Anda di halaman 1dari 43

ANALISIS PUISI CATATAN AKHIR MUSIM KARYA KURNIAWAN YUNIATO MENGGUNAKAN TEORI STRUKTURALISME-SEMIOTIK

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sastra suatu komunikasi seni yang hidup bersama bahasa. Tanpa bahasa sastra tidak mungkin ada, puisi adalah salah satu sastra yang menggunakan bahasa di dalam penyampaiannya. Melalui bahasa dia dapat mewujudkan dirinya berupa sastra lisan maupun sastra tertulis. Sastra cenderung mengunakan cara berbahasa yang berbeda, yang paling dominan adalah pengunaan bahasa konotatif, yakni bahasa yang mendukung emosi dan suasana hati, ungkapan dalam bahasa konotatif tidak hanya memiliki makna namun juga berisi simbol-simbol. Bahasa konotatif tidak hanya mementingkan arti, tetapi mementingkan bobot dan gaya serta keluasan tafsiran. Klimaks dalam bahasa konotatif dapat dijumpai pada puisi. Setiap ungkapan di dalam hasil sastra, kata-kata tidak terikat oleh arti pusat saja, tetapi mempunyai arti yang imajinatif. Sebuah sajak adalah pernyataan singkat dari fikiran-fikiran yang besar. Dengan kesingkatannya ia lalu menjadi kecil di tengah lingkupnya yang besar atau dengan istilah lain puisi menjadi kecil di tengah kebesaranya. Pada waktu sekarang, puisi kian diminati oleh masyarakat, baik oleh para pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat pada umumnya. Akan tetapi, puisi sukar dimengerti karena kompleksitas, pemadatan, kiasan-kiasan, dan pemikirannya yang sukar. Oleh karena itu, perlu adanya kajian puisi. Kajian adalah memahami karya sastra dalam hal ini puisi dengan cara menilai, menganalisis dan menginterpretasi melalui berbagai pendekatan atau teori tertentu. Berdasarkan latar belakang tersebut penulis membuat makalah ini dengan menawarkan dan menghadirkan salah satu model kajian puisi dengan menggunakan teori strukturalisme-semiotik. Untuk model kajian, di sini penulis memilih puisi karya Kurniawan Yunianto berjudul Catatan Akhir Musim. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang penelitian, maka penulis mengidentifikasi masalah yang berkenaan dengan analisis novel dengan menggunakan teori sosiologi sastra adalah

Sebagai berikut: 1) Apakah teori strukturalisme-semiotik? 2) Bagaimana penerapan teori strukturalisme-semiotik dalam puisi Catatan Akhir Musim karya Kurniawan Yulianto? 1.3 Tujuan Penulisan Maksud penelitian ini adalah untuk memperoleh data dan informasi yang diperlukan untuk mengetahui kesesuaian teori dengan kenyataan berdasarkan penelitian, adapun tujuan penelitian adalah: 1) Untuk mengetahui teori strukturalisme-semiotik 2) Untuk mengetahui penerapan teori strukturalisme-semiotik dalam puisi 1.4 Manfaat Penulisan Selama pembuatan makalah ini, informasi-informasi yang telah penulis kumpulkan diharapkan agar mempunyai manfaat, antara lain: a. Bagi penulis Untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan khususnya tentang kajian puisi dengan menggunakan teosi strukturalisme-semiotik b. Bagi pihak lain yaitu hasil penulisan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai tambahan pengetahuan bagi para pembaca. 1.5 Metode Penulisan Dalam membuat makalah ini penulis menggunakan metode studi literatur (studi pustaka), yaitu dengan membaca beberapa buku referensi dan penulis juga mendapatkan referensi dari internet. Setelah mendapatkan materi yang cukup, penulis menarik beberapa kesimpulan seperti yang tertuang dalam makalah ini. I.6 Sistematika Penulisan

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan Penulisan 1.4 Metode Penulisan 1.5 Manfaat Penulisan 1.6 Sistematika Penulisan BAB 2 Tinjuauan Teoritis 2.1 Teori Strukturalisme-Semiotik 2.2 Metode Strukturalisme-Semiotik 2.3 Metode penelitian dalam analisis puisi Catatan akhir Musim BAB 3 Analisis Puisi Catatan Akhir Musim Karya Kurniawan Yunianto 3.1 Puisi yang Dianalisis 3.2 Penerapan Teori Strukturalisme-Semiotik ke dalam Puisi Catatan Akhir Musim BAB 4 Penutup 4.1 Simpulan DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Teori Strukturalisme-Semiotik

Sesungguhnya, teori strukturalisme-semiotik itu merupakan penggabungan dua teori strukturalisme dan teori semiotik. Strukturalisme dan semiotik itu berhubungan erat; semiotik itu merupakan perkembangn strukturalisme (Junus,1981 : 17). Pendekatan strukturalisme dinamakan juga pendekatan objektif, yaitu pendekatan dalam penelitian sastra yang memusatkan perhatiannya pada otonomi sastra sebagai karya fiksi. Artinya, menyerahkan pemberian makna karya sastra tersebut terhadap eksistensi karya satra itu sendiri tanpa mengaitkan unsur yang ada di luar struktur signifikasinya. Pendekatan ini dikembangkan oleh kaum Formulis Rusia dan aliran New Criticsm Amerika dengan istilah strukturalisme otonom atau strukturalisme murni (Pradopo, 1985:2-3) ataupun strukturalisme A-Historis (Faruk, 1986:69). Dalam perkembangan selanjutnya aliran strukturalisme ini dirasakan oleh pengikutnya kurang valid di dalam pemberian makna karya sastra. Pada intinya, teori strukturalisme dalam sastra sebagai berikut. Karya sastra itu merupakan sebuah struktur yang unsur-unsurnya atau bagian-bagiannya saling berjalinan erat. Dalam struktur itu unsur-unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya, maknanya ditentukan oleh saling hubungannya dengan unsur-unsur lainnya dan keselurahan atau totalitasnya (Hawkes, 1978 : 1718) bahwa makna unsur-unsur karya sastra itu hanya dapat dipahami dan dinilai sepenuhnya atas dasar pemahaman tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. Antara unsur karya sastra itu ada koherensi atau pertautan erat; unsur-unsur itu tidak otonom, tetapi merupakan bagian dari situasi yang rumit, dari hubungannya dengan bagian lain unsur-unsur itu mendapatkan maknanya (Culler, 1977: 170-171). Analisis srruktural sukar dihindari sebab analisis demikian itu baru memungkinkan tercapainya pemahaman yang optimal (Teeuw, 1983:61). Akan tetapi, analisis berdasarkan teori srrukturalisme murni, yaitu yang hanya menekankan otonomi karya sastra, mempunyai keberatan juga. Ditunjukan oleh Teeuw (1983: 61; 1984: 140) kelemahan pokok analisis srruktural murni itu: (a) melepaskan karya sastra dari rangka sejarah sastra; (b) mengasingkan karya sastra itu dari rangka sosial budayanya. Hal ini disebabkan karena analisis srruktural itu merupakan kesatuan yang bulat dan utuh; tidak memrlukan pertolongan dari luar struktur; padahal karya sastra itu tidak dapat terlepas dari situasi keejarahannya dan kerangka sosial budayanya. Disamping itu, peranan pembaca sebagai pemberi makna dalam interpretasi karya sastra tidak dapat diabaikan. Tanpa aktivitas pembaca, karya sastra sebagai atrtefak tidak mempunyai makna.

Oleh karena hal-hal tersebut, maka untuk menganalisis karya sastra, selain berdasarkan strukturalisme, diperlukan juga analisis berdasarkan teori lain, yang sesuia dengan teori ini ialah teori semiotik. Strukturalisme yang berdasarkan konsep semiotik oleh Jan mukarovsky dan Felix Vodicka dosebut Srrukturalisme Dinamik (via Teeuw, 1983: 62), yaitu untuk dapat memahami sastra sepenuhnya sebagai struktur, haruslah diinsafi cirri khas sastra sebagai tanda (sign). Tanda itu baru bermakna bila diberi makna oleh pembaca berdasarkan konvensi yang berhubungan dengannya. Teori sastra yang memahami karya sastra sebagai tanda itu adalah semiotik. Semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Tanda-tanda itu mempunyai arti dan makna yang ditentukan oleh konvesinya, karya sastra merupakan struktur tanda-tanda yang bermakna. Karya sastra itu karya seni yang bemedium bahasa. Bahasa sebagai bahan sastra sudah merupakan sistem tanda yang mempunyai arti sebagai bahan karya sastra, bahasa diseuaikan, denga kovensi sastra, konvensiu arti sastra yaitu makna (significance). Dipandang dari konvensi bahasa, konvensi sastra itu adalah kinvensi tambahan kepada konvensi sastra. Oleh karena itu, konvensi sastra itu oleh Premienger disebutnya sebagai konvensi tambahan (1974: 981). Lebih lanjut dikemukakan Preminger bahwa studi sastra yang bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensikonvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna. Dengan melihat varoiasivariasi di dalam struktur karya sastra atau bermacam-macam makna. Kritikus menyendirikan satuan-satuan berfungsi dan konvensi-konvensi yang berlaku (premienger dkk, 1971: 981). Dalam puisi, satuan-satuan berfungsi itu diantaranya adalah satuan bunyi, kata, diksi, dan bahasa kiasan, dan klaimat: gaya kalimat ataupun gaya bahasa. Disamping itu diantara konvensi tambahan adalah persajakan, enjambement, tipografi, pembaitan, dan konvensi-konvensi lain yang memberi makna dalam sastra. 2.2 Metode Strukturalisme-Semiotik Sesuai dengan teori strukturalisme-semiotik, kaijian sastra, khusunya puisi, memerlukan metode analisis itu dengan pemaknaan sebagai berikut: 1) Sajak dianalisis ke dalam unsur-unsurnya denagn memperhatikan saling hubungan antara unsur-unsurnya dengan keseluruhannya.

