Anda di halaman 1dari 30

BAB II

LANDASAN TEORITIS MEDIS

1.Pengertian
Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan keluhan refluks gastroesofagus klasik berupa rasa panas di dada (heartburn) dan regurgitasi asam lambung kini tidak lagi termasuk dispepsia (Mansjoer A, 2000). Batasan dispepsia terbagi atas dua yaitu: a. Dispepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai penyebabnya b. Dispepsia non organik, atau dispepsia fungsional, atau dispepsia non ulkus (DNU), bila tidak jelas penyebabnya.

2.Etiologi
a. Perubahan pola makan b. Pengaruh obat-obatan yang dimakan secara berlebihan dan dalam waktu yang lama c. Alkohol dan nikotin rokok d. Stres e. Tumor atau kanker saluran pencernaan

3.Patofisiologi
Pola makan yg tidak teratur,obat2an,zat2 seperti nikotin dan alkohol,kondisi kejiwaan stress.

Pemasukan makanan berkurang

Lambung kosong

Erosi pada lambung

Peningkatan produkis HCL

Mual dan Muntah

Nyeri

Cemas

Kurang nafsu makan

Gangguan pola aktifitas

Intake tidak adekuat baik makanan maupun cairan

4. Manifestasi Klinik
a. nyeri perut (abdominal discomfort) b. Rasa perih di ulu hati c. Mual, kadang-kadang sampai muntah d. Nafsu makan berkurang e. Rasa lekas kenyang f. Perut kembung g. Rasa panas di dada dan perut h. Regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba)

5.Pencegahan
Pola makan yang normal dan teratur, pilih makanan yang seimbang dengan kebutuhan dan jadwal makan yang teratur, sebaiknya tidak mengkomsumsi makanan yang berkadar asam tinggi, cabai, alkohol, dan pantang rokok, bila harus makan obat karena sesuatu penyakit, misalnya sakit kepala, gunakan obat secara wajar dan tidak mengganggu fungsi lambung.

6.Pemeriksaan Penunjang
Berbagai macam penyakit dapat menimbulkan keluhan yg sama,seperti halnya pada sindrom dispepsia,oleh karena itudispepsia hanya merupakan kumpulan gejala dan penyakit di saluran pencernaan,maka untuk memastikan penyakit di perlakukan: a.Laboratorium Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan lebih bnyak di tekankan untuk menyingkirkan penyebab organik lainnya seperti:Pankreatitis kronik,diabetes melitus,dll.Pada dispepsia fungsional biasanya hasil laboratorium dalam batas normal. b.Radiologis Pemeriksaan ini banyak menunjang diagnosis suatu penyakit di saluran makanan.Setidak-tidaknya perlu dilakukan pemeriksaan radiologis terhadap saluran makan bagian atas,dan sebaiknya menggunakan kontras ganda.

c.Endoskopi Sesuai dengan defenisi bahwa pada dispepsia fungsional,gambaran endoskopinya normal atau tidak sangat spesifik. d.USG(Ultrasonografi) Merupakan diagnostik yg tidak invansif,akhir-akhir ini makin banyak dimanfaatkan untuk membantu menentukan diagnostik dari suatu penyakit,apalagi alat ini tidak menimbulkan efek samping,dapat digunakan setipa saat dan pada kondisi klien yg berat pun dapat dimanfaatkan. e.Waktu pengosongan Lambung dapat dilakukan dengan seintigafi atau dengan Pellet Radioopak.Pada dispepsia fungsional terdapat pengosongan lambung pada 30-40% kasus

7. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan non farmakologis 1) Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung 2) Menghindari faktor resiko seperti alkohol, makanan yang peda, obat-obatan yang berlebihan, nikotin rokok, dan stres 3) Atur pola makan b. Penatalaksanaan farmakologis yaitu: Sampai saat ini belum ada regimen pengobatan yang memuaskan terutama dalam mengantisipasi kekambuhan. Hal ini dapat dimengerti karena pross patofisiologinya pun masih belum jelas. Dilaporkan bahwa sampai 70 % kasus DF reponsif terhadap placebo. Obat-obatan yang diberikan meliputi antacid (menetralkan asam lambung) golongan antikolinergik (menghambat pengeluaran asam lambung) dan prokinetik (mencegah terjadinya muntah).

BAB III

LANDASAN TEORITIS KEPERAWATAN

I. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses dimana kegiatan yang dilakukan yaitu : Mengumpulkan data, mengelompokkan data dan menganalisa data. Data fokus yang berhubungan dengan dispepsia meliputi adanya nyeri perut, rasa pedih di ulu hati, mual kadang-kadang muntah, nafsu makan berkurang, rasa lekas kenyang, perut kembung, rasa panas di dada dan perut, regurgitasi (keluar cairan dari lambung secar tiba-tiba). (Mansjoer A, 2000,). Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis (sindrom) yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit diperut bagian atas yang dapat pula disertai dengan keluhan lain, perasaan panas di dada daerah jantung (heartburn), regurgitasi, kembung, perut terasa penuh, cepat kenyang, sendawa, anoreksia, mual, muntah, dan beberapa keluhan lainnya (Warpadji Sarwono, et all, 1996)

II.Diagnosa Keperawatan
Menurut Inayah (2004) bahwa diagnosa keperawatan yang lazim timbul pada klien dengan dispepsia: a. Nyeri epigastrium b/d iritasi pada mukosa lambung. b. Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d rasa tidak enak setelah makan, anoreksia. c. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d adanya mual, muntah d. Kecemasan b/d perubahan status kesehatannya

