Anda di halaman 1dari 61

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Di zaman yang serba canggih seperti sekarang ini, banyak sekali perusahaan yang memproduksi suatu produk dalam jumlah yang besar sehingga menggunakan suatu mesin-mesin yang canggih seperti mesin bubut, mesin freis, mesin drill, mesin gerinda, AC dan lain-lain. Dengan berkembangnya teknologi secara pesat dalam bidang industri maka perawatan terhadap peralatan produksi secara sadar dinilai sangat penting yang berfungsi untuk menjaga agar mesin dapat bekerja secara optimal pada saat menghasilkan suatu produk baik secara kualitas maupun kuantitas dalam jangka waktu yang lebih lama. Perawatan terhadap peralatan produksi tersebut dapat dilakukan secara berkala atau rutin. Pada permulaan tumbuhnya industri, perawatan terhadap peralatan produksi biasanya baru mendapat perhatian setelah pada peralatan tersebut mengalami kerusakan, karena tidak pernah mendapat perhatian yang layak. Beberapa kerusakan pada perlatan produksi tidak hanya berakibat terhentinya sebagian alat produksi tetapi seluruh peralatan produksi lainnya akan ikut terhenti. Dengan meningkatnya persaingan yang cukup ketat dalam bidang industri, jelas perhatian akan ditujukan kepada hal-hal yang menyangkut usaha-usaha untuk dapat meningkatkan produktivitas, meningkatkan kualitas dan menurunkan biaya operasi produksi dengan segala cara yang mungkin. Untuk itu, mahasiswa khususnya teknik mesin universitas riau dituntut dapat melakukan perawatan terhadap mesin dalam menghadapi tantangan di dunia industri nantinya. Selain itu, sebuah perusahaan memerlukan tenaga kerja yang mempunyai keahlian dalam bidang perawatan (maintenance) karena dapat merawat suatu mesin untuk bekerja lebih baik dan lebih lama.

1.2 Tujuan Adapun tujuan dilaksanakannya praktikum perawatan II diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Agar mahasiswa mengetahui prinsip dasar perpindahan kalor. 2. Agar mahasiswa mengetahui siklus refrigerasi. 3. Agar mahasiswa fungsi dari tiga jenis kontrol aliran. 4. Agar mahasiswa megetahui dan memahami penggunaan penerapan dari tiga jenis kontrol aliran yaitu TEV (Thermostatic expansion valve), pipa kapiler, AEV (Automatic Expansion valve).

1.3

Manfaat Adapun manfaat yang diperoleh setelah melaksanakan praktikum

perawatan II adalah sebagai berikut : 1. Mahasiswa dapat mengetahui cara perawatan yang baik dan benar agar AC dapat digunakan seperti semula. 2. Mahasiswa dapat mengetahui bagian-.bagian pada AC window yang perlu mendapat perawatan dan perbaikan. 3. Mahasiswa dapat mengetahui peralatan dan bahan yang digunakan dalam perawatan dan perbaikan. 4. Mahasiswa dapat menambah keahlian dibidang perawatan dan perbaikan AC di industri nantinya.

1.4

Sistematika Penulisan Sistematika penulisan laporan praktikum perawatan II adalah sebagai

berikut : Bab I Pendahuluan Bab I menjelaskan tentang latar belakang, tujuan, manfaat, dan sistematika penulisan. Bab II Teori Dasar Bab II membahas tentang teori teori yang telah dipelajari pada semester sebelumnya tentang mesin pendingin.

Bab III Alat dan Bahan Bab III membahas tentang alat dan bahan yang digunakan selama praktikum Perawatan II. Bab IV Prosedur Kerja Bab IV menjelaskan tentang langkah kerja yang dilalui selama praktikum Perawatan II. Bab V Pembahasan Bab V ini berisi pembahasan dan analisa pada praktikum Perawatan II yang di lakukan pengujian. Bab VI Kesimpulan dan Saran Bab VI menjelaskan tentang kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum dan saran dari penulis untuk praktikum yang akan datang.

BAB II TEORI DASAR

2.1 Pengertian Mesin Pendingin Mesin Pendingin adalah suatu peralatan yang digunakan untuk mendinginkan air, atau peralatan yang berfungsi untuk memindahkan panas dari suatu tempat yang temperaturnya lebih tinggi. Di dalam sistem pendinginan dalam menjaga temperatur rendah memerlukan pembuangan kalor dari produk pada temperatur rendah ke tempat pembuangan kalor yang lebih tinggi.

2.2 Prinsip Kerja Mesin Pendingin 2.2.1 Kerja Bahan Pendingin ( Refrigerant) Bahan pendingin akan ditekan keluar kompresor berupa uap super panas (superheat) yang memiliki tekanan dan temperatur tinggi, kemudian kalornya akan dibuang ke udara lingkungan melalui kondesor, sehingga refrigerant berubah menjadi cair jenuh dan kemudian mengalir melalui pipa kapiler (alat ekspansi) sehingga tekanan dan temperaturnya turun dan memasuki evaporator. Di evaporator refrigerant cair yang tekanannya dan temperaturnya rendah tadi akan diuapkan kembali dengan menyerap kalor dari lingkungan yang bertemperatur lebih tinggi. Dari evaporator uap refrigerant akan masuk lagi ke kompresor sehingga terjadi siklus ke kompresor.

2.2.2 Kerja aliran udara yang dapat dibagi dua bagian : 1. Bagian muka atau bagian yang dingin (indoor). 2. Bagian belakang atau bagian yang panas (outdoor). Biasanya terdiri dari fan motor, roda blower (blower wheel centrifugal type), daun kipas (fan blade, propeller type), damper, penutup AC bagian depan (decorACtive front grill), saringan udara (air filter).

2.2.3 Kerja Alat-Alat Listrik Yang Dapat Dibagi Dua Bagian : 1. Fan motor dan kompresor motor. 2. Alat-alat pengaman dan pengatur. Pada setiap sistem refrigerasi selalu dilengkapi dengan electric circuit, yang dapat dijadikan acuan jika terjadi gangguan kelistrikan. Biasanya terdiri dari kabel listrik, selector switch, fan motor, pengatur suhu (temperature control / thermostat), de ice control (evaporator defrost contor), compressor overload motor protector, run capasitor, start capasitor, starting relay, motor compressor, reactor untuk membatasi besarnya starting amper dari motor, starting amper bias 3-4 kali dari FLA (Full Load Ampere).