2) Tiap unsur sajak itu dan keseluruhannya diberi makna sesuai dengan konvensi puisi. 3) Setelah sajak dianalisis ke dalam unsur-unsurnya makna totalitasnya dalam kerangka semiotik. 4) Untuk pemaknaan itu diperlukan pembacaan secara smeiotik, yaitu pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik (Riffaterre, 1978: 5-6) atau pembacaan retroaktif. Perlu diterangkan di sini bahwa urut-urutan tersebut di atas dapat dibalik (ditukar) sesuai dengan keprluan sebab analisis struktural itu dapat dimulai darimana saja sesuai dengan keperluannya. 2.1 Metode penelitian dalam analisis puisi Catatan akhir Musim

Pengumpulan data Pembacaan kritis-kreatif pengidentifikakasikan Penyajian data Pereduksian data Penyimpulan data HASIL ANALISIS BAB 3 ANALISIS PUISI CATATAN AKHIR MUSIM KARYA KURNIAWAN YUNIANTO 3.1 Puisi yang Dianalisis Sabtu, 22 November 2008 | 13:26 WIB CATATAN AKHIR MUSIM

entah sejak kapan angin mendadak begitu terasa dingin bikin pecat rasa ingin lalu menempelkannya ke dinding tiap rumah di mana kau pernah singgah tempat saat tinggal telah menemu betah meski bercerita tentang bunga bunga dan belantara hutan hijau tua tapi mengapa selalu bersama airmata kini ke mana pergi para nabi yang dulu ikut meneteskan embun pagi dari dedaunan ke peluk bumi di penghujung musim diam diam ada yang memecat mukim tak beranjak lalu menyublim (Kurniawan Yunianto) 3.2 Penerapan Teori Strukturalisme-Semiotik ke dalam Puisi Catatan Akhir Musim 3.2.1 Pembacaan Semiotik Untuk dapat memberi makna puisi secara struktural semiotik, pertama kali dapat dilakukan dengan pembacaan heuristik dan hermeneutik (atau retroaktif) (Riffaterre, 1978: 5-6). Pembacaan heuristik adalah pembacaan berdasarkan struktur kebahasaanya atau secra semiotik berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat pertama. Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan karya sastra (puisi) berdasarkan konvensi sastranya. Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan ulang sesudah pembacaan heuristik dengan memberikan tafsiran berdasrkan konvensi sastranya. Pembacaan Heuristik Dalam pembacaan heuristik ini, puisi dibaca berdasarkan struktur kebahasaanya. Untuk memperjelas arti bilamana perlu diberi sisipan kata atau sinonim kata-katanya ditaruhkan dalam tanda kurung. Begitu juga, struktur kalimatnya disesuaikan dengan kalimat baku (berdasarkan tata bahasa normative); bilamana perlu susunannya dibalik untuk memperjelas arti. Pembacaan heuristik Catatan Akhir Musim itu sebagai berikut.

Bait ke-1 entah sejak kapan angin (yang berhembus) mendadak begitu terasa dingin (dan) bikin (membuat) pecat (berhenti) rasa ingin. Bait ke-2 (dan) menempelkannya ke dinding tiap rumah. Dimana kau pernah singgah (pernah tinggal) (di) tempat saat tinggal telah menemu betah (rasa nyaman untuk bertahan lama-lama). Bait ke-3 Meski bercerita tentang bunga-bunga dan (hutan belantara) hutan hijau tua tapi mengapa selalu (ada) bersama airmata (kesedihan). Bait ke-4 (dan) kini kemana perginya para nabi (orang baik) yang dulu (selalu) ikut meneteskan embun pagi (kesejukan) dari dedaunan ke peluk bumi. Bait ke-5 Di penghujung musim diam-diam ada yang memecat (berhenti) mukim (tempat) tak beranjak lalu menyublim. Tentu saja pembacaan heuristik ini belum memberikan makna puisi yang sebenarnya. Pembacaan ini terbatas pada pemahaman terhadap arti bahasa sebagai system semiotik tingkat pertama, yaitu berdasarkan konvensi bahasanya. Pembacaan heuristic harus diulang kembali dengan bacaan retroaktif dan ditafsirkan secara hermeneutik berdasarkan konvensi sastra (puisi), yaitu system semiotic tingkat kedua sebagai berikut. Pembacaan Retroaktif atau Hermeneutik Dalam pembacaan hermeneutik ini puisi dibaca berdasarkan konvensi-konvensi sastra menurut system semiotik tingkat kedua. Konvensi sastra yang memberikan makna itu diantaranya konvensi ketaklangsungan ucapan (ekspresi) sajak (puisi) (Riffaterre, 1978: 1). Dikemukakan Riffaterre (1978: 2) ketaklangsungan ekspresi sajak itu disebabkan oleh (1)

penggatian arti (displacing of meaning), (2) pemencongan atau penyimpangan arti (distorting of meaning), (3) penciptaan arti (creating of meaning) Penggantian arti berupa penggunaan metafora dan metonimi; penyimpangan arti disebabkan oleh ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense; dan penciptaan arti disebabkan oleh pemanfaatan bentuk visual, misalnya enjambement, persajakan, homologeus (persejajaran bnetuk maupun baris), dan tipografi. Pembacaan hermeneutik puisi Catatan Akhir Musim itu sebagai berikut. Bait ke-1 Kita tidak mengetahui kapan masalah (angin) akan datang. Masalah datang tiba-tiba. Masalah membuat kita membeku diam tanpa bisa berbuat apa-apa, ini ditunjukan dalam puisi yaitu mendadak begitu terasa dingin bikin pecat rasa ingin ini manandakan jika kita terlilit masalah maka akan kmembuat kita tidak mau mlakukan apapun pecat diksi ini artinya yaitu berhenti tidak mau melkaukan apapun, keinginan yang dulu ada kini terhenti. Hanya bisa berdiam dan hanya bisa menumpahkan semua masalah itu dengan berdiam dirumah dan dinding di tiap rumah lah sebagai saksinya. Bait ke-2 Rumah yang pernah disinggahi oleh seseorang. Seseorang yang kini telah menghilang. Di tempat ini (rumah) tempat yang dianggap telah ditemukannya suatu kebahagiaan atau kenyamanan (betah). Bait ke-3 Saat ini tidak ada lagi kebahagiaan dan kenyamanan di tempat ini, walaupun ada sesuatu yang indah. Dalam puisi ini sesuatu yang indah itu diibaratkan dengan bunga jadi, diksi bunga mewakili sebagai sesuatu yang indah.Orang-orang mencoba menghibur dengan ceritacerita yang lucu, tetapi tetap saja kesedihan (airmata) yang ada. Bait ke-4 Kini kemana perginya para nabi (seseorang yang baik) yang selalu perduli terhadap setiap masalah, yang dulu ikut meneteskan embun pagi (kesejukan) maksudnya yaitu yang dulu

selalu memberikan kesejukan, ketenangan dari dedaunan sampai peluk bumi Bait ke-5 Di penghujung musim diam-diam hanya bisa berhenti dan berdiam disebuah tempat bermukim yaitu rumah sendiri tak beranjak kemanapun hanya terdiam dan menanti semuanya seperti dulu lagi. 3.2.2 Tema dan Masalah Tema merupakan inti atau esensi karya sastra; merupakan kristalisasi dari seluruh peristiwa dan kejadian yang dipaparkan dalam karya sastra. Berdasarkan hal itu tema puisi catatan akhir musim itu dapat dirumuskan sebagai berikut . Dalam kehidupan setiap masalah datang dan pergi. Datang dengan tiba-tiba tanpa kita ketahui. Puisi ini dilihat dari temanya yaitu kehidupan seseorang yang selalu dibayang-bayangi orang yang berada di kehidupan masa lalunya yang saaat ini pergi sehingga sekarang ia tidak dapat menentukan arah hidupnya. Tema ini diharapkan ke dalam bait-bait puisi itu. Kita tidak mengetahui kapan masalah (angin) akan datang. Masalah datang tiba-tiba. Masalah membuat kita membeku diam tanpa bisa berbuat apa-apa, ini ditunjukan dalam puisi yaitu mendadak begitu terasa dingin bikin pecat rasa ingin ini manandakan jika kita terlilit masalah maka akan membuat kita tidak mau melakukan apapun pecat diksi ini artinya yaitu berhenti tidak mau melakukan apapun, keinginan yang dulu ada kini terhenti. Lalu menempelkannya ke dinding tiap rumah maksudnya hanya bisa berdiam dan hanya bisa menumpahkannya semua masalah itu dengan berdiam dirumah dan dinding di tiap rumah lah sebagai saksinya. (bait ke 1). Rumah yang pernah disinggahi oleh seseorang. Seseorang yang kini telah menghilang. Di tempat ini (rumah) tempat yang dianggap telah ditemukannya suatu kebahagiaan atau kenyamanan (betah) (bait ke-2). Tidak ada lagi kebahagiaan dan kenyamanan di tempat ini, walaupun ada sesuatu yang indah. Dalam puisi ini sesuatu yang indah itu diibaratkan dengan bunga jadi, diksi bunga mewakili sebagai sesuatu yang indah.Orang-orang mencoba menghibur dengan ceritacerita yang lucu, tetapi tetap saja kesedihan (airmata) yang ada (bait ke-3). Kini kemana perginya para nabi (seseorang yang baik) yang selalu perduli terhadap setiap masalah, yang

dulu ikut meneteskan embun pagi (kesejukan) maksudnya yaitu yang dulu selalu memberikan kesejukan, ketenangan dari dedaunan sampai peluk bumi (bait ke-4). Di penghujung musim diam-diam hanya bisa berhenti dan berdiam disebuah tempat bermukimyaitu rumah sendiri tak beranjak kemanapun hanya terdiam dan menanti semuanya seperti dulu lagi (bait ke-5). Penjelasan dari tiap bait ini lah yang membuktikan bahwa tema puisi Catatan akhir Musim adalah seperti itu. 3.2.3 Pembacaan Unsur-unsur Puisi Untuk lebih menjelaskan proses pemaknaan berdasarkan pembacaan hermeneutik itu, perlulah puisi itu dianalisis lebih lanjut secara merenik. Judul Catatan Akhir Musim. Bait ke-1 angin: angin adalah metafora yang mengiaskan suatu masalah. Masalah digambarkan oleh diksi angin karena masalah bisa datang secara tiba-tiba, dan bisa berhembus dengan kencang ataupun tidak. Begitu pun dengan masalah terkadang masalah itu datang dengan sangat rumit bahkan apabila tidak memiliki sikap optimis untuk menyelesaikannya dan keluar dari masalah itu, seseorang bisa-bisa tidak dapat menentukan arah hidupnya lagi. Seperti dalam puisi ini. terasa dingin mengiaskan bahwa hembusan masalah ini membuat orang itu membuat kita membeku atau diam tanpa bisa berbuat apa-apa. pecat mengiaskan berhenti tidak mau melakukan apapun, keinginan yang dulu ada kini terhenti. Bait ke-2 singgah adalah diam di suatu tempat. betah mengiaskan telah ditemukannya suatu kebahagiaan atau kenyamanan sehingga tidak mau beranjak atau pindah ke tempat lain. Bait ke-3 Bunga-bunga mengiaskan sebuah keindahan. Keindahan dengan aneka warna-warninya dan harum wanginya.

