P. 1
volume1_nomor2

volume1_nomor2

|Views: 725|Likes:
Dipublikasikan oleh Ira Yulita Ab

More info:

Published by: Ira Yulita Ab on Mar 21, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/25/2013

pdf

text

original

Vol.I No.

2 April 2010

ISSN: 2086-3098

EDITORIAL
Pada penerbitan Volume I Nomor 2 ini, Dewan Redaksi menyampaikan rasa terimakasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberi dukungan, menulis hasil penelitian ilmiah yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang kesehatan. Harapan kita semoga seluruh dukungan, bantuan yang sangat berarti untuk menuju inovasi bidang penelitian semakin nyata, guna meningkatkan pencerahan ilmu yang berkualitas. Pada publikasi kedua ini ditampilkan limabelas judul penelitian kesehatan dengan penambahan variasi tema yaitu dalam bidang profesi analis kesehatan di samping bidangbidang lain yang telah muncul pada edisi perdana yaitu pendidikan kesehatan, manajemen kesehatan, kebidanan, keperawatan, kesehatan ibu dan anak, kesehatan lingkungan serta kesehatan masyarakat. Tentu saja hal di atas menjadi sumber kegembiraan bagi kita semua. Kami ucapkan terimakasih kepada para kontributor naskah ilmiah, khususnya rekan-rekan dari Prodi Kebidanan Kediri Jurusan Kebidanan Poltekkes Depkes Malang dan Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Depkes Surabaya yang telah turut serta melengkapi isi jurnal ini baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Rasa terimakasih juga kami sampaikan kepada para pembaca yang telah memberikan kepercayaan kepada jurnal ini sebagai sumber informasi penelitian kesehatan, semoga pada tahap-tahap berikutnya dapat memberikan sumbangsih yang semakin berarti bagi perkembangan dunia kesehatan di tanah air kita. Guna menjadikan sebuah jurnal penelitian kesehatan yang terus eksis dan berkembang, maka Dewan redaksi senantiasa membuka kesempatan kepada sejawat dan praktisi kesehatan, para dosen, untuk berperanserta secara aktif dalam pemuatan hasil penelitian. Redaksi

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

1

Vol.I No.2 April 2010

ISSN: 2086-3098

DAFTAR ISI
Resiko Terjadinya Gejala Klinis Campak Pada Anak Usia 1-14 Tahun Dengan Status Gizi Kurang dan Sering Terjadi Infeksi di Kota Kediri Suwoyo, Kokoeh Hardjito, Siti Asiyah Pengaruh Kadar Zat-Zat Terlarut di Dalam Air Bersih Terhadap Perkembangan Nyamuk Aedes aegypti Pra Dewasa Diah Titik Mutiarawati Peran Instalasi Pengolah Air Limbah Domestik Untuk Memperbaiki Kualitas Air Limbah Karno Efektifitas Metode Stimulai Satu Jam Bersama Ibu Terhadap Perkembangan Anak Usia 12-24 Bulan Siti Asiyah, Koekoeh Hardjito, Suwoyo Pengaruh Penyimpanan Urin Kultur Pada Suhu 2oC-8oC Selama Lebih Dari 24 Jam Terhadap Pertumbuhan Bakteri Dwi Krihariyani Studi Tentang Keadaan Sanitasi Rumah Penderita TB Paru di Desa Banjarejo Kecamatan Panekan Kabupaten Magetan Karno Perbedaan Perilaku Menjaga Personal Hygiene Saat Menstruasi Pada Remaja Putri Antara Sebelum dan Sesudah Pemberian Penyuluhan Tentang Pendidikan Kesehatan Reproduksi Koekoeh Hardjito, Suwoyo, Siti Asiyah Kinerja Sanitarian Lapangan Dalam Menurunkan Angka Kejadian DBD di Magetan Budi Yulianto Hubungan Antara Motivasi Stimulasi Toilet Training Oleh Ibu Dengan Keberhasilan Toilet Training Pada Anak Prasekolah Subagyo, Ani Sulasih, Siti Widajati Evaluasi Tingkat Kepuasan Klien Terhadap Pelayanan Antenatal Care dan Persalinan di Poskesdes Kabupaten Magetan Hery Sumasto, Nuwening Tyas Wisnu, Nuryani Hubungan Antara Kejadian Ketuban Pecah Dini dengan Kejadian Sepsis Neonatorum di Rumah Sakit Daerah Kabupaten Madiun Tahun 2004-2007 Sunarto, Dwi Umiyati, Nurlailis Saadah Perbedaan Kekeruhan Air Sumur Gali Antara Sebelum dan Sesudah Pemberian Biji Kelor Sri Sulami Endah Astuti Pengaruh Pemberian Balikan dan Motivasi Berprestasi Terhadap Hasil Belajar Dalam Merawat Payudara Ibu Hamil Tumirah Analisa Kadar Klorida pada Kantong Teh Celup Serta Pengaruhnya Terhadap Mutu Teh Santi Setiorini, Handoyo Pengaruh Nilai ujian Masuk, IQ dan Motivasi Berprestasi Terhadap Prestasi Hasil Belajar Mahasiswa Suparji, Sunarto, Heru Santoso Wahito Nugroho 88-95

96-99

100-104 105-114

115-119

120-124

125-129

130-135 136-140

141-148

149-153

154-158

159-164

165-168 169-180

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

2

Vol.I No.2 April 2010

ISSN: 2086-3098

RESIKO TERJADINYA GEJALA KLINIS CAMPAK PADA ANAK USIA 1-14 TAHUN DENGAN STATUS GIZI KURANG DAN SERING TERJADI INFEKSI DI KOTA KEDIRI Suwoyo*, Koekoeh Hardjito*, Siti Asiyah* ABSTRACT Measles is infection disease caused by measles virus, which attacking many children. The other health problem in child is infectious disease. Infectious disease often concomitance with nutritional status. The frequent of child get infectious disease or under nutrition status is the risk of measles. The objective of this study was to analyse the level of measles risk at children 1-14 years old with under nutritional status and their experience of other infectious disease frequency. This study was observasional analytic using case control design. Case group in this research is children 1-14 years old with measles symptoms and control group is children 1-14 years old which do not suffer measles. hey were examined of serum albumin to determine the nutritional satus of Children. Meanwhile Ig M of measles was examined for the case group only. The research traces the record of other infectious diseases might be suffered by the members of both groups in the last three months. Data was collected by interview and observation. Data was analyzed by Chi square test with significantly level < 0.05. Result, there was not significant correlation between clinical measles with nutritional status, but there was significant correlation between clinical measles and frequency of other infectious disease. Result of risk test show that children which often get frequent other infectious disease have risk 2 times higher to happened measles than children which rarely get other infectious disease . All of the clinical measles cases didn’t have IgM for measles, but 9 cases among them have IgM positive for rubella Conclusion, the frequency of other infectious disease in children can increase the risk for the children to suffer measles. The high content of albumin in the blood serum does not guarantee that the children are safe from mesales. Laboratory Ig M of measles check up must be done for children with clinical measles symptoms to confirm the diagnosis. Sugestion, government should carry out the rubella immunization to prevent this disease to the children. Keywords : clinical measles, nutritional status, infection frequency *: Program Studi Kebidanan Kediri Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Depkes Malang PENDAHULUAN Latar Belakang Campak adalah salah satu penyakit infeksi yang banyak menyerang anak-anak. Angka kejadian campak di dunia masih cukup tinggi, yaitu 30.000.000 orang setiap tahun. Pada tahun 2002 dilaporkan 777.000 orang meninggal akibat campak di seluruh dunia. Di negara ASEAN terdapat 202.000 orang meninggal akibat campak, dan 15% (30.300) orang di antaranya dari Indonesia. Pada tahun 2005 dilaporkan terjadi 345.000 kematian di seluruh dunia akibat campak, dan berdasarkan laporan rutin dan kejadian luar biasa (KLB) kasus campak di Indonesia antara tahun 2002-2005 terdapat 30.000 anak meninggal akibat campak (Depkes R.I, 2007). Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2001, insiden

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

88

nama orang tua dan alamat orangtua. 150. berdasarkan laporan rutin dari 46 Puskesmas yang ada pada tahun 2007 tercatat 58 kasus. komplikasi perinatal dan diare. pneumonia 114.09% gizi buruk. antara 1-4 tahun 7.072 anak ) (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur.I No.000 penduduk. Angka kejadian penyakit infeksi di Jawa Timur cukup tinggi. Sidoarjo (514 kasus). Data hasil surveilan campak di Dinas Kesehatan Kota Kediri meliputi nama penderita. 2006). Prediksi ini berdasarkan survei pemantauan gizi buruk oleh Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur.2007). Variabel lain yang terkait dengan kejadian campak seperti antropometri. 2005). Surabaya (579 kasus).858 orang. bakteri dan parasit lain dapat menginvasi manusia untuk memulai infeksi. status gizi anak. dan berbagai penyakit infeksi lain (Profil Kesehatan Profinsi Jawa Timur.4 per 10.Vol. serta sumber informasi kasus campak tersebut terjadi.724 orang. Angka kejadian campak di Kota Kediri ini mengejutkan. Jumlah kasus tersebut berdasarkan kelompok usia adalah sebagai berikut: 3 kasus pada kelompok kurang dari satu tahun. diare 837. penyakit infeksi pada anak mencapai 60% dari seluruh penyakit yang ada. 9.4 per 10. 2007). 12 kasus kelompok umur 1-4 tahun. jenis kelamin. Permasalahan penyakit anak di Indonesia selain penyakit infeksi adalah kasus gizi buruk. yang dibuktikan dengan ditemukannya penderita TBC sebanyak 79. Hasil pemantauan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Kediri pada tahun 2007 dari 14. dan 6 kasus kelompok umur 10-14 tahun. Kasus campak di Kota Kediri. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 89 . Jumlah kasus terbanyak terjadi pada bulan September yaitu 28 kasus. bila dibandingkan dengan pencapaian imunisasi yang telah melebihi target nasional 80%. dan Kabupaten Kediri (455 kasus) (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. Pada tahun 2005 di Indonesia diduga terdapat 5 juta anak menderita gizi kurang 1. umur.07% gizi sedang. prevalensi balita gizi buruk Jawa Timur 1. Imunisasi campak pada anak dapat memberikan kekebalan seumur hidup.000 anak menderita gizi buruk berat yaitu marasmus. 37 kasus kelompok umur 5-9 tahun.000 penduduk.64% gizi kurang dan 0. Penyakit tersebut memberikan kontribusi 75% kematian anak di Indonesia (Sampurno.5 juta di antaranya menderita gizi buruk.697 balita yang ditimbang didapatkan 84. dll. Komite Penanganan Kemiskinan (KPK) Pemerintah Propinsi Jawa Timur memprediksikan 50.7% (50.75% mengalami gizi baik. Permasalahan gizi buruk ini bila tidak dilakukan penanggulangan segera dapat mengakibatkan penurunan kualitas sumber daya manusia. Pemantauan rutin oleh pemerintah melalui Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi buruk yang dilaporkan dari Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit semakin meningkat.072 balita mengalami gizi buruk. Di antara penderita gizi buruk tersebut.000 penduduk dan antara 5-14 tahun 3. belum dilaporkan. Anak-anak yang sedang tumbuh umumnya mengalami lebih dari 100 macam infeksi sebelum dewasa. 1.658 orang. kwashiorkor dan marasmus-kwashiorkor (Sampurno. 2008). Angka kejadian campak di Jawa Timur berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur tahun 2006 terdapat 1548 kasus yang tersebar di tiga kabupaten dan kota yaitu. Berdasarkan Laporan Tahunan Dinas Kesehatan Kota Kediri. Penyakit infeksi yang banyak menimbulkan kematian di Indonesia adalah infeksi saluran nafas atas. Mikroorganisme patogen. termasuk virus. Angka kejadian penyakit infeksi di Indonesia masih tinggi dengan berbagai jenis penyakit infeksi yang telah dikenal.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 campak berdasarkan kelompok umur kurang dari 1 tahun 9 per 10. Berdasarkan survei tersebut.

frekuensi terkena penyakit infeksi. sedangkan kejadian campak pada anak adalah variabel dependen. sebelum dalam tiga terkena penyakit campak saat ini.Vol. Status gizi dan frekuensi kejadian infeksi pada anak adalah variabel independen. 2. Spesimen untuk pemeriksaan albumin serum diambil oleh peneliti pada saat kunjungan rumah. Variabel Status gizi Tabel 1. pada anak berstatus gizi kurang dan menderita penyakit infeksi lain secara bersama-sama. Menganalisis besarnya resiko terjadi gejala klinis campak pada anak usia 1-14 tahun. bulan terakhir Serangan penyakit campak pada Gejala klinis kuesioner anak yang ditunjukkan dengan penyakit gejala klinis penyakit campak campak Skala Data Nominal Frekuensi terkena penyakit infeksi Kejadian campak Nominal Nominal Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 90 . Menganalisis besarnya resiko terjadi gejala klinis campak pada anak usia 1-14 tahun. sedangkan populasi kontrol adalah semua anak usia 1-14 tahun yang tidak menderita campak dan berdomisili di Kota Kediri. sedangkan data tentang status gizi diambil dengan cara pemeriksaan antropometri pada waktu kunjungan rumah dan ditegakkan dengan pemeriksaan albumin di laboratorium.8 mg/dl (gizi lebih) Jumlah kejadian penyakit infeksi Kekerapan Kuesioner yang dialami anak dalam tiga terpapar ≥ 3X/3bl=sering bulan terakhir dan sudah infeksi lain < 3X/3bl=jarang dinyatakan sembuh. Definisi operasional dari masing-masing vaiabel ditampilkan pada Tabel 1. Sampel diambil dengan teknik consecutive sampling. Populasi kasus dalam penelitian ini adalah semua anak usia 1-14 tahun yang menderita campak dan berdomisili di Kota Kediri.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 1. Sampel kasus adalah anak usia 1-14 tahun yang menderita campak yang berdomisili di Kota Kediri dengan ibu yang bersedia diwawancarai dan anaknya boleh diperiksa. sedangkan sampel kontrol adalah anak usia 1-14 tahun yang tidak menderita campak yang berdomisisli di Kota Kediri dengan ibu yang bersedia diwawancarai dan anaknya boleh diperiksa.5–4. Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional Parameter Cara dan hasil pengukuran Kandungan gizi anak yang Pengukuran Brilian Cresyil Green ditunjukkan dengan kecukupan kadar albumin < 3. Mempelajari diagnosis kejadian gejala klinis campak pada anak usia 1-14 tahun. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian yang dilakukan di wilayah Dinas Kesehatan Kota Kediri pada tanggal 1 Januari 2008 sampai dengan 30 Juni 2008 ini menggunakan rancangan case control untuk mempelajari hubungan antara status gizi dan frekuensi terkena penyakit infeksi pada anak usia 1-14 tahun dengan kejadian campak. Menganalisis besarnya resiko terjadi gejala klinis campak pada anak usia 1-14 tahun.8 mg/dl (gizi baik) darah darah > 4. pada anak yang menderita penyakit infeksi lain 4.I No. Data tentang umur. pada anak berstatus gizi kurang 3. dan imunisasi campak diambil dengan cara menggunakan kuesioner pada saat kunjungan rumah oleh peneliti.3 mg/dl (gizi kurang) kadar albumin dalam serum dalam serum 3.

Vol. didapatkan IgM Rubela positif sebanyak 9 responden. yang menunjukkan bahwa 42 (100%) anak pernah menderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) pada tiga bulan Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 91 . Kadar Albumin Menurut Jenis Kelamin Anak yang Terserang Campak Frekuensi terjadinya infeksi pada anak yang menderita campak dan tidak menderita campak menurut jenis kelamin dan umur dapat dilihat pada Tabel 3. dan pengambilan serum darah untuk pemeriksaan IgM campak serta pemeriksaan protein albumin dalam serum darah. Kadar Albumin dan Frekuensi Kejadian Infeksi Status Responden Jenis Kelamin: Umur: Laki-laki Perempuan 1 – 5 tahun 6 – 10 tahun 11 – 14 tahun Baik Lebih < 3 X / 3 bulan ≥3 X / 3 bulan Campak n % 13 8 5 9 7 5 16 0 21 62 38 24 42 34 23. Selama 6 bulan dilakukan pengamatan terhadap 21 anak yang menderita campak dan 21 anak yang tidak menderita campak sebagai kontrol. Diskripsi Jenis Kelamin. Gambar 1 menampilkan kadar albumin lebih dan normal menurut jenis kelamin. umur. Tabel 2.8 76.2 25 17 5 17 20 10 32 22 20 Status gizi: Frekuensi infeksi: Hasil analisis deskriptif untuk jenis kelamin. Pada 21 serum darah responden.I No. Umur. A L B U M I N 10 8 6 4 2 0 Laki-laki Perempuan Lebih Normal Gambar 1. Dari tabel tersebut terlihat bahwa sebagian besar penderita campak adalah laki-laki (62%). Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium dari 21 serum darah responden dengan gejala klinis campak didapatkan hasil IgM campak negatif pada semua responden. Sebagian besar penderita campak (81%) mempunyai kadar albumin lebih.2 0 100 Tidak Campak n % Total 12 9 0 8 13 4 17 5 16 58 42 0 38 62 19 81 23. kadar albumin dan frekuensi kejadian infeksi dalam 3 bulan terakhir (Januari–Juni 2008) di Kota Kediri dapat dilihat pada Tabel 2.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Pengumpulan data dilakukan melalui pemeriksaan klinis penderita campak. maka peneliti mengadakan pemeriksaan laboratorium yang dilanjutkan pada pemeriksaan IgM Rubela. Karena gejala klinis penyakit campak ini menyerupai gejala klinis Rubela.8 76.

048 OR = 2. Pemeriksaan kadar albumin dalam serum darah ini dilakukan pada 21 responden sebagi kasus dan 21 responden sebagai kontrol. Besarnya resiko gejala klinis campak pada anak yang sering mengalami infeksi adalah dua kali lipat jika dibandingkan dengan anak yang tidak sering mendapatkan infeksi.2 % ) 37 ( 88. pemberian makanan dalam bentuk junk food baik di rumah maupun di sekolah. yaitu masa sekolah.213 95% CI = 1.599-3. Hasil uji chi square (Tabel 5) menunjukkan bahwa ada hubungan antara frekuensi kejadian infeksi dengan gejala klinis campak (p = 0. Hal ini menunjukkan bahwa status gizi anak tidak cukup mampu untuk melawan infeksi virus.048). Hubungan Antara Status Gizi Dengan Gejala Klinis Campak Status Gizi Campak Tidak Campak Total Baik 5 (23.Vol.0% ) 33 (78.2%) 17 (81. Hal ini menunjukkan bahwa status gizi pada 42 responden tersebut baik. dan kebutuhan tinggi kalori pada anak memicu tingginya kadar albumin serum (Muscari .312 Tabel 5. Tabel 4.00 OR = 0. Makanan tersebut banyak mengandung gula.345 Pembahasan Serum darah yang diambil. Hubungan Antara Frekuensi Kejadian Infeksi Dengan Kejadian Klinis Campak. Frekuensi Kejadian Penyakit Infeksi pada Anak 1–14 Jenis Kelamin Umur Laki-laki Perempuan 1 – 5 Th 6 – 10 Th 11–14 Th Ɖ n % n % n % n % n % 8 50 8 50 16 2 12 6 38 8 50 13 62 8 38 21 5 24 9 42 7 34 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 25 60 17 40 42 5 12 17 40 20 48 2 40 3 60 5 1 20 2 40 2 40 Ɖ 16 21 0 42 5 Hasil uji chi square (Tabel 4) menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara status gizi dengan gejala klinis campak (p = 1.171-3. Jenis Penyakit Diare TBC DHF ISPA Tonsilitis Tabel 3.2%) 9 (21. M.I No. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara status gizi dengan gejala klinis campak.753 95% CI = 0. lemak dan kolesterol.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 terakhir dan tidak ada (0%) responden yang menderita Dengue Hemoragie Fever (DHF).2001).4%) Lebih 16 (76.8%) 4 (19. Status Gizi Campak Tidak Campak Total Sering 21 ( 100% ) 16 ( 6.1% ) Tidak sering 0(0%) 5 (23. garam. Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan didapatkan hasil kadar protein serum dengan nilai normal dan protein serum lebih. Anak usia sekolah memiliki pola makan yang selalu ingin mencoba jenis makanan baru. Pertahanan tubuh terhadap infeksi virus memerlukan pertahanan yang Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 92 . selain dilakukan pemeriksaan IgM campak juga dilakukan pemeriksaan protein albumin untuk menilai status gizi anak.9%) total 21 (100%) 21 (100%) 42 (100%) P = 0. Tampak pula bahwa gejala klinis TBC pernah dialami oleh 21 (50%) responden.00).6%) total 21 (100%) 21 (100%) 42 (100%) P = 1.8% ) 5 (11. Keadaan ini dapat terjadi karena 80% responden berusia 6-14 tahun.

Perbaikan asupan tersebut memungkinkan kadar albumin darah menjadi normal. Penyakit infeksi akut dapat meningkatkan metabolisme dan konsumsi oksigen tubuh. sehingga banyak cadangan nitrogen dan lemak yang dikeluarkan selama terjadi infeksi. akumulasi zatzat mediator yang berasal dari protein plasma. C. yang berarti bahwa anak yang sering terkena penyakit infeksi akan lebih mudah terkena penyakit dengan gejala klinis campak. Kedua faktor tersebut akan terganggu oleh malnutrisi umum. Resiko kejadian campak pada anak yang sering terkena infeksi adalah dua kali lipat jika dibandingkan anak yang tidak sering mengalami infeksi. 1992). Protein yang disandikan oleh virus. Aldelberg’s. Respon ini merupakan reaksi yang sangat kompleks. Berdasarkan hal tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa cadangan nutrisi yang kurang dalam tubuh dapat berpengaruh negatif pada reaksi peradangan (Linder. 4) anak yang sering mengalami infeksi lain mempunyai resiko 2 kali lipat untuk terkena gejala klinis campak.1992). namun mekanisme katabolik terjadi lebih hebat. Hal ini terjadi karena anak yang tidak sering infeksi mempunyai cadangan nitrogen dan lemak yang lebih banyak. 2) perlu vaksinasi rubella Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 93 . Sel-sel hati dan limfoid secara cepat meningkatkan tingkat sintesis proteinnya yang diperlukan untuk mekanisme defensif tuan rumah dan mempercepat proliferasi sel-sel fagositik dan limfoid.Vol. Anak yang sering mengalami infeksi akan terjadi proses katabolisme yang lebih cepat. biasanya protein kapsid. Kekebalan terhadap infeksi virus didasarkan pada pembentukan respon imun terhadap antigen khusus yang terletak pada permukaan partikel virus atau sel yang terinfeksi oleh virus. Peningkatan anabolisme dan katabolisme terjadi secara simultan. sedangkan protein serum merupakan pertahan tubuh yang bersifat non spesifik. 2) tidak ada hubungan antara status gizi dengan gejala klinis campak. Pada infeksi virus akan terjadi infiltrasi sel berinti satu dan limfosit. Maria. Virus akan menimbulkan respon jaringan yang berbeda dari respon terhadap bakteri pathogen. maka diperlukan pemeriksaan laboratorium.I No. 3) ada hubungan antara frekuensi kejadian infeksi dengan gejala klinis campak. SIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian ditarik simpulan yaitu: 1) gejala klinis penyakit campak yang ditemukan. Imunitas humoral akan melindungi inang terhadap infeksi ulang oleh virus yang sama (Jawetz. Berdasarkan simpulan disarankan: 1) menegakkan diagnosis penyakit campak secara klinis saja belum cukup. 2001). Sel yang terinveksi oleh virus dapat menjadi lisis oleh limfosit T sitotoksik yang mengenali polipeptida-poipeptida virus pada permukaan sel. Kesanggupan tubuh untuk merespon reaksi radang tergantung dari pada ketersediaan energi yang dibutuhkan untuk meningkatkan metabolisme seluler dan mekanisme yang dibutuhkan untuk kehilangan panas. C. setelah dilakukan pemeriksaan laboratorum menunjukkan penyakit rubella. Keterbatasan pada penelitian ini adalah bahwa pengambilan darah pada responden dilakukan setelah fase penyembuhan sehingga asupan nutrisi responden sudah mulai membaik. Kesanggupan menghasilkan dan mempertahankan reaksi peradangan sangat penting dalam pertahanan tubuh. infiltrasi leukosit. Seseorang yang sering mengalami infeksi akan mengakibatkan cadangan nitrogen dan lemak akan semakin tipis (Linder. yang memerlukan perubahan-perubahan lokal dalam aliran darah. Melnick. merupakan sasaran dari respon imun. Maria.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 bersifat spesifik. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara frekuensi kejadian infeksi dengan gejala klinis campak.

Buku Pegangan Pediatri. 2006. 2002. Biokimia Harper. Jakarta : EGC Aritonang. 2007.Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan.. 1995. Stanley. Pengantar imunoasai dasar. Jakarta: Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Gizi Masyarakat Depkes RI. Pedoman Umum Gizi Seimbang. Penyakit Menular yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi. Jakarta: EGC Muscari. 2001.Press Murray. Maria C. Gizi Dalam Daur Kehidupan. 2008. 1992.inist.dinkesjatim.n.00html (Diakses 21 Pebruari 2008) Hunardja. Philadelpia. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Linder. K. Melnick. Tindakan Darurat Kesehatan Masyarakat pada Kejadian Luar Biasa.id/berita-detail. dan pencegahan penyakit infeksi pada anak. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Brown.html?news –id=124 Guyton.gov/pubmed/403498 (Diakses 21 Pebruari 2008) Chin. Pemantauan Pertumbuhan Balita Petunjuk Praktis Menilai Status Gizi dan Kesehatan. Yogyakarta: Kanisius Bres. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme.I No.0-314-7159. http://cat. Manual Pemberantasan Penyakit Menular .1997. New York. R E. Hayatee. Lembaga Perlindungan Anak Tanggapi Tingginya Balita Gizi Buruk. faktor-faktor yang mempengaruhi. Measles Virus Infection Causes Transient Depletion of Activated t Cells From Peripheral Circulation.Vol. 2004. 2007.Jakarta: Widya Medika Jawetz.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 pada anak. 1991.go. Jakarta: EGC Handojo.Press Markum. Jakarta: Ministry of Health Republic of Indonesia Arisman.1077.dinkesjatim.html?news-id=492 Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. Jakarta: UI. Jakarta: Direktorat Jendral PPM & PLP Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur.nchi.go. Robert. Demam Campak. Mikrobiologi Kedokteran. penanggulangan. Mary.h.redcross. Alderberg. DAFTAR PUSTAKA Ahmad.release/0. 2008.org/pres. http://www. diperlukan peningkatan pemahaman kepada orang tua tentang gejala klinis. Arthur.fr/?a modele=affi Che N& cpsidt: 1847461(Diakses 21 Pebruari 2008) Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 94 . MB.yankes.id/berita-detail. Interaction of Nutrition and Infection in Clinical Practice. Indonesia Health Profile.go. 4) perlu penyegaran bagi petugas di lapangan melalui pelatihan tentang pengkajian klinis campak. 2004. Advanced Pediatric Clinical Assessment. Petunjuk Pelaksanaan Undang-Undang Wabah. selain vaksinasi campak. Lippincolt Nanan R. http://www. 1999. C. Indro. Syafii.mlm. 1987. http://www. 2008. Jakarta: UI. 2003. Health Campaign to Protect Indonesian Children Succesfully Completed. 3) karena banyaknya penyakit infeksi pada anak. Ilmu Kesehatan Anak. James. 1991. 1996.id/html (Diakses 21 Pebruari 2008) Depkes RI. http://www. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. http://www. Jakarta : Infomedika Danendro. Surabaya : Airlangga University Press Hasan. Jakarta: Salemba Medika Lemesho. 2006.

Moersintowati . Ilmu Kesehatan Anak. A. B (dkk). Jakarta: Sagung Seto Nelson. 2006. 2002. Penyakit Infeksi Pada Anak. Jakarta: EGC Ranuh I. Jakarta: Universitas Indonesia Samik . Jakarta : EGC Notobroto.com/?p=40 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 95 . Basuki. 2007. Ilmu Kesehatan Anak. 1985. Wajah Kesehatan Indonesia. Penghitungan Besar Sampel dalam Materi Pelatihan Teknik Sampling dan Penghitungan Besar Sampel. Mikrobiologi Kedokteran. 1997.N. Hari. Hasan . Jakarta: EGC Sardjito. Jakarta: EGC Rusepno. 2005. 2007.Vol.Wahab. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Jakarta: Badan Penerbit Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia Rudolph . Buku Ajar Pediatri. dkk.G.I No.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Narendra. Jakarta: Binarupa Aksara Sampurno. 2006. 2003. http://strategic-manage. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Surabaya: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNAIR Rampengan dan Laurentz. Buku Ajar Pediatri. 1994.

This research aimed to find the content effect of dissolved substances in well water against Aedes Aegypti mosquito breeding in pre-adult period. Aedes aegypti menyukai penampungan air jernih dan terlindung dari sinar matahari langsung sebagai tempat perindukannya. Keywords : pupa. pot bunga. because this disease is always found along year. 1996). Surabaya is the one of endemic cities for dengue fever. ladang. Stadium pra dewasa (telur. turbidity. seperti tempat minum burung. Well water has been proved as the potential place for breeding of Aedes Aegypti mosquito. vektor Demam Berdarah Dengue (DBD) yang penting adalah nyamuk Aedes aegypti (vektor utama). dan sumur. The charactertistics of the well water are pH. Aedes aegypti lebih tertarik untuk Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 96 . Aedes albopictus dan Aedes scutellacis. turbidity. Air bersih yang ditampung oleh penduduk berasal dari berbagai sumber. that were given 15 Aedes Aegypti eggs each container and observed the growth of mosquitoes in pre-adult period and as control was used PDAM water. vektor utama adalah Aedes aegypti (Lawuyan S. Fe content and total dissolved substances *: Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya PENDAHULUAN Di Indonesia. the result of Anova analysis among endemic areas couldn’t find significant difference. Besides that composition of well water was checked in laboratory by using parameters such as pH. The research was done with water well sample collecting in 3 dengue fever endemic areas. pH. because well water still have micro bacteria and Micro organism with higher content than PDAM water that has been given chlorate. calcium content.I No. turbidity. Penampungan air seperti itu umumnya banyak dijumpai di rumah dan sekitarnya.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 PENGARUH KADAR ZAT-ZAT TERLARUT DI DALAM AIR BERSIH TERHADAP PERKEMBANGBIAKAN NYAMUK AEDES AEGYPTI PRA DEWASA Diah Titik Mutiarawati* ABSTRACT The existence of Aedes Aegypti in some area is the indicator of the Aedes Aegypti population in that area. Dalam daur hidup nyamuk diperlukan dua lingkungan yaitu air dan di luar air (darah atau udara). padahal peluang menjadi habitat Aedes aegypti cukup besar. in water well is predicted that may affect the growth and breeding Aedes Aegypti in pre-adult period. pelepah daun dan sumur. Pengendalian perindukan Aedes aegypti lebih dititikberatkan pada penutupan dan abatisasi bak mandi. Fe content and total dissolved substances againts Mosquito’s pupa growth.Vol. Demikian juga di Kota Surabaya. dan penguburan barang buangan di sekitar rumah yang dapat menampung air hujan. seperti air hujan. Meskipun sumur merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi sebagian besar penduduk. larva. calcium content. calcium content. The water well was put in 9 containers. Sedangkan penampungan air hujan belum mendapat perhatian. dan pupa) hidup di lingkungan air dan stadium dewasa di luar air. Fe content dan total dissolved substances. tetapi sumur juga perlu diwaspadai sebagai tempat perindukan vektor DBD.

I No. sedang dan berat. Selanjutnya dilakukan analisis deskriptif dan uji Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 97 .60 0.95 0.05 1. batas maksimal kandungan dalam air bersih adalah: pH: 6.90 346.8 0. Sebagai kontrol dipakai air PDAM Surabaya. kesadahan: 500 ppm dan Besi: 1. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Populasi penelitian pra eksperimental ini adalah air sumur gali dan sumur pompa di Kecamatan Tambaksari Surabaya. kesadahan.18 99.09 101.87 0.15 0 2.91 0 6.67 0 9. 15 10 10 7.66 325. Menurut Permenkes RI No 416/Menkes/Per/IX/1990.01 0 5.53 0. Kelurahan Tambaksari Kelompok III : Daerah dengan kasus demam berdarah sedang. kemudian dieramkan pada suhu kamar sampai hari ke 14. 15 2 2 7. Terdapat perbedaan bermakna mengenai jumlah pupa antara air sumur dengan kontrol.96 0 III. 15 8 8 7.5-9. Kelurahan Gading Kelompok II : Daerah dengan kasus demam berdarah rendah.58 0 II. Dari hasil pemeriksaan laboratorium. terutama yang terlindung dari sinar matahari (Anonim. Yoyo R dkk (2000) menyimpulkan bahwa air sumur adalah habitat terpenting bagi Aedes aegypti. 15 10 7 7. Pertumbuhan Nyamuk Pada Masing-Masing Sampel Air ∑ ∑ jentik ∑ pupa Kelompok TDS Kekeruhan Kesadahan Besi pemberian hari ke hari ke pH air sumur (ppm) (NTU) (ppm) (ppm) telur 3-4 12-14 1.96 0 Kontrol (PDAM) 15 4 0 Keterangan : Kelompok I : Daerah dengan kasus demam berdarah tinggi.29 561. 15 7 2 7. terbuka lebar.1.4.Vol. kandungan zat dalam air sumur pada daerah terpilih masih dalam batas yang diijinkan.09 109.72 0 8. Tabel 1.7.30 117. 15 8 5 7. 15 7 5 7. 15 11 2 7. TDS: 1500 ppm.02 105.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 meletakkan telur pada penampungan air yang berwarna gelap. 15 6 10 7. 1990).55 348.29 337. kekeruhan. Karakteristik air sumur antara lain pH. Sampel 9 sumur diambil secara simple random sampling dari daerah endemik ringan.84 340. Selanjutnya terjadi pertumbuhan nyamuk pra dewasa dalam bentuk pupa.94 0.0 ppm. kekeruhan: 25 NTU.21 121. Kelurahan Pacarkembang.49 241. kandungan Fe (besi) dan bahan terlarut (total dissolved) diduga bisa mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangbiakan larva Aedes aegypti. Hidayat C dkk (1997) dalam penelitiannya tentang pengaruh pH air perindukan terhadap perkembangbiakan Aedes aegypti melaporkan bahwa pada pH air perindukan 7. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Sembilan air sumur gali dan air PDAM masing-masing diberi 15 telur nyamuk. masing-masing 3 sumur dengan 3 perlakuan (rumus Federer). Rincian hasil penelitian disajikan pada Tabel 1.87 1.11 114.08 101.34 360. Lalu dilakukan pemeriksaan kimia terhadap air sumur serta pemberian telur nyamuk pada masing-masing sumur tersebut.91 300. lebih banyak didapati nyamuk daripada pH asam atau basa.14 118.56 0.92 0 3.

