Anda di halaman 1dari 34

Praktek Perkerasan Jalan

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Perkerasan jalan adalah bagian dari jalur lalu lintas, yang bila kita perhatikan secara struktural pada penampang struktur dalam kedudukan yang paling sentral dalam suatu badan jalan. Perencanaan tebal perkerasan merupakan salah satu tahapan dalam pekerjaan jalan dengan sasaran utama adalah memberikan pelayanan yag optimal kepada para masyarakat pengguna jalan (stake holders). Perencanaan yang tidak tepat dapat menyebabkan jalan cepat rusak (under design) atau dapat menyebabkan pelaksanaan konstruksi tidak ekonomis (over design). Akurasi perencanaan juga sangat berpengaruh pada manajemen pemeliharaan jalan, terutama berkaitan dengan rencana konstruksi bertahap (staging construction) sebagai konsekuensi dari ketersediaan dana untuk jalan yang terbatas. Mengingat pentingnya akurasi perencanaan tersebut maka sudah sepatutnya kajian mengenai metoda perencanaan dilakukan dengan seksama. Seperti telah diketahui saat ini perencanaan tebal perkerasan dengan metoda lendutan yang banyak digunakan adalah RDS (Roadworks Design System). Metoda yang digunakan berdasarkan metoda perencanaan yang pertama kali oleh DR. Ray Millard, 1983 dan DR. Paterson, 1985. Sesuai dengan dikembangkan perkembangan

teknologi yang ada, metoda perencanaan lapis tambah perkerasan lentur dengan metoda lendutan juga berkembang, antara lain adalah metoda yang dikembangkan oleh

AUSTROADS, 1992 atau Asphalt Institute MS-17, 2000. Pusat Litbang Jalan dan Jembatan pada tahun 2005 juga telah menyelesaikan pembuatan Pedoman

Perencanaan Tebal Lapis Tambah Perkerasan Lentur dengan Metoda Landutan, No.: Pd T-05-2005-B. Dengan banyaknya metoda perencanaan tebal perkerasan tersebut maka perlu dilakukan kajian yang seksama dari masing-masing metoda ini sebagai ilustrasi tersebut. mengenai keuntungan dan kerugian atau akurasi

tersebut sesuai dengan kondisi Indonesia. Dalam kasus

hasil perhitungan dari masing-masing Metoda perencanaan

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

Praktek Perkerasan Jalan 1.2 Definisi Perkerasan Jalan Perkerasan jalan adalah campuran antara agregat dan bahan pengikat yang digunakan untuk melayani beban lalu lintas. Agregat yang dipakai adalah batu pecah atau batu belah atau batu kali ataupun bahan lainnya. Bahan ikat yang dipakai adalah aspal, semen ataupun tanah liat. Apapun jenis perkerasan lalu lintas, harus dapat memfasilitasi sejumlah pergerakan lalu lintas, apakah berupa jasa angkutan lalu lintas, apakah berupa jasa angkutan manusia, atau jasa angkutan barang berupa seluruh komoditas yang diijinkan untuk berlalu lalang disitu. Dengan beragam jenis kendaraan dengan angkutan barangnya, akan memberikan variasi beban sedang sampai berat, jenis kendaraan penumpang akan memberikan pula sejumlah variasi beban ringan sampai sedang. Dan hal itu harus dapat didukung oleh perkerasan jalan. Daya dukung perkerasan jalan raya ini, akan menentukan kelas jalan yang bersangkutan, misalnya jalan kelas I akan menerima beban lebih besar dibanding jalan kelas II, maka dilihat dari mutu perkerasan jalan sudah jelas berbeda.

I.3

Lingkup Bahasan Dalam makalah ini, cakupan yang akan dijelaskan meliputi : Macam-macam konstruksi jalan Jenis-jeinis lapisan konstruksi perkerasan Kriteria bahan tiap lapisan Spesifikasi Bahan Lapisan Jalan

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

Praktek Perkerasan Jalan

BAB II MACAM MACAM KONSTRUKSI JALAN

2.1 Macam - Macam Perkerasan Jalan Setelah mengenal kendaraan beroda, bangsa Romawi mulai abad ke-4 SM sampai abad ke-4 M telah membuat jalan dengan perekerasan ukuran tebal 3- 5 feet (1- 1,7 m) dan lebarnya 35 feet (kurang lebih 12 m). Perkerasan tersebut dibuat berlapis-lapis seperti gambar di bawah ini:

Gambar 1.3.konstruksi perkerasan

2.1.1

Kontruksi Jalan Konvensional Kontruksi (sederhana) yang jalan konvensional pada adalah kontruksi tanah. jalan standar jalan

terletak

permukaan

Kontruksi

konvensional mempunyai beberapa sistem perkerasan jalan, diantaranya :

2.1.1.1

Sistem Telford Pada akhir abad ke-18, seorang bangsa Inggris bernama Thomas Telford (17571834) adalah seorang insinyur skotlandia yang ahli dalam pembuatan jembatan lengkung dari batu. Menciptakan konstruksi perkerasan jalan dengan menggunakan serbuk batu yang prinsipnya seperti jembatan lengkung (prinsip desak) pada tahun 1970. Telford menempatkan batu belah pada ketebalan tertentu dengan volume dan beban pada jalan tesebut, serta menambahkan susunan batu-batu kecil di atasnya. Ia juga mempertimbangkan dengan seksama kelurusan jalan dan gradien, yang mana masih faktor penting untuk bangunan jalan. Pada prinsip ini Telford menggunakan desakan-desakan dengan

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

Praktek Perkerasan Jalan menggunakan batu-batu belah yang dipasang berdiri dengan tangan. Konstruksi ini kemudian sangat berkembang dan dikenal dengan sebutan sistem Telford.

Gambar 1.4. Prinsip desak

2.1.1.2 Sistem Mac Adam Scotsman John London Mc. Adam (1756 1836) adalah seorang insinyur dalam bidang pembuatan perkerasan jalan yang berkebangsaan Skotlandia. Mc. Adam memperkenalkan konstruksi perekerasan jalan dengan prinsip tumpang tindih pada tahun 1815, dengan menggunakan batu-batu pecah dengan ukuran terbesar 3 inci. Yang mana kekuatan kontruksi perkerasan jalan terletak pada kekuatan tanah dasar (sub grade) dan kekuatannya saling mengunci dari susunan batu besar yang ada pada lapisan tersebut. Perkerasan sistem ini sangat berhasil dan merupakan prinsip pembuatan jalan secara masinal (dengan mesin). Selanjutnya sistem ini disebut sistem Macadam.

