Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM EKOLOGI TUMBUHAN

STRUKTUR DAN KOMPOSISI VEGETASI HERBA

Disusun Oleh: Nama NIM : A.S Rayhan Sahara : 091404021

Kls/Klp : A/V

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

2011

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan lengkap Praktikum Ekologi Tumbuhan dengan judul Struktur dan Komposisi Vegetasi Herba disusun oleh: Nama Nim Kelas Kelompok diterima. Makassar, Dosen Penanggungjawab Oktober 201 1 : A.S Rayhan Sahara : 09 140402 1 :A : III

Telah diperiksa dan dikoreksi oleh dosen ekologi timbuhan, maka dinyatakan

Praktikan

Dr. Muhammad Wiharto, M.Si. NIP: 1966 09 30 1992 03 1 004

A.S Rayhan Sahara Nim. 09 140402 1

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Ekologi merupakan ilmu tentang interaksi antar organisme satu dengan organsme lainya serta interaksi organisme tersebut dengan lingkungannya. Lingkungan ini bisa berupa lingkungan biotic maupun lingkungan abiotik. Lingkungan biotic berupa mahluk hibup atau organisme lain yang ada disekitar individu atau populasi sedangkan lingkungan abiotik berupa benda mati seperti batu, udara, suhu, air, cahaya matahari yang dapat mempengaruhi induvidu atau suatu populasi tersebut. Herba menrupakan tumbuhan yang tidak berkayu dimana batang dari tumbuhan ini mengandung banyak air. Herba ini bisa saja hidup di tempat kering seperti kaktus. Namun bisa juga hidup di tempat ternaung dan setengah ternaung bahkan dapat juga hidup di daerah yang tergenang air seperti enceg condok. Namun dalam praktikum kali ini akan diamati luas penutupan tanaman herba pada tiga derah yang berbeda yaitu di daerah terbuka (yang terkna cahaya matahari langsung), daerah setengan ternaung dan daerah teraung. Praktikm ini dilaksanakan dengan menggunakan transek spanjang 100 meter dimana pada setiap transek terdapat 10 tegakan sepanjang 10 meter dan dalam satu tegakan

terdapat 10 plot yang berukuran 1x1 meter. Dalam plot ini akan dilihat luas penutupan tajuk suatu spesies yang dinyatkan dalam persen (%). Untuk dapat lebih memahami
B. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengtahui perbedaan populasi dan penutupan tajuk tanaman herba pada tempat terbuka, setengah ternaung dan ternaung.
C. Manfaat Praktikum

Adapun manfaat dari praktikum ini adalah mahasiswa mengetahui dan lebih memahami perbedaan jumlah populasi dan luas penutupan tajuk tanaman herba pada tempat terbuka, setengah ternaung dan tempat ternaung.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Ekologi pada mulanya diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh manusia sejak pertama kali dia hidup didunia. Namun, munculnya istilah ekologi berdasarkan prakarsa biolog Jerman yang memperkenalkan istilah ekologi adalah Ernest Haeckel (1834 1919) pada tahun 1860. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikos yang berarti rumah, tempat tinggal, habitat dan logos yang berarti ilmu. Secara harfiah ekologi adalah ilmu tentang mahkluk hidup dalam rumahnya, atau dapat diartikan juga sebagai ilmu tentang rumah tangga mahluk hidup. Banyak yeng mendifinisikan ekologi, menurut Kendeiihgh (1980) ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara organisme yang satu dengan yang lainnya. Di dalam Webmaster Unabridged Dictionary, ekologi disebut sebagai totalitas atau pola hubungan antara organisme-organisme dengan lingkungannya. Lingkungan di sini adalah gabungan dari komponen fisik maupun hayati yang berpengaruh terhadap kehidupan organisme (Rifqi, 2010). Lingkungan meliputi komponen abiotik (factor-faktor kimiawi dan fisik tak hidup), seperti suhu, cahaya, air dan nutrient. Yang juga penting pengaruhnya pada organisme adalah komponen biotic (hidup) semua organism lain yang merupakan bagian dari lingkungan dari suatu individu. Organisme lain bisa berkompetisi dengan suatu individu untuk mendapatkan makanan dan sumber daya lainnya, memangsanya, atau mengubah lingkungan fisik dan kimiawi. Organisme dipengaruhi oleh lingkungannya (baik komponen biotic maupun abiotik) akan tetapi dengan kehadirana dan aktivitas organism itu juga akan mengubah llingkungannya yang seringkali terjadi secra dramatis (Campbell, 2004). Sistem kehidupan ini selalu terjadi hubungan timbal mempengaruhi antara makhluk hidup dengan balik yang saling hidupnya lingkungan/tempat

