P. 1
Garis Kemiskinan

Garis Kemiskinan

|Views: 120|Likes:
Dipublikasikan oleh Suhartono Mbell

More info:

Published by: Suhartono Mbell on Mar 21, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/21/2012

pdf

text

original

Bank Dunia mendefinisikan Kemiskinan absolut sebagai hidup dg pendapatan dibawah USD $1/hari dan Kemiskinan menengah untuk

pendapatan dibawah $2 per hari. (garis kemiskinan Bank Dunia sebesar USD 2 per kapita per hari). Standar Kemiskinan Internasional yang dikeluarkan World Bank (baca: Bank Dunia), Lembaga Internasional ini menyatakan penduduk miskin adalah yang memiliki pengeluaran per hari sebesar US$2 atau kurang (dengan Kurs Rupiah Rp. 9.000,- maka Penduduk dikatakan miskin bila berpendapatan kurang dari Rp. 18.000,-). Lebih lanjut lagi, Bank Dunia yang menggunakan metode Purchasing Power Parity (PPP), juga menetapkan klasifikasi penduduk sangat miskin (extreme poor) untuk yang pengeluaran per harinya di bawah US$1. Konsep yang digunakan oleh Bank Dunia pada dasarnya sama dengan yang digunakan oleh BPS, yang membedakan keduanya hanyalah GK yang digunakan. GK yang digunakan oleh Bank Dunia dalam dollar PPP (purchasing power parity/paritas daya beli). Dalam prakteknya, ada dua ukuran yang digunakan, yakni 1,25 dollar dan 2 dollar. Dollar PPP atau biasa disebut dollar internasional tidak sama dengan dollar currency (dollar AS). Jika dirupiahkan, nilai dollar PPP selalu lebih rendah dibanding dollar AS.

World Bank menetapkan standar kemiskinan sebesar $2 (PPP)/hari. garis batas kemiskinan harusnya menggunakan dasar Purchasing Power Parity.

Sajogyo (sosiolog IPB) tiga dekade lalu menggunakan pendekatan pengeluaran setara beras sebagai penentu garis kemiskinan yang dibedakan antara daerah perdesaan dengan daerah perkotaan. Untuk daerah perdesaan ditetapkan rumah tangga miskin jika pengeluarannya kurang dari 320 kg setara beras,miskin sekali jika pengeluaran kurang 240 kg setara beras, dan paling miskin jika pengeluaran kurang dari 180 kg setara beras per kapita per tahun. Untuk daerah perkotaan rumah tangga miskin, miskin sekali,dan paling miskin berturutturut adalah pengeluaran rumah tangga sebesar 480, 360, dan 270 kg setara beras.

Survei Sosial Ekonomi Nasional Maret 2011, Badan Pusat Statistik (BPS) menaikkan batas garis kemiskinan dari gabungan desa-kota Rp211.726 pada 2010, menjadi Rp233.740 per kapita/bulan.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->