2.3 Proses Pendinginan 2.3.1 Proses Dasar Terjadinya Dingin Dingin merupakan hasil yang diciptakan oleh mesin pendingin terutama kulkas dan freezer. Sedangkan AC lebih ke keadaan sejuk. Proses terjadinya pendinginan yang diciptakan oleh mesin pendingin sebenarnya merupakan tiruan terjadinya dingin yang disebabkan oleh alam. Dan dingin sebenarnya merupakan suatu proses penguapan karena adanya panas akan menimbulkan udara dingin disekitarnya. Dingin terjadi karena adanya penguapan, dan penguapan berlangsung karena adanya panas.

2.3.2 Terjadinya Dingin Pada Ruang Mesin Proses dingin di dalam mesin pendingin karena adanya pemindahan panas. Setiap mesin pendingin mampu menghasilkan suhu dingin dengan cara menyerap panas dari udara yang ada dalam ruang pada mesin pendingin itu sendiri. Bahan yang digunakan untuk menghasilkan penguapan yang begitu cepat sehingga mampu menghasilkan udara dingin. Biasanya untuk keperluan ini digunakan gas Freon. Gas ini dalam sistem pendinginan memiliki bentuk yang berubah-ubah, yaitu dari bentuk cairan menjadi bentuk gas (uap). Pada kompresor, gas yang telah berubah menjadi uap tadi takanan dan panasnya dinaikkan untuk selanjutnya uap panas yan berasal dari gas itu diturunkan atau

didinginkan pada bagian kondensor sampai membentuk cairan. Kemudian sesampainya pada evaporator cairan itu diturunkan tekanannya sehingga menguap dan menyerap panas yang ada di sekitarnya. Kemudian dalam bentuk uap refrigerant tadi dihisap kembali oleh bagian kompresor dan dikeluarkan lagi seperti semula. Proses seperti ini berlangsung secara berulang. Dalam sistem mesin pendingin jumlah refrigerant yang digunakan adalah tetap, yang berubah adalah bentuknya karena adanya proses seperti diatas.

2.4 Jenis-Jenis Mesin Pendingin Dari berbagai mesin pendingin yang ada serta di tinjau dari segi kegunaan dan fungsinya, di kenal 4 macam mesin pendingin antara lain : 1. Refrigerant Jenis ini lebih di kenal dengan sebutan kulkas atau lemari es. Tipe dan kapasitasnya bermacam macam, dan umumnya di gunakan untuk rumah tangga. Fungsinya tidak lain adalah untuk mendinginkan minuman, mengawetkan bahan makanan seperti sayur sayuran, daging, ikan laut dan lain lain.Untuk kapasitas besar dapat digunakan untuk es batu. 2. Freezer Jenis yang satu ini tidak berbeda dengan kulkas atau lemari es, hanya saja kapasitasnya jauh lebih besar.Sebab umumnya digunakan oleh perusahaan-peurusahaan pembuat es maupun untuk penyimpan bahan makanan dalam jumlah banyak. 3. Air Conditioner (AC) Pada waktu yang lalu peralatan penghasil ruangan sejuk yang dinamakan AC ini masih tergolong barang mewah dan hanya gedunggedung tinggi saja yang mempergunakanya seperti kantor-kantor, gedunggedung pemerintahan, hotel-hotel maupun restaurant-restaurant besar .Tetapi sejak pabrik-pabrik penghasil AC mulai berlomba dengan produknya, dan mengeluarkan berbagai tipe untuk berbagai keperluan, seperti untuk mobil, untuk ruangan kamar rumah dan sebagainya dan dengan harga yang bersaing, sejak itu AC menjadi barang umum dan kian

memasyarakat. Sehingga tidak hanya gedunggedung saja melainkan ruangan dalam kamar. 4. Kipas Angin Walaupun pada dasarnya peralatan yang satu ini tidak

menghasilkan udara atau suhu yang dingin sebagaimanan kulkas atau AC, tetapi karena putaran kipas dan sistem kerjanya mirip dengan kerja dari kedua peralatan di atas, maka kipas dan sistem kerjanya mirip dengan kedua peralatan di atas, maka kipas angin salah satu dari mesin pendingin.

2.5 Komponen Mesin Pendingin Sistem pendinginan ini terdiri dari beberapa alat utama yang pokok untuk dapat terjadinya proses kompresi uap, yaitu : 1. Kompresor, berfungsi untuk menaikkan tekanan refrigerant. 2. Kondensor berfungsi mendinginkan atau mengembunkan refrigerant berarti terjadi panas yang dibuang di dalam kondensor. 3. Katup ekspansi, berfungsi untuk mengeskpansikan refrigerant secara entalpi konstan dan tidak ada panas yang diserap maaupun dibuang pada proses ekspansi untuk menurunkan tekanan refrigerant. 4. Evaporator, berfungsi untuk memanaskan atau menguapkan refrigerant, berarti ada panas yang diserap oleh refrigerant sehingga terjadi efek pendinginan pada lingkungan sekitarnya. Untuk mengetahui kemampuan mesin pendingin maka digunakan koefisien performansi (Coefficient of Performance, COP), yang dimaksud dengan COP adalah perbandingan antara efek pendinginan dan kerja yang dilakukan oleh kompresor.

2.6 Aliran Bahan Pendingin Jika kompresor sedang bekerja, maka refrigerant akan mengalir ke semua bagian sistem refrigerasi sambil berubah-ubah bentuknya dari superheat menjadi cair jenuh dengan demikian tekanan dan temperaturnya ikut berubah-ubah, sehingga akan terjadi siklus refrigerasi dari tekanan tinggi ke tekanan rendah.

1. Aliran bahan pendingin AC Window

Gambar 2.1 Aliran Bahan Pendingin AC Window

2. Aliran bahan pendingin sistem Lemari Es

Gambar 2.2 Aliran Bahan Pendingin Sistem Lemari Es

Keterangan gambar 2.2 : 1. Kompresor 2. Kondesor 3. Pengering 4. Pipa Kapiler 5. Evaporator 3. Aliran bahan pendingin freezer 6. Akumulator 7. Saluran hisap 8. Kondesor pendingin minyak 9. Pipa pendingin minyak

Gambar 2.3 Aliran Bahan Pendingin Freezer

Keterangan gambar 2.3: 1. Kompresor 2. Kondesor 3. Pengering 4. Pipa Kapiler 4. Aliran bahan pendingin pada AC mobil 5. Rak freezer/evaporator 6. Akumulator 7. Saluran hisap

Gambar 2.4 Aliran Bahan Pendingin Pada Ac Mobil

5. Aliran udara dari AC Window

Gambar 2.5 Aliran Udara Dari AC Window

10

Keterangan gambar 2.5: 1. Evaporator 2. Roda Blower 3. Fan motor 4. Daun kipas 5. Kondesor 6.Lubang-lubang tempat udara keluar masuk ke dalam AC Window 7.Damper

Gambar 2.6 Sirkulasi Udara Potongan Melintang Dari AC Window

2.7 Diagram Mollier Diagram Mollier menunjukkan karakteristik dari refrigerant, yang menyatakan hubungan antara tekanan (P) pada ordinat dan entalpi (h) pada absis dari siklus refrigerasi, diagram tersebut juga dinamai diagram tekanan-entalpi atau diagram P-h. Diagram mollier dan siklus refrigerasi (perubahan tingkat keadaan refrigerant) dapat dilihat pada gambar 2.7.

