Anda di halaman 1dari 12

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA POKOK BAHASAN OPTIK DENGAN METODE HANDS-ON ACTIVITES PADA SISWA KELAS XC SEMESTER

II SMA NEGERI 8 SEMARANG TAHUN AJARAN 2009/2010

ARTIKEL Disusun oleh : Nama : Nova Ratna Susanti NPM : 06330093

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM IKIP PGRI SEMARANG 2010

ARTIKEL SKRIPSI

1. Latar Belakang Pendidikan adalah upaya manusia untuk mendapatkan cakrawala pengetahuannya dalam rangka membentuk nilai, sikap, dan perilaku. Sebagai upaya yang bukan saja membuahkan manfaat yang besar, pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang sering dirasakan belum memenuhi harapan. Hal itu disebabkan banyak lulusan pendidikan formal yang belum dapat memenuhi kriteria tuntutan lapangan kerja yang tersedia, apalagi menciptakan lapangan kerja yang baru sebagai persentase penguasaan ilmu yang diperolehnya dari lembaga pendidikan. Kondisi seperti ini merupakan gambaran rendahnya kualitas pendidikan. Menurut C.T. Morgan Motivasi adalah proses psikologi yang terjadi pada diri seorang akibat adanya interaksi antar sikap, kebutuhan, keputusan, dan persepsi seseorang dengan lingkungan. Motivasi dapat diartikan juga sebagai pendorong atau penggerak yang berasal dari dalam diri individu untuk bertindak ke arah suatu tujuan tertentu (Hamzah B. Uno, 1986). Pembelajaran Fisika di SMAN 8 Semarang memiliki kecenderungan menjadi suatu pembelajaran yang terkesan kaku, hening dan selalu tersistem dengan skenario yang sudah diciptakan oleh guru dalam proses pembelajaran, meskipun itu tidak sesuai dengan kondisi kelas.

Menghasilkan pembelajaran Fisika yang bermakna maka harus memahami bagaimana pembelajaran Fisika dapat berpusat pada siswa, berangkat dari ketertarikan dan minat siswa. Pembelajaran berpusat pada siswa, hal ini dilakukan sebagai upaya peningkatan daya serap dan pemahaman siswa pada materi yang diajarkan. Selain alasan dalam hal kognitif, pembelajaran yang berpusat pada siswa juga diharapkan akan mampu meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam proses pembelajaran. Realitanya di SMAN 8 Semarang, siswa kurang antusias pada saat mengikuti pembelajaran Fisika. Hal ini disebabkan karena adanya pembelajaran yang monoton dan cenderung satu arah. Hal ini juga didukung dengan adanya indikator bahwa guru adalah penguasa dalam kelas sehingga kelas terkesan kaku dan kurang atraktif karena dalam pembelajaran guru hanya terfokus pada materi tanpa menjadikan bermakna bagi siswa sehingga siswa tidak dapat menyampaikan ide-ide. Selain itu motivasi untuk kelas XC kurang maksimal, sehingga dalam pembalajaran Fisika cenderung membosankan. Dalam proses belajar mengajar jarang menggunakan alat praktikum sehingga siswa kurang berminat dengan pelajaran Fisika, dan kreaktivitas siswa pun kurang. Maka peneliti menggunakan metode hands-on activites dalam pembelajaran Fisika tersebut selain dengan metode ceramah, dengan metode ini diharapkan siswa termotivasi untuk mengikuti dan menampilkan ide-ide dalam pembelajaran Fisika.

2. Landasan Teori

a. Motivasi Pada dasarnya setiap perilaku individu didorong oleh suatu daya penggerak atau kekuatan dari dalam individu tersebut. Daya penggerak ini merupakan faktor pendorong yang melatarbelakangi perilaku serta merupakan alasan terjadinya perilaku, faktor pendorong ini kemudian dikenal sebagai motivasi. Jadi motivasi adalah keadaan dalam diri seseorang yang bersangkutan untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai tujuan (Hamzah Uno, 2006).

b. Jenis-jenis motivasi Dilihat dari adanya dan timbulnya motivasi ada 2 jenis: 1) Motivasi Intrinsik Jenis motivasi ini akan timbul sebagai akibat pengaruh dari dalam individu sendiri tanpa adanya paksaan dan dorongan dari orang lain tetapi atas kemauan sendiri. 2) Motivasi ekstrinsik Jenis motivasi ini akan timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhab atau paksaan dari orang lain, sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya Ia mau melakukan sesuatu atau belajar.

c. Metode pembelajaran Hands-on Activites Pengertian pembelajaran dengan model hands-on activites

dijelaskan oleh Paul Suparno ,2007 : 123.

