Anda di halaman 1dari 15

DAFTAR ISI COVER MAKALAH ............................................................................................... KATA PENGANTAR .............................................................................................. DAFTAR ISI ............................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ . 1.

1 Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1.2 Perumusan Masalah .................................................................................. 1.3 Tujuan penelitian ...................................................................................... 1.4 Sistematika Penulisan ............................................................................... BAB II ISI ................................................................................................................. 2.1 Perkembangan Pers di Indonesia .............................................................. 2.2 Contoh kasus terkait jurnalistik yang bertugas di Medan Perang............. 2.3 Analisis Perlindungan terhadap wartawan perang di Indonesia................ BAB III PENUTUP................................................................................................... . 3.1 Kesimpulan ................................................................................................ 3.2 Saran .......................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. i ii iii 1 1 2 2 3 3 4 7 9 12 12 13 14

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Nasib pers di Negara Indonesia ini sejak zaman penjajahan belanda sampai jatuhnya rezim Soeharto pada tanggal 28 Mei 1998 masih belum memiliki kekuatan hukum yang jelas mengenai perlindungan kebebasan pers. Kebebasan pers dan kebebasan rakyat dalam mengemukakan pikirannya melalui media massa merupakan salah satu cara untuk dapat mencapai sebuah demokrasi. Untuk mengetahui perkembangan pers di Indonesia sendiri, didalam makalah ini lebih dulu menjelaskan sejarah perkembangan pers di Indonesia dari zaman Orde Lama, Orde Baru dan masa Reformas. Hal berguna untuk dianalisis lebih lanjut agar mengetahui perbandingan bagaimana perkembangan kebebasan pers itu sendiri di Indonesia. Beberapa kasus yang akan diangkat terkait dengan jurnalis yang bertugas ke medan perang apakah dia diberi perlindungan fisik atau hukum oleh pemerintah, dan mengingat sekarang kita sudah berada pada masa reformasi apakah perlindungan sudah ada atau belum. Kebebasan pers masih tetap dalam ancaman besar. Sebagaimana telah dikatakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa Pers merupakan sebagai pilar ke empat demokrasi harus bebas dan kebebasan pers itu sendiri merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Beberapa tahun terakhir, pemerintah merasa khawatir dengan masalah kebebasan pers. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun menganggap pemberitaan pers pada saat ini masih kurang akurat dan tidak berimbang. Banyak terjadi penyalahgunaan kebebasan pers oleh para wartawan dan pengelola media pers itu sendiri. Kode etik jurnalistik dan standar jurnalistik profesional dianggap tidak diacuhkan. Namun sebaliknya, di kalangan pers, mereka menganggap bahwa anggapan pemerintah seperti itu nantinya akan membuat peraturan baru yang lebih mengikat dan membatasi kebebasan pers serta menghambat kebebasan berekspresi. Pers memiliki mekanisme kerja tersendiri dimana mereka berkerja berdasarkan atas adanya kode etik jurnalistik dan standar profesional jurnalistik yang ada dan menjadi pegangan wartawan di seluruh dunia. Adanya campur tangan dari pihak luar yang dapat mempengaruhi standar profesional dan kode etik jurnalistik dapat dianggap sebagai pelecehan terhadap kredibilitas kerja media pers.
ii

Wartawan perang adalah wartawan yang sudah siap mental dalam terjun ke wilayanh perperangan. Pengalaman dan persiapan yang matang sangat dibutuhkan sebelum terjun ke wilayah perang. Perlindungan akan wartawan yang akan terjun ke wilayah perang tentu pemerintah memiliki tanggung jawab untuk melindungi wartawan tersebut. Perlindungan akan wartawan perang telah diatur dan dilindungi menurut Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahan I tahun 1977. Oleh karena itu, wartwan memiliki hak yang sama dengan warga sipil lainnya. Tindakan kekerasan, penyiksaan serta serangan yang disengaja (delliberate attack) sehingga mengakibatkan luka atau tewasnya wartawan yang dilakukan oleh pihak yang bertikai, merupakan suatu pelanggaran berat terhadap Konvensi Jenewa 1949 maupun Protokol Tambahan I-1977, dan karenanya merupakan suatu kejahatan perang. 1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam makalah ini adalah: 1. Jelakanlah sejarah perkembangan pers di Indonesia dari masa Orde Lama, Orde Baru dan Masa Reformasi? 2. Jelaskanlah dan berikan contoh apa saja tentang praktik jurnalistik di medan perang? 3. Adakah perlindungan bagi wartawan perang di Indonesia di masa Reformasi ini?