III.Intervensi dan Rasional keperawatan


Rencana keperawatan adalah tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menngulangi masalah keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan: a.Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung. Tujuan : Terjadinya penurunan atau hilangnya rasa nyeri, dengan kriteria klien melaporkan terjadinya penurunan atau hilangnya ras nyeri

INTERVENSI RASIONAL 1. Kaji tingkat nyeri, beratnya (skala 1. Berguna dalam pengawasan 0 10) kefektifan obat, kemajuan penyembuhan 2. Berikan istirahat dengan posisi semifowler 2. Dengan posisi semi-fowler dapat menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi telentang 3. dapat menghilangkan nyeri akut/hebat dan menurunkan aktivitas peristaltik 4. mencegah terjadinya perih pada ulu hati/epigastrium 5. sebagai indikator untuk melanjutkan intervensi berikutnya 6. Mengurangi rasa nyeri atau dapat terkontrol 7. Menghilangkan rasa nyeri dan mempermudah kerjasama dengan intervensi terapi lain

3. Anjurkan klien untuk menghindari makanan yang dapat meningkatkan kerja asam lambung 4. Anjurkan klien untuk tetap mengatur waktu makannya 5. Observasi TTV tiap 24 jam

6. Diskusikan dan ajarkan teknik relaksasi 7. Kolaborasi dengan pemberian obat analgesik

b.Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasa tidak enak setelah makan, anoreksia. Tujuan : Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai rentang yang diharapkan individu, dengan kriteria menyatakan pemahaman kebutuhan nutrisi.

INTERVENSI 1. Pantau dan dokumentasikan dan haluaran tiap jam secara adekuat

RASIONAL 1. Untuk mengidentifikasi indikasi/perkembangan dari hasil yang diharapkan 2. Membantu menentukan keseimbangan cairan yang tepat 3. meminimalkan anoreksia, dan mengurangi iritasi gaster 4. Berguna dalam mendefinisikan derajat masalah dan intervensi yang tepat Berguna dalam pengawasan kefektifan obat, kemajuan penyembuhan

2. Timbang BB klien

3. Berikan makanan sedikit tapi sering 4. Catat status nutrisi paasien: turgor kulit, timbang berat badan, integritas mukosa mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat mual/rnuntah atau diare. 5. Kaji pola diet klien yang disukai/tidak disukai.

5. Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik, meningkatkan intake diet klien. 6. Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan 7. Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah untuk meningkatkan intake nutrisi.

6. Monitor intake dan output secara periodik. 7. Catat adanya anoreksia, mual, muntah, dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. Awasi frekuensi, volume, konsistensi Buang Air Besar (BAB).

c. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya mual, muntah Tujuan : Menyatakan pemahaman faktor penyebab dan prilaku yang perlu untuk memperbaiki defisit cairan, dengan kriteria mempertahankan/menunjukkan perubaan keseimbangan cairan, dibuktikan stabil, membran mukosa lembab, turgor kulit baik.

INTERVENSI 1. Awasi tekanan darah dan nadi, pengisian kapiler, status membran mukosa, turgor kulit 2. Awasi jumlah dan tipe masukan cairan, ukur haluaran urine dengan akurat

RASIONAL 1. Indikator keadekuatan volume sirkulasi perifer dan hidrasi seluler 2. Klien tidak mengkomsumsi cairan sama sekali mengakibatkan dehidrasi atau mengganti cairan untuk masukan kalori yang berdampak pada keseimbangan elektrolit 3. Membantu klien menerima perasaan bahwa akibat muntah dan atau penggunaan laksatif/diuretik mencegah kehilangan cairan lanjut 4. Melibatkan klien dalam rencana untuk memperbaiki keseimbangan untuk berhasil

3. Diskusikan strategi untuk menghentikan muntah dan penggunaan laksatif/diuretik

4. Identifikasi rencana untuk meningkatkan/mempertahankan keseimbangan cairan optimal misalnya : jadwal masukan cairan 5. Berikan/awasi hiperalimentasi IV

5. Tindakan daruat untuk memperbaiki ketidak seimbangan cairan elektroli

d. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatannya Tujuan : Mendemonstrasikan koping yang positif dan mengungkapkan penurunan kecemasan, dengan kriteria menyatakan pemahaman tentang penyakitnya.

INTERVENSI 1. Kaji tingkat kecemasan

RASIONAL 1. Mengetahui sejauh mana tingkat kecemasan yang dirasakan oleh klien sehingga memudahkan dlam tindakan selanjutnya 2. Klien merasa ada yang memperhatikan sehingga klien merasa aman dalam segala hal tundakan yang diberikan 3. Klien memahami dan mengerti tentang prosedur sehingga mau bekejasama dalam perawatannya. 4. Bahwa segala tindakan yang diberikan untuk proses penyembuhan penyakitnya, masih ada yang berkuasa menyembuhkannya yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

2. Berikan dorongan dan berikan waktu untuk mengungkapkan pikiran dan dengarkan semua keluhannya 3. Jelaskan semua prosedur dan pengobatan

4. Berikan dorongan spiritual

IV.Evaluasi
Tahap evaluasi dalam proses keperawatan mencakup pencapaian terhadap tujuan apakah masalah teratasi atau tidak, dan apabila tidak berhasil perlu dikaji, direncanakan dan dilaksanakan dalam jangka waktu panjang dan pendek tergantung respon dalam keefektifan intervensi

BAB IV

TINJAUAN KASUS A. Pengkajian


I.Biodata Nama Tempat / tgl. Lahir Jenis kelamin Alamat Status perkawinan Agama Suku Pendidikan Pekerjaan Tanggal masuk RS : Tn.R : Pematang Siantar,22-10-1973 : Laki-laki : Jln.Lobak no.4 : Kawin : Kristen : Batak : SMP : Petani : 28 11 - 2009

1. Keluarga Dekat yang bisa dihubungi Nama Umur Pekerjaan Alamat Hub. Keluarga : Jumiadi : 28 Tahun : Wiraswasta : Jln.Lobak No.4 : Anak

II.Status Kesehatan Saat Ini 1. Keluhan Utama : Klien mengatakan rasa tidak enak/nyeri pada daerah perut,skala nyeri:6(Skala 0-10). 2. Faktor pencetus : Klien mengatakan stres dan pola makan yang tidak teratur.

