Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH METODE PENINGKATAN AKHLAK

Disusun Guna Memenuhi Salahsatu Tugas Mata Kuliah Akhlak Tasawuf

Jurusan Pendidikan Kimia A/VI Disusun Oleh : Ahmad Subandi (12092080) Andri Setiawan (12091080) Anisa Komalasari (12092080) Dini Sandiani (1209208030)

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2012

KATA PENGANTAR

Bismillahirahmaanirahiim Atas izin Allah langit masih menyunting matahari, angin masih setia mengipasi bumi, dan laut tak pernah bosan mengantar ombak ke tepian. Dan atas izin Allah pula maka makalah ini dapat dibuat. Maka sudah sepatutnyalah penyusun memanjatkan puji dan syukur yang tak terbatas ke hadirat-Nya. Makalah ini dibuat oleh penyusun untuk memenuhi salah satu tugas terstruktur pada mata kuliah Akhlak Tasawuf. Di dalamnya terdapat pembahasan mengenai metode-metode peningkatan kualitas akhlak. Tak ada gading yang tak retak, begitu pun dengan makalah ini masih jauh dari kriteria sempurna. Oleh karena itu penyusun mengharapkan saran dan kritik dari pembaca demi improvmentasi penyusun makalah selanjutnya. Segala kritikan yang membangun senantiasa diharapkan penyusun demi penyempurnaan makalah ini. Dan semoga dapat bermanfaat khususnya bagi penyusun dan umumnya bagi pembaca. Akhirnya penyusun mengucapkan syukur alhamdullilah kehadirat ilahi robbi yang tiada hentinya atas selesainya proses penyusunan makalah ini. Amin.

Bandung, 17 Maret 2011

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN

Akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. Akhlak juga merupakan tolak ukur kesempurnaan iman seorang hamba sebagaimana telah disabdakan oleh rasulullah shalallohu alaihi wasallam: Orang mumin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya. (H.R. Tirmidzi, dari Abu Hurairah radhiallohu anhu, diriwayatkan juga oleh Ahmad. Dishahihkan oleh Al Bani dalam Ash Shahihah No. 284 da 751.) Menurut Imam Al-Ghazali, Akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia), yang dapat melahirkan suatu perbuatan yang gampang dilakukan tanpa melalui maksud untuk memikirkan (lebih lama)maka jika sifat tersebut melahirkan suatu tindakan yang terpuji menurut ketentuan akal dan norma agama, dinamakan akhlak yang baik. Tetapi manakala ia melahirkan tindakan yang jahat, maka dinamakan akhlak yang buruk.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Akhlak Perkataan Akhlak berasal dari perkataan (al-ahlaaku) ialah kata jama dari pada perkataan perkataan (al-khuluqu) berarti: tabiat, kelakuan , perangai, tingkah laku , matuah, adat kebiasaan, malah ia jubga berarti agama itu sendiri. Definisi Akhlak menurut istilah ialah: sifat yang tertanam di dalam diri yang dapat mengeluarkan sesuatu perbuatan dengan senang dan mudah tanpa pemikiran, penelitian, dan paksaan. Allah Taala berfirman: Sungguh telah ada bagi kalian suri tauladan yang baik pada diri Rasulullah. (QS. AlAhzab: 21) Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah sosok yang paling mulia akhlaknya. (HR. Al-Bukhari no. 6203 dan Muslim no. 2150) Nabi Solallohu alaihi wasallam bersabda yang maksudnya: Sesungguhnya aku diutus adalah untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia. (H.R. Ahmad). Orang Mukmin yang paling sempurna imannya, ialah yang paling baik akhlaknya. (H.R. Ahmad). Sedangkan pengertian Akhlak dalam Kamus besar Bahasa Indonesia, akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan. Dalam bahasa Arab kata Akhlak (akhlaq) diartikan sebagai tabiat, perangai, kebiasaan, bahkan agama. Meskipun kata akhlak berasal dari Bahasa Arab, tetapi kata akhlak tidak terdapat di dalam al-Quran. Kebanyakan kata akhlak dijumpai dalam hadits. Satu-satunya kata yang ditemukan dalam al-Quran adalah bentuk tunggal, yaitu khuluq, tercantum dalam surat al-Qalam ayat 4. yaitu: Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) betul-betul di atas akhlak yang agung. (QS. Al-Qalam: 4)