1.3 Tujuan Penelitian Dari rumusan masalah di atas, tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk mengetahui perkembangan pers pada masa orde lama, orde baru dan masa reformasi. Berdasarkan kasus yang ada, akan dianalisis kenapa kasus tersebut bisa terjadi di Indonesia, sedangkan pada saat itu Indonesia sudah dalam masa reformasi, bukankah dalam masa reformasi kebebasan pers sudah mulai terlihat daripada era orde baru, tetapi kenapa kasus tersebut bisa muncul di Inonesia dan untuk mengetahui penyebab terjadinya.

1.4 Sistematika Penulisan Makalah ini terbagi atas empat bab, dan masing-masing bab terdapat beberapa sub bab, berikut penjelasannya: BAB I : merupakan bab pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah,

perumusan masalah, tujuan penelitian, dan sistematika penulisan.


iii

BAB II BAB III BAB IV

: merupakan bab pembahasan yang terdiri dari analisis masalah. : merupakan bab penutup yang terdiri atas simpulan dan saran. : merupakan bab referensi atau daftar pustaka.

iv

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Perkembangan (Sejarah) Pers dari zaman Orde Lama, Orde Baru, dan Masa Reformasi dan Sesudahnya 2.1.1 Pers pada Masa Orde Lama Pada zaman Orde Lama, bentuk pemerintahan otoritarian merupakan salah satu bagian dari sistem pemerintahan kita. Sebagaimana telah dikatakan, sistem politik yang ada di sebuah negara juga mempengaruhi bagaimana sistem medianya. Begitu juga dengan Indonesia, karena dulu sistem pemerintahan kita otoritarian, sistem media pun juga bersifat begitu. Banyak para pengelola media yang pada saat itu ditantang oleh pemerintah dengan dua alternatif guna mempertahankan perusahaan medianya. Pertama, perusahaan media tersebut dapat tetap berdiri, namun isi pemberitaan dari medianya berdasarkan keinginan para pejabat pemerintah. Dengan arti lain, perusahaan media dan pemerintah dapat saling berkerjasama, namun mengorbankan hak atau kemerdekaan berpendapat oleh perusahaan media tersebut. Hal atau alternatif seperti ini sangat tidak disenangi oleh perusahaan media, karena perusahaan media yang sebenarnya adalah memberitakan pemberitaan yang nyata, transparan dan akuntabel. Alternatif kedua adalah tetap bepegang teguh pada prinsip indenpedensi media pers dengan menolak berkerjasama dengan campur tangan dari pihak luar, baik dari kalangan pemerintah maupun dari kalangan pemasang iklan yang pemiliknya adalah orang penting, atau dari pemilik modal media itu sendiri. 2.1.2 Pers pada masa Orde Baru Perkembangan pers pada masa Orde Baru tidak berbeda dari zaman Orde Lama dimana peran pemerintah dalam mengatur isi media sangat besar. Peran pemerintah sangat menentukan bagi perkembangan sebuah perusahaan media. Pengendalian isi pemberitaan diatur sangat ketat oleh pemerintah. Intervensi pemerintah sangat besar, sehingga pers pada zaman ini sama sekali tidak merasakan adanya kebebasan pers yang sebagaimana mestinya. Jika ada perusahaan pers yang tidak mau berkompromi atau berkerjasama dengan pemerintah, maka ancaman untuk perusahaan media tersebut adalah penutupan perusahaan itu sendiri atau dibredel beberapa bulan, bahkan bisa jadi pembredelannya dilakukan secara
v