10

3. Lama Keluhan : Sudah 1 bulan 4. Timbulnya keluha:Bertahap 5. Faktor yg dilakukan untuk mengatasi keluhan:Berobat kedokter dan minum obat. 6. Diagnosa medik : Dispepsia

III.Riwayat Kesehatan Yang Lalu 1. Riwayat penyakit yang pernah dialami klien : Tidak ada 2. Riwayat pengobatan : tidak ada 3. Riwayat Operasi : tidak ada 4. Riwayat Hospitalisasi : Tidak pernah 5. Riwayat Kecelakaan :Tidak pernah kecelakaan 6. Riwayat Alergi : Tidak ada

7. Riwayat Imunisasi : Tidak pernah

IV.Pola pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari (ADL) 1. Di Rumah a. Pola Nutrisi TB : 165 cm
x

- BB : 63 Kg

Frekwensi makanan : 3 /hari Jenis makanan : M III (Nasi+ikan+sayur)

Makanan pantangan : tidak ada Nafsu makan : Selera

b. Pola Eliminasi 1. BAB Frekwensi Karakteristik : 2 x/hari : lunak

Riwayat pencahar : tidak pernah : 4 5 x/hari

2. BAK Frekwensi

11

Karakteristik

: kuning jernih

c. Pola Tidur dan Istirahat 1. Waktu tidur 2. Lama tidur : malam : 7 8 jam

3. Kebiasaan pengantar tidur : tidak ada 4. Kebiasaan selama tidur d. Pola Aktivitas 1. Jenis pekerjaan 2. Lama jam kerja 3. Pola kegiatan di waktu luang 4. Pola olahraga 5. Keluhan dalam pemenuhan aktivitas : Nyeri pada derah perut : Bertani : + 12 jam :menonton TV : Tidak ada : tidak ada

2. Di Rumah Sakit a. Pola nutrisi 1. TB : 165 cm 2. Frek. Makanan 3. Jenis makanan 4. Makanan pantangan 5. Nafsu makan 6. Perubahan BB selama di RS 7. Jenis intake cairan BB : 58 kg : 3 x/ hari : M II : tidak ada : menurun : + 5 kg : Infus RL + Air minium + Air dalam makanan 8. Bahan cairan intake : Infus RL : 500 cc,air minum : 800 cc, air dalam makanan : 200 cc 9. Cairan aut put : Air dalam feses : 500 cc, urine : 1000 cc, keringat : ada

12

b. Pola Eliminasi 1. BAB 2.BAK - Frekwensi - Karakteristik :5-6 x/hari :Kuning jernih Frekwensi Karakteristik : + 3 x/hari : encer bau dan kuning

c. Pola Tidur dan Istirahat 1. Waktu tidur 2. Lama tidur : siang - malam : siang => 2 3 jam, malam => 5 6 jam

3. Kebiasaan pengantar tidur : tidak ada 4. Kebiasaan selama tidur d. Pola Aktivitas 1. Pola kegiatan di waktu luang : berbincang dengan teman & keluarga 2. Keluhan dalam pemenuhan aktivitas : Nyeri pada daerah perut : tidak ada

V.Riwayat Keluarga

Ket :
= laki-laki meninggal yang sudah

= perempuan yang sudah Meninggal = laki-laki = perempuan = klien (sipenderita)

13

VI.Riwayat Lingkungan 1. Kebersihan : 2. Polusi 3. Bahaya : : bersih Tidak ada polusi udara tidak ada

VII.Status Psikologi Klien 1.Hal yg dipikirkan saat ini : Keluarga dan pekerjaan 2.Harapan klien selama perawatan : Mendapatkan perawatan yg baik 3.Harapan setelah menjalani perawatan : Sembuh dari penyakitnya 4.Suasana hati : 5.Pola komunikasi a. Bicara : dapat dimengerti/ bagus Sedih dan gelisah

b. Interaksi dalam keluarga : baik c. Interaksi sosial : baik

d. Kesulitan dalam keluarga : status ekonomi 6.Mekanisme koping e. Pola pengambilan keputusan : keluarga dan diri sendiri/ musyawarah f. Yang dilakukan jika stress g. Yang ingin dirubah dari kehidupan : ingin berbuat lebih baik : menonton, baca koran

7.Sistem nilai dan kepercayaan h. Siapa dan apa yang menjadi sumber kekuatan Tuhan dan keluarga i. Kegiatan keagamaan yang dilakukan sebelum sakit Kurang aktif berdoa dan ke gereja j. Kegiatan keagamaan yang dilakukan setelah sakit Ingin berubah jadi lebih baik

14

VIII.Pengkajian Fisik 1. Kepala a. Bentuk b. Keluhan yang berhubungan dengan kepala c. Kulit kepala d. Karakteristik rambut : : : : Oval Sakit kepala(akibat stres) Bersih Rambut Terdistribusi, warna hitam

