Anda di halaman 1dari 80

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kerja Praktek Pendidikan pada jenjang universitas adalah pendidikan dengan oritentasi

menghasilkan para akademis yang mampu menguasai materi dengan baik dan mampu mengaplikasikannya. Sebuah keharusan bagi Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) untuk mengikuti kerja praktek yang merupakan salah satu mata kuliah yang harus diikuti dan dilaksanakan oleh setiap mahasiswa. Sesuai dengan kurikulum yang berlaku di USU saat ini, yang merupakan salah satu syarat untuk meneruskan tugas/mata kuliah ke tingkat berikutnya. Kerja praktek ini merupakan salah satu kesempatan bagi setiap mahasiswa untuk melihat, mengenal secara langsung segala peralatan yang digunakan dalam dunia industri. Sebagaimana yang telah diketahui selama dalam bangku perkuliahan mahasiswa telah banyak mempelajari tentang alat-alat yang digunakan dalam dunia industri, namun hal ini hanya merupakan teori dasar saja, maka dengan diadakannya kerja praktek lapangan sehingga mahasiswa dapat memahami dan mengetahui aplikasi lapangan, khususnya aplikasi mata kuliah Manajemen Teknik dan Turbin Uap.

1.2 Maksud Dan Tujuan Adapun maksud dan tujuan dari pada kerja praktek ini adalah melihat dan mengenal secara langsung di lapangan serta menerapkan teori dasar yang telah diperoleh di bangku kuliah, mengenal dan memahami beberapa aspek tentang perusahaan seperti:aspek manajemen, aspek teknologi yang meliputi turbin pada power plant dan aspek maintenance pada turbin, memperoleh keterampilan dalam hal penguasaan pekerjaan, sehingga menambah pengalaman untuk terjun ke masyarakat, dan sebagai dasar untuk penyusunan laporan kerja praktek.

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

1.3 Manfaat Kerja Praktek Manfaat yang diperoleh dari kerja praktek ini adalah: 1. Bagi Mahasiswa: a. Memperoleh kesempatan untuk melatih keterampilan dan melakukan pekerjaan atau kegiatan lapangan. b. Dapat mengetahui dan memahami berbagai aspek kegiatan dalam perusahaan. c. Dapat membandingkan teori-teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan praktek lapangan. d. Memperoleh pengetahuan yang berguna bagi perwujudan kerja yang akan dihadapi kelak setelah menyelesaikan studi. e. Lebih memahami cara melakukan penelitian dan menghasilkan karya ilmiah.

2. Bagi Fakultas: a. Memperat kerjasama perusahaan dengan Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, khususnya dengan Departemen Teknik Mesin. b. Memperluas pengenalan akan Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.

3. Bagi Perusahaan: a. Sebagai bahan masukan atau usulan bagi perusahaan untuk memperbaharui sistem metode kerja yang lebih baik. b. Sebagai sarana penyaluran program perusahaan dalam rangka turut mencerdaskan anak bangsa c. Dapat melihat keadaan perusahaan dari sudut pandang pendidikan, khususnya mahasiswa.

1.4

Ruang Lingkup Kerja Praktek Ruang lingkup kerja praktek yang dilaksanakan adalah:

1. Setiap mahasiswa yang telah memenuhi persyaratan, harus melakukan kerja praktek pada perusahaan, badan/instansi pemerintah atau swasta.

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

2. Kerja praktek di PT. Toba Pulp Lestari, Tbk, yang meliputi bidang-bidang yang berkaitan dengan disiplin ilmu Teknik mesin antara lain: a. Organisasi dan manajemen perusahaan b. Proses produksi c. Sistem pembangkit tenaga (Power Island)

3. Kerja praktek ini harus bersifat: a. Latihan kerja yang berdisplin dan bertanggung jawab sesuai dengan para pekerja dalam lingkungan perusahaan. b. Mengajukan usulan perbaikan seperlunya dari sistem/instansi kerja proses yang dimuat dalam laporan.

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengolahan Pulp dan Sistem Pembangkit Tenaga 2.1.1 Pengolahan Pulp Proses pembuatan kertas yang akan dibahas dalam laporan ini adalah pembuatan

kertas dengan proses kimia menggunakan sodium sulfat (kraft process). Kraft pulping menghasilkan pulp kurang dari 50% dari bahan baku kayu, sisanya menjadi sludge yang akhirnya dibakar, disebar ke tanah atau dibuang dengan sistem landfill. Kelebihan dari kraft pulping adalah bahan kimia yang dapat didaur ulang (recycle) dan digunakan kembali dalam proses berikutnya. Kelebihan lainnya adalah dihasilkannya serat yang kuat. Majalah, kertas grafis, kantong belanja dan pembungkus terbuat dari kraft pulp. Kraft pulp biasanya berwarna gelap dan umumnya diputihkan dengan senyawa klorin.

Proses pembuatan kertas pada umumnya dibagi dalam beberapa tahapan yang akan dijelaskan berikut ini. a. Pemilihan Jenis Kayu Jenis kayu yang banyak digunakan dalam pembuatan kertas adalah: Kayu lunak (softwood) adalah kayu dari tumbuhan konifer contohnya pohon pinus. Kayu keras (hardwood) adalah kayu dari tumbuhan yang menggugurkan daunnya setiap tahun. Kayu lunak yang memiliki panjang dan kekasaran lebuh besar digunakan untuk memberikan kekuatan pada kertas. Kayu keras lebih halus dan kompak sehingga menghasilkan permukaan kertas yang halus. Kayu keras juga lebih mudah diputihkan hingga warnanya lebih terang karena memiliki lebih sedikit lignin. Kertas umumnya tersusun atas campuran kayu keras dan kayu lunak untuk mencapai kekuatan dan permukaan cetak yang diinginkan pembeli. (Casey JP. Pulp and Paper Chemistry and Chemical Teknology) Kayu sebagai bahan dasar dalam industri kertas mengandung beberapa komponen antara lain: Selulosa, tersusun atas molekul glukosa rantai lurus dan panjang yang merupakan komponen yang paling disukai dalam pembuatan kertas karena panjang dan kuat.

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

Hemiselulosa, tersusun atas glukosa rantai pendek dan bercabang. Hemiselulosa lebih mudah larut dalam air dan biasanya dihilangkan dengan proses pulping. Lignin, adalah jaringan polimer fenolik tiga dimensi yang berfungsi merekatkan serat selulosa sehingga menjadi kaku. Pulping kimia dan proses pemutihan akan menghilangkan lignin tanpa mengurangi serat selulosa secara signifikan. Ekstraktif, meliputi hormom tumbuhan, resin, asam lemak, dan unsur lain. Komponen ini sangat beracun bagi kehidupan perairan dan mencapai jumlah toksik akut dalam limbah industri kertas. b. Persiapan Kayu Kertas yang sering kita gunakan itu terbuat umumnya terbuat dari kayu atau lebih tepatnya dari serat kayu dicampur dengan bahan-bahan kimia sebagai pengisi dan penguat kertas. Kayu yang digunakan di Indonesia umumnya jenis Acasia. Kayu jenis ini berserat pendek sehingga kertas menjadi rapuh. Di mesin pembuat kertas (paper machine), serat kayu ini dicampur dengan kayu yang memiliki serat panjang contohnya adalah pohon pinus. Proses pembuatan pulp dimulai dari penyediaan bahan baku, dengan cara mengambil dari hutan tanam industri kemudian disimpan dengan tujuan untuk pelapukan dan persediaan bahan baku. Kayu yang siap diolah ini disebut dengan Log. Kemudian log di kupas kulitnya dengan alat yang berbentuk drum disebut Drum barker. Setelah itu log melewati stone trap (alat yang berbentuk silinder berfungsi untuk membuang batu yang menempel pada log), setelah itu log dicuci. Log yang sudah bersih ini kemudian di iris menjadi potongan-potongan kecil yang di sebut dengan chip. Chip kemudian dikirim ke penyaringan utama untuk memisahkan chip yang bisa dipakai (ukuran standar 25x25x10mm) dengan yang tidak. Chip yang standar disimpan ditempat penampungan (chip pile).

c. Pembuburan Kayu (Pulping) Dalam proses pulping secara kimiawi ditambahkan panas dan zat kimia serpihan kayu yang dimasukkan ke dalam tabung bertekanan yang disebut Digester. Pembuburan pulp dengan proses kraft menggunakan larutan putih (white liquor), yaitu larutan campuran sodium hidroksida dan sodium sulfida yang secara selektif akan melarutkan lignin dan membuatnya lebih larut dalam cairan pengolah. Setelah 2-4 jam, campuran antara pulp, sisa Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
5

zat kimia dan limbah kayu dikeluarkan dari digester. Pulp kemudian dicuci untuk memisahkannya dengan cairan hitam (sisa zat kimia dan limbah). Larutan yang mengandung serat kayu terlarut kemudian masuk ke digester dan dipanaskan. Larutan hasil pemanasan yang berwarna hitam (black liquor) dipisahkan dari pulp (brownstock) setelah proses pemanasan. Dalam batch digester, pulp (brownstock) diambil dari dasar digester tabung untuk dilanjutkan dengan pencucian. Pada digester berkesinambungan, pencucian dilakukan didalam digester untuk menghilangkan larutan lain dan mendinginkan pulp. Kraft pulping adalah proses dengan hasil rendah yaitu hanya 45% dari kayu yang akan menjadi pulp yang dapat digunakan. Pulp atau disebut brownstock pada tahap ini siap diputihkan.

d. Pencucian (Washing) Pencucian pulp secara efisien sangat penting dilakukan untuk memastikan kebutuhan maksimal zat kimia dalam proses pulping dan mengurangi jumlah limbah organik yang terbawa oleh pulp dalam proses pemutihan. Pulp yang kurang tercuci membutuhkan dosis zat pemutih yang lebih besar. Pencucian pulp dilakukan mengikuti masing-masing proses untuk menghilangkan materi yang tidak diinginkan dalam pulp. Hasil samping berupa black liquor, debu, lignin dan pemutih dihilangkan setelah tiap tahapan proses selesai. Efisiensi pencucian diukur berdasarkan tingkat kebersihan bubur kertas dan jumlah air yang digunakan untuk mencapai tingkat kebersihan tersebut.

e. Refining Pulp melewati slot dalam piringan yang berputar untuk memisahkan gumpalan selulosa menjadi serat dan mempersiapkan pulp untuk proses pembuatan kertas. Serat dipotong dengan panjang yang seragam dan diberlakukan untuk memperbaiki ikatan dan kekuatan produk akhir kertas.

f. Oksigen Delignification Penghilangan lignin (delignifikasi) menggunakan oksigen diperlukan untuk menghilangkan sisa lignin dari brownstock yang merupakan tahap prebleaching. Dengan mengurangi lignin akan dihasilkan bubur kayu yang lebih putih. Oksigen dan larutan putih ditambahkan ke dalam brownstock dalam reaktor pemanas. Senyawa lignin akan lepas dan dihilangkan dengan pencucian dan ekstraksi. Oksigen delignification akan mengurangi jumlah klorin yang dibutuhkan dalam proses pemutihan (bleaching). Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
6

g. Bleaching Bleaching dilakukan dalam beberapa tahap dengan tujuan menghilangkan lignin tanpa merusak selulosa. Dalam industri kertas terdapat beberapa tahap dalam proses pemutihan. Masing-masing tahapan dijabarkan di bawah ini. C : tahap klorinasi, menggunakan Cl2 dalam media asam. E : ekstrasi alkali, melarutkan hasil degradasi lignin yang terbentuk pada tahap sebelumnya dengan larutan NaOH. D : klorin dioksida, mereaksikan ClO2 dengan pulp pada kondisi asam. O : oksigen, digunakan pada tekanan tinggi dan suasana basa. H : hipoklorit, mereaksikan NaClO dalam media basa. P : peroksida, reaksi dengan hydrogen peroksida (H2O2) dalam kondisi basa. Z : ozon, menggunakan ozon (O3) dalam kondisi asam. X : xylanase, biobleaching dengan enzim murni mikroba dalam kondisi netral.

Proses bleaching biasanya melibatkan 4-6 tahap. Di beberapa industri, tahap Q (Q stage) juga digunakan yang merupakan tahap chelation untuk menghilangkan zat anorganik sebelum pengolahan dengan peroksida. Standar industri hingga beberapa tahun lalu adalah bleaching dengan urutan CEDED yaitu tahap klorinasi yang diikuti ekstrasi alkali, pengolahan dengan klorin dioksida, ekstraksi alkali dan pengolahan akhir klorin dioksida. Proses yang lebih modern telah beralih dari penggunaan klorin (C-stage) karena menghasilkan senyawa toksik aromatic terklorinasi dalam efluen instalasi bleaching, contohnya menerapkan urutan OXED yaitu menggunakan pemutih oksigen yang diikuti penerapan enzim xilanase, ekstraksi alkali dan klorin dioksida. Klorin biasanya diperoleh melalui proses elektrolisis dari NaCl yang menghasilkan Cl2 dan NaOH. NaOH yang dihasilkan dapat digunakan pada tahap E. Reaksi kimia elektrolisis dari NaCl diuraikan berikut ini: 2NaCl + e2NaOH + Cl2 + H2

Klorin dioksida diperoleh dari sodium klorat dengan katalis asam sulfit. Produk lainnya adalah Na2SO4 yang dapat digunakan dalam proses kraft pulping. Reaksinya diuraikan berikut ini. NaClO3 + SO2 2ClO2 + Na2SO4

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

h. Paper Making Sebelum masuk ke areal paper machine pulp diolah dahulu pada bagian stock preparation. Bagian ini berfungsi untuk meramu bahan baku seperti menambahkan pewarna untuk kertas (dye), menambahkan zat retensi, menambahkan filler (untuk mengisi pori-pori diantara serat kayu), dll. Bahan yang keluar dari bagian ini disebut stock campuran pulp, bahan kimia dan air). Dari stock preparation sebelum masuk ke headbox dibersihkan dulu dengan alat yang disebut cleaner. Dari cleaner stock masuk ke headbox. Headbox berfungsi untuk membentuk lembaran kertas (membentuk formasi) diatas fourdinier table. Fourdinier adalah alat yang berfungsi untuk membuang air yang berada dalam stock (dewatering). Hasil yang keluar disebut dengan web (kertas basah). Kadar padatnya sekitar 20 %. Press part berfungsi untuk membuang air dari web sehingga kadar padatnya telah mencapai 50%. Hasilnya masuk ke bagian pengering (dryer). Cara kerja press part ini adalah kertas masuk diantara dua roll yang berputar. Satu roll bagian atas diberi tekanan sehingga air keluar dari web. Bagian ini dapat menghemat energi, karena kerja dryer tidak terlalu berat atau dimana kadar air telah berkurang menjadi 30% jumlahnya.

Dryer berfungsi untuk mengeringkan web sehingga kadar airnya mencapai 6 %. Hasilnya digulung di pop reel sehingga berbentuk gulungan kertas yang besar (paper roll). Paper roll ini yang dipotong - potong sesuai ukuran dan dikirim ke konsumen.

