Anda di halaman 1dari 13

PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN KECAMATAN PUGER

(Studi Kasus : Desa Puger Kulon dan Puger Wetan) Elfira Virginia, Nindya Sari, Aris Subagio Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Jalan MT. Haryono No. 167, Malang 65145, Indonesia diasty.virginia@gmail.com
ABSTRAK Kawasan perikanan Puger merupakan salah satu kawasan perikanan yang diarahkan untuk dikembangkan sebagai kawasan minapolitan perikanan tangkap di Propinsi Jawa Timur. Namun hingga saat ini masih terdapat beberapa kendala yang menyebabkan perkembangan kawasan minapolitan belum optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik kawasan minapolitan serta potensi dan masalah dalam pengembangannya. Metode analisa yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisa deskriptif, analisa evaluatif yang dibantu dengan metode analisa LQ, analisa potensi masalah, dan analisa akar masalahakar tujuan serta analisa development yang merupakan pengembangan dari hasil analisa akar tujuan. Bila dilihat dari hasil penelitian, permasalahan yang ada pada wilayah perencanaan adalah masih terdapat sarana dan prasarana yang kondisinya kurang baik, keterbatasan jenis produk olahan, lembaga yang ada belum berperan aktif baik lembaga permodalan maupun penyuluhan serta kurangnya informasi pasar. Apabila merujuk dari permasalahan yang ada, hal tersebut dapat diatasi dengan pengembangan kegiatan minapolitan yang terbagi menjadi beberapa sub pengembangan yaitu sistem dan mata rantai produksi hulu, hilir dan fasilitas penunjang serta penentuan mengenai lokasi sentra atau pusat pengembangan yang nantinya akan menjadi pusat kontrol pengembangan kawasan minapolitan agar lebih terkoordinir dan terintegrasi antara aspek satu dan lainnya. Kata kunci : pengembangan, minapolitan, perikanan. ABSTRACT Puger fisheries is one of the directed fishery areas to be developed as minapolitan areas in East Java. But until now, there are some constraints that lead to the development minapolitan area is not optimally yet. The purpose of this study is to know the characteristics and potential minapolitan areas and problems in its development. The Method of analysis used in this research include analysis of descriptive, evaluative analysis, assisted by LQ analysis, potential-problem analysis, root cause analysis and also development analysis which is the development of the root objectives analysis. If seen from results of the research, existing problems in the planning area, there is a poor condition of facilities and infrastructure, limited types of refined products, existing institutions has not been play an active role both capital and extension institutions and lack of market information. Reffering to existing problems, it can be overcome by minapolitan activities development that are divided into several sub-development, upstream and downstream system production and supporting facilities as well as the determination the location of center development that will become a minapolitan development central control area to be more coordinated and integrated between one and other aspects. Key words: development, minapolitan, fisheries.

PENDAHULUAN Minapolitan merupakan konsepsi pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan berbasis kawasan berdasarkan prinsip-prinsip terintegrasi, efisiensi, berkualitas dan percepatan. Minapolitan merupakan konsep pengembangan kawasan perikanan yang sedang digalakkan oleh KKP (Kementrian Kelautan dan Perikanan) sejak tahun 2009. Konsep minapolitan terdiri dari tiga sektor program yaitu minapolitan perikanan tangkap, perikanan budidaya dan garam. Minapolitan dinilai sebagai salah satu jawaban dari beragam permasalahan pengembangan usaha perikanan tangkap yang ada saat ini, dimana sektor perikanan tangkap merupakan salah satu sektor usaha padat karya yang banyak menyerap tenaga kerja di kawasan pesisir. Penyerapan tenaga kerja yang terjadi pada sektor ini cenderung bersifat musiman dan sangat bergantung pada kondisi alam. Kondisi yang demikian dapat menimbulkan pengangguran musiman yang berdampak pada menurunnya tingkat kesejahteraan pekerja di sektor perikanan tangkap. Untuk itu diperlukan suatu bentuk usaha yang terintegrasi sehingga tersedia berbagai aktivitas buffer yang membantu keberlanjutan setiap elemen usaha pada sektor perikanan tangkap. Dalam RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Kabupaten Jember Tahun 2008-2028 disebutkan bahwa kawasan pengembangan utama komoditi perikanan dengan kegiatan perikanan tangkap diarahkan pada Kecamatan Puger. Hal tersebut tentu ditetapkan berdasar pada potensi yang ada seperti produksi perikanan terbesar di Kabupaten Jember yaitu berada pada pusat pendaratan ikan yang terletak di Kecamatan Puger yaitu sebesar 7.594,94 ton per tahun. Selain potensi perikanan tangkap seperti yang tersebut diatas, kawasan perikanan Puger tentunya memiliki permasalahan yang tidak jauh berbeda dengan kawasan perikanan tangkap lainnya yaitu seperti terbatasnya mata pencaharian masyarakat sebagai nelayan yang masa kerjanya ditentukan oleh musim, sehingga

