Anda di halaman 1dari 9

Hama Utama Pada Kubis Dan Usaha Pengendaliannya

Hama Utama Pada Kubis Dan Usaha Pengendaliannya

1. Ulat Daun Kubis (Plutella xylostella Linnaeus)

Ordo : Lepidoptera ; Subfamili : Plutellidae

Gejala Serangan

Ulat daun kubis mulai menyerang sejak awal pra pembentukan krop (049 hst) sampai fase pembentukan krop (49 85 hst). Larva makan jaringan permukaan bawah daun kubis dan meninggalkan lapisan epidermis bagian atas. Setelah jaringan daun membesar lapisan epidermis pecah, sehingga terjadi lubanglubang pada daun. Jika tingkat populasi larva tinggi, akan terjadi kerusakan berat pada tanaman kubis, sehingga yang tinggal hanya tulang tulang daun kubis. Umumnya serangan berat terjadi pada musim kemarau pada umur 5 8 minggu. Inang lainnya:

P. xylostella merupakan hama utama tanaman kubis putih dan jenis kubis lainnya seperti kubis merah, petsai, kubis bunga, kaelan, selada air, sawi jabung, radis, turnip, lobak, dan lain-lain. Selain itu, gulma kubis-kubisan yang juga dapat menjadi inang P. xylostella adalah Capsella bursapastoris (rumput dompet gembala), Cardamine hirsuta (rumput selada pahit berbulu), Brassica pachypoda, Nasturtium officinale, dan Lepidium sp.

Morfologi/Bioekologi Serangga dewasa berupa ngengat kecil, panjangnya kira kira 6 mm berwarna cokelat kelabu dan aktif pada malam hari. Pada sayap depan terdapat tiga buah lekukan (undulasi) yang berwarna putih menyerupai berlian (diamond). Ngengat tidak kuat terbang jauh dan mudah terbawa angin. Pada saat tidak ada angin, ngengat jarang terbang lebih tinggi dari 1,5 m diatas permukaan tanah. Masa hidup ngengat betina rata rata 20,3 hari. Ngengat betina kawin hanya satu kali.

Telur berbentuk oval, ukuran 0,6 mm x 0,3 mm, berwarna kuning, berkilau dan lembek. Ngengat betina meletakkan telur secara tunggal atau dalam kelompok kecil (tiga atau empat butir), atau dalam gugusan (10 20 butir) di sekitar tulang daun pada permukaan daun kubis sebelah bawah. Ngengat betina bertelur selama 19 hari dan jumlah telur rata rata sebanyak 244 butir. Lama stadium telur tiga hari.

Larva berbentuk silindris, berwarna hijau muda, relatif tidak berbulu dan mempunyai lima pasang proleg. Terdiri atas empat instar. Larva lincah dan jika tersentuh akan menjatuhkan diri serta menggantungkan diri dengan benang halus. Larva jantan dapat dibedakan dari larva betina karena memiliki sepasang calon testis yang berwarna kuning. Rata rata lamanya stadium larva instar kesatu 3,7 hari, larva instar kedua 2,1 hari dan larva instar ketiga 2,7 hari dan larva instar ke empat 3,7 hari. Antara larva instar ke-4 dengan prapupa tidak terjadi pergantian kulit. Panjang pupa rata rata 6,3 7 mm dan lebarnya 1,5 mm. Pupa dibungkus kokon (jala sutera) dan diletakkan pada permukaan bagian bawah daun kubis. Lama stadium pupa rata rata 6,3 hari

Pencaran

Di dunia hama ini telah masuk berbagai benua, diantaranya benua Eropa, Asia, Afrika, Amerika Selatan, Amerika Utara. Di Indonesia hama ini dilaporkan terdapat di seluruh wilayah seperti di pulau Sumatera, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya.

Pengendalian

a. Kultur teknis

- Tumpang gilir tomat dan kubis dimana tanaman tomat berfungsi sebagai penolak (repellent) terhadap ngengat P. xylostella yang akan bertelur pada tanaman. Tomat ditanam satu bulan lebih awal dengan pola larikan yaitu satu baris tomat dan dua baris kubis. - Tumpang sari rape (caisin) kubis atau sawi jabung (mustard) kubis. Dimana tanaman rape atau sawi jabung berfungsi sebagai perangkap hama Plutella dan Crocidolomia. Pertanaman kubis dikelilingi dengan dua baris rape atau dua baris sawi jabung. Baris pertama ditanam 15 hari sebelum penanaman kubis sedangkan baris ke dua ditanam setelah kubis berumur 25 hari.