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.1 Proses Pembuatan Pulp dan Kertas 1 Energi yang dibutuhkan dalam proses pembuatan kertas dalam bentuk panas dihasilkan dari pembakaran sampah padat (sisa potongan kayu) dan uap serta bahan bakar fosil. Industri kertas membutuhkan energi dalam jumlah besar untuk dapat beroperasi. Dalam proses pembuburan kayu, sisa larutan pemasak dapat dimurnikan kembali dengan proses pemulihan (chemical recovery). Siklus pemulihan akan melewati siklus liquor evaporator, recovery boiler, clarifier, dan lime kiln melalui 4 tahapan yaitu:

(Sumber :Training and Development Center. 2002. Buku Manual Washing and Screening

Plant, PT. Toba Pulp Lestari, Tbk: Porsea.) Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
9

Air dari pencucian dialirkan ke evaporator dimana black liquor mengandung konsentrasi solid sebanyak 65% sampai 75% sebelum masuk ke recovery boiler. Pada recovery boiler, dalam furnish yang didesain khusus, zat kimia sisa pakai dipisahkan dari limbah kayu. Zat kimia dalam proses pulping membentuk lelehan menyerupai lava diatas recovery boiler, sedangkan limbah kayu dibakar pada bagian atas recovery boiler. Panas ini digunakan untuk menghasilkan uap bertekanan tinggi yang dapat digunakan untuk memenuhi uap yang dibutuhkan dalam penggilingan dan kebutuhan pembangkit listrik. Sisa larutan pemasak (black liquor) mengandung berbagai senyawa organik dan senyawa sulfur disamping NaOH dan Na2S yang reaktif. Black liquor diuapkan dalam furnis bersama sodium sulfat (Na2SO4) untuk mendapatkan Na2S dan sodium karbonat (Na2CO3) dalam bentuk abu. Abu kemudian dituangkan ke tangki besar untuk membentuk green liquor, yaitu campuran dari sodium sulfide dan sodium karbonat. Abu ini kemudian dicampur dengan air dan lime (CaO) yang membentuk larutan hijau (green liquor) dan menghilangkan bahan kimia asalnya yaitu NaOH dan Na2S, kalsium karbonat (CaCO3). Pada langkah selanjutnya, lime (kalsium oksida) ditambahkan ke dalam green liquor untuk mengubah sodium karbonat menjadi sodium hidroksida sehingga kembali terbentuk white liquor yang akan digunakan kembali dalam proses pulping lainnya. (Casey JP. Pulp and Paper Chemistry and Chemical Teknology)

2.1.2 Sistem Pembangkit Tenaga a. Turbin Uap Turbin uap adalah suatu penggerak mula yang mengubah energi potensial menjadi energi kinetik dan energi kinetik ini selanjutnya diubah menjadi energi mekanik dalam bentuk putaran poros turbin. Poros turbin langsung atau dengan bantuan elemen lain, dihubungkan dengan mekanisme yang digerakkan. Tergantung dari jenis mekanisme yang digerakkan turbin uap dapat digunakan pada berbagai bidang industri, seperti untuk pembangkit listrik.

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

10

Turbin uap merupakan salah satu jenis mesin yang menggunakan metode external combustion engine (mesin pembakaran luar). Pemanasan fluida kerja (uap) dilakukan di luar sistem. Prinsip kerja dari suatu instalasi turbin uap secara umum adalah dimulai dari pemanasan air pada ketel uap. Uap air hasil pemanasan yang bertemperatur dan bertekanan tinggi selanjutnya digunakan untuk menggerakkan poros turbin. Uap yang keluar dari turbin selanjutnya dapat dipanaskan kembali atau langsung disalurkan ke kondensor untuk didinginkan. Pada kondensor uap berubah kembali menjadi air dengan tekanan dan temperatur yang telah menurun. Selanjutnya air tersebut dialirkan kembali ke ketal uap dengan bantuan pompa. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa turbin uap adalah mesin pembangkit yang bekerja dengan sistem siklus tertutup.

Gambar 2.2 Skema sederhana instalasi turbin (Syamsir A. Pesawat-pesawat Konversi Energi II (turbin uap))

b. Komponen Utama Turbin Uap Secara umum komponen-komponen utama dari sebuah turbin uap adalah :

Nosel, sebagai media ekspansi uap yang merubah energi potensial menjadi energi kinetik.

Sudu, alat yang menerima gaya dari energi kinetik uap melalui nosel. Cakram, tempat sudu-sudu dipasang secara radial pada poros. Poros, sebagai komponen utama tempat dipasangnya cakram-cakram sepanjang sumbu.

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

11

Bantalan, bagian yang berfungsi uuntuk menyokong kedua ujung poros dan banyak menerima beban.

Kopling, sebagai penghubung antara mekanisme turbin uap dengan mekanisme yang digerakkan.

Gambar 2.3 Turbin Uap

Pada dasarnya turbin uap terdiri dari dua bagian utama, yaitu Stator dan rotor ditambah komponen lain yang menjadi pendukungnya seperti bantalan, kopling dan sistem bantu lainnya.

1.

Stator blade).

Stator turbin terdiri dari dua bagian, yaitu casing dan sudu diam (fixed Namun untuk tempat kedudukan sudu-sudu diam yang pendek dipasang diafragma. Casing

Casing atau shell adalah suatu wadah berbentuk menyerupai sebuah tabung dimana rotor ditempatkan. Casing juga berfungsi sebagai sungkup pembatas yang memungkinkan uap mengalir melewati sudu-sudu turbin. Pada ujung casing terdapat ruang besar mengelilingi poros turbin disebut exhaust hood, dan diluar casing dipasang bantalan yang berfungsi untuk menyangga rotor. Pada casing terdapat sudu-sudu diam yang dipasang melingkar dan berjajar terdiri dari beberapa baris yang merupakan pasangan dari sudu gerak pada rotor.
12

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.4 Casing Turbin Uap Sudu Tetap (fixed blade) Sudu merupakan bagian dari turbin dimana konversi energi terjadi. Sudu terdiri dari bagian akar sudu, badan sudu dan ujung sudu. Sudu kemudian dirangkai sehingga membentuk satu lingkaran penuh. Sudu-sudu tetap dipasang melingkar pada dudukan berbentuk piringan yang disebut diapragma. Pemasangan sudu-sudu tetap ini pada diafragma menggunakan akar berbentuk T sehingga memberi posisi yang kokoh pada sudu. Diafragma terdiri dari dua bagian (atas dan bawah) dan dipasang pada alur-alur yang ada didalam casing. Setiap baris dari rangkaian sudu-sudu tetap ini membentuk suatu lingkaran penuh dan ditempatkan langsung didepan setiap baris dari sudu-sudu gerak.

Gambar 2.5 Sudu Tetap (fixed blade)

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

13

2.

Rotor

Rotor adalah bagian yang berutar terdiri dari poros dan sudu-sudu gerak yang terpasang mengelilingi rotor. Jumlah baris sudu gerak pada rotor sama dengan jumlah baris sudu diam pada casing. Pasangan antara sudu diam dan sudu gerak disebut tingkat (stage). Sudu gerak berfungsi untuk merubah energi kinetik uap menjadi energi mekanik. Poros

Poros dapat berupa silinder panjang yang solid (pejal) atau berongga (hollow). Pada umumnya poros turbin sekarang terdiri dari silinder panjang yang solid. Pada kebanyakan turbin, didekat ujung poros sisi tekanan tinggi dibuat collar untuk keperluan bantalan aksial (thrust bearing). Sepanjang poros dibuat alur-alur melingkar yang biasa disebut akar (root) untuk tempat dudukan, sudu-sudu gerak (moving blade).

Gambar 2.6 Poros Sudu Gerak (moving blades)

Adalah sudu-sudu yang dipasang di sekeliling rotor membentuk suatu piringan. Dalam suatu rotor turbin terdiri dari beberapa baris piringan dengan diameter yang berbeda-beda, banyaknya baris sudu gerak biasanya disebut banyaknya tingkat.

Gambar 2.7 Sudu Gerak Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
14

3.

Bantalan (Bearing)

Bantalan berfungsi sebagai penyangga rotor sehingga membuat rotor dapat stabil/lurus pada posisinya di dalam casing dan rotor dapat berputar dengan aman dan bebas. Adanya bantalan yang menyangga turbin selain bermanfaat untuk menjaga rotor turbin tetap pada posisinya juga menimbulkan kerugian mekanik karena gesekan. Sebagai bagian yang berputar, rotor memiliki kecenderungan untuk bergerak baik dalam arah radial maupun dalam arah aksial. Karena itu rotor harus ditumpu secara baik agar tidak terjadi pergeseran radial maupun aksial yang berlebihan. Komponen yang dipakai untuk keperluan ini disebut bantalan (bearing). Turbin uap umumnya dilengkapi oleh bantalan jurnal (journal bearing) dan bantalan aksial (thrust bearing) untuk menyangga rotor maupun untuk membatasi pergeseran rotor.

a. Bantalan Luncur (Journal Bearing) Bantalan ini digunakan untuk menyangga poros turbin generator. Terdapat satu bantalan pada tiap sisi turbin. Semua bantalan ini dilapisi dengan babbit pada bagian dalamnya, dimana ini adalah material yang lebih lunak dibanding poros turbin. Hal ini untuk mencegah poros turbin aus akibat gesekan atau vibrasi tinggi. Selain itu babbit mempunyai kemampuan untuk menahan pelumasan pada metal sehingga membantu mencegah gesekan antara bantalan dan jurnal pada saat poros mulai berputar.

Gambar 2.8 Bantalan Luncur Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
15

b. Bantalan Aksial Sehubungan dengan toleransi arah aksial rotor turbin sangat kecil, maka digunakan bantalan aksial untuk menyerap dan membatasi gerakan aksial poros turbin. Kebanyakan turbin menggunakan bantalan aksial kingsbury atau tapered land. Bantalan aksial tepered land terdiri dari dari thrust rumer yang tak lain adalah dua collar kaku yang dipasang pada poros turbin dan ikut berputar.

Gambar 2.9 Bantalan Aksial (Shlyakhin, P. Teori dan Rancangan Turbin Uap)

c. Klasifikasi Turbin Uap Turbin uap dapat diklasifikasikan ke dalam kategori yang berbeda yang tergantung pada konstruksinya, proses penurunan kalor, kondisi-kondisi awal dan akhir uap dan pemakaiannya di bidang industri sebagai berikut: 1. Menurut jumlah tingkat tekanan: a) Turbin satu tingkat dengan satu atau lebih tingkat kecepatan yang biasanya berkapasitas kecil. Turbin ini kebanyakan dipakai untuk menggerakkan kompresor sentrifugal dan mesin-mesin lain yang serupa. b) Turbin impuls dan reaksi nekatingkat. Turbin ini dibuat dalam jangka kapasitas yang luas mulai yang kecil hingga yang besar.

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

16

2. Menurut arah aliran uap: Turbin aksial, yang uapnya mengalir dalam arah yang sejajar terhadap sumbu turbin, tegak lurus terhadap sumbu turbin satu atau lebih tingkat kecepatan rendah pada turbin itu dibuat aksial. a) Turbin radial, yang uapnya mengalir dalam arah tegak lurus terhadap sumbu turbin. 3. Menurut jumlah silinder: a) Turbin silinder tunggal b) Turbin silinder ganda c) Turbin tiga silinder, dan d) Turbin empat silinder. Turbin nekatingkat yang rotornya dipasang pada satu dan poros yang sama dan dikopel dengan generator tunggal yang dikenal sebagai turbin poros tunggal; turbin dengan poros rotor yang terpisah untuk masing-masing silinder yang dipasang sejajar satu dengan yang lainnya dikenal sebagai turbin neka-aksial.

4. Menurut metode pengaturan: a) Turbin dengan pengaturan pencekikan (throttling) yang uap segarnya masuk melalui satu atau lebih (yang tergantung pada daya yang dihasilkan) katup pencekik yang dioperasikan serempak. b) Turbin dengan pengaturan nosel yang uap segarnya masuk melalui dua atau lebih pengatur pembuka (opening regulator) yang berurutan. c) Turbin dengan pengaturan langkah (by-pass governing) yang uap segarnya di samping dialirkan ke tingkat pertama juga berlangsung dialirkan ke satu, dua atau bahkan tiga tingkat menengah turbin tersebut. 5. Menurut prinsip aksi uap: a) Turbin impuls, yang energi potensial uapnya diubah menjadi energi kinetik di dalam nosel atau laluan yang dibentuk oleh sudu-sudu diam yang berdekatan dan di dalam sudu-sudu gerak, energi kinetik uap diubah menjadi energi mekanis, menurut praktek turbin impuls yang dilakukan sekarang ini, pengklasifikasian ini adalah relatif, karena turbin ini beroperasi dengan derajat Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
17

reaksi yang agak membesar pada sudu gerak tingkat-tingkat yang berikutnya (pada turbin kondensasi). b) Turbin reaksi aksial yang ekspansi uap di antara laluan sudu baik sudu pengarah maupun sudu gerak tiap-tiap tingkat berlangsung hampir pada derajat yang sama. c) Turbin reaksi radial tanpa sudu pengarah yang diam. d) Turbin reaksi radial dengan sudu pengarah yang diam.
(Shlyakhin. 1993. Teori dan Rancangan Turbin Uap)

2.2

Manajemen Perusahaan Manajemen suatu perusahaan adalah nyawa dari suatu perusahaan. Manajemen yang

menentukan pertumbuhan atau kebangkrutan suatu perusahaan. Dengan adanya suatu pengelolaan dan manajemen yang baik maka suatu perusahaan akan mampu bertahan dari segala tekanan, kendala, dan rintangan yang ada. Bahkan akan berkembang menjadi lebih besar dan lebih baik lagi. Dalam mengelola perusahaan maka ada prinsip dan standarisasi dimana hal-hal tersebut akan sangat membantu perkembangan perusahaan bila diterapkan dengan baik. Prinsip dan standar ini bukanlah nilai mutlak dalam kesuksesan suatu perusahaan. Tidak selamanya suatu perusahaan yang telah melakukan segala sesuatunya dengan baik akan sukses.

2.2.1 Struktur Organisasi Sistem struktur organisasi banyak sekali macamnya, mulai dari yang bersifat tradisional sampai profesional. Penerapannya sendiri dapat berbeda-beda dan banyak faktor yang menentukan, antara lain: besar kecilnya perusahaan, luas sempitnya jaringan usaha, jumlah karyawan, tujuan perusahaan dan sebagainya. Beragamnya sistem struktur organisasi tersebut dimungkinkan bahwa suatu perusahaan A cocok menggunakan sistem struktur organisasi B, tetapi perusahaan C atau yang lain belum tentu cocok menggunakan sistem struktur organisasi B. Suatu perusahaan dalam rangka mencapai tujuannya selalu menggunakan struktur organisasi sebagai wadah segala kegiatannya, tetapi untuk penerapan sistem struktur organisasinya tergantung dari kondisi perusahaan yang bersangkutan. Hal ini merupakan suatu masalah bagi setiap perusahaan dalam menerapkan struktur organisasi mana yang Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
18

cocok sehingga untuk itu setiap perusahaan membutuhkan waktu dan pengamatan (analisis) yang khusus dalam memilih sistem struktur organisasi yang tepat dan sesuai.

2.2.2 Pengertian Manajemen Pengertian manajemen dapat dimaksudkan sebagai kelompok atau tim fungsionaris yang aktif memegang pimpinan. Manajemen juga berarti: keseluruhan kegiatan yang ditujukan untuk mengemudikan organisasi ke arah perwujudan tujuan-tujuannya.

Dirumuskan dengan singkat: management gets things done through other people, atau management gets things done through and with other people. (Afiff, Faisal, dkk.Seluk beluk organisasi perusahaan modern, halaman 75) Seperti telah diuraikan di atas, istilah manajer dapat diartikan sebagai pemegang pimpinan. Tetapi, dalam literature Amerika ditekankan bahwa kepemimpinan bukanlah sinonim untuk manajemen. Kepemimpinan memang merupakan salah satu unsur yang terpenting bagi kecakapan manajer. Menurut M.J.Wallace, the practice of influence, yaitu proses yang dilalui untuk mempengaruhi prestasi orang lain oleh orang yang memegang peran pimpinan. Pengertian manajer masih tetap memberikan tekanan pada memimpin dan kepemimpinan (leading dan leadership).

2.2.3 Fungsi Manajemen Sesungguhnya, fungsi yang disebut terakhir merupakan referensi bagi pengurusan dan kepemimpinan. Fungsi manajemen mencakup lima unsur, yaitu : 1. Perencanaan Perencanaan, yaitu menyusun suatu program kegiatan; singkatnya: suatu rencana yang memiliki ciri-ciri adanya kesatuan (rencana-rencana bagian harus digabungkan menjadi suatu rencana induk, kontinuitas, keterkaitan dan keserasian, fleksibilitas dan presisi) 2. Pengorganisasian Pengorganisasian, yaitu menyusun struktur personalia dengan merincikan tugas, wewenang, pertanggungjawaban atas hak dan kewajibannya. 3. Pemberian perintah Pemberian perintah, yaitu melakukan pemberian komando dan pengurusan. Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
19

4. Pengkoordinasian Pengkoordinasian, yaitu tindakan yang memiliki arah horizontal sebagai pelengkap bagi perintah yang memiliki arah vertical. 5. Pengendalian/kontrol Pengendalian/kontrol, yaitu meneliti kembali apakah tujuan-tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai, norma-norma yang telah ditentukan diikuti atau tidak. (Afiff, Faisal, dkk.Seluk beluk organisasi perusahaan modern, halaman 79) yang disepakati, dan prosedur-prosedur

2.2.4 Sarana Manajemen Untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan diperlukan alat-alat sarana (tools). Tools merupakan syarat suatu usaha untuk mencapai hasil yang ditetapkan. Tools tersebut dikenal dengan 6M, yaitu men, money, materials, machines, method, dan markets.
2

1. Man (Sumber Daya Manusia) Dalam manajemen, faktor manusia adalah yang paling menentukan. Manusia yang membuat tujuan dan manusia pula yang melakukan proses untuk mencapai tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses kerja, sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk kerja. Oleh karena itu, manajemen timbul karena adanya orang-orang yang berkerja sama untuk mencapai tujuan. 2. Money (Uang) Uang merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan. Uang merupakan alat tukar dan alat pengukur nilai. Besar-kecilnya hasil kegiatan dapat diukur dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan. Oleh karena itu uang merupakan alat (tools) yang penting untuk mencapai tujuan karena segala sesuatu harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan dengan berapa uang yang harus disediakan untuk membiayai gaji tenaga kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli serta berapa hasil yang akan dicapai dari suatu organisasi.
2

(Sumber :Training and Develompent Center. 2002,Handbook Effluen, PT.Toba Pulp

Lestari, Tbk: Porsea.) Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
20

3.