permanen. Contohnya sebagian media cetak yang dicabut surat izinnya dan tidak pernah terbit kembali adalah ada 11 surat kabar dan mingguan serta satu majalah berita di Jakarta dan di daerah pada Januari 1974, salah satunya adalah Indonesia Raya, Pedoman, Harian KAMI, Mahasiswa Indonesia (1974). Media pers ini dituduh mendukung demonstrasi mahasiswa yang oleh para pejabat pemerintah dinamakan dengan Malapetaka 15 Januari atau Peristiwa Malari. Pembredelan massal pers ini merupakan pembredelan yang kedua kali dilakukan oleh Jenderal Soeharto setelah terjadinya Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965. Pembredelan massal pertama yang dilakukan oleh pemerintah dilakukan sehubungan dengan penumpasan G30S dengan menutup 46 surat kabar yang diterbitkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), atau perusahaan media yang dituduh bersimpati kepada PKI, atau tidak mentaati undangundang pers (pada waktu itu terdapat 163 surat kabar diseluruh Indonesia)1. Terjadinya pembredelan pada media massa besar-besaran, memperlihatkan pada zaman ini, kekuatan pemerintah dalam mengatur pers sangat menentukan bagi keberhasilan pers itu sendiri. Kebebasan pers tidak ada, kebebasan pers dan setiap warga negara yang ingin berekspresi dan mengeluarkan pendapat di muka umum sebagaimana dikatakan dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 ayat 1 tidak berjalan dengan semestinya. Walaupun terjadi pembredelan, ada beberapa surat kabar yang terbit kembali setelah menandatangani surat perjanjian seperti Kompas, Sinar Harapan, Merdeka. Sebagian terbit kembali dengan nama lain seperti Prioritas menjadi Media Indonesia, Sinar Harapan menjadi Suara Pembaruan. Isi surat perjanjian tersebut antara lain Turut menjaga stabilitas nasional, keamanan, ketertiban, dan kepentingan umum. Senantiasa menjaga nama baik dan kewibaan pemerintah serta pimpinan nasional dan tidak akan melakukan fitnah dan bentuk penghinaan lainnya yang ditujukan kepada pimpinan nasional serta anggota keluargamya 2. Keadaan pers pada masa Orde Baru sangat memprihatinkan, tidak hanya dilakukan pembredelan bagi perusahaan media yang mengkritk kinerja pemerintah, namun pada saat itu istilah budaya telepon sangat merebak dikalangan pers. Dimana prosedur peringatan

seperti teguran dan larangan tidak selalu dilakukan dengan menggunakan surat resmi, tetapi lebih sering menggunakan telepon. Teguran dari penguasa terhadap pers melalui telepon

Dikutip dari 40 Tahun Kehidupan Pers yang Kompromistis yang ditulis oleh Atmakusumah dalam bukunya yang berjudul kebebasan pers dan pembredelan di setiap zaman. 2 Dikutip dari handout mata kuliah Sistem Komunikasi Indonesia bagian Pers oleh Ade Armando.

