Anda di halaman 1dari 2

Mengevaluasi Sistem Evaluasi Pendidikan Madrasiyah

Oleh: Ahmad Biyadi

Di Pondok Pesantren Sidogiri ada begitu banyak evaluasi yang dilakukan untuk mengukur dan menilai hasil pembelajaran, mulai dari pendidikan Madrasiyah hingga beberapa pendidikan Mahadiyah. Sistem yang diterapkan sangat beragam, misalnya tes tulis, tanya jawab, dan setoran hafalan. Pada pendidikan Madrasiyah ada tiga model pengevaluasian hasil KBM sesuai dengan bidang yang ingin dievaluasi. Tiga model evaluasi tersebut sudah berjalan dengan baik, hanya saja ada beberapa hal yang masih butuh perbaikan. Tiga model evaluasi tersebut adalah: 1. Ujian materi pelajaran Untuk mengevaluasi pemahaman murid terhadap materi pelajaran dilaksanakanlah ujian tulis yang dikenal dengan IMDA (Imtihan Dauri). IMDA ini dilaksanakan tri wulan untuk tingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah, per semester untuk tingkat Aliyah, dan dua kali dalam satu semester untuk tingkat Istidadiyah. Yang menjadi materi ujian ini adalah semua mata pelajaran yang diajarkan di madrasah, kecuali beberapa materi yang bisa dipelajari sendiri, misalnya imla, dan pengetahuan tentang buku saku PPS. Hanya saja, bila dilihat secara utuh, pelaksanaan IMDA ini masih memiliki beberapa kendala, misalnya tingkat kesulitan soal yang diujikan masih belum mengarah pada tujuan institusional dan kesamaan bentuk soal pada semua materi ujian padahal tiap materi memiliki karakter yang berbeda, sehingga bentuk soalnya pun juga kadang harus berbeda. 2. Ujian baca kitab Untuk mengevaluasi kompetensi murid terhadap praktik baca kitab diadakanlah ujian baca kitab. Jumlah pelaksanaannya sama persis dengan IMDA di tiap tingkatan. Ujian baca kitab juga telah berjalan dengan sistem yang baik, meski ada kendala di beberapa bagian, misalnya standarisasi pengevaluasian agar ujian baca kitab tiap tahunnya memiliki objektivitas dan tingkat kesulitan yang sama, karena ujian baca kitab adalah evaluasi yang dijadikan acuan perbandingan dengan hasil nilai pada tahun-tahun sebelumnya, sehingga ujian ini harus standard an memiliki tingkat kesulitan yang sama di semua tahun. 3. Ujian muhafadzah Dan untuk mengevaluasi hafalan murid terhadap nadzam diadakan ujian muhafdzah nadzam. Jumlah pelaksanaannya juga sama persis dengan IMDA dan ujian baca kitab, kecuali di tingkat Aliyah yang memang tidak lagi menerapkan

ujian ini. Materi yang diujikan pada ujian muhafadzah ini adalah fan nahwu atau fan Ilal di tiap kelas. Sekali lagi, kendala pada ujian muhafadzah ini hampir sama dengan masalah yang terjadi pada ujian baca kitab, yaitu standarisasi evaluasi agar perbandingan nilai satu tahun pelajaran dengan tahun-tahun sebelumnya menjadi objektif. Meskitentu saja-ujian muhafadzah ini dapat lebih objektif dari ujian baca kitab, karena ujian muhafadzah ini bersifat setoran hafalan, sehingga tidak mudah terjadi subjektivitas di dalamnya. Hanya saja, terkadang terjadi beberapa hal yang masih perlu diperbaiki agar ujian ini menjadi kian objektif, yaitu aturan dan tata cara pengujian muhafadzah yang baku. Walhasil, meski telah memiliki sistem pengevaluasian yang termanajemen dengan baik, pendidikan di PPS masih menghadapai kendala-kendala yang perlu diperbaiki plus tidak adanya uji sinkronisasi evaluasi yang dilaksanakan dengan tujuan institusional madrasah dan tujuan institusional Pondok Pesantren Sidogiri. Bila hal tersebut dapat dilakukan, insya Allah pendidikan di PPS akan kian mencetak out put yang lebih berkualitas dan memiliki kemampuan yang kompeten, khususnya dalam keilmuan agama Islam. []