membentuk suatu ekosistem. Salah satu unsur yang paling penting adalah komunitas, yang dalam dunia tumbuhan lebih dikenal dengan istilah vegetasi (Hariyadi, 1991).

Struktur komunitas tumbuhan memiliki sifat kualitatif dan kuantitatif. Dengan demikian dalam deskripsi struktur komunitas tumbuhan dapat dilakukan dengan cara kualitatif dengan parameter kuantitatif. Namun, persoalan yang sangat penting dalam analisis komunitas adalah bagaimana cara mendapatkan data terutama data kuantitatif dari semua spesies tumbuhan yang menyusun komunitas. Parameter kuantitatif dan kualitatif apa saja yang dibutuhkan, penyajian data dan interpretasi data, agar dapat mengemukakan komposisi floristic serta sifat-sifat komunitas tumbuhan secara utuh dan menyeluruh (Indriyanto, 2005). Pernyataan organisme-organisme hidup dan lingkungan tidak hidupnya (abiotik) berhubungan erat tak terpisahkan dan saling pengaruh-mempengaruhi satu sama lain. Satuan yang mencakup semua organisme di dalam suatu ruang atau daerah yang saling mempengaruhi dengan lingkungan fisiknya sehingga arus energi mengarah ke struktur makanan, keanekaragaman biotik, dan daur-daur bahan yang jelas. Dari segi fungsional ekosistem dapat dianalisis dengan baik menurut segi: (i) sirkuit-sirkuit energy, (ii) rantai-rantai makanan, (iii) pola-pola keanekaragaman dalam waktu dan ruang, (iv) daur-daur makan (biogeokimia, (v) perkembangan dan evolusi, dan (vi) pengendalian (cybernetics). Baik biotik maupun abiotik mempengaruhi sifat-sifat lainnya dan kedua perlu pemeliharaan kehidupan seperti yang kita miliki di atas bumi ini (Odum, 1998). Pengertian vegetasi adalah semua spesies tumbuhan yang terdapat dalam suatu wilayah yang luas, yang memperlihatkan pola distribusi menurut ruang dan waktu. Tumbuhan penutup permukaan bumi merupakan vegetasi yang dapat berbeda dalam ruang dan waktu untuk komponen spesies penyusunnya, berdasarkan ukuran keluasan maka vegetasi dapat dibedakan dalam formasi adalah suatu tipe vegetasi yang sangat luas yang menutupi permukaan bumi, sebagai contoh adalah formasi Taiga, dimana keberadan formasi Taiga terletak pada pada beberapa benua, komposisi formasi taiga pada beberapa benua merupakan suatu komposisi tumbuhan yang identrik sehingga tetap dengan nama formasi Taiga. Formasi Taiga pada