airmata mengiaskan kesedihan yang mendalam sehingga mengeluarkan airmata. Diksi bunga dan airmata yang bertolak belakang ini menandakan bahwa walaupun terdapat berbagai keindahan disekeliling tetapi hanya kesedihan yang dirasakan. Bait ke-4 Para nabi mengiaskan orang-orang yang baik yang perduli terhadap masalah yang tengah dihadapi. Diksi nabi dipilih karena nabi itu adalah seseorang utusan allah yang memiliki sifat yang sangat mulia dan jauh dari perbuatan tercela. Embun pagi mengiaskan kesejukan yang dapat membuat hati tenang melupakan semua kepenatan yang ada. Bait ke-5 Memecat mukim mengiaskan berdiam di suatu tempat bermukim yaitu rumah dan berhenti tidak melakukan apapun. menyublim mengiaskan suatu keadaan dari keadaan diam tersebut menjadi melakukan sesuatu secara perlahan-perlahan. 3.2.4 Analisis Gaya Bahasa Gaya bahasa dalam arti umum adalah penggunaan bahasa secara bergaya dengan tujuan untuk ekspresivitas pengucapan. Menarik perhatian, atau untuk dipergunakan dalam karya sastra saja, tetapi juga dalam percakapan sehari-hari. Hanya saja, di sini dibicarakan gaya bahasa sastra, khususnya dalam puisi Catatan Akhir Musim. Gaya bahasa meliputi seluruh unsur bahasa; intonasi, bunyi, kata, dan kalimat. Akan tetapi, disini tidak dibicarakan intonasi atau lagu ucapan yang kurang tampak jelas dalam teks tertulis. a) Gaya Bunyi Puisi Gaya bunyi tampak pada asonansi, aliterasi, variasi, persajakan, dan kombinasi bunyi yang menimbulkan orkestrasi. Semuanya itu memperkeras, menekankan arti, dan menimbulkan irama yang menyebabkan liris, melancarkan timbulnya angan (citraan), membangkitkan perasaan.

Dalam bait pertama dipergunakan asonansi i menimbulkan ekspresivitas yang liris. Dalam bait kedua dipergunakan asonansi a yang membuat berirama dan melancarkan timbulnya angan. Begitu juga dengan bait ketiga masih menggunakan asonansi a membuat puisi tetap berirama dan melancarkan timbulnya angan. Bait keempat dan kelima penyair menggunakan asonansi i ini menimbulkan puisi terasa begitu liris ada kesan pesimistis didalamnya. Dengan menggunakan asonansi tersebut pembaca dapat merasakan pesan yang disampaikan oleh penyair dengan mudah. b) Gaya Kata Dalam puisi tampak pemilihan kata yang disesuiakan dengan bunyinya. Dengan demikian, hal tersebut membuat puisi ekspresif, tampak fungsi estetikanya yang empiris seperti dikemukakan oleh Jacobson (via Sedeok, 1978: 358) bahwa fungsi puitik itu memproyeksikan prinsip ekuivalensi dari poros pemilihan ke poros kombinasi. Dalam hal diksi, yang menonjol adalah pemakaian metafora yang sugestif, merupakan ucapan yang tidak langsung sesuai dengan konvensi puisi. Seperti berikut: pada bait 1 angin: angin adalah metafora yang mengiaskan suatu masalah. Masalah digambarkan oleh diksi angin karena masalah bisa datang secara tiba-tiba, dan bisa berhembus dengan kencang ataupun tidak. Begitu pun dengan masalah terkadang masalah itu datang dengan sangat rumit bahkan apabila tidak memiliki sikap optimis untuk menyelesaikannya dan keluar dari masalah itu, seseorang bisa-bisa tidak dapat menentukan arah hidupnya lagi. Seperti dalam puisi ini. terasa dingin mengiaskan bahwa hembusan masalah ini membuat orang itu membuat kita membeku atau diam tanpa bisa berbuat apa-apa. pecat mengiaskan berhenti tidak mau melakukan apapun, keinginan yang dulu ada kini terhenti. Pada bait kedua terdapat singgah adalah diam di suatu tempat. betah mengiaskan telah ditemukannya suatu kebahagiaan atau kenyamanan sehingga tidak mau beranjak atau pindah ke tempat lain. Bait ke-3 terdapat Bunga-bunga dan airmata. Bait

ke-4 terdapat Para nabi dan Embun pagi. Bait ke-5 terdapat Memecat mukim dan menyublim. Makna semuanya itu telah diterangkan dalam pembahasan sebelumnya. c) Gaya Kalimat Gaya kalimat dalam puisi ini secara keseluruhan terlihat gaya kalimat yang digunakan di tiap baitnya yaitu ironi. 3.2.5 Hubungan Struktural Antarunsur dan Keseluruhannya Pada pembacaan semiotik yaitu pembacaan secara heuristik dan hermeneutik tampak adanya kesatuan yang utuh antar unsur-unsur dan keseluruhan puisi. Adanya jalinan yang erat dan koherensi. Dalam uraian berikut, koherensi itu dianalisis lebih lanjut supaya menjadi jelas. Dilihat dari judul Catatan Akhir Musim sudah memberikan (citraan) yang sedih bahwa di akhir musim itu ada sebuah kenangan yang tak terlupakan tercatat dalam sebuah memory. Hal ini terlihat dalam setiap baitnya. Terlihat citraan di tiap baitnya yang menimbulkan kesan ekspresivitas yang sangat liris dan timbulnya angan yang sedih dan pesimistis. Citraan tersebut terlihat dari setiap pemilihan asonansi yaitu disetiap baitnya penyair menggunakan asonansi i dan a ini mungkin dimaksudkan agar pesan dari puisi Catatan Akhir Musim ini dapat terasa oleh pembaca. Jika dilihat asonansi i dan a ini dapat mewakili perasaan yang sedih. Gaya kalimat yang digunakan dalam puisi ini menggunakan gaya bahasa ironi di setiap baitnya. Hubungan antara struktur tanda dan makna itu tidak terpisahkan. Analisis struktural untuk melihat hubungan antar unsurnya, sedangkan penerangan semiotik untuk memberikan arti unsur-unsurnya BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan Dalam mengakaji sebuah karya sastra salah satunya puisi harus menggunakan metode yang dapat memperjelas unsur-unsur puisi yang merupakan satuan-satuan bermakna. Dengan demikian, puisi harus dianalisis strukturnya. Teori dan metode yang sesuai dengan hal tersebut adalah teori strukturalisme-semiotik.

Untuk dapat memberi makna puisi secara struktural semiotik, pertama kali dapat dilakukan dengan pembacaan heuristik dan hermeneutik (atau retroaktif). Dalam pembacaan heuristik ini, puisi dibaca berdasarkan struktur kebahasaanya. Dalam pembacaan hermeneutik ini puisi dibaca berdasarkan konvensi-konvensi sastra menurut system semiotik tingkat kedua. Konvensi sastra yang memberikan makna itu diantaranya konvensi ketaklangsungan ucapan (ekspresi) puisi. Dalam pemahaman sastra, khususnya puisi, teori strukturalisme dan semiotik itu tidak dapat dipisahkan. Hubungan antara struktur tanda dan makna itu tidak terpisahkan. Analisis struktural untuk melihat hubungan antar unsurnya, sedangkan penerangan semiotik untuk memberikan arti unsur-unsurnya DAFTAR PUSTAKA Pradopo, Rachmat Djoko. 1990. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Jabrohim, Drs. 2001. Metodelogi Penelitian Sastra. Yogyakarta: PT. Prasetia Widia Pratama. Supinah, Dra.Pien dan Drs. M.E Suhendar, M.PD. 1993. Pendekatan Teori Sejarah dan Apresiasi Sastra Indonesia. Bandung: Pionir Jaya.

KAJIAN UNSUR INTRINSIK PUISI DALAM ANTOLOGI PUISI HUJAN BULAN JUNI KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO UNTUK DIJADIKAN BAHAN MUSIKALISASI PUISI
KAJIAN UNSUR INTRINSIK PUISI DALAM ANTOLOGI PUISI HUJAN BULAN JUNI KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO UNTUK DIJADIKAN BAHAN MUSIKALISASI PUISI
(diajukan untuk pengajuan judul skripsi)

oleh Usman Nurdiansyah 056300 JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA Latar Belakan Penelitian Perkembangan dunia sastra khususnya puisi di Indonesian telah mengalami berbagai masa atau zamannya. Pada setiap zamannya puisi terlihat berbeda bila dilihat dari jenis atau bentuknya. Hal ini disebabkan oleh perkembangan zaman selama puisi itu tercipta melalui melalui proses kreatif penyairnya. Puisi secara harfiah dapat diartikan sebagai ungkapan batin seorang penyair melalui katakata yang dituangkan lewat tulisan dengan gaya dan ungkapan tertentu. Setiap gaya penyair dalam menciptakan karyanya berbeda satu sama lainnya. Oleh karena itu, di dalam memahami suatu karya sastra khususnya puisi kita dapat menyeragamkan makna yang terkait dalam puisi tersebut. Dalam hal ini tentunya kita tidak memahami sebuah puisi tanpa metode atau pendekatan terhadap puisi tersebut. Seiring berjalannya waktu dan zaman, apresiasi terhadap puisi yang diciptakan para penyair, mengalami perubahan bentuk dan jenisnya. Para penyair mencoba menciptakan rangruang baru terhadap apresiasi sebuah puisi. Tetapi apresiasi sebuah puisi diapresiasikan ke dalam bentuk dan media lain untuk dapat dinikmati masyarakat. Bentuk lain dalam apresiasi puisi dapat

kita jumpai di dalam seni pertunjukan, seperti dramatisasi puisi, baca puisi, dan musikalisasi puisi. Apresisasi yang disebutkan di atas merupakan proses kreatif seseorang terhadap karya sastra khususnya puisi. Tentunya bentuk lain dari apresiasi yang diciptakan oleh penyair dan musisi adalah bentuk mengembangkan apresiasi puisi di masyarakat agar dinikmati dan dipahami. Ada pun yang akan penulis teliti dari bentuk apresiasi di atas yaitu musikalisasi puisi. Muskilasiasi puisi merupakan salah satu jalan untuk mengapresiasikan sebuah puisi. Peranan musikalisasi puisi dalam sejarah sastra di Indonesia memiliki andil penting bagi perkembangan sastra khususnya puisi, tentunya akan tercapai jika pengenalan puisi itu sendiri menggunakan cara atau metode yang dapat diterima di masyarakat. Penulis memilih judul Kajuan Unsur Intrinsik Puisi dalam Antologi Puisi Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono Sebagai Bahan Musikalisasi Puisi berawal dari keingintahuan penulis tentang perkembangan kesusastraan Indonesia yang memiliki bentuk dan ruang yang baru. Dengan hadirnya musikalisasi puisi sebagai genre sastra Indonesia. Dan penulis akan meneliti sejauh mana proses penggarapan musiklaisasi puisi. Batasan Masalah Dalam penelitian ini penulis mebatasai masalah pada pendekatan kajian unsur intrinsik puisi dengan menggunakan teori struktural dan lainnya yang relevan. Rumusan Masalah Dari apa yang dipaparkan penulis sebelumnya, berikut penulis memaparkan rumusan masalah diantaranya sebagai berikut: Bagaimana unsur-sunsur intrinsik dalam puisi Hujan Bulan Juni karya sapardi Djoko Damono. Bagaimana kosep dan kriteria musikalisasi puisi. Apakah puisi yamg terdapat dalam antologi puis Hujan Bulan Juni karya sapardi Djoko Damono sesuai dengan konsep dan kriteria musikalisasi puisi. Tujuan penelitian

