Anda di halaman 1dari 7

BAB II SEKILAS SEJARAH PERGURUAN TAMANSISWA

Perguruan Tamansiswa didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara di Jogjakarta. Ki Hadjar Dewantara dilahirkan di jogjakarta pada tanggal 2 Mei 1889, putra dari GPH Soeryaningrat dan cucu dari Pakualam III, nama aslinya adalah RM Soeryadi Soeryaningrat, pada usia 40 tahun ia berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara. Dia lah pendiri Perguruan Tamansiswa.

Setelah menamatkan ELS beliau melanjutkan sekolahnya di Stovia. Setelah itu ditinggalkan dan beliau memasuki gelanggang politik. Selama di Eksteener ke negeri Belanda beliau mendalami soal-soal pendidikan dan pengajaran.

Sebelum mendirikan Tamansiswa, bersama-sama dengan Dr.Cipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Decker beliau mendirikan partai politik yang bernama Indische Partij tahun 1912 yang bersifat revolusioner.

Pada tahun 1912 bersama-sama Dr. Cipto beliau mendirikan Komite Bumi Putera. Karena oleh Belanda dianggap berbahaya, maka beliau diinterneer di Bangka. Atas permintaannya maka interneer tersebut diubah menjadi dieksterneer ke negeri Belanda.

Setelah 4 tahun beliau kembali ketanah air. Sekembalinya ke tanah air beliau

melanjutkan aksi politiknya. Karena makin kejamnya pemerintah Belanda terhadap pergerakan rakyat dan agar pekerjaan untuk kepentingan bangsa dapat bermanfaat, maka beliau meninggalkan politik dan memasuki lapangan pendidikan tahun 1921, yaitu disekolah ADIDARMA.

Pada tahun 1922 Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Tamansiswa, mulamula bernama Nasional Onderwijs Institut Tamansiswa, yang mula-mula dibuka hanya bagian anak dan kursus guru.

Pada tahun 1924 Tamansiswa mengalami rintangan Ki Hadjar Dewantara dikenakan pajak rumah tangga. Beliau tidak membayarnya, karena keluarganya hanya menempati tengah perguruan.

Pada tahun 1932 Belanda menuduh bahwa Tamansiwa adalah sekolah liar. Pada tahun 1933 pemerintah mengeluarkan larangan untuk mengajar. Pada tahun 1935 Tamansiswa mengalami rintangan lagi yaitu dengan ditetapkannya tunjangan pendidikan hanya diberikan pada pegawai negeri yang anaknya sekolah di sekolah negeri, sekolah partikelir yang bersubsidi dan sekolah yang memakai salah satu nama dari sekolah negeri misalnya HIS, Volkschool dan sebagainya.

Perjuangan menentang pajak upah menolak. Peraturan pajak upah mulai berlaku tahun 1935. Ki Hadjar menolaknya karena didalam Tamansiswa tidak ada majikan dan buruh. tetapi berdasarkan atas kekeluargaan. Perjuangan ini berhasil pada tahun

1940, sehingga guru-guru dibebaskan dari pajak upah.

Pada jaman penjajahan Jepang, dikeluarkan peraturan tentang sekolah partikelir, yang diperbolehkan dibuka hanya sekolah kejuruan saja ( kecuali sekolah guru ). Misalnya urusan rumah tangga, pertanian, perindustrian, Karena itu Taman Dewasa menjadi Taman Tani, sedangkan Taman Madya dan Taman Guru dibubarkan.

Ki Hadjar Dewantara pindah ke Jakarta karena diangkat menjadi salah seorang pemimpin Putera bersama-sama dengan Bung Karno, Bung Hatta, dan KH Mas Mansur. Keempat tokoh itu disebut Empat Serangkai.

Pada tahun 1944 Ki Hadjar diangkat menjadi Naimubu Bunk yoku Sanjo ( Kepala Kebudayaan ). Jaman Indonesia berturut-turut menjadi : Menteri PDK, anggota dan wakil ketua DPA, anggota parlemen. Mendapat gelar DR. Kehormatan dalam Ilmu Pendidikan dari Universitas negeri Gajah Mada pada tanggal 19 Desember 1956. Ki Hajar Dewantara meninggal dunia pada tanggal 26 April 1956, pada usia 70 tahun.

Cita-cita pendidikannya, Ki Hadjar Dewantara berpendapat bahwa pendidikan bagi tiap-tiap bangsa,berarti pemeliharaan guna mengembangkan benih turunan dari bangsa itu agar dapat berkembang dengan sehat lahir batin. Untuk manusia individu harus dikembangkan jiwa raganya dengan mempergunakan segala alat pendidikan baru yang berdasarkan adat istiadat rakyat. Ki Hadjar menganggap bahwa pendidikan kolonial tidak dapat mengadakan peri kehidupan bersama sehingga

selalu bergantung kepada kaum penjajah. Keadan ini tidak akan lenyap, jika hanya dilawan dengan pergerakan politik saja, tetapi harus juga dipentingkan penyebaran benih hidup merdeka dikalangan rakyat dengan jalan pengajaran yang disertai pendidikan Nasional.

