Anda di halaman 1dari 12

Panduan Akuntansi di SKPD

A.1. Akuntansi Anggaran


Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan menyatakan bahwa akuntansi anggaran merupakan teknik pertanggungjawaban dan pengendalian manajemen yang digunakan untuk membantu pengelolaan pendapatan, belanja, transfer dan pembiayaan. Akuntansi anggaran diselenggarakan setelah Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) disahkan oleh PPKD Dalam melakukan akuntansi anggaran, SKPD harus mengelola dalam sebuah sistem sehingga nilai mata anggaran untuk setiap kode rekening muncul dalam: 1. Buku besar (sebagai header). 2. Neraca saldo. 3. Laporan Realisasi Anggaran.

A.2. Akuntansi Satuan Kerja


A.2.1.Akuntansi Pendapatan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan memberikan deskripsi yang cukup jelas mengenai pendapatan. Dalam peraturan pemerintah ini disebutkan bahwa pendapatan adalah semua penerimaan Rekening Kas Umum Negara/ Daerah yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah. Peraturan Menteri Dalam Negeri No.13 Tahun 2006 disebutkan bahwa pendapatan daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. Komisi, rabat, potongan, atau pendapatan lain dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang dapat dinilai dengan uang, baik secara langsung sebagai akibat dari penjualan, tukar-menukar, hibah, asuransi dan/atau pengadaan barang dan jasa termasuk pendapatan bunga, jasa giro atau pendapatan lain sebagai akibat penyimpanan dana anggaran pada bank serta pendapatan dari hasil pemanfaatan barang daerah atas kegiatan lainnya merupakan pendapatan daerah. Pendapatan daerah dirinci menurut organisasi, kelompok, jenis, obyek dan rincian obyek pendapatan. Akuntansi pendapatan dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran). Akuntansi pendapatan SKPD dilakukan hanya untuk mencatat pendapatan asli daerah yang dalam wewenang SKPD.

Panduan Akuntansi di SKPD Langkah 1 a. PPK-SKPD menerima SPJ Penerimaan dari Bendahara Penerimaan (seperti dijelaskan dalam Sisdur Penatausahaan Penerimaan). b. Berdasarkan dokumen SPJ Penerimaan dan lampirannya, PPK-SKPD mencatat transaksi pendapatan dengan menjurnal Kas di Bendahara Penerimaan di Debit dan Akun Pendapatan sesuai jenisnya di kredit. Kas di Bendahara Penerimaan Pendapatan __________ 50 Jt 50 Jt

Karena jurnal yang sama akan dipakai terus dalam mencatat transaksi pendapatan, maka dibuatlah Buku Jurnal Khusus Pendapatan. c. Pendapatan yang diterima kemudian disetor kepada Kasda. PPK-SKPD kemudian mencatat transaksi penyetoran tersebut dengan menjurnal RK Pemda di Debit dan Kas di Bendahara Penerimaan di kredit. RK PPKD Kas di Bendahara Penerimaan 50 Jt 50 Jt

Catatan: Pada saat setoran pendapatan tersebut diterima di Rekening Kas Daerah, Akuntansi PPKD akan mencatat transaksi penerimaan tersebut dengan menjurnal Kas di Kas Daerah di Debit dan RK Satker sesuai dengan nama satkernya di kredit . d. Dalam kondisi sebenarnya, dimungkinkan terjadi pengembalian kelebihan pendapatan yang harus dikembalikan ke pihak ketiga. Jika pengembalian kelebihan pendapatan sifatnya berulang (recurring) baik yang terjadi di perode berjalan atau periode sebelumnya, PPK-SKPD berdasarkan informasi transfer kas dari BUD, mencatat transaksi pengembalian kelebihan tersebut dengan menjurnal Akun Pendapatan sesuai jenisnya di Debit dan RK Pemda di kredit. Pendapatan_______xxx RK Pemda xxx

Jurnal tersebut juga berlaku bagi pengembalian yang sifatnya tidak berulang tetapi terjadi dalam periode berjalan. Catatan: Pada saat pengembalian kelebihan pendapatan tersebut dilakukan melalui Rekening Kas Daerah, Akuntansi PPKD akan mencatat transaksi pengembalian kelebihan pendapatan tersebut dengan menjurnal RK Satker sesuai dengan nama satkernya di Debit dan Kas di Kas Daerah di kredit.