- Sanitasi atau membersihkan gulma yang menjadi inang untuk imago meletakkan telur

b. Fisik/Mekanik

Mengumpulkan telur, larva, pupa lalu dimusnahkan

Feromonoid seks yang dilengkapi dengan perangkap air atau perangkap lekat (perekat) sebanyak satu

buah/10 m dapat digunakan untuk memantau populasi ngengat P. xylostella jantan.

c. Biologi

Pemanfaatan musuh alami ulat daun kubis seperti parasitoid telur Trichogrammatoidae bactrae, parasitoid larva, Diadegma semiclausum dan Cotesia plutellae, parasitoid pupa, Diadromus collaris, Oomyzus sokolowskii, Thyraella collaris, Tetrastichinae, predator Cadursia plutellae dan Voria ruralis serta patogen serangga seperti Beauveria bassiana, Paesilomyces fumosoroseus, Zoophthora radicans, Steinernema carpocapsae, dan Hirsulella spp.

d. Biopestisida

Menggunakan insektisida alami misalnya menggunakan minyak dari ekstrak buah srikaya, sirsak, biji nimba, dan tembakau

e. Kimia

Aplikasi pestisida kimia sintetik yang terdaftar dan diizinkan oleh Menteri Pertanian apabila pengendalian lain tidak dapat mengurangi intensitas serangan hama, misalnya yang berbahan aktif sipermetrin, abamectin, dan beta siflutrin.

2. Ulat Krop Kubis (Crocidolomia binotalis)

Ordo : Lepidoptera; Famili : Crambidae

Gejala Serangan

Ulat krop dapat menyerang sejak fase awal pra pembentukan krop (0 49 hast) sampai fase pembentukan krop (49 85 hst). Larva muda biasanya bergerombol pada permukaan bawah daun kubis dan meninggalkan bercak putih pada daun yang dimakan.

Larva instar ke-3 dan ke-5 memencar dan menyerang pucuk tanaman kubis, sehingga menghancurkan titik tumbuh. Akibatnya tanaman mati atau batang kubis membentuk cabang dan beberapa krop berukuran kecil.

Pada populasi tinggi terdapat kotoran yang berwarna hijau bercampur dengan benangbenang sutera. Serangan hama C. Tanaman Inang Lain

Jenis Crusiferae seperti sawi, kubis bunga, kubis putih, petsai, brokoli, turnip, lobak, radis, sawi jabung, selada air dan lain-lain.

Morfologi/Bioekologi

Serangga dewasa berwarna hitam, sedangkan perutnya berwarna coklat kemerahan dengan panjang tubuhnya kira kira 1,1 cm. Ngengat aktif pada malam hari dan tidak tertarik cahaya. Sayap depan ngengat jantan mempunyai rumbai dari rambut halus yang berwarna gelap pada bagian tepi-depan (anterior). Panjang tubuh rata rata untuk serangga jantan 10,4 mm dan serangga betina 9,6 mm. Lama hidup dari telur ngengat sekitar 26 hari. Telur diletakkan dalam kelompok menyerupai genting genting rumah, berwarna hijau muda dan biasanya pada permukaan bawah daun, di tepi daun atau dekat tulang daun. Jumlah telur rata rata 48 butir dan ukurannya 2,6 mm dan 4,3 mm. Masa telur 3 6 hari dan rata rata 4 hari.

Larva berwarna hijau muda kecoklatan dan terdiri atas lima instar. Pada bagian sisi dan bagian atas tubuh larva terdapat garis garis putih sepanjang tubuhnya. Larva muda bergerombol pada permukaan bawah daun kubis. Larva tua (instar ke-4 dan ke-5) panjangnya kira kira 2 cm, bersifat malas, dan selalu menghindari cahaya matahari. Masa larva 11 17 hari dengan rata rata 14 hari pada suhu 26 33,2 oC.