TDS.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 normalitas data (One-sample Kolmogorou-Smirnov test) yang ditampilkan pada Tabel 2.30 tidak berpengaruh terhadap jumlah pupa.3523 0. dengan signifikansi 0. kekeruhan dan kesadahan masing-masing 0. 416/Menkes/Per IX/1990 masih dalam batas yang diijinkan. bila dibandingkan dengan persyaratan air bersih Permenkes RI No.1356 351. dan tinggi di Kota Surabaya berkisar 241. Keberadaan ion logam Ca dan Mg dalam air diperlukan oleh larva untuk memperlancar metabolisme dalam tubuhnya (Murray. bila dibandingkan dengan persyaratan air bersih Permenkes RI No 416/Menkes/Per/IX/1990 masih dalam batas yang diijinkan. sedang.340.91 – 561.2787 0.30 yang bila dibandingkan dengan persyaratan air bersih Permenkes RI No 416/Menkes/Per/IX/1990 masih dalam batas yang diijinkan.92 ppm. sehingga sesuai dengan anggapan selama ini bahwa nyamuk Aedes aegypti suka berkembang biak pada air bersih (jernih. Hasil data di atas menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada tiap-tiap kelompok. 0. Kadar pH 7. dilakukan untuk semua parameter air sumur terhadap jumlah pupa pada hari ke 12-14. Pembahasan Air sumber daerah endemik DBD rendah. sedang dan tinggi di Kota Surabaya berkisar 0. dan berat.949 Uji regresi linier ganda dengan metode Enter. 5422 SD 3.6667 0. Kadar besi dalam air sumur daerah endemik DBD rendah. didapatkan tidak ada pengaruh kesadahan air sumur daerah endemik dengan jumlah pupa. Kekeruhan air sumur daerah endemik DBD rendah. 0. Kandungan zat terlarut (TDS) dalam air sumur daerah endemik DBD rendah.324.1300 8. 0. Karena nilai kekeruhan air sumur masih dalam batas yang diijinkan. dan tinggi di Kota Surabaya mempunyai nilai 0 ppm. Tidak ada pengaruh Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 98 . kekeruhan rendah).I No. Hal ini mungkin disebabkan oleh range pH terlalu sempit. mungkin zat besi baru diperlukan pada nyamuk Aedes Aegypti.5 (Hidayat.5496 Uji Normalitas Sig (2 tailed) 0. sedang dan tinggi di Kota Surabaya bila dibandingkan dengan persyaratan air bersih Permenkes RI No 416/Menkes/Per/XI/1990 masih dalam batas yang diijinkan.0835 86. Uji Anova dilakukan untuk melihat adanya perbedaan antar kelompok daerah endemik ringan. artinya H0 diterima atau tidak ada pengaruh kandungan air sumur terhadap jumlah pupa.29–1.239.34 NTU.969 0. 1999). Tabel 2. dan tinggi di Kota Surabaya mempunyai pH 7. Kalau dilihat data di atas maka keberadaan zat besi dalam air tidak berpengaruh terhadap jumlah pupa.857 dan 0. bila 416/Menkes/Per/IX/1990 masih dalam batas yang diijinkan.8078 7. Nilai signifikansi untuk jumlah pupa. Dari tabel tersebut terlihat bahwa data homogen (karena nilai SD tidak melebihi reratanya) dan semua data dinyatakan normal sehingga memenuhi syarat untuk uji regresi linier dan Anova. Analisis Deskriptif dan Uji Normalitas Data Uji Deskriptif ∑ pupa Kekeruhan pH Kesadahan Rerata 5.319.02–7. sedang. sehingga air sumur merupakan media yang baik untuk perkembangbiakan nyamuk dari segi pH. sedang. sedang. Uji regresi linier menyatakan tidak ada pengaruh kekeruhan air sumur terhadap jumlah pupa.0–7.Vol.220 TDS 110. Kisaran pH tersebut merupakan pH 6. pH.858 0.827.944 0. Kesadahan air sumur derah endemik DBD rendah.2194 0. 1997). Dari uji regresi linier ganda.02-7.

Hadi Suwasono. Martono. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Epidemiologi dan Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia saat ini. Demam Berdarah (Dengue) Pada Anak. 1988. No. 1997. Soegijanto. kadar besi dan kadar TDS air sumur daerah endemik DBD tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangbiakan Aedes aegypti pra dewasa. P2M. bila dibandingkan dengan air PDAM. misalnya ruang ber-AC. Saproto Rusmianto. 2001). 1969. Pengaruh pH Air Perindukan Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangbiakan Aedes aegypti Pra Dewasa. Dwiko Susapto dkk. 1985. Sumur Sebagai Habitat Yang Penting Untuk Perkembangbiakan Nyamuk Aedes aegypti.I No. 119. DAFTAR PUSTAKA Gionar YR. 1996. Din. 1999. Demam Berdarah Dengue di Kotamadya Surabaya. Masyarakat pengguna air sumur sebaiknya lebih berhati-hati karena resiko adanya telur dan jentik Aedes aegypti yang perkembangbiakannya lebih banyak di dalam air sumur. Pada bahan kontrol (air PDAM). Herm’s Medical Entomology. T and R. Soebari. Laporan Tahunan Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Lawuyan S.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 bermakna antara kandungan TDS dalam air sumur dengan jumlah pupa karena nilai TDS masih dalam batas yang diijinkan sebagai air bersih. Surabaya: Dinkes Dati Prop Jatim. Jakarta: EGC Notoatmodjo S. Selanjutnya disarankan agar diteliti tentang kandungan mikroorganisme di dalam air sumur dan menempatkan kontainer/toples di ruang bebas nyamuk. Seminar Sehari Demam Berdarah Dengue. Jakarta: Buletin Penelitian Kesehatan No. Surabaya: Airlangga University Press.Vol. Soedarto. kesadahan. 1999. meskipun pernyataan ini diperlukan penelitian lebih lanjut. tidak didapatkan pupa pada hari ke 12-14. 2001. Surabaya: Dinkes Kota Surabaya Sumarno. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 99 . Sixth The MacmillanCompany USA. Jakarta: UI Press Suroso T. 1989. 3th. Entomologi Medik. kekeruhan. Hal ini mungkin disebabkan air sumur tidak mengalami pengolahan seperti PDAM sehingga kandungan mikroba dan organisme renik lain yang relatif tinggi sebagai sumber makanan utama bagi jentik (Gionar. Ali Imran Umar. 2004. Penelitian Epidemiologi Demam Berdarah Ditinjau dari Sudut Bionomik Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus dan Sudut Lokasi Kontak antara Manusia dan Nyamuk di Daerah Perkotaan dan Pedesaan di Jawa Timur. Sub. Murray. Biokomia Harper. Cerminan Dunia Kedokteran. Surabaya: Tropical Desease Center Universitas Airlangga. James M. SIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian dapat ditarik simpulan bahwa pH. 2002. Air sumur terbukti merupakan habitat yang potensial untuk tempat perindukan Aedes aegypti. Ludfi Santoso. Surabaya: Lembaga Penelitian Universitas Airlangga. F Harwood. 2004. Demam Berdarah Dengue. hal ini disebabkan karena air PDAM sudah mengalami proses pengolahan hingga jumlah mikroorganisme dalam air tersebut sudah diminimalisir. FKUI. 29 Hidayat C.

Pembangunan perumahan juga tidak terlepas dari permasalahan lingkungan hidup. This research type is descriptive quantitative which is existence control to free variable. Target of research is know role of processor installation domestic wastewater in the effort improve. Analysis of data from various variation of time is done by using percentage and t test for which once indicator utilize to know there is do not it him difference between influent and effluent. TSS Oil and Fat. manfaat sumber daya alam secara keseluruhan.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 PERAN INSTALASI PENGOLAH AIR LIMBAH DOMESTIK UNTUK MEMPERBAIKI KUALITAS AIR LIMBAH Karno* ABSTRACT Role of installation processor domestic wastewater in the effect improve the quality of wastewater. tanah maupun udara serta penurunan mutu lingkungan hidup bila pengelolaannya tidak memperhitungkan atau memperhatikan aspek kesehatan dan pelestarian fungsi lingkungan hidup. ther no difference while the rate of BOD difference between effluent and influent. Data collected by taking sample wastewater at influent and effluent from processor instalation wastewater counted 12 intake during 1 month various variation of intake time. BOD. Pursuant to research is concluded that pH rate. Keywords : Instalation processor domestic wastewater.I No. while measurement of BOD. Pada kenyataannya yang dihadapi dalam pembangunan perumahan dengan berpedoman pada penataan lingkungan yang sehat masih sulit Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 100 . merehabilitasi kerusakan lingkungan. Oil and fat in laboratory. serasi dan teratur ”. Measurement of pH is conducted in field and in laboratory. aman. *: Prodi Kesehatan Lingkungan Madiun Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan lingkungan hidup bertujuan untuk meningkatkan mutu. repairing the quality of wastewater with indicator pH. Selain memperhatikan aspek kelestarian lingkungan hidup. quality of wastewater. Oil and fat. harus disertai upaya meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif termasuk dalam pembangunan perumahan dan permukiman. TSS. After compared to standart quality of domestic wastewater hence it still reside in below is standard quality. TSS.Vol. pembangunan perumahan haruslah memperhatikan hak-hak setiap orang untuk hidup sehat seperti yang telah diamanatkan pada Pasal 5 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman yang berbunyi: ”Setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan atau menikmati dan atau memiliki rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat. antara lain pencemaran air. Ini mengandung arti bahwa setiap aktivitas pembangunan apapun bentuknya. Data result of measurement of parameter at effluent is compared to standart quality of domestic wastewater. mengendalikan dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup.

Vol. BOD. minyak dan lemak. perlu dipikirkan untuk membangun sarana pengolah air limbah rumah tangga atau air limbah domestik secara kolektif di setiap perumahan. TSS. Dalam penelitian ini tidak dibuat rancangan sendiri karena instrumen yang diteliti yaitu instalasi pengolah air limbah domestik telah tersedia dilokasi penelitian yaitu Perumahan Tekad Makmur II Desa Joho Kecamatan Mojolaban Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah.00–13.00 WIB). TSS. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Keseluruhan hasil penelitian ditampilkan secara lengkap pada Tabel 1. Hal ini selaras dengan Pasal 8 Ayat (a) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 112 Tahun 2003 tentang Baku mutu air limbah domestik yang menyatakan bahwa setiap penanggung jawab usaha dan atau kegiatan permukiman (real estate) wajib melakukan pengolahan air limbah domestik sehingga mutu air limbah domestik yang dibuang ke lingkungan tidak melampaui baku mutu air limbah domestik yang telah ditetapkan. digunakan T test (sampel < 30 ). Atas dasar latar belakang tersebut. Untuk membuktikan hipotesis yaitu adanya perbedaan yang signifikan pada setiap variasi waktu. siang (jam 12.00 WIB) selama 12 kali pengambilan. minyak dan lemak yang diambil baik sebelum (influent) maupun setelah melalui IPAL (efluent) untuk diperiksa di laboratorium dengan rentang waktu pagi (jam 06.00–07. minyak dan lemak? Tujuan Penelitian Tujuan penelitian adalah mengetahui peran instalasi pengolah air limbah domestik dalam upaya memperbaiki kualitas air limbah dengan indikator pH. BOD. BOD. TSS. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 101 . Perumahan Tekad Makmur yang berlokasi di Desa Joho Kecamatan Mojolaban Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah merupakan salah satu perumahan yang memiliki instalasi pengolah air limbah domestik yang dihasilkan oleh rumah tangga dan telah dioperasikan.00–17. maka dilakukan penelitian tentang peran instalasi pengolah air limbah domestik dalam upaya memperbaiki kualitas air limbah dengan mengetahui perbedaan nilai indikator pH.I No. TSS. Rumusan Masalah Apakah instalasi pengolah air limbah domestik berperan dalam memperbaiki kualitas air limbah dengan mengetahui perubahan nilai indikator pH.00 WIB) dan sore (Jam 16. Semua hasil pengukuran terhadap parameter tersebut ditabulasi secara manual dan selanjutnya dikelompokkan dalam variasi waktu yang meliputi variasi harian dan mingguan. Sampel penelitian adalah air limbah domestik di instalasi pengolah air limbah domestik yang mencakup parameter pH.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 dilaksanakan dengan masih dibangunnya sarana pembuangan kotoran dan air limbah rumah tangga yang mengalir pada tanah dan mencemari air tanah dangkal melalui rembesan dari septic tank untuk menampung kotoran yang dibangun di setiap unit rumah. minyak dan lemak pada influent dan efluent-nya. BOD. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian observasional ini dilakukan melalui observasi terhadap faktor-faktor yang dijumpai dengan mengambil sampel tanpa berkesempatan untuk mengatur kondisi atau memanipulasi variabel-variabel yang mempengaruhi faktor-faktor yang dijumpainya. Untuk mengurangi pencemaran tanah dan air tanah oleh kotoran manusia.

8 55 7. Minyak & lemak = 10 mg/L Hasil dari uji hipotesis diuraikan sebagai berikut: 1.3 75 6.Neg LH No. Telah diketahui bahwa Total Suspended Solid atau padatan tersuspensi total merupakan zat padat dalam suspensi yang dalam keadaan tenang dapat mengendap setelah Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 102 .84 3. 3 = Sore. TSS = 100 mg/L .09 2. Hal ini mungkin terjadi karena air yang ada dalam air limbah domestik berfungsi sebagai cairan atau larutan penyangga (buffer) yang berperan sebagai penetral pH.18 55 6.16 7. Adanya perbedaan secara signifikan mengenai besaran nilai BOD pada influent dan efluent menunjukkan bahwa IPAL domestik berperan efektif dalam memperbaiki kualitas air limbah khususnya untuk parameter BOD.67 49.4 60 7. Tidak adanya perbedaan nilai TSS pada influent maupun efluent menandakan bahwa IPAL domestik tidak berperan dalam memperbaiki kualitas air limbah khususnya untuk parameter TSS.4 85 6.07 Keterangan : M & L = Minyak dan Lemak.50 3063.5 411. 3. BOD.18 30 6.62 45 7. BOD = 100 mg/L .22 2 25. Tidak ada perbedaan signifikan mengenai besaran nilai TSS pada influent maupun efluent.91 2 48.5 171. Minyak dan Lemak WAKTU NO Hari 1.76 7.5 50 7.18 65 7. Tidak ada perbedaan signifikan mengenai besaran nilai minyak dan lemak pada influent maupun efluent Tidak adanya perbedaan pH pada influent maupun efluent menunjukkan bahwa IPAL domestik tidak berperan dalam memperbaiki kualitas air limbah khususnya untuk parameter pH.96 5.Men.3 1 Rabu 1 2 Sabtu 2 3 Minggu 3 4 Rabu 2 5 Sabtu 3 6 Minggu 1 7 Rabu 3 8 Sabtu 1 9 Minggu 2 10 Rabu 1 11 Sabtu 2 12 Minggu 3 JUMLAH RATA-RATA PARAMETER INFLUENT M&L BOD TSS pH 5.93 6 207.29 255.3 55 7. Ketidak berhasilan IPAL dalam memperbaiki kualitas pH dapat membawa dampak negatif antara lain dapat mengganggu kehidupan ikan dan hewan air disekitarnya.33 10 393.98 4.27 5875 7.16 1.5 40 7.94 2 33. Kondisi ini penting karena proses dekomposisi bahan organik yang terkandung dalam air limbah domestik berlangsung secara terus menerus baik proses aerobik maupun an-aerobik. 2 = Siang. Tidak ada perbedaan signifikan mengenai besaran nilai pH pada influent maupun efluent.2.18 50 6.71 5.13 39 320. TSS.96 7 31.5 20.8 65 6.I No.4 20 7.12 60 6.5 29.4 70 6.3 50 7.07 590 84. Hasil Pengukuran pH.15 60 6.95 5 399. Selain itu air limbah yang mempunyai pH rendah bersifat korosif terhadap logam yang mengakibatkan karat.38 3 15.2 25 7.03 63.75 3.55 2 20. 2.5 16. 1 = Pagi.9 50 6.25 26.6 50 6.5 201.5 12.87 3 261.Vol.42 70 6. 112 Tahun 2003 ) pH = 6 – 9 .86 8 339.26 705 84.5 55 6. 4. Ada perbedaan signifikan mengenai besaran nilai BOD pada influent dan efluent.62 2 219.93 3 243 55 7. Baku mutu air limbah domestik (Kep.5 117.05 4.74 4 28.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Tabel 1.08 PARAMETER EFLUENT M&L BOD TSS pH 3 37.97 5.5 99.

PT. infeksi cacing tambang serta dampak sosial budaya misalnya rasa jijik). MCK Terpadu datang. melainkan akan mengapung di atas permukaan air.Vol. Padatan tersuspensi total akan mengurangi penetrasi sinar matahari ke dalam air. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan dari hasil penelitian adalah bahwa peran instalasi pengolah air limbah domestik dengan jauh lebih baik dalam memperbaki kualitas air limbah domestik khususnya dalam menurunkan parameter BOD. apartemen dan asrama yang masih menggunakan sistem septictank secara individual guna mengurangi dan mencegah pencemaran tanah dan air tanah yang makin meluas. Azrul Azwar. BOD. perniagaan. namun memerlukan waktu yang cukup lama (Wisnu Arya. TSS. 1987: 141). air dan udara) maupun lingkungan biotik (infeksi cacing gilig dari rumput yang terkena limbah tak terolah yang dimakan oleh ternak yang selanjutnya dikonsumsi oleh manusia. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. restaurant. baik pada lingkungan abiotik (polusi tanah. DAFTAR PUSTAKA Agus Gunardi. 2) Perlu adanya Peraturan Daerah tentang kewajiban mengolah air limbah domestik bagi usaha atau permukiman (real estate). Saran yang diajukan adalah: 1) Developer perumahan baru seyogyanya melengkapi Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) domestik rumah tangga di perumahan yang dibangun. Menurut Duncan Mara (1994) kondisi ini beresiko menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Minyak dan lemak tidak dapat larut di dalam air. Mutiara. Air limbah yang mengandung minyak dan lemak bila dibuang ke lingkungan seperti sungai akan mengapung menutupi permukaan air. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 103 .I No.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 waktu tertentu karena pengaruh gaya berat dan alat yang digunakan untuk analisanya adalah kerucut Im Hoff ( Sri Sumesti. 2001 : 135 ). minyak dan lemak. Hal ini dimungkinkan karena dari sifat minyak dan lemak yang sulit didekomposisi oleh mikro-organisme atau kalaupun dapat didekomposisi oleh mikroorganisme tentu memerlukan waktu yang cukup lama. Got Jorok Hilang. sehingga dapat mempengaruhi regenerasi oksigen secara fotosintesis (Pramudya Sunu. padahal parameter air limbah domestik sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 112 Tahun 2003 tentang Baku mutu air limbah domestik dan digunakan untuk mengetahui pengaruh kinerja instalasi pengolah air limbah domestik meliputi 4 (empat) parameter yaitu pH. 1999:82) Tampak dari hasil penelitian bahwa IPAL di Perumahan Tekad Makmur II Desa Joho Kecamatan Mojolaban Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah hanya berperan efektif untuk parameter BOD.1983. Minyak dan lemak dapat dijumpai dalam air limbah domestik yang berasal dari makanan. Lapisan minyak yang menutupi permukaan air dapat juga terdegradasi oleh mikro-organisme tertentu. perkantoran. Jakarta. Jakarta.Intisari Mediatama. 2001. Intisari Edisi Oktober 2001. Tidak adanya perbedaan nilai minyak dan lemak pada influent maupun efluent menunjukkan bahwa IPAL domestik tidak berperan dalam memperbaiki kualitas air limbah khususnya untuk parameter minyak dan lemak.

Surabaya.Direktorat Jenderal Cipta Karya. Duncan Mara. Rajawali.1994. Berlin.2000. Yogyakarta : Kanisius. Jakarta : Akademi Penilik Kesehatan Teknologi Sanitasi. Polusi Air dan Udara. WC Terpanjang di Dunia.2003.1992. Harian Umum Kompas 5 Mei 2004. Unpublished. Edmund G Wagner. Water Supply for Rural Areas and Small Communities.1992. Yogyakarta :Andi Offset. Hal 19. Metode Penelitian Air. Surabaya : Usaha Nasional. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 112 tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik. Geneva :WHO. Jakarta: Grasindo. Bandung: Penerbit ITB Bandung dan Penerbit Universitas Udayana. The World Conggress on Biotechnology 11 th International Biotechnology Symposium and Exhibition. 2001. 2002. Yogyakarta. Environmental Engeneering and Sanitation. Modul Tutorial Pendayagunaan Aset Prasarana dan Sarana Penyehatan Lingkungan Permukiman Bidang Air Limbah.Srikandi. Fardiaz .I No. Jakarta. Reksosoebroto. 1997. Pemanfaatan air limbah dan Ekskreta. 1959. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 104 . Melindungi Lingkungan Dengan Menerapkan ISO 1400. Dewats Indonesia. Metodologi Penelitian. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. 1982. Jakarta. Media Informasi Alumni Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Teknik Pengolahan Air Limbah Secara Biologis. Jakarta. 2000. Sri Sumesti. Soebagio. New York : Jhon Wiley and Sons. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Hygiene dan Sanitasi. Dampak Pencemaran Lingkungan. Sumardi Suryabrata. UI Press.Salvato. 1987. Wisnu Aria. Undang-undang Nomor 23 Tahun 997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Sungai di Jakarta. Sugiharto.Vol. Instalasi Pengolah Air Limbah Tepat Guna. Pramuda Sunu. Departemen Pekerjaan Umum. 1999. Biotechnology 2000 Vol 3 . Lusiana Indriasari. Jesus Cordova. 1987. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Bowo. Joseph A. DEWATS Indonesia.

It is proved that by using Man Whitney.05.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 EFEKTIFITAS METODE STIMULASI SATU JAM BERSAMA IBU TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK USIA 12-24 BULAN Siti Asiyah*. Balowerti. It this distributed to 80 people which is divided by 40 of treatment group and 40 of control group. before and after treatment. In order to solve the problem. Suwoyo* ABSTRACT A child is a next generation and as anexpectation of his/her parents.05). Kota Wilayah Selatan ( North and South city area).000>0.005 (p<0. this method was said no to effective for the mother and infant intimacy. the control group can achieve p=0. Pengaruh yang sangat besar dan sangat menentukan kepribadian anak kelak adalah ketika anak berusia di bawah enam tahun.001<0.05 and on the otherside. Masa ini merupakan peletakan pondasi dalam perkembangan anak karena pada saat itulah pembentukan kepribadian anak terjadi. Upaya itu harus dimulai sejak dini. The data was analyzed by descriptive and statistic method to differentiate between both group by using Wilcoxon Rank sum test with the significant average 0. Pesantren I. It meant that this methode was not effective for the intimacy. Keyword: an hour stimulation. Ini berarti Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 105 . They were development Pra Screening Questionnaire for the infant and also the observation sheet. Two instruments were adopted here. In the treatment group. But. 2001). This designed program was analyzed by using Probability Proportionate to Size and Simple Random Sampling. Oleh karena itu.05. development. The research was done in nine Public Health Center/ Puskesmas in Kediri East Java: Puskesmas Campurejo. The aim of this research is to identify the effectiveness of the method to infant age 12-24 months. they need to be prepared early and their parent also have an important role to realize their great quality expectation.020<0.c Nemar that the result was not significant achieve p=1.05. It can be sharn by M. Mrican.000>0. the Non Randomized Control Group pretest. effectiveness can active significantly 0. The results showed that there was a difference of the infant development before and after the method. by using Wilcoxon Signed Rank Test the range of scores was p=0.posttest design was conducted which is adapted from experimental quasi. dan orangtua mempunyai peranan yang amat penting dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas tersebut (Sholichin. Sukorame.05 and this also happened by using Fisher’s Exact Test that can only achieve p=1. infant *: Prodi Kebidanan Kediri Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Depkes Malang PENDAHULUAN Latar Belakang Anak merupakan generasi penerus bangsa dan menjadi tumpuan serta harapan orangtua. Because of its importance. mereka perlu dipersiapkan agar kelak menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu berperan aktif dalam pembangunan nasional. dkk. Koekoeh Hardjito*.I No.Vol. Kota Wilayah Utara. Pesantren II and Puskesmas Ngletih. The data was collected twice.

06%). penyimpangan tumbuh kembang 22 orang (0.5% di Taman Kanak-kanak. Tujuan Penelitian 1.9% di sekolah dasar (Susanti. baru sekitar 7. dari Kelompok Peduli Ibu dan generasi pada tahun 2004 dan 2005 di Pulau Jawa. Indonesia berada di peringkat 111 dari 175 negara.1 juta atau 28% anak yang mendapat pendidikan.1 juta anak yang ada di Indonesia. Mengidentifikasi perkembangan motorik. 2.60%) dari seluruh balita dan jumlah Posyandu 322 buah. Cara ini dapat dilakukan dengan mewajibkan setiap ibu yang memiliki anak balita untuk menyediakan waktu satu jam bersama dengan anak tanpa diganggu aktifitas lain.13% di kelompok bermain.01%). 0.410 orang. 2007). Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 106 . Berdasarkan studi pendahuluan di Dinas Kesehatan Kota Kediri tahun 2007. 2006). Cara ini paling murah dan efektif dalam mengoptimalkan dan meningkatkan perkembangan otak. 2007). maka tingkat pendidikan Indonesia di mata dunia berada di kasta terendah (Taufik.2007). Cara ini terbukti memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap perkembangan anak (Taufik. Jika anak tidak mendapatkan rangsangan sejak dini akan mempengaruhi kecerdasan anak. Keberhasilan pendidikan anak usia dini akan sangat berperan besar bagi keberhasilan anak di masa-masa selanjutnya (Yuliana. Human Development Indeks (HDI) atau tingkat pengembangan sumber daya manusia tahun 2004. bicara-bahasa dan sosialisasi-kemandirian anak usia 12-24 bulan pada kedua kelompok sesudah diberikan metode stimulasi satu jam bersama ibu.4% di Raudhatul Athfal. Anak yang sudah menjalani deteksi dini tumbuh kembang adalah 7952 orang (46%). terdiri atas 9. Mengidentifikasi perkembangan motorik. Mahalnya biaya pendidikan dan kemampuan ekonomi keluarga diduga menjadi faktor penyulit anak-anak untuk mendapatkan kesempatan belajar terutama untuk anak usia dini. dkk. Pendidikan pada usia dini akan sangat membekas hingga anak dewasa. Hasil analisis Tim Pendidikan Untuk Semua (Education for All) Indonesia tahun 2001 menyebutkan bahwa dari 26. diperoleh 86. dengan kelainan lingkar kepala 5 orang (0.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 bahwa lingkungan keluarga memegang peranan penting dan sangat menentukan kepribadian anak di kemudian hari (Sholichin. Berbagai terobosan telah dilakukan sebagai langkah peningkatan dan pencapaian target salah satunya adalah program PAUD berbasis keluarga (metode home schooling group). 2001). Karena kurang menggali potensi kecerdasan anak usia dini. bicara-bahasa dan sosialisasi-kemandirian anak usia 12-24 bulan pada kedua kelompok sebelum diberikan metode stimulasi satu jam bersama ibu.05% di tempat penitipan anak lainnya dan 9. Metode ini sangat membantu dalam menstimulasi otak anak untuk menghasilkan hormon yang diperlukan dalam perkembangan. jumlah balita usia 0-5 tahun di Kota Kediri adalah 17. Solusi lain untuk mengatasi masalah perkembangan anak adalah pemberian metode sentuhan ibu. dengan anak usia 0-2 tahun sebanyak 6895 orang (39.Vol.I No.27%) dan masalah mental emosional 1 orang (0. 2006). 0. 2005). 1.2% (Ma’ruf.6% terlayani di Bina Keluarga Balita. Persentase ini jauh lebih besar dibanding di daerah perkotaan yaitu 73.3% anak-anak prasekolah di pedesaan belum mengakses program pendidikan yang ada baik di jalur formal maupun jalur non formal. 6. Dari penelitian yang dilakukan Yuliana dkk. Sementara 73% atau sekitar 20.4 juta anak belum mendapatkan pendidikan untuk anak usia dini (Suryadi.

05. Jika anak mampu melakukan semua tugas perkembangan. stabilitas keluarga. Uji Mann-Whitney tentang homogenitas pendidikan ibu. Mayoritas ibu berumur 25-30 tahun (47. variabel tergantung adalah perkembangan motorik. Instrumen penelitian berupa KPSP untuk anak usia 12-24 bulan dari Depkes tahun 2006. Mayoritas ibu memiliki pendidikan SMP/SMA (75% pada kelompok perlakuan dan 80% pada kelompok kontrol).5% pada kelompok Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 107 . 18 bulan. menunjukkan nilai p=0. umur terbanyak adalah 12-14 bulan (45%). Skor 9-10 berarti anak memiliki perkembangan sesuai dengan usianya. lembar observasi. Analisis dilakukan dalam 2 langkah yaitu menggunakan metode statistik deskriptif dan metode statistik analitik (Wilcoxon Signed Ranks Test untuk menilai perbedaan perkembangan anak antara sebelum dan sesudah perlakuan pada kedua kelompok).I No. Pekerjaan ibu yang paling dominan adalah ibu rumah tangga (67. Sampel dipilih dengan teknik probability proportionate to size (PPS) yaitu simple random sampling. Menganalisis efektifitas metode stimulasi perkembangan satu jam bersama ibu terhadap perkembangan motorik.Vol. bicara-bahasa dan sosialisasi-kemandirian pada anak usia 12-24 bulan. 15 bulan. berarti pendidikan ibu balita homogen antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol. kuesioner. Untuk anak yang telah mampu melakukan satu tugas perkembangan sesuai aspek KPSP di beri skor 1 dan jika anak gagal diberi skor 0. umur anak terbanyak adalah sama (30%) masing-masing dari kelompok 12-14 bulan dan 18-20 bulan. sedangkan kelompok kontrol didominasi oleh perempuan (57. Pada kelompok perlakuan. sedangkan pada kelompok kontrol.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 3. dan 21 bulan. diberi skor 10. kepribadian orangtua. ada sembilan (9) wilayah Puskesmas di Kota Kediri yang dipakai sebagai PSU (Primary Sampling Unit). pendidikan orang tua. Pengukuran dilakukan dengan melakukan observasi langsung dan wawancara dengan ibu berdasarkan instrumen Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) dari Depkes tahun 2006 sebanyak 10 soal untuk masing-masing kelompok usia anak yakni usia 12 bulan. jumlah saudara. bicara-bahasa dan sosial-kemandirian anak usia 12-24 bulan dan variabel perancu berupa faktor keluarga dan adat istiadat: pekerjaan. Bahan penelitian adalah materi stimulasi perkembangan untuk anak usia 12-24 bulan. yang dibagi dalam dua kelompok. Dalam penelitian ini.5% pada kelompok perlakuan dan 82. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Pada kelompok perlakuan. skor 7-8 berarti perkembangan anak meragukan dan skor ≤ 6 berarti anak mengalami keterlambatan perkembangan. dengan besar sampel 80 orang. jenis kelamin anak terbanyak adalah laki-laki (60%).5%). Variabel bebas berupa metode stimulasi perkembangan 1 jam bersama ibu. BAHAN DAN METODE PENELITIAN PENELITIAN Penelitian kuasi eksperimen yang menerapkan non randomized control group pretespostest design ini menggunakan populasi yaitu ibu yang memiliki anak balita usia 12-24 bulan di sembilan wilayah Puskesmas Kota Kediri.5% pada kelompok perlakuan dan 40% pada kelompok kontrol).158 > 0.

18 bulan dan 21 bulan) secara berurutan disajikan pada Tabel 3 sampai dengan Tabel 6. yakni dari 58% sebelum perlakuan.05.5% anak memiliki perkembangan normal. Mayoritas anak pada kelompok kontrol juga memiliki perkembangan normal (57. perbedaan perkembangan anak berdasarkan aspek perkembangan pada masing-masing kelompok usia (12 bulan. sebagian besar responden memiliki keluarga yang stabil. Tabel 4 menunjukkan bahwa pada kelompok usia 15-18 bulan. Tabel 5 menunjukkan bahwa pada kelompok usia 18-21 bulan. 15 bulan. Hasil uji homogenitas dengan Mann-Whitney juga menunjukkan bahwa kedua kelompok penelitian ini homogen dengan nilai p=0.Vol.197 > 0. berarti jumlah anak yang dimiliki oleh ibu pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan adalah homogen. Perkembangan Anak Sebelum Perlakuan Perkembangan Anak Keterlambatan Meragukan Normal Jumlah Kelompok perlakuan Frekuensi % 6 15. peningkatan perkembangan tertinggi terjadi pada aspek motorik halus. Sebagian besar ibu memiliki 1-2 anak yaitu 87. peningkatan perkembangan tertinggi terjadi pada aspek bicara dan bahasa. Tabel 1.5 37 92. menjadi 100% sesudah Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 108 .05. yakni dari 8% sebelum perlakuan.05. Tabel 3 menunjukan bahwa pada kelompok usia 12-15 bulan.5 23 57. Hasil penelitian tentang perkembangan anak sebelum dan sesudah perlakuan dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2.0 11 27. Tetapi pada kedua kelompok kepribadian ibu yang dominan adalah kepribadian terbuka. peningkatan perkembangan tertinggi terjadi pada aspek sosialisasi dan kemandirian anak.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 kontrol).0 1 2. Hasil Fisher’s Exact Test. Pada kedua kelompok.5%).5% dibandingkan dengan ibu pada kelompok kontrol. berarti kedua kelompok memiliki kestabilan keluarga yang homogen. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p=1.5% pada kelompok perlakuan dan 85% pada kelompok kontrol. menjadi 100% sesudah perlakuan (meningkat 17%). berarti kepribadian ibu pada kedua kelompok tersebut adalah homogen.000>0.0 11 27.05.927>0. yakni dari 83% sebelum perlakuan. Hasil Fisher’s Exact Test menunjukkan nilai p=0.0 23 57.5 40 100 Tabel 2.5 40 100 Sesudah Perlakuan Frekuensi % 2 5.5 23 57. menjadi 92% sesudah perlakuan (meningkat 84%). Perbedaan Perkembangan Anak Antara Sebelum dan Sesudah Perlakuan Perkembangan Anak Keterlambatan Meragukan Normal Jumlah Sebelum perlakuan Frekuensi % 6 15.5 10 25. Pada kelompok perlakuan ibu yang memiliki kepribadian terbuka lebih banyak 2. berarti jenis pekerjaan pada kedua kelompok penelitian adalah homogen. menunjukkan nilai p=1. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p=0.675> 0.I No. Dari Tabel 1 terlihat bahwa pada kelompok perlakuan terdapat 57.5 40 100 Kelompok Kontrol Frekuensi % 7 17.05.5 40 100 Pada kelompok perlakuan.000>0.

Perbedaan Perkembangan Anak Kelompok Usia 15 Bulan Antara Sebelum dan Sesudah Perlakuan pada Setiap Aspek Perkembangan Kategori Aspek Perkembangan Anak Motorik kasar Motorik halus Bicara dan bahasa Sosial & kemandirian Sebelum (Usia 15 bulan) Frekuensi % 4 67 % 5 83 % 5 83 % 4 67 % Sesudah ( Usia 18 bulan) Frekuensi % 5 83 % 5 83 % 6 100 % 5 83 % Tabel 5.Perbedaan Perkembangan Anak Kelompok Usia 21 Bulan Antara Sebelum dan Sesudah Perlakuan pada Setiap Aspek Perkembangan Kategori Aspek Perkembangan Anak Motorik kasar Motorik halus Bicara dan bahasa Sosial & kemandirian Sebelum (Usia 21 bulan) Frekuensi % 9 90 % 9 90 % 8 80 % 10 100 % Sesudah ( Usia 24 bulan) Frekuensi % 10 100 % 6 60 % 9 90 % 8 80 Kemajuan pencapaian skor ibu dalam menerapkan metode stimulasi perkembangan satu jam bersama ibu berdasarkan observasi ditampilkan pada Gambar 1. Sedangkan Tabel 6 menunjukkan bahwa pada kelompok usia 2124 bulan. menjadi 100% sesudah perlakuan (meningkat 10%). Tabel 3.Perbedaan Perkembangan Anak Kelompok Usia 12 Bulan Antara Sebelum dan Sesudah Perlakuan pada Setiap Aspek Perkembangan Kategori Aspek Perkembangan Anak Motorik kasar Motorik halus Bicara dan bahasa Sosial & kemandirian Sebelum (Usia 12 bulan) Frekuensi % 9 75 % 1 8% 4 33 % 10 83 % Sesudah ( Usia 15 bulan) Frekuensi % 10 83 % 11 92 % 12 100 % 12 100 % Tabel 4.Vol. Dari gambar tersebut terlihat bahwa para ibu telah mampu menerapkan metode stimulasi satu jam 50% pada minggu ke 7 atau setelah observasi ke 3 oleh peneliti.Perbedaan Perkembangan Anak Kelompok Usia 18 Bulan Antara Sebelum dan Sesudah Perlakuan pada Setiap Aspek Perkembangan Kategori Aspek Perkembangan Anak Motorik kasar Motorik halus Bicara dan bahasa Sosial & kemandirian Sebelum (Usia 18 bulan) Frekuensi % 10 83 % 8 67 % 11 92 % 7 58 % Sesudah ( Usia 21 bulan) Frekuensi % 12 100 % 12 100 % 12 100 % 12 100 % Tabel 6. peningkatan perkembangan tertinggi terjadi pada aspek motorik kasar. para ibu rata-rata Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 109 . yakni dari 90% sebelum perlakuan. Di akhir pengamatan.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 perlakuan (meningkat 42%).I No.

