Anda di halaman 1dari 30

laporan tes kehamilan

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Manusia mempunyai kebutuhan yang konstan akan kasih sayang, kedekatan, dan penerimaan oleh seseorang. Intensitas dari dorongan-dorongan ini berfluktasi dari waktu ke waktu tergantung situasi. Ekspresi yang mendalam dari dorongan ini diistilahkan sebagai siklus respon seksual. Fungsi reproduksi wanita dapat dibagi menjadi dua tahapan utama, yaitu persiapan tubuh wanita untuk menerima konsepsi dan kehamilan dan masa kehamilan itu sendiri. Setiap bulan wanita melepaskan 1 atau 2 sel telur (ovum) dari indung telur (ovulasi), yang ditangkap oleh umbai-umbai (fimbriae) dan masuk ke dalam saluran telur. Waktu persetubuhan, cairan semen tumpah ke dalam vagina dan berjuta-juta sel mani (sperma) bergerak memasuki rongga rahim lalu masuk ke saluran telur. Pembuahan sel telur oleh sperma biasanya terjadi di bagian yang menggembung dari tuba fallopii. Kehamilan adalah suatu keadaan fisiologis, akan tetapi pentingnya diagnosis kehamilan tidak dapat diabaikan. Dalam kehidupan wanita, hanya sedikit diagnosis yang lebih penting daripada diagnosis kehamilan. Hanya sedikit pengalaman hidup yang dapat memicu emosi, baik berupa kebahagiaan luar biasa atau sebaliknya kesedihan mendalam. Banyak manivestasi dari adaptasi fisiologis terhadap kehamilan yang mudah dikenali dan merupakan petunjuk penting bagi diagnosis dan evaluasi kemajuan kehamilan. Sebagian dari perubahan-perubahan selama kehamilan dapat diperkirakan waktunya secara relatife tepat sehingga merupakan patokan penting untuk memperkirakan usia gestasi janin. Diagnosis kehamilan biasanya sangat mudah ditegakkan, tetapi sayangnya hal ini tidak selalu terjadi. Proses farmakologis atau patofisiologis kadang-kadang memicu perubahan-perubahan endokrin atau anatomis yang menyerupai kehamilan, sehingga membingungkan wanita, dan kadang-kadang juga dokternya. Dengan demikian, kadang-kadang diagnosis kehamilan tidak mudah ditegakkan, tetapi kehamilan jarang tidak terdiagnosis apabila telah dilakukan pemeriksaan klinis dan laboratorium yang benar. Perubahan endokrinologis, fisiologis, dan anatomis yang menyertai kehamilan menimbulkan gejala dan tanda yang memberikan bukti adanya kehamilan. Bertolak dari hal di atas percobaan ini menjadi sangat penting untuk dilakukan dimana, dengan percobaan tes kehamilan dapat membantu mahasiswa calon perawat untuk mengetahui ada tidaknya kehamilan secara dini pada klien khususnya berdasarkan atas adanya hormon Chorionic Gonadotropin pada urine klien (wanita hamil). I.2 Tujuan Percobaan Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu mengetahui ada tidaknya kehamilan secara dini berdasarkan atas adanya hormon Chorionic Gonadothropin dalam urine wanita hamil.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Definisi Kehamilan Kehamilan yaitu peristiwa dibuahinya ovum oleh sel sperma yang akhirnya berkembang sampai menjadi fetus yang aterm, (Guyton & Hall, 1997 : 1305). Kehamilan adalah suatu keadaan fisiologis, akan tetapi pentingnya diagnosis kehamilan tidak dapat diabaikan. Dalam kehidupan wanita, hanya sedikit diagnosis yang lebih penting

daripada diagnosis kehamilan. Hanya sedikit pengalaman hidup yang dapat memicu emosi, baik berupa kebahagiaan luar biasa atau sebaliknya kesedihan mendalam.(F.Gary Cunningham, 2006 : 23) 2. Proses Kehamilan Proses kehamilan merupakan mata rantai yang berkesinambungan dan terdiri dari : ovulasi pelepasan ovum, terjadi migrasi spermatozoa dan ovum, terjadi konsepsi, terjadi nidasi (implantasi) pada uterus, pembentukan plasenta, dan tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm. (Ida Bagus Gde Manuaba, 2000 : 95). Skema dari pembuahan sampai bayi, (Rustam Muchtar, 2000 :22) Peristiwa Hasil Tempat Spermatogenesis Sperma Testis Oogenesis Ovum Ovarium Konsepsi Zygote Tuba Pembelahan Morula Tuba Nidasi Blastula Endometrium Trofoblas Desidua Lempeng embrional embriogenesis Mudigah (embrio) Endometrium Rongga rahim Organogenesis Janin Rongga rahim Plasenta Tali pusat Persalinan Bayi (neonatus) Jalan lahir 1. Konsepsi Pertemuan inti ovum dengan inti spermatozoa disebut konsepsi atau vertilisasi dan membentuk zigot. Proses konsepsi dapat berlangsung sebagai berikut, (Ida Bagus Gde Manuaba, 2000 : 99) : a. Ovum yang dilepaskan dalam proses ovulasi, diliputi oleh korona radiate, yang mengandung persediaan nutrisi. b. Pada ovum dijumpai inti dalam bentuk metaphase ditengah sitoplasma yang disebut vitellus. c. Dalam perjalanan korona radiate makin berkurang pada zona pelusida. Nutrisi dialirkan ke dalam vittellus, melalui saluran pada zona pellusida. d. Konsepsi terjadi pada pars ampularis tuba : - Tempat yang paling luas - Dindingnya penuh jonjot, tertutup sel yang mempunyai silia. - Ovum mempunyai waktu terlama dalam ampula tuba. e. Ovum siap dibuahi setelah 12 jam dan hidup selam 48 jam. - Spermatozoa ditumpahkan, masuk melalui kanalis servikalis dengan kekuatan sendiri. - Dalam kavum uteri terjadi proses kapasitasi, yaitu pelepasan sebagian dari Liproteinnya sehingga mampu mengadakan fertilisasi. - Spermatozoa hidup selama 3 hari dalam genetalia interna. - Spermatozoa melanjutkan perjalanan menuju tuba - Spermatozoa akan mengelilingi ovum yang telah siap dibuahi serta mengikis korona radiate dan pellusida dengan proses enzimatik, hialuronidase. - Melalui stomata spermatozoa memasuki ovum.

- Setelah kepala spermatozoa masuk ke dalam ovum, ekornya lepas dan tertinggal di luar. - Kedua inti ovum dan initi spermatozoa bertemu dengan membentuk zigot. Keseluruhan proses tersebut merupakan mata rantai fertilisasi atau konsepsi. 2. Proses nidasi atau implantasi Dengan masuknya inti spermatozoa ke dalam sitoplasma vitellus membangkitkan kembali pembelahan dalam inti ovum yang dalam keadaan metaphase . Proses pemecahan dan pematangan mengikuti bentuk anaphase dan telofase sehingga pronukleusnya menjadi Haploid . Pronukleus spermatozoa dalam keadaan haploid saling mendekati dengan inti ovum yang kini haploid dan bertemu dalam pasangan pembawa tanda dari pihak pria dan pihak wanita. (Ida Bagus Gde Manuaba, 2000 : 99) Setelah pertemuan kedua inti ovum dan spermatozoa terbentuk zigot yang dalam beberapa jam telah mampu membelah dirinya menjadi dua dan seterusnya. Berbarengan dengan pembelahan inti, hasil konsepsi terus berjalan menuju uterus. Hasil pembelahan sel memenuhi seluruh ruangan yang besarnya 100 MU atau 0,1 mm dan disebut stadia morula. (Ida Bagus Gde Manuaba, 2000 : 101). Selama pembelahan sel di bagian dalam, terjadi pembentukan sel di bagian morula yang kemungkinan berasal dari korona radiate yang menjadi sel tropoblas. Sel tropoblas dalam pertumbuhannya, mampu mengeluarkan hormone korionik gonadotropin, yang mempertahankan korpus luteum gravidarum. ( Ida Bagus Gde Manuaba, 2000 : 102). Pembelahan berjalan terus dan di dalam morula terjadi ruangan yang mengandung cairan yang disebut blastula . Perkembangan dan pertumbuhan berjalan blastula dengan vilik korealisnya yang dilapisi sel tropoblas telah siap untuk mengadakan nadiasi. Sementara itu fase sekresi endometrium telah makin gembur dan makin banyak mengandung glikogen yang disebut desidua, (Ida Bagus Gde Manuala, 2000 : 102). Sel trofoblas yang meliputi primer villi korealis melakukan dekstruksi enzimatikproteolitik, sehingga dapat menanamkan diri di dalam endometrium. Proses penanaman blastula disebut nidasi atau implantasi terjadi pada hari ke 6 sampai 7 setelah konsepsi, (Ida Bagus Gde Manuala, 2000 : 102). Pada saat tertanamnya blastula ke dalam endometrium, mungkin terjadi pendarahan yang disebut tanda Hartman. 3. Pembentukan plasenta Nidasi atau implantasi terjadi pada bagian fundus uteri di dinding depan atau belakang. Pada blastula penyebaran sel tropoblas yang tumbuh kembang tidak rata sehingga bagian blastula dengan inner cell mass akan tetanam ke dalam endometrium sel tropoblas mendestruksi endometrium sampai terjadi pembentukan plasenta yang berasal dari primer villi korealis, (Ida Bagus Gde Manuala, 2000 : 102). Terjadinya nidasi atau implantasi mendorong sel blastula mengadakan deferensiasi. Sel yang dekat dengan ruangan eksoselom membentuk endoterm dan yolk sac (kantung yolk). Sedangkan sel lain membentuk ektoderm dan ruangan amnion. Plat embrio (embryonal plate) terbentuk diantara dua ruangan yaitu ruangan amnion dan kantung yolk. Plate embrio terdiri atas unsure ektoderm, entoderm, dan meroderm. Ruangan amnion dengan cepat mendekati karion sehingga jaringan yang terdapat antara amnion dan embrio padat dan berkembang menjadi tali pusat, (Ida Bagus Gde Manuala, 2000 : 102). Plasenta itu adalah satu organ/ bagian badan, yang terikat pada lapisan kandungan, yang berguna sebagai saluran penyedia darah pada bayi , dan juga menjaga dua bagian.. Dengan penghubung penyediaan darah, plasenta menyelesaikan fungsi-fungsi pada bayi yang belum lahir yang tidak bisa dilaksanakan sendiri. Bayi yang belum lahir mengambang dan pindah ke suatu kantong dari cairan disebut kantung amniotic, yang dibuat dari selaput-selaput. Plasenta itu terhubung dengan bayi oleh tali pusar, (http://www.nhsdirect.nhs.uk/articles/article.aspx?articleId=2309, 30 Mei 2008).