Tujuan penelitian tentunya sangat mendukung sekali dalm penulisan proposal ini, penulis mempunyai tujuan agar apa yang penulis maksud dapat tercapai. Ada pun penulis perinci sebagai berikut: Untuk mendapatkan gambaran tentang kriteria puisi yang tepat untuk

dimusikalisasikan. Untuk mengetahuai kesesuaian secara teoritik puisi Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono dan musikalisainya. Memantapkan teori musikalisasi puisi di Indonesia yamg masih minim. Manfaat penelitian Dengan tercapainya tujuan di atas, penulis mengharapkan penelitian ini memilki manfaat. Adapun manfaat yang akan penulis rinci mengenai musikalisasi ini diantaranya sebagai berikut: Sebagai penambah wawasan dan cakarawala pengetahuan bagi penulis, pembaca dan lembaga terkait. Sebagai penambah pembendaharaan di perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia khususnya Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni. Sebagai bahan masukan bagi mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni. Untuk kepentingnan pengembangan sastra Indonesia khususnya puisi di lembagalembaga terkait. Definisi Oprasional Kajian adalah hasil mengkaji sedangkan intrinsik adalah hasil mengkaji dengan menggunakan unsur-unsur yang ada dalam cerita. Antologi puisi adalah kumpulan-kumpulan puisi. Hujan Bulan Juni: sebuah judul antologi puisi karya Sapardi Djoko Damono tang sebagian puisi-puisi di dalamnya berhasil dimusikalisasikan.

Musikalisasi puisi: upaya untuk menonjolkan unsur musikal, sehingga sebagai karya sastra bebentuk puisi dapat lebih jelas. Atau untuk lebih jelasnya mengubah puisi menjadi lagu. Kajian Teori Puisi Pengertian puisi Dalam kamus istilah sastra, (1994:156), memaparkan makna puisi secara luas, seperti yang tertera di bawah ini: Ragam bahasa yang bahasanya terikat oleh irama dan tata puitika yang lain; (2) gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam akan kesadaran akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama dan makna khusus; (3) sajak (poezie, Belanda). Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, (1988:706), puisi dimaknai sebagai ragam bahasa yang bahasanya terikat oleh irama, mantra, rima, serta penyusunan bait dan larik. Unsur-unsur Pembangunan Puisi Bunyi Rachmat Djoko Pradopo, (1982:22), memaparkan tentang pengertian bunyi yang bersifat estetik, sebagaimana yang tertera di bawah ini: Dalam puisi yang bersifat estetik, merupakan unsur puisi untuk mendapatkan keindahan tenaga ekpresif. Bunyi ini erat hubungannya dengan anasir-anasir musik, misalnya: lagu, melodi, irama dan sebagainya. Bunyi di samping hiasan dalam puisi, juga mempunyai tugas yang lebih penting lagi, yaitu untuk memperdalam ucapan, menimbulkan rasa dan menimbulkan bayangan angan yang jelas, menimbulkan suasana yang khusus dan sebagainya. Atmazaki, (1993:77), menjelaskan tentang pentingnya keberadaan unsur bunyi

dalam sajak, sebagaimana dikemukakan di bawah ini: Bunyi adalah sesuatu yang sangat penting dalam sajak atau puisi karena bunyi efek dan kesan tersendiri. Ia memberikan penekanan, menyarankan makna dan suasana tertentu. Para pendengar sajak akan merasakan sesuatu yang mungkin tidak terdapat pada makna kata, tetapi disarankan oleh bunyi. Kata harimau mungkin tidak menakutkan. Tetapi bunyi aauuumm justru menimbulkan kengerian. Begitulah bunyi dalam sajak; ia justru menyemantikan bunyi itu walaupun secara fonologis ia tidak berbentuk kata. Slamet Muldjana, dalam Rachmat Djoko Pradopo, (1993:22), memaparkan tentang keberadaan puisi dalam teori simbolisme terdapat unsur intrinsik, sebagaimana dikemukakan di bawah: Dalam teori simbolisme, tugas puisi adalah mendekati kenyataan ini, dengan cara tidak usah memikirkan arti katanya, melainkan mengutamakan suara lagu, irama,dan rasa yang timbul karenanya dan tanggapan-tanggpan yang mungkin dibangkitkan. Baik dalam aliran simbolisme maupun romantik arti kata terdesak oleh bunyi atau suaranya. Dengan begitu kesusastraan telah kemasukan aliran seni musik. Sedangkan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, (1999:169), menjelaskan pengertian bunyi dalam arti luas diantaranya: Sesuatu yang kedengaran atau dapat didengar (bunyi bisanya dibedakan dengan suara; suara dihasilkan oleh manusia); misal,terdengar suara meriam berdentuman: sebagai bunyi burung tekukur; (2) laras atau nada (pada gamelan, alat musik atau sebagainya); misalkan terdengar gesekan-gesekan biola yang merdu-nya; (3) bagaikan suara yang dihasilkan oleh alat-alat bicara; misalnya, dalam bahasa Jepang n dan ng pada akhir kata, hampir tiada bedanya; (4) ucapan dari apa yang tertulis (surat, huruf, dan sebagainya); misal, bagaimana suara itu; huru ini bagaimana nya; artikel 15 begini nya; -bahasa, bagaimana bunyi yang dipakai dalam suatu bahasa; geser, bagaiman bunyi yang diadakan melalui celah yang sempit, sperti huruf , -janggal, bunyi yang tidak selaras (sumber, bercampur tak sedap didengar); -kembar, bagai dua bayi yang senyawa

yang diucapkan sebagai suatu bunyi, seperti au; diftong letus, bagai bunyi yang diadakan oleh udara melalui cekah tertutup lalu terbuka, seperti bunyi p; - sengau, bagaimana bunyi melalui hidung, seperti bunyi ng; huru-, vokal; serta bagai bunyi huruf mati seperti b, t, d, dan sebagainya; -konsonan; cina karam, bahasa percakap riuh rendah (ramai sekali, hiruk-pikuk; (bagai) siamang kenyang pr, banyak cakapnya dan sebagainya karena mendapat kesenangan; sebunyi: sama bunyinya; missal ~dengan keputusan menteri tanggal 15-6-54; kata ~, kata yang sama laalnya , tetap lain artinya; bunyi-bunyian; alat perkakas dipakai untik mengadalkan lagu seperti musik, gamelan dan sebagainya; berbunyi: (1) mengeluarkan bunyi: kalau tombol ini kau pijit, seketika itu juga ~bel itu; (2) lafalnya...; ucapannya...; misalnya, aturan pasal satu~ begini; membunyikan; (1) membuat (meniup, memukul dan sebagainya) supaya berbunyi: misalnya ~ gong; ~ suling; (2) menyebutkan (melafalkan, melisankan dan sebgainya) tulisan huruf dan sebagainya; misal huru I dalam bahasa Inggris dibunyikan ai. Ada beberapa macam bentuk bunyi yang sering muncul dalam sakjak atau puisi, diantaranya: Rima Atmazaki, (1993:80), memaparkan tentang pengertian rima, seperti yang dikemukakan di bawah ini: Rima adalah persamaan bunyi akhir kata. Bunyi itu berulang secar terpula dan biasanya terdapat di akhir sajak, tetapi kadang-kadang terdapat di awal atau di tengah baris. Oleh karena itu rima berkaitan dengan baris, maka rima sebuah sajak dilihat pada persamaan bunyi antara baris atau dengan baris yang lain. Dan dengan sendirinya pembicaraan rima terbatas pada sajak yang mengutamakan unsur formal sajak (bait dan baris). Rima ditandai dengan abjad, misalnya: ab-ab, cde-cde, a-a; bb dan lain-lain.penandaan selalu dimulai dengan huruf a, dan setiap bunyi berikutnya yang berbeda ditandai dengan urutan abjad: b, c, d, e, f dan seterusnya. Abrams, (1971:150), memaparkan tentang jenis rima, seperti yang tertera di bawah ini.

Bahwa rima menyangkut bunyi vokal huruf hidup yang diberi tekanan bunyi yang mengikuti vokal itu. Ia juga menyebutkan beberapa jenis rima, diantaranya: rima akhir end rymes adalah rima yang terdapat di akhir sajak. Sedangakan rima yang terdapat di dalam baris sajak internal rymes adalah rima yang terdapat di dalam baris sajak. Selanjutnya rima jantan masculine rymes, yaitu rima yang terdiri dari suku kata yang mendapat tekanan; sedangkan rima betina feminine rymes, adalah rima yang terdapat pada kata yang terdiri dari suku kata atau lebih, suku kata yang pertama mendapat tekanan. Rima betina yang tidak terdapat pada kata bersuku kedua tersebut double rymes. Keduanya dalam bahasa Indonesia disebut rima ganda. Rima akhir terdapat pada Sajak Putih, yaitu pandangan; pelangi-melati; senja-senda; tiba-jiwa; terbuka-luka; dan mengadahmembelah. Rima awal dan menengah. Aliterasi dan Asonansi Luxemburg, dalam Atmazaki, (1993:83), menjelaskan tentang fungsi aliterasi dan aonansi, seperti yang dipaparkan di bawah ini: Aliterasi atau asonansi berfungsi menentukan kesan tertentu atau style bagi seorang penyair. Di samping itu keduanya juga untuk memberikan hubungan tertentu terhadap kata-kata sebaris terlepas dari hubungan semantik biasanya dalam menentukan struktur irama sebuah baris serta tekanan tambahan terdapat kata-kata bersangkutan. Atmazaki, (1993:82), menjelaskan tentang aliterasi atau asonansi, seperti yang dikemukakan di bawah ini. Perasaan bunyi itu dapat berupa persamaan bunyi vokal, dapat pula berupa persamaan bunyi konsonan. Pengulangan bunyi dalam suatu rangkaian kata-kata yang berdekatan dalam satu baris berupa bunyi konsonan disebut alitersi; sedangkan yang berbunyi vokal tersebut asonansi. Keduanya baru disebut aspek bunyi yang penting dalam sajak, kalau keduanya muncul secar terpola dan dominan. Anafora Menurut Kridalaksana, (1985:10), menjelaskan anafora adalah pengulangan bunyi,