Perbedaan Perkembangan Kelompok Kontrol Antara Sebelum dan Sesudah Penelitian Kategori Perkembangan Anak Keterlambatan Meragukan Normal Jumlah Sebelum Frekuensi 7 10 23 40 % 17. Tabel 7. menunjukkan nilai p=0. 15 bulan.5 100 Sesudah Frekuensi % 1 2.I No.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 telah mampu ≥ 75%.020< 0. Tabel 8 menunjukkan bahwa pada kelompok usia 12-15 bulan. Misalnya pada awal penelitian ada 7 anak yang mengalami keterlambatan. kecuali responden nomer 27 & 34 yang sejak awal pengamatan memiliki skor yang rendah.Vol. perbedaan perkembangan anak berdasarkan aspek perkembangan pada masing-masing kelompok usia (12 bulan. yakni dari 11% menjadi 89% (meningkat 78%). perbedaan perkembangan secara umum disajikan pada Tabel 7 yang memperlihatkan adanya perubahan perkembangan anak pada kelompok kontrol. yakni dari 40% menjadi 70% (meningkat 30%).5 25. Tabel 9 menunjukkan bahwa pada kelompok usia 15-18 bulan. tetapi sesudah tiga bulan berkurang tinggal 1 anak.05 yang berarti ada perbedaan perkembangan antara sebelum dan sesudah penelitian pada kelompok kontrol. 18 bulan dan 21 bulan) secara berurutan disajikan pada Tabel 8 sampai dengan Tabel 11. peningkatan perkembangan tertinggi terjadi pada aspek motorik halus. Perubahan Skor Penerapan Metode Stimulasi Satu Jam Bersama Ibu di Wilayah Puskesmas Kota Kediri Pada kelompok kontrol.0 40 100 Untuk kelompok kontrol.5 26 65.5 13 32. Perubahan Perilaku Ibu Dalam Menerapkan Metode Stimulasi Satu Jam 20 15 10 5 0 0 Minggu 1 10 Minggu 3 20 Responden30 Minggu 5 Minggu 7 40 Minggu 9 50 Minggu 12 Gambar 1. Wilcoxon Signed Ranks test. peningkatan perkembangan tertinggi terjadi pada aspek motorik kasar.0 57. Tabel 10 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 110 .

Vol.I No.2 April 2010

ISSN: 2086-3098

menunjukkan bahwa pada kelompok usia 18-21 bulan, peningkatan perkembangan tertinggi terjadi pada aspek motorik halus, yakni dari 33% menjadi 83% (meningkat 50%). Di awal penelitian, pada aspek motorik halus dari 6 anak, hanya 2 anak yang lulus perkembangan 100% dan setelah 3 bulan menjadi 5 anak. Sedangkan Tabel 11 menunjukkan bahwa pada kelompok usia 21-24 bulan, tidak terjadi peningkatan perkembangan pada setiap aspek.
Tabel 8. Perbedaan Perkembangan Anak Kelompok Kontrol Kelompok Usia 12 Bulan Antara Sebelum dan Sesudah Penelitian pada Setiap Aspek Perkembangan Kategori Aspek Perkembangan Anak Motorik kasar Motorik halus Bicara dan bahasa Sosial & kemandirian Sebelum (Usia 12 bulan) Frekuensi % 11 61 % 2 11 % 8 44 % 13 72 % Sesudah ( Usia 15 bulan) Frekuensi % 4 22 % 16 89 % 18 100 % 17 94 %

Tabel 9. Perbedaan Perkembangan Anak Kelompok Kontrol Kelompok Usia 15 Bulan Antara Sebelum dan Sesudah Penelitian pada Setiap Aspek Perkembangan Kategori Aspek Perkembangan Anak Motorik kasar Motorik halus Bicara dan bahasa Sosial & kemandirian Sebelum (Usia 15 bulan) Frekuensi % 4 40 % 5 50 % 10 100 % 9 90 % Sesudah ( Usia 18 bulan) Frekuensi % 7 70 % 5 50 % 10 100 % 10 100 %

Tabel 10. Perbedaan Perkembangan Anak Kelompok Kontrol Kelompok Usia 18 Bulan Antara Sebelum dan Sesudah Penelitian pada Setiap Aspek Perkembangan Kategori Aspek Perkembangan Anak Motorik kasar Motorik halus Bicara dan bahasa Sosial & kemandirian Sebelum (Usia 18 bulan) Frekuensi % 5 83 % 2 33 % 5 83 % 6 100 % Sesudah ( Usia 21 bulan) Frekuensi % 5 83 % 5 83 % 6 100 % 4 67 %

Tabel 11. Perbedaan Perkembangan Anak Kelompok Kontrol Kelompok Usia 21 Bulan Antara Sebelum dan Sesudah Penelitian pada Setiap Aspek Perkembangan Kategori Aspek Perkembangan Anak Motorik kasar Motorik halus Bicara dan bahasa Sosial & kemandirian Sebelum (Usia 21 bulan) Frekuensi % 5 83 % 4 67 % 4 67 % 6 100 % Sesudah ( Usia 24 bulan) Frekuensi % 5 83 % 4 67 % 4 67 % 6 100 %

Efektifitas Metode Stimulasi Perkembangan Satu Jam Bersama Ibu untuk meningkatkan perkembangan anak disajikan pada Tabel 12. Setelah 3 bulan diterapkan metode stimulasi perkembangan satu jam bersama ibu dan dilakukan pengukuran perkembangan ulang

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

111

Vol.I No.2 April 2010

ISSN: 2086-3098

terhadap kedua kelompok, dapat dilihat bahwa pada kedua kelompok terjadi perbedaan peningkatan jumlah anak yang memiliki perkembangan normal. Pada kelompok perlakuan lebih tinggi yaitu 92,5% jika dibandingkan dengan kelompok kontrol yaitu 65%. Mann-Whitney Test menunjukkan nilai p=0,005<0,05, berarti metode stimulasi perkembangan satu jam bersama ibu terbukti efektif untuk meningkatkan perkembangan anak usia 12-24 bulan.
Tabel 12. Perbedaan Perkembangan Anak Setelah Diberi Simulasi Satu Jam Bersama Ibu Antara Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol Kategori Perkembangan Anak Keterlambatan Meragukan Normal Jumlah Kelompok perlakuan Frekuensi % 2 5,0 1 2,5 37 92,5 40 100 Kelompok Kontrol Frekuensi % 1 2,5 13 32,5 26 65,0 40 100

Pembahasan Pada kedua kelompok, terjadi perbedaan perkembangan anak antara sebelum dan sesudah diberikan metode stimulasi perkembangan. Pada masa anak-anak, bermain merupakan unsur yang penting untuk perkembangan anak baik fisik, emosi, mental, intelektual, kreativitas maupun sosial. Bagi anak-anak, bermain merupakan seluruh aktifitasnya termasuk bekerja, untuk kesenangan dan merupakan metode bagaimana mereka mengenal dunia (Soetjiningsih,2002). Pemberian metode stimulasi satu jam bersama ibu memberikan hasil yang bermakna dilihat dari perubahan perkembangan yang terjadi antara sebelum dan sesudah perlakuan. Intervensi yang diberikan kepada ibu-ibu dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan dengan pemantauan yang intensif dari peneliti. Melalui metode ini, ibu diharuskan meluangkan waktu untuk bisa bersama-sama dengan anak dan tidak terganggu dengan aktifitas yang lain. Meskipun singkat, metode tersebut betul-betul diisi dengan kegiatan yang berpengaruh banyak terhadap perkembangan anak. Faktor terpenting dalam mengoptimalkan perkembangan anak adalah kualitas perhatian dari orangtua kepada anaknya. Mencintai dan mengasuh anak dengan penuh kasih sayang sangat berperan untuk mengembangkan intelegensia anak secara optimal (Kusnandi, 2008). Nilai p=0,005< 0,05 pada uji Mann-Whitney, menandakan adanya perbedaan perkembangan anak secara bermakna antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol. Berarti, metode stimulasi perkembangan satu jam bersama ibu terbukti efektif untuk meningkatkan perkembangan anak usia 12-24 bulan. Walaupun pada kedua kelompok menunjukkan hasil yang sama-sama bermakna, akan tetapi metode stimulasi perkembangan satu jam lebih efektif dibanding pendekatan stimulasi perkembangan yang ditunjukkan pada kelompok kontrol. Mengapa demikian? Metode ini tidak membutuhkan waktu yang banyak karena setiap hari ibu hanya perlu menyiapkan waktu satu jam bersama anaknya untuk memberikan stimulasi. Metode stimulasi perkembangan satu jam bersama ibu juga merupakan metode yang murah. Dalam metode ini, ibu dapat mempergunakan alat permainan yang sederhana dan benda-benda yang ada di sekitar anak. Ibu juga dapat menanamkan nilai-nilai

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

112

Vol.I No.2 April 2010

ISSN: 2086-3098

luhur yang dianut, yang kelak akan sangat berguna bagi kelangsungan hidup anak (Puspita, 2007). Selain murah, metode ini juga bersifat fleksibel. Artinya, pemberian stimulasi dapat disesuaikan dengan kesibukan ibu dengan tetap menyesuaikan dengan kebutuhan anak. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan dari penelitian ini adalah: 1) ada perbedaan perkembangan antara sebelum dan sesudah pemberian metode stimulasi perkembangan satu jam bersama ibu pada anak usia 12-24, 2) metode stimulasi perkembangan satu jam bersama ibu lebih efektif untuk meningkatkan perkembangan anak usia 12-24 bulan. Berdasarkan simpulan penelitian, saran yang diajukan antara lain: 1) anak perlu mendapatkan stimulasi perkembangan yang memadai melalui sentuhan ibu, kepedulian para kader, serta petugas kesehatan karena masa lima tahun pertama perkembangan bagi seorang anak merupakan masa yang kritis, 2) metode stimulasi perkembangan satu jam bersama ibu dapat dipilih sebagai alternatif untuk memberikan stimulasi kepada anak di samping cara-cara yang sudah ada, misalnya melalui Bina Keluarga Balita. DAFTAR PUSTAKA Budiarto, Eko. 2002. Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC Depkes RI. 2005. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta: Direktorat Jendral Bina kesehatan Masyarakat Depkes RI Depkes RI. 2006. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta: Direktorat Jendral Bina kesehatan Masyarakat Depkes RI Herdjoko, SU. 2007. 16 Juta Anak Tidak Punya Akses ke Pendidikan. Harian Umum Sore Sinar Harapan No. 5511 Sabtu, 27 Januari Mc Cartney, K& Dearing, E, (Ed).2002. Child Development. Mc Millan Refference USA Notobroto, Basuki Hari. 2007. ”Penghitungan Besar sampel” Dalam Materi Pelatihan Teknik Sampling dan Penghitungan Besar Sampel. Surabaya: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNAIR Purnomo, Windhu. 2002. Handout & bahan Kuliah Statistika Dan Statistika Manajemen. Tidak dipublikasikan Rusmil, Kusnandi. 2008. Pertumbuhan dan Perkembangan anak. http://www.aqilaputri.rachdian.com. Akses 21 Juli 2008. Setyaningsih, T (dkk).2005. Pengaruh Pelatihan BKB terhadap Perkembangan Anak 0-1 tahun.dalam Jurnal Kesehatan Vol 3 No. 2 November 2005. Malang: Poltekkes Malang Soedjatmiko, 2006. Pentingnya stimulasi dini untuk merangsang perkembangan bayi dan balita. Sari pediatri, Vol.8, no.3, Desember 2006.www.IDAI.or.id. Soetjiningsih. 1998. Tumbuh Kembang Anak.Jakarta: EGC Sholichin, Juni Ichsan, Ieda Purnomo Sigit Sidi, Anindita K. Budiman, 2001. Pola Asuh Yang mendukung perkembangan anak. Jakarta: Direktorat kesehatan Jiwa masyarakat, Direktorat jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, Depkes RI

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

113

J. Laporan Analisis Sistemik penyelenggaraan Homeschooling di Jawa Timur. Pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini Masih Rendah. Jurnalnet.republika.id UNESCO.co.wordpress. 2007. Surabaya: Balai pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BPPLSP) Regional IV Yuliana. Laporan Review Kebijakan: Pendidikan dan Perawatan Anak Usia Dini di Indonesia. 2005.I No. Pendidikan Anak Usia Dini. M.2007.T. http://www. 2002. Jumat 11 Pebruari 2008 Sutcliffe. Ibuku Guruku (Metode Home Schooling Group. Baby Bonding. Jakarta: Taramedia & Restu Agung Taufik. http://baitijannati. Republika Onlinehttp://www. Widya (dkk). Surabaya: Airlangga University Press Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 114 .Pikiran rakyat Cyber Media. Metodologi Penelitian.com 20/7/2007 diakses 4 januari 2008 Susanti.com/2007/05/23/ibuku-gurukumetode-home-schooling-group-alternatif-model-pendidikan-anak-usia-dini/ akses 4 Pebruari 2008 Zainuddin.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Surana. 2007.republika.id/koran Suryadi. 2005. Meningkatkan Kecerdasan Anak balita dengan Cepat dan Pasti. 2000. 2007. 2006. Jakarta: Dirjen pendidikan Luar Sekolah dan pemuda Depdiknas Puspita. membentuk Ikatan Batin dengan Bayi. Alternatif model PendidikanAnakUsiaDini).Vol. Home Schoolling Bagi Anak Usia Dini.co.

waktu dan suhu penyimpanan harus diperhatikan. Metode pengolahan data yang digunakan adalah uji ANOVA. dan materi organik yang dapat menjadi media bagi pertumbuhan bakteri. Mengingat alasan jarak. Jika hal ini tidak mungkin.80C. Secara ideal spesimen kultur harus sudah sampai di laboratorium dan diproses dalam waktu 2 jam setelah pengambilan.8ºC. 2000 semua spesimen harus sudah sampai di laboratorium dalam waktu 1 jam setelah pengambilan. Penelitian eksperimental komparatif ini menggunakan sampel spesimen yang diambil dari penderita perempuan berusia 25–50 tahun dan belum mendapat pengobatan. spesimen harus disimpan di lemari es (20C-80C) segera setelah pengambilan. sesuai dengan SOP in Microbiology Dir Lab Kes Dep Kes RI 2000 bahwa semua spesimen urin harus sudah diproses kurang dari 2 jam setelah pengambilan atau disimpan pada suhu 20C-80C selama maksimum 18 jam. sehingga Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 115 . dengan nilai signifikansi < 0. Kata kunci: urin kultur. sehingga waktu dan suhu penyimpanan dapat mempengaruhi pertumbuhan bakteri. 2003). Penelitian dilakukan di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya pada bulan Juli sampai dengan Agustus 2009.Vol.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 PENGARUH PENYIMPANAN URIN KULTUR PADA SUHU 2ºC . atau disimpan dalam suhu 40C untuk dapat dikirim ke laboratorium dan diproses tidak lebih dari 18 jam (Vandepitte. secara teoritis akan mengalami perubahan dalam pertumbuhan. Jika sampel yang dikirim serta diproses melebihi 24 jam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyimpanan urin kultur pada suhu 20 C-80 C selama lebih dari 24 jam.8ºC SELAMA LEBIH DARI 24 JAM TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Dwi Krihariyani* ABSTRAK Salah satu penegakan diagnosis infeksi saluran kemih adalah pemeriksaan urin kultur. Hal ini tentu tidak sesuai dengan prosedur dasar laboratorium yang menyarankan waktu pengiriman sampel hingga proses tidak lebih dari 18 jam setelah pengambilan (Dir Lab Kes Dep Kes RI. terutama Infeksi Saluran Kemih (ISK). Hingga kini tak semua laboratorium dapat memberikan pelayanan kultur karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki oleh laboratorium tersebut. tidak sedikit sampel yang dirujuk ke laboratorium membutuhkan melebihi 24 jam. Hal yang perlu diperhatikan saat mengirim ke laboratorium rujukan adalah waktu penyimpanan spesimen. Pada pemeriksaan urin kultur. Adapun menurut SOP in Microbiology Dir Lab Kes Dep Kes RI.05. pertumbuhan bakteri *: Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya PENDAHULUAN Laboratorium berperan penting dalam penegakan diagnosis dan infeksi. Urin mengandung sisa metabolisme. 2000). Selanjutnya harus sudah diproses di laboratorium dalam waktu 18 jam. garam terlarut. sehingga diperlukan laboratorium rujukan untuk kultur. dengan salah satu pemeriksaan yaitu biakan atau kultur. Pengaruh tersebut dapat dilihat dari adanya kenaikan jumlah bakteri yang signifikan antara perlakuan spesimen yang diproses kurang dari 2 jam dan setelah penyimpanan 24 jam pada suhu 20C .I No. Hasil analisis menunjukkan adanya pengaruh lama penyimpanan urin kultur pada suhu 2ºC. waktu penyimpanan.

000 d 105.000 d 2.000 b 2. Pada masing-masing kelompok diamati dan dihitung jumlah bakteri yang tumbuh.000 a Perlakuan (jam) II = 24 III = 48 2. Urin dikelompokkan menjadi 4 perlakuan berdasarkan waktu dan suhu penyimpanan.000c 3.000 d 9. dengan penyajian berbentuk tabel frekuensi.000 c 12. Urin porsi tengah diambil oleh penderita. diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam.00 hingga bangun tidur) dan bila tak dapat.135. Berdasarkan hal tersebut.I No. Metode statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan pertumbuhan bakteri pada 6 spesimen dari masing-masing kelompok perlakuan.Vol.000 a 37. Pada kelompok II.427. Hasil Pengamatan Pertumbuhan Bakteri pada 4 Kelompok dengan 6 Kali Replikasi Spesimen urin A B C D E F Total I <2 540. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil penelitian mengenai pertumbuhan bakteri disajikan pada Tabel 1. Pada kelompok I. Prosedur yang direkomendasikan menggunakan ose metal atau plastik yang dikalibrasi untuk menanam 1 l (1 mata ose/sengkelit) urin ke medium CLED. Penghitungan koloni menggunakan teknik yang umum dilakukan yaitu loop (ose) yang dikalibrasi (volume ose adalah 1/1000 ml). urin < 2 jam setelah pengambilan diinokulasi mengunakan ose standard (1 l) pada media CLED. urin disimpan pada suhu 2ºC-8ºC selama 24 jam diinokulasi pada media CLED.025.225.000b 2. Pada Kelompok III (c) Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 116 .120.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 proses pemeriksaan dikhawatirkan mengalami kegagalan. Diperlukan 6 replikasi pada masing-masing perlakuan.000 a 750.000 b 3. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian eksperimental komparatif ini bertujuan membandingkan pengaruh perlakuan penyimpanan spesimen terhadap pertumbuhan bakteri.000 d 1. diambil 2 jam setelah BAK terakhir. Pemeriksaan dilakukan di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya.000 c IV = 72 1.000a 850.650.520.000 c 2. suhu penyimpanan 2ºC-8º C selama 48 jam dan 72 jam.400.000 d Pada Kelompok I (a) terjadi pertumbuhan bakteri.265. lalu diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam. Untuk Kelompok III dan IV. Selanjutnya dilakukan uji Anova untuk mengetahui adanya signifikansi perbedaan.850.000 a 600.000 d 1. yang sebelumnya telah diberi penjelasan agar didapatkan spesimen yang baik. diperlukan penelitian yang mampu menjelaskan pengaruh penyimpanan terhadap tingkat pertumbuhan bakteri pada pemeriksaan urin kultur.000 c 140.000.000 b 2.400.000 b 150.450.000 a 3.745.000 b 3. Disarankan spesimen diambil pada pagi hari (tidak buang air kecil/BAK pada jam 22.000 c 2. Tabel 1.000 b 13.000 c 2.000 a 650. terjadi peningkatan jumlah bakteri secara signifikan dibandingkan dengan Kelompok I.900. Pada Kelompok II (b).400.700.955.000d 2. Sampel penelitian adalah spesimen urin penderita perempuan berusia 25–50 tahun dan belum mendapat pengobatan.735.

Untuk mengetahui kelompok amatan yang berbeda.862 1. pada spesimen urin kultur sebagian besar bakteri penyebab infeksi saluran kemih adalah bakteri enterik.289.410. 48 jam dan 72 jam) terhadap pertumbuhan bakteri.017.05. berskala interval atau rasio dan bervarians homogen.553.166. Selain nutrisi. Lain halnya untuk spesimen urin kultur. Suhu dapat mempengaruhi metabolisme bakteri. Penyimpanan kurang dari 2 jam berbeda dengan penyimpanan 48 jam.473 Uji Anova menunjukkan nilai p=0. maka bakteri dapat tumbuh dan berkembang.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 terjadi peningkatan jumlah bakteri secara signifikan dibandingkan dengan Kelompok II.167 2. sehingga disimpulkan terdistribusi normal. namun pada penyimpanan 72 jam mengalami penurunan.541 806.929. maka bila ada sedikit saja bakteri di dalam urin. Untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan urin kultur (< 2 jam.159. sehingga disimpulkan data memiliki varians homogen. Ketiga asumsi telah terpenuhi sehingga uji Anova dapat dilakukan. Pada Kelompok IV (d) terjadi penurunan jumlah bakteri secara signifikan dibandingkan dengan Kelompok III (setelah pengambilan dalam waktu 48 jam pada suhu 20 C . Bahan-bahan yang terkandung di dalam urin tersebut menjadi nutrisi atau media bagi pertumbuhan bakteri.013 atau < 0. Bakteri yang tumbuh pada media CLED dapat dibedakan antara bakteri pemfermentasi laktose dan Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 117 . Penyimpanan kurang dari 2 jam berbeda dengan penyimpanan 24 jam 2.368 atau >0.499 untuk lama penyimpanan. garam terlarut dan bahan organik (nitrat). protein. yaitu bakteri yang mempunyai suhu optimum 30ºC-37ºC dan suhu minimum 5ºC-10ºC. semakin cepat pertumbuhan bakteri. Kedua nilai p tersebut > 0. Hasil Kolmogrov-Smirnov Test menunjukkan p=0.I No.167 Simpangan Baku 283. Nilai Rerata dan Simpangan Baku dari 4 Perlakuan (Lama Penyimpanan) Lama penyimpanan kurang dari 2 jam 24 jam 48 jam 72 jam Rerata 571.05. Media CLED adalah media untuk mendeteksi adanya bakteri dalam urin kultur.67 2. 24 jam.863 1.05. Semakin cepat metabolisme. sehingga Ho ditolak. Post Hoc Test mendapatkan hasil sebagai berikut: 1.624. dilakukan uji perbandingan berganda dengan LSD untuk mencari perbedaan terkecil. Bakteri mempunyai suhu optimum (suhu inkubasi) untuk pertumbuhannya. Pembahasan Pemeriksaan urin kultur adalah salah satu diagnosa untuk menentukan infeksi saluran kemih dan pemberian jenis antibiotik yang sesuai. yang menunjukkan bahwa pada penyimpanan 24 jam dan 48 jam terjadi peningkatan pertumbuhan bakteri. Tabel 2. pertumbuhan bakteri juga dipengaruhi oleh suhu. maka data dianalisis dengan uji Anova dengan memperhatikan beberapa asumsi yaitu data berdistribusi normal.688 untuk pertumbuhan bakteri dan p=0.077.80 C ). yaitu suhu yang memungkinkan bakteri tumbuh dengan cepat dan optimum. Deskripsi rerata dan simpangan baku untuk tiap kelompok tertera pada Tabel 2. Di dalam urin terkandung banyak sisa metabolisme.Vol.167 1. Bakteri enterik termasuk kelompok bakteri mesofil.138. artinya ada perbedaan pertumbuhan bakteri menurut perlakuan yang diberikan. Hasil Levene’s Test menunjukkan nilai p=0.

E dan F) memiliki jumlah bakteri >100. Peningkatan jumlah bakteri juga terjadi pada Kelompok III.kalbe.id. maka bakteri pemfermentasi laktose memberi warna kuning. 18 Juni 2009 Anonim 2. Hal ini sesuai dengan Standard Operational Procedure (SOP). penyimpanan spesimen urin kultur pada suhu 2ºC-8ºC selama 24 jam dapat memberikan hasil diagnosa yang sangat berbeda dengan spesimen urin kultur yang diproses kurang dari 2 jam setelah pengambilan spesimen.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 non pemfermentasi. Anonim 1. fourteenth edition.. diperoleh hasil: 5 penderita (spesimen A.Gerald. Malang JICA Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 118 .wordpress. terdapat peningkatan jumlah bakteri yang sangat signifikan (>100. DAFTAR PUSTAKA Adelberg.000 atau lebih/ml urin dapat menentukan adanya infeksi saluran kemih. dari 6 spesimen urin yang telah disimpan pada suhu 2ºC-8ºC selama 24 jam dan diinokulasikan pada media CLED.000 koloni/ml). 2000 yang menyatakan bahwa adanya jumlah bakteri 100. Dengan adanya indikator brom thymol blue pada media CLED. www. Hal ini terjadi sesuai dengan kurva pertumbuhan bakteri yaitu apabila satu bakteri diinokulasikan pada suatu medium.000 koloni/ml. Simmons Anthony 1996. Mikrobiologi.Vol. Dapat dikatakan bahwa peningkatan jumlah bakteri ini terjadi hampir 4 kali lipat daripada Kelompok I. Dengan demikian.000 koloni/ml. pengantar-tentang-bakteri. Jawetz. Jumlah bakteri yang tumbuh pada spesimen urin kultur dapat menentukan adanya infeksi saluran kemih. Collee J. terdapat satu spesimen urin kultur dengan kode C yang diinokulasi pada media CLED kurang dari 2 jam setelah pengambilan dan didapatkan jumlah pertumbuhan bakteri sebesar 37.Definitions and Classifications. Medical Microbiology. sehingga akan terjadi penurunan jumlah bakteri dan akhirnya terjadi kematian dari bakteri itu. Makckie & McCartney Practical Medical Microbiology.. pada Kelompok I dari 6 (enam) spesimen urin yang diinokulasikan pada media CLED kurang dari 2 jam. Cattel WR. Melnick .In Infectionsof The Kidney and Urinary Tract. Marmion Berrie P. 2008 Anonim 3 Mikro-organisme penyebab Infeksi Saluran Kemih. 1996. B.I No. New York Edinburgh London Madrid Melbourne San Fransisco and Tokyo..filzahazny. D.000 koloni/ml urin dan 1 penderita (spesimen C) memiliki jumlah bakteri <100. Hal ini sesuai dengan signifikasi pembuktian (uji Anova) menunjukkan adanya perbedaan lama penyimpanan urin kultur pada suhu 2ºC-8ºC. Berdasarkan hasil penelitian di atas. yang kemudian akan berhenti karena nutrisi sudah tidak memadai. maka bakteri akan memperbanyak diri dengan kecepatan yang konstan pada waktu tertentu. Jakarta penerbit Buku Kedokteran EGC.000 koloni/ml. Penilaian hasil pemeriksaan urine. Dalam penelitian ini. Darkuni. Noviar 2001. Pada Kelompok IV terjadi penurunan jumlah bakteri. Sedangkan jumlah bakteri pada perlakuan setelah penyimpanan pada suhu 2ºC-8ºC selama 24 jam dapat menunjukkan adanya infeksi saluran kemih. edisi 23. Urinary Tract Infections.Ed by Cattel.Fraser Andrew G.Oxford University Press.2008. Jumlah bakteri (37.000 koloni/ml urin) pada perlakuan kurang dari 2 jam setelah pengambilan tidak menunjukkan adanya infeksi saluran kemih. Setelah diperlakukan dengan penyimpanan pada suhu 2ºC-8ºC selama 24 jam didapatkan jumlah pertumbuhan bakteri sebesar 140. Pada Kelompok II.co.com.WR.

Melnick & Adelberg. Mikrobiologi Umum.1990 . Arthur G.Verhaegen. Jeneng 1998. Beckman CRB. Oriputra D. Schlegel. Clinical Manual of Obstetrics. Ziegler Riechard. 2009.1994. Johnson. Aryani A.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 G. Petunujuk Praktikum Mikrobiologi. Medical Microbiology.I No. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. New Gupte Satish. Mikrobiologi dan Imunologi.Vol. 2003. penerbit PT Gramedia. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jawetz.. Mikrobiologi Kedokteran Untuk Laboratorium dan Klinik. Mohammad Hoesin Palembang. Malang. Lukasewycz Omelan. Urinary Tract Infection. Fauzi A 2008. Utami Sri. Hawley Louise . Jakarta.Seri ringkasan. Second edition Standard Operating Procedures in Microbiology. www. Fitzgerald Thomas J.S.kalbe. Universitas Negeri Malang. Jakarta penerbit Binarupa Aksara.. 2008 .2000. Hans dengan bantuan Karin Schmidt.1994. Engbaek K. Jakarta . MD. Saifuddin AB. Jakarta Shaver DC. edisi ketiga. Pengantar Mikrobiologi.id . Infeksi saluran kemih. Gerard Bonang. edisi keenam. Yogyakarta penerbit Gajah Mada University Press. Female. Jakarta penerbit Binarupa Aksara. Davis S. Ling FW.C.co.1993. 2001. University of Chicago J. Edisi kedua. Hastuti. Heuck C. Geneva World Health Organization. MD. Piot P. edisi 23. 2005. Howes.Koeswardono 1982. Phelan ST.Vandepitte and J. Enggar S. Mikrokrobiologi Dasar.2008. Faktor Risiko Infeksi Saluran Kemih Pada Pertolongan Persalinan Spontan di R. Direktorat Laboratorium Kesehatan Departemen Kesehatan RI Tarigan. Rohner P.. Basic Laboratory Procedures in Clinical Bacteriology. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 119 .

500.000 kasus baru di Indonesia dengan sekitar 262. perbaikan sanitasi rumah menjadi satu cara untuk memutus mata rantai penularan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan sanitasi rumah semua (100%) dalam kategori kurang. Obyek penelitian deskriptif ini adalah 7 rumah penderita TB Paru dan menggunakan data primer yaitu pengukuran keadaan fisik rumah.57%. setiap tahun ada 583. Sepanjang dasawarsa terakhir pada abad XX. sedangkan tingkat pendapatan < Rp.71% dan antara Rp. yaitu 95% kasus terjadi di negara sedang berkembang dan Indonesia menduduki peringkat ke-3 penyumbang kasus TB terbanyak di dunia. Penelitian ini dilakukan di Desa Banjarejo Kecamatan Panekan mengenai keadaan sanitasi rumah seluruh penderita penderita TB Paru BTA positif sebanyak 7 penderita.000. WHO memperkirakan. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit menular berbasis lingkungan dengan salah satu sebab yaitu sanitasi rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan dan rumah ini dapat menjadi mata rantai penularannya.. TB Paru. Penyakit TB Paru menyerang sebagian besar kelompok usia produktif. Selain pengobatan secara rutin.sebanyak 85. observasi.000 dalam bentuk aktif yang dapat menular kepada orang lain serta sekitar 140.I No.. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 120 . Gambaran TB telah ada sejak lama. 200.000.Rp.29% dan kurang sebanyak 28. setelah India dan China. tingkat pengetahuan dengan kriteria baik 57. sehingga menjadi program prioritas pemerintah melalui strategi DOTS untuk pemberantasannya. tingkat pendidikan sebagian besar tamat SD (57.Vol. Kesimpulan penelitian adalah ada keterkaitan antara pendidikan. Di dalam Piramida Mesir Kuno juga ditemukan gambar relief manusia bongkok yang kemungkinan menderita TB tulang belakang atau gibbus pada spondilitis TB.14%). sedang 14. tingkat pengetahuan dan tingkat pendapatan dengan keadaan sanitasi rumah. 200.sebanyak 14. wawancara dengan menggunakan kuesioner dan data sekunder dari puskesmas dan kantor desa. 14 Maret 2002 ).. *: Prodi Kesehatan Lingkungan Madiun Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya PENDAHULUAN Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang sudah sangat tua dan bahkan mungkin lebih tua daripada sejarah manusia. dan keadaan sanitasi rumah berperan dalam hal penularan penyakit TB Paru..2 April 2010 ISSN: 2086-3098 STUDI TENTANG KEADAAN SANITASI RUMAH PENDERITA TB PARU DI DESA BANJAREJO KECAMATAN PANEKAN KABUPATEN MAGETAN *Karno ABSTRAK Penyakit Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dengan penularan melalui udara yang terpercik dahak penderita sewaktu batuk maupun bersin. jumlah kasus baru TB meningkat di seluruh dunia.29%.14%. Kata kunci : Sanitasi rumah.000 orang meninggal setiap tahun (Harian Umum Kompas. Ditemukan pula kuman TB pada sebagian mumi Mesir dan sebagian fosil dinosaurus.000. misalnya dalam salah satu tokoh cerita The Hunchback of Notre Dame yang terkenal karya sastrawan besar Vector Hugo.

71 7 100 Luas Ventilasi 1 14.71 7 100 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 121 .29 6 85.29 6 85.Vol. Rumusan Masalah. Rumah yang sehat akan mendukung kelangsungan hidup serta kenyamanan dan keamanan bagi penghuninya. Tabel 2 dan Tabel 3. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Keadaan Sanitasi Rumah Data keadaan sanitasi rumah terdiri atas hasil pengukuran keadaan fisik rumah.6 7 m x 11 m 5 54 51 17 1 7 m x 11 m 6 50 53 18 12 7 m x 11 m 7 40 50 17 0 4mx6m No 1 2 3 4 Tabel 2. informasi dan menjadi bahan pertimbangan dan masukan dalam upaya pemberantasan TB Paru. yang masingmasing ditampilkan pada Tabel 1. Lingkungan. Tabel 1. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian deskriptif lapangan ini bertujuan memperoleh gambaran keadaan sanitasi rumah dan penderita TB Paru dari total populasi yaitu seluruh rumah dan penderita TB Paru di Desa Banjarejo Kecamatan Panekan Kabupaten Magetan sebanyak 7 rumah. pencahayan. suhu dan kelembaban serta kepadatan penghuni) dan gambaran penderita TB Paru meliputi tingkat pendidikan. pengetahuan dan pendapatan. Persentase Persyaratan Rumah Penderita TB Paru di Desa Banjarejo Keadaan fisik Memenuhi Syarat Tidak memenuhi syarat Jumlah rumah Jumlah % Jumlah % Jumlah % Pencahayaan 0 0 7 100 7 100 Kelembaban 7 100 0 0 7 100 Suhu (< 18º C) 1 14. dan hasil penilaian keadaan sanitasi rumah. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah wawasan.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Program Pemberantasan penyakit TB Paru saat ini menggunakan strategi pengobatan DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse ) yang direkomendasikan oleh WHO yang selanjutnya berkembang dengan pembentukan GERDUNAS-TB (Gerakan Terpadu Nasional Tuberkulosis). Hasil Pengukuran Keadaan Fisik Rumah Penderita TB Paru di Desa Banjarejo No Pencahayaan (Lux) Kelembaban (%) Suhu (ºC) Luas Ventilasi (m²) Luas Lantai (m²) 1 37 60 15 0 5mx6m 2 58 58 16 2 5mx7m 3 34 56 16 0 4mx6m 4 59 55 17 0.I No. khususnya perumahan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penyebaran penyakit TB Paru secara epidemiologi selain agent dan penjamu (host). namun sebaliknya rumah yang tidak memenuhi syarat dapat berperan dalam penularan berbagai penyakit menular berbasis lingkungan termasuk TB Paru. persentase persyaratan fisik rumah. Tujuan dan Manfaat Penelitian Rumusan masalah penelitian adalah: ”Bagaimana keadaan sanitasi rumah penderita TB Paru di Desa Banjarejo Kecamatan Panekan Kabupaten Magetan ?” Sedangkan tujuan penelitian adalah menilai keadaan sanitasi rumah (ventilasi.

29 5 Tamat Perguruan Tingi 0 0.29 Kurang 2 28. diketahui bahwa keadaan sanitasi rumah penderita TB Paru di Desa Banjarejo Kecamatan Panekan Kabupaten Magetan semua dalam kategori kurang. Distribusi Jumlah Jiwa Dalam Rumah Penderita TB Paru di Desa Banjarejo Nomor Jumlah Jiwa Dalam Rumah Penderita TB Bukan Penderita TB 1 5 1 4 2 6 1 5 3 5 1 4 4 7 1 6 5 3 1 2 6 6 1 5 7 5 1 4 Jumlah 37 7 30 Tabel 6. Nomor 1 2 3 Tabel 4.14 46 – 61 tahun 1 14.29 4 Tamat SMA 1 14.29 62 – 77 tahun 2 28. Distribusi Golongan Umur Penderita TB Paru di Desa Banjarejo Golongan Umur Jumlah Persentase 30 – 45 tahun 4 57. pekerjaan dan pendapatan) disajikan pada Tabel 4 sampai dengan Tabel 9.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Tabel 3.14 Sedang 1 14. Keadaan Sanitasi Rumah Jumlah Persentase ( % ) Baik 0 0 Sedang 0 0 Kurang 7 100 Jumlah 7 100 Berdasarkan data di atas. Distribusi Tingkat Pendidikan Penderita TB Paru di Desa Banjarejo Nomor Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase 1 Tidak Sekolah 1 14. pengetahuan.14 3 Tamat SMP 1 14. Karakteristik Penderita TB Paru Karakteristik penderita TB Paru (umur.00 Tabel 5. Distribusi Tingkat Pengetahuan Penderita TB Paru di Desa Banjarejo Pengetahuan Jumlah Persentase Baik 4 57. pendidikan.57 Jumlah 7 100 Nomor 1 2 3 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 122 .00 Jumlah 7 100.00 Tabel 7. jumlah jiwa.Vol.29 2 Tamat SD 4 57.I No. Hasil Penilaian Keadaan Sanitasi Rumah Penderita TB Paru di Desa Banjarejo.57 Jumlah 7 100.