11

Gambar 2.7 Diagram Mollier

2.8 Mengisi Bahan Pendingin Yang perlu diingat untuk pengisian bahan pendingin yaitu Jangan mengisikan refrigerant cair kedalam sistem pada sistem tekanan rendah atau (vapour line) atau tekanan tinggi (discharge line) dari kompresor, keduanya dapat merusak kompresor. Cara mengisi refrigerant ada 3 macam : 1. Berdasarkan berat Mengisi berdasarkan dengan jumlah bahan pendingin sesuai dengan name plate dari sistem refigerasi yang ada. Alat-alat yang digunakan : charging manifold, slang isi, timbangan, refrigerant, tang amper, pinch-off tool, thermometer dan alat-alat lain yang diperlukan.

12

Gambar 2.8 Mengisi Ac Berdasarkan Berat, Dengan Timbangan

Keterangan gambar 2.8: 1. Saringan 2. Process tube 3. Pompa vakum

2. Berdasarkan Suhu dan Tekanan Jika tidak diketahui jumlah berat bahan pendingin yang harus diisikan, maka dapat diisi dengan membandingkan suhu dan tekanan dari sistem tersebut, biasanya batas-batas suhu dan tekanan sudah diketahui sebelumnya sesuai dengan jenis refrigerannya.

13

Gambar 2.9 Pengisi Ac Berdasarkan Suhu Dan Tekanan

Keterangan gambar 2.9: 1. Process tube, sisi tekanan tinggi 2. Processtube sisi tekanan rendah 3. Manifold 4. Tabung Refrigerant 5. Thermometer 3. Berdasrkan frost line Pengisisan dilakukan pada suhu kamar, evaporator harus ditutup atau diberi penghalang agar tidak mendapat aliran udara dari blower atau roda blowernya dilepas saat pengisian, tetapi fan blade dari kondesor jangan dilepas. Dimana saat pengisian nantinya akan timbul bunga es (frost) mulai dari evaporator inlet, pengisian terus dilakukan sedikitsedikit sampai kondesor panasnya merata dan evaporator seluruhnya tertutup bunga es, pengisian dihentikan jika evaporator seluruhnya telah tertutup bunga es sebagai suction line.

14

2.9 Beberapa Defenisi Pada Mesin Pendingin 1. Heat adalah salah satu bentuk energi yang tidak terlihat, namun efeknya dapat dirasakan dan kuantitasnya dapat diukur. 2. Thermometer hanya mengukur tingkatan kalor (level of heat), tidak kuantitasnya. 3. Kalor selalu mengalir dari panas ke dingin (hot to cold), laju aliran kalor ditentukan dari perbedaaan temperatur. 4. Panas dan dingin adalah tingkatan yang dapat dibandingkan, zat yang dingin masih mengandung panas yang masih dapat dipindahkan. 5. Refrigerasi adalah proses pemindahan/pengambilan panas (removing of heat). 6. Zat dapat memiliki tiga tingkat keadaan (states) : solid, liquid, vapour. Contohnya : es, air, uap 7. Sensibel heat adalah jumlah kalor disebabkan karena adanya beda temperatur. 8. Latent heat adalah jumlah kalor yang dibutuhkan untuk terjadinya perubahan tingkat keadaan atau fasa (change of states or phase). Tidak ada perubahan temperatur selama proses ini. 9. Boiling poin adalah temperatur dimana cairan mulai mendidih. Titik didih ditentukan oleh tekanan pada permukaan cairan. Contohnya : Air pada tangki yang terbuka pada tekanan atmosfir (sea level), mendidih pada 100 0C. Pada tekanan terukur (gauge pressure) 1 bar, air mendidih pada 1200C. 10. Saturation temperature adalah kondisi dimana baik cairan maupun uap mempunyai temperatur yang sama, pada tekanan tertentu. Secara sederhana dapat dikatakan temperatur saturasi adalah titik didih dari cairan dan titik kondisi dari uap. 11. Super heat adalah keadaaan dimana kalor sensibel diserap oleh uap untuk menaikkan temperatur pendidihan (boiling/saturation). 12. Sub cooled liquid adalah keadaan dimana cairan didinginkan di bawah temperatur kondensasi (saturasi).

15

13. Evaporation adalah suatu proses dimana cairan menyerap kalor, sehingga berubah jadi uap (liquid to vapour). 14. Condensation adalah suatu proses dimana uap membuang kalornya, sehingga berubah menjadi cairan (vapour to liquid). 15. Pengukuran kalor : Sistem metric : Kcal. Yaitu jumlah kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan atau menurunkan massa 1 kg air sebesar 10C SI unit : joule 1 Kcal = 4,187 KJ

16

BAB III ALAT DAN BAHAN

3.1 Alat Alat yang digunakan pada proses Praktikum Perawatan II pada mesin HRP Focus 801 adalah sebagai berikut : 1. Sensor thermo couple Thermometer berfungsi mengukur temperature pada evaporator.

Gambar 3.1 Sensor Thermo Couple

2. Thermometer lingkungan Thermometer lingkungan berfungsi mengukur temperature

lingkungan ada sekitarnya.

17

Gambar 3.2 Thermometer Lingkungan

3. Pressure gauge dan compound gauge Alat ini digunakan untuk mengukur tekanan dan temparatur pada siklus refrigerasi.

Gambar 3.3 Compound Gauge Dan Pressure Gauge

18

3.2 Bahan Bahan yang digunakan pada proses Praktikum Perawatan II pada mesin HRP Focus 801 adalah sebagai berikut : 1. Karton Karton digunakan sebagai penghambat aliran panas konveksi pada saat percobaan.

