Anda di halaman 1dari 18

Tugas Komunitas II

VAKSIN

Oleh: NOVITA NURRIDHA C12108307

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011

1. SEJARAH PERKEMBANGAN VAKSIN Perkembangan vaksin virus diawali dengan penemuan Edward Jenner pada tahun 1798, bahwa inokulasi cacar sapi (cowpox) pada seseorang ternyata dapat melindungi orang tersebut dari penyakit cacar (smallpox). Sejak saat itu vaksin mengalami perkembangan baik dari cara menentukan epitop imunodominan, strategi perbanyakan protein maupun cara aplikasinya. Edward Jenner dikenal sebagai bapak vaksinasi cacar karena ia telah mengabadikan hidup, uang, dan reputasinya untuk menyebarkan penggunaan vaksin. Edward Jenner lahir pada tanggal 17 Mei 1749, di Berkeley, Gloucestershire, anak dari Pdt Stephen Jenner, pendeta Berkeley. Edward menjadi yatim piatu pada usia 5 dan tinggal dengan kakaknya. Pada usia 13 ia magang ke dokter bedah negara dan apotek di Sodbury, dekat Bristol, di kota inilah. Pada tahun 1797, Jenner mengirimkan komunikasi singkat ke Royal Society menggambarkan eksperimen dan observasinya, namun, makalah tersebut ditolak. Kemudian pada tahun 1798, setelah menambahkan lagi beberapa kasus untuk eksperimen awalnya, Jenner menerbitkan buku kecil berjudul An Inquiry into the Causes and Effects of the Variolae Vaccinae, a disease discovered in some of the western counties of England, particularly Gloucestershire and Known by the Name of Cow Pox. Kinerja Jenner mewakili usaha ilmiah pertama untuk mengendalikan penyakit menular cacar dengan menggunakan vaksinasi. Tepatnya, ia tidak menemukan vaksin tetapi orang pertama yang memberi status ilmiah mengenai prosedur dan penyelidikan ilmiah. Di akhir abad ke-19, disadari bahwa vaksinasi tidak memberikan kekebalan seumur hidup dan bahwa vaksinasi ulang selanjutnya diperlukan. Angka kematian dari cacar telah menurun, tetapi epidemi menunjukkan bahwa penyakit ini masih belum terkendali. Sehingga terobosan lainnya datang pada akhir abad 19, ketika Louis Pasteur mengembangkan teknik kimia untuk mengisolasi virus dan melemahkannya, yang efeknya dapat dipakai sebagai vaksin. Sebelum vaksinasi memancing kontroversi, Pasteur pertama kali memasukkan vaksin rabies ke tubuh manusia yang mendapat protes keras oleh ahli jiwa dan masyarakat. Kenyataan sejarah demikian, membuat orang sering membuat bandingan antara Pasteur dan Edward Jenner, ahli fisika Inggris yang mengembangkan vaksin untuk pencegahan cacar. Sejak penemuan Louis Pasteur, ilmuwan lainnya, dengan meniru gagasan dasar Pasteur, sejak itu mengembangkan vaksin untuk mencegah penyakit berat lain seperti tifus dan poliomyelitis. Sejak tahun

1888 karya Pasteur dilanjutkan di Institut Pasteur di Paris. Kini institut itu mempunyai cabang di 60 negara. Vaksin attenuated ( vaksin hidup) yang telah dikembangkan antara lain terhadap pasteurella multocida (pada ayam), vibrio cholera (pada manusia), anthrax (pada domba), rabies (pada anjing). Selanjutnya tahun 1886 Salmon dan Smith di Amerika Serikat telah memperkenalkan macam vaksin inaktif dengan menggunakan bakteri vibrio cholera yang dimatikan dengan pemanasan.

2. JENIS, CIRI KHAS, CARA PENYIMPANAN, SASARAN, CARA PEMBERIAN (METODE), WAKTU, LOKASI DAN RESPON KLIEN SETELAH PEMBERIAN SERTA PENANGANAN RESPON NEGATIF DARI MASING-MASING VAKSIN Jenis-Jenis Vaksin: Live attenuated (kuman atau virus hidup yang dilemahkan). Vaksin hidup dibuat dari virus atau bakteri liar (wild) penyebab penyakit. Virus atau bakteri liar ini dilemahkan di laboratorium, biasanya dengan pembiakan berulang-ulang. Vaksin hidup yang tersedia: berasal dari virus hidup yaitu vaksin campak, gondongan (parotitis), rubella, polio, rotavirus, demam kuning (yellow fever). Berasal dari bakteri yaitu vaksin BCG dan demam tifoid. Inactivated (kuman, virus atau komponennya yang dibuat tidak aktif). Vaksin lain menggunakan bakteri atau virus yang dinonaktifkan (dimatikan). Vaksin polio dibuat dengan cara ini. Sifat vaksin attenuated dan inactivated berbeda sehingga hal ini menentukan bagaimana vaksin ini digunakan. Vaksin inactivated dihasilkan dengan cara membiakkan bakteri atau virus dalam media pembiakan (persemaian), kemudian dibuat tidak aktif (inactivated) dengan penanaman bahan kimia (biasanya formalin). Untuk vaksin komponen, organisme tersebut dibuat murni dan hanya komponenkomponennya yang dimasukkan dalam vaksin (misalnya kapsul polisakarida dari kuman pneumokokus). Vaksin inactivated tidak hidup dan tidak dapat tumbuh, maka seluruh dosis antigen dimasukkan dalam suntikan. Vaksin ini selalu membutuhkan dosis multipel, pada dasarnya dosis pertama tidak menghasilkan imunitas protektif, tetapi hanya memacu atau menyiapkan sistem imun. Toksoid

