Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Ada banyak penyakit yang ditemui dalam dunia veteriner, baik yang disebabkan oleh bakteri, virus, maupun parasit. Berbagai jenis parasit pada hewan dapat menyebabkan penyakit, penyakit yang ditimbulkan ada yang tidak begitu mengganggu kesehatan hewan, tetapi ada juga yang sangat mengganggu kesehatan hingga merugikan berbagai pihak seperti para peternak dan juga masyarakat disekitar daerah yang terkena penyakit, apalagi jika penyakit parasitik tersebut bersifat zoonosis. Salah satu penyakit parasitik yang menyerang hewan disebut Haemonchiasis, yang disebabkan oleh jenis parasit cacing Nematoda, spesies Haemonchus contortus. Cacing ini umumnya menginfeksi ruminansia seperti sapi, kambing dan domba. Penyakit Haemonchiasis dapat merugikan bagi para peternak karena jika hewan ternak terjangkit parasit ini, maka dapat menyebabkan kekurusan bahkan kematian ternak sehingga kerugian ekonomi mungkin terjadi karena menurunnya produksi. Dalam paper kali ini, pembahasan mengenai Haemonchiasis dimaksudkan agar pembaca dan masyarakat bisa lebih mengenal penyakit yang dapat menimbulkan kerugian bagi peternak dan juga dapat menyadari dampaknya apabila hewan ternak terjangkit parasit jenis Haemonchus ini, sehingga dapat mengobati atau bahkan mencegah sebelum parasit ini menginfeksi hewan ternak.

1.2 Rumusan Masalah 1. Apa pengertian dari Haemonchiasis? 2. Bagaimana etiologi penyakit ini? 3. Bagaimana patogenesis dari penyakit ini? 4. Bagaimana Patologi Anatomi dan Histopatologi dari penyakit ini? 5. Bagaimana diagnosa dan cara penanganan terhadap penyakit ini?

1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui pengertian Haemonchiasis. 2. Untuk mengetahui etiologi dari penyakit ini. 3. Untuk mengetahui patogenesis dari penyakit ini. 4. Untuk mengetahui Patologi Anatomi dan Histopatologi dari penyakit ini.
1

5. Untuk mengetahui diagnosa dan cara penanganan terhadap penyakit ini.

1.4 Manfaat Pembaca dapat mengetahui informasi dan memahami tentang Haemonchiasis, juga dapat mengetahui hewan apa saja yang bisa terjangkit, patogenesisnya, Patologi Anatomi dan Histopatologi penyakit ini, serta mengetahui cara penanganan terhadap penyakit ini.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Haemonchiasis merupakan penyakit parasit yang disebabkan oleh infeksi cacing lambung Haemonchus contortus yang

biasanya terlihat pada hewan ruminansia seperti sapi, kambing dan domba, yang ditandai dengan kekurusan, anemia berat dan oedema dimana-mana.
Gambar 1. Cacing Haemonchus contortus

2.2 Etiologi Penyakit ini disebabkan oleh Haemonchus contortus. Haemonchus contortus yang lebih dikenal sebagai Barber Pole worm atau cacing kawat ini adalah parasit pengisap darah yang menyebabkan kehilangan protein dan darah (anemia) pada hewan ruminansia. Cacing ini menembus lapisan abomasum, dan menyebabkan anemia yang dibuktikan dengan membran mukosa yang pucat. Cacing ini juga dapat menyebabkan kondisi yang disebut "rahang botol" (bottle jaw) yang merupakan akumulasi cairan di bawah rahang. Pada stadium larva ke 4 dan 5, cacing dewasa menghisap darah hospes dan menyebabkan gastritis katharal ringan. Cacing dewasa berukuran panjang 20-30 mm dan telurnya memiliki selubung tipis. Cacing betina

mempunyai flap anterior yang merupakan bangunan untuk menutup permukaan vulvanya. Flap anterior ini mempunyai 3 bentuk, yaitu linguiform, knob dan bentuk halus. Cacing betina dikenal sebagai Barber Pole worm karena uterusnya yang putih diselingi usus yang berwarna kemerahan karena berisi darah. Sedangkan cacing jantan yang lebih pendek daripada betinanya memiliki warna merah segar dengan dilengkapi suatu bursa yang asimetris.
Gambar 2. Ukuran cacing