Panduan Akuntansi di SKPD Jika pengembalian kelebihan pendapatan tersebut bersifat tidak berulang (non recurring) dan terkait dengan pendapatan periode sebelumnya, Satuan Kerja tidak melakukan pencatatan. Pencatatan dilakukan oleh Akuntansi PPKD dengan menjurnal SILPA di Debit dan Kas di Kas Daerah di kredit. Langkah 2 a. Setiap periode, jurnal-jurnal tersebut akan diposting ke Buku Besar SKPD sesuai dengan kode rekening pendapatan. b. Di akhir periode tertentu, PPK-SKPD memindahkan saldo-saldo yang ada di tiap buku besar ke dalam Neraca Saldo. Ilustrasi Jurnal Pada bagian ini akan diberikan beberapa contoh transaksi pendapatan. Dinas Kesehatan akan digunakan sebagai ilustrasi SKPD. Pada tanggal 7 Februari 2006 PPK-SKPD DinKes menerima SPJ Penerimaan beserta lampirannya dari Bendahara Penerimaan DinKes. Dari SPJ dan lampirannya tersebut diketahui bahwa selama bulan Januari 2006, Dinas Kesehatan telah menerima pendapatan retribusi sebagai berikut: 10 Januari 2006 Dinas Kesehatan menerima retribusi pelayanan kesehatan sebesar 5 juta rupiah. 11 Januari 2006 Bendahara Penerimaan Dinas Kesehatan menyetor uang retribusi sebesar 5 juta rupiah tersebut ke Bank Kasda. 19 Januari 2006 Bendahara Penerimaan Pembantu (di Puskesmas Kec. Sambeng) menerima retribusi pelayanan kesehatan sebesar 2,2 juta rupiah. 20 Januari 2006 Bendahara Penerimaan Pembantu menyetor uang retribusi sebesar 2,2 juta rupiah tersebut ke Bank Kasda. 28 Januari 2006 Diterima info dari BUD bahwa telah dilakukan pengembalian kelebihan pembayaran uang pendaftaran Mahasiswa/I Akademi Keperawatan untuk tahun 2005. Kelebihan ini disebabkan adanya kesalahan perhitungan dalam sistem komputer. Pembayaran kelebihan tersebut sebesar 50 juta rupiah Dari transaksi ini, PPK-SKPD DinKes akan mencatat jurnal sebagai berikut: 10-Jan Kas di Bendahara Penerimaan 5.000.000 Retribusi Pelayanan Kesehatan 5.000.000 11-Jan 19-Jan RK Pemda Kas di Bendahara Penerimaan Kas di Bendahara Penerimaan Retribusi Pelayanan Kesehatan 5.000.000 5.000.000 2.200.000 2.200.000

Panduan Akuntansi di SKPD

20-Jan 28-Jan

RK Pemda Kas di Bendahara Penerimaan

2.200.000 2.200.000

Lain-lain PAD yang sah-Uang Pendaftaran 50.000.000 RK Pemda 50.000.000

A.3. Akuntansi Belanja


Menurut PP No.24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, Belanja adalah semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah, sedangkan menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No.13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, Belanja Daerah didefinisikan sebagai kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih. Belanja daerah dipergunakan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemda. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No.13 Tahun 2006, pengklasifikasian belanja daerah dibagi menurut fungsi, urusan pemerintahan, organisasi, program, kegiatan, kelompok, jenis, obyek dan rincian obyek belanja. Akuntansi belanja disusun untuk memenuhi kebutuhan pertanggungjawaban sesuai dengan ketentuan. Akuntansi belanja juga dapat dikembangkan untuk keperluan pengendalian bagi manajemen dengan cara yang memungkinkan pengukuran kegiatan belanja tersebut. Akuntansi belanja pada satuan kerja dilakukan oleh PPK-SKPD. Akuntansi belanja pada satuan kerja ini meliputi akuntansi belanja UP (uang persediaan)/GU (ganti uang)/TU (tambah uang), dan akuntansi belanja LS (langsung). 1. Akuntansi Belanja UP/GU/TU Langkah 1 PPK-SKPD menerima SP2D dari Kuasa BUD melalui Pengguna Anggaran. Berdasarkan SP2D, PPK-SKPD mencatat transaksi penerimaan uang persediaan tersebut dengan menjurnal Kas di Bendahara Pengeluaran di Debit dan RK Pemda di kredit. Kas di bendahara pengeluaran RK PPKD xxx xxx

