Anda di halaman 1dari 6

KAJIAN PENGGUNAAN JENIS PUPUK KANDANG (SAPI, KAMBING, KUDA, AYAM) PADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI MELON (Cucumis

melo L.) VARIETAS JAPONIKA Oleh : Ir. Tuban Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan Malang Abstract The objectives of Research on effect of using many kind of organic manures (from cow, goat, horse and chicken) toward plant growth and production of melon (Cucumis melo L.) with Japonica Variety to determine the best organic manures for melon plant growth and production. This research has done in Indonesian Center for Agricultural Training (ICAT) Ketindan practical field, started on July to October, 2009. This research using group random method with 5 treatments SP (cow organic manure), KD (horse organic manure), AM (Chicken organic manure), KB (goat organic manure), KT (control) and 3 replications. The research results showed that SP treatment (1.47) and AM treatment (1.39) have significant effects to Japonica melon production. And have no significant effect to melon plant growth (Plant height, leaf number) from all organic manure treatments. Key word : Chicken organic manure, cow organic manure, horse organic manure, goat organic manure, Japonica Variety Melon. ABSTRAK Pengkajian penggunaan jenis pupuk kandang (sapi, kambing, kuda, ayam) pada pertumbuhan dan prosuksi melon (Cucumis melo L.) varietas japonica dilakukan dengan tujuan menentukan jenis pupuk kandang yang paling baik untuk pertumbuhan dan produksi melon pada musim tanam berikutnya dan petani pada umumnya. Pengkajian dilakukan di Lahan Praktek Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan mulai bulan Juli s.d Oktober 2009. Pengkajian ini mengunakan rancangan acak kelompok, terdiri dari 5 perlakuan SP, KD, AM, KB, KT pada melon dengan 3 ulangan. Hasil Pengkajian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pupuk kandang SP (1.47) , AM (1.39) memberikan pengaruh nyata terhadap produksi buah (berat buah) pada melon varietas Japonika. Dari pengamatan tinggi tanman dan jumlah daun pada semua perlakuan ternyata tidak memberikan respon pada semau perlakuan pupuk yang diberikan. Kata Kunci : Pupuk Kandang Ayam, Sapi, Kuda dan Kambing, Melon Varietas Japonika.

Kata Kunci : Pupuk Kandang Ayam, Sapi, Kuda dan Kambing, Melon Varietas Japonika.

PENDAHULUAN

Dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani sesuai dengan tujuan pembangunan pertanian maka dalam upaya melaksanakan usahatani hendaknya selalu berwawasan agribisnis, yakni petani dalam melakukan budidaya tanaman diarahkan kepada komoditas yang laku dipasaran, sehingga mereka tidak mengalami kesulitan pemasaran dan hargapun kompetitif, dengan demikian mereka dapat menolong dirinya sendiri (Sudjanto, sinar tani edisi 13 19 Desember 2000) Tanaman Melon (Cucumis melo L.) merupakan salah satu tanaman prioritas utama yang perlu mendapat perhatian diantara tanaman tanaman hortikultura lainnya, karena buah Melon relatif tinggi harganya dibandingkan dengan komoditas hortikultura pada umumnya, hal ini akan banyak memberikan keuntungan kepada petani melon (Setiadi, Parimin). Pupuk kandang merupakan sumber unsur hara bagi tanaman yang sangat murah dan mudah diperoleh. Macam macam pupuk yang sering digunakan adalah pupuk kandang ayam, pupuk kandang sapi, pupuk kandang kuda, pupuk kandang kambing dan lainnya, selain mengandung unsur hara, pupuk kandang juga membantu dalam penyimpanan air, mengembalikan kondisi tanah menjadi sehat, terutama saat musim kemarau. Berdasarkan pemikiran tersebut perlu dilakukan pengkajian penggunaan pupuk kandang (sapi, kuda, kambing, ayam) pada pertumbuhan dan produksi tanaman melon. Sasaran yang ingin dicapai adalah mengetahui jenis pupuk kandang yang paling baik pada pertumbuhan dan produksi tanaman melon. BAHAN DAN METODE Pengkajian dilaksanakan di Lahan Praktek Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan. Bahan yang digunakan adalah benih melon varietas Japonika, pupuk kandang sapi, pupuk kandang kambing, pupuk kandang ayam, pupuk kandang kuda. Pengkajian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan 5 perlakuan yang diulang 3 kali, setiap ulangan terdiri dari 5 petak dengan ukuran 200 M2 , jarak tanam 70 cm x 60 cm sehingga populasi dalam satu petak 180 tanaman terdiri dari 3 guludan, masing masing guludan populasi 60 tanaman. Luas satuan pengkajian termasuk tanaman tepinya adalah 1000 M2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengamatan tinggi tanaman dilakukan setiap 10 hari sekali, pada umur 10 HST, 20 HST, 30 HST, 40 HST dan 50 HST pada tanaman melon varietas japonica seperti tertera pada Tabel 1. Tabel 1 : Rata rata Tinggi Tanaman Melon berdasarkan waktu Pengamatan.