kata atau unsur sintaksis pada larik-larik atau kalimat-kalimat yang berurutan untuk memperoleh efek tertentu. Menurut atmazaki, (1993:86), menjelaskan penciptaan anafora bertujuan untuk mepertegas efek retorik dalam sajak, memberi penekanan bahwa yang diulang itu adalah suatu yang sangat penting dalam kaitan sajak. Onomatope Kridalaksana, (1982:116), Onomatope adalah penanaman benda atau perbuatan dengan peniruan bunyi yang diasosiasikan dengan benda atau benda itu, misalnya: berkokok, deru, desau, cicit, dengung, dan sebagainya. Atmazaki, (1993:88), memaparkan tentang onomatope dalam sebuah sajak, sebagaimana yang dikemukakan di bawah ini: Onomatope dalam sebuah sajak sangat berperan sabagi pemberi saran kepada makan yang sesungguhnya. Dengan kata-kata atau bunyi tersebut orang akan mengetahui apa atau perbuatan apa yang dimaksudkan dan memperjelas tanggapan terhadap suatu perbandingan tiruan bunyi itu sebenarnya juga perbandingan bunyi. Dalam kaitan ini, onomatope penting dan bermakna dalam sajak selalu dicari yang asing, yang tidak biasa dalam pengucapan bahasa biasa. Justru pada pengasingan ini sajak mendapat makna lebih sekedar arti biasa. Irama dan Metrum Atmazaki, (1993:93), memaparkan tentang pengertian irama dan metrum, seperti yang dikemukakan di bawah ini: Di samping irama, di dalam sajak dikenal pula apa yang disebut metrum. Sebenarnya metrum bagian dari irama. Apabila irama tersusun terjadi dari suatu perulangan unit-unit yang teratur, maka ia disebut metrum. Metrum bersandar atau tergantung suku-suku kata yang tidak bertekanan. Suku-suku kata itu muncul secara berpola dan berulang-ulang. Teeuwe, (1983:23), menjelaskan perbedaan kedudukan metrum dan irama dalam

sajak Indonesian dan barat, sebagaimana dikemukakan di bawah: Bahwa masalah irama belum ada yang tahan uji dalam bahasa Indonesia. Satuan yang merupakan larik dalam bahasa Indonesia adalah kata, sementara sajak Indonesia bersandar pada kata, makna metrum hanya terdapat dalam sajak barat, tidak dalam sajak bahasa Indonesia. Dalam sajak bahasa Indonesia, metrum hanya ciptaan penyair-penyair tertentu kemampuan penyair, bukan potensi satu dengan penyair yang lain. Kata Slamet Muldjana, dalam Rachmat Djoko Pradopo, (1987:48), memaparkan tentang pengertian kata, sebagaimana yang dikemukakan di bawah: Satuan arti yang menentukan struktur formal linguistik karya sastra adalah kata. Dalil seni sastra. J. Elema menyatakan bahwa puisi mempunyai nilai seni, bila pengalaman jiwa yang menjadi dasarnya dapat dijelmakan ke dalam kata. Kata yang digunakan penyair disebut kata berjiwa. Dalam kata berjiwa ini sudah dimasukan perasaan-perasaan penyair, sikap terhadap sesuatu.... Pengetahuan tentang kata jiwa disebut stilistika sedangkan pengetahuan kata-kata sebagai kesatuan yang satu lepas dari yang lain disebut leksikografi. Kata berjiwa sudah tetap artinya, sudah mengandung jilmaan rasa dan cipta rasa penciptaanya. Ada beberapa unsur kata yang terkandung dalam karya sastra, diantaranya: Kosa kata Pilihan kata Denotasi dan konotasi Bahasa kiasan Citraan Gaya bahasa dan sarana retorika

Factor ketatabahasaan Untuk lebih jelas lagi, di bawah ini penulis akan memaparkan tentang unsur-unsur kata sebagaimana yang tertera di atas. Kosa kata Atmazaki, (1993:31), memaparkan tentang pengertian kosa kata dan fungsinya sebagaimana yang tertera di bawah ini: Kosa kata adalah alat untuk berkomunikasi; untuk menyampaikkan pikiran dan perasaan; menguasai dunia; dan bahkan untuk berpikir sendiri. Kata adalah untuk memanggil yang gaib; untuk berdoa; wahyu diturunkan dengan kata; dan segala macam aspek kehidupan, mulai dengan meninabobokan anak sampai suatu yang filosofis, menggunakan kata. Implikasinya, kata tidak dapat tidak bermakna. Ia mesti mengemban arti tertentu meskipun ian dipermaiankan sehingga menimbulkan arti bahasa secara konvensional. Andaikan kata tidak mengemban arti tertentu, maka saat itu juga berhenti sebagai kata atau bahasa adalah dwi-tunggal bentuk arti form meaning. Hasanudin WS, (2002:98), menyimpulkan, bahwa kosa kata adalah sarana bahasa yang perhatian khusus oleh penyair, karena ia harus memlih kosa kata yang tepat untuk mewakili idenya. Pilihan kata Sudjiman, (1984:19), menjelaskan. bahwa kegiatan kata setepat mungkin untuk mengungkapkan gagasan disebut dengan diksi. Diksi yang baik berhubungan dengan pemilihan kata bermakna tepat dan selaras, yang penggunaannya cocok dengan pokok pembicaraan atau peristiwa. Barfield, dalam Rachmat Djoko Pradopo, (1987:58), mengemukakan, bahwa bila kata-kata dipilh dan disusun secara sedemikian rupa hingga artinya menimbulkan atau dimaksudkan menimbulkan imajinasi estetik, maka hasilnya itu disebut diksi puitis.

Denotasi dan Konotasi Altenbernd, dalam Rachmat Djoko Pradopo, (1987:58), menjelaskan, bahwa sebuah kata itu mempunyai aspek arti, yaitu denotasi, ialah arti tambahannya. Denotasi sebuah kata adalah definisi kamusnya, yaitu pengertian yang menunjukan benda atau hal yang diberi nama dengan kata itu, disebutkan atau diceritakan. Kridalaksana, (1982:32), menjelaskan pengertian denotasi dan konotasi di bawah ini. Dalam upaya memilih kata penyair, memanfaatkan kemungkinan-kemingkinan arti sebuah kata. Dalam hal ini dikenal dua macam arti penggunaannya cukup dominan: denotasi dan konotasi. Denotasi adalah makna atau kelompok kata yang didasarkan konversi tertentu; sifat objektif... sedangkan konotasi adalah yang bersifat subjektif konotasi adalah sebuah kata yang dapat berbeda bagi setiap orang; kata terbaring dapat berkonotasi tertidur lelap, tak berdaya dan mungkin juga mati. Bahasa Kiasan Atmazaki, (1993:49), memaparkan tentang pengertian bahwa bahasa kiasan atau majas, seperti yang dikemukakan di bawah ini: Bahasa kiasan atau majas figuratife languange' ternasuk pada ketidak langsungan ucapan berupa pengertian arti. Sebuah atau sekelompok kata menyandang arti denotasi tapi arti lain karena telah dimasuki unsur-unsur tertentu. Bahasa kiasan muncul sesuai kebiasaan suatu masyarakat. Oleh sebab itu, tidak ada sederetan bahasa kiasan untuk melukiskan suasana atau peristiwa tertentu, sehingga hal yang sama dilukiskan dengan majas yang berbeda oleh kelompok masyarakat yang berbeda pula. Rachmat Djoko Pradopo, (1987:61-62), memaparkan bahasa kiasan dalam sebuah puisi, sebagaimana dikemukakan di bawah ini: Unsur kepuitisan yang lain, untuk mendapatkan kepuitisan adalah bahasa kisan figuratife languange'. Adanya bahasa kiasan ini menyebabkan sajak menjadi menarik

perhatian, menimbulkan kesegaran, dan terutama menimbulkan kejelasan gambaran angan. Bahasa kiasan ini megiaskan atau mempersamakan suatu hal dengan hal lain supaya gambaran menjadi jelas, lebih menarik dan hidup. Alltenberend, dalam Rachmat Djoko Pradopo, (1987:79), mengatakan tentang jenis bahasa kiasan, sebagaimana yang dikemukakan di bawah ini: Bahasa kiasan ada bermacam-macam, mempunyai suatu hal (sifat) yang umum yaitu bahasa kiasan-kiasan tersebut mempertalikan suatu dengan cara menghubungkannya dengan suatu yang lain. Jenis-jenis bahasa kiasan tersebut adalah: Perbandingan (simile) Perumpamaan (epic simile) Metafora Personifikasi Metonimi Sinekdoki Alegori Citraan Rachmat Djoko Pradopo, (1987:79), mengatakan tentang arti citraan di dalam puisi, sebagaimana dikemukakan di bawah ini: Dalam puisi, memberi gambaran yang jelas, untuk menimbulkkan suasana yang khusus, untuk membuat (lebih) hidup gambaran dalam (pikiran), di sampimg alat kepuitisan yang lain. Gambaran-gambaran dalam sajak disebut citraan (imagery). Citraan ini adalah gambaran-gambaran dalam pikiran dan bahasa yang mengambarkannya.