pada saat tidak musim ikan, akan muncul pengangguran yang secara tidak langsung akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan hidup mereka masing-masing, masih lemahnya keterkaitan antara mata rantai produksi hulu dan hilir sehingga kegiatan perikanan belum berkembang secara optimal dan kontribusinya terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat pun masih kurang. Untuk itu diperlukan sebuah konsep pengembangan kawasan perikanan yang mampu mengatasi permasalahan diatas sehingga dapat terjadi sebuah sirkulasi dalam kegiatan perikanan tangkap yang dapat meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja perikanan. Dalam hal ini konsep pengembangan yang diharapkan mampu mengatasi permasalahan yang ada di lapangan adalah konsep pengembangan minapolitan. Hal ini didukung pula dengan adanya arahan pengembangan kawasan peruntukan perikanan dalam RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Propinsi Jawa Timur Tahun 20092029 yang disebutkan bahwa wilayah pengembangan kawasan minapolitan perikanan tangkap di Propinsi Jawa Timur salah satunya diarahkan pada kawasan Puger yang terletak di Kabupaten Jember. Dengan demikian diperlukan adanya arahan pengembangan kawasan minapolitan pada kawasan perikanan Puger yang nantinya dapat dijadikan sebagai masukan dalam pengembangan kawasan tersebut. METODE PENELITIAN Penelitian tentang pengembangan kawasan minapolitan perikanan tangkap ini menggunakan beberapa metode, yaitu : 1. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan survey primer dan survey sekunder. Survey primer ini dilakukan dengan observasi lapangan, kuisioner, dan wawancara. Data yang diperoleh dari survey primer ini adalah kondisi fisik wilayah, karakteristik sosial masyarakat serta potensi dan masalah dalam

2 1

pengembangan kawasan minapolitan perikanan tangkap. Survey sekunder dilakukan dengan studi kepustakaan serta dokumen dari instansiinstansi terkait. 2. Metode Analisa Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a. Metode deskriptif Analisa deskriptif digunakan dalam mendeskripsikan gambaran umum kawasan minapolitan perikanan tangkap yang didukung dengan alat statistik deskriptif seperti tabel, diagram maupun foto mapping. b. Metode evaluatif Metode analisa evaluatif yang digunakan antara lain : - Analisa potensi wilayah Untuk mengetahui tingkat kontribusi masing-masing sub sektor terhadap pembentukan kekayaan daerah. Alat analisa yang digunakan adalah metode LQ (Locational Quotient) - Analisa struktur ruang Untuk mengetahui fungsi kawasan serta pusat-pusat pelayanan pada wilayah perencanaan - Analisa penentuan sentra kawasan Untuk mengetahui lokasi pusat pengembangan kawasan minapolitan perikanan tangkap, serta sentra-sentra pengembangan kawasan perikanan berdasarkan kondisi eksisting seperti kelengkapan sarana prasarana dan aksesibilitas - Analisa potensi masalah Untuk mengetahui potensi dan permasalahan terkait pengembangan kawasan minapolitan di Desa Puger Kulon dan Puger Wetan - Analisa akar masalah Untuk mencari tahu inti dari permasalahan yang terjadi di Desa Puger Kulon dan Puger Wetan terkait dengan pengembangan kawasan minapolitan perikanan tangkap

c. Metode development Metode analisis ini bertujuan untuk membantu menghasilkan output dari tahapan analisis sebelumnya sehingga membentuk serangkaian produk pembahasan yang lebih dinamis. Metode yang digunakan untuk menyusun strategi dan arahan penelitian ini adalah pengembangan dari akar tujuan sehingga didapatan arahan pengembangan kawasan minapolitan perikanan tangkap di Desa Puger Kulon dan Puger Wetan. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik kawasan minapolitan perikanan tangkap Wilayah perencaan dalam studi ini yaitu Desa Puger Kulon dan Desa Puger Wetan yang termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Puger yang terletak pada arah Selatan Barat di Kabupaten Jember.

1. Sistem dan mata rantai produksi hulu Dalam rantai produksi hulu terdiri dari: a. Komoditas Komoditas perikanan dan kelautan yang didaratkan di Pelabuhan Perikan Pantai Puger dapat dilihat dari data hasil tangkapan sejak tahun 2007-2009 yaitu sebagai berikut.

Tabel Produksi Perikanan pada PPP Puger Tahun 2007-2009


No. 1. 2. 3. 4. Total Jenis Tongkol Benggol Layur Lemuru Jumlah Produksi (Kg) 2008 2009 2007 51500 58000 61250 33588.5 30319.5 36821.5 2024.9 1833.3 2508.2 182231 151798 203732 269344.4 241950.8 304311.7 Total (Kg) 170750 100729.5 6366.4 537761 815606.9

Sumber : Laporan Tahunan BP/PPP-Puger tahun 2007-2009


65.93% Tongkol 20.94% Benggol Layur Lemuru 0.78% 12.35%

b. Armada penangkapan Dalam proses penangkapan ikan, jenis alat tangkap yang digunakan oleh nelayan pandega pada pesisir Puger antara lain : 1. Payang oras adalah salah satu bentuk jaring berkantong yang terdiri dari 4 bagian yaitu bagian sayap, mulut, badan, dan kantong. 2. Jarring insang/Gillnet adalah jarring yang berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran mata yang sama di sepanjang jaring. 3. Prawe/pancing ulur memiliki konstruksi sederhana yaitu pada satu tali pancing utama dirangkaikan 2-10 mata pancing secara vertical. 4. Trammel net merupakan jaring berbentuk empat persegi panjang dan terdiri dari tiga lapis jaring.
Payang oras 25.43% 22.56% 37.56% Jaring insang (Gillnet) Perawe/pancing ulur Trammel net