Panduan Akuntansi di SKPD Langkah 2 Secara berkala, PPK-SKPD menerima SPJ dari Bendahara Pengeluaran. SPJ tersebut dilampiri dengan bukti transaksi. Berdasarkan SPJ dan bukti transaksi tersebut, PPK-SKPD mencatat transaksi transaksi belanja periode sebelumnya dengan menjurnal Belanja sesuai jenisnya di debit dan Kas di Bendahara Pengeluaran di kredit. Belanja ......... Kas di bendahara pengeluaran xxx xxx

Langkah 3 a. Setiap periode, jurnal tersebut akan diposting ke Buku Besar sesuai dengan kode rekening belanja. b. Di akhir bulan, PPK-SKPD memindahkan saldo-saldo yang ada di tiap buku besar ke dalam Neraca Saldo. 2. Akuntansi Belanja LS (Langsung) Belanja LS yang dimaksud adalah Belanja LS Gaji & Tunjangan dan Belanja LS Barang & Jasa. Dalam konteks belanja LS, akuntansi mempunyai asumsi bahwa dana SP2D dari BUD langsung diterima oleh pihak ketiga/pihak lain yang telah ditetapkan. Langkah 1 PPK-SKPD menerima SP2D dari Kuasa BUD melalui Pengguna Anggaran. Berdasarkan SP2D terkait, PPK-SKPD mencatat transaksi belanja dengan menjurnal Belanja sesuai jenisnya di debit dan RK Pemda di kredit. Belanja ........... RK Pemda xxx xxx

Catatan: Pada saat terjadi pembayaran belanja LS melalui rekening Kas Daerah, PPK-SKPKD akan mencatat transaksi tersebut dengan menjurnal RK Satker sesuai dengan nama satkernya di debit dan Kas di Kas Daerah di kredit Dalam kasus LS Gaji dan tunjangan, meskipun dana yang diterima oleh pegawai adalah jumlah netto (setelah dikurangi potongan), namun PPK-SKPD tetap mencatat belanja gaji dan tunjangan dalam jumlah bruto. PPK-SKPD tidak perlu mencatat potongan tersebut karena pencatatannya sudah dilakukan oleh BUD dalam sub sistem Akuntansi PPKD Catatan: Pada saat transfer gaji dan tunjangan dari rekening Kas Daerah, PPKSKPKD akan mencatat potongan terhadap gaji dan tunjangan dengan menjurnal Kas di Kas Daerah di debit dan Hutang PFK di kredit. Sewaktu, potongan

Panduan Akuntansi di SKPD tersebut ditransfer ke rekening yang terkait, maka transaksi tersebut akan dijurnal Hutang PFK di debit dan Kas di Kas Daerah di kredit. Dalam kasus LS Barang dan Jasa, seringkali terdapat potongan pajak sehingga dana yang diterima oleh pihak ketiga adalah jumlah netto (setelah dikurangi potongan pajak), namun PPK-SKPD tetap mencatat belanja tersebut dalam jumlah bruto. PPK-SKPD kemudian mencatat potongan tersebut sebagai Hutang di jurnal umum. Kas di Bendahara Pengeluaran Hutang Pajak .... xxx xxx

Ketika bukti Surat Setoran Pajak (SSP) telah diterima, dilakukan penghapusan hutang pajak tersebut dengan jurnal sebagai berikut : Hutang Pajak .... Kas di Bendahara Pengeluaran xxx xxx

Khusus untuk transaksi belanja yang menghasilkan aset tetap, PPK-SKPD juga mengakui penambahan aset dengan menjurnal Aset sesuai jenisnya di debit dan Diinvestasikan dalam Aset Tetap di kredit. Belanja Modal ........ Kas di bendahara pengeluaran Aset ......... Diinvestasikan dlm Aset Tetap xxx xxx xxx xxx

Langkah 2 a. Setiap periode, jurnal tersebut akan diposting ke Buku Besar sesuai dengan kode rekening belanja. b. Di akhir bulan, PPK-SKPD memindahkan saldo-saldo yang ada di tiap buku besar ke dalam Neraca Saldo. Ilustrasi Jurnal Pada bagian ini akan diberikan beberapa contoh transaksi belanja. Dinas Kesehatan akan digunakan sebagai ilustrasi SKPD. Pada tanggal 7 Februari 2006 PPK-SKPD Dinas Kesehatan menerima SPJ Pengeluaran beserta lampirannya dari Bendahara Pengeluaran DinKes. Dari SPJ dan lampirannya tersebut diketahui bahwa selama bulan Januari 2006, Dinas Kesehatan telah melakukan transaksi belanja sebagai berikut:

Panduan Akuntansi di SKPD 4 Januari 2006 Dinas Kesehatan menerima SP2D atas pembayaran gaji bulan Januari dengan rincian : Gaji Pokok Rp 999.510.000,Tunjangan Keluarga Rp 87.457.125,Tunjangan Fungsional Rp 99.951.000,Tunjangan Fungsional Umum Rp 62.469.375,Dengan Iuran Wajib Pegawai sebesar Rp 52.240.000,- dan Tabungan Perumahan Pegawai sebesar Rp 22.575.000,Dinas Kesehatan menerima uang sebesar Rp 30.000.000,atas pencairan SP2D UP. Dinas Kesehatan membeli alat tulis kantor senilai Rp 5.000.000,-. Dinas Kesehatan membeli bahan obat-obatan senilai Rp 15.000.000,Dinas Kesehatan melakukan pengisian tabung gas senilai Rp 2.000.000,Untuk keperluan kegiatan fogging, dilakukan belanja bahan kimia* senilai Rp 75.000.000,Dinas Kesehatan melakukan pembelian ambulans yang dilengkapi dengan alat-alat kesehatan senilai Rp 250 juta. Dari jumlah tersebut, Bendahara pengeluaran memungut PPN senilai Rp. 22.727.273

5 Januari 2006 8 Januari 2006 12 Januari 2006 25 Januari 2006 27 Januari 2006 28 Januari 2006

* Belanja bahan kimia terkait dengan kegiatan yang diadakan oleh DinKes, dan melibatkan pihak ketiga. Dana langsung dicairkan oleh BUD kepada pihak ketiga, sehingga DinKes tidak mencatat penerimaan kas terlebih dahulu (mekanisme LS). Dari transaksi ini, PPK-SKPD DinKes akan mencatat jurnal sebagai berikut: 4-Jan Gaji dan Tunjangan 999.510.000 Tunjangan Keluarga 87.457.125 Tunjangan Fungsional 99.951.000 Tunjangan Fungsional Umum 62.469.375 RK Pemda 1.249.387.500 5-Jan 8-Jan 12-Jan Kas di Bendahara Pengeluaran RK Pemda Belanja ATK Kas di Bendahara Pengeluaran Belanja Bahan Obat-obatan Kas di Bendahara Pengeluaran Belanja pengisian tabung gas 30.000.000 30.000.000 5.000.000 5.000.000 15.000.000 15.000.000 2.000.000

25-Jan

Panduan Akuntansi di SKPD Kas di Bendahara Pengeluaran 27-Jan 28-Jan 28-Jan 28-Jan Belanja Bahan Kimia RK Pemda Belanja Modal Pengadaan Ambulans Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Pengeluaran Utang Pemungutan PPN 75.000.000 75.000.000 250.000.000 250.000.000 22.727.273 22.727.273 2.000.000

Alat Angkutan Darat Bermotor - Ambulans 250.000.000 Diinvestasikan Dalam Aktiva Tetap 250.000.000

A.4. Akuntansi Aset SKPD


Prosedur akuntansi aset pada SKPD meliputi pencatatan dan pelaporan akuntansi atas perolehan, pemeliharaan, rehabilitasi, perubahan klasifikasi, dan penyusutan terhadap aset tetap yang dikuasai/digunakan SKPD. Transaksitransaksi tersebut secara garis besar digolongkan dalam 2 kelompok besar transaksi, yaitu : Penambahan nilai Aset Pengurangan nilai Aset Langkah 1 Berdasarkan bukti transaksi yang berupa: a. Berita acara penerimaan barang, dan atau b. Berita acara serah terima barang, dan atau c. Berita acara penyelesaian pekerjaan PPK-SKPD membuat bukti memorial. Bukti memorial tersebut dapat dikembangakn dalam format yang sesuai dengan kebutuhan yang sekurangkurangnya memuat informasi mengenai: (1). Jenis/nama aset tetap (2). Kode rekening terkait (3). Klasifikasi aset tetap (4). Nilai aset tetap (5). Tanggal transaksi Langkah 2 Dalam kasus penambahan nilai aset, berdasarkan bukti memorial tersebut, PPKSKPD mengakui penambahan aset dengan menjurnal Aset sesuai jenisnya di debit dan Diinvestasikan dalam Aset Tetap di kredit. Aset .......... xxx