10 HST Perlakuan Pupuk K-Kambing Pupuk K-Sapi Pupuk K-Kuda Pupuk K- Ayam Kontrol 5a 5a 5a 5a 5a

Tinggi Tanaman 20 HST 30 HST 40 HST 17.52 a 17.81 a 16.27 a 17.06 a 16.8 a 63.13 a 72.73 a 57.76 a 62.73 a 58.33 a 200.6 a 202.46 a 195.51 a 202.13 a 200.9 a

50 HST 235.66 a 236.26 a 228.06 a 232.4 a 230.73 a

Angka angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT pada taraf 5 %.

Hasil pengamatan jumlah daun dilakukan setiap 10 hari sekali, pada umur 10 HST, 20 HST, 30 HST, 40 HST dan 50 HST pada tanaman melon varietas yang sama seperti tertera pada tabel 2. Tabel 2 : Rata rata Jumlah Daun Melon berdasarkan waktu Pengamatan.

10 HST Perlakuan Pupuk KKambing Pupuk K-Sapi Pupuk K-Kuda Pupuk K- Ayam Kontrol 2.13 a 2.13 a 2.06 a 2.13 a 2.06 a

20 HST 4.26 a 4.66 a 4.20 a 4.33 a 4.13 a

Jumlah Daun 30 HST 40 HST 12.80 a 13.73 a 12.20 a 12.13 a 11.66 a 27.46 a 28.60 a 25.73 a 26.66 a 25.40 a

50 HST 28.80 a 29.26 a 28.73 a 29.06 a 28.40 a

Angka angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT pada taraf 5 %. Perlakuan pemberian 5 jenis pupuk kandang tidak memberikan pengaruh nyata pada pertumbuhan vegetatif (Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun) pada setiap pengamatan melon varietas japonica, hal ini disebabkan karena pemberian pupuk kandang tidak dilakukan pengolahan dengan cara didekomposisikan lebih dahulu, sehingga penyarapan unsur hara dalam tanah sulit dilakukan. Kandungan unsur hara dalam pupuk kandang sangat bergantung pada jenis ternak, jenis pakan, sifat kotoran, cara penyimpanan, pengolahan dan pemakaiannya. Hal ini seiring dengan pendapat Musnamar (2003) bahwa proses penguapan dan penyerapan dapat menyebabkan hilangnya unsur hara dalam pupuk kandang terutama unsur N sekitar 50 % dan unsure K 60 % hilang karena proses ini. Sehingga sangat dianjurkan untuk merawat pupuk kandang sebagaimana disampaikan diatas bisa teratasi.

Hasil pengamatan produksi melon (berat buah) dilakukan saat panen melon menunjukkan bahwa kelima perlakuan memberikan perbedaan yang nyata terhadap hasil (berat buah) melon seperti tertera pada tabel 3. Tabel 3 : Rata rata Berat Buah Melon pada waktu panen.

Perlakuan Pupuk K Sapi Pupuk K Ayam Pupuk K Kambing Pupuk K Kuda Kontrol

Berat Buah 1.47 a 1.39 ab 1.28 bc 1.18 c 1.13 c

Angka angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT pada taraf 5 %. Hasil rata rata pada setiap pengamatan menunjukkan bahwa tanaman melon yang diberi pupuk kandang sapi (Tabel 3) menghasilkan nilai rerata tertinggi terhadap produksi melon (berat buah) 1.47 kg, dan pupuk kandang ayam menghasilkan nilai retata terhadap produksi melon (berat melon) 1.38 kg. Ini disebabkan masing masing pupuk kandang mempunyai kandungan fosfor yang beragam, sementara tanaman pada masa generatif bukan lagi unsur nitrogen yang dibutuhkan dalam jumlah banyak oleh tanaman, melainkan unsur yang banyak menghasilkan energi bagi tanaman yaitu unsur fosfor. Menurut Prihmantoro, H. (1995) bahwa energi yang dibutuhkan tanaman akan dipakai untuk membentuk bunga serta proses pertumbuhan buah. Hal ini merupakan indikasi bahwa penggunaan jenis pupuk kandang tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman namun berpengaruh nyata pada produksi buah (berat buah).

