Anda di halaman 1dari 5

PENERAPAN TEKNOLOGI LIMBAH LABORATORIUM ELEKTROPLATING UNTUK BAHAN SUBSTITUSI PADA INDUSTRI KECIL JASA PELAPISAN LOGAM Sudirman

Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang Abstract Polines electroplating laboratory wastes still contain the economic value due to the materials used are metal coating materials that Pure Analysis. While the metal coating material on a small industrial metal coating services using technical materials. So that the content of the composition of the metal coating on the metal plating wastes, there are still 42% chromium, nickel 36%, copper 30% (Sulasih, 2010). Laboratory wastes in Polines metal coating can be utilized by small metal plating industry. The event was held with the aim that the metal coating craftsman can lower production costs by utilizing laboratory electroplating wastes. These objectives can be achieved by coating metal electroplating method of utilization of laboratory wastes and to improve early treatment of the workpiece. Layer thickness of the workpiece produced 123-190 micrometer range for coating time 30 minutes, so it can be coated with a good, flat, relatively thin and not easy to peel. Keywords: electroplating, electroplating wastes, metal layers. PENDAHULUAN Proses elektroplating mempunyai peranan yang sangat penting dalam industri manufakturing, dimana sebagian besar komponen-komponen engineering memerlukan jasa elektroplating. Di Kudus terdapat 6 industri pelapisan logam yang bergerak dalam bidang jasa pelapisan logam. Limbah laboratorium elektroplating Polines masih mengandung nilai ekonomis dikarenakan bahanbahan yang digunakan adalah bahan-bahan pelapisan logam yang PA (Pure Analysis). Sedangkan bahan pelapisan logam pada industri kecil jasa pelapisan logam menggunakan bahanbahan yang teknis. Sehingga kandungan komposisi logam pelapis pada limbah pelapisan logam masih terdapat khrom 42%, nikel 36%, tembaga 30% (Sulasih, 2010). Limbah laboratorium pelapisan logam di Polines dapat termanfaatkan bagi industri kecil pelapisan logam, tetapi apabila didaur ulang guna praktikum di laboratorium sudah tidak menghasilkan lapisan yang bagus. Industri kecil pelapisan logam Kondang Murah yang ada Jipan Pakis Kabupaten Kudus membutuhkan bahan pelapisan logam yang berupa bahan teknis tembaga sulfat 20 kg, nikel sulfat 40 kg, khrom trioksida 46 kg untuk setiap bulannya. Sehingga adanya limbah laboratorium dapat digunakan sebagai subtitusi bahan-bahan tersebut yang dapat menekan biaya produksinya. Proses pengolahan awal adalah proses persiapan permukaan dari benda kerja yang akan mengalami proses pelapisan logam, pada umumnya proses pelapisan logam itu mempunyai dua tujuan pokok adalah sifat dekoratif. Sifat ini untuk mendapatkan tampak rupa yang lebih baik dari benda asalnya dan aplikasi teknologi, sifat ini misalnya untuk mendapatkan ketahanan kerosinya, mampu solder, kekerasan, sifat listrik dan lain sebagainya. Keberhasilan proses pengolahan awal ini sangat menentukan kualitas hasil pelapisan logam, baik dengan cara listrik, kimia maupun dengan cara mekanis lainnya. Proses pengolahan awal yang akan mengalami proses elektroplating pada umumnya meliputi proses-proses pembersihan dari segala macam pengotor (cleaning procces) dan juga termasuk proses-proses pada olah permukaan seperti poleshing dan proses permukaan lainnya. Berdasarkan hasil analisis situasi maka permasalahan yang dihadapi adalah : 1. Biaya produksi industri jasa pelapisan logam tinggi 2. Hasil pelapisan tembaga, nikel, khrom yang tidak sempurna ditunjukkan adanya pengelupasan lapisan dan tidak rata dikarenakan menggunakan bahan-bahan teknis. 3. Hasil pelapisan kasar, terbakar dan berbutirbutir 4. Hasil lapisan menimbuulkan warna gelap dan tidak menkilap, tebal.

124

5. Perlakuan awal terhadap benda kerja kurang baik Manfaat yang diperoleh dengan diterapkannya teknologi elektroplating khrom yaitu : 1. Para pengrajin khrom dapat memperbaiki cara pelapisan tembaga, nikel, khrom, sehingga dihasilkan pelapisan tembaga, nikel, khrom yang dapat memenuhi standar industri dengan subtitusi bahan tambah dari limbah laboratorium pelapisan logam. 2. Para pengrajin khrom dapat melaksanakan teknologi tepat guna secara sederhana dengan peningkatan kualitas pelapisan tembaga, nikel, khrom. 3. Dengan digunakannya teknologi tepat guna maka harga dan kualitas hasil pelapisan tembaga, nikel, khrom akan lebih tinggi jika

dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan bila mengulang kembali proses pelapisan. TINJAUAN PUSTAKA Elektroplating adalah pemindahan ion logam dengan bantuan arus listrik melalui elektrolit sehingga ion logam tersebut dapat mengendap pada benda padat konduktif dan membentuk lapisan logam yang disebut deposit. Pengendapan terjadi pada benda kerja/ logam yang berlaku sebagai katoda, sedangkan ion logam diperoleh dari elektrolit maupun pelarutan anoda logam pada elektrolit. Prinsip Kerja Elektroplating