Oksigen dan makanan lewat melalui darah menyediakan ke dalam plasenta. Dari sana, tali pusar membawa oksigen dan makanan kepada bayi yang belum lahir. Sisa buangan dari bayi, seperti gas asam-arang, dikembalikan sepanjang tali pusar kembali ke plasenta dan lalu ke dalam aliran darah, (http://www.nhsdirect.nhs.uk/articles/article.aspx?articleId=2309, 30 Mei 2008). Antibodi pada bayi masuk melalui cara yang sama, untuk melindungi dari infeksi/peradangan. Plasenta melindungi bayi melawan kebanyakan bakteri; termasuk bakteri yang menyebabkan sipilis dan TBC. Alkohol, nikotin dan narkoba lain dapat juga melewati khatulistiwa plasenta dan dapat menyebabkan kerusakan pada bayi yang belum lahir, (http://www.nhsdirect.nhs.uk/articles/article.aspx?articleId=2309, 30 Mei 2008). Plasenta menghasilkan hormon-hormon bahwa bayi untuk bertumbuh dan berkembang. Plasenta lewat zat darah penyerang kuman dari ibu ke bayi, memberikan imunitas untuk tiga yang pertama bulan setelah kelahiran, (http://www.nhsdirect.nhs.uk/articles/article.aspx?articleId=2309, 30 Mei 2008). Pada permulaan kantong berfungsi sebagai pembentuk darah bersama dengan hepar , limpa, dan sumsum tulang. Pada minggu kedua sampai ketiga terbentuk bakal jantung dengan pembuluh darahnya yang menuju body stalk (bakal tali pusat). Jantung bayi mulai dapat dideteksi pada minggu 6 sampai 8 dengan mempergunakan Ultrasonografi atau system Doppler, (Ida Bagus Gde Manuala, 2000 : 102). Pembuluh darah pada body stalk terdiri dari arteri umbikalis dan vena umbilikalis. Cabang arteri dan vena umbilikalis masuk ke villi korealis sehingga dapat melakukan pertukaran nutrisi dan sekaligus membuang hasil metabolisme yang tidak diperlukan, (Ida Bagus Gde Manuala, 2000 : 102). Dengan berbagai bentuk implantasi (nidasi) dimana posisi plat embrio berada, akan dijumpai berbagai variasi dari insersio tali pusat, yaitu insersio sentralis, parasentralis, marginalis atau insersio vilamentosa, (Ida Bagus Gde Manuala, 2000 : 102). Vili korealis menghancurkan desidua sampai pembuluh darah, mulai dengan pembuluh darah vena pada hari ke 10 sampai ke 11 setelah konsepsi, sehingga sejak saat itu embrio mendapat tambahan nutrisi dari darah ibu secara langsung. Selanjutnya vili korealis menghancurkan pembuluh darah arteri sehingga terjadilah aliran darah pertama reptroplasenter pada hari ke 14 sampai ke 15 setelah konsepsi, (Ida Bagus Gde Manuala, 2000 : 102). Bagian desidua yang tidak dihancurkan membagi plasenta menjadi sekitar 15 sampai 20 kotiledon maternal. Sedangkan dari sudut vetus, maka plasenta akan dibagi menjadi seitar 200 kotiledon fetus. Setiap kotiledon fetus terus bercabang dan mengambang di tengah aliran darah untuk menunaikan fungsinya memberikan nutrisi, pertumbuhan, dan perkembangan janin dalam rahim ibu, (Ida Bagus Gde Manuala, 2000 : 103). Darah ibu dan darah janin tidak berhubungan langsung dan dipisahkan oleh lapisan tropoblast, dinding pembuluh darah janin. Fungsinya dilakukan berdasarkan system osmosis dan enzimatik serta pinositosis. Situasi olasenta demikian disebutkan system plasenta hemokorial, (Ida Bagus Gde Manuala, 2000 : 103). Sebagian dari vili korealis tetap berhubungan langsung dengan pars basalis desidua, tetapi tidak sampai menembusnya. Hubungan vili korealis dengan lapisan desidua tersebut dibatasi oleh jaringan fibrotic yang disebut lapisan Nitabusch. Melalui lapisan Nitabusch, plasenta dilepaskan pada saat persalinan kala ketiga (kala uri), (Ida Bagus Gde Manuala, 2000 : 103). 3. Tanda dan Gejala Kehamilan a. Tanda-tanda presumptife, (Rustam Mocthar, 2000 : 43-44) Amenorea (tidak dapat haid) Wanita harus mengetahui tanggal hari pertama haid terakhir (HT) supaya dapat ditaksir umur kehamilan dan taksiran tanggal persalinan (TTP), yang dihitung dengan menggunakan rumus dari Naegele :

TTP = (Hari pertama HT + 7) dan (bulan HT + 3) Mual dan muntah (nausea and vomiting). Biasanya terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan hingga akhir triwulan pertama. Karena sering terjadi pada pagi hari, disebut morning sickness (sakit pagi). Bila mual dan muntah terlalu sering disebut hiperemesis. Mengidam (ingin makanan khusus). Ibu hamil sering meminta makanan atau minuman tertentu terutama pada bulan-bulan triwulan pertama. Tidak tahan suatu bau-bauan Pingsan (pangsan) Bila berada pada tempat-tempat ramai yang sesak dan padat bisa pingsan. Tidak ada selera makan (anoreksia) Hanya berlangsung pada triwulan pertama kehamilan, kemudian nafsu makan timbul kembali. Lelah (fatigue) Payudara membesar, tegang, dan sedikit nyeri, disebabkan pengaruh estrogen dan progesteron yang merangsang duktus dan alveoli payudara. Kelenjar Montgomery terlihat lebih membesar. Miksi sering, karena kandung kemih tertekan oleh rahim yang membesar. Gejala ini akan hilang pada triwulan kedua kehamilan. Pada akhir kehamilan, gejala ini kembali, karena kandung kemih ditekan oleh kepala janin. Konstipasi/obstipasi karena tonus otot-otot usus menurun oleh pengaruh hormon steroid. Pigmentasi kulit oleh pengaruh hormon kortikosteroid plasenta, dijumpai di muka (chloasma gravidarum), areola payudara, leher, dan dinding perut (linea nigra = grisea). Epulis : hipertrofi dari papil gusi. Pemekaran vena-vena (varices) dapat terjadi pada kaki, betis, dan vulva biasanya dijumpai pada triwulan akhir. b. Tanda-tanda kemungkinan hamil, (Rustam Mocthar, 2000 : 44-45). a. Perut membesar b. Uterus membesar: terjadi perubahan dalam bentuk, besar, dan konsistensi dari rahim. c. Tanda Hegar d. Tanda Chadwick e. Tanda Piscascek f. Kontraksi-kontraksi kecil uterus bila dirangsang (brakston-hicks) g. Teraba ballotement h. Reaksi kehamilan positif c. Tanda pasti(tanda positif), (Rustam Mocthar, 2000 :45). a. Gerakan janin yang dapat dilihat atau dirasa atau diraba, juga bagian-bagian janin. b. Denyut jantung janin : 1. Didengar dengan stetoskop-monoral Laennec 2. Dicatat dan didengar dengan alat Doppler 3. Dicatat dengan veto-elektrokardiogram 4. Dilihat pada ultra sonografi c. Terlihat tulang-tulang janin dalam foto rontgen 4. Tes-tes kehamilan Untuk mengetahui kehamilan dapat dilakukan beberapa tes berikut, (Irene M Bobak, et. Al, 2003 : 104-105) : a. Human chorionic gonadotropin( hCG) Human chorionic gonodotropin (hCG) dapat diukur dengan radio imunoesai dan dideteksi

dalam darah enam hari setelah konsepsi atau sekitar 20 hari sejak periode menstruasi terakhir (LMT = Last menstrual periode). Keberadaan hormone ini dalam urine pada awal kehamilan merupakan dasar berbagai tes kehamilan di laboratorium dan kadang-kadang dapat dideteksi di dalam urine 14 hari setelah konsepsi, (Irene M. Bobak, et. Al, 2003 : 104-105). Spesimen urine yang pertama kali dikeluarkan di pagi hari( urine yang didiamkan minimal selama 6 jam) mengandung kadar hCG yang kira-kira sama dengan kadar hCG di dalam serum. Kadar hCG di dalam serum meningkat secara eksponensial antara hari ke-21 dan ke70 (dihitung hari pertama LMP). Sampel urine yang diambil secara acak biasanya memiliki kadar yang lebih rendah. Kemampuan untuk mengenali sub unit beta hCG merupakan inovasi terbaru evolusi tes endokrin untuk mendeteksi kehamilan, (Irene M. Bobak, et. Al, 2003 : 104-105). b. Tes Lateks aglutinotion inhibition(LAI) Tes ini mudah dilakukan dan hasil diperoleh dalam dua menit. Tes- tes ini akurat 4-10 hari setelah terlambat haid. Contoh tes tipe ini ialah preparat Gravidex, Pregnosticon, dan UCG beta, (Irene M. Bobak, et. Al, 2003 : 105). c. Tes Hemagglutination Inhibition (HAI) Tes ini lebih sensitif daripada tes LAI, tetapi memerlukan satu sampai dua jam sampai hasil diperoleh. Akan tetapi, Neocept, yang memberi hasil yang akurat sebelum atau pada haid terlambat, semua tes HAI akurat sekitar empat hari sesudah terlambat haid. Di pasaran juga dijual e.p.t (early pregnancy test = tes kehamilan dini), suatu tes HAI yang dapat dilakukan di rumah dijual umum, (Irene M. Bobak, et. Al, 2003 : 105). d. Radioreceptor Assay Tes ini adalah salah satu kategori terbaru tes kehamilan. Tes serum 1 jam ini memerlukan peralatan yang cukup canggih. Assay radioreceptor biasanya akurat pada saat haid terlambat (14 hari setelah konsepsi). Biocept G adalah contoh tes tipe ini, (Irene M. Bobak, et. Al, 2003 : 105). e. Tes Hamil Radioimunoesai. Tes hamil radioimunoesai untuk subunit beta hCG memakai tanda berlabel radioaktif sehingga tes harus dilakukan di laboratorium. Bergantung kepada derajat sensitivitas yang diinginkan, waktu tes bervariasi dari 1 sampai 48 jam. Radioimunoesai adalah tes kehamilan yang paling sensitif saat ini. Kehamilan dapat didiagnosis 8 hari setelah ovulasi atau enam hari sebelum haid berikutnya, (Irene M. Bobak, et. Al, 2003 : 105). f. Enzim Imunoassay Tes ini memakai kompleks anti-hCG monoklonal dan enzim. Perubahan warna membuat hasil mudah dibaca. Tes baru ini memberi harapan di masa depan. Confidot adalah tes kehamilan essay imunoenzimatik yang dikerjakan di rumah, (Irene M. Bobak, et. Al, 2003 : 105). g. Enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA) Tes ELISA adalah tes kehamilan yang paling popular. Tes ini menggunakan anti body monoklonal spesifik yang dihasilkan oleh teknologi cell-line hibrida. Suatu enzim, yang bukan merupakan senyawa radioaktif, mengidentifikasi antigen substansi yang akan diukur. Enzim menginduksi reaksi perubahan warna. Hasil akhir tes dapat dibaca dengan mata telanjang atau spectrometer, (Irene M. Bobak, et. Al, 2003 : 105). Tes ELISA memiliki banyak kelebihan. Antigen enzim berkonjugasi dan reagen tes stabil, peralatan yang diperlukan sederhana, dan tidak ada produk sampah nuklir. Baik di rumah atau di klinik, prosedur ELISA memerlukan waktu minimal dan member hasil dalam 5 menit dengan tikat sensitifitas dari 2550 mIU/ml hCG dalam spesimen. Teknologi adalah dasar tes-tes baru yang dapat dibeli bebas, (Irene M. Bobak, et. Al, 2003 : 105). h. Ultrasonografi (USG). Dibandingkan dengan pemeriksaan rontgen, USG tidak berbahaya untuk janin, karena

