Anda di halaman 1dari 5

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> Dunia pendidikan, merupakan aspek penting dalam sebuah kehidupan, bukan hanya untuk kepentingan individu saja

melainkan juga berkenaan dengan kepentingan khalayak umum. Jauh kedepan dunia pendidikan merupakan aspek penting dalam penyiapan generasi penerus bangsa. Melalui pendidikan diharapkan generasi muda bangsa siap untuk menggantikan para generasi tua. Melalui pendidikan pula, diharapkan dapat menghasilkan generasi yang mumpuni baik dalam skill maupun soft skill. Diharapkan pula generasi penerus yang melek akan kemajuan zaman dan terbuka akan IPTEK dan mempunyai sikap yang dapat di banggakan. Sejalan dengan era globalisasi, dimana ilmu pengetahuan telah berkembang pesat, dunia pendidikan pun dituntut untuk mengikutinya. Dengan dasar itu pula pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan, menyangkut bagaimana, siapa, kenapa, dimana, apa pendidikan tersebut berjalan. RAPBN untuk pendidikan dari tahun ke tahun semakin bertambah. Studi banding dilaksanakan, berbagai aturan pun di canangkan mulai dari pusat sampai daerah. Dari wacana penghapusan ujian nasional sampai aturan baru kelulusan. Hal ini semata-mata untuk menghasilkan generasi yang terbaik. Berbagai kualitas pun dibangun untuk memenuhi tuntutan. Mulai dari SMK, S1, S2 dan S3. Diharapkan seluruh proses ini menghasilkan output-output yang handal.

Era Globalisasi

Pendidikan

Kebijakan
Pusat Daerah Sekolah

OutPut

Pendidikan bukanlah sarana untuk mencari pekerjaan, bukan untuk mencari uang, bukan untuk formalitas belaka. Namun, jauh lebih dari itu, pendidikan harus menghasilkan manusia yang dalam segala tindakannya berdasarkan ilmu. Ilmu berhitung untuk melatih logika, Ilmu bahasa untuk melatih komunikasi, Ilmu sosial untuk perbaikan sikap, Ilmu alam untuk mengerti bagaimana alam diciptakan, dan Ilmu agama untuk menyeimbangkan semua ilmu tersebut.

Jikalau di telaah lebih mendalam, mengenai pendidikan di Indonesia. Berkaca pada sejarah, dulu setelah merdeka, dengan pendidikan yang seadanya dunia begitu terpukau akan orang-orang Indonesia, yang mana kemampuannya telah diakui oleh masyarakat internasional. Banyak sekali tenaga-tenaga kerja dari Indonesia yang dikirim keluar negeri, bukan sebagai tenaga rendahan namun sebagai tenaga kerja profesional. Namun, kenapa sekarang keadaannya menjadi sangat terbalik. Tenaga kerja bangsa Indonesia hanya menjadi tenaga kerja rendahan??? Apakah sangat kurangnya pendidikan di Indonesia? Apakah kurangnya media pendidikan di Indonesia? Apakah kurangnya tenaga pendidik yang handal? Lantas, apakah ini tujuan dari pendidikan yaitu menghasilkan para tenaga rendahan? Permasalahan begitu kompleks, mulai dari masyarakat yang kolot, kepercayaan tradisionalisme, kebijakan pemerintah, kebijakan sekolah, bahkan dari guru sampai murid. Bukan hanya tenaga keja rendahan, praktek korupsi, kolusi dan nepotisme, mafia hukum, calo, sampai kelicikan dalam perdagangan. Apakah ini tujuan dari pendidikan yang notabene menjadikan manusia yang bertindaak atas dasar ilmu???? Mari kita persempit permasalahannnya. Semua orang tahu, bahwa mekanisme perubahan adalah dimulai dari hal paling kecil Hal paling kecil. Dimulai dari mencontek, hal yang paling sepele saya rasa. Hampir semua guru mengumandangkan dilarang mencontek, hampir setiap aturan dalam ulangan disertakan kalimat tersebut.

Sebenarnya apakah makna dari dilarang mencontek? Apa akibat dari hal sepele ini?
Dilarang mencotek hanyalah formalitas belaka, atas dasar tidak tega ini guru membiarkan pratek ini berkelanjutan. Bukan hanya itu, atas dasar masa lalu pula guru membiarkan hal ini terjadi. Sebuah ironi dalam ironi. Yang tidak saya sangka hal ini menjadi sebuah kebudayaan secara turun temurun dan menjadi aturan tidak tertulis. Begitu mudahnya mendapat nilai sempurna tanpa harus bersusah payah. Tanpa harus begadang semalaman tanpa harus memperhatikan guru yang menerangkan. Tanpa harus melakukan apaapa Begitu rendahnya harga sebuah angka yang menentukan segalanya, Bapak/Ibu Guru. Jikalau harga sebuah angka ini begitu rendahnya, lantas apakah perbedaan seorang murid yang berusaha keras belajar setiap malam, berusaha melakukan ujian dengan jujur dan seorang murid yang jelas-jelas tidak jujur dalam mengerjakan ujian tersebut? Kenapa saya harus berusaha keras belajar dengan sungguh-sungguh jikalau harga sebuah nilai itu sangat rendah? Apa Perbedaannya? Mencontek adalah perbuatan curang, tidak jujur dan tidak baik, membuat seseorang itu malas, bodoh, tidak mau berusaha keras, tidak menghargai guru yang menerangkan dan tidak memperhatikan apa yang disampaikan. Apalagi mecontek telah membudaya dari lembaga pendidikan yang paling rendah hingga paling tinggi.

Mencontek adalah perbuatan curang. Jika seseorang sejak kecil telah terbiasa berbuat curang apalagi ketika orang itu dewasa. Inilah kenapa banyak sekali permasalahan yang mendera bangsa ini, mulai tingkat paling tinggi KKN, mafia hukum sampai tingkat paling rendah kecurangan dalam perdagangan. Karena alasan tidak tega, karena alasan kasihan, pelaksana pendidikan membiarkan praktek ini.

Tanpa sadar hal ini telah menghasilkan generasi penghancur bangsa, bukan generasi penerus bangsa. Itulah kenapa dari tahun ke tahun generasi muda terus merosot Bayangkan saja jika orang yang terbiasa berbuat curang tersebut mempunyai kekuasaan, apakah yang akan terjadi?
Jujur, saya sudah capek, lelah untuk berusaha. Apa yang saya perjuangkan sia-sia. Saya dikalahkan oleh orang-orang yang kemampuannya jauh lebih rendah dari saya. Apalagi hampir semua guru membiarkan hal ini. memang benar pepatah modern jujur ajur. Bapak Ibu Guru, masih ada anak-anak yang jujur diantara semua murid-murid mu. Jangan patahkan semangat mereka untuk belajar dengan sungguh-sungguh.

Tulisan tangan, dari seorang murid yang merasa lelah untuk belajar