Anda di halaman 1dari 55

Bagi masyarakat sekitar nama alas purwo memiliki arti sebagai hutan pertama, atau hutan tertua di Pulau

Jawa tak heran bila masyarakat sekitar menganggap Alas Purwo sebagai hutan keramat sehingga selain diminati sebagai tujuan wisata alam, kawasan Alas Purwo juga diyakini memiliki situs-situs yang dianggap mistis yang menjadi magnet bagi para peziarah untuk melakukan berbagai ritual di hutan ini Quote:

Kawasan Alas Purwo sebelum ditetapkan sebagai Taman Nasional (TN) semula berstatus Suaka Margasatwa Banyuwangi Selatan berdasarkan SK Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 6 stbl 456 tanggal 01 September 1939 dengan luas areal 62.000 ha Dan melalui SK Menteri Kehutanan No. 283/Kpts-II/1992 tanggal 26 Pebruari 1992 status suaka margasatwa diubah menjadi Taman Nasional Alas Purwo TN Alas Purwo sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya mempunyai tiga fungsi pokok, yaitu: 1.Perlindungan proses ekologis sistem penyangga kehidupan 2.Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya 3.Pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dalam bentuk penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budidaya, dan pariwisata alam Terletak di ujung timur Pulau Jawa tepatnya di Kec. Tegaldlimo dan Kec. Purwoharjo, Kab. Banyuwangi, Jawa Timur

Secara geografis terletak di wilayah pantai selatan antara 82645 84700 LS dan 1142016 1143600 BT

Quote:

KONDISI UMUM KAWASAN


TN Alas Purwo merupakan salah satu perwakilan tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah di Pulau Jawa Kawasan ini sedikitnya memiliki 5 tipe ekosistem, yaitu hutan bambu, hutan pantai, hutan mangrove, hutan tanaman dan padang rumput Secara umum kawasan TN Alas Purwo mempunyai topografi datar, bergelombang ringan sampai berat antara 0 - 322 mdpl dengan puncak tertinggi Gunung Manis (322 mdpl) Quote:

Flora
Spoiler for Flora: Keanekaragaman jenis flora darat di kawasan TN Alas Purwo menurut hasil inventarisasi tumbuhan oleh TN Alas Purwo mencatat 158 jenis tumbuhan (59 famili) Menurut Mark Grantham jenis-jenis vegetasi yang terdapat di TN Alas Purwo (semua jenis) lebih dari 300 jenis Secara keseluruhan TN Alas Purwo merupakan taman nasional yang memiliki formasi vegetasi yang lengkap dimana hampir semua tipe formasi vegetasi dapat dijumpai di lokasi taman

nasional Spoiler for Hutan Bambu: Hutan bambu merupakan formasi yang dominan diduga 40 % dari hutan yang ada didominasi oleh bambu Hutan bambu di kawasan TN Alas Purwo merupakan hutan bambu terluas di Pulau Jawa yaitu mencapai 17.000 Ha Keberadaan hutan bambu di TN Alas Purwo secara alami mempunyai nilai penting bagi masyarakat sekitar hutan karena merupakan sumber plasma nutfah yang dapat dibudidayakan oleh masyarakat untuk keperluan bahan bangunan, peralatan rumah tangga peralatan pertanian dan peralatan penangkapan ikan selain itu dapat juga diperjual belikan Spoiler for Hutan Pantai: Terdapat di bagian Selatan dan bagian Utara TN Alas Purwo Di bagian Selatan membentang dari arah Grajagan (Segoro Anak) sampai Plengkung dengan panjang bentangan sekitar 30 Km dan Plengkung Tanjung Slakah dengan panjang bentang sekitar 50 Km Di bagian Utara membentang dari Tanjung Sembulungan sampai Tanjung Slakah dengan panjang sekitar 40 Km Lebar rata-rata vegetasinya dari pantai ke daratan (ke arah atas) sekitar 250 300 m Jenis tanaman yang mendominasi adalah Ketapang (Terminalia catapa) Sawo Kecik (Malnikora kouki), Waru Laut (Hisbiscus sp.), Keben (Baringtonia asiatica) dan Nyamplung (Calophylum inophylum)

Spoiler for Hutan Mangrove: Sebagian besar terdapat di sepanjang Sungai Segoro Anak serta sebagian terdapat dibeberapa Blok Hutan seperti Blok Pondok Welit, Teluk Pangpang dan Prepat Invetarisasi di Sagoro Anak menemukan terdapat 13 jenis tumbuhan yang menyusun hutan bakau yaitu rhizophora apiculata rhizophora mucronata , bruguiera sexanguyla, bruguiera gymnorrhyza, bruguiera sp, avicenia marina, avicenia sp, xylocarpus granatum heritiera littoralis, sonneratia alba dan sonneratia caseolaris Spoiler for Hutan dataran rendah: Merupakan bagian terluas dari seluruh luas kawasan TN Alas Purwo Formasi vegetasi hutan alam yang ada di TN Alas Purwo sebagian besar terdapat pada zona inti, yaitu kawasan bagian Timur dan sebagian kecil pada zona rimba yang terletak di bagian Selatan Timur kawasan dan tengah kawasan (sebelah Timur zona Penyangga) Spoiler for Padang rumput, Savana: Terdapat di padang pengembalaan Sadengan merupakan ekosistem buatan seluas 84 Ha terdapat 21 jenis rumput dari 45 jenis tumbuhan bawah yang ada di padang rumput ini Tujuan utama dibuat padang pengembalaan ini adalah untuk

mencukupi pakan Banteng ( bos javanicus ) dan Rusa ( cervus timorensis ) sehingga populasinya dapat meningkat selain itu untuk memudahkan wisatawan dalam upaya untuk menyaksikan atraksi satwa liar dalam kunjungannya ke Taman Nasional Alas Purwo

Quote:

Fauna
Spoiler for Fauna: Fauna di kawasan THl Alas Purwodapat dibagi menjadi 4 bagian species antara lain: Spoiler for Mamalia: Di kawasan TN Alas Purwo terdapat jenis mamalia antara lain Banteng ( bos javanicus ), rusa ( cervus timorensis ), ajag ( cuon alpinus ), babi hutan ( sus scrofa ), kijang ( muntiacus muntjak ), macan tutul ( panthera pardus ), lutung ( presbytis cristata ), kera abu-abu ( macaca fascicularis ) dan biawak ( varanus salvator ) juga terdapat satwa kecil seperti tupai tanah ( tupara glis ), tando ( cynocephalus variegatus ), kalong ( pteropus vampirus ), jelarang ( ratufa bicolor ), rase ( vivericula malaccensis ), linsang ( prionodon linsang ), luwak ( paradoxurus hermaprhoditus ), garangan ( Herpestes javanicus ) dan kucing hutan ( felis bengalensis )

Spoiler for A v e s: Jenis burung yang telah berhasil di identifikasi berjumlah 236 jenis terdiri dari burung darat dan burung air beberapa jenis diantaranya merupakan burung migran Beberapa jenis burung yang mudah dilihat diantaranya ayam hutan ( gallus gallus ), kangkareng ( antracoceros coronatus ), rangkong ( buceros undulatus ), merak ( pavo muticus ) dan cekakak Jawa ( halcyon cyanoventris )

Spoiler for Reptil: Reptil telah teridentifikasi sebanyak 20 jenis. Jenis paling populer yang ada adalah 4 jenis penyu di sepanjang pantNgagelan, yaitu penyu sisik, penyu lekang, penyu hijau dan penyu blimbing Spoiler for Pisces: Jenis ikan yang sudah teridentifikasi yang sebagian besar berada di Segoroanak sebanyak 30 jenis. Ini sudah banyak dimanfaatkan masyarakat tradisional sebagai mata pencaharian sehari-hari

Quote:

EKOWISATA TAMAN NASIONAL ALAS PURWO


TN Alas Purwo sangat tepat bagi para pelancong yang gemar menjelajahi hutan, mengamati tumbuhan dan satwa liar atau penggemar wisata pantai, penikmat selancar air (surfing) atau mereka yang menyukai wisata ziarah TN Alas Purwo memang memiliki hutan yang masih alami, beberapa pantai dan teluk yang indah serta situs-situs mistis yang kerap menjadi lokasi bersemedi atau tirakat masyarakat setempat dan para pendatang TN Alas Purwo terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi Kota Banyuwangi terletak 290 km arah timur Kota Surabaya dan dapat ditempuh dengan bus atau kereta api Sementara dari Pulau Bali Banyuwangi terletak 10 km arah barat yang hanya dipisahkan oleh Selat Bali Untuk menyeberang ke Banyuwangi dapat memanfaatkan jasa Kapal Ferry dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang Dari Kota Banyuwangi TNl Alas Purwo dapat dicapai dengan menggunakan mobil sewaan menuju Pasar Anyar dengan jarak tempuh 65 km Dari Pasar Anyar wisatawan dapat menyewa truk atau ojek menuju pos pintu utama di Rawa Bendo Wisatawan yang ingin memasuki kawasan TN Alas Purwo diwajibkan mendaftarkan diri serta membayar tiket di Pos Rawa Bendo ini Dari Rawa Bendo wisatawan dapat memulai penjelajahan hutan, mengunjungi situs-situs ziarah, atau langsung menuju obyek wisata seperti : Last edited by kur1n6; 03-05-2011 at 10:57 AM..
QUOTE

kur1n6 View Public Profile Visit kur1n6's homepage! Find More Posts by kur1n6 KaskusAd - Create an KasAD / Buat Iklan KasAD

17-042011, 04:19 PM kur1n6 kaskus addict Quote: Quote:

#2

Plengkung
Spoiler for Plengkung: Plengkung adalah pantai lokasi berselancar yang telah terkenal di dunia, terutama bagi peselancar profesional etaknya berada di sebelah Selatan Taman Nasional Alas Purwo. Pantai Plengkung yang memang melengkung itu, lebih dikenal oleh para perselancar tingkat dunia dengan sebutan G-Land Sebutan G-land diartikan karena letak pantai untuk berselancar tersebut berada di Teluk Grajagan yang menyerupai huruf G, dan mungkin ditunjang oleh keberadaan green forest, hamparan hutan pantai dan hutan dataran rendah yang masih asli di sekitarnya Plengkung termasuk empat lokasi terbaik di dunia untuk kegiatan berselancar dan dapat disejajarkan dengan lokasi surfing di Hawai , Australia dan Afrika Selatan Tinggi gelombangnya dapat mencapai antara 6-10 kaki dan panjang gelombang dapat mencapai 700 - 2000 meter (6 lapis gelombang) terutama pada bulan Juli. Disamping itu, sangat jarang ditemukan lokasi untuk surfing seperti Plengkung yang mempunyai karakteristik "left-handed" Spoiler for Pelengkung:

UserID: 2375816 Join Date: Dec 2010 Location: 225'LS;10 455'BT Posts: 2,668

Spoiler for Pelengkung:

Spoiler for Pelengkung:

Spoiler for Pelengkung:

Spoiler for Pelengkung:

Quote:

Sadengan
Spoiler for sadengan: Padang rumput seluas 80 ha dengan rumput dominan jenis lamuran. Di tepi padang rumput ini terdapat menara pengintai untuk melihat satwa antara lain banteng, kijang, rusa, kancil, babi hutan dan burungburung Spoiler for sadengan:

Spoiler for sadengan:

Spoiler for sadengan:

Spoiler for sadengan:

Spoiler for sadengan:

Spoiler for sadengan:

Quote:

Trianggulasi
Spoiler for Trianggulasi: Nama yang diambil dari sebuah tugu Triangulasi (titik ikat pengukuran dan pemetaan) merupakan pantai landai berpasir putih dengan formasi hutan pantai yang didominasi oleh pohon

