Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Huhate atau yang dalam bahasa internasional disebut dengan "Pole and

Line" merupakan alat penangkap ikan yang sudah digunakan sejak zaman dahulu oleh masyarakat ambon secara turun temurun. Huhate dipergunakan khusus untuk menangkap cakalang, maka tak heran jika alat ini juga dikenal dengan "Pancing Cakalang". Huhate merupakan alat pancing yang sangat sederhana dan murah untuk kegiatan memancing sehingga sampai saat ini masih banyak nelayan yang menggunakan alat pancing ini. Selain itu huhate juga alat tangkap yang ramah lingkungan sehingga tidak merusak ekosistem lautan. Kelebihan lainnya yaitu metode dalam penggunaannya pun tidak terlalu rumit. Penggunaan alat tangkap huhate diharapkan dapat menjadi salah satu sarana untuk memanfaatkan potensi ikan di Lautan terutama ikan cakalang di perairan Indonesia secara lebih optimal. Selain itu juga dapat tetap menjaga kelestarian perairan Indonesia. Sehingga kita sebagai mahasiswa perikanan dan ilmu ke lautan sangat penting untuk mengetahui dan mempelajarinya. 1.2. Tujuan Penyusunan makalah mengenai alat tangkap huhate ini bertujuan untuk memenuhi salah satu nilai dari mata kuliah Metode Penangkapan Ikan. Selain itu juga untuk mengetahui deskripsi dan metode penangkapan ikan yang dilakukan dengan menggunakan alat pancing huhate.

BAB II ISI

2.1.

Deskripsi Alat Huhate atau umumnya lebih dikenal dengan pole and line adalah alat

2.1.1. Huhate

pancing yang dikhususkan untuk menangkap ikan cakalang di perairan Indonesia, oleh karena itu huhate juga dikenal sebagai alat pancing cakalang. Huhate ini pada umumnya digunakan oleh para nelayan di kawasan Timur Indonesia terutama Ambon. Huhate termasuk alat tangkap ikan yang paling sederhana dan murah harganya. Huhate atau pole and line ini dioperasikan sepanjang siang hari pada saat terdapat gerombolan ikan di sekitar kapal. Alat tangkap ini bersifat aktif, yaitu kapal akan mengejar gerombolan ikan, setelah gerombolan ikan berada disekitar kapal lalu dilakukan pemancingan. Keunikan dari alat tangkap huhate ini yaitu, bentuk mata pancing huhate tidak berkait seperti lazimnya mata pancing. Mata pancing huhate ditutupi bulubulu ayam atau potongan tali rafia yang halus agar tidak terlihat oleh ikan.

Gambar 1. Bentuk Mata Pancing Huhate (Sumber: http://ardian-maestro.blogspot.com) Konstruksi huhate atau pole and line terdiri dari tiga komponen pokok, yaitu: 1. Joran atau bambu yang panjangnya sekitar 4-6 meter, berdiameter sekitar 56 cm dan pada bagian ujung 2-2,5 cm yang sesuai untuk pegangan orang Asia pada umumnya. Ukurannya bisa disesuaikan pula dengan ukuran kapal

atau perahu yang digunakan untuk memancing. Bambu atau fiberglass sangat baik untuk dijadikan joran karena mempunyai daya lentur yang tinggi dan ringan. Jenis bambu yang baik memiliki cirri sebagai berikut: Beruas pendek dengan susunan yang bagus Agak gepeng Ada stangnya (maksud dari stang adalah: bambu yang berkarakter mempunyai ruas yang pendek, kemudian ada satu ruas yang panjang di bagian ujung, ada pula dua ruas pada ujung). Umur bambu yang sudah tua Mempunyai ciri yang mengerucut, dari besar ke kecil Bambu yang sudah ditarang sampai berbulan-bulan, ditaruh di atas dapur masak yang mengunakan bahan kayu bakar. Untuk mendapatkan hasil warna yang kecoklatan, semakin lama kita menarang akan mendapatkan hasil yang lebih sempurna. Dari warna yang semakin coklat dan bambu yang lebih ulet. Dalam pemillihan bambu pun sangat berpengaruh terhadap kinerja joran tersebut. Semakin kecil bambu maka semakin lentur joran tersebut. 2. Tali pancing yang berdiameter sekitar 1 mm dan terbuat dari bahan nylon ataupun monofilament. Panjang tali tidak lebih panjang dari panjang joran biasanya 2/3 dari panjang joran. 3. Mata pancing pada huhate ada dua macam yaitu yang berkait balik dan tidak berkait balik, namun yang sering digunakan adalah yang tidak berkait balik. Mata pancing ini diselipkan seakan-akan disembunyikan pada umpan tiruan biasanya menggunakan bulu ayam atau bulu burung dan tali rafia, sehingga secara tidak langsung kelihatan menyolok. Untuk mata pancing yang berkait balik memakai umpan, yaitu umpan hidup atau masih segar. Penggunaan mata pancing ini hanya dilakukan jika ikan yang akan ditangkap tidak suka menyambar umpan tiruan.