Keadaan tersebut mungkin tidak perlu terjadi jika sanitasi terjaga kualitasnya. Jelaslah bahwa keadaan sanitasi rumah maupun karakteristik penderita TB Paru di Desa Banjarejo berada dalam kondisi beresiko. Distribusi Pekerjaan Penderita TB Paru di Desa Banjarejo Pekerjaan Jumlah Persentase Tani 6 85.keatas 0 0 JUMLAH 7 100 Nomor 1 2 3 Tampak bahwa sebagian besar penderita TB Paru berada pada golongan umur 30-45 tahun.000. 3) kepadatan hunian ruang tidur. 500.Rp. jumlah jiwa di dalam rumah cukup banyak.476 kali dibandingkan balita yang memiliki luas ventilasi memnuhi standar kesehatan (lebih besar atau sama dengan 10% dari luas lantai rumah). Berkaitan dengan hal tersebut APHA dan Winslow telah memaparkan bahwa salah satu persyaratan dari rumah sehat adalah dapat mencegah terjadinya penularan penyakit dan kecelakaan. Ketiga. Pentingnya rumah yang sehat ini juga dikemukakan oleh pemerintah melalui Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan yang isinya antara lain mencakup: 1) pencahayaan (seluruh ruangan minimal intensitasnya 60 lux dan tidak menyilaukan).Vol.000..000 1 14.000.6 85.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 No 1 2 Tabel 8. bekerja sebagai petani dan memiliki pendapatan < Rp. Penelitian tentang faktor resiko terhadap kejadian penyakit TB Paru telah dilakukan oleh Suhardi dkk. kecuali anak di bawah umur 5 tahun dan 4) kualitas udara (di dalam rumah tidak boleh melebihi ketentuan yaitu: untuk suhu udara nyaman berkisar 18º–30 ºC sedang kelembaban udara berkisar antara 40%–70%). minimal 8 meter persegi dan tidak dianjurkan lebih dari 2 orang tidur dalam satu ruang tidur. 200. di samping faktor resiko lainnya. Kedua. Keempat.000. resiko terkenanya penyakit TB paru pada balita yang memiliki luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan (lebih kecil dari 10% luas lantai rumah) adalah 15. 2) ventilasi alamiah yang permanen minimal 10% dari luas lantai. berpendidikan SD. resiko terjadinya TB paru pada balita yang rumahnya lembab adalah 18 (dibulatkan) kali dibandingkan dengan balita yang rumahnya tidak lembab. Kelima.8 kali dibandingkan balita yang memiliki suhu ruangan rumahnya memenuhi syarat kesehatan.14 kali lebih besar dibandingkan dengan balita yang tidak menempati rumah padat penghui. karenan menurut WHO.29 JUMLAH 7 100 Tabel 9. memiliki tingkat pengetahuan yang baik.71 Wiraswasta 1 14.71 Rp. (2006) di Salatiga menunjukkan bahwa sebagian besar faktor resiko terjadinya penyakit TB Paru adalah berasal dari keadaan sanitasi rumah.I No. resiko terjadinya TB paru pada balita yang menempati rumah padat penghuni (pebih besar atau sama dengan 9 meter persegi per orang) adalah 42.perbulan. resiko terjadinya TB paru pada Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 123 . Secara lengkap kesimpulan penelitian mereka adalah sebagai berikut: Pertama. resiko terkenanya penyakit TB paru pada balita yang memiliki suhu ruangan rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu 9. 500...29 Rp. Distribusi Pendapatan Penderita TB Paru di Desa Banjarejo Pendapatan Jumlah Persentase < Rp. 200.. 200. sesungguhnya penularan TB dapat dicegah dengan mempraktekkan pola hidup sehat termasuk menjaga lingkungan dan sanitasi rumah.

resiko terjadinya TB paru pada balita yang di rumahnya ada penderita TB yang lain adalah sebesar 49. Kompas 28 Maret 2010.id/risbinkes Tabloid ” Senior ”. jumlah jiwa di dalam rumah cukup banyak. Pengawasan Penyehatan Lingkungan Permukiman. berpendidikan SD. Direktorat Jenderal PPM dan PLP Depkes RI. Jakarta : Depkes RI Indrarto Wikan.. pemantauan dan penyuluhan secara rutin tentang sanitasi rumah kepada penderita TB Paru dan anggota keluarganya secara lebih intensif sehingga tujuan program pemberantasan TB paru dengan Strategi DOTS dapat berhasil dan rumah tidak menjadi tempat mata rantai penularan penyakit ini.perbulan. Bandung. Kedelapan. Windarsih DW. Hubungan Faktor Resiko Kondisi Rumah Terhadap Kejadian TB Paru Pada Balita Di Wilayah Kota Salatiga Tahun 2006. Sanropie. Kesembilan. Harian Umum Kompas 14 Maret 2002 . Nomor 558/ 26 Maret – 1 April 2010. 2001. ventilasi dan pemasangan genteng kaca agar pencahayaan alami dari sinar matahari masuk secara maksimal.667 kali lebih besar dibandingkan dengan balita yang mempunyai status gizi lebih baik di masa lampau. Hari Tuberkulosis Sedunia ”Salah Kaprah Tuberkuilosis Anak”. 200.go. Nuryadani SA dan Triana AA. SIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian ditarik simpulan sebagai berikut: keadaan sanitasi penderita TB Paru seluruhnya berada dalam kategori kurang. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 829 /Menkes/ SK/VII/ 1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan.198 kali lebih besar dibandingkan balita yang mendapatkan ASI eksklusif. http://www.762 kali dibandingkan dengan balita yang rumahnya tidak ada penderita TB yang lain.Vol. Harian Umum Kompas 24 Maret 2010 Hal 14. resiko terjadinya penyakit TB pada baita yang tidak memperoleh imunisasi BCG yaitu 16. 1994. 2010. Jakarta: Depkes RI. 2) Penderita TB Paru selain berobat secara tepat dan teratur diharapkan juga lebih memperhatikan masalah sanitasi rumah khususnya masalah jendela. Ketujuh. resiko terjadinya penyakit TB paru pada balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif adalah 9. Suhardi. 2002. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 124 . 2010. Gerdu TB Perlu Revitalisasi dan Komitmen Politik. UGM Press. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Gaya Hidup Sehat Nomor 137/22-28 Februari 2002.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 anak yang rumahnya tidak cukup pencahayaan adalah 4 kali dibandingkan dengan balita yang cukup pencahayaan.litbang. Karakteristik penderita TB Paru adalah: sebagian besar berada pada golongan umur 30-45 tahun. Djasio.depkes. Slamet Juli Soemirat. Kesehatan Lingkungan.I No.000. TB bisa disembuhkan.673 kali dibandingkan balita yang memperoleh imunisasi BCG. bekerja sebagai petani dan memiliki pendapatan kurang dari Rp. Hal 31. Keenam. Tabloid “ Gaya Hidup Sehat. resiko terjadinya TB paru pada balita yang mempunyai status gizi kurang pada masa lampau adalah 11. TB bisa dicegah. Pedoman Nasional Penanggulangan TBC. 1989. memiliki tingakat pengetahuan yang baik. Saran yang diajukan adalah: 1) institusi kesehatan baik dinas kesehatan maupun puskesmas diharapkan melakukan pengawasan. Aditama Candrayoga.

Analisis menggunakan uji Wilcoxon pada α 5%. Diharapkan dari penelitian ini. Sampel penelitian sebanyak 22 remaja putri yang diambil secara purposif. Masa preadolescence pada wanita terjadi pada usia 11–13 tahun. Siti Asiyah* ABSTRAK Dalam rentang kehidupan manusia. Tujuan penelitan ini adalah untuk mengetahui perbedaan perilaku dalam menjaga personal hygiene saat menstruasi pada remaja putri di SDN Jamsaren I Kota Kediri sebelum dan sesudah pemberian penyuluhan tentang pendidikan kesehatan reproduksi. kesehatan reproduksi *: Program Studi Kebidanan Kediri Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Depkes Malang PENDAHULUAN Latar belakang Manusia perlu menjaga kebersihan diri dan lingkungan agar sehat. tidak bau. khususnya kebersihan alat reproduksi. 2002). Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah pra eksperimen dengan One Group Pre test–post test design. dengan tujuan agar terbentuk pengetahuan tentang perlunya personal Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 125 . Guna menciptakan perilaku tersebut. tidak menyebarkan kotoran atau menularkan penyakit bagi diri sendiri maupun orang lain.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 PERBEDAAN PERILAKU MENJAGA PERSONAL HYGIENE SAAT MENSTRUASI PADA REMAJA PUTRI ANTARA SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN PENYULUHAN TENTANG PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI Koekoeh Hardjito*. Masa ini merupakan periode transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa yang ditandai dengan percepatan perkembangan fisik. untuk itu pendidikan kesehatan perlu diberikan agar kebersihan diri bisa dijaga dengan baik.Vol. Salah satu perubahan fisik yang dialami remaja putri adalah menstruasi pertama. Hasil penelitian menunjukkan nilai p 0. Melalui kegiatan ini dapat disampaikan hal-hal yang terkait dengan organ reproduksi termasuk personal hygiene alat reproduksi. Kata kunci: perilaku. Secara fisik pada masa ini terjadi perubahan organ seksual.001 > α 5% atau ada perbedaan perilaku menjaga personal hygiene saat menstruasi antara sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan reproduksi. kebersihan diri harus dijaga termasuk saat manusia memasuki masa remaja. 2002). remaja putri perlu memiliki perilaku yang baik dalam kebersihan diri. ada kerjasama antara pihak sekolah dan petugas kesehatan untuk lebih meningkatkan pendidikan kesehatan reproduksi sehingga perilaku dalam menjaga personal hygiene khususnya saat menstruasi lebih meningkat. menstruasi. Masa remaja adalah suatu fase perkembangan yang dinamis dalam rentang kehidupan individu. perlu diberikan pendidikan kesehatan khususnya kesehatan reproduksi. termasuk saat seorang remaja putri mengalami menstruasi. Suwoyo*. yang jika kurang dijaga kebersihannya akan berpotensi untuk timbul infeksi pada organ reproduksi (Yusuf.I No. personal hygiene. Untuk menghindari infeksi vagina. seseorang perlu mampu menjaga kebersihan diri. Masa remaja (adolescence/puberty) dimulai pada usia 11 atau 13 sampai usia 21 tahun. Hal ini disebabkan oleh peristiwa menstruasi yang merupakan darah kotor. mental. emosional dan sosial (IDAI. penyuluhan. yang menuntut remaja putri mampu merawat organ reproduksi dengan baik terutama dalam hal kebersihan pribadi (personal hygiene). Sepanjang siklus kehidupan manusia.

sekolah. Jika pengetahuan meningkat. Kemudian dilanjutkan dengan penyebaran kuesioner yang sama setelah diberikan Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 126 . yaitu mengungkapkan perbedaan dengan melibatkan satu kelompok subyek. diharapkan timbul sikap positif dalam menjaga personal hygiene. Tabel 1. 4) bahan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya. Definisi Operasional Variabel Pengertian Proses penyampaian pesan tentang kesehatan reproduksi dari penyuluh kepada sasaran penyuluhan yaitu anak perempuan kelas 5 dan 6 SD yang sudah menstruasi. Populasi penelitian adalah seluruh siswi kelas 5 dan kelas 6 yang sudah menstruasi. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian pra eksperimen di SDN Jamsaren I Kediri pada bulan April-Mei 2009 ini menerapkan one group pre test–post test design.76 Skor < 56 Ordinal Penyuluhan kesehatan reproduksi merupakan variabel bebas. yang masing-masing didefinisikan pada Tabel 1. Tujuan dan Manfaat Penelitian Rumusan masalah penelitian ini adalah: “Adakah perbedaan perilaku dalam menjaga personal hygiene saat menstruasi pada remaja putri Di SDN Jamsaren I Kota Kediri antara sebelum dan sesudah pemberian penyuluhan tentang pendidikan kesehatan reproduksi ?” Tujuan penelitian ini adalah: 1) mengidentifikasi perilaku remaja putri dalam menjaga personal hygiene saat menstruasi sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan. 2) menganalisis perbedaan perilaku dalam menjaga personal hygiene saat menstruasi antara sebelum dan sesudah mendapatkan penyuluhan tentang pendidikan kesehatan reproduksi. dan perilaku siswa dalam menjaga personal hygiene saat menstruasi merupakan variabel terikat. dan sampel diambil secara purposif sebanyak 22 siswa.I No. sesuai dengan permasalahan yang belum teridentifikasi.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 hygiene. menyusun dan merencanakan metode pengembangan perilaku sehat remaja putri. 3) tambahan informasi bagi para akademisi dan praktisi yang terkait dengan Ilmu Perilaku dan Promosi Kesehatan. Studi pendahuluan di SDN Jamsaren I Kota Kediri memperoleh hasil bahwa 3 dari 5 siswa yang telah menstruasi mengatakan tidak mengerti cara menjaga kebersihan diri yang benar. 2) masukan bagi masyarakat. Data dikumpulkan dengan menyebarkan kuesioner tentang hal-hal yang dikerjakan oleh siswi dalam menjaga personal hygiene saat menstruasi I. Menstruasi awal sering dijumpai pada anak kelas 5–6 SD berusia 11–13 tahun. Rumusan Masalah. dengan metode tanya jawab dan simulasi Perilaku menjaga Perilaku menjaga personal hygiene personal hygiene yang dilakukan oleh remaja saat saat menstruasi mendapatkan menstruasi Variabel Penyuluhan kesehatan reproduksi Kategori Kriteria Skala Pre Sebelum Nominal diberi penyuluhan Post Setelah diberi penyuluhan Baik Cukup Kurang Skor > 76 Skor 56 . Setelah itu kuesioner diambil dan dilanjutkan dengan pemberian penyuluhan tentang kesehatan reproduksi. puskesmas dan pemerintah dalam memfasilitasi pengembangan perilaku sehat remaja putri. yang menjadi dasar terbentuknya perilaku menjaga personal hygiene.Vol. Diharapkan penelitian ini membawa manfaat sebagai: 1) sumbangsih pemikiran dalam memilih.

Berikutnya dilakukan pengolahan data dan analisis data menggunakan uji beda untuk 2 sampel berpasangan yaitu uji Wilcoxon menggunakan SPSS versi 11.5 Std. Satu siswi tersebut telah mengalami menstruasi paling lama yaitu 2 tahun.46 Mean = 66.05. sedangkan sisanya adalah dalam kategori cukup.05. 2 Perilaku Remaja Putri Sebelum dan Sesudah Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Kategori Perilaku Baik Cukup Kurang Total Sebelum Penyuluhan Frekuensi Persentase 1 4. Dev = 4.001 < α 0.0 72.Vol.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 penyuluhan.5 75.5 70.0 62.0 67.5 65. Tabel. (2000) bahwa sikap seseorang melakukan personal hygiene Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 127 . Tampak bahwa tak ada peningkatan nilai minimum yaitu 60 sesudah pendidikan. hanya ada 1 siswi yang memiliki perilaku menjaga personal hygiene dalam kategori baik.5 21 95. Pada nilai maksimum. perilaku sebelum pendidikan kesehatan meningkat dari 78 menjadi 80. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Perilaku siswi sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan reproduksi ditampilkan pada Tabel 2. Skor perilaku sebelum HE 7 6 5 4 3 2 Freq uency 1 0 60.0 77.5 0 0 22 100 Sesudah Penyuluhan Frekuensi Persentase 4 18 18 82 0 0 22 100 Perbedaan perilaku siswi antara sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan reproduksi disajikan pada Gambar 1 dan Gambar 2. hal ini sesuai dengan pendapat Potter dan Perry. artinya ada perbedaan perilaku menjaga personal hygiene saat menstruasi pada siswi SDN Jamsaren I Kota Kediri antara sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan reproduksi.2 N = 22. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p 0. maka Ho ditolak.00 Skor perilaku sebelum HE Gambar 1 Skor Perilaku Remaja Putri Sebelum Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Sebelum diberi penyuluhan.I No.

Beragam faktor pribadi dan sosial budaya mempengaruhi praktek hygiene. juga keterbatasan fisik. praktik sosial.0 70. sikap dan perilaku yang dimiliki (Notoatmodjo. pilihan pribadi dan kondisi fisik. kepercayaan. motivasi juga harus dilakukan untuk memelihara perawatan diri. terdapat 4 siswi yang memiliki perilaku yang baik dalam menjaga personal hygiene saat menstruasi. pengetahuan. 2005). terutama pada perineum (Cristina. nilai dan kebiasaan. status sosioekonomi.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Pengetahuan tentang pentingnya hygiene dan implikasinya bagi kesehatan mempengaruhi praktik hygiene. Keterpaparan seseorang terhadap informasi dapat merubah pengetahuan. Skor perilaku setelah HE 16 14 12 10 8 6 Frequency 4 Std.0 80. 1999). sesudah buang air kecil atau buang air besar atau empat jam sekali. Dev = 5.0 65. namun masih dijumpai beberapa remaja yang melakukan dengan cara yang belum benar.0 75.I No.15 2 0 60. Gambar 1 dan 2 menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan nilai rata-rata siswi dalam menjaga personal hygiene saat menstruasi. Tidak ada dua orang yang melakukan perawatan kebersihan dengan cara yang sama.00 Skor perilaku setelah HE Gambar 2 Skor Perilaku Remaja Putri Sesudah Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Sesudah diberi penyuluhan. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 128 . Lamanya waktu seseorang mengalami menstruasi menjadikan pengetahuannya tentang menstruasi termasuk bagaimana cara mengelola kebersihan diri meningkat. Perawatan alat reproduksi bisa dilakukan minimal dua kali sehari dan waktu yang lebih baik adalah pagi dan sore hari sebelum mandi.0 Mean = 68.Vol.7 N = 22. Perilaku yang baik ditunjukkan dengan kemampuannya membersihkan organ reproduksi dengan cara yang benar. kebudayaan. Secara terperinci meliputi citra tubuh. Pembelajaran praktik tertentu yang diharapkan dan menguntungkan dalam mengurangi resiko kesehatan dapat memotivasi seseorang untuk memenuhi perawatan yang diperlukan. Kendati demikian. sehingga secara keseluruhan memberikan hasil perilaku yang cukup. pengetahuan tidaklah cukup.

Helen S. 3) Kegagalan total. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 129 . Notoatmodjo. pengertian. kemudian mendasari seseorang untuk dapat menginterpretasikan obyek dan dijadikan acuan baginya untuk bertindak terhadap obyek tersebut. paling tidak menimbulkan lima hal. hubungan sosial yang baik. yang terlihat sebagai perilaku sehari-hari. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.Ross and Paul R. Mico.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Hasil penelitian membuktikan adanya perbedaan perilaku menjaga personal hygiene saat menstruasi siswi SDN Jamsaren I Kota Kediri sebelum dan sesudah pemberian penyuluhan. Berdasarkan simpulan diajukan saran antara lain: 1) sekolah hendaknya memantau kemampuan siswi dalam menjaga personal hygiene saat menstruasi dan menyiapkan pemahaman menjaga personal hygiene pada siswi yang akan mengalami menstruasi I. ini sangat tergantung dari individu dari tingkat pendidikan. Theory and Practice in Health Education Arikunto. Pengetahuan yang didapat dari hasil belajar kepada lingkungan selama perjalanan hidupnya. yaitu: kesenangan. B. (1980). (2005). (1997). Suharsimi. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan penelitian ini adalah: 1) sebagian besar siswi memiliki perilaku cukup dalam menjaga personal hygiene saat menstruasi. 2) terdapat peningkatan frekuensi perilaku cukup menuju perilaku baik pada siswi setelah mendapatkan pendidikan kesehatan reproduksi. yaitu perubahan perilaku baru terjadi dalam waktu terbatas yaitu selama si penyuluh berada bersama sasaran atau selama mereka masih merasakan manfaat dari perilaku itu. yaitu sasaran menolak secara total inovasi baru yang disampaikan. Prosedur Penelitian Pendekatan Suatu Praktek. Jakarta: Depkes RI. pengaruh pada sikap dan tindakan. Jakarta: Rineka Cipta. Mengapa terjadi kegagalan. Syamsu Yusuf. keberhasilan semu atau keberhasilan sesungguhnya dalam suatu penyuluhan. 3) ada perbedaan perilaku menjaga personal hygiene saat menstruasi antara sebelum dan sesudah mendapatkan pendidikan kesehatan pada siswi SDN Jamsaren I Kota Kediri. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat dengan Pendekatan Antropologi . Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasinya. (1998).Vol. pengetahuan yang melatarbelakangi perilaku masing-masing individu.S. Menurut Munir (1997). Kondisi yang terjadi pada remaja putri setelah mendapatkan pendidikan kesehatan dapat disebabkan oleh ketiga hal di atas. yaitu perilaku sasaran berubah seperti apa yang diharapkan dan berlangsung terus-menerus. 2) keberhasilan semu. 2005. dalam proses penyuluhan ada tiga kemungkinan yang bisa terjadi yaitu: 1) Keberhasilan sesungguhnya. mereka kembali keperilaku lama. tentu juga efektivitas penyuluhan. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. DAFTAR PUSTAKA Munir. Jakarta: Rineka Cipta. 2) petugas kesehatan diharapkan meningkatkan pemberian pemahaman kepada masyarakat tentang cara menjaga personal hygiene pada saat menstruasi dengan berbagai pendekatan. Begitu penyuluh berpisah dengan sasaran atau sasaran tak lagi merasakan manfaatnya. Pendidikan kesehatan reproduksi yang dilakukan masih sebagian kecil dapat menimbulkan tindakan. Helen dan Paul (1980) mengemukakan bahwa efektivitas komunikasi.I No.

Vol.I No.2 April 2010

ISSN: 2086-3098

KINERJA SANITARIAN LAPANGAN DALAM MENURUNKAN ANGKA KEJADIAN DBD DI MAGETAN Budi Yulianto* ABSTRAK Selama tiga tahun terakhir angka kejadian DBD cenderung meningkat tajam baik ditinjau dari peningkatan kelompok usia, kewilayahan, serta kematian. Tenaga Sanitasi di lapangan mempunyai tugas berkaitan dengan pemberantasan DBD di antara tugas lain yang melekat. Peran dan fungsi tenaga sanitasi diharapkan memberikan kontribusi menurunkan kejadian DBD di wilayahnya. Tujuan penelitian mengetahui pengaruh kinerja tenaga sanitasi lapangan terhadap kejadian DBD di Kabupaten Magetan. Sampel diambil dari sebagian petugas sanitasi lapangan sebanyak 21 orang. Data dikumpulkan dengan kuesioner dan dokumen kejadian DBD selama dua tahun. Hasil analisis menunjukan petugas sanitasi lapangan yang mempunyai kinerja baik (76,2%), kurang baik (23,8%). Kejadian DBD di Puskesmas menunjukan kategori kurang baik atau terjadi peningkatan (85,7%), dan 14,3% kejadian DBD baik atau tidak ada peningkatan. Uji regresi logistik (p)=0,905, artinya tidak ada pengaruh kinerja sanitasi lapangan terhadap angka kejadian DBD. Kata kunci : sanitasi lapangan, DBD. *: Prodi Kesehatan Lingkungan Madiun Jurusan kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya PENDAHULUAN Demam Berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue melalui vektor nyamuk Aedes aegypti. Dalam tiga tahun terakhir kasus DBD meningkat secara tajam baik apabila ditinjau dari peningkatan angka kejadian DBD berdasarkan kelompok usia dari penderita, juga terjadi peningkatan angka kejadian DBD berdasarkan batas teritorial kewilayahan, maupun peningkatan jumlah kematian dari penderita DBD. Seiring dengan peningkatan angka kejadian dan angka kematian akibat DBD sebenarnya di tiap-tiap wilayah kerja puskesmas telah tersedia tenaga sanitasi di lapangan baik secara kuantitatif maupun kualitatif (kualifikasi pendidikan) sudah lebih baik apabila dibandingkan dengan kuantitas maupun kualitas pada tahun-tahun sebelumnya. Keberadaan tenaga sanitasi di lapangan diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk mencegah dan menurunkan penyakit yang disebabkan oleh faktor lingkungan khususnya DBD. Fakta menunjukan bahwa akhir-akhir ini terjadi peningkatan kejadian dan kematian akibat DBD hampir diberbagai daerah di Indonesia. Di Kabupaten Magetan juga terjadi peningkatan angka kejadian DBD dan kematian dari tahun ke tahun. Dalam 4 tahun terakhir perkembangan angka kejadian DBD di Kabupaten Magetan adalah: tahun 2001 terdapat 341 penderita DBD dan 2 orang di antaranya meninggal, tahun 2002 terdapat 244 penderita dan 4 orang di antaranya meninggal, tahun 2003 terdapat 136 penderita, dan tahun 2004 terdapat 260 penderita dan 2 orang di antaranya meninggal (Subdin PPM Dinkes Kab. Magetan 2005).

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

130

Vol.I No.2 April 2010

ISSN: 2086-3098

Peningkatan angka kejadian dan angka kematian akibat DBD kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: 1) Faktor lingkungan (meningkatnya populasi Aedes aegypti) yang dipengaruhi pula oleh perubahan pola hidup nyamuk serta terjadinya kekebalan pada tubuh nyamuk akibat penggunaan bahan-bahan insektisida. 2) Faktor keberadaan virus dengue pada tubuh penderita maupun pada tubuh vektor. 3) Faktor karakteristik manusia termasuk perilaku dan kebiasaan hidup masyarakat sehari-hari. 4) Faktor pelayanan kesehatan termasuk sarana- prasarana, tenaga, asustibilitas pelayanan. 5) Faktor alam (musim). Dari beberapa faktor di atas, terutama adalah keberadaan tenaga sanitasi di lapangan yang merupakan salah satu tenaga dengan tugas berkaitan dengan penanggulangan DBD di wilayahnya, yaitu melaksanakan monitoring atau pemeriksaan jentik nyamuk (Aedes aegeypti) yang kegiatannya sering diintegrasikan dengan kegiatan Survey Rumah Tangga. Selain itu jika terjadi kasus DBD di wilayahnya, ikut melaksanakan tindakan-tindakan di lingkungan penderita serta memberikan penyuluhan tentang DBD, sehingga diharapkan tidak terjadi peningkatan angka kejadian dan kematian akibat DBD di wilayah kerjanya. Mengingat pentingnya peran dan fungsi petugas ini, maka perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh kinerja petugas sanitasi di lapangan terhadap angka kejadian DBD di wilayah kerjanya. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Populasi penelitian cross sectional ini adalah petugas sanitasi lapangan yang bekerja di seluruh puskesmas di Kabupaten Magetan sebanyak 22 orang. Besar sampel dengan nilai p = 50% , dan α = 0,05 sebanyak 21 orang, diambil dengan teknik simple random sampling.Data dikumpulkan dengan metode tanya jawab terpimpin dan pengamatan meliputi kinerja petugas, data kejadian DBD dikumpulkan dengan metode dokumentasi yaitu melalui dokumen pada setiap puskesmas. Analisis deskriptif diterapkan untuk menggambarkan kinerja petugas, angka kejadian DBD, sarana, dan prasarana. Uji Regresi Logistik digunakan untuk menguji pengaruh kinerja sanitarian terhadap kejadian DBD. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil PenelitianHAELITIAN Karakteristik pendidikan sanitarian adalah: SPPH (DI) 8 orang (38,1%), D III Kesehatan Lingkungan 2 (57,1%), dan D III + SKM 1 orang (4,8%). Karakteristik masa kerja sanitarian adalah: 15–20 tahun 13 orang (61,9 %), < 15 tahun 2 orang (9,5 %). Sedangkan karakteristik jarak tempat tinggal sanitarian dengan puskesmas adalah: tak lebih dari 10 km sebanyak 13 orang (61,9%), dan lebih dari 10 km sebanyak 8 orang (38,1 %). Distribusi kinerja sanitarian adalah: baik: 16 orang (23,8 %), dan kurang: 5 orang (23,8%). Angka kejadian DBD yang menurun atau tetap daripada tahun sebelumnya: 3 puskesmas (14,3%), dan yang meningkat: 18 puskesmas (85,7%). Peningkatan kejadian DBD terendah: 1 kasus dan tertinggi: 29 kasus. Rerata peningkatan kejadian DBD per-puskesmas adalah 6 kasus. Serta terjadi peningkatan jumlah penderita yang meninggal (2 orang). Angka kejadian DBD menurut pendidikan sanitarian disajikan pada Tabel 1, angka kejadian DBD menurut masa kerja sanitarian disajikan pada Tabel 2, sedangkan angka kejadian DBD menurut kinerja sanitarian disajikan pada Tabel 3.

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

131

Vol.I No.2 April 2010

ISSN: 2086-3098

Tabel 1 menunjukan bahwa tenaga sanitasi dengan pendidikan D III kesehatan lingkungan, yang mempunyai angka kejadian DBD kurang baik di wilayah kerjanya (terdapat peningkatan kasus DBD) sebanyak 10 (83,3%), sedangkan yang mempunyai angka kejadian DBD baik (terjadi penurunan kasus DBD) sebanyak 2 (16,7%). Tenaga sanitasi berpendidikan S-1 seluruhnya memiliki wilayah dengan angka kejadian DBD kurang baik. Tabel 2 menunjukan bahwa tenaga sanitasi dengan masa kerja 15–20 tahun, yang mempunyai angka kejadian DBD kurang baik di wilayah ada 10 orang (76,9%), sedangkan yang mempunyai angka kejadian DBD baik ada 3 orang (23,1%). Tenaga sanitasi dengan masa kerja >20 tahun, seluruh wilayah kerjanya memiliki angka kejadian DBD kurang baik. Tenaga sanitasi dengan masa kerja <15 tahun, seluruh wilayah kerjanya memiliki angka kejadian DBD kurang baik. Tabel 3 menunjukan bahwa tenaga sanitasi dengan kinerja baik, yang mempunyai angka kejadian DBD kurang baik di wilayah kerjanya ada 13 orang (81,3%), sedangkan yang mempunyai angka kejadian DBD baik ada 3 orang (18,7%). Tenaga sanitasi dengan kinerja kurang baik, seluruhnya memiliki angka kejadian DBD kurang baik di wilayah kerjanya.
Tabel 1. Angka Kejadian DBD Menurut Tingkat Pendidikan Sanitarian Tingkat Pendidikan SPPH D III Kesling D III Kesling + S-1 Total Angka kejadian DBD Kurang baik Baik Jumlah % Jumlah % 7 87,5 1 12,5 10 83,3 2 16,7 1 100 18 85,7 14,3 Total Jumlah 8 12 1 21

% 100 100 100 100

Tabel 2 Angka Kejadian DBD Menurut Tingkat Pendidikan Sanitarian Masa kerja < 15 tahun 15 – 20 tahun > 20 tahun Total Angka kejadian DBD Kurang baik Baik Jumlah % Jumlah % 2 100 10 76,9 3 23,1 6 100 18 85,7 14,3 Tabel 3. Angka kejadian DBD Menurut Kinerja Sanitarian Kinerja Baik Kurang baik Total Angka kejadian DBD Kurang baik Baik Jumlah % Jumlah % 13 81,3 3 18,7 5 100 18 85,7 14,3 Total Jumlah 16 5 21 Total Jumlah 2 13 6 21

% 100 100 100 100

% 100 100 100

Uji regresi logistik mendapatkan nilai p = 0,905 > (α = 0,05), berarti tidak ada pengaruh kinerja sanitarian terhadap angka kejadian DBD di Wilayah Dinas Kesehatan Kab. Magetan.

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

132

Selain peningkatan jumlah penderita. selain itu juga dipengaruhi oleh jumlah vektor Aedes aegypti di tempat tersebut yang mempunyai kesempatan untuk memindahkan virus dengue dari reservoir kepada host baru. Dari hasil penelitian diketahui bahwa tidak ada pengaruh kinerja petugas sanitasi lapangan terhadap angka kejadian DBD di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan. Terdapatnya reservoir atau sumber virus di tempat tersebut didukung oleh adanya vektor Aedes aegypti. Demikian pula terjadinya transmisi pada penyakit ini. Penyebab DBD adalah terdapatnya virus dengue dalam tubuh penderita yang ditularkan melalui vektor Aedes aegypti. Meningkatnya angka kejadian DBD tersebut mungkin disebabkan oleh: 1. juga terjadi peningkatan luasnya jangkauan wilayah dari masyarakat yang menderita DBD. Dari dalam tubuh vektor. maka mempunyai potensi terjadinya perpindahan virus dari orang yang sakit (karier) kepada orang yang sehat hingga timbul gejala atau gangguan. Untuk mencegah perpindahan virus dari dalam tubuh melalui vektor Aedes aegypti kepada host baru di tempat lain. Tingginya mobilitas penderita Mobilitas adalah salah satu aktifitas seseorang atau masyarakat yang ditandai dengan berpindah-pindahnya seseorang dari satu tempat ke tempat lain dengan tujuan melaksanakan aktifitas sehari-hari. Demikian juga dengan penderita DBD yang merupakan sumber atau resevoir virus dengue mempunyai peran sangat besar terhadap penularan DBD kepada orang lain.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Pembahasan DBD merupakan merupakan penyakit yang berasal dari lingkungan yang dalam tiga tahun terakhir ini cenderung mengalami peningkatan baik secara kuantitas maupun kualitas. Perlindungan atau barier ini dapat dipilih dari bahan yang banyak dipasarkan yang bersifat melindungi dan mengusir nyamuk Aedes aegypti pada siang hari. virus dengue yang berasal dari penderita DBD atau penderita yang bersifat karier melalui gigitan vektor Aedes aegypti berpindah ke dalam tubuh nyamuk. Peningkatan jumlah penderita baru di tempat tersebut sangat dipengaruhi oleh frekuensi terjadinya perpindahan virus dari reservoir kepada host baru.Vol. Keadaan ini juga mempunyai potensi terjadi penularan DBD kepada orang lain. mudah Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 133 . artinya dari jumlah penderita mengalami peningkatan termasuk semua kelompok usia mempunyai resiko untuk terkena DBD. Kemungkinan tidak sedikit penderita yang sudah merasa sehat namun di dalam tubuhnya masih mengandung virus dengue sudah melakukan mobilitas.I No. virus ini ditularkan kepada orang yang sehat melalui gigitan hingga timbul gejala atau atau gangguan dalam bentuk sakit. Konsep yang ditawarkan ini sebenarnya lebih murah biayanya. setelah melalui proses yang disebut propogatif dalam tubuh nyamuk dan menyebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk dalam kelenjar liurnya. Dengan demikian terjadinya peningkatan jumlah penderita DBD maupun terjadinya kematian akibat DBD bukan dipengaruhi oleh kinerja petugas sanitasi di lapangan. dari hasil penelitian ini diperlukan perlindungan atau barier pada tubuh penderita sampai virus dengue dalam tubuh penderita benar-benar sembuh dan tidak mengandung virus dengue. Berpindahnya penderita dari satu tempat ke tempat lain sama artinya dengan hadirnya sumber atau reservoir virus dengue di tempat tersebut. Maksud pemberian barier kepada penderita dari gigitan agar tidak terjadi transmisi virus dengue oleh vektor kepada host baru.

sehingga menjadi tempat untuk perberkembangbiakan vektor ini. Saran relevan yang diajukan adalah: 1) perlu dilakukan perlindungan atau pemberian barier pada penderita sampai mereka benar-benar sembuh dengan menggunakan bahan yang bersifat mengusir nyamuk terutama pada waktu siang hari. Keberadaan vektor Aedes aegypti hampir di seluruh daerah atau pelosok.Vol. Terdapatnya penderita DBD sepanjang tahun. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 134 . berkaitan dengan musim. Meskipun banyak kita jumpai vektor ini. langsung melindungi faktor penyebab pada fokusnya. di antaranya adalah musim. dan pengawasan terhadap lingkungan masing-masing. maka diperlukan dukungan tenaga untuk melakukan monitoring keberadaan jentik di lingkungan pemukiman. Terdapatnya vektor Nyamuk Aedes albopictus dan Aedes aegypti merupakan vektor yang berperan sangat penting dalam pemindahan virus dengue dari tubuh penderita ke tubuh host baru hingga timbul gejala atau gangguan.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 dikerjakan. Biasanya DBD terjadi menjelang musim hujan. 2) angka kejadian DBD di masing-masing puskesmas sebagian besar mengalami peningkatan.I No. 3) perlu dilakukan penelitian tentang perilaku masyarakat berkaitan dengan DBD. hal ini mungkin disebabkan oleh warna container yang mendekati gelap. Kelebihan dari konsep ini adalah pemberantasan sarang nyamuk yang sudah dicanangkan oleh pemerintah sehingga benar–benar dilaksanakan oleh masyarakat. Baik Aedes aegypti maupun virus dengue keduanya merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam menimbulkan DBD. Pemberantasan sarang nyamuk sebenarnya mudah dikerjakan oleh masyarakat. tetapi kalau tidak mengandung virus dengue kemungkinan besar tidak akan timbul gejala atau gangguan. Terdapatnya container di dalam rumah sulit diawasi oleh penduduk. dewasa ini diduga karena kualitas lingkungan pemukiman yang menurun. 2) perlu dipertimbangkan pemberian sanksi terhadap warga yang didapati jentik nyamuk di lingkungan rumahnya. Diduga breading please dari vektor ini banyak terdapat di dalam rumah penduduk. bukan petugas yang melaksanakan pengawasan keberadaan jentik di lingkungan pemukiman tetapi merupakan tanggung jawab bersama antara petugas dan masyarakat. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan dari penelitian antara lain: 1) sebagian besar sanitarian mempunyai kinerja baik. Sebaliknya. kesadaran masyarakat melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk. 4) perlu dilakukan penelitian tentang topografi setiap wilayah kerja Puskesmas. mengingat topografi di wilayah kerja Puskemas banyak yang berbeda. Jika konsep ini dilaksanakan. sehingga Aedes aegypti mudah berkembang biak. Dengan demikian. baik yang ada di dalam rumah maupun di luar rumah. keberadaan vektor DBD di lingkungan pemukiman banyak dipengaruhi oleh banyak faktor. 3) peningkatan angka kejadian DBD tidak dipengaruhi oleh kinerja petugas. tetapi jarang dilakukan follow up. 2. dan pada saat musim penghujan sudah mulai berakhir. serta pada container di sekitar lingkungan rumah yang mudah terisi air. Konsep yang ditawarkan dari hasil penelitian ini adalah penerapan sanksi kepada masyarakat apabila didapati jentik Aedes aegypti. Konsep ini membutuhkan kesadaran dari dari penderita.