memakai prinsip sonar (bunyi). USG menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk menghasilkan gambaran organ atau jaringan. Refleksi gelombang suara ditransmisikan pada layar monitor sebagai lapisan jaringan dengan densitas yang berbeda. Ultrasonografi aman bagi ibu dan janin kapan saja dilakukan saat kehamilan dan dapat digunakan berulang bila digunakan. Ultrasonografi telah berhasil dengan baik menentukan embrio paling cepat minggu ke-6 dan menjadi alat diagnostik yang amat berguna dalam praktik obstetrik, secara luas menggantikan X-ray. Pada layar dapat dilihat letak, gerakan, dan gerakan jantung janin, (Persis Mary Hamilton, 2000 : 77). 5. Hormon yang dihasilkan oleh Plasenta Hormon yang dikeluarkan oleh plasenta, yaitu : 1) Gonadotrofin korion manusia (human chorionic gonadotrophin, hCG). hCG diproduksi diproduksi pada awal hari ke-9 setelah konsepsi, dan hormon ini mencapai puncaknya pada hari ke-60. Kadar hormon ini kemudian turun dan tetap rendah sampai pada akhir kehamilan. Fungsi hormon ini adalah memelihara corpus luteum sampai plasenta dapat menggantikannya memproduksi estrogen dan progesteron. Seperti telah disebutkan di depan, hCG diekspresikan ke dalam urine dan menjadi dasar untuk uji diagnostic kehamilan secara imunologis, (Sylvia Verralls, 2000 : 219). 2) Human Chorionic Somato-mammotropin Human Chorionic Somato-mammotropin menyebabkan penurunan sensitivitas insulin dan menurunkan penggunaan glukosa pada ibu, sehingga membuat jumlah glukosa yang tersedia untuk fetus lebih besar. Karena glukosa merupakan zat utama yang dipakai fetus untuk meningkatkan pertumbuhan, maka arti pengaruh hormone ini menjadi jelas. Lebih lanjut, horman ini meningkatkan asam lemak bebas dari cadangan lemak ibu, sehingga menyediakan sumber energi pengganti untuk metabolisme ibu, (Guyton & Hall, 1997 : 1312). Hormon untuk metabolisme protein Bersifat laktogenik dan luteotropik Menimbulkan pertumbuhan janin Mengatur metabolisme karbohidrat dan lemak, (Ida Bagus Gde Manuaba, 2000 : 113-114). 3) Estrogen Kadar hormon ini meningkat selama kehamilan dan membantu mempengaruhi endometrium dan minggu-minggu awal kehamilan. Estrogen juga mengembangkan fungsi sekresi payudara. Pada akhir kehamilan kenaikan estrogen maternal dominan, dan bersama dengan steroid fetus akan merangsang produksi prostaglandin. Keadaan ini pada gilirannya merangsang produksi oksitosin dari glandula pituitari anterior. Estrogen juga meningkatkan kepekaan otot-otot uterus terhadap oksitosin yang memulai konstraksi uterus dan mulainya persalinan, (Sylvia Verralls, 2000 : 219). 4) Progesteron Sejumlah besar progesterone disintesis dari kolesterol maternal, tetapi plasenta tidak mempunyai enzim yang dibutuhkan untuk mengubah sejumlah kolesterol ini menjadi estrogen (estrol, estron, dan estradiol). Sintesis ini sebenarnya dilakukan oleh glandula adrenalis fetus imatur. Kelihatannya aneh bahwa walaupun fetus tidak dapat membuat estrogen sendiri, tetapi fetus dapat mengubah dan menggunakan estrogen ibu, (Sylvia Verralls, 2000 : 219). 6. Perubahan Fisiologis pada saat Kehamilan a. Sistem Reproduksi, (Persis Mary Hamilton, 2000 : 70). o Suplai darah meningkat disebabkan oleh hormon; menyebabkan gejala-gejala dan tanda khas. o Serviks lebih lunak (tanda Goodells) dan dipenuhi dengan mucus (operculum); berubah menjadi bentuk oval setelah kelahiran pertama. o Uterus perubahan yang sangat dalam bentuk, ukuran, dan ketebalan dinding; disokong

oleh ligamen yang menahan ditempatnya; melemah pada minggu ke 8 (tanda Hegars). o Vagina bercak keunguan (tanda Chadwick) pada minggu ke 8 disebabkan oleh meningkatnya vaskularisasi, sebagai leucorrhea kehamilan dan meningkatkan rangsangan seksual. b. Sistem Integumen, (Persis Mary Hamilton, 2000 : 70). Payudara nyeri tekan, membesar, kolostrum, areola menjadi lebih gelap. Kulit Steriae gravidarum peregangan jaringan yang menyebabkan rasa gatal dan meninggalkan rasa gatal dan meninggalkan bekas. Pigmentasi terjadi penumpukan sementara pada midline aabdomen (linea nigra), pada wajah (chloasma), dan pada aerola. Sekresi kelenjar lemak dan perspirasi meningkat selama kehamilan, memerlukan mandi yang lebih sering. c. Sistem Endokrin, (Persis Mary Hamilton, 2000 : 70). Ovarium dan plasenta korpus luteum membentuk estrogen dan progesterone; plasenta membentuk juga hCG, hPL dan hCT. Kelenjar tiroid membesar selama kehamilan, tetapi jumlah tiroksin tetap konstan. Kelenjar paratiroid ukuran meningkat antara minggu ke-15 sampai ke-35, ketika kebutuhan kalsium janin meningkat. Pankreas pembentukan insulin meningkat selama kehamilan, tetapi penyimpanan glikogen terbatas. Kelenjar pituitari FSH ditekan oleh hCG yang dihasilkan plasenta; prolaktin meningkat selama kehamilan dan laktasi; oksitosin meningkat dan menstimulasi kontraksi otot uterus. Kelenjar adrenal kortin meningkat tetapi epinefrin tetap konstan. d. Sistem Kardiovaskular, (Persis Mary Hamilton, 2000 : 71). Volume darah meningkat 30 % sampai 50 %, tetapi tekanan darah tidak berubah; pembentukan sel-sel darah meningkat tetapi karena terjadi hemodilusi, maka berkembang psedoanemia; penekanan pada vena kava menyebabkan gejala sindrom supine hipotensi; stasis vena dan fibrin meningkat membuat wanita lebih mudah mengalami thrombosis. e. Sistem Muskuloskeletal, (Persis Mary Hamilton, 2000 : 71). Gigi, tulang, dan sendi kebutuhan kalium dan natrium meningkat; karies gigi tidak disebabkan oleh dekalsifikasi; sendi-sendi melemah. Otot-otot kram merupakan masalah yang umum. f. Sistem Pernapasan, (Persis Mary Hamilton, 2000 : 71). Paru-paru dan pernapasan letak diafragma berubah karena pertumbuhan janin; tidal volume meningkat, meningkatkan O2 dalam darah. Membran mukosa pembengkakan umum terjadi, menyebabkan hidung tersumbat, serak, dispnea, dsb. g. Sistem Gastrointestinal, (Persis Mary Hamilton, 2000 : 71). Asam lambung menurun; mual dan muntah merupakan hal umum pada awal kehamilan; melambatnya peristaltik menyebabkan rasa kembung; konstipasi dan nyeri ulu hati umum terjadi. h. Sistem Perkemihan, (Persis Mary Hamilton, 2000 : 71). Ginjal yang normal mampu mengatasi kerja tambahan tanpa menyebabkan masalah, tekanan karena pertumbuhan janin dapat menyebabkan stasis urin. Sering berkemih pada awal masa kehamilan disebabkan karena penekanan uterus pada kandung kemih. i. Sistem Persarafan, (Persis Mary Hamilton, 2000 : 71). o Saraf perifer tidak terdapat perubahan.