2. Mata Ukuran pupil Reflek cahaya/pupil Bentuk Konjungtiva Sklera Palpera Tanda padang Visus Penggunaan lensa 3. Hidung Bentuk Septum nasi Polip Fungsi penciuman Reaksi alergi Tanda perdarahan Sinus 4. Mulut + dada Gigi dan geligi tanggal) Keries dentis / plauge Pola nafas Frekwensi pernapasan Vokal premitus Perkusi lapangan paru Suara abnormal paru Nyeri dada Batuk

:Isokor Kiri kanan :Positif kiri kanan :Simetris :Tidak enemis :Tidak ikterik :Tidak bengkak :Tidak ada :normal :Tidak ada

:Simetris :Medial line :Tidak ada :Baik dapat membedakan bau :Tidak ada :Tidak ada :-

:Lengkap

(tidak

ada

yang

:Tidak ada :Iregular :20 x/i :Normal (getarannya sama) :Normal resonan :Normal :Tidak Ada :Tiadak Ada

15

5. Sirkulasi Capillary refilling time (CRT) Distensi vena jugularis Suara jantung (BJ) Chest pain Palpitasi Edema Clubbing finger Sianosis 6. Integumen Warna kulit Hematom Integritas 7. Abdomen Bentuk abdomen Keluhan nyeri tekan Peristaltik usus Hepar Limfa Masa tumor Asites Kandung kemih Perkusi abdomen Spider neevi 8. Anogenital Gangguan fungsi reproduksi Libido Karakteristik mamae Keputihan Pembesaran prostat Secret pada Mue Verikokel Hidrokel Wasir

:5 detik :Tidak Ada :Gallop :tidak ada pembengkakan :Tidak Ada :Tidak ada :Tiadak Ada :tidak ada

: Sawo matang : Tidak ada : ada abrasi

: : : : : : : : : :

Simetris Ada 19x/i Tidak terjadi pembengkakan Tidak Teraba Tidak ada Tidak ada Tidak fullblass Timpani Tidak ada

: : : : : : : : :

Tidak ada Normal Normal Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

16

B.ANALISA DATA

Problem 1.Nyeri

Etiologi Peningkatan produksi HCL

Symptom DS :Klien mengatakan nyeri pada daerah perut,sakla nyeri 6 (skala 0-6) DO : - klien tampak meringis - klien tampak pucat - klien memegang daerah perut

2.Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi

Mual dan muntah

DS : Klien mengatakan kurang nafsu makan dan rasa tidak enak setalah makan. DO : - berat badan klien menurun - porsi makan habis porsi dari 1 porsi yg disajikan - Penurunan turgor kulit

DS : Klien mengatakan cemas terhadap penyakitny 3.Kurangnya pegetahuan tentang penyakitnya Cemas DO :-klien tampak tidaknyamanan. -klien bertanya-tanya tentang penyakitnya. -Spasme otot. -Kemerahan, bengkak, panas. -Perubahan warna pada area yang terganggu. -Abnormalitas refleks

17

C.MASALAH KEPERAWATAN -Nyeri -Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi -kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.

D.DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.Nyeri epigastrium b/d peningkatan produksi HCL d/d wajah tampak meringis,skala nyeri 6 (skala 0-10).

2.Gangguan pemenuhan nutrisi b/d mual dan muntah dan rasa tidak enak setelah makan d/d berat badan menurun,porsi makan habis porsi dari 1 porsi yg disajikan.

3.Ansietas b/d kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya d/d klien bertanya-tanya tentang penyakitnya,klien tampak tidak nyaman.

E.PRIORITAS KEPERAWATAN

1.Gangguan pemenuhan nutrisi b/d mual dan muntah dan rasa tidak enak setelah makan d/d berat badan menurun,porsi makan habis porsi dari 1 porsi yg disajikan.

2.Nyeri epigastrium b/d peningkatan produksi HCL d/d wajah tampak meringis,skala nyeri 6 (skala 0-10).

3.Ansietas b/d kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya d/d klien bertanya-tanya tentang penyakitnya,klien tampak tidak nyaman.

18

RENCANA KEPERAWATAN

DIAGNOSA KEPERAWAT o AN N O 1.
1.Nyeri epigastrium peningkatan produksiHCL d/d wajahtampak meringis,skala nyeri 6 (skala 010). b/d

TUJUAN

INTERVENSI

RASIONAL

IMPLEMENTASI

EVALUASI

Tujuan : Terjadinya penurunan atau hilangnya rasa nyeri, dengan kriteria klien melaporkan terjadinya penurunan atau hilangnya ras nyeri

Mandiri: 1. Kaji tingkat nyeri, beratnya (skala 0 10) 2. Berikan istirahat dengan posisi semifowler

3. Anjurkan klien untuk menghindari makanan yang dapat meningkatkan kerja asam lambung 4. Anjurkan klien untuk tetap mengatur waktu makannya 5. Observasi TTV tiap 24 jam 6. Diskusikan dan ajarkan teknik relaksasi

1. Berguna dalam pengawasan kefektifan obat, kemajuan penyembuhan 2. Dengan posisi semifowler dapat menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi telentang 3. dapat menghilangkan nyeri akut/hebat dan menurunkan aktivitas peristaltik 4. mencegah terjadinya perih pada ulu hati/epigastrium 5. sebagai indikator untuk melanjutkan intervensi berikutnya 6. Mengurangi rasa nyeri atau dapat terkontrol

-Mengkaji tingkat nyeri,beratnya (skala 010) -memberikan istirahat dengan posisi semi fowler -Menganjurkan klien untuk menghindari makanan yg dapat meningkatkan kerja asam lambung. -Mengobservasi TTV tiap 24 jam -Mendiskusikan dan mengajarkan tehnik relaksasi

S= Klein mengatakan bahwa nyeri sudah berkurang.skala nyeri 5 O=-klien masih meringis -klien memegang daerah perut A= Nyeri sudah berkurang.Masalah teratasi sebagian. P= Intervensi dilanjutkan.: -Kaji tingkat nyeri -Kolaborasi dengan pemberian analgesik -anjurkan klien untuk menghindari makanan yg dapat meningkatkan kerja asam lambung

Kolaborasi: 7.Pemberian obat analgesik

Kolaborasi: 7. Menghilangkan rasa nyeri dan mempermudah kerjasama dengan intervensi terapi lain

- Memberikan analgesik

Obat

19

20

2.

Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual dan muntah dan rasa tidak enak setelah makan d/d klien mengatakan mual,berat badan menurun,diet dihabiskan porsi.dari 1 porsi yang disajikan

Tujuan : Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai rentang yang diharapkan individu, dengan kriteria menyatakan pemahaman kebutuhan nutrisi.

MANDIRI: 1. Pantau dan dokumentasikan dan haluaran tiap jam secara adekuat 2. Timbang BB klien

1. Untuk mengidentifikasi indikasi/perkembangan dari hasil yang diharapkan 2. Membantu menentukan keseimbangan cairan yang tepat 3. meminimalkan anoreksia, dan mengurangi iritasi gaster 4. Berguna dalam mendefinisikan derajat masalah dan intervensi yang tepat Berguna dalam pengawasan kefektifan obat, kemajuan penyembuhan

- Memantau dan mendokumentasikan haluaran tiap 1 jam secara adekuat -Menimbang BB klien -Memberikan makanan sedikit tapi sering -Meencatat status nutrisi klien :turgor kulit,integritas mukosa mulut,kemampuan menelan adanya bising usus,riwayat mual/muntah dan diare. -Mengkaji pola diet klien yg disukai dan yg tidak disukai -Memonitor intake dan out put. -Mencatat adanya anoreksia dan,mual/muntah dan menetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi.

S= klien mengatakan Masih muntah dan selera makan masih berkurang. O:=-Wajah tampak lemas klien tampak segar -diet dihabiskan 1/2 porsi dari 1 porsi yg disajikan. A:=Gangguan pemenuhan nutrisi masih kurang ..Masalah teratasi P=Intervensi dilanjutkan: - Timbang BB klien -Berikan makanan sedikit tapi sering - Catat status nutrisi paasien: turgor kulit, timbang berat badan, integritas mukosa mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat mual/rnuntah atau diare.

3. Berikan makanan sedikit tapi sering

4. Catat status nutrisi paasien: turgor kulit, timbang berat badan, integritas mukosa mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat mual/rnuntah atau diare.

5. Kaji pola diet klien yang disukai/tidak disukai.

5. Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik, meningkatkan intake diet klien. 6. Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan 7. Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah untuk meningkatkan intake nutrisi.

6. Monitor intake dan output secara periodik.

7. Catat adanya anoreksia, mual, muntah, dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. Awasi frekuensi, volume, konsistensi Buang Air Besar (BAB).

21

3.Ansietas kurangnya pengetahuan tentang

b/d

penyakitnya d/d klien tanya bertanyatentang

. Tujuan : Mendemonstrasikan koping yang positif dan mengungkapkan penurunan kecemasan, dengan kriteria menyatakan pemahaman tentang penyakitnya.

1. Kaji tingkat kecemasan

2. Berikan dorongan dan berikan waktu untuk mengungkapkan pikiran dan dengarkan semua keluhannya 3. Jelaskan semua prosedur dan pengobatan

1. Mengetahui sejauh mana tingkat kecemasan yang dirasakan oleh klien sehingga memudahkan dlam tindakan selanjutnya 2. Klien merasa ada yang memperhatikan sehingga klien merasa aman dalam segala hal tundakan yang diberikan 3. Klien memahami dan mengerti tentang prosedur sehingga mau bekejasama dalam perawatannya. 4. Bahwa segala tindakan yang diberikan untuk proses penyembuhan penyakitnya, masih ada yang berkuasa menyembuhkannya yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

-Mendorong klien untuk melaporkan nyeri. -Mencatat petunjuk nonverbal mis:gelisah,menolak untuk bergerak. -Mengkaji ulang faktor yg meningkatakan /menghilangkan nyeri. -Mengijinkan pasien untuk memulai posisi yg nyaman.

S: klien mengatakan tidak cemas lagi O : -klien tampak tenang -klien tidak bertanya-tanya lagi tentang penyakitnya. A:Ansietas sudah tidak lagi.Tujuan tercapai P: intervensi tidak dilanjutkan.

penyakitnya,klien tampak nyaman. tidak

4. Berikan dorongan spiritual

22

CATATAN PERKEMBANGAN

DIAGNOSA 1. DX 1

IMPLEMENTASI Jam 09.00 wib : Memberikan cairan parental sesuai indikasi Hasil : Keturunan cairan pasien telah diberikan Respon : Tidak ada respon yang membahayakan. Jam 10.00 wib : Memberikan cairan oral 3-4 liter/hari. Hasil : Klien mengkonsumsi 3 liter Respon : Klien mengatakan tidak sanggup minum air 3-4 liter. Jam 11.30 wib : Mengobservasi cairan tetesan NFD RL (Ringer Laktat) dengan kec: 30 gtt/i. Hasil : Cairan inf masuk dengan baik dengan kec: 30 gtt/i. Respon : Pasien mengatakan cairan NFD yang diberikan bermanfaat baginya. Jam 18.30 wib : Menimbang berat badan Hasil : BB mulai bertambah 54 kg. Respon : Tidak ada respon yang membahayakan. Jam 12.00 wib : Mengajari batas makanan yang dapat menyebabkan mencret. Hasil : Makanan yang menyebabkan kram abdomen tidak dikonsumsi oleh pasien lagi. Respon : Tidak ada respon yang membahayakan. Jam 13.00 wib : Memberikan tab vitamin becombion 3xsehari. Hasil : Tab vit bicombion diminum pasien sesuai 23

EVALUASI S : Klien mengatakan mengalami mencret O : 6 x sehari, berlendir, berdarah A : Masalah teratasi sebagian P : Rencana dilanjutkan dengan memberi cairan NFD RL (Ringer Laktat) dengan kec : 30 gtt/I dan minum 3-4 liter/hari.

