Setelah 4 jam, buka forcep sebagian tetapi jangan dikeluarkan. 2) Setelah 4 jam berikutnya, keluarkan seluruh forcep. 9. KOMPLIKASI a. Komplikasi awal 1) Perdarahan Perdarahan dapat terjadi jika pem buluh darah tidak diikat dengan baik. Pencegahannya adalah dengan mengikat titik perdarahan ketika sedang menjahit, pastikan bahwa perdarahan tidak berasal dari uterus yang atonik. 2) Hematoma Hematoma adalah mengumpulnya darah pada dinding vagina yang biasanya terjadi akibat komplikasi luka pada vagina. Hematoma terli hat adanya pembengkakan vagina atau nyeri hebat dan retensi urine 3) Retensi Uri ne Maternal harus sering dianjurkan untuk sering berkemih. Jika ibu tidak mampu maka pasang kateter untuk menghindari ketegangan kandung kemih 4) Infeksi Kompli kasi paling umum dan dapat dihindari dengan memberikan anti biotik profilatik pa da maternal dan gunakan teknik aseptik saat menjahit robekan. Jika terjadi infek si, jahitan harus segera dilepas dan dig anti dengan jahitan kedua kali, jika di perlukan hanya setelah infeksi teratasi b. Komplikasi lanjut 1) Jaringan parut d an stenosis (penyempitan) vagina, dapat menyebabkan nyeri selama bersenggama dan persalinan lama pada kelahiran berikutnya, jika robekan yang terjadi tidak dipe rbaiki.

2) Vesiko Vagina, vesiko serviks atau fistula dapat terjadi apabila robekan vagi na atau serviks meluas kekandung kemih atau rectum. ( Modul Hemoragi Post Partum , 2001 dalam Bascom, 2006 ) E. RUPTUR UTERI ( ROBEKAN RAHIM ) 1. DEFINISI Ruptura uteri adalah robekan atau diskontinuitas dinding rahim akiat dilampauinya daya regang mio metrium ( Fadil, 2008 ) 2. KLASIFIKASI Menurut.......,ruptur uteri dibagi sebagai berikut: a. Ro bekan spontan pada rahim yang utuh 1) Ruptur spontan biasanya terjadi pada kala pengeluaran, tetapi ada kalanya sudah terjadi saat kehamilan, misalnya pada hidr osefal atau jika dinding rahim lemah. 2) Jika rupture terjadi dalam kehamilan, b iasanya terjadi pada korpus uteri, sedangkan jika terjadi dalam persalinan, terj adi pada segmen bawah rahim. 3) Rupture uteri ada 2 macam, yaitu ruptura uteri c ompleta ( jika semua lapisan dinding rahim sobek ) dan ruptura uteri incompleta ( jika para metrium masih utuh ) b. Robekan violent c. Robekan bekas luka seksio Menurut Hapsari ( 2009 ), klasifikasi dari ruptur dibedakan atas waktu terjadiny a, lokasi, etiologi dan gejala klinis. a. Menurut Waktu Terjadinya 1) Ruptur ute ri gravidarum Terjadi waktu sedang hamil, sering berlokasi pada korpus 2) Ruptur uteri durante partum Terjadi waktu melahirkan anak, lokasinya sering pada SBR. Jenis inilah yang paling terbanyak b. Menurut Lokasi 1) Korpus uteri

Biasanya terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami operasi, seperti; SC kla sik (korporal) atau miomektomi. 2) Segmen bawah rahim Biasanya terjadi pada part us yang sulit dan lama (tidak maju). SBR tambah lama tambah tegang dan tipis dan akhirnya terjadi rupture uteri. 3) Serviks Uteri Biasanya terjadi pada waktu me lakukan ekstraksi forsep atau versa dan ekstraksi, sedang pembukaan belum lengka p. 4) Kolpoporeksis-kolporeksi Robekan-robekan diantara servik dan vagina c. Men urut Etiologinya 1) Ruptur uteri spontanea 2) Rupture uteri vioventa (traumatika ), karena tindakan dan trauma lain d. Menurut Gejala Klinis yang Muncul 1) Rupture uteri imminens (membakat=mengancam): penting untuk diketahui 2) Ruptu re uteri sebenarnya 3. ETIOLOGI Penyebab ruptura uteri adalah disproporsi janin dan panggul, partus macet atau traumatik. ( Fadil, 2008 ) Menurut......, penyebab ruptur uteri berdasarkan klasifikasinya adalah sebagai b erikut : a. Robekan spontan pada rahim yang utuh Penyebab yang terpenting adalah panggul sempit, letak lintang hidrosefal, tumor yang menghalangi jalan lahir da n presentasi dahi atau muka. b. Robekan violent Robekan disebabkan karena trauma ( kecelakaan ) dan pertolongan versi dan ekstraksi ( ekspresi Kristeller ). Kad ang kadang juga disebabkan oleh dekapitasi, versi secara Braxton Hicks, ekstraksi bokong, atau forceps yang suli t.