beberapa tempat di belahan bumi mempunyai penyusun vegetasi yang mempunyai kesamaan dalam hal, komposisi floristik, fisiognomi dan muncul pada habitat yang relatif konsisten yang disebut sebagai asosiasi. Penyusun formasi Taiga merupakan bermacam macam Asosiasi yang (Anonim, 2011) Vegetasi terbentuk oleh atau terdiri atas semua spesies tumbuhan dalam suatu wilayah (flora) dan memperlihatkan pola distribusi menurut ruang (spatial) dan waktu (temporal). Jika suatu wilayah berukuran luas/besar, vegetasinya terdiri atas beberapa bagian vegetasi atau komunitas tumbuhan yang menonjol. Sehingga terdapat berbagai tipe vegetasi. Tiap tipe vegetasi dicirikan oleh bentuk pertumbuhan (growth form atau life form) tumbuhan dominan (terbesar, paling melimpah, dan tumbuhan karakteristik). Contoh bentuk pertumbuhan (growth form): termasuk herba tahunan (annual), pohon selalu hijau berdaun lebar, semak yang meranggas pada waktu kering, tumbuhan dengan umbi atau rhizome, tumbuhan selalu hijau berdaun jarum, rumput menahun (perennial), dan semak kerdil (Hardjosuwarno, 1990). Struktur suatu komunitas alamiah bergantung pada cara di mana tumbuhan atau hewan tersebar atau terpencar di dalamnya. Pola penyebarannya bergantung pada sifat fisikokimia lingkungan maupun keistimewaan biologis organisme itu sendiri. Keragaman itu tak terbatas dari pola penyebaran demikian yang terjadi dalam alam secara kasar dapat dikelaskan menjadi tiga kategori: (i) penyebaran teratur atau seragam, di mana individu-individu terdapat pada tempat tertentu dalam komunitas, (ii) keberadaan acak atau kebetulan, di mana individu-individu menyebar dalam beberapa tempat dan mengelompok dalam tempat lainnya, (iii) penyebaran berumpun, di mana individu-individu selalu ada dalam kelompok-kelompok dan sangat jarang terlihat sendiri secara terpisah (Michael,1994). Menurut Supriatno (2001), gambaran tentang suatu vegetasi dapat dilihat dari keadaan unut penyusun vegetasi yag dicuplik. Hal tersebut dapat diyatakan dengan varabel berupa nilai dari: juga dapat dikatakan sebagai komunitas

1. Kerapatan. Kerapatan menggambarkan cacah angota poplasi persatuan unit

cuplikan (luas dalam metode kuadrat atau panjang dalam metode line intercept). Dala penggunaan metode kuadrat kerapatan sering dinyatakan sebagai kepadatan (density). Kepadatan diartikan sebagai cacah individu untuk setiap unit sampling (luasan). Kerapatan sering jug disamakan dengan kelimpahan (abundance), merupakan ukuran rerata keberadaan spesies tumbuhan pada unit cuplikan (kuadrat atau segmen) tumbuhan yang dimkasud berada.
2. Penutupan (cover), adalah presentase daerah yang ditutpi oleh kanopi dari

setiap unit cuplikan. Kanopi dari tumbuhan membuat suatu lingkungna mikro yang lebih kecil. Penutupan dapat pula dinyatakan dengan dominansi. Domonansi merupakan basal daerah atau naungan tajuk per satuan luasan.
3. Frekuensi adalah presentase terdapatnya tumbuhan dalam unit cuplikan atau

merupakan fraksi (bagian) unit cuplikan yang didapatkan adanya species tertentu. Ukuran populasi tumbuh-tumbuhan pada mulanya kurang diteliti tetapi kemudian populasi vegetasi sangat ditentukan oleh lingkungannya. Ukuran poplasinya dikendalikan oleh factor habitat ketidakketergantungannya kepada kerapatannya. Apabila pertumbuhan populasi sepenuhnya dikendalikan oleh factorfaktor ketergantungan kerapatan, barangklai daya tahannya tidak terlalu lama. Populasi semacam itu akan berfluktuasi sepanjang daya dukung lingkungan tergantung factor-faktor ketidaktergantungann yang mengendalikannya. Apabila bergoyng kebawah tidak akan ada factor ketergantungan yng mengendalikannya untuk menghalangi jumlah penurunan. Dalam keadaan demikian factor-faktor ketidaktergantngan kepada kerapatan nilainya berlawanan sehingga populasi dapat mengalami kepunahan. Oleh karena itu secara alami mekanisme ketergantungan kerapatan yang mengimbanginya akan merupakan penyangga pada peristiwa penuruna populasi yang merupakan bencana (Wirakusumah, 2003).

