Anda di halaman 1dari 23

TUTORIAL KEPERAWATAN JIWA Seorang gadis usia 25 tahun berhasil di selamatkan setelah tadi pagi melakukan percoban bunuh

diri dengan minum obat serangga. Keluarga melaporkan bahwa beberapa bulan terakhir ini putrinya terlihat murung dan lebih suka menyendiri dikamar, saat pengkajian pasien mengatakan putus asa, merasa bingung apa yang harus dilakukan. Klien adalah mahasiswi tingkat akhir yang telah memasuki semester ke 10. Skripsi yang di kerjakannya mengalami kebuntuan bahkan sekarang klian merasa tidak ada semangat lagi untuk mengerjakan, selain itu klien juga merasa malas untuk beraktifitas yang lain termasuk ke kampus, hingga merasa bahwa mengakhiri hidup adalah jalan yang lebih baik

MASALAH Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian Pengertian mood (afeksi) Mahasiswa mampu mengetahui jenis-jenis gangguan mood (afeksi) Mahasiswa mampu menjelaskan sebab terjadinya gangguan mood (afeksi) Mahasiswa mampu menjelaskan tanda dan gejala gangguan mood (afeksi) Mahasiswa mampu menjelaskan tipe-tipe gangguan mood (afeksi) Mahasiswa mampu menjelaskan faktor predisposisi gangguan mood (afeksi) Mahasiswa mampu menjelaskan faktor presipitasi gangguan mood (afeksi) Mahasiswa mampu menjelaskan akibat gangguan mood (afeksi) Mahasiswa mampu menjelaskan mekanisme koping gangguan mood (afeksi) Mahasiswa mampu menjelaskan respon ngangguan mood (afeksi) Mahasiswa mampu menjelaskan penananganan mood (afeksi) Mahasiswa mampu menjelaskan satatus mental dari kasus Mahasiswa mampu melakukan Asuhan Keperawatan
1

PEMBAHASAN Pengertian mood (afeksi) Mood adalah kondisi perasaan yang etrus ada yang mewarnai kehidupan psikologis kita. Mood bisa berupa perasaan sedih, marah atau pun depresi. Mood merupakan perasaan hati yang mewarnai seluruh kehidupaqn psikis seseorang dan mempengruhi seseorang dalam waktu yang lama. Misalnya seseoarang yang malas untuk berkomunikasi, sedih, malas makan, malas bekerja. (Iyus Yosep, 2007)

Jenis-jenis gangguan mood (afeksi) Menurut buku saku diagnosis gangguan jiwa rujukan ringkasan dari PPDGJ-3 Dr. Rusdi Maslim : F30 EPISODE MANIK F30.1 Hipomania F30.2 Mania tanpa gejala psikotik F30.3 Mania dengan gejala psikotik F30.8 Episode manic lainnya F30.9 Episedo manic YTT F31 GANGGUAN AFEK BIPOLAR F31.0 Episode kini hipomanik

F31 .1 Episode kini manic tanpa gejala psikotik F31.2 Episode kini manic dengan gejala psikotik F31.3 Episode kini depresif ringan atau sedang F31.4 Episode kini depresif berat tanpa gejala psikotik F31.5 Episode kini depresif berat berat gejala psikotik F31. 6 Episode kini campuran F31. 7 Kini dalam remisi F31. 8 Gangguan afektif bipolar lainnya F31. 9 Gangguan afektif bipolar YTT F32 EPISODE DEPRESIF F32.0 Episode depresif ringan F32.1 Episode depresif sedang F32.2 Episode depresif berat tanpa gajala psikotik F32.3 Episode depresif berat dengan gajala psikotik F32.8 Episode depresif lainnya F32.9 Episode depresif YTT F33 GANGGUAN DEPRESI BERULANG F33.0 Episode kini ringan F33.1 Episode kini sedang F33.2 Episode kini berat F33.3 Episode kini berat dengan gejala somatik F33.4 Kini dalam remisi