c. Robekan bekas luka seksio Ruptur uteri jenis ini lebih sering terjad pada luk a bekas SC yang klasik dibandingkan dengan luka SC profunda 4. EPIDEMIOLOGI a. K ejadian yang merupakan salah satu malapetaka terbesar dalam Ilmu Kebidanan. Kema tian anak mendekati 100% dan kematian ibu sekitar 30%. 5. FAKTOR PREDISPOSISI a. Multi paritas b. Pemakaian oksitosin untuk indikasi persalinan yang tidak tepat c. Kelainan letak dan implantasi plasenta d. Kelainan bentuk uterus e. Hidramni on ( Fadil, 2008 ) Sedangkan ...... menambahkan penjelasan mengapa ruptur uteri lebih sering terjad i pada multipara. Hal ini disebabkan karena pada multi para dinding rahim sudah lemah. a. Persalinan dengan SC lebih dari satu kali b. Riwayat SC classic ( midl ine uterine incision ) c. Riwayat SC dengan jenis low vertical incision d. LSCS dengan jahitan uterus satu lapis e. SC dilakukan kurang dari 2 tahun f. LSCS pad a uterus dengan kelainan kongenital g. Riwayat SC tanpa riwayat persalinan spont an per vaginam h. Induksi atau akselerasi persalinan pada pasien dengan riwayat SC i. Riwayat SC dengan janin makrosomia j. Riwayat miomektomi per laparoskop at au laparotomi (Widjanarko, 2009) 6. MANIFESTASI KLINIS Menurut Fadil ( 2008 ) tanda dan gejala ruptur uteri dapat terjadi secara dramatis atau tenang. a. Dramatis

1) Nyeri tajam, yang sangat pada abdomen bawah saat kontraksi hebat memuncak. 2) Penghentian kontraksi uterus disertai hilangnya rasa nyeri 3) Perdarahan vagina ( dalam jumlah sedikit atau hemoragi ) 4) Terdapat tanda dan gejala syok, denyu t nadi meningkat, t ekanan darah menurun dan nafas pendek ( sesak ) 5) Temuan pa da palpasi abdomen tidak sama dengan temuan terdahulu 6) Bagian presentasi dapat digerakkan diatas rongga panggul 7) Janin dapat tereposisi atau terelokasi seca ra dramatis dalam abdomen ibu 8) Bagian janin lebih mudah dipalpasi 9) Gerakan j anin dapat menjadi kuat dan kemudian menurun menjadi tidak ada gerakan dan DJJ s ama sekali atau DJJ masih didengar 10) Lingkar uterus dan kepadatannya ( kontrak si ) dapat dirasakan disamping janin ( janin seperti berada diluar uterus ). b. Tenang 1) Kemungkinan terjadi muntah 2) Nyeri tekan meningkat diseluruh abdomen 3) Nyeri berat pada suprapubis 4) Kontraksi uterus hipotonik 5) Perkembangan per salinan menurun 6) Perasaan ingin pingsan 7) Hematuri ( kadang-kadang kencing da rah ) 8) Perdarahan vagina ( kadang-kadang ) 9) Tanda-tanda syok progresif 10) K ontraksi dapat berlanjut tanpa menimbulkan efek pada servik atau kontraksi mungk in tidak dirasakan 11) DJJ mungkin akan hilang Sedangkan ..... memaparkan beberapa gejala yang menjadi tanda akan terjadinya ru ptur uteri, yang dikenal sebagai gejala-gejala ancaman robekan rahim. Gejala ter sebut antara lain: 1) Lingkaran retraksi patologis/lingkaran Bandl yang tinggi, mendekati pusat dan naik terus.

2) Kontraksi rahim kuat dan terus menerus 3) Penderita gelisah, nyeri di perut b agian bawah, juga di luar his 4) Pada palpasi SBR terasa nyeri ( di atas simfisi s ) 5) Ligamentum rotundum tegang, juga di luar his 6) Bunyi jantung anak biasan ya tidak ada atau tidak baik karena anak mengalami asfiksia, yang disebabkan kon traksi dan retraksi rahim yang berlebihan 7) Air kencing mengandung darah ( kare na kandung kencing teregang atau tertekan ) Lingkaran Retraksi Patologis ( Lingkaran Bandl ) 7. PATOFISIOLOGI Pada umumnya uterus dibagi atas 2 bagian besar corpus uteri dans ervik uteri. Ba tas keduanya disebut ishmus uteri pada rahim yang tidak hamil. Bila kehamilan su dah kira-kira kurang lebih dari 20 minggu, dimana ukuran janin sudah lebih besar dari ukuran kavum uteri, maka mulailan terbentuk SBR ishmus ini. Batas antara k orpus yang kontraktil dan SBR yang pasif disebut lingkaran dari bandl. Lingkaran bandl ini dianggap fisiologi bila terdapat pada 2 sampai 3 jari diatas simpisis , bila meninggi, kita harus waspada terhadap kemungkinan adanya rupture uteri me ngancam (RUM). Rupture uteri terutama disebabkan oleh peregangna yang luar biasa dari uterus. Sedangkan uterus yang sudah cacat, mudah dimengerti, karena adanya lokus minoris resisten. Pada