Materials (Bahan) Materi terdiri dari bahan setengah jadi (raw material) dan bahan jadi. Dalam dunia

usaha untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli dalam bidangnya juga harus dapat menggunakan bahan/materi-materi sebagai salah satu sarana. Sebab materi dan manusia tidaki dapat dipisahkan, tanpa materi tidak akan tercapai hasil yang dikehendaki. 4. Machines (mesin)Dalam kegiatan perusahaan, mesin sangat diperlukan. Penggunaan mesin akan membawa kemudahan atau menghasilkan keuntungan yang lebih besar serta menciptakan efesiensi kerja. 5. Methods (metode) Dalam pelaksanaan kerja diperlukan metode-metode kerja. Suatu tata cara kerja yang baik akan memperlancar jalannya pekerjaan. Sebuah metode dapat dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas dengan memberikan berbagai pertimbangan-pertimbangan kepada sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu, serta uang dan kegiatan usaha. Perlu diingat meskipun metode baik, sedangkan orang yang melaksanakannya tidak mengerti atau tidak mempunyai pengalaman maka hasilnya tidak akan memuaskan. Dengan demikian, peranan utama dalam manajemen tetap manusianya sendiri. 6. Market (Pemasaran) Memasarkan produk sudah barang tentu sangat penting sebab bila barang yang diproduksi tidak laku, maka proses produksi barang akan berhenti. Artinya, proses kerja tidak akan berlangsung. Oleh sebab itu, penguasaan pasar dalam arti menyebarkan hasil produksi merupakan faktor menentukan dalam perusahaan. Agar pasar dapat dikuasai maka kualitas dan harga barang harus sesuai dengan selera konsumen dan daya beli (kemampuan) konsumen.

2.2.5 Prinsip Manajemen Prinsip-prinsip dalam manajemen bersifat lentur dalam arti bahwa perlu

dipertimbangkan sesuai dengan kondisi-kondisi khusus dan situasi-situasi yang berubah. prinsip-prinsip umum manajemen ini terdiri dari: 1. Pembagian kerja secara tuntas (Division of work) Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
21

2. Adanya wewenang (Authority) 3. Disiplin (Unity of command) 4. Kesatuan perintah (Unity of command) 5. Kesatuan pengarahan (Unity of direction) 6. Kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi (Subordination of individual interest to general interest) 7. Pemberian rangsangan kerja (Renumeration) 8. Sentralisasi sebagian dari kekuasaan (Centralization) 9. Garis wewenang jelas batasnya (Line of authority) 10. Tatanan yang baik (Order) 11. Stabilitas anggotany, jiwa kelompok yang tinggi harus dijaga (Stability of tenure of personal) (Syamsi,Ibnu. Pokok-pokok organisasi & manajemen. Halaman 60)

2.2.6 Bidang Manajemen 1. Manajemen Produksi Produksi adalah penciptaan atau penambahan faedah, bentuk, waktu dan tempat atas faktor-faktor produksi sehingga lebih bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Dalam melakukan kegiatan produksi ada berbagai faktor yang harus dikelola yang sering disebut sebagai faktor faktor produksi yaitu : Material Mesin Manusia Modal Dengan demikian manajemen operasi berkaitan dengan pengelolaan faktor faktor produksi sedemikian rupa sehingga keluaran (output) yang dihasilkan sesuai dengan permintaan konsumen baik kualitas, harga maupun waktu penyampaiannya. Sekilas telah disebutkan dari uraian di atas bahwa manajemen produksi operasi bertanggung jawab atas dihasilkannya keluaran (output) baik yang berupa produk maupun jasa yang sesuai dengan permintaan dan kebutuhan konsumen dengan kualitas yang baik dan harga yang terjangkau serta disampaikan tepat pada waktunya. Bertitik tolak dari tanggung jawab ini maka ukuran kinerja suatu sistem operasi dapat diukur dari : Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
22

a. Ongkos Produksi Bila dikaitkan dengan tujuan suatu sistem usaha, maka ukuran kinerja sering diukur dengan keuntungan yang dapat dicapai, namun seperti diuraikan diatas bahwa sistem produksi hanyalah salah satu dari sub sistem yang ada dalam suatu sistem usaha, sehingga untuk mengukur seberapa besar kontribusi sistem operasi di dalam pencapaian keuntungan bukanlah hal yang mudah. Oleh sebab itu untuk mengukur kinerja sistem produksi diambil ukuran waktu operasi tertentu (biasanya dalam waktu satu tahun) Ongkos produksi ini meliputi semua biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk / jasa ketangan konsumen. Dengan ongkos produksi yang murah diharapkan bahwa produk / jasa dapat dipasarkan dengan harga yang dapat dijangkau oleh konsumen.

b. Kualitas Produk / Jasa. Kenyataan menunjukan bahwa konsumen tidak hanya memilih produk/jasa yang harganya murah namun juga produk/jasa yang berkualitas, oleh sebab itu baik buruknya suatu sistem produksi juga diukur dari kualitas produk/jasa yang dihasilkan. Ukuran kualitas produk yang dimaksudkan disini tentunya yang disesuaikan dengan selera konsumen bukan ukuran kualitas secara teknologi semata.

c. Tingkat Pelayanan Bagi konsumen untuk menilai baik buruknya suatu sistem produksi / operasi lebih dinilai dari pelayanan yang dapat diberikan oleh sistem produksi kepada konsumen itu sendiri. Berbicara mengenai tingkat pelayanan (service level) merupakan ukuran yang tidak mudah untuk diukur, sebab banyak dipengaruhi oleh faktor faktor kualitatif, walaupun demikian beberapa ukuran obyektif yang sering digunakan antara lain : Ketersediaan (availability) dan kemudahan untuk mendapatkan produk / jasa. Kecepatan pelayanan baik yang berkaitan dengan waktu pengiriman (delivery time) maupun waktu pemrosesan (processing time) Agar dapat dicapai kinerja sistem operasi diatas maka seorang manajer produksi / operasi dituntut untuk mempunyai sedikitnya dua kompetensi, yaitu Kompetensi Teknikal yaitu kompetensi yang berkaitan dengan pemahaman atas teknologi proses produksi dan pengetahuan atas jenis jenis pekerjaan yang harus Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
23

dikelola. Tanpa memiliki kompetensi teknikal ini maka seorang manajer produksi / operasi tidak akan mengerti apa yang sebenarnya harus diperbuat.
Kompetensi Manajerial yaitu kompetensi yang berkaitan dengan pengetahuan yang

berkaitan dengan pengelolaan sumber sumber daya (faktor faktor produksi) serta kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain. Kompetensi ini sangat diperlukan mengingat penguasaan pengelolaan atas factor - faktor produksi serta menjalin koordinasi dan kerjasama dengan fungsi fungsi lain yang ada didalam suatu unit usaha merupakan keharusan yang tak dapat dihindarkan.

2. Manajemen Operasional Operasional merupakan salah satu fungsi utama yang harus ada dalam suatu organisasi. Mengelola organisasi yang berorientasi bisnis baik di sektor barang maupun jasa harus berorientasi pada efektifitas dan efisiensi, oleh karena itu dalam hal fungsi operasional memerlukan pengelolaan yang tepat. Manajemen operasional dapat diartikan sebagai rangkaian kegiatan atau aktifitas yang menciptakan nilai produk baik berupa barang maupun jasa melalui proses transformasi input menjadi output. Aktifitas tersebut berlaku untuk berbagai macam produsen barang seperti elektronik, otomotif, demikian pula berlaku juga bagi produsen jasa seperti media masa, hiburan, pendidikan, konsultan.

3. Manajemen Proses Manajemen proses adalah rangkaian aktivitas perencanaan dan pengawasan kinerja suatu proses, terutama proses bisnis. Manajemen proses mengaplikasikan pengetahuan, ketrampilan, peralatan, teknik, serta sistem untuk mendefinisikan, memvisualisasikan, mengukur, mengontrol, melaporkan, dan memperbaiki proses dengan tujuan untuk meningkatkan keuntungan atau laba.

4. Manajemen Sumber Daya Manusia Manajemen sumber daya manusia (MSDM) adalah suatu ilmu atau cara bagaimana mengatur hubungan dan peranan sumber daya (tenaga kerja) yang dimiliki oleh individu secara efisien dan efektif serta dapat digunakan secara maksimal sehingga tercapai tujuan (goal) bersama perusahaan, karyawan dan masyarakat menjadi maksimal. MSDM didasari Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
24

pada suatu konsep bahwa setiap karyawan adalah manusia bukan mesin dan bukan semata menjadi sumber daya bisnis. Kajian MSDM menggabungkan beberapa bidang ilmu seperti psikologi, sosiologi, dll.

Manajemen sumber daya manusia juga menyangkut desain dan implementasi sistem perencanaan, penyusunan karyawan, pengembangan karyawan, pengelolaan karier, evaluasi kinerja, kompensasi karyawan dan hubungan ketenagakerjaan yang baik. Manajemen sumber daya manusia melibatkan semua keputusan dan praktek manajemen yang mempengaruhi secara langsung sumber daya manusianya.

Manajemen Sumber Daya Manusia diperlukan untuk meningkatkan efektivitas sumber daya manusia dalam organisasi. Tujuannya adalah memberikan kepada organisasi satuan kerja yang efektif. Untuk mencapai tujuan ini, studi tentang manajemen personalia akan menunjukkan bagaimana seharusnya perusahaan mendapatkan, mengembangkan, menggunakan, mengevaluasi, dan memelihara karyawan dalam jumlah (kuantitas) dan tipe (kualitas) yang tepat.

5. Manajemen Strategis Manajemen strategis adalah seni dan ilmu penyusunan, penerapan, dan

pengevaluasian keputusan-keputusan lintas fungsional yang dapat memungkinkan suatu perusahaan mencapat sasarannya. Manajemen strategis adalah proses penetapan tujuan organisasi, pengembangan kebijakan dan perencanaan untuk mencapai sasaran tersebut, serta mengalokasikan sumber daya untuk menerapkan kebijakan dan merencanakan pencapaian tujuan organisasi. Manajemen strategis mengkombinasikan aktivitas-aktivitas dari berbagai bagian fungsional suatu bisnis untuk mencapai tujuan organisasi. Manajemen strategis merupakan aktivitas manajemen tertinggi yang biasanya disusun oleh dewan direktur dan dilaksanakan oleh CEO serta tim eksekutif organisasi tersebut. Manajemen strategis memberikan arahan menyeluruh untuk perusahaan dan terkait erat dengan bidang perilaku organisasi.

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

25

6. Manajemen Risiko Manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: Penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan sumber daya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan risiko kepada pihak lain, menghindari risiko, mengurangi efek negatif risiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi risiko tertentu. Manajemen risiko tradisional terfokus pada risiko-risiko yang timbul oleh penyebab fisik atau legal (seperti bencana alam atau kebakaran, kematian, serta tuntutan hukum. Manajemen risiko keuangan, di sisi lain, terfokus pada risiko yang dapat dikelola dengan menggunakan instrumen-instrumen keuangan. Sasaran dari pelaksanaan manajemen risiko adalah untuk mengurangi risiko yang berbeda-beda yang berkaitan dengan bidang yang telah dipilih pada tingkat yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini dapat berupa berbagai jenis ancaman yang disebabkan oleh lingkungan, teknologi, manusia, organisasi dan politik. Di sisi lain pelaksanaan risk manajemen melibatkan segala cara yang tersedia bagi manusia, khususnya, bagi entitas manajemen risiko (manusia, staff, dan organisasi).

7. Manajemen Keuangan Manajemen keuangan dapat didefinisikan dari tugas dan tanggung jawab manajer keuangan. Tugas pokok manajemen keuangan antara lain meliputi keputusan tentang investasi, pembiayaan kegiatan usaha dan pembagian deviden suatu perusahaan, dengan demikian tugas manajer keuangan adalah merencanakan untuk memaksimumkan nilai perusahaan. Kegiatan penting lainnya yang harus dilakukan manajer keuangan menyangkut empat aspek yaitu : a. Manajer keuangan harus bekerjasama dengan para manajer lainnya yang bertanggung jawab atas perencanaan umum perusahaan. b. Manajer keuangan harus memusatkan perhatian pada berbagai keputusan investasi dan pembiayaan, serta segala hal yang berkaitan dengannya. c. Manajer keuangan harus bekerjasama dengan para manajer di perusahaan agar perusahaan dapat beroperasi seefisien mungkin. Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
26

d.

Manajer keuangan harus mampu menghubungkan perusahaan dengan pasar keuangan, di mana perusahaan dapat memperoleh dana dan surat berharga perusahaan dapat diperdagangkan.

Aspek penting lain dari tujuan perusahaan dan tujuan manajemen keuangan adalah pertimbangan terhadap tanggung jawab sosial yang dapat dilihat dari empat segi yaitu : a. Jika manajemen keuangan menuju pada maksimalisasi harga saham, maka diperlukan manajemen yang baik dan efisien sesuai dengan permintaan konsumen. b. Perusahaan yang berhasil selalu menempatkan efisiensi dan inovasi sebagai prioritas, sehingga menghasilkan produk baru, penemuan teknologi baru dan perluasan lapangan pekerjaan. c. Faktor-faktor luar seperti pencemaran lingkungan, jaminan keamanan produk dan keselamatan kerja menjadi lebih penting untuk dipertimbangkan. Fluktuasi di semua tingkat kegiatan bisnis dan perubahan-perubahan yang terjadi pada kondisi pasar keuangan merupakan aspek penting dari lingkungan luar. d. Kerjasama antara industri dan pemerintah sangat diperlukan untuk menciptakan peraturan yang mengatur perilaku perusahaan, dan sebaliknya perusahaan mematuhi peraturan tersebut.

Tujuan perusahaan pada dasarnya adalah memaksimumkan nilai perusahaan dengan pertimbangan teknis sebagai berikut : a. Memaksimumkan nilai bermakna lebih luas daripada memaksimumkan laba, karena memaksimumkan nilai berarti mempertimbangkan pengaruh waktu terhadap nilai uang. b. Memaksimumkan nilai berarti mempertimbangkan berbagai resiko terhadap arus pendapatan perusahaan. c. Mutu dari arus dana yang diharapkan diterima di masa yang akan datang mungkin beragam.