F33.8 Gangguan depresif berulang lainnya F33.9 Gangguan depresif berulang YTT F34 GANGGUAN SUASANA PERASAAN (mood(efeksi)) MENETAP F34.0 Sikloimia F34.1 Distimia, Dopresi neurotic, Depresi ansietas (menetap) F34.8 Gangguan suasana perasaan (mood(afeksi)) manetap lainnya F34.9 Gangguan suasana perasaan (mood(afeksi)) menetap YTT F38 GANGGUAN SUASANA PERASAAN (mood(efeksi)) LAINNYA F38.0 Gangguan suasana perasaan (mood(afeksi)) tunggal lainnya F38.1 Gangguan suasana perasaan (mood(afeksi)) berulang lainnya F38.8 Gangguan suasana perasaan (mood(afeksi)) lainnya YTT F39 GANGGUAN SUASANA PERASAAN (mood(efeksi))YTT

Sebab terjadinya gangguan mood (afeksi) Depresi Ada indikasi bahwa sebagian besar dari orang yang berhasil melakukan bunuh diri tengah dilanda depresi pada saat tindakan tersebut dilakukan. Krisis dalam hubungan interpersonal Konflik-konflik dan pemutusan hubungan, seperti konflik-konflik dalam perkawinan, perpisahan, perceraian, kehilangan orang-orang terkasih akibat kematian, dapat menimbulkan stress berat yang mendorong dilakukannya tindakan bunuh diri. Kegagalan dan devaluasi diri Perasaan bahwa dirinya telah gagal dalam suatu urusan penting, biasanya menyangkut pekerjaan, dapat menimbulkan devaluasi diri atau rasa kehilangan harga diri yang mendorong tindakan bunuh diri.

Konflik batin Di sini stress itu bersumber dari konflik batin atau pertentangan di dalam pikiran orang yang bersangkutan sendiri. Misalnya seorang pria lajang merasa cemas, bingung, ragu-ragu antara memilih hidup atau mati, dan akhirnya memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan teka-teki itu dengan melakukan bunuh diri. Kehilangan makna dan harapan hidup Karena kehilangan makna dan harapan hidup, oran merasa bahwa hidup ini sia-sia. Akibatnya orang memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Perasaan semacam ini sering dialami oleh orang-orang yang menderita penyakit kronik atau penyakit terminal. Tanda dan gejala gangguan mood (afeksi) Gejala secara umum dari gangguan mood afeksi Sulit kosentrasi dan daya ingat menurun Nafsu makan dan berat badan menurun Gangguan tidur (insomnia) Aghasi/ retardasi motorik Hilang perassan senang, semangat dan minat, meninggalkan hobi Kreativitas dan prodiktifitas menurun Gangguan seksual Pikiran-pikiran tentang kematian dan bunuh diri

Tipe-tipe gangguan mood (afeksi) Ada beberapa tipe-tipe gangguan mood yaitu Gangguan depresi Gangguan depresi mayor Terjadi satu atau lebih periode atau episode depresi ( disebut episode depresi mayor) tanpa ada riwayat terjadinya episode manik atau hipomanik alami. Seseorang dapat mengalami satu episode depresi mayor, yang diikuti dengan kembalinya mereka pada keadaan fungsional yang biasa. Umumnya orang yang pernah mengalami depresi mayor dapat kambuh lagi di antara periode normal atau kemungkinan mengalami hendaya pada fungsi-fungsi tertentu. Gangguan distimik Pola depresi ringan (tetapi kemungkinan saja menjadi mood yang menyulitkan pada anak-anak atau remaja ) yang terjadi dalam satu rentang waktupada orang dewasa biasanya dalam beberapa tahun Gangguan perubahan mood Gangguan bipolar gangguan yang disertai satu atau lebih episode manik atau hipomanik (episode mood yang melambung dan hiperaktivitas dimana penilaian dan tingkah laku mengalami hendaya). Episode manik atau hipomanik sering digantikan dengan episode depresi mayor dengan jeda periode mood yang normal Ganguan siklotimik Gangguan mood kronis meliputi beberapa episode hipomanik (episode yang disertai dengan cirri-ciri manik pada tingkat keparahan yang lebih rendah daripada episode manik) dan beberapa periode mood tertekan atau hilangnya minat atau kesenangan pada kegiatan-kegiatan, tetapi tingkat keparahannya tidak sampai memenuhi criteria sebagai episode depresi mayor (sumber DSM-IV- TR) (APA,2000)