tambat, tempat pendaratan ikan dan tempat pelelangan ikan. 1. Sarana tambat Sarana tambat yang terdapat pada Pelabuhan Perikanan Pantai Puger antara lain berupa dermaga dengan luasan 360 m2 dan tiang tambat sepanjang 420 m. 2. Tempat pendaratan ikan Ikan hasil tangkapan nelayan didaratkan disekitar lahan reklamasi disekitar tiang tambat yang selanjutnya diangkut menuju dermaga dan tempat pelelangan ikan. Lahan reklamasi ini memiliki luas 13.000 m2. 3. Tempat pelelangan ikan Tempat pelelangan ikan yang terdapat pada PPI Puger terdiri dari dua bagian yaitu berada pada disisi kanan dan kiri dermaga dengan masing-masing memiliki luas sebesar 360m2. Keberadaan tempat pelelangan ikan tersebut belum berfungsi secara optimal. d. Sistem bongkar muat Kegiatan bongkar muat hasil tangkapan pada PPI Puger dilakukan berdasarkan beberapa tahapan sebagai berikut : 1. Saat membongkar muatan, hasil tangkapan dibedakan beradasarkan jenis dan waktu penangkapannya. 2. Hasil tangkapan dihindarkan dari pemakaian alat-alat yang dapat menimbulkan kerusakan fisik seperti sekop, garpu, pisau dan lainnya. 3. Pembongkaran muatan hasil tangkapan dilakukan dengan waktu yang secepat mungkin untuk menghindari terjadinya kenaikan suhu. e. Keterlibatan nelayan dan pekerja Dalam kegiatan penangkapan ikan, nelayan yang di Desa Puger Kulon dan Puger Wetan terbagi-bagi berdasarkan masingmasing fungsinya yang diklasifikasikan sebagai berikut : 1. Juragan darat : adalah nelayan yang tidak ikut dalam kegiatan melaut, namun merupakan pemilik factor produksi berupa 4

14.44%

c. Keberadaan sarana tambat, air bersih, tempat pendaratan dan pelelangan ikan Dalam perikanan tangkap, sarana dan prasarana yang dibutuhkan meliputi sarana

modal, perahu/kapal, alat tangkap, mesin temple serta surat izin dari paguyuban atas kepemilikan kapal dan jalur operasi penangkapan di laut. 2. Nelayan Pandega : adalah nelayan yang aktif dalam kegiatan melaut dan hanya memiliki modal tenaga kerja dan keterampilan di bidang perikanan. Adapun jenis pekerjaan/tugas pada nelayan pandega ini antara lain : - Peronda atau Penguras : nelayan yang bertugas mengingatkan kepada pandega lainnya atas keberangkatan melaut, menginformasikan kepada seluruh anggota jika saatnya berangkat ke laut dan pada saat tidak melaut tugas lainnya adalah menjaga perahu dari kejahatan dan memilih tempat parker yang aman bagi perahu. - Nahkoda (Juragan Laut) : nelayan yang memimpin operasi penangkapan ikan dan bertanggung jawab atas terlaksananya kegiatan melaut kepada juragan (pemilik kapal). Nahkoda juga bertugas menentukan pembagian kerja pada masing-masing bagian yang dilakukan oleh awak perahu. Sebagai pemimpin perahu, tugas nahkoda memandu arah kapal mulai dari pelabuhan hingga ke laut, dimana penjaringan akan dimulai. - Penjaga Mesin : nelayan yang bertugas merawat mesin dan melakukan perbaikan jika mengalami kerusakan baik saat di laut maupun di darat. Tugas penjaga mesin dan menjaga laju mesin sesuai instruksi nahkoda dan menjaga laju mesin sesuai instruksi nahkoda dan mematikannya ketika penangkapan ikan dimulai. - Penjala : nelayan yang bertugas menebar jala dan mengumpulkan hasil tangkapan di laut. Tugas penjala merupakan tugas utama dan paling berat dalam operasi penangkapan ikan. Jumlah penjala dalam satu perahu yang terbanyak sekitar 15 sampai 18 orang. Tugas yang lain adalah memilah hasil

tangkapan saat perjalanan pulang agar mempermudah dan mempercepat proses pengangkutan ketika sampai di tempat pelelangan untuk siap dijual. f. Sistem distribusi dan pemasaran Adapun mekanisme pemasaran hasil tangkapan ikan di TPI Mina Raharja Puger dapat digambarkan dalam gambar berikut.
NELAYAN

TPI

PENGAMBEK

PEDAGANG LUAR

PENGECER

PASAR LUAR

PASAR LOKAL

KOMSUMEN LUAR

KONSUMEN LOKAL

Dalam kegiatan pemasaran hasil perikanan tangkap, terdapat beberapa pekerja yang terlibat, antara lain : 1. Pengambek adalah orang yang mempertemukan nelayan dengan pedagang. 2. Pengecer adalah pedagang local yang langsung menjual atau menjajakan ikan ke rumah-rumah. 3. Pedagang luar dikategorikan sebagai pedagang besar yang memiliki modal besar untuk membeli hasil tangkapan dari nelayan di desa Puger Kulon dan Puger Wetan.

g. Sentra-sentra produksi
Sentra produksi merupakan kumpulan unit produksi dengan keanekaragaman kegiatan di suatu lokasi tertentu. Hingga saat ini pada Desa Puger Kulon dan Desa Puger Wetan belum terdapat sentra produksi, pengolagan, dan/atau pemasaran, namun berdasarkan hasil pengamatan dilapangan, terdapat embrio-embrio yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai sentra-sentra produksi

yang dapat memberikan multiplier effect terhadap perekonomian masyarakat setempat. 2. Sistem dan mata rantai produksi hilir Dalam rantai produksi hilir terdiri dari: a. Unit-unit pengolahan Pada Desa Puger Kulon dan Puger Wetan terdapat beberapa jenis unit pengolahan yang tersebar pada masing-masing desa, antara lain:
Jenis Unit Usaha Pengasapan Pemindangan Pembuatan Terasi Kerupuk Ikan Tepung Ikan Desa Puger Puger Kulon Wetan 16 9 34 51 39 26 7 4 11 6 Jumlah Unit Usaha 25 85 65 18 10