vi

tersebut, sehingga banyak media massa yang mengalami pembredelan dan dicabut izin terbitnya. Jurnalis pada masa Orde Baru ini tidak lagi menjadi watchdog, jurnalis tidak dapat memberi kritik yang tajam bagi pemerintah. Seorang jurnalis harus berhati-hati dalam memunculkan sebuah pemberitaan, seperti tidak membuat artikel mengenai keluarga cendana atau keluarga pejabat lainnya jika tidak ingin sehabis pemberitaan tersebut muncul di media massa, dan sang jurnalis tersebut hilang tiba-tiba atau bahkan sudah mati terbunuh. 2.1.3 Pers pada Masa Reformasi dan Sesudahnya Pada masa reformasi, pers di Indonesia sepertinya bisa merasakan kebebasan pers yang merupakan hak seluruh warga negara untuk bebas berpendapat dimuka umum sesuai yang ada dalam Undang-Undang. Pada masa Orde Lama dan Orde Baru sistem pemerintahan kita masih bersifat otoritarian sehingga bentuk sistem medianya pun juga seperti itu yang sangat berbeda dengan masa reformasi pada saat ini. Pada pemertintahan Habibie (1998-1999) terjadinya demokratisasi. Pemerintah mempermudah proses perolehan SIUPP, dimana pada masa sebelumnya ada 16 persyaratan, diubah menjadi hanya tiga, dalam 2-3 hari SIUPP dikeluarkan, sementara pada masa sebelumnya bisa satu tahun dengan biaya Rp 250 juta. Pemerintah meniadakan ketetapan mengenai pencabutan SIUPP atau pembredelan. Memberi izin bagi media yang terkena bredel untuk terbit kembali. Mengurangi wajib relai siaran berita RRI yang awalnya 14 kali menjadi 4 kali relai. Menghilangkan batas jumlah halaman dan jumlah iklan. Pada masa demokratisasi ini, setelah dikeluarkannya peraturan tersebut, muncullah Undang-Undang Pers tahun 1999. Bukti adanya kebebasan pers pada masa reformasi ini terletak pada UU Pers tahun 1999, dimana pada Pasal 4 ayat 2 dan 3 dikatakan, terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran, untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan mentebarluaskan gagasan dan informasi. Dari pasal ini saja, sudah dapat dilihat kebebasan pers sangat terlihat, dimana jika perusahaan media (pers) tersebut merupakan perusahaan nasional tidak akan dikenakan pembredelan, pasal ini sangat melindungi kemerdekaan sebuah perusahaan media (pers) untuk menikmati kebebasan pers.

vii

Selain itu, Pers wajib melayani hak jawab, hak jawab itu merupakan hak narasumber untuk menjawab pemberitaan yang negatif pada dirinya yang pada kenyataannya hal tersebut (pemberitaan negatif tadi) tidak benar dan media yang bersangkutan wajib atau harus menyiarkannya kembali. Pers juga wajib memiliki hak tolak, seperti pers melindungi anonim source demi keselamatan dan kerahasiaan narasumber yang tidak ingin namanya dimuat di pemberitaan dan pers wajib melindunginya. Jika ada yang bertanya, pers berhak dan wajib melakukan hak tolak dengan tidak menyebutkan nama narasumber dengan cukup menjawab dengan kata-kata dari narasumber yang terpercaya. Setelah munculnya UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers muncullah Dewan Pers. Dalam upaya mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kehidupan pers nasional, dibentuklah dewan pers yang independen, terdapat dalam UU Penyiaran pasal 15. Dalam melaksanakan tugasnya, dewan pers memiliki beberapa fubgsi diantaranya adalah sebagai berikut; melindungi kebebasan pers dari campur tangan pihak lain, melakukan pengkajian untuk pengembangan kehidupan pers, menetapkan dan mengawasi pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik dan memberikan pertimbangan dan mengupayakan penyelesaian pengaduan masyarakat atas kasus-kasus yang berhubungan dengan pemberitaan pers. Pada masa demokratisasi ini, kurang dari satu tahun sejak dikeluarkannnya UU Pers, munculnya pertambahan jumlah koran/tabloid yang pada awalnya berjumlah 250 menjadi 850 (pertambahannya mencapai 600 penerbitan baru). Disini, dapat terlihat bahwa pers Indonesia sesudahnya masa Orde Baru benar-benar terlihat berbeda. Media cetak tumbuh tidak hanya di kota-kota besar saja tetapi juga tumbuh di daerah kecil atau kabupaten dalam bentuk koran komunitas. Tidak diragukan lagi, pada masa ini kebebasan pers benar-benar bisa dinikmati oleh segenap warga negara Indonesia. 2.2 Analisis Contoh Kasus yang terkait dengan Perlindungan Wartawan Perang di Indonesia yang terjadi pada masa Reformasi 2.2.1 Kasus Penyanderaan dua wartawan RCTI, Ersa Siregar dan Fery Santoso Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dikenal sebagai kelompok pemberontak yang ada di wilayah bagian paling utara di Indonesia ini,Aceh, dimana mereka ingin melepaskan diri dari Negara Republik Indonesia. Karena keadaan di daerah Aceh semakin memanas, terjadi baku tembak antara GAM dan TNI. Banyak jurnalis-jurnalis yang ingin meliput ke daerah rawan perang ini, baik wartawan dari dalam maupun dari luar negeri. Kasus yang paling
viii