Prinsip kerja elektroplating ditunjukkan pada gambar 1. berikut. A

+
3

6 2 V

` +

Gambar 1. Rangkaian Elektroplating Keterangan gambar 1. adalah: 1) Sumber arus searah (DC) 2) Voltmeter (V) 3) Ampermeter (A) 4) Larutan Elektrolit 5) Katoda (benda kerja) 6) Anoda Cr

PENERAPAN TEKNOLOGI LIMBAH LABORATORIUM ELEKTROPLATING UNTUK.......... (Sudirman)

125

Sumber arus searah dihubungkan dengan dua buah elektroda yaitu elektroda yang dihubungkan dengan kutub negatip yang disebut katoda dan elektroda yang dihubungkan dengan kutub positip yang disebut anoda. Benda yang akan dilapisi harus bersifat konduktif dan diposisikan sebagai katoda. Arus listrik dialirkan dari anoda menuju katoda melalui elektrolit. Menentukan Massa Deposit Massa deposit adalah massa lapisan logam yang mengendap pada benda kerja yang posisinya sebagai katoda. Hukum Faraday menyatakan bahwa massa endapan (M) sebanding dengan kuat arus (I) dan waktu/ lamanya pelapisan (t) serta tara kimia listrik (Z) tergantung pada jenis logam pelapis. Persamaan hukum Faraday dinyatakan dalam persamaan: M = Z.I.t ......................................... ( 1 ) .................................... (2) Z = ME
96 . 500

Produksi bersih diterapkan untuk meningkatkan efisiensi proses produksi. Pelaksanaan produksi bersih di elektroplating dimulai dari pengamatan proses produksi secara cermat, dengan bantuan diagram alir proses produksi atau blok diagram proses (process mapping) yang lengkap dan sederhana sehingga mudah dimengerti. Pada setiap tahapan proses produksi dicermati/ dirinci peluang diterapkannya produksi bersih. Peluang diterapkannya produksi bersih terdapat di beberapa sektor utama, seperti : 1) Sektor sumber daya manusia, yang meliputi sikap dan pola kerja karyawan. 2) Sektor energi, yang terfokus pada upaya efisiensi energi. 3) Sektor bahan, meliputi pemilihan, penyimpanan, dan penyiapan bahan baku. 4) Sektor limbah, yang meliputi upaya pengolahan dan pemanfaatan kembali limbah elektroplating. Limbah merupakan hasil yang tak diinginkan dari kegiatan elektroplating. Limbah padat elektroplating yang berasal dari kegiatan polishing dan penghilangan kerak, sedangkan limbah cair berasal dari proses pencucian/ pembilasan. Pengolahan limbah cair dapat dilaksanakan secara fisika maupun kimia. 1. Pengolahan Limbah Cair Secara Fisika a) Sedimentasi Partikel partikel yang tersuspensi dalam limbah cair dapat cepat mengendap dengan menambahkan

koagulan seperti tawas. Penambahan koagulan menyebabkan partikel-partikel saling menempel dalam bentuk flok koagulan, selanjutnya terjadi penggumpalan hingga mempermudah pengendapan. b) Filtrasi / Penyaringan Tahapan sedimentasi menghasilkan larutan dengan flok-flok koagulan. Filtrasi/ penyaringan adalah tahapan berikutnya yang berfungsi memisahkan larutan dengan flok-flok koagulan. Filtrasi dapat dilaksanakan menggunakan kain, terpal, atau pasir dan kerikil. c) Adsorpsi Adsopsi adalah penjerapan senyawa dalam campuran gas atau yang terlarut dalam mediun cair. Zat warna dan bau pada umumnya dapat dihilangkan secara adsopsi menggunakan batu apung, arang, dan karbon aktif. d) Evaporasi Evaporasi adalah penguapan cairan untuk mendapatkan larutan pekat. Larutan elektrolit yang terlalu encer dapat dipanaskan sehingga didapat larutan pekat sesuai kebutuhan dalam pelapisan. 2. Pengolahan Limbah Cair Secara Kimia a) Netralisasi Air limbah yang bersifat asam dapat dinetralkan menggunakan air limbah yang bersifat basa, atau dan sebaliknya hingga didapat air limbah terolah dengan pH sebesar 7 1. Apabila pH limbah dibawah 6 perlu penambahan soda api atau kapur dan apabila pH limbah diatas 8 dapat ditambahkan asam sulfat atau asam klorida. b) Pengendapan Logam Larutan kapur ( CaOH 2 ) atau soda api ( NaOH ) juga dapat dimanfaatkan untuk mengendapkan logam-logam limbah plating. c) Oksidasi Senyawa-senyawa kimia beracun seperti sianida sebelum dibuang sebaiknya diurai secara oksidasi menggunakan senyawa klor seperti kaporit, sehingga menjadi senyawa yang lebih sederhana. d) Reduksi Senyawa beracun seperti krom valensi 6 dapat direduksi menjadi valensi 3 yang tidak beracun. Krom valensi 3 mudah diendapkan dengan menambahkan soda api atau kapur. e) Elektrolisis Prinsip elektrolisis dapat dimanfaatkan untuk menguraikan kembali logam yang mengendap pada katoda, sehingga logam tersebut dapat dimanfaatkan kembali.

