Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENILAIAN STATUS GIZI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAMULANG KOTA TANGERANG SELATAN PROPINSI BANTEN TAHUN 2011

Disusun Oleh : Kelompok 7

1. Sherly Purnama O. 2. Mizna Sabilla 3. Iin Septiana

108101000004 108101000011 108101000032

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2011 M / 1432 H

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah gizi pada hakekatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor, oleh karena itu pendekatan penanggulangannya harus melibatkan berbagai sektor yang terkait. Masalah gizi di Indonesia dan di negara berkembang masih didominasi oleh masalah kurang energi protein (KEP), masalah anemia besi, masalah gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY), masalah kurang vitamin A (KVA) dan masalah obesitas terutama di kota-kota besar yang perlu ditanggulangi. Disamping masalah tersebut, diduga ada masalah gizi mikro lainnya seperti defisiensi zink yang sampai saat ini belum terungkapkan, karena adanya keterbatasan iptek gizi. Secara umum masalah gizi di Indonesia, terutama KEP masih lebih tinggi dari pada negara ASEAN lainnya (Supariasa,dkk 2002). . 1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan Umum Memberikan gambaran pelaksanaan program perbaikan gizi masyarakat di wilayah Puskesmas Pamulang. 1.2.2 Tujuan Khusus Memberikan informasi cakupan dan analisa hasil Penilaian Status Gizi di Puskesmas Pamulang.

1.3 Manfaat Memberikan gambaran yang menyeluruh tentang program kegiatan yang telah dilaksanakan serta untuk memberikan masukan dengan memperhitungkan segala potensi dan hambatan yang ada, sesuai dengan apa yang diperoleh dari analisa masalah dan analisa situasi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Pengertian Status Gizi Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu. Penilaian status gizi secara langsung untuk individu dan masyarakat dapat menggunakan berbagai cara yaitu metode antropometri, biofisik, pemeriksaan biokimia, dan pemeriksaan klinis. Sedangkan secara tidak langsung penilaian status gizi dapat menggunakan metode survey konsumsi makanan, statistik vital, dan faktor ekologi (Supariasa,dkk 2002). 2.2 Penilaian Status Gizi 1 A. Penilaian Status Gizi Secara Langsung Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian yaitu: 1. Antropometri Pengertian Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Penggunaan Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh. 2. Klinis Pengertian Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel (superficial epithelial tissues) seperti kulit, mata, rambut dan
1

Supariasa,dkk. 2002. Penilaian Status Gizi. EGC. Penerbit buku kedokteran. Jakarta.

mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid. Penggunaan Penggunaan metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid clinical surveys). Survei ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tandatanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. Disamping itu digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign) dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit. 3. Biokimia Pengertian Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain: darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. Penggunaan Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi, Banyak gejala klinis yang kurang spesifik, maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang spesifik. 4. Biofisik Pengertian Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan. Penggunaan Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik (epidemic of night blindnes), Cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap. B. Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi tiga yaitu: 1. Survei Konsumsi Makanan

Pengertian Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi Penggunaan Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga dan individu. Survei ini dapat mengidentifikasikan kelebihan dan kekurangan zat gizi. 2. Statistik Vital Pengertian Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberpa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi. Penggunaan Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat. 3. Faktor Ekologi Pengertian Bengoa mengungkapkan bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi dan lain-lain. Penggunaan Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar untuk melakukan program intervensi gizi. Secara ringkas, penilani status gizi.

2.3 Macam Klasifikasi Status Gizi Klasifikasi Status Gizi STATUS GIZI Gizi Lebih Berat badan menurut umur (BB/U) Gizi Baik Gizi Kurang AMBANG BATAS *) > + 2 SD -2 SD sampai +2 SD < -2 SD sampai -3 SD

INDEKS

Gizi Buruk Tinggi badan menurut umur (TB/U) Berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) Normal Pendek (stunted) Gemuk Normal Kurus (wasted) Kurus sekali

< 3 SD 2 SD < -2 SD > + 2 SD -2 SD sampai + 2 SD < -2 SD sampai -3 SD < 3 SD Sumber : Depkes RI, 2002.