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

27

BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN


PT. Toba Pulp Lestari, Tbk adalah industri terintegrasi di bidang produksi pulp untuk bahan baku kertas dan serat viscose rayon untuk bahan baku tekstil dan penggunaan lainnya seperti filter rokok, benang, dan lain-lain. Pabrik ini merupakan salah satu industri strategis penghasil devisa diantara 5.935 unit pabrik sejenis yang terdapat di dunia. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Investasi/Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal No. 07/V/1990, status perusahaan ini telah berubah dari perusahaan Penanaman Modal Dalam Negri (PMDN) menjadi Penanaman Modal Asing (PMA). Saham ini telah di Bursa Saham Jakarta dan Surabaya sejak 1992 dan di New York Stock Exchange (NYSE). Kegiatan produksi pulp secara komersial dimulai 1989, dimana produksi sekitar 70% diekspor ke mancanegara, sisanya untuk kebutuhan pasar domestic. Kapasitas produksi terpasang pabrik adalah 240.000 ton pulp/tahun, realisasi produksi pabrik adalah sebagai berikut. Tabel 3.1 Produksi Pulp Tahun 1989 s/d 1991 No. Tahun Pulp (Ton) 1 2 3 4 Sep 88 Mar 89 Apr 89 Des 89 1990 1991 14.963 117.771 151.099 152.680
3

Produksi Rayon (Ton) 0 0 0 0

Keterangan

Percobaan Komersil Komersil Komersil

3.1 Profil Perusahaan PT. Toba Pulp Lestari, Tbk,Tbk yang berlokasi di desa Sosor Ladang, Kecamatan Porsea Kabupaten Toba Samosir yang berjarak kira-kira 220 Km dari sebelah Selatan kota Medan. Merupakan salah satu Industri Pulp milik swasta yang turut mendukung program
3

(Sumber:Training and Develompent Center. 2004,Overview PT.Toba Pulp Lestari,

PT.Toba Pulp Lestari, Tbk: Porsea.) Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
28

Pemerintah dalam meningkatkan ekspor non migas. Berdirinya PT. Toba Pulp Lestari, Tbk yang dulunya bernama PT. Inti Indorayon Utama, Tbk adalah demi pemenuhan kebutuhan akan kertas dan rayon dalam negeri yang sebelumnya masih di impor dari berbagai negara. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh FAO pada bulan Juli tahun 1954, ditemukan dan direkomendasikan beberapa tempat strategis yang layak untuk tempat mendirikan pabrik pulp di Indonesia, salah satunya adalah desa Sosor Ladang, Porsea, yang hingga kini merupakan tempat berdirinya PT. Toba Pulp Lestari, Tbk. Dengan adanya rekomendasi dari FAO tersebut untuk lokasi pabrik pulp di Indonesia yang salah satunya ada di desa Sosor Ladang, Porsea dan dengan adanya peningkatan terhadap kebutuhan kertas dan rayon, serta adanya keinginan pemeintah dalam meningkatkan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan pengefektifan hasil reboisasi di luar pulau Jawa (misalnya Hutan Pinus Sumatera Utara), akhirnya menghasilkan rencana pendirian pabrik pulp di desa Sosor Ladang, Porsea yang bernama PT. Inti Indorayon Utama, Tbk (PT IIU) yang merupakan salah satu anak perusahaan Raja Garuda Emas (RGE). Berdirinya PT. Inti Indorayon Utama, Tbk ini diawali dengan menyusun dan membuat kelayakan pabrik pulp yang dilakukan oleh Sanwel (Kanada) dan Joko Perry (Finlandia). Kemudian pada tanggal 21 Februari 1986 dilakukan peletakan batu pertama oleh Menteri Perindustrian dan Menteri Tenaga Kerja, sedangkan Konstruksi dan Pembangunan dimulai pada bulan mei 1986. Uji coba pabrik dilakukan sampai pada bulan September 1988 dan akhirnya pada tanggal 12 September 1988, pabrik mulai beroperasi. Perusahaan ini berdiri berdasarkan akte notaris Mirsahadi/Wilartama, SH No. 329 pada tanggal 26 April 1983 di Jakarta serta berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehakiman No. C-25130-HT 01 tahun 1993. Populasi dan Perencanaan yang dihasilkan memenuhi Surat Keputusan Bersama Menteri Riset dan Teknologi bersama Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup (KLH) No. 43/MNKLH/II/1986 sedangkan izin usaha dari Badan Koordinasi Penanaman Modal No. 269/i/PMDN/1983 pada tanggal 22 Desember 1983 dan No. 573/III/PMDN/1987. keseluruhan fasilitas yang dimiliki oleh PT. Inti Indorayon Utama ini adalah Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dengan investasi sebesar 600 Milyar Rupiah yang diperoleh dengan penjualan saham serta pinjaman dari bank dalam negeri. Kemudian pada Bulan Mei 1990 perusahaan ini melakukan Go Publik dan fasilitas yang dimiliki berubah menjadi Penanaman Modal Asing (PMA) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Investas/Ketua Badan Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
29

Koordinasi Penanaman Modal No. 07/V/1990. Saham Perusahaan ini telah dijual di Bursa Saham Jakarta dan Surabaya sejak 1992 dan di New York Stock Exchange (NYSE). 4 Kegiatan produksi PT. Into Indorayon Utama, Tbk berhenti beroperasi pada tahun 1998 dan tidak beroperasi selama kurang lebih 4 tahun. Suhu politik dalam negeri yang meningkat akibat adanya transisi kepemimpinan turut mempengaruhi situasi di dalam maupun di sekitar perusahaan. Masalah limbah yang penanganannya belum layak dan memadai dimanfaatkan sebagai pihak (kompetitor maupun orang-orang yang berkepentingan) untuk menjadi isu yang disebarkan dalam masyarakat sekitar. Kemudian pada tanggal 6 Februari 2003 perusahaan ini beroperasi kembali dan berganti nama mejadi PT. Toba Pulp Lestari, Tbk, dengan paradigma baru: 1. Menggunakan teknologi yang ramah lingkungan 2. Pengelolaan sumber daya hutan yang berkelanjutan dan melakukan manajemen hutan yang akan menjaga ekosistem alam melalui hutan tanaman industri. 3. Mempunyai tanggun jawab kepada masyarakat: a. Mengutamakan putra daerah. b. Melakukan kerja sama dan kemitraan bisnis dengan masyarakat lokal. c. Menyisihkan dana kontribusi sosial untuk pengembangan masyarakat sebesar 1% dari net sales (hasil penjualan bersih) per tahun. 4. Menerima lembaga independen untuk mengawasi paradigma baru perseroan. PT. Toba Pulp Lestari, Tbk memiliki lokasi penting dalam menjalankan operasinya, yaitu : 1. Areal usaha PT. Toba Pulp Lestari, Tbk terdiri dari dua bagian yaitu Mild Section dan Forest Section. Pabrik pembuatan pulp (Mild Section) termasuk Chemical Plant sebagai pusat produksi berlokasi di desa Sosorladang, Kecamatan Permaksian, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara. PT. Toba Pulp Lestari, Tbk dibangun di atas tanah seluas 200 ha, termasuk perumahan karyawan dan Tree Inprovement 10 ha. Sedangkan areal hutan (forest section) saat ini meliputi 8 kabupaten yaitu, kabupaten

(Sumber:Training and Develompent Center. 2004,Overview PT.Toba Pulp Lestari,

PT.Toba Pulp Lestari, Tbk: Porsea.) Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
30

Simalungun, Dairi, Karo, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Samosir , dan Tobasa. 2. Kantor pemasaran berlokasi di gedung BNI Lt. 20 yang berada di Jln. Jend. Sudirman, Kav. 1. Jakarta Selatan. 3. Kantor perwakilan berlokasi di Jln. M.T. Haryono (Uni Plaza), Medan.

PT. Toba Pulp Lestari, Tbk adalah sebuah pabrik pulp dengan proses kraft yang terletak di Pulau Sumatera, Indonesia. Bahan baku serat utamanya adalah Eucalyptus yang merupakan hasil Hutan Tanaman Industri yang membutuhkan waktu tumbuh sekitar 4-5 tahun. 5

3.2 Layout Perusahaan 3.3 Uraian Umum Proses Secara garis besar ruang lingkup PT. Toba Pulp Lestari, Tbk dibagi menjadi tiga proses yang meliputi : 1. Produksi pulp. 2. Produksi bahan kimia yang digunakan pada proses produksi pulp di PT. Toba Pulp Lestari, Tbk. 3. Produksi energi listrik yang akan digunakan pada setiap proses di pabrik (mill site) PT. Toba Pulp Lestari, Tbk.

3.4 Produksi Pulp Standar produksi merupakan bagian yang sangat penting bagi suatu perusahaan atau industri. Berangkat dari keinginan untuk bisa membuat sesuatu rancangan produk tertentu, proses produksi membawa perusahaan untuk menemukan teknik-teknik pengerjaan maupun pengolahan material yang efektif untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan. Selanjutnya dari keinginan untuk mencari cara atau teknik untuk

(Sumber:Training and Develompent Center. 2004,Overview PT.Toba Pulp Lestari,

PT.Toba Pulp Lestari, Tbk: Porsea.) Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
31

membuat produk yang efektif, kemudian sampai pada permasalahan tentang langkah-langkah merencanakan dan mengendalikan semua langkah produksi tersebut yang lebih efisien. 6

3.4.1 Bahan Yang Digunakan Dalam proses produksinya PT. Toba Pulp Lestari, Tbk menggunakan bahan baku, bahan tambahan, dan bahan penolong untuk menghasilkan pulp sebagai hasil prokduksinya.

1. Bahan Baku. Pada dasarnya semua bahan baku (kayu) mengandung selulosa dapat digunakan menjadi bahan baku atau bahan dasar dalam pembuatan pulp, semakin tinggi kadar selulosanya, maka semakin baik pula mutu dari pulp yang dihasilkan. Selulosa merupakan senyawa terbesar dalam tanaman keras (pohon) yang memiliki kandungan lebih dari 50% jumlah selulosa yang terkandung bervariasi antar jenis tanaman dan selulosa merupakan bahan baku yan digunakan sebagai bahan baku kertas, karton dan serat tekstil. Eucalyptus dan Acasia Mangium merupakan jenis pohon yang mengandung selulosa dan saat ini dimanfaatkan oleh PT. Toba Pulp Lestari, Tbk untuk menghasilkan pulp. Berikut ini adalah ciri-ciri dari kayu Eucalyptus: a) Merupakan kayu berserat pendek dan tergolong kayu keras. b) Tidak mudah terbakar. c) Memiliki pertumbuhan yang cepat dan dapat ditebang tiga kali untuk sekali penanaman d) Cocok untuk penghijauan. Sedangkan ciri-ciri untuk Acasia adalah sebagai berikut : a) Merupakan kayu berserat pendek. b) Warna penampang batang lebih merah bila dibandingkan dengan Eucalyptus dan memiliki diameter yang lebih lebar. c) Lebih rapuh dalam proses pengolahan tetapi memberikan warna chip yang lebih putih.

(Sumber :Training and Development Center. 2002. Buku Manual Washing and Screening

Plant, PT. Toba Pulp Lestari, Tbk: Porsea.) Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
32

Kayu Eucalyptus dan Acasia yang saat ini digunakan sebagai bahan baku diperoleh dari HTI (Hutan Tanaman Industri) yang dikelola sendiri oleh PT. Toba Pulp Lestari, Tbk. HTI ditanami dengan bibit kayu yang unggul, baik dari segi benih yang terseleksi dengan baik dari kebun sendiri, maupun perbanyakan benih dengan teknik Clone seperti yang telah dimulai pada berbagai sektor. Umur tanaman masak tebang adalah tujuh tahun. Kebutuhan bahan baku serpih chip setiap tahun adalah 1.100.000 ton chip/tahun.

2. Bahan Tambahan. Bahan tambahan merupakan semua bahan yang digunakan untuk ditambahkan pada proses produksi untuk membantu dalam menghasilkan suatu produk dimana pada produk akhir nanti bahan tambahan ini tidak kelihatan (tidak jelas), dalam menghasilkan Pulp PT. Toba Pulp Lestari, Tbk pada prosesnya menggunakan beberapa bahan tambahan antara lain : Cairan Pemasak Cairan pemasak adalah cairan yang diperlukan dalam membantu proses pemasakan serpihan kayu menjadi bubur pulp pada bagian digester dan dapat melarutkan senyawasenyawa lain selain selulosa. Cairan pemasak yang digunakan terdiri dari : a. Lindi Putih (White Liquor) Lindi putih merupakan bahan kimia utama pada proses pemasakan dengan komposisi bahan kimia Kaustik Soda (NaOH), Natrium Karbonat (Na2CO3) dan Natrium Sulfida (Na2S). Dengan adanya Na2S ini sangatlah penting karena dapat mengurangi kerusakan selulosa, mempercepat hilangnya lignin serta memperbaiki kualitas dari pulp. Lindi putih yang dialirkan ke digester berasal dari White Liquor Tank dengan kapasitas yang ditargetkan masuk ke dalam alat pemasak digester sebesar 64.1m3. Cairan ini diperoleh dari bagian Recaustizing yang menghasilkan lindi putih dengan cara mereaksikan lindi hijau (Green Liqour) dengan kapur (lime) yang berasal dari Lime Kiln.

b. Lindi Hitam (Black Liquor) Lindi hitam merupakan cairan pemasak yang mendukung fungsi dari lindi putih yang memiliki target kapasitas masuk sebesar 70,3m3. Lindi hitam ini digunakan sebagai make-up dari lindi putih karena lindi hitam merupakan cairan hasil dari pencucian bubur pulp pada bagian washing, dimana cairan bekas pencucian ini mengandung lignin (senyawa organik) Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
33

dan soda (senyawa anorganik) yang merupakan sisa dari lindi putih yang digunakan untuk memasak. Bahan Kimia Pemutih Bahan kimia ini diperlukan untuk membantu memutihkan pulp yang dilakukan pada bagian Bleaching. Bahan-bahan yang digunakan adalah klorin Dioksida (ClO2), NaOH, H2O2, SO2 dan oksigen (O2). Bahan-bahan kimia ini diperoleh dari bagian penghasil bahan kimia atau Chemical Plact. Pemutihan pulp ini menggunakan Klorin Dioksida sebagai bahan pemutih utamanya. Klorin Dioksida merupakan cairan yang mudah menguap menjadi gas sangat beracun dan menimbulkan korosi. Penggunaan bahan kimia ini dirasakan lebih selektif terhadap lignin dan senyawa ekstraktif. Mutu pulp yang dihasilkan lebih baik, dengan derajat keputihan yang lebih tinggi. Air Air memiliki peranan penting dalam proses. Hampir semua unit dalam produksi menggunakan air dalam prosesnya, baik untuk proses pencucian, pengenceran, penyaringan dan proses lainnya.

3. Uap Panas (Steam). Uap panas diperlukan dalam proses pemasakan chip menjadi bubur pulp sebagai sumber panas. Steam dapat digunakan dengan dua cara : a. Mengalirkan steam pada liquor heater untuk memanaskan campuran lindi putih dan lindi hitam (cairan pemasak) sebelum masuk ke digester. Dari proses ini yang mengalami pemanasan adalah hanya cairan pemasak. a. Mengalirkan steam tekanan rendah ke dalam digester yang disusul dengan steam tekanan medium dimana lindi yang masuk melalui proses sirklasi tidak mengalami pemanasan. Pemanasan terjadi secara tidak langsung pada digester. Pemanasan ini dilakukan apabila pemanasan tidak langsung dapat bekerja karena faktor-faktor tertentu, seperti kerusakan Liquor Heater. 7

(Sumber :Training and Development Center. 2002. Buku Manual Washing and Screening

Plant, PT. Toba Pulp Lestari, Tbk: Porsea.) Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
34

4. Bahan Pendukung. Bahan Pendukung adalah bahan-bahan yang diperlukan guna menyelesaikan suatu produk dimana keberadaan bahan pendukung ini tidak mengurangi nilai produk dimana keberadaan Bahan Pendukung ini tidak mengurangi nilai dari produk yang dihasilkan tersebut. Bahan-bahan pendukung ini digunakan pada produk akhir pulp yaitu : a. Kawat Baja Kawat baja ini terdapat pada Typing Machine, yang digunakan untuk mengikat pulp, typing machine ini dari Belgia dan Kanada, dan kekuatan kawat baja ini dalam mengikat tumpukan pulp ini sangatlah baik, untuk mengikat setiap unit pulp terdiri dari 8 bale pulp per unitnya hanya memerlukan enam utas kawat baja. Berat untuk setiap gulungan kawat adalah 900-950 Kg dan penggantian kawat baja pada typing machine dilakukan dua hari sekali, dengan lead time pemesanan 3 bulan.

b. Kertas Label Digunakan untuk memberikan keterangan produksi yang ditempelkan pada pulp yang telah dibungkus. Label diisi dengan tanda atau kode tertentu yang menunjukkan jenis kayu bahan baku, tanggal produksi, jam kerja, nomor lot, unit dan nomor bale. 8

3.4.2 Uraian Proses PT. Toba Pulp Lestari, Tbk merupakan industri yang beroperasi menghasilkan pulp yang akan digunakan sebagai bahan baku kertas. Kayu merupakan bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan pulp dan sekarang ini PT. Toba Pulp Lestari, Tbk menggunakan bahan kayu jenis Eucalyptus dan Acasia. Dalam proses menghasilkan pulp yang dilakukan oleh bagian pabrik (mill site) ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh bahan baku (kayu) sebelum menjadi pulp, yaitu :

(Sumber :Training and Development Center. 2002. Buku Manual Washing and Screening

Plant, PT. Toba Pulp Lestari, Tbk: Porsea.) Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
35

1. Wood Preparation Unit 2. Fiber Line Unit yang terdiri dari 4 bagian :

a. Digester b. Washing dan Screening c. Bleaching d. Pulp Machine 3. Pulp Ware House

1. Wood Preparation Unit Unit ini adalah langkah awal dalam proses pembuatan pulp, dimana meliputi proses penyediaan kayu yang berasal dari berbagai HTI, dan kemudian dibawa ke lokasi pabrik dengan menggunakan truk-truk pengangkut kayu. Gelondongan kayu tersebut kemudian ditumpukkan di Wood Storage. Dari Wood Storage, gelondongan kayu diumpankan ke Wood Room. Gelondongan kayu yang siap diolah disebut dengan Log. Kemudian log di kupas kulitnya dan dibersihkan kotoran-kotorannya berupa pasir ataupun batu-batu dengan alat yang berbentuk drum yang disebut Debarking Drum. Setelah itu log dicuci. Log yang sudah bersih ini kemudian diiris menjadi potongan-potongan kecil yang disebut dengan Chip. Chip kemudian di kirim ke penyaringan utama untuk memisahkan chip yang bisa dipakai dengan yang tidak. Kemudian chip yang standar disimpan di tempat penampungan chip yang disebut dengan Chip Pile atau Chip Storage.