Airlangga Press Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 135 . Petunjuk Teknis Pendidikan Epidemiologi.2001.Dirjend PPM-PLP Depkes RI. 1992. Jakarta . Pertolongan. Jakarta. Metodologi Penelitian. 1992. Pengantar SPSS 10. Petunjuk Teknis Pengamatan Penyakit DBD. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue.Dirjend PPM-PLP Depkes RI. Jakarta. 1990.I No. Dirjend PPM dan PLP Depkes RI. 1992.Unit PPM Poltekes Surabaya Slamet Ryadi AL. Petunjuk Teknis Penemuan.Vol. Meotologi Penelitian. Penanggulangan Seperlunya dan Penyemprotan Masal Dalam Pemberantasan Penyakit DBD.2000. dkk. Surabaya. Surabay.Dirjend PPM-PLP Depkes RI. Pedoman Pembinaan Peran Serta Masyarakat Dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD. Jakarta. Jakarta. Surabaya Rineka Cipta Zainudin.0. Surabaya. 2004. Dirjend PPM-PLP Didik. 1990. AKL Surabaya Sugiyo. 1992. Pelaporan Penderita Penyakit DBD. Dirjend PPM-PLP Depkes RI. Jakarta Depkes RI. Jakarta. 1999.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 DAFTAR PUSTAKA Depkes RI. Petunjuk Teknis Pemberantasan Nyamuk Penular DBD. Epidemiologi.1997. Pedoman Pembinaan Kerja Puskesmas Jilid III.

Walaupun bukan pekerjaan sederhana. Dapat disimpulkan ada hubungan antara motivasi stimulasi toilet training oleh ibu dengan keberhasilan toilet training pada anak prasekolah.05. Agar toilet training berhasil. 2008).4% dan keberhasilan toilet training pada anak prasekolah kategori baik 75%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara motivasi stimulasi toilet training oleh ibu dengan keberhasilan toilet training pada anak prasekolah di TK Pertiwi dan RA Desa Plosoharjo Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk. namun orang tua harus tetap termotivasi untuk merangsang anaknya agar terbiasa BAK atau BAB sesuai waktu dan tempatnya (Mufattahah. toilet training juga mengajarkan anak dapat membersihkan kotoran sendiri dan memakai kembali celananya (Mufattahah. Anak-anak harus dilatih menguasai otot-otot alat pembuangan pada waktu buang air besar dan buang air kecil (Anonim. anak prasekolah *: Prodi Kebidanan Magetan Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya **: Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk PENDAHULUAN Latar belakang Toilet Training pada anak merupakan cara untuk melatih anak agar mampu mengontrol buang air kecil dan buang air besar (Hidayat. diperlukan motivasi orang tua melakukan stimulasi agar anak terbiasa melakukan secara bertahap dan mandiri. Konsep menstimulasi anak untuk melakukan toilet training diperkenalkan pada si kecil sejak dini yaitu usia 1 s/d 3 tahun. Pengumpulan data melalui pengisian kuesioner dan wawancara terstruktur. Kata kunci : Motivasi stimulasi. toilet training. Toilet training diharapkan dapat melatih anak untuk mampu BAB dan BAK di tempat yang telah ditentukan. Anak harus mampu mengenali dorongan untuk melepaskan atau menahan dan mampu mengkomunikasikannya (Nursalam dkk. 2005). 2008). Hasil penelitian menggambarkan bahwa motivasi stimulasi toilet training oleh ibu kategori baik 84. 2008). Stimulasi perkembangan Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 136 .Vol. Sekitar 30% anak berumur 4 tahun. Selain itu. 2005). pelatihan BAB biasanya mulai umur 2 sampai 3 tahun. dan r=0. Hasil uji korelasi adalah p ≤ 0. Siti Widajati* ABSTRAK Toilet training pada anak merupakan suatu cara untuk melatih anak agar mampu mengontrol dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar. Jenis penelitian analitik yang bersifat Cross Sectional. Toilet training dilakukan pada anak ketika masuk fase kemandirian (Hidayat. kemudian dilakukan pengolahan dan analisis statistik Spearman rank. Latihan buang air besar atau buang air kecil membutuhkan kematangan otot-otot pada daerah pembuangan kotoran (anus dan saluran kemih). Sampel diambil dengan teknik Simple Random Sampling sebesar 32 orang tua anak. 10% anak berumur 6 tahun. 3% anak berumur 12 tahun dan 1% anak berumur 18 tahun masih buang air kecil tidak disengaja.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI STIMULASI TOILET TRAINING OLEH IBU DENGAN KEBERHASILAN TOILET TRAINING PADA ANAK PRASEKOLAH Subagyo*.I No.597. dan pelatihan BAK ketika anak pada umur 3 sampai 4 tahun. yang menunjukkan tingkat hubungan agak rendah. serta buang air besar pada tempatnya. 2005). Ani Sulasih**.

b) anak tidak sedang sakit. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian analitik ini menggunakan rancangan cross sectional. 3% anak berumur 12 tahun dan 1% anak berumur 18 tahun masih mengompol atau BAK secara tak sengaja (Anonim. RI. 2).95%). BAB di celana 1 anak. 2) mengidentifikasi keberhasilan toilet training anak 5-6 tahun. 3) menganalisis hubungan antara motivasi stimulasi toilet training oleh ibu dengan keberhasilan toilet training anak prasekolah.2%) ibu meskipun mengetahui anaknya ingin BAB dan BAK namun tidak termotivasi untuk mengarahkan anaknya BAB/BAK di tempat yang telah disediakan. Kesiapan anak secara fisik. serta tidak BAB/BAK di tempat yang telah tersedia sejumlah 10 anak (16. Training BAK mungkin menjadi tidak sempurna sampai anak usia 4-5 tahun terutama pada malam hari. 2005).Vol. Teknik pengumpulan data melaui observasi terhadap anak setiap hari. 10% anak berumur 6 tahun. 2004). Melihat banyaknya faktor yang mempengaruhi keberhasilan toilet training. dan memberikan pertanyaan kepada ibu anak/pengasuh. jadi tidak bisa mengontrol BAB dan BAK. Populasi penelitian adalah semua ibu beserta anak prasekolah usia 5-6 tahun di TK Pertiwi dan RA Desa Plosoharjo. mulai bulan Juni 2008 sampai dengan Januari 2009 sebesar 32 anak beserta orang tuanya. cara simple random sampling. dengan kriteria: a) di rumah tersedia fasilitas toilet. pada saat mengantar anak.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 anak dalam kemampuan bersosialisasi dan kemandirian dengan melatih BAK dan BAB di kamar mandi/WC. Hasil observasi penulis terhadap ibu yang mengantar anak bahwa sejumlah 6 (10. 2005). Sampel sebesar 32 orang. Variabel independen penelitian yaitu motivasi stimulasi toilet training oleh ibu. Hasil survei pendahuluan tanggal 9-21 Juni 2008 terhadap 10 anak dari 59 anak di TK Pertiwi Desa Plosoharjo Pace Nganjuk adalah 8 anak BAB dan BAK di sembarang tempat. kesiapan orang tua mengajari anak dan pola asuh orang tua juga penting (Supartini. yang diambil dengan cara probability sampling. yaitu dengan mengajari anak untuk memberitahu orang tua bila ingin BAK atau BAB dan mendampingi anak saat BAK atau BAB serta memberitahu cara membersihkan diri dan menyiram kotoran (Dep. Pace. d) ibu yang tidak bekerja/ibu rumah tangga. sedangkan variabel dependen adalah keberhasilan toilet training pada anak prasekolah. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan: 1) mengidentifikasi motivasi stimulasi toilet training oleh ibu. Anak umur 5 tahun kebanyakan dapat melakukan BAB sendiri.I No. Nganjuk. BAK di celana 1 anak. 2008). Atas dasar fakta tersebut. Kes. Data yang terkumpul diolah dan dianalisis secara deskriptif berupa distribusi frekuensi. Motivasi orang tua. apabila anak tidak diajarkan toilet training sejak dini dapat berakibat akan susah mengubah pola yang telah menjadi perilaku dan anak tidak dapat segera mandiri. berskala Likert. Sekitar 30% anak berumur 4 tahun. Selain itu. c) anak diasuh sendiri oleh orang tua. psikologis maupun secara intelektual (Hidayat. Untuk membuktikan hipotesis penelitian adanya Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 137 . Data keberhasilan toilet training dikumpulkan dengan pedoman wawancara terstruktur (structured or interview). melepas dan memakai pakaian dalam sendiri. Pengumpulan data motivasi stimulasi toilet training menggunakan kuesioner dengan pertanyaan bentuk tertutup. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan program toilet training antara lain: 1). perlu dikaji lebih mendalam mengenai “Hubungan antara motivasi stimulasi toilet training oleh ibu dengan keberhasilan toilet training pada anak prasekolah”.

3 6 18. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Data yang meliputi motivasi stimulasi toilet training oleh ibu dan keberhasilan toilet training anak prasekolah diuraikan sebagai berikut: Tabel 1.4%).05).Vol. 4. atau orang dewasa lain di sekitar anak. sehingga adanya keinginan dari dalam diri seorang ibu dalam hal melakukan stimulasi kepada anak. digunakan uji korelasi Spearman rank.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 hubungan antara variabel independen dan dependen. Ibu yang mempunyai motivasi toilet training kategori baik sebanyak 27 (84. terlihat pada Tabel 1. Dengan motivasi stimulasi toilet training kategori baik dengan keberhasilan toilet training baik sejumlah 23 (85.2%). Ibu yang mempunyai tingkat keberhasilan toilet training kategori baik sebanyak 24 (75%). Nganjuk.05. dengan α 0. orang tua hendaknya menyadari pentingnya memberikan stimulasi bagi perkembangan anak (Nursalam. Dapat disimpulkan bahwa motivasi ditunjang oleh usia.8 24 75 32 100 1. Keberhasilan Toilet Training Menurut Motivasi Stimulasi Toilet Training pada Anak Prasekolah di TK Pertiwi dan RA Desa Plosoharjo Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk Nopember 2008 Keberhasilan Toilet Training pada Anak Prasekolah Total Kurang Cukup Baik N % N % N % N % Cukup 2 40 2 40 1 20 5 100 Baik 0 0 4 14.4%). 3. artinya ada hubungan antara motivasi stimulasi toilet training oleh ibu dengan keberhasilan toilet training pada anak prasekolah di TK Pertiwi dan RA Desa Plosoharjo Pace. anggota keluarga. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 138 Motivasi Toilet Training oleh Ibu .I No. mandiri. Mendorong manusia untuk berbuat. sehingga ibu akan mempunyai motivasi yang baik. 2005). sehingga ibu akan mudah menerima dan mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang disebabkan oleh adanya keinginan untuk memenuhi kebutuhan tertentu. hal ini sebagai penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan. Dengan motivasi yang baik untuk melakukan stimulasi toilet training.2 27 100 Total 2 6.00 (<0.2%). Pelaksanaan stimulasi yang demikian akan menciptakan anak yang tumbuh dan berkembang dengan optimal. Stimulasi ini dapat dilakukan oleh orang luar. 2.597). memiliki tingkat keberhasilan toilet training kategori cukup sebanyak 6 (18. Uji Spearman rank menunjukkan nilai p=0.8%) dan mempunyai tingkat keberhasilan toilet training kategori kurang sebanyak 2 (6. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar motivasi stimulasi toilet training oleh ibu kategori baik (84. maka Ho ditolak. maka keberhasilan toilet training akan terwujud. Stimulasi adalah perangsangan dan latihan-latihan terhadap kepandaian anak yang datangnya dari lingkungan di luar anak. dan yang memiliki motivasi stimulasi toilet training kategori cukup sebanyak 5 (15. Nilai koefisien korelasi (0. akan memberikan stimulasi yang teratur dan terus menerus tentang tugas perkembangan anak.8 23 85.6%). menandakan bahwa hubungan antar variabel agak rendah. Nilai koefisien korelasi dihitung guna menentukan tingkat hubungan.

Kedua. sedangkan faktor ekstrinsik antara lain sarana dan prasarana. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan toilet training pada anak terkait dan ditentukan oleh berbagai faktor.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 serta memiliki emosi yang stabil. Sebaliknya. ada gerakan usus yang regular. serta memakai pakain dalam dan luar sendiri. Hal ini dapat ditunjukkan anak mampu duduk atau berdiri sehingga memudahkan anak untuk dilatih BAB dan BAK. lingkungan. jika orang tua salah menerapkan pola asuh. Hasil kajian data ditemukan keberhasilan toilet training pada anak prasekolah kategori cukup sebanyak 18. merasa tidak betah dengan kondisi basah dan adanya benda padat di celana. keterampilan kognitif untuk mengikuti perintah dan meniru perilaku orang lain). kemampuan motorik kasar seperti duduk. membersihkan kotoran sendiri. seperti yang dicontohkan oleh Freud.24 bulan. Dari hasil penelitian didapatkan keberhasilan toilet training pada anak kategori baik sebanyak 75%. dapat duduk atau jongkok kurang lebih 2 jam. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan dari penelitian adalah: 1) mayoritas ibu mempunyai motivasi baik dalam stimulasi toilet training.2%. dan kemampuan motorik halus seperti membuka baju). Namun ada beberapa faktor yang ikut menentukan ada tidaknya atau besar kecilnya motivasi. komunikasi secara verbal dan nonverbal jika merasa ingin berkemih dan defekasi. dan tidak mengalami konflik atau stres keluarga yang berarti misalnya. misalnya orang tua melakukan latihan kebersihan secara berlebih dengan kemarahan dan hukuman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ibu yang memiliki motivasi stimulasi toilet training baik 85% memiliki keberhasilan toilet training baik. yang merupakan dorongan yang berasal dari dalam diri seseorang yaitu berupa pengetahuan. jongkok sendiri saat BAB.I No. Hal ini dapat diasumsikan bahwa motivasi stimulasi ibu yang baik dapat memberi kontribusi yang baik terhadap keberhasilan toilet training. demikian juga kesiapan psikologis di mana anak membutuhkan suasana yang nyaman. ada keinginan untuk meluangkan waktu yang diperlukan untuk latihan berkemih dan defekasi pada anaknya. Keempat kesiapan orang tua (mengenal tingkat kesiapan anak untuk berkemih dan defekasi. Keberhasilan toilet training pada anak prasekolah pada hasil penelitian sebagian besar dengan kategori baik. Ketiga. Hidayat (2005) mengatakan bahwa toilet training tergantung pada kesiapan yang ada pada diri anak dan keluarga. berjalan.8% dan kategori kurang sebanyak 6. Menurut Widayatun (1999). meliputi pertama kesiapan fisik.Vol. maka anak akan membalas dengan meretensi tinja sambil menunjukkan kekuasaan dirinya kepada orang tua. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan toilet training. 2) mayoritas anak berhasil baik dalam melakukan toilet training. sikap. ketika kemampuan anak secara fisik sudah kuat dan mampu. dan mudah beradaptasi. hal ini karena pada usia 5-6 tahun anak sudah dapat melepas pakaian luar dan pakaian dalam sendiri. salah satunya adalah factor intrinsik. kesiapan mental (mengenal rasa yang datang tiba-tiba untuk berkemih dan defekasi. perceraian. (usia telah mencapai 18. keadaan mental. kesiapan psikologis (duduk atau jongkok di toilet selama 5-10 menit tanpa berdiri dulu. dan kematangan usia. seperti kesiapan fisik. 3) Uji Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 139 . mempunyai rasa penasaran atau rasa ingin tahu terhadap kebiasaan orang dewasa dalam buang air. dan ingin diganti segera). Terbukti juga bahwa ada hubungan antara motivasi stimulasi toilet training oleh ibu dengan keberhasilan toilet training pada anak prasekolah. agar mampu mengontrol dan konsentrasi dalam merangsang untuk BAB atau BAK.

Jakarta : CV. Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Motivasi Melakukan Toilet Training pada Anak Usia 1-3 Tahun di Dusun Templek Jatirejo . Yupi.php?idktg=19&iddtl:92. 2. Toilet Training. tidak memarahi anak mengalami kegagalan DAFTAR PUSTAKA Anonim. Rineka Cipta. Supartini.idai. Mariatul. IDAI. Aziz Alimul. Masalah Pelatihan Buang Air. Fitriyah.php?. Kes. .org/content/view/1163/57/. . 2008. Mengajak Si Kecil Berlatih Bak-Bab dengan Toilet Training.id/arc/2007/9/23/. http://k34437h. 2008. . 2007. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.Multiply. Jakarta : Salemba Medika. Metodologi Riset Keperawatan. 2008. Interaksi dan Motivasi Belajar. http//www. Caroline. Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak. Mufattahah. Jakarta : Press Gravindo. http://www. Soegiyono. 2005. 2004. cuci tangan.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Spearman rank membuktikan bahwa ada hubungan bermakna antara motivasi stimulasi toilet training oleh ibu dengan keberhasilan toilet training pada anak prasekolah. Susiloningrum Rekawati.com/jowinal/item/362/Toilet Training.pyk.co. Hidayat. Notoatmodjo. Widayatun. Pariani. S. Diharapkan lembaga pendidikan TK tahun ajaran berikutnya selalu melakukan motivasi stimulasi toilet training oleh ibu sehingga keberhasilan toilet training pada anak tetap baik 3. Jakarta : Salemba Medika. .. 2007. Diharapkan ibu dengan motivasi stimulasi kategori cukup dan kurang dalam melakukan toilet training mendorong anak melakukan kegiatan ke kamar mandi seperti cuci muka saat bangun tidur. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. 2001. 2006.asp?q:35. Jakarta : EGC. Sagung Seto Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 140 . Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Stimulasi Terus Menerus pada Balita dapat Ciptakan Anak Cerdas. 2005. Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta : Salemba Medika. Toilet Training. Jakarta : CV. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. A. Bandung : CV. 2003. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta : PT. 2008.com/ cybermed/detail. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi.I No. http://wrmindonesia.antara. Dep. Arikunto. Tumbuh Kembang. Jakarta : EGC. Sukidjo.Vol. . usia. Diharapkan ada kelanjutan dari penelitian yang lain tentang faktor yang mempengaruhi motivasi misalnya kelemahan fisik. Sardiman. Mulawi.id/hottopics/detil. Metodologi Penelitian Kesehatan. Tri Rusmi.Nganjuk. 1998. 2005. http://medicastore. 2008. cuci kaki dll. Saran-saran yang diajukan berdasarkan hasil penelitian adalah: 1. Rineka Cipta. Sagung Seto. Utami Sri. Soetjiningsih. lingkungan dan sosial budaya yang berhubungan dengan motivasi stimulasi untuk melakukan toilet training pada anak. 2006. Stimulasi Dini untuk Optimalkan Perkembangan Balita. 1999. Jakarta : PT. ALFABETA. Ilmu Perilaku.or. 2004.com/news/relationship/jujur-aja. Nursalam dan S. 2008. http://jawaban. Jakarta : Rineka Cipta. RI. Statistik untuk Penelitian. 2005.

outcome terapi perawatan yang diterima terhadap tingkat kepuasan responden yaitu ibu hamil dan melahirkan di Poskesdes Wilayah Kabupaten Magetan. pendekatan.94) dan fasilitas klien (SR= 4.4. oleh dan untuk masyarakat ini sudah mendapatkan tempat di hatinya? Fakta menunjukkan bahwa dari 77 ibu hamil di Desa Banjarejo Kecamatan Panekan Kabupaten Magetan. saat ini belum ada kajian penelitian yang menjadi bahan evaluasi. outcome terapi. Diharapkan kinerja Poskesdes dapat diperbaiki.159X2+0. Kata kunci : kepuasan. fasilitas umum. mutu informasi yang diterima.257X7. sisanya menggunakan layanan ANC di tempat lain.9%. Tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan Poskesdes belum teruji. Hasil penelitian menunjukkan: semua variabel prediktor memiliki persentase selisih antara kinerja dengan harapan masih di bawah 100%. waktu tunggu.61). prosedur perjanjian. meningkatkan pendekatan terapeutik serta perbaikan fasilitas umum.9%.6% dan sumbangan relatifnya (SR) secara berurutan adalah outcome terapi (SR=25.7%.219X1+0.I No. fasilitas klien.070X4+0. SE=10. SE= 2. *: Prodi Kebidanan Magetan Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya PENDAHULUAN Poskesdes merupakan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan/menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa. Poskesdes Sidowayah.7%. Jenis penelitian adalah analitik dengan populasi seluruh ibu hamil yang melakukan ANC dan persalinan di Poskesdes Banjarejo.047X5+0. SE=2. Sumbangan efektif (SE) seluruh variabel adalah 51.15). waktu tunggu (SR=7. waktu tunggu. Ketiga prediktor ini memiliki sumbangan yang paling tinggi. mutu informasi (SR=15.3). 45% menggunakan layanan ANC di Poskesdes. 2008).43). SE=8. fasilitas klien. terutama pada aspek outcome terapi keperawatan.01). Poskesdes dibentuk dalam rangka menurunkan angka kematian ibu. Dari 33 ibu bersalin pada Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 141 . Nuryani* ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendekatan petugas. prosedur perjanjian. Nurwening Tyas Wisnu*. SE=3. Apakah masyarakat merasa upaya dari.194X6 +0. Poskesdes. Poskesdes Sumberdukun dan Poskesdes Banjarpanjang. Permasalahannya adalah bagaimanakah kepuasan masyarakat atas pelayanan yang diberikan oleh Poskesdes. fasilitas umum. prosedur perjanjian (SR=5. SE= 13.Vol.057X3+0.097+0.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 EVALUASI TINGKAT KEPUASAN KLIEN TERHADAP PELAYANAN ANTENATAL CARE DAN PERTOLONGAN PERSALINAN DI POSKESDES KABUPATEN MAGETAN Hery Sumasto*. Semua variabel prediktor berpengaruh terhadap tingkat kepuasan klien.7%. Teknik analisis dengan menggunakan jendela kepuasan dan analisis regresi. fasilitas umum (SR=19. pendekatan (SR=21. mutu informasi.21). Persamaan regresi berdasarkan unstandardized coefficient adalah: Y= -. SE=11. sehingga diperlukan beberapa langkah guna meningkatkan akses pada sarana dan pelayanan kesehatan ibu (Retno D.

prosedur perjanjian. hanya 37% yang bersalin di Poskesdes.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 bulan Juni-Juli 2008. Magetan bulan Agustus-Oktober 2009. prosedur perjanjian. mutu informasi yang diterima. Menurut Kotler dalam Wijono (2000).6 45. Analisis data dengan uji regresi linier ganda dan metode jendela kepuasan. tingkat kepuasan terhadap pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh pendekatan dan perilaku petugas. fasilitas untuk klien. outcome terapi dan perawatan yang diberikan. Distribusi Frekuensi Tingkat Kepuasan Klien Terhadap Mutu Informasi yang Diterima Kategori tingkat kepuasan Sangat tidak puas Tidak puas Puas Sangat puas Jumlah Jumlah 1 36 38 0 75 % 1. Variabel dependen yaitu tingkat kepuasan ibu hamil dan ibu bersalin terhadap pelayanan di Poskesdes. fasilitas klien. prosedur. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian analitik observasional ini menerapkan rancangan cross sectional dengan point time approach. fasilitas umum. waktu tunggu.I No. Data dikumpulkan melalui kuesioner kepuasan (r=0. waktu tunggu. fasilitas umum dan outcome terapi perawatan terhadap tingkat kepuasan ibu terhadap pelayanan ANC dan persalinan di Poskesdes.8). fasilitas klien. outcome terapi dan perawatan yang diterima.4 0 100 Tabel 2. sebesar 75 orang. mutu informasi yang diterima. Distribusi Frekuensi Tingkat Kepuasan Klien Terhadap Pendekatan dan Perilaku Petugas di Poskesdes Kabupaten Magetan Kategori tingkat kepuasan Sangat tidak puas Tidak puas Puas Sangat puas Jumlah Jumlah 0 41 34 0 75 % 0 54. Tabel 1. mutu informasi.Vol. waktu tunggu. HASIL PENELITIAN Hasil Penelitian Deskripsi data penelitian disajikan pada Tabel 1 sampai dengan Tabel 7 dan Gambar 1. Variabel independen adalah pendekatan dan perilaku petugas.7 0 100 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 142 . fasilitas umum yang tersedia. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh secara bersama-sama antara pendekatan petugas. Populasi adalah semua ibu hamil (75 orang) yang melakukan ANC dan ibu bersalin normal di 4 Poskesdes di Kab.3 48 50.

6 48 1. Distribusi Frekuensi Tingkat Kepuasan Klien Terhadap Waktu Tunggu di Poskesdes Kabupaten Magetan Kategori tingkat kepuasan Sangat tidak puas Tidak puas Puas Sangat puas Jumlah Jumlah 0 40 35 0 75 % 0 53. Distribusi Frekuensi Tingkat Kepuasan Terhadap Outcome Terapi Perawatan Yang Diterima di Poskesdes Kabupaten Magetan Kategori tingkat kepuasan Sangat tidak puas Tidak puas Puas Sangat puas Jumlah Jumlah 0 39 36 0 75 % 0 52 48 0 100 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 143 .I No.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Tabel 3. Distribusi Frekuensi Tingkat Kepuasan Klien Terhadap Fasilitas Umum di Poskesdes Kabupaten Magetan tahun 2009 Kategori tingkat kepuasan Sangat tidak puas Tidak puas Puas Sangat puas Jumlah Jumlah 5 29 41 0 75 % 6.7 0 100 Tabel 5 Distribusi Frekuensi Tingkat Kepuasan Klien Terhadap Fasilitas Klien di Poskesdes Kabupaten Magetan Kategori tingkat kepuasan Sangat tidak puas Tidak puas Puas Sangat puas Jumlah Jumlah 0 38 36 1 75 % 0 50.3 100 Tabel 6.6 0 100 Tabel 7.6 54.3 46.Vol.6 38. Distribusi Frekuensi Tingkat Kepuasan Klien Terhadap Prosedur Perjanjian di Poskesdes Kabupaten Magetan Kategori tingkat kepuasan Sangat tidak puas Tidak puas Puas Sangat puas Jumlah Jumlah 0 16 9 0 75 % 0 64 36 0 100 Tabel 4.

057 .153 5. Koefisien Regresi. ditampilkan pada Tabel 8.587 0. Diagram Tebar Tingkat Kepentingan dan Kinerja Poskesdes Hasil analisis korelasi dan regresi. Hasil Analisis Korelasi dari Pearson Variabel Pendekatan (X1) Mutu informasi (X2) Prosedur Perjanjian X3) Waktu Tunggu (X4) Fasilitas Klien (X5) Fasilitas Umum (X6) Outcome terapi (X7) Sig (P) 0.3 .516 = 10.1 .516 = 3. Tabel 8.000 0.07 2.000 0.0 x 0.257 21.516 = 2.6 . Hubungan cukup kuat Signifikan.00 Sumbangan relatif dan sumbangan efektif dari masing-masing variabel terlihat pada Tabel 10.I No.29 3.99 2.01 25.472 0.98 3.070 .000 0.95 93.4 Pendekatan perilaku petugas Mutu informasi yg diterima waktu tunggu prosedur perjanjian Fasilitas klien Fasilitas umum Outcome mean 3. Model Summary dan Hasil F test/ANOVA(b) Model-1 R Square F Sig .159 .79 0.21 = 51.56 88.7 x 0.612 4.76 2.0 4.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Y X 2.9 15.516 12.2 93.425 19.41 3.19 3. Hubungan cukup kuat Signifikan. Tabel 9 dan Tabel 10.Hubungan cukup kuat Signifikan.3 15.000 0.49 93.5 .392 0.7 19.2 .7 7.Hubungan rendah Signifikan.78 3.516 = 2.31 X 0 1 2 3 4 Gambar 1.21 3. Hubungan cukup kuat Tabel 9.7 x 0.4 25.69 93. Hubungan cukup kuat Signifikan.65 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 144 .13 3.097 .Vol.98 2.9 x 0.12 90.21 7 4 3 2 1 .000 0. Hubungan rendah Signifikan.7 100% 21. Sumbangan Relatif dan Sumbangan Efektif Konstanta &Variabel Nilai B SR SE=SRXR square (Constant) Pendekatan (X1) Mutu informasi (X2) Prosedur Perjanjian (X3) Waktu Tunggu (X4) Fasilitas Klien (X5) Fasilitas Umum (X6) Outcome terapi (X7) Jumlah -.91 2.332 0.516 = 8.9 5.941 7.05 3.596 Kesimpulan Signifikan.39 2.002 0.516 = 13.9 x 0.7 4 5 Y= 6 3.4 x 0.219 .29 93.516 = 11.194 .000 Koefisien Korelasi 0.7 x 0.047 .497 0.19 2.460 0.95 1 2 3 . Tabel 10.

fasilitas umum yang tersedia. Petugas tidak boleh memberi layanan asal-asalan. maka empat faktor ini merupakan fokus garapan paling penting.9%).070X4+0. waktu tunggu.4%). waktu tunggu. Artinya. Sumbangan relatif yang paling bermakna secara berurutan adalah outcome terapi keperawatan (25.6% kepuasan pasien atas layanan Poskesdes dapat dijelaskan oleh 7 variabel independen yaitu pendekatan dari pelaku petugas.194X6+0.257X7 Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa 51. outcome terapi dan perawatan yang diterima. maka konstanta kepuasan klien adalah negatif. Artinya. Hubungan antar manusia yang kurang baik akan mengurangi efektifitas dari kepuasan. maka tidak boleh berada pada skala nol. Petugas perlu untuk memberikan pelayanan yang benar-benar memberikan dampak kesembuhan atau upaya penyelesaian masalah yang dihadapi pasien ketika datang. Untuk memunculkan respon minimal terhadap kepuasan layanan.Vol. Petugas Poskesdes juga dituntut melakukan pendekatan yang bagus kepada masyarakat dalam memberikan layanan kesehatan kepada pasien. Empat variabel prediktor ini memberi sumbangan lebih dari 82% terhadap tingkat kepuasan pasien. mutu informasi yang diterima. Pada kondisi persaingan sempurna yaitu pelanggan mampu untuk memilih informasi yang memadai.047X5+0. dan fasilitas klien hanya memberikan sumbangan relatif sebesar 28% saja. dan mutu informasi (15. sehingga nilai konstanta plus (didownload tgl 20 Oktober 2009). Pendekatan petugas memegang peran penting karena hakekatnya pendekatan sangat menentukan mutu layanan kesehatan. Sedangkan 3 variabel lainnya yaitu prosedur perjanjian.4% (100%-51. berarti bila variabel prediktor memiliki kekuatan skala 0. jika pihak pengelola Poskesdes ingin meningkatkan kepuasan pasien. fasilitas umum (19. sehingga layanan kesehatan perlu dipertahankan dan ditingkatkan. 2007). Sedangkan yang 48.I No. responsif.7).097+0. hubungan antar manusia yang baik. menanamkan kepercayaan dan kredibilitas dengan cara menghargai.9%). Yang tidak kalah pentingnya adalah peningkatan pemberian fasilitas umum pasien dan peningkatan mutu informasi yang diterima oleh masyarakat. pendekatan petugas (21. Sehingga yang dibutuhkan adalah pendekatan untuk secara bersama-sama menentukan kebutuhan pasien (Pohan. Artinya mesti harus berbuat sesuatu sehingga dapat memberikan nilai kepuasan yang positif.6%) dijelaskan oleh sebab lain. Nilai konstanta menunjukkan angka negatif (-0.159X2+0. dan memberikan perhatian.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Persamaan Regresi berdasarkan unstandardized coefficient adalah: Y= -. Menurut Wiyono (2000). Penentu kebutuhan pasien bukanlah dia sendiri. kepuasan pelanggan merupakan satu determinan kunci dari tingkat permintaan pelayanan (Triatmojo. supaya ada rasa puas dari klien. fasilitas untuk klien. Empat variabel ini dapat menjadi fokus upaya memperbaiki tingkat kepuasan pengguna layanan Poskesdes. menjaga rahasia. menghormati.97). Dalam konteks ini sangat peka untuk terjadi kesalahan penafsiran atau kekeliruan harapan atas layanan yang diterimanya. mendengarkan keluhan dan komunikasi secara efektif juga penting.057X3+0. pendekatan dan perilaku petugas merupakan aspek yang dianggap penting oleh pasien dengan kinerja layanan sudah di atas rata-rata kinerja layanan kesehatan. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 145 . yaitu tenaga kesehatan. prosedur perjanjian.219X1+0. Kepuasan responden terhadap pendekatan dan perilaku petugas menurut jendela kepuasan berada pada kuadran II. namun di dalam mendapatkan kebutuhannya ditentukan oleh orang lain.

tepat waktu tanggap dan mampu menyembuhkan keluhannya serta mencegah berkembangnya atau meluasnya penyakit (Pohan. tepat standar profesi/etika profesi. Ini sesuai dengan pernyataan Wiyono (2000) bahwa puas bila kinerja sebanding dengan harapan. Outcome jangka pendek seperti sembuh dari sakit.I No. 2004) adalah: tersedia dan terjangkau. Artinya fasilitas bagi klien dinilai penting bagi klien. dan lain-lain. Mutu pelayanan kesehatan dapat ditinjau dari sudut pandang pasien yaitu layanan kesehatan yang dapat memenuhi kebutuhan yang dirasakannya dan diselenggarakan dengan cara yang sopan dan santun. Namun fasilitas umum bagi pasien prioritasnya rendah dalam peningkatan kinerja layanan kesehatan. Outcome adalah hasil akhir kegiatan dan tindakan tenaga kesehatan profesional terhadap pasien. Pelayanan yang efisien akan memberikan perhatian yang optimal sehingga memaksimalkan pelayanan kepada pasien dan masyarakat (Pohan. Wiyono (2000) menerangkan bahwa mutu dapat dilihat dari berbagai perspektif. Dengan demikian. dan kinerja layanan kesehatan atas fasilitas klien telah sejalan dengan keinginan masyarakat. dapat dipastikan tidak efektif dan tidak efisien. ketepatan waktu. mutu pelayanan berarti respek dan tanggap akan kebutuhannya masyarakat.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 2006). Walau waktu tunggu masih perlu ditingkatkan. Keadaan ini memberikan gambaran bahwa outcome terapi dan perawatan yang diterima tingkat kinerjanya kurang dari harapan.Vol. karena berada di atas rata-rata kinerja layanan kesehatan. 2006). pelayanan harus sesuai dengan kebutuhan mereka dan diberikan dengan cara yang ramah waktu mereka berkunjung. yaitu ketepatan waktu. Untuk masyarakat. dapat berarti adanya perubahan derajat kesehatan dan kepuasan baik positif dan negatif (Wiyono. pemberian fasilitas pasien di Poskesdes perlu terus ditingkatkan dan dipertahankan. kemungkinan sembuh di masa datang. Ada beberapa faktor yang dapat dipertimbangkan oleh pelanggan dalam menilai suatu pelayanan. kemampuan menyelesaikan masalah. tepat sumber daya. Faktor-faktor yang akan dipergunakan di dalam mengukur kinerja pelayanan. kemudahan dihubungi. 2006). Penilaian terhadap outcome adalah hasil akhir dari kesehatan atau kepuasan. sedangkan kinerja layanan kesehatan atas fasilitas umum juga belum sesuai dengan harapan pasien. misalnya tingkat keahlian. Kinerja layanan dalam memberikan waktu tunggu yang baik oleh petugas kesehatan juga belum memadahi karena masih di bawah rata-rata penilaian kinerja layanan kesehatan. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan dari hasil penelitian adalah sebagai berikut: Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 146 . Fasilitas umum bagi pasien yang datang ke Poskesdes dinilai kurang penting. 2006) apabila pelanggan merasa tidak puas terhadap suatu pelayanan. dan fasilitas yang dimiliki. tepat kebutuhan. prioritasnya masih di bawah aspek layanan kesehatan yang terdapat pada kuadran I. Wiyono (2000) menerangkan bahwa mutu dapat dilihat dari berbagai perspektif. Bila suatu pelayanan tidak memuaskan klien dapat menjadikan kepuasan klien menjadi jelek. Menurut (Triatmojo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan responden terhadap fasilitas klien berada pada kuadran kanan atas atau kuadran II. 2006:13). kualitas dan harga yang sepadan (Triatmojo. 2000:38-39). Outcome jangka panjang seperti kemungkinan-kemungkinan kambuh. mutu pelayanan yang baik menurut (Sabarguna. artinya kinerja atau mutu fasilitas harus ditingkatkan sejalan dengan harapan klien. kemampuan teknis. cacat. Outcome adalah hasil akhir kegiatan dan tindakan tenaga kesehatan profesional terhadap pasien. dapat dipercaya. Berdasarkan dari penilaian di atas.