Ada beberapa jenis bakteri yang menimbulkan penyakit dengan memasukkan racun ke dalam aliran darah. Jenis vaksin toksoid, seperti vaksin difteri dan tetanus, dibuat dengan menggunakan racun bakteri yang telah dilemahkan. Aseluler dan subunit Vaksin aseluler dan subunit dibuat dengan menggunakan hanya sebagian dari virus atau bakteri. Vaksin hepatitis dan hemofilus influenza tipe b (Hib) dibuat dengan cara ini. Vaksin sub unit merupakan vaksin yang dibuat dari bagian tertentu dari mikroorganisme yang imunogenik secara alamiah misalnya hepatitis B, atau virus yang dipisahkan dengan detergen misalnya influensa. Vaksin rekombinan memungkinkan produksi protein virus dalam jumlah besar. Gen virus yang diinginkan diekspresikan dalam sel prokariot atau eukariot. Sistem ekspresi eukariot meliputi sel bakteri E.coli, yeast, dan baculovirus. Dengan teknologi DNA rekombinan selain dihasilkan vaksin protein juga dihasilkan vaksin DNA. Penggunaan virus sebagai vektor untuk membawa gen sebagai antigen pelindung dari virus lainnya, misalnya gen untuk antigen dari berbagai virus disatukan ke dalam genom dari virus vaksinia dan imunisasi hewan dengan vaksin bervektor ini menghasilkan respon antibodi yang baik. Terdapat tiga jenis vaksin rekombinan yang saat ini telah tersedia: Vaksin hepatitis B dihasilkan dengan cara memasukkan suatu segmen gen virus hepatitis B ke dalam gen sel ragi. Vaksin tifoid (Ty21a) adalah bakteri salmonella typhi yang secara genetik diubah sehingga tidak menyebabkan sakit. Tiga dari empat virus yang berada di dalam vaksin rotavirus hidup adalah rotavirus kera rhesus yang diubah secara genetik menghasilkan antigen rotavirus manusia apabila mereka mengalami replikasi. Vaksin DNA ( naked plasmid DNA) , suatu pendekatan yang relatif baru dalam teknologi vaksin yang memiliki potensi dalam menginduksi imunitas seluler. Dalam vaksin DNA gen tertentu dari mikroba diklon kedalam suatu plasmid bakteri yang direkayasa untuk meningkatkan ekspresi gen yang diinsersikan kedalam sel mamalia. Setelah disuntikkan DNA plasmid akan menetap dalam nukleus sebagai episom, tidak berintegrasi kedalam DNA sel (kromosom), selanjutnya mensintesis antigen yang dikodenya. Selain itu vektor plasmid mengandung sekuens nukleotida yang bersifat imunostimulan yang akan menginduksi imunitas seluler.

