Anda di halaman 1dari 4

UPAYA MENINGKATKAN EFISIENSI BIAYA PELAKSANAAN KONSTRUKSI BANGUNAN MELALUI PENGELOLAAN SEDIAAAN MATERIAL Supriyadi Jurusan Teknik Sipil

Politeknik Negeri Semarang Abstract The implementation of construction project will be successful if it meets the three things, these are: the quality of building which meets the requirement; it does not exceed the time limit of execution and the implementation cost does not exceed the budged provided. The most difficult thing to achieve among those three factors is the cost element. Lower the cost of implementation by reducing the specification of materials used is not a good solution. Decreasing the material specification will have a direct impact to the reduction of the quality of the project or even its quality targets are not able to achieve. The compliance with cost targets can be done by management action, it is to implement good management which gives impact to its efficiency. Efficiency is the ability to complete a right work. Efficiency covers all activities that add its value. Building material is as an input element that absorbs most of the cost of the inputs. The management of stocks materials in building construction work is able to prevent the waste cost and unnecessary costs. Keywords: Project cost, Efficiency, stock management PENDAHULUAN Pengelola pelaksanaan pekerjaan konstruksi bangunan menghadapi masalah yang rumit dalam bekerja, terutama karena ia harus menghadapi kenyataan yang sangat berbeda dengan yang diharapkan. Banyak asumsi yang ditetapkan pada saat perencanaan ternyata realitanya sangat berbeda saat dilaksanakan. Bisa saja hal tersebut terjadi karena keterbatasan perencana untuk melihat kedepan sehingga perencanaan yang dihasilkan kurang akurat, tetapi kenyataannya memang sejumlah faktor eksternal yang sulit diprediksi dan kendalikan, misalnya cuaca, kapasitas tenaga kerja, keamanan lingkungan, kelancaran arus lalu lintas menuju ke proyek, ketersedian bahan di pasar, suplai tenaga kerja dan sebagainya. Keberhasilan pengelola proyek konstruksi bangunan diukur oleh pencapaian tiga hal/kendala sekaligus yaitu keberhasilan mewujudkan bangunan dengan dengan kualitas sesuai yang disyaratkan, tidak melampui batas waktu pelaksanaan yang ditetapkan, dan biayanya tidak melampui jumlah yang telah ditetapkan. Diantara tiga kendala pelaksanaan proyek konstruksi tersebut unsur biaya merupakan hal yang paling sulit untuk dicapai. Karena setiap peningkatan unsur selain biaya (unsur kualitas dan atau waktu) berpengaruh langsung terhadap anggaran biaya. Disisi lain pengelola pelaksanaan proyek konstruksi bangunan juga berhadapan dengan factor-faktor eksternal yang sulit atau bahkan tidak dapat dikendalikan yang mengganggu kelancaran pelaksaaan pembangunan di lapangan. Gangguan terhadap kelancaran tersebut pada akhirnya akan berpengaruh langsung terhadap biaya akhir secara keseluruhan. Upaya pencapaian terhadap target biaya haruslah dilakukan sekaligus atau tidak boleh meninggalkan target kualitas dan target waktu. Pencapaian target biaya sekaligus target lainnya dapat dilakukan dengan melaksanakan tata kelola pelaksanaan dilapangan yang menghilangkan pemborosan dan sekaligus memunculkan efisiensi.

