Anda di halaman 1dari 1

Kelarutan secara kuantitatif didefinisikan sebagai konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuhnya pada suhu dan tekanan

tertentu. Secara kualitatif, kelarutan didefinisikan sebagai sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk dispersi molekuler homogen. Kelarutan dapat digambarkan secara benar dengan menggunakan aturan fase Gibbs. Dalam U.S. Pharmacopeiadan National Formulary, kelarutan adalah jumlah mL pelarut dimana akan larut 1gram zat terlarut. Sebagai contoh kelarutan asam borat dalam U.S. Pharmacopeia dikatakan sebagai 1 gram asam borat larut dalam 18 mL air, dalam 18 alkohol,dan dalam 4 mL gliserin. Data kelarutan sangat berperan penting dalam industry farmasi. Data kelarutan ini bisa berguna dalam formulasi obat, misalnya untuk menentukan dapar yang akan digunakan, pengkompleks, pelarut maupun zat-zat lain yang akan ditambahkan ke dalam suatu sediaan obat. Data kelarutan nini juga dapat berfungsi untuk memeriksa kemurnian suatu zat. Apabila suatu zat aktif yang diterima tidak murni, kemungkinan terdapat kontaminan, tidak stabil, terdapat hasil urainya atau polimorfisme. Fungsi lainnya adalah untuk menentukan pelarut yang akan digunakan untuk ekstraksi suatu senyawa dan menentukan bentuk sediaan suatu senyawa obat. Terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan suatu zat. Faktor-faktor tersebut adalah pH, suhu, jenis pelarut, bentuk dan ukuran partikel zat, konstanta dielektrik bahan pelarut, serta penambahan zat-zat lain seperti surfaktan, pembentuk kompleks, ion sejenis, dan lain-lain. Pada percobaan ini dilakukan uji pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan asam borat. Penggunaan pelarut campur biasanya akan menimbulkan peristiwa kosolvensi, yaitu fenomena dimana suatu senyawa lebih mudah larut pada pelarut campur daripada pelarut tunggalnya. Pelarut campur yang digunakan merupakan gabungan dari komposisi air, alkohol, dan propilenglikol dengan komposisi tertentu. Asam borat merupakan zat yang memiliki kelarutan tinggi dalam air. Apabila dicampur ke dalam air dan diaduk, asam borat ini akan cepat sekali melarut. Pada percobaan kali ini digunakan orbital shaker sebagai pengaduk sehingga tidak perlu diaduk manual. Dari hasil percobaan diperoleh molaritas asam borat yang paling tinggi ada pada saat komposisi pelarut campur yang pertama, yaitu air : alkohol : propilenglikol = 60 : 0 : 40. Hal ini menunjukan bahwa semakin besar komposisi propilenglikol, maka kelarutan asam borat akan semakin besar. Kelarutan juga dipengaruhi oleh konstanta dielektrik dari pelarut tersebut. Secara teori, terjadinya peningkatan terhadap kelarutan suatu zat dalam pelarut campur juga bergantung dari konstanta dielektrik pelarut campur tersebut. Apabila dilihat dari hasil perhitungan konstanta dielektriknya, terlihat bahwa seiring penambahan propilenglikol terjadi penurunan konstanta dielektrik pelarut. Salah satu syarat agar terjadi kosolvensi adalah konstanta dielektrik zat terlarut harus berada di antara konstanta dielektrik dari komposisi pelarut campur tersebut. Apabila konstanta dielektrik pelarut campur semakin turun, maka kemampuan melarutkannya akan semakin berkurang. Hal ini dikarenakan penurunan konstanta dielektrik pelarut cmpur akan membuat konstanta dielektrik zat terlarut (pada percobaan ini zat terlarut adalah asam borat) berada di atas konstanta dielektrik pelarut campur. Dengan demikian peristiwa kosolvensi tidak dapat terjadi dan zat terlarut akan semakin susah melarut.