Anda di halaman 1dari 4

LONG LIFE EDUCATION IN ISLAM Seruan tentang proses pendidikan tanpa akhir yang diupayakan oleh siapapun, terutama

(sebagai tanggung jawab) negara. Sebagai sebuah upaya untuk meningkatkan kesadaran dan ilmu pengetahuan, pendidikan telah ada seiring dengan lahirnya peradaban manusia itu sendiri. Tak heran jika R.S. Peters dalam bukunya The Philosophy of Education menandaskan bahwa pada hakekatnya pendidikan tidak mengenal akhir, karena kualitas kehidupan manusia terus meningkat. Islam mengajarkan tentang pola belajar yang seharusnya diusahakan oleh manusia dalam sepanjang hayatnya (long life education). Mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan aktivitas kita sehari-hari hukumnya adalah wajib, sehingga Islam mendorong umatnya untuk menjadi umat yang cerdas dalam memandang kehidupan, problematika dan solusinya. Kadang-kadang kita lupa untuk apa sebenarnya kita menuntut ilmu, dan kita juga lupa apa hukumnya menuntut ilmu dalam agama Islam. Insya Allah tulisan ini bisa mengingatkan kembali dan akan menjadi patokan untuk kitamelanjutkan perjalanan dalam menuntut ilmu, baik ilmu dunia maupun dunia akherat. HUKUM MENUNTUT ILMU Apabila kita memperhatikan isi Al Quran dan Al Hadist, maka terdapatlah beberapa suruhan yang mewajibkan bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu agar mereka tergolong menjadi umat yang cerdas, jauh dari kabut kejahilan dan kebodohan. Menuntut ilmu artinya berusaha menghasilkan segala ilmu, baik dengan jalan bertanya, melihat atau mendengar Kewajiban menuntut ilmu terdapat dalam hadist Nabi Muhammad SAW, yang artinya: Menuntut ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. (HR. Ibn Abdulbari). Dari hadist ini kita memperoleh pengertian, bahwa Islam mewajibkan pemeluknya agar menjadi orang yang berilmu, berpengetahuan, mengetahui segala kemaslahatan dan jalan kemanfaatan, menyelami hakekat alam, dapat meninjau dan menganalisa segala pengalaman yang didapati oleh umat yang lalu, baik yang berhubungan dengan aqaid dan ibadat, baik yang berhubungan dengan soal-soal keduniawian dan segala kebutuhan hidup. Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya : Barang siapa menginginkan soalsoal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya, dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula, dan barang siapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki kedua-duanya pula. (HR. Bukhari dan Muslim) Islam mewajibkan kita menuntut ilmu-ilmu dunia yang member manfaat dan berguna untuk menutut kita dalam hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan kita di dunia, agar tiap-tiap muslim jangan picik, dan agar setiap muslim dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat membawa kemajuan bagi penghuni dunia ini dalam batas-batas yang di ridhai Allah SWT. Hukum wajibnya perintah menuntut ilmu itu adakalanya wajib ain dan adakalanya wajib khifayah. Ilmu yang wajib ain dipelajari oleh mukallaf yaitu yang perlu diketahui untuk meluruskan aqidah yang wajib dipercayai oleh seluruh muslimin dan yang perlu