Beberapa kelemahan vaksin DNA bahwa kemungkinan DNA dalam vektor plasmid akan berintegrasi kedalam genom host/inang, kemungkinan akan menginduksi tumor atau menginduksi terbentuknya antibodi terhadap DNA. Selain itu vaksin DNA dapat menginduksi respon imun seluler yang kuat tidak hanya terhadap antigen mikroba melainkan juga terhadap antigen inangnya. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui keamanan vaksin DNA yang efektif terhadap patogen intraseluler. Cara Penyimpanan Vaksin: a. Rantai vaksin Adalah rangkaian proses penyimpanan dan transportasi vaksin dengan menggunakan berbagai peralatan sesuai prosedur untuk menjamin kualitas vaksin sejak dari pabrik sampai diberikan kepada pasien. Rantai vaksin terdiri dari proses penyimpanan vaksin di kamar dingin atau kamar beku, di lemari pendingin, di dalam alat pembawa vaksin, pentingnya alat-alat untuk mengukur dan mempertahankan suhu. Dampak perubahan suhu pada vaksin hidup dan mati berbeda. Untuk itu harus diketahui suhu optimum untuk setiap vaksin sesuai petunjuk penyimpanan dari pabrik masing-masing. b. Suhu optimum untuk vaksin hidup Secara umum semua vaksin sebaiknya disimpan pada suhu +2C sampai dengan +8C, diatas suhu +8C vaksin hidup akan cepat mati, vaksin polio hanya bertahan dua hari, vaksin BCG dan campak yang belum dilarutkan mati dalam tujuh hari. Vaksin hidup potensinya masih tetap baik pada suhu kurang dari 2C sampai dengan beku. Vaksin oral polio yang belum dibuka lebih bertahan lama (2 tahun) bila disimpan pada suhu -25C sampai dengan -15C, namun hanya bertahan enam bulan pada suhu +2C sampai dengan +8C. Vaksin BCG dan campak berbeda, walaupun disimpan pada suhu -25C sampai dengan -15C, umur vaksin tidak lebih lama dari suhu +2C sampai dengan +8C, yaitu BCG tetap satu tahun dan campak tetap dua tahun. Oleh karena itu vaksin BCG dan campak yang belum dilarutkan tidak perlu disimpan di suhu -25C sampai dengan -15C atau didalam freezer. c. Suhu optimum untuk vaksin mati Vaksin mati (inaktif) sebaiknya disimpan dalam suhu +2C sampai dengan +8C juga, pada suhu dibawah +2C (beku) vaksin mati (inaktif) akan cepat rusak. Bila beku dalam suhu -0.5C vaksin hepatitis B dan DPT-Hepatitis B (kombo) akan rusak dalam jam, tetapi dalam suhu diatas 8C vaksin hepatitis B bias bertahan sampai tiga puluh hari, DPT-hepatitis B kombinasi sampai empat belas hari. Dibekukan dalam

suhu -5C sampai dengan -10C vaksin DPT, DT dan TT akan rusak dalam 1,5 sampai dengan dua jam, tetapi bisa bertahan sampai empat belas hari dalam suhu di atas 8C. d. Kamar dingin dan kamar beku Kamar dingin (cold room) dan kamar beku (freeze room) umumya berada dipabrik, distributor pusat, Dinas Kesehatan Provinsi, berupa ruang yang besar dengan kapasitas 5-100 m, untuk menyimpan vaksin dalam jumlah yang besar. Suhu kamar dingin berkisar +2C sampai dengan +8C, terutama untuk menyimpan vaksin-vaksin yang tidak boleh beku. Suhu kamar beku berkisar antara -25C sampai dengan -15C, untuk menyimpan vaksin yang boleh beku, terutama vaksin polio. Kamar dingin dan kamar beku harus beroperasi terus menerus, menggunakan dua alat pendingin yang bekerja bergantian. Aliran listrik tidak boleh terputus sehingga harus dihubungkan dengan pembangkit listrik yang secara otomatis akan berfungsi bila listrik mati. Suhu ruangan harus dikontrol setiap hari dari data suhu yang tercatat secara otomatis. Pintu tidak boleh sering dibuka tutup. e. Lemari es dan freezer Setiap lemari es sebaiknya mempunyai satu stop kontak tersendiri. Jarak lemari es dengan dinding belakang 10-15 cm, kanan kiri 15 cm, sirkulasi udara disekitarnya harus baik. Lemari es tidak boleh terkena sinar matahari langsung. Suhu didalam lemari es harus berkisar +2C sampai dengan +8C, digunakan untuk menyimpan vaksin-vaksin hidup maupun mati, dan untuk membuat cool pack (kotak dingin cair). Sedangkan suhu di dalam freezer berkisar antara -25C sampai dengan -15C, khusus untuk menyimpan vaksin polio dan pembuatan cold pack (kotak es beku). Termostat di dalam lemari es harus diatur sedemikian rupa sehingga suhunya berkisar antara +2 sampai dengan +8C dan suhu freezer berkisar -15C sampai dengan -25C. Di dalam lemari es lebih baik bila dilengkapi freeze watch atau freeze tag pada rak ke-3, untuk memantau apakah suhunya pernah mencapai di bawah 0 derajat. Sebaiknya pintu lemari es hanya dibuka dua kali sehari, yaitu ketika mengambil vaksin dan mengembalikan sisa vaksin, sambil mencatat suhu lemari es. Lemari es dengan pintu membuka ke atas lebih dianjurkan untuk penyimpanan vaksin. Karet-karet pintu harus diperiksa kerapatannya, untuk menghindari keluarnya udara dingin. Bila pada dinding lemari es telah terdapat bunga es, atau di freezer telah mencapai tebal 2-3 cm harus segera dilakukan pencairan (defrost). Sebelum melakukan pencairan, pindahkan vaksin ke cool box atau lemari es yang lain. Cabut kontak listrik lemari es, biarkan pintu lemari es dan freezer terbuka selama 24 jam,