Bogem dan Nyamplung Di pantai ini tidak dapat digunakan untuk berselancar (surfing) dan juga berbahaya untuk direnangi. Fasilitas pengunjung yang tersedia yaitu wisma tamu dan pesanggarahan. Spoiler for Trianggulasi:

Spoiler for Trianggulasi:

Spoiler for Trianggulasi:

Spoiler for Trianggulasi:

Quote:

Ngagelan
Spoiler for Ngagelan: Ngagelan merupakan pantai yang terletak di sebelah Barat Triangulasi berjarak 8 km yang merupakan tempat penetasan telur penyu semi alami Merupakan salah satu lokasi pendaratan dan peneluran 4 jenis penyu dari 6 jenis yang ada di Indonesia dan 7 jenis yang ada di dunia, yaitu : Penyu Lekang/ Abu-abu (Lepidochelys olivaceae), Penyu Sisik (Eretmochelys imbrica ta), Penyu Belimbing (Dermochelys coreacea) dan Penyu Hijau (Che lonia mydas) iantara keempat Penyu tersebut, Penyu Lekang/ Abuabu adalah jenis dominan yang mendarat dan bertelur di Pantai Ngagelan Selama ini Ngagelan merupakan tujuan utama bagi para peneliti yang datang dari berbagai latar belakang keilmuan. Ngagelan merupakan pusat dari kegiatan pengumpulan telur penyu dari Pancur sampai Cungur dengan panjang garis pantai sekitar 18 km Ngagelan bisa dijangkau dengan kendaraan roda empat /dua dari Pos Rowobendo menuju ke arah Barat atau dijangkau dari Trianggulasi dengan berjalan kaki melalui pantai Spoiler for Ngagelan:

Spoiler for Ngagelan:

Spoiler for Ngagelan:

Spoiler for Ngagelan:

Spoiler for Ngagelan:

Quote:

Pura Luhur Giri Salaka


Spoiler for Pura Luhur Giri Salaka: Tempat persembahyangan umat Hindu, berada di jalan masuk ke Triangulasi Pura ini merupakan salah satu pura peninggalan sejarah yang sampai sekarang masih dipakai oleh umat Hindu untuk acara keagamaan yaitu upacara Pager Wesi yang diadakan setiap 210 hari sekali Spoiler for Pura Luhur Giri Salaka:

Spoiler for Pura Luhur Giri Salaka: http://img9.imageshack.us/img9/3120/purefm.jpg

Spoiler for Pura Luhur Giri Salaka:

Quote:

Batu Lawang
Spoiler for Batu Lawang: Dipantai ini terdapat batu yang menonjol dipinggir pantai yang menyerupai pintu (lawang). Keberadaan pantai Batu Lawang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pantai Plengkung. Plengkung terkenal dengan ombaknya yang sangat baik untuk berselancar, sedangkan Batu Lawang merupakan alternatif kedua bilamana ombak pantai Plengkung sedang kurang baik. Batu lawang ini juga dikenal dengan sebutan pantai twenty-twenty karena untuk mencapainya hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit dari Plengkung Quote: Alam itu pasrah kepadamu Pesan tersebut menyambut para wisatawan yang berkunjung ke TN Alas Purwo

Sebuah pesan yang bermakna bahwa timbulnya kerusakan alam lebih disebabkan oleh ulah manusia Alas Purwo merupakan hutan Tropis yang masih Natural, masyarakat Jawa (khususnya Mataraman) percaya keberadaan hutan memiliki hubungan dengan kekuatan mistik yang berkuasa di Laut Selatan Mitos yang beredar terkait Alas Purwo menyakini bahwa merusak alas purwo dapat berakibat fatal dikemudian hari Itulah sebabnya di pintu masuk sektor Rowo Bendo tertulis larangan Jangan Tinggalkan Apapun kecuali Telapak Kaki dan Jangan Mengambil Apapun kecuali Foto Quote:

ALBUM TAMAN NASIONAL ALAS PURWO Spoiler for alas purwo:

Spoiler for alas purwo:

Spoiler for alas purwo:

Spoiler for alas purwo:

Spoiler for alas purwo:

Spoiler for alas purwo:

Spoiler for alas purwo:

Spoiler for alas purwo:

Spoiler for alas purwo:

Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, memiliki pantai sepanjang 175 kilometer yang berbatasan dengan Selat Bali dan Selat Madura. Di alur pantai tersebut terdapat sekitar 21 obyek wisata bahari yang sering dikunjungi wisatawan. Dari sekian banyak obyek wisata bahari tersebut salah satu diantaranya adalah Pantai Plengkung atau biasa disebut juga sebagai GLand. Huruf G pada kata G-Land berasal dari kata Grajakan, nama sebuah teluk di tempat itu yang terkenal memiliki ombak yang besar. Bagi pemerintah Kabupaten Banyuwangi Pantai Plengkung merupakan salah satu obyek wisata yang masuk dalam segi tiga berlian yang dijadikan sebagai andalan sumber pemasukan dana dari sektor pariwisata. Obyek wisata lain yang masuk dalam segi tiga berlian Banyuwangi adalah kawah Gunung Ijen yang memiliki pemandangan indah dan unik. Dan, yang terakhir adalah Pantai Sukamade yang terletak di Taman Nasional Meru Betiri (sekitar 100 kilometer barat daya Kota Banyuwangi). Pantai Sukamade merupakan habitat dan penangkaran penyu. Di pantai tersebut terdapat empat jenis penyu, yaitu: penyu blimbing, penyu slengkrah, penyu hijau dan penyu sisik. Untuk menuju lokasi pantai yang jaraknya sekitar 86 kilometer dari Kota Banyuwangi, dapat dicapai melalui dua rute (menggunakan angkutan umum). Rute pertama, dari Kota Banyuwangi menuju Kalipahit sejauh 59 kilometer (menggunakan bus umum). Setelah itu, dari Kalipahit menuju ke Pasaranyar sejauh 3 kilometer (menggunakan ojek). Selanjutnya, dari Pasaranyar menuju ke Trianggulasi lalu ke Pancur hingga sampai ke Plengkung sejauh 24 kilometer (menggunakan mobil khusus). Sedangkan, rute kedua dari Kota Banyuwangi melalui Benculuk menuju ke Grajakan sejauh 53 kilometer dengan

menggunakan bus umum. Selanjutnya, dari Grajakan langsung ke Plengkung melalui laut dengan menggunakan speedboat. Selain dari Banyuwangi, lokasi pantai ini juga dapat dicapai dari Benoa, Bali, menggunakan jetfoil, dengan catatan apabila laut sedang ramah (ombaknya tidak tinggi). Pantai Plengkung merupakan suatu obyek wisata yang tidak hanya memiliki panorama yang indah, tetapi juga dikenal sebagai pantai yang cocok untuk olahraga selancar air (surfing) karena memiliki ombak yang besar. Konon, bagi sebagian wisatawan mancanegara, ombak di pantai ini, khususnya pada bulan Mei hingga Oktober, dianggap sebagai terbaik kedua setelah arena selancar air di Hawaii. Sebagai catatan, di Pantai Plengkung pernah diadakan lomba selancar air (surfing) tingkat internasional yang dikenal dengan Banyuwangi G-Land International Team Challenge. Lomba itu diikuti oleh 12 tim selancar air dari delapan negara dengan jumlah atlet 86 orang. Mereka antara lain berasal dari Australia, Prancis, Inggris, Amerika, Selandia Baru, dan Indonesia yang diwakili oleh atlet selancar dari Bali. Di sekitar Pantai Plengkung juga terdapat obyek wisata lain yang menarik, terutama bagi mereka yang senang bertualang, yaitu Taman Nasional Alas Purwo. Taman Nasional Alas Purwo yang memangku Pantai Plengkung ini merupakan suatu kawasan ekosistem hutan tropis dataran rendah dengan vegetasi hutan pantai dan mangrove. Selain Plengkung, di kawasan Alas Purwo itu juga terdapat Pantai Trianggulasi dan Pancur. Dari kedua pantai itu juga bisa disaksikan panorama indah terbenamnya Matahari. Namun sayangnya, obyek wisata di kabupaten yang menyebut dirinya sebagai The Real Tropical Country (Bumi Tropis Senyatanya) itu belum terbenahi secara rapi, terutama pada sarana jalan dan transportasi. Banyak wisatawan yang mengeluh betapa sulitnya mencapai Pantai Plengkung, Kawah Ijen, Pantai Sukamade, dan Taman Nasional Alas Purwo dengan menggunakan kendaraan umum. Selain itu, rambu-rambu petunjuk ke berbagai obyek wisata itu juga sangat minim, sehingga agak sulit bagi wisatawan yang ingin berkunjung.

Selayang Pandang Tentang Taman Nasional Alas Purwo Taman Nasional Alas Purwo adalah salah satu Taman Nasional yang berada di Provinsi Jawa Timur. Secara administratif Taman Nasional ini terletak di tiga kecamatan yaitu : Kecamatan Purwoharjo, Kecamatan Muncar, dan Kecamatan Tegaldlimo. Taman Nasional Alas Purwo atau lebih sering dikenal dengan Alas Purwo ini memiliki beragam potensi wisata yang menarik. Baik berupa daya tarik alam, flora maupun fauna. Keindahan alam serta panoramanya memberikan kesenangan tersendiri bagi para pengunjungnya. Selain itu keunikan adat istiadat, kebiasaan serta kebudayaan masyarakat sekitar juga menambah keistimewaan Taman Nasional Alas Purwo sebagai salah satu objek wisata pilihan. Tak hanya itu saja, pihak Taman Nasional Alas Purwo juga menyediakan fasilitas umum untuk para pengunjung. Pengunjung tidak perlu merasa khawatir, karena fasilitas tersebut dapat berguna baik saat memasuki kawasan Taman Nasional Alas Purwo maupun setelah selesai mengunjungi Kawasan tersebut.

Aksesibilitas
Untuk mencapai kawasan taman Nasional Alas Purwo dapat ditempuh melalui dua jalur yaitu, jalur darat dan laut. Tingkat aksesibilitas ini diukur dengan jarak / waktu tempuh. Taman Nasional Alas Purwo dapat dicapai melalui jalur darat dengan jarak sebagai berikut: a. b. c. Jarak ke Ibu Kota Kecamatan Jarak ke Ibukota Kabupaten Jarak ke Ibukota Propinsi :8 Km : 59 Km : 310 Km

Jarak Dan Waktu Tempuh

Taman Nasional Alas Purwo dapat ditempuh dari berbagai kota besar seperti Banyuwangi dan Jember dengan menggunakan kendaraan umum, kendaraan pribadi dan motor. Berikut akan dipaparkan mengenai aksesibilitas menuju kawasan Taman Nasional Alas Purwo dalam Tabel 4.1. Cara Pencapaian Lokasi Nama Tempat Jarak (KM) Waktu Tempuh (Menit) Sarana

a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) a) b) c)

Alternatif I Banyuwangi- Kalipahit Kalipahit-Pasaranyar Pasaranyar-Rowobendo Pasaranyar-Trianggulasi Rowobendo-Trianggulasi Trianggulasi-Ngagelan Trianggulasi-Pancur Trianggulasi-Sadengan Pancur-Goa Istana Pancur-Plengkung Alternatif II Jember-Benculuk Benculuk-Grajagan Grajagan-Plengkung 59 3 10 12 2 6 3 3 2 7 80 30 18 120 10 60 90 7 30 10 15 25 30 120 45 30 Kendaraan Kendaraan Kendaraan Kendaraan Kendaraan Kendaraan Kendaraan Kendaraan Jalan Kaki Kendaraan Khusus Kendaraan Kendaraan Speed Boat

Kendaraan khusus yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kendaraan yang sengaja disiapkan oleh pengelola Taman Nasional Alas Purwo yang dapat digunakan untuk mencapai tempat tempat tertentu agar tidak melebihi daya dukung yang telah ada yang langsung diawasi oleh Balai Taman Nasional Alas Purwo.