2. DX 2

S : Klien mengatakan nafsu makan berkurang O : Berat badan menurun 53kg A : Masalah klien belum teratasi P : Rencana dilanjutkan dengan menganjurkan makan sedikit. Jika mual dilanjutkan minum air putih.

anjuran. Respon : Klien mau melaksanakan instruksi tersebut.

3. DX 3

Jam 09.00 wib : Mendorong pasien untuk melaporkan nyeri. Hasil : Pasien melaporkan nyeri pada perut sebelah kanan. Respon : Pasien merintih kesakitan. Jam 11.00 wib : Mencatat petunjuk non verbal mis : Gelisah menolak untuk bergerak. Hasil : Pasien tampak gelisah. Respon : Pasien tidak menunjukkan respon yang membahayakan. Jam 15.00 wib : Memberikan posisi yang nyaman. Hasil : Pasien merasa nyaman dengan berbaring. Respon : Pasien melakukan istirahat dengan berbaring.

S : Klien mengatakan nyeri pada bagian perut sebelah kanan seperti ditusuk-tusuk. O : Kening mengerut, klien tampak kesakitan. A : Masalah klien belum teratasi P : Rencana dilanjutkan dengan memberikan bulibuli panas di bagian perut sebelah kanan yang mengalami nyeri.

DATAR PUSTAKA Brunner & Suddart, 2002, Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 Vol. 2 Jakarta, EGC Inayah Iin, 2004, Asuhan Keperawatan pada klien dengan gangguan sistem pencernaan, edisi pertama, Jakarta, Salemba Medika. Manjoer, A, et al, 2000, Kapita selekta kedokteran, edisi 3, Jakarta, Medika aeusculapeus

24

Suryono Slamet, et al, 2001, buku ajar ilmu penyakit dalam, jilid 2, edisi , Jakarta, FKUI Doengoes. E. M, et al, 2000, Rencana asuhan keperawatan, edisi 3 Jakarta, EGC Price & Wilson, 1994, Patofisiologi, edisi 4, Jakarta, EGC Warpadji Sarwono, et al, 1996, Ilmu penyakit dalam, Jakarta, FKUI Menurut Inayah (2004) bahwa diagnosa keperawatan yang lazim timbul pada klien dengan dispepsia. a. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung. b. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasa tidak enak setelah makan, anoreksia. c. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya mual, muntah d. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatannya 4. Rencana Keperawatan Rencana keperawatan adalah tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menngulangi masalah keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan. a. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung. Tujuan : Terjadinya penurunan atau hilangnya rasa nyeri, dengan kriteria klien melaporkan terjadinya penurunan atau hilangnya ras nyeri INTERVENSI RASIONAL 1. Kaji tingkat nyeri, beratnya (skala 1. Berguna dalam pengawasan 0 10) kefektifan obat, kemajuan 2. Berikan istirahat dengan posisi penyembuhan semifowler 2. Dengan posisi semi-fowler 3. Anjurkan klien untuk dapat menghilangkan tegangan menghindari makanan yang dapat abdomen yang bertambah dengan meningkatkan kerja asam lambung posisi telentang 4. Anjurkan klien untuk tetap 3. dapat menghilangkan nyeri mengatur waktu makannya akut/hebat dan menurunkan 5. Observasi TTV tiap 24 jam aktivitas peristaltik 6. Diskusikan dan ajarkan teknik 4. mencegah terjadinya perih pada relaksasi ulu hati/epigastrium 7. Kolaborasi dengan pemberian 5. sebagai indikator untuk obat analgesik melanjutkan intervensi berikutnya 6. Mengurangi rasa nyeri atau dapat terkontrol 7. Menghilangkan rasa nyeri dan mempermudah kerjasama dengan intervensi terapi lain b. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasa tidak enak setelah makan, anoreksia. Tujuan : Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai rentang yang diharapkan individu, dengan kriteria menyatakan pemahaman kebutuhan nutrisi INTERVENSI RASIONAL 1. Pantau dan dokumentasikan dan 1. Untuk mengidentifikasi haluaran tiap jam secara adekuat indikasi/perkembangan dari hasil

25

yang diharapkan 2. Membantu menentukan keseimbangan cairan yang tepat 3. meminimalkan anoreksia, dan mengurangi iritasi gaster 4. Berguna dalam mendefinisikan derajat masalah dan intervensi yang tepat Berguna dalam pengawasan kefektifan obat, kemajuan penyembuhan 5. Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik, meningkatkan intake diet klien. 6. Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan 7. Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah untuk meningkatkan intake nutrisi. c. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya mual, muntah Tujuan : Menyatakan pemahaman faktor penyebab dan prilaku yang perlu untuk memperbaiki defisit cairan, dengan kriteria mempertahankan/menunjukkan perubaan keseimbangan cairan, dibuktikan stabil, membran mukosa lembab, turgor kulit baik. INTERVENSI RASIONAL 1. Awasi tekanan darah dan nadi, 1. Indikator keadekuatan volume pengisian kapiler, status membran sirkulasi perifer dan hidrasi mukosa, turgor kulit seluler 2. Awasi jumlah dan tipe masukan 2. Klien tidak mengkomsumsi cairan, ukur haluaran urine dengan cairan sama sekali mengakibatkan akurat dehidrasi atau mengganti cairan 3. Diskusikan strategi untuk untuk masukan kalori yang menghentikan muntah dan berdampak pada keseimbangan penggunaan laksatif/diuretik elektrolit 4. Identifikasi rencana untuk 3. Membantu klien menerima meningkatkan/mempertahankan perasaan bahwa akibat muntah keseimbangan cairan optimal dan atau penggunaan misalnya : jadwal masukan cairan laksatif/diuretik mencegah 5. Berikan/awasi hiperalimentasi IV kehilangan cairan lanjut 4. Melibatkan klien dalam rencana untuk memperbaiki keseimbangan untuk berhasil 5. Tindakan daruat untuk memperbaiki ketidak seimbangan cairan elektroli d. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatannya

2. Timbang BB klien 3. Berikan makanan sedikit tapi sering 4. Catat status nutrisi paasien: turgor kulit, timbang berat badan, integritas mukosa mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat mual/rnuntah atau diare. 5. Kaji pola diet klien yang disukai/tidak disukai. 6. Monitor intake dan output secara periodik. 7. Catat adanya anoreksia, mual, muntah, dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. Awasi frekuensi, volume, konsistensi Buang Air Besar (BAB).

26

Tujuan : Mendemonstrasikan koping yang positif dan mengungkapkan penurunan kecemasan, dengan kriteria menyatakan pemahaman tentang penyakitnya. INTERVENSI RASIONAL 1. Kaji tingkat kecemasan 1. Mengetahui sejauh mana 2. Berikan dorongan dan berikan tingkat kecemasan yang dirasakan waktu untuk mengungkapkan oleh klien sehingga memudahkan pikiran dan dengarkan semua dlam tindakan selanjutnya keluhannya 2. Klien merasa ada yang 3. Jelaskan semua prosedur dan memperhatikan sehingga klien pengobatan merasa aman dalam segala hal 4. Berikan dorongan spiritual tundakan yang diberikan 3. Klien memahami dan mengerti tentang prosedur sehingga mau bekejasama dalam perawatannya. 4. Bahwa segala tindakan yang diberikan untuk proses penyembuhan penyakitnya, masih ada yang berkuasa menyembuhkannya yaitu Tuhan Yang Maha Esa. 5. Evaluasi Tahap evaluasi dalam proses keperawatan mencakup pencapaian terhadap tujuan apakah masalah teratasi atau tidak, dan apabila tidak berhasil perlu dikaji, direncanakan dan dilaksanakan dalam jangka waktu panjang dan pendek tergantung respon dalam keefektifan intervensi DATAR PUSTAKA Brunner & Suddart, 2002, Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 Vol. 2 Jakarta, EGC Inayah Iin, 2004, Asuhan Keperawatan pada klien dengan gangguan sistem pencernaan, edisi pertama, Jakarta, Salemba Medika. Manjoer, A, et al, 2000, Kapita selekta kedokteran, edisi 3, Jakarta, Medika aeusculapeus Suryono Slamet, et al, 2001, buku ajar ilmu penyakit dalam, jilid 2, edisi , Jakarta, FKUI Doengoes. E. M, et al, 2000, Rencana asuhan keperawatan, edisi 3 Jakarta, EGC Price & Wilson, 1994, Patofisiologi, edisi 4, Jakarta, EGC Warpadji Sarwono, et al, 1996, Ilmu penyakit dalam, Jakarta, FKUI 1.1 Latar Belakang Masalah kesehatan yang sering dijumpai di Rumah Sakit maupun di masyarakat terutama pada penyakit sistem pencernaan diantaranya DISPERSIA Berdasarkan penelitian pada populasi umum didapatkan bahwa 515.30% yang mencari pertolongan medis. Insiden dispepsia. Di Inggris dan Skandivia dilaporkan angka prevalensinya berkisar 7-4%. Tetapi hanya 10-20% yang mencari pertolongan medis. Insiden dispepsia pertahun diperkirakan antara 1-8% (Suryono S. et all. 2001 hal 15A) Di Negara barat prevalensi yang dilaporkan antara 23 dan 41 %, sekitar 4 % penderitaan berkunjung ke dokter umumnya mempunyai keluhan dispepsia. Didaerah Asia Pasifik dispepsia juga merupakan keluhan yang banyak dijumpai (Kusmobroto H 2003)

