Anda di halaman 1dari 6

DRAFT LAPORAN PRAKTIKUM BUDIDAYA TANAMAN TAHUNAN

KEDUDUKAN BIJI DALAM BUAH KAKAO

Disusun Oleh : Nama NIM Gol/Kel Asisten : Hardita Libriasanti Sudarmawan : 11798 : A3/4 :

LABORATORIUM MANAJEMEN DAN PRODUKSI TANAMAN JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

I. A. Latar Belakang

PENDAHULUAN

Tanaman kakao dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu : (1) kakao mulia (fine/flavour cocoa), produksi relatif rendah, rasanya enak, peka terhadap hama dan penyakit, serta (2) kakao lindak (bulk/hybrid cocoa), produksi tinggi, rasanya kurang manis, relatif lebih tahan hama dan penyakit. Menurut Cheesman, berdasarkan jenisnya, kakao dibagi tiga yaitu : (a) Criollo (Central American Criollos dan South American Criollos), (b)Forastero (Lower Amazone Forastero dan Upper Amazone Hybrids/UAH), dan (c) Trinitario. Saat ini bahan tanam kakao yang banyak digunakan adalah UAH, karena produksinya tinggi dan cepat sekali mengalami fase generatif, Amelonado (jenis Lower Amazone Forastero), dan ISC maupun DR (jenis Trinitario). Tanaman kakao yang ditanam dengan benih mempunyai beberapa keuntungan, antara lain : (1) dapat diproduksi dalam jumlah banyak, (2) teknik pelaksanaan mudah), (3) biaya relatif murah, (4) pemeliharaan dan pengawasan ibit dapat lebih intensif, (5) bibit mampu membentuk tajuk dan perakaran yang baik, dan (6) pengangkutan relatif mudah. Biasanya benih kakao yang digunakan sebagai bibit diambil dari buah yang masak pada pohon induk yang sehat dimana pertumbuhan tajuk dan perakarannya baik, produksinya tinggi dan stabil, telah cukup umur, asal usulnya diketahui secara pasti. Kriteria buah yang masak antara lain: a. Warna buah menguning : pada jenis buah kakao merah yang menguning adalah alurnya, sedangkan jenis buah kakao hijau berubah menjadi kuning oranye, b. Buah yang telah dipetik diguncang-guncangkan akan menimbulkan suara yang menandakan adanya sesuatu yang lepas di dalam buah tersebut, dan c. Bila buah diketuk suaranya bergema sebagai tanda bahwa gumpalan biji sudah lepas dari kulit. Biji kakao sangat mudah berkecambah setelah disemai dan tidak memiliki masa dormansi. Biji akan kehilangan daya tumbuh setelah dibuka dari buahnya dalam waktu 57hari, kecuali jika diperlakukan secara khusus. Oleh karena itu, paling baik biji kakao tetap dibiarkan di dalam buahnya, dimana biji akan tetap viabel hingga 4 minggu setelah panen (Opeke, 1982).