Gambar 2. Alat Pancing Huhate (Sumber: http://www.google.co.id)

2.1.2. Kapal Huhate Skipjack pole and line adalah jenis kapal yang digunakan untuk menangkap ikan cakalang dengan menggunakan alat pancing huhate. Bentuk kapal huhate ini mempunyai beberapa pengkhususan, antara lain : 1. Di bagian atas dek kapal bagian depan terdapat pelataran sebagai tempat duduk para pemancing ketika melakukan pemancingan. 2. Di dalam kapal harus tersedia bak-bak untuk menyimpan ikan umpan hidup. 3. Kapal huhate ini perlu dilengkapi dengan sistem semprotan air yang dihubungkan dengan suatu pompa. 4. Kapal huhate umumnya mempunyai ukuran 20 GT dengan kekuatan 40-60 HP.

Gambar 3. Kapal Huhate (Sumber: http://www.google.co.id)

Dalam perkembangannya huhate dapat diklasifikasikan ke dalam 3 (tiga) kategori yaitu : 1. Huhate (Skipjack Pole and line) Industri Dalam operasi penangkapan mengunakan kapal lebih dari 100 GT, bahan terbuat dari besi dengan dilengkapi palka pendingin (freezer). 2. Huhate (Skipjack Pole and line) Skala Besar Dalam operasi penangkapan menggunakan kapal mulai dari 10 s/d 100 GT, kebanyakan kapal terbuat dari kayu atau fibreglass. 3. Huhate (Skipjack Pole and line) Skala Kecil Dalam operasi penangkapan menggunakan kapal kecil dari 5 GT yang terbuat dari kayu atau fibreglass. 2.2. Metode Penangkapan/ Pengoperasian Huhate Operasi penangkapan tentunya dimulai dari persiapan-persiapan

terutama perbekalan dan perlengkapan, persiapan itu meliputi : bahan makanan, es, lampu, dan bahan bakar minyak, alat navigasi, persiapan mesin, persiapan pengaturan alat tangkap dan bahan lainnya (Sadhori 1985). Menurut Malawa dan Sudirman (2004), setelah persiapan yang harus dilakukan di laut adalah mempersiapkan peralatan penangkapan yang

menunjang keberhasilan penangkapan ikan cakalang serta penyediaan umpan hidup. Adanya faktor umpan hidup membuat cara penangkapan ini menjadi agak rumit. Hal ini disebabkan karena umpan hidup tersebut harus sesuai dalam ukuran dan jenis tertentu, disimpan, dipindahkan, dan dibawa dalam keadaan hidup Huhate dioperasikan pada pagi hari ketika matahari terbit, yaitu sekitar pukul 05.30 - 11.00, dan pada saat menjelang matahari terbenam, yaitu pukul 14.30 - 17.30. Sebelum melakukan penangkapan, juru umpan (boi-boi) melakukan pengintaian di sekitar laut menggunakan teropong, untuk menentukan daerah tempat berkumpulnya ikan cakalang. Tanda-tanda gerombolan ikan cakalang pada umumnya adalah: Sekelompok burung-burung yang menukik tajam ke permukaan laut Ikan-ikan yang melompat di atas permukaan laut yang menimbulkan riakriak air laut