Fasilitas
Taman Nasional Alas Purwo menyediakan beberapa fasilitas yang dapat digunakan oleh setiap pengunjung yang mengunjungi objek wisata alam ini. Berikut akan dipaparkan beberapa fasilitas yang terdapat di Taman Nasional Alas Purwo. Areal Parkir Taman Nasional Alas Purwo menyediakan lahan parkir guna menampung kendaraan yang dibawa oleh wisatawan. Areal parkir ini cukup luas sehingga dapat memuat banyak kendaraan bahkan bus pariwisata. Wisatawan hanya dikenakan tarif Rp. 2.000 untuk menggunakan fasilitas ini. Tourist Information Centre Bagi Wisatawan yang ingin mengetahui lebih banyak tentang Taman Nasional Alas Purwo dapat mengunjungi Tourist Informasi Centre yang terdapat di Kantor Balai Taman Nasional Alas Purwo yang berlokasi di Pos Rowobendo.

Penginapan

Bagi Wisatawan yang ingin menginap di Taman Nasional Alas Purwo terlah tersedia penginapan yang dapat digunakan untuk bermalam bagi wisatawan yang beraktivitas lebih dari 24 jam. Penginapan Ini terletak di sekitar Pantai Trianggulasi dan dikelola oleh Balai Taman Nasional Alas Purwo. Fasilitas yang terdapat di penginapan ini antara lain adalah : Tempat Tidur, Kamar Mandi serta fasilitas keamanan dari petugas Balai Taman Nasional Alas Purwo. Dalam Tabel 4.2 berikut akan dipaparkan jenis dan tarif penginapan yang terdapat di Taman Nasional Alas Purwo. o 1 Nama Pesanggrahan Wisma Tamu Kapasitas 3 kamar, 6 bed Harga (Rp) Wisman Wisnus 300.000/wisma 250.000/wisma 120.000/kamar 2 Pesanggrahan Bogem 5 wisma, 8 kamar, 12 bed 70.000/kamar

55.000/orang 33.000/orang 250.000/wisma 250.000/wisma 100.000/kamar 33.000/orang 100.000/kamar 22.000/orang

Pesanggrahan Tingkat

3 wisma, 6 kamar, 12 bed

250.000/wisma 250.000/wisma 100.000/kamar 100.000/kamar 22.000/orang 22.000/orang 22.000/orang

4 5

Pondok Peneliti Penginapan Gardu Pandang

2 kamar, 4 bed 6 kamar, 12 bed

33.000/orang 55.000/orang 55.000/orang

Kantin Taman Nasional Alas Purwo juga menyediakan fasilitas kantin untuk wisatawan yang berkunjung. Wisatawan dapat membeli makanan kecil serta beristirahat sejenak setelah beraktivitas di Taman Nasional Alas Purwo. Kantin ini biasanya digunakan untuk sebagai tempat pengolahan dan menikmati hasil berwisata seperti ikan hasil memancing dan sayuran dari kebun Hutan Produksi.

Potensi Flora

Taman Nasional Alas Purwo merupakan Taman Nasional yang memiliki formasi vegetasi yang lengkap. Formasi ini berupa hutan pasntai sampai dengan hutan hujan tropika dataran rendah. Jenis-jenis flora yang terdapat pada formasi hutan pantai yaitu : Ketapang, Sawo Kecik, Waru Laut, Keben, dan Nyamplung. Sedangkan jenis flora yang terdapat pada formasi hutan alam dataran rendah lebih dominan pada vegetasi pohon, antara lain adalah : Dondong Alas, Kemiri, dan Asam. Formasi hutan ini penutupannya lebat dengan tajuk setinggi 25-35 m yang ditandai dengan lebatnya Rotan, beberapa jenis bambu, dan tumbuhan melilit. Selain itu 40% dari zona inti merupakan formasi tumbuhan bambu. Terdapat 13 jenis bambu dalam formasi hutan bambu, antara lain adalah : Bambu Ampel, Bambu Wuluh, Bambu Apus, Bambu Gesing, Bambu Jajang, dan Bambu Manggong. Bambu Manggong adalah merupakan endemik dari Taman Nasional Alas Purwo yang artinya adalah bambu tersebut merupakan tanaman khas yang terdapat pada suatu wilayah.

Potensi Fauna
Selain memiliki kekayaan potensi berupa keanekaragaman flora, Taman Nasional Alas Purwo juga memiliki kekayaan potensi berupa keanekaragaman fauna daratan. Sampai saat ini telah tercatat sebanyak 21 satwa liar dari jenis mamalia telah tinggal di Taman Nasional Alas Purwo, dan 12 diantaranya merupakan hewan yang dilindungi oleh pemerintah. Hewan-hewan tersebut antara alian adalah : Banteng, Kijang, Rusa, Lutung, Kancil, Bajing Terbang, Berang-berang, Landak, Linsang, Macan Tutul, Anjing Hutan, dan Kucing Hutan. Sedangkan dari jenis Aves, menurut data terakhir sebanyak 35 jenis burung hutan dan 59 jenis burung air telah mendiami Taman Nasional ini.

Adat Istiadat Dan Kebiasaan Masyarakat

Masyarakat yang mendiami sekitar Taman Nasional Alas Purwo adalah merupakan Masyarakat Jawa dan keturunannya. Masyarakat di sekitar Taman Nasional Alas Purwo memiliki banyak sekali kebiasaan serta adat istiadat yang unik, mengingat bahwa masyarakat ini merupakan keturunan dari Trah Majapahit, Mataram, dan Blambangan. Beberapa contoh adat istiadat yang biasa dilakukan oleh masyarakat disekitar Taman Nasional Alas Purwo antara lain adalah : a) Sayan

Upacara ini merupakan kegiatan gotong royong dalam mendirikan rumah warga. Biasanya jika salah satu warga akan mendirikan rumah maka dengan undangan atau tanpa undangan warga lain akan datang untuk ikut serta membantu dalam mendirikan rumah tersebut. setelah bagian atap rumah selesai di buat atau dinaikkan kemudian diadakan syukuran atas berdirinya rumah tersebut. Masyarakat juga sering menyebut istilah sayan dengan istilah ngedekne omah (mendirikan rumah) b) Upacara Kelahiran

Ada tiga upacara yang biasa diselenggarakan oleh masyarakat sekitar Taman Nasional Alas Purwo pada waktu bayi masih di dalam kandungan sampai bayi dilahirkan. 1) Telon telon

Upacara ini dilakukan pada waktu usia kandungan berusia 3 bulan. Biasanya dilakukan selamatan atau syukuran. 2) Piton-piton

Upacara ini dilakukan pada waktu usia kandungan mencapai 7 bulan. Yang menarik dalam upacara ini adalah, warga yang merupakan ayah adri si bayi akan membelah sebuah kelapa yang dipercaya dapat menentukkan jenis kelamin dari si bayi tersebut. Jika belahan kelapa tepat di tengah dan dapat membelah kelapa maka jenis kelamin dari si bayi adalah laki-laki. Sedangkan jika belahannya miring maka jenis kelamin si bayi adalah perempuan. 3) Bayenan

Upacara ini dilakukan pada hari dimana bayi dilahirkan. Biasanya masayrakat hanya melakukan ater-ater atau mengantarkan makanan sebagai tanda syukur kepada para tetangga dan kerabat. 4) Sepasaran

Upacara ini dilakukan saat bayi berusia 40 hari. Dalam upacara ini biasanya dilakukan pemotongan rambut bayi oleh orang yang dianggap tua (tokoh masyarakat) atau seorang kyai. Selain itu pada upacara ini dilakukan pemberian nama kepada si bayi. c) Selamatan

Masyarakat sering menyebutnya genduren (kenduri). Biasanya kenduri ini dilakukan dalam rangka mengirim doa kepada keluarga yang telah meninggal dan para leluhur. Selain itu acara kenduri ini juga dilakukan dalam rangka syukuran atas apa yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa. d) Pertanian

Dalam bidang pertanian masyarakat juga memili kebiasaan untuk menggelar upacara, yaitu tandur dan buritan. Tandur biasanya dilakukan sebelum musim menanam padi, sedangkan buritan dilakukan pada waktu musim panen tiba sebagai bentuk rasa syukur terhadap Dewi Sri atau Dewi Kesuburan. e) Petik Laut

Upacara ini dilakukan pada tanggal 1 suro atau pada waktu Tahun Baru Islam. Upacara ini biasanya dilakukan oleh masyarakat yang bermata pencaharaian sebagai nelayan. Upacara ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil laut yang melimpah. Dalam upacara ini masyarakat menghanyutkan sesajen untuk sesembahan (persembahan)

Selain kebiasaan dan adat istiadat, masyarakat juga memiliki beberapa kesenian yang biasa dijadikan hiburan bagi masyarakat setempat. Kesenian itu antara lain adalah : Tari Gandrung, Jaranan Buto, Wayang Kulit, Janger. Kesenian tersebut biasanya dipentaskan saat salah satu warga mempunyai hajat seperti pernikahan atau khitanan. Selain kesenian tradisional diatas, masyarakat juga memiliki beberpa kesenian modern yang biasanya di pentaskan pada saat upacara keagamaan. Kesenian tersebut antara lain adalah kuntulan, jaran kincak (kuda goyang), dan kendang kempul.

Kebudayaan Dan Pluralitas Masyarakat

Masyarakat yang tinggal di sekitar Taman Nasional Alas Purwo memiliki keragaman Budaya yang sangat unik. Khususnya masyarakat Desa Kalipahit yang memiliki keyakinan dalam agama yang berbeda dan dapat hidup secara berdampingan. Mayoritas masyarkat Desa Kalipahit adalah beragama Islam. Kebudayaan tersebut telah beralkulturasi dengan Kebudayaan Jawa atau sering disebut dengan Islam Kejawen. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kebiasaan masyarakat yang masih melakukan adat istiadat Jawa dalam setiap aspek kehidupan, namun kebiasaan tersebut juga tidak terlepas dari sisi agama islam. Kebiasaan tersebut tidak terlepas dari sifat masyarakat Jawa yang suka bergotong royong. Misalnya dalam acara kenduri, acara ini biasanya dilaksanakan oleh seorang warga untuk memohon doa atau mengirim doa kepada leluhur mereka. Secara logika hal tersebut dapat dilakukan sendiri oleh warga dengan memohon doa sesuai keyakinannya tanpa harus menyelenggarakan suatu acara yang besar, namun kebiasaan tersebut sering dilaksanakan oleh warga dengan mengundang tetangga sekitar dengan menggelar acara kenduri. Dalam acara kenduri ini biasanya di suguhkan makananmakanan khusus yang disesuaikan dengan tujuan dari kenduri tersebut. Namun dalam acara ini terdapat satu masakan yang dapat dijadikan simbol gotong royong, yaitu Ingkung (Ayam yang dimasak utuh dengan bumbu-bumbu masyarakat Jawa). Ingkung ini biasanya di bagikan secara adil kepada tiap warga yang dundang, masing-masing mendapatkan jatah atau bagian yang sama. Selain memeluk Agama Islam, sebagian masyarakat Kalipahit juga memeluk Agama Hindu. Tidak ada perbedaan yang berarti yang dirasakan antar warga yang berbeda keyakinan. Bahkan disetiap hajatan yang dilaksanakan warga, tidak hanya warga yang memiliki keyakinan sama yang diundang. Keragaman budaya Hindu tersebut dapat dilihat dengan adanya pura yang terdapat di Taman Nasional Alas Purwo yang merupakan pura tertua di sekitar Desa Kalipahit. Pura ini sering dijadikan sebagai tujuan utama umat Hindu Bali.

