Anda di halaman 1dari 4

Kebijakan kenaikan Harga BBM Bersubsidi sebagai salah satu pelanggaran terhadap Azas Azas Umum Pemerintahan Yang

g Baik
Isu kenaikan harga BBM bersubsidi semakin hari semakin menjadi salah satu isu terpanas di setiap harinya. Pasalnya, santer terdengar bahwa kebijakan tersebut akan di ketok palu awal April ini. Banyak penolakan yang terjadi di setiap belahan bumi Indonesia, di setiap daerah, setiap elemen masyarakat, bahkan sampai ke tataran DPR yang pro kontra tentang kebijakan esensial ini. Mengapa saya katakan kebijakan yang satu ini sebagai kebijakan yang esensial?? Hal tersebut dikarenakan bila kebijakan ini benar benar diambil oleh pemerintah hal ini akan menimbulkan keadaan yang sifatnya berdampak sistemik, tidak hanya kehidupan ekonomi masyarakat saja yang semakin tercekik karena dituntut untuk merogoh koceknya lebih dalam lagi untuk bisa memenuhi kebutuhan BBM nya, namun juga kenaikan harga BBM bersubsidi akan berbanding lurus dengan kenaikan harga di sektor lain seperti sektor sembako, garment, industri, perbankan, transportasi ataupun sektor lainnya yang secara langsung ataupun secara tidak langsung berhubungan dengan kebutuhan primer masyarakat. Memang betul mungkin apa yang dijelaskan oleh pemerintah bahwa kenaikan harga BBM ini dipicu oleh ketegangan antara negara barat dan timur yang lebih tepatnya terjadi Ketegangan yang telah meningkat karena kebuntuan antara Iran dan Barat, dimana Barat memberlakukan sanksi terhadap Teheran berupa embargo minyak iran terhadap negara uni eropa atas program nuklirnya yang dikhawatirkan pihak Barat bahwa hal tersebut dapat mendorong pengembangan senjata. Bahkan, republika.co.id menyebutkan Para pejabat Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu selat internasional yang strategis jika sanksi yang dijatuhkan oleh Uni Eropa mempengaruhi ekspor minyak mereka. Karena keadaan geopolitik yang terjadi itulah maka dampaknya sampai ke Asia bahkan termasuk ke Indonesia dengan diwacanakannya kenaikan harga BBM ini. Terlepas dari akar masalah serta identifikasi di atas, pertanyaan yang muncul selanjutnya apakah sudah tepat rencana penerapan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi itu dari segi hukumhya? Apa saja kira kira dampak dan efek efek yang akan terjadi jika memang kebijakan tersebut benar benar diberlakukan dikaitkan dengan kondisi sosiologi yang ada di masyarakat saat ini? Namun dalam hal ini saya hanya akan membatasi dan mengaitkan tentang sistem kebijakan yang diambil pemerintah dan kaitannya terhadap Azas Azas umum pemerintahan yang baik. Perlu kita ketahui sebelumnya, bahwa dalam pengambilan kebijakan seperti halnya kenaikan harga BBM bersubsidi ini pemerintah yang dalam hal ini merupakan elemen Eksekutif tidak bisa begitu saja menerapkan kebijakan ini. Kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi ini membutuhkan persetujuan dari DPR sebagai lembaga representatif yang merupakan elemen legislatif pula. Oleh karenanya, menjadi hal yang wajar jika pemberitaan di media massa belakangan ini sedang mengekspos tentang dinamika yang terjadi antara fraksi fraksi yang ada di DPR