Perbedaan warna air laut akibat gerombolan ikan berenang di sekitar permukaan Setelah menemukan tanda-tanda ikan di laut, kapal langsung bergerak

dengan kecepatan tenang agar tidak mengusir gerombolan ikan cakalang. Juru umpan (boi-boi) dan pemancing segera bersiap pada posisinya masing-masing. Ketika kapal sudah berada pada posisi yang terdekat dengan gerombolan ikan, Juru Minyak langsung menghidupkan water pump untuk menyemprotkan sprayer yang terdapat pada haluan kapal. Hal ini dilakukan untuk mengaburkan penglihatan ikan. Setelah air disemprotkan di sekitar haluan kapal, boi-boi langsung menebarkan umpan hidup yaitu ikan teri ke laut sehingga gerombolan cakalang mendekati kapal. Sementara itu kapal membuat gerakan melingkar secara terus menerus sedangkan boi-boi menebar umpan hidup sampai gerombolan ikan cakalang sebagian besar telah berkumpul di bagian haluan kapal.

Gambar 4. Pengoperasian Huhate (Sumber: PowerPoint Metode Operasi dan hasil tangkapDEPT. PSP. FPIK. IPB) Para pemancing yang telah bersiap di haluan kapal kemudian mulai melakukan pemancingan. Pancing diturunkan ke permukaan laut sambil digerak gerakkan ke kanan dan ke kiri. Bila cakalang telah menyambar mata kail (umpan buatan), segera ikan diangkat dengan cara dihentakkan ke atas deck kapal. Para pemancing bertugas untuk memancing cakalang yang berada di laut tersebut

sebanyak-banyaknya, untuk itu diperlukan kecepatan, kekuatan, kesabaran dan yang paling penting adalah keterampilan dan keahlian pemancing. Berdasarkan posisi pemancingan untuk ABK (Anak Buah Kapal) yang telah mahir menduduki posisi pada bagian depan haluan kapal dan seterusnya untuk yang masih tergolong pemula biasanya mendapat posisi pada bagian belakang haluan kapal. Jumlah pemancing pada setiap kapal pada umumnya adalah 32 orang. Pemancing paling unggul memiliki kecepatan untuk mengangkat mata pancing sampai dengan 50-60 ekor per menit. Pemancing unggulan diberi posisi di bagian haluan kapal, dimaksudkan agar lebih banyak ikan tertangkap. Sedangkan pemancing pemula berposisi di bagian buritan, umumnya adalah orang-orang yang baru belajar memancing dan pemancing berusia tua yang tenaganya sudah mulai berkurang atau sudah lamban. Hal yang perlu diperhatikan adalah pada saat pemancingan dilakukan jangan ada ikan yang lolos atau jatuh kembali ke perairan, karena dapat menyebabkan gerombolan ikan menjauh dari sekitar kapal. Dari segi perolehan hasil, tentu saja dengan menggunakan jaring hasil yang didapatkan bisa 2-3 kali lebih banyak daripada menggunakan huhate. Hal ini berdampak, nelayan tradisional yang

menggunakan huhate hanya mendapat sisanya yang jumlahnya tergolong sedikit.

Gambar 5. Penangkapan Ikan dengan Alat Huhate (Sumber: http://www.charltonhouse.co.uk)

Operasi penangkapan ikan dengan menggunakan Huhate (pole and line) membentuk suatu jaringan antara sub kegiatan satu dengan sub kegiatan yang lain yang masing-masing diikat dalam satuan waktu secara beurutan. Terdapat 3 (tiga) waktu terpenting yang perlu diperhatikan dalam operasi penangkapan ikan: 1. Waktu awal sebelum ada kapal lain yang mendahului tiba di daerah penangkapan khususnya pada rumpon yang menjadi target. Apabila sudah terjadi demikian maka pada rumpon tersebut sudah tak ada ikan lagi. 2. Waktu ikan cakalang saat mencari makan atau mangsa, berdasarkan pengalaman nelayan terjadi pada jam 06.00 sampai 09.00 pagi dan antara jam 15.00 sampai dengan 18.00 sore. 3. Waktu yang diperhitungkan untuk kebutuhan perbekalan, terutama bahan bakar mengingat jarak antara fishing base, tempat pengambilan ikan dengan fishing ground (rumpon) cukup jauh. Menurut Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (2005), penagkapan ikan dengan alat tangkap huhate hanya diijinkan pengoperasiannya di wilayah perairan tertentu dan ZEEI Laut Sulawesi dan ZEEI Samudera Pasifik. Secara garis besarnya, cakalang mempunyai daerah penyebaran dan migrasi yang luas, yaitu meliputi daerah tropis dan sub tropis dengan daerah penyebaran terbesar terdapat disekitar perairan khatulistiwa. Daerah