No. 1. 2. 3. 4. 5

Sumber : Dinas Peternakan, Kelautan dan Perikanan Jember, 2009


Pengasapan 41.87% 12.32% 8.87% 32.02% Pemindangan Pembuatan Terasi Kerupuk Ikan 4.93% Tepung Ikan

b. Sistem dan sarana distribusi/pemasaran produk di dalam/luar kawasan Sistem distribusi maupun pemasaran produk hasil olahan perikanan dilakukan melalui beberapa sarana antara lain : - Pasar Pasar merupakan salah satu sarana pemasaran yang paling efektif. Barang hasil produksi olahan beberapa unit pengolahan dipasarkan atau dijual langsung di Pasar Kecamatan Puger. Biasanya pemilik toko memiliki kesepakatan dengan pemilik masingmasing jenis unit pengolahan untuk menjualkan barang hasil produksinya di toko yang mereka miliki, kemudian untuk pembayarannya dilakukan setiap dua minggu sekali. Sedangkan untuk jenis produk olahan tertentu seperti ikan pindang, pemasaran dilakukan dengan melakukan pengiriman ke pasar kecamatan setempat serta pasar-pasar

kecamatan lain baik di dalam maupun di luar Kabupaten Jember yang dilakukan setiap hari, karena produk olahan pindang ini merupakan produk olahan yang mudah rusak. - Outlet hasil olahan Beberapa pemilik unit pengolahan ada yang bekerja sama dengan outlet hasil olahan yang terletak di komplek Pelabuhan Perikanan Pantai Puger untuk memasarkan barang hasil produksi olahan perikanannya. Sistem yang dilakukan pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan dengan pemilik toko di pasar kecamatan, namun pemilik unit pengolahan cenderung lebih memilih outlet hasil olahan dengan pertimbangan lokasi tersebut berada satu lokasi dengan pelabuhan, sehingga merupakan satu tujuan yang akan disinggahi oleh pengunjung yang datang ke Pelabuhan Perikanan Pantai Puger untuk membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang. - Pedagang kaki lima Pedagang kaki lima juga merupakan suatu pilihan sarana pemasaran bagi para pemilik unit pengolahan. Biasanya pedagang kaki lima membawa barang dagangan dari masingmasing unit pengolahan dan selanjutnya mereka membuka lapak disekitar lokasi pelabuhan. - Pemasaran keluar wilayah Untuk pemasaran ke luar wilayah, biasanya tiap unit pengolahan telah memiliki tujuan pemasaran masing-masing yang merupakan pelanggan tetap seperti outletoutlet pusat oleh-oleh serta pasar di daerah lain. Pengiriman barang dilakukan sesuai dengan permintaan dari pelanggan dan dibayar saat barang telah tiba di tempat tujuan. 3. Sistem Penunjang Sistem penunjang dalam kawasan minapolitan antara lain : a. Kelembagaan Kelembagaan khususnya dalam bidang perikanan yang ada di Desa Puger Kulon dan Puger Wetan terdiri dari : - Lembaga Pemerintah Lembaga pemerintah daerah yang terkait langsung dengan kegiatan perikanan tangkap 6

adalah Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Jember yang difasilitasi oleh Petugas Pelabuhan Perikanan Pantai Puger. Fungsi antara lemabaga pemerintah ini adalah untuk menghubungkan antara pihak pemerintah dengan pihak nelayan sebagai pembina dalam penyuluhan dan pelatihan SDM bagi Kelompok Usaha Bersama Nelayan. - Kelompok Usaha Bersama Nelayan Kelompok Usaha Bersama merupakan wadah bagi para nelayan untuk memperoleh informasi perikanan baik antar sesama KUB maupun dari pemerintah daerah. Kelompok ini dibentuk dengan tujuan untuk mempermudah dalam mengatasi permasalahan terkait kegiatan perikanan tangkap. Berdasarkan hasil survey, KUB merupakan kelompok nelayan yang terdiri dari beberapa orang yang memiliki 1 (satu) rumpon. Dalam satu KUB biasanya terdiri dari 5 (lima) armada atau kapal. - Lembaga Permodalan Lembaga permodalan merupakan lembaga yang memberikan fasilitas bantuan permodalan untuk pengembangan usaha perikanan tangkap maupun unit usaha pengolahan perikanan. Berdasarkan data monografi Desa Puger Kulon dan Puger Wetan antara lain koperasi, bank umum dan bank perkreditan rakyat. Berikut merupakan persebaran lembaga permodalan pada wilayah perencanaan.
Tabel Lembaga Permodalan
No 1 2 Desa Puger Kulon Puger Wetan KSP 5 3 BRI 1 BPR 1 1

2. Prasarana pendukung Prasarana pendukung kegiatan perikanan antara lain: - Jaringan jalan Jaringan jalan di Desa Puger Kulon dan Puger Wetan terdiri dari jalan aspal, jalan makadam, dan jalan tanah dengan berbagai kondisi.
Tabel Panjang Jalan Menurut Perkerasan dan Kondisi
Jenis Perkerasan Aspal Makadam Tanah Jumlah Kondisi Baik Rusak 12,75 4,75 5,00 0,50 0,25 18,25 5,00 Jumlah (km) 17,5 5,00 0,75 23,25