Gambar 3.4 Karton

2. Isolasi Isolasi digunakan untuk melekatkan ujung kabel thermometer ke inlet dan outlet evaporator.

Gambar 3.6 Isolasi 19

BAB IV PROSEDUR KERJA

4.1 Prosedur Pengujian AC HRP Fokus-801 4.1.1 Fundamental Refrigerant ( Percobaan I ) Pada percobaan ini menggunakan katup ekspansi A.E.V dengan prosedur pengerjaan sebagai berikut : 1. Dua unit termometer ditempatkan pada evaporator inlet dan outlet dan diisolasi dengan isolasi kertas. 2. Katup AEV dipilih sebagai flow kontrol aliran (katup ekspansi lain dalam keadaan tertutup) setelah katup ke kondensor dalam keadaan terbuka, kemudian mesin dihidupkan. 3. Tekanan katup A.E.V diatur hingga tekanan 8 bar.

4. Mesin dibiarkan berjalan 15 menit sampai kondisi mesin dan tekanan stabil. 5. Kondisi refrigrant diamati dan dicatat kondisinya. 6. Data diambil setiap 15 menit sekali dengan mengatur katup A.E.V pada tekanan 0,6 dan 1 bar.

4.1.2

Siklus Refrigerant ( Percobaan II ) Pada percobaan ini menggunakan katup ekspansi T.E.V dengan prosedur

pengerjaan sebagai berikut : 1. Katup T.E.V dipilih Sebagai flow control, periksa katup aliran dari kondensor dalam terbuka lalu mesin dihidupkan. 2. Sensor thermo couple diletakkan dan diisolasi pada pipa evaporator inlet dan outlet. 3. Sensor thermo couple diletakkan pada pipa kondensor inlet dan outlet.

20

4. Katup dipilih T.E.V (Thermostatic Expantion Valve) sebagai control aliran (katup expansi lain dalam keadaan tertutup), katup aliran setelah kondesor harus dalam keadan terbuka. 5. Mesin dihidupkan dengan memutar tombol switch on/off mesin keposisi on. 6. Mesin dibiarkan berjalan sampai lebih kurang 15 menit atau sampai kondisi mesin dan tekanan stabil. 7. Mesin diperhatikan hal dan fenomena apa saja yang terjadi. 8. Perubahan kondisi pada mesin dicatat setiap 10 menit sebanyak 3 kali. 9. Setelah selesai tombol switch on/off mesin diputar keposisi off.

4.1.3

Flow Kontrol (Percobaan IV) Pada percobaan ini menggunakan katup flow control dengan prosedur

pengerjaanya sebagai berikut : 1. Pipa kapiler dipilih sebagai flow kontrol, katup aliran dari kondensor diperiksa (dalam keadaan dihidupkan. 2. Sensor thermometer diletakkan dan diisolasi pada evaporator inlet dan outlet. 3. Mesin dihidupkan dengan memutar tombol swich on/off mesin keposisi on. 4. Pada percobaan ini dilakukan pengamatan dan pencatatan temperatur lingkungan, penunjukan angka pressure gauge, penunjukan angka compound gauge, waktu pengambilan data. 5. Setelah percobaan selesai dilakukan, mesin dimatikan dengan memutar tombol swich on/off mesin keposisi off. terbuka) lalu mesin

4.1.4

Katup Automatic Expansion Valve ( Percobaan IV ) Pada percobaan ini menggunakan katup Automatic Expansion Valve

dengan prosedur kerjanya adalah sebagai berikut :

21

1. Pilih katup A.E.V sebagai flow control dan periksa katup aliran dari kondensor (dalam terbuka). 2. Sensor thermo couple diletakkan pada pipa evaporator inlet dan outlet dan diisolasi. 3. Mesin dihidupkan dengan memutar tombol switch on/off keposisi on. 4. Mesin dibiarkan berjalan sampai lebih kurang 15 menit atau sampai kondisi mesin dan tekanan stabil. 5. Mesin diamati dan dicatat temperatur lingkungannya, penunjukan angka pressure gauge, penunjukan angka compound, dan waktu pengambilan data. 6. Perubahan kondisi pada mesin dicatat setiap 3 menit sebanyak 6 kali. 7. Setelah selesai kemudian mesin dimatikan dengan memutar tombol switch on/off keposisi off.

4.1.5 Katup Ekspansi Termostatik ( Percobaan V ) Pada percobaan ini menggunakan Katup Ekspansi Termostatik ( T.E.V ) dengan prosedur kerjanya sebagai berikut : 1. Katup T.E.V dipilih sebagai flow control, aliran dari kondensor diperiksa (dalam keadaan terbuka) lalu mesin dihidupkan dengan memutar tombol switch on/off mesin keposisi on. 2. Pengamatan pertama yang dilakukan yaitu : a) Pengamatan terjadinya kelebihan cair jenuh diluar tabung sensor T.E.V pada evaporator outlet. b) Saat liquid mendinginkan tabung, aliran cairan berkurang. c) Saat superheated vapour menghangatkan tabung, aliran liquid meningkat. 3. Variasi dicatat dari aliran liquid dan compound gauge sebagai katup pengatur. 4. Unit dibiarkan hingga mesin mencapai kondisi stabil dan

memperhatikan cairan yang mendidih disepanjang evaporator, dan katup T.E.V menjaga superheat mendekati constant.

22

5. Setelah pengamatan dan pengambilan data selesai dilakukan, mesin dimatikan dengan memutar tombol switch on/off mesin keposisi off.

4.1.6 The Heat Exchanger ( Percobaan VI ) Pada percobaan ini menggunakan prosedur kerja sebagai berikut : 1. Katup T.E.V dipilih sebagai flow control dan mengatur superheat 4C. 2. Mesin dihidupkan hingga kondisi stabil selama 15-20 menit 3. Sensor thermometer dipasang pada suction inlet ke HE, suction outlet dari H.E, Liquid inlet ke H.E, Liquid Outlet dari H.E. 4. Mesin diamati dan dicatat data beserta fenomena-fenomena yang terjadi pada mesin HRP Focus 801. 5. Katup T.E.V diputar hingga temperatur superheat 6C dan fenomena dan data percobaan mesin dicatat kembali. 6. Setelah selesai, mesin dimatikan dengan memutar tombol switch on/off mesin keposisi off.

4.1.7 Presure Switch ( Percobaan VII ) Pada percobaan pressure switch menggunakan prosedur kerja sebagai berikut : 1. Mesin dihidupkan dengan memutar tombol switch on/off mesin keposisi on. 2. Presure swicth diatur untuk cut in pada 1,8 bar dan cut out pada 0,2 bar. 3. Pressure high switch diatur pada cut out 14 bar dan cut in pada 10,5 bar. 4. Untuk menyetel low presure switch seluruh katup ditutup. 5. Pada shuft-off valve dibuka sedikit demi sedikit sebelum T.E.V agar tekanan naik perlahan dan mencatatat setiap cut-in presure. 6. Setelah data didapat mesin dimatikan dengan memutar tombol switch on/off mesin keposisi off.