2.4 Faktor Yang Perlu Dipertimbangkan Dalam Memilih Metode Penilaian Status Gizi Hal mendasar yang perlu diingat bahwa setiap metode penilaian status gizi punyai kelebihan dan kelemaban masing-masing. Dengan menyadari kelebihan kelemahan tiap-tiap metode, maka dalam menentukan diagnosis suatu penyakit digunakan beberapa jenis metode. Penggunaan satu metode akan memberikan baran yang kurang komprehensif tentang suatu keadaan. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih dan mengunakan metode adalah sebagai berikut :2 Tujuan Tujuan pengukuran sangat perhi diperhatikan dalam memilih metode, seperti ingin melihat fisik seseorang, maka metode yang digunakan adalah antropome Apabila ingin melihat status vitamin dan mineral dalam tubuh sebaiknya gunakan metode biokimia. Unit Sampel yang Akan Diukur Berbagai jenis unit sampel yang akan diukur sangat mempengamhi metode penilaian status gizi. Jenis unit sampel yang akan diukur meliputi individi rumah tangga/keluarga dan kelompok rawan gizi. Apabila unit sampel yang diukur adalah kelompok atau masyarakat yang rawan gizi secara keseluruhan sebaiknya menggunakan metode antropometri, karena metode ini murah dan dari segi ilmiah bisa dipertanggungjawabkan. Jenis Informasi yang Dibutuhkan Pemilihan metode penilaian status gizi sangat tergantung pula dari jenis info yang diberikan. Jenis informasi itu antara lain: asupan makanan berat dan badan,

Supariasa,dkk. 2002. Penilaian Status Gizi. EGC. Penerbit buku kedokteran. Jakarta.

tingkat hemoglobin dan situasi sosial ekonomi. Apabila menginginkan informasi tentang asupan makanan, maka metode yang digunakan adalah survei konsumsi. Dilain pihak apabila ingin mengetahui tingkat hemoglobin maka metode yamg gunakan adalah biokimia. Membutuhkan informasi tentang keadaan fisik seperti 1 badan dan tinggi badan, sebaiknya menggunakan metode antropometri. Begitu apabila membutuhkan informasi tentang situasi sosial ekonomi sebaiknya gunakan pengukuran faktor ekologi. Tingkat Reliabilitas dan Akurasi yang Dibutuhkan Masing-masing metode penilaian status gizi mempunyai tingkat reliabilitas dan rasi yang berbeda-beda. Contoh penggunaan metode Idinis dalam menilai tinkat pembesaran kelenjar gondok adalah sangat subjektif sekali. Penilaian ini tenaga medis dan paramedis yang sangat terlatih dan mempunyai pengalaman yang cukup dalam bidang ini. Berbeda dengan penilaian secara biokimia yang mempunyai reliabilitas dan akurasi yang sangat tinggi, Oleh karena itu apabila ada biaya, tenaga dan sarana-sarana lain yang mendukung, maka penilaian status gizi dengan biokimia sangat dianjurkan. Tersedianya Fasilitas dan Peralatan Berbagai jenis fasilitas dan peralatan yang dibutuhkan dalam penilaian status gizi. Fasilitas tersebut ada yang mudah didapat dan ada pula yang sangat sulit diperoleh. Pada umumnya fasilitas dan peralatan yang dibutuhkan dalam penilaian status gizi secara antropometri relatif lebih mudah didapat dibanding dengan peralatan penentuan status gizi dengan biokimia. Pengadaan jenis fasilitas dan peralatan yang dibutuhkan, ada yang diimport dari luar negeri dan ada yang didapat dari dalam negeri. Umumnya peralatan yang diimport lebih mahal dibandingkan dengan yang produksi dalam negeri. Tenaga Ketersediaan tenaga, baik jumlah maupun mutunya sangat mempengaruhi peng-gunaan metode penilaian status gizi. Jenis tenaga yang digunakan dalam pengumpulan data status gizi antara lain: ahli gizi, dokter, ahli kimia, dan tenaga lain. Penilaian status gizi secara biokimia memerlukan tenaga ahli kimia atau analis kimia, karena menyangkut berbagai jenis bahan dan reaksi kimia yang hams dikuasai. Berbeda dengan penilaian status gizi secara antropometri, tidak

