Anda di halaman 1dari 9

FENOMENA ILMU PENGETAHUAN BAHASA ARAB DALAM KESUSASTRAAN ABBASIYAH

MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah TARIKH ADAB II

Oleh: Siti Maria Ulfa A01209023 A01209024 Dosen Pengampu: Drs. Afif Busthomi

FAKULTAS ADAB JURUSAN BAHASA DAN SASTRA ARAB INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA 2011

FENOMENA ILMU PENGETAHUAN BAHASA ARAB DALAM KESUSASTRAAN ABBASIYAH A. Pendahuluan Orang Arab sangat mencintai bahasa Arab hingga tingkat mensakralkan. Mereka memandang otoritas yang ada dalam bahasa Arab tidak hanya mengekspresikan kekuatan bahasa, tetapi juga kekuatan mereka. Mengapa demikian? sebab hanya orang Arab yang mampu menguasai bahasa ini dan menaikkannya sampai tingkat ekspresi Bayani yang membedakan mereka dari yang lain. Dari sebab ini tidaklah heran kalau bahasa Arab kaya akan kosakata terutama pada konsep-konsep yang berkenaan dengan kebudayaan dan kehidupan mereka sehari-hari. Kata Unta, Kuda, Pasir, Kurma dan Tenda, misalnya, memiliki puluhan bahkan ratusan kosakata untuk mengungkapkan jenis, kualitas, kondisi dan jumlahnya. Kecintaan orang Arab akan bahasanya ini, membuat bahasa Arab begitu cepat berkembang. Namun, ada banyak faktor lainnya yang mempengaruhi bahasa Arab berkembang sedemikian cepat, yang terpenting di antaranya adalah datangnya Islam. Para pembahas dan ahli linguistik sependapat bahwa peristiwa terpenting dalam sejarah perkembangan bahasa Arab adalah datangnya Islam dan tersebarnya agama Rahmatan Lil Alamin ini sampai meluas ke berbagai daerah dari Asia Tengah sampai Afrika Barat. Kedatangan Islam dan turunnya al-Quran kemudian disusul oleh hadits pada beberapa abad kemudian yang berbahasa Arab standar menjadikan bahasa Arab sesuatu yang sangat penting dan menarik perhatian pada kalangan masyarakat, terutama para peneliti sosial masyarakat. Baru beberapa saat Islam disampaikan secara terang-terangan, al-Quran telah menggemparkan warga Mekah khususnya, dan orang-orang kafir pada umumnya. Predikat sebagai "Penyair," "Penyihir", "Dukun" serta merta sampai dialamatkan ke haribaan Rasulullah. Tetapi, tidak sedikit di antara mereka yang justru masuk Islam karenanya. Bahasa Arab dalam al-Quran memberikan warna dan pengaruh yang sangat dahsyat pada bahasa Arab yang ada pada saat itu.

Tujuh huruf al-Quran yang mempresentasikan bahasa yang ada dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari itu, telah melambungkan nama Muhammad pada tingkat sedemikian berbeda dari Fuhul dan Rijal Balaghah (jagoan-jagoan bahasa) saat itu. Dan dari sinilah bangsa Arab semakin tercerahkan dalam menyongsong bahasa Arab menuju format yang lebih baik. Sulit dipungkiri, bahwa semakin besar jumlah pemeluk Islam, semakin meluas pula pengaruh bahasa Arab ini hingga menyentuh kehidupan orang-orang awam. Sampai dengan Masa Daulah Abbasiyah Bahasa Arab masih eksis dan teurs berkembang. Walaupun pemerintahan Bani Umayyah yang berasal dari keturunan bangsa Arab telah runtuh, namun fungsi dan peranan bahasa Arab tidak ikut jatuh. Bahasa Arab tetap berperan dan menempati posisi yang sangat penting sebagaimana mula awalnya meskipun zaman dinasti Bani Abbasiyah -menurut sejarawan Islam- menang dan menggambarkan kemenangan orangorang Persia atas Bani Umayyah yang berasal dari bangsa Arab. Pernyataan ini didasarkan atas bukti bahwa sebagian menteri dan panglima militer adalah orang-orang Persia atau ketrurunan orang-orang Persia. Seluruh Khalifah Bani Abbasiyah memberikan perhatian serius kepada bahasa Arab. Kecintaan terhadap bahasa Arab didasarkan pada kecintaan mereka terhadap Islam. B. Perumusan Masalah 1. Perkembangan Bahasa Arab dalam Kesusastraan Abbasiyah 2. Penyebaran Bahasa Arab dalam Kesusastraan Abbasiyah 3. Proses Arabisasi C. Pembahasan 1. Perkembangan Bahasa Arab dalam Kesusastraan Abbasiyah Keadaan pemerintahan Bani Abbasiyah, berbeda dengan pemerintahan Bani Ummayyah. Lapangan kehidupan di masa pemerintahan Abbasiyah, lebih makmur dan maju, ilmu pengetahuan Islam banyak digali di zaman ini. Maka kerajaan Abbasiyah besar sekali jasanya untuk kemajuan peradaban dunia Islam. Pada zaman ini bahasa Arab telah berkembang dengan pesatnya di seluruh pelosok di luar negeri Arab. Di