23

4.1.8 Excessive Discharge Pressure ( Percobaan VIII ) Pada percobaan Excessive Discharge Pressure menggunakan prosedur kerja sebagai berikut : 1. Mesin dihidupkan dengan memutar tombol switch on/off mesin keposisi on. 2. Mesin dibiarkan beberapa saat hingga kondisi stabil dan memeilih T.E.V sebagai flow control. 3. Katup T.E.V diputar hingga suhu superheat 6 C. 4. Seluruh data dan fenomena dicatat pada superheat, temperatur lingkungan, temperatur kondensasi, pressure gauge, temperature difeference. 5. Karton diletakkan didepan kondensor. 6. Kondisi kenaikan discharge presure diamati. 7. Setelah selesai mesin dimatikan dengan memutar tombol switch on/off mesin keposisi off.

24

BAB V PEMBAHASAN

5.1 Data Percobaan AC Training Unit HRP FOKUS-801 5.1.1 Data Percobaan I Fundamental Refrigerant Tabel 5.1.1 Data percobaan (Fundamental Refrigerant) selama selang waktu 3 dan 5 menit No Waktu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 18 21 24 27 30 33 38 43 48 53 58 63 Compound Gauge 0,3 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 Pressure Gauge 2,8 2,8 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 Temp. Evaporator T1 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 T2 27 27 28 27 27 27 28 28 28 28 28 28 DT 3 3 2 3 3 3 2 2 2 2 2 2 Temp. Lingkungan 29,5 29,9 29,8 29,2 29,3 29,4 29,5 30,2 30,3 29,9 29,1 29

25

1. Grafik Waktu Vs Compound Gauge

Waktu vs Compound Gauge


0.45 0.4 0.35 0.3 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 0 20 40 Waktu 60 80

Comp. Gauge

Series1

Gambar 5.1 Grafik Waktu Vs Compound Gauge

2. Grafik Waktu Vs Pressure

Waktu vs Pressure Gauge


2.92 2.9 Pressure Gauge 2.88 2.86 2.84 2.82 2.8 2.78 0 20 40 Waktu 60 80 Series1

Gambar 5.2 Grafik Waktu Vs Pressure 26

3. Grafik Waktu Vs T1

Waktu vs T1
35 30 25 T1 20 15 10 5 0 0 20 40 Waktu 60 80 Series1

Garfik 5.3 Grafik Waktu Vs T1

4. Grafik Waktu Vs T2

Waktu vs T2
28.2 28 27.8 T2 27.6 27.4 27.2 27 26.8 0 20 40 Waktu 60 80 Series1

Grafik 5.4 Grafik Waktu Vs T2

27

5. Grafik Waktu Vs DT

Waktu vs DT
3.5 3 2.5 DT 2 1.5 1 0.5 0 0 20 40 Waktu 60 80 Series1

Grafik 5.5 Grafik Waktu Vs DT

6. Grafik Waktu Vs T.Lingkungan

Waktu vs Temp. Lingkungan


30.4 30.2 T Lingkungan 30 29.8 29.6 29.4 29.2 29 28.8 0 20 40 Waktu 60 80 Series1

Gambar 5.6 Grafik Waktu Vs T.Lingkungan

28

7. Analisa Fundamental Refrigerant ( Percobaan I ) 1. Pada percobaan 1 terdapat perbedaan T2 dari urutan 1 sampai 6 dan 7 sampai 12 karena jarak waktu yang berbeda. 2. Pada percobaan 1 aliran fluida tidak mengalir pada evavorator diakibatkan katup ekspansi tidak terbuka (tertutup). 3. Pada compound pressure dari urutan 1 sampai 4 tidak konstan, sedangkan 7 sampai 12 selalu konstan diakibatkan perbedaan jarak waktu. 4. Tempratur pada thermometer yang dipasangkan pada evavorator inlet dan outlet memiliki jarak yang tidak konstan pada AT, akibat jarak waktu yang berbeda. 5. Tempratur lingkungan tidak konstan akibat panas yang diberikan dari beberapa jumlah manusia. 6. Compound gauge pada percobaan 1 berbeda dengan percobaan 3 karena katup yang dibuka berbeda.

5.1.2 Data Percobaan II Siklus Refrigerant Tabel 5.1.2 Data Percobaan II ( Siklus Refrigerant ) No Waktu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 18 21 24 27 30 33 38 43 48 53 58 63 Compound Gauge 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Pressure Gauge 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Temp. Evaporator T1 T2 DT 30 27 3 30 27 3 30 28 2 30 28 2 30 27 2 30 28 3 30 27 2 30 28 3 30 28 2 30 28 2 30 28 2 30 27 2 Temp. Lingkungan 29,9 29,6 29,7 29,6 29,7 29,8 29,2 29,3 29,4 29,5 29,4 29,1

29

1. Grafik Waktu Vs Compound

Waktu vs Compound Gauge


1 0.9 0.8 0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 0 20 40 Waktu 60 80 Compound Gauge

Series1

Gambar 5.7 Grafik Waktu Vs Compound

2. Grafik Waktu Vs Pressure

Waktu vs Pressure Gauge


3.5 3 Pressure Gauge 2.5 2 1.5 1 0.5 0 0 20 40 Waktu 60 80 Series1

30

Gambar 5.8 Grafik Waktu Vs Pressure 3. Grafik Waktu Vs T1

Waktu vs T1
35 30 25 T1 20 15 10 5 0 0 20 40 Waktu 60 80 Series1

Gambar 5.9 Grafik Waktu Vs T1

4. Grafik Waktu Vs T2

Waktu vs T2
28.2 28 27.8 T2 27.6 27.4 27.2 27 26.8 0 20 40 Waktu 60 80 Series1

31

Gambar 5.10 Grafik Waktu Vs T2 5. Grafik Waktu Vs DT

Waktu vs DT
3.5 3 2.5 DT 2 1.5 1 0.5 0 0 20 40 Waktu 60 80 Series1

Gambar 5.11 Grafik Waktu Vs DT

6. Grafik Waktu Vs T.Lingkungan

Waktu vs T. Lingkungan
30 29.9 29.8 29.7 29.6 29.5 29.4 29.3 29.2 29.1 29 0 20 40 Waktu 60 80