Biasanya pembentukan pupa terjadi pada permukaan tanah dan tubuhnya terlapisi oleh partikel tanah. Pupa berwarna kuning kecoklatan dan berukuran lebar 3 mm serta panjang 10 mm. Masa pupa 9 13 hari dan rata rata 10 hari pada suhu udara 26 33 oC.

Pencaran

Di dunia hama ini telah ada diberbagai benua seperti di Asia, Afrika, dan Oceania. Di Indonesia hama ini dilaporkan terdapat di seluruh wilayah seperti di pulau Sumatera, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya.

Pengendalian

a. Kultur teknis Tumpang sari rape (caisin) kubis atau sawi jabung (mustard) kubis. Dimana tanaman rape atau sawi

jabung berfungsi sebagai perangkap hama Plutella dan Crocidolomia. Pertanaman kubis dikelilingi dengan dua baris rape atau dua baris sawi jabung. Baris pertama ditanam 15 hari sebelum penanaman kubis sedangkan baris ke dua ditanam setelah kubis berumur 25 hari.

Sanitasi atau membersihkan gulma yang menjadi inang untuk imago meletakkan telur

b. Fisik/Mekanik

Mengumpulkan telur, larva, pupa lalu dimusnahkan

Feromonoid seks yang dilengkapi dengan perangkap air atau perangkap lekat (perekat) sebanyak satu

buah/10 m dapat digunakan untuk memantau populasi ngengat.

c. Biologi

Pemanfaatan musuh alami ulat krop kubis seperti parasitoid larva, Sturmia inconspicuoides, Eriborus argenteopilosus, Chelonus tabonus, parasitoid pupa Cotesia (= Apanteles sp.), Brachymeria sp., predator Ropalidia bambusae serta patogen serangga seperti Mikrosporidia, Steinernema sp., dan Nomuraea rileyi.

d. Kimia

Aplikasi pestisida kimia sintetik yang terdaftar dan diizinkan oleh Menteri Pertanian apabila pengendalian lain tidak mengurangi intensitas serangan hama, misalnya yang berbahan aktif permetrin, sipermetrin, dan profenofos.

3. Kutu Anjing (Phyllotreta vittata Fabricius.)

Ordo : Coleoptera; Famili : Chrysomelidae

Gejala Serangan

Kerusakan serius terjadi pada persemaian terutama pada kotiledon atau daun pertama. Serangga dewasa memakan daun dan membuat lubanglubang kecil. Kadangkadang hama tersebut juga menyerang batang. Daun yang terserang menjadi coklat dan robek. Apabila serangan berat persemaian dapat mati.

Tanaman yang telah berdaun 5 atau lebih umumnya dapat mentorelir serangan hama Phyllotreta.

Tanaman Inang lain

Sawi, petsai, dan lobak

Morfologi/Bioekologi Telur diletakkan secara kelompok, berjumlah sekitar 45 butir pada kedalaman tanah 2 3 cm. Larva mempunyai panjang tubuh 4 mm, kepala berwarna coklat, dan memakan akar dan batang muda. Pupa mempunyai panjang tubuh 3 mm berada di dalam tanah pada kedalaman 5 cm. Tubuh kumbang berwarna hitam dengan sayap yang mempunyai garis kuning. Panjang tubuh 2 mm. Aktif pada siang hari dan bila diganggu akan meloncat.

Pencaran

Di dunia hama ini telah dilaporkan berada di benua Eropa, Asia, Amerika Utara, Di Indonesia hama ini antara lain laporannya masih sangat jarang, tetapi telah ada di ada di Sumatera dan Jawa.

Pengendalian

a. Kultur Teknis

Mempersiapkan persemaian agar kondisi pupuk dan air tercukupi.

Pengolahan tanah yang baik untuk membunuh telur dan pupa yang ada di dalam tanah.