Hasanudin WS, (2002:10), memaparkan tentang permasalahan citraan atau pengimajian dan jenisnya, sebagaimana yang dikemukakan di bawah ini: Pada hakikatnya, permasalahan citraan atau pengimajinasian masih berkaitan dengan diksi. Artinya, pemilihan terhadap kata tertentu akan menyebakan daya bayang pembaca terhadap suatu hal. Daya bayang (imaji) pembaca tersentuh, karena dari beberapa indera dipancing untuk segera membayangkan sesuatau leawat daya bayang yang dimilki pembaca. Daya bayang ini tentu saja tergantung kepada kemampuan masing-masing pembaca. Jenis citraan dapat dibagi ke dalam beberapa bentuk, diantaranya: Citraan penglihatan (visual imagery) Citraan pendengaran (auditory imagery) Citraan penciuman (smell imagery) Citraan rasaan (taste imagery) Citraan rebaan (tactile imagery) Citraan gerak (kinaesthetic imagery) Gaya Bahasa dan Sarana Retorika Slamet Muldjana, dalam Rachmat Djoko Pradopo, (1987:93), menjelaskan, bahwa cara menyampaikan pikitran atau perasaan atau pun maksud-massud lain menimbulkan bahasa. Gaya bahasa adalah suasana perkataan yang terjadi karena perkataan yang timbul atau hidup dalam hati penulis, yang menimbulkan sesuatu perasaan tertentu dalam hati pembaca. Alltenberend, dalam Rachmat Djoko Pradopo, (1987:93), mengatakan bahwa sarana retorika rerbagi dalam beberapa jenis, seperti yang dikemukakan di bawah ini: Corak-corak tau jenis-jenis sarana retorika setiap periode itu ditentukan atau sesuai dengan gaya sajaknya, aliran, paham, serta konvensi dan konsepsi estetikanya yang menghendaki keseimbangan yang simetris dan juga aliran romantik ang penuh

dengan perasaan. Maka sarana retorika yang dominan adalah tautology, pleonasme, keseimbangan retorika retisense, pararelisme, dan penjumlahan (eunumaresi). Sarana retorika yang tidak dapat dipergunakn dalam puisi-puisi pujangga baru, diantaranya: paradoks, hiperbola, pertanyaan retorik, klimaks, dan kiasmus. Di dala angkatan 45, sesuai denga aliran realisme dan ekpresianisme, banyak menggunakan sarana retorik yang bertujuan intensitas dan ekpresivitas. Sedangkan sajak-sajak berisi pemikiran atau filsafat banyak menggunakan sarana retorika, paradoks, dan kiasmus. Faktor Ketatabahasaan Abrams, (1971:133), memaparkan tentang kebebasan bersbahasa yang digunakan penyair, sebagiamana dikemukakan di bawah: Licentia, poetica atau poetic licence diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi kebebasan sastrawan, terutama penyair. Kebebasan itu diartikan sebagai kebebasan yang deberikan kepada sastrawan untuk memanipulasai penggunaan bahasa untuk menimbulkan efek tertentu ke dalam karyanya. Kebebasan itu misalnya dalam menciptakan anakronisme, sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan. Dengan anakronisme, sastrawam melukiskan seolah-olah memang pernah terjadi, padahal kalu dilihat memlaui sejarah, sesuatu itu tidak ada. Umpamanya dalam naskah drama Julius Ceasar tertulis ungkapan jam untuk menunjuk waktu, padahal waktu itu sewaktu kaisar Julius Ceasar masih hidup- jam belum ada. Muskalisasai Puisi 2.1 Definisi Musikalisasi Puisi Lukman Hakim, (1996:63), menjelaskan tentang pengertian musikalisasi puisi, seperti yang dikemukakan di bawah ini: Musikalisasi puisi upaya untuk menonjolkan unsur musikal, sehingga sebagai karya sastra bebentuk puisi dapat lebih jelas lagi di depan khalayaknya, jadi unsure

musikal merupakan jembatan bagi khalayak untuk berhubungan dengan sajak. Dedi S. Putra, dala Fredie, (1996:14), berpendapat tentang pengertian musikalisasi puisi yang dikemukakan di bawah ini: Musikalisasi puisi sebagai bentuk apresiasai puisi adalah: ungkapan musikal: instrument, melodi, dan nyayian ucapan. Nuansa makna kata; ekplisit dan implisit. Penghayatan menjadikan puisi mendapat kemampuan ekstra untuk berkomunikasi karena pencarian yang diciptakan. Andrie S. Putra, dalam Fredie, (1996:16), mengatakan bahwa musikalsasi puisi adalah satu bentuk ekpresi sastra, puisi dengan melibatkan beberapa unsur seni, seperti: irama, bunyi, (musik), gerak (tari). Antilan Purba, (1998:4), menjelaskan bahwa musikalisasi puisi adalah mengubah puisi menjadi lagu. Sedangkan menurut Brani Nasution, (2004:4), menjelaskan bahwa musikalisasi puisi adalah memusikan atau mengubah citra puitik menjadi musikal dari sebuah puisi. Agus S Sarjono, (2004:1), menjelaskan pengertian musikaslisasi puisi sebagi berikut: musikalisasi puisi adalah mengubah musiklaitas pada puisi menjadi lebih tersa, menjadi suatu music yang bias didengar. Fikar W Eda, (2004:1), memaparkan tentang pemahaman musikalisasi puisi sebagai berikut: Karya sastra pada dasarnya memerlukan ekpresi. Biasanya sastra dibaca, namun adapula diekpresikan dalam bentuk seni rupa. Musikalisasi puisi ini merupakan salah satu bentuk ekpresi yang lain, yakni menggunakan unsur-unsur bunyi yang lebih kuat untuk mengekpresikan puisi. Kalau selama ini puisi dibaca secara oral, musikalisasi puisi ini merupakan salah satu bentuk ekpresi yang lain, yang disampaikan dengan menggunakan medium musik/instrumens musikalisasi adalah adalah salah satu bentuk ekpresi alternative yang sangat bagus untuk memahami karya sastra.

Dalam Kamus Kta-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia, (2003:237), dijelaskan, bahwa musikalisasi puisi adalah hal untuk menjadikan agar bersifat musik. 2.2 Komponen-komponen Musikalisasi Puisi Di dalam muskalisasi puisi juga terdapat komponen-komponen, hanya saja sebagian komponen terdapat juga di dalam unsur intrinsik. Tetapai ada komponen yang tidak terlupakan di dalam musikalisasi puisi yakni musik. Berikut definisi musik seagaimana dipaparkan di bawah: Musik Menurut ensiklopedi Nasional Indonesia, (1990:412), dijelaskan bahwa musik adalah sebuah letusan ekpresi perasaan atau pikiran yang dikeluarkan secara teratur dalam bentuk bunyi. Remi Silado, dalam Sadewa, (2001:1), mengatakan secara etimologi, sebagaimana yang dikemukakan di bawah: Musical barasal dari bahasa Yunani Ousike yang diambil dari mitologi Yunani kono, mousa, yang memimpin seni dan ilmu mousa ini adalah Sembilan dewi yang menguasai ilmu-ilmu seni dan ilmu pengetahuan. Kesembilan dewi ini adalah Clio, Thalia, Melponeme, Theirpichore, Erato, Polyhymnia, Caliope, Urania, dan Utrpe. Jhone Tasker Howard and James Lyons, dalam Ben M. Pasaribu, (2001:1), menjelaskan music however, is a living language; or rather, good music is artinya, musik adalah bahasa yang hidup, bahkan musik yang baik adalah bahasanya yang hidup. Menurut Ben M. Pasaribu, (2001:1), memaparkan tentang pengertian musik yang berkaitan dengan bahasa, sebagaimana diekemukakan di bawah. Sebagaimana bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan isi hatinya dan persaan kepada orang lain, demikian musik sebagai alat untuk memanifestasikan isi hatinya... musik adalah bahasa yang dimusikan atau dinyanyikan. Musik atau lagu memang dirangkai dari

nada-nada, tetapi jika nada-nada yang dipakai itu memberikan gagasan yang bermakna barulah dapat dikatakan musik. Maka musik adalah rangkaian nada-nada yang memberikan gagasan atau ide. Metode penelitian Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, (1990:581), metode penelitian adalah cara mencari kebenaran dan azas-azs gejala alam, masyarakat, berdasarkan pilihan ilmu yang bersangkutan. Dalam hal ini Fuad Hasan, (1985:7), berpendapat bahwa: Metode adalah cara atau jalan. Dalam konteks ilmiah netode adalah cara kerja untuk memahami objek yang menjadi saran ilmu tertentu. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa metode penelitian merupakan sisitematis untuk melakukakn penelitian, maka penelitian yang akan direncanakan akan tersususn sevara sempurna sesuai rumusan-rumusan yang telah ada. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif analisis yaitu metode yang delakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusun dengan analisis. Sumber Data Sember data dari penelitian ini terdiri dari dua jenis, yaitu data premier dan sekunder. Data sekunder diperoleh dari literatur yang berisi pendapat para ahli yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti. Sedangkan data premier diperoleh dari angket pertanyaan dan karya dalam bentuk kaset dan teks puisi. Alat Pengumpulan Data Data adalah bagian terpenting dari suati penelitian, kerena data inilah yang diolah, dianalisis untuk mendapatkan hasil penelitian. Sedangkan dalam pengumpulan data, tentunya alat sangat penting untuk kelangsungan sebuah penelitian. Ada pun alat yang dipakai untuk mengumpulkan dat. Dalam pengumpulan ini penulis sendiri dengan menggunakan alat bantu berupa lembaran angket, telepon, dan keset. Teknik Pengolahan Data

Teknik pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Mendata pendapat tentang musikalisasi puisi. Mengelompokan informasi tentang proses penggarapan secara sistemastis. Mengumpulkan data dan menganalisis tentang penggarapan musikalisasi puisi. Kajian Analisis Dari teori yang dipaparkan di atas, penuslis mencoba menganalisis unsur-unsur intrinsik puisi-puisi yang terdapat di dalam antologi puisi Hujan Bulan Jun: karya Sapardi Djoko Damono yang sudah dimusikalisasikan. Berikut sebagian uaraian judul puisi yang terdapat di dalam antologi puisi Hujan Bulan Jun yang sudah dimusikalisasikan: Hujan Bulan Juni Pada Suatu Hari Nanti Aku Ingin Analisis antologi puisi Hujan Bulan Juni khususnya puisi-puisi yang sudah

dimusikalisasikan Sebagaimana teori tentang puisi dan musikalisasi puisi yang dipaparkan sebelumnya. Berikut ii analisis puisi Hujan Bulan Juni.
Hujan Bulan Juni Tak ada yang lebih tabah Dari hujan bulan juni Dirahasiakannya rintik rindunya Tak ada yang lebih bijak Dari hujan bulan juni Dihapusnya jejak-jejak kakinya Yang ragu-ragu di jalan itu Tak ada yang lebih arif

Dari hujan bulan juni Dibiarkannya yang tak terucapkan Diserap akar pohon bunga itu (1989) a. Bunyi