EFISIENSI BIAYA KONSTRUKSI BANGUNAN

PEKERJAAN

Dalam mengelola aktivitas produksi para manajer/ pengelola senantiasa dihadapkan pada kenyataan tentang adanya keterbatasan sumber-sumber produksi. Mereka senantiasa berusaha dengan memilih dan mengembangkan berbagai metode agar produksi dapat berjalan efisien/ hemat. Yosuhiro Monden menjelaskan bahwa dalam sistem produksi toyota pengurangan biaya dan perbaikan produktivitas dicapai dengan menghilangkan pemborosan. Sementara Masaaki Imai berpendapat bahwa muda dalam bahasa jepang berarti pemborosan, namun cakupan istilah ini melingkupi segala sesuatu atau semua kegiatan, yang tak memberi nilai tambah. Dengan demikian efisiensi sebagai lawan dari pemborosan menyangkut dua hal

114

yaitu bahwa ia berkaitan dengan penggunaan sumber dan merupakan tindakan mengurangi hal yang tak bekaitan dengan nilai tambah. Segi efisiensi dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi bangunan menyangkut aspek yang luas. Yaitu mencakup kegiatan penyusunan jadwal baik jadwal kegiatan maupun jadwal pengadaan dari sumber-sumber produksi proyek. Jadwal yang efisien adalah jika rencana kerja dalam jadwal tersebut dilaksanakan kejadian waktu menunggu bisa minimal. Berikutnya adalah aspek pengelolaan dari sumber daya proyek yang dipergunakan. Aspek ini mencakup menetapkan spesifikasi jenis sumber daya pekerjaan konstruksi, menetapkan jumlah yang dipergunakan, menyeleksi sumber daya, penetapan tata-letak sumber, pengawasan saat beroperasi, penanganan paska operasi dan sebagainya. Jenis input sumber daya pekerjaan proyek konstruki bangunan secara garis besar dapat dikelompokkan kedalam tiga macam, yaitu terdiri atas tenaga kerja (tenaga kerja lapangan/tukang dan pengelolan pekerjaan/lapangan), peralatan, sarana prasarana pekerjaan , dan material. Diantara sumber daya proyek konstruksi bangunan sumber daya material merupakan jenis sumber daya yang paling banyak menyerap biaya. Hal ini juga diperkuat oleh pendapat Istiawan Dipohusodo, yang menyatakan bahwa untuk proyek infrastruktur atau industri yang tidak terlalu rumit kira-kira 60 % biaya dipergunakan untuk membiayai material. Pengelolaan yang tepat terhadap material di lapangan dapat memberikan kontribusi terhadap efisiensi biaya secara keseluruhan. MENCEGAH MATERIAL PEMBOROSAN SEDIAAN

yang lebih rendah kualitasnya, besi beton untuk kolom praktis yang seharusnya memakai besi D 8 diganti dengan memakai D 6, pasir campuran send sheet bahan perkerasan jalan yang mestinya memakai pasir Muntilan memakai diganti dengan pasir urug, spesi untuk pasangan batu belah bangunan saluran irigasi yang mestinya memakai campuran 1 PC : 3 PS diganti dengan memakai campuran 1 PC : 8 PS dan sebagainya. Akibat dari ini semua sudah jelas yaitu bangunan yang dihasilkan kualitasya tidak memenuhi standar, tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya, dan kemungkinan rusak sebelum batas usia pakainya habis. Praktek semacam ini banyak ditemukan pada pembangunan real estat tipe sederhana. Pemborosan adalah adanya tindakan-tindakan yang tidak perlu. Tujuan efisiensi dari segi material bukan ditempuh dengan mengurangi penggunaan atau menurunkan kualitas material tetapi dapat dicapai dengan meniadakan kegiatan-kegiatan atau pemborosan pada pengelolaan material, Sebagaimana dijelaskan oleh Donald J.Bowersox bahwa tujuan dari logistik pengelolaan material adalah menyampaikan barang jadi dan bermacammacam material dalam jumlah yang tepat pada waktu yang dibutuhkan, dalam keadaan yang dapat dipakai kelokasi dimana ia dibutuhkan dan dengan total biaya yang terendah. Dengan demikian sebetulnya kondisi idial biaya material adalah biaya langsung untuk membeli material itu sendiri dan bukan ditambah biaya-biaya tidak langsung. Stock atau sediaan adalah merupaan salah satu bagian penting dari kegiatan pengelolaan material. Pengelolaan yang tidak tepat terhadap sediaan biaya menimbulkan biaya-biaya tidak langsung yang tidak sedikit. Bagian berikut ini akan mengulas sumber-sumber pemborosan dan cara mengatasi pemborosan sediaan. VOLUME SEDIAAN Yosuhiro Monden menjelaskan bahwa salah satu dari empat jenis pemborosan dalam operasi produksi adalah sediaan yang terlalu banyak. Sementara itu sebagaimana pendapat Donald J.Bowersox tersebut diatas adalah bahwa salah satu tujuan logistik adalah menyampaikan material dalam jumlah yang tepat pada waktu yang dibutuhkan. Dengan demikian adanya anggapan dari sejumlah manajer/pengelola pelaksana pekerjaan bahwa sebuah proyek harus selalu memiliki pesediaan yang cukup tidak bisa dalam