menghebohkan pada saat itu adalah, disanderanya sekelompok jurnalis dari stasiun tv RCTI. Pada saat itu, Ersa Siregar, Fery Santoso, seorang supir, dan dua orang rekannya disandera oleh pihak GAM. Penyanderaan itu dilakukan, setelah mobil Ersa cs usai melakukan liputan terhadap warga pengungsi di Langsa menuju Lhouksmawe, Aceh Utara. Di dalam perjalanan tersebutlah mobil Ersa cs menghilang, mobilnya ditemukan jauh dari jalan raya MedanBanda Aceh sekitar delapan kilometer ditengah hutan sawit. Sopir mobil tersebut berhasil melarikan diri, namun Ersa dan tiga orang lainnya ditahan. Sewaktu terjadi baku tembak antar GAM dan TNI pada tanggal 29 desember 2003 tengah malam, disanalah Ersa terjebak dan tewas ditempat dengan puluhan peluru dibagian dadanya. Sedangkan Fery dan dua rekan lainnya akhirnya dibebaskan. 2.2.2 Kasus Terbunuhnya kameraman TVRI, Mohamad Jamaludin Contoh atau kasus lainnya adalah mengenai terbunuhnya kameramen TVRI, Mohamad Jamaludin ketika meliput ke daerah rawan perang, Nanggroe Aceh Darussalam. Korban dinyatakan hilang sejak 20 mei 2003, dan ditemukan telah tewas pada Selasa malam tanggal 17 juni 2003. Almarhum telah berkerja sebagai kameramen TVRI Banda Aceh selama 13 tahun. Almarhum ditemukan tewas dalam keadaan terikat dan penuh dengan luka dan almarhum diduga dibunuh juga karena berkaitan dengan pekerjaannya di TVRI Banda Aceh. 2.2.3 Kasus dua wartawan metro tv disandera oleh kelompok penyandera Irak Pada tanggal 19 Februari 2005, kelompok penyandera di Irak menahan dua wartawan metro tv, reporter Meutya Havid dan juru kamera Budiyanto. Mereka ditahan selama 6 hari, dimana kelompok penyandera pada saat itu ingin meminta klarifikasi bahwa apakah benar mereka hanya jurnalis yang ingin meliput dari Indonesia atau apakah mereka bagian dari penyusup. Kelompok penyandera dari Irak tersebut mengaku tidak akan bertanggung jawab atas keselamatan dua wartawan ini, jika pihak pemerintah Indonesia tidak memberi pernyataan tentang dua wartawan ini. Namun akhirnya, dua wartawan ini dibebaskan, karena pemerintah segera mengklarifikasi mengapa dua wartawan tersbeut datang ke Irak, karena hanya sekadar untuk pemberitaan semata dan akhirnya mereka dibebaskan.