Sumber: Monografi Desa, 2009

Sumber: Monografi Desa, 2009

Alat transportasi masyarakat di Desa Puger Kulon dan Puger Wetan sehari-hari ada berbagai macam, mulai dari berjalan kaki, becak, delman, sepeda, sepeda motor, dan mobil.
Tabel Jenis Moda Transportasi Masyarakat Desa Puger Kulon dan Puger Wetan
No 1 2 3 4 5 6 Alat Trasnportasi Jalan Kaki Becak Delman Sepeda Sepeda motor Mobil Jumlah Jumlah Responden 47 13 5 11 21 2 98 Prosentase 47.96% 13.27% 5.10% 11.22% 21.43% 2.04% 100 %

b. Sarana dan Prasarana 1. Sarana pendukung kegiatan perikanan Sarana merupakan salah satu hal penting yang dibutuhkan dalam perkembangan suatu kawasan, termasuk kawasan minapolitan di Desa Puger Kulon dan Puger Wetan. Menurut Pedoman Umum Minapolitan (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2011), sarana yang dibutuhkan untuk kawasan minapolitan perikanan tangkap meliputi: - Tempat pendaratan ikan 1 unit - Tempat pelelangan ikan 2 unit - Cold storage 1 unit - Pabrik es 1 unit

Air bersih Penduduk di Desa Puger Kulon dan Puger Wetan memperoleh air bersih dengan berlangganan dari PDAM, kemudian juga dari sumur gali, sumur pompa, dan hidran umum.

Tabel Pemenuhan Air Bersih Desa Puger Kulon dan Puger Wetan
Sumber Air Bersih Sumur Gali Pelanggan PDAM Sumur Pompa Hidran Umum Jumlah (KK) Desa Puger Puger Kulon Wetan 1995 2486 1959 390 10 0 0 30 3964 2906 Jumlah 4481 2349 10 30 6870 Persentase 65.23% 34.19% 0.15% 0.44% 100%

Sumber : Monografi Desa Puger Kulon dan Puger Wetan, 2009

B. Potensi dan masalah dalam pengembangan kawasan minapolitan perikanan tangkap 1. Analisa Potensi Wilayah Untuk mendukung hasil dari penelitian ini, terlebih dulu dilakukan analisa mengenai potensi wilayah yang terdapat diwilayah perencanaan dengan menggunakan metode analisa Locational Quotient (LQ).
Tabel Cakupan Pemenuhan Air Bersih
Sumber Air Bersih Sumur Gali Pelanggan PDAM Sumur Pompa Hidran Umum Jumlah Jumlah Responden 54 40 1 2 97 Persentase 55,67% 41,24% 1,03% 2,06% 100% No. 1

Tabel Perhitungan LQ Sektor Pertanian di Kecamatan Puger


Subsektor Tanaman bahan makanan 2 Tanaman perkebunan 3 Peternakan 4 Kehutanan 5 Perikanan Total Sektor Pertanian Kec. Puger 205031889 118353459 83491659 11475591 83744491 502097089 Kab. Jember 3521941.2 2018336.64 1445456.27 108905.38 162398.86 7257038.34 LQ 0.84 0.85 0.83 1.52 7.45 1.00

Sumber : Hasil survey, 2009

Listrik Sumber penerangan utama yang digunakan oleh penduduk di Kawasan Desa Puger Kulon dan Puger Wetan serta pemenuhan listrik pada kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai Puger berasal dari PLN. Pelayanan PLN pada wilayah perencanaan saat ini telah mencapai 100% yaitu 6915 kepala keluarga (KK) telah menggunakan pelayanan PLN sebagai sumber penerangannya.

Sumber : Hasil Analisa, 2009

2. Analisa Sosial Ekonomi - Tingkat penyerapan tenaga kerja Tingkat penyerapan tenaga kerja merupakan jumlah tenaga kerja yang dapat terserap atau ikut serta dalam kegiatan produksi.
Tabel Tingkat Penyerapan Tenaga Kerja di Desa Puger Kulon dan Puger Wetan Tahun 2009
No. 1 2 3 4 5 6 7 Status Nelayan Petani Penambang Industri Perdagangan/jasa PNS Tukang Jumlah Tenaga Kerja 3857 2987 87 395 1752 415 200 PTK 39.79% 30.82% 0.9% 4.08% 18.07% 4.28% 2.06%

No.

Status Jumlah

Jumlah Tenaga Kerja 9693

PTK 100%

Keterkaitan Kebelakang

Unit pengolahan

Aspek Wilayah pemasaran

Tingkat pendapatan dan pengeluaran masyarakat Kondisi perekonomian masyarakat dilihat juga dari tingkat pendapatan dan pengeluaran.
Tabel Rata-Rata Pendapatan Masyarakat Desa Puger Kulon dan Puger Wetan setiap Bulan
No. 1. 2. 3. 4. Rata-Rata Pendapatan per Bulan < Rp. 500.000,00 Rp. 500.000,00 Rp. 999.999,00 Rp. 1.000.000,00 Rp. 2.000.000,00 > Rp. 2.000.000,00 Jumlah Total Responden 44 32 18 3 97 Persen tase 45% 33% 19% 3% 100%

Disamping tingkat pendapatan, berikut akan dianalisa pula mengenai tingkat pengeluaran masyarakat nelayan pada kawasan perikanan Puger.
Tabel Rata-Rata Pengeluaran Masyarakat Desa Puger Kulon dan Puger Wetan setiap Bulan
No. 1. 2. 3. 4. Rata-Rata Pengeluaran per Bulan < Rp. 500.000,00 Rp. 500.000,00 Rp. 999.999,00 Rp. 1.000.000,00 Rp. 2.000.000,00 > Rp. 2.000.000,00 Jumlah Total Responden 51 29 15 2 97 Prosen tase 53% 30% 15% 2% 100%