Dalam kamus Al-kautsar, ilmu akhlak diartikan sebagai ilmu tatakarma, jadi dapat dirumuskan bahwa ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas tentang perbuatan yang dilakukan manusia, mengajarkan perbuatan baik yang harus dikerjakan dan perbuatan jahat yang harus dihindari dalam pergaulannya, baik dengan sesama manusia maupun dengan tuhannya. Baik menurut akhlak adalah segala sesuatu yang sesuai dengan nilai dan norma agama, nilai serta norma yang terdapat dalam masyarakat, bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Buruk menurut akhlak adalah segala sesuatu yang tidak berguna, tidak sesuai dengan nilai dan norma agama, serta nilai dan norma masyarakat, merugikan masyarakat dan diri sendiri. Adapun yang menentukan baik dan buruk suatu sikap (akhlak) yang melahirkan prilaku atau perbuatan manusia adalah Al Quran yang dijelaskan dan dikembangkan oleh Rasululloh saw dengan sunnahnya. Perbuatan baik dan buruk dalam moral dan etika ditentukan adat istiadat dan pemikiran masyarakat pada suatu tempat di suatu masa. Oleh karena itu, di pandang dari sumbernya akhlak islamiyah bersifat tetap dan berlaku untuk selamanya sedangkan moral dan etika hanya berlaku di suatu tempat dan selama masa tertentu. Akhlak islamiyah adalah keadaan yang melekat pada jiwa manusia. Dalam buku ensiklopedia islam jilid 1, 1993 dinyatakan bahwa: perbuatan baru bisa dikatakan pencerminan akhlak jika dapat memenuhi beberapa syarat antara lain : 1. Dilakukan berulang-ulang jika dilakukan sekali saja atau jarang-jarang tidak dapat dikatakan akhlak. 2. Timbul dengan sendirinya tanpa dipikir-pikir atau dipertimbangkan berulang-ulang karena perbuatan itu telah menjadi kebiasaan baginya. Allah berfirman sebagai berikut :

Artinya : Barang siapa mengerjakan kebajjikan, baik laki-laki atau perempuan dalam keadaan beriman maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami berikan balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (Q.S.an Nahl:97). Ditekankan dalam ayat di atas bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman. Akhlak islam mempunyai karakteristik sifat tertentu yang membedakan dengan etika dan moral ciptaan manusia. Sifat-sifat tersebut antara lain :

1. Kebaikannya bersifat mutlak (al-hasanah al-mutlaqah ) yaitu kebaikan yang terkandung dalam akhlak merupakan kebaikan yang bersifat murni baik untuk individu atau untuk masyarakat dalam lingkungan, keadaan, waktu, dan tempat apapun. 2. Kebaikannya bersifat menyeluruh (al-hasanah syumuliyah) yaitu kebaikan yang terkandung didalamnya merupakan kebaikan untuk seluruh umat di segala zaman dan di semua tempat. 3. Kebaikan bersifat tetap langgeng dan mantap (al-hasanah al-sabitah), tidak berubah oleh perubahan waktu dan tempat atau perubahan hidup masyarakat. 4. Pengawasan yang menyeluruh (al-muraqabah syumuliyah),karena akhlak bersumber dari alloh, maka pengaruhnya lebih kuat dari etika dan moral ciptaan manusia sehingga orang tidak berani melanggarnya kecuali setelah ragu-ragu dan kemudian akan menyesali perbuatannya untuk selanjutnya bertaubat dengan sungguh-sungguh dan tidak melakukan perbuatan salah lagi.

B. Metode peningkatan kualitas Akhlak Dalam ajaran islam, akhlak menempati kedudukan yang utama. Rasululloh saw Menempatkan akhlak sebagai misi pokok risalah Islam. Beliau bersabda yang artinya sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia . Akhlak merupakan salah satu ajaran pokok agama islam sehingga akhlak yang baik akan menitik beratkan timbangan kebaikan seseorang pada hari kiamat nanti. Menurut keterangan Abdulloh Ibnu Umar, orang yang paling dicintai dan yang paling dekat dengan Rasululloh saw. Bahwa pada hari kiamat yang paling baik adalah akhlaknya. Islam menjadikan akhlak yang baik sebagai bukti dari ibadah kepada Allah. Seseorang yang mendirikan sholat tentu tidak akan mengerjakan segala perbuatan yang tergolong keji dan munkar. Tidak ada artinya sholat seseorang jika dia masih mengerjakan kemunkaran yang dilarang agama. Al-Quran banyak mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan Akhlak, baik berupa perintah berakhlak terpuji maupun larangan berakhlak tercela inilah yang membuktikan betapa pentingnya akhlak dalam ajaran Islam. Akhlak akan membawa kemaslahatan dan kemuliaan hidup.