Gambar 1.5. Prinsip tumpang tindih

Jalan raya pada dasarnya berisi lapisan padat dari semen, batu kecil di dalam, atas pertolongan permukaan diperkeraskan air dan debu batu (jalan raya yang terikat air). Bagaimanapun, permukaan jalan yang utama menggunakan lapisan aspal atau lapisan aspal dan beton. Metode jalan raya dibangun menggunakan suatu lapisan yang sediakala mengalirkan air dan lapisan tanah bawah padat untuk mendukung beban dari jalan kendaraan, lapisan paling tinggi bertindak sebagai permukaan Iqbal Zafar A ( 0902222 ) 4

Praktek Perkerasan Jalan yang memakai konstruksi modern didasarkan pada praktik yang digunakan di seluruh dunia. Lapisan paling tinggi suatu jalanan raya kebanyakan dibuat dari aspal dan batu karang, sekarang beberapa tukang bangunan menggunakan ramuan lain untuk membantu menghalangi jalan dengan memakai dan menambahkan daya tarik kepada permukaan. Sekarang ini aspal dibuat secara sintetis, tetapi aspal dalam status alaminya mula-mula ditemukan hanya di satu tempat di dunia, pada suatu danau aspal di Pulau Trinidad. Sampai sekarang kedua sistem tersebut masih lazim dipergunakan di daerah-daerah di Indonesia dengan menggabungkannya menjadi sistem TelfordMacadam. Dengan begitu perkerasan jalan untuk bagian bawah menggunakan sistem Telford kemudian untuk perkerasan atas dengan sistem Mac. Adam. 2.2 Jalan Konvensional Dalam sejarahnya, berbagai macam teknik digunakan untuk membangun jalan raya. Di Eropa Utara yang repot dengan tanah basah yang berupa "bubur", dipilih jalan kayu berupa gelondongan kayu dipasang diatas ranting, lalu diatasnya disusun kayu secara melintang berpotongan untuk melalui rintangan tersebut. Di kepulauan Malta ada bagian jalan yang ditatah agar kendaraan tidak meluncur turun. Sedangkan masyarakat di Lembah Sungai Indus, sudah membangun jalan dari bata yang disemen dengan bituna (bahan aspal) agar tetap kering. Dapat dikatakan, pemakaian bahan aspal sudah dikenal sejak milenium ke 3 sebelum masehi dikawasan ini, terbukti di Mahenjo Daro, Pakistan, terdapat penampung air berbahan batu bata bertambalkan aspal. Konstruksi jalan Bangsa Romawi berciri khas lurus dengan empat lapisan. Lapisan pertama berupa hamparan pasir atau adukan semen, lapisan berikutnya berupa batu besar datar yang kemudian disusul lapisan kerikil dicampur dengan kapur, kemudian lapisan tipis permukaan lava yang mirip batu api. Ketebalan jalan itu sekitar 0,9-1,5 m. Rancangan Jalan Romawi tersebut termasuk mutakhir sebelum muncul teknologi jalan modern di akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Sayangnya jalan itu rusak ketika Romawi mulai runtuh.

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

Praktek Perkerasan Jalan 2.3 Jalan Substandard ( Jalan Dengan Bahan Pengikat ) Lapis Resap Pengikat ( Prime Coat ) Lapis resap pengikat merupakan bagian dari struktur perkerasan lentur yang tidak mempunyai nilai struktur akan tetapi mempunyai funsi yang sangat besar terhadap kekuatan dan keawetan struktur terutama untuk menahan gaya lateral atau gaya rem. Lapis resap pengikat dilaburkan diantara lapisan material tidak beraspal dengan lapisan beraspal yang berfunsi untuk menyelimuti permukaan lapisan tidak beraspal. Untuk jelasnya lihat Gambar 1.1

Gambar 2.1

Fungsi Lapisan Resap Pengikat

Lapisan Perekat ( Tack Coat ) Sama halnya dengan lapis resap pengikat, lapis perekat dilaburkan diantara

lapis beraspal lama dengan lapis beraspal yang baru ( yang akan dihampar di atasnya ), yang berfungsi sebagai perekat diantaranya. Kegagalan konstruksi akibat lapis perekat dapat terlihat langsung pada lapis permukaan berupa : a. Retak Slip ( Slipery Coat ) 1) Permukaan lapisan lama kotor 2) Peleburan tidak merata 3) Perekatan kurang sempurna 4) Kuantitas peleburan yang kurang, dan Iqbal Zafar A ( 0902222 ) 6

Praktek Perkerasan Jalan 5) Kombinasi diantranya b. Kegemukan ( Bleeding ) yang diakibatkan oleh kuantitas peleburan yang terlalu banyak. Aspal Beton Beton adalah agregat yang dicampur dengan Portland cement, karena proses kimia campuran ini menjadi keras dan membentuk masa yang padat. Sedangkan aspal beton adalah beton dengan bahan pengikat aspal yang dicampur dalam keadaan panas. Campuran panas terdiri dari: aspal, batuan dan filler yang setelah diaduk diangkut dengan truk ke lokasi pekerjaan, kemudian dimasukkan ke alat penghampar. Batuannya berbentuk pasir, kerikil, batu yang dibagi sebagai agregat halus (pasir) dan kasar. Filler atau mineral pengisi rongga udara pada campuran aspal semen dengan agregat, antara lain semen portland, debu batu kapur/karang yang dipecah. Aspal semen adalah aspal yang diolah untuk pengaspalan perkerasan jalan, ada yang keras dan setengah keras, dan setelah dipanasi akan mencair. Bahanbahan pembuatannya harus sesuai dengan spesifikasi Dit.Jen. Bina Marga mengenai batuan, aspal dan pencampurannya:

Agregat harus bergradasi baik, mempunyai sudut, bersih dan keras. Aspal harus sesuai: penetrasi titik nyala, jumlahnya, tidak berair dan

terkontaminasi, viscositas dan ductilitas baik.

