Anda di halaman 1dari 8

William Arthur Brownell adalah tokoh besar dalam matematika pendidikan di awal abad duapuluh.

Brownell lahir pada tanggal 19 Mei 1895 di Smethport Pennsylvania, dan wafat pada tanggal 24 mei 1977. Ia menyelesaikan sekolah dasar dan menengahnya di Smethport dan kemudian melanjutkan pendidikannya di Ailegheni College, di mana mendapatkan gelar A.B. pada tahun 1917. Setelah lulus, dia kembali ke kampung halamannya untuk mengajar di sekolah menengah setempat selama empat tahun. Lalu ia pergi ke Illinois untuk mulai mengerjakan program pascasarjananya di pendidikan psikologi di universitas Chicago Di Chicago. Di Chicago, Brownell berada di bawah pengaruh Charles Hubbard Judd, seorang yang berkuliah juga di psikologi pendidikan yang menekankan pentingnya makna dan pemahaman. berbeda dengan pandangan EL Thorndike yang populer pada waktu itu. Thesis yang ditulis oleh Brownell, The development of childrens Number Ideas in Primary Grade, ditulis di bawah arahan

Judd dan kemudian diterbitkan sebagai University of Chicago Supplementary Educational Monograph No. 35 pada tahun 1928. Thesis Brownell ini diperluas dengan beberapa ide Judd, tapi sebenarnya itu berasal dari hasil kerja Brownell dengan masing-masing anak- Sebuah tanda dari studi penelitian yang dilakukannya selama empat dekade berikutnya. Brownell menerima A.M (Artium Magister)- nya pada tahun 1923 dan gelar Ph. D (Doctor of Philosophy) di 1926 dari University of Chicago. Pada tahun 1942 ia dianugerahi LL.D. (gelar kehormatan yang diberikan kepada orang dengan persyaratan tertentu dari universitas atau institusi) oleh almamaternya, Allegheny College. Dia mengajar di perguruan tinggi banyak dan universitas, termasuk University of Illinois Universitas Cornell University atau Michigan. George Peabody College untuk Guru, dan Northwestern University . Dia paling dikenal. Namun untuk asosiasi keinginannya dua lembaga: Duke University dan University of California di Berkeleys.

Brownell adalah profesor pendidikan di Duke selama 19 tahun - 1930-1949. Dia adalah Ketua Departemen atau Pendidikan untuk dua terakhir atau tahun ia mengajar. Duke adalah tempat penelitian yang paling produktif, termasuk dalam seri klasik monograf untuk Duke Studi Penelitian Universitas Pendidikan. Ketika di Duke, ia juga mulai menulis seri buku pelajaran aritmatika (Daily Life Arithmetics, and leter Living Arithmetics and Arithmetic We Need -- Semua diterbitkan oleh Ginn & Co) temuan penelitian dan wawasan teoritis ke dalam kegiatan praktis untuk kelas, yang kemudian diterjemahkan. Teori belajar William Brownel didasarkan atas keyakinan bahwa anak-anak pasti memahami apa yang sedang mereka pelajari jika belajar secara permanen atau secara terus-menerus untuk waktu yang lama. Salah satu cara bagi anak-anak untuk mengembangkan pemahaman tentang matematika adalah dengan menggunakan bendabenda tertentu ketika mereka memepelajari konsep

matematika. Sebagai contoh, pada saat anak-anak baru pertama kali diperkenalkan dengan konsep membilang, mereka akan lebih mudah memahami konsep itu jika mereka menggunakan benda konkrit yang mereka kenal, seperti mangga, kelereng, bola atau sedotan. Dengan kata lain, teori belajar William Brownel ini mendukung penggunaan benda-benda konkret untuk dimanipulasikan sehingga anak-anak dapat memahami makna dari konsep dan keterampilan baru yang mereka pelajari. Teori belajar William Brownel ini dikenal dengan nama meaning theory. Dalam perkembangannya ia meletakkan pondasi munculnya matematika baru. Jika dilihat dari teorinya ini sesuai dengan teori belajar-mengajar Gestalt yang muncul pada pertengahan tahun 1930. Dimana menurut teori Gestalt, latihan hafalan atau yang dikenal dengan sebutan drill adalah sangat penting dalam kegiatan pengajaran. Cara drill diberikan setelah tertanam pengertian. Meaning Theory yang diperkenalkan oleh Brownel merupakan alternatif dari Drill Theory (teori latihan

hafal/ulangan). Menurut Brownell dalam belajar orang membutuhkan makna, bukan hanya sekedar respon otomatis yang banyak. Maka dengan demikian teori drill dalam pembelajaran matematika yang dikembangkan atas dasar teori asosiasi terkesan atau teori stimulus respon, menurutnya bahwa proses pembelajaran

matematika khususnya aritmetika dipahami semata-mata hanya sebagai kemahiran. Brownell mengemukakan bahwa belajar

matematika harus merupakan belajar bermakna dan belajar pengertian. Dia menegaskan bahwa belajar pada hakikatnya merupakan suatu proses yang bermakna. Aritmetika atau berhitung yang diberikan pada anak-anak SD dulu lebih menitik beratkan hafalan dan mengasah otak. Aplikasi dari bahan yang diajarkan danbagaimana kaitannya dengan pelajaran-pelajaran lainnya sedikit sekali dikupas. Menurut Brownell anak-anak yang berhasil dalam mengikuti pelajaran pada waktu itu memilikikemampuan berhitung yang jauh melebihi anak-

anak sekarang. Banyaknya latihan yangditerapkan pada anak dan latihan mengasah otak dengan soal-soal yang panjang dansangat rumit merupakan pengaruh dari doktrin disiplin formal. Terdapat perkembangan yang menunjukkan bahwa doktrin formal itu memilikikekeliruan yang cukup mendasar. Dari penelitian yang dilaksanakan pada abad 19 terdapat hasil yang menunjukkan bahwa belajar tidak melalui latihan hafalan danmengasah otak, namun diperoleh anak melalui bagaimana anak berbuat, berfikir,memperoleh persepsi, dll Impli kasi t e ori p e rkembangan k og nitif

B rowne ll da la m pe mb e lajaran se b ag aiberikut:


a. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan

orang dewasa. Oleh karena itu,guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
b. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila

dapat menghadapi lingkungan denganbaik.

Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. c. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. d. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
e. Siswa hendaknya diberi peluang untuk saling

berbicara

dan

diskusi

dengan

siswalain.

Pengaplikasian teori kognitif Brownell dalam belajar bergantung pada akomodasi.Kepada siswa harus diberikan suatu area yang belum diketahui agar ia dapat belajar,karena ia tidak dapat belajar dari apa yang telah diketahui saja dengan adanya areabaru, siswa akan mengadakan usaha untuk dapat mengakomodasikan.