kemudian dibersihkan. Setelah bersih, pasang kembali kontak listerik, tunggu sampai suhu stabil. Setelah suhu lemari sedikitnya mencapai +8C dan suhu freezer-15C, masukkan vaksin sesuai tempatnya. f. Susunan vaksin di dalam lemari es Karena vaksin hidup dan vaksin inaktif mempunyai daya tahan berbeda terhadap suhu dingin, maka kita harus mengenali bagian yang paling dingin dari lemari es. Letakkan vaksin hidup dekat dengan bagian yang paling dingin, sedangkan vaksin mati jauh dari bagian yang paling dingin. Di antara kotak-kotak vaksin beri jarak selebar jari tangan (sekitar 2 cm) agar udara dingin bias menyebar merata ke semua kotak vaksin. Bagian paling bawah tidak untuk menyimpan vaksin tetapi khusus untuk meletakkan cool pack, untuk mempertahankan suhu bila listerik mati. Pelarut vaksin jangan disimpan di dalam lemari es atau freezer, karena akan mengurangi ruang untuk vaksin, dan akan pecah bila beku. Penetes (dropper) vaksin polio juga tidak boleh di letakkan di lemari es atau freezer karena akan menjadi rapuh, mudah pecah. Tidak boleh menyimpan makanan, minuman, obat-obatan atau benda-benda lain di dalam lemari es vaksin, karena mengganggu stabilitas suhu karena sering di buka. g. Lemari es dengan pintu membuka ke depan Bagian yang paling dingin lemari es ini adalah di bagian paling atas (freezer). Di dalam freezer disimpan cold pack, sedangkan rak tepat di bawah freezer untuk meletakkan vaksin-vaksin hidup, karena tidak mati pada suhu rendah. Rak yang lebih jauh dari freezer (rak ke 2 dan 3) untuk meletakkan vaksin-vaksin mati (inaktif), agar tidak terlalu dekat freezer, untuk menghindari rusak karena beku. Thermometer Dial atau Muller diletakkan pada rak ke-2, freeze watch atau freeze tag pada rak ke 3. h. Lemari es dengan pintu membuka ke atas Bagian yang paling dingin dalam lemari es ini adalah bagian tengah (evaporator) yang membujur dari depan ke belakang. Oleh karena itu vaksin hidup diletakkan di kanan-kiri bagian yang paling dingin (evaporator). Vaksin mati diletakkan dipinggir, jauh dari evaporator. Beri jarak antara kotak-kotak vaksin selebar jari tangan (sekitar 2 cm). Letakkan termometer Dial atau Muller atau freeze watch/freeze tag dekat vaksin mati. i. Wadah pembawa vaksin Untuk membawa vaksin dalam jumlah sedikit dan jarak tidak terlalu jauh dapat menggunakan cold box (kotak dingin) atau vaccine carrier (termos). Cold box berukuran lebih besar, dengan ukuran 40-70 liter, dengan penyekat suhu dari

poliuretan, selain untuk transportasi dapat pula untuk menyimpan vaksin sementara. Untuk mempertahankan suhu vaksin di dalam kotak dingin atau termos dimasukkan cold pack atau cool pack. j. Cold pack dan cool pack Cold pack berisi air yang dibekukan dalam suhu -15C sampai dengan -25C selama 24 jam, biasanya di dalam wadah plastik berwarna putih. Cool pack berisi air dingin (tidak beku)yang didinginkan dalam suhu +2C sampai dengan +8C selama 24 jam, biasanya di dalam wadah plastik berwarna merah atau biru. Cold pack (beku) dimasukkan ke dalam termos untuk mempertahankan suhu vaksin ketika membawa vaksin hidup sedangkan cool pack (cair) untuk membawa vaksin hidup dan vaksin mati (inaktif). k. Menilai kualitas vaksin Vaksin hidup akan mati pada suhu di atas batas tertentu, dan vaksin mati akan rusak di bawah suhu tertentu. 1) Kualitas rantai vaksin dan tanggal kadaluwarsa Untuk mempertahankan kualitas vaksin maka penyimpanan dan transportasi vaksin harus memenuhi syarat rantai vaksin yang baik, antara lain : disimpan di dalam lemari es atau freezer dalam suhu tertentu, transportasi vaksin di dalam kotak dingin atau termos yang tertutup rapat, tidak terendam air, terlindung dari sinar matahari langsung, belum melewati tanggal kadaluarsa, indikator suhu berupa VVM (vaccine vial monitor) atau freeze watch/tag belum melampaui batas suhu tertentu. 2) VVM (vaccine vial monitor) Untuk menilai apakah vaksin sudah pernah terpapar suhu di atas batas yang dibolehkan, dengan membandingkan warna kotak segi empat dengan warna lingkaran di sekitarnya. Bila waran kotak segi empat lebih muda daripada lingkaran dan sekitarnya (disebut kondisi VVM A atau B) maka vaksin belum terpapar suhu di atas batas yang diperkenankan. Vaksin dengan kondisi VVM B harus segera dipergunakan. Bila warna kotak segi empat sama atau lebih gelap daripada lingkaran dan sekitarnya (disebut kondisi VVM C atau D) maka vaksin sudah terpapar suhu di atas batas yang diperkenankan, tidak boleh diberikan pada pasien. 3) Freeze watch dan freeze tag

