Anda di halaman 1dari 5

Sesi 12

Strategic Leadership

Executive Summaries and Case Reports

Dibuat Oleh :
Dhini Arista Putri Putu Mukunda Padma Tambatua Pasaribu

Program Magister Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada 2011

Strategic Leadership
Dosen Pengampu : Ely Susanto, M.B.A., Ph.D. Executive Summaries and Case Reports

Ethical Leadership and the Psychology of Decision Making Para eksekutif saat ini menghadapi banyak kesulitan, dimana mereka ditempatkan di situasi yang berpotensi meledak dan harus membuat keputusan yang dapat membantu atau bahkan membahayakan perusahaan mereka, diri mereka sendiri, dan lain-lain. Bagaimana mereka dapat meningkatkan kualitas etis dari keputusan mereka? Bagaimana mereka bisa memastikan bahwa keputusan mereka tidak akan menjadi bumerang? Oleh karena itu penulis membahas tiga jenis teori: Teori tentang dunia, Pemimpin yang sukses harus mengetahui secara akurat mengenai dunia merek, jika tidak mereka harus bisa memperoleh pengetahuan tsb. Satu tantangannya adalah bagaimana mengetahui resiko dari strategi atau kebijakan yang diambil yang menimbulkan konsekuensi kebijakan dan menaksir dari berbagai kemungkinan. Tiga komponen teori tentang dunia yaitu : pertimbangan konsekuensi yg mungkin, penilaian risiko, dan persepsi penyebab. Teori-teori tentang orang lain, yaitu keyakinan tentang bagaimana "kita" berbeda dari "mereka". Mereka bisa saja pesaing, karyawan, regulator, atau orang asing. Oleh karena itu mereka harus toleran terhadap adat istiadat yang berbeda, praktik, dan gaya. Bagaimana para eksekutif, seperti orang lain, memiliki teori yang salah mengenai kelompok lain. Karakteristik yang mungkin muncul adalah etnosentris, Stereotypes, Teori tentang diri kita sendiri, yaitu kita semua percaya bahwa kita adalah pribadi yang unik yang membawa kita pada keyakinan yang tidak realistis tentang diri kita yang dapat menyebabkan kita meremehkan risiko, atau terlalu yakin bahwa teori kita tentang dunia ini. Rendah diri umumnya tidak terkait dengan eksekutif sukses. Eksekutif perlu kepercayaan diri, kecerdasan, dan kekuatan moral membuat sulit, mungkin keputusan yg tidak populer. Namun, harus tidak mudah marah dengan kerendahan hati, keterbukaan, dan penilaian yang akurat tentang bakat, masalah etika dapat muncul. Dengan kata lain, jika teori eksekutif tentang diri mereka sendiri adalah cacat, maka mereka sedang dalam bencana. Beberapa teori tentang diri sendiri yang cenderung cacat : ilusi superioritas, melayani diri sendiri dengan tidak keadilan, dan terlalu percaya diri.

Teori-teori ini dapat membantu para eksekutif memahami bagaimana mereka membuat penilaian yang mendasarkan keputusan mereka. Dengan memahami teori-teori ini, mereka dapat belajar bagaimana berbuat lebih baik, dan keputusan yang lebih etis.

Strategic Leadership
Dosen Pengampu : Ely Susanto, M.B.A., Ph.D. Executive Summaries and Case Reports

Managing For Organizational Integrity "Etika memiliki hubungan dengan manajemen". Manager harus mengakui adanya peran mereka dalam membentuk organizational ethics dan menangkap kesempatan untuk menciptakan iklim yang dapat memperkuat hubungan dan reputasi dimana perusahaan tersebut bergantung. Eksekutif yang menolak adanya etika tersebut dapat menimbulkan adanya resiko personal dan kewajiban perusahaan dalam meningkatkan lingkungan hukum yang semakin sulit. Dua jenis program: (1) Compliance-Based Programs: Primarily legalconcern dan (2) Integrity Bassed programs: More than just legal concern
Characteristics of Compliance Strategy conformity with externally Characteristics of Integrity Strategy

self-governance according to chosen standards imposed standards enable responsible conduct Objective management driven with aid of lawyers, Leadership prevent criminal misconduct HR, others lawyer driven education, leadership, accountability, Methods organizational, systems and decision processes,auditing and controls, penalties Behavioral education, reduced discretion.auditing social beings guided by material setfAssumptions and controls, penaltiesautonomous interest, values, ideals, peers beings guided by material self-interest Ethos Implementation of Compliance Strategy criminal and regulatary law Implementation of Integrity Strategy

Standards Staffing

Activities

Education

company values and aspirations social obligations, including law lawyers executives and managers with lawyers, others develop compliance standards lead development of company volues and stondords train and communicate integrate into company systems provide guidance and consultation assess values performance identify and resolve problems oversee compliance activities train and communicate handle reports of decision making and values compliance misconductconduct investigations standards and system oversee complionce audits enforce standards compliance standards and system