penangkapan merupakan salah satu faktor penting yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya suatu operasi penangkapan. Dalam hubungannya dengan alat tangkap, maka daerah penangkapan tersebut haruslah baik dan dapat menguntungkan. Dalam arti ikan berlimpah, bergerombol, daerah aman, tidak jauh dari pelabuhan dan alat tangkap mudah dioperasikan. (Waluyo, 1987). Lebih lanjut Paulus (1986), menyatakan bahwa dalam memilih dan menentukan daerah penangkapan, harus memenuhi syarat-syarat antara lain : 1. Kondisi daerah tersebut harus sedemikian rupa sehingga ikan dengan mudah datang dan berkumpul. 2. Daerahnya aman dan alat tangkap mudah dioperasikan. 3. Daerah tersebut harus daerah yang secara ekonomis menguntungkan. Menurut Monintja et al, 2001 dalam Simbolon (2003), potensi cakalang di Indonesia sebagian besar terdapat di perairan kawasan timur indonesia. Daerah penangkapan yang potensial bagi ikan tersebut di KTI terdapat di

perairan Sulawesi Utara, Halmahera, Maluku dan Irian Jaya dengan basis penangkapan masing masing di Bitung, Ternate, Ambon dan Sorong. Wilayah yang memiliki potensi cakalang di kawasan barat indonesia terdapat di perairan selatan Jawa Barat (Pelabuhan Ratu), Sumatera Barat dan Aceh Musim penangkapan ikan cakalang di perairan indonesia pada umumnya dapat dilakukan sepanjang tahun, namun puncak musim penangkapan sering kali bervariasi menurut wilayah perairan. 2.3. Alat Bantu Penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap huhate ini biasanya dalam pengoperasian alat sering menggunakan alat bantu diantaranya yaitu: 1. Pila-pila yaitu digunakan sebagai tempat duduk atau berdiri para pemancing, yang letaknya bisa pada bagian haluan dan buritan antara sepanjang lambung kiri dan kanan. 2. Pipa penyemprot atau sprayer digunakan untuk menyemprot air secara percikan ke permukaan laut. Tujuannya adalah untuk mengelabui ikan-ikan seolah-olah pada permukaan laut terdapat banyak ikan terutama cakalang. 3. Fishfinder merupakan suatu alat yang dapat membantu nelayan dalam menemukan ikan. Alat ini terdiri dari monitor dan tranducher yang dimasukkan ke dalam laut untuk mengetahui keberadaan ikan dan topografi bawah laut. Tranducher dilengkapi dengan sensor dan kemudian data yang terbaca akan ditransfer melalui monitor.

Gambar 6. Fishfinder (Sumber: http://otomasi.com)

4. Bak umpan digunakan sebagai tempat umpan. Pada bak umpan tersebut sebaiknya diberi warna putih supaya lebih mudah dan dengan lampu penerang di beberapa tempat masing-masing berkekuatan 50 watt. Fungsi dari lampu tersebut agar dapat memberikan fototaksis positif dari ikan, sehingga ikan-ikan tersebut dapat membentuk schooling yang baik. Apabila dalam bak umpan tidak dipasang lampu, maka dapat menyebabkan umpan banyak bergerak secara tidak menentu, antara umpan yang satu dengan lainnya saling bertubrukan dan membuat umpan tersebut rusak tidak dapat dipergunakan. 5. Sibu-sibu digunakan untuk menaikkan umpan hidup dari palka umpan ke dalam bak penebar umpan dan juga untuk menebarkan umpan hidup ke laut. Sibu-sibu yang berukuran kecil dipakai untuk menebar umpan dari bak penebar ke laut, sedangkan sibu-sibu besar digunakan untuk memindahkan umpan dari palka ke dalam bak penebar umpan. 6. Ember digunakan untuk mengangkat umpan hidup dari bagan nelayan ke dalam palka umpan, dan juga untuk berbagai keperluan. Ember ini juga menjadi ukuran dalam menentukan banyaknya umpan yang dimasukkan ke dalam palka umpan. 7. Rumpon berguna untuk mengumpulkan kawanan ikan dan harus dipasang jauh hari sebelum operasi penangkapan, jadi tidak perlu menggunakan ikan hidup sebagai umpan namun semprotan air masih harus terus digunakan. 2.3.1. Rumpon Rumpon atau Fish Aggregating Device (FAD) adalah salah satu jenis alat bantu penangkapan ikan yang dipasang di laut, baik laut dangkal maupun laut dalam. Pemasangan tersebut dimaksudkan untuk menarik gerombolan ikan agar berkumpul disekitar rumpon, sehingga ikan mudah untuk ditangkap.