1. Metode Peningkatan Kualitas Akhlak Dalam Kehidupan Adapun prinsip umum yang menyelamatkan kaum muslimin dari kebimbangan, kebingungan dan keguncangan dalam menghadapi kehidupan, meliputi hal-hal sebagai berikut: a. Komitmen dengan Jalan Hidup Islam Setiap muslim harus memiliki komitmen dengan jalan hidup islam yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah Rasul, serta sejarah hidupnya sebab mencari jalan hidup selain dari dua sumber ini adalah suatu kesesatan. Jalan hidup ini adalah segala sesuatu yang dihalalkan atau diharamkan oleh Allah. b. Loyal kepada Allah, RasulNya, dan Islam Loyalitas ini dilakukan untuk Alloh, rasulNya, untuk orang-orang saleh dan nilainilai akhlak yang dibawa Islam. Konsekuensinya, orang islam tidak boleh loyal kepada musuh Allah dan kepada selain Allah atau musyrik. Islam mengangkat harkat orang-orang saleh dan mengukuhkan kewibawaan mereka. c. Kesungguhan dalam Menjalani kehidupan Kesungguhan mempunyai dua pengertian yaitu : I. Ijtihad (bersungguh-sungguh) adalah berusaha dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada untuk mencapai suatu tujuan. II. Tark al-hazl (meninggalkan senda gurau) adalah mengerjakan suatu pekerjaan dengan tidak main-main atau sia-sia. Seorang muslim dituntut untuk melewati fase-fase kehidupannya dengan serius dan mengerahkan segala kemampuan serta menanggung penderitaan dan pengorbanan dijalan Allah. d. Sikap Toleran/Tasamuh dan Memaafkan Bagi kaum muslimin, toleransi berarti tidak membela ide atau mazhabnya secara membuta, tetapi mengikuti mana yang ternyata benar. Islam tidak mengajarkan kasar kecuali dalam peperangan dan pertempuran dijalan Allah. e. Sikap Moderat terhadap Orang Lain dan Segala Sesuatu Moderat adalah pertengahan diantara dua sifat secara kualitas dan kuantitas atau proporsional. Orang yang moderat berarti orang yang berada diantara ifrat dan tafri tatau diantara kencang (tasyaddud) dan longgar (tasyayyub). Allah telah menganugrahkan nikmatNya kepada orang islam dengan dijadikannya ummatan

wasatan yakni umat keadilan, pertengahan dan kebaikan. Umat islam berada di tengah sebagai umat moderat yang mengakomodir kepentingan rohani dengan kebutuhan jasmani.

2. Metode Peningkatan Kualitas Akhlak Menurut Al Ghazali Menurut Al Ghazali, pengembangan pribadi pada hakikatnya adalah perbaikan akhlak, dalam artian menumbuh-kembangkan sifat-sifat terpuji (mahmudah) dan sekaligus

menghilangkan sifat-sifat tercela (madzmummah) pada diri seseorang. Akhlak manusia benarbenar dapat diperbaiki, bahkan sangat dianjurkan sesuai sabda Rasulullah SAW Upayakan akhlak kalian menjadi baik (Hassinuu akhlaqakum). Al Ghazali menaruh perhatian besar pada masalah akhlak serta mengemukakan berbagai metode perbaikan ahlak. Metode peningkatan ahlak yang beliau ungkapkan dalam berbagai buku beliau dapat dikelompokkan atas tiga jenis metode yang berkaitan satu dengan lainnya yang dinamakan:
a. Metode Taat Syariat

Metode ini berupa pembenahan diri, yakni membiasakan diri dalam hidup seharihari untuk melakukan kebajikan dan hal-hal bermanfaat sesuai dengan ketentuan syariat, aturan-aturan negara, dan norma-norma kehidupan bermasyarakat. Disamping itu berusaha untuk menjauhi hal-hal yang dilarang syara dan aturanaturan yang berlaku. Metode ini sederhana dan dapat dilakukan oleh siapa saja dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya akan berkembang sikap dan perilaku positif seperti ketaatan pada agama dan norma-norma masyarakat, hidup tenang dan wajar, senang melakukan kebajikan, pandai menyesuaikan diri dan bebas dari permusuhan.
b. Metode Pengembangan Diri

