Anda di halaman 1dari 7

KURANG DENGAR Seorang laki-laki, berusia 67 tahun datang ke poliklinik THT dengan keluhan kurang mendengar pada kedua

telinga. Pasien merasa pendengarannya mengalami penurunan secara perlahan, dan mulai memberat sejak 3 bulan terakhir. Selain itu pasien juga mengeluhkan telinga berdenging, dan terkadang pusing berbutar. Pasien adalah pasien gagal jantung kongestif, kelas fungsional III dan gagal ginjal grade IV, dengan riwayat konsumsi furosemid dalam 2 tahun terakhir. Pasien juga adalah pensiunan pegawai pabrik 15 tahun yang lalu. Pada pemeriksaan otoskopi ditemukan sedikit serumen pada MAE. Pada pemeriksaan garpu tala diperoleh Rinne (+). 1. Daftar Masalah. KU : penurunan pendengaran yang semakin progresif sejak 3 bulan yang lalu Faktor Resiko : Usia, 67 tahun Pekerjaan pegawai pabrik Riwayat penyakit jantung, penyakit ginjal dan konsumsi obat furosemide

Hasil Pemeriksaan Otoskopi : Sedikit serumen pada MAE Garpu Tala : Rinne +
Kurang Mendengar pada kedua Telinga dan pendengaran mengalami penurunan secara

perlahan. Ada beberapa kelainan/penyakit yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran, antara lain : Kelainan pada telinga luar (menyebabkan tuli konduksi) Kelainan pada telinga luar yang sering terjadi berupa sumbatan oleh serumen (serumen obturans) atau karena infeksi (otitis ekterna sirkumskripta). Dalam keadaan normal, serumen tidak akan tertumpuk di liang telinga. Serumen itu akan keluar sendiri pada waktu mengunyah, dan setelah sampai diluar liang telinga akan menguap oleh panas. Ada beberapa faktor yang menyebabkan serumen terkumpul dan mengeras di liang telinga sehingga menyumbat, antara lain :

Dermatitis kronik liang telinga luar Liang telinga sempit Produksi serumen banyak dan kental Adanya benda asing di telinga Adanya eksostosis liang telinga Serumen terdorong oleh jari tangan (kebiasaan mengorek) sehingga serumen yang terdapat pada 1/3 liang telinga menjadi lebih masuk ke dalam, akibatnya sulit dikeluarkan dan terkumpul serta mengeras.

Pada 1/3 luar liang telinga mengandung adneksa kulit (folikel rambut, kelenjar sebasea dan serumen), maka di tempat itu dapat terjadi infeksi pilosebaseus (otitis eksterna sirkumskripta) mengakibatkan terbentuknya furunkel. Bila furunkel (bisul) besar dapat menyumbat liang telinga sehingga menyebabkan gangguan pendengaran. Kelainanan pada telinga tengah (menyebabkan tuli konduksi) Kelainan yang sering terjadi berupa gangguan fungsi tuba eustachius (misalnya tuba terbuka abnormal) dan otitis media. Tuba eustachius biasanya dalam keadaan tertutup dan baru terbuka apabila oksigen diperlukan masuk ke telinga tengah atau pada saat mengunyah, menelan, dan menguap. Pada tuba terbuka abnormal mengakibatkan udara masuk terus-menerus ke telinga tengah waktu ekspirasi sehingga mengganggu pendengaran. Pada otitis media terjadi peradangan pada telinga tengah akibat adanya kuman yang masuk. Telinga tengah biasanya steril, meskipun teradpat mikroba di nasofaring dan faring. Secara fisiologik terdapat mekanisme pencegahan masuknya mikroba ke dalam telinga tengah oleh silia mukosa tuba eustachius, enzim dan antibodi. Sumbatan tuba eustachius merupakan faktor penyebab utama dari otitis media yang menyebabkan fungsi tuba terganggu sehingga kuman masuk dan terjadi peradangan. Akibatnya pendengaran terganggu. Kelainan di telinga dalam (menyebabkan tuli sensorineural) Kelainan dapat berupa kelainan koklea maupun retrokoklea. Dapat disebabkan intoksikasi obat, trauma kapitis, pajanan bising, tumor ataupun penyakit Meniere. Pada tuli sensorineural biasanya terjadi pada kedua telinga (bilateral) sedangkan pada tuli konduksi biasanya unilateral.