Besarnya tekanan terhadap pencapaian target biaya telah mendorong sejumlah pengelola pelaksanaan konstruksi bangunan kemudian memilih jalan pintas yaitu dengan mengurangi kualitas/spesifikasi material yang dipergunakan. Solusi seperi ini bukan merupakan langkah yang dapat dibenarkan. Kualitas bangunan yang dihasilkan kualitasnya turun atau bahkan tidak memenuhi kualitas yang ditetapkan. Misalnya beton yang seharusnya menggunakan komposisi campuran bahan 1 PC: 2 PS: 3Kr diturunkan menjadi 1 PC : 3 PS : 5 Kr, rangka atap yang mestinya menggunakan bahan dari balok kayu bengkirai diganti dengan menggunakan balok kayu meranti atau kayu lain

UPAYA MENINGKATKAN EFISIENSI BIAYA PELAKSANAAN KONSTRUKSI .( Supriyadi)

115

semua kasus dianggap benar. Karena dengan adanya persediaan mereka harus menanggung sejumlah biaya tidak langsung. Yosuhiro Monden lebih jauh menyatakan pasokan barang konsumsi (material produksi) yang berstatus persediaan tidak memberi nilai tambah sebaliknya semua itu menambah pada pos biaya operasi dengan bertambahnya kebutuhan tempat penyimpanan, peralatan, dan fasilitas seperti gudang, fork lift. Lebih lanjut gudang membutuhkan tenaga kerja tambahan untuk tugas operasional. Ford W.Harris (1913) yang dikutip oleh Wallace J.Hopp dan Mark L.Spearman telah mengembangkan model sediaan yang terkenal sebagai EOQ (Economics Order Quantity) atau tingkat persediaan ekonomis. Secara garis besar model tersebut menjelaskan bahwa tingkat persediaan ekonomis dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu tingkat permintaan per tahun, biaya per pesanan, harga per unit, biaya penanganan dan tingkat bunga tingkat bunga. Dalam pekerjaan bidang konstruksi bangunan operasi tidak berlangsung terus menerus seperti sebuah pabrik, tetapi hanya berlangsung sepanjang waktu penyelesaian. Namun model atau faktor-faktor EOQ tersebut bisa diterapkan dalam menentukan jumlah sediaan material yang ekonomis. Stock ideal adalah jumlahnya minimal namun dapat memenuhi permintaan prpduksi. Salah satu kendala dalam menjaga stock adalah kelancaran penyerahan dari supplier. Pengelola pelaksanaan konstruksi bangunan dapat menjalin kontrak atau bekerja sama dengan supplier guna menjaga kelancaran penyerahan pesanan. Jika hal ini bisa terwujud lapangan tidak perlu stock dalam jumlah besar karena setiap saat pemesanan material dapat dilakukan dan diikuti penyerahan yang lancer. PENEMPATAN GUDANG MATERIAL Berkaitan dengan penggudangan sediaan material perlu memperhatikan sifat dari jenis material. Sifat material konstruksi bangunan sipil dapat dikelompokkan menurut sifat ketahanan terhadap pengaruh cuaca dan sifat mudah hilang. Ada sejumlah material konstruksi bangunan sipil yang tahan terhadap pengaruh perubahan contohnya batu belah, batu pecah, pasir, tanah urugan, batu bata. Terhadap material seperti ini dapat ditempatkan ditempat terbuka. Sebaliknya jenis material seperti semen, kayu, papan buatan, cat adalah jenis material yang tidak tahan terhadap cuaca dan harus