Dengan pendidikan Nasional dimaksudkan suatu sistem pendidikan baru yang berdasarkan kebudayaan kita sendiri dan mengutamakan kepentingan masyarakat. Dalam hal ini intelektualisme harus dijauhi dan dipraktekan sistem pengajaran pamong yang menyokong kodrat alam anak didik, bukan perintah paksaan, sistem pamong itu mengemukakan dua dasar : 1. Kemerdekan sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakan kekuatan lahir bathin, sehingga dapat hidup merdeka. 2. Kodrat alam sebagai syarat untuk menghidupkan dan mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya.

Panca Darma. Dasar untuk segala usaha Tamansiswa baik mengenai pendidikan dan pengajaran maupun yang berhubungan dengan organisasi ataupun setiap adat dalam hidup Ketamansiswaan ialah Panca Darma Tamansiswa yang berisikan 5 syarat mutlak yaitu : 1. Kemerdekaan : yaitu disiplin pada diri sendiri, atas dasar nilai hidup yang tinggi, baik hidup individumaupun sebagai anggota dalam masyarakat.] 2. Kodrat Alami : berari bahwa pada hakekatnya manusia itu sebagai makhluk adalah satu dengan kodrat alam ini.

3. Kebudayaan : tidak berarti hanya memelihara kebudayaan kebangsaaan, tetapi teutama membawa kebudayaan ke arah kemajuan Zaman, kemajuan dunia, dan kepentingan hidup lahir dan bathin.. 4. Kebangsaan : tidak boleh bertentangan dengan kemanusiaan, malahan harus menjadi bentuk dan fiil. 5. Kemanusiaan : menyatakan bahwa darma tiap-tiap manusia itu adalah mewujudkan kemanusiaan yang harus terlihat pada kesucian hatinya dan rasa kasih terhadap sesama manusia.

ADAT-ADAT KETAMANSISWAAN

1. Sebutan Ki, Nyi, dan Ni maksudnya menghilangkan perbedaan tingkat pada anggota keluarga Tamansiswa, dan karenanya melaksanakan prinsip demokrasi dalam hidup sehari hari. "Ki" bagi sekalian anggota kaum pria, "Nyi" bagi anggota wanita yang sudah bersuami, "Ni" bagi anggota kaum wanita yang belum bersuami. 2. Tentang melenyapkan rintangan "Majikan-Buruh". Guru-guru tidak menerima gaji, tetapi dapat nafkah, yakni biaya hidup yang diperhitungkan menurut kebutuhan. 3. Tentang urusan kekeluargaan, tidak ada hukum yang tertulis dalam Tamansiswa, tetapi ada dasarnya ialah demokrasi serta keadilan sosial dalam lingkungan.

4. Pengertian demokrasi, bukan demokrasi secara barat tetapi demokrasi yang dibawah pimpinan kebijaksanaan.

USAHA-USAHA KI HADJAR DEWANTARA DALAM MELAKSANAKAN CITA-CITA

Pada tanggal 3 Juli 1922. Ki Hadjar mendirikan Perguruan Kebangsaan Tamansiswa di Jogjakarta.

Sekolah Tamansiswa Bandung didirikan pada bulan September 1926, di jalan Balong Gede, atas prakarsa Ki Hadjar dalam rangka mengembangkan Perguruan Tamansiswa ke seluruh tanah air.

Ketua Perguruan pernah dijabat oleh Ir. Soekarno pada tahun 1962. Dalam perjalalananya Perguruan Tamansiswa banyak mengalami pasang surut. Ketika penjajahan Belanda tahun 1932, Tamansiswa terkena peraturan Onderwijse yaitu peraturan pendidikan yang berarti melarang sekolah swasta berdiri, tapi ditentang oleh Ki Hadjar , yang kemudian dicabut kembali oleh pemerintah Belanda.

Pada tahun 1942 jaman penjajahan Jepang, Tamansiswa juga kena peraturan dilarang mendirikan sekolah umum dan keguruan kecuali sekolah keguruan yang pasa saat itu dinamai Taman Tani.

Karena situasi yang tidak memungkinkan, Tamansiswa pindah dari Jalon Balong Gede ke jalan Banteng ( jalan Tamansiswa sekarang ) yang dikenal dengan jalan Tamansiswa No.4. Tamansiswa sekarang ini setelah mengalami berbagai perubahan membina 4 bagian persekolahan yaitu : 1. Taman Indria ( TK ) 2. Taman Dewasa ( SMP ) 3. Taman Madya ( SMU ) 4. Taman Karya Madya Teknik ( STM )