Anda di halaman 1dari 2

Tinjauan Pustaka Keracunan Tembaga Tembaga adalah elemen penting yang terdapat dalam tubuh manusia dan banyak

digunakan sebagai komponen utama dalam alat-alat listrik, metalurgi, fotografi, pewarna, penyamakan kulit dan pemurnian air. Salah satu persenyawaan tembaga yang banyak digunakan adalah tembaga sulfat yang biasa dipakai sebagai campuran fungisida, algasida, herbisida dan insektisida. Keracunan tembaga banyak terjadi pada anak dan bayi karena pengawasan orang tua yang kurang maksimal, biasanya keracunan tembaga melalui rute gastrointestinal akibat tertelan secara tidak sengaja. Gejala awal yang ditimbulkan oleh keracunan ini adalah nyeri hebat pada perut, nausea, diare, dan pendarahan pada epigastrium. Pendarahan akan menyebabkan hematemesis karena tembaga bersifat korosif dan iritan pada mukosa pencernaan. Gejala biasa mulai terlihat pada 10 menit setelah ingesti racun, pemeriksaan yang pernah dilakukan tidak menemukan adanya indikasi keracunan hati. Hemolisis intravaskular dan gagal ginjal akut merupakan efek utama pada keracunan ini. Penderita harus segera ditangani karena sangat berbahaya. Penanganan keracunan tembaga meliputi terapi suportif seperti penggantian darah yang telah rusak dengan transfusi, menaikkan level cairan intravaskuler dan vasokonstriktor, pemberian obat untuk cuci lambung dan karbon aktif tidak dianjurkan karena berpotensi menyebabkan perforasi pada sepanjang saluran pencernaan. Pemberian dimercaprol juga dapat dijadikan alternatif penanganan keracunan tembaga (Mortazafi dan Javidi 2008).

Dapus : Mortazavi F, Javidi AL. 2008. Acute Renal Failure due to Copper Sulfate Poisoning. Iran I. Pediatr : 19 (1) : 75-78

Keracunan Timbal Timbal adalah unsur pertama yang dikenal sebagai racun oleh manusia. Kegunaannya yang sangat banyak membuat timbal sulit dipisahkan dari kehidupan manusia, sampai kini fungsinya belum dapat digantikan oleh unsur lain, sehingga kasus keracunan timbal masih banyak ditemukan. Daerah pertambangan dan ekstraktor dapat dikategorikan sebagai daerah rawan cemaran timbal, sebagai indikator cemaran, dilakukan observasi pada lapisan tanah atas, tumbuhan, darah, hati dan ginjal sapi yang terdapat pada daerah cemaran hingga radius 10 kilometer. Dari hasil observasi yang dilakukan sejak tahun 1975 hingga tahun 2002 ditemukan bahwa kandungan timbal dalam darah sapi terus menurun seiring waktu berjalan, hal ini disebabkan oleh semakin berkembangnya teknologi dalam pengolahan limbah hasil penambangan, sehingga cemaran dapat diminimalisir. Selain pengolahan limbah, salah satu cara untuk mengurangi cemaran adalah pemasangan alat filter yang dapat menyaring cemaran limbah sehingga level cemaran dapat diturunkan hingga batas minimal. Dapus Zadnik T. 2010. Monitoring of Lead in Topsoil, Forage, Blood, Liver, and Kidneys in Cows in a LeadPolluted Area in Slovenia (19752002). International Journal of Chemical Engineering Volume 2010 : 1-9