o Otak tidak terdapat perubahan fisik, tetapi dipertimbangan penyesuaian psikis. j. Penambahan berat badan, 25 sampai 40 pon. Perhitungan Masa Subur Masa subur perlu diperhitungkan untuk dapat menetapkan kapan melakukan hubungan seks bagi mereka yang ingin punya anak serta menghindari hubungan seks bagi mereka yang tidak ingin punya anak. Pelepasan ovum bervariasi waktunya sesuai dengan faktor emosi wanita yang mempengaruhi refleks hipotalamus sehingga dapat mempengaruhi pengeluaran di releasing factor FSH dan LH dan pengeluaran FSH dan LH, serta akan mempengaruhi waktu ovulasi, (Ida Bagus Gde Manuaba, 2000 :93-94) Untuk menetapkan masa subur dapat dipergunakan perhitungan sebagai berikut, (Ida Bagus Gde Manuaba, 2000 :93-94) : 1. Perhitungan masa subur, mulai dari hari pertama menstruasi ditambah 12, dan masa subur berakhir ditambah 19 dengan puncaknya hari keempat belas. Contoh : Menstruasi tanggal 7 Januari 1993. Perhitungan minggu suburnya adalah mulai dari tanggal 19 (7 + 12) sampai tanggal 26 (7 + 19) dengan puncaknya yaitu 21 Januari 1993 (7 + 14). 2. Memperhitungkan suhu basal, karena pengaruh estrogen dan progesterone yang dapat menaikkan suhu basal dengan deviasi sekitar 0,5oC. Ovulasi menyebabkan suhu basal bersifat bifasik. 3. Memperhatikan lendir cairan serviks yang bersifat : Basis Jernih dan transparan yang mudah ditembus spermatozoa. Mempunyai kemampuan regang 15 sampai 20 cm (speinbarkeit). 4. Tes cairan serviks saat ovulasi dapat membentuk susunan daun fakis. 5. Mikrokuretage menjelang atau hari pertama menstruasi yang menunjukkan fase sekresi, berarti terjadi ovulasi sehingga wanita mempunyai minggu subur, (Ida Bagus Gde Manuaba, 2000 :93-94). Lama Kehamilan Lama kehamilan yaitu 280 hari atau 40 pekan (minggu) atau 10 bulan (lunar months). Ibu termuda yang hamil dan melahirkan adalah Lina Medina berumur 4 tahun 8 bulan, ibu tertua hamil dan melahirkan berumur 52 tahun. Kehamilan terbagi atas tiga triwulan (trimester), (Rustam Mochtar, 2000 : 43) : Kehamilan triwulan I antara 0 12 minggu. Kehamilan triwulan II antara 12 28 minggu. Kehamilan triwulan III antara 28 40 minggu. (Rustam Mochtar, 2000 : 43)

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN III.1 Alat Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini, yaitu : 1. Mikroskop 2. Kaca alas + kaca penutup 3. Gelas beker pyrex 600 ml + plat kaca 4. Spoit 5 ml 5. Katak jantan 6. Urine wanita yang diduga hamil III.2 Cara Kerja

1. Tes Galli Mainini Menyuntikkan ke dalam saccus lymphaticus katak. Memasukkan katak ke dalam gelas beker yang berisi air sedikit dan menutup dengan plat kaca. Sesudah 2 jam, mengambil katak tersebut dan mengusahakan mengeluarkan urinenya di atas plat kaca kering. Meneteskan 1 2 tetes urine itu dengan pipet di atas kaca alas dan menutup dengan kaca penutup. Memeriksa sediaan itu di bawah mikroskop. Tes ini dinilai positif jika dalam sediaan di bawah mikroskop nampak gerakan aktif dari spermatozoa dengan bentuk yang sempurna yaitu adanya kepala, leher, dan ekor. Tes ini negative bila tidak terdapat spermatozoa. 2. Tes Friedman Mengasingkan kelinci betina yang telah 2 minggu dari kelinci jantan, menyuntikkan 5 ml urine wanita yang diduga hamil pada vena di telinga kelinci selama 2 hari berturut-turut. Mengadakan laparotomi setelah 48 jam dan memeriksa ovarium. Tes positif bila nampak follikel membesar dan adanya corpus rubrum. 3. Tes Konsulof Katak yang telah di-hipofisektomi sehingga kehilangan hormon intermedian yang berfungsi mengatur pigmentasi kulit, menyuntikkan dengan 2 ml urine wanita hamil. Tes ini positif bila kulit katak berubah menjadi gelap. 4. Tes Ascheim Zondek Menyuntik 5 ekor tikus putih betina yang immature dengan 0,4 ml urine pada subkutan sebanyak 6 kali dalam 2 hari. Jadi, tiap tikus menerima 2,4 ml urine. Seratus jam sesudah penyuntikkan pertama, mematikan tikus dan memeriksa ada tidaknya corpus rubrum atau corpus lutea. Tes positif bila dapat menemukan salah satu corpora tersebut pada sekurangkurangnya seekor tikus.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Hasil Pengamatan Tabel hasil pengamatan tes kehamilan berdasarkan tes human Chorionic Gonadotropin (hCG) : Nama orang coba Hasil tes Urine 1. Ny. X ( + ) 2. Ny. R ( + ) Ket : ( + ) = hamil ( - ) = tidak hamil IV.2 Pembahasan Kehamilan yaitu peristiwa dibuahinya ovum oleh sel sperma yang akhirnya berkembang sampai menjadi fetus yang aterm. Kehamilan adalah suatu keadaan fisiologis, akan tetapi pentingnya diagnosis kehamilan tidak dapat diabaikan. Dalam kehidupan wanita, hanya sedikit diagnosis yang lebih penting daripada diagnosis kehamilan. Hanya sedikit pengalaman hidup yang dapat memicu emosi, baik berupa kebahagiaan luar biasa atau

sebaliknya kesedihan mendalam. Setiap bulan wanita melepaskan satu atau dua sel telur (ovum) dari indung telur (ovulasi), yang ditangkapmoleh umbai-umbai (fimbriae) dan masuk ke dalam saluran telur. Waktu persetubuhan, cairan semen tumpah ke dalam vagina dan berjuta-juta sel mani (sperma) bergerak memasuki rongga rahim lalu masuk ke saluran telur. Pembuahan sel telur oleh sperma biasanya terjadi di bagian yang menggembung dari tuba fallopii. Di sekitar sel telur, banyak berkumpul sperma yang mengeluarkan ragi untuk mencairkan zatzat yang melindungi ovum. Kemudian pada tempat yang paling mudah dimasuki, masuklah satu sel mani dan kemudian bersatu dengan sel telur. Peristiwa ini disebut pembuahan (konsepsi = fertilisasi). Ovum yang telah dibuahi ini segera membelah diri sambil bergerak (oleh rambut getar tuba) menuju ruang rahim, kemudian melekat pada mukosa rahim untuk selanjutnya bersarang di ruang rahim, peristiwa ini di sebut nidasi (implantasi). Dari pembuahan sampai nidasi diperlukan waktu kira-kira 6 7 hari. Untuk menyuplai darah dan zat-zat makanan bagi mudigah dan janin, dipersiapkan uri (plasenta). Jadi, dapat dikatakan bahwa untuk setiap kehamilan harus ada ovum (sel telur), spermatozoa (sel mani), pembuahan (konsepsi = fertilisasi), nidasi, dan plasentasi. Banyak manifestasi dari adaptasi fisiologis terhadap kehamilan yang mudah dikenali dan merupakan petunjuk penting bagi diagnosis dan evaluasi kemajuan kehamilan. Sebagian dari perubahan-perubahan selama kehamilan dapat diperkirakan waktunya secara relative tepat sehingga merupakan patokan penting untuk memperkirakan usia gestasi janin. Diagnosis kehamilan biasanya sangat mudah ditegakkan; tetapi sayangnya, hal ini tidak selalu terjadi. Proses farmakologis atau patofisiologis kadang-kadang memicu perubahan-perubahan endokrin atau anatomis yang menyerupai kehamilan. Banyak tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya kehamilan, diantaranya : Human chorionic gonadotropin( hCG), Tes Lateks aglutinotion inhibition(LAI), Tes Hemagglutination Inhibition (HAI), Radioreceptor Assay, Tes Hamil Radioimunoesai, Enzim Imunoassay, Enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA), dan Ultrasonografi (USG). Pada percobaan ini, hanya dilakukan uji tes kehamilan berdasarkan atas adanya hormon Chorionic Gonadotropin (hCG) dalam urine wanita hamil. Berdasarkan hasil pengamatan pada orang coba (wanita hamil), setelah dilakukan tes hormon Chorionic Gonadotropin, diketahui kedua orang coba tersebut hamil. Ditandai dengan adanya 2 strep (garis) warna merah pada alat tes kehamilan hCG. Tes ini dilakukan dengan cara mencelupkan alat tes kehamilan hCG sampai garis batas, yang biasa dikenal dengan test pack ke dalam urine wanita hamil selama 30 60 detik. Lalu dikeluarkan dan membaca hasilnya setelah didiamkan selama 1 3 menit. Jika terdapat dua strep/garis merah, itu berarti positif ( + ) hamil, dan jika hanya terdapat satu strep/garis merah, berarti negative ( - ) / tidak hamil. Gonadotropin korionik penting bagi pengenalan kehamilan oleh ibu karena hormon ini bekerja menyelamatkan korpus luteum, tempat pembentukan utama progesterone selama 6 minggu pertama. Hormon ini mencegah involusi korpus luteum. Hormon ini hanya diproduksi oleh sinsitiotrofoblas, dan tidak oleh sitotrofoblas. Produksinya sudah mulai pada awal kehamilan, kira-kira pada hari implantasi. Setelah itu, kadar hCG dalam plasma dan urine ibu meningkat sangat pesat. Dengan uji yang peka, hormone ini dapat dideteksi di plasma atau di urin ibu pada hari ke-8 sampai hari ke-9 setelah ovulasi. Waktu yang dibutuhkan agar konsentrasi hCG plasma berganda adalah 1,4 sampai 2,0 hari. Kadarnya meningkat sejak hari implantasi hingga mencapai puncaknya pada sekitar hari ke-60 sampai 70. Setelah itu, konsentrasinya menurun secara bertahap sampai titik terendah dicapai pada sekitar hari ke-100 sampai 130. Bersamaan denganperkembangan sel-sel trofoblas dari ovum yang baru mengalami

vertilisasi, hormone gonadotropin korionik manusia disekresi kedalam cairan ibu. Gonadotropin korionik manusia merupakan suatu glikoprotein yang mempunyai berat molekul 30.000 serta struktur molekul dan fungsinya sangat mirip dengan hormon luteinisasi yang disekresi oleh hipofisis. Sejauh ini, fungsinya yang terpenting adalah mencegah involusi normal korpus lateum pada akhir siklus seksual wanita. Sebagai gantinya ia menyebabkan korpus lateum menyekresi jauh lebih banyak hormon yang biasa disekresinya, progesteron dan estrogen. Berlebihnya hormon-hormon ini menyebabkan endometrium terus tumbuh dan menyimpan zat-zat gizi dalam jumlah besar lebih dari pada yang masuk kedalam menstrum. Bila korpus lateum dibuang sebelum kira-kira minggu ke tujuh sampai kesebelas kehamilan, biasanya terjadi abortus spontan, walaupun setelah waktu ini plasenta sendiri menyekresi progesteron dan estrogen dalam jumlah cukup untuk mempertahankan kehamilan. Zona antibodi pertama diendapkan sedemikian sehingga dapat dimobilisasi; zona ini terdiri dari partikel lateks berwarna yang disensitisasi dengan antibodi monoclonal terhadap subunit -hCG, yang diimobilisasi di membran. Apabila urin mengandung hCG, urin akan bereaksi dengan anti -hCG di lateks, dan kompleks ini akan ditangkap oleh zona antibodi antisubunit--hCG kedua, sehingga terbentuk sebuah garis berwarna pada jendela perangkat tersebut. Hasil percobaan yang dilakukan sesuai dengan teori (F. Gary Cunningham, 2005: 30), bahwa adanya hormon Gonadotropin korionik (hCG) di dalam plasma ibu dan ekskresinya di urin merupakan dasar bagi uji endokrin untuk kehamilan. Hormon ini dapat ditemukan di dalam cairan tubuh dengan salah satu dari berbagai teknik bioassay atau immunoassay.

