Anda di halaman 1dari 8

ASKEP KANKER OTAK

ASKEP KANKER OTAK


M.RHOMANDONI PENDAHULUAN Kanker otak atau tumor otak merupakan sebuah lesi yang terletak pada intracranial dan menepati ruang di dalam tengkorak. Tumor-tumor ini selalu bertumbuh sebagai sebuah massa yang berbentuk bola tetapi juga dapat tumbuh menyebar masuk kedalam jaringan. Tumor otak ini dapat terjadi pada semua kelompok rasial dan prevalensi yang sama. Insiden tertinggi pada tumor otak terjadi pada decade kelima, enam dan ketujuh dengan tinggi insidens terjadi pada pria. Terpajan zat kimia tertentu yang meliputi akrionitril, tinta, pelarut dan minyak pelumas mungkin meningkatkan resiko, tetapi ini belum dapat dipastikan. Kemungkinan ini juga ada pengaruh genetic, yaitu keluarga dengan penyakit Von Hippel-Lindau, sclerosis tuberculosis dan neofibromatosis mempunyai peningkatan insiden terjadinya tumor otak. Tumor-tumor otak dapat diklasifikasikan dalam beberapa kelompok besar yaitu : Tumor yang muncul dari pembungkus otak, seperti meningioma dura Tumor yang berkembang di dalam atau di atas saraf kranial seperti neuroma akustik . Tumor yang berasal di dalam jaringan otak seperti jenis glioma. Lesi metastatik yang berasal dari bagian tubuh lainnya. Pertimbangan klinis yang relevan terdiri dari lokasi dan karakter histologik tumor. Tumor mungkin jinak atau maligna. Namun bila tumor jinak di dalam daerah vital, tumor ini mempunyai efek yang sama seriusnya dengan tumor maligna. Tumor otak menyebabkan ganguan neurologist progresif. Ganguan neurologik pada tumor otak biasanya dianggap disebabkan oleh dua faktor ganguan fokal disebabkan oleh tumor dan kenaikan tekanan intracranial. Ganguan terjadi apabila terdapat penekanan pada aringan otak dan infiltrasi atau infasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neuron. Peningkatan tekanan intrakranial dapat diakibatkan oleh beberapa faktor bertambahnya massa dalam tengkorak otak, terbentuknya edema disekitar tumor dan perubahan sirkulasi cairan serebrospinal. Kenaikan tekanan intrakranial yang tidak diobati menyebabkan herniasi unkus da serebelum. Perubahan

fisiologis lain yang terjadi akibat peningkatan tekanan intrakranial yang cepat adalah bradikardi progresip, hipertensi sistemik dan gangguan pernafasan. MANIFESTASI KLINIK Tumor otak menyebabkan manifestasi klinik terbesar diebabkan oleh peningkatan tekanan intrakranial serta tanda dan gejala lokal sebagai akibat dari tumor yang menganggu bagian spesifik dari otak. Gejala yang umumnya timbul akibat peningkatan tekanan intrakranial adalah sakit kepala, muntah dan papiledema. 1. Nyeri kepala. Barangkali nyeri kepala merupakan gejala yang paling sering dijumpai pada penderita otak. Nyeri dapat digambarkan bersifat dalam, terus menerus, tumpul, dan kadang-kadang hebat sekali. Nyeri ini paling hebat pada waktu pagi hari dan menjadi lebih berat oleh aktivitas yang biasanya dapat meningkatkan tekanan intracranial seperti membungkuk, batuk, atau mengejan sewaktu buang air besar (bab). Nyeri kepala yang dihubungkan dengan tumor otak disebabkan oleh traksi dan pergeseran struktur peka nyeri dalam rongga intracranial. Struktur ini termasuk arteri, vena, sinus-sinus vena dan saraf otak. 2. Muntah Muntah terjadi sebagai akibat rangsangan pada pusat muntah pada medulla oblongata akibat terjadinya peningkatan TIK. Muntah dapat terjadi tanpa didahului mual dan dapat proyektil. 3. Papiledema Papiledema disebabkan oleh statis vena yang menimbulkan pembengkakan papilla saraf optikus. Bila terlihat pada pemeriksaan funduskopi, hal ini mengisyaratkan peningkatan TIK. Menyertai papiledema dapat terjadi ggn penglihatan, termasuk pembesaran bintik mata dan amaurosis fugaks (saat dimana penglihatan berkurang) 4. Gejala terlokalisasi Tanda dan gejala lain dari tumor otak cenderung mempunyai nilai lokasi dimana tumor tersebut yang dapat mengganggu fungsi dari bagian-bagian tersebut. Tumor korteks motorik; menyebabkan gerakan seperti kejang pada satu sisi tubuh yang disebut kejang jaksonian. Tumor lobus oksipital; menimbulkan manifestasi visual , hilangnya pandangan pada setengah lapangan pandang pada sisi yang berlawanan dengan tumor dan halusinasi penglihatan.