10

Gambar 7. Rumpon Daun Kelapa (Sumber: http://1.bp.blogspot.com)

a. Jenis-jenis Rumpon Terdapat 3 jenis rumpon, yaitu: 1. Rumpon Perairan Dasar adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada dasar perairan laut. 2. Rumpon Perairan Dangkal adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada perairan laut dengan ke dalaman sampai dengan 200 meter. 3. Rumpon Perairan Dalam adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dan ditempatkan pada perairan laut dengan ke dalaman di atas 200 meter.

b. Bahan dan Komponen Rumpon Setiap rumpon terdiri dari beberapa komponen. Di Indonesia rumpon masih menggunakan bahan alami seperti daun kelapa atau tali plastik yang sudah pasti kekuatannya sangat terbatas. Komponen dan kontruksi rumpon terdiri dari: 1. Pelampung: sebagai alat pengapung yang dibuat dari besi plat yang dibentuk seperti tabung. 2. Atraktor: merupakan pemikat yang bertujuan untuk memikat ikan di sekeliling rumpon yang terbuat dari daun nyiur atau daun kelapa.

11

3. Tali-temali: digunakan sebagai pengikat pelampung dan pemberat, bahannya terbuat dari polyethylene kemudian ditambahkan kawat baja untuk mengikat atraktor supaya cepat tenggelam dan tidak mengapung. 4. Pemberat: merupakan bahan untuk menenggelamkan rumpon dan rumpon tidak berpindah tempat yang dibuat dari semen yang dicor.

Gambar 8. Konstruksi Rumpon (Sumber: http://www.talitambang.net)

c. Jenis-jenis Ikan yang Banyak Ditemukan di Sekitar Rumpon Tidak semua ikan ditemukan disekitar rumpon. Ikan jenis pelagis merupakan ikan dominan yang sering ditemukan didalam rumpon. Jenis-jenis Ikan yang sering berasosiasi dengan Rumpon, (Monintia, 1993) antara lain:

Cakalang Skipjack- (Katsowonus pelamis) Tongkol Frigate Tuna- (Auxis thazard) Tongkol Pisang -Frigate Tuna- (Euthynnus affinis) Tenggiri- King Mackeret- (Scomberomorus sp.) Madidihang -Yellow Fin Tuna- (Thunnus albacores) Tembang -Frigate Sardin (Sardinella firnbriato) Japuh Rainbow -Sardin (Dussumeria hosselti)

12

2.4.

Umpan Dalam menangkap ikan selain digunakan alat tangkap, komponen lain

yang penting adalah umpan. Umpan dapat digologkan menjadi 2 (dua) jenis, yaitu umpan hidup dan umpan mati. Jenis umpan hidup yang paling baik digunakan dalam perikanan pole and line adalah ikan teri. Jenis ikan umpan tersebut sangat disenangi oleh cakalang karena memiliki sifat sifat sebagai berikut : 1. Berwarna terang dan memikat atau keputih putihan sehingga mudah menarik perhatian ikan cakalang, 2. Tahan lama disimpan dalam bak penyimpanan pada saat pelayaran dari daerah penangkapan ikan umpan menuju daerah penangkapan cakalang, 3. Umpan yang disebarkan di antara schooling cakalang memiliki sifat yang cenderung bergerak mendekati kapal untuk berlindung. 4. Sisi umpan tidak mudah terkelupas, sehingga tingkat kecerahan warna dapat dipertahankan, 5. Panjang (size) umpan hidup sesuai dengan ukuran yang disenangi oleh cakalang yang menjadi target penangkapan.