Sanitasi dengan membersihkan lahan dari gulma.

b. Fisik dan Mekanik

Pada fase awal, penyiraman dilakukan tiap hari (terutama untuk penanaman musim kemarau) untuk menjaga agar pertanaman tidak mengalami kekeringan.

c. Biologi

Pemanfaatan musuh alami Phyllotreta vittata seperti parasitoid Diglyphus isaea d. Kimia

Dilakukan aplikasi insektisida kimia sintetik yang terdaftar dan diizinkan oleh Menteri Pertanian jika pengendalian lain tidak bisa mengurangi intensitas serangan hama. Tanaman Kubis - kubisan Alternaria Leaf Spot Seperti halnya pada tanaman cabe, bercak alternaria pun dapat menyerang kubis - kubisan. Namun, penyakit pada kubis ini disebabkan oleh Alternaria brassicae, A. brassicicola. Hampir seluruh tanaman kubis - kubisan sangat peka terhadap bercak daun Alternaria dan dapat menyerang tanaman pada seluruh fase pertumbuhan. Gejala yang ditimbulkan oleh 2 pathogen ini sama dan bisa ditemukan dalam satu tanaman. Serangan pada tanaman di persemaian dapat mengakibatkan damping off atau tanaman kerdil. Bentuk Bercak daun sangat beragam ukurannya dari sebesar lubang jarum hingga yang berdiameter 5 cm. Umumnya serangan dimulai dengan adanya bercak kecil pada daun yang membesar hingga kurang lebih berdiamter 1,5 cm dan berwarna gelap dengan lingkaran konsentris. Perubahan warna menjadi coklat pada head cauliflower dan brokoli juga disebabkan oleh pathogen ini. Patogen ini juga menimbulkan bercak elips nekrotis pada benih. Penyakit ini disebabkan oleh patogen yang terbawa benih. Alternaria sendiri dapat disebarkan oleh angin. Serangan dapat dipercepat oleh cuaca yang lembab dengan suhu optimum antara 25 30oC. Pengendalian yang dapat dilakukan antara lain : menggunakan benih yang bebas dari patogen ini. Air panas dan perlakuan benih dengan bahan kimia juga sangat efektif. Kemudian , penggunaan fungisida Promefon 250EC juga dapat diterapkan untuk mengendalikan perkembangan beberapa penyakit. Hindari penyiraman pada head cauliflower dan brokoli untuk mencegah pembusukan head.

Bacterial Soft Rot Penyakit busuk lunak ini sangat sering dijumpai pada tanaman kubis - kubisan. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Erwinia carotovora ini ditemukan di seluruh dunia. Busuk lunak dapat menyerang seluruh tanaman kubis-kubisan, tetapi lebih sering menyerang sawi putih dan kubis. Jaringan tanaman yang telah terserang menunjukkan gejala basah dan diameter serta kedalamannya melebar secara cepat. Bagian tanaman yang terkena menjadi lunak dan berubah warna menjadi gelap apabila serangan terus berlanjut. Tanaman yang terkena busuk lunak menimbulkan bau yang khas yang dimungkinkan oleh adanya perkembangan organisme lain setelah pembusukan terjadi. Serangan ini bisa terjadi di lahan, saat pengangkutan, ataupun saat penyimpanan. Bakteri busuk lunak timbul dari seresah tanaman yang telah terinfeksi, melalui akar tanaman, dari tanah, dan beberapa serangga. Luka pada tanaman seperti stomata pada daun, serangan serangga, kerusakan mekanis, ataupun bekas serangan dari pathogen lain merupakan sasaran yang empuk untuk serangan bakteri. Hujan dan suhu yang tinggi mendorong penyebaran di lahan. Infeksi pada saat pengangkutan dan penyimpanan merupakan kontaminasi bakteri saat di lahan maupun pasca panen melalui peralatan pengangkutan dan panen serta tempat penyimpanan. Bakteri busuk lunak dapat berkembang pada suhu 5 37oC dengan suhu optimum berkisar 22oC. Pengendalian secara preventif bisa ditempuh melalui kebersihan lingkungan dan sistem budidaya. Menunggu tanah melapukkan sisa-sisa tanaman lama di lahan sebelum menanam tanaman selanjutnya sangat dianjurkan untuk mengatasi hal ini. Lahan harus memiliki drainase yang baik untuk mengurangi kelembaban tanah serta jarak tanamnya harus cukup memberikan pertukaran udara untuk mempercepat proses pengeringan daun saat basah. Pembuatan pelindung hujan dapat pula menghindari percikan tanah dan pembasahan daun yang akan mengurangi gejala busuk lunak. Penyemprotan bacterisida seperti Kocide 77WP dengan interval 10 hari sangat dianjurkan terutama saat penanaman musim hujan.