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

36

Gambar 3.1 Wood Preparation Unit / Wood Handling 9

2. Fiber Line Unit Unit ini merupakan inti dari proses pembuatan pulp, yang terdiri dari lima bagian yaitu : a. Digester Plant Digester plant merupakan bagian pertama dari bagian / Unit Fiber Line. Digester adalah alat yang berfungsi untuk memasak (Chip) kayu yang berasal dari Chip Pile yang akan dijadikan menjadi bubur pulp. Proses pemasakan Chip ini menggunakan panas dan bahan kimia, dengan memanfaatkan Lindi Putih (White Liquor) dan Lindi Hitam (Black Liquor) sebagai cairan pemasaknya. b. Washing and Screening Pada bagian washing dilakukan pencucian bubur pulp agar terpisah dari kotorankotoran yang dapat larut dalam air yang merupakan senyawa organik (Lignin) dan senyawa organik (soda). Dengan penambahan air, bahan-bahan yang larut dalam air akan terbawa dan akan didapatkan pulp yang bersih. Pencucian ini dapat dilakukan untuk memaksimalkan pembersihan. Adapun pengaliran air untuk pembersihan pulp harus diatur agar dalam kecepatan alir yang rendah agar terjadi distribusi air yang baik dan tanpa merusak lembaran pulp dan mengurangi pembentukan buih. Sedangkan pada screening dilakukan penyaringan bubur pulp untuk memisahkan bubur pulp dari kotoran-kotoran yang tidak larut dalam air, yang tidak dapat dilakukan oleh bagian washing. Pemisahan kotoran-kotoran ini dilakukan atas dasar perbedaan ukuran dan berat. c. Bleaching Merupakan lanjutan proses pemasakan yang dimaksudkan untuk memperbaiki Brigtness (keputihan) dan kemurnian bubur pulp. Hal ini dilakukan dengan menghilangkan dan melunturkan bahan pewarna yang tersisa pada bubur pulp. Proses utama dalam bleaching adalah penghilangan Lignin, karena lignin yang tersisa adalah zat yang paling dominan yang mewarnai pulp. Oleh karena itu, harus ada hubungan antara kadar lignin dalam bubur
9

(Sumber:Training and Development Center. 2000. Module Chemical Plant Lanjutan, PT.

Toba Pulp Lestari, Tbk: Porsea.) Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
37

sebelum pemutihan dengan jumlah bahan pemutih yang perlukan. Namun demikian penentuan kadar lignin secara langsung dirasa tidak efisien karena memakan waktu. Untuk itu dicarilah cara lain yang lebih efisien untuk menyatakan kadar lignin dalam bilangan Kappa. Bilangan Kappa adalah jumlah larutan KMnO4 yang dikonsumsi oleh satu gram pulp kering tanur. Dimana persen kadar lignin dapat dirumuskan 0,417 kali bilangan Kappa. d. Pulp Machine Pulp machine adalah bagian terpenting dari pabrik pulp ini. Bagian ini berfungsi untuk mengolah bubur pulp menjadi lembaran-lembaran pulp dimana terjadi pengambilan air sebanyak mungkin tanpa merusak lembaran pulp, kemudian memotong-motong lembaran pulp tersebut berdasarkan ukuran yang telah ditetapkan dan selanjutnya siap untuk dikemas (Packing).

3. Pulp Ware House Pada bagian ini pulp yang telah siap didistribusikan disimpan setelah melalui proses pengemasan. Dengan pendistribusian yang terorganisir dan berjadwal, dari sini pulp siap jual disalurkan. PT. Toba Pulp Lestari, Tbk selalu beroperasi untuk menghasilkan pulp juga memproduksi bahan-bahan kimia sendiri yang diproduksi pada bagian ini untuk dipakai mendukung proses pembuatan pulp. Bahan-bahan kimia yang diperlukan untuk proses pemasakan (Digester), pemutihan (Bleaching), dan proses lainnya. Bahan baku yang digunakan dalam menghasilkan bahan kimia antara lain adalah sulfur, garam biasa (NaCl), air, arus listrik, dan udara. Sedangkan bahan-bahan kimia yang dihasilkan pada bagian Chemical Plant antara lain adalah Kaustik Soda, Klorin, Sodium Hipoklorit, Hidrocloryd Acid, Klorin Dioksida, Sulfur Dioksida, Oksigen dan Nitrogen.

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

38

Gambar 3.2 Gambaran Umum Proses 10 3.5 Sistem Manajemen PT. Toba Pulp Lestari, Tbk K3 atau Kesehatan dan Keselamatan Kerja mulai diterapkan di Indonesia pada tahun 1970-an dengan dikeluarkannya peraturan pemerintah yang melindungi hak setiap pekerja dalam hal kesehatan dan keselamatan kerja. Setelah K3 ini diberlakukan maka keluarlah kebijakan SMK3 (sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja) yang wajib dibuat dan dilaksanakan oleh setiap perusahaan. Kebijakan untuk membuat dan mengelola sendiri SMK3 diserahkan kepada masing-masing perusahaan untuk mengelolanya sendiri. Seperti layaknya kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, maka perusahaan PT.Toba Pulp Lestari, Tbk juga menerapkan sistem manajemen untuk melindungi setiap karyawannya, yaitu kebijakan K3 dan SMK3. Ada banyak kemungkinan kecelakaan yang bisa saja terjadi pada lokasi perusahaan yang harus dicegah dengan menerapkan beberapa peraturan yang harus diikuti oleh semua pihak mulai dari staf, karyawan pabrik, sampai kepada tamu perusahaan wajib mengikutinya. Ini terbukti untuk kedua kalinya PT. Toba Pulp Lestari, Tbk meraih sertifikat dan bendera emas untuk penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3). Sertifikat dan bendera emas diterima pada tahun 2006. Sertifikat SMK3 yang masa berlakunya tiga tahun itu merupakan wujud pengakuan dan penghargaan pemerintah kepada perusahaan-perusahaan yang secara sungguh-sungguh dan konsisten menerapkan SMK3 dan manajemen bangga bisa meraihnya kembali. 11

a. Kewajiban menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) Untuk menjaga berbagai kemungkinan kecelakaan maka setiap orang yang berada dalam lokasi perusahaan wajib menggunakan alat pelindung diri seperti : 1. Safety helmet (Helm)

10

(Sumber:Training and Development Center. 2000. Module Chemical Plant Lanjutan, PT.

Toba Pulp Lestari, Tbk: Porsea.)


11

(Sumber:Training and Develompent Center. 2004,Overview PT.Toba Pulp Lestari,

PT.Toba Pulp Lestari, Tbk: Porsea.) Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
39

2. Safety shoes (Sepatu) 3. Ear plug (Pelindung telinga) 4. Eye Glases (Kaca mata) 5. Masker Alat-alat pelindung diri seperti yang terdapat diatas, adalah alat pelindung diri yang umum harus dipakai. Adakalanya pada tempat dan situasi khusus para pekerja harus menggunakan alat pelindung diri tambahan atau khusus seperti pada saat bekerja pada bagian Chemistry plant para pekerja harus menggunakan pakaian khusus, pelindung kepala dan wajah khusus, sarung tangan, dll. 12

b. Manajemen peraturan dan lokasi kerja. Untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, efisien dan produktif maka perlu dibuat beberapa peraturan yang diberlakukan pada lokasi kerja. Dalam perusahaan PT.Toba Pulp Lestari, Tbk, terutama pada bagian Mill Site diberlakukan beberapa peraturan yang dapat dilihat pada penempatan beberapa tanda himbauan dan larangan yang harus diikuti seperti : Arus tegangan tinggi, jalur untuk alat-alat berat, daerah yang dilarang untuk dimasuki, daerah wajib menggunakan masker, awas benda jatuh dari atas, awas api, jalur pejalan kaki, titik kumpul evakuasi, serta simbol dan tanda lainnya.

c. Pembentukan Departemen LP & C Untuk melaksanakan tugas mengatur, mengawasi serta kebijakan lain yang berkenaan dengan K3 dibentuklah sebuah departemen LP & C. Yang memiliki tugas dan tanggung jawab : 1. Memberikan masukan kepada manajemen PT.Toba Pulp Lestari, Tbk. 2. Mengkoordinasikan kegiatan keselamatan. 3. Menyimpan dan menganalisa laporan keselamatan. 4. Mengkoordinasikan kegiatan pendidikan keselamatan untuk semua karyawan dan kontraktor.

12

(Sumber:Training and Develompent Center. 2004,Overview PT.Toba Pulp Lestari,

PT.Toba Pulp Lestari, Tbk: Porsea.) Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
40

5. Mengulang, mengevaluasi dan menilai investigasi kecelakaan. 6. Melaporkan pada manajemen PT. Toba Pulp Lestari, Tbk dengan menunjukkan perkembangan, kemajuan keselamatan karyawan, serta semua bentuk kecelakaan yang terjadi.

d. Penanganan dalam Keadaan Darurat Ada berbagai macam bentuk kecelakaan dan keadaan darurat yang terjadi. Masing-masing memerlukan penanganan yang sesuai, cepat, tepat dan berbeda-beda. 1. Kebakaran dan bahaya asap 2. Kebocoran dan tumpahan bahan kimia 3. Ancaman bom 4. Bahaya ledakan 5. Demonstrasi atau kerusuhan 6. Penanganan pengungsian dan titik evakuasi 3.6 Struktur Organisasi PT. Toba Pulp Lestari, Tbk Organisasi merupakan sekumpulan manusia yang memiliki peran, jabatan, atau fungsi masing-masing dan bersepakat melaksanakan aktifitas untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan. Dengan kata lain organisasi pada dasarnya adalah alat untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan sebaik-baiknya, maka struktur corak maupun ukuran suatu organisasi harus bersesuaian dengan tujuan yang telah direncanakan sedemikian rupa sehingga terciptanya suatu organisasi yang dapat digerakkan sesuai suatu kesatuan. Struktur organisasi PT. Toba Pulp Lestari, Tbk menggunakan hubungan garis dalam pengorganisasiannya. Berdasarkan gambar struktur organisasi PT. Toba Pulp Lestari, Tbk B.U. Head (Managing Directory) memiliki hubungan garis dengan Departemen Mill Operation, Commercial, Technology Envropment, Financial, HRD, Sales dan juga Forestry. Masing-masing departemen ini memiliki tanggung jawab terhadap Managing Directory. Demikian juga antara departemen-departemen tersebut memiliki hubungan garis dengan departemen yang dibawahinya. Pembagian tugas dan wewenang pada perusahaan ini dilakukan berdasarkan fungsi-fungsi tertentu dan oleh karena itu disebut bersifat fungsional. Terdapat sejumlah departemen yang dibawahi departemen Mill Operation, Technology Envropment, Financial, HRD,dan juga Forestry, dimana masing-masing departemen memiliki tugas dan tanggung jawabnya sendiri yang berbeda dengan antara satu departemen dengan Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
41

departemen yang lain. Hal ini dapat dilihat pada gambar struktur organisasi, dimana terdapat berbagai departemen yang dibagi menurut fungsinya masing-masing. 13 Struktur organisasi PT. Toba Pulp Lestari, Tbk terbagi menjadi dua struktur organisasi yaitu, Fiber Management Organization structure dan Mill Management Organization structure (data terlampir). Dimana Fiber Management Organization structure mengatur proses pengadaan bahan baku yaitu kayu serta menjaga kesinambungan hutan agar proses produksi tidak berhenti. Sedangkan Mill Management Organization structure mengatur

proses produksi yang ada di PT. Toba Pulp Lestari, Tbk. Kedua struktur organisasi ini dipimpin oleh seorang managing director. 3.6.1 Tugas, Wewenang dan Tanggung Jawab Adapun tugas, wewenang dan tanggung jawab dari masing-masing departemen adalah : 1. B.U. Head (Managing Director) a. Mengelola perusahaan secara keseluruhan. b. Mengkoordinir serta mengontrol keahlian teknis, usulan proyek, penjualan dan pembelanjaan. c. Memberikan wewenang dan persetujuan atas surat-surat ekstern dan intern, pesanan pembelian, penjualan, pengeluaran keuangan serta bertanggung jawab kepada Dewan Komiaris.

2. Deputy General Manager a. Bertugas membantu Managing Director dalam mengkoordinir dan mengontrol kegiatan pabrik sehari-hari seperti bagian-bagian teknisi dan juga menerima usulanusulan proyek b. Bertanggung jawab pada Managing Director.

3. R & D Manager

13

(Sumber:Training and Develompent Center. 2004,Overview PT.Toba Pulp Lestari,

PT.Toba Pulp Lestari, Tbk: Porsea.) Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
42

a. Bertugas dalam menjaga kesinambungan hutan agar proses produksi pulp di pabrik dapat berjalan dengan lancar. b. Bertugas mengawasi bagian Silviculture Research Sr. Officer, Tree improvement Manager, dan R & D Manager dalam proses pemeliharaan hutan, mulai dari pembibitan hingga penanaman kembali. c. Bertanggung jawab pada Managing Director.

4. Fiber Operation Coordinator a. Bertugas menyediakan bahan baku yang dikirim ke area pabrik dari seluruh sektor. b. Bertugas terhadap administrasi yang berkaitan dengan proses produksi. c. Bertanggung jawab dalam mengawasi dan mengatur kegiatan penanaman, sampai kepada penebangan kayu. d. Bertangguing jawab membuat laporan kepada Fiber Resources Dy. GM. Departemen ini membawahi lima departemen. Berikut ini adalah uraian dari kelima departemen dan tugas serta tanggung jawabnya masing-masing. a. Planning Manager Departemen ini bertugas membuat rencana kerja dan perbaikan material kayu sebagai bahan baku. Dalam departemen inilah dipersiapkan diatur dan direncanakan kegiatan-kegiatan dalam Forestry Departemen, membahas setiap persoalan Departemen dan merencanakan penanganannya. b. Plantation Manager Bertugas melakukan penanaman hutan kembali untuk hutan tanaman industri yang hasilnya telah dimanfaatkan sebelumnya oleh perusahaan. c. Wood Supply Manager Bertugas mempersiapkan penyediaan jumlah bahan baku kayu yang akan diproses untuk pembuatan pulp. d. Log Transport manager Bertugas mengatur proses pengiriman kayu ke pabrik yang dikirim dari beberapa tempat yang telah menyediakan kayu yang akan di olah. e. Woodyard coordinator Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
43

Bertugas melakukan koordinasi pada seluruh sektor tanaman industri, dan bertugas mengetahui berapa area tanaman yang kosong dan juga berapa area yang telah ditebang.

5. Dy. Financial Controler a. Mengorganisir dan memimpin serta mengurus semua aspek kegiatan operasi di pabrik dan administrasi perusahaan. b. Bertanggung jawab kepada Dy. GM terhadap kebijakan produksi.