Unsur bunyi dalam puisi, pada umumnya dapat diklasifikasikan sebagi berikut. Dilihat dari segi bunyi itu sendiri dikenal adanya sajak sempurna, sajak paruh, aliterasi, dan asonansi. Dari posisi kata yang mendukungnya dikenal adanya sajak awal, sajak tengah, (sajak dalam), dan sajak akhir. Berdasarkan hubungan antar baris tiap bait dikenal adanya sajak merata (terus), sajak berselang, sajak berangkai, dan sajak berpeluk. Kadang-kadang berbagai macam perulangan bunyi (persajakan) tersebut dapat ditemukan dalam sebuah puisi. b. Rima Penulis sudah memeparkan tentang pengertian rima. Namun rima yang terdapat dalam atntologi puisi Hujan Bulan Juni terdapat di dalam judul puisi Pada Suatu Hari Nani.
Pada Suatu Hari Nati Pada suatu hari nanti a Jasadku tak ada lagi a Tapi dalam bait-bait sajak ini a Kau tak akan kurelakakn sendiri a Pada suatu hari nanti a Suaraku tak terdengar lagi a Tapi diantara larik-larik sajak ini a Kau akan tetap kusiasati Pada suatu hari nanti a Impianku tak dikenal lagi a Namun di sela-sela huruf sajak ini a

Kau takkan letih-letihnya kucari a

Rima yang terdapat puisi di atas adalah a-a-a-a. Tapi bukan berarti puisi yang tidak ada rimanya tidak dapat dimusikalisasikan. Hanya saja bangaimana kita mengekplor puisi ke dalam bentuk lagu atau musik sehingga puisi tetap utuh atau tidak merusak estetika puisi tersebut. c. Anafora Anafora pada puisi Hujan Bulan Juni sangat tampak dan dominan. Dalam puisi tersebut banyak menggunakan pengulangan kata, misal pada baris pertama, kedua, dan ketiga menggunakan lari-larik serupa seperti pada kutipan sajak berikut ini: / tak ada yang lebih tabah/dari hujan bulan juni (bait pertama), /tak ada yang lebih bijak / dari hujan bulan juni (bait kedua), / tak ada yang lebih arif/ dari hujan bulan juni (bait ketiga). d. Metafora Metafora ini bahasa kiasan seperti perbandingan, hanya tida mempergunakan kata-kata perbandingan, seperti bagai, laksana, seperti, dan sebagainya. Seperti yang terdapat di dalam judul puisi Aku Ingi Sapardi Djoko Damono.
Aku ingin Aku ingin mencintaimu dengan sederhana Dengan kata yang tak sempat diucapkan Kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Dalam sajak di atas menjelaskan bahwa cara untuk mencintai doiwujudkan dengan kata yang tak sempat diucapkan ........begitu juga dengan bait kedua. Tetapi setelah kata /sederhana/tidak menggunakan kata seperti, bagai, laksana, dan lain-lain. Melainkan menggunakan kata/dengan/. Hubungan metafora dengan musikaliasai puisi sangat penting karena objek

musikalisasi puisi yaitu puisi itu sendiri. e. Denotasi dan Konotasi Sebuah kata itu mempunyai dua aspek arti, yaitu denotasi, ialah artinya yang menunjuk dan konotasi, yaitu artinya tambahan. Denotasi sebuah kata adalah definisi kamusnya, yaitu pengertian yang menunjuk benda atau hal yang laindiberi nam kata itu, disebutkan atau diceritakan. Bahasa yang denotative adalah bahasa yang menunjuk kepada korespondensi satu lawan satu antara tanda (kata itu) dengan (hal) yang ditunjuk. Seperti tang terdapat dalam judul puisi Pada Suatu Hari Nanti/tapi dalam bait-bait sajak ini/kau tak akan kurelakan sendiri. Dalam puisi tersebut kata sajak dijadikan pegangan kalau saja sajak bisa membuat orang berarti. f. Diksi Barfield mengemukakan bila kata-kata dipilh dan disusun dengan cara yang sedemikan rupa hingga artinya menimbulkan atau dimaksudkan untuk menimbulkan imajinasi estetik, maka hasilnya itu disebut diksi puitis. Jadi, diksi itu untuk mendapatkan kepuitisan, untuk mendapatkan nilai estetik. Untuk ketepatan pemilihan kata seringkali penyair menggantikan kata yang dipergunakan berkali-kali, yang dirasa belum tepat, bahkan meskipun sajaknya telah dipublikasikan, sering kali diubah kata-katanya untuk ketepatan dan kepadatannya. Bahkan ada baris atai kalimat yang diubah susunannya atau dihilangkan. Seperti halnya di dalam puisi Aku Ingin, pemilihan kata yang sangat tepat sebagaimana dalam penggalan puisi Aku Ingin/aku ngin mencintaimu dengan sederhana/, mungkin kata tersebut sangat sederhana, namun dengan menambahkan dengan/kata yang tak sempat diucapkan/kayu kepada api yang menjadikannya abu. Puisi tersebut menjadi bermakna, yang biasanya sesuatu yang diucapkan itu keluar dari mulut, tapi dalam puisi tersebut menggunakan kayu sebagai media untik menyampaikan pesan. DAFTAR PUSTAKA Abrams, M.H. 1997. A Glossary of Literari Terms. New York: Holt Rinegert and Winston, Inc.

Atmazaki, 1993, Analisis Sajak. Bandung : Angkasa. Atmazaki, dan WS, Hasanudin. 1990. Pembaca Karya Sastra Sebagai Karya Seni Pertunjukan. Padang : Angkasa Raya. Arsi, Fredi. 1996. Proses Musikalisasi Deavies Sanggar Matahari. Jakarta : Balai Pustaka. Badudu, J.S. 2003. Kamus Kata-kata Serapan Asing Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta : Kompas Djoko Pradopo, Rachmat. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta : Gajah Mada University Press Eda, Fikar W. 2004. Musikalisasi Puisi, Ekpresi Alternatif Memahami Sastra. Jakarta : Kompas Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1990. Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve. Kridalaksana Harimurty. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta : Dian Rakyat. Luxemburg, Jan Van dkk. 1989. Dalam Akhdat Ikhram. Tentang Sastra. Jakarta : Internusa. Nasution, Barani. Musikaliasasi Puisi Itu. Dalam Drap 30 November 2000, Medan. Hal. 4. Passaribu, Ben M. 2000. Pendidikan Seni Musik. Medan : FBS Unimed. Purba, Antilan. Musikalisasi Itu Apa?. Dalam Persada 30 Juni-6 Juli 1998, Medan, Hal, 5. Putra, Andris, 2004. Musikalisasi Puisi Bisa Jadi Genre Yang Berwibawa. Jakarta : Balai Pustaka. Sudjiman, P. 1990. Kamus Istilah Sastra. UI. Press : Jakarta. Sarjono, Agus R. 2004. Musikalisasi Puisi Bisa Jadi Genre Yang Berwibawa. Jakarta : Kompas Sutajaya, 2005. Proses Penggarapan Musikalisasi Puisi Sebagai Bentuk Kreativitas Sastra Oleh Kelompok Bimbo Dan Deavies Sanggar Matahari. Medan : Skripsi. Teewe, A. 1984. Tergantung Pada Kata. Jakarta : Pustaka Jaya
LAMPIRAN PUISI BULAN LUKA PARAH KARYA HUSNI DJAMALUDIN Bulan Luka Parah bulan luka parah

karena laut kehilangan ombak bulan luka parah karena ombak kehilangan laut bulan luka parah darahnya tumpah ke dalam laut yang kehilangan ombak bulan luka parah darahnya tumpah jadi ombak yang kehilangan lau

Tentang pengarang Penulis ini dilahirkan di Tinambung, Mandar (Sulawesi Utara), tanggal 10 November 1943. Walaupun menulis puisi dilakukannya sejak SMP, tetapi ia mulai serius menulis puisi ketika berusia 35 tahun. Ia jiga aktif dalam kewartawanan. Ia pernah menjadi sekrtaris PWI cabang Makassar. Husni Djamaludin tercatat sebagai seorang pendiri Dewan Kesenian Makasar dan menjabat sebagai Wakil Ketua Kesenian Makassar. Tahin 1981 mengikuti Asian Writers Converence yang diselenggarakan oleh PEN Internasional di Manila, Filipina. Kumpulan sajaknya, puisi akhir tahun (1969), Obsesi (1970), Kau dan Aku (1973), Anu (1974), Toraja (1979), dan Bulan Buka Parah (1986), dan Berenang-renang Ketepian (1987). Sajak-sajaknya yang lain dimuat dalam Sajak-sajak Dari Makasar(kumpulan sajak bersama Rahmat Arge dan lain-lain, (1974) dan puisi ASEAN (Buku III, 1978).

Analisis puisi BULAN LUKA PARAH KARYA HUSNI DJAMALUDIN 1. Diksi yang Eksotis Analisis stilistika dalam puisi Bulan Luka Parah memperlihatkan pemilihan kata kiasan alam yang eksotis. Hal ini merupakan bukti kontemplasi penyair terhadap alam sekitarnya yang bersentuhan dengan kreatif dan imaji penyair. Penggunaaan kata-kata kiasan alam cukup efektif dan efisien untuk memberikan imaji atau pembayangan yang timbul terhadap puisi, karena juga dilengkapi pemakaian simbol atau perlambang yang dinyatakan dengan bahasa kiasan; metafora, personifikasi, dll sehingga menimbulkan puisi yang lebih berjiwa dan hidup.

Diksi yang membangun puisi bulan Luka Parah sebagian besar merupakan bahasabahasa kiasan, sehingga sangat sulit sekali dipahami maknanya. Inilah yang menjadi sisi menarik dari puisi ini walaupun terkesan membingungkan dan semuanya merupakan bahasa kias, tetapi pembaca diajak untuk menjelajah alam untuk menemukan amanat dari puisi ini. Bulan Luka Parah bulan luka parah karena laut kehilangan ombak bulan luka parah karena ombak kehilangan laut bulan luka parah darahnya tumpah ke dalam laut yang kehilangan ombak bulan luka parah darahnya tumpah jadi ombak yang kehilangan laut Dalam upaya untuk mempercantik puisi, penyair melakukan jalinan antar bait yang cukup rapat dan semuanya menggunakan bahasa kias. Hal menarik juga tergambarkan dalam judul puisi ini, yaitu Bulan Luka Parah. Kata bulan merupakan wujud pencitraan penglihatan penyair. Yang dimaksud dengan bulan dalam kalimat tersebut belum bisa kita artikan secara ekplisit bahwa bulan adalah objek yang ingin diceritakan oleh penyair. Bisa saja penyair ingin menyembunyikan sesuatu yang indah yang ingin diungkapkannya dengan perwujudan kata bulan. Mengapa? Bisa jadi karena bulan tentunya mengajak pembaca kepada keindahan malam yang diterangi cahaya bulan cukup tenang dan mengalir, sehingga pembaca sangat santai untuk memasuki pesan yang ingin disampaikan penyair. Selanjutnya, terjalin sebuah kalimat Bulan Luka Parah, sebuah kiasan yang cukup indah karena hanya makhluk hidup saja yang bisa mengalami luka, sedangkan bulan bukan merupakan makhluk hidup. Pilihan kata ini cukup eksotis dalam membangun sebuah puisi yang penuh dengan ambiguitas. Puisi ini terdiri dari enam bait, dan tiap baitnya terdiri dari dua baris. Tiap-tiap baris dalam tiap baitnya tidak memakai penulisan huruf kapital yang biasa digunakan pada awal kalimat. Hal ini, merupakan ciri khas Husni Djamaludin dalam sebagian besar karyanya, yang banyak sekali terdapat dalam puisinya. Salah satu contohnya terdapat dalam puisi Kau, aku dan waktu. Kau, aku dan waktu kalau waktu bergerak karena jam berdetak di manakah kau kalau jam berdetak karena waktu bergerak di manakah kau