Pencampuran dengan perbandingan dan temperatur tertentu, dan alat

pencampur berjalan dengan baik. Agar pencampuran ada yang besar dan kecil, dengan perbedaan pada pengaturan/penempatan komponen. Agregat ditimbun pada suatu tempat, aspal semen disimpan dalam tangki, mineral pengisi dalam tempat khusus (silo). Yang dipanasi hanya agregat supaya kering, dan aspal semen supaya mencair.

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

Praktek Perkerasan Jalan 2.4 Jalan Standard ( Jalan Modern ) Perkerasan Lentur ( Flexible Pavement ) Struktur perkerasan jalan lentur dibuat secara berlapis terdiri dari elemen perkerasan : Lapisan Pondasi Bawah ( sub base course ) Lapisan Pondasi Atas ( Base Course ) Lapisan Permukaan ( Surface Cousre ) Tanah Dasar ( Sub Grade ) Jelasnya lihat gambar 3.2

Gambar 2.2 Struktur Lapis Perkerasan Lentur Masing masing elemen lapisan diatas termasuk tanah dasar secara bersama sama memikul beban lalu lintas. Tebal struktur perkerasan dilihat sedemikian rupa sampai batas kemampuan tanah dasar memilkul beban lalu lintas, atau dapat dikatakan tebal struktur perkerasan sangat tergantung pada kondisi atau daya dukung tanah dasar.

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

Praktek Perkerasan Jalan

BAB III JENIS JENIS LAPISAN KONSTRUKSI PERKERSAN


III.1 Jenis Dan Fungsi Lapisan Perkerasan Lentur ( Flexible Pavement ) Konstruksi perkerasan lentur tersiri dari lapisan-lapisan yang diletakan di atas tanah dasar yang telah dipadatkan. Lapisan-lapisan tersebut berfungsi untuk menerima beban lalu lintas dan menyebarkannya ke lapisan di bawahnya. Bebean kendaraan dilimpahkan ke perkerasan jalan melalui bidang kontak roda berupa beban terbagi rata Po. Beban tersebut diterima oleh lapisan permukaan dan disebarkan ke tanah dasar penjadi P 1 yang lebih kecil dari daya dukung tanah dasar, seperti yang ditunjukan pada gambar 3.1

Gambar 3.1

Penyebaran Beban Roda Melalui Perkerasan Jalan

Konstruksi perkerasan lentur jalan raya tersiri atas lapisan-lapisan yang dapat dikelompokan menjadi 4 bagian, seperti pada gambar 3.2 Lapisan Permukaan ( Surface Course ) Lapisan Pondasi Atas ( Base Course ) Lapisan Pondasi Bawah ( Sub Base Course ) Lapisan Tanah Dasar ( Sub Grade )

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

Praktek Perkerasan Jalan

Gambar 3.2

Susunan Konstruksi Lapisan Perkerasan Lentur

Sedangkan beban lalu lintas yang bekerja di atas konstruksi perkerasan dapat dibedakan atas : Muatan kendaraan yang berupa beban vertikal Gaya rem kendaraan yang berupa beban horizontal Pukulan roda kendaraan yang berupa getaran Oleh karena itu sifat penyebaran gaya maka muatan yang diterima oleh masingmasing lapisan berbeda dan semakin kebawah semakin kecil. Lapisan permukaan harus mampu menerima seluruh jenis gaya yang bekerja, lapisan pondasi atas menerima gaya vertikal dan getaran, sedangkan tanah dasar dianggap menerima gaya vertikal saja. Oleh karena itu terdapat perbedaan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh masing-masing lapisan.

III.1.1 Lapisan Permukaan ( Surface Course ) Lapisan yang terletak paling atas disebut lapisan permukaan, berfungsi antara lain sebagai berikut : a. Lapisan perkerasan penahan beban roda, dengan persyaratan harus mempunyai stabilitas tinggi untuk menahan beban roda selama masa pelayanan. b. Lapisan kedap air, sehingga air hujan yang jatuh di atasnya tidak meresap ke lapisan di bawahnya dan melemahkan lapisan tersebut. c. Lapisan aus ( wearing Coure ), lapisan yang langsung menderita gesekan akibat rem kendaraan sehingga mudah aus.

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

10

Praktek Perkerasan Jalan d. Lapis yang menyebarkan beban ke lapis bawah, sehingga dapat dipukul oleh lapisan lain dengan daya dukung yang lebih buruk. Untuk dapat memenuhi fungsi tersebit di atas, pada umumnya lapisan permukaan dibuat dengan menggunakan bahan pengikat aspal sehingga menghasilkan lapisan yang kedap air dengan stabilitas yang tinggi dan daya tahan yang lama. Jenis lapis permukaan yang umum digunakan di Indonesia antara lain : - Asphaltic Concrete = AC (laston = lapis aspal beton) - Hot Rolled Asphalt (HRA) dalam hal ini HRS (Hot Rolled Sheet)=LATASTON (Lapis tipis aspal beton) - LASBUTAG (Lapis aspal beton aggregrat campuran dingin) - LAPEN (Lapis penetrasi Makadam) - LATASBUM (Lapis tipis aspal beton murni) - LATASIR (Lapis tipis aspal pasir) - BURAS (Laburan aspal) - BURDA (Laburan aspal dua lapis) - BURTU (Laburan aspal satu lapis) - SMA (Split mastic asphalt) - BMA (Butonized mastic asphalt) dll. Sifat spesifik dari beberapa elemen permukaan tersebut dijelaskan dibawah ini. Lapisan Non-Struktural a. Burtu ( Laburan aspal satu lapis ), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal yang ditaburi dengan satu lapis agregat bergradasi seragam, dengan tebal maksimum 2 cm. Fungsi Burtu : - membuat permukaan tidak berdebu - mencegah masuknya air dari permukaan perkerasan, - memperbaiki tekstur permukaan perkerasan. Sifat Burtu : - kedap air - kenyal - tidak mempunyai nilai struktur Iqbal Zafar A ( 0902222 ) 11