kalangan masyarakat kelas bahwa bahasa Arab pasaran (amiyah) digunakan sebagai bahasa percakapan. Di samping itu bahasa Arab Fusha (fashih) menjadi bahasa tulisan dan bahasa yang digunakan dalam pensyarahan, pentadriban, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Kedatangan dan kebangkitan Dinasti Abbasiyahh menandai suatu revolusi sosial dan intelektual, yang dalam beberapa hal sama dengan keadaan yang berlaku sekarang di dunia Arab. Revolusi ini tidak hanya mempengaruhi cara berfikir orang-orang Arab Muslim, tetapi juga bahasa mereka. Revolusi ini berawal dari serangkaian konflik tentang banyak masalah yang tak terselesaikan melingkupi ketegangan sosial, suksesi pemerintahan, agama dalam aspek-aspek dogmatis, ritual, hukum, teologi dan hadis. Terdapat pertimbangan yang masak dan kontroversi di manamana dengan pandangan yang saling bertentangan mulai dari konservatif, sampai ke liberal, dari dogma yang sempit, sampai ke rasionalis yang luas. Dalam keadaan seperti ini, perbedaan-perbedaan harus dijembatani, diperkecil, suatu dogma resmi harus disediakan, hukum harus dikodifikasi, masalah-masalah teologi harus dicarikan pemecahannya, dan bahasa harus dapat fleksibel dan praktis. Selama proses ini berlangsung di tengah-tengah terjadinya konflik dan keanekaragaman pemikiran dan pandangan, suatu kebangkitan intelektual telah timbul melalui bahasa Arab, sehingga mencakup seluruh cabang ilmu pengetahuan yang ada pada waktu itu. Bahasa Arab telah mengembangkan potensinya yang paling besar untuk alat mengungkapkan pikiran dengan menggantikan fungsi berbagai bahasa lainnya. Bahasa Arab telah menjadi alat belajar dan bahasa komunikasi dari perbatasan Timur Persia di belahan Arab bagian Timur sampai ke Pyreneas di Samudera Atlantik di belahan Arab bagian Barat. Bukti yang meyakinkan dari kemajuan linguistik ini adalah karya-karya besar sastra Arab yang ditampilkan pada masa kekuasaan Abbasiyahh. Bahasa Arab yang dipakai pada masa Abbasiyahh tidak hanya memperlihatkan suatu bahasa yang kaya dengan kosa kata, tetapi juga memiliki ciri-ciri kesederhanaan, jelas, dan kemampuan untuk