4. Analisa Struktur Wilayah Analisa struktur wilayah dilakukan dengan menggunakan analisa terhadap kebijakan yang tertuang dalam Revisi Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Puger yang meliputi fungsi kawasan dan struktur kawasan. - Fungsi wilayah perencanaan seperti yang telah disebutkan dalam Revisi Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Puger adalah sebagai kegiatan perikanan diarahkan pada industri pengolahan berbasis perikanan dalam skala industri kecil, kegiatan pertanian, kegiatan pertambangan diarahkan pada industri pengolahan dalam skala industri kecil dan kegiatan pariwisata. - Struktur kegiatan pada wilayah perencanaan terdiri dari : Kegiatan pelayanan primer : TPI, perikanan diarahkan pada industri pengolahan berbasis perikanan dalam skala industri kecil, pertambangan diarahkan pada industri pengolahan dalam skala industri kecil dan pariwisata Kegiatan pelayanan sekunder : Perdagangan, kesehatan, pendidikan, perumahan, peribadatan, perkantoran dan fasilitas umum. 5. Analisa Penentuan Sentra Analisa penentuan sentra kawasan minapolitan perikanan tangkap mengacu pada Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18/MEN/2011 tentang Pedoman Umum Minapolitan, dimana pada kawasan minapolitan perikanan tangkap, terdapat tiga jenis sentra seperti yang terurai dalam Tabel 4.23.
Tabel 4.23. Analisa Penentuan Sentra
No. 1 Sentra Sentra Produksi Analisa Pelabuhan perikanan dan Tempat Pendaratan Ikan (TPI) pada wilayah perencanaan berlokasi di BWK I. Kegiatan yang terjadi pada lokasi tersebut adalah pendaratan ikan, bongkar muat hasil tangkapan, pelelangan ikan, serta perdagangan dan distribusi hasil tangkapan. Hal ini juga sejalan dengan kebijakan yang disebutkan dalam Revisi Rencana Tata Ruang Perkotaan Puger yaitu pusat pengembangan kegiatan perikanan diarahkan

Berdasarkan perbandingan dari kedua tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah pendapatan rata-rata masyarakat nelayan hampir sama dengan jumlah pengeluaran. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendapatan dari usaha atau bekerja habis untuk keperluan sehari-hari atau dengan kata lain penghasilan masyarakat tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. 3. Analisa Linkage System Analisis keterkaitan wilayah (linkage sistem analysis) digunakan untuk menganalisis keterkaitan produksi perikanan tangkap terhadap sektor kegiatan lainnya. Terdapat dua macam keterkaitan, yaitu keterkaitan ke belakang (backward linkage) dan keterkaitan ke depan (forward linkage).
Tabel Linkage System
Keterkaitan Kedepan Wilayah penyerapan kerja Aspek Penyediaan tenaga peralatan produksi

No.

Sentra

Sentra Pengolahan

Sentra Pemasaran

Analisa pada BWK I karena telah tersedianyan Pelabuhan Perikanan Pantai yang merupakan pusat kegiatan produksi dan pemasaran. Unit-unit pengolahan ikan pada wilayah perencanaan tersebar pada keempat BWK yang ada. Penentuan lokasi sentra pengolahan ditentukan berdasarkan beberapa kriteria seperti aksesibilitas dan sarana pengolahan. Pelabuhan perikanan dan Tempat Pendaratan Ikan (TPI) pada wilayah perencanaan berlokasi di BWK I.

Tabel Potensi pada Kawasan Minapolitan Perikanan Tangkap


No. 1 Variabel Komoditas Potensi - Komoditas perikanan pada kawasan minapolitan perikanan tangkap Puger merupakan potensi wilayah dengan nilai LQ > 1 yaitu sebesar 7,45 yang menunjukkan bahwa komoditas tersebut tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan wilayah tersebut melainkan dapat memenuhi kebutuhan wilayah lain - Terdapat jaringan jalan yang menghubungan wilayah perencanaan dengan wilayah lainnya sehingga mempermudah dalam aksesibilitas masyarakat termasuk dalam kegiatan perikanan - Seluruh rumah tangga di Desa Puger Kulon dan Puger Wetan sudah terlayani oleh jaringan listrik - Telah terdapat kelompok usaha bersama nelayan yang dapat mempermudah dalam koordinasi baik antar nelayan maupun antara nelayan dengan pemerintah - Telah terdapat lembaga permodalan berupa koperasi simpan pinjam, koperasi nelayan dan bank - Telah terdapat pasar kecamatan dan outlet hasil olahan sebagai sarana pemasaran produk perikanan - Hasil produksi perikanan sudah dipasarkan hingga ke luar Desa Puger Kulon dan Puger Wetan - Terdapat banyak jenis pengolahan hasil perikanan laut dan hampir semua ikan hasil tangkapan dapat diolah

Sarana Prasarana

Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18/MEN/2011 tentang Pedoman Umum Minapolitan, untuk menentukan sentra pengolahan terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan, antara lain: a) Ketersediaan sarana pengolahan (cold storage, pabrik es) = faktor 1 b) Ketersediaan prasarana pendukung produksi (jalan, air bersih, listrik) = faktor 2 c) Kemudahan aksesibilitas pergerakan = faktor 3
Tabel Skoring Penentuan BWK sebagai Sentra Pengolahan
No. 1. 2. 3. 4. BWK BWK I BWK II BWK III BWK IV Faktor 1 3 1 1 1 Faktor 2 3 2 2 2 Faktor 3 2 1 3 1 8 4 6 4

Kelembagaan

Pemasaran

Dapat dilihat dari hasil perhitungan di atas, dapat disimpulkan bahwa dari beberapa kriteria yaitu ketersediaan sarana pengolahan, ketersediaan prasarana pendukung produksi dan aksesibilitas maka dapat ditentukan bahwa BWK I memiliki skor tertinggi sebagai sentra pengolahan. 6. Analisa Potensi Masalah Analisis potensi masalah digunakan untuk mengetahui potensi yang ada di kawasan minapolitan perikanan tangkap, untuk kemudian dikembangkan lebih lanjut serta untuk mengetahui permasalahan yang ada di kawasan minapolitan perikanan tangkap yang selanjutnya dapat dilakukan pengembangan yang lebih baik.