BAB III METODE PRAKTIKUM


A. Waktu dan Tempat

Hari/Tanggal Waktu Tempat


1. Alat

: Sabtu, 22 Oktober 2011 : Pukul 08.00 wita sampai selesai. :

B. Alat dan Bahan

a. Meteran b. Plot 1x1 m c. Alat tulis d. Patok e. Tali rapiah 2. Bahan : a. Tanaman yang ada di dalam plot pada lahan dengan vegetasi yang

heterogen
C. Prosedur Kerja 1.

Membuat transek dengan membentangkan tali sepanjang 100 meter Mengukur 10 meter pada tali untuk membuat tegakan. Pada setiap tegakan dibuat 10 plot yang berukuran 1 x 1 meter. Melihat dan menghitung luas penutupan tanaman herba pada plot. Mengulangi langkah kerja 1 sampai 4 pada tempat setengah ternaung

yang kedua ujungnya dipatok di tempat terbuka.


2. 3. 4. 5.

dan ternaung.

D. Analisis Data

Indeks diversitas / keanekaragaman :

dimana : H = Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener ni = Jumlah individu jenis ke-n N = Total jumlah individu

Indeks Kemerataan :

E = Indeks kemerataan jenis H = Indeks keanekaragaman jenis S = Jumlah jenis

Indeks Kekayaan :

dimana : R1 = Indeks kekayaan Margallef S = Jumlah jenis N = Total jumlah individu

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A.

Hasil pengamatan

1.

Daerah terbuka
H'
1.448 1.254 0.936 0.877 0.894 1.554 0.700 0.830 1.183 1.064 10.739 1.074 1.554 0.700 0.078 0.280

Tegakan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah Rata-rata Maksimal Minimal Variansi Std. Dev.

e
0.479 0.405 0.313 0.293 0.303 0.504 0.235 0.286 0.382 0.339 3.384 0.338 0.504 0.080 0.014 0.119

R
0.185 0.113 0.127 0.127 0.134 0.201 0.098 0.106 0.113 0.135 1.340 0.134 0.201 0.098 0.001 0.034

2. Tegakan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah Rata-rata Maksimal Minimal Variansi Std. Dev.

Tempat setengah ternaung


H' 1.331 2.180 1.830 0.956 1.549 1.501 1.516 1.359 0.908 1.400 14.530 1.453 2.180 0.908 0.140 0.374 e 0.522 0.698 0.640 0.123 0.001 0.489 0.504 0.501 0.344 0.593 4.417 0.442 0.698 0.001 0.050 0.223 R 0.265 0.274 0.298 0.114 0.183 0.146 0.189 0.220 0.192 0.330 2.211 0.221 0.330 0.114 0.005 0.069

3. Tegakan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah Rata-rata Maksimal Minimal Variansi Std. Dev.

Tempat ternaung
H' 1.9 1.13 0.84 0.81 1.44 0.44 1.31 0.87 0.51 0.33 9.58 0.96 1.90 0.33 0.24 0.49 e 0.81 0.41 0.31 0.37 0.55 0.16 0.49 0.39 0.22 0.15 3.86 0.39 0.81 0.15 0.04 0.20 R 0.53 0.2 0.14 0.17 0.29 0.09 0.23 0.23 0.15 0.16 2.19 0.22 0.53 0.09 0.02 0.12

B. Pembahasan 1.

Tempat terbuka Pada daerah terbuka terdapat 10 tegakan. Dimana dalam setiap

tegakan terdapat 10 buah plot. Dalam setiap plot dihitung luas penutupan tajuk setiap spesies. Dari hasil pengamatan terlihat bahwa jumlah indeks keanekaragaman (H1) di tempat terang yang terdiri atas 10 tegakan adalah 10,379 sehingga rata-ratanya adalah 1,074. Adapun nilai indeks keanekaragaman terkecil ada pada tegakan 7 yaitu 0,700 dan nilai H1 terbesar ada pada tegakan 6 yaitu 1,554. Dengan vairansi 0,078 dan standar veriasi yaitu 0,280. Selain indeks keanekaragaman (H1) juga diperoleh indeks kemerataan (e). Di mana nilai kemerataat tertinggi ada pada tegakan 6 yaitu 0,504 sedangkan nilai indeks kemerataan terendah atau terkecil adalah 0,080.