BAB V PENUTUP V.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pada kedua orang coba (Ny. X dan Ny. R) diketahui adanya kehamilan berdasarkan tes human Chorionik Gonadotropin (hCG) yang mendeteksi adanya hormon hCG dalam urin wanita hamil tersebut. Hormon Chorionik Gonadotropin (hCG) dapat dideteksi di plasma dan urin ibu pada hari ke-8 sampai hari ke-9 setelah ovulasi dan mencapai puncaknya pada hari ke-60. 2. Tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya kehamilan, diantaranya : Human chorionic gonadotropin( hCG), Tes Lateks aglutinotion inhibition(LAI), Tes Hemagglutination Inhibition (HAI), Radioreceptor Assay, Tes Hamil Radioimunoesai, Enzim Imunoassay, Enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA), dan Ultrasonografi (USG). 3. Hormon Gonadotropin korionik manusia (hCG) di sekresi ke dalam cairan ibu bersamaan

dengan perkembangan sel-sel trofoblast dari ovum yang baru mengalami fertilisasi. Fungsinya yaitu untuk mencegah involusi normal korpus luteum pada akhir siklus seksual wanita dan memelihara korpus luteum sampai plasenta dapat menggantikannya memproduksi estrogen dan progesteron.

V.2 Saran Adapun saran pada praktikum ini adalah sebagai berikut : 1. Bagi program studi, agar alat-alat/fasilitas laboratorium diperlengkap lagi. 2. Bagi asisten : Tidak ada lagi saran dari kami, hanya ucapan terima kasih atas kesabaran dan keikhlasan kakak-kakak asisten dalam membimbing praktikan serta waktu yang penuh toleransi ketika asistensi.

PYZAM.COM CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS

OdheMila
This is me!!!

hai... smuga silaturahmi bisa terhubung lewat blog ini... salam kenal smuanya... terima kasih dah mampir disini... smuga hari ini dan seterusnya menyenangkan...

Senin, 15 Desember 2008

laporan fisiologi tekanan darah arteri


BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda; paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat seseorang yang memeriksa tekanan darah dengan menggunakan alat yang sering disebut tensimeter. Dari pengukuran tekanan darah ini kemudian didapatkan hasil, misalnya 120/80 mmHg yaitu tekanan darah sitole per diastole.

Naik turunnya gelembung tekanan darah seirama dengan pemompaan jantung untuk mengalirkan darah di pembuluh arteri. Tekanan darah memuncak pada saat jantung memompa, ini dinamakan systole:, dan menurun sampai pada tekanan terendah yaitu saat jantung tidak memompa (relaxes) ini disebut Diastole Kemudian timbul pertanyaan dalam benak kita bagaimana cara menentukan angka-angka tersebut, atau adakah hal yang memepengaruhi sehingga tekanan darah setiap orang berbeda-beda dan bagaimana pengaruhnya terhadap keadaan fisiologis seseorang. Masalah-masalah tersebut akan dipraktikkan dan dipelajari dalam praktikum ini. 1.2 Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini adalh : 1. Mempelajari cara-cara pengukuran tekanan darah arteri. 2. Mempelajari beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah secara fisiologis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Tekanan darah adalah hal vital dalam hidup. Tekanan darah memungkinkan untuk darah bersirkuasi ke seluruh tubuh kita. Dengan setiap gerakan jantung, darah di pompa keluar dari jantung ke pembuluh-pembuluh darah. Darah merupakan pembawa oksigen dan makanan ke organ-organ vital seperti otak, jantung dan ginjal sehingga mereka bisa bekerja. Tekanan darah adalah kekuatan darah terhadap didnding pembuluh darah (www.upmc.com, 2004).

Tekanan darah arteri adalah kekuatan darah ke didinding pembuluh darah yang menampung , mengakibatkan tekanan ini berubah-ubah pada setiap siklus jantung. Pada saat ventrikel kiri memaksa darah masuk ke aorta ,tekanan naik sampai puncak yang disebut tekanan sistolik. Pada waktu diastole tekanan turun sampai mncapai titik terendah yag disebut tekanan diastole (Guyton,2007). Tekanan darah dinilai dalam 2 nilai, sebuah tekanan tinggi sistolik yang menandakan kontraksi maksimal jantung dan tekanan rendah diastolik atau tekanan istirahat. Pemeriksaan tekanan darah biasanya dilakukan pada lengan kanan, kecuali pada lengan tersebut terdapat cedera. Perbedaan antara tekanan sistolik dan diastolik disebut tekanan denyut. Di Indonesia, tekanan darah biasanya diukur dengan tensimeter air raksa (http://id.wikipedia.org, 2008). Tekanan darah arteri rata-rata adalah gaya utama yang mendorong darah ke jaringan. Tekanan ini harus diatur secara ketat karena dua alasan. Pertama, tekanan tersebut harus cukup tinggi untuk menghasilkan gaya dorong yang cukup, tanpa tekanan inin, otot dan jaringan lain tidak akan menerima aliran yang adekuat seberapapun penyesuaian lokal mengenai resistensi arteriol ke organorgan tersebut dilakukan. Kedua, tekanan tidak boleh telalu tinggi sehingga menimbulkan beban kerja tambahan bagi jantung dan meningktkan resiko kerusakan pembuluh serta kemungkinan lupturnya pembuluh-pembuluh halus (Sherwood, 2005). Pusat integritas yang menerima impuls aferen menegenai status tekanan arteri adalah pusat control kardiovaskuler, yang terletak pada medulla di batang otak. Sebagai jalur aferen adalah system saraf otonom. Jika karena suatu hal tekanan arteri meningkat di atas normal, baroreseptor sinus karotis dan lengkung aorta meningkatkan kecepatan pembentukan potensial aksi di neuron aferen. Setelah mendapatkan informasi bahwa tekanan arteri terlalu tinggi oleh peningkatan potensial tersebut,

pusat control kardiovaskuler berespons dengan mengurangi aktivitas simpatis dan meningkatkan aktivitas parasimpatis ke system kardiovaskuler. Sinyal-sinyal eferen ini menurunkan kecepatan denyut jantung, menurunkan volume sekuncup, dan menimbulkan vasodilatasi arteriol dan vena, yang pada gilirannya menurunkan curah jantung dan resistensi perifer total, sehingga tekanan darah kembali ke tingkat normal (Sherwood, 2005). Tekanan darah di aorta dan di brakial dan arteri besar lainnya pada orang dewasa tekanan sitolik berkisar 120 mmHg selama siklus jantung dan turun menjadi minimum (tekanan diastole) sekitar 70 mmHg. Takanan darah arteri biasanya ditulis dengan tekanan systole per tekanan diastole, 120/70 mmHg. Tekanan nadi, berbeda antara tekanan sistole dan diastole, normalnya sekitar 50 mmHg. Tekanan rata-rata adalah tekanan rata-rata seluruh siklus jantung. Karena systole lebih singkat daripada diastole, tekanan rata-rata merupakan nilai tengah antara tekanan systole dan diastole. Hal ini sebenarnya bisa hanya ditentukan oleh luas integritas dari kurva tekanan, bagaimanapun sabagai perkiraan, tekanan rata-rata sebanding dengan tekanan diastole ditambah satu-tiga dari tekanan nadi (Ganong, 2000). Dua faktor utama yang mempengaruhi tekanan nadi, (1) curah volume sekuncup dari jantung dan (2) komplians dari sistem arteri. Volume sekuncup jantung adalah jumlah darah yang dipompa dari tiaptiap ventrikel pada setiap denyut jantung, dalam keadaan normal volume sekuncup sekitar 70 ml, tetapi dalam keadaan yang sesuai dengan kehidupan ,volume sekuncup dapat turun sampai beberapa milimeter per denyut dan dapat meningkat sampai sekitar 140 ml per denyut pada jantung normal dan sampai lebih lebih dari 200 ml/ denyut pada orang dengan jantung yang sangat besar, seperti pada beberapa atlit. (Guyton,2007) Pada umumnya semakin besar curah volume sekuncup semakin besar jumlah darah yang harus ditampung di sistem arteri pada setiap denyut jantung . dan karena itu semakin besar peningkatan dan penurunan tekanan selama diastol dan sistol ,jadi menyebabkan semakin besar tekanan nadi. Sebaliknya semakin kecil komplians sistem arteri maka makin besar tekanan yang akan terjadi pada volume sekuncup darah tertentu yang dipompa ke dalam arteri. Kadang-kadang tekanan nadi meningkat sebanyak dua kali normal pada orang lanjut usia karena arteri menjadi lebih kaku akibat arterioskolosis dan karena itu tidak fleksibel.Kemudian sebagai akibatnya tekanan nadi ditentukan kurang lebih oleh rasio curah volume sekuncup terhadap komlians arteri. Setiap kondisi sirkulasi yang mempengaruhi satu atau kedua faktor tersebut akan juga mempengaruhi tekanan nadi. .(Guyton, 2007) Fisiologi dari system sirkulsi sangat kompleks. Dapat dikatakan, ada banyak factor yang dapat mempengaruhi tekanan arteri. Diantaranya bisa dipengaruhi oleh factor fisiologi, seperti diet, kegiatan fisik, saki, obat-obatan atau alcohol, obesitas, keelbihan berat dan dan seterusnya (http://en.wikipedia.org, 2008). Faktor-faktor yang dapat mempertahan aliran darah adalah sebagai berikut, (1) Kekuatan jantung memompakan darah membuat tekanan yang dilakukan jantung sehingga darah bisa beredar ke seluruh bagian tubuh dan darah dapat kembali lagi ken jantung, (2) Visikositas atau kekentalan darah,disebabkan oleh protein plasma dan jumlah sel darah ang beredar dalam aliran darah, (3) elastisitas dinding aliran darah. Didalam arteri tekanan lebih besar darip[ada di dalam vena sebab otot yang membungkus arteri lebih elastis dari pada vena, (4) tahanan tepi. Tahanan yang dikeluarkan oleh darah mengalkir dalam pembuluh darah dalam sirkulasi darah besar yang berda dalam arterial. Turunnya tekanan mengakibatkan denyut jantung pada kapiler dan vena tidak teraba.(Guyton,2007) Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara

normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda; paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari (http://id.wikipedia.org, 2008). Hingga saat sekarang alat ukur yang masih terandalkan untuk mengukur tekanan darah secara tidak langsung ialah sfigmomanometer air raksa. Kadang-kadang dijumpai sfigmomanometer dengan pipa air raksa yang letaknya miring terhadap bidang horisontal (permukaan air) dengan maksud untuk memudahkan pembacaan hasil pengukuran oleh pemeriksa. Untuk sfigmomanometer semacam ini perlu dilakukan koreksi skala ukurannya karena seharusnya pipa air raksa tegak lurus terhadap permukaan air. Manset yang digunakan dapat berbeda lebarnya bergantung kepada lingkar lengan. Secara garis besar American Heart Association menganjurkan penggunaan lebar manset sebagai berikut: di bawah 1 tahun 2.5 cm ,1 -- 4 tahun 5 atau 6 cm, 4 -- 8 tahun 8 atau 9cm, dewasa 12.5 cm, dewasa obese 14 cm (http://do.qwertyy.cn/do.htm, 2008 ). Menurut laporan WHO yang panting ialah lebar kantong udara dalam manset harus cukup lebar untuk menutupi 2/3 panjang lengan atas. Demikian pula panjang manset harus cukup panjang untuk menutupi 2/3 lingkar lengan atas. Ukuran manset yang tertentu tersebut bertujuan agar tekanan udara dalam manset yang ditera dengan tinggi kolom air raksa, benar-benar seimbang dengan tekanan sisi pembuluh darah yang akan diukur (http://do.qwertyy.cn/do.htm, 2008 ). Metode Palpasi Nilai minimum dari systole dapat dihitung secara kasar tanpa perlatan dengan cara palpasi., pada umumnya dipakai dalam keadaan darurat. Palpasi dari arteri radial indikasi tekanan darahnya yaitu 80 mmHg, arteri femuralis paling rendah 70 mmHg, dan nadi karotis minimal 60 mmHg (http://en.wikipedia.org, 2008). Metode Auskultasi Untuk melakukan pengukuran tekanan secara rutin pada penderita, tidaklah mungkin untuk menggunakan bermacam-macam pencatatan tekanan yang mengaharuskan jarum masuk kedalam arteri,walaupun cara tersebut kadang-kadang diperlukan pada penelitian khusus. Sebagai gantinya para klinisi menetukan tekanan sistolik dan diastolik deengan cara tidak lansung bisanya dengan menggunakan cara auskultasi. .(Guyton, 2007) Memperlihatkan cara auskultasi untuk menentukan tekanan arteri sistolik dan diastolik.sebuah stetoskop diletakkan pada arteri antecubiti, dan disekeliling lengan atasdipasang sebuah manset tekanan darah yang digembungkan. Selama manset mnekan lengan dengan sedikit sekali tekanan sehingga arteri tetap terdistensi dengan darah, tidak ada bunyi yang terdengar melalui stetoskop ,walaupun sebenarnya darah alam arteri tetap berdenyut . bila tekanan dalam manset itu cukup besar untuk menutup arteri selama sebagian siklus tekanan arteri, pada setiapa denyutan akan terdengar bunyi. Bunyi-bunyi ini di sebut bunyi korotkoff. (Guyton, 2007) Auskultasi adalah metode yang menggunakan stetoskop dan sphygmomanometer. Ini terdiri dari sebuah inflatable (riva rocci) spontan ditempatkan di sekitar lengan atas di sekitar yang sama vertikal tinggi sebagai jantung, terlampir ke air raksa atau aneroid manometer. The raksa manometer, dianggap sebagai standar baku untuk pengukuran tekanan arterial, mengukur ketinggian kolom dari air raksa, memberikan hasil yang mutlak tanpa perlu untuk kalibrasi, dan akibatnya tidak tunduk pada kesalahan dan penyimpangan dari kalibrasi yang mempengaruhi metode lain. Penggunaan air raksa manometers sering diperlukan dalam percobaan klinik dan untuk pengukuran klinis hipertensi pada pasien berisiko tinggi, seperti ibu hamil (http://en.wikipedia.org, 2008). Dalam menentukan tekanan darah dengan cara auskultasi ,tekanan dalam manset mula-mula

dinaikkan sampai tekanan diatas arteri sistolik. Selama tekanan ini lebih tinggi daripada tekanan sistolik ,arteri brakialis tetap kolaps dan tidak ada darah yang mengalir kedalam arteri yang lebih distal sepanjang bagian siklus tekanan yang manapun .oleh karena itulah, tidak akan terdenga bunyi korotkoff dibagian arteri yang lebih distal. Namun kemudian tekanan dalam manset secara bertahap dikurangi. Begitu tekanan dalam manset menurun dibawah tekanan sistolik akan ada darah yang mengalir melalui arteri yang terletak dibawah manset elama puncak tekanan sistolik dan kita mulai mendegar bunyi berdetak dalam arteri antecubiti yang sinkron dengan denyut jantung. Begitu bunyi terdengar , nilai tekanan yang ditunjukkan oleh manometer yang dihubungkan dengan manset kirakira sama dengan tekanan sistolik.(Guyton, 2007). Bila tekanan dalam manset diturunkan lebih lanjut ,terjadi perubahan kualitas bunyi berdetaknya menjadi berkurang namun lebih berirama dan bunyinya lebih kasar. Kemudian,akhirnya sewaktu tekanan dalam manset turun sampai sama dengan tekanan diastolik ,arteri tersebut tidak tersumbat lagi , yang berarti bahwa faktor dasar yang menimbulkan terjadinya bunyi dalah pancaran darah melewati arteri yang tertekan tidak ada lagi. Oleh karena itu bunyi tersebut mendadak berubah menjad meredam dan biasanya menghilang seluruhnya setelah tekanan dalam manset turun lagi sebanyak 10 sampai 10 milimeter. Kita catat tekanan pada manometer ketika bunyi korotkoff berubah menjadi meredam,dan tekanan ini kurang lebih sama dnga tekanan diastolik. .(Guyton, 2007) Ketika tekanan darah tinggi, ini akan menyebabkan krusakan pembuluh, serangan jantung, stroke, dan masalah lainnya. Tekanan darah yang tinggi biasa disebut silent killer, karena biasanya tidak menimbulkan gejala sampai terjadi kerusakan (http://blstc.msn.com, 2007).

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN III.1 Alat Alat-alat yang dibutuhkan dalam percobaan ini adalah : 1. Manometer air raksa atau aneroid. 2. Stetoskop. III.2 Cara Kerja Dalam mencatat tekanan darah secara fisiologis, orang coba harus berada dalam keadaan yang menyenangkan dan lepas dari pengaruh-pengaruh yang dapat mempengaruhi hasil pencatatan. Pencatatan tekanan darah ini adalah dengan metode tak langsung.

I. Cara palpasi (metode Riva Rocci) Segala bentuk pakaian harus dilepaskan dari lengan atas dan manset dipasang dengan ketat dan sempurna pada lengan. Bila manset tidak terpasang dengan tepat maka dapat diperoleh pembacaan yang abnormal tinggi. Saluran karet dari manset kemudian dihubungkan dengan manometer. Sekarang rabahlah arteri radialis pada pergelangan tangan orang coba dan tekanan dalam manset dinaikkan dengan memo,pa sampai denyut nadi (denyut arteri radialis) menghilang. Tekanan dalam manset kemudian diturunkan dengan memutar tombol pada pompa perlahan-lahan yaitu dengan kecepatan kira-kira 3 mm/detik. Saat dimana denyut arteri radialis teraba kembali menunjukkan tekanan darah sistolis. Dengan metode ini kita tidak dapat menentukan tekanan darah diastolis. Metode palpasi harus dilakukan sebelum melakukan auskultasi untuk menentukan tinggi tekanan sistolis yang dihatapkan. II. Cara auskultasi Metode ini pertama-tama diperkenalkan oleh seorang dokter Rusia yaitu Korotkoff pada tahun 1905. Kedua tekanan sistolis dan diastolis dapat diukur dengan menggunakan metode ini, dengan cara mendengar (auskultasi) bunyi yang timbul pada arteri brachialis yang disebut bunyi Korotkoff. Bunyi ini terjadi akibat timbulnya aliran turbulen dalam arteri yang disebabkan oleh penekanan manset pada arteri tersebut. Dalam cara auskultasi ini harus diperhatikan bahwa terdapat suatu jarak paling sedikit 5 cm, antara manset dan tempat meletakkan stetoskop. Mula-mula rabahlah arteri brachialis untuk mengetahui tempat meletakkan stetoskop. Kemuadian pompalah manset sehingga tekanannya melebihi tekanan sistolis (yang diketahui dari palpasi). Turunkanlah tekanan manset perlahan-lahan sambil meletakkan stetoskop diatas arteri brachialis pada siku. Mula-mula tidak akan terdengar suatu bunyi kemuadian akan terdengar bunyi mengetuk yaitu ketika darah mulai melewati arteri yang tertekan oleh manset sehingga terjadilah turbulensi. Bunyi yang terdengar disebut bunyi Korotkoff dan dapat dibagi dalam empat fase yang berbeda : Fase I : timbulnya dengan tiba-tiba suatu bunyi mengetuk yang jelas dan makin lama makin keras sewaktu tekanan menurun 10-14 mmHg berikutnya. Ini disebut pula nada letupan. Fase II : bunyi berubah kualitasnya menjadi bising selama penurunan tekanan 15-20 mmHg berikutnya. Fase III : bunyi sedikit berubah dalam kualitas, tetapi menjadi jelas dan keras selama penurunan tekan 5-7 mmHg berikutnya. Fase IV : bunyi meredam (melemah) selama penurunan 5-6 mmHg berikutnya. Setelah itu bunyi menghilan. Fase V : titik dimana bunyi menghilang. Permulaan dari fase I yaitu dimana bunyi mula-mula terdengar merupakan tekanan sistolis. Permulaan fase IV atau fase V merupakan tekanan diastolis, dengan perbedaan sevagai berikut : Fase IV terjadi pada tekanan 7-10 mmHg lebih tinggi daripada tekanan diastolis intra arterial yang diukur secara langsung. Fase V terjadi pada tekanan yang sangat mendekati tekanan diastolis intra arterial pada keadaan istirahat. Pada keadaan latihan otot atau pada keadaan yang meningkatkan aliran darah, maka fase V jaug lebih rendah dari tekanan diastolis yang sebenarnya. Pada anak-anak, fase IV lebih tepat digunakan sebagai index tekanan diastolis. Catatlah hasil pemeriksaan sebagai berikut : 12/82/78,yaitu : 120 = tekanan sistolis; 82 = fase IV; 78 = fase V. Bils fase IV dan fase V adalh sama, maka ditulis : 120/78/78. Ulangilah pencatatan beberapa kali untuk memperoleh hasil yang pasti. III. Cara Osilasi