(Kau, aku dan waktu dalam kumpulan puisi Bulan Luka Parah ) Bentuk puisi Bulan Luka Parah, dengan ciri-ciri di atas merupakan bentuk puisi yang tidak umum. Kalimat bulan Luka Parah mengalami pengulangan kalimat di bait ke I, II, III dan V. Dalam hal ini penyair ingin menekankan Bulan Luka Parah menjadi inti dari puisi tersebut. Selanjutnya, dengan pengulangan kalimat seperti itu; bait dan bait menjadi kesatuan kalimat yang cukup menarik bisa kita lihat jika bait I dan II digabungkan menjadi; bulan luka parah karena laut kehilangan ombak bulan luka parah karena ombak kehilangan laut Kata laut dan ombak ditulis penyair saling melengkapi satu sama lain untuk menggambarkan bulan telah mengalami luka parah, sehingga terjalin keserasian cukup indah dengan bahasa kias; bulan luka parah; laut kehilangan ombak; ombak kehilangan laut. Pada kalimat tersebut juga terdapat pengulangan yang tidak sempurna dan mempunyai rima dan pola yang hampir sama di setiap baitnya. Upaya ini dilakukan penyair untuk membangun sebuah kekuatan diksi dan kesatuan antar bait yang cukup rapat. Dengan demikian, kalimat-kalimat antar bait terasa cukup efektif dan eksotis. Hal yang demikian juga terdapat dalam bait III, IV, V dan VI. Kesamaan irama menjadikan korespondesi sintatik yang cukup indah. Bulan luka parah/darahnya tumpah/(bait III), ke dalam laut/yang kehilangan ombak (bait IV), bulan luka parah/darahnya tumpah (bait ke V), jadi ombak yang kehilangan laut (Bait VI). Di sini terlihat kepiawaian penyair dalam merangkai bait dengan bait dengan pengulangan kata yang tepat, sehingga makna sepenuhnya tidak serta-merta dapat ditemukan, dan terdapat pula unsur musikalitas yang cukup baik, serta korespondensi yang indah. Selain apa yang telah disebutkan di atas, ternyata terdapat juga gaya bahasa metafora yang cukup indah yang menumbuhkan imajinasi pembaca kepada hal yang diacu. Kata-kata bulan luka parah seakan-akan menghidupkan bulan yang merupakan benda mati. Di sini terdapat imajinasi bahwa bulan seakan-akan bisa mengalami luka, dan hal ini merupakan bahasa personifikasi karena tidak mungkin bulan luka parah. Namun dikatakan bulan luka parah, dan ditambahkan pula dengan darahnya tumpah. Dengan menambahkan perkataan darahnya tumpah, maka seluruh untaian kata itu seakan benar-benar hidup. Di baris selanjutnya, laut kehilangan ombak dan ombak kehilangan laut. Pada baris ini pembaca cukup menikmati jalinan gaya bahasa personifikasi tersebut; emosi pembaca terbawa kepada suasana bulan, laut dan ombak. Bulan, Laut, dan Ombak inilah yang dimaksud sebagai eksotisme kiasan alam pada analisis kali ini 2. Bulan Luka Parah dalam ambiguitas makna Keutuhan makna yang terkandung di dalam puisi ini dibentuk oleh diksi yang digunakan oleh penyair. Kata-kata Bulan Luka Parah merupakan kata-kata eksotis

yang dapat mengembangkan imaji pembaca dan larut dalam sebuah makna figuratif yang ingin disampaikan penyair. Di baris selanjutnya, karena laut kehilangan ombak dimunculkan oleh penyair. Jadi, penyair ingin membawa kita ke dalam suasana keindahan laut yang seakan-akan telah hilang keindahannya, sehingga imaji pembaca yang sudah berkembang dengan kalimat bulan luka parah semakin berintuisi pula dengan kalimat karena laut kehilangan ombak. Pada bait ke II, Bulan luka parah/karena ombak kehilangan laut. Irama ini sama dengan irama pada bait pertama, hanya diksinya yang dibalik. Jika di Bait ke I karena laut kehilangan ombak, maka di bait ke II karena ombak kehilangan laut. Secara keseluruhan irama puisi pada bait ke I dan ke II ini mudah untuk dibaca, tetapi makna yang terkandung di dalamnya sulit dimengerti. Puisi ini dapat dimengerti keutuhan maknanya jika dibaca secara menyeluruh agar kita dapat menemukan makna yang terkandung di dalam puisi ini. Pada bait ke III, Bulan luka parah/darahnya tumpah, terjadi perubahan kata dan irama dengan bait ke IV. Pada dua bait ini sangat berbeda iramanya dengan bait pertama dan kedua karena makna yang terkandung jauh lebih dalam. Penyair mampu menyeimbangkan irama pada bait ke III dan ke IV sehingga makna yang terkandung jauh lebih dalam, membawa pembaca meresapi dan mendalami makna yang sebenarnya. Penyair dapat menghadirkan penjelasan kata yang terperinci dengan gaya bahasa personifikasi yang terfokus. Pada bait ke IV, merupakan penjelasan dari bait ke III; pemakaian diksi yang lebih dalam dan fokus pada objek yang di tuju yaitu ke dalam laut/yang kehilangan ombak. Pada bait ini penyair ingin membawa pembaca menelusuri lebih dalam makna yang terkandung dalam tiap diksinya. Hal yang demikian memberikan kita (pembaca) memahami tiap-tiap baitnya dengan jelas, karena memang puisinya ini dalam tiap bait memiliki irama yang sama dan mengandung satu kesatuan penuh serta memiliki pararelisme makna yang padat. Keadaan demikian juga terjadi pada bait ke V. Pada bait ini terjadi lagi pengulangan irama dan kata-kata yang sama pada bait ke III, Bulan luka parah/ darahnya tumpah. Penyair kembali menggunakan kata-kata yang sama untuk menjelaskan lebih lanjut pada bait ke VI. Pada bait V penyair seolah kehilangan ungkapan lain yang akan disampaikan ke pembaca. Pada bait ke VI, melalui kata-kata Jadi ombak/yang kehilangan laut, penyair lebih mempertajam makna yang sudah dijelaskan sebelumnya sehingga semakin dalam pula makna yang terkandung dalam puisi ini. Dari puisi Bulan Luka Parah dapat ditafsirkan makna yang terkandung yaitu keadaan hati seorang perempuan yang terluka karena___ bisa jadi___perempuan itu kehilangan belahan hatinya yang dia sayangi. Bisa juga karena ditinggal pergi untuk selamanya atau pula perasaan sakit karena dikhianati kekasihnya. Bisa saja subjek Aku disembunyikan oleh penyair agar pembaca semakin penasaran dibuatnya. Ini terlihat jelas dalam kalimat Bulan luka parah/karena laut kehilangan ombak Keutuhan makna ditopang oleh kekuatan gaya bahasa yang digunakan penyair yaitu gaya personifikasi dan simbolik. Kata-kata Bulan luka parah seolah itu digambarkan sebagai seorang perempuan. Kata-kata Bulan luka parah diulang sebanyak empat

kali dalam puisi ini. Hal ini dapat memperjelas bahwa penyair ingin terus memperlihatkan bahwa bulan merupakan suatu subjek. Penyair juga menggunakan kata penghubung karena untuk menghidupkan lukisan alam yang eksotis yang dikatakan melalui ombak dan laut; suatu pasangan diksi yang sangat tepat. Dengan mengulang kata-kata darahnya tumpah pada akhir bait ke III dan V menjadikan seluruh rangkaian kata itu sangat berfungsi menghidupkan realita melalui gaya bahasa personifikasi, lalu menonjolkan irama puitik pada seluruh rangkaian ungkapan itu. Pengaturan baris pada puisi ini menjorok ke luar yaitu pada bait ke I, II, III, dan V, sedangkan pada bait ke IV dan VI menjorok ke dalam sesuai dengan kata-kata ke dalam laut dan kata-kata jadi ombak. Perbandingannya adalah empat bait menjorok ke luar dan dua bait menjorok ke dalam. Ini menunjukkan sejauh mana kedalaman laut itu atau kedalaman hati seorang perempuan itu sendiri. Jika tafsiran ini dapat diterima, maka ungkapan dibalik bentuk yang seperti ini kurang lebih adalah sebuah perasaan hati seorang wanita yang ditinggalkan oleh seseorang yang dia sayangi baik itu untuk selamanya (meninggal) atau dia sendiri ditinggalkan begitu saja oleh seorang laki-laki yang disayanginya. Kesedihannya menjadi-jadi dengan digambarkan melalui darahnya tumpah. Di akhir puisi ditutup dengan kalimat penutup jadi ombak yang kehilangan laut. Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa penyair ingin menyampaikan puisinya dengan menggambarkan eksotisme alam secara dalam dan lebih menyelami ke dasarnya. Sebuah hal yang wajar karena Husni Djamaludin lahir dan dibesarkan di Sulawesi, pulau yang terkenal dengan keindahan laut. Tak ayal, banyak puisinya menggambarkan alam, salah satu contohnya adalah Laut (6), merupakan puisi metafora laut sebagai orang yang sedang melaksanakan ibadah shalat.

Laut (6) laut yang diam laut dalam hening takbiratul ihram laut yang bergelombang laut yang sedang rukuk sembahyang gerak-gerik ombak yang tak henti menghempas di pantai gerak-gerik abadi laut yang bersujud Di dalam pengaturan baris, penyair menempatkan bait sesuai pada konteks kalimat, sekaligus memperdalam makna yang ingin disampaikan. Gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa yang penuh dengan kiasan makna

DAFTAR PUSTAKA Darma, B. 1982. Moral dalam sastra. Basis 31(2), Februari: 4270. 1990. Perihal studi sastra. Basis 39(8): 337348. Purba Antilan. 2009. Stilistika Sastra Indonesia. Medan : USU press Hassanuddin.Ensiklopedia Sastra Indonesia. 2004. Bandung: Titian