Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Asupan nutrisi dan gizi yang baik akan berpengaruh terhadap tumbuh dan kembangnya anak secara optimal. Anak usia sekolah, 7-15 tahun, membutuhkan zat gizi lengkap agar dapat tumbuh dan berkembang, serta melakukan berbagai aktivitas secara sehat. Sejumlah faktor perlu diperhatikan agar anak tumbuh kembang dengan gizi baik. Seperti pola makan, jenis makanan , jumlah, dan jadwalnya. Lalu kebiasaan menjalani pola hidup bersih dan sehat serta yang juga tak kalah penting adalah fasilitas kebersihan dan kesehatan yang menunjang gizi baik untuk anak. Kebiasaan anak menjaga kebersihan diri dan lingkungan di sekolah, termasuk pilihan jajanan sehatc dan ketersediaan kantin sehat di sekolah juga turut memengaruhi status gizi anak. Akan tetapi, anak-anak saat ini memiliki kebiasaan makan di kantin sekolah atau di sekitar sekolah dan biasanya yang dimakannya adalah makanan cepat saji (fast food). Serta, makanan yang dijual di sekitar sekolah itu belum tentu terjamin kebersihannya seperti : tahu goreng, mie bakso dengan saus, gulali, batagor, mie instan dan sebagainya. Warna dan jenis kemasan jajanan yang biasa dikonsumsi anak usia sekolah kerap memang menarik, tetapi orang kadang tidak tahu seperti apa kandungan gizi jajanan tersebut, bahkan banyak yang sebenarnya berbahaya untuk kesehatan anak. Misalnya, anak menjadi keracunan makanan akibatnya anak mendapatkan penyakit seperti sakit perut, diare, batuk, flu, dan sebagainya. Seperti yang diketahui, anak sekolah sudah mempunyai sifat konsumen aktif, yaitu mereka sudah bisa memilih makanan yang disukainya. Akan tetapi, kebanyakan orang tua jarang memperhatikan apa yang yang dimakan anaknya. Intinya, orang tua hanya memberi uang jajan kepada anaknya dan mengabaikan jenis-jenis makanan yang dimakan anaknya. Apalagi kebanyakan di sekolah-sekolah tidak diarahkan pula
1

oleh gurunya dengan praktik makan makanan yang sehat secara rutin. Hal ini sudah sangat jelas akibat yang akan terjadi kepada gizi anak. Berdasarkan hasil survei Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 2007 terhadap 4.500 sekolah di Indonesia, 45 persen jajanan yang dijual di sekitar sekolah tercemar bahaya pangan mikrobiologis dan kimia. Bahaya utama berasal dari cemaran fisik mikrobiologi dan kimia seperti pewarna tekstil, sedangkan jenis jajanan berbahaya bisa berbentuk makanan utama atau makanan dan minuman ringan. (http//google.co.id) Oleh karena itu penulis ingin mengetahui hubungan kebiasaan jajan anak sekolah terhadap gizi.

B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang belakang di atas maka identifikasi masalahnya yakni : 1. 2. Kebiasaan anak sekolah yang jajan di luar daripada makan di rumah. Kurangnya upaya orang tua dan guru untuk mencegah kebiasaan anaknya yang suka jajan.

C. Pembatasan Masalah Dari masalah yang sudah diidentifikasi di atas, penulis membatasi permasalahan pada poin ke 1 yaitu kebiasaan anak sekolah yang jajan di luar rumah daripada makan dirumah.

D. Perumusan Masalah 1. Bagaimana hubungan kebiasaan jajan anak sekolah terhadap gizi ? 2. Bagaimana upaya orang tua dan guru untuk mengatasi masalah ini ?