Tipe mood menurut Iyus Yosep, 2007 Mood episode Mayor depresif episode Manic episode Tipe lainnya (other) Depresif disorder Mayor depresif episode Disthymic disorder Bipolar disorder Bipolar disorder Chyclotimic disorder Faktor predisposisi gangguan mood (afeksi) Genetic factor Factor yang dapt mempengaruhi transmisi gangguan afetif melalui riwayat keluarga atau keturunan. Aqreision turned inuard theory Teori agresi menyerang kedalam manunjukkan bahwa depresi terjadi karena perasaan marah yang ditunjukkan pada dirisendiri. Objek loss theory Teori kehilangan objek menunjuk pada perpisahan individu dengan benda atau seseorang yang memberikan rasa aman untuk dekat. Personality organization theory Teory organisasi kepribadian menguraikan bagaimana konsep diri yang negative dan harga diri rendah yang mempengruhi keyakinan dan penilaian sesorang terhadap stressor. Cognitive madel

Madel kognitif menyatakan bahwa depresi merupakan masalah kognitif yang didomonasi oleh evaluasi negative seseorang terhadap diri sendiri, dunia seseorang dan masa depan

Learned helplessness model Model ketidak berdayaan yang dipelajri menunjukkan bahwa semata-mata bukan trauma yang menyebabkan depresi tetapi keyakinan bahwa seseorang tidak mempunyai kendali terhadap hasil yang penting dalm kehidupannya. Behavioral model Model perilaku perkembangan dari teori kerangka belajar social, yang mengasumsi bahwa penyebab depresi terletak pada kurangnya keinginan positif dalam berinteraksi dengan lingkungan. Biological model Model biologic menguraikan peribahan kimia dalam tubuh yang terjadi selama masa depresi, termasuk defisiensi katekolamin, disfungsi endokrin, hipersekresi kortisol dan fariasi periodic dalam irama biologic. Masalah dalam bounding attachment dan genetic Gangguan antara ibu dan anak pada usia dini

Faktor presipitasi gangguan mood (afeksi) Ada 4 besar sumber utama stressor yang dapat mencetuskan gangguan alam perasaan: Kehilangan yang nyata atau yang dibayangkan termasuk kehilangan cinta seseorang, fungsi fisik, kedudukan atau harga diri. Karena elemen actual dan simbolik melibatkan konsep kehilangan, maka persepsi pasien

merupakan hal yang sangat penting. Peristiwa besar dalam kehidupan sering dilaporkan sebagai pendahulu episode depresi yang mempunyai damapak terhadap masalah-masalah yang dihadapi sekarang dan kemampuan menyelesaikan masalah. Perandan ketegangan peran telah dilaporkan mempengaruhi perkembangan depresi terutama pada wanita Perubahan fisiologis diakibatkan oleh oabt-obatan atau sebagai penyakit fisik seperti infeksi, neoplasma dan gangguan keseimbangan metabbolik, dapoat mencetuskan gangguan alam perasaan. Diantara obat-obatan tersebut terdapat obat anti hipertensi dan penyalahgunaan zat yang menyebabkan kecanduan. Kebanyakan penyakit kronik yang melemahkan tubuh juga sering disertai dengan depresi. Depresi yang terdapat pada usia lanjut biasanya bersifat kompleks, karena untuk menegakkan diagnosisnya sering melibatkan evaluasi dari kerusakan efek organic dan depresi klinik.

Akibat gangguan mood ( afeksi) Pada depresi: Afektif: Marah, cemas, sedih, putus asa, kesepian, harga diri rendah Fisiologis: Nyeri perut, anoreksia, insomnia, konstipasi, berat badan turun Kognitif: Ambivalen, bingung, konsentrasi kurang, menyalahkan diri, pesimis, ragu-ragu, ide bunuh diri Perilaku: Ganngguan aktivitas, iritabel, ketergantungan, kurang minat, penurunan psikomotor. Pada Mania Afektif: Elasi, suka humor, harga diri tinggi, tak mau dikritik, tidak merasa malu, tida merasa bersalah Fisiologis: Dehidrasi, nutrisi tidak adekuat, sukar tidur, berat badan menurun

Kognitif: Ambisi, denial, pikiran mudah pecah, flight of idea, waham kebesaran, ilusi Perilaku: agresif, hiperaktif, tak bertangngung jawab, iritabel, kebersihan diri kurang, aktivitas meningkat