6. Fiber Accounting Manager a. Menyusun budget operasional Fiber Division. b. Bertanggung jawab kepada Financial Controler.

7. Mill Operation Dy. GM Bertugas terhadap kebijaksanaan produksi dan kelancaran produksi dimulai dari persiapan kayu hingga menjadi lembaran pulp yang siap dipasarkan dan bertanggung jawab terhadap General Managing Forestry. Departemen ini juga membawahi beberapa Departemen seperti : a. Energy Dept. Head Bagian ini khusus bertanggung jawab dalam mengurusi pengadaan dan masalahmasalah energy. b. Fiberline Dept. Head Bertanggung jawab dalam mengurusi dan mengatur kegiatan produksi pulp dari pemasakan chip sampai pada pengemasannya. c. Power Plant Maint. Dy. Dept. Head Bertanggung jawab terhadap semua kegiatan pemeriksaan dan perbaikan peralatan produksi dan melaporkan perbaikan mesin dan peralatan serta bertanggung jawab pada General Manager Mill. d. Chem/Rec/LK/Eff. Dept. Head

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

44

Bertanggung jawab dalam penyediaan, pengolahan dan pemakaian bahan-bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi. e. Fiberline Mech. Maint. Senior Engineer f. Automation Senior Engineer Bagian yang menangani dan mengawasi pengaturan di bidang penggunaan mesinmesin yang terdapat pada perusahaan.

g. Chem/Rec/LK/Eff/Coal, gas & Workshop Senior Engineer Bertanggung jawab pada proses pembuatan bahan-bahan kimia yang dipakai pada proses produksi. h. Electrical Senior Engineer Bertanggung jawab dalam penyediaan dan pengeluaran arus listrik yang diperlukan oleh pabrik dan arus yang diperlukan oleh karyawan. i. Combined Service Section Head

8. Commercial Dept. Head a. Bertanggung jawab atas pengadaan barang dan jasa komersil. b. Bertanggung jawab kepada Managing Director.

9. Tech/Env. & Q EMS Dept. Head a. Mengkoordinir bagian quality control dan riset pengembangan produk serta membuat laporan-laporan hasil pengendalian proses produksi. b. Memeriksa dan menganalisa bahan baku yang digunakan dan tahapan proses produksi juga bertanggung jawab kepada Managing Director terhadap operasi dan pengendalian kualitas produk.

10. Financial Controller a. Mengorganisir dan memimpin serta mengurus semua aspek kegiatan operasi di pabrik dan administrasi perusahaan. b. Bertugas terhadap pengaturan, pencatatan dan pelaporan keuangan perusahaan. c. Melaporkan segala jenis pengeluaran biaya-biaya perusahaan dalam prosesnya. Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
45

d. Bertanggung jawab kepada Managing Director terhadap kebijakan produksi.

11. Sales Coordinator a. Mengkoordinir bagian teknis penjualan dan mempersiapkan produk yang akan dijual sesuai dengan pesanan. b. Bertanggung jawab kepada Managing Director.

12. HRD (Human Resourse Departement) Departement Head a. Bertugas dalam mengatur masalah personal administration yang meliputi bagian penerimaan pegawai, pemindahan pegawai, pemutusan hubungan kerja (PHK) dan hal lainnya yang berhubungan dengan ketenagakerjaan, training serta penyediaan fasilitas bagi kesejahteraan dan keselamatan karyawan. b. Bertanggung jawab kepada Managing Director sebagai kegiatan administrasi personil.

13. 4L Departement Head a. Mengkoordinir kegiatan-kegiatandalam hubungan dekat dengan masyarakat. b. Bertanggungjawab kepada Manging Director.

3.6.2 Jumlah Tenaga Kerja dan Jam Kerja 1. Jumlah Tenaga Kerja PT. Toba Pulp Lestari, Tbk didukung oleh tenaga kerja dalam menjalankan seluruh kegiatan operasionalnya dimana tenaga kerja yang diperlukan oleh perusahaan terdiri dari tenaga kerja tetap dan tidak tetap. Keseluruhan karyawan ini dibagi dalam section masingmasing dalam pabrik (mill) dan Hutan (forestry). Jumlah tenaga kerja tetap di pabrik sebanyak 577 orang dan di bagian Forestry sebanyak 453 orang. Untuk karyawan tidak tetap berjumlah 346 orang di bagian pabrik dan 532 orang di bagian hutan. Tenaga kerja yang tidak tetap di PT. Toba Pulp Lestari, Tbk berasal dari karyawan kontraktor yang memiliki jangka

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

46

waktu kerja. Adapun PT. Ayam mas Ika Putra, CV.Mazda dan CV. Marga Persada adalah beberapa nama kontraktor yang menjadi mitra kerja PT. Toba Pulp Lestari, Tbk. 14

2.Jam Kerja PT. Toba Pulp Lestari, Tbk menerapkan dua buah jam kerja yaitu: a. Day Time Jam kerja ini berlaku baik untuk tenaga kerja tetap maupun tenaga kerja yang tak tetap dan bekerja di kantor (karyawan general). Dimana jam kerja ini di mulai pukul 08.00 Wib sampai pukul 17.00 Wib pada Hari Senin hingga Hari Jumat dengan jam istirahat dimulai pada pukul 12.00 Wib dan berakhir pada pukul 13.30Wib. Khusus untuk Hari Sabtu setiap karyawan mendapatkan libur secara bergantian setiap dua minggu sekali yang disebut dengan Sabtu Off . Sedangkan jam kerja untuk hari Sabtu hanya setengah hari. Dimulai pada pukul 08.00WIB, berakhir pada pukul 12.00 WIB tanpa jam istirahat.

b. Shift Time PT. Toba Pulp Lestari, Tbk menjalankan kegiatan produksinya selama 24 jam setiap hari (non stop) dimana jam kerja ini dibagi dalam tiga shift kerja. Ketiga shift tersebut diisi oleh tenaga kerja tidak tetap dan tenaga kerja tetap dan terbagi lagi atas 4 kelompok kerja yang jadwalnya diatur oleh perusahaan. Pembagian jam kerja tersebut untuk setiap shift adalah sebagai berikut: a. Shift I b. Shift II c. Shift III : : : pukul 08.00-16.00 WIB pukul 16.00-24.00 WIB pukul 24.00-08.00 WIB

Pembagian karyawan pada setiap Shift sepenuhnya menjadi tanggung jawab dan diatur oleh perusahaan berdasarkan pertimbangan kepentingan produksi dan sifat pekerjaan. 15

3.6.3 Sistem Pengupahan dan Fasilitas lainnya


14

(Sumber:Training and Develompent Center. 2004,Overview PT.Toba Pulp Lestari, (Sumber:Training and Develompent Center. 2004,Overview PT.Toba Pulp Lestari,

PT.Toba Pulp Lestari, Tbk: Porsea.)


15

PT.Toba Pulp Lestari, Tbk: Porsea.) Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
47

1.Sistem Pengupahan PT. Toba Pulp Lestari, Tbk memiliki sistem pengupahan sebagai berikut : a. Perusahaan mengatur dan menerapkan sistem pemberian upah yang layak bagi pekerja yang disesuaikan dengan golongan, status, jabatan, keahlian dan prestasi. b. Besarnya upah terendah yang diberikan kepada pekerja tidak boleh melanggar ketentuan minimum yang berlaku dan telah ditetapkan oleh pemerintah yaitu Upah Minimum Propinsi.

Pembayaran gaji kepada para karyawan dilakukan sekali dalam sebulan pada akhir bulan. Dalam pemberian gaji kepada karyawan tetapnya, PT. Toba Pulp Lestari, Tbk menganut sistem Total All in Concept, yang artinya total gaji karyawan yang diterima oleh setiap karyawan sudah termasuk berbagai tunjangan yang ada. Adapun tunjangan-tunjangan tersebut terdiri dari tunjangan pangkat dan jabatan, tunjangan keluarga, tunjangan perumahan, dan bantuan khusus untuk perumahan serta lokasi kerja. Sedangkan untuk karyawan tidak tetap, tunjangan tidak termasuk dalam gaji yang diterima.

2. Fasilitas Perusahaan PT. Toba Pulp Lestari, Tbk selalu berusaha untuk mendorong karyawan agar dapat bekerja lebih baik. Untuk itu perusahaan berusaha menciptakan suasana kerja yang nyaman dengan menyediakan berbagai fasilitas yang dapat mendukung efektivitas karyawan tetap maupun tidak tetap. Fasilitas-fasilitas tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: a. Fasilitas perumahan b. Fasilitas pengobatan/perawatan kesehatan c. Tempat ibadah d. Sarana olah raga e. Sarana pendidikan f. Tempat rekreasi g. Fasilitas transportasi h. Kantin i. Fasilitas kerja berupa penyediaan APD (Alat Pelindung Diri) selama bekerja demi keamanan dan keselamatan kerja seperti helm safety, sarung tangan, masker, sepatu

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

48

safety, penutup telinga, kacamata, dan alat-alat pelindung lainnya yang dipakai sesuai dengan tingkat keamanan masing-masing pekerjaan. Selain itu PT. Toba Pulp Lestari, Tbk juga memberikan bantuan kesejahteraan bagi karyawan tetap berupa Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), dana suka duka dan Tunjangan Hari Raya (THR). 16

BAB IV TURBIN

4.1 KLASIFIKASI TURBIN Dalam proses pembuatan bubur kertas (Pulp) sangat membutuhkan air, Uap panas bertekanan (Steam) dan daya listrik (Electric Power) untuk mendukung dan menjalankan alat-alat proses produksi.

Sumber utama daya listrik yang digunakan untuk proses produksi di P.T. Toba Pulp Lestari adalah dihasilkan dari pembangkit listrik dari tenaga uap panas yang bertekanan tersebut dihasilkan dari boiler. Saat ini PT. Toba Pulp Lestari, Tbk memiliki dua unit steam generator, yaitu: 1. SGP Steam turbine Generator dengan kapasitas daya listrik 33 MW pada tegangan 12 kilovolts dan frekuensi 50 HZ dengan speed 3000 rpm. Steam turbin ini dibuat oleh Simmering GRA2 Pauker AG (SGP, VIENNA) dan generatornya dari ELIN,Austria.

2. MHI Backpress Steam Turbine Generator dengan kapasitas design daya listrik 53.8 MW pada tegangan 12 kilovolts dan frekuensi 50 HZ dengan speed 3000

16

(Sumber:Training and Develompent Center. 2004,Overview PT.Toba Pulp Lestari,

PT.Toba Pulp Lestari, Tbk: Porsea.) Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
49

rpm, steam turbin ini dibuat oleh MITSUBISHI, Japan termasuk dengan generatornya.

Pada saat start up ENERGY PLANT sebelum turbin uap menghasilkan daya listrik, maka digunakan daya listrik dari alat pembangkit listrik diesel (Diesel Generator) dan daya listrik dari PLN. 17

1. SGP Steam Turbin Generator. Turbin uap ini dibuat oleh Simmering Gra2 Pauker AG (SGP, VIENNA) dan generatornya dibuat oleh ELIN, AUSTRIA.

Operasional perdana dilakukan pada tahun 1988. Turbin uap ini termasuk jenis turbin bertingkat dengan dua extraksi, yaitu : double extraction backpressure type dan emergency condensing plant.

Turbin ini dilengkapi dengan SGP-VOITH-GHH Turbolog Controller type ETS 302 ( analog controller). Alat ini yang mengontrol secara keseluruhan operasinya turbin generator.

Gambar 4.1 SGP Turbin Tabel 4.1 Desain Data/spesifikasi data : SGP TYPE 513EG60 18
17

(Sumber:Training and Develompent Center. 2002. Buku Energy (Steam and Liquor Site), PT. Toba Pulp

Lestari, Tbk: Porsea )

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

50

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Main steam pressure Main steam temp Main steamflow MP steam press MP steam flow LP steam press LP steam flow Exhaust steam pressure Generator terminal output Turbine speed Kg/cm
0 2

1 65 480 213 13.5 61


2

2 65 480 162 13.5 60 5 54 1.05 23.7 3000

3 65 480 50 13.5 0 5 3.4 1.05 8.6 3000

T/H Kg/cm2 T/H Kg/cm T/H Kg/cm MW RPM


2

5 146 1.05 28.5 3000

a. Proses Operasional SGP Turbin Generator. Setelah steam yang dihasilkan oleh boiler telah mencapai 380 0C sebagai standar minimum temperatur yang diizinkan untuk memutar turbin. Maka steam tersebut masuk ke turbin melalui Emergency stop valve yang dilengkapi dengan saringan steam dan kemudian diteruskan ke empat set HP steam control valve yang akan mengontrol jumlah steam yang dibutuhkan turbin yang disesuaikan dengan beban generator.

Steam yang masuk ke bagian dalam turbin akan diarahkan oleh sudu pengarah (FIXED NOZZLE BLADE) ke sudu penggerak rotor HP Stage. Steam yang keluar dari HP Stage inilah yang dinamakan MP Stage ( extraction I ) melalui Fixed Nozzle lainnya. Untuk membagi MP Steam yang dibutuhkan dan steam yang akan diteruskan ke stage berikutnya dikontrol oleh tiga set control valve.

Steam yang keluar dari MP Stage inilah yang dinamakan LP STEAM dan sebagian akan diteruskan ke LP Stage ( extraction II) melalui Fixed Nozzle lainnya. Untuk membagi LP Steam yang dibutuhkan dan steam yang akan diteruskan ke stage berikutnya dikontrol oleh dua set control valve .Steam setelah keluar dari LP Stage akan dijadikan condensate di emergency condensing unit dan kemudian di pompakan ke condensate tank di Demin Plant untuk dipakai kembali ke boiler.
18

(Sumber:Training and Develompent Center. 2002.Modul Energy (Steam and Liquor Site),

PT. Toba Pulp Lestari, Tbk: Porsea.) Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
51

2. MHI Steam Turbin Generator. Turbin uap ini dibuat oleh MITSUBISHI HEAVY INDUSTRIES,LTD Japan dan operasional perdana dilakukan pada September 1992.

Turbin jenis ini termasuk jenis turbin bertingkat dengan tiga tingkatan extraksi ( uncontrolled tripple extraction back pressure turbine ) yang dilengkapi dengan sebuah Micro Processer Controlled Wood Ward Governor 505 DG dimana perangkat inilah yang mengontrol jumlah steam yang masuk ke turbin dan menjaga speed turbin agar stabil di 3000 rpm. Sebagai Back PressTurbin, daya listrik yang dihasilkannya sangat bergantung kepada jumlah permintaan steam yang keluar dari turbin ( LP Steam dan MP Steam ). Apabila permintaan LP dan MP steam ini berkurang dengan tiba-tiba, maka steam LP dan MP harus dibuang ke atmosfer untuk mencegah supaya tidak terjadi pengurangan daya listrik atau berhentinya turbin dengan tiba-tiba ( trip ).

Gambar 4.2 MHI Turbin Tabel 4.2 Design Data : MHI MODEL NO : 10BL-11 19
NO 1 2 3

19

(Sumber:Training and Develompent Center. 2002.Modul Energy (Steam and Liquor Site),

PT. Toba Pulp Lestari, Tbk: Porsea.) Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
52

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Main steam pressure Main steam temp Main steam flow MP steam press MP steam flow LP steam press LP steam flow Generator terminal output Turbine speed

Kg/cm2
0

65 480 230

65 480 370 11.5 90 4 279 50 3000

65 480 370 11.5 90 4 279 50 3000

C
2

T/H Kg/cm T/H Kg/cm T/H MW RPM


2

11.5 55 4 174 26.5 3000

a. Operasional MHI Turbin Generator Setelah steam yang dihasilkan oleh boiler telah mencapai 380 0C sebagai standar minimum temperatur yang diizinkan untuk memutar turbin. Maka steam tersebut masuk ke turbin melalui TTV ( Trip Trottle Valve ) yang dilengkapi dengan saringan steam dan kemudian diteruskan ke FIXED NOZZLES BLADE (sudu-sudu pengarah turbin) dan diarahkan ke sudu penggerak rotor untuk memutar turbin. TTV ini juga berfungsi sebagai pengaman apabila ada masalah, maka ttv ini akan menutup secara otomatis.

Pada kecepatan putaran turbin mencapai 2850 rpm maka aliran steam yang ke turbin akan dikontrol secara otomatis oleh governor sesuai dengan kebutuhan yaitu mencapai 3000 rpm.