Gambar 9. Ikan Teri sebagai Umpan Hidup (Sumber: http://images.detik.com) Sesuai dengan sifat sifat tersebut di atas, pemilihan jenis dan ukuran umpan yang sesuai perlu dilakukan secara seksama. Subani,

(1973) dalam Simbolon, (2003) menyatakan bahwa ukuran umpan yang ideal dengan tipe badan memanjang (streem line) berkisar antara 7,5 10,0 cm. Selanjutnya disebutkan bahwa ukuran panjang umpan dengan tipe badan melebar sebaiknya berkisar antara 5,0 7,5 cm. 13

Masalah utama yang sering dialami dalam perikanan pole and line adalah ketersediaan umpan hidup pada waktu waktu tertentu dan tingginya tingkat kematian umpan dalam bak penyimpanan di atas kapal. Di lain pihak, kegiatan operasi penangkapan cakalang dengan pole and line tidak akan berhasil apabila umpan hidup tidak tersedia dalam jumlah yang memadai. Dengan demikian, umpan hidup merupakan salah satu faktor pembatas (limiting factor) paling penting dalam perikanan pole and line.

a. Penangkapan umpan hidup Alat tangkap yang sangat umum digunakan untuk menangkap ikan umpan hidup adalah jaring yang dioperasikan dari pantai atau kapal, jaring lampara, purse seine, dan ring net, jaring yang digerakkan (drive in net) dan lift net, termasuk stickheld dipnet dan jaring kantong.

b. Pemeliharaan umpan hidup di dalam tangki kapal Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan umpan di dalam palka umpan di kapal antara lain kandungan oksigen di dalam air dan konsumsi oksigen, penyinaran, suhu air dan kualitas air beserta perubahannya. Sebagai awal pertimbangan adalah bagaimana cara memindahkan umpan secara aman ke dalam tangki umpan yaitu dengan menggunakan keranjang. Dalam tahap ini diperlukan seorang pembantu yang cermat dalam menjaga ikan umpan karena memerlukan beberapa perlakuan yang cukup penting dalam hal pengawasan dan mengarahkan agar pencemaran yang timbul sekecil mungkin yang diakibatkan kotoran ikan dan sisik ikan yang terlepas. Menurut FAO (1980), selain itu kondisi lingkungan dapat dibuat lebih mendukung dengan cara meningkatkan sejumlah oksigen ke dalam tangki umpan, menurunkan temperatur, menurunkan salinitas dan pada saat yang sama menghindari kepadatan ikan dan menghindari rangsangan untuk membantu agar mereka menjadi tenang.

14

2.5.

Ikan Target dan By Catch Pada penangkapan ikan dengan menggunakan alat huhate pole and line

ini, hasilnya antara lain: Skipjack / cakalang (Katsuwo pelamis)

Gambar 10. Ikan cakalang (Katsuwo pelamis) (Sumber: http://w23.indonetwork.co.id)

Albacore (Thunnus alalunga)

Gambar 11. Albacore (Thunnus alalunga) (Sumber: http://imageshack.us)

Mackerel (Auxis tazard)

Gambar 12. Mackerel (Auxis tazard) (Sumber: http://imageshack.us)

15

Bullet Mackerel (Auxis rochei)

Gambar 13. Bullet Mackerel (Auxis rochei) (Sumber: http://www.ictioterm.es)

Bonito timur (Sarda orientalis)

Gambar 14. Bonito timur (Sarda orientalis) (Sumber: http://upload.wikimedia.org)

Kakap (Lates calcarifer)

Gambar 15. Kakap (Lates calcarifer) (Sumber: http://www.ozrural.com.au)

16

Ikan-ikan pelagis kecil seperti Euthynnus spp dan Euthynnus affinis.

Gambar 16. Euthynnus affinis (Sumber: http://www.iftfishing.com)