T. Lingkungan

Series1

32

Gambar 5.12 Grafik Waktu Vs T.Lingkungan 7. Analisa Percobaan II Siklus Refrigerant 1) Time evavorator mengalami selisih 3 dan 2C karena terjadinya perbedaan suhu untuk menguapkan cairan menjadi uap sehingga suhu menjadi naik dan turun. 2) Tekanan compound mengalami tekanan 0 bar karena pada saat katup T.E.V sebagai flow control dibuka, maka tekanan dari kompresor yang diukur oleh compound gauge tidak ada tekanannya (0 bar). 3) Tekanan pressure mengalami konstan (3 bar) karena tekanan yang mengalir dari kondensor melalui pressure gauge bernilai konstan. 4) Tempratur lingkungan hanya sedikit atau tidak mempengaruhi temperatur pada suhu evaporator (diabaikan). 5) Pada saat katup T.E.V dibuka terlihat fluida mengalir pada saluran pipa condensor yang menandakan proses pekerjaan dan proses penekanan sedang bekerja pada mesin HRP Focus 801. 6) Fluida tidak akan mengalir ke evaporator jika katup ekspansi evaporator tidak dibuka. 7) Panasnya kompresor dan saluran pipa pada kompresor disebapkan gas panas dari evaporator dimampatkan untuk dipompa ke condenser dan received. 8) Bunyi pada saat katup ekspansi evaporator dibuka menandakan tekanan yang diberikan oleh kompresor cukup besar untuk

memompakan fluida.

33

5.1.3 Data Percobaan III Flow Control Tabel 5.1.3 Data Percobaan III ( Flow Control ) No Waktu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 18 21 24 27 30 33 38 43 48 53 58 63 Compound Gauge -0,6 -0,6 -0,6 -0,6 -0,6 -0,6 -0,6 -0,6 -0,6 -0,6 -0,6 -0,6 Pressure Gauge 3 3 3 3 3 3 3,1 3,1 3,1 3,1 3,1 3,1 Temp. Evaporator T1 T2 DT 30 27 3 30 27 3 30 27 3 30 27 3 30 27 3 29 27 2 30 28 2 30 28 2 30 28 2 31 29 2 31 29 2 31 29 2 Temp. Lingkungan 29,2 29,7 29,3 29,2 29,7 29,9 30,3 30,3 30,7 30,6 30,1 30,5

1. Grafik Waktu Vs Compound

Waktu vs Compound
0 -0.1 Compound Gauge -0.2 -0.3 -0.4 -0.5 -0.6 -0.7 Waktu Series1 0 20 40 60 80

Gambar 5.13 Grafik Waktu Vs Compound

34

2. Grafik Waktu Vs Pressure

Waktu vs Pressure
3.12 3.1 3.08 Pressure 3.06 3.04 3.02 3 2.98 0 20 40 Waktu 60 80 Series1

Gambar 5.14 Grafik Waktu Vs Pressure

3. Grafik Waktu Vs T1

Waktu vs T1
31.5 31 30.5 T1 30 29.5 29 28.5 0 20 40 Waktu 60 80 Series1

35

Gambar 5.15 Grafik Waktu Vs T1 4. Grafik Waktu Vs T2

Waktu vs T2
29.5 29 28.5 T2 28 27.5 27 26.5 0 20 40 Waktu 60 80 Series1

Gambar 5.16 Grafik Waktu Vs T2

5. Grafik Waktu Vs DT

Waktu vs DT
3.5 3 2.5 DT 2 1.5 1 0.5 0 0 20 40 Waktu 60 80 Series1

36

Gambar 5.17 Grafik Waktu Vs DT

6. Grafik Waktu Vs T.Lingkungan

Waktu vs T. Lingkungan
30.8 30.6 30.4 30.2 30 29.8 29.6 29.4 29.2 29 0 20 40 Waktu 60 80

T. Lingkungan

Series1

Gambar 5.18 Grafik Waktu Vs T.Lingkungan

7. Analisa Percobaan III Flow Control 1) Perbandingan pada nilai pressure gauge dari awal percobaan hingga akhir percobaan bernilai 0,1. 2) Nilai pada compound bernilai konstan atau tidak berubah. 3) Waktu pengambilan data dari percobaan 1 sampai 6 membutuhkan waktu 3 menit sedangkan pada percobaan 7 sampai 12 membutuhkan waktu 5 menit dengan tujuan untuk membandingkan hasil pressure compound dan temperatur evaporator. 4) Pada saat katup ekspansi condenser dibuka maka akan terlihat fluida pada condenser akan mengalir untuk membuktikan condenser dalam keadaan bekerja atau tidak. 5) Temperatur evaporator T1-T2 (AT) mempunyai selisih tidak jauh berbeda ,hal ini dikarenakan temperature inlet (T1) dan autlet (T2) mempunyai nilai konstan atau stabil.

37

6) Temperatur lingkungan mempunyai nilai selisih yang tidak jauh dikarenakan suhu pada ruangan selalu setabil.

5.1.4 Data Percobaan IV Katup Ekspansi Valve Tabel 5.1.4 Data Percobaan IV ( Katup Ekspansi Valve ) No Waktu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 18 21 24 27 30 33 38 43 48 53 58 63 Compound Gauge 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 Pressure Gauge 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 Temp. Condensor T1 T2 DT 32 30 2 32 30 2 32 30 2 32 30 2 32 30 2 33 31 2 33 31 2 33 31 2 33 31 2 33 31 3 33 31 2 33 31 2 Temp. Lingkungan 31,4 31,3 32,5 32,7 32,2 32,3 32,9 32,1 32 31,2 31,2 31,8

1. Grafik Waktu Vs Compound

Waktu vs Compound
0.45 0.4 0.35 0.3 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 0 20 40 Waktu 60 80

Compound

Series1

38

Gambar 5.19 Grafik Waktu Vs Compound 2. Grafik Waktu Vs Pressure

Waktu vs Pressure
3.5 3 2.5 Pressure 2 1.5 1 0.5 0 0 20 40 Waktu 60 80 Series1

Gambar 5.20 Grafik Waktu Vs Pressure

3. Grafik Waktu Vs T1

Waktu vs T1
33.2 33 32.8 T1 32.6 32.4 32.2 32 31.8 0 20 40 Waktu 60 80 Series1

39

Gambar 5.21 Grafik Waktu Vs T1 4. Grafik Waktu Vs T2

Waktu vs T2
31.2 31 30.8 T2 30.6 30.4 30.2 30 29.8 0 20 40 Waktu 60 80 Series1

Gambar 5.22 Grafik Waktu Vs T2

5. Grafik Waktu Vs DT

Waktu vs DT
3.5 3 2.5 DT 2 1.5 1 0.5 0 0 20 40 Waktu 60 80 Series1

40

Gambar 5.23 Grafik Waktu Vs DT 6. Grafik Waktu Vs T.Lingkungan

Waktu vs T. Lingkungan
33 32.8 32.6 32.4 32.2 32 31.8 31.6 31.4 31.2 31 0 20 40 Waktu 60 80