diketahui untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang difardhukan atasnya, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Disamping itu perlu dipelajari ilmu akhlak untuk mengetahui adab sopan santun yang perlu kita laksanakan yang menjadi tonggak hidup. Sedangkan ilmu yang wajib khifayah hukum mempelajarinya, ialah ilmu-ilmu yang hanya menjadi pelengkap, misalnya ilmu tafsir, ilmu hadist dan sebagainya. MENUNTUT ILMU SEBAGAI IBADAT Dilihat dari segi ibadat, sungguh menuntut ilmu itu sangat tinggi nilai dan pahalanya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, yang artinya : Sungguh sekiranya engkau melangkahkan kakinya di waktu pagi (maupun petang), kemudian mempelajari dari satu ayat dari kitab Allah (Al Quran), maka pahalanya lebih baik daripada ibadat satu tahun. Dalam hadist lain dinyatakan, yang artinya : Barang siapa yang pergi menuntut ilmu, maka dia telah termasuk golongan sabilillah (orang yang menegakkan agama Allah) hingga ia sampai pulang kembali. Mengapa menuntut ilmu sangat tinggi nilainya dilihat dari segi ibadat? Karena amal ibadat yang tidak dilandasi dengan ilmu yang berhubungan dengan itu, akan sia-sialah amalnya. Syaikh Ibnu Ruslan dalam hal ini menyatakan, yang artinya : Siapa saja yang beramal (melaksanakan amal ibadat) tanpa ilmu, maka segala amalnya akan ditolak, yakni tidak diterima. DERAJAT ORANG YANG BERILMU Kewajiban yang harus ditunaikan apabila kita telah mempelajari dan memiliki ilmu adalah mengamalkan segala ilmu itu, sehingga menjadi ilmu yang bermanfaat, baik untuk diri kita sendiri maupun bagi orang lain. Agar bermanfaat bagi orang lain hendaknya ilmu-ilmu itu kita ajarkan kepada mereka. Mengajarkan ilmu-ilmu ialah memberi penerangan kepada mereka dengan uraian lesan, atau dengan melaksanakan sesuatu amal dihadapan mereka, atau dengan jalan menyusun dan mengarang bukubuku untuk dapat diambil manfaatnya. Sungguh tidak disangkal lagi, bahwa mengajar adalah suatu pekerjaan yang seutamautamanya. Nabi di utus kedunia ini pun dengan tugas mengajar, sebagaimana sabdanya, yang artinya : Aku diutus ini, untuk menjadi pengajar. (HR. Baihaqi) Sekiranya Allah tidak membangkitkan Rasul untuk menjadi guru manusia, guru dunia, tentulah manusia tinggal dalam kebodohan sepanjang masa. Walaupun akal dan otak manusia mungkin menghasilkan berbagai ilmu pengetahuan, namun masih ada juga hal-hal yang diluar akal manusia. Mengingat pentingnya penyebaran ilmu pengetahuan kepada manusia/masyarakat secara luas, agar mereka tidak dalam kebodohan dan kegelapan, maka diperlukan kesadaran bagi para mualim, guru dan ulama, untuk beringan tangan menuntun mereka menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Bagi ulama atau guru yang menyembunyikan ilmunya, mendapat ancaman sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, yang artinya : Barang siapa ditanya tentang suatu ilmu, kemudian menyembunyikan (tidak mau memberikan jawaban),

maka Allah akan mengekangkan (mulutnya), kelak di hari kiamat dengan kekangan (kendali) dari api neraka.(HR. Ahmad) Marilah kita menuntut ilmu, sesempat mungkin dengan tidak ada hentinya tanpa absen keliang kubur, dengan ikhlas dan tekad mengamalkan dan menyumbangkannya kepada masyarakat, agar kita semua dapat mengeyam hasil dari buahnya. Dari uraian di atas,saya tambah yakin dan mantap menjadi seorang guru.Kenapa tidak? Dengan menjadi seorang guru saya bisa memberikan ilmu yang saya peroleh semasa duduk di bangku perkuliahan kepada anak didik saya kelak.Menjadi seorang guru matematika yang berbeda dari yang lain. Maksudnya saya akan membuat pelajaran matematika menjadi pelajaran terfavorit bagi murid-murid saya. Saya berpikir kalau saja mereka saya beri materi tentang matematika dengan mencatat dan saya jelaskan sampai pelajaran usai pasti kemungkinan saya kehilangan murid karena kebanyakan sudah bermimpi keliling dunia, tetapi apabila diselingi dengan cerita-cerita inspiratif yang mampu memotivasi mereka,pastii akan lebih asyik dan bermanfaat. Seorang guru yang yang member kesan baik kepada muridnya pastilah lebih mengena di benak si murid. Sebagai contoh apabila si murid berfikir untuk ikut tawuran karena dia ingat cerita si guru bahwa kalau ikut tawuran itu matinya nggak enak, nggak ada yang peduli malah diinjak-injak,karena ngeri si murid tidak jadi ikut tawuran. Sebenarnya menjadi seorang guru bukanlah cita-cita saya. Dahulu, menurut saya pekerjaan guru itu membosankan, gajinya sedikit dan itu-itu saja, kuliahnya susah. Ternyata hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Menurut orang tua, budhe, bulek, pakdhe, om saya yang sejatinya seorang guru, selalu cerita bahwa menjadi seorang guru itu menyenangkan. Kata bulek,Wah, dadi guru kuwi penak,awet enom,ora mboseni,tingkahhe murid kadang aneh-aneh. Nah,berdasar pengalaman orang lain saya mengambil kesimpulan bahwa menjadi seorang guru menyenangkan. Hmmmm, kalau soal gaji yang sedikit tidak berlaku lagi di benak saya. Uang adalah sesuatu yang umum di muka bumi ini, siapapun mempunyai entah itu dalam jumlah sedikit atau pun banyak, jadi kalau hidup yang sebentar ini hanya untuk mencari uang sangatlah rugi kita ini. Uang bisa di cari kalau kita mempunyai ilmu,semakin berilmu dan berusaha keras serta berdoa, seperti layaknya udara yang kita hirup, uang akan datang. Sedangkan apabila kita punya uang bila tidak berilmu, habislah uang itu dengan siasia.Dengan uang tidak menjadikan kita berilmu tetapi terkadang malah membuat gelap mata dan jatuh ke jurang korupsi. Wahh, sekalian nyinggung masalah korupsi di Indonesia ni. Sebenarnya para pejabat itu berpendidikan dan berilmu tetapi kenapa harus membodohi rakyat dengan aksi korupsinya. Tidak salah lagi,itu salah satu contoh bagaimana suatu ilmu yang sebenarnya baik dan berguna untuk sesama menjadi sesuatu yang menjauhkan dari Allah. Ilmu yang dimiliki seseorang bila tidak didampingi dengan rasa keimanan yang kuat kepada Allah menjadai ilmu yang sia-sia. Menjadi seorang guru juga bukan sesuatu yang mudah dan instan. Perlu adanya proses perkuliahan yang cukup panjang dan membuat frustasi. Bangku perkuliahan tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Bila melihat sinetron-sinetron di Indonesia kan ada tu yang setting nya di kampus, ceritanya jadi mahasiswa gitu. Dalam angan saya ya kuliah itu seperti itu, dikampus tas nya kecil,bercanda sama teman, bebas mau ngapain aja,ternyata hal itu sirna ketika saya masuk fakultas keguruan. Banner tidak boleh menggunakan kaos oblong dan celana jeans sempat membuat syok. Apa-apaan masak nggak bolehh pakai jeans, apa