Objek Wisata Alam

Pantai Pancur Pantai Pancur masuk dalam Sub Seksi Pancur, Seksi Konservasi Wilayah I Rowobendo, Taman Nasional Alas Purwo. Pantai Ini berjarak sekitar 15 Km dari Desa Pasaranyar atau 5 Km dari pintu masuk Taman Nasional Alas Purwo yang merupakan Pos Pengawasan Rowobendo dan 3 Km dari Pantai Trianggulasi. Pantai ini bisa ditempuh melalui jalur darat dengan menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat dengan waktu tempuh sekitar satu jam dari desa terdekat. Keadaan jalan menuju pantai ini berbatu dengan pemandangan disebelah kanan-kiri pepohonan jati yang dikelola oleh pihak Perhutani. Ciri khas dari pantai ini adalah adanya aliran sungai yang mengalir setiap tahun dari tempat yang agak terjal sehingga membentuk pancuran, sebutan pancuran inilah yang kemudian diambil sebagai nama Pantai Pancur. Kegiatan yang dapat dilakukan di pantai ini antara lain adalah : bersantai menikmati panorama, berkemah, dan memancing. Perkembangan pantai ini dapat dilihat dari didirikannya beberapa fasilitas, antara lain adalah : kantin, fasilitas sanitasi (toilet), camping ground, area parkir, musholla dan pendopo. Pantai Pancur juga merupakan pintu masuk menuju kawasan Plengkung Surf Beach melalui jalur darat. Berikut ini merupakan penjelasan mengenai gambaran wisata Pantai Pancur yang dirangkum dalal tabel 4.3. Pantai Triangulasi Pantai Triangulasi di ambil dari nama tugu Trianggulasi yaitu tugu yang dinyatakan sebagai titik ikat pada peta untuk menentukan resurection atau panduan arah peta dalam menentukkan perjalanan. Pantai ini dapat ditempuh dengan jarak 3 Km dari pantai Pancur atau 2 Km dari Pos Rowobendo dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Dalam tabel 4.4 berikut ini akan dipaparkan gambaran mengenai Pantai Trianggulasi.

Pantai Plengkung Pantai ini berjarak sekitar 13 Km dari Pantai Pancur dan dapat ditempuh melalui du jalur alternatif, yaitu jalur darat dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau dengan menggunakan kendaraan khusus yang telah disediakan. Kemudian jalur kedua adalah dengan menggunakan speed boat dari pantai Grajagan atau Pantai Trianggulasi. Pantai ini menawarkan ombak yang besar sehingga sering dimanfaatkan oleh para wisatawan asing untuk surfing. Pantai yang sering disebut dengan G-Land ini sering dikunjungi Wisatawan asing yang datang dari Bali. Mereka biasanya menggunakan jasa Travel Agent.

Situs Candi Situs Candi terletak pada areal pos konservasi Rowobendo, sekitar 150 meter dari Pura Luhur Giri Saloka Alas Purwo. Lokasi situs ini bisa dicapai dengan kendaraan roda dua atau roda empat dengan menempuh jarak sekitar 1 km dari pitu masuk Pos Rowobendo. Kondisi flora daerah ini disominasi oleh pohon jati dan semak, sedangkan keadaan fauna yang dapat ditemui antara lain adalah Kera, Burung Merak, Kancil, dan Babi Hutan.

Atraksi Pendukung Ekowisata

Atraksi pendukung ekowisata erat hubungannya dengan sosial budaya masyarakat berupa kegiatan yang dilakukan di sekitar objek wisata yaitu memancing dan mencari kerang. Sedangkan bertanam dan berkebun bisa dilakukan di lahan hutan produksi yang memang berupa perkebunan dan areal pertanian atau bisa juga dilakukan di sekitar lokasi milik masayarakat di pedesaan sekitar kawasan. Dengan mengikuti kebudayaan sehari-hari yang dilakukan masyarakat pedesaan akan memberikan suasana asli pedesaan, seperti halnya mengikuti Upacara Tandur, Panen/Buritan, atau setidaknya memetik hasil kebun. Atraksi pendukung ekowisata semacam itu dapat dijumpai di beberapa wilayah sekitar Taman Nasional Alas Purwo, antara lain adalah : 1. Areal Pertanian Rakyat Wilayah pertanian ini berada di sepanjang jalan menuju Taman Nasional Alas Puro tepatnya di Desa Kalipahit Dusun Kutorejo. Hasil pertanian di wilayah ini antara lain adalah Padi, Kedelai dan Palawija serta buah-buahan seperti melon, semangka, dan jeruk.

2.

Perkebunan Wilayah Hutan Produksi

Wilayah hutan memproduksi hasil kebun berupa Palawija, Jagung, Labu, Umbiumbian, dan Sayurran serta kacang-kacangan. Banyak masyarakat sekitar Taman Nasional Alas Purwo yang bertananm di wilayah pemanfaatan hutan produksi dengan cara bagi hasil, sewa maupun bagi kerja. Bagi kerja yang dimaksud adalah para penanam harus memelihara bibit persemaian yang akan ditanam di hutan produksi, bibit itu berupa bibit Jati, Mahoni, Sono Keling, dan Kendal yang nantinya akan ditanam pada areal hutan produks kayu.

Ekowisata
Sadengan

Sadengan berada di bawah wilayah pengawasan Pos Rowobendo dan dapat ditempuh selama sekitar 20 menit dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Objek wisata ini hanya berjarak masing masing 3 Km dari Pos Rowobendo dan Pantai Trianggulasi. Sadengan adalah padang penggembalaan seluas lebih kurang 84 hektar. Teridir dari savanna rumput lamuran yang sangat disukai binatang herbivora pemakan rumput. Sadengan memiliki fasilitas pondok peneliti untuk tempat menginap, gardu pandang untuk mengamati binatang dan tempat parkir yang letaknya dibuat agar tidak mengganggu binatang di padang penggembalaan. Pengamatan dapat dilakukan sepanjang hari, namun pengamatan terbaik adalah antara pukul 06.00 09.00 dan 15.00 18.00. Ngagelan Objek wisata lain yang dapat dikategorikan sebagai objek wisata ekowisata adalah Ngagelan. Tempat ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua atau berjalan kaki dengan jarak sekitar 8 Km dari Pos Rowobendo. Ngagelan adalah sebuah tempat penangkaran penyu yang dikelola oleh Balai Taman Nasional Alas Purwo. Beberpa jenis penyu yang ditangkarkan di Ngagelan adalah Penyu Hijau, Penyu Sisik dan Penyu Belimbing. Ngagelan memiliki 4 buah kolam penangkaran Tukik atau bayi penyu. Pada bulan Agustus sampai Oktober adalah waktu terbaik untuk mengunjungi tempat ini, karena pada bulan tersebut adalah waktu dimana penyu naik ke daratan untuk berelur, sehingga wisatawan dapat ikut serta untuk mengikuti aktifitas susur pantai pada malam hari untuk melihat penyu naik ke daratan. Ngagelan juga menyediakan sebuah wisma untuk menginap para wisatawan. Berikut akan digambarkan mengenai objek wisata Ngagelan yang dirangkum dalam tabel 4.8. Mbedul dan Cungur Mbedul dan Cungur adalah bagian dari Taman Nasional Alas Purwo yang masuk dalam kawasan kecamatan purwoharjo. Tempat ini dapat dituju melalui dua jalur, yaitu melalui jalur darat dari Pos Rowobendo dengan jarak sekitar 19 Km atau dari Ngagelan dengan jarak sekitar 11 Km dan dapat ditempuh dengan mengunakan kendaraan roda dua atau dengan berjalan kaki. Kemudian melalui jalur laut dengan menggunkan perahu slerek dari Dusun Ban Kandel Desa Tegalsari Kecamatan Purwoharjo. Mbedul biasanya digunakan oleh para pelajar sebagai tempat berkemah karena memiliki jalur trekking di tengah hutan dengan jarak tidak terlalu jauh dan terdapat pantai di akhir jalur dimana pantai tersebut langsung berhadapan dengan Samudera Hindia. Kemudian Cungur adalah tempat pengamatan burung-burung migran dari Australia. Beberapa spesies burung mendiami wilayah ini pada bulan-bulan tertentu. ]

s Purwo
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia
Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Setelah dirapikan, tolong hapus pesan ini.

Alas Purwo National Park


IUCN Kategori II (Taman Nasional)

Letak Kota terdekat Koordinat Luas Didirikan Pengunjung Pihak pengelola

Alas Purwo NP Lokasi di Pulau Jawa Jawa Timur, Indonesia Banyuwangi 841S 11428E / 8.683LS 114.467BTKoordinat:

841S 11428E / 8.683LS 114.467BT


434.20 km 1993 14,720(tahun 2006[1]) Kementerian Kehutanan

Taman Nasional Alas Purwo (TN Alas Purwo) adalah taman nasional yang terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Secara geografis terletak di ujung timur Pulau Jawa wilayah pantai selatan antara 8264584700 LS dan 11420161143600 BT.

Daftar isi
[sembunyikan]

1 Keadaan fisik 2 Keadaan biologi 3 Sosial ekonomi dan budaya 4 Misteri 5 Referensi

[sunting] Keadaan fisik


TN Alas Purwo dengan luas 43.420 ha terdiri dari beberapa zonasi, yaitu :

Zona Inti (Sanctuary zone) seluas 17.200 Ha Zona Rimba (Wilderness zone) seluas 24.767 Ha Zona Pemanfaatan (Intensive use zone) seluas 250 Ha Zona Penyangga (Buffer zone) seluas 1.203 Ha.

Rata rata curah hujan 1000 1500 mm per tahun dengan temperature 22-31 C, dan kelembaban udara 40-85 %. Wilayah TN Alas Purwo sebelah Barat menerima curah hujan lebih tinggi bila dibandingkan dengan wilayah sebelah Timur. Dalam keadaan biasa, musim di TN Alas Purwo pada bulan April sampai Oktober adalah musim kemarau dan bulan Oktober sampai April adalah musim hujan. Secara umum kawasan TN Alas Purwo mempunyai topografi datar, bergelombang ringan sampai barat dengan puncak tertinggi Gunung Lingga Manis (322 mdpl). Keadaan tanah hamper keseluruhan merupakan jenis tanah liat berpasir dan sebagian kecil berupa tanah lempung. Sungai di kawasan TN Alas Purwo umumnya dangkal dan pendek. Sungai yang mengalir sepanjang tahun hanya terdapat di bagian Barat TN yaitu Sungai Segoro Anak dan Sunglon Ombo. Mata air banyak terdapat di daerah Gunung Kuncur, Gunung Kunci, Goa Basori, dan Sendang Srengenge.

[sunting] Keadaan biologi


Secara umum tipe hutan di kawasan TN Alas Purwo merupakan hutan hujan dataran rendah. Hutan bambu merupakan formasi yang dominan, 40 % dari total luas hutan yang ada. Sampai saat ini telah tercatat sedikitnya 584 jenis tumbuhan yang terdiri dari rumput, herba, semak, liana, dan pohon. Berdasarkan tipe ekosistemnya, hutan di TN Alas Purwo dapat di kelompokkan menjadi hutan bambu, hutan pantai, hutan bakau/mangrove, hutan tanaman, hutan alam, dan padang penggembalaan (Feeding Ground). Keanekaragaman jenis fauna di kawasan TN Alas Purwo secara garis besar dapat dibedakan menjadi 4 kelas yaitu Mamalia, Aves, Pisces dan Reptilia. Mamalia yang tercatat sebanyak 31 jenis, diantaranya yaitu : Banteng (Bos javanicus), Rusa (Cervus

timorensis), Ajag (Cuon alpinus), Babi Hutan (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), Macan Tutul (Panthera pardus), Lutung (Trachypithecus auratus), Kera Abuabu (Macaca fascicularis), dan Biawak (Varanus salvator). Burung yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah 236 jenis terdiri dari burung darat dan burung air, beberapa jenis diantaranya merupakan burung migran yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah 39 jenis. Jenis burung yang mudah dilihat antara lain : Ayam Hutan (Gallus gallus), Kangkareng (Antracoceros coronatus), Rangkok (Buceros undulatus), Merak (Pavo muticus) dan Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris). Sedangkan untuk reptil telah teridentifikasi sebanyak 20 jenis.