Pasien Usia 67 Tahun Seiring dengan bertambahnya usia, terutama pada geriatri dapat terjadi gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran ini bisa disebabkan oleh adanya proses degenerasi yang menyebabkan beberapa perubahan antara lain : Berkurangnya elastisitas dan bertambah besarnya ukuran daun telinga (pinna) Atrofi dan bertambah kakunya liang telinga Penumpukan serumen. Produksi serumen cenderung berkurang dan bersifat lebih kering sehingga membentuk gumpalan. Hal ini diakibatkan kelenjar-kelenjar serumen mengalami atrofi Membran timpani bertambah tebal dan kaku Kekakuan pada sendi-sendi tulang pendengaran Perubahan-perubahan tersebut mengakibatkan terjadinya gangguan pada penghantaran bunyi melalui udara ke telinga (khususnya telinga luar dan telinga tengah) sehingga menyebabkan tuli konduksi. Selain itu, proses degenerasi juga dapat mengakibatkan perubahan pada telinga dalam (koklea maupun saraf/jaras audiotorik). Pada usia lanjut ditemukan atrofi organ corti, jumlah sel-sel rambut dan penunjang berkurang, jaras audiotorik berkurang yang menyebabkan berkurangnya pendengaran, akibatnya timbul tuli sensorineural (presbiskusis). Pusing Berputar. Pusing berputar yang sering disebut juga vertigo disebabkan oleh kelainan pada system keseimbangan baik di sentaral maupun perifer, biasanya pasien dengan keluhan pendengaran berkurang mengalami kelainan pusing berputar yang kelaianannya terletak pada telinga bagian dalam sehingga bisa melibatakan bagian keseimbagan vestibulum. Gagal Jantung kengestif klas fungsional III dan gagal Ginjal Grad IV dan Riwayat konsumsi Furosamid sejak 2 tahun. Ganggal jantung klas fungsional III dan gagal Ginjal Grad IV merupakan kelainan yang natinya dapat menyebabkan ekskresi obat berkurang sehingga kadar obat dalam plasma sangat tinggi yang akibatnya dapat menyabakan toksik bagi organ organ tertentu. Furosemid merupakan obat yang bersifat ototoksik sehingga pemakain dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan kelainan pada telinga bagian dalam.

Pensiunan pegawai pabrik 15 tahun yang lalu. Tuli dapat terjadi akibat terpapar oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama dan biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja (misalnya pabrik industri). Secara umum bising adalah bunyi yang tidak diinginkan. Bising yang intensitasnya 85 desibel atau lebih dapat menyebabkan kerusakan reseptor organ corti pada telinga dalam. Proses ini belum jelas terjadinya, tetapi mungkin karena rangsangan bunyi yang berlebihan dalam waktu lama dapat mengakibatkan perubahan metabolisme dan vascular sehingga terjadi kerusakan degenerative pada struktur sel rambut organ corti, akibatnya terjadi kehilangan pendengaran permanen.
Tes Rinne ( + )

1. Tujuan: membandingkan hantaran udara dan hantaran tulang dalam telinga


2. Cara: pertama-tama garpu tala digetarkan dan tangkainya diletakkan di processus

mastoideus. Setelah tidak terdengar, penala dipegang di depan telinga sekitar 2 cm dari MAE (Meatus Akustikus Eksternus). 3. Hasil:

Tes rinne (+) jika setelah diletakkan pada processus mastoideus, suara masih terdengar saat garpu tala diletakkan di depan MAE Tes rinne (-) jika setelah diletakkan pada processus mastoideus, suara tidak terdengar saat garpu tala diletakkan di depan MAE Rinne ( + ) menunjukkan adanya tuli sensorineoral yang kemungkinan besar

Tes

kelainannya terletak pada Teling Bagian Dalam.