Gambar 3. Flap vulva cacing betina

Gambar 4. Saluran pencernaan dan oviduk yang saling silang

Gambar 5. Bursa pada cacing jantan

2.3 Hewan Rentan Hewan ruminansia yang bisa terinfeksi yaitu kambing, domba dan sapi. Namun bila dibandingkan, domba jauh lebih rentan terhadap infeksi Haemonchus contortus dibanding sapi karena domba merumput lebih dekat dengan permukaan tanah. Biasanya dengan bertambahnya umur hewan, kekebalan terhadap parasit pun turut berkembang, tetapi pada domba dan kambing dewasa, kekebalan terhadap parasit ini tidak berkembang. Jadi ketika parasit ini teridentifikasi pada hewan tersebut maka hewan tersebut harus diperlakukan seperti pada hewan muda (anak).

Gambar 6. Domba yang sedang merumput

2.4 Patogenesis Cacing betina dewasa bisa melepaskan antara 5.000 - 10.000 telur yang akan dikeluarkan bersama tinja hewan yang terinfeksi. Telur kemudian berkembang karena kondisi lembab tinja yang mendukung dan terus berkembang menjadi L-1 (rhabditiform) dan L-2 (tahap remaja). Tahap L-1 biasanya terjadi dalam waktu 4-6 hari dengan ketentuan suhu optimal 24-29C. L-2 rhabditiform kemudian berkembang menjadi larva infektif L-3 (filiariform). L-3 memiliki kutikula pelindung, namun dalam kondisi panas dan kering tidak akan bertahan lama. L-3 kemudian naik ke bilah-bilah rumput basah dan menunggu untuk dicerna oleh hewan pemakan rumput. Domba, kambing dan ruminansia lainnya terinfeksi ketika mereka merumput dan memakan rumput yang mengandung larva infektif L-3. Larva menginfeksi melewati tiga perut pertama yang kemudian mencapai abomasum. L-3 masuk ke dalam lapisan internal dari abomasum dimana mereka berkembang menjadi L-4, biasanya dalam waktu 48 jam, atau larva pra-dewasa. Larva L4 kemudian berkembang menjadi bentuk dewasa (L-5). Pasangan dewasa jantan dan betina hidup di abomasum, di mana mereka mendapat makanan dengan cara menghisap darah.
Gambar 7. Siklus hidup

Cacing lambung ini sangat berbahaya, karena selain menghisap darah, daya berkembangbiaknya sangat tinggi. Kadang-kadang hewan bisa mati. Anemia terjadi akibat perdarahan akut dimana cacing menghisap darah 0,05 ml per hari.

Pada haemonchiasis akut, anemia kelihatan dua minggu setelah infeksi yang ditandai dengan penurunan yang cepat dan dramatis volume sel-sel darah merah. Mingguminggu selanjutnya hematokritnya tetap rendah karena eritropoisis bekerja 2-3 kali lebih banyak untuk menutupi anemia akut ini. Akan tetapi karena kehilangan zat besi dan protein secara teru-menerus mengakibatkan eritropoisis tidak mampu menandingi sehingga angka hematokrit terus menurun sebelum hewan mati. Haemonchiasis hiperakut terjadi bila 30.000 ekor cacing menginfeksi ternak. Ternak yang kelihatan sehat tiba-tiba mati mendadak karena radang lambung dan perdarahan yang hebat (hal ini jarang terjadi). Yang sering terjadi dan kurang diketahui kehadirannya adalah haemonchiasis kronis yang terjadi karena musim kering yang panjang dan re-infeksi dapat diabaikan akan tetapi makanan tidak mencukupi. Selama periode tersebut kehilangan darah walaupun sedikit namun terus-menerus cukup untuk menghasilkan gejala-gejala klinis yang terutama ditandai dengan kehilangan berat badan, lemah dan kehilangan nafsu makan.