Praktek Perkerasan Jalan - tidak licin SARINGAN 1 (2,54 mm) 3/4 (19,1 mm) 1/2 (12,7 mm) 3/8 (9,52 mm) no 4 (5 mm) TIPE I 100 90 100 0 - 25 08 05 02 20 TIPE II 100 90 100 0 30 08 05 02 12 TIPE III 100 90 100 0 30 08 02 9 TIPE IV 100 75 100 no 8 (2,36 mm) no 200 (0,074 mm) Ukuran Nominal (mm) 0 10 02 6

Tabel 2.6. persyaratan gradasi agregrat untuk BURTU BURDA (Laburan aspal dua lapis),adalah lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal,yang ditaburi dengan lapis aggregrat dikerjakan dua kali secara beurutan (tebal padat maksimum 35 mm). Fungsi Burda : - Sama denga Burtu Sifat Burda : - Sama dengan Burtu

% LOLOS SARINGAN 1 (2,54 mm) 3/4 (19,1 mm) 1/2 (12,7 mm) 3/8 (9,52 mm) no 4 (5 mm) no 8 (2,36 mm) no 200 (0,074 mm) Ukuran Nominal (mm) TIPE I LAPIS I 100 90 100 0 25 08 05 02 20 LAPIS II 100 90 100 0 30 08 02 9 TIPE II LAPIS I 100 90 100 0 30 08 05 0-2 12 LAPIS II 100 75 -100 0 10 02 6

Tabel 2.7 persyaratan gradasi agregrat untuk BURDA

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

12

Praktek Perkerasan Jalan LATASIR (Lapis tipis aspal pasir),merupakan lapis penutup yang terdiri dari aspal keras,dan pasir alam bergradasi menerus,dicampur,dihampar dan dipadatkan,pada suhu tertentu dengan tebal padat 1-2 cm. Fungsi LATASIR : Sebagai lapis penutup Sebagai lapis aus Menyediakan permukaan jalan yang rata dan tidak licin. Sifat LATASIR : Kedap air dan kenyal Tidak mempunyai nilai struktural, Peka terhadap penyimpanan perencanaan dan pelaksanaan Tahan keausan akibat gesekan beban lalu lintas (Ban). Tahan terhadap pengaruh cuaca. INDIKATOR SIFAT CAMPURAN Jumah Tumbukan per bidang Rongga dalam Campuran (VIM )(%) Rongga antara agregrat (VMA) (%) Rongga terisi aspal (VFA )(%) Stabilitas Marshall (kg) Kelelehan (mm) Marshall Quotient (kg/mm) Stabilitas Marshall sisa (%) setelah Perendaman selama 24 jam, 600 C pada VIM 7% Sumber: Departemen pekerjaan umum,2007 Tabel 2.10. Ketentuan Sifat Campuran Latasir BURAS (Laburan aspal),merupakan jenis lapis penutup terdiri dari lapisan aspal taburan pasir dengan ukuran butir maksimum 3/8 inch. Fungsi BURAS : Tidak berdebu Iqbal Zafar A ( 0902222 ) 13 min 80 min max min min min min max min LATASAIR KELAS A & B 50 3,0 6,0 20 75 200 2 3 80

Praktek Perkerasan Jalan Kedap air Tidak licin,dan Mencegah lepasnya butiran agregat akibat lalu lintas. Sifat BURAS : Tidak mempunyai nilai struktural Kedap air Tidak licin Mengikat butiran halus,dan Kenyal. LATASBUM (Lapis tipis asbuton murni),merupakan lapis penutup yang terdiri dari campuran asbuton dan bahan pelunak dengan perbandingan tertentu, yang dicampur secara dingin dengan tebal padat maksimum 1 cm. Fungsi LATASBUM : Sebagai lapis penutup untuk mencegah masuknya air dari permukaan kedalam struktur perkerasan. Sifat LATASBUM : Kedap air dan kenyal Tidak mempunyai nilai struktural Cukup awet. LATASTON (Lapis tipis beton aspal),merupakan lapis permukaan yang menggunakan agregat bergradasi senjang dengan ukuran agregrat maksimum 19 mm (3/4 inci). Ada dua jenis LATASTON yang digunakan yaitu: a. Lataston lapis aus, atau Hot Rolled Sheet Wearing Course = HRS-WC, tebal nominal minimum 30 mm dengan tebal toleransi 4 mm. b. Lataston Lapis permukaan antara, atau Hot Rolled Sheet Base Course = HRS-BC, tebal nominal minimum 35 mm dengan tebal toleransi 4 mm.

SIFAT-SIFAT CAMPURAN Jumlah tumbukan per bidang Rongga dalam campuran (VIM) (%) Iqbal Zafar A ( 0902222 ) min

LATASTON WC 75 3,0 14 BC

Praktek Perkerasan Jalan max Rongga antara agregat (VMA) (%) Rongga terisi aspal (VFA) (%) Stabilitas Marshall (kg) Kelelehan (mm) Marshall Quotient (kg/mm) Stabilitas Marshall sisa (%) setelah Perendaman selama 24 jam, 600C pada VIM 7% Rongga dalam campuran (%) pada min 2 min 80 min min min min min 18 68 800 3 250 6,0 17

kepadatan membal (fefusal) Sumber: Departemen pekerjaan umum,2007

Tabel 2.11. Ketentuan Sifat Campuran Lataston Lapisan Struktural LAPEN (Lapis penetrasi Makadam),merupakan lapis perkerasan yang terdiri dari agregrat(batu) pokok, dan batu pengunci, bergradasi terbuka dan seragam, yang diikat oleh aspal dengan cara disemprotkan diatasnya, dan dipadatkan lapis demi lapis. Bila akan dipakai sebagai lapis permukaan diberi laburan aspal dengan batu penutup. Fungsi LAPEN : - dapat digunakan sebagai lapis permukaan atau - sebagai lapis pondasi. Sifat Sifat LAPEN : - kurang kedap air kekuatan utama didapat dari mekanisme saling mengunci (interlocking), antara bantuan pokok dan pengunci - mempunyai nilai struktural - cukup kenyal dan - mempunyai permukaan kasar. BAHAN : - agregrat Pokok - agregrat Pengunci Iqbal Zafar A ( 0902222 ) 15

Praktek Perkerasan Jalan - agregrat Penutup (untuk lapis permukaan).