Tumor serebelum; menyebabkan pusing, ataksia atau gaya berjalan yang sempoyongan dengan cenderung jatuh kesisi yang lesi, otot-otot tidak terkoordinasi dan nistagmus biasanya menunjukkan gerakan horizontal. Tumor lobus frontal; sering menyebabkan ggn kepribadian, perubahan status emosional serta tingkah laku dan disintegrasi perilaku mental. Pasien sering menjadi ekstrim yang tidak teratur dan kurang merawat diri serta menggunakan bahasa cabul. Tumor sudut serebelopontin; biasanya diawali pada saraf akustik dan memberi rangkaian gejala yang timbul dengan semua karakteristik gejala pada tumor otak yaitu : Tinitus dan kelihatan vertigo, serta diikuti perkembangan saraf-saraf yang mengarah terjadinya tuli (ggn fungsi saraf cranial VIII) Berikutnya kesemutan dan rasa gatal pada wajah dan lidah (berhubungan dgn saraf cranial V) Selanjutnya terjadi kelemahan atau paralysis (keterlibatan saraf cranial VII) Akhirnya karena pembesaran tumor yang menekan serebelum, mungkin ada abnormalitas pada fungsi motorik. Tumor intracranial dapat mengakibatkan ggn kepribadian, konfusi ggn fungsi bicara dan gangguan gaya berjalan terutama pada pasien lansia. Tipe tumor yang paling sering adalah meningioma, glioblastoma, dan metastase serebral dari bagian lain Beberapa tumor tidak selalu mudah ditemukan, karena tumor-tumor tersebut berada pada daerah tersembunyi dari otak (daerah ang fungsinya tidak dapat ditentukan dgn pasti). Perkembangan dan gejala menentukan apakah tumor tsb berkembang atau menyebar.

EVALUASI DIAGNOSTIK Untuk membantu menenyukan lokasi tumor yang tepat, sebuah deretan pengujian dilakukan. CT-Scan memberikan info spesifik menyangkut jumlah, ukuran, dan kepadatan jejas tumor, serta meluasnya edema serebral sekunder. MRI membantu mendiagnosis tumor potak. Ini dilakukan untuk mendeteksi jejas tumor yang kecil, alat ini juga membantu mendeteksi jejas yang kecil dan tumor-tumor didalam batang otak dan daerah hipofisis. Biopsy stereotaktik bantuan computer (3 dimensi) dapat digunakan untuk mendiagnosis kedudukan tumor yang dalam dan untuk memberikan dasar-dasar pengobatan dan informasi

prognosis. Angiografi serebral memberikan gambaran tentang pembuluh darah serebral dan letak tumor serebral. EEG dapat mendeteksi gelombang otak abnormal pada daerah yang ditempati tumor dan dapat memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temporal pada waktu kejang. Penelitian pada cairan serebrospinal (CHF) dapat dilakukan untuk mendeteksi sel-sel ganas, karena tumor-tumor pada system saraf pusat mampu menggusur selsel kedalam cairan serebrospinal.

PENGKAJIAN Pengkajian keperawatan berfokus pada : Bagaimana pasien berfungsi, bergerak dan berjalan Beradaptasi terhadap kelemahan Melihat kehilangan kemampuan bicara dan adanya kejang Riwayat gizi : Kaji asupan diit, intoleransi terhadap makanan serta makanan yg disukai Pengukuran antropometrik untuk mengkaji hilangnya lemak subkutan dan massa tubuh kering (tanpa lemak) Pengukuran biokimia (albumin, transferin, jumlah limfosit total, nilai kreatinin dan tes urine) untuk mengkaji keadaan malnutrisi dan ggn imunitas sel serta keseimbangan elektrolit. Kakeksia (keadaan lemah dan kurus) yang ditandai dengan anoreksia, nyeri, penurunan BB, ggn metabolisme, kelemahan otot, malabsorbsi dan diare. Kaji gejala-gejala yang menyebabkan stress pada pasien Kaji dampak penyakit pasien terhadap keluarga DIAGNOSA KEPERAWATAN 1.Cemas b/d diagnosis, prognosisi yang buruk, kemoterapi dan kemungkinan efek sampingnya. Tujuan : klien mengatakan cemas menurun hingga tkt yg dpt diatasi Intervensi : Gunakan pendekatan yang tenang dan menyakinkan R/ mencegah cemas Lakukan tindakan yang membuat nyaman R/ meningkatkan relaksasi