2.5 Gejala Klinis Pada tingkat infeksi berat, ternak akan terserang anemia yang sangat cepat sehingga akan menimbulkan kematian. Tetapi secara umum, akibat dari infestasi parasit ini pada hewan ternak (ruminansia) akan menunjukkan gejala: Diare Dehidrasi Rambut (hair coat) kasar, depresi, lemah, lesu dan gerakan tidak terkoordinasi Secara signifikan mengurangi pertumbuhan dan kinerja reproduksi Akumulasi cairan dalam jaringan sub-mandibula (rahang botol/bottle jaw) Anemia/PCV (ditandai dengan pucatnya selaput lendir)

Gambar 8. Bottle jaw 6

Gambar 9. Dehidrasi hebat

Gambar 10 & 11. Membran mukosa yang pucat pada mata menandakan ternak mengalami anemia atau kehilangan darah

2.6 Patologi Anatomi Perubahan terjadi pada perototannya yang menunjukkan ciri-ciri anemia dengan penampilan otot yang pucat. Di bawah kulit terdapat timbunan cairan yang bersifat sereus berwarna bening kekuningan (anasarka), lemak disekitar abdomen. pericardium dan perirenalis melembek dan berkesan suram. Pada abomasum ditemukan cacing dewasa. Cacing ditemukan diantara lapisan-lapisan lipatan mukosa abomasum. Usus

menunjukkan gejala enteritis dengan pembesaran kelenjar pertahanan usus disekitamya. Pada permukaan abomasum tampak perubahan yang berupa lesio-lesio peradangan akibat gigitan cacing tersebut. Semakin muda umur ternak maka akan semakin rentan terhadap infeksi Haemonchus contortus. Perubahan yang umum terjadi pada kambing dan domba yang terinfeksi oleh Haemonchus contortus adalah anemik, mukosa dan organ visceral tampak pucat, darah sangat encer dengan viskositas yang menyerupai air pada kasus yang akut. Pada infeksi yang berjalan lama akan terlihat adanya penumpukan cairan pada ronggarongga tubuh seperti dalam kantung jantung (hydropericardium), rongga perut (ascites), dibawah kulit (anasarca) serta terjadi degenerasi pada hati, ginjal dan lemak tubuh (Hunt and Jones, 1983). Hati dan ginjal secara umum membengkak dengan konsistensi yang lebih keras dan rapuh serta tampak berlemak. Hal ini terjadi akibat degenerasi seluler karena hypoproteinemia (Cheville, 1988).

Gambar 12. Abomasum, adanya haemoragic area

Gambar 13. Haemonchus contortus pada dinding mukosa abomasum

2.7 Histopatologi Secara histopatologis (HP) perubahan yang menonjol adalah yang terjadi pada abomasum, sumsum tulang, usus dan limpa, menyusul hati dan ginjal. Sel-sel hati dan ginjal mengalami degenerasi. Hal ini dapat diterangkan oleh tingkat fosforilasi yang menurun. Dan mengganggu keutuhan sitoplasma sel (Cheville, 1988). Pada mukosa usus kambing yang diinfeksi cacing Haemonchus contortus, terjadi perubahan berupa pemendekan atau penipisan satuan villi dengan keutuhan epitel yang terganggu pula. Pada lapisan propria mukosa disertai dengan hadirnya sel-sel Mast dan eosinofil serta proliferasi sel-sel limfoid pada lapisan sub mukosa. Pada lapisan epitel tampak hadir selsel goblet. Perdarahan yang timbul akibat adanya luka oleh cacing ditunjukkan dengan