Pembelajaran fisika dengan model hands-on activites membantu siswa untuk belajar fisika atau prinsip-prinsip fisika dengan melalui keaktifan membuat sesuatu benda, peralatan atau hal, yang didasari dengan prinsip fisika. Tekanan model ini adalah siswa dibiasakan aktif membuat atau menciptakan sesuatu peralatan yang menggunakan prinsip fisika. Kadang peralatan itu sungguh alat yang dapat digunakan dalam kehidupan nyata, terkadang lebih permainan, atau juga penemuan konsep fisika sendiri. Maka model hands-on activites dapat berisikan pembelajaran dengan inquiry, discovery, kerja kelompok, eksperimen, dan lain-lain. Segi utama adalah aktivitas yang menggunakan prinsip fisika

d. Materi Cahaya Pemantulan Cahaya 1. Jenis dan hukum pemantulan cahaya Pemantulan teratur (specular reflection) adalah pemantulan cahaya yang permukaan-permukaannya halus seperti cermin datar. Pemantulan baur (diffuse reflection) adalah pemantulan cahaya yang permukaan-permukaannya kasar seperti kertas. Hukum pemantulan a) Sinar datang, garis pantul, dan sinar normal berpotongan pada satu titik dan terletak pada satu bidang datar. b) Sudut datang (i) sama dengan sudut pantul (r). Garis normal

sinar datang

sinar pantul

i r

gambar 1. Pemantulan cahaya pada cermin 2. Pemantulan pada cermin datar a)Sifat-sifat bayangan pada cermin datar 1) Maya. 2) Sama besar dengan bendanya. 3) Tegak dan menghadap berlawanan arah ( berbalik ) tehadap bendanya. 4) Jarak benda ke cermin sama besardengan jarak bayangan dari cermin. b)Melukis pembentukan bayangan pada cermin datar. Cemin datar B B Pada gambar ditunjukan lukisan Pembentukan bayangan benda berbentuk A Mata Gambar2. Lukisan pembentukan Bayangan benda berbentuk garis A garis. Pertama Anda lukis dulu bayangan titik A sehingga dihasilkan bayangan A, Kedua, Anda lukis bayangan titik B dengan cara yang sama, sehingga dihasil kan bayangan yang sama yaitu B. akhirnya bayangan AB adalahAB dan dilukiskan dengan garis putus-putus karena merupakan bayangan maya.

3. Pemantulan pada cermin lengkung Ada dua jenis cermin lengkung yang sederhana, yaitu cermin silinder dan cermin bola. Cermin yang akan kita pelajari adalah cermin bola. Bentuk penampang lintang cermin cekung (bola) dan cermin cembung diperlihatkan pada gambar,M adalah titik pusat lengkung cermin, dan O adalah titik tengah cermin. P M depan O P O M

(a) Cermin cekung, titik M berada di depan cermin.

(b) Cermin cembung, titik M berada di belakang cermin

Gambar 3. penampang lintang cermin lengkung (bola) 4.Pemantulan pada cermin cembung a)Tiga sinar istimewa pada cermin cekung (1) Sinar datang sejajar sumbu utama cermin dipantulkan melaluititik fokus F. (2) Sinar datang melalui titik fokus F dipantulkan sejajar sumbu utama. (3) Sinar datang melalui titik pusat lengkung M dipantulkan kembali ke titik pusat lengkung tersebu (4)
(3) (1)

(2)

Gambar 4. Tiga sinar istimewa pada cermin cekung Pembiasan cahaya

Peristiwa pembelokan cahaya ketika cahaya mengenai bidang batas antara dua medium yaitu pembiasan cahaya. 1. Konsep dasar pembiasan cahaya a. Hukum Snellius tentang pembiasan. Hukum I Snellius berbunyi sinar datang, sinar bias, garis normal terletak pada satu bidang datar. Hukum II Snellius berbunyi jika sinar datang dari medium kurang rapat ke medium lebih rapat (misal dari udara ke air ), maka sinar dibelokkan mendekati garis normal. Dan sebaliknya, sinar datang dari medium lebih rapat ke medium kurang rapat , maka sinar dibelokkan menjauhi garis normal. 2. Pemantulan sempurna. Di kelas VIII telah dipelajari tentang sudut kristis dan pemantulan sempurna secara kualitatif. Misalnya pada kehidupan sehari-hari, pemantulan sempurna cahaya matahari oleh perbedaan kerapatan udara sehingga tampak seperti ada genangan air didepan jalan beraspal panjang, disebut

fatamorgana, pemantulan sempurna pada prisma yang dimanfaatkan oleh periskop dan kamera.