E. Tujuan Penulisan 1. Mengetahui hubungan kebiasaan jajan anak sekolah terhadap gizi dan kesehatan anak . 2. Menjelaskan upaya orang tua untuk mencegah kebiasaan anaknya yang suka jajan diluar daripada makan di rumah.
2

F. Manfaat Penulisan 1. Bagi penulis yakni sebagai referensi selanjutnya dalam pembuatan makalah. 2. Bagi orang tua yakni dapat memberikan informasi dan masukan kepada orang tua tentang makanan yang sehat dan bergizi. 3. Bagi Guru yakni dapat mengetahui tentang gizi dan mendiskripsikan kepada siswanya untuk memilih makanan yang baik. 4. Bagi Siswa yakni siswa menjadi tahu dan paham serta bisa memilih jajanan yang baik untuk kesehatan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. Pengertian Gizi Istilah gizi dan Ilmu gizi di Indonesia baru mulai dikenal sekitar tahun 1952-1955 sebagai terjemahan kata bahasa Inggris nutrition. Kata gizi berasal dari bahasa Arab ghidza yang berarti makanan. Menurut dialek Mesir, ghidza dibaca ghizi. Selain itu, sebagian orang menerjemahkan nutrition dengan mengejanya sebgai nutrisi. Terjemahan ini terdapat dalam kamus umum bahasa Indonesia Badudu-Zain tahun 1994. Ilmu makanan ternak dalam disiplin ilmu kedokteran hewan disebut ilmu nutrisi ternak makanan. Namun yang lazim dan resmi, baik dalam tulisan ilmiah mauoun dokumen pemerintah seperti dalam buku Repelita, hanya digunakan kata gizi. (Soekirman, 1999 : 4)

a) Pola Makan Sehat dan Gizi yang baik Untuk Anak Secara umum ada tiga hal yang perlu diperhatikan para ibu untuk membentuk pola makan anak. 1) Jumlah Makanlah sesuai kebutuhan kalori, tidak

kekurangan dan tidak berlebih. Anak dengan berat badan 110 kg, membutuhkan 100 kal/kilogram berat badan. Sementara itu anak yang bobotnya 10-20 kg membutuhkan kalori 50 kal/kg BB (ditambah 1000 kalori). 2) Jenis Penuhi kebutuhan gizi yang meliputi karbohidrat, protein nabati dan hewani, buah-buahan, sayuran, lemak serta susu. Agar anak cepat menyukai makanannya, sebaiknya menu makan anak disamakan dengan menu

keluarga agar anak tidak cepat bosan. Yang perlu dimodifikasi mungkin rasa pedasnya. 3) Jadwal Buatlah jadwal makan yang teratur. Waktu makan anak adalah tiga kali makan utama dan dua kali snack. Biasakan juga anak untuk sarapan sebagai persiapan energi sebelum beraktivitas. Sangat dianjurkan untuk melibatkan anak pada acara makan bersama. Melalui kegiatan ini anak bisa mengamati dan belajar tentang kebiasaan dan cara makan yang baik. Prinsip 4 sehat 5 sempurna menyamaratakan kebutuhan gizi semua orang yang berusia di atas 2 tahun. Sedangkan Pedoman Gizi Seimbang (PGS) berprinsip, tiap golongan usia, status, kesehatan dan aktivitas fisik memerlukan PGS berbeda yang sesuai. Menurut Prof.Soekirman, ahli gizi sekaligus guru besar dari Institut Pertanian Bogor (IPB), bila pola makan kita hanya berdasarkan pada susunan makanan yang terdiri dari 4 kelompok tanpa mempertimbangkan apakah jenis zat gizinya sesuai dengan kebutuhan, maka pola makan itu dianggap tidak sehat. Dalam prinsip PGS, setiap kelompok umur memiliki kebutuhannya sendiri, misalnya kebutuhan gizi ibu hamil dan orang dewasa tentu berbeda. Demikian pula kebutuhan gizi kelompok lanjut usia. "Seimbang berarti disesuaikan dengan kebutuhan. Jika seseorang rajin berolahraga tentu ia boleh makan agak lebih banyak dibanding orang yang kurang aktif," kata Prof.Soekirman dalam acara peluncuran buku Pedoman Gizi Seimbang di Jakarta (27/1/2011).