memerlukan tenaga ahli, tetapi tenaga tersebut cukup dilatih beberapa hari saja sudah dapat menjalankan tugasnya. Kader gizi di Posyandu adalah tenaga gizi yang tidak ahli, tetapi dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, walaupun disana-sini masih ada kekurangannya. Tugas utama kader gizi adalah melakukan pengukuran antropometri, seperti tinggi badan dan berat badan serta umur anak. Setelah mendapatkan data, mereka dapat memasukkan pada KMS dan langsung dapat menginterpretasi data tersebut Penilaian status gizi secara klinis, membutuhkan tenaga medis (dokter). Tenaga kesehatan lain selain dokter, tidak dapat diandalkan, mengingat tanda-tanda klinis tidak spesifik untuk keadaan tertentu. Stomatitis angular, sering tidak benar diinterpretasikan sebagai kekurangan riboflavin. Keadaan ini di India diakibatkan dari kebanyakan mengunyah daun sirih atau buah pinang yang banyak mengandung kapur, yang dapat menyebabkan iritasi pada bibir. Waktu Ketersediaan waktu dalam pengukuran status gizi sangat mempenganihi metode yang akan digunakan. Waktu yang ada bisa dalam mingguan, bulanan dan tahunan. Apabila kita ingin menilai status gizi di suatu raasyarakat dan waktu yang tersedia relatif singkat, sebaiknya dengan menggunakan metode antropometri. Sangat mustahil kita menggunakan metode biokimia apabila waktu yang tersedia sangat singkat, apalagi tidak ditunjang dengan tenaga, biaya dan peralatan yang memadai. Dana Masalah dana sangat mempengaruhi jenis metode yang akan digunakan untuk menilai status gizi. Umumnya penggunaan metode biokimia relatif mahal dibanding dengan raetode lainnya. Penggunaan metode disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam penilaian status gizi.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Identifikasi Masalah Gizi Di Puskesmas Pamulang

Identifikasi masalah dilakukan dengan cara pengumpulan data sekunder dan wawancara mendalam. Berdasarkan data LB3 Tahun 2011 yang terdapat di Puskesmas Pamulang diperoleh empat penyakit yang menjadi permasalahan kesehatan gizi di wilayah kecamatan Pamulang sebagaimana tertera pada table 3.1. Tabel 3.1 Permasalahan Gizi di Puskesmas Pamulang Tahun 2011 Masalah Gizi KEK Anemia pada Bumil BBLR Gizi Buruk balita Bulan Maret 0 10 1 11 April 8 12 2 12 Mei 10 15 1 6 Total 18 37 4 29

Sumber : Data LB3 Puskesmas Pamulang Tahun 2011 Berdasarkan data LB3 Puskesmas Pamulang tahun 2011, pada 3 bulan terakhir, yaitu Maret, April dan Mei, terdapat beberapa permasalahan gizi. Permasalahan gizi yang terjadi adalah KEK, anemia pada ibu hamil, BBLR, dan gizi buruk. Dari keempat permasalahan tersebut, anemia pada ibu hamil memiliki kasus tertinggi dengan jumlah 37 kasus. Sedangkan kasus tertinggi kedua adalah gizi buruk pada balita dengan jumlah 29 kasus. Kemudian disusul oleh KEK pada ibu hamil dan BBLR. KEK Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah keadaan di mana seseorang mengalami kekurangan gizi (kalori dan protein) yang berlangsung lama atau menahun. Risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah keadaan di mana seseorang mempunyai kecenderungan menderita KEK. Seseorang dikatakan menderita risiko KEK bilamana LILA (Lingkar Lengan Atas) < 23,5 cm (Supariasa, 2002). LILA adalah suatu cara untuk mengetahui risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) wanita usia subur termasuk remaja putri. Pengukuran LILA tidak dapat digunakan untuk memantau perubahan status gizi dalam jangka pendek. Status gizi

yang buruk (KEK) sebelum dan selama kehamilan akan menyebabkan ibu melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Di samping itu, akan mengakibatkan anemia pada bayi baru lahir, mudah terinfeksi, abortus terhambatnya pertumbuhan otak janin (Supariasa, 2002). Ibu KEK adalah ibu yang mempunyai kecenderungan menderita KEK. Untuk memastikan seorang ibu berisiko KEK, maka ibu tersebut perlu diperiksa LILA dan Indeks Masa Tubuh (IMT) sebelum hamil. Ibu yang mempunyai ukuran LILA < 23,5 cm dan IMT (Indeks Masa Tubuh) merupakan hasil pembagian berat badan dalam kg dengan kuadrat tinggi badan dalam meter) < 17,0 beresiko terkena KEK.3 BBLR (Bayi Berat Badan Lahir Rendah) Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir. BBLR dibedakan menjadi : o Prematuritas murni bayi pada kehamilan < 37 minggu dengan berat badan sesuai. o Retardasi pertumbuhan janin intra uterin (IUGR) bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai dengan usia kehamilan.4
Gizi Buruk Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan

nutrisi, atau denganungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisaberupa protein, karbohidrat dan kalori. Di Indonesia, kasus KEP (Kurang Energi Protein) adalahsalah satu masalah gizi utama yang banyak dijumpai pada balita.5 Anemia Anemia kurang besi merupakan penyebab penting yang melatar belakangi kejadian morbiditas dan mortalitas, yaitu kematian ibu pada waktu hamil dan pada waktu melahirkan atau nifas sebagai akibat komplikasi kehamilan. Sekitar 20 % kematian maternal negara berkembang penyebabnya adalah berkaitan langsung

Agustian, Efrinita Nur. 2010. Hubungan Antara Asupan Protein Dengan Kekurangan Energi Kronik (Kek) Pada Ibu Hamil Di Kecamatan Jebres Surakarta. Diunduh dari Http://Eprints.Uns.Ac.Id/ pada tanggal 25 Juni 2011 pukul 19.37. 4 Anonim. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Berat Badan Lahir Rendah. Diundih dari http://nursingbegin.com/askep-bayi-dengan-bblr/ pada tanggal 25 Juni 2011 pukul 19.37. 5 Sarmin,dkk 2010. Cara mendeteksi gizi buruk pada balita. Di unduh dari http://www.scribd.com/doc/48013345/ pada tanggal 25 Juni 2011 pukul 19.47.

dengan anemia kurang besi. Disamping pengaruhnya kepada kematian, anemia pada saat hamil akan mempengaruhi pertumbuhan janin, berat bayi lahir rendah dan peningkatan kematian perinatal.6 Diagram 3.1 Permasalahan Gizi di Puskesmas Pamulang Tahun 2011
16 14 12 10 8 6 4 2 0 KEK Bumil Anemia BBLR Balita Gizi Buruk 0 1 2 8 6 10 10 12 15 12

11

Maret April Mei 1

Sumber : Data LB3 Puskesmas Pamulang Tahun 2011 Diagram 3.1 juga memaparkan jumlah kasus gizi di Puskesmas Pamulang tahun 2011 pada 3 bulan terakhir, yaitu Maret, April dan Mei. Dari diagram batang tersebut juga dapat diketahui bahwa kasus tertinggi ialah anemia pada ibu hamil. Anemia pada ibu hamil dijadikan masalah utama karena menduduki peringkat pertama dalam jumlah kasus yang terjadi pada 3 bulan terakhir. Selain itu, anemia memiliki tingkat resiko yang tinggi seperti BBLR, abortus, yang berakibat pada tingginya AKI dan AKB. Karena AKI dan AKB merupakan indikator keberhasilan pembangunan kesehatan yang tercantum dalam RPJPK 2005-2025.

3.2 ANALISIS MASALAH Anemia adalah suatu keadaan penurunan kadar hemoglobin hematokrit dan jumlah ertirosit di bawah normal (Depkes, 2007 dalam Wardani, 2009). Anemia adalah suatu keadaan tubuh yang ditandai dengan defisiensi pada ukuran dan jumlah eritrosit pada kadar hemoglobin yang tidak mencukupi untuk pertukaran O2 dan CO2

Rasmaliah. 2004. Anemia Kurang Besi Dalam Hubungannya Dengan Infeksi Cacing Pada Ibu Hamil. Universitas Sumatera Utara. Diunduh dari www.repository.usu.ac.id pada 25 Juni 2011 pkl. 15.00 WIB