Alat ini untuk mengetahui apakah vaksin pernah terpapar suhu dibawah 0C. Bila dalam freeze watch terdapat warna biru yang melebar ke sekitarnya atau dalam freeze tag ada tanda silang (X), bearti vaksin pernah terpapar suhu di bawah 0C yang dapat merusak vaksin mati. Vaksin-vaksin tersebut tidak boleh diberikan kepada pasien. 4) Warna dan kejernihan vaksin Warna dan kejernihan beberapa vaksin dapat menjadi indikator praktis untuk menilai stabilitas vaksin. Vaksin polio harus berwarna kuning oranye. Bila warnanya berubah menjadi pucat atau kemerahan berarti pHnya telah berubah, sehingga tidak stabil dan tidak boleh diberikan kepada pasien. Vaksin toksoid, rekombinan dan polisakarida umumnya berwarna putih jernih sedikit berkabut. Bila menggumpal atau banyak endapan berarti sudah pernah beku, tidak boleh digunakan karena sudah rusak. Untuk meyakinkan dapat dilakukan uji kocok seperti dibawah ini. Bila vaksin setelah dikocok tetap menggumpal atau mengendap maka vaksin tidak boleh digunakan karena sudah rusak. 5) Pemilihan vaksin Vaksin yang harus segera dipergunakan adalah : vaksin yang belum dibuka tetapi telah dibawa ke lapangan, sisa vaksin telah dibuka (dipergunakan), vaksin dengan VVM B, vaksin dengan tanggal kadaluarsa sudah dekat (EEFO = Early Expire First Out), vaksin yang sudah lama tersimpan dikeluarkan segera (FIFO = First In First Out). Sasaran, Cara Pemberian (Metode), Waktu, Lokasi Dan Respon Klien Setelah Pemberian Serta Penanganan Respon Negatif Dari Masing-Masing Vaksin a. Imunisasi BCG Vaksinasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). BCG diberikan 1 kali sebelum anak berumur 2 bulan. Vaksin ini mengandung bakteri Bacillus Calmette-Guerrin hidup yang dilemahkan, sebanyak 50.000-1.000.000 partikel/dosis. Imunisasi BCG dilakukan sekali pada bayi usia 0-11 bulan, lalu DPT diberikan tiga kali pada bayi usia 2-11 bulan dengan interval minimal empat minggu. Imunisasi polio diberikan empat kali pada bayi 0-11 bulan dengan interval minimal empat minggu. Sedangkan campak diberikan satu kali pada bayi usai 9-11 bulan. Terakhir, imunisasi hepatitis B harus diberikan tiga kali pada bayi usia 1-11 bulan, dengan interval minimal empat minggu.

Cara kerja vaksin: meningkatkan daya tahan tubuh thd inf basil yg virulen imunitas timbul setelah 8 minggu imunitas bisa tidk lengkap

Cara pemberian: Anak : IC 0,1 ml Bbl : 0.05 ml

Efek samping: Reaksi pembengkakan kecil Kemerahan, Abses Scar Pada suhu 2-80C Tdk dlm keadaan beku Tdk kena sinar matahari langsung Expire setelah 8 jam pengenceran

Cara menyimpan vaksin:

b. Imunisasi DPT Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Pertusis (batuk rejan) adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak. Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang Cara pemberian vaksin: IM 0,5 ml Cara penyimpanan vaksin: Pada suhu 0-80C Efek samping: Demam tinggi Rewel Kemerahan daerah invasi