mengungkapkan abstraksi di setiap bidang ilmu pengetahuan, seperti sejarah, hukum kajian-kajian Alquran, sastra, filsafat, matematik, kedokteran, astronomi, dan teologi. Perkembangan pesat bahasa Arab terasa lebih bermanfaat, jika dihubungkan dengan luasnya jangkauan kesusastraan pada masa itu. Suatu survey tentang karya sastra ini bagaimana pun juga di luar jangkauan karya ini, sehingga hanya beberapa pandangan saja yang dapat dikemukakan di sini. Sastra Arab mengalami masa keemasannya di bawah Dinasti Abbasiyahh, justru pada saat Dinasti ini menghadapi perpecahan yang gawat. Pada waktu itu, bahasa Arab sudah dikodifikasi dan diperkaya melalui terjemahan. Sungguhpun puisi tidak pernah kehilangan kedudukan pentingnya adalah masyarakat Muslim, namun puisi tidak dikembangkan sebagai alat untuk mengungkapkan pikiran dalam seluruh cabangnya. Kesenjangan ini diisi oleh prosa dengan rapi dan tepat oleh sejumlah besar pakar yang banyak muncul dari berbagai disiplin ilmu. 2. Penyebaran Bahasa Arab dalam Kesusastraan Abbasiyah Penyebaran bahasa Arab tak lepas pada kepentingan pendidikan. Nampaknya pendidikan terbuka untuk siapa saja yang menginginkannya tanpa memandang status sosial. Yang dimaksud dengan pendidikan di sini adalah masih berada dalam tahap permulaan, dan lebih banyak menyangkut masalah keagamaan. Mesjid merupakan pusat kegiatan pendidikan. Tak lama kemudian bentuk pendidikan yang bersifat keagamaan ini dikembangkan oleh cendekiawan-cendekiawan secara pribadi melalui melalui mazhab-mazhab yang sangat memahami bahasa Arab dan kajiankajian Islam. Pada mulanya kurikulum intinya terdiri dari Alquran, bahasa Arab, filologi, hukum, Hadis, retorik dan teologi. Pendidikan dan penyebarluasannya semakain lancar dengan penemuan kertas dari Cina pada abad kedelapan. Produksi kertas dalam jumlah yang besar dengan harga yang sangat wajar telah meningkatkan penerbitan buku-buku bila dibandingkan dengan buku-buku yang ditulis dalam bahan-bahan yang mahal seperti perkamen, kulit, dan papirus. Toko-

toko buku merupakan pusat penerbitan dan penjualan buku-buku dan juga berfungsi sebagai tempat pertemuan. Pertemuan-pertemuan ilmiah banyak berlangsung di rumah-rumah pribadi atau istana-istana raja yang dikunjungi secara teratur oleh cendekiawan-cendikiawan terkemuka pada masa itu. Mereka mengadakan perdebatan-perdebatan, diskusi-diskusi ilmiah yang bersemangat tentang hampir semua bidang ilmu pengetahuan. Akhirnya, perpustakaan, baik umum ataupun pribadi merupakan ciri khas kebudayaan pada masa itu dan sarana penting untuk mengembangkan dan menyebarkan ilmu. Secara keseluruhan, kajian kebahasaan sangat erat hubungannya dengan disiplin-disiplin Islam dan puisi, dua buah komponen yang amat penting dari kebudayaan Arab. Setiap orang yang terdidik diharapkan mahir dalam tata bahasa Arab. Demikian pula seorang pelajar juga diharapkan mempunyai pengetahuan tentang puisi, prosidi, sejarah, dalam sains agama dan dunia. 3. Proses Arabisasi Proses arabisasi semakin meningkat karena banyak orang-orang Andalusia, menuntut ilmu di kawasan Arab di belahan Timur, atau belajar dari imigran dari Timur. Orang-orang Andalusia melengkapi diri mereka dengan bahan-bahan yang diterbitkan di Timur dan mengembangkan tradisi budaya yang identik dengan budaya yang ada di Timur. Sebagai contoh dapat dikemukakan, Mazhab Maliki oleh Malik Ibn Anas (wafat 796) diperkenalkan ke Andalusia oleh mahasiswa-mahasiswa setempat seperti Yahya ibn Yahya yang belajar Islam dari pendirinya di Madinah. Mazhab yang dikembangkan oleh Malik ibn Anas dikenal dengan mazhab Maliki, telah memainkan peranan yang amat besar di Andalusia (Spanyol). Mazhab ini telah menjaga persatuan akidah di Semenanjung Iberia dan memberikan pengaruh besar terhadap masalah-masalah kenegaraan dan kehidupan intelektual melali Qadhi. Walaupun sifat konservatif Qadhi, kaum Muslimin di Spanyol telah menghasilkan karya-karya ilmiah yang banyak dan bervariasi mencakup setiap topik yang dikenal pada zaman pertengahan