di jaringan dan darah.7 Anemia kurang besi amerupakan salah satu bentuk gangguan gizi yang merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di seluruh dunia, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia.8 Menurut Rasmaliah (2004), penyebab utama anemia kurang besi antara lain: Konsumsi zat besi yang tidak cukup. Pola makan yang sebagian besar terdiri dari nasi, dan menu yang kurang beraneka ragam mengakibatkan konsumsi zat besi dari makanan tersebut sering lebih rendah dari dua pertiga kecukupan konsumsi zat besi yang dianjurkan. Absorbsi zat besi yang rendah. Susunan menu makanan yang dikonsumsi tergolong pada tipe makanan yang rendah absorbsi zat besinya. - Mengkonsumsi jenis makanan yang dapat menghambat absorpsi besi juga sangat berpengaruh. Zat penghambat tersebut adalah tannin dalam teh, phosvitin dalam kuning telur, protein kedelai, phytat, asam folat, kalsium dam serat dalam bahan makanan, zat-zat gizi ini dengan zat besi membentuk senyawa yang tidak larut dalam air, sehingga sulit untuk di absorbsi. Adapun menurut WHO kadar hemoglobin pada ibu hamil dikatakan normal apabila kadarnya 11 mg% atau lebih. Selanjutnya mereka akan menjadi anemia pada saat kadar hemoglobin ibu turun sampai dibawah 11 mg% (Lubis, 2003 dalam Simanjuntak). Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin dari segi asupan makanan9: 1) Budaya pangan Kegiatan budaya suatu keluarga, suatu kelompok masyarakat, suatu negara mempunyai pengaruh yang kuat terhadap apa, kapan dan bagaimana penduduk makan.

Wardani, W.Y.K. 2009. Hubungan Pendidikan dan Pengetahuan Ibu Hamil Trimester III Tentang Zat Besi (Fe) Dengan Kepatuhan Dalam Mengkonsumsi Tablet Besi (Fe) di Rumah Bersalin YKWP I Mranggen Kabupaten Demak. Skripsi. Univeristas Muhammadiyah Semarang. Diunduh dari www.digilib.unimus.ac.id 8 Rasmaliah. Opcit 9 Simanjuntak, Nelly Agustini. 2009. Hubungana Anemia Pada Ibu Hamil Dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Di Badan Pengelola Rumah Sakit Umum (BPRSU) Rantauprapat Kabupaten Labuhan Batu Tahun 2008. Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Diunsuh dari www.usu.ac.id

2) Pola makanan Di beberapa daerah pedesaan di Asia Tenggara umumnya makan satu atau dua kali sehari. Cara penyiapan pangan secara tradisional, niasanya tidak menggunakan bahan bakar dan cenderung mempertahankan zat gizi yang terdapat dalam pangan. 3) Pembagian makanan dalam keluarga Kekurangan pangan dalam rumah tangga akan menyebabkan kecukupan gizi anggota keluarga terganggu. Kekurangan pangan yang kronik akan berpengaruh terhadap kadar hemoglobin. 4) Besar keluarga Banyaknya anggota dalam suatu keluarga akan mempengaruhi pemenuhan gizi keluarga tersebut. 5) Faktor pribadi Faktor pribadi dan kesukaan yang mempengaruhi jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi penduduk. 6) Pengetahuan gizi Pengetahuan yang kurang menyebabkan bahan makanan bergizi yang tersedia tidak dikonsumsi secara optimal. Kesalahan pemilihan bahan makanan dan pola makan yang salah, cukup berperan dalam terjadinya anemia (Depkes RI, 2003). 7) Tampilan Suatu bahan makanan dianggap memenuhi selera atau tidak, tergantung tidak hanya pada pengaruh sosial dan budaya tetapi juga dari bentuk makanan secara fisik. 8) Status kesehatan Tingkat konsumsi pangan adalah suatu bagian penting dari status kesehatan seseorang. 9) Segi psikologi Sikap manusia terhadap makanan banyak dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman dan respon-respon yang diperlihatkan oleh orang lain terhadap makanan sejak masa kanak-kanak. 10) Kepercayaan terhadap makanan. Manusia selalu berpikir dalam menentukan menu dari makanan yang akan dikonsumsi. Bahwa makanan tertentu akan memberikan dampak bagi tubuh mereka.

Peningkatan kebutuhan akan zat besi untuk pembentukan sel darah merah yang lazim berlangsung pada masa pertumbuhan bayi, pubertas, masa