Black Rot Penyakit busuk hitam (Black rot) yang disebabkan Xanthomonas campestris pv. Campestris termasuk salah satu penyakit penting pada tanaman kubis - kubisan. Busuk hitam dapat menyerang seluruh tanaman kubis kubisan. Gejala awal yang timbul adalah pada tepi daun dan berlanjut hingga klorosis membentuk huruf V. Dengan berjalannya waktu, gejala yang timbul tadi kemudian mengering dan seperti terbakar (nekrotis). Serangan umumnya terjadi pada pori daun, tetapi tidak menutup kemungkinan dapat menyerang di bagian daun mana saja yang telah terserang serangga ataupun luka secara mekanis sehingga memudahkan bakteri masuk. Bakteri ini menyerang jaringan pengangkutan tanaman dan dapat berpindah secara sistematis dalam jaringan pengangkutan tanaman tersebut. Jaringan angkut yang terserang warnanya menjadi kehitaman yang dapat dilihat sebagai garis hitam pada luka atau bisa juga diamati dengan memotong secara melintang pada batang daun atau pada batang yang terkena infeksi. Busuk hitam juga dapat menyebabkan terjadinya busuk lunak. Bakteri banyak terdapat pada seresah dari tanaman yang terinfeksi, tetapi akan mati jika serasah tadi melapuk. Bakteri ini juga terdapat pada tanaman kubis - kubisan yang lain dan tanaman rumput-rumputan serta dapat pula terbawa benih. Suhu serta curah hujan yang tinggi sangat sesuai untuk perkembangan busuk hitam. Bakteri ini berada pada tetesan butir air dari tanaman yang terluka serta dapat menyebar ke seluruh tanaman melalui manusia ataupun peralatan yang sering bergerak melintasi lahan saat kondisi tanaman sedang basah.Pengendalian dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman yang bukan jenis kubis - kubisan, sehingga akan memberikan waktu yang cukup bagi seresah dari tanaman kubis - kubisan untuk melapuk. Lalu menggunakan benih bebas hama dan penyakit yang dihasilkan di iklim yang kering. Hindari untuk bekerja di lahan saat daun tanaman basah. Tanamlah varietas kubis yang tahan terhadap busuk hitam. Penyemprotan bakterisida Kocide 77WP sangat dianjurkan , terutama untuk budidaya di musim penghujan.

Clubroot Clubroot atau Akar Gada merupakan penyakit terpenting pada tanaman kubis - kubisan yang disebabkan oleh jamur Plasmodiophora brassicae. Penyakit ini menyebar merata diseluruh areal pertanaman kubis di seluruh dunia; sering dijumpai pada daerah dataran rendah dan dataran tinggi . Hampir seluruh tanaman kubis-kubisan sangat rentan terserang akar gada. Kubis, sawi putih, dan Brussels sprout sangat rentan terkena akar gada. Gejalanya adalah pembesaran akar halus dan akar sekunder yang membentuk seperti gada. Bentuk gadanya melebar di tengah dan menyempit di ujung. Akar yang telah terserang tidak dapat menyerap nutrisi dan air dari tanah sehingga tanaman menjadi kerdil dan layu jika air yang diberikan untuk tanaman agak sedikit. Bagian bawah tanaman menjadi kekuningan pada tingkat lanjut serangan penyakit. Spora dapat bertahan di tanah selama 10 tahun, dan bisa juga terdapat pada rumput - runputan. Penyakit ini bisa menyebar melalui tanah, dalam air tanah, ataupun dari tanaman yang sudah terkena. Penyakit ini menyukai tanah yang masam dan serangan dapat terjadi pada suhu antara 10 dan 32oC. Penyakit ini memiliki berbagai bentuk gejala serangan sehingga mendorong untuk memuliakan tanaman yang tahan terhadap penyakit ini. Pengendalian dilakukan dengan Penggunaan bibit yang bebas hama dan penyakit sangatlah penting dalam budidaya tanaman ini. Pergiliran tanaman kurang sesuai diterapkan untuk kasus ini karena sporanya dapat bertahan lama serta gulma yang dapat menyebabkan penyakit ini. Pengapuran tanah untuk meningkatkan pH menjadi 7.2 sangat efektif untuk mengurangi perkembangan penyakit. Penyiraman fungisida Promefon 250EC pada lubang tanam yang dicampur dengan air saat tanam juga dapat mengurangi perkembangan penyakit. Tanaman yang taha haruslah diuji di beberapa lokasi karena jenis serangannya yang berbeda-beda di setiap lokasi.