27

Berdasarkan penyakit tersebut maka penulis tertarik untuk mengangkat kasus dispepsia sebagai sebuah laporan dengan judul ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. W DENGA DIAGNOSA MEDIS DISPEPSIA DIRUANG YUDHA RST TINGKAT III CIREMAI CIREBON. 1.2 Tujuan a Tujuan umum Mampu menerapkan Asuhan Keperawatan pada pasien Ny. W dengan Diagnosa medis Dispepsia melalui pendekatan proses perawatan b Tujuan khusus Adapun penulisan tugas akhir ini adalah sebgai berikut: 1. Mampu melakukan pengkajian pada Ny. W dengan Diagnosa medis Dispepsia diruang yudha 2. Mampu membuat Diagnosa keperawatan menurut prioritas pada pasien 3. Mampu membuat rencana askep pada pasien Ny. W dengan Diagnosa medis Dispepsia di ruang yudha 4. Mampu menerapkan tindakan keperawatan pada pasien Ny. W dengan Diagnosa medis Dispepsia di ruang yudha 5. Mengevaluasi hasil tindakan keperawatan yang telah di laksanakan sesuai dengan tujuan yang telah diterapkan 1.3 Manfaat a. Bagi Penulis 1. Mengetahui labih jauh lagi tentang penyakit Dispepsia 2. Mengetahui askep pada kasus Dispepsia dengan baik dan benar b. Bagi Pendidikan Sebagai koleksi tambahan buku-buku diperpustakaan dan sebagai kerangka acuan dalam pembuatan Asuhan Keperawatan 1.4 Ruang Lingkup Dalam penulisan Tugas akhir ini penulis membatasi masalah Asuhan Keperawatan pada Ny. W dengan diagnosa medis Dispepsia di ruang Yudha RST Tingka III Ciremai Cirebon. 1.5 Metode Penulisan Metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan laporan Tugas Akhir adalah metode Deskrisif dan teknik pengumpulan data sebagai berikut: 1. Wawancara 2. Observasi 3. Studi Dokumentasi 4. Studi Kepustakaan 1.6 Sistematika Penulis Sistematika penulisan laporan tugas akhir ini adalah sebagai berikut: BAB I : Pendahuluan meliputi : Latar Belakang, Tujuan, Manfaat, Ruang Lingkup Metode Penulisan, Sistematika Penulisan

28

BAB II : Tinjauan Teoritis Meliputi : Definisi. Etiologi. Potofisiologi. Anatomi Fisiologi. Penatalaksanaan. Pencegahan BAB III : Pembahasan Aspek meliputi : Pengkajian. Analisa data. Diagnosa Keperawatan. Perencanaan. Catatan Perkembangan BAB IV : Penutup meliputi : Kesimpulan dan Saran omplikasi dan pengobatan Penderita sindroma dispepsia selama bertahun-tahun, dapat memicu adanya komplikasi yang tidak ringan. Salah satunya komplikasi Ulkus Peptikum, yaitu luka di dinding lambung yang dalam atau melebar, tergantung berapa lama lambung terpapar oleh asam lambung. Bila keadaan Ulkus Peptikum ini terus terjadi, luka akan semakin dalam dan dapat menimbulkan komplikasi pendarahan saluran cerna yang ditandai dengan terjadinya muntah darah. Menurut Eliana, muntah darah ini sebenarnya pertanda yang timbul belakangan. Awalnya penderita pasti akan mengalami buang air besar berwarna hitam terlebih dulu. "Itu artinya sudah ada perdarahan awal. Kalau muntah darah itu artinya sudah lebih lanjut lagi," katanya. Tapi komplikasi yang paling dikuatirkan, tukas Eliana, adalah terjadinya kanker lambung yang mengharuskan penderitanya melakukan operasi. "Yang dioperasi bukan hanya daerah yang mengalami kanker, tapi juga jaringan sehat disekitarnya pun harus diambil juga," terangnya. Pengambilan jaringan sehat ini, lanjutnya, dilakukan akibat dokter tidak tahu sudah sampai sejauhmana kanker menyebar ke daerah sekitar. "Jadi komplikasinya memang cukup luas dan cukup berbahaya, jika tidak diperhatikan dengan baik," tegas Eliana.

LATAR BELAKANG Pembangunan kesehatan merupakan bagian dari pembangunan nasional yang sangat memegang peranan penting dalam pembangunan manusia seutuhnya untuk mencapai hal tersebut perawat sebagai salah satu penyelenggara sistem kesehatan diharapkan mampu bertindak secara profesional dalam menjalankan asuhan keperawatan yang komprehensip. Salah satu gangguan kesehatan yang memerlukan pelayanan kesehatan adalah termasuk gangguan sistem pencernaan khususnya dispepsia. Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan, yang disebabkan baik oleh kelainan organik maupun kelainan psikis, stres dan faktor lingkungan serta pola makan yang tidak normal dan teratur (Mansjoer A, 2000 hal: 488)

29

Manifestasi klinik dari dispepsia dapat bervariasi dari keluhan abdomen yang tidak jelas, seperti anoreksia atau mual sampai gejala yang lebih berat seperti nyeri epigastrium, muntah peradangan dan hematemesis. Menurut hasil penelitian yang dikemukakan di Inggris dan Skandinavia bahwa ditemukan prevalensi dispepsia berkisar 7 - 41 % tetapi hanya 10 - 20 % yang mencari pertolongan medis, sedangkan di Asia Pasifik, penyakit ini memiliki prevalensi berkisar antara 10 - 20 % (Kusumohebroto H, 2003) Berdasarkan catatan medical record BLU Dr. wahidin Sudirohusodo bahwa penderita dispepsia yang dirawat di ruang interna pada tahun 2005 berjumlah 576 orang, dimana laki-laki berjumlah 224 orang dan perempuan 352 orang, sedangkan pada tahun 2006 periode Januari sampai dengan Agustus berjumlah 239 orang yang mana penderita lakilaki berjumlah 93 orang dan perempuan 146 orang Melihat prevalensi penyakit yang cukup tinggi, maka hal ini perlu mendapatkan perawatan yang serius, karena penyakit dispepsia dapat menimbulkan masalah keperawatan baik aktual maupun resiko yang berdampak pada penyimpangan kebutuhan dasar manusia (KDM) seperti gangguan rasa nyaman nyeri, nutrisi kurang dari kebutuhan, perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit serta kecemasan. Bila hal ini tidak ditangani akan menibulkan berbagai jenis komplikasi penyakit seperti ulkus peptikum, dispepsia, dan perforasi lambung Berdasarkan data-data diatas, maka penulis tertarik untuk melaksanakan Asuhan keperawatan pada klien Tn S dengan gangguan sistem pencernaan : Dispepsia di ruang perawatan interna lantai II BLU. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar

30