Ia menambahkan, setiap manusia membutuhkan makanan yang beraneka ragam karena tidak ada satu pun bahan makanan yang mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan tubuh. PGS juga tidak hanya memperhatikan aspek gizi namun juga mempertimbangkan berbagai faktor di luar makanan yang berpengaruh pada kesehatan, seperti aspek kebersihan makanan, aktivitas fisik, dan kaitannya dengan pola hidup sehat lain. (Lusia Kus Anna dan Asep Candra. 2011. Beda 4 Sehat 5 Sempurna dengan Gizi Seimbang. http://health.kompas.com/)

2. Perilaku Makan pada Anak Usia Sekolah Perilaku makan anak di luar rumah harus diperhatikan dan dicermati. Pada mumnya kebiasaan yang sering menjadi masalah adalah kebiasaan makan di kantin atau warung di sekitar sekolah dan kebiasaan makan fast food. a) Kebiasaan Makan Jajanan Pengertian Makanan jajanan yang dijual oleh pedagang kaki lima atau dalam bahasa Inggris disebut street food menurut FAO didefinisikan sebagai makanan dan minuman yang dipersiapkan dan atau dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan di tempat-tempat keramaian umum lain yang langsung dimakan tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut (Iswaranti dkk, 2007). Usia prasekolah atau taman Kanak-kanak sudah

mempunyai sifat konsumen aktif, yaitu mereka sudah bisa memilih makanan yang disukainya. Seorang ibu yang telah menanamkan kebiasaan makan dengan gizi yang baik pada usia dini tentunya sangat mudah mengarahkan makanan anak, karena dia telah mengenal makanan yang baik pada usia sebelumnya. Apalagi di sekolah diarahkan pula oleh gurunya dengan praktik makan makanan yang sehat secara rutin. Hal ini
6

sangat menguntungkan seandainya ada anak yang susah makan dan dengan petunjuk tentunya anak akan mengikuti. Program makan bersama di sekolah sangat baik dilaksanakan karena ini merupakan modal dasar bagi pengertian anak supaya anak mau diarahkan pada pola makan dengan gizi yang baik. Golongan usia SD usia 7-9 tahun dan 10-12 tahun bisa menentukan makanan yang disukai karena mereka sudah mengenal lingkungan. Untuk itu perlu pengawasan dari orang tua supaya tidak salah melilih makanan karena pengaruh lingkungan. Disini anak masih dalam tahap pertumbuhan sehingga kebutuhan gizinya harus tetap seimbang. Banyak makanan yang dijual dipinggir jalan atau tempat umum hanya mengadung karbohidrat dan garam yang hanya kan membuat cepat kenyang dan banyak disukai anak, sayangnya hal ini bisa mengganggu napsu makan anak dan jika hal ini dibiarkan berlarut2 akan dapat mengganggu atau menghambat

pertumbuhan tubuhnya. Sedangkan pada anak usia 10-12 tahun sudah harus dibagi dalam jenis kelaminnya mengingat kebutuhan mereka yang berbeda. Anak laki-laki lebih banyak melakukan aktivitas fisik sehingga mmerlukan kalori yang lebih banyak

dibandingkan anak perempuan. Pada usia ini biasanya anak perempuan sudah mengalami masa haid sehingga memerlukan lebih banyak protein, zat besi dari usia sebelumnya. Makanan jajanan yang dijual oleh pedagang kaki lima atau dalam bahasa Inggris disebut street food menurut FAO didefisinikan sebagai makanan dan minuman yang

dipersiapkan dan dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan di tempat-tempat keramaian umum lain yang langsung dimakan atau dikonsumsi tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut. Jajanan kaki lima dapat mejawab tantangan masyarakat terhadap makanan yang murah, mudah, menarik dan bervariasi.
7