tentang kebijakan ini. Tentu kita tahu ada yang setuju dan mendukung kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi ini dan ada pula yang menolak atas nama rakyat yang notabenenya tidak sepakat karena masih melihat realita yang ada bahwa rakyat dengan kehidupan yang berlaku saat ini masih dapat dikatakan terseok seok atas harga yang sudah ditetapkan, apalagi jika harga yang sudah berlaku tersebut masih dinaikkan tarifnya. Dalam hal ini banyak pakar ataupun pengamat yang mengatakan bahwa kebijakan ini tidak tepat. Hal tersebut dianggap sebagai bentuk kebiasaan pemerintah yang menjadikan kebijakan menaikkan harga BBM bersubsidi sebagai jalan keluar satu satunya jika memang harga minyak dunia sedang melambung. Dalam prinsip Azas Azas umum Pemerintahan yang Baik, ada norma norma yang harus dijunjung tinggi, diantaranya adalah Norma Kepatutan, Norma Kesusilaan, dan Norma Hukum. Bahkan secara implisit Dalam Bab III Pasal 3 UU No. 28 Tahun 1999 disebutkan tentang Azas Azas umum Penyelenggaraan negara, diantaranya: Azas Kepastian Hukum Azas tertib Penyelenggaraan pemerintahan Azas Kepentingan Umum Azas keterbukaan Azas Proporsionalitas Azas Profesionalitas Azas Akuntabilitas

Jika dikaitkan antara bagaimana yang seharusnya (das sollen) dengan fakta fakta yang ada (das sein) maka dalam hal ini kebijakan kenaikan harga BBM dikaitkan dengan regulasi diatas diantaranya, Azas Kepastian hukum

Azas ini merupakan azas yang menitikberatkan tentang landasan peraturan perundang undangan, kepatutan dan keadilan dalam setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Namun, dalam kebijakan kenaikan harga BBM ini apakah hal ini sudah terpenuhi. Kita tahu bahwa beberapa waktu yang lalu indonesia membeli pesawat kepresidenan dari luar negeri dengan jumlah harga yang cukup tinggi pula, namun ironisnya beberapa bulan kemudian hal tersebut diikuti dengan wacana Kenaikan harga BBM, rakyat sudah cukup miris karena pemerintah membeli pesawat kepresidenan di saat rakyat masih jauh dari kata sejahtera dan sekarang masyarakat dutuntut untuk lebih mengerutkan dahinya dengan adanya kebijakan kenaikan harga BBM ini, dimana kata kata dalam konstitusi yang menjamin kesejahteraan rakyat?? Sudah adilkah kebijakan ini??

Azas tertib penyelenggaraan pemerintahan

Azas ini menjadi azas yang menjadi keserasian dalam pengendalian pemerintahan. Seperti sudah dijelaskan di awal bahwa kenaikan harga BBM bersubsidi akan berbanding lurus dengan kenaian harga di sektor sektor publik lainnya, apakah hal ini yang dimaksud dengan keserasian dalam penyelenggaraan pemerintahan?? Serasi membuat rakyat lebih sengsara. Azas kepentingan umum

Azas ini sudah jelas mengedepankan dan mendahuukan kesejahteraan dan kepentingan mayoritas. Kenaikan harga BBM diiringi dengan aksi protes di setiap daerah, sudah jelas kebijakan tersebut tidak memenuhi unsur dari azas ini. Azas keterbukaan

Azas yang merupakan penjaminan keterbukaan sebagai hak masyarakat untuk menerima informasi dengan benar, jujur, dan tidak diskriminatif. Azas ini tidak secara langsung menyentuh kebijakan kenaikan Harga BBM ini, namun satu hal yang ditekankan ialah bahwa wacana Kenaikan harga BBM ini secara tidak langsung telah melukai hak warga negara untuk tidak cemas terhadap keberlangsungan kehidupannya. Hal itu dikarenakan kepastian dari pewacanaan kenaikan harga BB ini dirasa cukup lama, seolah olah rakyat dihadapkan antara belum tentunya dan kepastian kenaikan harga BBM tersebut. Azas Proporsionalitas