[sunting] Sosial ekonomi dan budaya


Sebagian besar mata pencaharian masyarakat di sekitar kawasan adalah bertani, buruh tani, dan nelayan. Masyarakat nelayan kebanyakan tinggal di wilayah Muncar, yang merupakan salah satu pelabuhan ikan terbesar di Jawa, dan di wilayah Grajagan. Mayoritas penduduk di sekitar kawasan memeluk agama Islam, namun banyak pula yang beragama Hindu terutama di Desa Kedungasri dan Desa Kalipait. Secara umum masyarakat sekitar TN Alas Purwo digolongkan sebagai masyarakat Jawa Tradisional.

[sunting] Misteri
Bertapa, semedi, sayan (gotong-royong sewaktu mendirikan rumah), bayenan serta selamatan selamatan lain yang berkaitan dengan pencarian ketenangan bathin masih dilaksanakan. Pada hari hari tertentu seperti 1 suro, bulan purnama, bulan mati, masyarakat datang ke kawasan TN Alas Purwountuk bersemedi. Tempat ini pun sangat terkenal dengan keangkerannya. Dahulu banyak orang yang tersesat dan dirampok serta dibunuh oleh perampok yang berdiam di Alas purwo. Disana juga banyak terdapat tempat Mahluk Halus berada .Sehingga Sampai kini tempat ini masih terkenal keangkeran-nya sebagai tempat terangker di Pulau Jawa.

[sunting] Referensi

Taman Nasional Alas Purwo


5

Wisatanesia.com-Taman Nasional Alas Purwo (atau biasa disingkat Alas Purwo)terletak di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Bagi masyarakat sekitar, nama alas purwo memiliki arti sebagai hutan pertama, atau hutan tertua di Pulau Jawa. Oleh sebab itu, tak heran bila masyarakat sekitar menganggap Alas Purwo sebagai hutan keramat. Sehingga, selain diminati sebagai tujuan wisata alam, kawasan Alas Purwo juga diyakini memiliki situs-situs yang dianggap mistis yang menjadi magnet bagi para peziarah untuk melakukan berbagai ritual di hutan ini. Taman nasional yang diresmikan melalui SK Menteri Kehutanan No. 283/Kpts-II/92 ini merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah di Pulau Jawa. Ketinggiannya berada pada kisaran 0 322 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan topografi datar, bergelombang ringan, dengan puncak tertinggi di Gunung Lingga Manis (322 meter dpl). Berdasarkan ekosistemnya, tipe-tipe hutan di Taman Nasional Alas Purwo dapat dibagi menjadi hutan bambu, hutan pantai, hutan bakau/mangrove, hutan tanaman, hutan alam, dan padang penggembalaan (Feeding Ground). Jika diamati sekilas, dari luas lahan sekitar 43.420 hektar, taman nasional ini didominasi oleh hutan bambu, yang menempati areal sekitar 40 % dari seluruh area yang ada.

Secara umum, keadaan tanah di taman ini sebagian besar adalah tanah liat berpasir, sedangkan sebagian kecil lainnya berupa tanah lempung. Curah hujan per tahun rata-rata berkisar antara 1.000 1.500 mm dengan temperatur antara 27-30 C, dan kelembaban udara antara 4085 %. Biasanya, musim kemarau terjadi pada bulan April sampai Oktober, sementara musim penghujan terjadi sebaliknya, yaitu pada bulan Oktober asa B. Keistimewaan Taman Nasional Alas Purwo sangat tepat bagi para pelancong yang gemar menjelajahi hutan, mengamati tumbuhan dan satwa liar, atau penggemar wisata pantai, penikmat selancar air (surfing), atau mereka yang menyukai wisata ziarah. Taman Nasional Alas Purwo memang memiliki hutan yang masih alami, beberapa pantai dan teluk yang indah, serta situs-situs mistis yang kerap menjadi lokasi bersemedi atau tirakat masyarakat setempat dan para pendatang.

Mengunjungi Taman Nasional Alas Purwo, wisatawan dapat mengamati kekayaan flora dan fauna yang ada. Taman nasional ini memiliki setidaknya 13 jenis bambu dan 548 jenis tumbuhan lain yang terdiri dari rumput, herba, semak, liana, dan pohon. Tumbuhan khas dan endemik yang terdapat di taman nasional ini yaitu sawo

kecik

dan

bambu

manggong

Tumbuhan lainnya adalah ketapang , nyamplung , kepuh , dan keben . Kondisi alamnya yang masih alami membuat Taman Nasional Alas Purwo menjadi habitat yang cocok bagi berbagai satwa liar, seperti lutung budeng , banteng , ajag rusa , macan tutul , kucing bakau , serta burung merak dan ayam hutan . Tak hanya satwa darat, satwa air yang langka dan dilindungi seperti penyu lekang , penyu belimbing (dermochelys coriacea), penyu sisik , serta penyu hijau juga menjadi penghuni di pantai selatan taman nasional ini (Pantai Ngagelan). C. Lokasi

Taman Nasional Alas Purwo terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi,Jawa Timur D. Akses

Kota Banyuwangi terletak sekitar 290 km arah timur Kota Surabaya (Ibu Kota Provinsi Jawa Timur) dan dapat ditempuh dengan bus atau kereta api. Sementara dari Pulau Bali, Banyuwangi terletak sekitar 10 km arah barat yang hanya dipisahkan oleh Selat Bali. Untuk menyeberang ke Banyuwangi, wisatawan dapat memanfaatkan jasa Kapal Ferry dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang. Dari Kota Banyuwangi, Taman Nasional Alas Purwo, dapat dicapai dengan menggunakan mobil sewaan (carter mobil Colt) menuju Pasar Anyar dengan jarak tempuh sekitar 65 km. Dari Pasar Anyar wisatawan dapat menyewa truk atau ojek menuju pos pintu utama di Rawa Bendo. Untuk jasa ojek, wisatawan harus membayar sektar Rp 20.000 menuju Rawa Bendo (Januari 2009). Wisatawan yang ingin memasuki kawasan Taman Nasional Alas Purwo biasanya diwajibkan mendaftarkan diri serta membayar tiket di Pos Rawa Bendo ini. Dari Rawa Bendo, wisatawan dapat memulai penjelajahan hutan, mengunjungi situs-situs ziarah, atau langsung menuju obyek wisata pantai, seperti Segara Anakan, Pantai Trianggulasi, Pantai Ngagelan, serta lokasi surfing di Pantai Plengkung. E. Harga Tiket

Untuk masuk ke Taman Nasional Alas Purwo pengunjung harus membayar tiket masuk di Pos Rawa Bendo. Pembayaran tiket masuk dibedakan menurut pekerjaan/profesi pengunjung. Besaran harga

tiket F.

masih Akomodasi dan

dalam Fasilitas

konfirmasi. Lainnya

Kawasan Taman Nasional Alas Purwo telah dilengkapi fasilitas pemandu, yaitu para Jagawana (penjaga hutan) atau asisten Jagawana yang dapat dimintai bantuan untuk memandu penjelajahan. Untuk jasa pemandu ini, wisatawan harus merogoh kocek antara Rp 75.000 sampai Rp 150.000 per hari. Di kantor pengawasan taman nasional juga terdapat beberapa mobil Jeep untuk patroli serta sepeda motor trail yang dapat disewa untuk keperluan penjelajahan. Apabila membawa kendaraan pribadi, wisatawan juga dijamin tidak akan kesasar menyusuri hutan karena telah dilengkapi papan-papan petunjuk menuju berbagai obyek wisata di dalam taman nasional ini. Papan petunjuk tersebut juga dilengkapi keterangan jarak yang harus ditempuh (berapa kilometer), serta sarana menuju lokasi (misalnya dapat ditempuh dengan mobil, sepeda motor, atau jalan kaki). Salah satu papan petunjuk di Taman Nasional Alas Purwo Selain memiliki beberapa lokasi perkemahan, di beberapa pantai seperti di Pantai Trianggulasi dan kawasan Plengkung atau G-Land juga telah tersedia penginapan. Bahkan di kawasan G-Land saat ini telah memiliki beberapa cottage bagi para peselancar yang dibangun dengan nuansa yang alami dan menyatu dengan alam. Bahan-bahan bangunannya misalnya terdiri dari kayu, bambu, dan tali-temali dari ijuk. Tak hanya itu, suasana alami juga terlihat dari lampu minyak tanah yang dipakai, serta ruang tidur yang menyerupai gerobak sapi tempo dulu. Dengan kelebihan-kelebihan tersebut, Penginapan yang diperuntukkan bagi para peselancar dunia ini dihargai sekitar 30 US Dollar per malam. Jika Anda menginginkan penginapan yang lebih sederhana, terdapat beberapa wisma tamu di Pos Rawa Bendo seharga Rp 100.000 per malam. Selain itu, di sekitar Pos Rawa Bendo juga terdapat beberapa warung makan (Januari 2009). Wisata Indonesia Surga Dunia Bagi wisatawan yang memerlukan informasi lebih rinci dapat menghubungi kantor Balai Taman Nasional Alas Purwo, di Jalan Achmad Yani no. 108 Banyuwangi 68416, Jawa Timur. Anda juga dapat menghubungi kantor tersebut melalui saluran telepon 0333-410857, fax. 0333-428675,

Taman Nasional Alas Purwo

Taman Nasional Alas Purwo merupakan salah perwakilan tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah di Pulau Jawa. Tumbuhan khas dan endemik pada taman nasional ini yaitu sawo kecik (Manilkara kauki) dan bambu manggong (Gigantochloa manggong). Tumbuhan lainnya adalah ketapang (Terminalia cattapa), nyamplung (Calophyllum inophyllum), kepuh (Sterculia foetida), keben (Barringtonia asiatica), dan 13 jenis bambu. Taman Nasional Alas Purwo merupakan habitat dari beberapa satwa liar seperti lutung budeng (Trachypithecus auratus auratus), banteng (Bos javanicus javanicus), ajag (Cuon alpinus javanicus), burung merak (Pavo muticus), ayam hutan (Gallus gallus), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus melas), dan kucing bakau (Prionailurus bengalensis javanensis). Satwa langka dan dilindungi seperti penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu hijau (Chelonia mydas) biasanya sering mendarat di pantai Selatan taman nasional ini pada bulan Januari s/d September. Pada periode bulan Oktober-Desember di Segoro Anakan dapat dilihat sekitar 16 jenis burung migran dari Australia diantaranya cekakak suci (Halcyon chloris/ Todirhampus sanctus), burung kirik-kirik laut (Merops philippinus), trinil pantai (Actitis hypoleucos), dan trinil semak (Tringa glareola). Plengkung yang berada di sebelah Selatan Taman Nasional Alas Purwo telah dikenal oleh para perselancar tingkat dunia dengan sebutan G-Land. Sebutan G-land dapat diartikan, karena letak olahraga selancar air tersebut berada di Teluk Grajagan yang menyerupai huruf G. Ataupun letak Plengkung berada tidak jauh dari hamparan hutan hujan tropis yang terlihat selalu hijau (greenland). Plengkung termasuk empat lokasi terbaik di dunia untuk kegiatan berselancar dan dapat disejajarkan dengan lokasi surfing di Hawai, Australia, dan Afrika Selatan. Menyelusuri pantai pasir putih dari Trianggulasi ke Plengkung akan menemukan daerah pasir gotri. Pasir tersebut bewarna kuning, berbentuk bulat dan berdiameter sekitar 2,5 mm. Masyarakat sekitar taman nasional sarat dan kental dengan warna budaya Blambangan. Mereka sangat percaya