ix

2.3 Perlindungan Bagi Wartawan Perang di Indonesia Wartawan Indonesia sebenarnya sudah sering dikirim ke medan perang, baik didalam maupun di luar negeri. Namun yang menjadi pertanyaan sampai saat ini adalah adakah perlindungan terhadap wartawan-wartawan tersebut yang dikirim ke medan perang baik didalam maupun diluar negeri. Berdasarkan contoh kasus yang saya jelaskan di atas, beberapa diantaranya terjadi pada tahun 2003, mengingat pada waktu itu Indonesia masih dalam masa-masa pelepasan dari masa Orde Baru dan baru menghirup masa Reformasi, dimana kebebasan pers dijunjung tinggi. Yang menjadi masalah dan yang akan dibahas lebih lanjut adalah apakah ada perlindungan bagi wartawan perang itu sendiri, dimana pada saat ini kita berada dalam masa reformasi, jika masih ada kasus hilang atau terbunuhnya seorang wartawan bukankan itu merupakan suatu hal yang melanggar kebebasan pers (wartawan). Seperti yang dikatakan oleh Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) dalam membahas kasus pembunuhan kameramen TVRI, AJI menganggap pembunuhan langsung terhadap pekerja media merupakan serangan langsung terhadap kebebasan pers dan termasuk pada tindakan kriminal yang keji. AJI menuntut aparat penegak hukum untuk mengusut kasus pembunuhan tersebut dan menghukum pelakunya. AJI juga meminta pihak yang bertikai di propinsi Aceh, TNI dan GAM agar bisa memahami dan menghormati tugas jurnalistik dengan memberlakukan jurnalis sebagai mitra kerja, bukan sebagai lawan yang harus dicurigai atau dimusuhi lalu dibunuh. Mengingat banyaknya wartawan Indonesia yang dikrim ke wilayah perang baik didalam maupun luar negeri, sebenarnya perlindungan terhadap wartawan sudah dikeluarkan pada tahun 2003, yang dikenal dengan Keputusan Presiden (Keppres) No. 43 Tahun 2003 yang mengatur pembatasan dan pengawasan jurnalis asing, serta pembatasan dan pengawasan jurnalis nasional oleh departemen pemerintah dan Penguasa Darurat Militer Daerah. Berdasarkan kasus Ersa Siregar, dimana Ersa Siregar adalah wartawan kedua yang tewas dalam konflik Aceh. Juru kamera TVRI didapati tewas di sungai Juni 2003 sesudah diculik dari kantornya. Dengan adanya kasus akan pembunuhan wartawan ini, Komisi Perlindungan Jurnalis di New York menyerukan kepada pihak militer Indonesia agar melakukan investigasi secara tuntas atas insiden penembakan itu dan mengumkan hasil penyelidikannya. Aliansi Jurnais Independen Indonesia menyalahkan militer dan

pemberontak atas kematian dua reporter tersebut.

Membuat akses antara kedua belah pihak yang sedang dalam perang dalam kasus Aceh ini (antara TNI dan GAM) tidaklah mudah dan penuh dengan risiko. Melakukan Embedded Journalist juga bukan merupakan satu-satunya cara dimana jurnalis yang diturunkan di lapangan perang tidak hanya menjadi sumber utama dalam mengrekonstruksi sebuah perang. Dalam konflik seperti yang terjadi di Aceh, dimana saluran informasi ke luar hampir sepenuhnya dikuasai oleh pihak Indonesia, tetapi akses ke GAM memang sangat mahal dan penuh dengan risiko3. Dilema yang dialami oleh seorang jurnalis perang adalah dilema nasionalisme. Dalam kasus Aceh, dilema nasionalisme tersebut terjadi dan secara sadar dilakukan oleh pemerintah. Ketika perang terjadi di Aceh, muncul harapan yang mengusik konsentrasi komunitas pers dalam menjalankan tugasnya. Pers diharapkan bisa berkerjasama dengan TNI dalam meliput konflik Aceh dan turut membantu pemerintah dalam menyelesaikannya. Pers juga dihimbau untuk memberitakan konflik di Aceh dengan semangat nasionalisme. Posisi Ersa pada saat itu sangat dilematis, bisa jadi GAM menganggap dia adalah kaki tangan TNI, atau TNI beranggapan bahwa di kaki tangan GAM. Padahal yang sebenarnya dia bekerja bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk bertugas sesuai dengan profesinya yaitu meliput agar publik mengetahui realitas penyelenggaraan kekuasaan di Aceh yang sebenarnya. Melalui apa yang telah dibuat oleh jurnalis melalui liputannya, merupakan jalan atau jendela bagi publik untuk mengetahui realitas perang yang sesungguhnya terjadi di medan perang. Yang menyemangatinya bukanlah pandangan rasa nasionalisme yang sempit atau simpati tehadap korban perang, tetapi melainkan hanya sekadar untuk menjalankan sebuah profesi secara benar dan profesional. Walalupun perlindungan terhadap wartawan di medan perang oleh pemerintah ada, namun kita tidak terlepas dari kelemahan yang dimiliki oleh manusia itu sendiri, mungkin apa yang telah dilakukan oleh Ersa adalah merupakan pengorbanan yang tinggi sebagai seorang jurnalis yaitu meninggal dunia ketika menjalankan tugas atau itu sudah merupakan sebuah konsekuensi dalam melaksanakan profesinya sebagai seorang jurnalis dalam melakukan setiap tugasnya. Adanya kasus Ersa Siregar ini, dapat memberikan pandangan atau pelajaran bahwa profesi seorang jurnalis bukanlah profesi yang sembarangan. Untuk bisa memperjuangkakn integritas profesinya, nyawa sebagai taruhan bisa menjadi sebuah pilihan.
3