T. Lingkungan

Series1

Gambar 5.24 Grafik Waktu Vs T.Lingkungan

7. Analisa Percobaan IV Katup Ekspansi Otomatis 1) Pada percobaan 4 (katup ekpansi otomatis) tekanan pada pressure gauge tetap konstan, hal ini disebapkan oleh bukaan katup A.E.V tetap dan kondisi temperature yang tidak terlalu signifikan. 2) Pada compound gauge, tidak terdapat perubahan-perubahan ukuran, hal ini dikarenakan aliran refrigerant tetap stabil. 3) Temperatur inlet (T1) tidak terlalu jauh berbeda ,hal ini dikarenakan kondisi pipa yang sama dan tidak terpengaruh oleh temperature bebas/ruang. 4) Temperatur outlet (T2) pada setiap saat percobaan selalu sama , hal ini disebapkan oleh temperature pipa yang tidak berubah. 5) Temperatur ruangan selalu sama dan tidak berbeda jauh, hal ini dikarenakan temperature ruangan yang tidak berubah dan selalu sama.

41

6) Temperatur T1-T2 (AT) mempunyai selisih yang selalu sama, hal ini disebapkan temperatur inlet (T1) dan outlet (T2) mempunyai temperatur yang selalu setabil.

5.1.5 Data Percobaan V Katup Ekspansi Thermostatik Tabel 5.1.5 Data Percobaan V ( Katup Ekspansi Termostatik )
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Time 18 21 24 27 30 33 38 43 48 53 58 63 Compound 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 Pressure 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 kondenser T.inlet 31 32 32 32 32 32 32 31 31 31 31 31 T.Outlet 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 29 29 t 1 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 T.Lingkungan 30,1 30 30,9 30,6 30,1 30,9 30,5 30,4 30,7 30,3 30,8 30

1. Grafik Time Vs Compound

TIME VS COMPOUND
70 60 50 Axis Title 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TIME COMPOUND

Gambar 5.27 Grafik Time vs Compound

42

2. Grafik Time Vs Pressure

TIME VS PRESSURE
70 60 50 Axis Title 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TIME PRESSURE

Gambar 5.28. Grafik Time vs Pressure

3. Grafik Time Vs T1

TIME VS T1
70 60 50 Axis Title 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Series1 Series2

Gambar 5.29 Grafik Time vs T1

43

4. Grafik Time Vs T2

TIME VS T2
70 60 50 Axis Title 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TIME T2

Gambar 5.30 Grafik Time vs T2

5. Grafik Time Vs DT

TIME VS DT
70 60 50 Axis Title 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TIME DT

Gambar 5.31 Grafik Time vs DT

44

6. Grafik Time Vs T.Ambiant

TIME VS T.AMBIANT
70 60 50 Axis Title 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TIME T.AMBIANT

Gambar 5.32 Time vs T.Ambiant

7. Analisa Data Percobaan V Katup Ekspansi Thermostatik 1) Tekanan evaporator konstan dan tidak mengalami penurunan ataupun kenaikan 2) Perbandingan temperatur pada T.outletnya dengan T.inletnya sangat tampak. 3) Keanaikan temperatur pada T.outletnya diikuti dengan kenaikan pada T.outletnya 4) Kenaiakan temperatur selama selang waktu 3 menit tidak dipengaruhi t.lingkungan karena kenaiakan temperatur cukup stabil.

45

5.1.6 Data Percobaan VI The Heat Exchencer Tabel 5.1.6 Data Percobaan VI ( The Heat Exchencer ) SUCTIO N T1 24 25 25 25 24 24 24 24 24 24 24 25 T2 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 28,5 28,8 28,2 28,5 28,5 28,5 28,4 28,6 28,8 28,9 28,9 28,9 T.AMBIAN T

N O 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

TIM E 18 21 24 27 30 33 38 43 48 53 58 63

COMPOUN D 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

PRESSUR E 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9

LIQUIT T1 T2 29, 30, 9 5 29, 30, 7 5 29, 29, 7 9 29, 30, 8 0 29, 29, 2 0 29, 29, 6 6 29, 29, 2 7 29, 29, 2 3 29, 29, 2 9 29, 29, 4 2 29, 29, 8 8 29, 30, 4 4

46

1. Grafik Time Vs Compound

TIME VS COMPOUND
70 60 50 Axis Title 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TIME COMPOUND

Gambar 5.33 Grafik Time vs Compound

2. Grafik Time Vs Pressure

TIME VS PRESSURE
70 60 50

Axis Title

40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

TIME PRESSURE

Gambar 5.34 Grafik Time vs Pressure

47

3. Grafik Time Vs T1

TIME VS T1
70 60 50 Axis Title 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TIME T1

Gambar 5.35 Grafik Time vs T1

4. Grafik Time Vs T2

TIME VS T2
70 60 50 Axis Title 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TIME T2

Gambar 5.36 Grafik Time vs T2

48

5. Grafik Time Vs T.Ambiant

TIME VS T.AMBIANT
70 60 50 Axis Title 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TIME T.AMBIANT

Gambar 5.37 Grafik Time vs T.Ambiant

6. Analisa Percobaan VI The Heat Exchenger 1) Kenaikan temperatur pada inlet (suction) selalu diikuti outlet (suction) hal ini dapat dilihat seperti pada grafik 2) Kenaikan temperatur inlet (liquid) akan membuat temperatur outlet (liquid) mengalami penurunan temperatur. 3) Temperatur lingkungan cukup konstan dan tidak mengalami perubahan yang jauh 4) Tekanan evaporator konstan.