hadirnya sel darah merah. Pada sub mukosa epitel baik pada usus dan abomasum tampak terjadi infiltrasi sel radang eosinofil. Limpa dan simpul limpa menunjukkan perubahan yang mengindikasikan bahwa sistem pertahanan tubuh telah tergertak yaitu dengan banyaknya sel plasma pada bagian hilus dari limpa dan simpul limpa (limfoglandula), juga tampak dengan terbentuknya folikel sekunder pada fokus germinal. Perubahan yang paling menonjol terlihat pada histopatologi epipise tulang panjang. Kambing normal masih menunjukkan fokus hemopoiesis yang baik tampak dari pepatnya pulau-pulau pembentukan sel darah.

Gambar 14. Abomasum, tampak penggundulan sel lapisan epitel dan vili, pemanjangan kelenjar dan penebalan mukosa

Gambar 15. Abomasum, tampak erosi pada lapisan epitel, penebalan mukosa dengan infiltrasi sel limfosit pada lamina propria (antara glandula)

Gambar 16. Organ hepar, adanya degenerasi sel hepar

2.8 Diagnosa dan Penanganan 2.8.1 Diagnosa Telur Haemonchus contortus tidak dapat dibedakan dari telur parasit usus lainnya dalam kotoran sehingga pemeriksaan lebih lanjut (penetasan telur dan mengidentifikasi larva) atau pemeriksaan post mortem diperlukan untuk mendiagnosa penyakit ini. Parasit ini cukup besar untuk dilihat dengan mata telanjang di abomasum. Disamping itu juga telah dikembangkan Blood Gastrin Assay, untuk mengetahui level gastrin dan pepsinogen dalam lambung. 2.8.2 Penanganan Para ilmuwan telah meneliti cara-cara untuk mengendalikan penyakit parasitik ini dan meminimalkan biaya produksi pada peternakan. Praktek pengendaliannya harus mampu menekan siklus kehidupan cacing, dapat dilakukan dengan cara: Penggunaan anthelmintik kimia yang tersedia secara komersial: Anthelmintik banyak digunakan untuk mematikan cacing ini. Anthelmintik yang dapat digunakan untuk pengobatan penyakit ini yaitu Ivermectin, Albendazole, Levamisole dan Morantel Tartrate. Peningkatan manajemen pakan (terutama saat merumput) Gunakan tanaman yang dapat mengendalikan siklus hidup cacing: Peneliti telah mengeksplorasi penggunaan tanaman untuk mengendalikan cacing Haemonchus contortus. Pakan hijauan, seperti semanggi, vetches, sawi putih dan sericea lespedeza mengandung tanin terkondensasi. Tanin terkondensasi mengurangi jumlah cacing perut dan produksi telurnya. Pemberian hay sericea lespedeza dapat mengurangi jumlah telur pada feses sebesar 80%.

10

Pengendalian/kontrol terhadap penyakit ini juga dapat dilakukan dengan cara: a) Praktek pemberian makan: o Menyediakan air bersih dan mineral. o Gunakan kerikil atau beton di daerah penggemukan untuk memutus siklus hidup cacing dan untuk mencegah re-infestasi. o Menyediakan jerami berkualitas tinggi untuk ternak di daerah dimana hijauan tidak tersedia sepanjang tahun atau ketika kondisi padang rumput tidak mencukupi. Hay harus dijauhkan dari tanah untuk menghindari kontaminasi oleh tinja. b) Pemeliharaan padang rumput: o Kambing biasanya lebih memilih semak dan hijauan. Jika kambing mengkonsumsi hijauan setidaknya setinggi 6 inci. o Bila mungkin, pangkas rumput setelah merumput. Ini akan membantu untuk memutus siklus hidup cacing dan mencegah re-infestasi. Sinar matahari langsung selama musim panas atau selama musim dingin juga akan membantu menurunkan populasi larva yang tetap di dalam tanah. o Bila mungkin, ganti padang rumput dengan tanaman siklus pendek. Praktek manajemen akan membantu memutus siklus hidup cacing, dan menurunkan populasi larva di padang rumput dan mencegah re-infestasi. o Gunakan pengumpan bersih dan terus perhatikan kebersihan baik dalam kandang maupun padang rumput.