kehamilan dan menyusui. Selama menyusui, zat besi yang seharusnya hilang bersama darah haid dialihkan sebagian (0,3mg) kedalam ASI sebagai tambahan kehilangan basal. Peningkatan kebutuhan akan zat besi untuk pembentukan sel darah merah yang lazim berlangsung pada masa pertumbuhan bayi, pubertas, masa kehamilan dan menyusui (Arisman, 2007). Besi merupakan mineral mikro yang paling banyak terdapat di dalam tubuh manusia dan hewan yaitu 3-5 gr di dalam tubuh manusia dewasa. Besi mempunyai beberapa fungsi essensial di dalam tubuh yaitu sebagai alat angkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, sebagai alat angkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, sebagai alat angkut elektron di dalam sel, sebagai bagian terpadu berbagai reaksi enzim di dalam jaringan. Zat besi yang terdapat dalam bahan makanan dapat berasal dari hewan maupun dari tumbuhan. Zat besi yang berasal dari tumbuh-tumbuhan memiliki daya serap antara 1-6% lebih rendah dibanding zat besi yang berasal dari hewan yang mempunyai daya serap 7-22%.10 Pengaruh anemia pada kehamilan dan janin : 1. Bahaya selama kehamilan Dapat terjadi karena abortus, persalinan prematur, hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim, mudah terjadi infeksi, ancaman decompensasi cordes (hb<6gr%), mola hidatidosa, hiperemesis gravidarum, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini. 2. Bahaya saat persalinan Gangguan his mempengaruhi kekuatan mengejan, kala I berlangsung lama dan terjadi partus terlantar, kala II berlangsung lama, dapat terjadi perdarahan post partum dan atonia uteri. 3. Bahaya pada saat nifas Terjadi sub involusi uteri menimbulkan perdarahan PP, memudahkan infeksi puerperium, pengeluaran ASI berkurang, terjadi decompensasi cordis mendadak PP, anemia kala nifas, mudah terjadi infeksi mamae 4. Bahaya terhadap janin Abortus, terjadi kematian intra uteri, persalinan prematur tinggi, berat badan lahir rendah, kelahiran dengan anemia, dapat terjadi cacat bawaan, bayi mudah terkena

10

Almasier, Sunita. 2001, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

infeks, ancaman decompensasi cordes (Hb<6gr%), mola hidatidosa, hiperemesis gravidarum, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini11 3.3 PERANCANGAN PSG Bersdasarkan identifikasi dan analisis masalah yang telah diperoleh, perancangan penilaian status gizi yang tepat dan sesuai dengan kondisi masyarakat Pamulang adalah kombinasi antara beberapa penilaian status gizi langsung dan tidak langsung, yaitu kombinasi antara pemeriksaan klinis, biokimia dan survei konsumsi pangan. Penilaian status gizi secara klinis dilakukan dengan memeriksa tanda (sign) dan gejala (symptom) dari anemia. Hal ini dapat dilakukan oleh bidan desa ataupun kader yang bertugas di Posyandu dengan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan klinis tersebut dilakukan ketika ibu hamil memeriksakan kesehatan dan kandungannya di Posyandu. Adapun tanda dan gejala yang mengindikasikan anemia adalah kepala pusing, palpitasi, berkunang-kunang dan perubahan jaringan pitel kuku, lesu, lelah, lemah, disfagia dan pembesaran limfa.12 Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan ialah13 14: Kuku Koilonychia, yaitu keadaan kuku bagian bilateral cacat berbentuk sendok yang biasanya terjadi pada kuku jempol. Mata selaput mata pucat (pale conjunctiva) yang dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan warna, ikterus, perubahan pada fundus Bibir tampak pucat Mulut ulserasi, hipertrofi gusi, atrofi papil lidah Kulit pucat, sianosis, ikterus, kulit telapak tangan kuning seperti jerami Penilaian status gizi secara biokimia dilakukan setelah Puskesmas mendapat laporan pemeriksaan fisik dari bidan desa terkait anemia yang telah dilakukan di Posyandu. Pemeriksaan biokimia yang dapat dilakukan untuk mendeteksi anemia adalah pemeriksaan kadar Hb. Hemoglobin merupakan senyawa pembawa oksigen pada sel darah merah. Kadar Hb normal pada ibu hamil adalah 11 gr %, sehingga jika
11

Mappiwali. 2009. Hubungan Karakteristik Ibu Hamil dengan Kejadian Anemia di Rumah Sakit Umum Sultan Daeng Raja Kabupaten Bulukumba Periode Januari-Desember 2008. Universitas Hasannudin. Makassar. 12 Wardani. Opcit. 13 Supariasa, dkk. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC. 14 Mappiwali.. Opcit.