Dikutip dari tulisan Agus Sudibyo berjudul Mengenang Ersa Siregar dan Memetik Hikmah, seorang Peneliti ISAI Jakarta, Koordinator Loby Koalisi Untuk Kebebasan Informasi.

xi

Pada saat itu, memang korban yang berjatuhan tidak hanya Ersa, namun bisa juga terjadi pada rakyat sipil lainnya. Tetapi yang menjadi persoalan adalah Ersa tewas sebagai seorang jurnalis yang seharusnya dilindungi oleh pihak-pihak yang bertikai (TNI). Kematian Ersa dengan cepat tersebar luas ke negera lain, sehingga konsekuensi lebih jauh akan menghasilkan pertanyaan yang jauh mendalam lagi, yaitu dimana letak praktek demokrasi Indonesia yang selama ini telah dijanjikan. Terlihat bahwa warga sipil dimanapun dia berada selalu terjepit di antara kelompok-kelompok berkepentingan4, dalam kaitannya Ersa adalah tumbal ke sekian dari pihak yang ingin merdeka melawan seteru di sisi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan meninggalnya Ersa dalam perang Aceh juga

menunjukkan bahwa kita sebagai bangsa ternyata belum memiliki apresiasi dan penghargaan yang memadai terhadap pentingnya perlindungan bagi kebebasan pers, dimana pers sudah menjadi pilar keempat demokrasi di Indonesia. Perang, dalam keadaan dan dalam wujud apapun dapat dipastikan selalu menyiksakan kesengsaraan dan kerugian baik materil maupun immaterial. Namun pihak yang dirasakan paling banyak menanggung penderitaan akibat perang adalah penduduk sipil, Alasannya, meskipun mereka tidak berhak membawa senjata dan ikut aktif dalam peperangan, namun kerap kali mereka dijadikan sasaran penyerangan tanpa dapat berlaku banyak untuk membela diri. Seorang wartawan perang, yang harus menjalankan profesinya di medan pertempuran, dalam hal ini juga termasuk ke dalam kelompok penduduk sipil, berdasarkan konvensi Jenewa 1949, yang dibentuk khusus untuk memberikan perlindungan terhadap penduduk sipil di saat terjadi suatu peperangan (Geneva Convention Relative to the protection of Civilian Persons in time of War). Perlindungan yang diberikan kepada wartawan perang yang tengah berada di medan perang adalah diberikannya status sebagai orang sipil yang diatur secara khusus dalam Konvensi ke-4 dan Konvensi Jenewa 1949.