bahwa Taman Nasional Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram, dan meyakini bahwa di hutan taman nasional masih tersimpan Keris Pusaka Sumelang Gandring. Oleh karena itu, tidaklah aneh apabila banyak orang-orang yang melakukan semedhi maupun mengadakan upacara religius di Goa Padepokan dan Goa Istana. Di sekitar pintu masuk taman nasional (Rowobendo) terdapat peninggalan sejarah berupa Pura Agung yang menjadi tempat upacara umat Hindu yaitu Pagerwesi. Upacara tersebut diadakan setiap jangka waktu 210 hari. Taman nasional ini memiliki ragam obyek dan daya tarik wisata alam dan wisata budaya (sea, sand, sun, forest, wild animal, sport and culture) yang letaknya tidak begitu jauh satu sama lain. Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi: Sadengan. Terletak 12 km (30 menit) dari pintu masuk Pasaranyar, merupakan padang pengembalaan satwa seperti banteng, kijang, rusa, kancil, babi hutan dan burung-burung. Trianggulasi. Terletak 13 km dari pintu masuk Pasaranyar berupa pantai pasir putih dengan formasi hutan pantai untuk kegiatan wisata bahari dan berkemah. Pantai Ngagelan. Terletak 7 km dari Trianggulasi untuk melihat beberapa jenis penyu mendarat untuk bertelur di pantai dan aktivitas penangkaran penyu. Plengkung. Melihat perselancar profesional tingkat dunia yang sedang melakukan atraksi dan wisata penelusuran hutan. Bedul Segoro Anak. Bersampan, berenang, ski air di danau dan pengamatan burung migran dari Australia. Goa. Terdapat 40 buah tempat yang dapat disebut sebagai goa alam dan buatan antara lain Goa Jepang untuk melihat peninggalan dua buah meriam sepanjang 6 meter, Goa Istana, Goa Padepokan dan goa lainnya untuk wisata budaya dan wisata goa.

Cara pencapaian lokasi :


Banyuwangi-Pasaranyar 65 km, dan Pasaranyar-Trianggulasi 12 km menggunakan mobil. Trianggulasi-Plengkung, menyelusuri pantai sepanjang 10 km. Lokasi lainnya seperti Danau Segara Anak, Sadengan, Rowobendo dapat ditempuh berjalan kaki dari Trianggulasi.

Kantor: Jl. Achmad Yani 108 Banyuwangi 68416, Jawa Timur Telp. : (0333) 410857; Fax. : (0333) 428675 E-mail: alaspurwo@telkom.net

Dinyatakan ---Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 283/Kpts-II/92, seluas 43.420 hektar

Ditetapkan ---Letak Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur Temperatur udara 27 - 30 C Curah hujan 1.000 - 1.500 mm/tahun Ketinggian tempat 0 - 322 meter dpl Letak geografis 825 - 847 LS, 11420 - 11436 BT MENU

Jangan tinggalkan apapun kecuali telapak kaki dan jangan mengambil apapun kecuali foto. Alam itu pasrah kepadamu. Itulah tulisan yang terpampang di salah satu pintu masuk ke Alas Purwo. Sebuah pesan kuat bagi siapapun agar turut menjaga kelestarian hutan yang berusia sangat tua di ujung timur Pulau Jawa. Memiliki luas sekitar 43.420 hektar, hutan ini terus dijaga dan dilindungi dari tangan-tangan keji perusak alam. Alas Purwo merupakan hutan tropis alami dan termasuk yang tertua di Pulau Jawa.

Taman Nasional Alas Purwo dikenal juga sebagai hutan hujan paling alami di Indonesia, bahkan mungkin di Asia. Di Taman Nasional Alas Purwo, Anda dapat melihat banteng jawa, burung merak, babi hutan, rusa, dan hewan lainnya termasuk harimau jawa.

Ada pepohonan menjulang berukuran besar dengan umur ratusan tahun di sini. Pohon tersebut berdiameter rata-rata 30 cm dan tinggi 10-15 meter. Tanaman yang berhasil diidentifikasikan hingga 2002 ada sekitar 580 jenis. Anda akan menikmati indahnya hutan sawo kecik (manilkarakauki) dan bumbu manggong yang dominan. Pohon lainnya adalah nyamplung (calophyllum inophyllum), ketapang (terminalia cattapa), dan kepuh (stercullia foetida).

Menyusuri jalanan hutannya Anda akan disambut suara kicau burung trucak bali, trucak hijau, dan hewan lainnya. Sesekali Anda mungkin menemui beberapa kijang (muntiachus muncjak), kera berekor panjang, lutung, ayam hutan, burung kangkareng (antracoceros coronatus), rangkong, dan cekakak jawa, abu-abu (macaca fascicularisl), rusa (cervus timorensis), ayam hutan (ghalus ghalus), rangkong (buceros undulatus), dan bisa juga bertemu kibasan indahnya ekor merak (pavomuticus). Anda dapat memuaskan kegemaran berpetualang menembus hutan, mengamati satwa di Sadengan atau berkunjung ke gua-gua mistis. Gua-gua di wilayah ini di antaranya adalah Gua Istana, Gua Putri dan Gua Padepokan. Ada pula Gua Macan yang dianggap memiliki nuansa mistis tinggi. Menurut cerita masyarakat setempat, di tempat tersebut Bung Karno pernah bertapa. Gua-gua tersebut dapat dicapai dari Pos Pancur sejauh 2 km dengan berjalan kaki. Taman Nasional Alas Purwo benar-benar hutan tua, tempat yang dapat menginspirasi cerita-cerita kuno komik dan film silat. Sejatinya memang dahulu hutan ini menjadi tempat orang tertentu menguatkan kesaktian ilmu kanuragan atau bagi mereka yang melepaskan diri dari kehidupan duniawi. Selain Gua meditasi, ada juga pura Hindu yang berumur sangat tua. Uniknya tempat peribadatan ini berada di tengah hutan Taman Nasional Alas Purwo. Pura tersebut bernama Pura Luhur Giri Salaka dan masih banyak dikunjungi pemeluk Hindu pada hari suci Pager Wesi setiap 210 hari. Masyarakat yang tinggal di sekitar Alas Purwo mayoritas berasal dari Mataraman Kuno yang berbudaya Jawa Tradisional. Karena itu, tradisi kejawen masih lestari di sini seperti bertapa atau bersemedi yang masih sering dilakukan masyarakatnya. Pada harihari tertentu seperti malam 1 Suro, bulan purnama, atau bulan mati, masyarakat Hindu Bali dan ahli kebatinan Jawa sengaja datang ke taman nasional ini untuk meditasi atau melaksanakan upacara keagamaan. KEGIATAN AKOMODASI KULINER

TRANSPORTASI TIPS

Di Pancur ada sungai yang mengalir ke laut dari pantai yang agak terjal sepanjang tahun. Pancur menjadi pintu masuk petualangan Anda menuju gua-gua dan areal berselancar di Pantai Plengkung (G-Land). Di sini juga terdapat masjid, penginapan, dan warung-warung makan. Di Pantai Trianggulasi yang berpasir putih bersih dapat Anda lihat tempat bertelurnya empat jenis penyu, yaitu penyu belimbing, sisik, abu-abu, dan hijau. Waktu yang tepat untuk kegiatan ini adalah pada bulan April-November. Di Ngagelan juga menjadi tempat penetasan dan penangkaran penyu. Dari tujuh jenis penyu di dunia, enam jenis penyu terdapat di Indonesia, empat diantaranya adalah belimbing, sisik, abu-abu, dan hijau. Pantai Ngagel dapat Anda capai hanya berjarak 3 km dari Rawabendo melalui Jalan Makadam dan pasir pantai.

Di Tanjung Sembulungan Anda dapat menikmati panorama pegunungan dan hutan yang berbatasan dengan Pantai Muncar. Selain juga terdapat tebing-tebing karang yang eksotik. Di Makam Gandrung sering dijadikan lokasi selamatan nelayan Muncar. Biasanya pada setiap tanggal 15 Suro dilakukan upacara petik laut dengan melarung aneka jenis sesaji. Di Cunggur merupakan daerah burung migran asal Australia di musim dingin menuju Asia untuk mencari makan. Di Kayu Aking terdapat pantai berpasir putih seluas 12 km sepanjang bibir pantainya. Letaknya berbatasan langsung dengan Selat Bali. Di Bedul ada Segoro Anakan sebagai kawasan wisata bahari dan identik sebagai hutan mangrove termasuk yang terbesar se-Asia. Wilayah tersebut juga menjadi tempat breeding area dan nesting area beberapa jenis burung air seperti bangau tong tong, pecuk ular, trinil, raja udang, dan pelikan trinil. Selain itu, Bedul juga menjadi salah satu tempat yang digunakan masyarakat sekitar untuk mencari kerang, udang, kepiting,

dan ikan dengan alat-alat tradisional. Hal tersebut justru menjadi daya tarik untuk Anda amati. Setelah mengunjungi Bedul, sebaiknya Anda kembali lagi ke Rowobendo, lalu putar ke arah Sadengan. Sadengan berada tak jauh dari pintu masuk Rawabendo, atau 3 km Jalan Makadam melalui pepohonan jati yang berusia tua. Di Sadengan ada tempat penggembalaan buatan seluas 80 ha dilengkapi menara pandang untuk menikmati atraksi beragam hewan di rerumputan luas. Dari situ, Anda dapat lihat aneka satwa liar seperti banteng, kijang, rusa, kancil, babi hutan, dan burung merak.

Ada cottage dan jungle camp yang berada dekat pantai. Anda juga dapat memilih Pantai Grajagan untuk penginapan. Di Camp G-SPOT harga sewa kamarnya sekitar Rp150.000,00 - Rp500.000,00. Akan tetapi, Anda jangan berharap mendapat kamar dengan fasilitas hotel bintang. Kamar tersebut hanya tersedia 2 tempat tidur, 1 kipas angin kecil, kelambu, dan tembok dari triplek. Listrik hanya ada malam hari melalui genset milik Camp G-SPOT. Ada jatah makan malam, makan pagi, dan makan siang. Kesederhanaan ini tidak akan mengurangi pengalaman luar biasa yang akan Anda peroleh di hutan yang mengagumkan tersebut.

Makanan khas Banyuwangi yang dominan dan mudah didapat yaitu rujak soto, pecel rawon, sego tempong, gecok lucu, jangan banci, jangan klopo, dan ndok pindang. Berbagai jenis jajanan khas sebagai oleh-oleh adalah koe bagiak, jenang selo, dan pisang sale.

Taman Nasional Alas Purwo berada di Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi. Letaknya di perlintasan jalur yang menghubungkan Banyuwangi dan Situbondo. Dari arah Banyuwangi dapat ditempuh sekitar 14 km ke arah utara atau sekitar 5 km dari Pelabuhan Ketapang. Dari Banyuwangi sekitar 5 jam ke selatan melewati Kecamatan Rogojampi-SronoMuncar-Tegaldlimo. Dari Banyuwangi sampai ke Tegaldlimo sekitar 2 jam. Jalanannya cukup bagus beraspal. Dari Tegaldlimo lanjut ke Taman Nasional Alas Purwo sekitar 1 jam, jalannya sedikit rusak. Akhir perjalanan Anda akan tiba di Pos Perhutani Taman Nasional Alas Purwo. Dari sini kendaraan Anda dapat dititipkan di Pos Perhutani. Dari Surabaya menuju Jember sekitar 4-5 jam, lalu dilanjutkan ke timur selatan melewati Gunung Kumitir-Kalibaru-Glenmore-Genteng-Rogojampi sekitar 2 jam. Lanjutkan perjalanan dengan ruten yang sama dari Banyuwangi ke Taman Nasional Alas Purwo.