Yaitu dengan melihat osilasi air taksa pada manometer. Manset dipompa sampai tekanannya 10-20 mmHg melebihi tekanan sistolis yang ditentukan dengan metode Riva Rocci. Tekanan manset diturunkan perlahan-lahan sambil memperhatikan air raksa manometer. Saat timbulnya asilasi pada manometer menunjukkan tekanan sistolis. Tekanan manset terus diturunkan sampai osilasi menghilang yang menunjukkan tekanan diastolis. Di dalam praktel, ketiga cara ini harus dikombinasikan untuk memperoleh hasil yang memuaskan dan dapat dipercaya. URUTAN PENGUKURAN : Mula-mula tentukan tekanan sistolis dengan cara palpasi. Kosongkan manset sebentar agar orang coba tidak merasa nyeri akibat tekanan mansetyang terlalu lama. Kemudian pompalah manset sampai tekanannya melebihi tekanan sistolis sebesar 10-20 mmHg. Letakkan stetoskop dengan hatihati pada siku di atas arteri brachialis. Jangan terlalu keras menekan stetoskop oleh karen dapat menimbulkan turbulensi yang tidak diinginkan. Turunkan tekanan manset sembari mendengarkan bunyi yang timbul dan memperhatikan osilasi yang terjadi pada manometer. Dengan cara-cara ini pasti akan diperoleh hail yang memuaskan. Setiap kali selesai melakukan pengukuran, kosongkan manset agar orang coba tidak terganggu. Hindari kontraksi otot-otot lengan orang coba oleh karena dapat mempengaruhi hasil pencatatan. PROTOKOL 1.) Tekanan darah istirahat. Ukurlah tekanan darh orang coba, setelah berbaring selama 5 menit, etelah duduk 5 menit, dan setelah berdiri 5 menit. Orang coba harus berada dalam keadaan santai! Bandingkanlah hasil ketiga pencatatan ini. Dalam mencatat tekanan darah, gunakan kombinasi ketiga cara tadi. 2.) Pengaruh perubahan sikap. Orang coba berbaring selama 5 menit. Ukurlah tekanan darah, kemudian orang coba diminta segera berdiri dan ukurlah segera tekanan darah dengan lengan lurus ke bawah. Tekanan darah diukur 0, 1, 2, 3, 4, dan 5 menit sesudah berdiri. 3.) Pengaruh kerja otot. Orang coba diminta untuk melakukan kegiatan misalnya berlari ditempat selama kurang lebih 3-5 menit kemuadian catatlah tekanan darah kontrol (sebelum kegiatan). 4.) Pengaruh berpikir. Catatlah tekanan darah kontrol. Kemudian orang coba diminta untuk berpikir dengan kuat yaitu memecahkan soal matematika yang susah. Cststlsh trksnsn dsrshnys secepst mungkin, kslsu perlu delsgi orsng cobs berpikir. Bandingkanlah dengan tekanan darah kontrol. 5.) Percobaan Valsava (Valsavas Maneufer). Buatlah pencatatan kontrol. Orang coba diminta untuk melakukan ekspirasi kuat dengan glottis tertutup(mengedam). Catatlah tekanan darah pada saat ini dan bandingkan dengan tekanan darah kontrol. 6.) Percobaan Muller. Oramg coba diminta untuk inspirasi kuat dengan glottis tertutup. Ukurlah tekanan darah dan bandingkan dengan tekanan darah kontrol.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Hasil Adapun hasil yang didapatkan dalam percobaan ini adalah : 1. Cara palpasi Dengan melakukan cara palpasi didapatkan tekanan sistolik yaitu: - Maftuha : 100 mmHg - Waode Nurmila : 110 mmHg - Asrianti : 100 mmHg - Musdhalifah : 110 mmHg - Irma Iryanidar : 110 mmHg - Andi Buana Sari : 110 mmHg 2. Cara auskultasi Nama orang coba : Andi Buana Sari Nama pemeriksa : Irmayani TD : 110/80 mmHg PROTOKOL a. Takanan darah istirahat Nama orang coba : Waode Nurmila Nama pemeriksa : Irmayani Baring : 110/80 mmHg Duduk : 120/80 mmHg Berdiri : 120/80 mmHg b. Pengaruh perubahan sikap Nama orang coba : Laode Andrias Nama pemeriksa : Syahrul TD Normal : 120/80 mmHg Menit ke: 0 : 130/80 mmHg 1 : 110/80 mmHg 2 :110/70 mmHg 3 : 110/80 mmHg 4 : 110/80 mmHg 5 : 110/80 mmHg c. Pengaruh kerja otot Nama orang coba : Musdhalifah Nama pemeriksa : Waode Nurmila TD Normal : 110/70 mmHg Setelah melakukan aktivitas : 110/70 mmHg d. Pengaruh berpikir Nama orang coba : Laode Andrias Nama pemeriksa : Rahman

TD Normal : 110/80 mmHg Setelah berpikir : 110/90 mmHg e. Valsava Nama orang coba : Maftuhah Nama pemeriksa : Waode Nurmila TD Normal : 100/80 mmHg Valsava : 120/90 mmHg f. Muller Nama orang coba : Maftuhah Nama pemeriksa : Waode Nurmila TD Normal : 110/80 mmHg Muler : 110/100 mmHg

IV.2 Pembahasan 1. Cara Palpasi Cara palpasi hanya dapat menentukan tekanan diastole dimana pada percobaan ini tekanan diastole didapatkan berkisar antara 100 mmHg sampai 110 mmHg. Palpasi dilakukan sebelum melakukan auskultasi karena dari pengukuran palpasi kita akan mendapatkan nilai standar patokan untuk mengukur tekanan darah dengan cara auskultasi. 2. Cara Auskultasi Cara auskultasi dilakukan untuk mendengar bunyi pada stetoskop dalm hal ini untuk menentukan tekanan darah orang coba dan didapatkan tekanan sistolle yang sama dengan cara palpasi yaitu 110/80 mmHg. Timbulnya bunyi pada pada pemeriksaan terutama disebabkan oleh semburan darah yang melewati pembuluh yang mengalami hambatan parsial. Semburan darah ini menimbulkan aliran turbulen di dalam pembuluh yang terletak di luar area manset, dan keadaan ini akan menimbulkan getaran yang terdengar melalui stetoskop yang dikenal dengan bunyi Korotkoff. Protokol 1. Tekanan Darah Istirahat Pada protocol ini didapatkan tekanan darah orang coba ketika baring 110/80 mmHg dan meningkat ketika duduk menjadi 120/90 mmHg. Peningkatan ini menunjukkan bahwa posisi tubuh berpengaruh terhadap tekanan darah meskipun pada saat perubahan posisi dari duduk ke berdiri tidak mengalami perubahan karena mungkin diopengaruhi oleh beberapa factor misalnya kesalahan pengukuran atau kurangnya keakuratan alat. Peningkatan tekanan darah ini terjadi karena adanya gaya grafitasi yang memepengaruhi tekanan pompa jantung lain halnya pada saat berbaring letak estermitas atas dan bawah sejajar dengan jantung sehingga kecepatan aliran darah standar. Tapi bila dalam keadaan berdiri bagian ekstermitas atas dan kepala lebih tinggi dari jantung sehingga agar supaya darah dapat sampai ke tempat yang dituju dengan pasokan yang sama dengan pada waktu berbaring, maka diperlukan tekanan pompa yang besar sehingga sehingga curah meningkat kemudian aliran