Merupakan kata-kata yang sering diucapkan oleh Ersa Siregar ketika dia masih hidup.

xii

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Sebenarnya jika dilihat secara dunia, negara-negara lain pun juga menjunjung nasib pekerja media ketika berada di wilayah perang yaitu mereka harus dilindungi. Seperti Lima negara Eropa yang mendesak Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengeluarkan resolusi untuk melakukan lebih banyak lagi perlindungan bagi wartawan yang bekerja di wilayah perang. Melakukan pekerjaan secara merdeka dan bebas bagi wartawan merupakan suatu hal yang penting. Terjadinya perang di Irak, masyarakat dunia seolah-olah dibawa pada pandangan bahwa situasi yang mengancam dan berbahaya bagi semua pekerja media dalam meliput di wilayah perang semakin besar.

Federasi Wartawan Internasional (IFJ), yang merupakan kelompok wartawan terbesar di dunia juga menyatakan bahwa, setiap wartawan yang sedang meliput konflik bersenjata sebagai sasaran tembak, seharusnya dikategorikan sebagai kejahatan perang secara eksplisit. IFJ juga menyatakan dibutuhkannya peraturan baru "untuk menjadikan media sebagai sasaran dan pengabaian terhadap keselamatan wartawan merupakan satu kejahatan perang. Namun dalam hal ini, kita memang harus menerima kenyataan, bahwa yang terjadi pada Indonesia pada saat itu adalah sebuah kondisi di mana hukum sedang tidak bermakna apa-apa, senjata menjadi panglima, dan kekerasan demi kekerasan terus dihalalkan sebagai cara menyelesaikan masalah. Maka apa yang terjadi pada Ersa maupun pada Jamaludin, sangat mungkin akan menimpa para jurnalis yang lain. Bukan hanya pada momentum perang, namun juga pada peristiwa-peristiwa yang lain. Kecuali jika integritas dan profesionalisme telah sepenuhnya tunduk dengan diktum kekerasan dan premanisme. Akan tetapi, wartawan perang bukanlah wartawan biasa. Para wartawan perang harus berkorban dengan nyawa dan jiwa mereka untuk mendapatkan sebuah berita. Wartawanwartawan ini harus mempunyai nyali tinggi untuk bisa menembus garis depan, melihat darah bergelimpangan, berada di tengah rentetan tembakan dan ledakan mortir, sampai berada di dalam sandera kelompok tertentu. Wartawan perang adalah pahlawan. Pahlawan yang memberitakan kebenaran di antara dua pihak yang bertikai. Pahlawan yang memberitakan penderitaan rakyat yang tak tahu apa-apa dan kemudian menjadi korban.
xiii

3.2 Saran Sebagaimana yang telah dikatakan oleh IFJ dan Komisi Jurnaist di New York pada Indonesia dalam mengusut kasus-kasus yang berkaitan dengan pembunuhan wartawan perang hendaknya membuat sebuah proses investigasi independen atas pembunuhan terhadap para wartawan perang tersebut dan hasil investigasinya diumumkan secara umum.

xiv

DAFTAR PUSTAKA Astraatmadja, Atmakusumah. (2009). Tuntutan zaman Kebebasan Pers dan Ekspresi. Jakarta:Spasi & VHR Book dan Yayasan TIFA. Armando, Ade. (2009). Demokratisasi dalam Sistem Komunikasi Indonesia dan Pers. Depok:Handout Kuliah Sistem Komunikasi Indonesia FISIP-UI. Internet:
http://lib.atmajaya.ac.id/default.aspx?tabID=61&src=k&id=77449 http://www.gatra.com/2003-10-15/artikel.php?id=31698 http://www.gatra.com/versi_cetak.php?id=53241 http://www.kapanlagi.com/h/0000147070.html http://agussudibyo.wordpress.com/2008/03/28/mengenang-ersa-siregar-memetik-hikmah/ http://www.voanews.com/indonesian/archive/2003-12/a-2003-12-30-7-1.cfm?moddate=2003-1230 http://202.146.5.33/utama/news/0306/20/111833.htm

xv