B. Tujuan Mengetahui kedudukan biji dalam buah yang menghasilkan perkecambahan dan pertumbuhan bibit kakao yang terbaik

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Biji Theobroma cacao digunakan untuk membuat coklat bubuk dan coklat batangan. Awalnya Theobroma cacao merupakan pohon liar. Salah satu contoh tanaman kakao yang liar adalah tanaman kakao yang didistribusikan dari Meksiko Tenggara ke Amazon. Tetapi kajian terbaru menyatakan bahwa dari genetika Theobroma cacao tampaknya menunjukkan jika tanaman berasal dari Amazon dan didistribusikan oleh manusia di seluruh Amerika Tengah dan Meesoamerika (Anonim, 2010). .Menurut Prawoto et al. (2003), pengaruh bahan tanam terhadap jumlah stomata bersifat genetis, dan tampak beragam. Sifat aktivitas nitrat reduktase (ANR) menunjukkan perbedaan yang nyata antara bibit kakao berproduksi tinggi dengan bibit kakao berproduksi rendah, karena sehingga seleksi tanaman kakao produksi tinggi dapat dilakukan dengan mudah dan sedini mungkin. Ekstrak daun kakao mempunyai aktivitas antioksidan yang mirip teh hijau. Dengan manajemen pemangkasan yang tepat, limbah daun dari perkebunan kakaodapat dimanfaatkan sebagai sumber baru ekstrak bioaktif alami (Osman et al., 2004). Dari segi kualitas, kakao Indonesia tidak kalah dengan kakao dunia dimana biladilakukan fermentasi dengan baik dapat mencapai cita rasa setara dengan kakao berasal dari Ghana dan keunggulan kakao Indonesia tidak mudah meleleh sehingga cocok bila dipakai untuk campuran. Sejalan dengan keunggulan tersebut, peluang pasar kakaoIndonesia cukup terbuka baik ekspor maupun kebutuhan dalam negeri. Dengan katalain, potensi untuk menggunakan industri kakao sebagai salah satu pendorong pertumbuhan dan distribusi pendapatan cukup terbuka (Siregar, 2006) Keuntungan maksimum diperoleh apabila produksi per satuan luas pengusahaan dapat optimal, artinya mencapai produksi yang maksimal dengan menggunakan input produksi secara tepat dan berimbang Oleh karena itu pengaruh pemakaian input produksi terhadap pendapatan petani perlu diketahui sehingga petani dapat mengambil sikap untuk mengurangi atau menambah input produksi tersebut (Nicholson, 1991).

III.

METODOLOGI

Praktikum acara I yang berjudul Kedudukan Biji dalam Buah Kakao dilaksanakan pada hari rabu, 7 Maret 2012 di Laboratorium Manajemen dan Produksi Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah kakao jenis mulia dan lindak, kertas saring, abu gosok, Dithane M-45, Furadan 3 G. Sedangkan alat yang digunakan adalah pisau, kertas label, timbangan, penggaris, alat tulis dan petridish. Pertama, buah kakao dibelah menjadi tiga bagian yaitu ujung, tengah dan pangkal, setelah itu dipisahkan biji dari ketiga bagian tersebut. Kemudisn pulp yang menempel pada biji dibersihkan dengan menggunakan abu gosok. Diambil masing masing 25 sampel biji dari bagian ujung, tengah dan pangkal kemudian ditimbang satu persatu agar didapatkan data bobot biji. Dibuat dua ulangan masing masing. Data bobot biji ini akan dipergunakan untuk menguji hipotesis terdapatnya biji dari bagian ujung, tengah, dan pangkal. Kemudian biji dicelup selama 30 detik ke dalam larutan fungisida untuk mencegah jamur. Biji dikecambahkan pada petridish dengan memisahkan biji sesuai jenis kakao dengan perlakuan sebagai berikut : U T P = biji bagian ujung = biji bagian tengah = biji bagian pangkal

Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap 3 perlakuan dengan banyak kelompok golongan praktikum sebagai ulangannya. Persemaian dipelihara sesuai kebutuhan dan diamati jumlah benih yang dikecambahkan setiap hari selama satu minggu. Dihitung gaya berkecambah (GB) dan indeks vigornya (IV).

Keterangan : A = jumlah biji berkecambah hari ke T = hari ke Dibuat grafik garis untuk GB dan IV v.s. waktu pengamatan. Terhadap hasil pengamatan GB, CV dan bobot biji kakao dilakukan analisis varian model satu arah (ONE-WAY ANOVA)

dengan = 0,05. Bila terdapat beda nyata dilakukan uji jarak berganda Duncan dengan = 0,05.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2010. Theobroma cacao. <http://en.wikipedia.org/wiki/Theobroma_cacao>.Diakses tanggal 10 Maret 2012. Nicholson, W., 1991. Micro Economics Theory : Basic Principle and Extensions. 4th Edition. The Dryden Press Hindsdale, Illinois-USA Osman H., R. Nasarudin, S.L. Lee. 2004. Extracts of cocoa (Theobroma cacao L.) leaves and their antioxidation potential. Food Chemistry 86: 41-46. Prawoto, A.A.,A. Salam, dan Slameto. 2003. Respon semaian beberapa klon kakao terhadap cekaman kekeringan. J. Pelita Perkebunan. 19 (2): 55-66. Tumpal H.S. Siregar dkk. 2006. Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran Coklat. Penebar Swadaya, Jakarta.