ditemukan ibu hamil dengan kadar Hb kurang dari 11 gr %, maka dinyatakan anemia. Hb dapat diukur dengan metode Sahlie dan cyanmethemoglobin. Metode Sahlie merupakan metode yang paling sederhana sedangkan cyanmethemoglobin lebih canggih. Survei konsumsi makanan dimaksudkan untuk mengetahui kebiasaan makan ibu hamil dan gambaran tingkat kecukupan bahan makanan yang mengandung Fe dan mempengaruhi penyerapan Fe. Metode yang digunakan ialah frekuensi makanan (food frequency). Metode frekuensi makanan adalah untuk memperoleh data tentang frekuensi konsumsi sejumlah bahan makanan atau makanan jadi selama periode tertentu seperti hari, minggu, bulan atau tahun (Supariasa, 2002). Dengan metode ini dapat memperoleh gambaran pola konsumsi bahan makanan secara kualitatif dan merupakan metode yang paling sering digunakan dalam penelititan epidemiologi gizi. Untuk mengetahuinyadipergunakan kuesioner frekuensi makanan yang memuat tentang daftar bahan makanan atau makanan dan frekuensi penggunaan makanan tersebut pada periode tertentu. Penggunaan ketiga metode penilaian status gizi ini dipilih untuk memperoleh penilaian status gizi yang maksimal. Hal ini dikarenakan setiap metode memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Dengan pengkombinasian metode diharapkan dapat meminimalisir kelemahan dan memaksimalkan kelebihan metodemetode tersebut. Adapun kelebihan dari ketiga metode tersebut antara lain: 1) Klinis o Relatif murah o Tidak memerlukan tenaga khusus tetapi tenaga paramedis bisa dilatih. o Sederhana, cepat dan mudah di interpretasikan o Tidak memerlukan alat yang rumit 2) Biokimia o Dapat mendeteksi defisiensi zat gizi lebih dini o Hasil pemeriksaan lebih objektif o Dapat menunjang pemeriksaan metode lain dalam penilaian status gizi 3) Survey Konsumsi Makanan (FF) o Tidak dapat menghitung intake zat gizi sehari o Responden harus jujur

o Sulit mengembangkan kuisoner Sedangkan kelemahannya adalah: 1) Klinis o Beberapa gejala mudah dideteksi o Gejala klinis tidak bersifat spesifik o Ada gejala klinis yang bersifat multiple o Dapat terjadi pada saat kekurangan gizi dan saat akan sembuh o Ada variasi dalam gejala klinis yang timbul. 2) Biokimia o Masalah dana sangat mempengaruhi jenis metode yang akan digunakan untuk menilai status gizi. Umumnya penggunaan metode biokimia relatif mahal dibanding dengan raetode lainnya. Penggunaan metode disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam penilaian status gizi.15 o Memerlukan tenaga yang ahli o Kurang praktis dilakukan di lapangan o Membutuhkan peralatan dan bahan yang lebih banyak 3) Survey Konsumsi Makanan o Sering terjadi bias o Relatif murah dan sederhana o Dapat dilakukan sendiri oleh responden o Tidak butuh latihan khusus.

3.4 EVALUASI PERANCANGAN PSG Status gizi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor asupan makan, pelayanan kesehatan yang memadai, faktor lingkungan, factor biologi, dan faktor perilaku. Status gizi merupakan langkah awal pemeriksaan seseorang dapat dikatakan sehat. Ada beberapa parameter yang dapat menentukan status gizi, diantaranya dapat melalui pemeriksaan fisik, biokimia, dan survey konsumsi makanan. 16 Menurut supariasa (2002) Tanda-tanda klinis malnutrition (gizi kurang) tidak spesifik, hal itu karena ada beberapa penyakit yang mempunyai gejala yang sama, tetapi penyebabnya berbeda. Oleh karena

15 16

Ibid Priyanto , Agung. 2010. Hubungan Asupan Fe Dan Tingkat Pendidikan Ibu Dengan Kadar Hb Pada Anak Balita Di Rw 7 Kelurahan Sewu Kecamatan Jebres Kota Surakarta.

itu pemeriksaan klinis ini harus dipadukan dengan pemeriksaan lain, seperti laboratorium, dan survei konsumsi makanan, sehingga kesimpulan dalam penilaian status gizi dapat lebih tepat dan lebih baik. Sedangkan menurut Priyanto (2010) pemeriksaan biokimia bukan suatu diagnosis melainkan suatu cerminan patofisiologik yang mendasar yang diuraikan melalui anamnesis yang seksama, pemeriksaan fisik dan konfirmasi laboratorium. Selain itu, menurut Garby et al dalam Supariasa (2002) menyatakan bahwa penentuan status gizi anemia yang hanya menggunakan kadar Hb ternyata kurang lengkap, sehingga perlu ditambah dengan pemeriksaan yang lain. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka digunakan kombinasi beberapa penilaian status gizi yaitu pemeriksaan klinis, biokimia, dan survey konsumsi makanan.