Anak-anak sekolah umumnya setiap hari menghabiskan waktunya di sekolah. Sebuah penelitian di Jakarta baru-baru ini menemukan bahwa uang jajan anak sekolah rata-rata sekarang berkisar antara Rp 2000 Rp 4000 per hari. Bahkan ada yang mencapai Rp 7000. Lebih jauh lagi, hanya sekitar 5% anakanak tersebut membawa bekal dari rumah. Mereka lebih terpapar pada makanan jajanan kaki lima dan mempunyai kemampuan untuk membeli makanan tersebut. Menariknya, makanan jajanan kaki lima menyumbang asupan energi bagi anak sekolah sebanyak 36%, protein 29% dan zat besi 52%. Karena itu dapat dipahami peran penting makanan jajanan kaki lima pada pertumbuhan dan prestasi belajar anak sekolah. Namun demikian, keamanan jajanan tersebut baik dari segi mikrobiologis maupun kimiawi masih dipertanyakan. Pada penelitian yang dilakukan di Bogor telah ditemukan Salmonella Paratyphi A di 25% 50% sampel minuman yang dijual di kaki lima. Bakteri ini mungkin berasal dari es batu yang tidak dimasak terlebih dahulu. Selain cemaran mikrobiologis, cemaran kimiawi yang umum ditemukan pada makanan jajanan kaki lima adalah penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) ilegal seperti borax (pengempal yang

mengandung logam berat Boron), formalin (pengawet yang digunakan untuk mayat), rhodamin B ( pewarna merah pada tekstil), dan methanil yellow (pewarna kuning pada tekstil). Bahan-bahan ini dapat terakumulasi pada tubuh manusia dan bersifat karsinogenik yang dalam jangka panjang menyebabkan penyakit-penyakit seperti antara lain kanker dan tumor pada organ tubuh manusia. Pengaruh jangka pendek penggunaan BTP ini menimbulkan gelaja-gejala yang sangat umum seperti pusing dan mual. Karenanya Joint Expert Committee on Food Additives (JECFA) dari WHO yang mengatur dan

mengevaluasi standar BTP melarang penggunaan bahan kimia

tersebut pada makanan. Standar ini juga diadopsi oleh Badan POM dan Departemen Kesehatan RI melalui Peraturan Menkes no. 722/Menkes/Per/IX/1998. Secara umum penyakit bawaan makanan (foodborne diseases) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di banyak negara. Karena penyakit ini dianggap bukan termasuk penyakit yang serius, maka seringkali kasus-kasusnya kurang terlaporkan. Temuan baru di Jakarta Timur

mengungkapkan bahwa jenis jajanan yang sering dikonsumsi oleh anak-anak sekolah adalah lontong, otak-otak, tahu goreng, mie bakso dengan saus, ketan uli, es sirop, dan cilok. Berdasarkan uji lab, pada otak-otak dan bakso ditemukan borax, tahu goreng dan mie kuning basah ditemukan formalin, dan es sirop merah positif mengandung rhodamin B. Wawancara dengan PKL menunjukkan bahwa mereka tidak tahu adanya BTP ilegal pada bahan baku jajanan yang mereka jual. Selain itu BTP ilegal menjadi primadona bahan tambahan di jajanan kaki lima karena harganya murah, dapat memberikan penampilan makanan yang menarik (misalnya warnanya sangat cerah sehingga menarik perhatian anak-anak) dan mudah didapat. Lebih jauh lagi, kita ketahui bahwa makanan yang dijajakan oleh PKL umumnya tidak dipersiapkan dengan secara baik dan bersih. Kebanyakan PKL mempunyai pengetahuan yang rendah tentang penanganan pangan yang aman, mereka juga kurang mempunyai akses terhadap air bersih serta fasilitas cuci dan buang sampah. Terjadinya penyakit bawaan makanan pada jajanan kaki lima dapat berupa kontaminasi baik dari bahan baku, penjamah makanan yang tidak sehat, atau peralatan yang kurang bersih, juga waktu dan temperatur penyimpanan yang tidak tepat. (Anonim. 2009. makan dan pemberian nutrisi pada anak Kesulitan sekolah.

http/google.co.id.)