Azas yang mengutamakan keserasian antara kewajiban dan hak penyelenggara negara. Penyelenggara negara yang dalam hal ini juga pemerintah tidak bisa dengan seenaknya mengeluarkan kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat. Sebaliknya, karena berdasarkan pasal 1 (2) UUD 1945 kedaulatan berada di tangan rakyat, maka pemerintah yang dalam hal ini merupakan simbol represetatif harus mengeluarkan kebijakan yang pro rakyat. Azas profesionalitas

Azas yang mengedepankan profesionalisme, keahlian yang berlandaskan kode etik serta ketentuan yang ada. Sebagaimana dijelaskan di awal bahwa kebanyakan jika dihadapkan dengan kondisi yang seperti ini pemerintah cenderung selalu mengambil langkah untuk menaikkan Harga BBM bersubsidi, seakan akan inilah jalan satu satunya. Maka dengan jelas kita dapat menilai sejauh mana tingkat profesionalitas penyelenggara negara. Azas Akuntabilitas

Azas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggara negara yang dalam hal ini mungkin juga pejabat administrasi harus bisa dipertanggungjawabkan secara umum kepada masyarakat sebagaimana tertulis

dalam konstitusi negara Indonesia sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Azas ini dikaitkan dengan bentuk pertanggungjawaban pemerintah lahir karena adanya kesalahan / pelanggaran hukum yang harus dipertanggungjawabkan. Apakah nanti Pemerintah siap untuk bertanggung jawab bilamana kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi ini berakibat buruk dan merugikan rakyat?? Dari uraian diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwasanya Kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi ini jelas tidak sesuai dengan Azas Azas umum penyelenggaraan pemerintahan yang baik. Tidak ada satu azas pun yang bisa mendukung atau membenarkan pemberlakuan kebijakan ini. Selain dampak dampak yang akan terjadi sebagaimana telah diuraikan diatas, perlu juga dipertimbangkan dampak dampak lainnya yang akan terjadi seperti di sektor transportasi. Sebagai salah satu sarana pelayanan umum, transportasi umum jelas akan memaksa masyarakat untuk membayar lebih lagi, belum lagi di sektor industri yang pastinya mungkin akan berbanding lurus dengan pemutusan hubungan kerja sebagaimana dilansir beberapa sumber. Jika pemutusan Hubungan Kerja benar terjadi hal ini akan memicu emosi masyarakat lebih jauh lagi, bahkan dapat membahayakan iklim investasi di Indonesia. seharusnya pemerintah menyadari dampak yang satu ini, betapa pentingnya untuk menjaga kestabilan iklim investasi di Indonesia kerena Investor investor asing juga merupakan tonggak ekonomi Indonesia. kita tahu bersama bahwa dalam konsep negara welfare state (negara kesejahteraan), negara diberikan kewajiban untuk mewujudkan kesejahteraan umum, artinya pemerintah dituntut lebih aktif dan dinamis dalam rangka menciptakan kesejahteraan rakyat. Kita juga tahu bahwa negara itu terbentuk karena adanya tujuan yang sama berdasarkan Teori perjanjian Masyarakat yang kemudian dapat disebut pactum unionis sehingga memang sudah seharusnya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Dalam konsep negara kita mungkin memang dikenal konsep Freiess ermessen yang berarti pejabat negara / badan badan administrasi negara dapat memiliki ruang gerak yang tidak terikat oleh undang undang atau azas legalitas. Namun, sebagaimana dijelaskan oleh Prof. Sjahran Basah bahwasanya hal tersebut bukan berarti pemerintah atau badan administrasi dapat sewenang wenang, melainkan hal itu harus bisa dipertanggungjawabkan. Oleh karenanya akan lebih baik lagi jika pemerintah dan DPR kembali mempertimbangkan keputusan akhir tentang kebijakan ini, dan memperhatikan kondisi serta mendengarkan opini yang muncul di kalangan masyarakat supaya tidak ada lagi kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat. HIDUP MAHASISWA!! HIDUP RAKYAT INDONESIA!!