Virus TUMV pada Tanaman Sawi Sudah Menyebar di Indonesia

boenes The NightCrawler ( Post Date: 10 Apr 08 ) Jakarta - Penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukan bahwa virus Turnip Mosaic (TUMV) yang menyerang tananam sawi dan oleh Departemen Pertanian dinyatakan belum ada di Indonesia, ternyata sudah menyebar di sejumlah wilayah di dalam negeri. Pakar virus tanaman dari Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB, Sri Hendrastuti Hidayat PhD, pada Senin mengatakan, berdasarkan Kepmentan No.38 tahun 2006, TUMV digolongkan dalam organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) golongan A1 yang berarti belum pernah dilaporkan keberadaannya di Indonesia. "Namun dari hasil survey yang kami lakukan, inveksi virus Turnip Mosaic terjadi di beberapa daerah pertanian sayuran di Indonesia," katanya. Virus tersebut ditemukan pada tanaman ciaisim dan pakchoi, sejenis tanaman sawi di beberapa wilayah seperti di Lampung, Bengkulu, Pontianak, Balikpapan, Samarinda, Poso dan Donggala dengan persentase infeksi hingga 83 persen. Sebelumnya, virus yang mengakibatkan kerusakan daun dan mengganggu pertumbuhan tanaman tersebut juga ditemukan telah menyebar di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali pada sekitar 2004. Oleh karena itu, tambahnya, Departemen Pertanian seharusnya melakukan revisi terhadap Kepmentan no 38/2006 dan tidak lagi memasukkan TuMV dalam OPTK golongan A1 namun diturunkan menjadi A2 atau dikeluarkan dari daftar OPTK karena sudah ditemukan menyebar di hampir seluruh wilayah Indonesia. Sementara itu Wakil Sekjen Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo), Afrizal Gindow menyatakan, kebijakan Deptan yang memasukkan virus Turnip Mosaic dalam golongan OPTK A1 berdampak pada terhentinya impor benih caisim, sejenis sawi, sejak 2006. "Proses pemasukan benih golongan kubis-kubisan (Brasica) dari luar negeri untuk kebutuhan benih di Indonesia saat ini menemui kendala terkait status OPTK TUMV," katanya. Selama ini untuk kebutuhan benih sawi jenis caisim di dalam negeri yang mencapai 100 ton per tahun masih mengandalkan impor karena komoditas tersebut tidak bisa diproduksi di Indonesia yang beriklim tropis. Afrizal yang juga Direktur Penjualan dan Pemasaran PT East West Seed Indonesia itu mengatakan, terhentinya impor benih sawi tidak hanya merugikan produsen namun juga berdampak pada petani. Jika setiap hektar pertanaman sawi caisim memerlukan benih sekitar 0,5 kilogram, lanjutnya, maka sedikitnya 200 ribu pembudidaya tanaman tersebut tidak bisa lagi mengembangkan usahanya kalau setiap petani mengusahakan 1 hektar. "Dengan dikeluarkannya virus TUMV dari golongan OPTK A1 pemasukan benih sawi dari luar tidak lagi terkendala," katanya sembari menambahkan pasar benih sawi di Indonesia mencapai Rp30 miliar per tahun. Menurut dia, impor benih golongan kubis-kubisan termasuk sawi caisim dari Jepang, China dan Selandia Baru yang merupakan negara produsen benih tanaman tersebut. Namun semenjak ditemukan serangan TUMV setelah negara-negara tersebut dinyatakan tidak aman oleh Deptan maka impor hanya bisa dilakukan dari negara bagian Idaho Amerika Serikat. Afrizal menyatakan, jika impor hanya dari AS tidak akan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri karena produksi di negara tersebut juga terbatas.