Setelah steam digunakan untuk memutar turbin maka tekanan dan suhunya akan turun dan dikeluarkan sebagai LP steam ( uap tekanan rendah = 4 bar ) dan MP Steam (Uap tekanan menengah = 11 bar) selanjutnya uap tersebut akan dipakai untuk proses produksi lainnya.

Pada kecepatan putaran turbin pada 3000 rpm maka generator siap untuk mengeluarkan daya listrik.

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

53

Kemudian dengan cara mensinkronkan daya listrik dari turbin dengan PLN maka turbin generator akan mengambil alih daya listrik dari PLN dan genset, kemudian dipakai untuk kebutuhan proses produksi. 20

20

(Sumber:Training and Develompent Center. 2002. Buku Energy (Steam and Liquor Site),

PT. Toba Pulp Lestari, Tbk: Porsea.) Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
54

Gambar 4.3. Siklus Thermal Energy Plant

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

55

4.2 ANALISIS EFISIENSI TURBIN Adapun yang menjadi tugas khusus dalam kerja praktek di TPL salah satunya adalah menganalisis efisiensi dari kedua turbin yang ada. Untuk mencari efisiensi dari turbin tersebut diperlukan rumus seperti dibawah ini: 1. Efisiensi Turbin Uap SGP. Rumus menghitung power actual dan ideal: Power (WT ) Actual = Power (WT ) Ideal =

Rumus menghitung efisiensi Turbin SGP:

(Moran. J.M, Shapiro N.H. Termodinamika teknik jilid 2)

Berikut data Turbin Uap SGP yang mempunyai data: Flow mass ( ) Temperatur (T) Pressure (P) (Ton/Jam) (0C) (Bar) (Terlampir)

Berikut Diagram T-S untuk Turbin Uap SGP

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

56

Grafik Efisiensi Turbin SGP


70 60 50 Efisiensi (%) 40 30 20 10 0

4-Jul

2-Jul

6-Jul

8-Jul

14-Jul

24-Jul

10-Jul

12-Jul

16-Jul

18-Jul

20-Jul

22-Jul

24-Jun

18-Jun

20-Jun

22-Jun

26-Jun

28-Jun

30-Jun

Day

Gambar 4.4. Diagram T-S Turbin Uap SGP tahun 2011 Gambar 4.5. Grafik Efisiensi Turbin SGP

2. Efisiensi Turbin Uap MHI Rumus menghitung power actual dan ideal: Power (WT ) Actual = Power (WT ) Ideal =

Rumus menghitung efisiensi Turbin Uap MHI:

Berikut data Turbin Uap MHI yang mempunyai data: Flow mass ( ) Temperatur (T) (Ton/Jam) (0C) Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
57

26-Jul

Pressure

(P)

(Bar)

(Terlampir)

Berikut Diagram T-S untuk Turbin Uap SGP

Gambar 4.6. Diagram T-S Turbin Uap MHI


(Fritz Diesel. TURBIN POMPA DAN KOMPRESSOR)

Grafik Efisiensi Turbin MHI


90 80 70 Efisiensi ( %) 60 50 40 30 20 10 0 2-Jul 4-Jul 6-Jul

28-Jun

8-Jul

10-Jul

12-Jul

14-Jul

16-Jul

18-Jul

20-Jul

22-Jul

24-Jul

18-Jun

20-Jun

22-Jun

24-Jun

26-Jun

30-Jun

Day

Gambar 4.7. Grafik Efisiensi Turbin MHI tahun 2011 Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
58

26-Jul

BAB 5 MAINTENANCE

5.1 Pengertian Maintenance. Suatu industri manufaktur mesin-mesin dan peralatan semakin menurunnya yang telah tersedia dan siap pakai dibutuhkan setiap saat proses produksi akan dimulai. Fungsi mesin/peralatan yang digunakan dalam proses tersebut akan mengalami kerusakan sejalan dengan semakin menurunnya kemampuan mesin/peralatan tersebut, tetapi usia kegunaannya dapat diperpanjang denagan melakukan perbaikan secara berkala melalui suatu aktivitas pemeliharaan yang tepat. Menurunnya kemampuan mesin/peralatan ada dua jenis, yaitu: 1. Natural Deterioration yaitu menurunnya kinerja mesin/peralatan secara alami akibat terjadinya pemburukan/keausan pada fisik mesin/peralatan selama waktu pemakaian walaupun penggunaan secara benar. 2. Accelerated Deterioration yaitu menurunnya kinerja mesin/peralatan akibat kesalahan manusia sehingga dapat mempercepat keausan mesin/peralatan karena mengakibatkan tindakan dan perlakuan yang tidak seharusnya dilakukan terhadap mesin/peralatan. Kerusakan yang terjadi pada mesin/peralatan dapat terjadi karena banyak sebab dan terjadi pada waktu yang berbeda sepanjang umur mesin/peralatan tersebut digunakan. Oleh karena itu, dalam usaha mencegah dan berusaha untuk menghilangkan kerusakan yang timbul ketika proses produksi berjalan,dibutuhkan cara dan metode untuk mengantisipasinya dengan melakukan kegiatan pemeliharaan mesin/peralatan. Pemeliharaan (maintenance) adalah semua tindakan teknis dan administrative yang dilakukan untuk menjaga agar kondisi mesin/peralatan tetap baik dan tetap dapat dilakukan fungsinya dengan baik, efisien, dan ekonomi sesuai denga spesifikasi kemampuannya dan dengan tingkat keamanan yang tinggi. Pada dasarnya hasil yang diharapkan dari kegiatan pemeliharaan mesin/peralatan adalah sebagai berikut :

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

59

1. Condition maintenance yaitu mempertahankan kondisi mesin peralatan agar berfungsi dengan baik sehingga komponen-komponen yang terdapat dalam mesin juga berfungsi dengan umur ekonomisnya. 2. Replacement maintenance yaitu melakukan tindakan perbaikan dan penggantian komponen mesin tepat pada waktunya sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan sebelum kerusakan terjadi.

5.2 TUJUAN MAINTENANCE. Maintenance dilakukan pada mesin/peralatan dengan maksud agar tujuan komersil perusahaan dapat berjalan dengan lancar dan juga untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti terjadi kerusakan yang terlalu cepat dimana kerusakan tersebut bisa saja dikarenakan keausan akibat pengoperasian yang salah. Karena maintenance adalah kegiatan pendukung bagi kegiatan komersil, maka seperti kegiatan lainnya, maintenance haruslah efektif, efisien, dan berbiaya rendah. Dengan adanya kegiatan maintenance ini , maka mesin/peralatan produksi dapat digunakan sesuai rencana dan tidak mengalami kerusakan selama jangka waktu tertentu yang telah direncanakan tercapai. Beberapa tujuan utama maintenance yaitu, 1. Untuk memperpanjang umur/masa pakai dari mesin/peralatan 2. Menjaga agar tiap mesin/peralatan dalam kondisi baik dan dalam keadaan dapat berfungsi dengan baik. 3. Dapat menjamin ketersediaan optimum peralatan yang dipasang untuk produksi. 4. Untuk menjamin kesiapan operasional dari seluruh peralatan yang diperlukan dalam keadaan darurat setiap waktunya. 5. Memaksimumkan ketersediaan semua peralatan sistem produksi (mengurangi downtime). 6. Untuk menjamin keselamatan orang yang menggunakan sarana tersebut. 7. Dapat mendukung upaya memuaskan pelanggan.

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

60

5.3 JENIS-JENIS MAINTENANCE. PT. TOBA PULP LESTARI juga memiliki sebuah maintenance departement dan Enginering departement yang dipimpin oleh seorang manejer yang membawahi dua orang Deputi. Seorang Deputi ditugaskan untuk menanggungjawabi bagian engineering yang meliputi instrument, electrical serta planning dan control, dan seorang lainnya bertanggung jawab untuk pemeliharaan yang terdiri dari energi serta Fiber Line dan Chemical Plant.

1. Planned Maintenance ( Pemeliharaan Terencana) Planned Maintenance adalah pemeliharaan yang terorganisir dan dilakukan dengan pemikiran ke masa depan, pengendalian dan pencatatan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Oleh karena itu, program Maintenance yang akan dilakukan harus dinamis dan memerlukan pengawasan dan pengendalian secara aktif dari bagian maintenance melalui informasi dari catatan riwayat mesin/peralatan. Konsep planned maintenance ditujukan untuk dapat mengatasi masalah yang dihadapi manajer dengan pelaksanaan kegiatan maintenance. Komunikasi dapat diperbaiki dengan informasi yang dapat memberi data yang lengkap untuk mengambil keputusan. Adapaun data yang penting dalam kegiatan maintenance antaa lain laporan permintaan pemeliharaan , laporan pemeriksaan, laporan perbaikan, dan lain-lain. Pemeliharaan Terencana ada beberapa jenis yaitu, Preventive Maintenance, Predictive Maintenance, Proactive Maintenance, dan Break Down Maintenance. a. Preventive Maintenace Adalah kegiatan pemeliharaan mesin dimana pencegahan kerusakan dilakukan dengan meninjau secara berkala baik itu daily, weekly, montly quarterly, dan yearly. Kegiatan maintenance seperti ini sangat sering dilakukan di PT. TOBA PULP LESTARI ini.Manajemen pemeliharaan mesin/peralatan modern dimulai dengan apa yang disebut preventive maintenance yang kemudian berkembang menjadi productive maintenance. Kedua metode pemeliharaan ini umumnya disingkat dengan PM dan pertama kali diterapkan oleh industri-industri manufaktur di Amerika Serikat dan pusat segala kegiatannya ditempatkan satu departemen yang disebut maintenance department. Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
61

Preventive maintenance mulai dikenal pada tahun 1950-an yang kemudian berkembang seiring denagan perkembangan teknologi yang ada dan kemudian pada tahun 1960-an muncul apa yang disebut productive maintenance. Total productive maintenance (TPM) mulai dikembangkan pada tahun 1970-an pada perusahaan di jepang yang merupakan pengembangan konsep maintenance yang diterapkan pada perusahaan industry manufaktur Amerika Serikat yang disebut Preventive Maintenance. Seperti dapat dilihat masa periode perkembangan PM di jepang dimana periode tahun 1950-an juga bias dikategorikan sebagai periode breakdown maintenance. Melalui produser perawatan yang benar dan adanya koordinasi yang baik antara bagian perawatan maka melalui system perawatan ini. a. Kerugian waktu operasi/produksi dapat diperkecil b. Biaya perbaikan yang mahal dapat dikurangi. System perawatan ini sangat penting karena kegunaannya cukup efektif dalam menghadapi fasilitas-fasilitas produksi yang termasuk dalam critical unit suatu fasilitas atau peralatan termasuk dalam golongan critical unit apabila : a. Kerusakan pada unit tersebut dapat membahayakan kesehatan atau keselamatan b. Kerusakan dapat mempengaruhi kwalitas produk c. Kerusakan dapat menyebabkan proses produksi terhenti d. Modal yang diinvestasikan pada fasilitas tersebut cukup tinggi. Apabila perawatan pencegahan ini dilaksanakan pada fasilitas-fasilitas yang termasuk dalam critical unit maka tugas-tugas perawatan dilakukan dengan suatu perencanaan yang intensif untuk unit yang bersangkutan sehingga rencana produksi dapat dicapai dengan jumlah lebih besar dalam waktu yang relative singkat. Dalam prakteknya perawatan dan pencegahan dalam suatu pabrik dapat dibedakan atas: 1. Routine maintenance adalah kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan secara rutin, misalnya setiap hari. Contohnya kegiatan routine maintenance adalah pelumasan, pengecekan bahan bakar maupun pemanasan mesin dalam beberapa menit sebelum dioperasikan. Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
62

2. Periode maintenance adalah kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan secara periodic atau dalam jangka waktu tertentu. Contoh kegiatan periodic maintenance adalah pergantian bearing.

Preventive maintenance di PT Toba Pulp Lestari dilakukan dengan beberapa tahap antara lain: a. Register equipment yaitu mendata seluruh equipment dan komponen yang digunakan di pabrik. b. Menentukan tingkat resiko atau menentukan tingkat equipment mana yang sangat vital bagi kelangsungan kegiatan pabrik dan gampang rusak. c. Perencanaan jadwal koreksi bagi setiap equipment berdasarkan tingkat resikonya. d. Memeriksa kondisi setiap equipment secara berkala (daily, weekly, mounthly dan yearly) dan mencatatnya pada formulir inspeksi preventive maintenance (lampiran).

b. Predictive Maintenance (Perawatan Ramalan) Untuk industri-industri besar yang berproduksi secara terus menerus akan sangat menguntungkan menerapkan sistem perawatan ini, karena bila terjadi

kemacetan/terhentinya aliran produksi beberapa menit saja akan dapat menimbulkan kerugian yang besar. Contoh dari tindakan perawatan ramalan ini adalah mengganti seluruh bantalan yang berada pada satu poros walaupun diketahui hanya satu buah saja yang mengalami kerusakan. Pada predictive maintenance dilakukan beberapa test mesin yang sedang beroperasi, untuk mencegah dan menduga kerusakan dari suatu equipment antara lain: a. Vibrication Test Digunakan untuk mengetahui kondisi dari suatu peralatan yang berputar seperti motor dengan menggunakan kolektor data dengan arah radial horizontal, vertical dan aksial.

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

63

b. Wall Thickness Test Test ini dilakukan dengan mengukur ketebalan suatu pipa atau dinding tangki.Pada saat melakukan test, temperature benda kerja diharuskan tidak lebih dari 60C, misalnya untuk pipa atau tangki dikatakan rusak apabila ketebalannya berkurang sebanyak 20% dari ketebalan standart atau ketebalan semula. c. Magnet Test Test ini dilakukan untuk melihat ukuran ketebalan pipa atau dinding tangki dari sisi luar dan sisi dalam. d. Laser X-ray Test Teat ini digunakan untuk mengukur ketebalan dari suatu pipa/dinding tangki dalam jumlah besar.

c. Proactive Maintenance Merupakan pengembangan dari predictive maintenance dengan investigasi dari kerusakan yang dideteksi di lapangan dan langsung mengadakan perbaikan.

d. Break Down Maintenance Merupakan pemeliharaan yang mencakup keseluruhan perawatan. Tindakan ini dilakukan apabila kegiatan pabrik berhenti total.

2. Tugas dan Pelaksanaan Kegiatan Maintenance Maintenance adalah untuk dapat memelihara reliabilitas sistem pengoperasian pada tingkat yang dapat diterima dan tetap memaksimumkan laba dan meminimumkan biaya. Maintenance yang cenderung untuk memperbaiki reliabilitas sistem, termasuk pada kategori kebijaksanaan pokok yang dapat diperinci sebagai berikut: a. Kebijakan yang cenderung untuk mengurangi frekuensi kerusakan peralatan produksi. b. Kebijakan untuk kegiatan pemeliharaan dilaksanakan dengan mempertimbangkan dua hal yaitu penggantian mesin/peralatan dan pelaksanaan reparasi serta didukung oleh keahlian dan keterampilan teknikal. Penggantian peralatan tersebut harus berdasarkan pada: Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
64

a. Perhitungan terhadap factor biaya. b. Analisa nilai ekonomis mesin/peralatan lama dan mesin/peralatan baru. c. Cadangan mesin/peralatan yang harus segera dimanfaatkan. Seluruh kegiatan maintenance dapat digolongkan ke dalam salah satu dari lima tugas pokok berikut, yaitu: a. Inspeksi (Inspection) Kegiatan inspeksi meliputi kegiatan pengecekan dan pemerikasaan secara berkala (routine schedule check) terhadap mesin/peralatan sesuai dengan rencana yang bertujuan untuk mengetahui apakah perusahaan selalu mempunyai fasilitas mesin/peralatan yang baik untuk menjamin kelancaran proses produksi. b. Kegiatan Teknik (Engineering) Kegiatan teknik meliputi kegiatan percobaan atas peralatan yang baru dibeli, dan kegiatan pengembangan komponen atau peralatan yang perlu diganti, serta melakukan penelitian-penelitian terhadap kemungkinan pengembangan komponen atau peralatan, juga berusaha mencegah terjadinya kerusakan. c. Kegiatan Produksi Kegiatan produksi merupakan kegiatan pemeliharaan yang sebenarnya yaitu dengan memperbaiki seluruh mesin/peralatan produksi. d. Kegiatan administrasi Kegiatan administrasi merupakan kegiatan yang berhubungan dengan pencatatanpencatatan mengenai biaya-biaya yang terjadi dalam melakukan kegiatan pemeliharaan, penyusunan planning dan scheduling, yaitu rencana kapan kegiatan suatu mesin/peralatan tersebut harus diperiksa, diservice dan diperbaiki. e. Pemeliharaan bangunan Kegiatan pemeliharaan bangunan merupakan kegiatan yang tidak termasuk dalam kegiatan teknik dan produksi dari bagian maintenance.