b) Makanan Fast Food Fast food atau makanan siap saji sering disebut juga Junk food sangat disukai anak usia sekolah. Fast food sebenarnya bukanlah makanan yang tidak ada faedahnya sama sekali. Contohnya hamburger, mengandung protein dan lemak, sumber zat besi dan vitamin B yang baik buat anak. Namun perlu diingat bahwa lemak dan protein yang terkandung dalam hamburger melebihi jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh. Anak menyukai junk food, tidak ada salahnya sekali-kali diberikan, namun sangat dianjurkan untuk tidak mengkonsumsinya secara berlebihan. Jika hal itu sampai terjadi maka akan berpengaruh kurang baik bagi kesehatan karena asupan gizi yang diperoleh tidak seimbang, dan juga memicu terjadinya

obesitas/kegemukan. Sudah menjadi gejala umum bila anak menyukai fastfood, karena pada saat makan fastfood anak menyukai tempat yang sejuk, nyaman, dekorasi yang menarik, ada tempat bermain, penyajian cepat serta hadiah mainan yang menarik. Bahkan anak yang biasanya di rumah mengalami sulit makan, tetapi waktu makan di fastfood nafsu makannya meningkat. Fastfood mengandung kalori, protein, lemak dan sodium yang tinggi. Sementara kandungan vitamin A, C, E, kalsium, zat besi, asam folat serta serat relatif rendah. Seorang anak 5 tahun memilih menu 1 porsi paha goreng (330 kal), kentang goreng (330 kal) dan satu gelas minuman ringan (150 kal) akan mendapatkan 810 kalori; sedangkan kebutuhan energi 1750 kalori, telah memenuhi kebutuhan kalori sehari. Bila hal ini sering dilakukan akan beresiko untuk terjadi kelebihan berat badan atau kegemukan dengan segala manifestasi gangguan seperti gangguan penyakit jantung, hipertensi atau penyakit pembuluh darah lainnya.

10

Kandungan garam atau sodium tampaknya juga harus menjadi perhatian, karena menurut penelitian kandungan garam tinggi : 1) 1 porsi hamburger mengandung sodium 520 mg 2) ayam goreng mengandung sodium 409 mg 3) kentang goreng kecil mengandung sodium 109 mg Sodium ini berasal Dalam dari batas MSG(monosodium normal anak

glutamat)/vetsin/garam.

membutuhkan 200 mg/hari, bila mengkonsumsi 2000 mg / hari, dianggap aman tapi bila jangka panjang akan

menimbulkan resiko terjadinya penyakit darah tinggi, penyakit jantung. Kandungan makanan pada fastfood rata-rata 40-60% kalori berasal dari lemak, sedangkan lemak biasanya dikonsumsi hanya 20-25% dari kalori. Lemak didapat dari keju, saus, mayonaese, cream. Serat pada fastfood didapat dari sup dan salad, tetapi gizinya berkurang karena telah mengalami pemanasan dan pendinginan yang terlalu lama. Berbagai pertimbangan tersebut tampaknya kita harus memahami manfaat dan kerugian mengkonsumsi fastfood bagi anak. Hal lain yang menguntungkan adalah suasana yang menarik di tempat fastfood tersebut sehingga nafsu makan anak meningkat Beberapa ahli gizi berpendapat mengkonsumsi fast food seminggu 1 hingga 2 kali masih dianggap relatif aman. Kalaupun orang tua tidak bisa menolak keinginan anak untuk datang ke fastfood, bisa saja disiasati dengan membawa bekal dari rumah makanan yang lebih sehat sedangkan fastfood yang dipesan bisa dimakan orang tua. Tips yang lain adalah pilih makanan dengan tinggi serat berupa saur segar misalnya salad atau sup sayur dan batasi jumlah makanan dengan kandungan garam dan kalori yang berlebihan. (Anonim. 2009.

11

Kesulitan makan dan pemberian nutrisi pada anak sekolah. http/google.co.id.)