Mekanisme koping gangguan mood (afeksi) Perilaku yang berhubungan dengan Mania Afektif Kognitif Fisik Tingkah laku Gembira yang berlebihan Harga diri meningkat Tidak tahan kritik Mudah terpengaruh Mudah beralih perhatian Waham kebesaran Ilusi Flight of ideas Gangguan penglihatan Nutrisi yg tidak adekuat

Berkurangnya kebutuhan tidur/istirahat Berat badan menurun Kurang bertanggung jawab Perawatan diri kurang Perilaku yang berhubungan dengan depresi Afektif Kognitif Fisik Tingkah laku Sedih, cemas, apatis, murung, Kebencian, kekesalan, marah, Perasaan ditolak, perasaan bersalah, Merasa tdk berdaya, putus asa Merasa sendirian Merasa rendah diri, Merasa tak berharga Ambivalensi, bingung, ragu-ragu, Tidak mampu konsentrasi, Hilang perhatian dan motivasi, Menyalahkan diri sendiri, Pikiran merusak diri, Rasa tidak menentu, Pesimis Sakit perut, anoreksia, mual, muntah, Gangguan pencernaan, konstipasi,

11

Lemah, lesu, nyeri, kepala, pusing Insomnia, nyeri dada, overakting, Perubahan berat badan, gangguan selera makan, Gangguan menstruasi, impoten, Tidak berespon terhadap seksual. Agresif,agitasi,tidak toleran Gangguan tingkat aktivitas Kemunduran psikomotor Menarik diri, isolasi sosial, Iritabel(mudah marah, menangis, tersinggung) Berkesan menyedihkan Kurang spontan Gangguan kebersihan Mekanisme koping yang digunakan pada reaksi kehilangan yang memanjang adalah denial dan supresi,hal ini untuk menghindari tekanan yang hebat. Depresi,yaitu perasaan berduka yang belum terselesaikan,mekanisme koping yang digunakan adalah represi,supresi,denial dan disosiasi. Tingkah laku mania merupakan mekanisme pertahanan terhadap depresi yang diakibatkan dari kurang efektifnya koping dalam menghadapi kehilangan.

Respon ngangguan mood( afeksi)

Emotional responsive : Klien lebih terbuka, menyadari perasaannya, dapat berpartisipasi dengan dunia luar dan dunia internal Reaksi kehilangan yang wajar : Klien merasa bersedih, kegatan sehri-hari klient berhenti, pikiran dan perasaan klient lebih berfokus pada diri sendiri Supresi : Merupakan tahap awal dimana koping induvidu termasuk dalan maladaptive. Supresi reaksi kehilangan yang memanjang : Dapat mengganggu indivudu. Mania/depresi : Gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan sedih berlebih, murung, tidak bersemangat, perasaan tidak berharga, merasa kosong, putus harapan, selalu merasa dirinya gagal, tidak berminat terhadap ADL sampai dengan ide bunuh diri.

Penanganan Gangguan Mood (Afeksi)

13

Terapi Terapi individual Eksplorasi perasaan kehilangan, dan fasilitas proses berduka Diskusikan perilaku mengalahkkan diri, harapan yang tidak realistis, dan kemungkinan distori dari realita Kaji bagaimana distorsi koknitif pada klien turut menyebabkan depresi Dorong pengungkapan rasa frustasi, marah dan putusasa Upaya untuk mengubah pola berfikir negative otomatis tentang diri, orang lain, lingkungan dan masa depan Beri kesempatan pada klien seperti diskusi dan bermain peran untuk menyelesaikan masalah interpersonal Monitor masalah-masalah fisiologis yang di induksi atau diperburuk oleh depresi Terapi Keluarga Kaji fungsi keluarga, pola komunikasi, peran yang diharapkan, keterampilan menyelesaikan masalah dan stresor Dapatkan informasi dari masing-masing keluarguarga tentang situasi keluarga saat ini Tentukan bagai mana konflik atau krisis ditangani, dan efaluasi dukungan anggota keluarga yang satu terhadap yang lain Kaji tingkat ketertutupan dan ketidak pedulian anggota keluaraga Terapi kelompok Berupaya untuk meningkatkan harga diri dan mengakui kekuatan masingmasing anggota kelompok Ajarkan klien tentang cara membentuk dan mempertahankan hubungan

interpersonal, terutama setelah mengalami kehilangan Bantu klien mengembangkan strategi untuk memperoleh dukungan social, mengurangi rasa kesepian, mendapatkan umpan balik dari orang lain dan mengatasi stressor Ajarkan klien tentang bagaimana dengan dukungan dan bantuan taman sebaya mempelajari cara untuk menurunkan dan kemudian menghiangkan distirsi kognitif.