Dari Denpasar menuju Gilimanuk sekitar 2 jam, kemudian menyebrang ke Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, lalu rutenya sama dari Banyuwangi ke Taman Nasional Alas Purwo. Bagaimana, Anda siap menikmati petualangan di hutan yang luar biasa ini?

Di Taman Nasional Alas Purwo, Anda dapat menyewa jeep milik Perhutani. Harga sewa sekitar Rp150.000,00 hingga Rp250.000,00, untuk itu Anda diperkenankan untuk bernegosisasi harga. Sebenarnya trekking akan lebih menyenangkan karena melewati jalur hutan lindung yang cukup lebat. Anda yang ingin melakukan pengamatan aneka satwa paling baik adalah antara pukul 06.00 sampai 09.00 di pagi hari, atau pukul 10.00 hingga 18.00 di sore hari. Saat siang hari biasanya hewan-hewan tersebut akan masuk ke hutan untuk mencari tempat teduh.

Anda memerlukan informasi perizinan sebelumnya dengan menghubungi kantor Balai Taman Nasional Alas Purwo, di Jalan Achmad Yani No. 108 Banyuwangi 68416, Jawa Timur. Anda juga dapat menghubungi kantor tersebut melalui saluran telepon 0333-410857, fax. 0333-428675, atau E-mail: alaspurwo@telkom.net

STATISTIK BALAI TN ALAS PURWO TAHUN 2010


Posted on 2011-06-08 05:06:12 by administrator

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan Konservasi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan alam dan satwa liar serta ekosistemnya, disamping menghasilkan jasa lingkungan dan obyek wista alam. Taman Nasional Alas Purwo merupakan suatu kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Taman Nsional Alas Purwo merupakan salah satu contoh Taman Nasional Model di Indonesia. Taman Nasional Model itu sendiri dimaksudkan sebagai suatu kawasan konservasi yang dikelola secara idel sesuai potensi yang dimilikinya, sehingga kawasan ini mampu berfungsi secara optimal sebagai sistem penyangga kehidupan. Taman Nasional Alas Purwo yang akrab dikenal sebagai Semenanjung Blambangan, merupakan salah satu kawasan pelestarian alam di Indonesia. Penunjukan Alas Purwo sebagai Taman Nasional berdasarkan surat keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 283/Kpts-II/1992 tanggal 26 Pebruari 1992 seluas 43.420 ha. Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutann No.P.03/Menhut-II/2007 tanggal 01 Pebruari 2007 tentang

Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional, Balai Taman Nasional Alas Purwo terdiri dari 2 (dua) Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah yaitu Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Tegaldlimo dan Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Muncar. Sebagai Upaya penyebarluasan data, Informasi potensi dan Upaya peningkatan pelaksanaan tugas pokok dan Fungsi Balai Taman Nasional alas Purwo dalam bidang pelayanan informasi pada masyarakat, maka disusunlah suatu penyajian data statistik yang akurat dari tahun ke tahun B. Keadaan Umum TN Alas Purwo Secara Administratif Pemerintahan Taman Nasional (TN) Alas Purwo terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi. Secara geografis terletak di ujung Timur Pulau Jawa wilayah pantai Selatan antara 8 26' 45 8 47' 00 LS dan 114 20 16 - 114 36 00 BT. Alas Purwo ditunjuk sebagai Taman Nasional berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 283/Kpts-II/1992 tanggal 26 Pebruari 1992 dengan luas 43.420 Ha yang terdiri dari beberapa zonasi, yaitu : 1. Zona Inti (Sanctuary zone) seluas 17.200 Ha. 2. Zona Rimba (Wilderness zone) seluas 24.767 Ha. 3. Zona Pemanfaatan (Intensive use zone) seluas 250 Ha. 4. Zona Penyangga (Buffer zone) seluas 1.203 Ha Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor : 26/Kpts/IV-KK/2007 tanggal 19 Pebruari 2007 tentang Revisi Zonasi Taman Nasional Alas Purwo, terbagi atas : 1. Zona Inti, seluas : 17.150 ha, 2. Zona Rimba, seluas : 24.207 ha, 3. Zona Rehabilitasi, seluas : 620 ha, 4. Zona Pemanfaatan, seluas : 660 ha. 5. Zona Tradisional, seluas : 783 ha. Kawasan Taman Nasional Alas Purwo dibatasi oleh Selat Bali dan Samudera Indonesia di sebelah timur, Teluk Grajagan, Kawasan Hutan Produksi Perhutani KPH Banyuwangi Selatan, sungai Bango, dan Sungai Wergul di sebelah Barat. Di sebelah utara berturut-turut dibatasi oleh Teluk Pang-pang dan Selat Bali serta berbatasan langsung dengan desa Sumberberas, Kedungrejo, Kedungasri, Purwoasri, Purwoharjo, Grajagan, dan Seneporejo, sedangkan bagian selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia. Geografi kawasan Taman Nasional Alas Purwo terdiri dari daerah pantai (perairan, daratan dan rawa), daerah daratan hingga daerah perbukitan dan pegunungan, dengan ketinggian mulai dari 0 322 m dpl. Dengan puncak tertinggi Gunung Lingga Manis (322 mdpl). Daerah pantai di Taman Nasional Alas Purwo melingkar mulai dari Segara Anak (Grajagan) sampai daerah Muncar dengan panjang garis pantai sekitar 105 Km. Kelerengan kawasan mulai daerah datar (0-8%) seluas 10.554 ha, landai (8-15%) seluas 19.474 ha, agak curam (15-25%) seluas 11.091 ha, serta curam (25-40%) seluas 2.301 ha. Formasi geologi pembentuk kawasan Taman Nasional Alas Purwo berumur Meosen atas, terdiri dari batuan berkapur dan batuan berasam. Pada batuan berkapur terjadi proses karstifikasi yang tidak sempurna, karena faktor iklim yang kurang mendukung (relatif kering), serta batuan kapur yang diperkirakan terintrusi oleh batuan lain. Di kawasan Taman Nasional Alas Purwo terdapat banyak gua, dan menurut hasil inventarisasi, di Taman Nasional Alas Purwo terdapat 44 buah gua. Diantara gua-gua

tersebut yang selama ini banyak dikunjungi adalah Gua Istana, Gua Padepokan dan Gua Basori. Jenis tanah di kawasan Taman Nasional Alas Purwo terdiri atas 4 (empat) kelompok, yaitu (1) tanah komplek Mediteran Merah-Litosol seluas 2.106 ha, (2) tanah Regosol Kelabu seluas 6.238 ha, (3) tanah Grumosol Kelabu seluas 379 ha, dan (4) tanah Aluvial Hidromorf seluas 34.697 ha. Kisaran penyinaran matahari bulanan di Banyuwangi dan sekitarnya adalah 52% (bulan Januari) hingga 89% (bulan September), dengan rata-rata sebesar 75%. Suhu udara maksimum bulanan di Banyuwangi antara 31,2oC 34,5oC dan suhu udara minimumnya antara 20,7oC 22,5oC, sedangkan suhu udara rata-rata bulanan berkisar antara 25,9oC 28,2oC. Fluktuasi kelembaban udara juga tergolong kecil, yaitu berkisar antara 75% - 81%. Arah angin terbanyak yang bertiup di daerah Banyuwangi adalah arah Selatan dengan kecepatan antara 2,3 4,2 knot.

Daerah Jelajah dan Ancaman Keberadaan (Bos javanicus d'Alton) di Luar Kawasan TN Alas Purwo
Posted on 2011-03-25 02:03:59 by administrator

Oleh: Wahyu Murdyatmaka Wilson and Reeder (1993) mengklasifikasikan Banteng dalam keluarga Bovidae dan genus Bos. Spesies yang masih dapat dijumpai adalah: B. javanicus, B. birmanicus, B. butleri, B. discolor, B. domesticus,B. leucoprymnus, B. longicornis, B. lowi, B. porteri, B. sondaicus. Secara morfologis, Banteng dewasa memiliki panjang tubuh 190-225 cm, tinggi 160 cm dan berat badan 600-800 kg. Banteng (memperlihatkan dimorfisma seksual yang dibedakan secara morfologis. Banteng jantan (dewasa) berkulit kehitaman sedangkan yang betina coklat. Banteng jantan dan betina bercorak putih pada kaki bagian bawah, pantat, mulut dan lingkar mata. Alikodra (1987) menyatakan bahwa Banteng merupakan satwa diurnal. Pada daerah yang tingkat gangguannya tinggi, sering dijumpai Banteng aktif di malam hari (nocturnal). Di Thailand saat musim kawin berlangsung, Banteng berpasangan pada bulan Mei sampai dengan Juni. Beberapa jurnal menyebutkan bahwa Banteng ditemukan menjelajah, bersarang dan memamahbiak pada interval waktu tertentu. Banteng memanfaatkan semak belukar sebagai tempat beristirahat. Baca selengkapnya silahkan download file : Daerah Jelajah dan Ancaman Banteng.pdf

JIN MASUK TN ALAS PURWO


Posted on 2011-06-15 07:06:05 by administrator

MASUK KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO

Taman Nasional Alas Purwo merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi, dan dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Sasaran pengelolaan kawasan pelestarian alam adalah : 1. Terjaganya keutuhan habitat dan ekosistem 2. Terjaganya kelestarian tumbuhan dan satwa dilindungi 3. Terjaganya fungsi hidrologis dan lingkungan 4. Terselenggaranya pariwisata alam berdasarkan potensi dan partisipasi masyarakat di sekitar kawasan 5. Terselenggaranya kegiatan pendidikan dan penelitian dalam menunjang kegiatan pengelolaan 6. Meningkatkan persepsi masyarakat terhadap pengelolaan kawasan Guna menjaga dan menciptakan ketertiban dalam pemanfaatan dan menjaga serta mempertahankan keberadaan kawasan pelestarian alam agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, pendidikan dan kesejahteraan masyarakat, maka untuk masuk ke suatu kawasan konservasi, harus mengikuti prosedur/proses ijin masuk kawasan, sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor : SK. 192/IVSet/HO/2006 tentang Izin Masuk Kawasan Suaka Alam, Kawasan Pelestarian Alam dan Taman Buru. Ruang lingkup kegiatan yang diharuskan untuk mengurus perijinan masuk suatu kawasan pelestarian alam adalah : 1. Penelitian dan pengembangan; 2. Ilmu pengetahuan dan pendidikan; 3. Pembuatan film dan atau video klip, dalam bentuk film documenter, film komersial, film promosi; 4. Pembuatan foto komersial, dan 5. Ekspedisi. I. Prosedur Pembuatan Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) Beberapa unsur pokok/syarat pokok yang harus dilengkapi dalam pembuatan Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) adalah sebagai berikut : A. Bagi Warga Negara Indonesia (WNI) Pemberian ijin masuk kawasan untuk warga Negara Indonesia (WNI) diterbitkan oleh Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam setempat. Adapun syarat-syarat kelengkapan perijinannya adalah : 1. Penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan dan pendidikan (Praktek Lapang (PKLP) dan perkemahan), pembuatan foto komersial serta ekspedisi. Persyaratannya adalah : a. Surat ijin permohonan dari instansi terkait; b. Proposal kegiatan; c. Fotocopy ID Card/ tanda pengenal dan menyertakan nomor Telepon/HP guna penandatangan SIMAKSI; d. Materai Rp. 6.000; e. Melaksanakan presentasi singkat baik mengenai proposal maupun hasil