Nyeri 2 hari

c. Imunisasi DT Imunisasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasilkan oleh kuman penyebab difteri dan tetanus. Vaksin DT dibuat untuk keperluan khusus, misalnya pada anak yang tidak boleh atau tidak perlu menerima imunisasi pertusis, tetapi masih perlu menerima imunisasi difteri dan tetanus. Setiap orang dewasa harus mendapat vaksinasi lengkap tiga dosis seri primer dari difteri dan toksoid tetanus, dengan dua dosis diberikan paling tidak berjarak empat minggu, dan dosis ketiga diberikan enam hingga 12 bulan setelah dosis kedua. Jika orang dewasa belum pernah mendapat imunisasi tetanus dan difteri maka diberikan seri primer diikuti dosis penguat setiap 10 tahun. d. Imunisasi TT Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus. Jenis imunisasi ini minimal dilakukan lima kali seumur hidup untuk mendapatkan kekebalan penuh. Imunisasi TT yang pertama bisa dilakukan kapan saja, misalnya sewaktu remaja. Lalu TT2 dilakukan sebulan setelah TT1 (dengan perlindungan tiga tahun). Tahap berikutnya adalah TT3, dilakukan enam bulan setelah TT2 (perlindungan enam tahun), kemudian TT4 diberikan satu tahun setelah TT3 (perlindungan 10 tahun), dan TT5 diberikan setahun setelah TT4 (perlindungan 25 tahun). e. Imunisasi Campak Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak (tampek). Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis pada saat anak berumur 9 bulan atau lebih. Cara pemberian: SC dalam/IM Efek samping: demam, kemerahan,nyeri sendi Penyimpanan: Pada suhu 2-80C f. Imunisasi MMR Imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak, gondongan dan campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali. Campak menyebabkan demam, ruam kulit, batuk, hidung meler dan mata berair. Campak juga menyebabkan infeksi telinga dan pneumonia. Campak juga bisa menyebabkan masalah yang lebih serius, seperti pembengkakan otak dan bahkan kematian. Gondongan menyebabkan demam, sakit

kepala dan pembengkakan pada salah satu maupun kedua kelenjar liur utama yang disertai nyeri. Gondongan bisa menyebabkan meningitis (infeksi pada selaput otak dan korda spinalis) dan pembengkakan otak. Kadang gondongan juga menyebabkan pembengkakan pada buah zakar sehingga terjadi kemandulan. Campak Jerman (rubella) menyebabkan demam ringan, ruam kulit dan pembengkakan kelenjar getah bening leher. Rubella juga bisa menyebabkan pembengkakan otak atau gangguan perdarahan. g. Imunisasi Hib Imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh Haemophilus influenza tipe b. Organisme ini bisa menyebabkan meningitis, pneumonia dan infeksi tenggorokan berat yang bisa menyebabkan anak tersedak. Sampai saat ini, imunisasi HiB belum tergolong imunisasi wajib, mengingat harganya yang cukup mahal. Tetapi dari segi manfaat, imunisasi ini cukup penting. Hemophilus influenzae merupakan penyebab terjadinya radang selaput otak (meningitis), terutama pada bayi dan anak usia muda. Penyakit ini sangat berbahaya karena seringkali meninggalkan gejala sisa yang cukup serius. Misalnya kelumpuhan. Ada 2 jenis vaksin yang beredar di Indonesia, yaitu Act Hib dan Pedvax. h. Imunisasi Varisella Imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air. Cacar air ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan, kemudian secara perlahan mengering dan membentuk keropeng yang akan mengelupas. i. Imunisasi HBV Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B. Hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian. Karena itu imunisasi hepatitis B termasuk yang wajib diberikan. Jadwal pemberian imunisasi ini sangat fleksibel, tergantung kesepakatan dokter dan orangtua. Bayi yang baru lahir pun bisa memperolehnya. Imunisasi ini pun biasanya diulang sesuai petunjuk dokter. Orang dewasa yang berisiko tinggi terinfeksi hepatitis B adalah individu yang dalam pekerjaannya kerap terpapar darah atau produk darah, klien dan staf dari institusi pendidikan orang cacat, pasien hemodialisis (cuci darah), orang yang berencana pergi atau tinggal di suatu tempat di mana infeksi hepatitis B sering dijumpai, pengguna obat suntik, homoseksual/biseksual aktif, heteroseksual aktif dengan pasangan berganti-ganti atau baru terkena penyakit menular seksual, fasilitas penampungan korban narkoba, imigran atau pengungsi di mana endemisitas daerah asal sangat

tinggi/lumayan. Berikan tiga dosis dengan jadwal 0, 1, dan 6 bulan. Bila setelah imunisasi terdapat respon yang baik maka tidak perlu dilakukan pemberian imunisasi penguat (booster). Cara pemberian: IM Cara kerja vaksin: IgM (sementara) IgG (tetap) Efek samping; Nyeri sendi / otot Bengkak Panas Mual Anafilaksis Suhu 0-80C Waktu maksimal 10 bulan

Cara penyimpanan vaksin :

j. Imunisasi Pneumokokus Konjugata Imunisasi pneumokokus konjugata melindungi anak terhadap sejenis bakteri yang sering menyebabkan infeksi telinga. Bakteri ini juga dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius, seperti meningitis dan bakteremia (infeksi darah). k. Tipa Imunisasi tipa diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap demam tifoid (tifus atau paratifus). Kekebalan yang didapat bisa bertahan selama 3 sampai 5 tahun. Oleh karena itu perlu diulang kembali. Imunisasi ini dapat diberikan dalam 2 jenis: imunisasi oral berupa kapsul yang diberikan selang sehari selama 3 kali. Biasanya untuk anak yang sudah dapat menelan kapsul. Sedangkan bentuk suntikan diberikan satu kali. Pada imunisasi ini tidak terdapat efek samping. l. Hepatitis A Penyakit ini sebenarnya tidak berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya. Tetapi bila terkena penyakit ini penyembuhannya memerlukan waktu yang lama, yaitu sekitar 1 sampai 2 bulan. Jadwal pemberian yang dianjurkan tak berbeda dengan imunisasi hepatitis B. Vaksin hepatitis A diberikan dua dosis dengan jarak enam hingga 12 bulan pada orang yang berisiko terinfeksi virus ini, seperti penyaji makanan (food handlers), mereka yang sering melakukan perjalanan atau bekerja di suatu negara yang mempunyai prevalensi tinggi hepatitis A, homoseksual, pengguna