Pendekatan Pendekatan psikodinamika Psikoanalisis tradisional membantu orang depresi untuk memeahami perasaan mereka yang ambivalen terhadap orang-orang (objek) penting dalam hidup mereka yang telah hilang atau terancam hilang. Dengan menggali perasaan marah terhdap objek yang hilang , mereka mengarahkan rasa marah keluar melalui ekspresi verbal dari perasaan dan bukan membiarkannya menjadi lebih buruk dan mengarah kedalam. Pendekatan Behavioral Terapi perilaku bertujuan secara langsung memodifikasi perilaku dan bukan menumbuhkan kesadaran kemungkinan penyebab yang tidak disadari dari perilaku-perilaku ini. Pendekatan Kognitif Aaron beck dan kolega-koleganya telah mengembangkan pendekatan pengembangan multikomponen disebut terapi kognitif yang berfokus pada membantu orang depresi menyadari dan mengubah pola pikir mereka yang disfungsional Pendekatan Biologis Pendekatan biologis umumnya menangani gangguan mood melibatkan penggunaan obat-obatan antidepresan dan terapi elektrokonvulsif untuk depresi serta litium karbonat untuk gangguan bipolar. Macam macam obat

15

yang di gunakan ; ansiolitik, antipsikotik

Pengobatan Ada tiga fase penata laksanaan farmakologis yang digambarkan dalam Panel Pedoman Depresi yang terdiri dari: Fase akut : dosis obat disesuaikan untuk mencegah efek yang merugikan dan klient diberikan punyuluhan. Fase lanjut : klien dimanitir dalam dosis efektif untuk mencegah terjadinya kambuh. Fase pemeliharaan : seorang klien yang beresiko kambuh sering kali tetap diberi diberi obat bahkan salama waktu remisi Obat yang sering kali di gunakan trisiklik, inhibitor MAO, antipsikotik, benzodiazepine, dsb

Satatus mental dari kasus Status pasien dalam keadaan krisis karena keinginan/ide bunuh diri : ya/tidak (jika jawaban ya berarti klien langsung ,masuk ke katagori IV/krisis.

Asuhan Keperawatan Pengkajian HAL YANG PERLU DI KAJI Identitas klien Nama : G

Umur Jenis kelamin Dx medis

: 25 tahun : perempuan : gangguan mood disorder (afeksi) (F30)

Identitas Penanggung jawab Nama Umur Jeniskelamin Pekerjaan Hubungan dengan klien : X : 47 tahun : laki-laki : : orang tua (ayah)

Alasan pasien masuk Mi num obat serangga

Faktor predisposisi Putusasa Merasa bingung Murung

Fakor presipitasi Skripsi yang dikerjakannya mengalami kebuntuan Pemeriksaaan Fisik

17

Keluarga mengatakan klien terlihar murung dan suka menyendiri Riwayat kesehatan sebelumnya : Riwayat kesehatan sekarang putusasa dengan tidak semangat lagi untuk mengerjakan skripsinya Mekanisme koping Jangka pendek 1. Kegiatan yang dilakukan untuk lari sementara dari kebingungan 2. Kegiatan yang memberi dukungan sementara 3. Kegiatan yang mencoba menghilangkan rasa putusasanya Prilaku motorik Gelisah Tidak merasa nyaman Skor : krisis (sudah melakukan percobaan tingdakan bunuh diri)

Diagnosa DATA DO :DS : Riwayat upaya bunuh diri sebelumnya : dengan minum obat serangga Perubahan sikap dan perilaku yang nyata : Keluarga melaporkan bahwa beberapa bulan terakhir ini putrinya terlihat murung dan lebih suka menyendiri dikamar DO : DS : Penyalahgunaan agens kimia : klien melakukan percoban bunuh diri dengan minum obat serangga Perubahan dalam pola komunikasi yang biasa : Keluarga melaporkan
19