3. Metode penelitian a. Tempat penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA N 8 Semarang tahun ajaran 2009 / 2010, tepatnya pada kelas XC semester II. b. Waktu penelitian Penelitian dilaksanakan pada Semester Genap tahun ajaran 2009 / 2010, karena pokok bahasan Optik diajarkan pada semester tersebut. A. Rancangan Penelitian Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 2 siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan lingkup materi yang berbeda tetapi mempunyai karakteristik yang sama yaitu optik. Prosedur pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 4 tahap dalam setiap siklusnya yaitu: Perencanaan tindakan Pelaksanaan tindakan Observasi Analisis dan refleksi

B. Teknik Pengumpulan Data Metode analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif.

Analisis kualitatif artinya seluruh data yang terkumpul diolah secara non statistik untuk menggambarkan situasi hasil penelitian dan ada tidaknya peningkatan hasil belajar siswa. Pengambilan data secara kualitatif yaitu dengan observasi. Dalam menganalisis data, melalui tahap-tahap sebagai berikut : Membuat tabel distribusi lembar observasi. Menentukan skor responden dengan ketentuan skor yang telah telah ditetapkan. Menjumlahkan skor yang diperoleh dari tiap-tiap responden. Hasil yang diperoleh dimasukan ke dalam tabel.

C. Instrumen Instrumen yang dilakukan peneliti yaitu menggunakan angket untuk mengukur tingkat motivasi siswa dan lembar observasi untuk megukur tingkat keaktifan siswa.

4. Hasil penelitian dan Pembahasan a. Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari dua siklus yang ditempuh diperoleh data motivasi belajar klasikal sebelum dilakukan tindakan 32,25%,siklus I yaitu 61,29% dan siklus II yaitu 80,64 %. Pada siklus I

peningkatan motivasi kurang maka dilakukan penelitian pada siklus II yang meningkat dari 61,29% - 80,64%. Penelitian pada siklus II dikatakan berhasil karena sudah ada peningkatan motivasi belajar siswa.

b. Pembahasan Secara keseluruhan rangkaian proses penelitian dengan menggunakan metode pembelajaran Hands-on activites pada pokok bahasan optik pada prinsipnya membantu siswa untuk meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran fisika dengan cara membuat pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan, meningkatkan kretifitas siswa. Siswa diminta membuat atau menciptakan sesuatu, guru dapat mengetahui sejauh mana pengetahuan dan kretifitas siswanya. Jadi model pembelajaran hands-on activites menurut Paul Suparno, 2007 untuk meningkatkan kreatifitas siswa itu benar, karena dapat memotivasi siswa untuk lebih minat dengan pembelajaran fisika, sehingga siswa dalam mengikuti pembelajaran fisika lebih semangat dengan adanya bukti nyata yang telah mereka lakukan, dan lebih siap dalam mengikuti pembelajaran fisika karena sebelumnya sudah belajar di rumah.

5. Kesimpulan dan Saran a. Kesimpulan Dalam pokok bahasan Optik dari pelaksanaan siklus I dan siklus II dapat disimpulkan sebagai berikut, motivasi belajar siswa terhadap metode hands-on activites mengalami peningkatan sebanyak 19,34% (61,29% menjadi 80,63 %). b. Saran

1. Guru mata pelajaran fisika hendaknya menguasai banyak model pembelajaran sehingga murid tidak jenuh dengan pelajaran fisika yang diberikan. 2. Guru pelajaran Fisika agar dapat menerapkan model pembelajaran handson activites untuk mengembangkan aktifitas siswa. 3. Bagi siswa harus memiliki kesiapan menerima materi baru dengan membaca dan mempelajari modul terlebih dahulu di rumah. 4. Bagi peneliti berikutnya dapat melakukan penelitian serupa dalam pembelajaran fisika materi pelajaran yang lain dengan memperhatikan pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman menarik dan dorongan mengajukan strategi pemecahan masalah