Fasilitas klien (SR= 4.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 1.7%. 2002.000. Sumbangan efektif adalah 51. Bidan Desa di Polindes.co. Prosedur perjanjian (SR=5. K=0. Tingkat kepuasan pasien terhadap outcome terapi dan keperawatan yang diterima adalah 93. Perlu penelitian lanjutan dengan menambah besar populasi.55%) 5.31%. http://www. DAFTAR PUSTAKA Anonim.(diakses 25 maret 2008. SE= 13.9%.12% (belum memuaskan).94). 9. Persamaan Regresi berdasarkan unstandardized coefficientregresi adalah: Y= -.Vol. 3.392) dan berada pada kuadran II.460). 7. K=0.000. Jakarta: PT Rineka Cipta.Balipost. K=0.29%. Belum memuaskan. WIB) Anonim. mutu informasi (SR=15. 2.472). Artinya fasilitas bagi klien dinilai penting bagi klien.15).000. 6.or. pukul 11. Jakarta: Dirjen PKM Direktur Bina Kerja. pukul 10. Polindes.7%. Suharsimi. Jakarta: Dirjen PKM Direktur Bina Kerja Jakarta. Waktu tunggu pasien berpengaruh rendah terhadap kepuasan klien (P=0.000. waktu penelitian serta instrumen yang digunakan. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi 5.blogspot. Tingkat kepuasan pasien terhadap fasilitas adalah 88.id.097+0. Fasilitas klien berpengaruh rendah terhadap kepuasan klien (P=0. 2. Tingkat kepuasan pasien terhadap pendekatan 93. 2007.057X3+0. Metode Penelitian.43%.4. 2006.com. (diakses 28 Maret 2008. Depkes RI. Prosedur perjanjian berpengaruh cukup kuat terhadap kepuasan klien (P=0.00 WIB) Anonim.257X7 Saran yang diajukan berdasarkan hasil penelitian adalah: 1.070X4+0. agar penelitian dapat lebih baik dan sempurna. 1999. SE=3. http://rigco-geovano. 4. artinya waktu tunggu masih di bawah harapan pasien.047X5+0.3). Diharapkan ibu hamil dapat mengetahui tingkat kepuasannya terhadap fasilitas kesehatan tersebut dan tetap malakukan ANC secara teratur serta memanfaatkan Poskesdes sebagai tempat melahirkan agar tetap dalam keadaan yang sehat baik bagi Ibu maupun bayi. K=0. Outcome terapi perawatan yang diterima berpengaruh cukup kuat terhadap kepuasan klien (P=0.21). www. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 147 . fasilitas umum (SR=19.tenaga kesehatan. Daftar Tilik Pelayanan Kesehatan Dasar. K=0. SE= 2.49). SE=2.194X6+0.(diakses 25 Maret 2008. dan kinerja layanan kesehatan atas fasilitas klien telah sejalan dengan keinginan masyarakat.9%. SE=10. K=0. Mutu informasi yang diterima berpengaruh cukup kuat terhadap kepuasan klien (P=0. outcome terapi (SR=25. Dalam upaya meningkatkan kepuasan ibu hamil dan melahirkan terhadap pelayanan ANC di Poskesdes diperlukan parbaikan outcome terapi dan pendekatan petugas. 3.id. Prioritas Pada Penurunan Angka Kematian Ibu Dan Bayi.000. Pasien belum puas terhadap prosedur perjanjian (93.I No. SE=11. 2007.002.159X2+0.40.00 WIB) Arikunto.587). waktu tunggu (SR=7. Pendekatan dan perilaku petugas berpengaruh cukup kuat terhadap tingkat kepuasan klien (P=0.2% (belum memuaskan). K=0.61).332). SE=8. 8. Fasilitas umum berpengaruh cukup kuat terhadap kepuasan klien (P=0.pukul 09. Belum memuaskan. Tingkat kepuasan pasien terhadap fasilitas klien adalah 93. Tingkat kepuasan pasien 90.6% dan sumbangan relatif adalah pendekatan (SR=21. Depkes RI.43).7%.000.219X1+0.01).596). 1993.

Alfa Beta. dan Ahmadi. Libido Kekuasaan Sigmund Frend. Baliitbangkes Depkes RI. Pedoman Teknis Andil Maternal-Perinatal di Tingkat Kabupaten/Kota.frinster. Alfabea. Rineka Cipta. Notoatmojo.blogs.com. Editor: Palupi Widyastuti. Agung Seto. Jakarta. http://www. Triatmojo. Ilmu Kesehatan Masyarakat.00 WIB) Narbuko.Vol. http://Murwantorezky. S. Rineka Cipta. Simamora Bilson. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Balai Pustaka : Jakarta. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 148 . 2002. Gklinis. Rineka Cipta. Saifudin A. PT Gramedia Pustaka Utama. Nursalam. 1995. Poerwadarminta. Jakarta Bumi Aksara. Notoatmodjo S. Edisi VI. Buku Saku Bidan di Desa. Jakarta. 2006. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepuasan Pasien Rawat Jalan dan Rawat Inap di Puskesmas.00 WIB) Hamilton Mary P. 1990. Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan dan KB. Salemba Medika. Tasrif S. 1998. diakses tgl 12 Oktober 2009 Sugiyono. Depkes RI. Mengatur Kepuasan Pelanggan. Jakarta. Jakarta. Bandung. 1995. Jakarta: Dirjen PKM Direktur Bina Kerja. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Murwantorezky 2007. 2002.I No. G. Jakarta: Dirjen PKM Direktur Bina Kerja. 2001. Metodologi Riset Keperawatan. 2001. (diakses 25 Maret 2008. Metodologi Penelitian Administrasi. C. 1993. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Erlangga : Jakarta. (diakses 12 Oktober 2009.2003.D. 2002. Yogyakarta. Stuart dan Suandeen. Yayasan Bina Pustaka Sarana Prawiroharjo : Jakarta. pukul 10. Subiyati (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. (diakses 28 Maret 2009. D. Metodologi Penelitian. Kusmiati. EGC Jakarta.net.wordpress. Ilmu Kebidanan. Manuaba Ida Bagus. Jakarta. Kematian Ibu Melahirkan Dan Bayi Masih Tinggi.Panduan Riset Perilaku Konsumen.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Depkes RI.com. gizi. Notoatmodjo S. 2002. Metode Teknik Menyusun Tesis. pukul 09. Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas.00 WIB) Wiyono.triatmojo. Promkes Depkes RI. Imbalo S. 2003. Bandung: CV. Dasar-dasar Perilaku./. Jakarta. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: EGC. 2002. 2004. pukul 09. www. Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan. EGC. 2000. Direktorat Jendral Promosi Kesehatan. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingginya Angka Kematian. Surabaya: Airlangga University Press. Jakarta. EGC: Jakarta. Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi ke 5. 2006. Tarawang. 2005. Jakarta. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Studi Tingkat Kepuasan Klien tentang Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak di Poskesdes Majasem Sudibyo et all. 1999. 1998. S. Standart Kualitas Kemampuan KIP & K Bagi Bidan dalam Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir di Polindes. Jaminan Mutu Layanan Kesehatan. 2005. Nursalam dan Pariani S. 1997. 2000. Riduan. Prawirohardjo. Pohan. S.

3%) to exposure with PRM.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 HUBUNGAN ANTARA KEJADIAN KETUBAN PECAH DINI DENGAN KEJADIAN SEPSIS NEONATORUM DI RUMAH SAKIT DAERAH KABUPATEN MADIUN TAHUN 2004-2007 Sunarto*. Ketuban Pecah Dini (KPD) adalah pecahnya selaput ketuban sebelum tanda-tanda persalinan. Ketiga faktor ini diperberat jika ibu hamil mengalami KPD sebelum masa inpartu. premature rupture membrane (PRM).I No. The objective of this study was to analyze correlation premature rupture membrane into sepsis neonatorum. The analyzed of the exposure with odd ratio. Penyebab utama kematian bayi tersebut antara lain. and 25. 2007).1% was sepsis neonatorum. sepsis neonatorum *: Prodi Kebidanan Magetan Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya **: Rumah Sakit Daerah Kabupaten Madiun PENDAHULUAN Latar Belakang Sepsis neonatorum adalah suatu infeksi bakteri berat yang menyebar ke seluruh tubuh bayi baru lahir. Prevalensi kejadian ini adalah < 1% dari bayi baru lahir. Dwi Umiyati**. dan ditunggu satu jam belum ada tanda-tanda awal persalinan (Manuaba. dan sepsis neonatorum. observasi vital signs. tanpa memperdulikan waktu kehamilan. Prevalensi sepsis neonatorum di RSU Kabupaten Madiun cukup tinggi (11%). Design of the research retrospective. Menurut Elva (2002). Keywords: pregnant women. 1100 samples were recruited by totally population. Efek KPD pada bayi disebabkan oleh infeksi dalam rahim (Mochtar. Upaya untuk mengurangi angka kesakitan ini adalah dengan pemberian antibiotika segera. the pregnant women with PRM8. The population is all chilbirth at Madiun Hospital between 2004-2007.05).Vol. 1998). The result showed that there were 1100 childbirth. observasi detak jantung janin dan pembatasan pemeriksaan dalam (vaginal toucher). Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 149 . 366 (33.003.16 largest to sepsis neonatorum with childbirth. Data were collected by using observation paper. Nurlailis Saadah* ABSTRACT Premature rupture membrane can cause infection to childbirth or sepsis neonatorum. ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban yang terjadi sebelum terjadinya persalinan. prematur. Adequate to premature rupture membrane therapy and caring born to decreased mortality and morbidity maternal and neonatal. The independent variable was premature rupture membrane and the dependent variable was sepsis neonatorum. Data were analyzed by Chi-Square test (p<0. Istilah KPD digunakan untuk menyatakan peristiwa pecahnya ketuban pada sembarang waktu sebelum terjadi persalinan. Penyebab dari 30% kematian bayi adalah sepsis neonatorum. Seberapa besar sepsis neonatorum disebabkan oleh efek KPD di Madiun belum pernah dilaporkan. Ketuban Pecah Dini (KPD) terjadi sekitar 2. and there were relationship between PRM and sepsis neonatorum with value level of p=0. asfiksia.7-17% kehamilan dan pada kebanyakan kasus terjadi secara spontan. Conclution.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dari 1100 persalinan hidup didapatkan. selebihnya 979 (89%) tidak mengalami sepsis neonatorum (Tabel 2). Menurut Saifuddin (2002). Faktor lain yang menyebabkan sepsis neonatorum adalah. bayi lahir kurang bulan. Pecahnya selaput ketuban dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum usia kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm. ada 121 (11%) mengalami sepsis neonatorum. dampak ketuban pecah dini dapat berakibat pada faktor ibu dan faktor janin.7%) persalinan normal (Tabel 1). perdarahan post partum. sejumlah 1100 bayi. dari akibat ini maka angka kesakitan dan angka kematian ibu meningkat. yaitu keluarnya cairan dan tidak ada keluhan sakit. dan 734 (66. Keduanya memiliki gejala yang sama. Pengaruh pada ibu berupa infeksi intra partum. infeksi intra uterin. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 150 .2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Ketuban pecah dini ada dua macam kemungkinan yaitu premature rupture of membrane dan preterm rupture of membrane. Analisis pengaruh paparan terhadap efek menggunakan odds ratio. infeksi nifas. Teknik pengumpulan data menggunakan data sekunder.05. angka kesakitan dan kematian bayi meningkat. Teknik analisis data menggunakan pendekatan statistik Chi-Square dengan α ≤ 0. Infeksi selama kehamilan akibat TORCH. ketuban pecah dini. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan: 1) mengidentifikasi prevalensi kejadian sepsis neonatorum. Dari seluruh bayi baru lahir tersebut. Menurut Ratih Rochmat (2007). 366 (33. Sedangkan Tabel 4 menggambarkan bahwa dari 1100 persalinan hidup. 2) mengidentifikasi prevalensi kejadian KPD. Data dikelompokkan dalam data resiko (KPD) dan data efek (sepsis neonatorum). Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 121 bayi yang sepsis. Tanda-tanda khasnya KPD adalah keluarnya cairan dan tidak ada keluhan sakit. Pengaruh pada janin berupa prematuritas. tidak disertai perasaan mulas atau sakit perut. bayi dengan hipitermia. Populasi penelitian adalah semua bayi lahir hidup di RSUD Kabupaten Madiun selama tahun 2004-2007. 92 di antaranya (76%) berasal dari ibu hamil dengan KPD. sedangkan variabel terikat adalah kejadian sepsis neonatorum. air ketuban keruh juga diduga sebagai faktor resiko sepsis neonatorum. ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung. bayi kurang kalori protein.3%) persalinan didahului KPD.Vol. persalinan dengan tindakan. asfiksia neonatorum. ibu hamil dengan diabetus mellitus dan penyakit bawaan diduga merupakan faktor resiko sepsis neonatorum. Ibu akan merasakan sakit bila janin bergerak-gerak. ibu hamil dengan eklamsia. didapatkan.I No. Aliran cairan tidak terlalu deras. Vagina toucher yang dilakukan petugas dengan frekuensi sering juga mengakibatkan sepsis neonatorum. prolapsus funikuli. Proses persalinan lama. bayi lahir dengan trauma. Variabel bebas penelitian adalah kejadian KPD. 3) menganalisis hubungan antara kejadian KPD dengan kejadian sepsis neonatorum BAHAN DAN METODE PENELITIAN PENELITIAN Penelitian analitik observasional dengan rancangan kasus kontrol (retrospektif) ini berlokasi di Rumah Sakit Daerah Kabupaten Madiun. selebihnya 29 (24%) berasal dari ibu hamil tidak dengan KPD.

Distribusi Frekuensi Kejadian KPD Riwayat Persalinan Frekuensi KPD (+) 366 KPD (-) 734 Jumlah 1100 Tabel 2. Sebaliknya 6. dan OR = 8. 29 (4.003. serviks inkompeten. Ketuban pecah dini terjadi karena beberapa faktor resiko yaitu. Upaya untuk mengurangi resiko antara lain.16 kali lebih besar daripada yang tidak didahului KPD. Artinya bila ibu bersalin didahului KPD.1 95.Vol.9 100 Hubungan antara kejadian KPD dengan kejadian sepsis neonatorum disajikan pada Tabel 5.I No.53% ibu bersalin yang tidak didahului KPD akan melahirkan bayi beresiko sepsis neonatorum. Distribusi Frekuensi Kejadian KPD pada Sepsis Neonatorum No 1 2 Riwayat Bayi dan Persalinan Bayi Sepsis neonatorum dengan KPD (+) Bayi Sepsis Neonatorum tanpa KPD (-) Jumlah Frekuensi 92 29 121 Persentase 76 24 100 Tabel 4. dan kelainan presentasi janin.9%) persalinan tanpa KPD dan bayi tidak mengalami sepsis neonatorum. antenatal care yang rutin minimal 4 kali selama Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 151 .7 100 Tabel 3. Diketahui bahwa 40% ibu bersalin yang didahului KPD akan melahirkan bayi beresiko sepsis neonatorum. No 1 2 Tabel 1. pecahnya membran karena koitus. Distribusi Frekuensi Kejadian Sepsis Neonatorum Menurut Kejadian KPD Sepsis Neonatorum + 92 274 29 705 121 979 Total 366 734 1100 KPD + Total Uji Chi-Square menunjukkan nilai p=0. infeksi kehamilan. Tabel 5. bayi yang dilahirkan akan mengalami sepsis neonatorum 8.16.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 676 (95.1%) persalinan tanpa KPD dan bayi mengalami sepsis neonatorum. Distribusi Frekuensi Kejadian Sepsis Neonatorum pada Persalinan Tanpa KPD No 1 2 Riwayat Persalinan KPD (-) dan Sepsis Neonatorum (+) KPD (-) dan sepsis neonatorum (-) Jumlah Frekuensi 29 676 705 Persentase 4.3 66. Distribusi Frekuensi Kejadian Sepsis Neonatorum No 1 2 Riwayat Bayi Sepsis Neonatorum (+) Sepsis Neonatorum (-) Jumlah Frekuensi 121 979 1100 Persentase 11 89 100 Persentase 33.

demografi. Beberapa komplikasi kehamilan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya sepsis pada nenonatus antara lain. 2005). bahwa gangguan hasil kehamilan disebabkan oleh ibu hamil yang mengalami anemia. Perdarahan ante partum dan post partum juga lebih sering dijumpai pada wanita yang anemia (Notobroto. infeksi pada uterus atau plasenta. atau jamur dapat menyebabkan infeksi berat yang mengarah ke terjadinya sepsis. Bidan juga dituntut mampu menguasai ilmu fisiologi manusia. status gizi. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Hamdah (2006). Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 152 . Kuman Streptococcus grup B merupakan penyebab sepsis paling sering pada neonatus. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil kehamilan antara lain. demam yang terjadi pada ibu. Upaya lain dari petugas kesehatan (bidan) adalah melakukan tindakan sesuai standar operasional prosedur. proses kelahiran yang lama dan sulit.2003). 1) riwayat obstetrik ibu yang jelek. Berbagai kuman seperti bakteri.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 kehamilan. besarnya odd ratio 8. Upaya-upaya tersebut tidak berhasil mengurangi prevalensi KPD bila petugas kesehatan enggan melakukan pendidikan dan pelatihan yang kontinu.16 kali jika terpapar faktor KPD. kelainan persalinan. 4) faktor lain yang belum diketahui. Ketiga kemampuan ini merupakan konsep profesional seorang bidan. Faktor sosial ekonomi masyarakat secara tidak langsung juga menjadi penyebab sepsis neonatorum (Manuaba. atau karena infeksi silang. H. Ada hubungan antara ketuban pecah dini dengan keadaan anemia (Mochtar. technical skill dan interpersonal skill yang dimiliki. kelainan plasenta. nifas dan efeknya adalah infeksi pada anak. Infeksi ini terjadi akibat dari penggunaan alat kesehatan yang tidak steril. Prosedur tetap penanganan KPD adalah ibu inpartu didahului KPD kurang dari 24 jam harus sudah mendapatkan perawatan di RS. dan pengobatan yang tepat. toksemia gravidarum. Resiko sepsis neonatorum menjadi 8. Bidan harus mampu menguasai ilmu epidemiologi. S (2003) menyebutkan bahwa proporsi terbesar dari hasil kehamilan terganggu akibat kelainan pada kehamilan.Vol. penyakit. 2) faktor kehamilan. Keadaan sosial ekonomi dan stress diduga memudahkan terjadinya infeksi saat kehamilan. Oleh karenanya diduga ada hubungan antara tingkat pendidikan petugas dengan kejadian KPD. dan 3) faktor janin. perdarahan. Angka kesakitan infeksi postnatal ini cukup tinggi (Wiknjosastro. Infeksi postnatal adalah infeksi yang diperoleh setelah bayi lahir (aquired infection). patuh melakukan tidakan pencegahan infeksi (UPI) pada setiap melakukan perawatan. 2) KPD.1998). perihal faktor resiko kejadian sepsis neonatorum.81 kali. perawatan oleh petugas yang tidak berdasarkan prinsip universal precaution. dan hal ini perlu diteliti lebih lanjut. infeksi janin. organisme memasuki tubuh bayi melalui ibu selama kehamilan atau proses persalinan. dan 4) standar pelayanan di unit perawatan intensif khusus anak jelek. 1) faktor ibu. Sepsis pada bayi hampir selalu disebabkan oleh bakteri. Pada berbagai kasus sepsis neonatorum. dan sistem rujukan yang memadai. kehamilan ganda. kelainan pertumbuhan konsepsi.I No. Penelitian Florentina. pendidikan kesehatan pada PUS. KPD sebelum 37 minggu kehamilan. ketuban pecah dini. Kemampuan bidan dalam membuat keputusan klinik sangat tergantung dari intelectual skill. R. parasit. perdarahan antepartum. Bidan diharuskan mampu mengambil keputusan klinik dengan baik. ilmu kebutuhan dasar manusia. virus. 1998). 3) keadaan bayi prematur. kelainan letak janin. Beberapa faktor penyebab antara lain. dan ilmu kedokteran klinik.

adanya faktor resiko tersebut. bila ditemukan kasus KPD. Fakta ini memberikan peringatan pada petugas. Siregar. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan penelitian ini adalah: 1) persalinan yang didahului oleh KPD adalah 33. Angka paparan KPD terhadap sepsis neonatorum pada kelompok kasus sebesar 40%. EGC. Manuaba.September 2007. bila ditemukan kasus di tempat terpencil. Obstetri Ginekologi. Lama ketuban pecah berhubungan dengan infeksi neonatal. 1998. guna menekan angka kejadian sepsis neonatorum akibat resiko KPD. www. Jakarta. 4) ibu bersalin yang didahului oleh KPD memberikan resiko 8. 2002. Untuk itu diperlukan pendidikan kesehatan pada ibu hamil untuk mampu menjaga agar kejadian KPD bisa ditekan. C Scott. Diakses 12 Pebruari 2008. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. 40% bayi yang dilahirkan akan mengalami sepsis neonatorum. Rachim Hadhi. Prosedur Tetap Perawatan Ketuban Pecah Dini. Wiknjosastro. jam 09. Jakarta Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 153 .15 wib. 2005. YBPSP.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 KPD yang tidak segera diikuti dengan adanya tanda persalinan. Saifuddin.3%. Statistik Terapan. 2005. 3) Ada hubungan bermakna antara kejadian KPD dengan kejadian sepsis neonatorum. EGC. hal ini dihubungkan dengan peningkatan koloni kuman. Artinya bahwa ibu hamil yang didahului KPD sebelum persalinan. Saifuddin.Vol.medicastore. Upaya-upaya ini hanya bisa dilakukan bila masing-masing petugas dan masyarakat memiliki komitmen yang sama untuk mengurangi kejadian infeksi pada bayi setelah dilahirkan. 2002. Saran yang diajukan adalah diperlukan teknik keputusan klinik yang tepat saat perawatan kehamilan sesuai standar operasional prosedur ANC. Madiun. Ilmu Kebidanan. Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. 1998. Ketiga. YB-SP. EGC. Angka paparan KPD terhadap sepsis neonatorum pada kelompok kontrol sebesar 6. Sinopsis Obstetri. maka dalam waktu kurang dari 24 jam harus segera diberikan pengobatan yang adekuat. 2) 25. Sepsis Neonatorum. Mochtar Rustam. Jakarta.53%. Jakarta.13% dari persalinan yang didahului oleh KPD menimbulkan dampak sepsis neonatorum pada bayi yang dilahirkan. Untuk itu diperlukan kewaspadaan bidan setiap menolong persalinan. memberikan peluang pada mikroorganisme (bakteri) masuk ke tubuh janin melalui vagina. RSD Kabupaten Madiun. meskipun perawatan kehamilan sudah dilakukan dengan baik. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2007. Nailor. maka diupayakan adanya sistem rujukan yang baik sebelum 24 jam.16 kali lebih besar melahirkan bayi dengan sepsis neonatorum. Jakarta. Grasindo. Para ahli kebidanan telah menyepakati bahwa lama ketuban pecah lebih dari 18 jam dianggap sebagai resiko terjadinya infeksi neonatus. Jakarta. resiko sepsis pada neonatorum tetap ada. ascending infection dan jumlah vaginal toucher.I No. Kedua.com Ditulis.

tempat rekreasi. Sebanyak 5 sumur gali masing masing diambil 6 liter untuk djadikan bahan peneltian. Berpedoman pernyataan tersebut. transportasi dan lain-lain.05) yang berarti terdapat perbedaan kekeruhan secara nyata pada air sumur gali. Kekeruhan di dalam air sumur gali dapat dijernihkan dengan cara penambahan biji kelor karena biji kelor berfungsi sebagai pengendap/penggumpal (koagulan) pada kotoran yang terkandung di dalam air. Hasil uji One Way Anova menunjukkan nilai signifikansi 0. 20mg. 10mg. Tetapi masyarakat lebih banyak yang memanfaatkan kualitas air tanah dibandingkan Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 154 . Terlihat nilai mean difference dari kelima perlakuan tersebut semakin meningkat yang berarti bahwa kekeruhan semakin menurun dan penurunan tertinggi yaitu pada pemberian biji kelor 25 mg. Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks di antaranya adalah untuk minum. 15mg. bahkan berkasiat sebagai anti bakteri pada kotoran yang terkandung di dalam air. berarti ada perbedaan kekeruhan antara sebelum dan sesudah pemberian biji kelor pada air sumur gali. pertanian. Besar sampel adalah 30. mencuci dan mandi serta diperlukan untuk keperluan industri. 2004). pemadam kebakaran. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya perbedaan kekeruhan pada air sumur gali antara sebelum dan sesudah pemberian biji kelor di Desa Gabahan Sidoklumpuk Sidoarjo. Secara umum masyarakat di Indonesia dalam memenuhi kebutuhannya masih banyak yang memanfaatkan sumber-sumber air yang berasal dari air hujan.000.Vol. memasak. 10 mg.I No. baik langsung maupun tidak langsung dan manusia akan lebih cepat meninggal karena kekurangan air dari pada makanan. maka dilakukan peningkatan kualitas air melalui pengolahan pada air yang diperlukan. dan masing-masing bahan dilakukan 6 kali pemeriksaan yaitu sebelum pemberian biji kelor dan sesudah pemberian biji kelor 5 mg. Kata Kunci: Kekeruhan.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 PERBEDAAN KEKERUHAN AIR SUMUR GALI ANTARA SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN BIJI KELOR Sri Sulami Endah Astuti* ABSTRAK Biji kelor kelor bermanfaat sebagai pengendap (koagulan) atau penjernih. Secara kuantitas dan kualitas.000 (<0. 20 mg dan 25 mg. Melalui Post Hoc Test diperoleh nilai significant sebelum dan sesudah perlakuan pemberian biji kelor 5mg. 15 mg. terutama pada manusia dan fungsinya bagi kehidupan tersebut tidak akan dapat digantikan oleh senyawa lain. Air merupakan bahan pokok mutlak yang dibutuhkan oleh manusia sepanjang masa. Biji Kelor *: Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya PENDAHULUAN Air adalah zat yang sangat penting untuk kelangsungan semua makhluk hidup. Penelitian eksperimen ini menggunakan bahan berupa air sumur gali yang berjarak 1 meter dari sungai Desa Gabahan. 25mg adalah 0. maka semakin tinggi pula tingkat kebutuhan air masyarakat (Sutrisno. air permukaan dan air tanah. Sedangkan kuantitas air merupakan syarat kedua setelah kualitas karena semakin maju tingkat hidup seseorang. air yang sesuai dengan kebutuhan manusia merupakan faktor penting yang menentukan kesehatannya.

dan zat-zat kimia (garam-garam yang terlarut).net. coli dalam seliter air sungai dalam waktu 20 menit.I No. yang sumber pencemarannya berada dekat dengan air tanah (Alumni.Vol. 15 mg. Yogyakarta pada proses pengolahan limbah cair dari pabrik.iptek. Berdasarkan pernyataan di atas. Bahkan biji kelor ini juga berkasiat sebagai antibakteri yaitu mampu membersihkan 90% dari total bakteri E. 20 mg dan 25 mg.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=5&doc=5b5) Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 155 . anorganik (lumpur dan bakteri). dan hasilnya terjadi degradasi warna hingga 98%. 10 mg. tempat sampah) dan kandang hewan. penurunan BOD 62% dan kandungan lumpur 70 ml/liter. Kekeruhan air sumur gali dapat dijernihkan dengan cara penambahan biji kelor karena biji kelor berfungsi sebagai pengendap atau penggumpal (koagulan) pada kotoran yang terkandung di dalam air.1996). Sedangkan dari segi estetika kekeruhan air dapat disebabkan oleh pencemaran baik melaui pembuangan (limbah. padahal di air tanah itu sendiri masih banyak mengandung zat tersuspensi seperti: bahan-bahan organik. Sebanyak 5 sumur masing-masing diambil 6 liter untuk dijadikan bahan penelitian. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian eksperimen pada bulan Juni 2008 di BBLK (Balai Besar Laboratorium Kesehatan) Surabaya ini menggunakan bahan berupa air sumur gali yang berjarak 1 meter dari sungai di Desa Gabahan Kecamatan Sidoklumpuk Kabupaten Sidoarjo.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 dengan sumber yang lain. Bahan seperti inilah yang dapat menyebabkan kekeruhan di dalam air tanah. Besar sampel adalah 30 dan masing-masing bahan dilakukan 6 kali pemeriksaan yaitu sebelum pemberian biji kelor dan sesudah pemberian biji kelor 5 mg. seperti pada penelitian yang dilakukan di Universitas Gajah Mada. perlu diteliti tentang penurunan kekeruhan air sumur gali dengan pemberian ekstrak biji kelor (moringa oleifera). Biji Kelor (Sumber: http://www. Gambar 1.

mengukur dengan alat turbidimetri. batang pengaduk. mengaduk dengan menggunakan batang pengaduk secara cepat 30 detik dengan kecepatan 55-60 putaran permenit. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil pemeriksaan kekeruhan pada 5 sampel air sumur gali sebelum dan sesudah pemberian biji kelor 5mg. dilihat alat yang didapat.05. 10 mg. mengaduk kembali secara perlahan dan beraturan selama 5 menit dengan kecepatan 15-20 putaran permenit. dan 25mg. Perbedaan secara nyata dapat dilihat apabila nilai signifikan <0. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 156 . kemudian menimbang biji kelor sebanyak 5 mg. Alat dan bahan terdiri atas mortil. memasukkan serbuk biji kelor sebanyak 5 mg. 15 mg. 10 mg. 20 mg dan 25 mg. yaitu: tabung ditutup dengan kaca pencelup (plunger) sampai tidak ada udara. 20 mg dan 25 mg biji kelor.Vol.I No. Perlakuan terhadap sampel sebelum pemberian biji kelor yaitu dengan menuang sampel air masing-masing 1 liter ke dalam tabung pada alat turbidimetri dan diberi tanda A sampai dengan E. dimasukkan ke dalam alat turbidimetri hellige. dimasukkan dalam tabung pada alat turbidimetri. yaitu: tabung ditutup dengan kaca pencelup (plunger) sampai tidak ada udara.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Metode pemeriksaan yang digunakan adalah metode Turbidimetri dengan prinsip pemeriksaan didasarkan pada perbandingan intensitas cahaya dan efek tyndall yang terjadi. 10 mg. Hasil pengujian One Way Anova kemudian dilanjutkan dengan Post Hoc Test dengan metode Least Significant Difference (LSD) yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan secara nyata dari kekeruhan air sumur gali sebelum dan sesudah pemberian biji kelor 5 mg. dilihat alat yang didapat dan dilihat dalam tabel untuk mendapatkan hasil unit skala TCU. timbangan analitik. tabung. One Way Anova digunakan untuk menguji perbedaan varians kekeruhan air sumur antara sebelum pemberian biji kelor dan sesudah pemberian 5 mg. uji homogenitas varians dengan tes Homogeneity of variances dan terakhir uji One Way ANOVA jika data terdistribusi normal dan memiliki varians homogen. petridish. Prosedur pembuatan serbuk biji kelor yaitu menyiapkan biji kelor yang sudah tua dan kering. tumbukan biji kelor yang tua dan kering. 15 mg. dan air sumur gali yang keruh. 10mg. Data hasil penelitian yang diperoleh kemudian diuji dengan bantuan Program SPSS for Windows Version 13 meliputi uji normalitas dengan Kolmogrov-Smirnov Test. Sedangkan perlakuan sampel sesudah pemberian biji kelor yaitu dengan menuangkan sampel air masingmasing 1 liter dalam beaker glass dan diberi tanda 1 sampai dengan 5. diputar tombol sampai bintik dalam alat merata. biji kelor yang sudah kering. turbidimeter. 15mg. Sedangkan untuk mengetahui besarnya perbedaan dilihat dari nilai mean difference apabila positif terjadi penurunan dan apabila negatif berarti terjadi kenaikan. dilihat dalam tabel akan mendapatkan hasil unit skala TCU. disajikan data pada Tabel 1. kemudian kaca filter diatur dan pintu di tutup. menyaringnya dengan corong. dimasukkan ke dalam alat turbidimetri hellige. 15 mg. mengupas biji kelor dan membersihkan kulitnya. 15 mg. 20 mg dan 25 mg pada masing-masing beaker glass sesuai dengan urutan. 10 mg. kemudian diukur dengan alat turbidimeri. kemudian ditumbuk sampai halus betul. diputar tombol sampai bintik dalam alat merata. kemudian air diendapkan selama 1-2 jam. karena setiap sampel mendapat 5 perlakuan. 20 mg dan 25 mg. beaker glass. 20mg. kemudian kaca filter diatur dan pintu ditutup.

Dari nilai mean difference dari masing-masing perlakuan diperoleh nilai positif yang berarti terjadi penurunan kekeruhan. semakin tinggi dosis biji kelor maka semakin tinggi penurunan kekeruhan yang terjadi. berarti ada perbedaan varians kekeruhan air antara sebelum dan sesudah pemberian biji kelor dengan 5 perlakuan yaitu 5mg.93 3.31 1.94 1. maka Ho ditolak.89 3.06 2. 15mg.18 2.05) yang berarti data berdistribusi normal.02 2.48 2. Test Homogeneity of Variances menunjukkan nilai Levene Statistic sebesar 0.76 2.84 1. antara sebelum dan sesudah pemberian biji kelor 15 mg terjadi penurunan sebesar 2.33 1.53.12 1. 20mg. antara sebelum dan sesudah pemberian biji kelor 20 mg terjadi penurunan sebesar 2.47 2.74 0. Pembahasan Dari uji One Way Anova diketahui bahwa ada perbedaan kekeruhan air sumur gali antara sebelum dan sesudah pemberian biji kelor dengan berbagai variasi dosis.604 (> 0. dan variabel kekeruhan sebesar 0.000.18.05) yang berarti data berdistribusi normal.88 1. antara sebelum dan sesudah pemberian biji kelor 10 mg terjadi penurunan sebesar 1.05 Hasil uji normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov Test menunjukkan nilai asymptod significant variabel pemberian biji kelor sebesar 0.97. p=0. Dari uji One Way Anova tersebut. Post Hoc Test dengan metode Least Significant Difference (LSD) menunjukkan nilai signifikansi 0.45.50 1.40 2.92 2.000 (< 0. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 157 . coli dalam air seliter. Kekeruhan antara sebelum dan sesudah pemberian biji kelor 5 mg terjadi penurunan sebesar 1. maka pengujian dapat dilanjutkan ke uji One Way Anova.Vol.89 1.98 4.58 5 mg 2.59 3.940 (> 0. Hal di atas dapat terjadi karena biji kelor mempunyai manfaat sebagai pengedap atau koagulan yang terkandung di dalam air dan berkhasiat sebagai antibakteri yaitu membersihkan 90% dari total bakteri E.39 1.84 25 mg 1.18 2.735 (> 0. dalam hal ini berupa penurunan kekeruhan.553 dan nilai signifikansi 0.05) yang berarti terdapat perbedaan secara nyata kekeruhan pada air sumur gali. 25mg.87 3.42 1.909 dengan taraf signifikansi sebesar 0.07 0. diketahui bahwa ada perbedaan kekeruhan air sumur gali antara sebelum dan sesudah pemberian biji kelor.56 2. 10mg.05) sebesar 2. A B C D E Rata-rata Sebelum 4. Karena nilai F hitung > F tabel dan taraf signifikansi 0.05) yang berarti bahwa data tersebut memiliki varians homogen.20 3.93. sedangkan nilai F tabel (df=29.000 (< 0.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Tabel Hasil Pemeriksaan Kekeruhan Air Sumur Gali Sampel No.28 1. dan antara sebelum dan sesudah pemberian biji kelor 25 mg terjadi penurunan sebesar 2.94 2.45 3. Uji One Way Anova memperoleh nilai F hitung=26. Post Hoc Test membuktikan adanya perbedaan secara nyata mengenai kekeruhan pada air sumur gali tersebut.02 Kekeruhan (mg/l) Sesudah Pemberian Biji Kelor 10 mg 15 mg 20 mg 2.05). Karena data berdistribusi normal.19 1. Nilai mean difference dari ke 5 perlakuan tersebut semakin meningkat yang berarti bahwa kekeruhan semakin menurun dan penurunan tertinggi yaitu pada pemberian biji kelor 25 mg.13. Dalam hal ini.I No.