Ketika diintegrasikan ke dalam operasi dari suatu organisasi, strategi tersebut dapat membantu mencegah penyimpangan etika. Kemudian kerangka etika tidak lagi menjadi kendala yang memberatkan dimana perusahaan harus beroperasi, tetapi etos yang mengatur organisasi. Contoh Pendekatan Integritas: 1. Martin Marietta Corp : Presiden mengarahkan komite etik 2. Novacare : Membangun Aspirasi Bersama 3. Wetherill Associates : Penjaminan Mutu 3

Strategic Leadership
Dosen Pengampu : Ely Susanto, M.B.A., Ph.D. Executive Summaries and Case Reports

Moral Person and Moral Manager


Reputasi untuk kepemimpinan yang etis bersandar pada dua pilar yang sangat penting, yaitu : 1. Persepsi anda baik sebagai pribadi moral, dan 2. Manager moral Para eksekutif diperusahaan merupakan cerminan dari orang yang bermoral dan dicirikan kedalam hal-hal yang bersifat individu, seperti kejujuran dan integritas. Dan sebagai manager moral, seorang CEO adalah dianggap sebagai pejabat kepala etika organisasi, membuat pesan etika yang kuat agar bisa mendapat perhatian karyawan dan mempengaruhi pikiran dan perilaku dari karyawan-karyawannya. Rumusan atau formula yang baik yang dapat digunakan untuk menjadi seorang pemimpin yang bermoral adalah :

Moral Person + Moral Manager = A Repotation for Ethical Leadership


Pilar 1, Moral Person Menjadi orang yang memiliki etika atau beretika adalah dasar dari Ethical Leadership. Moral Person memiliki tiga substansi dan masing-masing substansi memiliki bagian yang lainnya. Substansi dari Moral Person adalah : 1. Traits, yang terdiri dari : - Intergrity - Honesty - Trustworthiness 2. Behaviours, yang terdiri dari : - Do the right things - Concern for People - Being Open - Personal Morality

3. Decision Making, yang terdiri dari : - Hold to Value - Objective / Fair - Concern for Society - Follow Ethical Rules Pilar 2, Moral Manager Dalam rangka mengembangkan reputasi untuk menjaga kepemimpinan yang beretika, fokusnya harus dititik beratkan kepada kepemimpinan itu sendiri, tantangan bagi eksekutif adalah untuk membuat nilai-nilai etika yang dapat berdiri dari lingkup bisnis yang sarat dengan pesan-pesan tanpa pemanasan kompetisi dan mencapai tujuan dan keuntungan. Yang harus dimiliki oleh seorang moral manager adalah : 1. Role modeling through visible action 2. Rewards and discipline 3. Communicating about ethic and value 4

Strategic Leadership
Dosen Pengampu : Ely Susanto, M.B.A., Ph.D. Executive Summaries and Case Reports

Strategic Leadership of Ethical Behavior in Business


Kepemimpinan strategis perilaku etis dalam bisnis tidak dapat lagi diabaikan. Eksekutif harus menerima kenyataan bahwa dampak kehadiran moral kepemimpinan dan perilaku mereka jarang, atau terkadang bersikap netral. Dalam kapasitas kepemimpinan, eksekutif memiliki

kekuatan yang besar untuk menggeser etika anggota organisasinya ke arah yang positif atau bahkan yang negatif. Pesan etika yang dimulai dari bagian atas atau eksekutif dari suatu perusahaan dan terjun kebawah ke anggota-anggotanya dapat bersifat positif, netral ataupun negatif. Artikel ini berfokus pada tiga kunci perilaku etis yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin yang memiliki kedudukan strategis dalam bisnis, dan ketiga hal tersebut adalah : 1. It must be done Rasa urgensi untuk perubahan etika dapat dikonfirmasi dan dirangsang dari total biaya kegagalan analisis etis. 2. It can be done Hal ini menunjukkan bahwa tindakan kepemimpinan seseorang dapat mempengaruhi sebagaian besar anggota organisasi untuk membuat pilihan etis. 3. It is sustainable Melalui program yang terintegritas, seorang eksekutif dapat membantu membangun dan mengkonfirmasi budaya perusahaan dimana tindakan yang berprinsip dan normanorma etika mendominasi di organisasi tersebut.

Untuk seorang eksekutif bisnis, strategic leadership memiliki tanggung jawab untuk memulai suatu perubahan, yang perubahan itu harus mencakup tujuan menciptakan dan mempertahankan iklim etika, dimana karyawan bertindak secara etis adalah sesuatu yang rutin.
Ketika seseorang mempertimbangkan bagaimana para stakeholder memberikan efek kepada perusahaan, stakeholder sekunder dapat dilihat dengan urgensi yang lebih oleh para eksekutif dari pada stakeholder yang utama, Dan pemerintah dapat memnutup bisnis dalam hitungan jam, dan hal itu akan memakan waktu yang lebih lama bagi customer yang tidak puas. Para eksekutif bisnis harus dapat menyadari bahwa dan memberikan garis bawah keberhasilan suatu bisnis selalu mencakup komponen etika. Mereka harus bersedia melakukan apa saja, bahkan hal-hal kecil setiap hari yang dapat membantunya untuk memajukan apa saja yang menjadi cita-citanya.