KESIMPULAN DAN SARAN

Penggunaan beberapa jenis pupuk kandang (kotoran sapi, kotoran kuda, kotoran ayam, kotoran kambing) memberikan pengaruh yang sama terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman (tinggi tanaman dan jumlah daun) Perlakuan dengan pupuk kandang sapi dan pupuk kandang ayam memberikan hasil produksi melon yang paling baik dibandingkan dengan perlakuan dengan pupuk kandang yang lain. Hasil pengkajian melon varietas Japonika bisa ditindaklanjuti lebih lanjut ditingkat petani dengan mengunakan pupuk kandang sapi dan pupuk kandang ayam.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 2001, Propfil Sentra Melon, Ditjen Bina Produksi Hortikultura, Jakarta. Djojosumarta P, 2006, Pestisida dan Aplikasinya, PT.Agromedia Pustaka, Jakarta. Marsono, L. Pinus, 1999, Petunjuk Penggunaan Pupuk, Penebar Swadaya, Jakarta Prihmantoro. H, 1995, Memupuk Tanaman Buah, Penebar Swadaya, Jakarta. Santoso, B. 1989. Dasar Dasar Ilmu Tanah. Universitas Brawijaya, Malang. Setiadi, Parimin, 1999. Bertanam Melon, Penebar Swadaya, Jakarta Sigit P, Marsono, 2000, Pupuk Akar, Penebar Swadaya, Jakarta. Tjahjadi, N. 1989, Bertanam Melon, Kasinius, Yogyakarta

EBTKE-- Sektor rumah tangga mengkonsumsi kira-kira 11 persen dari total energi di Indonesia. Berdasarkan fakta tersebut , upaya efisiensi energi di sektor ini sangatlah penting, bukan hanya untuk menghemat biaya pemakaian energi di rumah tangga tersebut namun juga untuk mengerem energi secara keseluruhan. Sebagai langkah awal upaya efisiensi energi di rumah tangga, penghuni rumah harus mengetahui jenis peralatan yang yang paling banyak mengkonsumsi energi. Di Indonesia alat-alat seperti pendingin ruangan, pemanas dan pompa air serta peralatan elektronik merupakan sumber utama konsumsi listrik di sektor rumah tangga. Bagaimana cara menghemat energi di rumah? pertama, dari sisi perencanaan kebutuhan listrik dan pemilihan peralatan pemanfaatan listrik dilakukan melalui yaitu menyambung daya listrik dari PLN sesuai dengan kebutuhan, rumah tangga kecil misalnya cukup dengan daya 900 Voltampere (VA) atau 900 VA, rumah tangga sedang cukup dengan daya 900 VA hingga 1300 VA, kemudian langkah lain memilih peralatan pemanfaatan listrik yang tepat dan sesuai kebutuhan, termasuk memilih peralatan yang memenuhi standar efisiensi energi. Cara kedua, dari sisi perilaku anggota rumah tangga yang hemat energi, dapat dilakukan antara lain dengan menyalakan peralatan pemanfaat listrik hanya pada saat diperlukan dan memelihara peralatan pemanfaatan listrik secara teratur. Terakhir, cara menghemat energi dirumah, yaitu dari sisi desain bangunan rumah. Lokasi dan bentuk desain rumah memainkan peran penting dalam efisiensi energi, khususnya dalam hal pengaturan suhu dan pencahayaan. Misalnya, buka-bukaan dalam sebuah bangunan rumah seperti pintu dan jendela sebaiknya dibangun menghadap utara atau selatan agar tidak secara langsung tersinar matahari. Hal ini akan mengurangi panas yang masuk ke dalam rumah khususnya pada siang hari. Dengan memasang lebih banyak

jendela,maka cahaya alami dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin sehingga menghemat penggunaan lampu. Kemudian, tidak ada celah atau ruang hampa diantara dinding, seal jendela atau pintu juga membantu menjaga agar udara panas tidak mudah masuk ke dalam rumah sehingga beban AC tidak terlalu besar., disamping itu sirkulasi udara yang baik di dalam rumah melalui langit-langit yang lebih tinggi atau sistem ventilasi yang efektif akan mengurangi beban AC.(ferial)