BAB IV PENUTUP 4.1 SIMPULAN Berdasarkan data LB3 Puskesmas Pamulang tahun 2011, pada 3 bulan terakhir, yaitu Maret, April dan Mei, terdapat beberapa permasalahan gizi. Permasalahan gizi yang terjadi adalah KEK, anemia pada ibu hamil, BBLR, dan gizi buruk. Dari keempat permasalahan tersebut, anemia pada ibu hamil memiliki kasus tertinggi dengan jumlah 37 kasus. Bersdasarkan identifikasi dan analisis masalah yang telah diperoleh, perancangan penilaian status gizi yang tepat dan sesuai dengan kondisi masyarakat Pamulang adalah kombinasi antara beberapa penilaian status gizi langsung dan tidak langsung, yaitu kombinasi antara pemeriksaan klinis, biokimia dan survei konsumsi pangan. Karena Hal ini dikarenakan setiap metode memiliki kelebihan dan kelemahan masingmasing. Sehingga kesimpulan dalam penilaian status gizi dapat lebih tepat dan lebih baik. .

DAFTRA PUSTAKA

Agustian, Efrinita Nur. 2010. Hubungan Antara Asupan Protein Dengan Kekurangan Energi Kronik (Kek) Pada Ibu Hamil Di Kecamatan Jebres Surakarta. Diunduh dari www. eprints.uns.ac.id pada tanggal 25 Juni 2011 pukul 19.37 WIB. Almasier, Sunita. 2001, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Anonim. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Berat Badan Lahir Rendah. Diundih dari http://nursingbegin.com/askep-bayi-dengan-bblr/ pada tanggal 25 Juni 2011 pukul 19.37 WIB. Mappiwali. 2009. Hubungan Karakteristik Ibu Hamil dengan Kejadian Anemia di Rumah Sakit Umum Sultan Daeng Raja Kabupaten Bulukumba Periode Januari-Desember 2008. Universitas Hasannudin. Makassar. Dari www.scribd.com pada 25 Juni 2011 pkl. 18.00 WIB MB Arisman, 2007, Buku Ajar Ilmu Gizi : Gizi dalam Daur Kehidupan , Edisi Ketiga, EGC, Jakarta. Priyanto , Agung. 2010. Hubungan Asupan Fe Dan Tingkat Pendidikan Ibu Dengan Kadar Hb Pada Anak Balita Di Rw 7 Kelurahan Sewu Kecamatan Jebres Kota Surakarta. Dari http://etd.eprints.ums.ac.id di akses pada tanggal 25 Juni 2011 pukul 18.08. WIB Rasmaliah. 2004. Anemia Kurang Besi Dalam Hubungannya Dengan Infeksi Cacing Pada Ibu Hamil. Universitas Sumatera Utara. Diunduh dari www.repository.usu.ac.id pada 25 Juni 2011 pkl. 15.00 WIB Sarmin,dkk 2010. Cara mendeteksi gizi buruk pada balita. Di unduh dari

http://www.scribd.com/doc/48013345/ pada tanggal 25 Juni 2011 pukul 19.47 WIB. Simanjuntak, Nelly Agustini. 2009. Hubungana Anemia Pada Ibu Hamil Dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Di Badan Pengelola Rumah Sakit Umum (BPRSU) Rantauprapat Kabupaten Labuhan Batu Tahun 2008. Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Diunsuh dari www.usu.ac.id Supariasa,dkk. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC.

Wardani, W.Y.K. 2009. Hubungan Pendidikan dan Pengetahuan Ibu Hamil Trimester III Tentang Zat Besi (Fe) Dengan Kepatuhan Dalam Mengkonsumsi Tablet Besi (Fe) di Rumah Bersalin YKWP I Mranggen Kabupaten Demak. Skripsi. Univeristas Muhammadiyah Semarang. Diunduh dari www.digilib.unimus.ac.id pada 25 Juni 2011 pkl. 15.00 WIB