Persyaratan Agregrat : a) Keausan pada 500 putaran min 40 % b) Indeks kepipihan mak 25 % c) Kelekatan terhadap aspal > 95 % d) Bagian bagian batu yangn lunak mak 5 % e) Gumpalan gumpalan lempung mak 0,25 % Ukuran maksimum agregat pokok membedakan ketebalan yang dapat dipilih, yaitu : a. Tebal 7 10 cm, jika digunakan agregat pokok dengan ukuran maksimum 75 mm (3 inci) b. Tebal 5 8 cm, jika digunakan agregat pokok dengan ukuran maksimum 62,5 mm (2,5 inci) c. Tebal 4 5 cm, jika digunakan agregat pokok dengan ukuran

maksimum 50 mm (2 inci). (7 10 cm) (5 8 cm)

TEBAL LAPIS / TIPE BATU AGREGRAT POKOK MELEWATI 75 mm 60 mm 50 mm 40 mm 25 mm 15 mm AGREGRAT PENGUNCI MELEWATI 25 mm 18 mm Iqbal Zafar A ( 0902222 )

(4 5 cm)

PERSEN %

100 90 100 35 70 0 15 05 -

100 95 - 100 35 - 70 0 15 05

100 95 100 0-5

PERSEN %

100 95 -100

100 95 -100

100 95 -100 16

Praktek Perkerasan Jalan 9 mm AGREGRAT PENUTUP MELEWATI 12 mm 9 mm 4 mm 2 mm 100 85 100 10 30 0 - 10 100 85 100 10 30 0 - 10 100 85 100 10 30 0 - 10 PERSEN % 0 -5 0 -5 0 -5

Tabel 2.8 persyaratan gradasi agregrat untuk LAPEN LASBUTAG (Lapis asbuton agregrat),merupakan lapisan yang terdiri dari campuran antara agregrat, asbuton dan bahan pelunak, diaduk, dihampar dan dipadatkan secara dingin (Cold Mix). Fungsi LASBUTAG : Sebagai lapis permukaan atau lapis aus Melindungi lapis dibawahnya dari air dan cuaca Menyediakan permukaan yang rata.

Sifat LASBUTAG : Kedap air. SIFAT CAMPURAN Derajat penguapan fraksi ringan : - Campuran untuk pemeliharaan, % - Campuran untuk pelapis, % Jumlah tumbukan Rongga dalam campuran (VIM), % Rongga antara agregat (VMA), % Stabilitas pada temperatur ruang 250C, kg Kelelehan, mm Stabilitas sisa, setelah 4 hari direndam dalam air 250C, % Sumber: Departemen pekerjaan umum,2007 Tabel 2.9.Ketentuan Sifat Campuran Lasbutag 25 50 2 x 75 3,0 6,0 Min. 16 Min. 500 24 Min. 75 PERSYARATAN

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

17

Praktek Perkerasan Jalan LASTON (Lapis aspal beton),sering disebut juga AC (Aspahltic

Concrete),adalah suatu lapisan permukaan yang terdiri dari campuran aspal keras dan agregrat yang bergradasi menerus dicampur,dihampar,dan dipadatkan dalam keadaan panas pada suhu tertentu. Sifat LASTON : Kedap air Mempunyai nilai struktural Awet Mempunyai kadar aspal 4-7 % terhadap berat campuran. Dapat digunakan untuk lalu lintas ringan,sedang,sampai berat. Jika aspal yang digunakan untuk membuat AC menggunakan bahan aspal polmer, aspal dimodifikasi dengan Asbuton, aspal multigrade atau aspal padat Pen 60 atau Pen 40 yang dicampur dengan asbuton butir maka lapis tersebut dinamakan Laston Modifikasi. SIFAT-SIFAT CAMPURAN Jumlah tumbukan per bidang Rongga dalam campuran (VIM) (%) Rongga antara agregat (VMA) (%) Rongga terisi aspal (VFA) (%) Stabilitas Marshall (kg) Kelelehan (mm) Marshall Quotient (kg/mm) Stabilitas Marshall sisa (%) setelah Perendaman selama 24 jam, 600C pada VIM 7 Rongga dalam campuran (%) pada kepadatan membal (fefusal) min 2,5 min 80 min max min min min max min min 15 65 800 3 250 LASTON WC 75 3,5 5,5 14 63 13 60 1500 5 300 BC Base 112

Sumber: Departemen pekerjaan umum,2007 Tabel 2.12. Ketentuan Sifat Campuran Laston

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

18

Praktek Perkerasan Jalan LASTON SIFAT-SIFAT CAMPURAN WC Mod Jumlah tumbukan per bidang Rongga dalam campuran (VIM) (%) Rongga antara agregat (VMA) (%) Rongga terisi aspal (VFA) (%) Stabilitas Marshall (kg) Min max min min min max min max min 15 65 1000 3 300 75 3,5 5,5 14 63 13 60 1800 5 350 BC Mod BASE Mod 112

Kelelehan (mm) Marshall Quotient (kg/mm) Stabilitas Marshall sisa (%) setelah Perendaman selama 24 jam, 600C pada VIM 7 Rongga dalam campuran (%) pada kepadatan membal (fefusal) Stabilitas Dinamis,lintasan / mm

min

80

min min

2,5 2500

Sumber: Departemen pekerjaan umum,2007 Tabel 2.13. Ketentuan Sifat Campuran Laston Modifikasi

III.1.2 Lapisan Pondasi Atas ( Base Course ) Lapisan perkerasan yang terletak di antara lapis pondasi bawah dan lapis permukaan dinamakan lapis pondasi atas ( base course ). Karena tepat terletak di bawah permukaan perkerasan maka lapisan ini menerima pembebanan yang berat dan yang paling menderita akibat muatan, oleh karena itu material yang digunakan harus berkualitas sangat tinggi dan pelaksanaan konstruksi harus dilaksanakan dengan cermat. Secara umum base course mempunyai fungsi sebagai berikut : a. Bagian perkerasan yang menahan gaya lintang dari beban roda dan menyebarkannya ke lapisan di bawahnya. b. Lapisan peresapan untuk lapisan di bawahnya. 19