126

TEKNIS Vol. 6 No.3 Desember 2011 : 124 -127

Limbah laboratorium pelapisan logam apabila dibuang langsung ke lingkungan akan mencemari air dan tanah. Limbah tersebut dapat dimanfaatkan lagi bagi industri-industri kecil jasa pelapisan logam. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil kegiatan pengabdian pada masyarakat ini adalah sebagai berikut : 1. Hasil Bagi Polines 1.1 Penataan peralatan laboratorium dilaksanakan lebih teratur. 1.2 Penyimpanan bahan kimia menyesuaikan ketentuan keamanan dan keselamatan. 1.3 Peningkatan kebersihan laboratorium. 1.4 Keamanan dan kenyamanan kegiatan praktikum di laboratorium lebih terjamin. 2. Hasil Bagi Industri Pelapisan Logam 2.1 Para pengrajin khrom dapat memperbaiki cara pelapisan tembaga, nikel, khrom, sehingga dihasilkan pelapisan tembaga, nikel, khrom yang dapat memenuhi standar industri dengan subtitusi bahan tambah dari limbah laboratorium pelapisan logam. 2.2 Para pengrajin khrom dapat melaksanakan teknologi tepat guna secara sederhana dengan peningkatan kualitas pelapisan tembaga, nikel, khrom. 2.3 Dengan digunakannya teknologi tepat guna maka nilai tambah/ keuntungan hasil pelapisan tembaga, nikel, khrom akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan keuntungan yang didapat pada proses pelapisan tanpa bahan substitusi 2.4 Meningkatkan kualitas hasil produksi pelapisan tembaga, nikel, khrom dengan metode elektroplating melalui perbaikan perlakuan awal. 2.5 Mutu produk bertambah dengan perbaikan proses. 2.6 Komponen-komponen manufakturing banyak terbuat dari logam besi yang dilapisi dengan khrom. Perbaikan teknologi pelapisan dengan metode elektroplating akan berdampak positif bagi masyarakat luas pengguna hasil elektroplating khrom dengan tekbnologi tepat guna dan meningkatkan pengetahuan khususnya pengrajin dalam pemanfaatan limbah laboratorium elektroplating. 2.7 Adanya pengalaman baru tentang manfaat bahan limbah elektroplating sebagai substitusi larutan elektrolit pelapisan logam.

Keberhasilan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagaimana disebutkan dalam hasil kegiatan diatas terutama ditentukan oleh dukungan yang positip dan hubungan baik antara Politeknik Negeri Semarang dengan masyarakat industri sebagai sasaran kegiatan ini. Namun demikian kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini tak lepas dari tantangan/ hambatan. Hambatan tersebut terutama berasal dari terbatasnya sarana-prasarana maupun dana kegiatan serta penyesuaian waktu antara pengabdi dan khalayak sasaran yang senantiasa lebih mengedepankan keuntungan sesaat dan kurang memperhatikan pengembangan. PENUTUP Kegiatan ini telah berhasil memenuhi tujuan yang pertama, yaitu Menekan biaya produksi dengan memanfaatkan limbah laboratorium elektroplating. Tujuan- tujuan lain yang terkait peningkatan kwalitas produksi dapat ditingkatkan dengan menambah kwalitas perlakuan awal terhadap benda kerja, karena kunci peningkatan kwalitas produksi juga ditentukan oleh kwalitas perlakuan awalnya. Pengrajin telah memahami pentingnya peningkatan kwalitas perlakuan awal sebagai penentu peningkatan kwalitas produksi. Tujuan kegiatan pengabdian ini telah berhasil dicapai, hal itu terlihat bahwa dengan metode yang baru 80 % produk pelapisan logam pengrajin mempunyai kwalitas yang lebih baik (mengkilap dan rata). DAFTAR PUSTAKA Harini, 1984, Perlindungan Logam dengan Metoda Lapis Listrik, Yogyakarta, Andi Offset Hartono, Anton.J, & Kaneko, Tomijiro, 1995, Mengenal Pelapisan Logam (Elektroplating), Yogyakarta, Andi Offset Moertinah, Sri, 1987, Pencemaran Air Buangan Industri Lapis Logam di Jateng, Semarang, Proyek Penelitian dan Pengembangan Industri. Palar, Heryando, 1994, Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat, Jakarta, Rineka Cipta Rahayu, S.S., Dra, dkk, 1996, Petunjuk Praktikum Elektroplating, Bandung, Pusat Pengembangan Pendidikan Politeknik.

PENERAPAN TEKNOLOGI LIMBAH LABORATORIUM ELEKTROPLATING UNTUK.......... (Sudirman)

127