Pengantar Kesehatan Lingkungan. kapur. Penyediaan air bersih bagi masyarakat. Buku Pengantar Bidang Studi Penyediaan Air Bersih. Vogel.A. Bandung. arang tempurung kelapa. 2005. tanah liat. 1989.Totok.. Sugiharto. Teknologi Penyediaan air Bersih. Tarsito. Konsep Dasar Kimia Analitik. DAFTAR PUSTAKA Andi. Penerbit Tarsito.EGC.. 2004.. Waluyo. Buku Kedokteran EGC. 2) kekeruhan air sumur gali menurun dengan peningkatan dosis biji kelor yang diberikan.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Pemakaian biji kelor ini relevan dengan saran yang pernah diberikan melalui artikel: Teknologi Tepat Guna yang dikeluarkan oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi tentang Pengelolaan air dan sanitasi yaitu tentang penjernihan air dengan biji kelor. arang sekam padi. PT Rineka Cipta.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg =5&doc=5b5 Margono. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. Jakarta. Bandung. 2004. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan penelitian ini adalah: 1) ada perbedaan tingkat kekeruhan air sumur gali secara bermakna antara sebelum pemberian biji kelor dan sesudah pemberian biji kelor dengan peningkatan dosis. 416/Menkes/Per/IX/1990 Saptoraharjho.net. Candra. Kimia lingkungan.Vol. Yokyakarta. Mikrobiologi lingkungan. Universitas Indonesia. kerikil.. proyek pengembangan pendidikan tenaga sanitasi pusat. 2003. Malang . Kanisius. kaporit. yang menyatakan bahwa: kebutuhan akan air bersih di daerah pedesaan dan pinggiran kota untuk air minum.. . 1983. Kimia Air. tanjungkarang jakarta. Kimia Lingkungan.iptek. Di antara bahan-bahan tersebut adalah biji kelor di samping batu. 2003. Rineka Cipta. Rompas. PERMENKES RI No. Kementrian Negara Riset dan Teknologi. ijuk. Notoatmodjo Soehidjo. memasak . 1990. Sutrisno. Alumni. Cara penjernihan air perlu diketahui karena semakin banyak sumber air yang tercemar limbah rumah tangga maupun limbah industri. . Universitas Muhammadiyah Malang.. Pengelolaan Air dan sanitasi: Penjernihan Air Dengan Biji Kelor (Moringa oleifera).. Budiman.. buku kedokteran. http://www.. 2002. Sudjana. Jakarta. Bandung. Kimia analisis kuantitatif an organik edisi 4. dan lain-lain.. pasir. Ilmi Kesehatan Masyarakat... Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 158 . Air Dalam Kehidupan dan Lingkungan yang Sehat (Depkes RI Akademi Kesehatan Lingkunagan Surabaya)..I No. Max Rizald. Jakarta. Departemen Kesehatan RI. Jakarta. Selanjutnya disarankan agar masyarakat memanfaatkan biji kelor sebagai teknologi tepat guna dalam upaya penjernihan air untuk keperluan rumah tangga. Bandung. Metode Statistika. tawas... Cara-cara yang disajikan dapat digunakan di desa karena bahan dan alatnya mudah didapat. mencuci dan sebagiannya harus diperhatikan... 2005. Jakarta. 1996. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolahan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. 1998..

in the significance of p=0.0009.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 PENGARUH PEMBERIAN BALIKAN DAN MOTIVASI BERPRESTASI TERHADAP HASIL BELAJAR DALAM MERAWAT PAYUDARA IBU HAMIL Tumirah* ABSTRACT This research is aimed at bringing about proof that variative direct feed-back and motivation for achievement have the significant influence on the pregnant woman’s breast treatment. The drawn sample is 36 students consisting of 18 students belong to experiment group and 18 students belong to control group. The population are the students of the semester II Midwifery Program Magetan. Based on the analysis of multivariate anova. the results drawn results states that there is interaction between the learning method. The treatment of the research is given in the form of direct feed-back method during two weeks. Student with higher motivation to achievement get the better average achievement than those with low one. motivation is the most dominant factor in that achievement. in the significance of p=0. The motivations of the students are scored in result of questionnaires. This research is designed experimentally spesifically factorial research design. The research brings about conclusion that there is interaction between. The analysis of this research brings about conclusion that the average achievement in pregnant women’s breast treatment is better obtained within the provision of direct feed-back than that within independent learning method . Keterampilan yang diperoleh pada pembelajaran laboratorium ini menjadi bekal pada penyesuaian profesionalisasi di lapangan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada klien secara nyata.000. learning motivation. term 1999. motivation to achievement in pregnant woman’s breast treatment. Permasalahannya adalah selama ini masih banyak rancangan pembelajaran laboratorium tidak sesuai dengan kurikulum.00. Based on t-test. the Faculty of Medicine. motivation to achievement. *: Prodi Kebidanan Magetan Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan pembelajaran laboratorium adalah peningkatan aspek pengetahuan dan keterampilan peserta didik. Unair Surabaya. Presumably.I No. wich sum to 40 person. Key words: direct feed-back. achievement in breast treatment. The student achievements are scored through checklist taken from Sudy Program DIV Nursing Teacher. both in experiment group and control group. provision of feed back. 08. The research treatment on the research subjects is the subject’s skill in doing phantom of treating pregnant woman’s breasts.Vol.000. with frequency of 3X60 minutes. Demikian juga tenaga pengajar kurang memahami secara benar tentang cara merancang pembelajaran Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 159 . ech action. students with the high motivation to achievement get the better average achievement than those with low one.

I No. sedangkan hasil belajar merawat payudara merupakan variabel terikat. sedangkan data hasil belajar diperoleh melalui checklist teknik perawatan payudara Prodi DIV Perawat Pendidik FK Unair Surabaya. dan sampel diambil dengan teknik simple random sampling sejumlah 36 orang yang selanjutnya dibagi menjadi 2 kelompok masing-masing 18 orang. Mereka juga kurang puas terhadap buku panduan (59. efisien. Hasil penelitian Sunarto dkk (2001) tentang profil dosen Program Studi Kebidanan Magetan menunjukkan bahwa keengganan tenaga pengajar dalam membuat rancangan pembelajaran laboratorium disebabkan oleh: 1) dosen kesulitan membuat silabus pembelajaran laboratorium.6%) dan 79. Dosis perlakuan diberikan kepada kedua kelompok yaitu kelompok perlakuan diberi balikan disertai modul dan kelompok kontrol diberikan perlakuan latihan mandiri. sehingga pemenuhan target keterampilan bagi peserta didik tidak sesuai dengan harapan. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian eksperimental dengan rancangan faktorial 2X2 ini dilakukan di Prodi Kebidanan Magetan Politeknik Kesehatan Surabaya. Penerapan balikan ini khusus pada pokok bahasan perawatan payudara ibu hamil sebagai salah satu target kompetensi dasar.Vol.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 laboratorium. Oleh sebab itu. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: 1) membuktikan perbedaan hasil belajar mahasiswa dalam merawat payudara ibu hamil menurut pemberian balikan. Variabel bebas penelitian adalah pemberian balikan dan motivasi berprestasi. 1985:25). Pendekatan ini untuk membuktikan perbedaan hasil belajar mahasiswa setelah diberikan metode balikan dan motivasi. selanjutnya dilakukan uji hipotesis menggunakan uji Multivariate Anova dengan terlebih dahulu memenuhi asumsi yang dipersyaratkan. murah dan lebih memberikan suasana interaksi belajar mengajar yang harmonis antara mahasiswa dan pembimbing. Pada penelitian ini akan diterapkan metode balikan pada pembelajaran laboratorium karena cukup relevan. Kondisi di atas adalah dampak dari pola pembelajaran yang belum standar. Sebagai gambaran kurang terprogramnya pembelajaran laboratorium tampak dari tingkat kepuasan mahasiswa yaitu 52% dari 109 responden tidak puas terhadap pedoman praktika di laboratorium. 3) membuktikan interaksi antara pemberian balikan dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar mahasiswa dalam merawat payudara ibu hamil.7% juga kurang puas terhadap pembelajaran klinik. 3) alokasi waktu pembelajaran laboratorium sering tidak sesuai. tujuan pembelajaran yaitu perubahan perilaku yang dinyatakan dalam cara bertingkah laku berkat pengalaman dan latihan-latihan tidak tercapai secara maksimal (Hamalik. Setelah terkumpul. Data motivasi berprestasi diperoleh melalui kuesioner. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 160 . 2) dosen kurang sesuai dalam memberikan sistem evaluasi pembelajaran laboratorium. 2) membuktikan perbedaan hasil belajar mahasiswa dalam merawat payudara ibu hamil menurut tingkat motivasi berprestasi. data disajikan secara deskriptif berupa distribusi frekuensi dan tendency central. Populasi penelitian adalah mahasiswa Prodi Kebidanan Magetan sejumlah 40 orang.

Tampak bahwa pada kelompok perlakuan.61 31.23 Median 122 120 Mode 106 125 Min 98 98 Maks 147 135 Tabel 3.38 28.1) dibandingkan dengan kelompok kontrol (116.99 11. Terlihat bahwa nilai rerata hasil belajar kelompok perlakuan (91. Tabel 2.23 2 4 3. Tabel 1.1 Kontrol 116.57 Simpangan Baku Varians 5.74 13. mahasiswa bermotivasi tinggi Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 161 .8 126.97 5.5 70. mereka yang bermotivasi tinggi memiliki nilai rerata lebih tinggi (126. Pada tabel ini data motivasi berprestasi belum dikategorikan dan kelompok perlakuan memiliki nilai rerata yang lebih tinggi (121.3).52 3.38 84 73 65.62 Data tentang hasil belajar mahasiswa dalam merawat payudara disajikan berupa tendency central (Tabel 3). Unsur-Unsur Tendency central Hasil Belajar Mahasiswa Dalam Merawat Payudara Variabel Perlakuan Kontrol Motivasi Rendah Motivasi Tinggi Motivasi Tinggi Kelompok Perlakuan Motivasi Rendah Kelompok Perlakuan Motivasi Tinggi Kelompok Kontrol Motivasi Rendah Kelompok Kontrol Rerata 91.16 26.69 7.1 103.15 2.67%) Motivasi Rendah 5 (28%) 7 (39%) 12 (33. proporsi mahasiswa dengan motivasi tinggi lebih besar (72%) dibandingkan dengan kelompok kontrol (61%). Berdasarkan tingkat motivasi dari seluruh mahasiswa.78 7.76 138.12) daripada mahasiswa bermotivasi rendah (103. Distribusi Motivasi Berprestasi Mahasiswa Kelompok Perlakuan Kontrol Jumlah Tinggi 13 (72%) 11 (61%) 24 (66.I No.3 SD 12.12 94.5) lebih tinggi daripada kelompok kontrol (70.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Deskripsi perbandingan motivasi berprestasi antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol disajikan pada Tabel 1.Vol.8).75 Variance 168.33%) Jumlah 18 (100%) 18 (100%) 36 (100%) Tendency central motivasi berprestasi mahasiswa disajikan pada Tabel 2.98 5. Pada masing-masing kelompok. Unsur-Unsur Tendency Central Motivasi Berprestasi Mahasiswa Kelompok Mean Perlakuan 121.1).43 11.56 57.

Memori yang baik tersebut berasal dari latihan berulang-ulang meskipun tak dibimbing. sehingga pada kelompok kontrol sudah terbentuk memori yang sangat baik.846 dan p=0. Pembahasan Meski hasil belajar mahasiswa tidak jauh berbeda antara kelompok yang diberi balikan dan kelompok belajar mandiri. Selain itu. Levene’s test untuk menguji homogenitas varians menunjukkan nilai p=0. dalam hal ini mempengaruhi hasil belajar (Folkman & Lazarus. Karena nilai p dari kedua kelompok >0. Karena Ho ditolak. 1988). Karena nilai p dari masing-masing kelompok tersebut >0. masing-masing 94.344 pada kelompok perlakuan dan nilai 0.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 juga mendapatkan nilai rerata hasil belajar yang lebih tinggi pula. Hasil uji Multivariate Anova untuk kelompok perlakuan menunjukkan F=60. mahasiswa mampu merubah persepsi dan atau meningkatkan kondisi yang dianggap mengancam. Terbentuknya memori berasal dari rangsangan yang diterima oleh reseptor yang selanjutnya disalurkan berupa impuls melalui neuron sensorik menuju otak.133 pada kelompok kontrol.643 pada kelompok perlakuan dan p=0. Sedangkan pada kelompok kontrol F=12.38 melebihi 84 pada kelompok perlakuan dan 73 melebihi 65. perlu dilakukan uji T untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.003 untuk kelompok kontrol. sehingga meskipiun tidak dibimbing. Respon emosi positif dan mekanisme pertahanan diri yang positif dapat mengurangi reaksi stress. artinya ada perbedaan hasil belajar mahasiswa dalam merawat payudara antara mahasiswa yang diberi balikan dan tak diberi balikan. Mungkin hal ini dipengaruhi oleh dosis perlakuan yang berlebihan. Karena nilai p<0.775 dengan p=0.57 pada kelompok kontrol. otak juga berfungsi menyimpan hasil jawaban rangsangan berupa memori yang sewaktu-waktu bisa di-recall kembali jika ada rangsangan yang sama. Kelompok mahasiswa dengan motivasi berprestasi lebih tinggi memiliki hasil belajar yang lebih baik. impuls akan dipersepsikan. Hasil uji normalitas data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov menunjukkan nilai 0.448 dan p=0.550 dengan p=0.Vol.472 pada kelompok kontrol.05. pengaruh motivasi sangat dominan pada kelompok perlakuan. intensitas belajar yang berulang-ulang dipandang sebagai stimulator yang baik. maka data pada kedua kelompok memiliki varians homogen.I No. Dengan demikian. dengan nilai 7.05. maka kedua data dari kelompok perlakuan dan kelompok kontrol berdistribusi normal.05. Oleh karena itu.003.937 dan p=0. Dalam hal ini. dan sebaliknya motivasi yang rendah akan menurunkan Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 162 . diinterpretasikan kemudian dijawab.000 untuk kelompok perlakuan dan nilai 3. Pada kasus ini. rangsangan yang berulang-ulang akan memberikan memori yang kuat dan tahan lama dibanding dengan rangsangan yang cepat. Latihan berulang-ulang diyakini dapat menumbuhkan persepsi dam motivasi positif dan memperbaiki mekanisme pertahan diri. Motivasi berprestasi atau motivasi belajar untuk meningkatkan prestasi mampu menumbuhkan respon emosionl yang positif. motivasi dipandang sebagai stimulasi untuk menumbuhkan respon emosional. Di otak. Stimulasi yang kuat akan meningkatkan respon emosional.Dari Uji tersebut juga diketahui bahwa ada interaksi antara motivasi belajar dengan hasil belajar dalam merawat payudara ibu hamil. namun kelompok yang diberi balikan memiliki hasil belajar yang lebih baik.000. maka Ho ditolak.602 dan p=0.

sehingga teknik perawatan payudara sebagaimana keduapuluh delapan langkahnya dipandang oleh mahasiswa yang bermotivasi rendah sebagai stressor belajar. 1. Atribut Terhadap Sebab-Sebab Keberhasilan dan Kegagalan serta Kaitannya dengan Motivasi untuk Berprestasi. Jakarta: Binarupa Aksara Azwar Syaifuddin. Berdasarkan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada interaksi antara pemberian balikan dan motivasi berpreastasi terhadap hasil belajar dalam merawat payudara ibu hamil.I No. DAFTAR PUSTAKA Arikunto Suharsimi. Oleh karena itu hasil penelitian ini kurang signifikan untuk membedakan mana yang lebih baik di antara kedua kelompok terhadap hasil belajar. SIMPULAN DAN SARAN 1. 2000. Apakah kelompok perlakuan lebih baik ataukan sebaliknya. 1993. Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat.Vol. Palo Alto. Diduga variabel motivasi merupakan faktor dominan yang sangat mempengaruhi hasil belajar. 1988. Test Prestasi. Jakarta: Pusdiknakes Folkman S. 1990. Manual For The Ways of Coping Questionnaire. Oleh karenanya. Jakarta: Bumi Aksara Ardhana. 2. Lazarus RS. Asuhan Kebidanan pada Ibu dalam Konteks Keluarga. Yogyakarta: Pustaka Pelajar ______. frekuensi. Malang: FKIP IKIP Malang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Depkes RI. Diperlukan penelitian lanjutan tentang pengaruh dosis bimbingan terhadap kemampuan mahasiswa dalam merawat payudara. 3. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Edisi I. 2. dan waktu. 1987.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 respon emosional. Simpulan dari penelitian ini adalah: Terdapat perbedaan hasil belajar dalam merawat payudara ibu hamil antara mahasiswa yang diberi balikan dan tidak diberi balikan Terdapat perbedaan hasil belajar dalam merawat payudara ibu hamil antara mahasiswa bermotivasi tinggi dan bermotivasi rendah Terdapat interaksi antara pemberian balikan dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar mahasiswa dalam merawat payudara ibu hamil. dengan menambah variabel dan besar sampel. diajukan beberapa saran sebagai berikut: Motivasi belajar dapat digunakan sebagai faktor input pengajar dalam menerapkan metode pengajaran untuk memperbaiki respons emosional belajar mahasiswa Perlunya penetapan dosis bimbingan tepat meliputi intensitas. 3. Aswar Azrul. tepat bila variabel motivasi merupakan faktor dominan yang sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar dalam merawat payudara ibu hamil. CA: Consulting Psychologist Press Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 163 . Pidato Pengukuhan Guru Besar. khususnya pada pembelajaran laboratorium sesuai beban SKS yang telah ditentukan agar pencapaian target kompetensi sesuai dengan kemampuan awal mahasiswa. 1988. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. 1999.

Kendel E. The Achieving Society. 1981. Hadi Sutrisno. Surabaya: FK Unair Putra Suhartono Taat. Metodologi Penelitian. Magetan: Urusan Penelitian Program Studi Kebidanan Magetan Syamsudin Abin. 1994. Surabaya: Airlangga University Press PSIK FK Unair. Jakarta: Pustaka Jaya Sudjana. 2002. 1995. Manajemen Pendidikan. Metologi Penelitian Kesehatan.al. Jakarta: Gramedia Soekartawi. Statistik Nonparametrik Untuk Ilmu-Ilmu Sosial. In Essential of Neural Science and Behavior. New Orleans. 1985 Notoatmodjo S. Textbook of medical Physiology. Surabaya: FK Unair Mc. Jakarta: Rineka Cipta Nursalam. Jakarta: PT Ghalia Indonesia Widjajakusumah MD. Tesis. Robert M. Profil Mengajar Dosen Prodi Kebidanan Magetan. 1999.2002. Psikologi Pendidikan. Metode Statistika. Rudiati. 1988. Perencanaan Pengajaran. 25-26 September 1999. Hubungan Antara Motivasi Berprestasi dan Pemanfaatan Sumber Belajar dengan Prestasi Belajar. Surabaya: Airlangga University Press Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 164 . 1993. 1995. Meningkatkan Efektifitas Mengajar. et. Statistik Jilid III. Pedoman Penyelenggaraan Program Keprofesian Keperawatan pada Program Pendidikan Ners. 1986. Lieben Paulus. Makalah. Semarang: IKIP Semarang Press Sumar. Motivation and Immune Function in Health and Disease.Vol. Learning and Memory. Agenda Bersama Rumah Sakit Pendidikan dan Fakultas Kedokteran. Surakarta: UNS Siegel Sydne. Bandung: Publikasi Jurusan PPB FIP IKIP Bandung Wahjosumidjo. Suparji. Pendekatan Praktik Metodologi Riset Keperawatan. 2001. 1985. Pengaruh Metode Mengajar dan Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Siswa SMU.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Gagne. 2002.I No. Makalah. 1996. Jakarta Zainuddin Mohammad. Surabaya: Unair Sardiman AM. disampaikan pada acara Seminar Nasional Pendidikan. Menyelenggarakan Pendidikan Bermutu dan Pelayanan Prima di Rumah Sakit. Newyork: The Free Press ______. Metodologi Pengajaran. 1984.1998. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. 1998. Makalah disampaikan pada Rapat Kerja Keperawatan Tanggal 20-21 Desember 1999. 25 Mei 2002 Madiun. Neurotransmitter dan Hormon dalam Psikoneuroimunologi. Guyton AC. Kepemimpinan dan Motivasi. & Pariani Siti. 2000. Semarang: FKIP IKIP Semarang Sugito Sukewi. 1999. et al. Philadelphia: WB Saunders Co. Prentice Hall inc. Kelompok Studi Psikoneuroimunologi. Gramik. Bandung: Transito Sugandi Achmad. & Kupferman. USA Halt. 1998. Tesis. Tingkat Kepuasan Mahasiswa dalam Praktek. 1985. 1980. 1999. Clelland DC. Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM Karhami S Karim. 1994. March. 2002. Strategi Pengelolaan Sekolah Pasca Penghapusan Ebtanas. Sulikah. Magetan: Urusan Penelitian Program Studi Kebidanan Magetan Sunarto. 1967. 1985. Rinehart and Winston Inc. Paper Presented at the Amal Meeting of The Society of Behavioral Medicine. Makalah Workshop Psikoneuroimunologi. Jakarta: Sagung Seto Prijambodo Bambang. Surakarta: UNS Sunarto. Metodologi Penelitian. Principle of Instructional Design. Jakarta: Rajawali Press Sauman Muhammad.

I No. Pemakaian kantong teh celup sangat beragam dari yang berwarna putih sampai yang kurang putih sebagai akibat beragamnya proses pemucatan. VI(0. warna dan kenampakan teh merupakan variabel terikat. III (0. the tea bag. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 165 . the chloride in the tea bag influences the quality of the tea bag is analyzed organoleptically.V (0. Kadar klorida dalam kantong teh celup merupakan variabel bebas penelitian. teh celup merupakan suatu produk yang sudah dikenal dan sangat digemari oleh masyarakat karena sangat praktis penggunaannya (Werkhoven. Produk tersebut merupakan bentuk lanjut dari teh seperti bentuk teh yang lebih praktis yaitu teh celup atau dalam bentuk yang siap minum seperti teh kotak. Apparently. Teh kemasan yang satu ini menggunakan kertas tipis sebagai pengemas yang berfungsi ganda. warna dan aroma teh. Handoyo* ABSTRACT The determination of chloride content in the tea bagpaper from several sample such as.Vol. II (0. Klorida adalah senyawa yang mudah terurai dalam air sehingga diduga akan mempengaruhi rasa.1974). BAHAN DAN METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah eksperimen dengan menggunakan metode volumetri (argentometri ) untuk mengetahui kadar klorida dan organoleptik untuk mengetahui kualitas teh celup. IV (0. aroma serta kenampakan teh yang dikemas dalam kantong teh celup.involving the taste. tea appearance and infusion leave. kantong kertas teh celup sering dipucatkan dengan senyawa klorida. sedangkan rasa. dan yang diambil sebagai sampel adalah jenis teh hitam celup. I-VI has been done by volumetric methode. using Kalium Khromat indicator The content of chloride of each sample are: I (0. warna.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 ANALISA KADAR KLORIDA PADA KANTONG TEH CELUP SERTA PENGARUHNYA TERHADAP MUTU TEH Santi Setiorini*. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar klorida dalam kantong teh celup dan pengaruhnya terhadap rasa.728%). quality of the tea *: Prodi Kesehatan Lingkungan Madiun Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya PENDAHULUAN Latar Belakang Aneka produk olahan dari bahan baku teh banyak dijumpai di pasaran dewasa ini. All of the samples wich are analyzed are black type. Key word: chloride.828 %).508%). Di antara produk tersebut. Untuk mengetahui seberapa besar kadar klorida yang masih tertinggal pada kantong teh celup maka perlu dilakukan analisa senyawa klorida dalam kantong teh celup. aroma. colour. teh botol dan lain-lain. aroma dan kenampakan teh yang dikemas. Populasi penelitian adalah semua merk teh celup. Selain itu untuk mengetahui pengaruhnya terhadap mutu teh perlu diamati rasa.708 %). Pada proses pengolahannya. warna.508 %). The chloride in the tea bag paper extracted and then titrated with standar solution AgNO3.988 % ).

788 Keterangan: +++++: sangat putih +++ : putih + : agak putih ++++ : putih sekali ++ : putih sedang 0 : buram Hasil uji organoleptik untuk warna dan kenampakan disajikan pada Tabel 2.8 ++++ 0.8 ++ 0. sedangkan untuk aroma kertas. Selanjutnya kadar klorida dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: X = (a-b) ± N x 35.AB Pada tercapainya titik akhir titrasi.708 III 6. dengan persamaan reaksi sebagai berikut: A+ + B. yaitu suatu titrasi antara dua zat yang menghasilkan endapan.8 +++++ 0. ampas dan rasa disajikan pada Tabel 3. Hasil Pengujian Kadar Klorida pada Kantong Teh Celup Sampel Teh Celup pH Warna Putih Kantong Klorida (%) I 6.528 VI 6.8 0 0.508 IV 6. Kunci keberhasilan suatu titrasi adalah mendapatkan secara tepat volume zat mentitrasi yang dapat bereaksi dengan suatu volume zat dititrasi hingga dari perbandingan volume itu dapat dihitung konsentrasi zat yang diketahui.988 II 6. Pada penelitian ini digunakan titrasi pengendapan.Vol.8 + 0. Sampel Teh I II III IV V VI Tabel 2. Uji organoleptik dari warna dan Kenampakan Warna Kenampakan Dengan kantong Tanpa kantong Dengan kantong Tanpa kantong 5 5 A A 5 5 B B 4 4 C C 4 4 C C 5 5 B B 5 4 C C Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 166 .2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Volumetri adalah suatu analisa kuantitatif yaitu jumlah suatu zat dicari dengan mereaksikan suatu volume larutan zat itu dengan larutan suatu zat standar yang telah diketahui konsentrasinya. Tabel 1.8 +++ 0. Reaksi pada cara titrasi ini hampir selalu antara Ag+ dengan ion halida dan tiosianat.I No. dan sering disebut argentometri.828 V 6.5 x 100% Keterangan: C X: kadar klorida dinyatakan dalam persen (%) a: larutan AgNO3 untuk titrasi contoh b: larutan AgNO3 untuk titrasi blanko N: normalitas larutan AgNO3 c: berat kering contoh (mg) HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil pengujian kadar klorida pada kantong teh celup disajikan pada Tabel 1. ion mentitrasi akan berlebihan dan dapat dinyatakan dengan indikator yang sesuai.

warna. Ampas dan Rasa Sampel Teh I II III IV V VI Aroma Kertas Tanpa Dengan Kantong Kantong 4 4 5 5 3 5 5 5 3 3 4 3 Ampas Tanpa Dengan Kantong Kantong c c c c d d c c b b c c Rasa Tanpa Kantong 37 37 35 35 39 39 Dengan Kantong 37 37 35 35 39 39 Pembahasan Tabel 1 menunjukkan bahwa nilai klorida dari tiap sampel berbeda. V dan VI. dilihat dari warna kantong yang dipakai sebagai penyaring. Menurut teori. semakin putih kantong tersebut. Sebaliknya. Kadar klorida pada tiap kantong teh celup beragam. Dalam hal ini. Pada teh yang lain. Hal ini menandakan bahwa nilai kenampakan teh kering dari tiap sampel teh celup telah memenuhi syarat standar mutu teh. nilai warna. II. Hal ini dapat disebabkan oleh sifat adsorben teh yang mudah menyerap bau. Tabel 2 yang menunjukkan bahwa teh dengan kantong ataupun tidak.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Tabel 3. III dan VI dapat dilihat bahwa warna. dan aroma tidak terpengaruhi. Uji organoleptik dari Aroma Kertas. artinya belum tentu jika klorida yang digunakan banyak. V dan VI. tiap sampel kantong teh celup mempunyai kualitas warna yang berbeda dilihat dari paling putihnya kertas. Kondisi ini dapat dilihat pada Tabel 1. dan ternyata warna putih kertas tidak bisa mengindikasikan kadar klorida tinggi. belum tentu bersisa sedikit. Ternyata untuk kenampakan teh kering rata-rata dari tiap sampel teh celup memiliki kualitas cukup baik. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kualitas kertas yang digunakan. kualitas fisik teh juga perlu dilihat. yaitu teh II. warna dan aromanya tetap baik. jika klorida yang digunakan sedikit. Dapat dilihat bahwa klorida ternyata dapat mempengaruhi rasa.I No. Selain disebabkan oleh kadar klorida. sisanya juga akan banyak. warna dan aroma. Pada teh tanpa kantong. Tabel 2 dan Tabel 3 yang menunjukkan bahwa ternyata kantong teh celup secara berurutan mulai dari yang paling putih adalah teh celup I. Dengan demikian. malah ada yang memiliki kualitas sangat baik. semakin tinggi kloridanya. Walaupun ada sebagian dari teh celup yang tidak terpengaruh oleh kadar klorida seperti teh I. warna dan aroma walaupun dalam jumlah yang sedikit. juga dapat disebabkan oleh sisa-sisa klorida yang tertinggal pada bubuk teh. rasa dan aroma mengalami penurunan yang nyata. Hal ini disebabkan oleh adanya zat yang menghalangi warna. kualitas aroma teh tanpa kantong lebih rendah daripada teh dengan kantong. IV. Ini dapat disebabkan oleh banyaknya klorida yang digunakan pada kantong tidak sejalan dengan kadar klorida yang tersisa. variabel rasa. sehingga aroma kertas pada teh yang tidak Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 167 . pada ketiga teh celup tersebut kadar klorida tidak mempengaruhi rasa. Adanya kertas penyaring dapat juga berfungsi untuk menjaga kualitas air seduhan agar rasa.Vol. rasa dan aroma. III. rasa dan aroma mengalami penurunan. Untuk kualitas aroma kertas yang terdapat pada air seduhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air seduhan ternyata dapat dipengaruhi oleh kadar klorida. Pada Tabel 2 dapat dilihat kualitas kenampakan teh kering dan ampas seduhan dari tiap sampel.

PPTK.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 menggunakan kantong terjadi penurunan.A.Vol.528 %) dan VI (0. Bercocok Tanam Teh. Ciwidey. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro.A dan Wilkinson.I No.. Hoeard. Gambung. Jakarta Vogel. 3. Ini menunjukkan bahwa kualitas warna air seduhan yang menggunakan kantong dengan yang tanpa kantong adalah baik. Untuk warna air seduhan dari tiap sampel rata-rata tidak terjadi penurunan yang berarti. Jakarta Rapson. Seminar Alternatif Pengepakan Teh.. Jakarta Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 168 . 2. K. W. F. warna serta air seduhan. 1982.508 %). Bandung Tim Gambung. Sumur Bandung..788 % Kadar klorida tidak selalu sejalan dengan putihnya kertas Kadar klorida pada kertas teh celup dapat mempengaruhi kualitas air seduhan (nilai warna. Cotton. Petunjuk Teknis Pengolahan Teh. G . Kalman Media Pustaka.. Bandung Bambang. New York Suryatmo. V (0. IV (0. Bandung Tim Penulis. Sodo Ali. Seminar Intern BPTK Gambung. Perkebunan dan Pengolahan. Risalah Seminar Pengemasan Dan Transportasi dalam Menunjang Pengembangan Industri.. Kimia Anorganik Dasar. 1. Beberapa Pandangan Terhadap Pengemas Teh Hitam. 1993. The Bleaching of Pulp. Ternyata terjadi penurunan pada satu sampel. Dari hasil penelitian dapat ditarik simpulan sebagai berikut: Kadar klorida masing-masing sampel adalah: I (0.. 1989. Bandung Sewojo. Jakarta.708%).828 % ).988 %). 1985. Kesesuaian Mutu Teh Hitam Celup Di Indonesia Dengan Standar ISO 3720. PT. Universitas Indonesia. K dan Sukapto P. hal ini dapat disebabkan oleh kualitas kertas penyaring kurang baik. 1987. 1990. misalnya sulfat yang juga sering dipakai sebagai bleaching agent DAFTAR PUSTAKA Bambang. TAPPI Monograph . 1986..1963. kenampakan teh kering. Distribusi Dalam Negeri Dan Ekspor Pangan. II (0. SIMPULAN DAN SARAN 1. Bambang. F. Badan Penelitian dan Pengembangan Perkebunan di Indonesia. Pengemasan Teh Indonesia Saat Ini dan Masa Datang. Cetakan Ke-tiga . 1993-1994. K. 2. III (0. Teh. R. sehingga mempengaruhi warna air seduhan. padahal warna air seduhan sangat menentukan tingkat kesegaran. rasa. Aroma kertas yang terdapat pada air teh sangat penting dinilai untuk mengetahui apakah kertas yang mengandung klorida yang dipakai sebagai penyaring dapat mempengaruhi rasa. aroma kertas air seduhan serta kenampakan ampas) Selanjutnya diajukan beberapa saran sebagai berikut: Perlu dilakukan analisa klorida pada kantong teh celup dengan metode yang lain agar dapat dijadikan bahan referensi Diharapkan ada penelitian lebih lanjut tentang kemungkinan adanya senyawa lain yang ada pada kantong teh celup.