B. Kerangka Pikir / Kerangka Konseptual Anak-anak saat ini memiliki kebiasaan makan di kantin sekolah atau di sekitar sekolah dan biasanya yang dimakannya adalah makanan cepat saji. Seperti yang diketahui, makanan yang dijual di sekitar sekolah itu belum tentu terjamin kebersihannya. Warna dan jenis kemasan jajanan yang biasa dikonsumsi anak usia sekolah kerap memang menarik, tetapi orang kadang tidak tahu seperti apa kandungan gizi jajanan tersebut, bahkan banyak yang sebenarnya berbahaya untuk kesehatan anak. Misalnya, anak menjadi keracunan makanan akibatnya anak mendapatkan penyakit seperti sakit perut, diare, batuk, flu, dan sebagainya.

Kebiasaan Jajan Anak Sekolah

Gizi

12

13

BAB II METODE PENULISAN A. Metode Penulisan Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode diskriptif kualitatif. Metode diskriptif kualitatif merupakan suatu metode yang digunakan membuat gambaran secara sistematis mengenai hubungan antara fenomena yang diselidiki dan hasilnya tidak dinyatakan dalam angka. Metode diskriptif kualitatif digunakan karena dapat membantu tujuan yang ingin dicapai yaitu menjelaskan hubungan kebiasaan jajan anak sekolah terhadap gizi. Gambaran dalam penulisan ini nantinya diperoleh melalui pengalaman dan studi pustaka.

B. Teknik Pengumpulan Data Data penulisan ini dikumpulkan dengan teknik studi pustaka (library research). Penulis mengkaji sejumlah referensi berupa buk-buku, artikel, dan karya tulis lainnya yang relevan dengan judul karya tulis ini. Maksud dari studi pustaka ini adalah untuk menemukan teori yang dapat menunjang keabsahan penulis. Selain itu, data pustaka juga ditunjang dengan pengamatan di lapangan.

C. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data yang diperoleh dari buku dan karya tulis lainnya yang berhubungan dengan gizi.

D. Sistematika Penulisan 1. Pendahuluan Pendahuluan berisi tentang gambaran umum tentang perilaku anak usia sekolah yang memiliki kebiasaan jajan di sekitar sekolah. 2. Tinjauan Pustaka

13

Merupakan basis unutk dapat menganalisis permasalahan dan diperoleh dari beberapa referensi. 3. Metodologi Penulisan Merupakan uraian tentang metode yang digunakan dalam menyusun makalah ini dan sistem penulisan. 4. Pembahasan Merupakan inti dari penulisan ini, dimana dasar teori yang diperoleh dianalisa dan dikaitkan satu sama lain. 5. Penutup Merupakan bab yang memuat simpulan dan saran dari keseluruhan isi penulisan.

14

15

BAB IV PEMBAHASAN A. Hubungan Kebiasaan Jajan Anak Usia Sekolah Terhadap Gizi Berdasarkan dasar teori dapat kita mengetahui hubungan kebiasaan jajan anak usai sekolah terhadap gizi dan kesehatan anak. Usia prasekolah atau taman Kanak-kanak sudah mempunyai sifat konsumen aktif, yaitu mereka sudah bisa memilih makanan yang disukainya. Anak yang biasa memakan makanan diluar rumah, asupan gizi nya tentu kurang memadai. Karena makanan yang dijual para pedagang kaki lima belum tentu sehat dan bersih. Makanan jajanan yang dijual oleh pedagang kaki lima atau dalam bahasa Inggris disebut street food menurut FAO didefisinikan sebagai makanan dan minuman yang dipersiapkan dan dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan di tempat-tempat keramaian umum lain yang langsung dimakan atau dikonsumsi tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut. Jajanan kaki lima dapat mejawab tantangan masyarakat terhadap makanan yang murah, mudah, menarik dan bervariasi. Anak-anak sekolah umumnya setiap hari menghabiskan waktunya di sekolah. Sebuah penelitian di Jakarta baru-baru ini menemukan bahwa uang jajan anak sekolah rata-rata sekarang berkisar antara Rp 2000 Rp 4000 per hari. Bahkan ada yang mencapai Rp 7000. Lebih jauh lagi, hanya sekitar 5% anak-anak tersebut membawa bekal dari rumah. Mereka lebih terpapar pada makanan jajanan kaki lima dan mempunyai kemampuan untuk membeli makanan tersebut. Menariknya, makanan jajanan kaki lima menyumbang asupan energi bagi anak sekolah sebanyak 36%, protein 29% dan zat besi 52%. Karena itu dapat dipahami peran penting makanan jajanan kaki lima pada pertumbuhan dan prestasi belajar anak sekolah. Namun demikian, keamanan jajanan tersebut baik dari segi mikrobiologis maupun kimiawi masih dipertanyakan. Pada penelitian yang dilakukan di Bogor telah ditemukan Salmonella Paratyphi A di 25% 50%