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

65

3. Availability Availability merupakan rasio operation time terdapat waktu loading timenya. Sehingga dapat menghitung availability mesin dibutuhkan nilai dari : a. Operation time b. Loading time c. Down time Nilai availability dihitung dengan rumus sebagai berikut : Operation time Availability = Loading time x 100%

Loading time-down time Availability = Loading time Loading time adalah waktu yang tersedia (availability) per hari atau per bulan dikurang dengan waktu downtime mesin direncanakan (planned downtime). Loading time = Total availability Planned downtime x 100%

Planned downtime adalah jumlah waktu downtime mesin untuk pemeliharaan (scheduled maintenance) atau kegiatan manajemen lainnya. Operation time merupakan hasil pengurangan loading time dengan waktu downtime mesin (non-operation time), dengan kata lain operation time adalah waktu operasi tersedia (availability time) setelah waktu downtime mesin keluarkan dari total availability time yang direncanakan. Downtime mesin adalah waktu proses yang seharusnya digunakan mesin akan tetapi karena adanya gangguan pada mesin/peralatan (aquepment failures) mengakibatkan tidak ada output yang dihasilkan. Downtime meliputi mesin berhenti beroperasi akibat kerusakan mesin/peralatan, penggantian cetakan (dies), pelaksanaan prosedur setup dan adjesment dan lain-lainnya.

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

66

4. Maintenance Turbin Setiap mesin/peralatan di dalam suatu industry haruslah ada sistem maintenancenya. Disini akan dibahas sedikit banyaknya maintenance Turbin yang terdapat di PT.Toba Pulp Lestari, yaitu pada Turbin MHI dan Turbin SGP. Pemeliharaan Turbin dilakukan dengan cara melihat kondisi Oli yang dipakai, dan juga usia Oli. Semuanya terdapat pada bagian-bagian system oil yang diperiksa.

a. Turbin MHI Berikut beberapa Sistem Oli (oil system) yang terdapat pada Turbin MHI. Disini terdapat Control Oil dan Lube Oil Control Oil (oli pengontrol) Berfungsi hanya untuk membuka/menutup actuator (tuas pengontrol) pada governor. Lube Oil (minyak pelumas). Seperti pada mesin berputar lainnya demikian pada turbin membutuhkan pelumasan. Sistem pelumasan pada turbin adalah sistem yang vital. Apabila terjadi gangguan pada sistem pelumasan ini maka turbin akan rusak dan juga kalau ada kekurangan tekanan pada sistem pelumasan pada turbin maka akan segera stop secara otomatis.

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

67

5.4 BAGIAN BAGIAN DARI OIL SYSTEM


1. OIL TANK Tank ini berfungsi sebagai penampung minyak oli yang akan digunakan ke bearing turbin dan ke tuas pengontrol dan kembali ke tangki oli.

Gambar 4.1 Oil tank 2. MAIN OIL PUMP Fungsi pompa ini adalah memompakan oli yang di tangki ke sistem turbin yang membutuhkan pelumasan seperti pada bearing dan roda-roda gigi penggerak dan pada tuas penggerak.

Gambar 4.2 Main oil pump

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

68

3. AUXILIARY OIL PUMP Pompa ini berfungsi sama dengan pompa utama, apabila pompa utama mengalami gangguan maka pompa cadangan ini akan berjalan secara otomatis.

Gambar 4.3 Auxiliary oil pump

4. DC OIL PUMP Pompa ini pun mempunyai fungsi yang sama dengan pompa utama, perbedaannya terletak pada motor penggeraknya dengan menggunakan listrik dc yang disupply dari baterai. Hal ini untuk menjaga kalau sewaktu-waktu tidak tersedia listrik ac.

Gambar 4.4 DC oil pump

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

69

5. OIL FILTER Setiap oli yang disirkulasikan ada kemungkinan mengandung kotoran dan ikut terbawa ke dalam sistem. Hal ini yang menyebabkan gangguan pada tuas pengontrol, maka saringan inilah yang diharapkan dapat mengumpulkotoran-kotoran tersebut. Pada oil system ini terdapat 2 set saringan, 1 set untuk oli pelumas dan 1 set untuk oli pengontrol.

Gambar 4.5 Oil filter

6. OIL SEPERATOR Fungsinya untuk membersihkan oli dari kotoran air, dimana kotoran yang halus yang lewat dari saringan oli dan kandungan air yang yang ada di dalam oli yang mana akan mengganggu jalannya turbin.

Gambar 4.6 Oil separator Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
70

7. OIL MIST FAN Kipas (fan) ini terletak di atas tangki oli, fungsinya adalah untuk mengeluarkan udara yang ada di dalam tangki yang kemungkinan mengandung uap air.

Gambar 4.7 Oil mist fan

Sesuai dengan penjelasan di atas, ke-7 bagian dari sistem oli inilah yang melindungi/merawat turbin. Untuk perawatan maka dilaksanakanlah survei/pemeriksaan secara rutin pada bagianbagian oli sistem ini, yaitu yang dilaksanakan tiap bulan dan pergantian oli sistem dilakukan setahun sekali. Pemeliharaan ini disebut juga maintenance preventive (pencegahan).

5.5 Turbin SGP


Berikut beberapa Sistem Oli (oil system) yang terdapat pada Turbin SGP. Oil system ini mempunyai fungsi yang sama dengan MHI turbin yaitu terdiri dari CONTROL OIL DAN LUBE OIL. Perbedaannya terletak pada sistem pengontrolnya yaitu untuk control oil di supply dengan pompa yang terpisah dan ada tambahan jacking oil pump. Bagian-bagian dari oli sistem pada SGP turbin generator adalah :

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

71

1. OIL TANK Tank ini berfungsi sebagai penampung minyak oli yang akan dialirkan ke bearing turbin dan ke tuasa pengontrol dan kembali ke tangki oli.

Gambar 4.8 Oil tank

2. MAIN OLI PUMP Berfungsi intuk memompa oli yang ditangki ke sistem turbin yang membutuhkan pelumasan pada bearing dan roda gigi penggerak.

Gambar 4.9 Main oil pump 3. AUXILIARY OIL PUMP Pompa ini mempunyai fungsi yang sama dengan pompa utama, apabila pompa utama mengalami kerusakan/gangguan maka pompa cadangan ini akan jelas secara otomatis Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
72

atau kalau turbin di stop maka pompa inilah yang menggantikan fungsi dari pompa utama. Jadi proses start up dan shut down turbin pompa inilah yang digunakan.

Gambar 4.10 Auxiliary oil pump 4. JACKING OIL PUMP Pompa oli dengan tekanan tinggi yaitu 100 bar. Pompa ini digunakan pada saat turbin sudah di stop dan akan menjalankan turning device. Adapun tujuannya adalah untuk mengangkat shaft turbin agar tidak terjadi pergesekan.

Gambar 4.11 Jacking oil pump

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

73

5. DC OIL PUMP Pompa ini mempunyai fungsi yang sama dengan pompa utama, perbedaannya terletak pada motor penggeraknya dengan menggunakan listrik DC yang disupply dari baterai. Hal ini untuk menjaga kalau sewaktu-waktu tidak sedia listrik AC.

Gambar 4.12 DC oil pump 6. OIL FILTER Setiap yang disirkulasikan ada kemungkinan mengandung kotoran dan ikut terbawa ke dalam sistem. Hal ini yang menyebabkan gangguan pada tuas pengontrol, maka saringan inilah yang diharapkan dapat mengumpulkan kotoran-kotoran tersebut. Pada oil system ini terdapat 2 set saringan, 1 set untuk oli pelumas dan 1 set untuk oli pengontrol.

Gambar 4.13 Oil filter

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

74

7. OIL SEPARATOR Yaitu untuk membersihkan oli dari kotoran dan air, dimana kotoran halus yang lewat dari saringan oli dan kandungan air yang ada dalam oli akan menggangu jalannya turbin.

Gambar 4.14 Oil separator 8. OIL MIST FAN Kipas (fan) di atas tangki oli, fungsinya adalah untuk mengeluarkan udara yang ada dalam tangki yang mengandung uap air.

Gambar 4.15 Oil mistan

Perawatan turbin SGP ini sama halnya dengan perawatan turbin MHI, yaitu dilakukan pemeriksaan secara tiap bulan dan pergantian oli system dilakukan setahun sekali. Pemeliharaan ini disebut juga maintenance preventive (pencegahan).

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

75

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan PT Toba Pulp Lestari,Tbk merupakan perusahaan yang besar yang memproduksi Pulp dengan bahan baku yang dominan dari pohon euchalyptus memiliki Hutan Tanam Industri yang cukup luas. PT. Toba Pulp Lestasi, Tbk adalah industri yang berintegrasi di bidang pulp untuk bahan baku kertas dan serat viscose rayon yang dapat digunakan untuk bahan baku tekstil, dan juga untuk bahan baku lainnya seperti benang, filter rokok dan lain-lain. Pabrik ini merupakan salah satu industri strategis penghasil devisa diantara 5.935 unit perusahaan serupa yang terdapat di dunia dengan kapasitas produksi terpasang 210.459.000 ton pulp per tahun. Dari jumlah tersebut di atas 5.258 unit terdapat di Asia, dan total produksi pulp di dunia pada tahun 1997 dilaporkan sejumlah 178.204.00 ton pulp. PT.Toba Pulp Lestari, Tbk menggunakan hubungan campuran dalam

pengorganisasiannya, yaitu hubungan garis, hubungan fungsional dan staff,dimana garis kepemimpinan mengalir langsung dari atasan ke pimpinan di bawahnya dan berakhir ke pekerjanya. Kekuasaan dan wewenang tertinggi yang ada pada PT.Toba Pulp Lestari, Tbk terletak pada Dewan komisaris. Dewan Komisaris mempunyai wewenang mengawasi kepemimpinan direksi yang merupakan badan eksekutif dalam menjalankan tugas sehari-hari, direksi yang terdiri dari presiden direktur dan dibantu oleh dua orang direktur. PT.Toba Pulp Lestari, Tbk menerapkan sistem manajemen untuk melindungi setiap karyawannya, yaitu kebijakan K3 dan SMK3. Ada banyak kemungkinan kecelakaan yang bisa saja terjadi pada lokasi perusahaan yang harus dicegah dengan menerapkan beberapa peraturan yang harus diikuti oleh semua pihak mulai dari staf, karyawan pabrik, sampai kepada tamu perusahaan wajib mengikutinya. PT. Toba Pulp Lestari Mempunyai dua turbin pada Power Plant yaitu SGP dan MHI. Dimana berdasarkan data yang diperoleh. Turbin SGP mengkonsumsi steam lebih sedikit dari turbin MHI, pada turbin SGP mengalami masalah dalam pembacaan alat ukur steam. Dan juga efisiensi actual turbin lebih besar dari efisiensi ideal sehingga turbin tersebut sudah Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
76

cukup baik, sedangkan pada MHI turbin terjadi loss energy pada turbin yang akhirnya efisienensi MHI turbin jadi kecil. Maintenance yang diaplikasikan di PT.Toba Pulp Lestari, Tbk adalah Break Down Maintenance, Preventive Maintenance dan Predictive Maintenance sedangkan Proactive Maintenance belum diaplikasikan. Pada break down maintenance pemeliharaan yang mencakup keseluruhan perawatan. Tindakan ini dilakukan apabila kegiatan pabrik berhenti total. Biasanya dilakukan setahun sekali dan lamanya sepuluh hari. Pada preventive maintenance melakukan survei/pemeriksaan secara rutin pada

bagian-bagian oli sistem, yaitu yang dilaksanakan tiap bulan dan pergantian oli sistem dilakukan setahun sekali. Pada predictive maintenance dilakukan yaitu : 1. Pemeliharaan rotor turbin Pemeriksaan yang dilakukan diantaranya adalah : Kemungkinan adanya kerak yang menempel pada sudu akhir, ambil sampel untuk di analisa Kemungkinan terjadinya keretakan Kemungkinan terjadinya gesekan Kerusakan akibat benda asing Korosi dan erosi

2. Pemeliharaan stator turbin. Pemeriksaan yang dilakukan diantaranya adalah : Periksa adanya kerak-kerak yanga menempel pada sudu tetap, bersihkan dengan sand blast apabila diperlukan Bersihkan kerak dan kotoran lainnya dengan menggunakan sikat kuningan dan sand blast bila perlu Laksanakan pemeriksaan pada permukaan flanges upper casing dan lower casing menggunakan batu asah paling halus Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
77

Bersihkan ulir-ulir pada baut dan mur Periksa bekas bocoran uap melalui celah pada flanges antara upper casing dengan lower casing

Periksa akibat korosi dan erosi pada labirin dan sudu-sudu Periksa dan perbaiki kerusakan pada sudu tetap (seperti pada sudu putar) Keretakan-keretakan disetiap bagian stator, termasuk pada baut-baut, diperiksa dengan cara NDT menggunakan dye penetrant atau ultrasonic test.

3. Pemeliharaan bantalan Pemeriksaan yang perlu dilakukan diantaranya : Pengukuran clearance Bekas kontak/gesekan antara journal dengan bearing Goresan-goresan pada permukaan babbit (White Metal). Babbit yang terkelupas Keretakan (gunakan dye penetrant) cacat katodik.

4. Pemeliharaan labirin (Gland Seal) 5. Penyetelan Clearance rotor dan stator 6. Penyebarisan Poros Availability (alat ukur maintenance mesin) yang ada di PT Toba Pulp Lestari,Tbk harus 0.04% ( ISO 9000).

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

78

6.2 Saran Adapun saran yang ingin penulis sampaikan kepada perusahaan PT. Toba Pulp Lestari, Tbk adalah : 6.2.1 Manajemen 1. Selama Kerja Praktek berlangsung, hendaknya para Mahasiswa selalu mengindahkan segala peraturan dan sistem keamanan (termasuk APD) sewaktu berada di lingkungan PT. Toba Pulp Lestari, Tbk. 2. Dalam pelaksanaan praktik kerja lapangan,sebaiknya PT. Toba Pulp Lestari, Tbk memberikan kesempatan bagi mahasiswa kerja praktik untuk ikut serta dalam salah satu proses operasi untuk memberikan pengalaman kerja bagi mahasiswa.

6.2.2 Sistem Pembangkit Tenaga (Turbin) 1. Turbin SGP yang memiliki kemampuan menghasilkan daya yang besar tetapi hanya mengkonsumsi sedikit steam ada baiknya efisiensi turbin ini lebih dimaksimumkan.

6.2.3 Maintenance 1. Hendaknya pada saat dilapangan para mahasiswa diberitahukan bagaimana prosedur maintenance pada Turbin tidak hanya secara teori tetapi juga pada praktek di lapangan. 2. Sebaiknya dilakukan pengecekan ulang pada alat ukur pada turbin MHI, agar hasil pengukurannya tetap presisi.

Demikianlah saran ini kami buat, semoga saran ini dapat bermanfaat.

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

79

DAFTAR PUSTAKA

1. Casey JP. 1980. Pulp and Paper Chemistry and Chemical Teknology, Vol I, Jhon Wiley and Son, Inc.: New York. 2. Syamsir A. 1993. Pesawat-pesawat konversi energy II (Turbin Uap), Erlangga: Jakarta. 3. Shlyakhin, P. 1993. Turbin Uap. Teori dan Rancangan. Erlangga: Jakarta 4. Syamsi,Ibnu.1994.POKOK-POKOK ORGANISASI & MANAJEMEN.Rineka Cipta:Jakarta 5. P. Robbins, Stephens, Alih bahasa Jusuf Udaya, Ec. 1994. Teori OrganisasiStruktur, Design & Aplikasi. ARCAN: Jakarta. 6. Moran J.M, Shapiro N.H. 2003. Termodinamika Teknik Jilid II, Erlangga: Jakarta 7. Dietzel, Fritz. 1993. TURBIN, POMPA DAN KOMPRESOR. Erlangga: Jakarta

Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

80