harus pakai rok, jaadul banget. Seiring berjalannya waktu, saya paham bahwa seorangg cewek bila memakai rok itu akan lebih terlihat feminim, sopan, dan sesuai karakter fkip (berkarakter kuat dan cerdas). Materi dalam perkuliahan juga cukup sulit, bagi saya yang baru masa peralihan SMA ke universitas agak sulit untuk mengubah karakter bahwa segala sesuatu nya itu kita mendapatkan tidak perlu mencari. Di universitas apa-apa harus mencari sendiri, harus aktif dan mandiri. Saya ingat, belajar bagi seseorang itu tidak terus berhenti setelah menyelesaikan studinya, seteleh menjadi guru pun harus tetap belajar. Belajar itu tidak harus berada di bangku studi, di manapun dan di kapanpun kita bisa mengambil pelajaran. Kelak saat menjadi guru tidak boleh malu untuk mengakui bahwa kita dapat belajar dari anak didik. Tidak mesti harus dari orang yang lebih tua kita memperoleh pelajaran berharga, malahan dari yang lebih muda pun kita bisa mendapatkannya. Menjadi seorang guru adalah tugas yang mulia. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, slogan tersebut masih berlaku buat saya. Karena tidak mungkin ada dokter, insinyur, pejabat tinggi, hakim, dan tentu saja presiden bila tidak ada guru. Setelah mereka-mereka sukses apakah seorang guru meminta royalty atas apa yang telah di berikannya. Jawabannya Tidak!!!Gurulah yang mengangkat derajad bangsa ini bukanlah presiden, DPR, ataupun MPR. Menjadi seorang guru yang memberikan ilmu kepada orang lain dan menuntut ilmu tidak berhenti ketika sudah dinyatakan pensiun. Ibarat sampai ke liang kubur pun masih menuntut ilmu. Semua yang kita ajarkan masih berguna bagi orang lain di dunia maupun akhirat dan akan terus diajarkan ke anaknya, lalu cucunya, kemudian cicitnya begitu seterusnya. Begitu juga ilmu yang saya peroleh semasa hidup di alam fana ini untuk generasi ke generasi akan terus berguna dan bermanfaat untungnya lagi apabila ilmu tersebut di sempurnakan menjadi ilmu yang menuntun kita ke tempat dimana kita bisa mencium wanginya bau surga.AMIN