I No.230-1. Populasi penelitian adalah mahasiswa semester I tahun akademik 2007-2008 dan 2008-2009 sebanyak 80 mahasiswa. IQ. nilai sipensimaru.Vol. Kesimpulan penelitian adalah pencapaian indeks prestasi mahasiswa dipengaruhi oleh faktor tingkat IQ.640: 0. Salah satu proses awal pendidikan adalah penjaringan calon mahasiswa baru. 2007). Kata Kunci: Nilai Sipensimaru.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 PENGARUH NILAI UJIAN MASUK.041: 0. Sesuai dengan hasil penelitian. IQ dan motivasi berprestasi terhadap pencapaian indeks prestasi. Motivasi Berprestasi.127) dan motivasi berprestasi (OR=0. Rendahnya pencapaian indeks prestasi kumulatif tingkat I menjadi dasar apakah motivasi berprestasi mahasiswa menjadi faktor pengaruh kesuksesan hasil belajar. dan tidak berhubungan secara bermakna dengan nilai sipensimaru (OR=1. Instrumen test berasal dari data sekunder print out hasil sipensimaru. seleksi uji tulis dan seleksi uji kesehatan. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh nilai sipensimaru. Serangkaian kegiatan dalam penjaringan calon mahasiswa baru di antaranya adalah. Calon mahasiswa dinyatakan lulus bila ketiga seleksi itu bisa dilalui dengan baik dan memenuhi standar kelulusan yang telah ditetapkan (Depkes. RI. Tujuan seleksi ini bukan mengukur tingkat kemampuan calon. Penelitian analitik observasional dengan rancangan cross sectional ini mengambil lokasi di Prodi Kebidanan Magetan Jurusan Kebidanan Poltekkes Depkes Surabaya.44 kali pada mahasiswa dengan tingkat IQ rata-rata 100-109. dan motivasi berprestasi dengan skala variabel metrik dan non metrik. IQ DAN MOTIVASI BERPRESTASI TERHADAP PRESTASI HASIL BELAJAR MAHASISWA Suparji*. Indeks Prestasi *: Prodi Kebidanan Magetan Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Depkes Surabaya PENDAHULUAN Pelayanan kesehatan yang bermutu perlu ditunjang oleh ketersediaan tenaga kesehatan yang berkualitas. seleksi administrasi.257). Variabel terikat adalah indeks prestasi semester I dengan skala variabel non metrik. Probabilitas pencapaian indeks prestasi sebesar 1. IQ. Raw input calon mahasiswa DIII Kebidanan berasal dari lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajat. Heru Santoso Wahito Nugroho* ABSTRAK Masalah mendasar dalam penelitian ini adalah kemanfaatan dan keberterimaan psikotest sebagai salah satu syarat kelulusan calon mahasiswa DIII kebidanan dalam hubungannya dengan kesuksesan hasil belajar.780). nilai sipensimaru di atas rerata dan motivasi berprestasi cukup memadai.282: 1. Variabel bebas adalah. Kualitas tenaga kesehatan dihasilkan dari proses pendidikan tenaga kesehatan yang memenuhi standar jaminan mutu lulusan. maka psikotes sebaiknya dipertahankan sebagai salah satu syarat kelulusan calon mahasiswa DIII Kebidanan. dengan α ≤ 0. tetapi lebih menitikberatkan pada seleksi calon yang diprediksi memiliki kemampuan akademik yang lebih baik dibanding dengan calon yang lain.962-1.05. Sunarto*. Teknik analisis data dengan uji regresi logistik biner. Jumlah subyek keseluruhan sebanyak 77 mahasiswa.224-4. print out psikotes dan daftar nilai semester I. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencapaian hasil belajar berhubungan bermakna dengan tingkat IQ (OR=2. Tujuan seleksi seperti ini memberi dampak Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 169 .

metode mengajar. kualitas tenaga pengajar. ketersediaan sarana dan prasarana belajar. 5% dari 40 mahasiswa terpaksa harus mengambil cuti akademik karena motivasi kurang dalam mengikuti kegiatan klinik. Oleh karena itu proses pendidikan harus dilihat dan dievaluasi secara utuh mulai dari input-proses-outputoutcome. Dari berbagai fakta tersebut kelemahan selama proses belajar mengajar di Semester I dan II tidak pernah melihat latar belakang apakah mahasiswa memiliki minat yang tinggi. karena mereka telah melakukan proses belajar mengajar selama enam bulan. dan kepuasan mahasiswa terhadap kegiatan PBM. Solusi ini dilakukan dengan mengetahui seberapa besar nilai probabilitas dan odd ratio masing-masing faktor terhadap hasil belajar Semester I. tingkat IQ dan tingkat motivasi berprestasi perlu diketahui lebih dulu. sehingga mereka tidak mengalami kesulitan dalam belajar sampai akhir pendidikan. Dengan banyaknya faktor yang mempengaruhi hasil belajar. tingkat IQ calon mahasiswa. Diketahuinya faktor-faktor ini juga sangat bermanfaat sebelum memberikan penilaian kepada mahasiswa apakah mereka mengalami kesulitan belajar. apabila mahasiswa tidak memiliki motivasi dan minat tentunya tidak memberikan hasil yang baik. gangguan belajar atau hambatan dalam belajar.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 permasalahan adanya kesulitan mengidentifikasi faktor apa saja yang mempengaruhi kesuksesan hasil belajar. Solusi ini diharapkan mampu memberikan sumbangan untuk memutuskan keberterimaan psikotes sebagai salah satu syarat kelulusan calon mahasiswa DIII Kebidanan. Kesuksesan hasil belajar dapat dilihat dari beberapa indikator yaitu.5% mahasiswa gagal dalam studi. dan bakat calon mahasiwa. motivasi yang tinggi dan tingkat IQ yang rata-rata dalam studinya. Fakta memberikan gambaran bahwa indeks prestasi mahasiswa < 2. Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi masalah rendahnya evaluasi pelaksanaan standarisasi proses pendidikan dari segi input-proses-output.I No. maka identifikasi hubungan faktor nilai sipensimaru.6% dari 40 mahasiswa pada tahun akademik 2006-2007. faktor minat. Pada tahun akademik berikutnya terdapat 2. Rasional menggunakan angka prestasi hasil belajar Semester I. karena mahasiswa sudah dianggap mampu beradaptasi dengan dunia kampus. rancangan pembelajaran. belum dijadikan alat untuk motivasi mahasiswa. maka untuk mencapai target pencapaian IPK ≥ 2.Vol. minatnya rendah dan adanya kesulitan belajar karena tingkat IQ mereka di bawah rerata. Serangkaian standarisasi proses pendidikan ini telah dilaksanakan. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan mahasiswa dalam belajar antara lain. faktor motivasi. Namun evaluasi manajemen atas pelaksanaan standarisasi ini terkadang tidak dilakukan. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 170 . kenyamanan ruang belajar. Hasil belajar mahasiswa berhubungan dengan proses belajar mengajar.00 sebanyak 2. Sebagus apapun rancangan dan metode PBM yang disiapkan oleh seorang dosen. Hasil penelitian ini sebagai titik awal untuk meningkatkan motivasi mahasiswa bagi mereka yang tingkat motivasi berprestasinya rendah. kemampuan intelektual dilihat dari pencapaian indeks prestasi. alat ukur hasil belajar.75 di atas 80% maka institusi pendidikan membuat langkah-langkah standarisasi manajemen pembelajaran. Psikotes hanya sebagai alat mengukur. kemampuan teknikal dilihat dari pencapaian uji ketrampilan dan kemampuan interpersonal dilihat dari sikap perilaku sehari-hari mahasiswa selama menjalani proses belajar mengajar di dalam dan di luar kampus.

7%). Jumlah subyek keseluruhan sebanyak 77 mahasiswa yang diperoleh secara simple random sampling.03. hasil psikotes dan daftar nilai semester I. Tingkat Intelligence Quotient (IQ). Distribusi Frekuensi Tingkat IQ Mahasiswa Baru Prodi Kebidanan Magetan Tahun Akademik 2007-2008 dan 2008-2009 Tingkat Skor IQ Frekuensi Persentase Below average 4 5.7 High average 21 27. below average. Variabel bebas adalah.05).4 Average 29 37. cukup. borderline. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Nilai sipensimaru dari 77 mahasiswa adalah. Khusus psikotes diukur oleh dari lembaga psikotes Unair Surabaya. cukup bawah. Mengidentifikasi gambaran nilai hasil uji tulis sipensimaru calon mahasiswa yang diterima atau dinyatakan lulus di Program DIII Kebidanan Prodi Kebidanan Magetan 2. Variabel terikat adalah indeks prestasi semester I dengan skala data non metrik.0 dan nilai minimal: 36. Mengidentifikasi gambaran tingkat motivasi berprestasi calon mahasiswa yang diterima atau dinyatakan lulus di Program DIII Kebidanan Prodi Kebidanan Magetan 4.0. berdasarkan hasil print out psikogram dikategorikan menjadi delapan tingkatan yaitu. Alat ukur adalah data sekunder hasil print out nilai sipensimaru. superior dan very superior. cukup atas. varians: 62. high average.0. median: 49. above average. average. dengan tingkat kesalahan yang ditetapkan (α ≤ 0. kurang sekali. low average.87. dengan populasi terjangkau yaitu mahasiswa semester III dan semester V Prodi Kebidanan Magetan angkatan tahun 2007-2008 dan 2008-2009 sebanyak 80 mahasiswa. Modus: 38.2 Low average 8 10.5 Total 77 100 Tingkat motivasi berprestasi dikategorikan menjadi tujuh tingkatan yaitu.3 Above average 15 19. tingkat IQ dan tingkat motivasi berprestasi calon mahasiswa yang diterima atau dinyatakan lulus di program DIII Kebidanan Prodi Kebidanan Magetan terhadap nilai indeks prestasi semester I BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian analitik observasional dengan rancangan cross-sectional ini mengambil lokasi di Prodi Kebidanan Magetan Jurusan Kebidanan Poltekkes Depkes Surabaya. nilai maksimal: 62. nilai sipensimaru.I No. yang menunjukkan bahwa proporsi terbanyak pada tingkat IQ average yaitu 29 (37. tingkat IQ dan tingkat motivasi berprestasi dengan skala data non metrik dan metrik. Mengidentifikasi gambaran tingkat IQ calon mahasiswa yang diterima atau dinyatakan lulus di program DIII Kebidanan Prodi Kebidanan Magetan 3.0. baik dan baik sekali. kurang.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 1.Vol. Gambaran tingkat motivasi Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 171 . Menganalisis pengaruh faktor nilai hasil uji tulis sipensimaru. Gambaran lengkap disajikan pada Tabel 1.0. simpangan baku: 7. Tabel 1. rerata: 48. Teknik analisis data menggunakan uji statistik regresi logistik biner.

75. Distribusi Frekuensi Indeks Prestasi Mahasiswa Prodi Kebidana Magetan Semester I Tahun Akademik 2007-2008 dan 2008-2009 Tingkat Indeks Prestasi < 2. Tabel 2 Distribusi Frekuensi Tingkat Motivasi Berprestasi Mahasiswa Baru Prodi Kebidanan Magetan Tahun Akademik 2007-2008 dan 2008-2009 Tingkat Motivasi Berprestasi Cukup bawah Cukup Cukup atas Total Frekuensi 7 47 23 77 Persentase 9.75 dan memiliki IQ rata-rata dan di atas rata-rata.0% dari 16 mahasiswa dengan indeks prestasi <2.75 memiliki motivasi berprestasi pada kategori cukup memadai. dan di bawah sangat memuaskan sebanyak 16 (20.8%).75 2 (12. Gambaran indeks prestasi disajikan pada Tabel 3.4%) 19 (29.75 ≥ 2.3% dari 16 mahasiswa merupakan mahasiswa dengan IQ rata-rata tetapi memiliki indeks prestasi <2.8% dari 61 mahasiswa memiliki indeks prestasi >2.Vol.75 7 (11. Informasi lain adalah 56.75 dan lebih dari atau sama dengan 2.75 0 (0%) 12 (75.75 yang berasal dari mahasiswa dengan motivasi berprestasi relatif berkembang sebanyak 31. yang menunjukkan bahwa indeks prestasi di atas sangat memuaskan sebanyak 61 (79.1 61. Tabel 4. Tabel 3.75.0%) 16 ≥ 2.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 berprestasi disajikan pada Tabel 2.5%) 35 (57.3%) 1 (6.9%) 61 Total 7 47 23 77 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 172 .I No.0 29.75 Total Frekuensi 16 61 77 Persentase 20.0%) 61 Total 4 8 29 21 15 77 Tabel 5.3%) 5 (8.2%) 20 (32.3%) 16 ≥2.0%) 4 (25.75 dengan tingkat motivasi cukup memadai.9 100 Nilai indeks prestasi dikategorikan menjadi dua yaitu nilai kurang dari 2.8%) 9 (56. yang menunjukkan bahwa proporsi terbesar dari tingkat motivasi berprestasi berada pada tingkat C (cukup memadai) sebesar 47 (61%). Dari Tabel 5 diketahui bahwa 57.4% dari 61 mahasiswa memiliki indeks prestasi >2.2%). Indeks prestasi >2. Namun demikian ada 75.1% dari 61 mahasiswa.8%) 20 (32.2 100 Dari Tabel 4 diketahui bahwa 32. Distribusi Frekuensi Indeks Prestasi Menurut Tingkat Motivasi Berprestasi Mahasiswa Prodi Kebidanan Magetan Semester I Tahun Akademik 2007-2008 dan 2008-2009 Tingkat Motivasi Berprestasi Total Perlu Optimalisasi Cukup Memadai Relatif Berkembang IP < 2.75 2 (3.5%) 3 (18.8 79. Distribusi Frekuensi Indeks Prestasi Menurut IQ Mahasiswa Prodi Kebidanan Magetan Semester I Tahun Akademik 2007-2008 dan 2008-2009 IQ Total Below Average Low Average Average High Average Above average IP < 2.8%) 14 (23.3%) 1 (6.

75.009 yang berarti terdapat hubungan bermakna antara IQ dengan indeks prestasi. berdasarkan uji Chi-square diperoleh nilai p=0. Odds Ratio (OR) sebesar 0. sebanyak 96% dapat diprediksi oleh model.I No. Tabel 6. Model akhir tentang pengaruh nilai sipensimaru.163+0. maka model (persamaan regresi) yang dipakai untuk menentukan probabilitas telah cocok. IQ dan Tingkat Motivasi Berprestasi Terhadap Indeks Prestasi Mahasiswa Semester I Prodi Kebidanan Magetan Tahun Akademik 2007-2008 dan 2008-2009 Variabel P OR 95% CI β Nilai Sipensimaru 0.23-1.257 Tingkat Motivasi Berprestasi -0. IQ dan tingkat motivasi berprestasi terhadap indeks prestasi mahasiswa Semester I Prodi Kebidanan Magetan Tahun Akademik 2007-2008 dan Tahun Akademik 2008-2009.014.314 yang berarti tidak terdapat hubungan bermakna antara nilai sipensimaru dengan indeks prestasi. 3.392 0. Hasil Uji Akurasi Model Predicted Total Percent Correct 0 1 3 13 16 18.25.445 0.5% Dari 16 mahasiswa dengan IP < 2. variabel nilai sipensimaru memperoleh nilai p = 0. berdasar analisis Chi-square diperoleh nilai p=0.127 Tingkat IQ 0. Hasil uji regresi logistik multivariat menunjukkan bahwa berdasarkan analisis uji Chi-square.314 1.825 (IQ)-0.040 (Nilai Sipensimaru)+0. 2.558 dengan p=0. Untuk variabel IQ.64 pada interval kepercayaan 0.230-1.014 0. Odds Ratio (OR) sebesar 2. Untuk variabel motivasi berprestasi. Hasil Overall Model Fit (uji kecocokan model dengan data) menggunakan pendekatan uji Chi-square menunjukkan nilai X2 hitung = 10.780 Konstanta -2. persamaan model regresi logistik dapat :ditulis sebagai berikut: Logit Indeks Prestasi = -2. Odds Ratio (OR) sebesar 1.78.282 1.12.163 0.75.114 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 173 .009 2.28 pada interval kepercayaan 1.5%.72% 5 72 77 Observed 0 1 Overall = 80. sedangkan dari 61 mahasiswa yang IP ≥ 2.75% 2 59 61 96.04 pada interval kepercayaan 0.96-1. Dari uji akurasi model menggunakan persamaan garis regresi melalui tabel klasifikasi.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Rangkaian proses pengujian hipotesis dijelaskan sebagai berikut: 1. didasarkan pada hasil uji regresi logistik sebagaimana disajikan pada Tabel 7.Vol. Secara keseluruhan akurasi model adalah 80. sebanyak 18 % dapat diprediksi oleh model.040 0.640 0.962-1. diperoleh hasil sebagaimana tercantum pada Tabel 6. Model Akhir Pengaruh Nilai Sipensimaru.445 (Motivasi Berprestasi) Tabel 7.05. Berdasarkan hasil pada Tabel 7 tersebut.392 yang artinya tidak terdapat hubungan bermakna antara tingkat motivasi berprestasi dengan indeks prestasi.825 0.22-4. Karena α <0.041 0.224-4.

0.825 (1). Keputusan menerima atau menolak ini sangat berat.163+0.75. Nilai sipensimaru digunakan untuk mengambil keputusan tentang orang yang akan diterima atau ditolak dalam suatu proses seleksi.445(1)) 1 P0(Y) = --------------------------------------------------------------.163+0. bakat. motivasi dan intelegensi).75 dengan predikat memuaskan.040 (1)+0. Zainul (2005) menyatakan ada beberapa alasan untuk menggunakan pengukuran.44 P0 (Y) 0. menurut Lunandi (1993) faktor internal paling dominan berpengaruh terhadap prestasi belajar.148 RR = -----------. Indikator target ini menyesuaikan dengan tuntutan pasar dunia kerja bahwa lulusan kebidanan yang bisa diterima di beberapa pasar kerja bila indeks prestasi kumulatif mereka minimal 2.00-2. IQ dan tingkat motivasi berprestasi di bawah rerata. dan 3) IPK 3. 2) penempatan. 5) memotivasi dan membimbing belajar.04 kali dapat mencapai indeks prestasi di atas 2.= 1.75 sebesar 1.445(0)) P1(Y) 0. IQ dan tingkat motivasi berprestasi di atas rerata. 1) seleksi. 4) umpan balik.75.= 0. mahasiswa dengan nilai sipensimarudi atas rerata berpeluang 1. Menurut Syah (2006) prestasi akademik sangat ditentukan oleh faktor internal (sikap.= 0. 1) IPK 2. dibandingkan nilai sipensimaru.51-4.103 Makna persamaan ini menyebutkan bahwa probabilitas pencapaian indeks prestasi >2. antara lain. Dari ketiga faktor tersebut.= ---------. minat.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Persamaan model regresi logistik tersebut dapat digunakan untuk memprediksi probabilitas pencapaian indeks prestasi mahasiswa semester I sebagai berikut: 1 P1(Y) = ---------------------------------------------------------------. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara nilai sipensimaru dengan indeks prestasi mahasiswa Semester I dengan nilai p=0. 6) perbaikan kurikulum dan program pendidikan.Vol.00 dengan predikat dengan pujian atau cum laude (Jurusan Kebidanan Poltekkes Depkes Surabaya. 2007). faktor eksternal (lingkungan sosial dan non sosial) serta faktor pendekatan belajar. Namun ketiga domain tersebut masih dituangkan dalam bentuk IPK. Berdasarkan nilai odds ratio. 3) diagnosa dan remedial.75-3.44 kali apabila nilai sipensimaru.825 (0). sehingga menjadi sangat penting seseorang mahasiswa untuk memperoleh capaian IPK seoptimal mungkin.148 1 + e –(-2.314. skill dan behavior atau attitude. 2) IPK 2.103 1 + e –(-2. Penentuan standar indeks prestasi didasarkan pada predikat kelulusan program DIII Kebidanan Jurusan Kebidanan Poltekkes Depkes Surabaya yaitu.75. knowledge. tes dan penilaian dalam pendidikan. Berdasarkan penentuan predikat kelulusan ini.I No. Sebenarnya penilaian kompetensi seseorang ahli madya kebidanan sangat ditentukan oleh tiga domain penilaian yaitu. Prodi Kebidanan mengharapkan target bahwa 80% output lulusan harus memiliki indeks prestasi di atas 2. dan 7) pengembangan ilmu. Sumber bahan belajar terkaya adalah diri sendiri. maka harus digunakan seperangkat alat ukur yang Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 174 .040 (0)+0. SPMB menggunakan serangkaian uji tulis yang bermanfaat untuk seleksi.0.50 dengan predikat sangat memuaskan.

2 April 2010 ISSN: 2086-3098 tepat.75. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Nadzirudin. dkk (2006) bahwa pencapaian indeks prestasi kumulatif mahasiswa sangat ditentukan oleh faktor internal berupa minat. dan kebutuhan.04 kali dapat mencapai indeks prestasi di atas 2. motivasi. Maknanya adalah bahwa semua subyek dalam penelitian adalah calon mahasiswa yang memiliki kemampuan di atas rerata calon yang lain. sehingga mampu menyelesaikan pendidikan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan (Zainul. Ada perbedaan signifikan mengenai persentase jumlah mahasiswa yang mendapatkan predikat kelulusan sangat memuaskan dan memuaskan yaitu 1:4. Di samping itu tidak ada pola tertentu yang menyatakan bahwa semakin tinggi nilai ujian sipensimaru. minat kurang populer dalam psikologis karena memiliki banyak ketergantungan pada faktor internal seperti. diperoleh gambaran bahwa hanya 2025% mahasiswa yang betul-betul memiliki minat tinggi menjadi bidan. memiliki validitas dan reliabilitas yang baik. memiliki daya beda tinggi. serta pengkondisian ketrampilan yang benar-benar dinikmati dan disenangi oleh para mahasiswa melalui pembelajaarn laboratorium klinik. Hal ini dibuktikan dengan analisis bahwa mereka yang lulus hanya memiliki peluang 1. 2005). namun lebih dititikberatkan pada penjaringan mahasiswa yang diprediksi memiliki kemampuan akademik yang baik. setiap pendidik harus selalu menyampaikan interkorelasi antar mata kuliah. Indeks prestasi (IP) merupakan indikator apakah mahasiswa mendapat predikat berprestasi atau tidak berprestasi. serta menggunakan metode mengajar yang atraktif dalam setiap pemecahan masalah.04 kali dibandingkan dengan mereka yang tidak lulus. belum tentu mereka betul-betul berminat tinggi menjadi Bidan. Meskipun kurang populer dalam ranah psikologis. Nilai sipensimaru tidak menentukan keberhasilan seseorang dalam pekerjaan atau program (Zainul.I No. bukan ditentukan dari kemampuan mengerjakan soal ujian masuk/seleksi masuk. tidak ada mahasiswa yang memiliki predikat dengan pujian atau cum laude. dan IQ seseorang. diduga karena masing-masing mahasiswa memiliki minat berbeda-beda untuk menjadi bidan. semakin tinggi pula indeks prestasi yang dicapai. menurut Dalyono (1997) dalam Djamarah (2002) minat yang tinggi terhadap sesuatu cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi. Berdasarkan nilai odds ratio. menjelaskan kegunaan materi untuk masa depan setelah menjadi bidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara IQ Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 175 . Bila merujuk data asli. Meskipun animo pendaftar tinggi. Untuk menumbuhkan minat mahasiswa baru yang duduk di semester I. keingintahuan. mahasiswa dengan nilai sipensimaru di atas rerata berpeluang 1. Menurut Reber (1988) dalam Syah (2006). Standar kelulusan adalah semua mata uji harus di atas rerata (4L) karena ada empat mata uji. Syarat kelulusan uji tulis dan uji kesehatan bukan untuk mengukur kemampuan seseorang.Vol. motivasi berprestasi. Tidak adanya pola tertentu yang menduga keterkaitan hubungan positif maupun negatif antara nilai sipensimaru dan indeks prestasi. Dari hasil wawancara langsung dengan subyek. pemusatan perhatian. Perkembangan dunia pendidikan menuntut setiap individu untuk berprestasi dengan baik. 2005). Rendahnya minat menjadi bidan menjadi problem tersendiri bagi institusi untuk lebih mempromosikan tujuan pendidikan DIII Kebidanan. Makna peluang ini memberikan gambaran bahwa pencapaian indeks prestasi baik tidak mutlak dipengaruhi oleh kemampuan mereka mengerjakan soal tes ujian masuk. Prestasi akademik yang baik menjadi tolok ukur keberhasilan mahasiswa.

mengenal emosi orang lain. pengembangan aspek kejujuran. 2000). Nadziruddin. perbaikan interaksi dosen-mahasiswa. pengembangan aspek ketrampilan teknis. tidak ada motivasi untuk bersaing karena mereka merasa tidak minat kuliah di Kebidanan. mereka malas membaca.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 dengan indeks prestasi dengan Odds Ratio 2. Kelemahan dalam penelitian ini tidak mengikutsertakan variabel EQ dan SQ. pengembangan kepribadian. EQ. kesulitan belajar karena mata kuliah yang benar-benar baru dan belum pernah diajarkan di sekolah lanjutan. Hasil penelitian ini memberikan gambaran fakta nyata bahwa indeks prestasi mahasiswa utamanya di semester I sangat dipengaruhi oleh kecerdasan intelektual (IQ). daya pikir Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 176 . minat. Harus dicarikan solusi terhadap masalah di atas agar mereka termotivasi dan memiliki sikap positif terhadap kuliah di kebidanan. mereka kebingungan mempersepsi makna kuliah. kemampaun interaksi. 1999).28 dapat mencapai indeks prestasi ≥ 2. Sebagian besar mahasiswa memiliki indeks prestasi sangat memuaskan. Maka test psikotes masih diperlukan dan sangat relevan sebagai penentu lulus tidaknya calon mahasiswa diterima menjadi mahasiswa baru DIII Kebidanan. maka indeks prestasi mahasiswa naik 0. memiliki indeks prestasi di atas 2. SQ. Kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual juga memberikan andil yang justru lebih tinggi dalam memberikan kesuksesan pada seseorang.75. dan kemampuan dalam berkelompok merupakan strategi motivasi dosen dalam meningkatkan minat mahasiswa. Menurut Suwardjono (2009). efektivitas proses belajar mengajar. inovasi. Namun perlu disadari bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan otak dan daya pikir semata (Husaini.75. memotivasi diri. Tentunya penelitian lanjutan yang perlu diperhatikan adalah mengetahui keterkaitan antara variabel sikap. mengelola emosinya. merasa kurang mampu beradaptasi dengan dunia kampus.Vol. Seseorang yang memiliki IQ di atas rata-rata tetapi memiliki indeks prestasi di bawah rata-rata dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal.I No. dan membina hubungan dengan orang lain (Goleman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki IQ pada tingkat ratarata dan ada kecenderungan bahwa mahasiswa yang memiliki IQ di atas rata-rata. minat. temu kelas merupakan waktu untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Kecerdasan emosi (emotional intelligence) mencakup kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mengenal emosinya. Hasil penelitian ini sedikit berbeda dengan pernyataan Goleman (2000) bahwa kontribusi IQ dalam menunjang kehidupan seseorang tidak lebih dari 20% dan sisanya 80% berasal dari faktor lain yaitu emotional quotient (EQ). dkk (2006) melaporkan bahwa faktor internal memberikan kontribusi sangat besar terhadap pencapaian indeks prestasi kumulatif mahasiswa program sarjana keperawatan di Universitas Padjajaran Bandung.28 yang berarti bahwa mahasiswa dengan IQ di atas rata-rata berpeluang 2. Hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa dengan indeks prestasi rendah menggambarkan bahwa. Persamaan Logit indeks prestasi sebagaimana hasil analisis regresi logistic menerangkan bahwa setiap kenaikan satu tingkat dari kategori penilaian IQ. integritas. Megawangi (2006) juga menyatakan bahwa seseorang yang bisa lulus ke perguruan tinggi memiliki IQ berada di atas 120. kreativitas. 2009). sehingga kesuksesan mahasiswa dalam bidang akademik hanya diukur dari variabel IQ saja. Informasi ini didukung oleh penelitian para ahli yang menyebutkan bahwa faktor dominan yang menentukan prestasi seseorang adalah intelegensi (Widayatun. kepuasan dalam PBM terhadap indeks prestasi dirasa cukup relevan.825.

mereka memilih sesuatu yang mereka pikir mampu mereka raih. 1) facilitating anxiety.64 dapat mencapai indeks prestasi ≥ 2. Kesemua variabel ini ada di dalam test psikologi. belum merasakan sulit tidaknya belajar di perguruan tinggi. sehingga dosen hendaknya berupaya meningkatkan motivasi mahasiswa dengan cara. kemampuan berhitung. daya ingat. pengukuran motivasi berprestasi menyatu dengan psikotest. Sebagian besar mahasiswa dengan motivasi berprestasi cukup atas (C+) atau relatif berkembang. penalaran. Perbedaan hasil penelitian ini terletak pada cara pengukuran variabel motivasi berprestasi. 3) orang dengan n-Ach tinggi menyukai tanggung jawab Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 177 . daya tangkap.75. Nadziruddin. Menurut Djamarah (2002). 2) debilitating anxiety yaitu kecemasan yang menghambat aktivitas belajar. keberadaan motivasi berprestasi pada diri mahasiswa cukup berpengaruh terhadap kemampuan intelektual. kepribadian. Menurut Syah (2006) motivasi berprestasi tinggi cenderung menghasilkan prestasi optimal. Dalam proses belajar mengajar. menumbuhkan kesadaran mahasiswa untuk berpendapat agar mereka selalu merasa senang belajar dan menerima tugas sebagai tantangan untuk berprestasi. Hasil penelitian menggambarkan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki motivasi berprestasi di atas cukup memadai dengan indeks prestasi lebih dari 2. dengan Odds Ratio 0. pengukuran variabel motivasi berprestasi pada awal semester dan tengah semester.Vol. Kekurangan dalam penelitian ini adalah tidak mengikutsertakan analisis faktor kecemasan sebagai variabel antara terhadap motivasi berprestasi. 2) orang dengan n-Ach tinggi memilih umpan balik langsung dan dapat diandalkan mengenai bagaimana mereka berprestasi. Sedangkan pada penelitian ini. menciptakan suasana kelas yang kompetitif agar mahasiswa puas dalam belajar. Nadziruddin juga melaporkan bahwa mahasiswa dengan IPK cum laude memiliki motivasi sangat tinggi. 1) orang dengan n-Ach tinggi memilih untuk menghindari tujuan prestasi yang mudah atau sulit. Maka test psikologi sangat dianjurkan untuk diberlakukan terus sebagai penentu keputusan calon mahasiswa diterima atau tidak selain test uji tulis. kemandirian. dkk (2006) juga melaporkan bahwa motivasi berprestasi mahasiswa program sarjana keperawatan sangat mempengaruhi indeks prestasi. yaitu kecemasan yang menstimulasi aktivitas belajar. Tidak adanya perbedaan indeks prestasi secara signifikan berdasarkan tingkat motivasi berprestasi. Ini berarti mahasiswa dengan tingkat motivasi berprestasi di atas cukup memadai berpeluang 0. Menurut Mc Clelland ada beberapa karakteristik orang yang memiliki kebutuhan berprestasi yaitu. Menurut Herman (1967) motivasi berprestasi sangat dipengaruhi oleh kecemasan seseorang.64. menurut Mc Clelland (1953) dipengaruhi oleh faktor hambatan dari dalam diri dan luar individu.75. tidak memiliki kecenderungan pencapaian indeks prestasi tertentu. sehingga tingkat motivasi berprestasi pada penelitian ini cenderung masih murni (belum pernah mengikuti kegiatan belajar mengajar). ada dua kecemasan yaitu.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 kongkrit. sehingga diduga faktor kecemasan mahasiswa sebagai pemicu motivasi berprestasi tidak berhubungan secara bermakna dengan indeks prestasi mahasiswa. Pada kedua penelitian tadi. dan kesulitan lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara tingkat motivasi berprestasi dengan indeks prestasi. dan motivasi berprestasi.I No. Hal ini berbeda dengan laporan penelitian Hastuti D (2007) bahwa ada pengaruh motivasi berprestasi secara signifikan terhadap kreativitas belajar mahasiswa FKIP UNS Surakarta. Namun rekomendasi hasil psikotest 97% dari 40 calon mahasiswa yang diterima semuanya disarankan masuk kuliah di Kebidanan.

pembimbing atau orang tua sebagai role model atau panutan bagi pengembangan diri mahasiswa. karena prestasi identik dengan maskulinitas.75. perilaku dan sikap mahasiswa.64 dapat mencapai indeks prestasi ≥ 2. tetapi kemandirian belajar sebagai motif dasar harus ditanamkan seorang dosen. motivasi berprestasi mahasiswa sangat penting karena dapat berfungsi sebagai. Oleh karena itu harus ada persepsi yang sama antara dosen dan mahasiswa tentang tujuan perkuliahan atau tujuan belajar di perguruan tinggi. Sebagai solusi untuk mengatasi tujuh mahasiswa yang memiliki motivasi C. Nilai yang diperoleh oleh mahasiswa memang merupakan indikator kesuksesan dalam menempuh kuliah. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi berprestasi seseorang antara lain. Maka dalam hubungan variabel motivasi berprestasi dengan capaian indeks prestasi sebenarnya Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 178 . pola asuh orang tua dan lingkungan sosial tempat mereka tinggal sangat mewarnai motivasi mereka untuk berprestasi. 3) mampu menyelesaikan tugas-tugas yang harus dikerjakan (Rivai. Siregar. Menurut Mc Clelland (dalam Rivai. 2) konsep diri. 2003). Fernald & Fernald. Eastwood. tetapi bukan ukuran keberhasilan pencapaian tujuan dalam mengubah pengetahuan. pengetahuan. Penelitian ini kurang mampu mengidentifikasi persentase mahasiswa dengan karakteristik di atas karena pengukurannya inklud dengan test psikologi. Meskipun hasil penelitian membuktikan tidak ada hubungan antara motivasi berprestasi dengan indeks prestasi. Untuk meraih prestasi yang baik harus ditanamkan motivasi dan keyakinan diri yang kuat (Marwaty.(perlu optimalisasi). 2) menentukan arah tujuan yang ingin di capai. 1983. Solusi atas permasalahan ini adalah pengendalian proses belajar mengajar menjadi perhatian utama jaminan mutu institusi pendidikan.Vol. 1) keluarga dan lingkungan sosial. seorang diri yang percaya diri atas kemampuan biasanya berpikir optimis untuk berprestasi sehingga mempengaruhi perilaku mereka. Kemandirian belajar harus dimulai sejak pertama kali mahasiswa memasuki perguruan tinggi. 2003). Dua fenomena menarik berkaitan dengan motivasi berprestasi dan indeks prestasi sebenarnya terdapat pada motif mahasiswa tentang manfaat kuliah. sikap dan ketrampilan mahasiswa.I No. Oleh karena itu motivasi berprestasi mahasiswa yang kurang masih bisa ditingkatkan pada saat mereka mengikuti kegiatan perkuliahan di kampus. 1986. 3) jenis kelamin.5 tahun dan pada usia dewasa justru lebih nyata. Kemandirian belajar adalah hasil suatu proses pengalaman belajar itu sendiri. seseorang akan bekerja keras apabila dipedulikan atau diperhatikan orang lain (Morgan. Mahasiswa dengan motivasi berprestasi di atas cukup memadai berpeluang 0. 2003) motivasi berprestasi seseorang mulai muncul saat berusia 3. Apakah mereka kuliah untuk mendapatkan nilai IP bagus/cum laude atau mereka kuliah untuk tahu. maka diperlukan sosok dosen. 4) pengakuan dan prestasi. 1) motor penggerak belajar. Dalam perkuliahan. Kalau proses belajar mandiri diciptakan dengan baik maka kuliah di perguruan tinggi akan mampu mengubah perilaku. komitmen dan integritas tinggi.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 pemecahan masalah. Variabel motivasi untuk berprestasi sangat berkaitan dengan semangat dalam diri untuk belajar. Pengharapan akan sukses dan ketakutan akan kegagalan juga merupakan motif dasar seseorang untuk berprestasi (Monk. Oleh karena itu seyogyanya dosen atau pembimbing yang memberikan tutorial di semester I harus memiliki kemampuan. 2006). 1999. Suwardjono (2008) menyatakan bahwa perkuliahan harus mementingkan proses bukan hasil. 1999). banyak perempuan dengan motivasi berprestasi tinggi namun tidak berpenampilan seperti laki-laki.

Hasil Psikogram Mahasiswa Baru Prodi Kebidanan Magetan tahun 2007-2008 dan tahun 2008-2009.id. 1996. Daftar Nilai Semester I Tahun Akademik 2007-2008 dan 2008-2009. Sesuai dengan simpulan penelitian. Psikologi Belajar. 1994. 2009. 1953. Jakarta. Bumi Aksara. Megawangi R. Suciati. Motivasi berprestasi tidak berpengaruh terhadap indeks prestasi mahasiswa. 2007. Jurusan Kebidanan Poltekkes Depkes Surabaya. Jakarta. Pustaka Pelajar.2002. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. 2005. IQ berpengaruh terhadap indeks prestasi mahasiswa 3. Akses 27 Pebruari 2007. 1997. psikotes sebaiknya dipertahankan sebagai salah satu syarat kelulusan calon mahasiswa DIII Kebidanan. SB. Depkes RI. bukan sekedar memperoleh nilai yang bagus. Teori Belajar dan Motivasi. DAFTAR PUSTAKA Azwar S. Surabaya. Kontribusi Kecerdasan Emosi Terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa. Mc. Bahri S.usu.co.ac. Test Prestasi. BPPSDM. Rineka Cipta. Irawan P. 2000.akhlaq. New York Appleton Century Crof. Hidayat S. Rineka Cipta. Kusumawardani P. Akses 25 Nopember 2009.Vol. Prodi Kebidanan Magetan. Yogjakarta. -------------------------------------. Surabaya. Djamarah. 2008. diajukan saran bahwa dalam Sipensimaru.lemlit-unsulat. 2007. Jakarta. Akses tanggal 29 Nopember 2009.Clelland DC. Nilai yang bagus tidak ada artinya bila tidak mampu mengubah pengetahuan. PAU-PPAI-UT. Yogjakarta.id. www. selanjutnya ditarik tiga simpulan sebagai berikut: 1.id.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 lebih dititik beratkan pada motif dasar individu mahasiswa untuk mandiri dalam belajar. Nilai sipensimaru tidak berpengaruh terhadap indeks prestasi mahasiswa 2. EQ dan SQ dalam Perspektif Islam. www. Lembaga Psikologi Unair. Akses 25 Nopember 2009. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan. A. Jakarta. sikap dan ketrampilan mahasiswa itu sendiri. www. The Achivement Motive. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. www. Petunjuk Teknis Pelaksanaan Sipensimaru Diknakes. Rineka Cipta. 2007. Huanaini. Hubungan Minat Terhadap Profesi Guru dan Motivasi Berprestasi dengan Ketrampilan Mengajar. Jakarta.xl. Arikunto S. 2008. Pendidikan Berbasis Karakter. 2007. Print Out Nilai Sipensimaru Diknakes Jurusan Kebidanan Prodi Kebidanan Magetan.com. perilaku. Suryabrata S.2009. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. 2006.I No. 2006. Keseimbangan IQ. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 179 . Yang baik adalah motivasi untuk berprestasi merupakan tujuan memperoleh atribut sukses bagi seseorang. Pedoman Akademik DIII Kebidanan. 2008.ac.

2005. Akses 25 Nopember 2009. Jakarta Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 180 . Penilaian Hasil Belajar.id.usu. www.I No. Zainul AN.ac.Vol. 2004. Motivasi Berprestasi Mahasiswa Ditinjau dari Pola Asuh.2 April 2010 ISSN: 2086-3098 Suwardjono. PAU-PPAI-UT.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->