Dan lain-lain

17

BAB III KESIMPULAN

Dari pemaparan pada Bab II dapat disimpulkan bahwa: 1. Huhate merupakan salah satu alat tangkap ikan yang sering digunakan oleh para nelayan, terutama untuk menangkap ikan cakalang. Alat tangkap ini memiliki keunggulan antara lain ramah lingkungan sehingga tidak merusak ekologi laut dan mudah dalam pengoperasiannya. 2. Huhate sering disebut juga pole and line dan memiliki 3 (tiga) komponen penting yaitu: joran, tali pancing dan mata pancing. 3. Dalam penangkapan ikan dengan alat pole and line diperlukan alat bantu antara lain: rumpon, water sprayer, fishfinder, pila-pila, bak umpan, ember dan sibu-sibu. Semua alat bantu memiliki fungsi masing-masing yang saling melengkapi satu sama lainnya, sehingga akan memudahkan dalam penangkapan ikan. 4. Selain alat bantu, komponen penting lainnya adalah umpan. Umpan yang biasa digunakan adalah umpan hidup berupa ikan teri. Ikan teri ini dijadikan umpan karena disukai oleh ikan cakalang. 5. Target dalam penangkapan dengan alat huhate pola and line adalah ikan cakalang, sedangkan bye catchnya adalah ikan-ikan pelagis kecil seperti ikan tongkol.

18

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2006. Alat Pancing Huhate. http://www.google.co.id/imgres?q=alat+ pancing+huhate. Diakses pada Rabu 22 Februari 2012 Pukul 10.40 WIB. Anonim. 2009. Albakor. http://imageshack.us/photo/my-images/6/

tunasirippanjangob8.jpg/. Diakses pada Rabu 22 Februari 2012 Pukul 11.57 WIB. Anonim. 2010. Auxis rochei. http://www.ictioterm.es/especies/fotos

_auxiliares/L/Auxis_rochei_rochei_5_L.jpg. Diakses pada Rabu 22 Februari 2012 Pukul 12.44 WIB. Anonim. 2010. Cakalang. http://w23.indonetwork.co.id/pdimage/

10/2455110_skipjack-cakalang.jpg. Diakses pada Rabu 22 Februari 2012 Pukul 12.30 WIB. Anonim.2010. Fishfinder. http://otomasi.com/images/ff160c.jpg. Diakses pada Rabu, 22 Februari 2012 Pukul 12.13 WIB. Anonim. 2010. Huhate, Alat Penangkap Ikan Ramah Lingkungan yang Kian Tersisihkan. http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5894005. Diakses

pada Rabu, 22 Februari 2012 Pukul 11.21 WIB. Anonim. 2011. Rumpon. http://www.iftfishing.com/fishing-guide/pemula/rumpon. Diakses pada Rabu, 22 Februari 2012 Pukul 12.16 WIB. Anonim. 2011. Kapal HuahteI. http://www.charltonhouse.co.uk/

uploads/photos/id105_img01_Pole-and-line.jpg. Diakses pada Rabu, 22 Februari 2012 Pukul 12.38 WIB. Anonim. 2012. Rumpon. http://zonaikankita.blogspot.com/2012/01/rumpon.html. Diakses pada Kamis 23 Februari 2012 Pukul 10.58 WIB. Ardian. 2011. Alat Penangkap Ikan Jenis Rawai Longline Huhate. http://ardianmaestro.blogspot.com/2011/10/alat-penangkap-ikan-jenis-rawai-long.html. Diakses pada Rabu, 22 Februari 2012 Pukul 10.35 WIB. Fiqrin. 2009. Pole and Line. http://fiqrin.wordpress.com/artikel-tentang-ikan/poleand-line/. Diakses pada Kamis 23 Februari 2012 Pukul 10.45 WIB. Nashihun, Muhammad. 2010. GPS dan Fishfinder Untuk Nelayan.

http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2010/08/03/gps-dan-fishfinderuntuk-nelayan/. Diakses pada Rabu, 22 Februari 2012 Pukul 12.25 WIB.

19

Samsudin.

2011.

Pole

and

Line

Huhate.

http://kumpulanberitapopuler. Diakses

blogspot.com/2011/03/pancing-hook-and-line-pole-and-line.html. pada Kamis 23 Februari 2012 Pukul 11.03 WIB.

Wahyuno, Agung. 2009. Karya tulis Ilmiah Optimasi Unit Usaha Penangkapan Cakalang Huhate KM.05 di ternate Melalui Perekayasaan Pola

Operasional: Semarang. Balai besar pengembangan penangkapan Ikan. Yanuar, Eko. 2011. Huhate (Pole and Line). http://justeko-fisheries.blogspot.com /2011/11/huhate-pole-and-line.html. Diakses pada Rabu 22 Februari 2012 Pukul 10.37 WIB. Zulkhasyni.2011. Rumpon/Payous. http://www.talitambang.net/?p=178. Diakses pada Rabu, 22 Februari 2012 Pukul 12.41 WIB.

20