Tuli Koklea dan Retrokoklea Tuli Sensori Neural

Ototoxic

NIHL (Noise Induced Hearing Loss)

Telinga Dalam

Presbikusis

Tuli Mendadak

Gangguan Pendengara n

Tuli Konduksi
Telinga Tengah dan Luar

Tuli Konduktif Geriatri Infeksi Penumpukan Serumen

Tuli Campuran
Telinga Tengah/Luar dan Telinga Dalam

Pada skenario didapatkan 3 gejala khas yang terdapat pada pasien antara lain tinitus, vertigo, dan tuli sensorineural yang merupakan kelainan yang diakibatkan oleh kerusakan pada telinga dalam khususnya pada hair cells dari organ corti yang dapat disebabkan oleh bising yang terus menerus, inveksi virus, obat oto toksis(misalnya salicylates, quinine dan analog nya, aminoglycoside, loop diuretics misalnya furosemide dan ethacrynic acid, dan cancer chemotherapeutic agents contohnya cisplatin), fraktur Os. Temporal, meningitis, cochlear otosclerosis, meniere disease, dan penuaan. Malformasi kongenital pada telinga dalam dapat menyebabkan gangguan pendengaran pada orang dewasa. Presbycusis merupakan penyebab tuli sensorineural yang paling sering pada orang dewasa. Pada tahap awal, penyakit ini memiliki karakteristik gangguan pendengaran yang

simetris, dan pada frekuensi tinggi. Pada tahap lebih lanjut, gangguan pendengaran terjadi pada semua frekuensi, kejernihan pendengaran menurun, sulit membedakan suara, recruitment, dan cocktail party deafness. Mnire's disease memiliki karakteristik adanya vertigo episodik, gangguan pendengaran yang berfluktuasi, tinnitus, dan rasa penuh. Tinitus dan gangguan pendengaran mungkin tidak tampak pada awal serangan vertigo. Secara histologis, terjadi peningkatan tekanan sistem endolymphatic (endolymphatic hydrops) yang menyebabkan degenerasi sel rambut vestibular dan koklear. Hal ini mungkin diakibatkan adanya gangguan endolymphatic sac akibat trauma, infeksi, penyakit autoimun, inflamasi, tumor, ataupun idiopatik. Tuli koklea dan tuli retrokoklea adalah tuli yang terjadi pada koklea dan saraf nervus VIII (retrokoklea) yang bersifat sensori neural. Ditandai dengan recruitment dan decay/fatigue (kelelahan) yang didapatkan pada pemeriksaan: tes SISI (short increment sensitivity index), tes ABLB (Alternate binaural loudness balance test), tes kelelahan (tone decay), audiometry tutur, dan audiometry Bekesy. Tuli NIHL (noise induced hearing loss) adalah gangguan pendengaran yang disebabkan akibat terpajan oleh bising yang cukup keras dalam dalam jangka waktu yang cukup relatif lama akibat pajanan bising kerja. Umumnya terjadi pada kedua telinga dan sifatnya adalah sensori neural. Orang bisa menjadi NIHL biasanya karena terpajan intensitas bising yang cukup tinggi, frekuensi bising yang tinggi, dan lamanya paparan bising tersebut. Gejalanya yaitu cocktail party deafness. Tuli mendadak adalah tuli yang terjadi secara tiba-tiba dan penyebabnya tidak dapat langsung diketahui. Jenis tulinya adalah sensori neural dan biasanya terjadi pada satu telinga. Keadaan tuli mendadak adalah kegawatan neurologi karena sifat tulinya yang permanen. Gangguan pendengaran akibat obat ototoxic adalah tuli yang bersifat sensori neural dan gejalanya adalah tinnitus. Umumnya jika pengobatan dihentikan keluhan tinnitus akan menghilan (pada kina). Mekanisme ototoxic terjadi karena degenerasi struktur anatomi telinga dalam. Berdasarkan tanda dan gejala yang ada pada skenario serta mengacu pada penjelasan per gejala dan kaitan antar gejala maka kemungkinan DD untuk kasus di scenario tersebut adalah. 1. Noise Induced Hearing Loss (NIHL)

2. Tuli sensorineural pada geriatric (presbiskusis)

3. Tuli konduksi pada geriatric Tetapi dari beberapa diagnosis tersebut tidak dapat ditentukan diagnosis pasti sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang lainnya untuk menetukan diagnosis pasti pada pasein diskenario anatara lain tes audiometri.
Degenera si Atrofi kelenjarkelenjar serumen produksi serumen MAE kaku dan tebal Serumen kering Gumpalan serumen (serumen prop)

Usia Tua

Serumen sulit dikeluarkan Penumpukan serumen Tuli konduksi Impuls abnormal Aktivitas elektrik pada area auditorius Menimbulkan perasaan adanya bunyi Tinnitus nada rendah