Produksi Hilir

Tabel Masalah pada Kawasan Minapolitan Perikanan Tangkap


No. 1 Variabel Komoditas Masalah - Komoditas hasil pengolahan perikanan masih kurang variatif, terbatas pada pemindangan, pengasapan, terasi, kerupuk dan petis ikan saja, sedangkan permintaan pasar mengarah pula pada produk olahan sejenis sosis, nugget dan bakso ikan serta tempura - Masih terdapat jaringan jalan yang rusak, terutama jalan lingkungan dan jalan menuju Pelabuhan Perikanan Pantai Puger - Pada sebagian sumur gali warga

Sarana dan prasaranan

10

No.

Variabel -

3 Kelembagaan -

4 Pemasaran 5 Produksi Hilir -

Masalah masih terdapat perembesan dari air sungai terutama saat musim hujan Sarana penangkapan yang digunakan masih terbilang sederhana, baik armada penangkapan maupun alat tangkap yang digunakan Kondisi sarana perikanan pada PPP Puger kurang baik Lembaga bantuan modal yang ada saat ini belum begitu diminati oleh masyarakat, karena waktu pengembalian pinjaman dianggap terlalu singkat Kurangnya informasi penawaran modal bagi pelaku kegiatan perikanan baik nelayan maupun pemilik unit pengolahan Belum terdapat lembaga pelatihan dan penyuluhan mengenai kegiatan perikanan tangkap Kurangnya informasi terkait pemasaran baik harga maupun daerah pemasaran Pemasaran produk hasil tangkapan masih banyak dikuasai tengkulak Proses pembayaran produk olahan yang pada beberapa lokasi dilakukan setelah barang laku terjual Kapasitas produksi terbat as dikarenakan terbatasnya peralatan dan skala produksi masih sebatas industri rumah tangga

Gambar Bagan Akar Tujuan

7. Analisa Akar Masalah dan Akar Tujuan Analisis akar masalah ini digunakan untuk mencari tahu inti dari permasalahan yang terjadi di Desa Puger Kulon dan Puger Wetan terkait dengan pengembangan kawasan minapolitan perikanan tangkap. Sedangkan analisis akar tujuan disusun berdasarkan analisis akar masalah yang telah disusun sebelumnya.

Gambar Bagan Akar Masalah

C. Arahan pengembangan kawasan minapolitan perikanan tangkap Arahan pengembangan kawasan minapolitan diperoleh dari hasil analisis potensi masalah, akar masalah serta akar tujuan yang telah dilakukan sebelumnya. 1. Arahan Pengembangan Struktur Ruang Arahan pengembangan struktur ruang kawasan minapolitan perikanan tangkap di Desa Puger Kulon dan Puger Wetan, dikembangkan dari hasil analisa penentuan lokasi sentra baik sentra produksi maupun sentra pengolahan. Pusat pengembangan kegiatan minapolitan perikanan tangkap Pusat pengembangan kegiatan minapolitan diarahkan pada BWK I yang disesuaikan dengan kebijakan yang terdapat dalam Revisi Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Puger yang didasarkan pada kondisi eksisting dengan keberadaan pelabuhan perikanan beserta fasilitas pendukungnya terkait kegiatan perikanan seperti fasilitas utama, fasilitas pendukung dan fasilitas penunjang pelabuhan. Hal ini didukung pula dengan hasil analisa yang telah dilakukan pada pembahasan sebelumnya, dimana lokasi sentra produksi, pengolahan dan pemasaran berada pada BWK I. Masing-masing sentra tersebut mempunyai fungsi kawasan masing-masing, yaitu : - Sebagai sentra produksi, BWK I mempunyai fungsi sebagai pusat pendaratan ikan, pusat pelelangan ikan, serta pusat pendataan hasil tangkapan sebagai bentuk monitoring produksi dan alur distribusi hasil tangkapan. - Sebagai sentra pengolahan, BWK I dengan jenis kegiatan pengolahan hasil tangkapan menjadi produk setengah jadi hingga produk jadi, dan kegiatan

11

pengepakan produk hasil olahan yang akan di distribusi. - Sebagai sentra pemasaran, BWK I mempunyai fungsi sebagai pusat perdagangan baik skala lokal maupun nasional, pusat informasi pemasaran baik dari segi harga, jenis komoditas hingga wilayah tujuan pemasaran.Sub pusat pengembangan kegiatan minapolitan perikanan tangkap Sub Pusat pengembangan kegiatan minapolitan Diarahkan pada BWK II, BWK III dan BWK IV dengan masing-masing BWK memiliki fungsi berdasarkan potensi dan kondisi masing-masing yang disesuaikan dengan arahan pada Revisi Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Puger yaitu sebagai pengembangan kegiatan industri kecil atau pengolahan lanjutan produk hasil perikanan.

No.