terlindung. Sedangkan terhadap sifat mudah hilang, terdapat sejumlah jenis material konstruksi bangunan sipil yang rawan hilang. Material ini biasanya dicirikan dengan bentuk dan ukurannya yang kecil sehingga mudah dibawa, harganya relatif mahal, dan mudahnya untuk dijual. Contoh material jenis ini adalah besi beton, kayu, dan semen. Terhadap material jenis harus ditempatkan ditempat yang aman dan tidak mudah bagi sembarang orang mtuk mengambilnya. Suatu pertimbangan dalam menempatkan gudang material adalah pemilihan tempat sedemikian rupa sehingga biaya penanganan/handling nya minimal. Sebisa mungkin diusahakan material yang diserahkan ke lapangan ditempatkan berada dekat dengan tempat produksi/pemasangan. Pengangkutan/pemindahan material dari gudang atau tempat timbunan material ke tempat pemasangan adalah contoh pemborosan. T.Hani Handoko menjelaskan bahwa selama perjalanan dalam pabrik ini barangbarang/material diambil, dipindahkan dan diletakkan ke banyak kali. Setiap jenis penanganan atau transportasi material adalah tidak produktif dan artinya tidak merubah bentuk produk. Penghapusan setiap bagian perpindahan akan meningkatkan efisiensi. Sementara itu menurut Donald J. Bowersox bahwa handling/ penanganan merupakan salah satu yang termahal dalam kegiatan saluran/distribusi material. Pada proyek pekerjaan konstruksi bangunan penempatan bahan seperti pasir, batu bata, batu belah , dan batu pecah perlu mendapatkan perhatian yang serius. Bagian pelaksana perlu berkoordinasi dengan petugas penerima material sehingga pada truk material datang di lapangan dapat diarahkan untuk menurunkan material tepat ditepi dimana material tersebut akan dipasang. Demikian juga penempatan besi beton dan atau kayu ditempatkan dimana material tersebut akan diproses sebelum di setel dipasang di bagian konstruksi. Pertimbangan kedua dalam menempatkan gudang adalah perlu mempertimbangkan penempatan gudang penyimpanan material yang bersifat mudah hilang ditempat yang mudah diawasi. Menempatkan gudang tersebut dekat dengan kantor direksi adalah kebiasaan yang sering terjadi dilapangan proyek konstruksi bangunan.