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

Praktek Perkerasan Jalan c. Bantalan terhadap lapisan permukaan. Sebagaimana disebutkan di depan bahwa material yang digunakan untuk lapis pondasi atas ( base course ) adalahmaterial yang cukup kuat. Untuk lapis pondasi atas tanpa bahan pengikat umumnya menggunakan material dengan CBR ( california bearing ratio ) > 50 % Plasitas Index (PI) < 4 %. Bahan-bahan alam seperti batu pecah, kerikil pecah, stabilitas tanah dengan semen dan kapur dapat digunakan sebagai base course. Jenis lapis pondasi atas yang umum digunakan di Indonesia antara lain : a. Agregat bergradasi baik, dapat dibagi atas batu pecah kelas A, batu pecah kelas B, dan batu pecah kelas C. Batu pecah kelas A mempunyai gradasi lebih kasar dari batu pecah kelas B, dan batu pecah kelas B lebih kasar dari batu pecah kelas C. Kriteria dari jenis lapisan di atas dapat diperoleh dari spesifikasi yang diberikan. Sebagai contoh diberikan persyaratan gradasi dari lapisan pondasi kelas B. Lapis pondasi kelas B tersiri dari campuran kerikil pecah atau batu pecah dengan berat jenis seragam dengan pasir, lanau atau lempung dengan persyartan di bawah ini :

Tabel 3.1 Persyaratn Berat Jenis

Partikel yang mempunyai diameter kurang dari 0,02 mm harus tidak lebih dari 3 % dari berat total contoh bahan yang diuji. b. c. Pondasi Macadam Pondasi Telford

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

20

Praktek Perkerasan Jalan d. e. f. Penetrasi Mcadam ( Lapen ) Aspal Beton Pondasi ( Asphalt Concrete Base / Asphalt Treated Base ) Stabilisasi yang terdiri dari : Stabilisai agregat dengan semen ( Cement Treated Base ) Stabilisai agregat dengan kapur ( Lime Treated Base ) Stabilisai agregat dengan aspal ( Asphalt Treated Base )

III.1.3 Lapisan Pondasi Bawah ( Sub Base Course ) Lapis perkerasan yang terletak antara lapis pondasi atas dan tanah dasar dinamakan lapis pondasi bawah ( sub base ) yang berfungsi sebagai : a. Bagian dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda ke tanah dasar. Lapisan ini harus cukup kuat, mempunyai CBR ( 20 % dan Plastisitas Indeks (PI) > 10 % b. Efisiensi penggunaan material. Material pondasi bawah relatif murah

dibandingkan dengan lapisan perkerasan di atasnya. c. d. e. Mengurangi tebal lapisan di atasnya yang lebih mahal Lapisan peresapan, agar air tanah tidak berkumpul di pondasi Lapisan pertama, agar pekerjaan dapat berjalan lancar. Hal ini sehubungan dengan kondisi lapangan yang memaksa harus segera menutup tanah dasar dari pengaruh cuaca, atau lemahnya daya dukug tanah dasar menahan roda alat berat. f. Lapisan untuk mencegah partikel-patrikel halus dari tanah dasar naik ke lapis pondasi atas. Untuk lapisan itu lapisan pondasi bawah haruslah memenuhi syarat filter, yaitu :

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

21

Praktek Perkerasan Jalan

Dimana : D15 : diameter butir pada keadaan banyaknya persen yang lolos = 15 % D85 : diameter butir pada keadaan banyaknya persen yang lolos = 85 % Jenis lapisan pondasi bawah yang umum digunakan di Indonesia adalah : a. Agregat bergradasi baik, dibedakan atas sirtu/pitrun yang terdiri dalam kelas A, kelas B dan kelas C. Sirtu kelas A bergradasi lebih kasar dari sirtu kelas B, yang masing-masing dapat dilihat pada spesifikasi yang diberikan. b. Stabilisasi yang terdiri dari : Stabilisai agregat dengan semen ( Cement Treated Base ) Stabilisai agregat dengan kapur ( Lime Treated Base ) Stabilisai agregat dengan aspal ( Asphalt Treated Base )

III.1.4 Lapisan Tanah Dasar ( Sub Grade ) Lapisan tanah setebal 50 100 cm dimana di atasnya akan diletakan lapisan pondasi bawah dinamakan lapisan tanah dasar ( sub grade ) yang dapat berupa tanah asli yang dipadatkan ( jika tanah aslinya baik ), tanah yang didatangkan dari tempat lain dan dipadatkan atau tanah yang distabilisasi dengan kapur atau bahan lainnya. Pemadatan yang baik akan diperoleh jika dilakukan pada kondisi kadar air optimum dan diusahakan kadar air tersebut konstan selama umur rencana. Hal ini dapat dicapai dengan pelengkapan drainase yang memnuhi syarat. Ditinjau dari muka tanah asli, maka lapisan tanah dasar ( sub grade ) dapat dibedakan atas ( seperti yang ditunjukan pada gambar 3.3 ) a. b. c. Lapisan tanah dasar, tanah galian Lapisan tanah dasar, tanah timbunan Lapisan tanah dasar, tanah asli

Sebelum lapisan-lapisan lainnya diletakan, tanah dasar ( sub grade ) dipadatkan terlebih dahulu sehingga tercapai kestabilan yang tinggi terhadap perubahan volume, Iqbal Zafar A ( 0902222 ) 22

Praktek Perkerasan Jalan sehingga dapat dikatakan bahwa kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan sangat ditentukan oleh sifat-sifat daya dukug tanah dasar.

Gambar 3.3

Jenis Tanah Dasar Ditinjau Dari Tanah Asli

Masalah-masalah yang sering dijumpai menyangkut tanah dasar ( sub grade ) adalah : a. Perubahan bentuk tetap dari jenis tanah tertentu akibat beban lalu lintas. Perubahan bentuk yang besar akan menyebabkan jalan tersebut rusak. Tanahtanah dengan plastisitas tinggi cenderung akan mengalami hal ini. Lapisanlapisan tanah lunak yang terdapat di bawah tanah dasar harus diperhatikan. Daya dukung tanah dasar yang ditunjukan nilai CBR dapat merupakan indikasi dari perubahan bentuk yang dapat terjadi. b. Daya dukung tanah dasar yang tidak merata pada daerah dengan macam tanah yang sangat berbeda. Penelitian yang seksama atas jenis dan sifat tanah dasar sepanjang jalan dapat mengurangi akibat tidak seragamnya daya dukung tanah dasar. Perencanaan tebal perkerasan dapat dibuat berbeda-beda dengan membagi jalan menjadi segmen-segmen berdasarkan sifat tanah yang berlainan. c. Perbedaan penurunan ( differntial settlement ) akibat terdapatnya lapisan-lapisan tanah lunak di bawah tanah dasar akan mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk tetap. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan penyelidikan tanah dengan diteliti. Pemeriksaan dengan menggunakan alat bor dapat memberikan gambaran yang jelas tentang lapisan tanah di bawah lapis tanah dasar.