Dari 10 tegakan jumlah indeks kemerataannya adalah 3,384 dan rata-ratanya adalah 0,338. Dengan variansi 0,014 dan standar deviasi 0, 119. Indeks kekayaan (R1) juga dihitung dari masing-masing tegakan. Diman tegakan yang memiliki indeks kekayaan tertinggi adalah tegakan 6 yaitu 0,201 sedangkan tegakan yang memiliki indeks kekayaan terendah adalah tegakan tegakan 7 yaitu 0,098. Jumlah indeks kekayaan dari semua tegakan di tempat terang ini dalah 1,340 dan rata-ratanya adalah 0, 134. Dengan variansi 0,001 dan standar deviasi yaitu 0,034. Dengan demikian dapat disimpukan bahwa pada tegakan 7 merupakan daerah tergersang atau daerang yang memiliki jumlah populasi terendah. Dan tegakan 6 merupakan daerah tersubur pada tempat terbuka ini karena memiliki jumlah populasi terbayak dan luas penutupan populasi yang besar. 2 . Tempat Setangah ternaung. Pada tempat setangah ternaung ini juga dilakukan hal yang sama dengan tempat terang yaitu dibuat sebuah transek sepanjang 100 meter. Dimana pada sepanjang transek ini terdapat 10 tegakan. Dimana dalam setiap tegakan terdapat 10 buah plot. Dalam setiap plot dihitung luas penutupan tajuk setiap spesies. Dari hasil pengamatan terlihat bahwa tegakan yang memiliki indeks keanekaragaman (H1) tertinggi yaitu pada tegakan 2 yaitu 2,180 sedangkan tegakan yang mempunyai indek keanekaragaman terendah adalah tergakan 9 yaitu 0,908. Jumlah indeks keanekaragaman dari kesepuluh tegakan yaitu 14,530 dan rata-rataya adalah 1,453. Serta variansinya adalah 0, 140 dan standar deviasinya adalah 0,374. Selain indeks keanekaragaman (H1) juga diperoleh indeks kemerataan (e). Di mana nilai kemerataat tertinggi ada pada tegakan 2 yaitu 0,698 sedangkan nilai indeks kemerataan terendah ada pada tegakan 5 yaitu 0,001. Jumlah indeks kemerataan dari sepuluh tegakan di tempat setengah ternaung adalah 4,417 dan rata-ratany adalaha 0,442. Variansi indeks kemerataan dari

tempat setengah ternaung ini adalah 0,050 dan standar deviasinya adalah 0,223. Indeks kekayaan (R1) juga dihitung dari masing-masing tegakan. Diman tegakan yang memiliki indeks kekayaan tertinggi adalah tegakan 10 yaitu 0,330 sedangkan tegakan yang memiliki indeks kekayaan terendah adalah 4 yaitu 0,014. Jmlah keseluruhan indeks kekayaan dari kesepuluh tegakan adalah 2,211 dan rata-ratanya adalah 0,221. Variasi dari indeks kekayaan di tempat setangah ternaung ini adalah 0,005 dan standar deviasinya adalah 0,069.
3. Tempat ternaung