pelaksanaan penelitian di Balai Setempat. f. Bagi penelitian yang lebih dari 3 (tiga) bulan wajib membuat surat perjanjian dengan Kepala Balai setempat yang membuat persyaratan, hak dan kewajiban peneliti. g. Bersedia menyerahkan laporan hasil pelaksanaan kegiatan dan atau copy film paling lambat 1 (satu) bulan setelah selesai kegiatan penelitian. h. Bertanggung jawab atas segala resiko yang terjadi dan timbul selama berada di lokasi penelitian; i. Bagi pengambilan dan atau pengangkutan sampel berupa bagian-bagian specimen tumbuhan dan atau satwa liar harus menempuh prosedur dan memenuhi kewajiban sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan mengajukan permohonan kepada Kepala Taman Nasional (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.284/Menhut-II/2007 tentang Pelimpahan Wewenang Pemberian Izin Pengambilan dan atau Pengangkutan Sampel Berupa Bagian-Bagian Tumbuhan dan atau Satwa Liar dan atau Hasil Daripadanya untuk Kepentingan Penelitian); j. Mematuhi semua ketentuan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; l. Untuk peneliti yang bukan berasal dari Perguruan Tinggi (tidak berstatus mahasiswa), dikenakan pungutan sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 1998 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku pada Departemen Kehutanan dan Perkebunan dengan besaran sebagai berikut : Penelitian dalam jangka waktu bulan/ 1-15 hari dikenakan biaya sebesar Rp. 45.000,- Penelitian dalam jangka waktu 1 bulan/ 16-30 hari dikenakan biaya sebesar Rp. 75.000,- Penelitian dalam jangka waktu tahun/ 1-6 bulan dikenakan biaya sebesar Rp. 125.000,- Penelitian dalam jangka waktu -1 tahun dikenakan biaya sebesar Rp. 250.000,- Sedangkan untuk peneliti mahasiswa dibebaskan dari pungutan penelitian sesuai ketentuan Peraturan Menteri kehutanan Nomor : P. 02/menhut-II/2006 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penatausahaan Pungutan dan Iuran bidang Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam 2. Peliputan video komersial dan shooting film (film komersial) Khusus kegiatan video komersial dan shoting film selain memenuhi persyaratan sebagaimana ayat diatas, pemegang ijin berkewajiban untuk : a) Menyertakan izin produksi; b) Menyertakan tanda pendaftaran rekaman video/film dari Badan Informasi dan Komunikasi Nasional; c) Sinopsis film yang akan dibuat; d) Daftar peralatan yang akan digunakan; e) Daftar crew; f) Surat pernyataan tidak merusak lingkungan serta kesediaan mematuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku; g) Bersedia mematuhi aturan tidak memberikan perlakuan (makan dan lain-lain) kepada satwa liar yang menjadi obyek shoting dan tidak melakukan pemotongan dan penebangan untuk kepentingan dekorasi-dekorasi buatan; h) Menyerahkan copy film video kepada Kepala Balai Taman Nasional Alas Purwo paling lama dengan jangka waktu 1 (satu) tahun setelah film tersebut diproduksi;

i) Membayar Pungutan Negara Bukan Pajak sebesar Rp. 1.500.000,-/dokumen cerita untuk video komersial dan Rp. 2.000.000,- untuk film komersial sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 1998 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku pada Departemen Kehutanan dan Perkebunan. 3. Peliputan video Non Komersial dengan Handycam dan Pengambilan Foto Non Komersial Untuk kegiatan peliputan video non komersial dengan handycam, beberapa persyaratan yang harus di laksanakan antara lain : a) Surat ijin permohonan dari instansi terkait; b) Proposal kegiatan; c) Fotocopy ID Card/ tanda pengenal dan menyertakan nomor Telepon/HP guna penandatangan SIMAKSI; d) Materai Rp. 6.000; e) Melaksanakan presentasi singkat mengenai proposal di Balai setempat; f) Surat pernyataan tidak mempublikasikan dan menggandakan hasil video dan atau film yang di rekam untuk kepentingan keuntungan ekonomi; g) Surat pernyataan tidak merusak lingkungan serta kesediaan mematuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku; h) Mematuhi semua ketentuan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. i) Bagi peliputan video non komersial diwajibkan untuk membayar Pungutan Negara Bukan Pajak sebesar Rp. 15.000,- sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 1998 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku pada Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Sedangkan pengambilan foto non komersial maka dikenakan pungutan sebesar Rp. 5.000,- sesuai ketentuan Perundang-undangan yang berlaku ( PP No. 59 Tahun 1998). B. Bagi Warga Negara Asing (WNA) Pemberian ijin masuk kawasan untuk warga Negara Asing (WNA) diterbitkan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. 1. Penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan dan pendidikan. Persyaratan: a) Surat ijin masuk kawasan yang diajukan oleh pemohon kepada Sekretaris Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alas dengan ditembuskan kepada : Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Kepala Balai Setempat. b) Surat permohonan ijin penelitian dari LIPI; c) Proposal kegiatan; d) Surat Pemberitahuan Penelitian dari Direktorat Kesatuan Bangsa dan Politik Departemen Dalam Negeri; e) Rekomendasi dari Dirjen PHKA; f) Coppy ID Card/ tanda pengenal/coppy Passport; g) Surat jalan dari Kepolisian; h) Surat pernyataan tidak merusak lingkungan serta kesediaan mematuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku; i) Presentasi singkat tentang penelitian yang akan dilakukan di Balai setempat;

j) Bagi pengambilan dan atau pengangkutan sampel berupa bagian-bagian specimen tumbuhan dan atau satwa liar harus menempuh prosedur dan memenuhi kewajiban sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.284/Menhut-II/2007 tentang Pelimpahan Wewenang Pemberian Izin Pengambilan dan atau Pengangkutan Sampel Berupa Bagian-Bagian Tumbuhan dan atau Satwa Liar dan atau Hasil Daripadanya untuk Kepentingan Penelitian). k) Membayar Pungutan Negara Bukan Pajak dengan besaran sesuai ketentuan Perundang-undangan (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 1998 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku pada Departemen Kehutanan dan Perkebunan) sebagai berikut : Penelitian dalam jangka waktu selama bulan /1-15 hari dikenakan pungutan sebesar : Rp. 100.000,- Penelitian dalam jangka waktu selama 1 bulan /16-30 hari dikenakan pungutan sebesar : Rp. 200.000,- Penelitian dalam jangka waktu selama tahun /1-6 bulan dikenakan pungutan sebesar : Rp. 300.000,- Penelitian dalam jangka waktu selama tahun 1 tahun dikenakan pungutan sebesar : Rp. 400.000,- Penelitian dalam jangka waktu diatas 1 tahun dikenakan pungutan sebesar : Rp. 500.000,- 2. film dan atau video komersial Persyaratan : a) Surat rekomendasi dari kementerian kebudayaan dan pariwisata, c.q. dit perfilman, ditjen nilai budaya, seni dan film; b) Sinopsis film yang akan dibuat; c) Daftar peralatan yang akan digunakan; d) Daftar crew; e) Fotocopy Pasport; f) Surat pernyataan tidak merusak lingkungan serta kesediaan mematuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku. g) Membayar Pungutan Negara Bukan Pajak dengan besaran sesuai ketentuan Perundang-undangan (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 1998 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku pada Departemen Kehutanan dan Perkebunan) yaitu : Pengambilan/snapshot untuk film komersial sebesar Rp. 3.000.000,-/sekali masuk Pengambilan/snapshot untuk video komersial sebesar Rp. 2.500.000,-/dokumen cerita 3. a) b) c) d) e) komersial dan ekspedisi Persyaratan : Menyerahkan proposal kegiatan Copy Pasport Daftar peralatan; Surat jalan dari Kepolisian; Surat pernyataan tidak merusak lingkungan serta kesediaan mematuhi ketentuan Pembuatan foto Pengambilan/snapshot

perundang-undangan yang berlaku. 4. Pengambilan/ Snapshot dengan Handycam dan Pengambilan Foto Non Komersial Persyaratan : a) Surat pernyataan tidak mempublikasikan dan menggandakan hasil baik berupa foto/gambar atau video dan atau film yang di rekam untuk kepentingan keuntungan ekonomi; b) Surat pernyataan tidak merusak lingkungan serta kesediaan mematuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku; c) Mematuhi semua ketentuan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. d) Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 1998 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku pada Departemen Kehutanan dan Perkebunan, maka untuk pengambilan/snapshot non komersial dengan menggunakan handycam dikenakan pungutan sebesar Rp. 150.000,-. Sedangkan untuk pengambilan foto yang tidak dikomersilkan dikenakan pungutan sebesar Rp. 50.000, II. Masuk Kawasan Konservasi untuk kegiatan Rekreasi atau Wisata Alam Dalam rangka penertiban pelayanan kunjungan dan guna menunjang Pembangunan Nasional, maka Sumber Daya Hutan sebagai salah satu potensi ekonomi nasional perlu dikelola dan dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sehingga perlu ditetapkan tarif atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Kementerian Kehutanan yang diatur menurut Peraturan Pemerintah Republk Indonesia Nomor 59 Tahun 1998 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Adapun besaran pungutan atas karcis masuk kawasan konservasi Taman Nasional Alas Purwo adalah sebagai berikut : A. Bagi Pengunjung Nusantara (WNI) Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 1998 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku pada Departemen Kehutanan dan Perkebunan, bagi wisatawan nusantara dikenakan pungutan sebesar Rp. 2.500,-/Orang untuk sekali masuk. Potongan terhadap pungutan (sesuai ketentuan Peraturan Menteri kehutanan Nomor : P.02/menhut-II/2006 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penatausahaan Pungutan dan Iuran bidang Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam) dapat diberikan pada pengunjung yang memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. Menunjukkan tanda pengenal sebagai pelajar atau mahasiswa yang masih berlaku b. Jumlah sekurangnya 25 (dua puluh lima) orang bagi rombongan pengunjung c. Menyerahkan surat keterangan dari instansi yang bersangkutan bagi pengunjung untuk kepentingan pendidikan dan penelitian. Pengecualian pengenaan pungutan (sesuai ketentuan Peraturan Menteri kehutanan Nomor : P.02/menhut-II/2006 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penatausahaan Pungutan dan Iuran bidang Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam) dapat diberikan kepada a. Anak-anak dibawah umur 6 tahun dapat dibebaskan dari pungutan masuk. b. Pelajar, mahasiswa dan rombongan pengunjung, pengunjung dengan tujuan pendidikan dan atau penelitian diberikan potongan sebesar 50% (lima puluh persen) dari tarif yang berlaku.

B.

Bagi Pengunjung Mancanegara (WNA) Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 1998 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku pada Departemen Kehutanan dan Perkebunan, bagi wisatawan mancanegara dikenakan pungutan sebesar Rp. 20.000,-/Orang untuk sekali masuk. Berkenaan dengan kegiatan pengelolaan wisata yang berada di areal usaha Pemegang IPPA (Izin Pemanfaatan Pariwisata Alam) di kawasan zona Pemanfaatan Plengkung Taman Nasional Alas Purwo, maka mulai bulan April tahun 2011 bagi pengunjung yang melakukan perpanjangan waktu kunjungan (over stay) akan dikenakan pungutan PNBP kembali (berdasarkan surat Kepala Balai TN Alas Purwo Nomor : S. 189/BTNAP-1.4/2011 tanggal 25 Maret 2011 perihal Pungutan PNBP)