Metode yang bercorak psiko-edukatif ini didasari oleh kesadaran atas kekuatan dan kelemahan diri yang kemudian melahirkan keinginan untuk meningkatkan sifatsifat baik dan sekaligus menghilangkan sifat-sifat buruk. Dalam pelaksanaannya dilakukan pula proses pembiasaan (conditioning) seperti pada Metode Taat Syariat ditambah dengan upaya meneladani perbuatan dari pribadi-pribadi yang dikagumi. Membiasakan diri dengan cara hidup seperti ini secara konsisten akan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan dan sifat-sifat terpuji yang terungkap dalam kehidupan pribadi dan kehidupan bermasyarakat. Metode ini sebenarnya mirip

dengan metode pertama, hanya saja dilakukan secara lebih sadar, lebih disiplin dan intensif serta lebih personal sifatnya daripada metode pertama.
c. Metode Kesufian

Metode ini bercorak spiritual-religius dan bertujuan untuk meningkat kan kualitas pribadi mendekati citra Insan Ideal (Kamil). Pelatihan disiplin diri ini menurut Al Ghazali dilakukan melalui dua jalan yakni al-mujaahadah dan al-riyaadhah. Al Mujaahadah adalah usaha sungguh-sungguh untuk menghilangkan segala hambatan pribadi (harta, kemegahan, taklid, maksiat). Sedangkan Al-Riyaadhah adalah latihan mendekatkan diri pada Tuhan dengan selalu berusaha meningkatkan kualitas ibadah. Kegiatan sufistik ini berlangsung dibawah bimbingan seorang Guru yang benar-benar berkualitas dalam hal ilmu, kemampuan dan wewenangnya sebagai Mursyid. Diantara ketiga metode tersebut, metode kesufian dianggap tertinggi oleh Al Ghazali dalam proses peningkatan derajat keruhanian, khususnya dalam meraih ahlak terpuji. Penerapkan metode metode Peningkatan Kualitas Akhlak dalam Kehidupan.
1) Metode syariat a. Membiasakan diri untuk selalu melakukan kebaikan dan menjauhi yang di larangan

syara
b. Menjauhi permusuhan c. Membiasakan diri untuk menyesuaikan dengan lingkungan 2) Metode pengembangan diri a. Berupaya meneladani perbuatan-perbuatan terpuji dari pribadi-pribadi yang di kagumi b. Membiasakan

konsisten

untuk

melakukan

kebiasaan-kebiasaan

terpuji

dan

menghilangkan sifat-sifat tercela yang ada pada diri


c. Berusaha meningkatkan potensi-potensi baik yang ada pada diri untuk menjadi pribadi

yang lebih baik.


3) Metode kesufian a. Membiasakan bersifat zuhud b. Melakukan riyaadhah / mendekatkan diri pada tuhan c. Meningkatkan kualitas ibadah

BAB III KESIMPULAN

Untuk meningkatkan kualitas Akhlak pada diri kita sepatutnya kita terlebih dahulu mengetahui betapa pentingnya akhlak itu, bahkan pada hari kiamat nantipun akhlak menjadi salah satu point penting yang harus dipertanggungjawabkan, dan metode yang dapat kita lakukan meliputi hal-hal sebagai berikut: a. Komitmen dengan Jalan Hidup Islam b. Loyal kepada Allah, RasulNya, dan Islam c. Kesungguhan dalam Menjalani kehidupan d. Sikap Toleran/Tasamuh dan Memaafkan e. Sikap Moderat terhadap Orang Lain dan Segala Sesuatu Sedangkan menurut Al-Ghazali terdapat tiga metode yaitu:
a. Metode Taat Syariat b. Metode Pengembangan Diri c. Metode Kesufian

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghazali, Imam, Pengembangan Pribadi Pada Akhlak,tt. Masyari , Anwar, Akhlak Al-Quran, Surabaya : PT Bina Ilmu,1990. Sumarni , Titin, Aqidah Akhlak, Pustaka Firdaus Utama : Surakarta, tt.

Anda mungkin juga menyukai