Jenis Kegiatan

Sarana tambat dan pendaratan

Sistem distribusi hasil tangkapan Sentra produksi

Arahan tangkapannya - Pelatihan mengenai penggunaan alat tangkap yang produktif dan ramah lingkungan - Pembatasan bagi pengunjung untuk tidak turun hingga lokasi tiang tambat - Penertiban pedagang kaki lima/asongan pada sekitar tempat pendaratan dan pelelangan dengan melakukan relokasi pada los pasar yang tersedia di komplek pelabuhan Pengadaan administrasi mengenai hasil tangkapan sebagai bentuk monitoring mengenai perkembangan produksi - Perbaikan dan perawatan sarana prasarana pada lokasi terpilih - Mengembangkan sistem manajemen pelabuhan

Tabel Arahan Pengembangan Sistem dan Mata Rantai Produksi Hilir Perikanan Tangkap
No. 1 Jenis Kegiatan Unit pengolahan Arahan - Penataan unit pengolahan sesuai dengan hasil analisa penentuan sentra pengolahan - Pengadaan sarana pendukung kegiatan unit pengolahan pada lokasi sentra seperti gudang maupun cold storage - Mengembangkan fasilitas pemasaran di kawasan minapolitan untuk mempermudah kegiatan distribusi hasil perikanan - Penambahan sarana informasi untuk kegiatan pemasaran seperti pembuatan web mengenai Pelabuhan Perikanan Pantai Puger beserta komoditas unggulan serta produk hasil olahannya. - Menetapkan sasaran distribusi/pemasaran berdasarkan jenis produknya.

Sistem sarana distribusi

dan

2. Arahan Pengembangan Kegiatan Minapolitan Perikanan Tangkap Arahan pengembangan kegiatan minapolitan terbagi menjadi beberapa aspek sebagai berikut. a. Sistem dan mata rantai produksi perikanan tangkap
Tabel Arahan Pengembangan Sistem dan Mata Rantai Produksi Hulu Perikanan Tangkap
No. 1 Jenis Kegiatan Komoditas Arahan Penyuluhan mengenai distribusi wilayah penangkapan pro nelayan untuk meningkatkan hasil produksi - Penyuluhan mengenai keragaman armada dan penyesuaiannya dengan jenis alat tangkap - Penyuluhan mengenai jenis alat tangkap sesuai dengan jenis

Sarana penangkapan

b. Sumber Daya Manusia Arahan pengembangan bagi sumberdaya manusia pelaku kegiatan perikanan sebagai berikut : 1. Penyuluhan mengenai keragaman armada dan alat tangkap yang produktif dan ramah lingkungan 2. Pelatihan mengengai cara penggunaan alat tangkap yang produktif dan ramah lingkungan 3. Pelatihan mengenai keterampilan dalam pengolahan hasil perikanan 12

4. Pelatihan mengenai manajemen usaha dan pemasaran produk hasil olahan c. Kelembagaan Arahan pengembangan aspek kelembagaan antara lain : 1. Pengadaan kelompok usaha bagi pekerja pada unit pengolahan perikanan untuk mempermudah dalam proses pendataan maupun dalam hal penyuluhan/sosialisasi terkait kegiatan industri. 2. Pengadaan kerjasama mengenai permodalan antara pemerintah dengan nelayan atau pemilik unit pengolahan perikanan melalui kelompok usaha bersama dengan bunga yang ringan dan tidak memberatkan nelayan atau pemilik unit pengolahan perikanan. 3. Pengoptimalan lembaga bantuan permodalan yang telah ada saat ini. d. Sarana dan Prasarana Penunjang Arahan pengembangan sarana dan prasarana penunjang antara lain : 1. Perbaikan jaringan jalan yang rusak dan peningkatan perkerasan jalan yang masih berupa jalan tanah maupun jalan batu menjadi jalan aspal untuk memperlancar aksesibilitas masyarakat. 2. Pengembangan jaringan listrik digunakan untuk mengoptimalkan pelayanan jaringan listrik. Arahan pengembangan dalam pemenuhan kebutuhan listrik di wilayah perencanaan difokuskan pada penambahan lampu penerangan jalan. 3. Penanganan sampah pada wilayah perencanaan diarahkan dengan memanfaatkan 5 unit TPS yang sudah tersedia yang tersebar KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Desa Puger Kulon dan Puger Wetan merupakan kawasan yang akan dikembangkan sebagai kawasan minapolitan perikanan tangkap. Namun hingga saat ini masih terdapat beberapa masalah dalam pengembangannya. Dari hasil survey diketahui bahwa keterkaitan antar sistem dan mata rantai produksi hulu dan hilir serta fasilitas penunjang belum optimal dan belum terdapat sentra pengembangan. Dengan demikian, dibutuhkan arahan

pengembangan kawasan minapolitan yaitu pengembangan struktur ruang kawasan minapolitan dan pengembangan kegiatan perikanan dari hulu hingga hilir. Saran Diperlukan peningkatan kesadaran serta peran aktif pemerintah kabupaten dan propinsi untuk lebih memperhatikan sektor perikanan dan diperlukan pula pembentukan tim terpadu pengembangan kawasan minapolitan yang melibatkan instansi terkait. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kegiatan pengembangan kawasan minapolitan perikanan tangkap yang merupakan konsep pengembangan yang sedang digalakkan pemerintah demi kesejahteraan masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, S.Prof.Dr. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Badan Pusat Statistik Kabupaten Jember. 2009. Kecamatan Puger Dalam Angka. Jember : Badan Pusat Statistik Jember. Bappeda Kabupaten Jember. 2007. Studi Rekayasa Pengambangan Ekonomi Masyarakat Pesisir Jalur Lintas Selatan Kabupaten Jember. Jember: Tidak diterbitkan. Bappeda Kabupaten Jember. 2008. Revisi Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Puger. Jember: Tidak diterbitkan. Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2011. Pedoman Umum Minapolitan. Jakarta: Tidak diterbitkan.

13