15

sampel minuman yang dijual di kaki lima. Bakteri ini mungkin berasal dari es batu yang tidak dimasak terlebih dahulu. Selain cemaran mikrobiologis, cemaran kimiawi yang umum ditemukan pada makanan jajanan kaki lima adalah penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) ilegal seperti borax (pengempal yang mengandung logam berat Boron), formalin (pengawet yang digunakan untuk mayat), rhodamin B ( pewarna merah pada tekstil), dan methanil yellow (pewarna kuning pada tekstil). Bahan-bahan ini dapat terakumulasi pada tubuh manusia dan bersifat karsinogenik yang dalam jangka panjang menyebabkan penyakit-penyakit seperti antara lain kanker dan tumor pada organ tubuh manusia. Pengaruh jangka pendek penggunaan BTP ini menimbulkan gelaja-gejala yang sangat umum seperti pusing dan mual. Karenanya Joint Expert Committee on Food Additives (JECFA) dari WHO yang mengatur dan mengevaluasi standar BTP melarang penggunaan bahan kimia tersebut pada makanan. Standar ini juga diadopsi oleh Badan POM dan Departemen Kesehatan RI melalui Peraturan Menkes no. 722/Menkes/Per/IX/1998. B. Upaya yang Dilakukan oleh Orang tua, Guru, dan Lembaga yang Terkait. Pendidikan gizi adalah proses untuk memperkenalkan kepada masyarakat nilai sumber yang ada dan menganjurkan mereka agar mengubah kebiasaan makan. Oleh karena itu, pendidikan gizi perlu disosialisasi kepada orang tua dan guru begitu juga dengan pedagang kaki lima sehingga mereka tahu akan gizi yang baik dan sehat. ( Alan Berg dan Robert J. Muscat : 1987, 89 ) Untuk mengurangi paparan anak sekolah terhadap makanan jajanan yang tidak sehat dan tidak aman, perlu dilakukan usaha promosi keamanan pangan baik kepada pihak sekolah, guru, orang tua, murid, serta pedagang. Sekolah dan pemerintah perlu menggiatkan kembali UKS (Usaha Kesehatan Sekolah). Materi komunikasi tentang keamanan pangan yang sudah pernah dilakukan oleh Badan POM dan Departemen Kesehatan dapat ditingkatkan pelaksanaannya. Materi
16

tersebut digunakan sebagai alat bantu penyuluhan keamanan pangan di sekolah-sekolah, khususnya terhadap murid dan pedagang makanan. Perlu diupayakan pemberian makanan ringan atau makan siang yang dilakukan di lingkungan sekolah. Hal ini dilakukan untuk mencegah agar anak tidak sembarang jajan. Koordinasi oleh pihak sekolah, persatuan orang tua murid dibawah konsultasi dokter sekolah atau Pusat Kesehatan Masyarakat setempat. Sehingga dapat

menyajikan makanan ringan pada waktu istirahat sekolah. yang bisa diatur porsi dan nilai gizinya. Upaya ini tentunya akan lebih murah dibanding anak jajan diluar disekolah yang tidak ada jaminan gizi dan kebersihannya. Dengan menyelenggarakan kegiatan makanan