49

5.1.7 Data Percobaan VII Pressure Switch Tabel 5.1.7 Data Percobaan VII ( Pressure Switch ) N O 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 TIM E 18 21 24 27 30 33 38 43 48 53 58 63 COMPOUN D -0.3 -0.2 -0.2 0 0 0 -0.1 -0.1 0 0 0 0 PRESSUR E 3,2 3 3 3 3 3 3,4 3 3 3 3 3 T.CONDENSOR T1 T2 AT 25 24 1 25 23 2 25 23 2 25 23 2 25 22 3 24 21 3 27 26 1 28 25 3 27 24 3 27 25 1 27 25 2 27 25 2 T.AMBIAN T 24,6 29,7 29,7 30,4 30,2 30,5 31,2 31,7 31,4 31,9 31,5 32,1

1. Grafik Time Vs Compound

TIME VS COMPOUND
70 60 50 Axis Title 40 30 20 10 0 -10 12 63 0 3 27 25 2 COMPOUND TIME

Gambar 5.38 Grafik Time vs Compound

50

2. Grafik Time Vs Pressure

TIME VS PRESSURE
70 60 50 Axis Title 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TIME PRESSURE

Gambar 5.39 Grafik Time vs Pressure

3. Grafik Time Vs T1

TIME VS T1
70 60 50 Axis Title 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TIME T1

Gambar 5.40 Grafik Time Vs T1

51

4. Grafik Time Vs T2

TIME VS T2
70 60 50 Axis Title 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TIME T2

Gambar 5.41 Grafik Time Vs T2

5. Grafik Time Vs DT

TIME VS DT
70 60 50 Axis Title 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TIME AT

Gambar 5.42 Grafik Time Vs DT

52

6. Grafik Time Vs T.Ambiant

TIME VS T.AMBIANT
70 60 50 Axis Title 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TIME T.AMBIANT

Gambar 5.43 Grafik Time vs T.Ambiant

7. Analisa Percobaan VII Pressure Switch 1) Tekanan kompressor mengalami perubahan dan semakin lamam cenderung tekanannya menurun. 2) Temperatur T.inletnya jauh lenbih tinggi dari temperatur outletnya. 3) Temperatur lingkungan mempengaruhi temperatur T.inletnya hal ini dapat dilihat pada grafik. 4) Semakin tinggi tekanan kompressor, maka temperatur T.inletnya semakin tinggi.

53

5.1.8 Data Percobaan VIII Excessive Discharge Pressure Tabel 5.1.8 Data Percobaan VIII ( Excessive Discharge Pressure ) NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 TIM E 18 21 24 27 30 33 38 43 48 53 58 63 COMPOUN D 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 PRESSUR E 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 T.CONDENSOR T1 T2 AT 28 26 2 28 25 3 28 25 3 27 25 2 27 25 2 27 25 2 28 25 3 27 25 2 27 25 2 28 25 3 28 25 3 27 25 2 T.AMBIAN T 30,2 30,0 30,7 30,4 30,2 30,5 31,2 31,7 31,4 31,9 31,5 32,1

1. Grafik Time Vs Compound

TIME VS COMPOUND
70 60 50 Axis Title 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TIME COMPOUND

Gambar 5.44 Grafik Time Vs Compound

54

2. Grafik Time Vs Pressure

TIME VS PRESSURE
70 60 50 Axis Title 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TIME PRESSURE

Gambar 5.45 Grafik Time vs Pressure

3. Grafik Time Vs T1

TIME VS T1
70 60 50 Axis Title 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TIME T1

Gambar 5.46 Grafik Time Vs T1 55

4. Grafik Time Vs T2

TIME VS T2
70 60 50 Axis Title 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TIME T2

Gambar 5.47 Grafik Time Vs T2

5. Grafik Time Vs DT

TIME VS DT
70 60 50 Axis Title 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TIME AT

Gambar 5.48 Grafik Time Vs DT 56

6. Grafik Time Vs T.Ambiant

TIME VS T.AMBIANT
70 60 50 Axis Title 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TIME T.AMBIANT

Gambar 5.49 Grafik Time Vs T.Ambiant

7. Analisa Percobaan VIII Excessive Discharge Pressure 1) Tekanan evaparator tidak mengalami kenaikan ataupun penurunan. 2) Peebedaan temperatur T.inlet dan T.outletnya cukup jauh. 3) Kenaikan temperatur konstan, dan tidak terlalu menonjol. 4) Kenaikan temperatur inletnya tidak terlalu dipengaruhi T.lingkungan. 5) Selama selang waktu 5 menit, tekanan tetap konstan. 6) Perbedaan temperatur T.inlet dan outletnya mencapai 2C. 7) Temperatur T.inletnya. 8) Kenaikan temperatur T.inletnya diiringi dengan kenaikan T.outletnya. lingkungan tidak tampak mempengaruhi temperatur

57

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil selama Praktikum Perawatan II pada mesin HRP Focus 801 yaitu : 1. Temperatur lingkungan sangat mempengaruhi terhadap suhu inlet dan outletnya. 2. Jika kondensor ditutup dengen selembar karton maka panas konveksi akan terhambat menyebapkan mesin hidup menjadi lama. 3. Tekanan pada Evaporator sangat mempengaruhi temperatur yang akan dihasilkan, jiika tekananya tinggi, maka cairan panas dari kondensor akan diubah temperaturnya dengan menaikkan tekanan pada evaporator melalui katup ekspansi. 4. AC memiliki beberapa bagian-bagian utama yaitu kondensor, kompresor, evaporator, katup ekspansi dan memiliki tiga katup ekspansi yaitu A.E.V (automatic Expansi valve), capillary (pipa kapiler), T.E.V (Thermostatic Expansi Valve).

6.2 Saran Saran yang dapat penulis sampaikan selama Praktikum Perawatan II pada mesin HRP Focus 801 yaitu : 1. Pengambilan data sebaiknya dengan cepat dan tepat supaya tidak terjadi penyimpangan data pada saat pengambilan data. 2. Harus lebih disiplin dan tidak melakukan tidakan manipulasi terhadap pengambilan data agar grafik yang dihasilkan lebih akurat. 3. Mesin sudah lama dan sebaiknya dilakukan perbaikan, hal ini dibuktikan dengan tidak bisanya mengatur tekanan yang diinginkan. 58

4. Pressure yang tidak berfungsi dengan baik lagi sebaiknya diganti agar data yang dipatkan lebih akurat

59

DAFTAR PUSTAKA

Aris Munandar, Wiranto., Saito, Heizo, Penyegaran Udara, 1980, Pradnya Paramita, Jakarta. Focus Refrigeration Training Unit 801, Instructurs Guide. Handoko, Teknik Air Conditioner, 1997, Icthiar baru, Jakarta. Handoko, Teknik Lemari Es, 1981, Icthiar Baru, Jakarta. Stoecker, Wilbert F., Jones, Jerold W., Refrigerasi dan Pengkondisian Udara, edisi kedua, Erlangga, Jakarta 1994.

60

LAMPIRAN

61