narkoba, penderita penyakit hati, individu yang bekerja dengan hewan primata terinfeksi hepatitis A atau peneliti virus hepatitis A, dan penderita dengan gangguan faktor pembekuan darah.

Efek Samping Imunisasi & penanganannya Reaksi-reaksi umum Reaksi-reaksi umum terhadap imunisasi biasanya bersifat ringan, terjadi tidak lama setelah imunisasi dan hanya berlangsung sebentar. Perawatan biasanya tidak dibutuhkan. Pingsan terjadi terutama pada remaja dan orang dewasa. Demam ringan bisa muncul dari semua suntikan Suntikan apapun dapat menyebabkan rasa sakit, kemerahan, rasa gatal, pembengkakan dan nyeri pada bekas suntikan selama satu sampai dua hari. Kadang-kadang ada benjolan kecil dan keras selama beberapa minggu atau bulan

Apa yang harus dilakukan bila terjadi reaksi umum: Taruhlah kain dingin yang basah pada bekas suntikan Berilah lebih banyak minuman Kalau panas jangan kenakan pakaian berlebihan Paracetamol mungkin dibutuhkan untuk meringankan rasa tidak enak badan dan/atau demam tinggi (harap baca label untuk pemakaian yang tepat) Rekasi setempat yang besar Kadang-kadang dosis booster dari vaksin difteri, tetanus dan pertussis (batuk rejan) dapat menimbulkan reaksi setempat yang sangat besar berupa peradangan dan

pembengkakan anggota badan itu. Reaksi ini harus dilaporkan kepada pemberi imunisasi dan mungkin kunjungan ke dokter diperlukan. Bila reaksinya berat: Reaksi seperti kejang-kejang, muka yang pucat, rasa loyo dan tidak tanggap jarang terjad namun membutuhkan penanganan medis segera. Reaksi alergi yang berat (anaphylaxis) terjadi tiba-tiba, biasanya dalam kurun waktu 15 menit tetapi dapat juga terjadi beberapa jam setelah pemberian vaksin. Gejalagejala dini anaphylaxis termasuk peradangan dan/atau rasa gatal pada kulit, kesulitan bernafas, perasaan gusar dan mencret dan/atau muntah-muntah. 3. KONDISI KLIEN YANG TIDAK MEMUNGKINKAN UNTUK PEMBERIAN VAKSIN 1. Demam karena sakit serius. Imunisasi ditangguhkan saja 2. Keadaan imunodefisiensi merupakan kontraindikasi kepada live-attenuated vaccines sahaja. Killed vaccines boleh diberi. Keadaan imunodefisiensi termasuk: sakit imunodefisiensi yang diwarisi leukemia, lymphoma, penyakit Hodgkins dan sebagainya. Imunisasi

ditangguhkan sehingga 6 bulan selepas habis rawatan. rawatan imunosupresif dan radiasi. Imunisasi ditangguhkan sehingga 6 bulan selepas habis rawatan. rawatan dengan kortikosteroid seperti Prednisolone 2 mg/kg/hari untuk > 7 hari atau dos rendah/sederhana tiap-tiap hari untuk > 2 minggu. Imunisasi ditangguhkan sehingga 3 bulan selepas habis rawatan. Kanak-kanak yang diberi dos rendah/sederhana selama < 2 minggu serta mereka yang diberi dos rendah selang sehari untuk jangkamasa yang lebih lama boleh diberi live-attenuated vaccines. Inhalasi steroid juga bukan kontraindikasi. 3. Kehamilan live-attenuated vaccines tidak boleh diberi. Kontraindikasi pemberian vaksin: 1. Kontraindikasi absolut: anafilaksis terhadap komponen yang terdapat dalam vaksin. Untuk vaksin pertusis ensefalopati yang timbul dalam 7 hari setelah penyuntikan yang tak dapat ditetapkan sebabnya dianggap sebagai kontraindikasi absolut. Pemberian vaksin dT untuk melengkapi seri imunisasi perlu dipertimbangkan kecuali memang terjadi anafilaksis nyata terhadap DTP.