11

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Haemonchiasis disebabkan oleh cacing lambung Haemonchus contortus.

Haemonchus contortus adalah parasit pengisap darah yang menyebabkan kehilangan protein dan darah (anemia) pada hewan ruminansia. Cacing ini juga dapat menyebabkan kondisi yang disebut "rahang botol" (bottle jaw) yang merupakan akumulasi cairan di bawah rahang. Infeksi cacing ini melalui jalur oral (lewat rumput yang dimakan ternak), dengan larva infektif (L-3). Gejala yang ditimbulkan yaitu diare, dehidrasi, rambut (hair coat) kasar, depresi, lemah, lesu dan gerakan tidak terkoordinasi, secara signifikan mengurangi pertumbuhan dan kinerja reproduksi, akumulasi cairan dalam jaringan sub-mandibula (rahang botol/bottle jaw), anemia/PCV (ditandai dengan pucatnya selaput lendir). Pengobatan dapat dilakukan dengan memberikan anthelmintik: Ivermectin, Albendazole, Levamisole dan Morantel Tartrate. Pakan hijauan, seperti semanggi, vetches, sawi putih dan sericea lespedeza juga dapat digunakan untuk mengendalikan siklus hidup Haemonchus contortus ini karena mengandung tanin terkondensasi yang dapat mengurangi jumlah cacing perut dan produksi telurnya.

12

DAFTAR PUSTAKA

Estuningsih S., Retnani E.B., Esfandiari A. 1996. GAMBARAN PATOLOGI BEBERAPA ORGAN TUBUH KAMBING JANTAN AKIBAT INFEKSI Haemonchus contortus. Media Veteriner 1996. Vol. III (2) Inaam, El A.D; Idris. B. El Tayeb; Sania, A. Shadad and T. Hassan. 2007. The Effect of Haemonchus Contortus Infection and Treatment with Ivermectin on Drugmetabolizing Enzymes. Research Journal of Animal and Veterinary Sciences, 2: 67-68 J.M. Burke, J.E. Miller, T.H. Terrill. 2007. Use of Copper Oxide Wire Particles (COWP) to Control Barber Pole Worm in Lambs and Kids. Maria Lenira Leite-Browning, DVM. 2006. Haemonchus contortus (Barber Pole Worm) Infestation in Goats. Extension Animal Scientist, Alabama A&M University: Alabama Penick, Mary. 2011. The Oklahoma Forage-Based Buck Test 2011 Report. Kerr Center for Sustainable Agriculture: Poteau, Oklahoma R Nabavi, P Shayan, HR Shokrani, A Eslami, S Bokaie. 2011. Evaluation of Benzimidazole Resistance in Haemonchus contortus Using Comparative PCR-RFLPMethods. Iranian J Parasitol: Iran. Vol. 6, No.2, 2011, pp.45-53 Rick Machen, Frank Craddock, Tom Craig, and Tom Fuchs. A Haemonchus contortus Management Plan for Sheep and Goats in Texas. The Texas A&M University: Texas Saddiqi, H.A., Z. Iqbal, M.N. Khan and G. Muhammad. 2010. Comparative Resistance of Sheep Breeds to Haemonchus contortus in a Natural Pasture Infection. Int. J. Agric. Biol., 12: 739743 http://drhyudi.blogspot.com/2009/02/penyakit-parasit-hewan-kecil.html http://en.wikipedia.org/wiki/Haemonchus_contortus http://www.ehow.com/about_6127769_sheep-barber-pole-worm.html http://www.ehow.com/about_6664883_barber-pole-worm-goats.html http://www.sheep101.info/sheepdiseases.html

13

LAMPIRAN JURNAL

14