Panduan Akuntansi di SKPD Diinvestasikan dlm Aset Tetap xxx

Dalam kasus pengurangan aset, Berdasarkan bukti memorial, PPK-SKPD mengakui pengurangan aset dengan menjurnal Diinvestasikan dalam Aset Tetap di debit dan Aset sesuai jenisnya di kredit. Diinvestasikan dlm Aset Tetap Aset Tetap xxx xxx

Secara periodik, buku jurnal atas transaksi aset tetap tersebut diposting ke dalam buku besar rekening berkenaan. Langkah 3 Setiap akhir periode semua buku besar ditutup sebagai dasar penyusunan laporan keuangan SKPD. Ilustrasi Jurnal Pencatatan aset tetap dalam buku jurnal merupakan proses lanjutan dari pencatatan belanja daerah yang menghasilkan aset tetap. Oleh karena itu, jurnal untuk mencatat saat perolehan aset tetap sering disebut sebagai jurnal collolary. Pencatatan aset tetap dapat dilakukan baik oleh SKPD maupun SKPKD, bergantung pada siapa yang melakukan belanja atas aset tersebut. Berikut adalah beberapa contoh jurnal terkait dengan aset tetap. Dinas Kesehatan akan digunakan sebagai ilustrasi SKPD. a. Perolehan Aset Tetap 1) Pembelian Dinas Kesehatan membeli papan tulis elektronik untuk ruang meeting dengan harga jual 3 juta rupiah. Agar papan tulis elektronik ini siap digunakan, ada biaya-biaya tambahan yang harus dibayar meliputi biaya pengangkutan dan biaya instalasi masing-masing sebesar 100 ribu rupiah. Oleh karena itu Dinas Kesehatan akan mencatat nilai papan tulis elektronik tersebut sebesar 3,2 juta rupiah. Belanja Modal Papan Tulis Elektronik Kas di Bendahara Pengeluaran Peralatan Kantor Papan Tulis Elektronik Diinvestasikan dlm Aset Tetap Pembelian papan tulis elektronik 2) Hibah/Donasi 3.200.000 3.200.000 3.200.000 3.200.000

Panduan Akuntansi di SKPD Pemda memperoleh donasi dari Bank Dunia berupa lima buah mobil Kijang. Mobil Kijang dengan tipe dan kriteria yang sama tersebut mempunyai nilai wajar masing-masing sebesar 120 juta rupiah. Aset tersebut kemudian diserahkan kepada SKPD. Maka jurnal yang harus dibuat di akuntansi SKPKD adalah: Kendaraan 600.000.000 Diinvestasikan dlm Aset Tetap 600.000.000 Penerimaan hibah berupa mobil Kijang dari Bank Dunia b. Penyusutan Selain tanah dan konstruksi dalam pengerjaan, seluruh aset tetap dapat disusutkan sesuai dengan sifat dan karakteristik aset tersebut. Jurnal punyusutan aset tetap ini dibuat di akhir tahun. Diinvestasikan dlm Aset Tetap 640.000 Akumulasi Penyusutan Papan tulis elektronik 640.000 Penyusutan papan tulis elektronik oleh Dinas Kesehatan dengan metode garis lurus dan estimasi masa manfaat AC selama 5 tahun c. Konstruksi Dalam Pengerjaan Pemda sedang mendirikan bangunan puskesmas. Gedung puskesmas ini akan dibangun Dinas Kesehatan pada tahun 2006. Tanggal 31 Desember 2006 puskesmas tersebut belum selesai dibangun. Maka Dinas Kesehatan akan mencatat jurnal sebagai berikut: Konstruksi dalam Pengerjaan 100.000.000 Diinvestasikan dalam Aset Tetap 100.000.000 Mencatat biaya yang telah dikeluarkan selama pembangunan sampai 31 Desember 2006 Pada 31 Mei 2007, puskesmas ini telah selesai di bangunan. Maka Dinas Kesehatan menjurnal sebagai berikut: Diinvestasikan dalam Aset Tetap 100.000.000 Konstruksi dalam Pengerjaan 100.000.000 Jurnal balik atas pencatatan terdahulu yang telah dicatat Gedung 400.000.000 Diinvestasikan pada Aset Tetap 400.000.000 Mencatat pada pos aset tetap yang bersangkutan d. Pelepasan Aset Tetap Di kantor Dinas Kesehatan, terdapat lima buah komputer lama yang rusak dan tidak terpakai. Atas persetujuan Kepala Daerah dilakukan penghapusan atas computer tersebut, Kepala Dinas melakukan pelelangan ke masyarakat. Uang hasil penjualan komputer tersebut akan dicatat sebagai Lain-lain PAD yang Sah.