waktu inpartu, korpus uteri mengadakan kontraksi sedang SBR tetap pasif dan serv ik menjadi lunak (efacement dan pembukaan). Bila oleh sesuatu sebab partus tidak dapat maju (obstruksi), sedang korpus uteri berkontraksi terus dengan hebatnya (his kuat) maka SBR yang pasif ini akan tertarik keatas, menjadi bertambah regga ng dan tipis. Lingkaran bandl ikut meninggi, sehingga sewaktu-waktu terjadi robe kan pada SBR tadi. Dalam hal terjadinya rupture uteri jangan dilupakan peranan d ari anchoring apparrtus untuk memfiksir uterus yaitu ligamentum rotunda, ligamen tum sacro uterina dan jaringan parametra. (Hapsari, 2009) 8. DIGNOSIS BANDING Solusio plasenta dan kehamilan abdominal 9. PENATALAKSANAAN Penanganan ruptur uteri menurut Fadil ( 2008 ) adalah sebagai berikut : a. Penanganan umum perdarahan postpartum (rujuk ke ahli Obsgin/bedah) b. Laparatomi c. Histerektomi Sedangkan menurut.....penatalaksanaan untuk ruptur uteri dipaparkan sebagai beri kut : Bila ruptur uteri sudah pasti terdiagnosis, tidak diusahakan melahirkan pe rvaginam karena usaha ini akan menambah trauma dan memperpanjang lamanya operasi , maka sebaiknya lakukan laparotomi. Tetapi apabila diagnosis diragukan, bayi di lahirkan per vaginam dulu disusul dengan eksplorasi kavum uteri. Transfusi darah merupakan syarat mutlak pada pengob atan ruptur uteri. Pasca operasi pasien dil etakkan secara Fowler supaya infeksi terbatas pada pelvis dan diberi antibiotik dalam dosis yang tinggi.

KETERANGAN 1. Tanda Merah itu sumber dari bukunya bos 2. Tanda Biru itu dari blo gspot..T__T 3. Yang robekan vagina n vulva sumberx dikit banget, jadi ga lengkap ..T____T DAFTAR PUSTAKA Bascom, 2010. Robekan Serviks. http://www.bascommetro.com/2010/05 /robekanserviks.html. Diakses tanggal 09 Desember 2010. Jam 12.13 Fadil , 2008. Robekan jalan Lahir. http://www.scribd.com/doc/44470133/RobekanJalan-Lahir-fadil . Diakses tanggal 06 Desember 2010. Jam 14.29 Fitri, Diah. 2010 . Episiotomi dan Penjahitan jalan Lahir. http://www.scribd.com/doc/39724533/Episiotomi-amp-Penjahitan-Jalan-Lahir. Diakse s tanggal 06 Desember 2010. Jam 14.34. FK Unsri. 2005. Perdarahan Pasca Persalin an. http://www.scribd.com/doc/8649214/PENDARAHAN-PASCA-PERSALINAN. Diakses tanggal 0 9 Desember 2010. Jam 12.22 Hapsari. 2009. Makalah Perlukaan Jalan Lahir. http://superbidanhapsari.wordpress.com/2009/12/14/makalah -perlukaan-jalanlahir/ . Diakses tanggal 06 Desember 2010. Jam 14.35. Manuaba I B G., 2007. Pengantar K uliah Obstetri. Jakarta : EGC. Prawirohardjo, Sarwono. 1999. Ilmu Kandungan. Jak arta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Santoso, Budi I., dr Sp OG ( K). 2008. Manajemen Ruptura Uteri Terkini . repository.ui.ac.id/dokumen/lihat/23 50.pdf. Diakses tanggal 09 Desember 2010. Jam 11.54. Santoso, Budi I., dr Sp OG ( K). 2009. Perdarahan Pasca Persalinan. repository.ui.ac.id/dokumen/lihat/2356.pdf. Diakses tanggal 09 Desember 2010. Ja m 11.21. Smartklick. 2010. Pengertian dan Penjelasan Tentang Ruptur Uteri. http: //www.gexcess.com/id/askeb-asuhan-kebidanan/pengertian-dan-penjelasan-tentangrup tur-uteri.html. Diakses tanggal 09 desember 2010. Jam 12.30.

Soepardiman, 2006, Pengantar Ilmu Bedah Obstetri. http://www.geocities.com. Diak ses tanggal 06 Desember 2010. Jam 14.33. USU,2006. repository.usu.ac.id/bitstrea m/123456789/19474/4/Chapter%20II.pdf . Diakses tanggal 09 Desember 2010. Jam 11.58. Widjanarko, Bambang. 2009. Ruptur U teri. http://biechan.wordpress.com/ruptur-uteri/. Diakses tanggal 09 Desember 20 10. Jam 12.00 Wiknjosastro H., 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pust aka