2. Kontraindikasi sementara: perempuan yang mendapat vaksinansi MMR harus menghindari kehamilan dalam waktu sedikitnya 3 bulan dan sedangkan untuk vaksin varisela 1 bulan. Imunisasi virus hidup yang secara tidak sengaja diberikan pada perempuan hamil tidak menjadi alasan untuk terminasi kehamilan karena tidak ada data mengenai hubungan imunisasi vaksin hidup dengan kelainan janin. Ibu yang sedang menyusui diperbolehkan mendapat vaksin hidup. 3. Kontraindikasi spesifik : BCG Jangkitan HIV yang bersimptomatik Hepatitis B Tiada kontraindikasi Pertussis (a) penyakit neurologikal yang progresif seperti infantile spasms (b) reaksi kepada dos yang lebih awal seperti - anafilaksis - keadaan shock - kejang dan demam dalam 72 jam - demam > 40.5 C dalam 48 jam - ensefalopati dalam 7 hari Difteria tiada kontraindikasi Tetanus tiada kontraindikasi Polio cirit-birit (vaksin diberi tetapi dos ini tidak dikira. Dos ini perlu diulangi kelak) Rubella Kehamilan Campak (measles) Anafilaksis kepada protein telur

4. TANGGUNG

JAWAB OLEH

SERTA

PRINSIP-PRINSIP DALAM

YANG

HARUS SERTA

DIPERHATIKAN

PERAWAT

PENANGANAN

PEMBERIAN VAKSIN Tanggung jawab perawat dalam program vaksinasi (The CARNA Nursing Standards, 2003) adalah sebagai berikut: a. Perawat bertanggung jawab setiap saat atas tindakan yang mereka lakukan b. Perawat patuh pada undang-undang yang berlaku, standar dan kebijakan yang relevan dengan profesi keperawatan

c. Perawat mempertanyakan kebijakan dan prosedur yang tidak konsisten dengan hasil terapi klien, praktek terbaik dan standar keselamatan d. Perawat saling mendukung dalam proses kompetensi yang berkelanjutan e. Perawat berpartisipasi dalam peningkatan kualitas pelayanan f. Perawat memiliki kompeten dalam pemberian vaksin g. Perawat menilai kemampuan mereka secara berkala dan mengambil langkah yang diperlukan guna meningkatkan kompetensi diri h. Perawat menggunakan sumber informasi yang tepat dan sumber daya yang meningkatkan perawatan pasien dan pencapaian hasil yang diinginkan pasien i. Perawat melakukan perawatan sesuai dengan tingkat kompetensi yang dimiliki j. Perawat bekerja sama dengan klien dan profesi kesehatan lainnya dalam menyediakan pelayanan keperawatan. Dalam pemberian vaksin, perawat membutuhkan (CARNA, 2007): a. Pengetahuan, keterampilan dan kemampuan menilai kelayakan pemberian vaksin kepada klien b. Sharing dengan klien tentang resiko dan manfaat dari pemberian vaksin dan resiko jika tidak divaksin c. Mengkaji klien untuk resiko terjadinya anafilaksis seperti menanyakan kejadian anafilaksis sebelumnya, alergi terhadap vaksin atau bahan latex (jika terkandung dalam vaksin) d. Pemberian vaksin sesuai dengan prinsip pemberian obat (benar pasien, benar vaksin, benar dosis, benar rute, benar waktu, dan benar dokumentasi) e. Penanganan dan penyimpanan vaksin sesuai dengan informasi produk produsen vaksin f. Pengetahuan tentang prosedur vaksinasi dan efek samping yang ditimbulkan dari pemberian vaksin g. Monitoring klien selama dan setelah pemberian vaksin. Berikut disampaikan beberapa prinsip dalam pemberian vaksin atau imunisasi a. Memberikan asupan nutrisi atau zat gizi atau makanan tertentu yang memaksimalkan pembangunan dan pemeliharaan sistem imun tubuh atau kekebalan tubuh manusia. b. Memberikan asupan nutrisi atau zat gizi atau makanan tertentu yang meminimalkan dan menghilangkan zat yang bersifat menurunkan kerja sistem imun atau kekebalan manusia.

c. Menjauhkan

dan

menghentikan

asupan

nutrisi

yang

bersifat

menurunkan

pembangunan dan pemeliharaan sistem imun atau kekebalan tubuh manusia. d. Tidak memberikan vaksinasi yang mengandung toksin/racun bahan berbahaya yang menjadi ancaman manusia, seperti bahan kimiawi sintetis, logam berat (heavy metal), hasil metabolit parsial, toksin bakteri, dan komponen dinding sel. e. Membiasakan untuk mengkonsumsi menu makanan sehari-hari yang bersifat membangun sistem kekebalan tubuh manusia. f. Membiasakan untuk tidak mengkonsumsi menu makanan sehari-hari yang bersifat menurunkan sistem kekebalan tubuh manusia.