Dengarkan dengan penuh perhatian terhadap ekspresi perasaan dan kekuatiran klien R/ menciptakan suasana saling percaya Berikan info nyata ttg penyakit, pengobatan dan prognosis R/ pengetahuan ttg apa yg diharapkan dapat menurunkan cemas 2.Kurang pengetahuan b/d proses penyakit dan pengobatannya Tujuan : klien mempunyai pengetahuan yg tepat ttg proses penyakit dan menggambarkan program penyakit Intervensi :

Kaji tingkat pengetahuan klien saat ini ttg kanker yg dideritanya R/ data akan memberikan dasar untuk penyuluhan Gambarkan proses penyakit sesuai kebutuhan R/ membantu klien dalam memahami proses penyakit Berikan info ttg terapi dan pilihan pengobatan serta keuntungan dari setiap pilihan R/ membantu klien dalam mmbuat keputusan pengobatan 3.Risti terhadap cidera b/d kejang Tujuan : kejang teratasi tanpa adanya trauma fisik Intervensi :

Arahkan gerakan anggota tubuh dan kepala R/ mencegah trauma Longgarkan pakaian klien R/ mencegah kerusakan atau abrasi pada kulit Pertahankan jalan napas R/ mencegah obstruksi jalan napas Tetap berada bersama klien selama serangan kejang R/ memberi kenyamanan dan perasaan aman bagi klien Kolaborasi obat-obat anti konvulsan R/ meningkatkan control terhadap kejang 4.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d mual, muntah, dan anoreksia Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi Intervensi :

Kai masukan makanan serta makanan yang disediakan R/ memberi info harian untuk perencanaan Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering R/ mencegah mual dan muntah Anjurkan klien untuk mencoba makanan yang berbeda jika ada perubahan pada pengecapan R/ kemoterapi dapat menyebabkan perubahan pada pengecapan 5.Intoleran aktivitas b/d kelemahan Tujuan : klien mempertahankan tingkat aktivitas optimal dan memaksimalkan energi dengan istirahat Intervensi :

Kaji pola istirahat/adanya keletihan pada klien R/ menentukan data dasar untuk membantu pasien dgn keletihan Anjurkan klien untuk mengungkapkan perasaan adanya keterbatasan R/membantu klien dalam koping dengan keletihan Anjurkan klien untuk merencanakan periode istirahat sesuai kebutuhan sepanjang hari R/ meningkatkan istirahat yang adekuat Anjurkan latihan ringan R/ dapat meningkatkan pola istirahat 6.Risti infeksi b/d imunosupresi Tujuan : penurunan potensial thd infeksi Intervensi :

Pantau TTV R/ demam dapat mengidentifikasi adanya inf Kaji kemungkinan adanya kerusakan kulit dan membran mukosa R/ kulit dan membran mukosa memberi jalan pertama thd masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh Kolaborasi antibiotic, antijamur dan antimicrobial ssi kebutuhan R/ mencegah dan menangani sumber-sumber infeksi 7.Ggn citra tubuh b/d alopesia (efek samping kemoterapi)

Tujuan : klien mengungkapkan pengertian thd efek kemoterapi dan mendiskusikan tindakantindakan untuk meminimalkan dampaknya terhadap gaya hidup. Intervensi : Kaji dampak alopesia terhadap gaya hidup klien R/ memberikan info untuk menformulasikan asuhan Anjurkan klien untuk mencukur rambutnya R/ meminimalkan syok terhadap alopesia Identifikasi tindakan untuk meminimalkan dampak alopesia seperti pemakaian wig atau topi dsb R/ meningkatkan control diri terhadap kehilangan Dorong klien untuk menggunakan rambut palsu sebelum rambut aslinya tumbuh kembali R/ meningkatkan kepercayaan diri klien dalam berhubungan dgn lingkungan sosial. Diagnosa keperawatan lain yang dapat timbul antara lain : Perubahan proses pikIr Gangguan pertukaran gas b/d dispnea Kerusakan integritas kulit b/d kakeksia Deficit volume cairan b/d muntah, demam dan asupan cairan yang kurang.

DAFTAR PUSTAKA 1. Smeltzer, Suzane C, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth edisi 8 Vol 3, Jakarta : EGC, 2002 2. Doengoes, ME, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 2, Jakarta : EGC, 2000. 3. Tucker,Susan Martin,Standar Perawatan Pasien edisi 5, Jakarta : EGC, 1998. 4. Long, Barbara C, Perawatan Medikal Bedah, Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran, 1996. 5. Priguna Sidharta, Sakit Neuromuskuloskeletal dalam Praktek, Jakarta : Dian Rakyat, 1996. 6. Chusid, IG, Neuroanatomi Korelatif dan Neurologi Fungsional, Yogyakarta : Gajahmada University Press, 1993