DIAGNOSA

Resiko bunuh diri (00150)

bahwa beberapa bulan terakhir ini putrinya terlihat murung dan lebih suka menyendiri dikamar

Koping tidak efektif (00069)

Intervensi No Diagnosa 1. Resiko bunuh diri (00150) (NOC) Tujuan : Setelah dilakuakan tindakan keperawatan selama 3 hari resiko bunuhdirinya berkurang : Pasien dapat merencanakan untuk menghindari penyalahgunaan Membatasi klient dari kontak (melihat/mendengar dll) agens dengan penyalahunaa Memberi saran pada keluarga untuk member bimbingan Pasien dapat menarik diri sejak hubungan yang membahayakannya Social support Kriteria hasil : Resiko bunuh diri menurun dengan bukti halusinasi keinginan bunuh diri menurun (NIC) Monitor untuk tanda dari kelalaian dalam resiko tinggi dalam keluarga Monotir interaksi orangtua anak dan peringatan pengawasan Mendengar untuk keterangan dari bagaimana kadaan putusasa Monitor tanda dan gejala dari penyalahgunaan benda untuk fisiknya Mengarahkan untuk tercukupinya kebutuhan

atau jarang muncul Pasien sudah tidak merasa tidak putusasa dan bingung Pasien dapat melnggunakan mekanisme kopingnya dalam menghadapi masalah

spiritual dengan kerjasama rohaniawan.

No Diagnosa

(NOC) Tujuan dan Kriteria Hasil Mengenal koping efektif efektif Memverbalkan kemampuan control Melaporkan menurunnya stress Modifikasi gaya hidup sesuai dengan kebutuhan Menggunakan support social yang memungkinkan

(NIC) Tindakan Preningkatan Koping Hargai dan diskusikan respon terhadap situasi Gunakan pendekatan yang tenang dan memberikan jaminan Sediakan atmosfer penerimaan Bantu klien dalam mengembangkan penghargaan yang objektif terhadap kejadian Bantu klien mengidentifikasi informasi yang paling menarik untuk didapatkan

2.

Koping (00069)

tidak efektif Mengenal koping tak

21

Mengerjakan perilaku yang menurunkan stress Menggunakan strategi koping efektif Menghindari situasi stressfull Memverbalkan kebutuhan akan bantuan Melaporkan menurunnya keluhan fisik Melaporkan menurunnya perasaan negative Melaporkan kenyamanan psikologis yang meningkat Keterangan: 1 : Tidak pernah menunjukan 2 : jarang menunjukan 3 : Kadang-kadang menunjukan 4 : Sering menujukan 5 : Selalu Menunjukan

Evaluasi kemampuan klien membuat keputusan Catat pemahaman perspektif klien terhadap situasi stressfull Turunkan kegiatan pengambilan keputusan saat klien berada pada stress berat Dukung penguasaan situasi secara berangsur Dukung kesabaran dalam mengembangkan hubungan Dukung hubungan dengan seseorang yang mempunyai ketertarikan dan tujuan yang sama Eksplorasi alas an mengkritis diri pasien Konfrontasikan ambivalen klien Dorong mengeluarkan mengontrol emosi Kenalkan klen dengan orang lain/grup yang pernah mengalam I kesuksesan denga pengalaman yang sama Dukung verbalisasi dari perasaan, persepsi dan takut Bantu klien utnuk mengidentifikasi tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang tepat Bantu klien memecah tujuan yang kompleks menjadi lebih kecil

dengan tahap yang dapat diatur Dukung keterlibatan keluarga dengnan cara yang tepat Bantu klien untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan

DAFTAR PUSTAKA Kaplan,Harold.dkk. 1997. Synopsis Psikiatri (Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis). Jakarta : Binarupa Aksara

Copel, Linda carman. 2007. Kesehatan Jiwa dan Psikiatri (Pedoman Klinis Perawat). Jakarta : EGC

Yosep, iyus.S.Kp.,M.Si. 2007. Keprerawatan Jiwa. Refika Aditama

http://psychologysoul.blogspot.com/2010/11/gangguan-mood.html

23