Pada tempat ternaung juga dibuat sebuat transek sepanjang 100 meter. Dimana pada sepanjang transek ini terdapat 10 tegakan. Dimana dalam setiap tegakan terdapat 10 buah plot. Dalam setiap plot dihitung luas penutupan tajuk setiap spesies. Dari hasil pengamatan terlihat bahwa tegakan yang memiliki indeks keanekaragaman (H1) tertinggi yaitu pada tegakan 1 yaitu 1,90 sedangkan indeks keanekaragaman terendah adapada tegakan 10 yaitu 0,33. Jumlah indeks keanekaragaman dari kesepuluh tegakan yaitu 9,58 dan ratarataya adalah 0,96. Serta variansinya adalah 0,24 dan standar deviasinya adalah 0,49. Selain indeks keanekaragaman (H1) juga diperoleh indeks kemerataan (e). Di mana nilai kemerataat tertinggi ada pada tegakan 1 yaitu 0,81 sedangkan nilai indeks kemerataan terendah ada pada tegakan 10 yaitu 0,15. Jumlah indeks kemerataan dari sepuluh tegakan di tempat setengah ternaung adalah 3,86 dan rata-ratany adalaha 0,39. Variansi indeks kemerataan dari tempat setengah ternaung ini adalah 0,04 dan standar deviasinya adalah 0,20. Indeks kekayaan (R1) juga dihitung dari masing-masing tegakan. Diman tegakan yang memiliki indeks kekayaan tertinggi adalah tegakan 1

yaitu 0,53 sedangkan tegakan yang memiliki indeks kekayaan terendah adalah 10 yaitu 0,09. Jumlah keseluruhan indeks kekayaan dari kesepuluh tegakan adalah 2, 19 dan rata-ratanya adalah 0,22. Variasi dari indeks kekayaan di tempat setangah ternaung ini adalah 0,02 dan standar deviasinya adalah 0, 12.

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah nilai indeks keanekaragaman tertinggi pada daerah setengah ternaung yaitu pada tegakan 2 adalah 2,180 yang tergolong sedang dan terendah pada tegakan 10 adalah 0,33 yang tergolong rendah. Nilai indeks kekayaan tertinggi pada daerah ternaung tegakan ada pada tegakan 1 yaitu 0,53 yang yergolong rendah sedangkan yang terendah ada pada tegakan 6 yaitu 0,09tergolong rendah. Serta nilai indeks kemerataan tertinggi pada daerah ternaung adapada tegakan 1 yaitu 0,8 yang tergolon tinggi dan pada daerah setengah ternaung tegakan 5 adalah 0,001 tergolong rendah.
B. Saran 1.

Diharapkan bagi praktikan agar dapat bekerja sama dan membagi Diharapkan agar adanya asisten yang mendampingi praktikan saat

waktu dengan baik agar praktikum bis selesai dengan cepat.


2.

melakukan praktikum agar tujuan praktikum dapat tercapai dengan baik

DAFTAR PUSTAKA Anonim1, 2011. Ekologi Lingkungan dan Vegetasi.

http://sriwidoretno.staff.fkip.uns.ac.id. Diakases pada 27 Oktober 2011. Campbell, Neil A; Reece; dan Mitchell. 2004. Biologi Jilid III Edisi Kelima. Erlangga. Jakarta. Hariyadi, Wito. 1991. Biologi. Surabaya: SIC Surabaya. Hardjosuwarno, Sunarto. 1990. Dasar-Dasar Ekologi Tumbuhan. Yogyakarta: Universitas Negeri Gadjah Mada. Indriyanto. 2005. Ekologi Hutan. Bumi Aksara. Jakarta. Michael, P. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. Dinas Kehutanan. Jakarta. Odum, Eugene P. 1998. Dasar-Dasar Ekologi Edisi Ketiga. UGM Press. Jogjakarta. Rifqi, Arief. 2010. Ekologi Dasar ; Keterbatasan, Komunitas, Nich, Dan Suksesi. http://www. Arif Rifqis Site@Blogger.com.Diakses tanggal 30 Mei 2009. Soetjipta. 1994. Dasar-Dasar Ekologi Hewan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

Suprianto. 2001. Pengantar Praktikum Ekologi Tumbuhan. Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA UPI.