tambahan tersebut, diharapkan mendapat keuntungan, misalnya : anak sudah ada jaminan makanan disekolah, sehingga orang tua tidak khawatir dengan makanan yang dimakan anaknya disekolah. Ibu yang selalu khawatir biasa memberi bekal makanan pada anaknya. Kalau makanan yang baik dan bergizi tersedia disekolah, akan meringankan tugas ibu. Dalam kegiatan ini bisa pula dikenalkan berbagai jenis bahan makanan yang mungkin tidak disukai anak ketika disajikan dirumah, tetapi akan menerima ketika disajikan disekolah. Dengan demikan anak dapat mengenal aneka bahan pangan. Bila upaya tersebut belum dapat terealisasi, hendaknya orang tua secara aktif dapat menyiapkan bekal makanan bagi anak. Banyak studi yang menunjukkan persentase anak sekolah Amerika yang kelebihan berat badan bertambah hampir tiga kali lipat dalam 20 tahun terakhir. Kecenderungan tersebut diduga akibat makanan atau minutan tertentu dan kurang olahraga. Pengalaman yang bisa diambil jadi contoh kita, yaitu statu kebijakan baru di Los Angeles. Dalam beberapa tahun ke depan akan menghilangkan tahap demi tahap minuman ringan di mesin-mesin penjaja dan kafetaria. Minuman yang dianggap tak bermanfaat itu akan diganti dengan air putih, susu dan buah-buahan dan minuman olahraga. Hal ini

17

menunjukkan suatu kepedulian yang sangat tinggi terhadap kesehatan anak usia sekolah oleh salah satu instansi pemerintahan. Kepedulian ini hendaknya dijadikan contoh bagi berbagai pihak dalam mengantisipasi bahaya makanan jajajanan yang mengancam di lingkungan sekolah. Upaya sekolah dalam menyediakan layanan makan siang sangat baik untuk dilanjutkan. Namun perlu pengawasan dan pengamatan yang ketat dan berkesinambungan demi terciptanya makanan sehat, bergizi dan tidak berbahaya. Pemberi layanan makanan di sekolah bukan hanya mempertimbangkan resiko bahaya kandungan maakanan aditif, tetapi juga mempertimbangkan pada anak yang mengalami alergi dan hipersensitif makanan. Ternyata bahaya dan dampak alergi makanan juga tidak kalah berbahaya dan mengganggu.

18

19

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Kita dapat mengetahui hubungan kebiasaan jajan anak usai sekolah terhadap gizi dan kesehatan anak. Usia prasekolah atau taman Kanakkanak sudah mempunyai sifat konsumen aktif, yaitu mereka sudah bisa memilih makanan yang disukainya. Anak yang biasa memakan makanan diluar rumah, asupan gizi nya tentu kurang memadai. Karena makanan yang dijual para pedagang kaki lima belum tentu sehat dan bersih. Berdasarkan dasar teori, bahwa kandungan makanan yang dijial oleh pedagang kaki lima mengandung zat-zat yang mengancam kesehatan seorang anak. Untuk mengurangi paparan anak sekolah terhadap makanan jajanan yang tidak sehat dan tidak aman, perlu dilakukan usaha promosi keamanan pangan baik kepada pihak sekolah, guru, orang tua, murid, serta pedagang. Sekolah dan pemerintah perlu menggiatkan kembali UKS (Usaha Kesehatan Sekolah). Materi komunikasi tentang keamanan pangan yang sudah pernah dilakukan oleh Badan POM dan Departemen Kesehatan dapat ditingkatkan pelaksanaannya. Materi tersebut digunakan sebagai alat bantu penyuluhan keamanan pangan di sekolah-sekolah, khususnya terhadap murid dan pedagang makanan. B. Saran Orang tua, guru, persatuan orang tua murid dan guru, instansi pemerintah khususnya departemen pendidikan atau departemen kesehatan dan jajaran dibawahnya serta pihak legislatif harus mulai mengambil langkah cepat berkoordinasi untuk melakukan upaya mengatasi

permaslahan ini. Perlu dipikirkan pembuatan peraturan, program kegiatan penyuluhan atau pengawasan rutin baik oleh pihak sekolah atau instansi terkait sehingga dapat mengatasi masalah ini. Peningkatan perhatian

19

kesehatan anak usia sekolah ini diharapkan dapat menciptakan peserta didik yang sehat, cerdas dan berprestasi.

20