balik vena meningkat dan sleanjutnya meningkatkan tekanan darah. 2. Pengaruh Perubahan Sikap Perubahan sikap dapat mempengaruhi tekanan darah dimana tekanan darah meningkat yang semula duduk orang coba memiliki tekanan darah sebesar 120/80 mmHg meningkat ketika berdiri menjadi 130/80 mmHg. Hal ini karena adanya gaya grafitasi karena darah akan mengumpul pada pembuluh kapasitas vena ekstermitas inferior. Sehingga darah akan terlokalisir pada suatu tempat. Pengisian atrium kanan jantung akan berkurang sehingga pada posisi berdiri akan terjadi penurunan sementara. Setelah beberapa menit kemudian tekanan darah akan kembali normal karena sudah mulai beradaptasi dengan perubahan posisi tubuh. Hal ini karena adanya baroresptor yang menjaga tekanan arteri di kepala dan tubuh bagian atas tetap konstan. Karena tekanan arteri meningkat, baroreseptor sinus karotis dan lengkung aorta meningkatkan kecepatan pembentukan potensial aksi di neuron aferen. Setelah mendapatkan informasi bahwa tekanan arteri terlalu tinggi oleh peningkatan potensial tersebut, pusat kontrol kardiovaskuler berespons dengan mengurangi aktivitas simpatis dan meningkatkan aktivitas parasimpatis ke system kardiovaskuler. Sinyal-sinyal eferen ini menurunkan kecepatan denyut jantung, menurunkan volume sekuncup, dan menimbulkan vasodilatasi arteriol dan vena, yang pada gilirannya menurunkan curah jantung dan resistensi perifer total, sehingga tekanan darah kembali ke tingkat normal. 3. Pengaruh Kerja Otot Pada percobaan ini didapatkan tekanan darah orang coba sebelum dan sesudah melakukan aktivitas adalah sama. Akan tetapi, secara fisiologis tekanan darah setelah melakukan aktivitas seharusnya meningkata. Hal inbi mungkin disebabkan karena ketidakakuratan alat atau orang coba sering berolahraga sehingga tekakan darahnya tidak segera mengalami perubahan dibandingkan orangorang yang tidak sering berolahraga. Ketika kita beraktivitas maka otot-otot akan saling berkontraksi. Dalam proses kontraksi, otot memerlukan suplai oksigen yang banyak uantuk memenuhi kebutuhan akan energi. Darah sebagai media yang bertujuan untuk menyuplai O2 harus segera memenuhinya. Oleh karena itu, curah jantung akan ditingkatkan ubntuk memenuhi kebutuhan darah terseburt dan selanjutnya akan meningkatkan aliran darah. Selain itu, perangsangan implus simpatis menyebabkan vasokonstriktor pembuluh darah pada tubuh kecuali pada otot yang aktif, terjadi vasodilatasi. Hal inilah yang menyebabkan tekanan darah akan meningkat setelah melakukan aktivitas fisik. Selain itu, sewaktu otot-otot itu berkontraksi, otot-otot tersebut menekan pembuluh darah di seluruh tubuh. Akibatnya terjadi pemindahan darah dari pembuluh perifer ke jantung dan paru. Dengan demikian akan meningkatkan curah jantung yang selanjutnya m,eningkatkan tekanan darah. 4. Pengaruh Berfikir Berpikir berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah. Hal ini dapat dilihat dari hasil percobaan dimana ketika berpikir tekanan darah orang coba meningkat dari 110 80 mmHg menjadi 110/90 mmHg. Peningkatan kerja otak membutuhkan nutrisi dan O2 yang banyak sehingga darah akan dipompa lebih banyak ke otak. Sehingga kardiak output akan ditingkatkan yang selanjutnya akan meningkatkan aliran balik vena dan meningkatkan tahanan perifer yang kemudian menyebabkan tekanan darah meningkat. Selain itu letak otak berada diatas jantung sehingga dibutuhkan tekanan yang lebih kuat untuk mendorong darah ke otak. 5. Percobaan Valsava (Valsavas Maneuver) Dalam percobaan ini seharusnya tekanan darah orang coba akan menurun tetapi karena kesalahan perhitungan atau ketidakakuratan alat menyebabkan penyimopangan hasil. Seseorang melakukan ekspirasi kuat dengan glottis tertutup dimana tekanan intratorakal sehingga aliran balik vena

menurun yang mengakibatkan curah jantung menurun dan selanjutnya menyebebkan penurunan tekanan darah. 6. Percobaan Muller Dalam percobaan ini seharusnya tekanan darah orang coba akan menurun tetapi karena kesalahan perhitungan atau ketidakakuratan alat menyebabkan penyimopangan hasil. Seseorang melakukan inspirasi kuat dengan glottis tertutup maka CO2 banyak keluar. Sehingga menurunkan volume darah yang akan mengangkut Oksigen dan menurunkan curah jantung sehingga tekanan darah akan menurun. Selain itu, hal yang dapat kita kaji dalam percobaan ini adalah penyakit Arterioskelerosis atau pengerasan arteri. Istilah Arterioskelerosis atau pengerasan arteri sebetulnya meliputi setiap keadaan pembuluh arteri yang mengakibatkan penebalan atau pengerasan dindingnya. Arterioskelerosis merupakan penyakit yang melibatkan aorta ,cabang-cabangnya yang besar dan arteri yang berukuran sedang seperti arteri yang menyuplai darah ke bagian-bagian ekstermitas ,otak, jantungdan organ dalam utama. Arterioskelerosis tidak menyerang arteriol dan juga tidak melibatkan sirkulasi vena. Penyakit ini multifokal dan lesi unit,atau ateorema, terdiri dari massa bahan lemak dengan jaringan ikat fibrosa. Sering disertai endapan skunder garam kalsium dan poduk-produk darah. Tekanan darah merupakan faktor penting bagi, insiden dan beratnya arteriosklerosis. Pada umumnya penderita hipertensi akan megalami arteriosklerosis lebih awal dan lebih berat dan beratnya penyakit berhubungan dengan tekanan darah, walaupun dalam batas normal. Arteriosklerosis tidak terlihat pada arteria pulmonalis kecuali jika tekanannya meningkat secara abnormal, kedaan ini dinamakan hipertensi pulmonal. Faktor risiko lain dalam perkembangan arteriosklerosis adalah merokok. Merokok merupakan faktor lingkungan utama yang menyebabkan arteriosklerosis menjadi semakin buruk.

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan 1. Cara-cara pengukuran tekanan darah arteri adalah dengan cara palpasi, auskultasi dan osilasi. 2. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah secra fisiologis adalah karena istirahat, perubahan sikap, kerja otot dan pengaruh berfikir, inspirasi dan ekspirasi yang kuat. 3. Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara diantaranya yaitu jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya, arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, dan bertambahnya cairan dalam sirkulasi. 5.2 Saran Sebaiknya bagian praktikum melengkapi alat-alat laboratorium yang akan digunakan.

DAFTAR PUSAKA F. ganong, William. 2001. Review of Medical Pghysiology. Lange Medical Books: New York. Guyton and Hall. 2007. Fisiologi kedokteran. EGC : Jakarta. Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Mnusia dari Sel ke Ssitem. EGC : jakarta. Healthwise. 2007. High Blood Pressure (Hypertension) http://blstc.msn.com, diakses pada tanggal 19 Nopember 2008. University of Pittsburgh Medical Center . 2004. Blood Pressure. UPMC: USA. www.upmc.com, diakses pada tanggal 19 Nopember 2008. Singgih, Amin. 2008. Pembakuan Pengukuran Tekanan Darah. http://do.qwertyy.cn/do.htm, diakses pada tanggal 19 Nopember 2008. Wikipedia, the free encyclopedia. 2008. Blood Pressure . http://en.wikipedia.org, diakses pada tanggal 19 Nopember 2008. Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. 2008. Pemeriksaan Fisik http://id.wikipedia.org, diakses pada tanggal 19 Nopember 2008.

Diposkan oleh waode nurmila di 19:57 Label: laporan fisiologi


3 komentar: RIDWAN STIKA mengatakan...

boleh ga' kenalan ^_^. oh iya nich q kasiin alamat blogQ http://ridwanstika.blogspot.com http://ridwanaswar1.wordpress.com
3 Juni 2009 05:10

doank_dic mengatakan...

hallo,,, artikel nya bagus,,,


30 November 2009 23:29 rahmah mengatakan...

Ass.Wr.Wb. Selamat Sore, Hanya ingin berbagi info, senang rasanya kalau orang lain juga memperoleh solusi yang efektif dan aman serta terbebas dari masalah kesehatan. Setelah membaca banyak artikel mengenai Propolis saya semakin yakin bahwa Insya Allah Propolis bisa membantu penyembuhan segala macam penyakit (luar dalam). Propolis memiliki kandungan yang berfungsi sebagai: 1. Antibiotika Alami (Anti infeksi, antimicrobial seperti virus, bakteri dan jamur) 2. Anti Radang 3. Anti Alergi 4. Meningkatkan Imunitas / Kekebalan Tubuh 5. Anti Oksidan (mencegah kanker dan membunuh sel kanker) 6. Nutrisi (memperbaiki sel tubuh) 7. Detoksifikasi (Pembuangan racun dari dalam tubuh) Telah disebutkan dalam Q.S. AN NAHL : Ayat. 68 & 69 "..Keluarlah dari perut lebah syaraabun (cairan) beraneka warna, dan padanya penyembuhan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu menjadi tanda bagi kaum yang memikirkan." Informasi mengenai propolis kunjungi obatpropolis.com Semoga bermanfaat. InsyaAllah. Wslm.Wr.Wb. Rahmah
19 Desember 2009 05:16

Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Facebook Badge
Waode Nurmila's Profile

Create Your Badge

Pengikut kata Orang BiJAk...^-^ About Me

waode nurmila cengeng.. kurang bisa kontrol ekspresi emosi.. klo sedang marah pasti ketauan dari ekspresinya.. suka warna hijau karena Hijau merupakan salah satu dari tiga warna primer additif selain merah dan biru, dan merupakan komplemen dari magenta. Hijau menyejukan, secara tidak sadar warna yang banyak dijumpai pada daun-daun ini mengurangi stress. (ngutip dari wikipedia.. he,he,he,...) sayang mama papa.. nd'suka menunggu... nd' nyaman disamping orang yang memiliki locus of control eksternal(hehehe mentang-mentang dah dapat kuliah psikologi umum) soalnya orang orang yang kayak gitu buat cape' dan kesal.. Minta bantuan melulu dan mila paling nd' suka ada yang minta tolong padahal mereka sendiri juga bisa.. Nd' suka dibanding-bandingkan...:) dan yang paling penting... MILA IS THE LUCKY ONE Lihat profil lengkapku

tingalkan pesan...
<a href="http://www5.shoutmix.com/?milaimut">View shoutbox</a> ShoutMix chat widget at widget at ShoutMix!">ShoutMix chat widget

dah berapa yang liyat...


Free Counter

holistic vs ascaris
Glitterfy.com - Photo Flipbooks

memori in JuBel

spentig
Glitterfy.com - Photo Flipbooks

imyutnya........

Glitterfy.com - Photo Flipbooks

ingat waktu... kalender Blog Archive


2011 (5) 2010 (4) 2009 (40) 2008 (16) o Desember (6)

laporan fisiologi RKP laporan fisiologi pemeriksaan fisik jantung laporan fisiologi harvard laporan fisiologi tekanan darah arteri laporan fisiologi spirometri met idul adha.. November (10)

go to...

ana ayoe dila,ifah,ani,maftuhah edi ela fatma fery firah haje' harlina ibon inna lia musda nuni pinky qalby rasma ridwan sary selvi serly sulfiani ugha ulfi uthie..

TransLate...

Glitter Text @ Glitterfy.com

Glitterfy.com - Glitter Graphics

Glitterfy.com - Glitter Graphics

Glitter Text @ Glitterfy.com

Free Music