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

23

Praktek Perkerasan Jalan BAB IV SPESIFIKASI BAHAN LAPIS PERKERASAN JALAN

4.1 Spesifikasi bahan latasir pada perkerasan lentur Latasir atau lapis tipis aspal pasir merupakan lapis penutup permukaan perkerasan yang terdiri atas agregat halus atau pasir atau campuran keduanya, dan aspal keras yangdicampur, dihampar dan dipadatkan dalam keadaan panas pada temperatur tertentu.Spesifikasi Latasir telah dikembangkan sejak tahun 1983, yaitu dengan diterbitkannya pedoman berupa buku Petunjuk Pelaksanaan Lapis Tipis Aspal Pasir, yang dikembangkanoleh Departemen Pekerjaan Umum dengan No. 02/PT/B/1983. Selanjutnya dikembangkan pula standar nasional yaitu SNI 03-6749-2002, yang selanjutnya pula dilakukan revisi untuk lebih menyempurnakan secara substansial dan memenuhi kebutuhan dalam pekerjaanLatasir terdiri atas 2 kelas: Latasir kelas A atau SS-1 (Sand Sheet-1) dengan ukuran nominalbutir agregat atau pasir 9,5 mm, dan Latasir kelas B atau SS-2 (Sand Sheet-2) dengan ukuran nominal butir agregat atau pasir 2,36 mm. Jenis campuran Latasir terdiri atas 2 kelas, yaitu Latasir kelas A atau SS-A (Sand Sheet-A) dengan ukuran nominal butir agregat atau pasir 9,5 mm (3/8 inci), dan Latasir kelas B atau SS-B (Sand Sheet-B) dengan ukuran nominal butir agregat atau pasir 2,36 mm (No. 8). Pada umumnya tebal nominal minimum untuk Latasir A dan Latasir B masing-masing 2,0 cm dan 1,5 cm dengan toleransi 2,0 mm. Latasir pada umumnya digunakan untukperencanaan jalan dengan lalu lintas tidak terlalu tinggi ( 500.000 SST), tetapi dapat pula digunakan untuk pekerjaan pemeliharaan atau perbaikan sementara pada lalu lintas yang lebih tinggi. 4.1.1. Aspal Aspal untuk bahan lapis tipis aspal pasir (Latasir) dapat digunakan salah satu dari aspal keras penetrasi 40 atau penetrasi 60, sesuai dengan persyaratan dalam RSNI S-01-2003, aspal polimer, aspal dimodifikasi dengan aspal batu buton (Asbuton), atau aspal multigrade, yang memenuhi persyaratan dalam Tabel 1, Tabel 2, Tabel 3 atau Tabel 4.

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

24

Praktek Perkerasan Jalan

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

25

Praktek Perkerasan Jalan i. Aditif Aditif untuk meningkatkan pelekatan dan anti pengelupasan, bila diperlukan, dapat ditambahkan ke dalam aspal sesuai dengan petunjuk pabrik pembuatnya. ii. Agregat Agregat halus 1. Agregat halus dari sumber bahan manapun harus terdiri atas pasir atau hasilpengayakan batu pecah, dan terdiri atas bahan yang lolos ayakan 2,36 mm (No. 8) sesuai dengan SNI 03-6819-2002; 2. Agregat halus harus merupakan bahan yang bersih, keras, bebas dari lempung atau bahan yang tidak dikehendaki lainnya. Batuan induk agregat halus harus mempunyai abrasi maksimum 40, diuji sesuai dengan SNI 03-2417-1991; 3. Agregat halus untuk Latasir kelas A dan Latasir kelas B boleh dari kerikil bersih yang dipecah. Persyaratan mutu pasir lainnya disajikan dalam Tabel 4.

iii. 1.

Bahan pengisi (Filler) Bila diperlukan bahan pengisi harus dari semen portland. Bahan tersebut harus bebasdari bahan yang tidak dikehendaki;

2.

Debu batu (stone dust) yang ditambahkan harus kering dan bebas dari gumpalangumpalan,dan bila diuji dengan pengayakan sesuai dengan SNI 034142-1996 harussesuai dengan persyaratan bahan pengisi untuk campuran beraspal (SNI 03-6723-2002),yaitu mengandung bahan yang lolos ayakan 0,279 mm (No. 50) minimum 95% dan lolosayakan 0,075 mm (No. 200) minimum 70 % terhadap beratnya, serta mempunyai sifat non plastis.

iv.

Gradasi campuran Latasir Gradasi campuran Latasir harus memenuhi persyaratan dalam Tabel 5 atau Gambar A1 dalam Lampiran A.

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

26

Praktek Perkerasan Jalan

v.

Sifat-sifat campuran Latasir Campuran Latasir harus memenuhi sifat-sifat campuran, sesuai dengan persyaratan dalam Tabel 6.

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

27

Praktek Perkerasan Jalan

4.2 Spesifikasi bahan laston pada perkerasan kaku Laston atau lapis aspal beton merupakan lapis penutup permukaan perkerasan kaku yang terdiri dari campuran agregat dengan aspal, dengan atau tanpa bahan tambahan, yang dicampur, dihamparkan dan dipadatkan pada suhu tertentu. Campuran beraspal menggunakan aspal cemen/aspal keras yang dicampur pada suhu 1400 1600 C dan dihampar dan dipadatkan dalam kondisi panas disebut aspal campuran panas (Hot mix Asphalt). Campuran beraspal yang menggunakan aspal cair dan dicampur pada suhu ruang dikenal sebagai aspal campuran dingin (Cold Mix Asphalt)

a) Syarat Aspal keras

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

28

Praktek Perkerasan Jalan b) Syarat Agregat


No. Jenis Pengujian Metode Pengujian Satuan Hasil Pengujian Spesifikasi Bina Marga Min. Mak.