116

TEKNIS Vol. 6 No.3 Desember 2011 : 114 -117

PERAWATAN PENYIMPANAN

MATERIAL

DALAM

Betapapun sediaan menimbulkan biaya tidak langsung sebuah aktivitas produksi seperti pelaksanaan pekerjaan konstruksi tetap diperlukan adanya sediaan material. Adanya sediaan ini menimbulkan masalah baru berupa perawatan. Sebab sebagaimana dijelaskan oleh Masaaki lmai disamping tidak memberi nilai tambah, barang sediaan kualitasnya menurun dengan bertambahnya waktu dan bahkan bisa sirna. Pengelola proyek dapat mengurangi laju penurunan kualitas material dengan cara melakukan perawatan selama penyimpanan. Penyimpanan secara benar dengan memperhatikan sifat fisik dan mekanis material merupakan usaha perawatan yang baik. Peyimpanan yang salah dapat mengakibatkan material menjadi rusak. Besi beton misalnya untuk menghidari serangan korosi dapat dilindungi dengan cara menutup/menimbun besi dengan pasir. Semen portlan adalah material yang sangat peka terhadap air dan kelambaban, cara penyimpanannya adalah dengan tidak meletakkan langsung semen diatas lantai dan menyediakan sirkulasi udara yang cukup pada ruang penyimpan. Sedangkan untuk material yang ditimbun di lapangan, pasir merupakan jenis material yang paling sering rusak. Terutama untuk proyek konstruksi bangunan yang berada dekat dengan pemukiman penduduk, dalam menempatkan timbunan pasir perlu diperhatikan agar-agar anakanak kecil tidak dapat bermain ketempat timbunan. Anak-anak kecil sering bermain diatas pasir atau bahkan ada yang melemparkan batu ke dalam timbunan pasir. URUTAN PEMAKAIAN MATERIAL Tidak seperti pada pabrik yang memproduksi barang secara terus menerus, pesanan material dapat dispesifikasikan untuk setiap bagian atau lini produksi. Pada pekerjaan konstruksi bangunan hal seperti sering sulit dilakukan. Bagian logistik sering membeli suatu jenis material yang sama yang dibutuhkan oleh sejumlah pekerjaan di lapangan sehingga sulit mengelompokkan material tertentu untuk bagian pekerjaan tertentu. Namun walupun demikian petugas gudang harus berusaha agar setiap material yang diterima mengalami penyimpanan yang pendek. Karena sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa bertambahnya waktu material disimpan dapat menurunkan kualitasnya.

Untuk keperluan itu dalam pemakaian material dapat dipergunakan sistem FIFO (first in firs out = pertama masuk pertama keluar). Untuk itu pada setiap material yang diterima dan ditempatkan harus diberikan kartu kendali yang menjelaskan jenis material, volume material, asal supplier, serta tanggal datang. Jika memungkinkan kartu-kartu bisa digantungkan pada tumpukan material. PENUTUP Vincent Gaspersz menjelaskan bahwa model pengukuran produktivitas atau efisiensi yang paling sederhana adalah rasio out put dengan input. Rasio tersebut nilainya menjadi bertambah bila total Input yang dipergunakan bisa di hemat. Hasil yang sama juga bisa dicapai dapat dipilih sistem produksi yang mutakhir sehingga yang bisa menghasilkan nilai outputnya yang meningkat untuk setiap input yang sama. Dengan demikian produktivitas dan atau efisiensi merupakan hal hidup yang menantang. Pengelola produksi tidak kecuali pengelola pekerjaan konstruksi bangunan perlu terus menerus mengembangkan efisiensi pada setiap melaksanakan kegiatan produksi. DAFTAR PUSTAKA Donald J.Bowersox, 2000, Manajemen Logistik, Bumi Aksara, Jakarta Istiawan Dipohusodo, 1996, Manajemen Proyek dan Konstruksi Jilid 2, Kanisius, Yogyakarta Masaaki lmai. 1998. Gemba Kaizen, Ppm & Yayasan Toyota Astra, Jakarta Iman Soeharto, 2002, Studi Kelayakan Proyek Industri, Erlangga, Jakarta T.Hani Handoko, 2000, Dasar-dasar Manajemen Produksi dan Operasi, Fak. Ekonomi UGM, Yogyakarta T.Hani Handoko, 2003, Manajemen Edisi 2, Fak. Ekonomi UGM, Yogyakarta Wallace J.Hopp & Mark L.Spearman, 1996, Factory Physics Foundation of Manufacturing Management, Richard D.Irwin aTimes Mirror Higher Education Group, USA Vincent Gaspersz, 1998, Manajemen ProduktivItas Total : Strategi Peningkatan Produktivitas Bisnis Global, Gramedia, Jakarta Yosuhiro Monden, 2000, Sistem Produksi Toyota (Buku Pertama), Ppm, Jakarta.

UPAYA MENINGKATKAN EFISIENSI BIAYA PELAKSANAAN KONSTRUKSI .( Supriyadi)

117