seperti tata bahasa Arab, perkamusan, bidang-bidang keagamaan, puisi, sejarah, geografi, astronomi, filsafat, kedokteran dan lain-lain sebagainya. Karya-karya ilmiah demikian banyaknya, tetapi hanya informasi singkat yang dapat diberikan di sini. Adalah amat penting untuk menyebutkan sekali lagi, ketika kerajaan Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus jatuh pada tahun 750, proses arabisasi yang merupakan kegiatan yang telah dirintis oleh kerajaan ini tetap berlangsung terus walaupun keadaan politik memperlihatkan kecendrungan yang semakin mundur di adaerah kekuasaan Islam sejak masa itu dan seterusnya. Dengan bangkitnya kerajaan-kerajaan kecil, di belahan timur dan barat, bahasa Arab telah merupakan ikatan pemersatu berbagai bangsa yang telah menganut Islam baik dalam bidang budaya atau agama. Cendekiawan muslim Arab menikmati kebebasan penuh untuk bepergian di seluruh kawasan Islam. Bahkan tidak jarang mereka mendapat tugas dari penguasa kerajaan baik yang berkuasa penuh atau setengah berkuasa. Adalah para cendekiawan baik yang berada di bawah kekuasaan penguasa Baghdad, atau Hamdani di Syria, atau Samani di Iran, Umayyah di Kordova, Fatimiyyah atau Mamluk di Mesir, merekalah yang terus melanjutkan tradisi kebudayaan dalam bahasa Arab. D. Kesimpulan Bahasa Arab tetap berperan dan menempati posisi yang sangat penting sebagaimana mula awalnya meskipun zaman dinasti Bani Abbasiyah --menurut sejarawan Islam-- menang dan menggambarkan kemenangan orang-orang Persia atas Bani Umayyah yang berasal dari bangsa Arab. Pendidikan dan penyebarluasannya semakain lancar dengan penemuan kertas dari Cina pada abad kedelapan. Produksi kertas dalam jumlah yang besar dengan harga yang sangat wajar telah meningkatkan penerbitan buku-buku bila dibandingkan dengan buku-buku yang ditulis dalam bahan-bahan yang mahal seperti perkamen, kulit, dan papirus. Banyaknya orang-orang Andalusa yang menuntut ilmu di kawasan Arab

belahan timur menyebabkan semakin cepat terjadinya proses Arabisasi. E. Penutup Demikianlah makalah yang seadanya ini kami buat dengan kemampuan yang sangat minim sekali untuk memenuhi tugas mata kuliah, yang sudah barang tentu banyak kesalahan dan kekurangan yang terdapat di dalamnya. Namun walaupun demikian, mudah-mudahan ini dapat memberikan sumbangsih pemahaman terhadap kita semua dan membuka cakrawala

pengetahuan yang selama ini menjadi kebudayaan dialektika sebuah kehidupan serta bisa menumbuhkan sikap antusias terhadah Bahasa Arab. Kritik dan saran merupakan bahan evaluasi yang kami harapkan, dengan adanya proses transformasi pengetahuan yang lebih progresif.

DAFTAR PUSTAKA

Abi Zakaria Yahya Al-Qibrizi, Imam. Tanpa Tahun. Syarhu al-Muallaqat asSaba. Dar al-Maarif Tunisia. Al-Qardawiy, Yususf. 1996. Al-Thaqafat Al-Arabiyyat al-Islamiyyat bayna alAsalat wa al-Muasirat Bairut: Muassasat al-Risalat. Chejne, Anwar G. 1969.The Arabic LanguageIts Role in History Minneapolis: University of Minnesota Press. Comrie, Bernard. 1988. Ensiklopedia Bahasa Utama Dunia (terjemahan DBP). Kuala Lumpur Dewan Bahasa dan Pustaka. Said,H.A.Fuad. 1984. Pengantar Sastra Arab Medan: Pustaka Babussalam. Sulaiman, Kasim. 1985. Pramasastra Arab Cetakan II Jsakarta: Prakarsa Belias.