Panduan Akuntansi di SKPD Diinvestasikan dlm Aset Tetap Peralatan Komputer 5.000.000

5.000.000

Kas di Bendahara Penerimaan 5.000.000 Lain-lain PAD yang Sah 5.000.000 Jurnal untuk mencatat pengurangan aset tetap dan penerimaan pendapatan dari hasil pelepasan aset

A.5. Akuntansi Selain Kas


Prosedur akuntansi selain kas pada SKPD meliputi serangkaian proses mulai dari pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan semua transaksi atau kejadian selain kas yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. Prosedur akuntansi selain kas pada SKPD meliputi setidaknya: a. koreksi kesalahan pencatatan merupakan koreksi terhadap kesalahan dalam membuat jurnal dan telah diposting ke buku besar. b. Pengakuan asset, hutang, dan ekuitas. merupakan pengakuan terhadap perolehan asset yang dilakukan oleh SKPD. Pengakuan aset sangat terkait dengan belanja modal yang dilakukan oleh SKPD c. Jurnal depresiasi Merupakan jurnal depresiasi terhadap aset yang dimiliki oleh SKPD d. Jurnal terkait dengan transaksi yang bersifat accrual dan prepayment Merupakan jurnal yang dilakukan dikarenakan adanya transaksi yang sudah dilakukan SKPD namun pengeluaran kas belum dilakukan (accrual) atau terjadi transaksi pengeluaran kas untuk belanja di masa yang akan datang (prepayment). Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi selain kas berupa bukti memorial yang dilampiri dengan bukti-bukti transaksi jika tersedia. Langkah 1 PPK-SKPD berdasarkan bukti transaksi dan/atau kejadian selain kas membuat bukti memorial. Bukti memorial tersebut sekurang-kurangnya memuat informasi mengenai tanggal transaksi dan/atau kejadian, kode rekening, uraian transaksi dan/atau kejadian, dan jumlah rupiah. Langkah 2 PPK-SKPD mencatat bukti memorial ke dalam buku jurnal umum. Secara periodik jurnal atas transaksi dan/atau kejadian selain kas diposting ke dalam buku besar sesuai kode rekening yang bersangkutan.

Panduan Akuntansi di SKPD

Langkah 3 Setiap akhir periode semua buku besar ditutup sebagai dasar penyusunan laporan keuangan SKPD. Ilustrasi Jurnal Pada bagian ini akan diberikan beberapa contoh transaksi non kas. Dinas Kesehatan akan digunakan sebagai ilustrasi SKPD. 26 Januari 2006 Dilakukan koreksi atas kesalahan pencatatan belanja yang dilakukan pada tanggal 8 Januari 2006. Pada tanggal tersebut dilakukan belanja ATK senilai Rp 5 juta, namun dicatat ke kode rekening 5.2.2.01.02 (Belanja Dokumen) Dilakukan koreksi atas kesalahan pencatatan penerimaan SP2D UP. Dana SP2D UP senilai Rp 30 juta dicatat dengan mendebit rekening kas di bendahara penerimaan. Seharusnya rekening yang didebit adalah rekening kas di bendahara pengeluaran Dari 5 buah kendaraan hibah yang diterima, satu diantaranya dihibahkan kembali ke RSUD sebagai kendaraan operasional. Sewaktu pertama kali diterima, kendaraan ini dicatat dengan nilai Rp 120 juta. Diterima Surat Keputusan penghapusan barang (penghapusan mesin tik yang musnah karena kebakaran di gudang). Nilai mesin tik ini di neraca sebesar Rp 200 ribu

15 Februari 2006

28 Juni 2006

5 Juli 2006

Dari transaksi ini, PPK-SKPD Dinas Kesehatan akan mencatat jurnal sebagai berikut: 26-Jan Belanja ATK 5.000.000 Belanja Dokumen 5.000.000 15 -Feb 28- Juni 5-Juli Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Penerimaan Diinvestasikan dlm Aset Tetap Kendaraan Diinvestasikan dlm Aset Tetap Mesin Tik 30.000.000 30.000.000 120.000.000 120.000.000 200.000 200.000