I. Agregat Kasar 1 Berat Jenis - Berat Jenis Bulk - Berat Jenis SSD - Berat Jenis Apparent - Berat Jenis Efektif - Penyerapan 2 Pengujian Los Angeles Abrasion 3 Kelekatan Terhadap Aspal 4 Aggregate Impact Value 5 Aggregate Crushing Value 6 Indeks Kepipihan 7 Indeks Kelonjongan 8 Angka Angularitas II. Agregat Halus 9 Berat Jenis - Berat Jenis Bulk - Berat Jenis SSD - Berat Jenis Apparent - Berat Jenis Efektif - Penyerapan 10 Sand Equivalent Value

SNI-1969-1990-F % % % % % % % 2,638 2,686 2,77 2,704 1,797 19,51 97 17,5 17,7 17,84 21,55 44,311 2,5 95 3 40 25 -

SNI 03-2417-1991 SNI-2436-1991 BS 812: Part 3: 1975 BS 812: Part 3: 1975 BS 812: Part 1: 1975 BS 812: Part 1: 1975 BS 812: Part 1: 1975 SNI-1969-1990-F

SNI 03-4428-1997

% %

2,592 2,608 2,636 2,58 0,637 72,78

2,5 50

3 -

c) Bahan pengisi (filler) berasal dari abu batu, terak dan bahan yang serupa yang bebas dari bahan bahan organik dan mempunyai nilai indeks plastisitas tidak lebih besar dari 4. Bahan pengisi (filler) harus kering dan bebas dari bahan lain yang mengganggu dan apabila dilakukan pengujian analisa saringan secara basah, harus memenuhi gradasi seperti pada Tabel sebagai berikut :

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

29

Praktek Perkerasan Jalan d) Gradasi campuran laston

e) Syarat campuran laston

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

30

Praktek Perkerasan Jalan f) Syarat VMA

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

31

Praktek Perkerasan Jalan

UDARA

VIM VMA VFA Vab Vmm

ASPAL Vmb

Va

AGREGAT

Vsb Vse

Vmb = volume bulk campuran beton aspal padat Vsb = volume bulk dari agregat Vse = volume efektif agregat VMA = volume pori antara butiran agregat di dalam beton aspal padat Vmm = volume tanpa pori udara dari aspal beton padat VIM = Volume pori udara dalam aspal beton padat VFA = Volume pori antar agregat yang terisi aspal pada beton aspal Vab = Volume aspal yang terabsorbsi ke dalam agregat dari beton aspal padat

Ilustrasi VIM dan VMA Beton Aspal Padat

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

32

Praktek Perkerasan Jalan

BAB V KESIMPULAN
Dari uraian mengenai perkerasan jalan tersebut diatas dapat disimpulkan sbb: 1. Bahan konsrtuksi untuk lapisan penutup/lapisan permukaan yang umum dikenal adalah Aspal Beton campuran dingin (Cold Mix), Aspal Beton campuran panas (hot mix), Penetrasi Makadam, lapisan tipis aspal pasir (latasir) As Buton dll. 2. Sistim pondasi jalan tanpa penutup adalah merupakan sistim konstruksi perkerasan jalan yang tidak menggunakan lapisan penutup seperti diatas, tetapi hanya menggunakan agregat (kerikil/pasir) pada lapisan permukaanya, direncanakan sedemikian rupa dengan memperhitungkan ketebalan dan sistim pengaliran airnya sehingga konstruksi ini akan mampu memikul beban serta tahan terhadap pengaruh cuaca. 3. Biaya untuk pembangunan sistim lapis pondasi jalan tanpa penutup cukup murah bila dibandingkan bila menggunakan lapis penutup seperti aspal beton dll, hanya saja tidak dapat memikul lalu lintas berat sehingga sangat sesuai untuk digunakan pada pembuatan jalan dipedesaan.

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

33

Praktek Perkerasan Jalan

DAFTAR PUSTAKA

Badan Standardisasi Nasional (BSN). SNI 03-6749-2002, Spesifikasi bahan lapis tipis aspal pasir (Latasir). BSN, Jakarta. Badan Standardisasi Nasional (BSN). SNI 03-4814-1998, Spesifikasi bahan penutup sambungan beton tipe elastic tuang panas). BSN, Jakarta. Departemen Pekerjaan Umum (1983). Petunjuk pelaksanaan lapis Tipis Aspal Pasir (Latasir). No. 02/PT/B/1983. Direktorat Jenderal Bina Marga. Jakarta http://www.google.co.id/#hl=id&biw=1015&bih=514&q=konstuksi+perkerasan+jal an&aq=f&aqi=g-s1&aql=&oq=&pbx=1&fp=16477b19798d77e9 http://www.ilmusipil.com/jenis-dan-fungsi-lapisan-perkerasan-jalan-raya http://www.findtoyou.com/ebook/campuran+aspal+beton.html http://www.bibsonomy.org/bibtex/2ee791cd5d260c1a0021234ed0f2e0e9e/dvanhlast Azwaruddin. (2009). Teknologi Jalan Raya Modern. [Online]. Tersedia : http://azwaruddin.blogspot.com/2009/08/teknologi-jalan-raya-modern.html Teknik Jalan Raya. Merencanakan Tebal Perkerasan. [Online]. Tersedia : http://www.scribd.com/doc/18189655/Teknik-Jalan-Raya-Merencanakan-TebalPerkerasan.html (2009). Konstruksi / Transpotasi Jalan. [Online]. Tersedia : (http://kebutuhankantor.iklanmax.com/2009/07/03/konstruksi-transportasi-jalan-pertambangan-danperkebunan.html) (2009). Pengembangan Konstruksi Jalan. [Online]. Tersedia : http://arieyona.blogspot.com/2009/01/pengembangan-konstruksi-jalan-di-lahan.html) Petunjuk Pelaksanaan Pekerjaan Jalan. [Online]. Tersedia : http://www.pusjatan.pu.go.id/upload/kolokium/2007/KKumum200705.pdf Sukirman Silvia. 2010. Perencanaan Tebal Struktur Perkerasan Lentur. Bandung Februari 2010.Nova .

Iqbal Zafar A ( 0902222 )

34